(CERITA SAHABAT) Dari Merawat Lansia di Taiwan hingga Menjaga Impian

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Irma, tapi teman-teman biasa memanggil saya Mbok. Saya berasal dari Jawa Barat, tepatnya Sukabumi, daerah Jampang Kulon. Saat ini saya sedang bekerja di Taiwan sebagai pekerja informal di bidang perawatan lansia atau orang-orang biasa menyebutnya elderly care. Sudah hampir satu tahun saya tinggal di sini. Alhamdulillah, saya sudah mulai merasa lebih nyaman menjalani kehidupan di negeri orang.

Kalau ditanya aktivitas sehari-hari, hari-hari saya di Taiwan cukup padat tapi juga penuh pembelajaran. Saya merawat seorang lansia di rumah majikan, membantu kebutuhan sehari-harinya, mulai dari makan, kebersihan, sampai mengawasi kondisi kesehatannya. Kadang juga harus siap kalau ada kondisi darurat kecil, jadi memang butuh kesabaran dan ketelitian ekstra.

Sebelum berangkat ke Taiwan, saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Waktu itu, saya bekerja di sebuah perusahaan distributor lensa kacamata. Namun kemudian, perusahaan tempat saya bekerja mengalami krisis. Saya dan teman-teman mulai mengalami pengurangan karyawan dan juga pengurangan jam kerja. Gaji yang saya terima pun sebenarnya sudah di bawah UMR. Ini buat saya semakin terasa berat.

Di situ saya mulai berpikir, “Bagaimana hidup saya selanjutnya ya?” Pengeluaran tetap jalan, tetapi pemasukan makin kecil. Dari situlah saya mulai membuka diri untuk mencoba peluang kerja di luar negeri.

Awal tahun lalu, saya mulai mencari informasi tentang kerja ke luar negeri, khususnya ke Taiwan atau Hong Kong. Saya juga sempat tanya-tanya ke teman yang sudah punya pengalaman kerja di luar negeri. Dari situ saya dapat gambaran. Menurut teman saya itu, kalau bekerja di Hong Kong, tuntutannya lebih tinggi. Semua harus serba bisa, termasuk masak. Sedangkan saya merasa belum siap di bagian itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba ke Taiwan.

Sebenarnya saya tidak punya latar belakang sebagai perawat profesional. Tapi sebelumnya saya pernah merawat bos dari adik saya yang terkena stroke, walaupun pekerjaan itu hanya sekitar setengah tahun. Dari situ saya punya sedikit gambaran tentang merawat orang sakit, meskipun waktu itu saya sempat merasa kewalahan karena pasiennya cukup sulit dan temperamental.

Setelah memutuskan berangkat ke Taiwan, saya masuk ke penampungan. Orang bilang kayak agency begitu selama tiga bulan. Di sana saya belajar bahasa, terutama bahasa Mandarin dasar, serta beberapa keterampilan dasar untuk pekerjaan perawatan.

Walaupun sudah belajar, ternyata ketika sampai di Taiwan tetap tidak mudah. Bahasa yang digunakan sehari-hari terasa berbeda. Misalnya, saya banyak mendengar logat, cara pengucapan, dan semuanya butuh penyesuaian lagi. Jadi, tantangan terbesar di awal memang soal bahasa.

Selain bahasa, saya juga harus belajar banyak hal baru, terutama dalam hal perawatan kesehatan. Di Taiwan, saya belajar secara otodidak menggunakan alat-alat medis sederhana, seperti alat sedot dahak. Ini pengalaman baru buat saya, karena di Indonesia saya tidak pernah mendapatkan pelatihan seperti ini secara formal.

Kalau dibandingkan dengan kerja di Indonesia, perbedaannya cukup jauh. Dulu di Indonesia, pekerjaan saya lebih sederhana, hanya menjaga pasien dan menemani ke rumah sakit. Tapi di Taiwan, tanggung jawabnya lebih besar dan lebih kompleks.

Untuk soal makanan, awalnya saya agak khawatir, terutama karena banyak makanan yang mengandung babi. Alhamdulillah, orang Taiwan cukup pengertian. Mereka biasanya memberi tahu kalau ada makanan yang mengandung babi. Walaupun kadang mereka belum sepenuhnya paham soal penggunaan minyak babi, tapi niat mereka untuk menghargai sudah terasa.

Selain itu, ada juga banyak warung atau toko Indonesia di sini. Jadi, kalau kangen masakan rumah masih bisa sedikit terobati. Kalau ditanya soal stres, jujur saja, itu pasti ada. Tapi bukan karena pekerjaan atau majikan. Alhamdulillah, majikan saya baik dan tidak banyak menuntut. Mereka justru berusaha membuat saya nyaman.

Justru tekanan terbesar datang dari jauh dari Indonesia, terutama soal keluarga dan anak. Anak saya sempat mengalami masalah kesehatan, setelah saya tiga bulan di sini. Waktu itu saya sempat berpikir untuk pulang. Tapi keluarga menyarankan saya untuk tetap bertahan. Mereka bilang, semoga kondisi anak saya bisa membaik. Di situ saya belajar untuk kuat secara mental, karena ternyata bekerja di luar negeri bukan hanya soal fisik, tapi juga hati.

Sebagai perempuan, saya merasa cukup aman tinggal di Taiwan. Lingkungannya tertib, orang-orangnya sopan, dan jarang ada gangguan. Bahkan kalau keluar malam pun masih terasa aman. Saya juga merasa dihargai sebagai pekerja. Untuk perlindungan kesehatan, saya mendapatkan asuransi. Pernah suatu waktu saya mengalami masalah kulit, dan saya bisa menggunakan kartu asuransi untuk berobat. Bahkan majikan juga membantu dalam hal biaya. Walaupun mungkin tidak semua orang seberuntung itu, tapi pengalaman saya sejauh ini cukup baik.

Selama di Taiwan, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, belajar bahasa baru, dan juga mendapatkan pengetahuan tentang dunia kesehatan. Kalau dipikir-pikir, di Indonesia mungkin untuk belajar hal seperti ini harus sekolah dulu. Tapi di sini, saya bisa belajar langsung dari pengalaman sehari-hari. Walaupun tidak mudah, tapi sangat berharga.

Kontrak kerja saya masih sekitar tiga tahun. Awalnya saya berpikir tidak akan menghabiskan kontrak, tapi melihat kondisi ekonomi sekarang, sepertinya saya akan menyelesaikannya. Semua ini saya jalani demi masa depan yang lebih baik, terutama untuk keluarga.

Buat sahabat Ruanita yang sedang mempertimbangkan untuk bekerja di luar negeri, saya ingin berbagi sedikit pesan. Jangan hanya melihat enaknya saja dari media sosial, seperti di TikTok yang terlihat serba indah dan menyenangkan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Bahasa itu sangat penting. Usahakan benar-benar belajar sebelum berangkat. Hal yang paling penting, mental harus kuat, karena kita akan jauh dari keluarga, menghadapi lingkungan baru, dan harus bisa berdiri sendiri.

Namun, balik semua itu, kalau dijalani dengan niat dan kesabaran, pasti ada banyak hal baik yang bisa kita dapatkan.

Penulis: Irma, yang jadi Elderly Care Practitioner di Taiwan yang dapat dikontak melalui akun Facebook Mbo.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar