Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Penulis: Admin RUANITA - Rumah Aman Kita
"Rumah" orang Indonesia di luar Indonesia di mana kita bisa berdiskusi & berbagi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik dalam konteks Transnational Cultural Psychological.
“Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas. Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian. Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak.”
Aku adalah seorang ibu dengan dua anak perempuan. Kami sekeluarga semula tinggal bersama di ibu kota. Sejak berhenti kerja, aku dan kedua putriku pindah ke kota lain, sedangkan suamiku menetap di ibu kota untuk mencari nafkah.
Selama 10 tahun bisa dibilang aku membesarkan dan mengurus kedua putriku sendirian. Seiring berjalannya waktu, hingga si sulung selesai SMA, tibalah waktunya untuk harus melepasnya, memenuhi keinginannya lanjut studi ke luar negeri.
Ketika putriku akan berangkat ke luar negeri, justru aku tidak bisa merasakan dengan jelas apa yang kurasakan. Semua mengalir menjadi satu: senang dan bangga karena keinginannya bisa terwujud, cemas karena tidak bisa menemani perjalanan jauhnya, sedih karena harus berpisah, bingung bagaimana caranya jika ingin bertemu dan sebagainya.
Campur aduk yang pasti. Yang menarik adalah, kuingat hari keberangkatannya yang mendadak waktu itu dikarenakan visa yang keluar mepet, masih ada beberapa barang yang anakku harus persiapkan atau beli.
Sebenarnya dia ingin membagi tugas supaya lebih cepat beres. Namun aku justru memaksanya untuk pergi bersama untuk semua yang harus ia urus.
Awalnya setelah tidak bersama atau serumah lagi, aku tidak merasakan suatu perasaan sedih atau kesepian atau terasa berat. Mungkin karena anak-anak sejak kecil sudah sering dan terbiasa ku tinggal; mandiri.
Hidup kujalani seperti biasa, toh masih ada satu lagi putriku. Selain itu, komunikasi dengan si sulung pun tetap bisa berlangsung dengan adanya internet.
Rasanya anak hanya sedang berada di luar kota. Tidak ada rasa kesepian yang cukup berarti. Didukung lagi dengan banyaknya aktivitas yang kulakukan.
Urusan sekolah si bungsu juga menyita waktu dan perhatian. Kegiatan pelayanan untuk gereja selalu menjadi penyemangat hidup.
Namun semakin lama hidupku kok justru terasa semakin “kosong”, kesepian dan tidak berarti. Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas.
Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian.
Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak. Namun realita yang kuhadapi hanyalah perasaan kosong dan sendiri.
Pikiran tentang bagaimana dan apa yang terjadi dengan putri sulungku hari demi hari nun jauh di negeri orang, sungguh merangkai banyak prasangka.
Untuk menghalau atau lebih tepatnya menghindari rasa galau dan segala suasana pikiran dan hati yang berkecamuk yang terkadang muncul, aku lebih banyak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan pelayanan gereja, di samping tentu saja berdoa tengah malam.
Tapi aku justru lebih banyak menghindari perjumpaan atau “kumpul-kumpul” ataupun sekadar zoom meeting dengan sanak keluarga besar, yang pasti dan selalu akan menanyakan kabar si sulung. Memang jadi terkesan melarikan diri, bukan mengatasi, dan pengecut. Namun aku hanya mampu begitu.
Sejujurnya, kalau aku boleh menyarankan, khususnya bagi para ibu, untuk berpikir dan mempertimbangkan matang-matang dari banyak faktor sebelum ambil keputusan akan “melepas” anak jauh ke seberang sana.
Episode ke-6 PELITA: Parentingtalk with RUANITA yang dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu bertemakan Toilet Training untuk anak bawah tiga tahun. Tak mudah bagi orang tua untuk mengajari anak melakukan kegiatan buang air kecil dan buang air besar secara mandiri, apalagi untuk anak berusia di bawah tiga tahun.
Proses berlangsung toilet training tiap anak berbeda-beda, yang berkisar sekitar 18 bulan hingga 3 tahun. Orang tua perlu mengenali kesiapan anak untuk mulai dengan toilet training melalui beberapa tandanya seperti yang dijelaskan Stephany.
Contohnya, apakah anak sudah bisa berjalan dan sudah bisa duduk? Apakah anak sudah bisa mengucapkan komunikasi yang pendek? Tanda lain yang mungkin dianggap sepele adalah apakah anak dapat menaikkan atau menurunkan celana yang digunakannya atau masih perlu bantuan orang lain?
Untuk melakukan latihan buang air besar dan buang air kecil, orang tua dapat menyiapkan peralatan sederhana. Orang tua bisa memberikan alat bantu yang biasanya tersedia di toko kebutuhan anak.
Stephany menyarankan agar orang tua mengajak anaknya untuk memilih potty yang sesuai dengan selera anak agar anak merasa nyaman dan menumbuhkan rasa kepemilikan.
Saran lain dari Stephany, biarkan anak memainkan potty sepanjang itu bersih untuk dimainkan sehingga anak tidak merasa canggung. Selain itu, orang tua perlu mendorong anak untuk dapat melakukan latihan dengan baik seperti memberikan stiker ke anak bila anak telah mencoba.
Poin yang diperhatikan lainnya adalah dorongan seperti hadiah atau pujian dilakukan setelah anak mencobanya dan hargai apa pun usahanya. Orang tua tidak boleh marah bila anak belum berhasil atau salah melakukannya. Perhatikan juga, dengan siapa anak merasa nyaman untuk latihan ini?
Diperlukan kesabaran dan kreativitas orang tua agar proses Toilet Training anak berjalan dengan baik dan teratur. Tak hanya menjelaskan secara teori saja, Stephany juga membicarakan dari pengalamannya sebagai ibu dalam melatih kebutuhan buang air untuk anaknya.
Seperti apa penjelasan dan pengalaman Stephany, sila saksikan dalam tayangan berikut:
Dukung kami dengan subscribe channel kami ya.
Jika ada saran/pertanyaan, silakan kontak info@ruanita.com atau follow akun media sosial seperti IG: @ruanita.indonesia atau FB Fanpage: Ruanita – Rumah Aman Kita.
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.
SWEDIA – Akhir-akhir ini isu kesehatan mental mulai ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Beberapa orang terkenal, khususnya dari Indonesia mulai membuka diri dengan bercerita tentang gangguan kesehatan mental yang mereka alami.
Respon dari masyarakat beragam, banyak yang mengutarakan dukungannya, namun banyak juga yang menyangkal dan beranggapan gangguan mental adalah bukti kurangnya iman.
Padahal kesehatan mental erat kaitannya dengan faktor genetis, perubahan hormon, dan/atau situasi hidup, misalkan disebabkan oleh pandemi yang sudah berlangsung tiga tahun ini.
Stigma sosial dan juga kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental membuat banyak penderitanya memilih untuk menyembunyikan diri dan tidak menerima pengobatan atau terapi yang dibutuhkan.
Hambatan lain bagi kesembuhan gangguan mental adalah sulit ditemukannya layanan kesehatan mental (ahli profesional dan rumah sakit) yang terjangkau, baik secara jarak dan biaya.
Para WNI yang tinggal di luar Indonesia, khususnya di Eropa, mungkin lebih beruntung. Akses yang mudah ke layanan kesehatan mental dan minimnya stigma membuat gangguan kesehatan mental lebih cepat ditangani oleh ahlinya.
Walau begitu, banyak dari mereka yang memilih untuk tetap merahasiakan tentang gangguan mentalnya dari teman-teman dan keluarganya sambil tetap menerima pengobatan yang mereka perlukan, padahal teman dan keluarga merupakan dukungan sosial yang sangat mereka butuhkan untuk sembuh.
Rumah Aman Kita (RUANITA) selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang aktif mempromosikan isu kesehatan mental bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) menggelar diskusi virtual bertema kesehatan mental untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 yang jatuh pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya.
Diskusi virtual dengan judul „Kesehatan Mental: Wajib Tahu, bukan Tabu“ ini didukung sepenuhnya oleh KBRI Stockholm, Swedia. Acara akan berlangsung melalui kanal Zoom pada hari Minggu, 09 Oktober 2022, pukul 15.00-17.00 WIB (10.00-12.00 CEST).
Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun dan bisa dihadiri tanpa pendaftaran dengan mengakses tautan Zoom: bit.ly/webinar-ruanita-sis. Diskusi virtual ini akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo.
Acara akan dipandu oleh moderator Christophora Nismaya (relawan Ruanita dan mahasiswa Indonesia di Jerman), sedangkan narasumber-narasumber acara ini adalah Iwa Mulyana selaku Protokoler Konsuler KBRI Stockholm, Estrelita Gracia konselor cross-cultural trauma founder Momentaizing di Taiwan, Isabel Nielsen selaku konsultan asuransi kesehatan di Swedia, dan Jessika mahasiswa di Swedia.
Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk membagi pengalaman mengakses layanan kesehatan mental bagi WNI yang berada di luar negeri, terutama Swedia, negara yang terkenal memiliki layanan terbaik di dunia bagi orang dengan gangguan mental.
Kedua, memberikan edukasi yang benar dan tepat tentang kesehatan mental untuk mematahkan stigma yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Ketiga, untuk mendorong pemerintah Indonesia lewat perwakilannya di mancanegara untuk memberikan layanan kesehatan mental bagi warga Indonesia di luar negeri.
RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental dan kesetaraan gender serta berbagi praktik baik nggal di luar Indonesia.
Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com)
Halo Sahabat Ruanita, terima kasih telah menjadi ruang aman untuk bercerita dan memberiku kesempatan bergabung dalam program Konseling Kelompok bertema: Toxic Relationship yang lalu. Perasaanku lega, setidaknya aku bisa menyuarakan ketakutanku walau dengan suara dan tubuh bergetar.
Ternyata menyampaikan ketakutan pribadi kepada orang lain yang tidak dikenal itu membantu. Rasanya sedikit leluasa dan lega, karena mereka tidak berpikiran subyektif. Mereka menjadi orang yang netral. Mereka tidak mengenal identitas asliku begitu juga sebaliknya. Sekali lagi, terima kasih.
Ok, aku mulai dengan ini.
Namaku Wani, bukan identitas asliku. Wani dalam Bahasa Jawa artinya berani. Ya, aku memilih nama itu. Aku berani. Lebih baik seperti ini, aku nyaman seperti ini. Bercerita tanpa kalian tahu siapa sebenarnya aku.
Aku adalah seorang wanita paruh baya asal Pulau Jawa, Indonesia. Sejak 2 tahun lalu aku menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan Jerman dan kini tinggal di Jerman. Sekarang aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang berkegiatan rumah tangga biasa tanpa seorang anak. Lantai 2 rumah mertuaku di sebuah desa yang terletak 30 menit dari kota tinggalku adalah tempatku tinggal bersama suami. Ya, kami tinggal satu rumah dengan mertuaku.
Mereka di lantai 1 dan kami di lantai 2, berbeda dapur dan kamar mandi. Seperti layaknya denah rumah susun yang terdiri dari beberapa keluarga. Kegiatan sehari-hariku adalah bangun pagi menyiapkan bekal makan siang suamiku, membersihkan rumah dan memasak. Ada kalanya aku belajar Bahasa Jerman, mencari dan mengirim lamaran pekerjaan, untuk apapun pekerjaannya.
Karena suami tidak mempunyai peluang kerja di Indonesia atau bahkan mendapatkan pekerjaan remote dan kebetulan perusahaan tempatku bekerja akhirnya gulung tikar saat pandemi Covid-19, kami putuskan untuk tinggal bersama setelah menikah di Jerman.
Kami berdua mempunyai impian menghasilkan uang bersama untuk membangun usaha dan sebuah rumah kecil di Indonesia. Kami sama-sama orang yang senang bekerja. Dulu di Indonesia aku bekerja di sebuah perusahaan retail yang terkenal.
Mudah bagiku untuk mencari pekerjaan dari relasi. Aku adalah orang yang ramah, ceria, percaya diri dan pandai pitching klien untuk suatu proyek.
Dari dulu aku terbiasa bekerja dengan dokumen-dokumen sehingga persiapan menuju Jermanku dulu menjadi biasa saja. Semakin menuju ke Jerman semakin tampak ego kami berdua. Aku menyadari tekanan yang aku dapat kebanyakan datang dari kepanikan suamiku.
Dia adalah orang yang selalu merencanakan apapun, berpikiran praktis dan sering ber-ekspektasi berlebih terhadap rencana itu. Rencana cadangannya hanya ada sampai PLAN B. Dia harus benar-benar mengusahakan PLAN A dan PLAN B dulu semaksimal mungkin. Butuh waktu agak lama untuk membuat PLAN C. Sedangkan aku? Aku selalu saja bisa mencari jalan lain menuju Roma. Hidupku terbiasa kompleks sehingga aku mampu membuat PLAN A-Z.
Tidak jarang kami bertengkar karena kami mempunyai cara berbeda dalam menyelesaikan sesuatu. Mental, tenaga, perasaan dan uang kami benar-benar diuji. Apa memang mungkin karena persiapan sebelum menikah itu memang seperti ini? Entahlah, pada saat itu kami hanya punya cinta dan kesediaan untuk hidup bersama.
Pertama kali tiba di Jerman. Aku senang dan bangga dengan diriku sendiri, apa yang aku persiapkan untuk pernikahan dan perjalanan itu akhirnya terlaksana tanpa missed sedikit pun. Ini perjalanan antar benua pertama kaliku ditambah masa awal pandemi Covid-19 yang segala sesuatunya menjadi lebih rumit. Cuaca di Jerman cocok untukku yang tidak begitu menyukai hawa panas.
Masakan Jerman sesuai dengan kemampuan memasakku yang sangat basic dan jelas tidak serumit masakan Indonesia. Hanya saja aku tetap merindukan masakan Indonesia yang kaya akan rasa. Aku tetap berusaha untuk memasak masakan Indonesia semampuku. Beruntung masih ada toko Asia di kota, bumbu instant menjadi andalan.
Sebelum tinggal di Jerman, terbayang olehku kemudahan-kemudahan yang akan datang sama seperti kemudahan yang aku dapatkan di Indonesia. Namun ternyata bayanganku salah. Ya, itu berbeda dengan di Indonesia. Aku menjadi seorang wanita yang tidak berdaya. Bahasa Jerman sebatas level A1 yang aku pelajari di Indonesia ternyata tidak cukup berguna.
Kemampuan Bahasa Inggrisku yang baik pun tak berguna karena orang di sini mengharuskan orang asing yang tinggal di Jerman untuk mampu berbahasa Jerman. Terlihat jelas di dalam syarat perpanjangan Visa Nasional yang aku miliki, pemerintah Jerman mewajibkan pasangan beda warga negara untuk mempunyai sertifikat Bahasa Jerman level B1.
Tahun pertama banyak hal yang aku tidak mengerti. Entah karena aku memang terlalu bodoh atau karena keluarga besar suamiku tidak paham sampai mana materi A1 yang aku pelajari. Mereka tidak sabar, mereka kurang mau memahamiku dan selalu mengetukkan jarinya jika menungguku terlalu lama menjelaskan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Aku tetap berusaha tetapi panik selalu datang setiap saat.
Sampai detik ini dalam hidupku di Jerman, Bahasa Jerman adalah yang tersulit. Karena Bahasa adalah awal mula dari segalanya. Memahami budaya dan orangnya akan terasa gampang jika aku bisa berbahasa Jerman. Bahasa Jerman yang aku pelajari kini sampai dengan level B1.
Tapi tetap saja takut dan panik membuyarkan semuanya. Apalagi melihat ekspresi mereka yang tidak sabar menantiku menyelesaikan kalimatku. Bahasa itu akar dari komunikasi. Komunikasi adalah keahlianku semasa di Indonesia. Aku ingin bisa berbahasa Jerman dengan baik agar mereka mengerti dan memahamiku, agar aku bisa bekerja, agar aku kembali seperti aku yang dulu, aku yang dengan percaya diri menjadi diriku sendiri. Aku yang tidak perlu risau dan takut dalam melangkah.
Sejak 2 tahun lalu sampai detik ini, aku kesepian. Secara fisik tidak ada teman yang bisa diajak sekedar minum kopi bersama. Aku tinggal di desa. Tetangga enggan berteman dengan aku yang tidak pandai berbahasa Jerman ini. Dan suamiku sering tidak memperbolehkanku keluar desa ini karena dia terlalu cemas jika aku pergi sendiri. Jadi temanku hanya aku.
Oh, ada seekor anjing kecil milik ayah mertuaku. Iya, aku berbicara dengan anjing itu berbahasa Indonesia dan Jawa tentunya. Dia tidak dapat membalas omonganku tapi sepertinya dia mengerti. Dia tahu di saat aku sedang bersedih. Entah mengapa itu melegakan.
Secara mental, aku punya 7 orang sahabat yang selalu support mentalku. Empat sahabatku tinggal di Jerman tapi berbeda kota denganku, satu sahabat tinggal di Amerika dan dua sahabat di Indonesia. Mereka memberiku kekuatan untuk tetap tegar menjalani hari. Ada saja keceriaan yang mereka bagikan. Aku beruntung. Setidaknya aku masih punya teman.
Jika kalian bertanya, mengapa aku tidak menyebut orang tuaku atau keluargaku di Indonesia sebagai penawar kesepianku. Jawabannya adalah sejak kecil aku bukan anak yang dekat dengan orang tua dan keluarga. Terlalu banyak polemik di keluargaku, saudara-saudaraku bahkan di keluarga besar ayah dan ibuku.
Pengalaman menarik dari kesepian yang aku alami di Jerman adalah setahun pertama yang aku jalani percuma, tidak berarti, tidak bermanfaat dan depresif. Keadaan mental depresi berat karena perubahan sosial.
Ditambah lagi pandemi Covid-19, pembatasan gerak termasuk bertemu teman, kursus Bahasa Jerman tidak tatap muka (via online Zoom-meeting), dan keluarga besar suamiku yang sangat takut terhadap virus corona serta ditambah Winter Depression. Banyak sekali yang dibatasi. Aku tidak bisa bersosialisasi. Aku tidak bisa beradaptasi.
Di tahun kedua ini semua menjadi lebih baik. Ada tiket 9€, aku bisa berpergian ke mana saja. Sendiri saja. Ya, karena teman-temanku berada di kota yang berbeda, paling dekat berjarak 4 jam menggunakan kereta. Tidak apa, setidaknya aku bisa melelahkan kakiku dan menyegarkan pikiranku dengan berjalan-jalan di kota.
Tidak jarang juga aku pergi ke kota hanya untuk beli Indomie goreng di toko Asia. Lalu lanjutkan langkah ke ReWe untuk membeli secangkir kopi dingin, dan selanjutnya aku duduk di sebuah bangku dingin pada gleis arahku pulang ke desa. Menunggu datangnya kereta keloter kedua. Iini melegakan juga.
Menurutku, mengatasi kesepian adalah dengan tidak menganggap kesepian itu penting, cukup biasa saja. Aku bersyukur masih bisa merasakan kasih dari sahabat dan teman walaupun yang aku dapatkan adalah kasih virtual. Tapi setidaknya aku merasa tidak sendiri. Karena aku percaya, semua orang mempunyai masalahnya masing-masing.
Hanya saja bagaimana cara mereka memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan masalah itu. Bagiku, aku akan tetap gigih belajar Bahasa Jerman. Sehari minimal aku belajar 2 jam seperti membaca, mendengar percakapan dan menulis kata-kata penting. Namun entah mengapa, susah aku ingat dan terapkan. Sempat aku berpikir, apakah alam bawah sadarku menolak?
Sepertinya memang aku belum beradaptasi dengan baik. Aku masih dalam proses beradaptasi. Aku kini hanya bisa bertahan dan menjalani apa yang aku hadapi. Mencoba mengembalikan percaya diriku, mencari solusi yang bisa dilakukan, bukan hanya berandai-andai saja. Berbicara itu mudah, melakukannya yang susah.
Sekarang yang bisa aku atasi adalah belajar berbahasa Jerman dengan baik dan apply pekerjaan dengan kemampuan berbahasa Jermanku yang minim. Aku butuh uang untuk bisa berdiri sendiri dengan kakiku, seperti aku yang dulu yang menyenangkan. Aku yakin aku bisa. Ini semua hanya masalah waktu. Harus ada keyakinan dan harapan serta senyuman. Berubah bukan sesuatu yang buruk. Aku mau menjadi aku yang baru.
Kesepian akan selalu hadir. Dinikmati saja. Seperti perasaan bahagia yang tidak selalu hadir. Berterima kasihlah dengan dirimu sendiri, karena dia sudah mau dan mampu bertahan sejauh ini. Semua ada waktunya. Semua yang dihadapi selalu ada maksudnya.
Untuk siapapun kamu yang telah membaca ceritaku, terima kasih. Kamu tidak sendiri dalam memperjuangkan apa yang ingin kamu raih. Tersenyum dan bersyukurlah sejenak.
JERMAN – Ruanita, Alzi Jerman dan Alzi Belanda berkerja sama menyelenggarakan dialog daring dengan tema “Mengenal Alzheimer, Faktor Resiko, dan Cara Mengurangi Resikonya“ untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 September lalu. Peringatan daring ini diselenggarakan pada hari Sabtu (24/09) pada pukul 10.00 CEST atau 15.00 WIB.
Selain untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia, acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan komunitas Alzheimer Indonesia Jerman (Alzi Jerman) dan Yayasan Alzheimer Indonesia di Nederland (ALZI Ned), memberikan informasi yang tepat tentang Alzheimer ke masyarakat, serta membangun dukungan sosial kepada keluarga dan caregiver Orang Dengan Demensia (ODD).
Konsul Jendral RI di Frankfurt Jerman, Asep Somantri memberikan dukungan penuhnya dan mengapresiasikan acara ini. Hal tersebut tertuang dalam sambutan saat membuka acara secara daring. Menurutnya, acara ini juga merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanganan penyakit Alzheimer, yang sampai saat ini, baik obat atau penyebab pastinya belum ditemukan. Walau begitu Asep menekankan, “Ketiadaan obat bukan berarti tidak adanya pengobatan, perawatan, dan dukungan pasca diagnosis. Sesuai dengan himbauan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), hal ini menjadi hak asasi manusia, dan dimasukkan ke dalam perencanaan sistem kesehatan nasional“.
Asep juga menyampaikan, menurut laporan Alzheimer tahun 2002, pada tahun 2030 akan ada 2 juta orang dengan demensia di Indonesia dan akan berlipat ganda menjadi 4 juta orang pada tahun 2050. Karena itu, pemerintah RI melalui Kementerian Kesehatan memberikan perhatiannya dengan mengembangkan sistem kesehatan dan sosial, serta memberikan dukungannya kepada caregiver. Dari acara ini Asep berharap, „Langkah yang sangat baik ini terus dilanjutkan dan terus ditingkatkan. Mengingat pentingnya membangun kesadaran Alzheimer dari kita semua, sehingga kita mampu mengenali, mencegah, dan menangani Alzheimer secara baik, […] sehingga kualitas hidup ODD tetap terjaga dan bisa terus produktif“.
Sesi pertama diisi oleh narasumber Rudin Sumbajak, ketua Selindo (Senioren Lansia Indonesia) dan juga Koordinator Wilayah Sementara komunitas Alzi Jerman. Rusdin menjelaskan, berdirinya Alzi Jerman dua tahun lalu merupakan ide dari Konjen KJRI Frankfurt saat itu dan Amalia Fonk-Utomo (Yayasan Alzi Ned) karena semakin banyaknya orang tua Indonesia di Jerman.
Ia melanjutkan, berdirinya Selindo (dahulu bernama Lansia Indonesia) merupakan usulan dari Damos Agusman, Konsul KJRI Frankfurt pada tahun 2013 sebagai sebuah perkumpulan untuk lansia agar bisa saling membantu satu sama lain, “Kegiatan Selindo (bertujuan) untuk meringankan hidup lansia dengan bersuka cita bersama-sama. Setiap tiga bulan kami merayakan ulang tahun (anggota) dengan makan-makan“, tambahnya.
Selindo juga membantu anggotanya yang mempunyai masalah, seperti terkena penyakit demensia atau hidup sendiri tanpa keluarga. Selindo juga aktif melibatkan pemerintah Jerman dan Indonesia melalui kerja sama dengan organisasi-organisasi Alzheimer Jerman yang berada di bawah naungan Bundesministerium für Familie, Senioren, Frauen und Jugend (Kementerian federal bidang keluarga, lansia, perempuan, dan remaja) dan komunitas Alzi Jerman.
Rudin menambahkan, sampai saat ini Selindo dan komunitas Alzi Jerman masih berada di bawah pengurus yang sama, namun di masa depan kedua organisasi tersebut akan terpisah. Ia juga berharap akan ada koordinasi lebih baik dengan kelompok masyarakat di setiap kota sebagai penolong Alzi Jerman.
Sesi kedua diisi oleh narasumber Amalia Fonk-Utomo, founder Yayasan Alzheimer Indonesia Nederland (Alzi Ned). Saat ini Amalia juga menjabat sebagai dewan penasihat Yayasan Alzheimer Indonesia di Jakarta dan juga Head Accreditation Alzheimer Disease International di London, Inggris.
Saat acara berlangsung, Amalia sedang berada di Jakarta untuk menghadiri konferensi nasional tentang demensia dengan berjudul „Demensia, lalu bagaimana?“, yang dihadiri tidak hanya oleh multiprofesi tetapi juga ODD.
Alzi Ned berdiri sejak tahun 2016 dan mempunyai visi untuk meningkatkan kualitas hidup orang dengan demensia (ODD), keluarga, dan caregiver-nya yang berlatar belakang Indonesia di Belanda. Amalia menjelaskan tiga pilar Alzi Ned, yakni 1) risk reduction atau kegiatan untuk mengurangi faktor resiko demensia, seperti brain gym atau senam otak, 2) meaningful engagements atau kegiatan-kegiatan bermakna untuk mengaktifkan otak, olah raga, dan mendekatkan hubungan dengan keluarga atau teman; dan 3) edukasi tentang Alzheimer.
Amalia juga mengajak semua peserta acara untuk melakukan brain gym bersama dengan menyaksikan salah satu video yang tersedia di YouTube Alzheimer Indonesia. „Tidak hanya brain gym, di sana [Youtube] juga bisa ditemukan banyak video informasi tentang Alzheimer yang bisa kita pakai untuk sosialisi di Indonesia“, lanjut Amalia.
Amalia menjelaskan kegiatan Alzi Ned melingkupi kerja sama dengan pemerintah Belanda, pemerintah RI melalui KBRI dan/atau KJRI sebagai bentuk dukungan dari Kementerian Luar Negeri RI, dan masyarakat Indonesia di Belanda. Ia juga menekankan, bahwa demensia dan Alzheimer bukan hanya urusan lansia, tapi juga semua orang, karena jika seseorang terkena demensia atau Alzheimer maka yang terkena dampaknya juga keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Dialog daring ini juga diisi oleh pemaparan ahli dari Sven Juda, B.Sc. mahasiswa jurusan Psychology and Neurosience Universitas Maastrich, Belanda. Sven memulai presentasinya dengan menjabarkan perbedaan penyakit demensia dan Alzheimer. Menurutnya, demensia dan Alzheimer tidak sama tetapi sangat mirip.
Demensia adalah gangguan kemampuan kognitif yang meliputi kemampuan belajar dan mengingat, berbicara, mengambil keputusan, konsentrasi, motorik, dan hubungan sosial. Gangguan ini menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari dan menjadi penyebab turunnya kualitas hidup penderitanya. Sedangkan Alzheimer adalah salah satu penyakit yang bisa menyebabkan demensia. Alzheimer merupakan indikasi terjadinya mutasi gen pada penderita atau memiliki sejarah keluarga dengan penyakit ini.
Menurutnya, gejala-gejala penyakit ini datang perlahan, namun konstan tanpa berhenti. Gejala-gejala umum demensia Alzheimer, yaitu gangguan daya ingat, susah komunikasi, sulit fokus, menarik diri dari kehidupan sosial, dan sebagainya. Sven kembali menekankan, „Demensia ini bukan Alzheimer dan Alzheimer ini bukan demensia. Penyakit Alzheimer ini adalah satu penyakit yang bisa menjadi sumber demensia, seperti Parkinson, tetapi memang benar 60-80% penyebab penyakit demensia adalah Alzheimer“.
Sampai saat ini penyebab Alzheimer masih belum ditemukan pasti, namun Sven menjelaskan, pada otak ODD ditemukan zat protein Beta-Aminoid berlebihan yang bertanggung jawab pada kerusakan neuron. Neuron yang rusak ini tidak bisa lagi menyerap nutrisi dan akhirnya mati.
Sayangnya, penelitian tentang Alzheimer masih hanya sampai di situ dan peneliti belum bisa mengungkap penyebab terjadinya aktivitas beta-aminoid tersebut, kecuali kemungkinan adanya faktor genetis. Tipe Alzheimer inilah yang 95% terjadi di masyarakat, sedangkan 5% lainnya disebabkan mutasi gen, seperti Down Syndrom. Demensia tipe ini bisa menyerang orang di bawah umur 60 tahun.
Sven menyebutkan faktor-faktor untuk mengurangi risiko demensia, yaitu makan sehat, berolah raga, mengurangi asupan gula, konsumsi alkohol terbatas, dan sebagainya. Dia juga mengatakan, bahwa kesehatan jantung sangat penting. Dengan jantung sehat, maka kemungkinan terkena Alzheimer pun menurun. Sven menekankan, “jika seseorang sudah terkena demensia, (gejala-gejalanya) susah dihentikan dan kondisi penderita akan semakin menurun dan bisa meninggal. Yang bisa dilakukan adalah mendukung kualitas hidup ODD ini, agar ia tidak menderita“.
Oleh karena itu, lanjutnya, kita harus mempunyai pengetahuan tentang gejala-gejala Alzheimer, sehingga bisa lebih cepat untuk menanganinya dan aktivitas hidup ODD bisa disesuaikan dengan penyakit ini. Sebelum menutup presentasinya, Sven mengulangi moto Alzheimer Indonesia, yakni “jangan maklum dengan pikun“.
Dalam sesi tanya-jawab, Rusdin menjawab pertanyaan apakah Selindo atau Alzi Jerman hanya sebatas di wilayah kerja KJRI Frankfurt. Menurutnya saat ini Selindo terbuka untuk masyarakat Indonesia di mana pun di Jerman, ia juga berharap akan ada perwakilan Selindo di kota-kota seluruh Jerman dan semua organisasi masyarakat di Jerman bisa menjadi partner Alzi Jerman. Rusdin dan juga Amalia mengungkapkan, keanggotaan Alzi Jerman dan Alzi Ned tidak tertutup bagi masyarakat Indonesia yang sudah berpindah kewarganegaraan.
Tidak hanya pertanyaan yang berkaitan dengan keorganisasian, beberapa pertanyaan yang masuk juga berkaitan dengan penyakit demensia. Salah satunya menanyakan kebenaran, bahwa orang yang tidak berolah raga lebih berisiko terkena Alzheimer. Menurut Sven, “berdasarkan definisinya, Alzheimer bukan hanya penyakit yang menyebabkan penurunan ingatan, tapi juga kemampuan koordinasi fisik“. Dia menjelaskan, bahwa, semua olah raga, contohnya lari atau silat membutuhkan koordinasi fisik, sehingga bisa dianggap sebagai ‚brain gym‘. Dia juga mengingatkan kembali, Alzheimer sangat berhubungan dengan kesehatan jantung, dan olah raga merupakan aktivitas yang baik bagi jantung.
Sesi keempat diisi oleh Sofian dan Susanna Juda. Pasangan suami istri yang tinggal di Jerman sejak akhir tahun 80an ini berbagi pengalaman tentang perawatan ibu mereka yang menderita Alzheimer sebelum akhirnya meninggal dunia. Mengawali presentasinya, Sofian menyebutkan beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab Alzheimer pada ibunya, yaitu Diabetes Melitus tipe 2 yang dideritanya dan stroke yang pernah menyerang dua kali. Ia juga menambahkan, empat saudara laki-laki ibunya juga menderita “pikun“, namun masih tanda tanya bagi mereka apakah Alzheimer merupakan penyakit keturunan di keluarga mereka.
Sofian dan keluarganya membuat dasar pengertian sendiri tentang Alzheimer yang menjadi dasar motivasi mereka untuk merawat ibu mereka dengan baik. Pertama Alzheimer adalah perpisahan bertahap, karena perlahan-lahan memisahkan keluarga dengan ODD, kedua Alzheimer adalah penyakit keluarga karena yang lebih menderita adalah keluarga, bukan ODD, ketiga Alzheimer belum bisa diobati, keempat Alzheimer tidak atau mungkin bisa diperlambat; kelima Alzheimer tidak mengenal umur, dan enam Alzheimer bisa menyerang siapa saja.
Dengan dasar pengertian itu, mereka sangat memprioritaskan ibu mereka dan menghapus alasan ‚tidak sempat/tidak ada waktu‘ untuk merawatnya. Mereka juga semaksimal mungkin menggunakan teknologi yang ada, karena saat itu ibu mereka berada di Indonesia. Hal ini dicerminkan dengan kontak setiap hari melalui Skype atau Whatsapp, memasang web cam di rumah untuk memantau aktivitas ibu mereka selama 24 jam, contohnya di depan kamar mandi dan dekat tempat tidur.
Sofian juga mengingatkan pentingnya dokumentasi yang baik tentang hasil pemeriksaan darah, obat-obat, juga tekanan darah, gula darah dan berat badan. Dokter-dokter yang ikut menangani ibu mereka tidak saling berkomunikasi tentang obat-obatan yang dikonsumsi ibunya.
Oleh karena itu daftar obat juga mereka dokumentasikan secara detail dan selalu dibawa setiap konsultasi dengan dokter. Bagi Sofian, “tanggung jawab (akan obat) bukan hanya di tangan dokter, tapi juga di tangan keluarga pasien“, karena keluarga yang memutuskan pengobatan pasien.
Dukungan juga mereka berikan dengan mengirimkan obat-obatan dari Jerman ke Indonesia, mencari penelitian ilmiah terbaru sebagai dasar pengambilan keputusan pengobatan selanjutnya, dan pertukaran informasi dengan dokter kepercayaan. Sofian dan Susanna pulang ke Indonesia setidaknya setahun sekali untuk merawat ibu mereka secara langsung. Mereka percaya perhatian dan waktu adalah pengobatan utama untuk penderita Alzheimer dan tanpa efek samping.
Mereka juga selalu meluangkan waktu untuk mencari informasi dan ide perawatan atau stimulasi bagi ibunya, contohnya bermain congklak dan halma sebagai latihan menstimulasi pikiran, fisioterapi dan membuat ketupat sebagai latihan motorik kasar dan halus, berkunjung ke sanak-saudara atau mengikuti kegiatan Alzi Indonesia sebagai kegiatan bersosialisasi.
Di acara ini mereka menekankan pentingnya ritme aktivitas sehari-hari penderita Alzheimer, yang seharusnya sama dengan kegiatan mereka sebelum terkena Alzheimer. Mereka mencontohkan kegiatan pagi ibu mereka yang meliputi sarapan dan sembahyang.
Stimulasi memori juga penting bagi penderita demensia. Bagi Sofian, caregiver terbaik bagi ODD adalah keluarga terdekatnya, karena mereka yang mengetahui bagaimana kehidupan dan aktivitas penderita sebelum sakit. Sofian dan Susanna rutin membawa ibu mereka ke tempat-tempat yang dulu pernah atau sering ibu mereka kunjungi, seperti kampung halaman, sekolah anak-anaknya dulu atau memasak makanan yang sering ibunya masak dulu.
Sebelum menutup pengalamannya merawat penderita Alzheimer, Sofian menyarankan keluarga dan caregiver ODD untuk selalu aktif mencari informasi tentang demensia dan jangan pernah menyerah. Dia juga menekankan, menyalahi masa lalu, misalnya karena orang tua penderit dulu tidak berolah raga, hanya membuat keluarga merasa terjebak di masa lalu dan tidak membantu penderita.
Apa yang bisa dilakukan orang-orang yang telah pensiun dan tinggal di Amerika Serikat? Selintas pertanyaan tersebut muncul ketika orang-orang Indonesia memutuskan tinggal di mancanegara.
Jawaban ini bisa diperoleh dari cerita Shinta Stanley yang telah menetap di negeri Paman Sam sejak usianya 21 tahun. Setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat, Shinta memulai hidup barunya dengan bekerja hingga mencapai usia pensiun.
Banyak hal dipelajari Shinta selama tinggal di Amerika Serikat, termasuk bagaimana dia memulai pekerjaannya sejak tahun 1984 hingga pensiun. Shinta juga bekerja sebagai Akuntan di Universitas selama 31 tahun.
Selama bekerja, Shinta juga meningkatkan kapasitas dirinya dengan kuliah yang dibayari perusahaan, tempatnya bekerja. Setelah pensiun, Shinta memutuskan untuk mendalami Bahasa Jerman dengan mengikuti program pertukaran budaya di salah satu universitas di Jerman.
Saat pensiun, Shinta menetap di suatu komunitas yang berisikan kelompok orang-orang berusia lanjut yang dikelola pemerintah Amerika Serikat.
Di sana dia banyak melakukan aktivitas sosial seperti menari, bekerja di kebun, traveling, bermain dan lain-lain dengan orang-orang seusianya. Dia berprinsip bahwa usia tua harus diisi dengan aktivitas yang produktif agar tetap sehat.
Shinta menuturkan bahwa dia pernah didiagnosa mengalami sakit hingga berujung koma saat dia sedang berada di Jerman.
Beruntung dia bisa pulih kembali setelah dokter mengetahui bahwa aktivitas dan olahraga telah menyelamatkan Shinta dari kondisi kesehatannya yang memburuk.
Meskipun usianya sudah pensiun, Shinta membagi waktunya untuk bekerja sukarela setiap minggu. Aktivitasnya yang sibuk membuatnya tidak merasa kesepian di usia senjanya apalagi suaminya sudah meninggal.
Shinta menyarankan untuk semua perempuan Indonesia yang menikah dengan pria kewarganegaraan asing untuk tetap meningkatkan kapasitas diri dengan bersekolah atau bekerja agar hidup mandiri secara finansial.
Selain itu, ikuti apa yang menjadi “passion” hidup sehingga bisa bertumbuh secara pribadi. Melakukan aktivitas sosial seperti pekerjaan sosial atau pekerjaan paruh waktu dapat membantu diri kita untuk tetap sehat meski kita sudah berusia lanjut.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Lebih lengkap tentang video Shinta yang berdurasi 5 menit, silakan simak detilnya di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam acara ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.
Dahulu sewaktu aku masih di Indonesia, aku mengenal Alzheimer hanya di perkuliahan Psikologi. Nama penyakit itu terdengar asing buatku dan tidak nyata dalam keseharianku di Indonesia. Namun, Alzheimer begitu sering aku dengar kala aku tinggal dan menetap di Jerman.
Aku bahkan pernah membahas Alzheimer dengan kenalan asal Rumania yang kerja di Jerman sebagai perawat di rumah panti jompo. Aku mengenal kenalanku ini saat kami berdua belajar Bahasa Jerman.
Menurut kenalanku ini, kasus Alzheimer begitu umum terjadi pada generasi lanjut usia di Jerman. Penyebabnya bisa beragam. Kata dia, ini seperti gaya hidup yang mengancam dan tidak disadari. Sepertinya memang Alzheimer tidak asing di Jerman karena aku sering mendengarnya. Rekan studiku pun mengambil tema Thesis tentang Alzheimer. Aku bahkan sempat terpikir mengambil tema dukungan sosial pada Alzheimer dalam Thesis S2. Namun, urung kulakukan.
Pemahamanku tentang Alzheimer bertambah saat kenalanku lainnya asal Spanyol bercerita panjang lebar tentang Alzheimer yang menyerang ayahnya. Dia bercerita bagaimana penyakit yang diderita ayahnya itu menyita waktu kesehariannya.
Ayahnya seperti anak kecil yang memerlukan perhatian, bahkan ayahnya begitu lupa apapun. Alzheimer itu menyerang fungsi otak, katanya lagi. Kenalanku ini merawat ayahnya sehari-hari hingga ayahnya wafat saat Pandemi Covid-19 kemarin.
Alzheimer rupanya juga menyerang ayah mertuaku. Aku sebenarnya sudah mengetahuinya sejak lima tahun lalu dari suamiku. Ayah mertuaku tak pernah mengakui bahwa dia mengalami Alzheimer. Padahal jelas banyak gejala yang menunjukkan penurunan fungsi otak.
Dahulu ayah mertuaku adalah orang yang sibuk. Dia punya ruang kerja di dekat kebun rumah dan di Keller (=bagian rumah di bawah tanah). Saat Alzheimer menyerangnya dia mulai lupa di mana meletakkan ini dan itu.
Alzheimer membuatnya tak bisa tenang, dia harus bergerak atau melakukan sesuatu di ruang kerjanya. Beruntungnya rumah mertuaku luas sehingga dia bisa bergerak luas.
Sejak Alzheimer menyerang ayah mertuaku, dia mulai dilarang menyetir mobil tetapi ayah mertuaku sering keras kepala. Dia hampir celaka karena tetap menyetir mobil. Dia juga sering lupa di mana harus menjemput atau mengantar ibu mertua.
Beruntungnya aku mengenal ayah mertuaku sebelum Alzheimer membuatnya parah dan lupa segalanya. Jadi dia tahu bahwa aku adalah anak menantunya. Itu sebelum Alzheimer membuatnya semakin parah untuk tidak ingat apapun.
Setahun sebelum ayah mertuaku meninggal, Alzheimer-nya sudah sampai tingkat parah. Dia mulai lupa aku dan suamiku. Aku dan suamiku tinggal berbeda kota dan seminggu sekali kami berkunjung ke mertua.
Suatu kali suamiku datang memperbaiki lampu di rumah mertua kala ibu mertuaku sedang berbelanja. Ayah mertuaku bertanya siapa suamiku. Itu membuat aku dan suamiku bersedih.
Itulah Alzheimer yang membuat orang lupa, bahkan tidak ingat orang yang dikasihinya. Tak hanya itu, Alzheimer membuat indera pengecapan ayah mertuaku berbeda.
Semua makanan yang dimasak ibu mertuaku tak berasa lezat dan enak. Ayah mertuaku sudah mulai tidak bisa menikmati makanan lagi seperti normal. Tubuhnya semakin kurus dan mengecil seperti anak-anak.
Ayah mertuaku tak bisa duduk tenang dan selalu berusaha memegang sesuatu di tangannya. Belakangan aku baru tahu bahwa ayah mertuaku adalah generasi terakhir yang kembali ke Jerman setelah mengungsi ke negara Yugoslavia. Kini, negara tersebut sudah tidak ada lagi.
Selama berjalan kaki dari Yugoslavia ke Jerman, ayah mertuaku masih berusia 8 tahun. Dia berjalan dan memegang tangan ibunya agar tetap aman sepanjang perjalanan.
Cerita itu diceritakan oleh seorang kerabat keluarga ayah mertua setelah ayah mertua wafat. Konon perjalanan itu memakan waktu tiga kali musim Winter setelah kejadian Perang Dunia. Menggenggam tangan dan terus bergerak adalah pengalaman ayah mertua saat harus kembali ke Jerman.
Alzheimer membuat penderitanya seperti mengulang memori yang sudah lampau. Misalnya, ayah mertua pernah bersembunyi di balik lemari atau di pintu hanya karena dia ingat masa kejadian Perang Dunia di mana saat itu dia masih anak-anak dan harus bersembunyi untuk selamat.
Dia lupa kondisi kejadian sekarang yang terjadi. Itu membuat kami panik setengah mati mencarinya ke seluruh kota. Rupanya dia bersembunyi di suatu tempat di rumah.
Ayah mertuaku telah wafat karena Alzheimer. Penyakit itu sungguh nyata. Beberapa kenalanku di Jerman bercerita kasus serupa yang menimpa kerabat, keluarga, atau kenalan mereka.
Semoga dengan adanya Hari Alzheimer Sedunia tiap 21 September semakin mengingatkan orang untuk mengenali lebih dini penyakit ini sehingga dapat mengantisipasi lebih awal.
Penulis: Anna K, dapat dikontak akun IG anna_knobl, tinggal di Jerman.
Di bulan September 2022 ini RUANITA menggelar Media Tour ke berbagai radio dan majalah di Jakarta dan Bali. Tim RUANITA diwakili oleh Anna Knöbl dan Yenni Connell. Melalui buku Cinta Tanpa Batas yang menjadi produk RUANITA untuk membagikan kisah kawin campur yang berbeda.
Bincang-bincang pagi di RRI Pro 1 FM ini dipandu oleh Nova di studio RRI, Jakarta. Diawali dengan penjelasan profil RUANITA, Anna menegaskan sebagai social support system di mancanegara. Bahkan Anna mengakui sebagian besar dia belum pernah bertemu muka dengan volunteers atau penerima manfaat RUANITA, termasuk 25 perempuan penulis di buku ini.
Nova sebagai penyiar telah mengajak pendengar RRI Pro 1 FM untuk mengenal lebih jauh, siapa dan di mana saja para penerima manfaat RUANITA. Anna menegaskan bahwa ini sebagai wadah kolektif dari mereka yang berbagi cerita, ilmu dan praktik baik melalui platforma teknologi. Melalui RUANITA, Anna berharap orang Indonesia tidak lagi merasa sendirian dalam mengatasi permasalahannya di luar negeri.
Buku Cinta Tanpa Batas ditulis dari kisah nyata oleh 25 perempuan di 12 negara. Melalui buku ini, Anna ingin menjelaskan untuk tidak meromantisasi pernikahan dengan Warga Negara Asing atau memandang sebelah mata tentang kawin campur. Buku ini memiliki kekuatan tentang tema yang dianggap tabu dan tak banyak diketahui publik seperti KDRT, diskriminasi, perpisahan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan Lessons Learned.
Bagi mereka yang sedang menyiapkan pernikahan dengan warga negara asing, kita perlu mempelajari dulu budaya dan bahasa yang menjadi asal negara pasangan hidupnya. Pesan yang kuat dari buku ini adalah perempuan perlu memahami hak yang diperoleh setelah menikah dengan pria WNA agar tahu hukum yang sedang berlaku.
Yenni juga menceritakan bahwa kebahagiaan itu tak mengenal usia seperti bagaimana pertemuannya dengan suami saat usianya sudah memasuki 53 tahun. Lewat aplikasi kencan online, Yenni ingin membagikan saran untuk terhindar dari penipuan dan kepalsuan cinta.
Sebenarnya ada banyak benturan budaya yang dihadapi perempuan Indonesia saat menikahi pria WNA. Oleh karena itu bekal informasi seperti budaya dan bahasa lokal akan sangat membantu untuk beradaptasi di negara suami.
Tak banyak orang Indonesia yang akan menetap di luar negeri memahami hak yang diperoleh sebagai isteri/suami, pekerja, pelajar dan sebagainya. Perhatikan hukum-hukum di negara tujuan dan hak yang diperoleh seperti hak kursus bahasa asing gratis, hak bekerja dll.
Untuk menyaksikan siaran ulangnya, silakan disimak lewat tayangan berikut:
Dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia, RUANITA mengadakan diskusi dan bedah buku Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua. Buku Cinta Tanpa Batas adalah sebuah antologi pengalaman hidup 25 perempuan Indonesia sebagai pasangan kawin campur yang tinggal di berbagai negara.
Acara diskusi dan bedah buku telah dilangsungkan via Zoom pada tanggal 10 September 2022 dengan mengangkat tema khusus ‘Menikah atau Berpisah, Itu Tidak Mudah’. Dengan moderator Novi @novikisav sebagai salah satu penulis buku antologi Cinta Tanpa Batas (domisili di Norwegia), RUANITA turut mengundang penulis lainnya yakni Arum I. Riddell-Carre (Indonesia), Leny A. Faqih (Turki), Alda Trisda (Belgia), dan Veronica Siregar (Australia).
Salah satu tujuan ditulisnya antologi Cinta Tanpa Batas adalah untuk menyampaikan sudut pandang lain dalam realita kehidupan rumah tangga perkawinan campur dalam bentuk media literasi. Tak seindah rasa cinta yang muncul di awal perkenalan, perkawinan warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) kerap kali dimulai dengan kerumitan urusan dokumen hingga perbedaan budaya dari masing-masing pihak.
Perbedaan ini sering menjadi akar konflik yang dapat berujung pada perpisahan, atau justru memperkaya kehidupan perkawinan campuran. Banyak kisah perkawinan campur yang jarang terdengar di ranah publik dan jadi dianggap tabu, seperti pandangan keluarga besar, pengalaman menjadi orangtua dan membesarkan anak dalam dua budaya yang berbeda, hingga kisah perpisahan dan keberanian untuk kembali bangkit memulai hidup baru di tempat asing. Semuanya ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.
Salah satu kisah yang dibagikan dalam buku Cinta Tanpa Batas adalah kisah dari Arum Riddell-Carre. Bicara dari pengalamannya, Arum menekankan bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga. Salah satu buku favorit Arum adalah The Zahir yang ditulis oleh Paulo Coelho.
Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa ‘You have to love yourself first’. Ini yang menjadi pengingat Arum dalam menjalani pernikahan keduanya. Lanjutnya lagi, selain mengenal pasangan, mengenal keluarga calon pasangan juga sama pentingnya. Terlepas dari perbedaan budaya, menurutnya kita harus melihat langsung apakah life virtues pasangan sejalan atau tidak dengan kita.
Tidak cukup hanya dengan sowan saja, namun lihatlah bagaimana interaksi pasangan dengan orangtua mereka dan how they respect each other. Mengenali pasangan serta melihat bagaimana interaksi pasangan dengan keluarga mereka justru lebih menentukan kecocokan selanjutnya saat menjalani pernikahan dan berkeluarga.
Leny A. Faqih yang menikah dengan warga negara Turki membagikan kisahnya berwirausaha sebagai WNI di Turki. Sebelum menikah dan pindah ke Turki, Leny bekerja sebagai kontraktor dengan latar belakang ilmu teknik sipil. Namun begitu pindah ke Turki, semua berubah karena harus beradaptasi mempelajari sistem baru dan sendirian di rumah.
Saat itu ia kaget karena tidak boleh bepergian tanpa ditemani suami. Sementara di Indonesia, dia biasa bepergian dengan menyetir sendiri. Leny juga menjelaskan bahwa stereotipe perempuan harus manut masih lekat dalam masyarakat patriarki di Turki. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan Leny yang yakin bahwa perempuan mampu berdaya dan berkarya. Dengan meyakini stereotipe tersebut tidak sejalan dengan nilai yang dianutnya, Leny dapat memberikan kontribusi dan berusaha mendobrak kultur tersebut sebagai perempuan migran.
Setelah dua tahun, Leny memutuskan mulai bergabung dengan komunitas Indonesia lalu berwirausaha dengan membuka usaha ekspor-impor. Kini ia mengelola Toko Organic Indonesia yang berlokasi di Istanbul. Ini juga tidak lepas dari dukungan sesama warga Indonesia maupun warga Turki yang mendukung usahanya. Leny mulai berwirausaha dengan bermitra bersama warga Turki, yang mana banyak membantu dalam urusan bahasa hukum dan bisnis resmi yang berbeda dengan bahasa Turki sehari-hari, selain perbedaan cara bisnis. Rasisme terselubung dalam urusan bisnis dan beacukai pun sudah ia lewati.
Akhirnya Leny memberanikan diri untuk mengambil alih perusahaan dan berjalan melawan arus. Meskipun itu semua dimulai dengan culture shock yang besar, namun usahanya masih berjalan terus sampai sekarang.
Alda Trisda yang berdomisili di Belgia menggambarkan perkawinan campur ini sebagai ‘a lonely business’, atau kisah yang kalau tidak menjalani langsung sendiri, maka tidak akan benar-benar paham. Bahkan seringnya pernikahan campur tak seutuhnya bisa dipahami oleh keluarga dari masing-masing pihak.
Begitu pula dengan pemerintah yang kurang paham akan apa yang dibutuhkan oleh pelaku kawin campur dan berakibat kurang bisa memprediksi kebutuhan pasangan kawin campur. Inilah yang membuat buku Cinta Tanpa Batas ini unik, karena berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya dialami oleh pasangan kawin campur, sebagai sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak mengalami dan hanya dipahami oleh sesama pelaku kawin campur.
Sebagai pegiat literasi, Alda menuturkan bahwa sejak jaman penjajahan sudah ada literasi tentang kawin campur dengan posisi perempuan Indonesia yang dijadikan gundik oleh kaum penjajah lalu memiliki anak.
Namun memang, untuk konteks kondisi masa kini, informasi literasi mengenai pasangan kawin campur masih belum banyak. Tidak banyak yang menulis kisah kawin campur dari sudut pandang perempuan Indonesia selalu pelaku kawin campur di kondisi masa kini.
Menurut Veronica Siregar, tak bisa dipungkiri bahwa mengenal calon pasangan itu butuh banyak waktu. Apalagi untuk pasangan kawin campur. Satu hal yang ditekankan Veronica adalah perbedaan keyakinan di mana agama bukanlah prioritas.
Kenyataannya bagi banyak warga negara asing, bersedia menikah secara agama bukan berarti otomatis bersedia menjadikan praktik agamanya sebagai prioritas dan mengikatkan diri secara iman. Ini adalah konteks yang harus dipahami terlebih dahulu bagi pasangan yang berasal dari dua budaya yang berbeda.
Satu hal lagi yang digarisbawahi oleh Veronica adalah pernikahan harus dilihat sebagai proses mengikatkan diri secara hukum dengan seseorang, sehingga selalu ada implikasi hukumnya. Implikasi hukum inilah yang tidak pernah disadari oleh pelaku kawin campur, karena biasanya urusan hukum ini sudah terdengar ribet dan kalah duluan dengan urusan cinta.
Padahal justru implikasi hukum inilah yang paling penting untuk dipahami, karena implikasi hukum besar pengaruhnya dalam hal status izin tinggal, akses kesejahteraan dan layanan kesehatan di negara domisili, akses bekerja, serta status legalitas anak.
Jika membicarakan implikasi hukum, menurut Veronica penting juga untuk membuat perjanjian pranikah dengan tujuan untuk melihat konsekuensi yang akan dihadapi sebagai WNI jika menikah dengan WNA. Semua urusan hukum ini penting untuk dipahami terlebih dahulu oleh kedua pihak pasangan.
Selain itu, penting juga untuk mencari tahu informasi tentang akses bekerja, pengaturan keuangan, serta kemerdekaan finansial masing-masing pihak. Membangun support system juga sama pentingnya, karena jika terjadi masalah hukum, masalah kesehatan, atau jika terjadi KDRT harus menghubungi siapa atau pihak mana di negara domisili.
Lebih lengkapnya, diskusi bedah buku Cinta Tanpa Batas dapat disaksikan di video berikut:
Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (IG: aini_hanafiah)
JAKARTA – Pada Rabu (14/9) RUANITA: Rumah Aman Kita masih melanjutkan rangkaian Media Tour dan berkunjung ke stasiun radio KIS 95,1 FM dan kantor Redaksi Majalah FEMINA. Acara ini bertujuan untuk mempromosikan isu kawin campur yang masih dipandang sebelah mata atau terkesan meromantisasikan kehidupan di luar negeri.
Kunjungan pertama dilakukan ke Radio KIS FM yang mana Anna Knöbl dan Yenni Connell melakukan siaran talkshow on air. Acara bincang-bincang ini dipandu oleh Karina yang banyak membahas adaptasi budaya dan pemahaman nikah beda bangsa yang tak mudah.
Dalam siaran tersebut, Anna mengingatkan pentingnya solidaritas sesama orang Indonesia di perantauan sehingga RUANITA menjadi social supportsystem. Anna menegaskan pentingnya untuk mengangkat cerita-cerita yang tak melulu meromantisasi kehidupan luar negeri tetapi cerita-cerita yang tidak banyak diangkat di narasi publik seperti masalah psikologis, masalah hukum, masalah parenting, dll.
Sementara Yenni lebih banyak mengisahkan pertemuannya dengan suami saat usianya 53 tahun melalui aplikasi kencan online. Yenni banyak berpesan untuk berhati-hati mengenal orang-orang dalam aplikasi kencan online agar tidak terjerumus pada kepalsuan atau penipuan yang semakin marak belakangan.
Kunjungan selanjutnya adalah kantor Redaksi FEMINA di Jakarta yang juga mendapatkan sambutan hangat dari Bennita dan Tim Redaktur. Dalam diskusi dengan Tim Redaktur FEMINA, Anna menceritakan tentang apa yang sudah dijalani RUANITA sebagai ‘Rumah Aman’ bagi orang Indonesia di luar negeri.
Fenomena kawin campur memang sudah banyak dikemas lewat dunia hiburan, tetapi Tim Redaktur FEMINA menyambut baik ajakan edukasi yang benar dan tepat agar masyarakat tidak salah kaprah. Apalagi pandangan untuk menetap di luar negeri masih menjadi impian orang-orang meski tak banyak yang menguasai bahasa, budaya, hukum dan pendidikan yang mumpuni.
Ke depan Tim Redaktur FEMINA berharap ada kisah-kisah inspiratif dan edukatif dari RUANITA untuk dibagikan. RUANITA yang diwakili Anna Knöbl dan Yenny Connell berharap FEMINA sebagai media informasi perempuan Indonesia dapat menyediakan ruang-ruang diskusi yang konstruktif sebagai jembatan untuk perempuan Indonesia di Indonesia dan perempuan Indonesia di mancanegara.
Halo, perkenalkan saya X. Saat ini tinggal di sebuah kota di bagian barat negara Jerman. Saya pindah ke Jerman 3 tahun lalu setelah menikah dengan pria berkebangsaan Jerman.
Sebelum pindah ke Jerman, saya bekerja di Jakarta. Kepindahan saya ke Jerman memang merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya, meskipun ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di Jerman.
Namun perbedaan tersebut sangat terasa sekali ketika saya ke Jerman hanya untuk berlibur dengan ketika saya tinggal dan menetap di Jerman.
Kepindahan saya ke Jerman terasa sangat menyenangkan pada awalnya, karena saya sampai ketika musim panas dan merasakan berbagai hal baru yang menyenangkan. Namun perlahan-lahan perasaan tersebut berubah menjadi kebingungan, kesedihan hingga perasaan kesepian.
Saat itu hal yang sering saya lakukan ketika merasa kesepian adalah bercerita kepada teman-teman saya di Indonesia, walaupun hanya sesaat tetapi saya merasa lega ketika bercerita dengan teman saya.
Hal tersebut membuat saya selalu berusaha lebih untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman saya di Indonesia dan tanpa saya sadari membuat saya secara emosional sangat bergantung terhadap mereka, sehingga saya lupa bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani di sini.
Semakin lama saya semakin tenggelam dalam hal-hal yang membuat saya menjadi tidak bahagia dan merasa kesepian. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah menyalahkan diri sendiri dan keadaan, terutama ketika saya merasa diabaikan oleh orang-orang terdekat saya.
Perasaan terabaikan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari intensitas komunikasi saya yang semakin berkurang dengan teman-teman saya.
Hal yang sebenarnya bisa saya pahami dengan kesibukan mereka dan perbedaan waktu. Namun saat itu rasanya saya tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.
Semakin lama saya membiarkan perasaan tidak nyaman tersebut berlarut-larut hingga tanpa saya sadari mulai mengganggu kondisi fisik saya. Saya menjadi sering sekali merasakan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan seringkali mempertanyakan kewarasan saya.
Hal tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman yang juga tinggal di salah satu negara di Eropa. Saya menceritakan semua hal yang saya alami dan berakhir dengan pertanyaan apakah perlu saya untuk mencari bantuan seorang profesional?
Teman saya pun menyarankan agar saya mencari bantuan seorang profesional karena dia juga merupakan lulusan psikologi.
Setelah percakapan tersebut, saya kemudian menghubungi seorang Psikolog dan mendaftarkan diri untuk sesi terapi dengan beliau. Setelah sesi terapi saya menjadi merasa lebih baik dalam menjalani hari-hari saya.
Saya juga menjadi lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola emosi dan merawat kesehatan mental. Tentu saja semua proses tersebut tidak mudah dan cepat, perlu kesadaran secara penuh dan kemauan untuk saya dapat berubah menjadi lebih baik, dan juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar kita, terutama pasangan terlebih untuk orang yang berada dalam keadaan seperti saya yang jauh dari keluarga dan teman.
Saat ini tentu saja perasaan tidak enak tersebut masih sering muncul. Namun saya kini tahu bagaimana caranya agar saya bisa tidak berlarut-larut dalam merasakan perasaan negatif yang saya rasakan.
Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri dan menyadari pentingnya untuk mengenali berbagai tanda-tanda perilaku psikologis yang tidak seharusnya saya rasakan.
Episode Parentingtalk with RUANITA atau disingkat PELITA pada bulan September 2022 ini membahas tentang anak dengan Autisme.
Biasanya tak mudah orang tua mengenali tanda-tanda gangguan perkembangan ini pada usia 1-2 tahun karena semua tampak terlihat wajar. Misalnya, anak di usia satu tahun sudah bisa mengucapkan sekian banyak kata, tetapi anak mengalami keterlambatan bicara.
Tanda berikutnya yang mudah dikenali adalah repetitive movement pada anak dengan Autisme.
Gejala yang paling jelas lainnya adalah eye contact seperti cara melihat anak yang berbeda atau menghindari tatapan mata kita.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak lelaki punya risiko empat kali lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan.
Selain itu, belum ada kaitan antara risiko anak dengan Autisme terhadap status ekonomi, tingkat pendidikan orang tua dan lain sebagainya sehingga orang tua tidak perlu merasa bersalah ketika anak mengalami Autisme. Anak dengan Autisme juga mengalami kesulitan ketika harus berinteraksi sosial dengan anak lainnya.
Orang tua perlu mengenali gangguan perkembangan anak di usia lebih dini seperti 1-2 tahun sehingga penanganannya lebih optimal karena memang anak-anak tampak normal di usia 1-2 tahun.
Anak dengan Autisme biasanya sensitif terhadap cahaya, sentuhan, bau, suara, dan lainnya yang tampak mirip dengan anak dengan gangguan pemrosesan sensori yang sudah dibahas pada episode sebelumnya.
Anak dengan Autisme tampak menarik diri dan biasanya asyik dengan “dunianya” sendiri. Permainan anak dengan Autisme juga tidak melibatkan dengan orang lain atau teman lain, tidak cukup responsif dari orang sekitarnya sehingga muncul penilaian kalau anak dengan Autisme itu kurang empati.
Padahal itu tidak demikian. Anak dengan Autisme biasanya tidak mampu untuk meniru dalam permainan atau melakukan permainan yang tampak rigid.
Simak pemaparan Stephanie lebih lanjut berikut ini:
Jika ada saran/pertanyaan, silakan kontak info@ruanita.com atau follow akun media sosial seperti IG: @ruanita.indonesia atau FB Fanpage: Ruanita – Rumah Aman Kita.
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.