(MATERI INFORMASI) Diskusi Online Hari Perempuan Internasional 2023

Acara Diskusi Online dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2023 disampaikan oleh Ibu Gopala Sasie Rekha, Pengajar di University of Winchester Inggris dan Ibu Yacinta Kurniasih, Pengajar di University of Monash Australia yang telah menyampaikan materi sesuai pengalaman dan keilmuannya.

Sebagai informasi, RUANITA memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.

Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Informasi lebih lanjut, silakan kontak Admin di info@ruanita.com.

Rekaman ulang acara tersebut dapat disaksikan sebagai berikut:

Tolong subscribe Kanal YouTube kami untuk mendapatkan video-video terbaru dan mendukung kami.

(WARGA MENULIS) Sekarang Giliran Saya Bersuara

Jacinda Ardern, Ursula von der Leyen, dan Angela Merkel merupakan sederetan nama pemimpin wanita dalam bidang politik yang dikenal dunia. Banyak wanita yang menjadikan mereka inspirasi tetapi mungkin ada juga yang merasa, inspirasi mereka berakhir hanya pada tahap fantasi.

“Ah, mereka ‘kan memiliki karir yang bagus, latar belakang pendidikan yang mendukung, public speaking  yang baik. Lalu saya?“ mungkin begitu pikir kita.

Tidak semua wanita dapat mengidentifikasikan dirinya dengan role model tersebut. Jika kita memiliki pikiran seperti ini, saatnya mengubah cara pandang kita. Tidak hanya melihat ke atas atau ke samping, melihat kesuksesan wanita di sekitar kita tetapi lebih penting melihat ke dalam diri sendiri dan fokus pada pengembangan diri.

Apakah dalam perjalanan pengembangan diri saya, saya telah mencapai aktualisasi diri? Apakah saya puas dengan pencapaian saya dan saya nyaman dengan diri saya sendiri? Skill apa yang perlu saya asah untuk mencapai target pribadi saya? Mungkin pertanyaan ini dapat membantu kita dalam merefleksikan kebutuhan psikologis kita.

Abraham Maslow menggambarkan kebutuhan manusia dalam struktur piramida, di mana aktualisasi diri berada di puncak piramida. Kebutuhan ini akan muncul setelah kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial dan penghargaan terpenuhi.

Aktualisasi diri dapat diartikan bahwa kita telah menyadari potensi diri kita sendiri dan menggunakan kemampuan ini secara optimal dalam kehidupan kita sehari-hari dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setelah menyadari potensi ini, mungkin ini saatnya kita para wanita memberanikan diri untuk memimpin.

Kepemimpinan kaum wanita di Indonesia tidak bisa dibilang minim. Namun hal ini masih dianggap istimewa, belum dianggap lumrah, dan bisa diterima sepenuhnya setara dengan kepemimpinan kaum pria. Kesempatan wanita untuk memimpin pun dalam masyarakat masih sedikit.

Tanpa kebijakan kuota untuk pemimpin wanita, wanita harus berjuang sendiri mencapai puncak karirnya. Sudah di puncak pun, wanita harus berhadapan dengan stereotype gender yang berkembang dalam budaya patriarki yang mengakar.

Stereotype feminitas pada wanita tertanam dalam masyarakat sejak dini. Contohnya anak laki-laki akan diberikan mainan mobil dan anak perempuan akan diberikan mainan boneka. Anak laki-laki diharapkan sebagai pemimpin rumah tangga sehingga nantinya membutuhkan mobil sebagai sarana transportasi untuk mencari nafkah.

Sebaliknya anak perempuan diharapkan sebagai seorang ibu yang akan membesarkan dan mengasuh anak-anaknya. Stereotype dalam pola asuh inilah yang menciptakan Stereotype gender, termasuk dalam konsep kepemimpinan.

Komunikasi memegang peranan penting dalam konsep kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menggerakan anggotanya untuk mencapai tujuan kelompoknya. Oleh karena itu pemimpin harus didengarkan suara dan arahannya.

Penelitian-Penelitian di bidang Sosiolinguistik telah membuktikan bahwa gaya bahasa yang digunakan wanita berbeda dengan bahasa yang digunakan pria. Gaya bahasa wanita memungkinkan mereka untuk menuturkan pemikirannya melalui bahasa yang menunjukan identitas dirinya. Wanita ingin penyampaiannya diterima dalam struktur kebahasaan masyarakat yang lebih didominasi oleh pria.

Gaya bahasa wanita memiliki karakteristik yang dapat dikenali. Robin Lakoff, seorang profesor di bidang linguistik mengidentifikasi karakteristik bahasa yang digunakan oleh wanita. Salah satu karakteristik yang menandai gaya bahasa wanita adalah penggunaan aspek kesopanan dalam tata bahasanya.

Contohnya ketika pria lebih menggunakan kalimat perintah langsung seperti: „Tutup pintunya!“ maka wanita mengungkapkan perintah dalam bentuk pertanyaan. Contohnya seperti „Apakah Anda tidak keberatan untuk menutup pintunya?“

Dalam gaya bahasa wanita ini keputusan untuk menutup pintu diserahkan kepada penerima tugas. Itu menimbulkan kesan bahwa wanita tidak yakin dengan keinginannya. Hal ini bisa menjadi dilema bagi pemimpin wanita dalam mencapai tujuannya.

Padahal dengan gaya bahasa tersebut, wanita merasa dapat berbicara dengan kepercayaan diri, kenyamanan, kemandirian, dan perasaannya. Jika wanita keluar dari pola ini dan berbicara secara langsung seperti pria maka wanita akan dianggap tidak feminin, tidak disukai, dan dianggap kasar.

Konstruksi ini membatasi wanita, mengatur posisi wanita dalam masyarakat, dan menghambat kualitas kepemimpinan wanita. Di sisi lain, penelitian yang lebih baru di sisi lain menilai gaya bahasa wanita yang halus sebagai kekuatan wanita.

Gaya bahasa ini dapat juga digunakan wanita secara sadar untuk mempengaruhi lawan bicaranya dan merupakan strategi wanita dalam mencapai tujuannya. Pemahaman akan gaya bahasa wanita dapat membantu pemimpin wanita merefleksikan secara kritis cara berkomunikasinya karena bahasa mengubah cara berpikir dan dapat memengaruhi tindakan.

Sayangnya kesempatan wanita untuk memimpin masih kurang. Untuk menciptakan kesempatan yang kurang didukung sistem diperlukan inisiatif. Ini artinya wanita harus aktif untuk menciptakan peluang dalam memimpin.

Mungkin dalam karir kesempatan, wanita sebagai pemimpin belum tercapai. Namun ketika ada kesempatan-kesempatan kecil, cobalah berinisiatif mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Misalnya, inisiatif mengorganisir acara.

Jika kesempatan ini pun belum datang, ciptakanlah peluang saat anda mempresentasikan ide atau gagasan Anda. Bicaralah dengan kepercayaan diri dan cara komunikasi yang secara sadar ditujukan untuk wanita atau pria sehingga kita sebagai wanita dapat berjuang menciptakan peluang untuk memimpin yang mungkin belum datang. Perjalanan kita masih panjang. 

Penulis: Brigita Febrina Jipi Saputra, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(WARGA MENULIS) Perempuan: Pemimpin yang Inklusif

Angela Merkel merupakan Kanselir Jerman perempuan pertama yang bisa membuktikan, bahwa perempuan juga bisa memimpin suatu negara dengan stabil selama 16 tahun. Berdasarkan pengalaman hidupnya, perempuan yang dibesarkan di Jerman Timur ini mengetahui benar makna dari kemerdekaan, sebab ia tumbuh dewasa dalam masyarakat yang terisolasi.

Ketika ia memulai karir pertamanya sebagai ilmuwan fisika di Berlin Timur, setiap hari ia harus menyaksikan tembok Berlin sepanjang jalan pulang, sebab ia tinggal tidak jauh dari situ. Ia melihat tembok Berlin yang terbentang sebagai hambatan bagi kemerdekaan dirinya.

Runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989 bukan hanya merupakan peristiwa runtuhnya sebuah bangunan, namun juga runtuhnya kekakuan ideologi. Kecakapan memimpin Angela Merkel bisa dilihat sebagai bukti runtuhnya stigma bahwa superioritas adalah hak laki-laki semata.

Tanpa berniat membandingkan diri dengan Angela Merkel, tapi secara alamiah saya juga terlahir sebagai perempuan. Mungkin semesta sedang berpihak pada saya karena sekarang saya berkesempatan hidup di Jerman.

Sebagai seorang guru Bahasa Jerman bagi imigran, saya diberikan kekuasaan di dalam kelas, di mana kendali ada di tangan saya. Peserta didik yang saya hadapi berasal dari berbagai negara dan budaya yang beragam sehingga tantangan yang muncul menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan kelas homogen. Bahkan sebagian besar dari mereka merupakan pengungsi dari negara-negara konflik, yang artinya mereka juga turut membawa beban psikologis seperti trauma.

Tugas saya dalam mengajarkan Bahasa Jerman adalah berjalan bersama mereka dan menuntun mereka melampaui berbagai tembok batasan sehingga perlahan mereka bisa menyesuaikan diri dengan konteks kehidupan yang baru dan melanjutkan hidup mereka secara mandiri.

Pada mulanya, kadang saya merasa ragu dalam menghadapi berbagai dinamika situasi di kelas. Namun seiiring berjalannya waktu saya menyadari, bahwa ternyata saya harus membuka diri saya terlebih dahulu, agar mereka bersedia membuka hati mereka untuk proses belajar.

Ternyata saya harus melihat banyak hal dari perspektif mereka dan mendengarkan mereka untuk membuka gerbang-gerbang kemungkinan lainnya. Ternyata saya harus memulai merangkul mereka terlebih dahulu untuk bisa meruntuhkan tembok-tembok pembatas di antara kami.

Dalam konteks sosial, tembok pembatas bisa berupa konstruksi paradigma konvensional yang bisa menjadi sekat dalam pergaulan sesama manusia. Jika dalam berkomunikasi kita hanya mengamini bahwa pandangan kita yang terideal maka di situlah kita menciptakan jarak dengan lawan bicara.

Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan dalam konteks masyarakat Indonesia, saya seringkali melihat bahkan merasakan sendiri kakunya tembok di kepala banyak orang dalam memandang kemerdekaan perempuan.

Pada suatu siang yang terik di depan sebuah warung kecil di Jogja, sembari menunggu teman, saya duduk dan bercakap-cakap dengan seorang ibu pemilik warung. Di sana kami bertukar berbagai cerita dan lelaku hidup.

Ketika ia mengetahui bahwa saya, di usia saya, belum berkeluarga dan memilih untuk berkarir di Jerman, sontak ia berkomentar: „Masih menunggu apa lagi sih, Mbak? Perempuan itu kan hidup bukan untuk diri kita sendiri saja, namun juga untuk keluarga. Sebaiknya tidak usah terlalu lama mempertimbangkan pilihan hidup.“

Saat itu saya memilih untuk menanggapi seperlunya, tidak berdiskusi lebih lanjut dengannya, dan perlahan meninggalkannya. Karena saya yakin, kami tidak akan bisa berbicara secara konstruktif. Namun yang menjadi perenungan saya adalah mengapa sebagian perempuan konvensional masih gemar mengambil peran sebagai penasihat kehidupan bagi perempuan lainnya? Ditambah lagi, mereka gemar menggunakan kata sapaan „Mbak“ seolah supaya terdengar akrab meskipun isi komentar yang dilontarkan sama sekali bukanlah sebuah sapaan keakraban.

Pembatas kemerdekaan tidak hanya selalu berbentuk bangunan fisik seperti tembok Berlin, namun juga bisa berbentuk konstruksi paradigma sosial di kepala manusia. Bak tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah perang dunia kedua, demikian jugalah tembok-tembok konvensional di dalam kepala. Itu mampu membatasi keakraban antar manusia bahkan membatasi ruang gerak perempuan.

Perempuan itu dipimpin atau memimpin? Siapakah yang menentukan pilihan hidup perempuan dalam ranah privat dan sosial? Sejauh mana perempuan berhak mengaktualisasikan diri sesuai dengan pilihan hati mereka?

Kembali ke sosok Angela Merkel, ia merupakan sosok pemimpin perempuan kuat dan berpengaruh di Jerman bahkan Eropa. Dalam pengambilan keputusan, ia sangat mempertimbangkan fakta dan bekerja sesuai metodologi dengan penuh ketelitian.

Dalam masa kepemimpinannya, ia mampu membuka gerbang-gerbang komunikasi dan negosiasi dalam politik Eropa dan dunia. Selain itu, retorika yang ia pakai cenderung menekankan kerja sama dalam pemecahan berbagai masalah.

Ketika diwawancarai oleh salah satu media Jerman Deutsche Welle, ia diberi pertanyaan perihal taktik yang ia gunakan ketika menghadapi pemimpin negara dengan ideologi berbeda, seperti Putin dan Erdogan. Dengan tenang ia menjawab bahwa ia selalu datang ke percakapan semacam itu dengan hati yang terbuka.

Bahkan ia menegaskan betapa pentingnya mendengarkan lawan bicara, meskipun orang tersebut memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan dirinya. Karena jika kita kehilangan kemampuan mendengarkan maka tidak ada celah untuk solusi. Tegasnya.

Terkait dengan kebijakan politik bagi para imigran dari berbagai negara konflik, ia menunjukkan sikap inklusivitas kemanusiaannya dengan jelas. Ketika Jerman pada tahun 2015 membuka pintu bagi para pengungsi tersebut, ia menunjukkan sisi lembut keperempuannya.

Bahkan ia diberi sebutan „Mutti“ atau „Ibu“ oleh banyak orang. Terlebih lagi ketika ia mengunjungi Prancis dan berjalan bersama Presiden Emmanuel Macron, banyak warga Prancis meneriakinya „Vive Mutti!“ atau „Hidup Ibu!“

Hal ini patut diapresiasi, karena dari kacamata sejarah negara Jerman dan Prancis, tidak selalu berada dalam hubungan yang bersahabat. Dalam konteks ini, Angela Merkel sebagai pemimpin mampu menunjukkan dan membuktikan sifat-sifat inklusivitas feminin sepanjang karir politiknya.

Di ranah privat, ia tergolong sebagai orang yang cenderung suka menyendiri dan sangat menghormati ruang-ruang pribadinya. Ia gemar memberi ruang kepada dirinya sendiri untuk meregenerasi energi, misalnya dengan berkebun atau melakukan berbagai aktivitas di alam. Saya rasa, hal inilah yang membuatnya selalu bisa menampilkan performa yang stabil dalam perannya sebagai pemimpin perempuan di ruang publik.

Secara pribadi, saya menggemarinya sebagai sosok pemimpin perempuan yang cerdas, berkarakter pragmatis, berorientasi pada solusi, memiliki kecakapan interpersonal yang mumpuni, serta mengutamakan harmoni baik dalam konteks negara Jerman, Uni Eropa maupun global.

Menurut saya, baik seorang pemimpin maupun pendidik tidak hanya membutuhkan kemampuan intelegensinya semata, namun juga kedalaman rasa inklusivitas. Inklusivitas merupakan salah satu dimensi feminin, sedangkan eksklusivitas merupakan salah satu dimensi maskulin.

Feminin dan maskulin yang saya maksudkan di sini bukanlah perihal gender semata, namun ini perihal dimensi sifat manusia. Kedua dimensi tersebut ada di dalam diri kita sebagai manusia, meskipun tendensinya berbeda-beda.

Selama ini kita bisa melihat bahwa pergerakan dunia, kebijakan politik bahkan cara hidup kita lebih didominasi oleh eksklusivitas dimensi maskulin yang cenderung berorientasi pada ego dan ambisi. Misalnya, cara kita mengeksploitasi planet bumi selama ini merupakan salah satu manifestasi dimensi maskulin.

Ide kita untuk menumbuhkan ekonomi adalah dengan cara mengeruk habis sumber daya alam, tanpa berusaha mengembalikan potensinya kembali. Rumpangnya kesadaran meregenerasi alam berarti juga lunturnya dimensi feminin. Belakangan ini muncul semacam kerinduan untuk mengembalikan etika dan dimensi energi feminin, yang cenderung lebih inklusif.

Aspek-aspek feminin seperti melindungi, mengasuh, merawat, empati, kasih sayang, reflektif, dan inklusif yang ada dalam diri perempuan merupakan kekuatan yang mampu membawa keseimbangan. Secara alamiah dan berkaca dari peran Angela Merkel, karakter inklusivitas memang tak bisa dilepaskan dari sosok perempuan. Saya melihat hal ini sebagai anugerah bagi kita, perempuan.

Sudah lama kemampuan perempuan diragukan dalam ranah publik, namun perkembangan zaman ternyata menunjukkan bahwa dunia juga membutuhkan aspek-aspek feminin dalam menyelesaikan banyak perkara. Oleh karena itu, sudah saatnya kita memberikan lebih banyak kesempatan bagi para perempuan untuk memimpin dan berkontribusi dalam penyelesaian berbagai perkara.

Lantas pertanyaan mendasarnya sekarang adalah bagaimana cara menumbuhkan kecakapan perempuan agar keseimbangan dalam memimpin itu bisa terwujud?

Menurut saya, sebelum menjadi pemimpin di ruang publik, perempuan seharusnya memberikan ruang dan waktu untuk memimpin dirinya terlebih dahulu. Untuk hal ini, setiap perempuan seharusnya bersedia memulai revolusi batiniah untuk mengenal dirinya sendiri secara lebih dalam.

Revolusi batin tersebut bisa dimulai misalnya dengan afirmasi semacam ini:

“Potensi ada di dalam diriku dan pilihan ada di tanganku. Aku ingin mengubah diriku, menyesuaikan diriku dan melakukan hal terbaik yang aku bisa di setiap situasi yang aku hadapi.”

Dalam hal ini saya ingin memberikan semangat bagi semua perempuan di Indonesia tanpa terkecuali. Bahwa setiap perempuan berhak menjadi pemimpin atas dirinya terlebih dahulu. Itu merupakan sebuah dasar bagi mereka menuju ranah aktualisasi diri yang lebih luas.

Baik sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri, sebagai pemimpin harian dalam hidup berkeluarga maupun sebagai pemimpin di ruang publik, seorang perempuan seharusnya memiliki keseimbangan antara kedua dimensi. Itu adalah maskulin (doing) dan feminin (being). Perempuan memiliki kemerdekaan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan potensi dirinya. Ia berhak mengaktualisasikan diri sesuai dengan pilihan hidup dan suara batinnya.

Jika setiap perempuan di ranah mereka masing-masing, bisa mempraktikkan dan melatih keseimbangan dalam dirinya, maka saya rasa jiwa kepemimpinan dan kecakapan memimpin akan mengalir secara natural dan indah. Hal itu merupakan sebuah harapan menuju model kepemimpinan yang lebih insklusif dan mampu memanusiakan manusia.

Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023 bagi semua perempuan Indonesia!

Penulis: Debora Sisca, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(WARGA MENULIS) Perempuan, Kartini dan Konsepsi Persatuan Bangsa

Perempuan adalah bagian penting dari masyarakat yang berhubungan sangat erat dengan masalah kesejahteraan masyarakat dalam berbagai nuansa budaya. Perempuan Indonesia memiliki peranan dan kedudukan sangat penting sepanjang perjalanan sejarah. Kiprah perempuan di atas panggung sejarah tidak diragukan lagi.

Gerakan kebangkitan nasional semakin bergelora sejak diterapkannya Politik Etis Hindia-Belanda atau dikenal pula sebagai Politik Balas Budi pada tahun 1901, yang memberi kesempatan kepada kaum bumiputera untuk bersekolah.

Sebenarnya maksud pemerintah Hindia Belanda adalah untuk menghasilkan buruh-buruh terdidik, guru-guru, birokrat rendahan yang cukup terdidik, dokter-dokter yang mampu menangani penyakit menular pada bangsa pribumi. Tindakan ini dilakukan karena Hindia Belanda harus menekan biaya operasional tanah jajahan (Indonesia) yang terlalu mahal bila menggunakan tenaga impor dari Belanda.

Politik Etis yang diberlakukan oleh Belanda bagaikan sebilah pedang bermata dua. Pada awalnya ia dimaksudkan untuk meninggikan daya beli rakyat Hindia Belanda dan menghasilkan buruh-buruh murah serta birokrat rendahan yang cukup terdidik dari rakyat tanah jajahan.

Biaya produksi kapitalisme tanah jajahan harus ditekan; terlalu mahal menggunakan tenaga impor dari Belanda. Ternyata pembukaan sekolah-sekolah Belanda untuk elite pribumi dan para ningrat kelas dua seperti Sukarno, menghasilkan sekumpulan orang-orang muda berpendidikan Barat yang nantinya akan menjadi tulang punggung gerakan pembebasan nasional.

Follow us: ruanita.indonesia

Dampak pemberlakuan politik etis begitu terasa oleh kaum Bumiputera. Perkebunan dan sawah-sawah bertambah subur setelah disirami dengan air dari bendungan irigasi yang dibangun oleh penjajah Belanda. Meskipun yang diizinkan memasuki sekolah Belanda saat itu hanyalah kaum bangsawan, priyayi, dan kaum elite.

Namun dibukanya sekolah-sekolah Belanda untuk elite pribumi dan para ningrat itu telah menghasilkan sekumpulan orang-orang muda berpendidikan barat yang kelak menjadi tulang punggung gerakan pembebasan nasional. Para pemuda itupun kemudian berbondong-bondong memasuki Sekolah Rakyat, HIS, MULO dan HBS, hingga sekolah dokter (STOVIA), dan sekolah guru (Kweekschool).

Pencerahan datang. Buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris membuka mata dan hati tentang perjuangan pembebasan nasional di seluruh negeri. Pencerahan pemikiran membuat orang-orang muda Bumiputera berkumpul, bicara, berdiskusi, dan mengorganisir lahirnya perkumpulan-perkumpulan. Diawali dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908.

Namun, jauh sebelum sejumlah priyayi terdidik Jawa mengumumkan berdirinya Budi Utomo, perjuangan melawan Belanda telah dimulai di mana-mana seantero negeri secara sporadis. Bukan untuk pembebasan Indonesia karena ia belum lahir sebagai sebuah realitas, tetapi untuk membebaskan tanah leluhur, gunung-gunung, bukit, sungai, pulau dan rakyatnya.

Tak terkecuali kaum perempuannya. Di akhir abad ke-19, perempuan-perempuan muda terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan penjajah, seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu, lalu ada Maria Wolanda Maramis, Nyi Ageng Serang dll. Gagasan kesetaraan gender belum ada dan sama sekali belum menjadi kesadaran.

Namun yang menarik adalah kebanyakan dari para perempuan ini adalah juga kaum bangsawan, para ningrat dengan status sosial lebih tinggi dibanding para “kawula” yang bertelanjang dada dan coklat hitam itu. Ini bisa dipahami karena beberapa memilih angkat senjata sebab tanah-tanah keluarganya diserobot oleh Kumpeni.

Terusik karena kepemilikan pibadinya terganggu dan tak perlu masuk sekolah Belanda untuk membangun gerakan nasional. Para perempuan ini angkat senjata dengan gigih, membayar dengan nyawanya, dan dibuang di lautan seperti Tiahahu atau diasingkan seperti Tjut Nyak Dien.

Bahkan beberapa belas tahun sebelum Budi Utomo berdiri telah lahir pula seorang pejuang perempuan, yaitu R.A. Kartini (1879-1904). Beliau adalah pelopor dan pendahulu perjuangan untuk pendidikan perempuan dan persamaan hak perempuan.

Kartini berpendapat bahwa bila perempuan ingin maju dan mandiri maka perempuan harus mendapatkan pendidikan yang mencukupi sebagai bekal mereka dalam menjalani kehidupannya. Kartini selama ini telah kita kenal sebagai seorang pelopor dan pejuang emansipasi perempuan, terutama di bidang pendidikan.

Kartini-lah yang membangun pola pikir kemajuan, dengan cara menggugah kesadaran orang-orang sejamannya, bahwa kaum perempuan harus bersekolah. Tidak hanya di Sekolah Rendah, melainkan harus dapat meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi, sejajar dengan saudara-saudaranya yang laki-laki.

Kartini yang cerdas itu telah menulis surat-suratnya. Menyala-nyala dengan cita-cita dan keinginan untuk belajar dan bebas, Kartini harus menerima kenyataan hanya disekolahkan hingga usia 12 tahun. Bahasa Belanda telah dikuasai maka energi, gairah, kekecewaan dan angan-angannya disalurkan lewat surat-suratnya yang mengejutkan, begitu indah dan puitis.

Berbagai literatur yang memuat tulisan tentang Kartini menyatakan bahwa gagasan-gagasan utama Kartini adalah meningkatkan pendidikan bagi kaum perempuan, baik dari kalangan miskin maupun kalangan atas, serta reformasi sistem perkawinan.

Dalam hal ini menolak poligami yang ia anggap merendahkan perempuan. Namun dalam Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, tergambar bahwa gagasan dan cita-cita Kartini lebih dalam, lebih tinggi dan lebih luas daripada sekedar mencerdaskan kaum perempuan dan memperjuangkan monogami (meskipun hal ini menjadi sentral dari praktik perjuangannya).

Kartini, bagi Pram adalah feminis yang anti kolonialisme dan anti feodalisme, hingga ke tulang sumsumnya. Surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, seorang feminis sosialis dari Belanda, banyak yang telah dihancurkan. Namun justru dari beberapa percakapan tertulis dengan Stella-lah yang banyak membuka mata dan hati Kartini terhadap masalah perempuan dan pembebasannya.

Ini juga memahat secara perlahan-lahan penolakannya akan dominasi golongan feodal terhadap rakyat kecil. Surat Kartini yang secara khusus membahas buku Auguste Bebel, De Vrouw en Sosialisme dihapus oleh Abendanon karena kepentingan kolonialnya.

Kartini banyak menerima buku-buku progresif semacam ini dari sahabatnya H.H van Kol, seorang sosialis demokrat anggota Tweede Kamer. Mungkin dari surat-surat itu, gambaran yang lebih utuh tentang pikiran-pikiran politik Putri Jepara yang tak ingin dipanggil dengan gelarnya itu bisa lebih utuh.

Satu hal yang juga perlu dicatat adalah saat Kartini menulis surat-suratnya, sentimen nasionalisme yang terorganisir belum muncul. Organisasi pertama kaum buruh SS Bond (StaatsSpoor ), baru hadir tahun 1905, setahun setelah kematian Kartini.

Tradisi menggunakan media surat kabar dan terbitan untuk menyebarluaskan propaganda, belum timbul. Karya jurnalisme awal dari Sang Pemula (Tirto Adhi Suryo), Medan Prijaji  baru terbit tahun 1906. Referensi dari gagasan-gagasan orisinil Kartini berasal dari berbagai literatur berbahasa Belanda yang dibaca Kartini dalam masa pingitannya, serta korespondensinya dengan khususnya Stella.

Adalah satu hal luar biasa bahwa Kartini yang sendirian, terisolasi, dan merasa sunyi itu mampu membangun satu gagasan politik yang progresif untuk zamannya, baik menyangkut kaum perempuan maupun para kawula miskin tanah jajahan.

Nasib tragis Kartini menjadi salah satu petunjuk bahwa tak ada jalan baginya untuk membangun perjuangan dengan cara lain yang lebih kuat dan efektif. Di saat itu zaman beorganisasi belum muncul, selain lewat pendidikan.

Bagi Kartini, perempuan harus terpelajar sehingga dapat bekerja sendiri, mencari nafkah sendiri, mengembangkan seluruh kemampuan dirinya, dan tidak tergantung pada siapa pun termasuk suaminya. Mengingat suasana pada waktu itu, ketika adat istiadat feodal masih sangat kental di sekeliling Kartini, maka dapat kita bayangkan, betapa maju dan progresifnya pikiran Kartini tersebut.

Gagasan-gagasan brilian dari Kartini tersebut kemudian diikuti oleh beberapa tokoh perempuan lainnya, seperti Raden Dewi Sartika yang mendirikan Sekolah Keutamaan Istri di Bandung dan Rohanna Kudus yang mendirikan perusahaan penerbitan koran Soenting Malajoe.

Namun Kartini sendiri tetaplah Sang Pemula. Beliau adalah simbol gerakan perempuan Indonesia yang mengawali seluruh tradisi dan intelektual gerakan perempuan Indonesia. Berikut gagasan paling awal dalam melihat ketertindasan rakyat di bawah feodalisme dan kapitalisme.

Setelah kebangkitan nasional, perjuangan perempuan semakin terorganisir. Seiring dengan terbentuknya berbagai organisasi nasional atau pun partai politik maka pergerakan perempuan pun mulai terbentuk, baik sebagai sayap atau bagian dari organisasi perempuan yang sudah ada, maupun membentuk wadah organisasi perempuan tersendiri yang dilaksanakan oleh perjuangan perempuan di satu sektor atau tingkat tertentu.

Di sisi lain, perkembangan gerakan perempuan berbasiskan agama, seperti Aisyiyah, Muslimat dll, turut pula membentuk beragam gerakan perempuan. Berbagai karya jurnalisme pun bertebaran bukan hanya dalam Bahasa Belanda melainkan terutama dalam Bahasa Melayu.

Sejalan dengan itu kiprah sejumlah sastrawati mulai muncul ke permukaan. Gairah nasionalisme tengah mencari jalan untuk memodernisasikan dirinya. Gerakan perempuan pun terus berkembang dan menyesuaikan dinamikanya dengan perkembangan perjuangan kebangkitan bangsa. Nasionalisme menjadi gagasan yang diterima oleh seluruh kekuatan politik yang ada sehingga konsepsi persatuan menjadi lebih mudah untuk diwujudkan.

Keadaan perempuan masa kini, berkat inspirasi dari Kartini, telah banyak mendorong perempuan Indonesia untuk mencapai pendidikan tinggi. Kaum perempuan telah mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya dan setinggi-tingginya untuk bersekolah.

Meskipun demikian, ternyata masih banyak hambatan bagi perempuan untuk mencapai kedudukan atau peningkatan prestasi seperti yang diharapkan, setara dengan kedudukan, dan prestasi laki-laki. Salah satu yang menjadi hambatan adalah masih adanya diskriminasi dalam keluarga terhadap anak perempuan untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Hal ini terkait pada masih kuatnya budaya patriarki, yang memunculkan anggapan “setinggi-tinggi perempuan bersekolah, akhirnya akan masuk dapur juga”.

Bersyukur anggapan kuno tersebut semakin hari semakin tergerus jaman, seiring beragam perubahan cakrawala pemikiran secara global. Bagaimanapun kaum perempuan sejatinya adalah partner kaum laki-laki dalam beragam aspek kehidupan sehingga sudah sewajarnya akan selalu saling mengisi dan melengkapi dalam perspektif kesetaraan dan persamaan.

Penulis: Risti Handayani, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Belanda.

(SIARAN BERITA) Diskusi Online Hari Perempuan Internasional 2023

DENMARK – Setiap tahunnya seluruh dunia, terutama perempuan, merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret.  Pada tanggal tersebut dirayakannya prestasi-prestasi perempuan seperti di bidang sosial, ekonomi, kebudayaan, kesehatan, dan politik yang sayangnya masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat dunia.

Padahal kita, baik perempuan maupun pun laki-laki, mempunyai kemampuan yang sama. Kesetaraan gender di beragam bidang ini yang menjadi prinsip dan misi dari peringatan Hari Perempuan Internasional setiap tahunnya. 

Menurut internationalwomensday.com, tema dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2023 adalah embrace equity, yang berarti setiap orang diberi kesempatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan hanya kesempatan yang sama dengan orang lain. Tujuan utama dari kampanye ini adalah untuk membuat seluruh dunia menyadari, bahwa kesetaraan kesempatan yang sama tidak cukup.

Untuk mendapatkan hasil dan kesuksesan yang sama maka semua orang mungkin mempunyai kebutuhan berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Tentu saja topik ini tidak cukup hanya untuk dibicarakan dan dituliskan, namun juga dipikirkan dan menjadi bahan diskusi, agar semua orang menjadi bagian dari penyelesaian masalah.

Seperti tahun lalu, Rumah Aman Kita (RUANITA) selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang aktif mempromosikan isu kesetaraan gender maka RUANITA menggelar diskusi virtual. Tahun lalu RUANITA mengambil tema: Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan di Luar Negeri bersama para aktivis perempuan.

Tahun 2023 ini diskusi bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang menghadirkan akademisi. Acara ini masih merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan Hari Perempuan Sedunia yang diselenggarakan oleh Ruanita sejak Februari lalu.

Follow us: ruanita.indonesia

Bulan Februari lalu Ruanita bekerja sama dengan KBRI Berlin dan APPBIPA Jerman menyelenggarakan pelatihan penulisan selama dua hari yang juga diselenggarakan secara virtual.

Untuk mengapresiasi peserta pelatihan, naskah peserta yang bertemakan sama dengan tema diskusi virtual ini, yaitu „Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik“ dipublikasikan di website Ruanita dan APPBIPA, serta akan dibukukan. 

Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini bisa dihadiri tanpa pendaftaran dengan mengakses tautan Zoom bit.ly/ruanita-diskusi-virtual pada hari Sabtu, 11 Maret 2023, pukul 16.00-18.00 WIB (10.00-12.00 CET).

Diskusi virtual ini didukung sepenuhnya oleh KBRI Kopenhagen, Denmark dan akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania atau yang mewakili dari KBRI Kopenhagen, Ibu Rizka Azizah.  

Acara akan dipandu oleh Mariska Ajeng (relawan Ruanita dan mahasiswa S3 di Universitas Hamburg). Pemateri pertama adalah Gopala Sasie Rekha, staf akademisi di Universitas Winchester, Inggris. Beliau aktif meneliti di bidang perdagangan manusia.

Pemateri kedua adalah Yacinta Kurniasih, staf akademisi di Universitas Monash, Australia. Yacinta aktif memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Indonesia di mancanegara.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah mendorong semua pihak agar melibatkan partisipasi perempuan tidak hanya di sektor domestik saja tetapi juga sektor publik melalui kepemimpinan perempuan di berbagai bidang.

Kami berharap diskusi ini dapat merekomendasikan kebijakan luar negeri yang mendorong peran semua pihak untuk menekan kasus perdagangan perempuan di mancanegara sehingga tercipta banyak peluang pekerjaan untuk perempuan dan meningkatkan peran perempuan Indonesia dalam keluarga birasial agar menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat di mancanegara.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan, pengamatan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan praktik baik kehidupan di luar negeri. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan psikoedukasi, keseteraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia. 

Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com) 

Rekaman acara ini bisa disaksikan sebagai berikut:

Tolong subscribe kanal YouTube kami

(WARGA MENULIS) Westy: Inspirasi dari Perempuan Trengginas di Tengah Pemain Industri Metalurgi Dunia

Bertubuh mungil dan lincah, Westy Aden Bialke sekilas tampak  seperti salah satu fashionista yang kerap kita temui di pusat kota Frankfurt, salah satu kota pusat financial di Eropa Barat.  Penampilannya yang modis dan memesona menyimpan energi yang luar biasa. Siapa nyana, nama anak perempuan satu-satunya dari  empat bersaudara ini merupakan salah satu nama yang seringkali muncul dalam tender proyek-proyek pabrik metalurgi dunia. 

Ketertarikan Westy, begitu dia biasa dipanggil, pada bidang teknik berawal dari keluarga. Dia mendengarkan percakapan sang Ayah yang merupakan seorang insinyur sipil dan juga diskusi-diskusi dengan sang kakak yang telah lebih dulu memilih untuk berkuliah di bidang yang sama. Hal ini membuat Westy merasa bahwa bidang ini adalah bidang yang keren dan sangat menarik. Selain itu didukung oleh kesukaan dan prestasi Westy di bidang matematika dan fisika semasa duduk di bangku sekolah.

Prestasi Westy dan kecocokannya di bidang yang sudah dipilihnya terbukti dengan pekerjaan pertama yang didapatkannya. Lulus dari Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada tahun 1992, Westy langsung direkrut oleh ARCO (Atlantic Richfield Indonesia Inc.). Ini adalah sebuah perusahaan dengan kantor pusat di Amerika Serikat.

Dia bekerja di sebuah proyek di Pulau Pagerungan. Karena performanya yang mengesankan atasan, sang atasan pun meneruskan dokumen-dokumen Westy kepada seorang Head Hunter. Melalui inilah Westy kemudian direkrut untuk bekerja di Lurgi yakni sebuah perusahaan metalurgi yang berpusat di Jerman pada tahun 1995.

Follow us: ruanita.indonesia

Ini menjadi prestasi tersendiri bagi Westy karena dia adalah insinyur pertama yang direkrut di Indonesia. Tentu berbeda dengan insinyur-insinyur sebelumnya yang direkrut dari luar Indonesia untuk bekerja di lokasi  proyek di Indonesia.

Perusahaan ini membangun berbagai pabrik pengolahan bahan alam untuk klien-klien di berbagai negara, sebuah perusahaan di bidang pembangunan dan konsultan teknik, yang seringkali identik dengan dunia laki-laki. Pada saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998-1999, Westy pun diminta untuk bergabung dengan cabang perusahaan Lurgi di Malaysia.

Pada tahun 2001 dia pun ditawari untuk pindah ke kantor pusat di Frankfurt, Jerman. Kesempatan ini pun tidak disia-siakannya. Hingga saat ini Westy pun masih tinggal dan bekerja di kota Frankfurt. 

Melalui berbagai proyek di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Chili, Trinidad dan banyak negara lain, Westy meniti karir selama 30 tahun terakhir hingga pada perusahaan dan posisinya saat ini.  Sebagai Direktur Bidang Pemasaran dan Proposal di perusahaan Metso: Outotec yang berkantor pusat di Finlandia, wilayah pemasaran yang menjadi tanggung jawab Westy meliputi seluruh dunia.

Dia juga bertanggung jawab atas manajemen proposal di pusat-pusat kompetensi perusahaan di Jerman, India dan Amerika Serikat. Sebagai satu-satunya perempuan di Departemen Pemasaran dan Proposal, Westy memimpin tim yang bekerja dari berbagai lokasi di seluruh dunia.

Salah satu puncak karirnya sampai saat ini adalah jabatan sebagai Vice President Proposal Management pada tahun 2016-2018, sebelum perusahaan mengalami perubahan struktur manajemen. 

Ketika ditanya tentang tantangan apa yang dihadapinya sebagai perempuan yang berkarir di dunia yang sering dilihat sebagai dunia khas laki-laki, Westy memiliki beberapa jawaban yang menarik. Dia  mengakui bahwa dalam bidang tertentu perempuan sering disepelekan.

Namun yang menarik adalah pengalamannya bahwa tantangan ini justru lebih besar ketika dia masih merintis karir di Indonesia.  Selain tantangan untuk membuktikan diri bahwa dirinya adalah insinyur yang berkualitas.

Dia juga  berhadapan dengan stereotype yang dimiliki baik oleh orang Indonesia sendiri maupun oleh tenaga kerja asing yang menganggap bahwa kualitas SDM dari luar negeri lebih baik daripada SDM lokal. Hal ini  membuat Westy semakin bersemangat untuk membuktikan bahwa perempuan Indonesia pun tidak  kalah kualitasnya dengan insinyur-insinyur lain. 

Di samping itu, ada tantangan-tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan gender. Ada juga berkaitan dengan asal, seperti pada saat dia mengambil alih sebuah proyek di Malaysia pada tahun  1999.

“Mereka sempat khawatir, apakah orang Malaysia akan bisa menerima pemimpin dari  Indonesia, perempuan pula,” katanya.

“Tapi ternyata tidak ada masalah dan proyeknya sangat sukses,” tambahnya sambil tertawa. 

Secara umum Westy menjelaskan bahwa cukup sulit bagi perempuan untuk diakui setara, apalagi di bidang yang secara tradisional dikerjakan oleh laki-laki. Perempuan setidak-tidaknya harus 50% lebih  baik atau bahkan dua kali lebih baik daripada pekerja laki-laki.

Untuk merebut kesempatan dalam  bidang yang secara tradisional adalah male domain pun cukup menantang. Seringkali yang dilihat pertama kali sebagai pekerja berpotensi adalah laki-laki, kemudian perempuan sebagai pilihan  berikutnya. Oleh karena itu, penting bagi pekerja perempuan untuk memiliki profil istimewa agar tetap menonjol di antara kandidat-kandidat lainnya. 

Sambil menceritakan perjalanan karirnya yang luar biasa, Westy mengatakan bahwa pada awalnya dia,  seperti banyak perempuan lain. Dia harus bekerja keras untuk membuktikan diri. Dalam perjalanan  karirnya, Westy merasa pada awal tidak banyak konflik karena dia berkonsentrasi kepada  performa.

Dia hanya satu dari banyak staf bawahan yang fokusnya bekerja keras. Hal ini bergeser ketika karirnya sudah mulai menanjak dan posisinya sudah masuk ke jajaran manajemen. Tidak bisa dipungkiri bahwa politik perusahaan mulai memengaruhi proses dan cara kerja orang-orang yang bekerja pada tingkat manajemen.

Di antara jajaran manajemen yang mayoritas laki-laki kadang terbentuk kelompok-kelompok yang saling berkomunikasi tanpa melibatkan Westy. Itu sebab dia harus lebih proaktif untuk mengejar informasi. 

“Perempuan adalah pemimpin yang lebih baik,“ kata Westy sambil tersenyum simpul, “aku meyakini itu.”

Salah satu hal yang telah dialami dan dipraktikkan oleh Westy sendiri adalah bahwa perempuan  memiliki insting dan kepekaan untuk menangkap apa yang diperlukan oleh anggota tim untuk menjadi  ‘A winning team‘.

Dia mengatakan bahwa melalui kepekaan khas perempuan ini, dia mampu  menangkap apa yang dibutuhkan oleh anggota timnya untuk bisa mengembangkan potensi mereka secara maksimal meskipun pada saat bersamaan dia juga menuntut performa yang luar biasa dari  seluruh anggota timnya. Sebagai timbal balik dari perhatian dan dukungan dari sang Atasan, anggota timnya sangat loyal dan bersedia memberikan usaha terbaik bagi kesuksesan tim. 

Ketika saya minta untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinannya, Westy menjawab dengan spontan,  “Aku menempatkan diri sebagai Role model. Tugasku mendemonstrasikan dan memberi contoh.” 

Westy mengatakan bahwa dia tidak segan untuk melakukan semua pekerjaan, apapun itu. Kalau ada anggota tim yang datang dan mengatakan bahwa dia perlu bantuan, bantuan apa pun akan dikerjakan. Dia adalah bagian dari tim dan bukan bos. Komunikasi yang jelas dan tegas menjadikan semua anggota  tim mengerti apa yang diharapkan dari mereka dan tetap siap meminta bantuan jika diperlukan. 

Yang menarik bagi saya adalah ketika Westy bercerita bahwa tantangan tidak hanya muncul di bidang  kerja, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sebagai perempuan Asia yang menikah dengan laki-laki Jerman dan tinggal di Eropa, Westy bercerita bahwa dia terkadang dipandang sepele oleh orang-orang  yang belum mengenalnya.

Meskipun Westy sendiri sering tidak ambil pusing, tetapi dia bercerita bahwa sang suamilah yang pada awalnya seringkali memperkenalkan dirinya. Suaminya langsung  bercerita dengan bangga, “Istriku ini insinyur!“

Hal ini untuk membongkar stereotype perempuan asing yang dianggap menumpang hidup dengan pasangannya yang berkulit putih. “Sesudah 18 tahun menikah sih sudah tidak perlu lagi ya. ‘Kan kenalan kami semua sudah tahu hehehe,” kata Westy. 

Di samping suami yang bangga akan identitas dan pencapaiannya, Westy juga sangat bersyukur karena  pasangan hidupnya ini sangat mengerti tuntutan pekerjaannya. Datang dari latar belakang pekerjaan yang sama, sang suami mengerti beban dan bidang kerjanya.

“Kalau sama-sama pulang kerja, dia tahu betul hari ini seberat apa.”

Westy pun tidak khawatir meninggalkan rumah dalam rangka perjalanan dinasnya ke seluruh dunia karena mereka saling bekerja sama di dalam dan di luar rumah tangga. 

“Suamiku lebih sering memasak loh, daripada aku.” 

Harus diakui, mencapai karir yang luar biasa dan memimpin tim internasional dengan klien yang  bekerja dalam zona waktu yang berbeda-beda membuat Westy sulit menjaga Work-life balance. 

“Meskipun idealnya pulang kerja lepas dari telepon genggam, tetapi pada kenyataannya sulit ya. ‘Kan klien dan anggota timku jam kerjanya beda-beda,” dia mengakui.

“Tapi akhir pekan tetap milik suami ya, dikombinasikan dengan ketemu sesama orang Indonesia di Gereja,” tambahnya. 

Ada banyak hal yang disyukuri oleh Westy: karir yang moncer dan pasangan yang baik, serta kesempatan  untuk membahagiakan dan mengunjungi kedua orang tua di Indonesia dua kali setiap tahunnya. 

Sebelum berpisah saya bertanya kepada Westy tentang tips atau hal-hal apa yang ingin dia bagi untuk  sesama perempuan Indonesia. Perempuan berpaspor Indonesia ini pun membagikan pengalamannya. 

“Jangan ragu-ragu untuk mengeksplorasi diri!”

Bakat apapun, dalam bidang apapun, harus digunakan  sebaik-baiknya. Tidak penting apakah bakat dan minat itu ada bidang akademis, sosial, budaya, dan  lain-lain, eksplorasilah karena ini adalah bagian penting kehidupan. 

“Jangan bergantung pada laki-laki!”

Westy berpesan bahwa seorang perempuan harus punya jati diri  dan harus mampu berdiri di kaki sendiri. Dia menekankan pentingnya pendidikan karena pendidikan  adalah salah satu pilar penting jati diri dan kemandirian. Apabila di kemudian hari, perempuan memilih  untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh maka itu pun tidak masalah. Namun dia sudah punya jati diri dan  modal pribadi untuk duduk setara dengan partner hidupnya. 

“Yang terakhir, jangan takut untuk mengambil tantangan!”

Banyak perempuan cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Namun kadang kehati-hatian ini menjadi batu sandungan jika bersaing dengan laki-laki yang cenderung lebih cepat menjawab “Bisa!“ ketika menghadapi tantangan.  Westy mengatakan bahwa perempuan perlu lebih berani untuk mengambil risiko dan percaya pada diri sendiri, “Saya bisa!“. 

Tak terasa sudah lebih dari satu setengah jam saya menimba inspirasi dari pemimpin perempuan di  depan saya. Saatnya kami mengejar kereta untuk kembali ke rumah masing-masing. Sambil  merapatkan jaket, saya berterima kasih dan mengamatinya menghilang di antara para penumpang  kereta bawah tanah di pusat kota Frankfurt. 

Penulis: Etty Prihantini Theresia, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Keselarasan Sang Perempuan pada Hempasan Masa

Dewasa saat ini sedang terjadi proses transkulturasi di mana terjadi pertemuan antar kebudayaan, yaitu kebudayaan timur dan kebudayaan barat. Sejak lama pula kebudayaan dunia termasuk ilmu pengetahuan, fesyen, dan bahkan gaya hidup (Life style) banyak didominasi oleh kebudayaan barat. Di era globalisasi ini bukan saja dunia timur dilanda konsep dunia barat melainkan dunia barat pun mulai mengenal dan menerapkan budaya timur yang sudah sangat tua. Seperti budaya Bali, budaya Jawa, budaya Cina dan masih banyak lagi dunia barat memelajari dan mengajarkan budaya budaya timur di negaranya. Bahkan mereka menerapkan nilai-nilai budaya tersebut di dalam kehidupan mereka  sehari-hari.

Penularan-penularan budaya ini begitu cepat terjadi dan dominan dipicu dari peran sang perempuan di dalamnya. Fakta saat ini banyak muncul perempuan asli Spanyol yang mahir berbahasa daerah yang ada di Indonesia misalnya bisa berbahasa Jawa, bisa berbahasa Bali, atau bisa berbahasa Sunda. Selain mereka bisa berbahasa Indonesia, mereka juga bisa menguasai kesenian tari Bali, dan bisa menguasai cara membatik. Bahkan saat ini mampu membuka kursus tari Bali dan memiliki tempat kursus cara membatik di ranah Spanyol ini. Dia juga tahu cara memasak masakan khas Indonesia dan menjadikan menu makan malamnya.

Dikutip dari keberhasilan Angela Lopez Lara yang beralamatkan di Madrid Spanyol, dia berhasil memelajari budaya Bali. Saat ini dia mengajar dan membuka kursus tari Bali di Madrid Spanyol. Selain penularan budaya dari Indonesia, ada juga yang menguasai budaya Cina dan budaya dari negara-negara timur lainya.

Kesuksesan perempuan-perempuan hebat ini membuktikan bahwasanya peran perempuan itu sudah sangat jelas ada dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Perkawinan campur antara barat dan timur pun menjadi prasarana penularan dan pertukaran budaya yang terjadi begitu cepat. Dengan fakta-fakta ini, seperti memberikan ruang pendapat bahwa sang perempuan telah memiliki ruang yang selaras dengan laki-laki. Perubahan-perubahan besar yang terjadi saat ini tidaklah luput dari peran sang perempuan hebat di dalamnya.

Follow us: ruanita.indonesia

Sebelum saya menulis, jauh saya mengajak Anda semua untuk melihat, mengerti, dan memahami dua sisi sang perempuan atas tingkat keberdayaannya. Dua sisi ini akan menciptakan sebuah hasil yang berlawanan antara satu dan lainnya. Dua tingkatan keberdayaan itu antara lain sisi pertama,  perempuan itu ibarat air.

Dia akan terus mengalir dengan tenang dan mata airnya menjadikan sumber kehidupan bagi makluk hidup serta tumbuhan yang ada di muka bumi ini. Tetapi air yang tenang itu bisa juga membawa kita terjebak dan tenggelam di dalamnya. Dalam artian perempuan adalah sumber kemakmuran yang bisa membawa kemakmuran baik di lingkungan kecil maupun di sebuah lembaga besar.

Perempuan akan memberikan sumber-sumber kekuatan yang dahsyat apabila ditempatkan pada tempat yang benar serta nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan. Perempuan akan mampu berkolaborasi dengan baik dan menciptakan sebuah hasil yang menakjubkan. Namun bila perempuan ditempatkan di tempat yang kurang betul, bisa menjadikan bumerang bagi banyak insan. Sifat perempuan ditindas, dilecehkan, tidak dihargai ini adalah sumber air yang bahkan bisa menenggelamkan dunia.

Sisi kedua adalah perempuan bisa juga menjadi sebuah bola api yang bisa membakar, menjadikan arang, dan hanya meninggalkan sisa-sisa abu di muka bumi ini. Dalam artian sudah saya singgung di atas, penghargaan nilai-nilai norma perempuan harus dijunjung tinggi, dihargai, dan dilestarikan.

Itulah kehebatan dan kekuatan daya yang ada pada sang perempuan. Di era globalisasi saat ini belum semua orang bisa mengerti dan memahami dua sisi perempuan ini. Bahkan mereka belum melibatkan perempuan untuk berkolaborasi baik di tingkat lingkungan atau organisasi kecil maupun di sebuah komunitas yang besar seperti ruang politik, keuangan, wirausaha bahkan ketatanegaraan.

Sudah banyak kita melihat peran-peran yang sangat luar biasa tercipta dari perempuan-perempuan hebat. Peran sang perempuan pada era cerita Siti Nurbaya sudah seakan-akan mulai lenyap, lama-lama hilang terkubur begitu saja dengan berjalannya masa. Yaitu dari masa dulu ke masa kini dan hanya meninggalkan sepenggal cerita.

Sedikit kita menoleh ke belakang lagi atau ke masa yang sudah lampau sebenarnya. Sudah begitu banyak kekuatan daya perempuan yang mampu menciptakan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan di dunia ini. Akan tetapi itu masih kurang untuk mengetuk hati sang perempuan lainya untuk membangun keberanian diri, meniru bahkan melakukan jejak perempuan-perempuan hebat tersebut.

Namun dengan berjalannya masa, dari masa lampau ke masa baru, menghantarkan sang perempuan memiliki perubahan-perubahan besar. Tentunya dari pengaruh perubahan besar tersebut, ini mampu menciptakan sebuah perubahan yang besar pula di lingkungan perempuan tersebut. Sang perempuan tidak akan tertinggal begitu saja .

Kemajuan dan perubahan besar sebuah negara akan didominasi oleh peran sang perempuan dan juga peran dari anak-anak bangsa. Sejatinya di sini peran utama berasal dari peran sang perempuan tersebut. Anak-anak bangsa yang begitu hebat dan cerdas luar biasa terlahir ke muka bumi ini dari sang perempuan.

Perempuan tidak cukup hanya melahirkan saja, tetapi juga membesarkan, mendidik, menumpu, dan membentuk sebuah karakter dari anak-anak bangsa tersebut. Begitu adalah mayoritas peran hebat sang perempuan.

Menyadari akan kekuatan daya sang perempuan di tanah Spanyol ini, tidak heran apabila Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez  mengatakan dengan semangat antusias „Selamat datang dunia baru!’’ dengan memilih dan memercayakan kabinet barunya yang didominasi oleh sang perempuan. Adalah 11 menteri perempuan dan 6 menteri laki-laki.

Ini telah menjadi sejarah pertama kalinya dalam demokrasi moderen di negara Spanyol. Gebrakan gerakan gelombang demo feminis dengan jumlah kisaran di atas ribuan wanita turun ke jalan. Pada tanggal 8 Maret 2018 tuntutan tersebut antara lain: keselarasan kedudukan perempuan dengan laki-laki, kesamaan derajat, kesamaan gaji disuarakan oleh mereka. Sinyal ini ditangkap oleh Pedro Sanchez sehingga dia memutuskan bahwa peran perempuan di sekelilingnya akan membawa perubahan besar dan kemajuan di negara tersebut.

Selain di negara  Spanyol, tidak kalah juga di negara kita yaitu Indonesia yang terus bermunculan sosok perempuan-perempuan hebat. Mereka mengisi dan turut serta ambil andil dalam peranya untuk membangun dan membawa negara Indonesia. Misalnya perubahan besar susunan kabinet menteri yang memercayakan kekuatan perempuan di dalamnya.

Ada partai politik, bisnis, dan masih banyak fakta perubahan besar lainnya yang tidak lepas dari peran sang perempuan yang luar biasa dalam keikutsertaannya berkolaborasi di dalam ruang publik. Ini telah menjadikan suatu  inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di tengah masa perubahan besar dalam hempasan masa.

Perubahan-perubahan besar ini tidak hanya terjadi di daerah perkotaan yang mungkin sarana dan prasarana lebih memadai tetapi juga di daerah yang mungkin internet belum begitu sempurna difungsikan. Dampak dari perjalanan waktu, dari masa ke masa, tersebut akan membentuk sang perempuan untuk memiliki perubahan.

Sebuah kesimpulan dalam beberapa poin mungkin bisa membantu Anda semua menjadi bahan pengingat antara lain:

  1. Setiap perempuan itu dilahirkan ke muka bumi ini dengan memiliki keunikan tersendiri, kecantikan, kelembutan, kecerdasan, dan keberanian serta kekuatan yang luar biasa dan juga memiliki peran untuk mampu melahirkan anak-anak muda yang hebat. Kekuatan, kesabaran, dan kecerdasan sang perempuan tidak ada batasannya. Namun sang perempuan mampu mengontrol diri untuk tidak menjadi kelewat batas dalam setiap perannya.
  2. Perempuan adalah sumber energi kekuatan yang tepat untuk membangun dan mefungsikan keberdayaannya untuk mencapai suatu titik keberhasilan. Ini merupakan titik kesuksesan yang besar apabila ditempatkan pada tempat yang benar apabila diberi kepercayaan, toleransi dan dihargai.
  3. Kesamaan kuasa ataupun tingkat kepemimpinan sosok perempuan bukan suatu pukulan. Ini bukan hal yang sangat menyedihkan bagi kaum laki-laki. Justru ini merupakan kolaborasi dengan laki-laki pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan seorang laki-laki.
  4. Sesungguhnya kesuksesan seorang laki-laki itu pasti ada peran perempuan hebat di belakangnya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat dan bisa sedikit menambah informasi bagi Anda semua. Mari kita memahami, mengerti, dan menghargai sesama dengan cinta kasih sejati.

Penulis: Tyka Karuniawan, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Spanyol.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tak Perlu Bisa Bahasa Thailand, Kalau Mau Kerja di Thailand

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Sedunia 2023 RUANITA mengundang Astari, seorang perempuan Indonesia yang kini berkarir di Thailand. Di negeri Gajah Putih ini Astari mulai merintis karir Go International setelah dia cukup menguasai market di seputar Asia Tenggara.

Berbekal keberanian untuk mencoba peruntungan di luar negeri, Astari berhasil mendapatkan posisi bergengsi di Bangkok, Thailand.

Selama lima tahun Astari mengalami berbagai pengalaman menarik bekerja bersama orang-orang Thailand. Dalam hal kuliner atau makanan, Astari mengaku tidak memiliki masalah karena benar-benar identik dengan Indonesia. Namun dalam soal kultur dan cara pandang, ada banyak hal yang membuat Astari takjub dan terkesan juga.

Di awal cerita, Astari menceritakan proses perekrutan karyawan sejak di Indonesia. Menurut Astari, hal yang benar saat ingin bekerja di negeri Gajah Putih adalah memiliki visa yang diperuntukkan untuk bekerja, bukan menggunakan Visa Turis kemudian menggantinya setelah tiba di Thailand.

Astari sangat menekan ini karena beberapa kali muncul kasus penipuan kerja di area Asia Tenggara yang menawarkan kemudahan pengurusan visa dan iming-iming kerja bergaji fantastis.

Follow kami: ruanita.indonesia

Hal penting yang harus diperhatikan saat tinggal dan bekerja di Thailand sebagai pendatang adalah menghormati apa yang mereka yakini. Ada hukum namanya Lese-majeste Law di mana seluruh warganya menghormati Raja Thailand.

Kalau kita tidak menghormatinya atau kedapatan menghina Sang Raja maka mendapatkan hukuman setimpal. Lucunya uang koin di Thailand itu bergambar Sang Raja, warga di sana sampai tidak berani menginjak uang koin tersebut.

Pengalaman menarik bekerja di Thailand lainnya adalah soal keyakinan warga yang mempercayai hal-hal supranatural. Antara percaya atau tidak percaya, Astari pernah mendapatkan kesialan pada hari itu hanya karena Astari tidak mematuhi apa yang tertera pada hari keberuntungan dan hari ketidakberuntungan.

Cerita tentang Fortune Teller yang memberikan petunjuk bahkan soal pekerjaan membuat Astari memiliki pengalaman berkarir yang berwarna selama di negeri Gajah Putih tersebut.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Bagaimana cerita keseruan dan pengalaman menarik selama bekerja di Thailand yang disampaikan Astari? Silakan simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Untuk mendukung program kami, tolong subscribe kanal kami!

(WARGA MENULIS) Khadijah, Pengusaha Kaya dari Mekkah

Hari ini kita banyak mengenal tokoh-tokoh pergerakan perempuan Indonesia dan dunia. Tidak sedikit dari mereka menjadi pimpinan lembaga, kementerian, kepala pemerintahan hingga kepala negara. Sebut saja Megawati Soekarnoputri, seorang tokoh pergerakan politik di Indonesia yang kemudian menduduki kursi presiden.

Selain itu masih banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin dunia dari kalangan perempuan, seperti Indira Gandhi dari India, Margaret Thatcher dari Inggris, Benazir Bhutto dari Pakistan, Halimah Yacob dari Singapura, Angela Merkel dari Jerman, Aung San Suu Kyi dari Myanmar dan lain-lain.

Jika kita mengenal nama-nama tokoh dunia tersebut di atas, maka apakah kita juga mengenal sosok perempuan bernama Khadijah binti Khuwailid? Bagi yang belum mengenalnya, pasti akan timbul pertanyaan dalam benaknya, “Siapakah dia, dari mana ia berasal dan apa yang telah dilakukannya?“

Dari beberapa sumber yang dihimpun, disebutkan bahwa Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan yang dilahirkan dari keluarga terpandang dan terhormat pada tahun 555 Masehi. Namun ada juga sumber lain yang menyebutkan bahwa Khadijah lahir pada tahun 556, 565 atau 570 Masehi.

Khadijah berasal dari suku Quraish Mekkah dan mempunyai kepribadian yang terpuji. Karena memiliki budi pekerti luhur dan akhlak mulia oleh masyarakat setempat, ia dijuluki sebagai seorang perempuan yang suci (At-Thahirah).

Khadijah banyak menimba ilmu tentang bisnis dari ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Khadijah melanjutkan tradisi keluarga sebagai pedagang. Atas kegigihan, ketekunan dan keluhuran budinya, ia berhasil menjadi pengusaha perempuan sukses yang disegani. Beberapa sumber menyebutkan bahwa bisnisnya merambah hingga ke pusat-pusat perdagangan di negeri Syam, Persia dan Yaman.

Follow us: ruanita.indonesia

Kehebatan Khadijah dalam memimpin perdagangan kala itu tidak diragukan lagi. Ia memimpin bisnisnya dengan mempekerjakan banyak pegawai. Salah satu pegawainya adalah Muhammad bin Abdullah, yang kemudian kita kenal dengan Nabi Muhammad SAW. Meskipun sukses dan kaya raya, Khadijah tidak memperlakukan pegawainya dengan semena-mena. Bahkan khadijah dikenal sebagai orang yang dermawan.

Dalam buku berjudul Khadijah, Daughter of Khuwaylid, Wife of Prophet Muhammad karya Yasin Al-Jibouri, disebutkan bahwa Khadijah selalu menginstruksikan pegawainya untuk membuka pintu toko agar orang-orang fakir miskin yang lapar bisa masuk dan mendapatkan makanan.

Diceritakan pula dalam buku tersebut bahwa jauh sebelum menikah dengan Muhammad bin Abdullah, Khadijah binti Khuwailid pernah dua kali menikah dan ditinggalkan suaminya karena gugur dalam peperangan. Selain memimpin bisnisnya, Khadijah yang juga sebagai Single Parent mempunyai tanggung jawab untuk mengurus anak-anaknya. Namun beberapa sumber lain menyebutkan bahwa Khadijah tidak pernah menikah sebelum diperistri oleh Nabi Muhammad SAW.

Ketika Khadijah berumur 40 tahun, ia memutuskan untuk menikah dengan Muhammad yang usianya lebih muda 15 tahun darinya dan berstatus sebagai pegawainya. Meski demikian, Khadijah yang kaya raya dan dermawan ini membangun bahtera rumah tangga dengan kesetaraan dan saling menghormati satu sama lain. Dengan hartanya, Khadijah juga diketahui banyak membantu suaminya tatkala Muhammad menerima wahyu kenabiannya dan mendapat perintah untuk menyebarkan agama Islam.

Sebagai istri, Khadijah selalu mendampingi suaminya dengan penuh kasih sayang, cinta dan kelembutan. Khadijah juga memberikan motivasi, dan menguatkan hati Nabi Muhammad tatkala suaminya itu diperangi oleh musuh-musuhnya.

Khadijah binti Khuwailid yang oleh kebanyakan orang di Indonesia dikenal dengan nama Siti Khadijah. Selain menjadi pengusaha perempuan yang kaya raya, ia juga merupakan perempuan pertama yang memeluk agama Islam dan menjadi salah satu penasihat Nabi serta menjadi perempuan pertama yang ikut menyebarkan risalah Islam.  Selain itu, Khadijah juga merupakan istri pertama Nabi Muhammad dan tidak dimadu.  

Kini Khadijah dijadikan sebagai simbol pengusaha perempuan sukses dan namanya banyak dipakai oleh para orang tua muslim dalam memberikan nama anak-anak perempuan mereka. Nama Khadijah juga dipakai oleh banyak lembaga kemanusiaan sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam.

Dari tulisan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Khadijah, meskipun sukses dan kaya raya menjadi pengusaha terkenal, dia tidak pernah menyombongkan dirinya. Justru ia menjadi orang yang mempunyai rasa empati terhadap sesama. Selain itu dapat kita simpulkan juga bahwa Khadijah merupakan seorang istri solehah dan sosok ibu yang mulia.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Penulis: Andi Tinellung Nur Ilahi, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Wanita Alfa Lahir karena Intuisi, Pilihan atau Lingkungan?

Wanita Alfa atau lebih dikenal khalayak dengan Alfa Female, pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang memiliki sifat yang kuat, independent, dan berpengaruh. Istilah ini berasal dari istilah “Alfa Male”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang pria yang memimpin dalam segala hal, baik dalam hal profesional maupun pribadi. Dalam hal ini “Wanita Alfa” atau Alfa Female digunakan untuk menggambarkan wanita yang memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan Alfa Male.

Kepribadian wanita Alfa sangat kuat. Mereka memiliki keyakinan diri yang tinggi, kemampuan memimpin dengan hebatnya dan tidak takut berbicara demi memperjuangkan pendapat. Mereka menggunakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi digunakan dengan baik, persuasif dan bisa memotivasi banyak orang adalah salah satu caranya.

Kepopuleran dan pengaruh wanita Alfa di dunia sangat besar dan bisa dibilang meningkat setiap tahunnya. Berikut adalah beberapa tokoh wanita Alfa yang populer dan berpengaruh di dunia:

1. Kamala Harris – Wakil Presiden Amerika Serikat.

2. Angela Merkel – Mantan Kanselir Jerman.

3. Jacinda Ardern – Perdana Menteri Selandia Baru.

4. Hillary Clinton – Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

5. Oprah Winfrey – Pembicara, Produser Televisi dan Filantropis.

6. Sheryl Sandberg – COO Facebook dan Penulis Buku “Lean In”.

7. Michelle Obama – Pengacara, Penulis dan Mantan Ibu Negara Amerika Serikat.

8. Indira Gandhi – Mantan Perdana Menteri India.

9. Amanda Gorman – Penyair, Aktivis dan Penulis.

10. Sri Mulyani – Wanita sekaligus orang Indonesia Pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia dan Menteri Keuangan Indonesia.

Tokoh-tokoh wanita Alfa di atas sudah dicatatkan dalam sejarah sebagai pemikir terkemuka dalam bidang mereka masing-masing. Secara umum, saya melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai pemimpin inspiratif dan role model bagi banyak orang, terutama bagi kaum wanita.

Follow us: ruanita.indonesia

Mereka membuktikan bahwa gender tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dan memimpin dalam bidang tertentu. Mereka menunjukan bahwa bukan gender, melainkan kualitas seperti dedikasi, keterampilan dan kemampuan memimpin adalah faktor yang menjadikan seorang pemimpin hebat dan sukses.

Pencapaian istimewa dari para wanita Alfa di atas adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan peran publik dan perannya sebagai wanita dengan sangat baik. Mereka mampu menjalani hidup mereka dengan sangat efektif, menjadi pemimpin di bidang mereka, dan juga memenuhi tanggung jawab sebagai seorang wanita.

Memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas mereka, memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik, dan memastikan bahwa semuanya dapat berjalan lancar. Mereka adalah wanita Alfa yang memiliki kemampuan memotivasi orang lain, baik di tempat kerja maupun di rumah. Terlihat dengan jelas memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang-orang di sekitarnya.

Kemudian menjadi pertanyaan di benak saya, bagaimana seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa? Wanita-wanita Alfa ini sukses tidak hanya menggebrak stigma kepemimpinan yang biasa dipegang kaum pria, tapi juga memengaruhi publik serta orang yang ada disekitarnya. Menyeimbangkan peran, memberikan kontribusi yang signifikan di berbagai bidang baik di lingkungan kerja maupun di rumah adalah sesuatu luar biasa. Dengan memiliki visi yang jelas dan tidak terpengaruh oleh keterbatasan gender. Wanita Alfa memimpin dengan keterampilan dan keahlian yang luar biasa, membuat keputusan sulit dan membawa perubahan yang diperlukan.

Apakah seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa karena bentukan dari sebuah intuisi wanita itu sendiri? Ataukah menjadi seorang wanita Alfa adalah sebuah pilihan yang memang dipilih sendiri oleh wanita itu? Atau munculnya wanita Alfa ini karena lingkungan yang membuatnya? Melalui narasi-narasi di bawah ini saya coba untuk menguraikan.

Narasi yang pertama, ada seorang wanita bernama Fatimah. Sebagai anak bungsu dari keluarga mampu dan istri dari seorang pengusaha sukses, dia memiliki kemampuan dalam memahami situasi dan membuat keputusan yang tepat dan cepat.

Kemampuan ini berasal dari intuisinya yang kuat dan dalam, yang seolah memberikan nasihat dan petunjuk kepadanya dalam setiap tahap hidupnya. Fatimah selalu memercayai dan mengikuti intuisinya, bahkan saat orang lain tidak setuju dengan pilihan hidupnya.

Ia memutuskan untuk mengikuti mimpinya dan mengejar karir di bidang yang benar-benar passion-nya menjadi Teknisi Mesin meskipun ini berarti meninggalkan kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan pekerjaan lamanya. Intuisi Fatimah membawanya ke lingkungan dan situasi baru yang memacu pertumbuhan dan pengembangan diri.

Ia beradaptasi dan membuat keputusan yang tepat, membawanya mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam bidang yang dipilihnya. Fatimah memimpin timnya dengan visi yang jelas dan tegas, memotivasi orang untuk bekerja sama dan membantu mereka mencapai potensi yang maksimal. Ia memimpin dengan kepemimpinan yang inspiratif dan membantu orang lain untuk berkembang dan sukses bersama.

Fatimah menjadi contoh bagi wanita lain bahwa intuisi adalah kekuatan yang sangat kuat dan dapat membantu seseorang mencapai kesuksesan dan memimpin hidup mereka. Ia membuktikan bahwa dengan memercayai intuisi dan mengikuti intuisi, seseorang dapat mencapai kesuksesan dan memiliki pengaruh besar dalam lingkupnya.

Narasi yang kedua, sosok wanita bernama Dian, anak sulung dan seorang ibu tunggal dengan 5 anak, kondisi keluarganya mengharuskan Dian untuk mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dian memutuskan memilih untuk menjadi sosok kepala keluarga yang kuat dan tangguh supaya bisa membawa keluarganya sukses dan mapan.

Dian bekerja dengan giat sambil menjalankan rumah tangga serta membesarkan anak-anaknya sendiri. Dian mulai membangun usaha catering rumahan yang dikerjakan sendiri pada awalnya, hingga akhirnya usaha catering-nya sukses dan memiliki karyawan total lebih dari 800 orang.

Dian berhasil memotivasi dan meyakinkan karyawan-karyawannya untuk sukses bersama dengan membuka cabang di beberapa kota lain. Di sini kita bisa melihat, Dian adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam memilih pilihan hidupnya dengan kuat dan tegas. Tekanan lingkungan dan permasalahan demi permasalahan tidak gentar ia hadapi dengan sebaiknya.

Saat ini pada usianya menjelang 70 tahun, Dian sudah bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, menikmati masa-masa pensiun, ia berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kelima anak Dian sukses menyelesaikan pendidikan hingga tingkat pascasarjana dan berkarir dengan gemilang.

Dian adalah contoh dari seorang wanita yang memilih untuk menjadi wanita Alfa tangguh. Ia membuktikan dengan membuat pilihan hidup yang berani, seseorang bisa menjadi wanita Alfa yang sukses memberikan dampak positif untuk dirinya, keluarganya dan juga timnya.

Narasi yang ketiga. Diceritakan bahwa Mira, wanita yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat mendukung dan membentuk dirinya menjadi wanita Alfa. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang memperkuat pemikiran dan keyakinan bahwa setiap setiap wanita memiliki potensi untuk memimpin dan berpengaruh dalam lingkup mereka.

Mira adalah anak dari seorang wanita sukses pemilik perusahaan besar yang menaungi beberapa perusahaan dan berpengaruh dalam lingkup bisnis. Ia menjadi panutan Mira dan membantu Mira memahami bahwa wanita adalah kaum berdaya yang memiliki kemampuan memimpin dan bisa memengaruhi publik. Mira memperoleh pendidikan yang kuat dan sangat menunjang serta lingkup kerja yang menyediakan kesempatan baginya untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuannya sebagai wanita Alfa.

Ia bekerja dengan tim dan pimpinan yang menghormati serta mendukung potensi dan bakat yang dimilikinya. Mira kini menjadi sosok wanita Alfa, pengusaha sukses dan aktivis yang populer menyuarakan aspirasi-aspirasi lingkungan dengan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Melalui ide-ide yang ia suarakan, terjadi banyak perubahan kebijakan pemerintah ke arah yang lebih baik.

Sosok Mira adalah bukti bahwa lingkungan adalah tempat terbaik yang memengaruhi pembentukan pola pikir dan karakter seseorang. Ia menjadi contoh bahwa dengan memiliki lingkungan yang menghormati dan mendukung setiap potensi wanita untuk berkembang, seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa yang sukses dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya.

Ada beberapa wanita yang secara alami berintuisi, memiliki kepribadian dan sikap yang kuat dalam memimpin, sementara yang lainnya mungkin harus memilih untuk mengembangkan serta memperkuat kemampuan mereka dalam memimpin melalui pelatihan atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya menawarkan “untuk menambah dan mengasah ilmu kepemimpinan”.

Saya pun percaya bahwa pengalaman hidup dan lingkungan juga memainkan peran dalam membentuk seorang wanita menjadi wanita Alfa. Terkadang, orang-orang dapat memutuskan untuk menjadi pemimpin setelah mengalami situasi atau tantangan yang membutuhkan mereka untuk memimpin dan membuktikan kemampuan mereka.

Perlu diingat bahwa setiap wanita memiliki potensi untuk sukses, tidak peduli apakah mereka memiliki sifat wanita Alfa atau tidak. Keberhasilan dalam bidang apapun tergantung pada kerja keras, dedikasi dan kemampuan belajar yang tangguh serta beradaptasi.

Jadi walaupun secara alami memiliki kepribadian dan sikap wanita Alfa, tidak ada jaminan bahwa wanita ini akan sukses. Apalagi menggebrak dan berpengaruh terhadap publik, tidak ada batasan bagi siapa saja mencapai kesuksesan.

Panggilan untuk setiap wanita: Kejarlah impian dan manfaatkan potensi Anda sepenuhnya! Ini adalah ajakan untuk memiliki keberanian dan tekad untuk memimpin dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Menjadi wanita Alfa di ruang publik, bukan hanya tentang sukses di bidang tertentu saja, ini tentang memiliki dedikasi dan gairah untuk mencapai kesuksesan bersama. Mari berperan ganda dan buktikan bahwa wanita bisa berdaya, membuat perbedaan positif bagi diri sendiri dan dalam hidup banyak orang.

Sampai akhirnya pada suatu hari Anda bisa berkata layaknya kalimat mutiara anonim: “Jangan meremehkan saya! Saya tahu lebih banyak daripada yang saya katakan, melakukan lebih banyak dari yang saya bicarakan dan memperhatikan lebih banyak dari yang Anda sadari.”

Penulis: Nadiya Dewantari, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Perempuan Mandiri Punya Nama Sendiri

“Apalah arti sebuah nama”, satu kalimat yang tak asing bagi kita semua. Jika kita renungi, kalimat tersebut mempunyai arti yang dalam. Sebuah sikap bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada sebuah nama.  Buat saya sendiri, tema nama selalu menarik perhatian. Sebuah nama mempunyai latar belakang tradisi tua yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, terutama  bagi kehidupan seorang perempuan.

Di banyak negara, perempuan menukar nama keluarganya dengan nama keluarga suami yang dinikahinya. Di Indonesia fenomena yang ada adalah perempuan Indonesia kehilangan nama depannya setelah mereka berkeluarga, berganti dengan Mama Si Tole atau  Istri Si Anu. Tetapi fenomena ini mungkin tidak banyak terjadi terhadap perempuan pemimpin. Apakah seorang perempuan harus menjadi pemimpin untuk tidak kehilangan nama depannya?

Para perempuan Indonesia lahir dan mendapatkan nama yang diberikan orangtua mereka.  Biasanya nama mempunyai arti penting  dan merupakan wujud kebahagiaan, harapan bahkan sebuah doa dari orang tua mereka. Di luar nama yang menunjukkan tradisi, identitas  adat dan agama, nama depan menjadi bagian aktif dalam kehidupan para perempuan sejak lahir. 

Nama tersebut seharusnya menjadi nama yang melekat di sepanjang hidup mereka. Tetapi tak jarang nama itu hanya dikenal hanya sampai mereka mendirikan keluarga. Terlepas dari hanya sebatas pemberian nama dari orang tua, ada juga aturan pemberian nama terkait adat dan hukum yang mengikat. 

Mari kita simak beberapa contoh perjalanan para perempuan pemimpin di beberapa negara dan nama depan mereka. Saya mengambil contoh Indonesia, Jerman dan Spanyol sebagai tiga negara yang saya kenal baik. Indonesia sebagai kampung halaman, tanah kelahiran. Jerman dan Spanyol sebagai kampung halaman pilihan, tanah domisili.

Megawati Soekarnoputri, nama perempuan terkenal yang pernah menjadi pimpinan negara Republik Indonesia pada tahun 2001 hingga 2004. Nama depannya sangat kental kita kenal: Megawati atau nama singkatnya, Mega.

Publik menyapa politisi perempuan ini dengan sebutan Bu Mega. Sebagai pemimpin, putri dari salah satu Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia ini, sudah lebih dulu menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia. Di Jerman, perempuan pemimpin yang disapa publik dengan nama Frau (Ibu) Angela Merkel. Ia menjadi kanselir negeri Jerman 16 tahun lamanya, sejak 2005 hingga 2021.

Ia menjadi seorang perempuan yang dicatat sejarah sebagai kanselir perempuan pertama di negara Republik Federal Jerman.  Frau Merkel juga menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia.

Follow us: ruanita.indonesia

Berbeda dengan Bu Mega, Frau Merkel  lahir dengan nama lain, yaitu Angela Dorothea Kasner.  Kita bisa melihat bahwa tradisi nama seorang perempuan Indonesia sangatlah kental dengan nama depan pemberian orang tuanya. Kita ambil nama lain, misalnya Profesor Conny Semiawan, seorang ilmuwan, mantan rektor Universitas Negri Jakarta, sebutan yang lebih dikenal untuk Almarhumah adalah Ibu Conny, bukan Ibu Semiawan. 

Lain halnya dengan di Jerman. Ada hukum pemberian nama, yaitu ada nama depan dan nama keluarga yang mengikat. Ada tata cara penggunaan bahasa dalam menyapa nama. Tambah lagi, ada juga aturan perubahan nama keluarga saat seseorang menikah. Saat ini hukum itu berbeda dibanding saat Frau Merkel menikah dengan suami pertamanya.

Saat itu mungkin belum banyak pilihan, umumnya orang memutuskan menanggalkan nama belakangnya untuk ditukar dengan nama suaminya. Di pernikahan keduanya Frau Merkel menggunakan nama keluarga sebelumnya, tidak mengubah namanya. Kini secara hukum, saat seseorang menikah, di Jerman ada banyak pilihan yang bisa diambil.

Orang bisa menambah, mengurangi, atau pun tetap tetap mempertahankan nama yang disandang sebelumnya.  Selain contoh di atas, ada hal yang harus diingat.  Misalnya presiden Uni Eropa, seorang perempuan bernama Ursula von der Leyen, sebutannya Frau von der Leyen.  Sebutan dengan cara Indonesia dengan kata sapa diikuti nama depan, Frau Ursula, tidak akan terjadi.

Sementara di Indonesia, penambahan atau pengurangan nama yang dicatat secara hukum karena pernikahan, tidaklah menjadi bagian aturan yang digunakan.

Contoh kecil di atas memperlihatkan perbedaan tentang penggunaan nama di masing-masing negara. Di Jerman dan di Indonesia, aturan resmi penggunaan nama itu sangat lekat dengan tradisi dan aturan hukum yang berlaku. Di bagian dunia lain ada banyak tradisi dan aturan yang berbeda. Saya ambil contoh, misalnya  budaya pemberian nama di negara Spanyol.

Jangan berpikir,  bahwa sebagai salah satu negara di wilayah Eropa, aturan di Spanyol sama atau pun mirip dengan Jerman.  Penjelasan di bawah ini diharap bisa membuka pemahaman umum. Tradisi pemberian nama sama sekali tak  bergantung pada letak geografi. Memang pada dasarnya dari pilihan nama-nama di Jerman dan di Spanyol ditemui perbedaan  dan kesamaan.

Di Spanyol, pilihan nama asli Spanyol sebagai nama yang dicatat di kantor pencatatan sipil menjadi aturan yang mengikat. Nama asli Spanyol bisa menunjukkan asal geografi, ada nama khas dari wilayah Katalan, Galicia, Andalusia, dan lainnya. Orang asli Spanyol memberikan nama pada anaknya dengan memilih nama depan dari nama-nama yang sudah ada di buku nama-nama depan orang Spanyol.

Saya ingat, seorang perempuan Spanyol ingin menamai anaknya Thelma, tetapi dalam buku besar nama, hanya ada nama Telma. Maka ia harus mengajukan permohonan. Aturan ini membuat nama-nama asli Spanyol tetap ada, tidak tergeser oleh nama asing.  Selain di Spanyol, kita bisa mengenali nama-nama orang Spanyol yang digunakan juga di negara-negara Amerika Selatan.

Tiap orang Spanyol, saat lahir mereka mendapatkan satu atau beberapa nama depan yang diikuti dengan dua nama keluarga yang berjejer.  Nama keluarga terdiri dari satu nama keluarga dari bapak dan satu nama keluarga dari ibu. Kita ambil saja, ratu negeri Spanyol saat ini yang bernama Letizia Ortiz Rocasolano, nama yang disandang saat ia lahir, Letizia sebagai nama depannya, nama Ortiz adalah nama keluarga yang dia peroleh dari bapak, dan nama Rocasolano dari nama keluarga ibu.

Perempuan yang sebelum menikah berprofesi sebagai seorang jurnalis itu, kini dipanggil dengan sebutan Doña Letizia. Tradisi penggunaan nama depan, yang dijadikan sebagai nama publik, tidak dikenal dalam tradisi dan aturan masyarakat Jerman, sementara dalam tradisi Spanyol, kata sebutan –Doña, Señora itu mirip dengan penggunaan sebutan bagi perempuan di Indonesia yaitu  Nona, Ibu, Nyonya.  

Follow us: ruanita.indonesia

Jadi kalau menilik tema tradisi atau pun hukum pemberian nama, kita tidak bisa menggunakan pemetaan atas dasar geografi. Di Eropa juga banyak tradisi yang mengikat dan yang membebaskan perempuan menjadi dirinya dan memilih nama dirinya sesuai yang dia inginkan.

Para perempuan Indonesia biasanya punya nama depan yang dipakai sebagai nama diri, nama yang disebut oleh publik,  apalagi jika dia berada di posisi yang menempatkannya sebagai pemimpin. Akan tetapi, secara umum dan secara luas, dalam kehidupan perempuan yang sudah menikah di Indonesia.

Kebanyakan  mereka kehilangan nama depan  karena nama panggilan yang digunakan dalam keseharian berorientasi pada suami atau anak mereka.  Jangan heran jika kita berkunjung ke rumah seorang teman perempuan, seringkali kita harus tahu siapa nama panggilan yang digunakan oleh orang sekitarnya.

Seorang perempuan yang bernama Tridewi Anandaputri, setelah menikah dengan suaminya yang bernama Raja Suhari, sangat wajar jika pelan-pelan tak ada orang di lingkungan tinggalnya yang kenal nama Tridewi, Anandaputri atau nama lengkapnya, karena sejak awal berumah tangga sudah digunakan nama sebutan Bu Raja atau Bu Suhari.

Nama perempuan itu bisa juga hilang saat dipakai  sebutan Mama Dewa, jika misalnya anak sulung mereka bernama Dewa.

Para perempuan pemimpin menurut saya menjadi contoh baik mempunyai nama diri, memakai nama depan mereka. Nama depan seorang perempuan di Indonesia bisa hilang karena kebiasaan masyarakat. Sayang sekali bahwa tema ini kurang mendapat perhatian, bukan saja perhatian secara umum, tapi juga perhatian dari para penyandangnya sendiri.

Bisa jadi karena keberterimaan yang tinggi dari penyandang nama tersebut. Mereka yang sudah merasa puas mendapat posisi sebutan Istri Si Anu ataupun Mama Si Tole. Jika situasinya memang demikian maka tak ada hal yang perlu diubah. Akan tetapi, untuk para perempuan yang belum terlanjur kehilangan nama depannya, saya berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat sebagai bahan pertimbangan Anda.

Keputusan perubahan ada di tangan Anda, siapa pun Anda, dengan nama apa pun Anda ingin tampil di ruang publik dan lingkungan Anda.  Satu hal saya yakini, bahwa tak harus jadi pemimpin untuk tetap mempertahankan nama depan Anda. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023!

Penulis: Dyah Narang-Huth, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Kebiasaan Phubbing Ajariku Beradaptasi dengan Situasi

Aku sangat suka membaca. Saking sukanya, aku harus membaca saat sedang makan. Dulu saat masih di Indonesia, aku membaca buku fisik. Namun, saat aku pindah ke Jerman, aku berpaling pada e-book. 

Selain e-book praktis, aku juga bisa membaca buku-buku yang dulu aku punya di Indonesia yang tidak tersedia secara fisik di Jerman. 

Kebiasaan ini aku bawa sampai Jerman. Saat aku masuk universitas, aku banyak menghabiskan waktuku sendirian, terutama saat makan. Aktivitas membaca sambil makan ini adalah salah satu caraku untuk tidak merasa kesepian saat makan sendirian, karena sahabatku tidak memiliki jadwal kuliah yang sama sepertiku.

Follow us: ruanita.indonesia

Saat aku sendirian, mungkin kebiasaan itu tidak terlalu mengganggu. Namun itu menjadi masalah saat kebiasaan itu terbawa bahkan jika aku sedang bersama sahabatku. 

Sahabatku merasa terganggu dengan kebiasaanku itu karena saat bersamanya, aku malah asyik dengan Handphone atau ipad. 

Tidak tahan lagi, akhirnya sahabatku memberikan ultimatum. 

“Nad, gue ketemu sama lo karena gue mau ngobrol dan ngabisin waktu sama lo,” dia bilang.

“Tapi gue merasa nggak dihargai karena lo malah sibuk baca novel. Janji ya, kalau lagi keluar sama gue lo gak boleh buka hp atau ipad, lo harus ngobrol sama gue. Kalau nggak, gue nggak mau lagi main sama lo!” lanjutnya lagi. 

Jujur, aku merasa tidak enak hati. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan sahabatku itu. Namun dengan ultimatum itu, aku jadi sadar dengan kebiasaan burukku. Padahal dari dulu keluargaku suka menasehati kebiasaanku itu tetapi aku tidak menghiraukannya.

Sejak saat itu, saat aku keluar bersama orang lain. Sebisa mungkin aku tidak akan membuka hape atau ipad. Aku hanya membuka hp atau ipad saat aku menghabiskan waktu sendirian atau dengan suamiku. Bagaimana pun suamiku memiliki kebiasaan yang sama denganku, yaitu baca e-book sambil makan. 

Efek baiknya, aku tidak terlalu lagi terobsesi dengan hape atau ipad seperti dulu. Akupun menjadi lebih aware dengan karakter orang yang pergi bersamaku dan bisa lebih mencocokkan diri dengan mereka. 

Penulis: Nadia, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Semua Bahasa Indah dan Penting

Di bulan Februari 2023, kami mengundang Yacinta Kurniasih yang tinggal di Australia untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya yang telah bergelut dalam bidang Akademisi terutama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Australia. Setelah lebih dari 20 tahun tinggal di Australia, Yacinta menyadari bahwa Indonesia memiliki keragamaan bahasa yang tidak ternilai dan tentu saja tidak dimiliki oleh banyak negara lainnya di dunia.

Yacinta berpendapat semua bahasa itu indah dan penting. Itu sebab Yacinta menyarankan untuk kita mengenali bahasa-bahasa lainnya, tidak hanya pada satu bahasa saja atau Monolingualistik. Bagaimana pun bahasa itu adalah hak asasi manusia yang paling hakiki. Kita yang berasal dari Indonesia patut berbangga karena keragamana bahasa yang kita miliki dan kebijakan yang jelas tentang berbahasa di semua institusi termasuk institusi pendidikan.

Tidak semua pemerintahan di dunia punya kebijakan yang jelas tentang penggunaan bahasa, bahkan Yacinta menilai ada kecenderungan hanya menggunakan satu bahasa saja agar anak tidak ketinggalan dalam pergaulan internasional. Padahal semestinya orang tua, terutama pelaku kawin campur, perlu memperkenalkan banyak bahasa kepada anak agar anak mengenali identitas asalnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Yacinta menyarankan bagi pelaku kawin campur untuk mengajari anak berbahasa dengan lucu, asyik dan menyenangkan bukan keterpaksaan sehingga bisa menjadi bekal bagi anak untuk berkomunikasi setelahnya. Sekitar 5% dari pemelajar Bahasa Indonesia yang belajar di University of Monash, tempat Yacinta bekerja, adalah siswa-siswi dari keluarga birasial, yang salah satu orang tuanya dari Indonesia.

Selain itu, Yacinta berkeinginan suatu saat nanti dapat meneliti lebih dalam mengapa masih banyak orang tua malu atau segan untuk mengajari anak berbahasa Indonesia atau tidak menurunkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Ada pun orang tua juga masih berhadapan pada mental Monolinguistik.

Apa itu mental Monolinguistik? Apa pesan Yacinta untuk Pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Bahasa Indonesia di luar negeri?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak cerita Yacinta di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Jatuh Cinta (Lagi) dengan Bahasa Ibu

Episode kesepuluh di Februari 2023 ini adalah membicarakan bahasa ibu yang akan dirayakan pada Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari nanti. Bagaimana pun Bahasa Ibu adalah bahasa pertama kita mengenal dunia dan pengetahuan pertama kali. Host program Podcast: Nadia, Fadni dan Alvina yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Jerman ini berbagi celoteh seputar pengalaman berbahasa.

Sebagai orang Indonesia yang jauh dari perantauan, Fadni, Nadia dan Alvina membicarakan bagaimana pengalaman mereka dalam belajar bahasa asing. Kehidupan sehari-hari tentunya mereka mendengar dan berbicara dalam bahasa asing. Mereka bercerita bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa asing tersebut.

Follow kami: ruanita.indonesia

Bahasa menjadi alat berkomunikasi antar sesama satu sama lainnya. Sayangnya saat berada di negeri jauh dari tanah air, banyak orang yang merasa malu dan tidak lagi menggunakan Bahasa Ibu. Alasannya bermacam-macam seperti terkesan kuno, tidak moderen hingga menggangap Bahasa Ibu tidak layak lagi digunakan di negeri asing.

Momen bulan Februari yang dipandang sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Nadia, Fadni dan Alvina mengajak Sahabat RUANITA untuk mencintai kembali Bahasa Ibu sebagai cerminan asal usul identitas kita.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700-an bahasa daerah yang bermacam-macam yang sebenarnya membuat kita bangga. Menjadi duta bangsa di luar negeri tidak harus berlebihan dengan prestasi, cukup berperilaku baik dan bangga berbahasa ibu yang menunjukkan jati diri kita.

Semua bahasa di dunia itu penting. Sebelum kita mengenal berbagai bahasa asing lainnya, Bahasa Ibu adalah cara kita mengenal dunia pertama kali. Ayo, jangan malu berbahasa ibu di mana pun kalian berada!

Simak celoteh RUMPITA selengkapnya berikut ini: