(CERITA SAHABAT) Mulai dari Ekstrovert Menjadi Introvert

Omong-omong tentang kepribadian, kurasa milikku telah berubah secara drastis. Dulunya, aku adalah seorang anak yang ekstrovert. Bahkan bisa dibilang aku tidak bisa hidup tanpa orang lain, saat tidur pun tidak bisa sendiri. 

Saat SMP, aku kenal semua anak di sekolahku, dan banyak juga yang mengenalku. Tidak jarang aku disapa anak sekolahku di jalanan. Temanku sangat banyak dan aku juga aktif di beberapa grup chat sekolah, sehingga membuatku sangat eksis di sekolahan. 

Saking ekstrovertnya, aku merasa aku terlalu bergantung dengan kehadiran orang lain, sehingga aku cenderung manja dan tidak bisa sendiri karena aku merasa sangat takut ketika sendirian. Sifat ini berlangsung sampai aku SMA kelas satu. 

Namun, ketika aku naik ke kelas dua, kepribadianku berubah drastis secara tiba-tiba.

Sepertinya penting untuk mengetahui latar belakangku yang mungkin bisa menjelaskan kepribadian super-ekstrovertku yang dulu.

Ibuku sangat ekstrovert dan memiliki banyak teman yang seumuran denganku. Kebalikan dengan Ibu, Ayah sangat introvert dan hanya berhubungan dekat dengan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan beliau.

Kedua orangtuaku sangat religius, sehingga sejak aku TK hingga SMP aku selalu dimasukkan ke sekolah swasta religius. Di kota kelahiranku pada saat itu, sekolah religius sangat jarang, maka lingkungan pergaulanku kebanyakan itu-itu saja. Karena ibuku sangat aktif di lingkungan sosial, maka pergaulanku pun luas meskipun masih dalam lingkupan pergaulan religius. 

Saat aku SD, kebanyakan teman TK-ku juga memasuki sekolah yang sama. Di sekolahku, kelas kami tidak di-rotasi, jadi teman sekelasku adalah teman yang sama selama enam tahun. Begitupun saat SMP. Dan, karena sekolah swasta yang saat itu tidak terlalu besar, jumlah murid per kelas hanya kurang dari tiga puluh anak. 

Hanya ada empat kelas dalam satu angkatan. Bisa dibilang, pergaulan kami luas dalam artian kami mengenal semua anak di sekolah, tapi tentu tidak bisa dibandingkan dengan jumlah siswa di sekolah negeri. Tidak heran, tumbuh di lingkungan seperti ini membuatku agak takut dengan stranger dan pertemanan yang “sementara.” 

Namun saat itu ketakutanku akan stranger tidak separah sekarang.

SMA adalah saat pertama aku keluar dari lingkupan pergaulan yang itu-itu saja. Kelas sepuluh, aku beruntung karena mendapat teman sekelas yang asyik dan akrab.

Akupun memutuskan untuk bergabung dengan OSIS. Memasuki kelas sebelas, aku harus absen di seminggu pertama tahun ajaran baru karena harus mengurusi MOS. Tiba-tiba, aku terkena panic attack saat menyadari aku kehilangan waktu seminggu pertama (yang biasanya krusial untuk mendapat teman baru di kelas) karena urusan MOS. 

Mulai dari itu, kepribadianku perlahan berubah dari sangat ekstrovert dan sosial menjadi introvert dan penyendiri. Sifat itu terbawa sampai aku pindah ke Jerman dan menjadi sangat parah setelah aku menjalani S1 di Jerman. 

Dari seorang gadis yang punya puluhan teman, aku menjadi seseorang yang hanya punya satu-dua teman pada saat itu. Kesehatan mentalku memburuk karena stress dan trauma, sehingga masa-masa S1 adalah salah satu masa paling buruk dalam hidupku. 

Untungnya, aku masih memiliki kemampuan sosial di online, jadi dalam waktu itu kebanyakan aku hanya bertumpu dengan hubungan sosial secara virtual. Setelah menikah, untungnya social anxiety ku berkurang dan aku bisa berteman lagi, meskipun tidak seperti dulu. 

Dan aku masih beruntung saat ini karena teman-temanku yang tersisa, meskipun sedikit jumlahnya, adalah teman-teman ride or die. Meskipun kami sudah terpisah-pisah kota, negara dan benua, tapi pertemanan kami masih sangat erat, sehingga aku tidak lagi merasa kesepian dan sendirian.

Cerita ini ditulis oleh Nadia tinggal di Jerman, atas pengalaman seorang teman

(CERITA SAHABAT) Caraku Atasi Kesepian Adalah Tidak Anggap Kesepian Itu Penting

Halo Sahabat Ruanita, terima kasih telah menjadi ruang aman untuk bercerita dan memberiku kesempatan bergabung dalam program Konseling Kelompok bertema: Toxic Relationship yang lalu. Perasaanku lega, setidaknya aku bisa menyuarakan ketakutanku walau dengan suara dan tubuh bergetar.

Ternyata menyampaikan ketakutan pribadi kepada orang lain yang tidak dikenal itu membantu. Rasanya sedikit leluasa dan lega, karena mereka tidak berpikiran subyektif. Mereka menjadi orang yang netral. Mereka tidak mengenal identitas asliku begitu juga sebaliknya. Sekali lagi, terima kasih.

Ok, aku mulai dengan ini.

Namaku Wani, bukan identitas asliku. Wani dalam Bahasa Jawa artinya berani. Ya, aku memilih nama itu. Aku berani. Lebih baik seperti ini, aku nyaman seperti ini. Bercerita tanpa kalian tahu siapa sebenarnya aku.

Aku adalah seorang wanita paruh baya asal Pulau Jawa, Indonesia. Sejak 2 tahun lalu aku menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan Jerman dan kini tinggal di Jerman. Sekarang aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang berkegiatan rumah tangga biasa tanpa seorang anak. Lantai 2 rumah mertuaku di sebuah desa yang terletak 30 menit dari kota tinggalku adalah tempatku tinggal bersama suami. Ya, kami tinggal satu rumah dengan mertuaku.

Mereka di lantai 1 dan kami di lantai 2, berbeda dapur dan kamar mandi. Seperti layaknya denah rumah susun yang terdiri dari beberapa keluarga. Kegiatan sehari-hariku adalah bangun pagi menyiapkan bekal makan siang suamiku, membersihkan rumah dan memasak. Ada kalanya aku belajar Bahasa Jerman, mencari dan mengirim lamaran pekerjaan, untuk apapun pekerjaannya.

Karena suami tidak mempunyai peluang kerja di Indonesia atau bahkan mendapatkan pekerjaan remote dan kebetulan perusahaan tempatku bekerja akhirnya gulung tikar saat pandemi Covid-19, kami putuskan untuk tinggal bersama setelah menikah di Jerman.

Kami berdua mempunyai impian menghasilkan uang bersama untuk membangun usaha dan sebuah rumah kecil di Indonesia. Kami sama-sama orang yang senang bekerja. Dulu di Indonesia aku bekerja di sebuah perusahaan retail yang terkenal.

Mudah bagiku untuk mencari pekerjaan dari relasi. Aku adalah orang yang ramah, ceria, percaya diri dan pandai pitching klien untuk suatu proyek.

Dari dulu aku terbiasa bekerja dengan dokumen-dokumen sehingga persiapan menuju Jermanku dulu menjadi biasa saja. Semakin menuju ke Jerman semakin tampak ego kami berdua. Aku menyadari tekanan yang aku dapat kebanyakan datang dari kepanikan suamiku.

Dia adalah orang yang selalu merencanakan apapun, berpikiran praktis dan sering ber-ekspektasi berlebih terhadap rencana itu. Rencana cadangannya hanya ada sampai PLAN B. Dia harus benar-benar mengusahakan PLAN A dan PLAN B dulu semaksimal mungkin. Butuh waktu agak lama untuk membuat PLAN C. Sedangkan aku? Aku selalu saja bisa mencari jalan lain menuju Roma. Hidupku terbiasa kompleks sehingga aku mampu membuat PLAN A-Z.

Tidak jarang kami bertengkar karena kami mempunyai cara berbeda dalam menyelesaikan sesuatu. Mental, tenaga, perasaan dan uang kami benar-benar diuji. Apa memang mungkin karena persiapan sebelum menikah itu memang seperti ini? Entahlah, pada saat itu kami hanya punya cinta dan kesediaan untuk hidup bersama.

Pertama kali tiba di Jerman. Aku senang dan bangga dengan diriku sendiri, apa yang aku persiapkan untuk pernikahan dan perjalanan itu akhirnya terlaksana tanpa missed sedikit pun. Ini perjalanan antar benua pertama kaliku ditambah masa awal pandemi Covid-19 yang segala sesuatunya menjadi lebih rumit. Cuaca di Jerman cocok untukku yang tidak begitu menyukai hawa panas.

Follow akun: ruanita.indonesia

Masakan Jerman sesuai dengan kemampuan memasakku yang sangat basic dan jelas tidak serumit masakan Indonesia. Hanya saja aku tetap merindukan masakan Indonesia yang kaya akan rasa. Aku tetap berusaha untuk memasak masakan Indonesia semampuku. Beruntung masih ada toko Asia di kota, bumbu instant menjadi andalan.

Sebelum tinggal di Jerman, terbayang olehku kemudahan-kemudahan yang akan datang sama seperti kemudahan yang aku dapatkan di Indonesia. Namun ternyata bayanganku salah. Ya, itu berbeda dengan di Indonesia. Aku menjadi seorang wanita yang tidak berdaya. Bahasa Jerman sebatas level A1 yang aku pelajari di Indonesia ternyata tidak cukup berguna.

Kemampuan Bahasa Inggrisku yang baik pun tak berguna karena orang di sini mengharuskan orang asing yang tinggal di Jerman untuk mampu berbahasa Jerman. Terlihat jelas di dalam syarat perpanjangan Visa Nasional yang aku miliki, pemerintah Jerman mewajibkan pasangan beda warga negara untuk mempunyai sertifikat Bahasa Jerman level B1. 

Tahun pertama banyak hal yang aku tidak mengerti. Entah karena aku memang terlalu bodoh atau karena keluarga besar suamiku tidak paham sampai mana materi A1 yang aku pelajari. Mereka tidak sabar, mereka kurang mau memahamiku dan selalu mengetukkan jarinya jika menungguku terlalu lama menjelaskan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Aku tetap berusaha tetapi panik selalu datang setiap saat. 

Sampai detik ini dalam hidupku di Jerman, Bahasa Jerman adalah yang tersulit. Karena Bahasa adalah awal mula dari segalanya. Memahami budaya dan orangnya akan terasa gampang jika aku bisa berbahasa Jerman. Bahasa Jerman yang aku pelajari kini sampai dengan level B1.

Tapi tetap saja takut dan panik membuyarkan semuanya. Apalagi melihat ekspresi mereka yang tidak sabar menantiku menyelesaikan kalimatku. Bahasa itu akar dari komunikasi. Komunikasi adalah keahlianku semasa di Indonesia. Aku ingin bisa berbahasa Jerman dengan baik agar mereka mengerti dan memahamiku, agar aku bisa bekerja, agar aku kembali seperti aku yang dulu, aku yang dengan percaya diri menjadi diriku sendiri. Aku yang tidak perlu risau dan takut dalam melangkah.

Sejak 2 tahun lalu sampai detik ini, aku kesepian. Secara fisik tidak ada teman yang bisa diajak sekedar minum kopi bersama. Aku tinggal di desa. Tetangga enggan berteman dengan aku yang tidak pandai berbahasa Jerman ini. Dan suamiku sering tidak memperbolehkanku keluar desa ini karena dia terlalu cemas jika aku pergi sendiri. Jadi temanku hanya aku.

Oh, ada seekor anjing kecil milik ayah mertuaku. Iya, aku berbicara dengan anjing itu berbahasa Indonesia dan Jawa tentunya. Dia tidak dapat membalas omonganku tapi sepertinya dia mengerti. Dia tahu di saat aku sedang bersedih. Entah mengapa itu melegakan.

Secara mental, aku punya 7 orang sahabat yang selalu support mentalku. Empat sahabatku tinggal di Jerman tapi berbeda kota denganku, satu sahabat tinggal di Amerika dan dua sahabat di Indonesia. Mereka memberiku kekuatan untuk tetap tegar menjalani hari. Ada saja keceriaan yang mereka bagikan. Aku beruntung. Setidaknya aku masih punya teman. 

Jika kalian bertanya, mengapa aku tidak menyebut orang tuaku atau keluargaku di Indonesia sebagai penawar kesepianku. Jawabannya adalah sejak kecil aku bukan anak yang dekat dengan orang tua dan keluarga. Terlalu banyak polemik di keluargaku, saudara-saudaraku bahkan di keluarga besar ayah dan ibuku.

Pengalaman menarik dari kesepian yang aku alami di Jerman adalah  setahun pertama yang aku jalani percuma, tidak berarti, tidak bermanfaat dan depresif. Keadaan mental depresi berat karena perubahan sosial.

Ditambah lagi pandemi Covid-19, pembatasan gerak termasuk bertemu teman, kursus Bahasa Jerman tidak tatap muka (via online Zoom-meeting), dan keluarga besar suamiku yang sangat takut terhadap virus corona serta ditambah Winter Depression. Banyak sekali yang dibatasi. Aku tidak bisa bersosialisasi. Aku tidak bisa beradaptasi.

Di tahun kedua ini semua menjadi lebih baik. Ada tiket 9€, aku bisa berpergian ke mana saja. Sendiri saja. Ya, karena teman-temanku berada di kota yang berbeda, paling dekat berjarak 4 jam menggunakan kereta. Tidak apa, setidaknya aku bisa melelahkan kakiku dan menyegarkan pikiranku dengan berjalan-jalan di kota.

Tidak jarang juga aku pergi ke kota hanya untuk beli Indomie goreng di toko Asia. Lalu lanjutkan langkah ke ReWe untuk membeli secangkir kopi dingin, dan selanjutnya aku duduk di sebuah bangku dingin pada gleis arahku pulang ke desa. Menunggu datangnya kereta keloter kedua. Iini melegakan juga.

Menurutku, mengatasi kesepian adalah dengan tidak menganggap kesepian itu penting, cukup biasa saja. Aku bersyukur masih bisa merasakan kasih dari sahabat dan teman walaupun yang aku dapatkan adalah kasih virtual. Tapi setidaknya aku merasa tidak sendiri. Karena aku percaya, semua orang mempunyai masalahnya masing-masing.

Hanya saja bagaimana cara mereka memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan masalah itu. Bagiku, aku akan tetap gigih belajar Bahasa Jerman. Sehari minimal aku belajar 2 jam seperti membaca, mendengar percakapan dan menulis kata-kata penting. Namun entah mengapa, susah aku ingat dan terapkan. Sempat aku berpikir, apakah alam bawah sadarku menolak? 

Sepertinya memang aku belum beradaptasi dengan baik. Aku masih dalam proses beradaptasi. Aku kini hanya bisa bertahan dan menjalani apa yang aku hadapi. Mencoba mengembalikan percaya diriku, mencari solusi yang bisa dilakukan, bukan hanya berandai-andai saja. Berbicara itu mudah, melakukannya yang susah. 

Sekarang yang bisa aku atasi adalah belajar berbahasa Jerman dengan baik dan apply pekerjaan dengan kemampuan berbahasa Jermanku yang minim. Aku butuh uang untuk bisa berdiri sendiri dengan kakiku, seperti aku yang dulu yang menyenangkan. Aku yakin aku bisa. Ini semua hanya masalah waktu. Harus ada keyakinan dan harapan serta senyuman. Berubah bukan sesuatu yang buruk. Aku mau menjadi aku yang baru.

Kesepian akan selalu hadir. Dinikmati saja. Seperti perasaan bahagia yang tidak selalu hadir. Berterima kasihlah dengan dirimu sendiri, karena dia sudah mau dan mampu bertahan sejauh ini. Semua ada waktunya. Semua yang dihadapi selalu ada maksudnya.

Untuk siapapun kamu yang telah membaca ceritaku, terima kasih. Kamu tidak sendiri dalam memperjuangkan apa yang ingin kamu raih. Tersenyum dan bersyukurlah sejenak. 

Jangan lupa semangat! 🙂

Penulis: Aku Wani, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Perasaan Diabaikan dari Teman-teman di Indonesia Mendorongku Temui Psikolog

Halo, perkenalkan saya X.  Saat ini tinggal di sebuah kota di bagian barat negara Jerman. Saya pindah ke Jerman 3 tahun lalu setelah menikah dengan pria berkebangsaan Jerman.

Sebelum pindah ke Jerman, saya bekerja di Jakarta. Kepindahan saya ke Jerman memang merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya, meskipun ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di Jerman.

Namun perbedaan tersebut sangat terasa sekali ketika saya ke Jerman hanya untuk berlibur dengan ketika saya tinggal dan menetap di Jerman. 

Kepindahan saya ke Jerman terasa sangat menyenangkan pada awalnya, karena saya sampai ketika musim panas dan merasakan berbagai hal baru yang menyenangkan. Namun perlahan-lahan perasaan tersebut berubah menjadi kebingungan, kesedihan hingga perasaan kesepian.

Saat itu hal yang sering saya lakukan ketika merasa kesepian adalah bercerita kepada teman-teman saya di Indonesia, walaupun hanya sesaat tetapi saya merasa lega ketika bercerita dengan teman saya. 

Hal tersebut membuat saya selalu berusaha lebih untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman saya di Indonesia dan tanpa saya sadari membuat saya secara emosional sangat bergantung terhadap mereka, sehingga saya lupa bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani di sini.

Semakin lama saya semakin tenggelam dalam hal-hal yang membuat saya menjadi tidak bahagia dan merasa kesepian. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah menyalahkan diri sendiri dan keadaan, terutama ketika saya merasa diabaikan oleh orang-orang terdekat saya. 

Perasaan terabaikan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari intensitas komunikasi saya yang semakin berkurang dengan teman-teman saya.

Hal yang sebenarnya bisa saya pahami dengan kesibukan mereka dan perbedaan waktu. Namun saat itu rasanya saya tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.

Follow akun: ruanita.indonesia

Semakin lama saya membiarkan perasaan tidak nyaman tersebut berlarut-larut hingga tanpa saya sadari mulai mengganggu kondisi fisik saya. Saya menjadi sering sekali merasakan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan seringkali mempertanyakan kewarasan saya.

Hal tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman yang juga tinggal di salah satu negara di Eropa. Saya menceritakan semua hal yang saya alami dan berakhir dengan pertanyaan apakah perlu saya untuk mencari bantuan seorang profesional?

Teman saya pun menyarankan agar saya mencari bantuan seorang profesional karena dia juga merupakan lulusan psikologi. 

Setelah percakapan tersebut, saya kemudian menghubungi seorang Psikolog dan mendaftarkan diri untuk sesi terapi dengan beliau. Setelah sesi terapi saya menjadi merasa lebih baik dalam menjalani hari-hari saya.

Saya juga menjadi lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola emosi dan merawat kesehatan mental. Tentu saja semua proses tersebut tidak mudah dan cepat, perlu kesadaran secara penuh dan kemauan untuk saya dapat berubah menjadi lebih baik, dan juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar kita, terutama pasangan terlebih untuk orang yang berada dalam keadaan seperti saya yang jauh dari keluarga dan teman.

Saat ini tentu saja perasaan tidak enak tersebut masih sering muncul. Namun saya kini tahu bagaimana caranya agar saya bisa tidak berlarut-larut dalam merasakan perasaan negatif yang saya rasakan.

Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri dan menyadari pentingnya untuk mengenali berbagai tanda-tanda perilaku psikologis yang tidak seharusnya saya rasakan. 

Penulis: X, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Begitu Tinggal di Jerman, Aku Sadar Kalau Dia Manipulatif

Ini adalah pengalamanku yang sampai saat ini kadang masih menjadi traumaku dan tentunya menjadi pelajaran berharga bagiku. Selama empat tahun, sejak aku masih SMA hingga aku tiba di Jerman 2017 yang lalu, aku memiliki mantan pacar yang enam tahun lebih tua dariku, yang melakukan gashlighting terhadapku dan sayangnya baru kusadari setelah aku berhasil putus darinya. Kami berkenalan di acara karang taruna desa kami saat aku masih duduk di bangku SMP. 

Awalnya dia menunjukkan sikap yang baik dan perhatian. Namun lama kelamaan dia mulai berubah dan menunjukkan sikap yang tidak masuk akal. Dia mulai menjauhkanku dari teman-teman dan keluargaku. Ia mulai melarangku untuk bermain dengan teman-temanku.

Ia berusaha meyakinkanku bahwa teman-teman yang sudah kukenal lama ini bukanlah orang yang baik. “Kalau kamu cuma main sama dia, mau jadi apa kamu!”, katanya saat itu. Meskipun pulang malam adalah hal yang sudah biasa bagiku dan tentunya dengan sepengetahuan kedua orang tuaku, ia mulai sering berargumen, “Kamu tuh sudah dibilang bukan anak baik-baik, pulang malem. Tidak usah deh ikut acara apa-apa. Demi nama baik kamu.”

Selain dia menjauhkanku dari keluargaku, ia bahkan memanggil orang tuaku langsung dengan nama, mengatai-ngatai kedua orang tuaku dan berusaha mendoktrinku bahwa orang tuaku bukanlah orang yang baik.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Sebenarnya pun keluarga dan beberapa tetanggaku sudah memperingatkan dan melarangku untuk berhubungan dengannya. Sayangnya bagiku saat ini, hanya “jangan dekat dengannya” tidaklah cukup meyakinkanku.

Tidak seorang pun yang menjelaskan padaku dengan mengapa aku tak boleh dekat dengannya. Mereka hanya mengatakan: intinya jangan berhubungan sama dia. Titik. Peringatan itu kuabaikan saja dan aku tidak mau memercayainya. Aku pernah menanyakan hal ini padanya dan jawabannya, “Dia saja yang tidak mau kita bersama.” Bodohnya aku, aku memercayai jawabannya itu.

Ini yang menjadi poin penting bagaimana aku sulit lepas dari mantan pacarku ini dan entah bagaimana tetap saja mempercayainya. Mungkin sebagai gambaran awal, aku adalah tipikal orang yang “ngemong”, super care dan royal. Ketika orang melihat ini sebagai poin plus, ini adalah titik lemahku di hadapannya, yang sering ia manfaatkan. Caranya memanipulasiku sangatlah manis, menjanjikan sesuatu yang hampir setiap perempuan ingin dengar dari setiap laki-laki, seperti ingin membangunkan rumah untukku, membicarakan berapa banyak anak yang ingin dia miliki bersamaku, atau bagaimana ia ingin berakhir bersamaku.

Ketika ia tahu aku sudah dalam kuasanya, ia memanfaatkan “kelemahanku” dengan bersikap manja padaku, menunjukkan karakter lemah yang bisa menyentuh hatiku, dan mulai meminta ini itu. Lama kelamaan tidak lagi sungkan untuk meminta apapun dariku. “Aku mau ini dong”, “Aku mau itu dong” atau “Belikan ini dong”. Sayangnya makin ke sini ia jadi memaksa untuk dituruti keinginannya saat itu juga. Jika tidak dituruti ia akan berkata, “Apaan sih. Kayak begitu saja tidak bisa. Sudah, kalau tidak mau, putus aja.” 

Bertahun-tahun ia terus mengulang-ulang, bahwa cuma dia yang mau menerimaku. Dia mendoktrinku untuk memercayai bahwa aku anak yang nakal dan ia sudah memperbaiki imejku. Dia mempermasalahkan keperawananku dan mengatakan bahwa semua mantannya masih perawan dan cuma aku yang tidak. Padahal dia juga melakukan hubungan sex denganku. Dia terus mengatakan, seharusnya aku bersyukur bahwa dia mau denganku, hanya dia yang mengerti aku dan sebagainya. 

Bahkan pernah suatu kali, saat aku ketahuan chat dengan teman perempuanku yang dilarangnya, ia lalu menginjak hapeku dan menendang dadaku. Itu justru membuatku merasa bersalah mengapa aku melakukannya dan menyakiti dia. Ia bersikap seakan-akan dia orang tuaku, layaknya orang tua menasihati anaknya.

Ketika dia marah, aku jadi berpikir, dia mau aku jadi lebih baik. Karena ia membuatku sibuk memikirkan “kesalahanku” dan menyalahkan diriku sendiri, aku sampai tak sadar kalau dia sering “membeli perempuan”. Namun ketika dia mau sesuatu, seketika dia bisa berubah sikap begitu saja menjadi sangat sweet dan manja, yang membuatku tidak bisa menolak kemauannya. 

Sebenarnya aku sadar bahwa dia bersikap buruk dan aku harus mengakhiri hubungan ini dengannya. Namun setiap kali mau putus, di kepalaku selalu muncul: siapa lagi yang bisa mengerti dia selain aku, siapa lagi yang mau sama dia selain aku. Yang ada di kepalaku justru bagaimana orang tuaku bisa menerima dia, karena meskipun begitu aku juga tidak mau kehilangan orang tuaku.

Ironisnya, bahkan saat aku sudah di Jerman ia mulai membuat janji-janji manis seperti akan mengunjungiku di Jerman. Selang dua minggu setelah kedatanganku di Jerman, ia minta dibelikan motor CB.

Ini semua membuatku jadi parno kalau dekat dengan laki-laki yang apa-apa minta dibayarin, sampai sekarang aku masih bermimpi tentangnya seperti dikejar-kejar, aku jadi merasa rendah diri dan merasa kecil dihadapan orang tuaku dan tentunya masih merasa bersalah terhadap orang tuaku dan belum bisa memaafkan diriku sendiri. 

Sekolah ke Jerman lah yang menyelamatkan hidupku darinya. Setelah aku pindah ke Jerman, aku menjadi sibuk, banyak hal yang harus aku urus, aku memulai sesuatu yang besar, dan ini antara hidup dan mati tanpa orang tua. Bertemu berbagai macam orang, aku mulai merasakan perbedaan karakter dan treatment terhadapku dibandingkan dengan mantanku.

Selain itu, sejak aku ke Jerman aku bertemu banyak orang-orang baru dengan berbagai macam latar belakang, asal daerah yang berbeda dan cerita masa lalu yang hampir sama, yang membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian. Bahwa siapapun bisa membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang salah dan itu tidak menjamin bahwa di masa depan juga akan mengambil keputusan yang salah lagi. Dan mereka juga bisa berhasil dalam hidup.

Untuk mengakhiri ceritaku, aku menyadari bahwa sulit untuk korban menyadari dan keluar dari hubungan seperti ini. Hanya orang itu sendiri yang bisa melepaskan dirinya dari hubungan itu dan mengambil keputusan. Namun sangat penting juga, kalau kalian punya teman atau anggota keluarga yang mengalami hal serupa, dalam kasus seperti ini kalian harus tegas dan jangan hanya melarang tanpa penjelasan apapun.

Penulis: Mahasiswi, tinggal di Jerman.

(RUMPITA) Jauh Di Mata, Susah Di Dompet

Episode ke-6 Podcast Rumpita ini – Nadia dan Fadni – dimulai dari nostalgia jelang persiapan acara Tujuhbelasan yang dulu mereka ikuti saat masih di Indonesia. Kini mereka menetap di Jerman selama satu dekade yang berawal dari studi sarjana mereka. Suka duka sebagai mahasiswa di tanah rantau dibahas oleh Fadni dan Nadia.

Cerita nostalgia, rindu tanah air mereka berawal dari bagaimana mereka menghias sekitar rumah tinggal, perlombaan Tujuhbelasan dan kemeriahan yang tak dijumpai di luar Indonesia. Namun apakah kemeriahan itu juga diperoleh saat mereka di negeri perantauan?

Mereka bertutur perasaan jauh dari kehidupan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Jarak yang terbentang antara Jerman – Indonesia terkadang membuat kesepian, kerinduan dan kesedihan yang dialami oleh Nadia dan Fadni. Nadia perlu juga pertimbangkan bahwa biaya yang tak mudah dan murah untuk pulang-pergi Indonesia untuk melepas perasaan-perasaan tersebut.

Follow akun Instagram: ruanita.indonesia

Indonesia yang letaknya di ribuan kilometer terasa jauh saat kita berada di perantauan, seperti yang dirasakan Nadia dan Fadni, apalagi mereka adalah mahasiswa. Tahun-tahun perjuangan di Jerman begitu sulit dan panjang saat kita begitu kesulitan untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi hanya untuk melepas kerinduan pada keluarga.

Sebagai orang yang dekat dengan keluarga, Nadia dan Fadni merasa iri melihat kebersamaan orang-orang sekitar yang bisa berkumpul bersama keluarga. Membangun impian di negeri orang terkadang membuat kita merindukan tanah air. Bagaimana kelanjutan celoteh Nadia dan Fadni pada episode ke-6?

Simak selengkapnya di saluran berikut:

Follow podcast kami ya!

(CERITA SAHABAT) Jalan Hidup Terbatas tetapi Kenangan Tak Terbatas

Umur adalah rahasia Ilahi. Siapa sangka perpisahanku dengan keluargaku saat beberapa tahun lalu menjadi waktu perpisahan selamanya dengan ayahku. Boleh dibilang aku benar-benar tak pernah menyangka bahwa ayahku begitu cepat pergi meninggalkan kami semua. Ayahku tak pernah berpesan apapun jika dia suatu saat tiada. Dia adalah orang yang optimis terhadap masa depan.

Beberapa hari sebelum dia dirawat di rumah sakit terakhir kalinya, aku mengobrol lama dengan ayahku. Kami membicarakan semua impian masa depan. Ia tak membicarakan sakitnya. Dia menceritakan tentang mimpi-mimpinya untukku dan kedua adikku.

Sebagai anak perempuan, aku begitu dekat dengan ayahku. Aku banyak meminta pendapat ayahku tentang berbagai hal. Dia punya banyak wawasan, meski dia tidak moderen. Dia tak tahu bagaimana mengoperasikan kecanggihan benda berteknologi, tetapi anehnya pemikirannya kerap dijadikan acuan banyak tokoh. Dia seorang pemikir dan kritikus.

Aku benar-benar kehilangan ayahku. Sejak kecil, dia memerhatikan aku agar aku tumbuh sukses dan menjadi perempuan cerdas. Dia mengajariku banyak hal, seperti pekerjaan kantor meski usiaku saat itu masih Teenager. Ayahku membuka perusahaan dagang (PD) di mana kerap aku belajar mengelola usaha atau membantu ayahku memecahkan masalah buat karyawan-karyawan ayahku. Ayahku mengajariku bermental kuat dan berani terhadap tantangan hidup. Aku benar-benar belajar banyak dari ayahku.

Saat ayahku koma di rumah sakit, aku masih tak berfirasat buruk tentangnya. Aku malahan berpikir memindahkan kamar ayahku dari lantai atas ke lantai bawah dan menyediakan perawat untuknya. Meski aku tak tinggal di Indonesia bersamanya, komunikasiku dengan ayahku begitu intens setiap saat. 

Aku tak pernah lupa selalu mengakhiri percakapan telepon atau pesan WhatsApp dengan ucapan kalimat sayang padanya. Umurku sudah dewasa, tetapi aku masih terbiasa dipeluk dan mencium pipi ayahku. Ini sama seperti aku melakukannya pada ibuku.

Tiga hari sebelum ayahku wafat, dia datang dalam mimpiku yang akan aku simpan dan kenang sebagai saat terakhirku dengannya. Jalan hidup manusia memang terbatas, Tuhan telah memanggil ayahku. Namun kenanganku pada ayahku tak terbatas. Aku masih merindukannya.

Saat aku merindukannya, kuambil waktuku dengan berdoa. Kini jarak komunikasiku dengan ayahku bukan lagi sejauh Jerman – Indonesia, melainkan sejauh doa. 

Penulis: Anonim.