(CERITA SAHABAT) Perhatikan Kebiasaan Makan dan Terpenting Menikmati Makanannya

Hai, namaku Rita. Aku tinggal di Hamburg, Jerman saat ini. Kegiatanku sekarang sebagai Florist atau perangkai bunga dalam Bahasa Indonesia di salah satu toko bunga di Hamburg. Pekerjaan ini sangat menyenangkan dan kreatif. Sebelum aku masuk ke dunia Floristic, aku pernah kuliah di Universitas Hamburg. Tepatnya tahun 2014/2015, aku memulai kuliah. Awal tahun 2020 aku selesai dengan sarjanaku atau Bachelor.

Kembali ke masa itu. Sekitar tahun 2013/2014 dan aku mulai daftar untuk masuk Universitas, aku sempat mengalami stres berat karena aku mengurusi berbagai hal, seperti perpanjangan visa, dll. Selain itu, kehidupan di Jerman terkadang sangat berat dijalani sendirian.

Nah, pola makanku menjadi tidak teratur ketika aku terlalu stres. Lalu berat badanku turun drastis, sekitar 3 kg. Untukku kehilangan 3 kg itu sangat banyak karena buatku sendiri sangat susah sekali untuk menaikkannya kembali. Maklum saja dari kecil sampai dewasa memang aku tidak pernah punya berat badan melebihi 42 kg. 

Namun aku pernah loh mengalami satu kali, sekali-kalinya dalam hidup 42 kg. Berat badan normalku sebenarnya antara 37 sampai dengan 39 kg. Mungkin untuk orang seusiaku, awalnya banyak orang bertanya, apakah ini normal? Walaupun begitu, dokterku pun tidak mengkhawatirkan berat badanku ini. Menurutnya, memang ini sudah genetik. Selain itu, kesehatanku baik-baik saja. 

Saat menyadari di mana beratku turun menjadi 34 kg kala itu, aku langsung pergi ke dokter. Aku diperiksa, test darah, dll. Hasilnya memang aku baik-baik saja. Namun, aku masih belum puas dengan hasil pemeriksaannya. Kecemasanku belum juga berkurang.

Aku ikuti sesi psikologi khusus untuk gizi dan masalah berat badan. Ternyata ini lumayan memotivasiku. Aku juga banyak membaca artikel di internet tentang pola makan. 

Dulu aku sempat download aplikasi untuk menghitung kalori makanan, dan lainnya. Namun dengan berjalannya waktu, aku lebih mengerti dengan kebutuhanku sendiri.


Masa stres itu memang masa yang begitu sulit untuk mengontrol diri sendiri. Pola makanku dulu yang teratur, jadi terabaikan. 

Dokterku juga memberikan minuman ekstra berkalori untuk membantu menaikkan berat badan. Nama minumannya Fortimel. Aku disarankan untuk minum 2-3 botol/hari dan ditambah aku juga tetap makan seperti biasanya. 

Satu botol berisi 300 ml dan memiliki 300 kalori. Minuman ini juga memiliki berbagai rasa. Tanpa resep dokter orang tidak bisa mendapatkan minuman berkalori ini. Memang ada syaratnya dan asuransi yang menanggung biayanya. 

Aku biasanya hanya membayar 5% dari 100% harga minumannya, yaitu 10€ untuk 128 botol. Minuman ini dulu membantuku sekali. Namun lama-lama aku tidak bisa mengonsumsinya lagi karena kadang-kadang membuatku merasa mual. Akhirnya aku hanya minum satu kali sehari. Setelah berat badanku kembali ke 37 kg, aku berhenti minum Fortimel. Sebagai gantinya, aku mengusahakan membuat smoothie yang berkalori tinggi atau makanan lainnya. 

Aku juga berbagi cerita tentang masalah berat badan ke teman-temanku di sini. Saat itu, ada satu teman asal Jerman yang kebetulan juga mendapatkan resep minuman ini dari dokternya. Lalu kami saling bercerita. Ternyata temanku ini juga merasakan hal yang sama tentang minuman itu. 

Di Jerman, berbicara tentang berat badan adalah hal yang sensitif. Di sini orang hampir tidak pernah menyinggung berat badan seperti: Kenapa kurus?; Kok gendut?; Kamu makannya banyak kok tetep kurus?, dan lain-lain.

Orang-orang di sini sangat menghormati dan menjaga sesuatu yang dianggap pribadi. Hal ini juga membuat aku merasa lebih percaya diri. 

Saat aku masih di Indonesia, aku mengalami Bullying. Di Jerman, malah sebaliknya, mereka memuji. Terkadang, ketika di Indonesia, kita tidak  sadar, kalau lingkungan sekitar mem-bully.

Mungkin memang maksud mereka tidak serius seperti sekedar mendapat julukan “Olive” atau si kurus. Ternyata, hal itu berpengaruh terhadap kesehatan mental loh. Dulu aku tidak berani dan tidak percaya diri memakai baju lengan pendek. Hal ini karena aku mengingat kata-kata mereka yang berada di sekitarku itu.

Beruntungnya lagi aku tinggal di sini, aku punya akses kesehatan yang baik. Jadi segala sesuatu bisa aku konsultasikan dengan ahlinya. Dokter atau para ahli di sini, tidak me-judge kekurangan atau masalah kita. 

Untuk teman-teman yang punya masalah sama, tak usah sungkan untuk bertanya ke psikolog, dokter ataupun tenaga profesional. 

Pesanku ini teruntuk teman-teman yang lebih cepat turun berat badan daripada naik berat badan seperti aku ini. Coba kalian tambahkan ekstra porsi kalori setiap harinya seperti, Smoothie, buah-buahan, juga cemilan berprotein lainnya. Usahakan makanan tersebut tetap hadir di antara menu sehari-hari. 

Selain makanan utama, makanan kecil yang disebutkan tadi pun perlu diusahakan. Saranku lainnya adalah mengurangi makan Fast food atau cepat saji. 

Semua saranku ini sudah terbukti berdampak bagus terhadap mentalku selama ini. Yang mana aku mulai disiplin dan merasa nyaman dengan kebiasaan makanku. Aku merasakan dampak positifnya, bukan hanya secara fisik melainkan secara mental juga. Kesehatan mental ‘kan salah satu hal terpenting dalam hidup kita. 

 
Biarpun berat badan kembali normal, aku tetap memerhatikan kebiasaan makanku. Memang sih tidak semudah yang dibicarakan. Menurutku, stres juga bisa memengaruhi loh.

Untungnya aku sadar akan hal itu.  Aku ingin mengubahnya! Memang itu butuh proses dan perjalanan yang panjang.  Aku percaya, sesulit apapun itu kalau kita mau berusaha, suatu saat itu akan membuahkan hasil. 


Intinya dalam keadaan apa pun, kita harus tetap ingat makan. Biasanya, aku masak dengan porsi banyak agar bisa dimakan pada hari-hari berikutnya. Ini sangat membantu, apalagi kalau hari-hari yang membuatku bakalan sibuk sekali. 

Beban stres bisa berkurang. Pokoknya sesibuk apapun, sempatkan waktu untuk makan. Terakhir yang lebih penting lagi, menikmati juga makanannya.

Penulis: Rita, tinggal di Jerman dan dapat dikontak akun IG ritasjungle.

(SIARAN BERITA) Workshop Kewirausahaan Perempuan: Penyusunan Business Plan

JERMANBusiness plan atau rencana bisnis adalah hal mendasar untuk kesuksesan suatu bisnis. Sebagai inti dari sebuah bisnis, rencana bisnis harus bisa menyakinkan banyak pihak yang bisa membantu berkembangnya suatu bisnis, contohnya pemberi modal.

Rencana faktor keberhasilan model bisnis juga akan dijelaskan dalam rencana bisnis, seperti jasa atau produk, target konsumen, pemasukan dan pengeluaran. Karena alasan-alasan tersebut, rencana bisnis merupakan dokumen yang paling penting dalam pembuatan atau pengembangan suatu bisnis.

Menindaklanjuti seminar pada tahun 2022 dengan tema „Kewirausahaan Perempuan di Indonesia“, tahun ini Ruanita menyelenggarakan workshop penyusunan business plan.

Dalam workshop ini akan dibahas tiga tema penting, yaitu cara menjadi wirausaha perempuan, bagaimana menulis business plan, dan cara mengembangkan model keuangan. Diharapkan dengan workshop ini akan muncul lebih banyak lagi wirausaha perempuan Indonesia di mancanegara, terutama di Eropa.

Follow us: ruanita.indonesia

Workshop akan dibagi ke dalam dua pertemuan, yaitu pada hari sabtu, tanggal 13 dan 20 Mai 2023, pada pukul 10.00-12.00 CEST atau 15.00-17.00 WIB. Acara workshop akan dipandu oleh moderator Sartika Kurniawan, yang juga merupakan pengusaha perempuan di Spanyol dan dibuka dengan sambutan dari Syafiih Kamil selaku CEO dari Java Foundation Amsterdam.

Narasumber Dessy Rutten yang merupakan ekonom senior, wirausaha perempuan, dan dosen tidak hanya akan berbicara tentang tiga tema yang telah disebutkan di atas, namun pada sesi terakhir di pertemuan kedua juga akan memberi masukan pada business plan yang akan disusun peserta setelah workshop hari pertama dan dikirimkan kepada panitia penyelenggara. 

Workshop ini akan berlangsung secara virtual dan bisa diikuti dengan mendaftarkan diri sebelumnya melalui bit.ly/workshop-ruanita dengan biaya sebesar lima (5) Euro.

Peserta diharapkan sudah atau berencana memiliki usaha dan bersedia mempraktikan pembuatan proposal bisnis. Panitia juga akan memberikan sertifikat elektronik kepada peserta yang hadir penuh selama dua hari dan mengirimkan proposal bisnis yang mereka susun.

Tujuan diselenggarakannya acara pelatihan penulisan proposal bisnis ini, selain bentuk dari tindak lanjut dari seminar bertemakan kewirausahaan perempuan di Eropa pada Februari 2022 lalu adalah peserta memiliki kapasitas rencana bisnis dan mempraktikan ilmu yang sudah didapatkan dengan menyusun rencana bisnis.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, kesetaraan gender, serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia. 

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Maju Terus Perawat di Indonesia

Dalam rangka Hari Perawat Internasional 12 Mei 2023, RUANITA – Rumah Aman Kita mengundang Dewi Nielsen yang tinggal dan bekerja sebagai perawat di Denmark. Tentunya bidang pekerjaan mengurus dan merawat orang sakit bukan pekerjaan asing untuk Dewi yang telah menetap di Denmark sejak lebih dari 10 tahun lalu. Dewi sendiri pernah bekerja sebagai perawat di salah satu puskesmas di Indonesia sebelum akhirnya dia menikah dan menetap di Denmark.

Setelah lulus dari Sekolah Keperawatan di Indonesia, Dewi pun melanjutkan studi di Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta. Dia juga pernah mendapatkan praktik magang di Swedia saat masih menjadi mahasiswi di UGM.

Berbekal pengalamannya di negeri Skandinavia tersebut dan keterampilannya berbahasa Inggris, Dewi pun memberanikan diri untuk melamar menjadi tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit di Denmark.

Tak mudah memang memenuhi persyaratan menjadi perawat di Denmark mengingat tes yang harus ditempuhnya berkali-kali yang disesuaikan dengan kemampuan berbahasa asing, yakni Danish yang memang tidak mudah dipelajari untuk orang awam sekali pun. Kegigihan Dewi untuk menembus dunia keperawatan di Denmark berbuah manis, dia pun berhasil lolos dan kini menjadi perawat di Aalborg, Denmark.

Menjadi perawat bukan cita-cita Dewi di masa kecil, tetapi karakter melayani sesama membuatnya terdorong untuk memenuhi permintaan orang tuanya menjadi bidan pada waktu dia masih memikirkan profesi impiannya.

Pengalamannya bergelut melayani orang-orang sakit telah membawa impian Dewi untuk menekuninya di Denmark, negeri asing yang memberinya pengalaman baru yang menantang.

Follow us: @ruanita.indonesia

Ada banyak pengalaman berharga yang Dewi dapatkan. Bagaimana perawat-perawat senior yang lebih lama bekerja dan para dokter spesialis sekali pun begitu mengharga keberanian dan kegigihan Dewi untuk mau belajar.

Mereka menghargai bagaimana Dewi belajar kosakata Bahasa Danish yang tak mudah. Dewi salut terhadap mereka yang bekerja di dunia keperawatan dan kesehatan di Denmark, seperti tidak ada kasta di antara mereka. Semua orang mau belajar dan menerima kekurangan masing-masing tenaga kesehatan.

Di Hari Internasional Perawat yang dirayakan 12 Mei, Dewi berharap bahwa para perawat Indonesia yang punya mimpi untuk melanjutkan jenjang karir lebih tinggi atau ingin bekerja di luar negeri agar tidak takut bermimpi. Perkuat skill komunikasi dalam Bahasa Inggris agar bisa mendapatkan kesempatan seperti dirinya untuk bekerja di luar negeri.

Peluang untuk menjadi perawat di mancanegara selalu terbuka lebar dan tingkatkan kompetensi perawat sesuai bakat yang dimiliki. Begitu pesan Dewi di Hari Perawat Sedunia, 12 Mei.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak penjelasan Dewi berikut ini di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Silakan subscribe kanal YouTube kami.

(CERITA SAHABAT) Menurut Saya, Career Gap itu Self Acceptance dan Berani Keluar dari Comfort Zone

Menikah adalah salah satu fase dalam kehidupan yang momennya banyak melibatkan emosi baik keluarga, pasangan bahkan diri sendiri. Perkenalkan saya adalah Inur, berasal dari keluarga pendidik atau pengajar. Ayah, ibu dan kedua kakak saya adalah seorang pengajar, baik di instansi, sekolah dasar dan universitas. Begitu pun saya, enam tahun mengajar di universitas swasta di daerah Depok – Jawa Barat. Sampai pada akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja di perusahaan. 

Sebagai satu-satunya orang yang mengatur personalia, rasanya senang sekali pada saat itu walaupun saya merasa ada gap antara yang saya pelajari (Psikologi Klinis) dengan aplikasi pada pekerjaan (Psikologi Industri dan Organisasi). Namun saya berusaha untuk bisa menjadikan diri saya bukan sekedar melihat sisi Industri dan Organisasi tetapi bisa sekaligus melakukan konseling ketika karyawan mengalami masalah. Observasi ketika rekrutmen tidak selalu berdasarkan yang tampak, tetapi saya pun mencoba menganalisa dari hal-hal yang biasanya luput dari penilaian User

Selama tujuh tahun bekerja di perusahaan terakhir, saya merasa memiliki keluarga yang sangat dekat. Prinsip saya, ketika bekerja kami adalah rekan kerja, tetapi ketika selesai bekerja mereka adalah adik, sahabat, kakak, bahkan orang tua yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Kondisi comfort zone tersebut terpaksa harus saya akhiri karena saya menikah dengan pria warga negara Switzerland. Tepatnya 30 November 2021 saya resmi mengundurkan diri dan siap untuk pindah ke negara bersalju. 

‘’Sedih yang tidak berujung’’ benar-benar menjadi kalimat yang saya rasakan. Dimulai dengan surprise farewell dari Departemen Operasional & HRGA. Makan-makan yang awalnya menjadi Birthday Lunch seorang teman (karena saya bertugas membeli kue ulang tahun) ternyata itu adalah surprise Farewell Lunch saya. 

Rasa haru melebihi surprise ulang tahun, betapa tidak,  pelukan dari atasan dan sahabat diiringi lagu “Mungkinkah” dari Stinky. Sama sekali tidak ada kecurigaan, momen ulang tahun yang seharusnya hanya berlima menjadi 2 meja panjang dari 2 departemen. 

Lagu selamat ulang tahun yang biasa dinyanyikan semua pramusaji  berganti jadi lagu sedih, polosnya di awal saya tetap membuat video dan happy, sampai seorang teman memeluk saya dari belakang kemudian atasan juga ikut memeluk. Baru saya sadar, momen, hadiah bahkan kue ulang tahun yang bertuliskan nama teman semuanya di hari itu adalah untuk saya. Terima kasih ibu dan bapak, teman-teman semuanya, masih suka sedih kalau melihat video tersebut.

Begitu juga di hari terakhir saya bekerja, sengaja saya memesan makanan untuk semua karyawan agar kami bisa makan bersama-sama. Sepatah dua patah salam perpisahan dari saya sebelum kami semua mulai mengambil makanan. Walaupun saat itu masih berjalan sistem pembagian Work from Home dan Work from Office, tetapi bersyukur banyak karyawan yang tetap datang ke kantor sehingga momen dan foto perpisahan terasa sangat hangat. 

Kemudian kurang lebih seminggu setelah hari terakhir saya bekerja, salah satu teman kantor berkunjung ke rumah untuk memberikan hadiah perpisahan dan foto bersama yang dibingkai dengan ukuran yang sangat besar. Infonya, ada teman yang inisiatif untuk mengumpulkan dana untuk kemudian dibelikan beberapa barang yang sangat berguna saat musim Winter. Masha Allah, saya bersyukur diberikan rekan kerja seperti saudara. Sampai dengan tulisan ini saya buat, Alhamdulillah saya masih menjalin komunikasi dengan hampir semua teman kerja.

Perasaan senang akhirnya bisa bersama dengan suami, tetapi  juga sedih harus meninggalkan keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Namun hidup harus berjalan, kita tidak pernah mengetahui rencana Sang Pencipta. Tanggal 8 Desember 2021  saya tiba di Switzerland, pengurusan semua dokumen pun selesai. Mulailah saya berpikir: “Terus saya ngapain disini? Apa yang bisa saya kerjakan dan juga menghasilkan ?”

Follow us: @ruanita.indonesia

Saya sempat merasa up and down, stres karena tuntutan merasa harus segera mengikuti les bahasa. Sampai pernah ada momen saya takut ketemu kakak ipar karena selalu ditanya update les bahasa. Pengeluaran rutin tetap berjalan sementara pemasukan rutin belum ada. Merasa inferior, tidak berdaya, bergantung parah sampai akhirnya menangis sejadi-jadinya ke suami. 

Alhamdulillah suami sangat mengerti, dia tidak pernah memaksa saya untuk bekerja, bahkan untuk les bahasa. Dia sangat senang ketika saya izin main bertemu teman WNI yang juga tinggal di Zürich. Senyumnya sumringah ketika saya pulang dari Asia Store membawa belanjaan. Hampir setiap minggu saya main bertemu dengan teman-teman, makin banyak kenalan makin banyak pelajaran, ilmu, motivasi bahkan nasehat yang saya dapat. 

Pemahaman saya pada saat itu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Swiss, mostly must be certified dari lembaga atau sekolah di Swiss juga. Pusing lagi kan jadi nya, 😀

Searching di social media, tawaran dari teman yang kerja di restoran, bikin saya tambah bingung. Saya sempat merasa takut antara mau kerja tapi jadi harus bicara sama orang, nah bahasanya saja belum lancar.

Awalnya saya belum pernah mendengar yang namanya Career Gap, tapi mungkin yang saya lalui selama 6 bulan pertama di Switzerland adalah fenomena Career Gap, di mana saya tidak sedang bekerja karena menikah dan harus pindah negara. Menurut saya sebenarnya Career Gap ini sering sekali terjadi. Tidak hanya kaum perempuan, para pria juga mengalami. Hanya saja dilihat dari alasannya, mungkin kaum perempuanlah yang lebih sering mengalami. Beberapa alasan terjadinya Career Gap adalah menikah, memiliki anak, pindah tempat tinggal, pemutusan hubungan kerja, dll.

Pada kasus saya, setelah mencoba aktif di media social dengan belajar buat video dan foto yang aesthetic, soal masakan atau sekedar memperlihatkan keindahan kota tempat saya tinggal, saya merasa jenuh karena menuntut saya harus terus aktif setiap hari untuk benar-benar menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati teman di media social

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah platform Babysitting di Switzerland. Bermodal senang dengan anak kecil, dekat dengan semua keponakan dan Bahasa Inggris, saya coba membuat account. Tiga bulan setelahnya tawaran pekerjaan masuk melalui message, mereka berkewarganegaraan USA yang juga tinggal di Switzerland dan berjarak hanya 500m dari rumah. Berkunjung ke kediamannya, bertemu dengan anak dan mendiskusikan banyak hal mengenai pekerjaan. Setelah itu saya diskusikan kembali dengan suami, apakah baik untuk saya lanjutkan atau tidak. 

Memiliki pekerjaan membuat saya lebih mandiri dan percaya diri. Banyak hikmah yang saya pelajari. Perbedaan negara yang signifikan membuat saya harus menyadari saya bukan siapa-siapa di sini. Selalu berdiskusi dengan suami adalah hal penting bagi saya. Apakah pekerjaan saya akan membuatnya malu atau tidak, bagaimana kira-kira pendapat keluarga suami apakah akan memalukan bagi mereka atau tidak. 

Hal itu yang saya ke depankan sebelumnya. Setelah mendapat pekerjaan, kepercayaan dan menyayangi anak kecil seperti keponakan atau anak sendiri adalah cara saya memperlakukan mereka. Saat menemani anak bermain, seringkali kami mengunjungi teman-teman sekolahnya, sehingga para orang tua mengenal saya dengan baik. 

Ini saya dengar karena mereka menceritakannya ke saya 😊. Sampai akhirnya beberapa di antara mereka meminta untuk Occasional Babysitter. Tepat 1,5 bulan pekerjaan tersebut selesai dan lanjut pekerjaan berikutnya tanpa gap, kontrak kerja yang awalnya hanya dua bulan dan sekarang sampai waktu yang tidak ditentukan 😊

Memiliki beberapa kenalan (orang tua anak sekolah) di kota yang sama membuat saya merasa punya teman dan tidak sendiri lagi. Kondisi ini membuat saya semakin berani dan pada akhirnya mendaftar Kursus Bahasa Jerman yang diadakan oleh Gemeinde kota tempat saya tinggal. 

Yap, makin banyak kenalan, makin sering tegur sapa karena bertemu di supermarket, taman bermain, dan public transport. Tidak hanya para orang tua, tetapi kasir supermarket, pegawai restoran dan gerai toko di supermarket, sampai beberapa bus driver dan taxi driver. Masha Allah, senang sekali rasanya saat ini, saya merasa aman karena sudah punya banyak kenalan dan tidak khawatir lagi walaupun pulang malam.

Kembali perihal Career Gap, menurut saya intinya ada self-acceptance. Ketika kita menerima dengan baik kondisi tersebut, maka secara tidak sadar tubuh pun akan merasa rileks. Saat merasa santai, cara pandang dan cara berpikir akan lebih baik. Begitupun dengan pemilihan aktivitas yang ingin dikerjakan, apakah tetap mencari pekerjaan baru atau sekedar menyalurkan hobi. 

Namun peran pasangan, keluarga atau teman dekat juga sangat mempengaruhi. Bagaimana mereka ikut menerima, memotivasi, memberi nasehat, dan atau memberi solusi. Saya bersyukur atas segalanya, tetapi tetap bermimpi suatu saat bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa Jerman dan atau Swiss German. Saya juga ingin mendapat pekerjaan sesuai dengan mimpi saya. 

Penulis: Inur Darham, seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Inur memelajari Psikologi Klinis pada jenjang Universitas, mengajar di Fakultas Psikologi, menjadi pembicara pada beberapa Dialogue Interactive, menggeluti bidang Human Resource pada Pest Control dan Oil and Gas Company, menikah lalu mengundurkan diri dan kini tinggal di Switzerland.

(CERITA SAHABAT) Hentikan Stigma Negatif pada Patchwork Family

Namaku Fadni, aku berasal dari Jakarta dan sekarang bermukim di Jerman. Pada tahun 2014, aku lulus SMA berpindah dan memberanikan diri melanjutkan pendidikan di Jerman hingga sekarang. Kini aku berdomisili  di ibukota Jerman yaitu kota Berlin. Terhitung aku sudah 9 tahun tinggal di Jerman, tepat pada tanggal 7 Februari  2023 lalu. 

Kegiatanku sehari-hari tentu saja tidak jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa  pada umumnya, seperti: menghadiri seminar-seminar, presentasi, dan mengerjakan tugas perkuliahan lainnya. Selain itu aku juga menyempatkan bekerja paruh waktu untuk menambahkan uang  saku dan membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Namun pekerjaanku masih serabutan, terkadang aku  menjadi kasir di sebuah toko kelontongan. Sekali-kali aku juga bekerja di pabrik obat-obatan. 

Aku lahir di sebuah keluarga yang standar, boleh dibilang umum. Aku memiliki satu ayah, satu ibu, dua saudara kandung, dua nenek, dan dua kakek. Situasi keluarga besarku lainnya pun seragam.  Aku berpendapat tentang hal ini di luar ajaran agama yang kami percayai. Poligami, Poliandri  bahkan perceraian pun bukan menjadi pilihan di dalam keluargaku. Di dalam keluargaku keutuhan adalah segalanya. Itu merupakan barometer keluarga atau pernikahan yang tertanam di diriku  sejak kecil. Lambat laun lingkunganku pun berganti menjadi lebih luas dan terbuka. Aku pun  mulai mengenal struktur kehidupan keluarga dari teman-teman di sekitarku. 

Ternyata, ada  beberapa temanku memiliki struktur keluarga yang lebih komplit. Ada sosok lain sebagai ayah, ada sosok ibu tambahan, dan tahu-tahu ada kakak dan adik sambung yang belum pernah sebelumnya bertemu atau dikenal. Mereka sudah tumbuh besar dan tinggal bersama dalam satu atap. Belum lagi, kakek dan nenek mereka yang juga terkejut mendapat „cucu“ baru yang tidak mengenal masa kecilnya.

Follow us ruanita.indonesia

Aku menceritakan hal ini sesuai pengalaman yang aku jalin dengan teman-temanku yang memiliki keluarga sambung atau istilah lainnya Patchwork Family. Jelas kondisi dan keadaan mereka semua tidak sama. Begitu juga mungkin Sahabat Ruanita yang membaca ini, memiliki pandangan yang berbeda. Aku coba mendeskripsikan apa yang aku rasa ketika mengetahui temanku memiliki Patchwork Family.  Mendengar pernyataan salah satu temanku tersebut tentang silsilah keluarganya, perasaanku awalnya bingung. Aku merasakan empati yang meninggi dan condong ke arah sedih. 

Awalnya aku tidak tahu, apakah dia sudah dapat menerima kondisi keluarganya atau keputusan kedua  orang tuanya bersama pasangan baru mereka masing-masing. Setelah itu, muncul rasa simpati yang lebih terhadap temanku tersebut. Aku melihat seberapa dewasanya dia, bagaimana dia berbesar hati untuk  dapat menerima jalan kehidupannya. Aku berusaha juga lebih banyak menyempatkan waktu untuk menanyakan kabarnya sesekali. Aku pun berusaha tidak bertanya lebih dalam tentang keluarganya tersebut, kecuali temanku yang ingin bercerita sendiri, tanpa adanya paksaan atau pertanyaan pancingan. 

Cara aku menjelaskan kepada keluarga atau teman-teman tentang keluarga sambung yang dimiliki teman-temanku yaitu dengan diawali menceritakan prestasi yang ia dapat, bagaimana kemampuan yang mereka miliki serta tekadnya. Lalu, aku bercerita tentang struktur keluarga sambung, bahwa temanku tersebut memiliki banyak saudara dan lingkungan sosial yang lebih luas. Dia bisa saja bertemu keluarganya di jalan tanpa dia sadari baik itu keluarga kandung, keluarga tiri maupun keluarga sambung. 

Karena adanya ikatan baru dari kedua orang tua yang ia sayangi, ia pun harus bersedia untuk mengenal dan memelajarinya satu persatu. Di satu sisi, ia pun enggan untuk  memosisikan dirinya sebagai anggota keluarga baru. Dia butuh waktu dan usaha yang tiada henti.  Akupun sedikit khawatir bahwa keluarga atau teman-temanku lainnya akan berpikiran buruk  terhadap teman-temanku yang memiliki Patchwork Family. Atau pahitnya aku dilarang untuk  berkontak dengan mereka kembali karena penilaian yang ada di masyarakat luas pada umumnya. Di lingkungan keluarga dan pertemananku, hal ini masih sangat jarang dilalui. 

Pada awalnya, reaksi orang terdekat seperti keluarga d Indonesia tentang struktur keluarga yang demikian adalah menggeneralisasikannya. Padahal, kebanyakan dari keluarga yang menjalaninya memiliki pemahaman kehidupan yang berbeda-beda.  Mulai dari asal-usul, daerah tempat tinggal, adat istiadat hingga norma serta kebiasaan setempat disebutkan menjadi penyebab terbesar Patchwork Family terbentuk. Lalu tingkat pendidikan juga dipertanyakan oleh keluarga dan teman-temanku. 

Ketika aku menceritakan tentang teman-teman dari Patchwork Family, keluarga dan teman-temanku yang tidak mengalami Patchwork Family  tampak cemas dan berempati.  Mereka pun berasumsi bahwa anak-anak yang mengalami keluarga sambung atau Patchwork Family merupakan anak yang tak terurus, seperti Troublemakers (=mencari masalah), memiliki banyak masalah dalam keluarganya, hingga memiliki Childhood Trauma yang mendalam. Oleh karena itu, keluarga dan teman-temanku yang tidak mengalami keluarga sambung pun dapat bercermin dan merasa harus lebih memerhatikan satu sama lain dalam hal berkeluarga. Mereka harus menghormati masing-masing individu dalam keluarga serta peranannya. 

Salah satu contoh bentuk social support  yang diberikan kepada teman-teman dengan keluarga sambung adalah perhatian dari ibuku. Ibuku berpesan padaku untuk tetap menjalin pertemanan dengan mereka, mencoba selalu ada, dan mengulurkan tangan ketika mereka memerlukan pertolongan. Menurut ibuku, kita perlu peka yang lebih tinggi pada mereka. 

Bahwasanya kehidupan berjalan tidak selalu seperti apa yang kita inginkan atau impikan. Kita pun tidak bisa membuat standar mana keluarga terbaik ataupun keluarga ideal. Kita perlu belajar  menerima takdir atau keadaan yang tidak menetap dengan lapang dada. Kita sebaiknya menjalin kontak yang hangat sehingga hidup pun akan menyenangkan kembali. Aku yakin, bahwa setiap fase dalam  kehidupan kita akan mengantarkan diri kita sendiri ke posisi yang lebih baik.  

Untuk menemukan kecocokan dan penerimaan satu sama lain, aku tentu saja pernah mengalami fase berselisih dengan teman-temanku, terlepas dari apapun struktur keluarga mereka. Ketika aku menjalin komunikasi dengan orang lain, ada kalanya muncul selisih paham atau perbedaan, terlepas dari apapun latar belakang struktur keluarganya tersebut. Menurutku, itu adalah hal yang lumrah. 

Aku hanya perlu tahu bagaimana aku harus menempatkan diri, tidak  terbawa emosi, memahami maksud pendapat yang dilontarkan teman lain, dan menghargai apapun keputusan akhirnya. Setiap aku berkenalan dengan teman baru, aku tidak pernah membanding-bandingkan. Aku tidak memiliki ekspektasi bahwa dia harus  cocok dan satu frekuensi dalam berpikir, berpendapat ataupun memberikan saran bila kita berdiskusi bersama. 

Menurutku, setiap individu bisa menjadi guru untuk kita. Setiap individu yang kita kenal dapat memberikan kita sebuah pelajaran yang baru. Setiap makhluk di dunia ini unik terlepas dari cara bicaranya, cara menyampaikan pendapat, atau cara mereka menghadapi masalah pada fase-fase kehidupan tertentu pun berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh pengalaman, alur kehidupan, dan wawasan yang juga bervariasi 

Pengalaman berharga yang bisa aku bagikan setelah mengenal beberapa temanku yang memiliki Patchwork Family atau keluarga sambung adalah cara pandangku tentang keluarga ideal pun berubah. Di dalam Patchwork Family yang sering dinilai sebagai keluarga-keluarga gagal dalam masyarakat ternyata tumbuh juga anak-anak ceria yang berprestasi. Mereka juga tumbuh dengan toleransi yang lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, dan cepat menyesuaikan diri pada lingkungan. 

Walaupun sebagai seorang anak dalam Patchwork Family, teman-temanku memiliki peran yang mendalam sebagai orang kakak dan adik sekaligus. Saya pikir ini memerlukan usaha penerimaan diri yang lebih besar hingga pada akhirnya mereka dapat membuka diri kepada keluarga-keluarga barunya dan menerima situasi baru. Meskipun di sisi lain, ada juga seorang  temanku yang masih belum bisa bangkit dari trauma dan depresi yang dialaminya, sejak orang tuanya bercerai. Kini orang tuanya masing-masing telah memiliki pasangan baru. Temanku ini masih memilih untuk tetap menutup diri. Dia pun sempat mengaku kalau dia tidak memiliki mimpi hingga tujuan hidup. Temanku ini menjadi sulit untuk merasakan kebahagiaan atau kesedihan.  

Sekali lagi, aku menekankan bahwa aku bukan seorang ahli yang memiliki ilmu dan pengalaman langsung dalam hal ini. Aku hanya ingin berpendapat di sini, karena orang terdekatku dan beberapa teman di lingkunganku hidup dalam keluarga sambung atau Patchwork Family. Menurutku, faktor-faktor yang mendukung keberhasilan Patchwork Family antara lain:

  1. Kita tidak memaksa tetapi memberikan cukup waktu dan tempat agar setiap individu di dalamnya  merealisasikan keadaan yang baru dan mengolah emosi serta ego masing-masing. Kita harus tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Penting diingat kalau kita tidak perlu memutus tali silaturahmi dengan keluarga sebelumnya karena ada tanggung jawab bersama yang tidak akan pernah putus.  
  2. Kita harus tetap berkomunikasi, yakni menceritakan kepada anak atau pasangan lama dan keluarga baru tentang masa lalunya. Bahwa semuanya telah selesai secara baik-baik. Kita berharap setiap individu di dalam keluarga ini telah menerima, memaafkan, dan menjalani kehidupan baru yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan masa lalu. Komunikasi ini pun harus dijalankan secara rutin, agar kedekatan tetap terjaga, terutama anak-anak, supaya mereka tidak menjauh dan merasa asing pada orang tua dan keluarga.  
  3. Kita harus memberikan perhatian dengan cara memberikan waktu dan prioritas terhadap anggota keluarga satu sama lain. Ini semua membutuhkan proses terbentuknya Patchwork Family melalui pendampingan oleh orang tua, psikolog, hingga anggota keluarga yang dituakan. Ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak di dalam Patchwork Family. Penting juga role model dari orang tua atau saudara kandung agar setiap individu di dalamnya tidak merasakan kesepian atau meyakini  perbedaan yang kontras. Hati-hati juga agar jangan sampai orang tua sibuk dengan pasangan baru atau anak-anak  sambungnya. Sebagai orang tua, kita bisa memberikan penjelasan yang jujur apa yang dirasakan dan dikehendaki di masa depan dengan kondisi baru. Orang tua perlu meyakinkan kalau mereka selalu ada, satu sama lain. Tidak  ada perubahan terhadap cinta dan kasih sayang yang akan diberikan nantinya. 
  4. Kita perlu juga menanamkan keadilan, di mana semua individu di dalam keluarga mendapatkan hak dan kewajiban yang sama sesuai perannya masing-masing. Segala bentuk pemberian disalurkan sama ke seluruh anggota keluarga sesuai posisinya, dalam semua aspek kehidupan seadil-adilnya. Jangan biarkan terjadi perbedaan baik kepada anak kandung, anak tiri maupun anak sambung! Bagaimanapun hal ini akan menimbulkan kecemburuan  ke depannya dan berakibat timbul rasa kurang percaya diri, terutama pada anak.
  5. Kita perlu menghargai privasi setiap anggota keluarga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, dengan cara tetap  memberikan ruang untuk sendiri atau Me time. Kita tidak perlu memaksa salah satu pihak untuk terus menerus bersama-sama dengan anggota keluarga lain. Kita tidak memaksa untuk menceritakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya agar tidak adanya rahasia atau hal-hal yang ditutupi.  
  6. Kita perlu terbuka dengan cara tidak menyembunyikan perasaan atau pikiran yang dimiliki. Kita menyadari bahwa tidak ada orang yang  ingin disakiti dan menyakiti. Semua orang berhak menjalankan keputusannya masing-masing.  Semua orang berhak untuk bangkit lagi dan menemukan cintanya. Semua orang juga berhak memberikan kesempatan untuk tetap mendukung setelah adanya kegagalan dalam keluarga. Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini dan kita pasti pernah berbuat kesalahan. 

Pesanku untuk sahabat Ruanita yang mengalami situasi Patchwork Family, aku berada dalam sepatu kalian. Aku bisa memahami sudah berapa banyak kerikil di dalam sepatu kalian yang ingin disingkirkan, dikeluarkan atau dibersihkan agar kalian bisa tersenyum kembali. Kita harus merelakan, berbesar hati, dan perlahan membuka diri. Jangan sungkan, jika kalian butuh teman atau keluarga untuk berbagi apa yang ada di dalam pikiran dan hati kalian!

Terakhir, kita percaya bahwa menjalani adalah hal yang paling baik untuk semua pihak agar mendapatkan kedamaian dan kebahagian yang abadi. Kalian tidak sendirian. Kalian harus percaya bahwa tidak akan ada yang meninggalkan apalagi melupakan kalian. Semua orang ada untuk menyayangi kalian setulus hati. 

Aku berharap pada masyarakat untuk menghentikan stigma negatif. Ada banyak stigma negatif yang terus menerus tertanam luas tentang Patchwork Family,  ibu tiri atau ibu sambung yang kejam, bapak sambung atau bapak tiri yang sering diberitakan telah melakukan  pelecehan seksual terhadap anak tiri atau anak sambungnya. Stigma negatif lainnya pada anak-anak dengan Patchwork Family  seperti dianggap anak nakal, anak-anak yang memiliki pergaulan bebas, anak-anak yang menggunakan obat-obatan terlarang atau anak-anak berkonflik dengan hukum. Kita tidak menjauhi mereka atau melakukan Bullying  karena perbedaan yang dimiliki. 

Sebagai teman, tetangga atau keluarga, kita perlu memberikan ruang yang aman dan nyaman untuk mereka. Kita perlu mendampingi, mengulurkan tangan, dan mendukung mereka. Sudah sepatutnya, kita menghargai privasi mereka dengan tidak bertanya terlalu dalam, seperti: apa penyebab perceraian orang tua mereka?  apakah ibu/bapak baru mereka bersikap baik? atau pertanyaan lainnya yang dapat melukai perasaan mereka. 

Kita tidak tahu bagaimana kondisi dan situasi mereka, apakah cukup stabil atau baik-baik saja untuk menjawab keingintahuan kita, meskipun kita memiliki kedekatan dengan mereka. Jangan pula menceritakan hal-hal buruk mengenai pengalaman keluarga sambung atau Patchwork Family yang lain. Bagaimana pun, tidak semua hal tentang  perpisahan membawa keterpurukan atau kehancuran. Justru kita perlu mengambil banyak pelajaran dari apa yang mereka alami. 

Tidak ada orang di dunia ini yang menginginkan perpisahan apalagi dengan keluarga yang dicintai yang telah melahirkan dan membesarkan kita ke dunia ini. Sudah sepatutnya kita menghargai kondisi kehidupan keluarga, terlepas dari apapun struktur keluarga tersebut. Semua orang itu berbeda dan tidak ada yang sama. Masalah yang  dihadapinya pun bervariasi dan tidak ada yang mirip. Kita tidak tahu, betapa sulitnya tumbuh di dalam keluarga baru. Kita tidak pernah tahu sudah berapa banyak usaha yang telah mereka lakukan. Saranku, kita mendoakan yang terbaik dan memberikan dukungan agar mereka dapat mencintai dirinya sendiri terlebih dulu baru kemudian orang lain di sekitarnya. 

Penulis: Fadni, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun IG: @fadniiii.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Treatment PMDD di Amerika Serikat dan Finlandia yang Saya Alami

Nama saya Rika, tinggal di Helsinki bersama suami yang warga Finlandia dan dua anak laki-laki. Setahun belakangan ini hidup saya rasanya sibuk sekali karena sekarang saya kembali bekerja full time setelah dua tahun sempat vakum dari dunia tenaga kerja. Selain itu saya juga ikut kelas menari India di Helsinki dan seminggu sekali mengajar tari Indonesia di KBRI. Hampir setiap hari saya juga harus wara-wiri mengantar anak pergi dan pulang ekskul. Tiap-tiap anak jadwal latihannya empat kali dalam seminggu, belum termasuk turnamen yang sering diadakan di akhir pekan. 

Setelah melahirkan anak pertama saya mengalami postpartum depression. Si anak pertama memang termasuk “high need baby” yang tidurnya sedikit, nangisnya banyak, dan cuma bisa tenang jika disusui. Capek sekali rasanya jadi ibu baru. Setelah kejadian tersebut, memang rasanya saya jadi lebih mudah mengalami stres dan depresi.  Pada akhirnya di tahun 2018 saya mengalami depresi berkepanjangan dan memutuskan untuk mulai mengonsumsi obat antidepresi. Keadaan saya jadi lebih baik berkat obat antidepresi. Namun menjelang menstruasi tetap saja depresi saya kembali lagi walaupun kadarnya sedikit saja. 

Tahun 2019, suami saya ditugaskan ke Amerika Serikat selama dua tahun. Wuaaaa, rasanya bahagia sekali. Amerika ‘kan negara impian saya. Karena merasa terlalu bahagia, saya memutuskan untuk berhenti minum obat antidepresi. Optimis sekali hidup saya akan bahagia pol di Amerika. Lagipula, obat antidepresinya bikin saya jerawatan dan naik berat badan. ‘Kan sebel. 

6-8 bulan lepas dari antidepresi saya mulai menyadari bahwa setiap habis masa ovulasi, pasti saja mood saya memburuk. Bukan sekadar mood swings seperti PMS (premenstrual syndrome) biasa, tetapi benar-benar masuk ke keadaan depresi lagi. Kebetulan saya juga menderita mittelschmerz alias sakit nyeri ovulasi, jadi saya tahu persis kapan saya ovulasi. Seperti magic saja, mood saya berubah total sehari setelah ovulasi. Bagaimana merasakannya? Ketika bangun tidur ada perasaan berat di dada. Otak pun cuma bisa dipakai untuk memikirkan hal-hal negatif. Susah sekali buat merasa senang. 

Pandemi membuat keadaan saya jadi lebih parah. Keadaan terisolasi bikin depresi menjadi-jadi. Semakin lama, kondisi depresi saya semakin parah sampai kadang tidak sanggup untuk bangun dari tempat tidur. Semua terasa berat, melelahkan, menakutkan, bikin sedih, bikin marah, dan bikin putus asa. Jadi saya cuma bisa mengurung diri saja di kamar. Namun tiga hari setelah menstruasi, keadaan berubah total lagi. Saya bangun tidur dan hati rasanya ringan. Rasanya ingin ke dapur, bikin makanan enak-enak untuk keluarga. Ingin menghirup udara segar, ingin jalan-jalan, ingin ngobrol panjang lebar. Semua perasaan depresi tiba-tiba hilang. Sampai nanti setelah ovulasi, depresinya akan datang kembali.

Follow us: @ruanita.indonesia

Hidup saya pun jadi terbagi menjadi dua shift, masing-masing per dua minggu. Ketika lagi “normal”, saya banyak bikin rencana ini-itu. Namun begitu depresinya datang, langsung semuanya buyar. Sampai akhirnya saya nggak pernah lagi mau bikin rencana apa-apa. Mau baca buku saja jadi malas karena bacaannya jadi terbengkalai ketika depresi kumat dan akhirnya malah kena denda telat mengembalikan buku ke perpustakaan. 

Pertama kali ketemu dokter itu gara-gara depresi di akhir tahun 2018. Sebenarnya ini atas inisiatif suami: dia yang membawa saya ke puskesmas karena saya jadi gampang histeris kalau ada masalah. Di tahun 2021, saya kembali menemui dokter. Saat itu saya sedang tinggal di Amerika Serikat, dan PMDD (termasuk depresinya) kumat akibat pandemi. Kondisi ini yang mendorong saya kembali mencari bantuan profesional. 

Singkatnya sih, PMDD (premenstrual dysphoric disorder) itu adalah versi parahnya PMS. Kalau PMS umumnya perempuan mengalami mood swings, penderita PMDD malah mengalami depresi. Gejala PMDD nggak sekadar masalah mental. Umumnya juga merambah ke fisik seperti saya yang mengalami kram perut selama dua mingguan sejak ovulasi hingga hari kedua menstruasi. Jerawat juga wadaaaw… jangan ditanya. Mati satu tumbuh seribu.

Di Amerika urusan ketemu dokter jadi gampang berkat asuransi, termasuk dokter spesialis. Tidak tanggung-tanggung, saya ketemu dua dokter sekaligus: dokter umum dan spesialis ObGyn karena saat itu saya sudah curiga sepertinya yang saya alami adalah gejala PMDD. 

Mau cerita sedikit tentang kunjungan saya ke dua dokter tersebut. Dokter umum saya berteori kalau PMDD disebabkan karena underlying depression. Jadi kalau ingin menyembuhkan PMDD, depresinya yang harus diberesin. ObGyn saya berpendapat PMDD dan depresi itu seperti telur dan ayam: entah mana yang mulai duluan dan memberi efek ke yang lain. Sebelum memberikan treatment, beliau meminta saya untuk mengisi jurnal siklus menstruasi dulu selama 3 bulan. Jurnal ini merekam gejala-gejala umum PMDD. Tujuannya untuk melihat apakah gejala tersebut muncul secara sporadis, konstan, atau di waktu tertentu saja. Berkat jurnal ini jadi terlihat kalau memang gejala depresi maupun fisik (kram perut, jerawat) yang saya alami muncul di fase luteal hingga hari ke-2 atau ke-3 menstruasi. 

Kalau ditanya soal apa yang biasa dilakukan saat mengalami fase PMDD? Sayangnya karena terlalu tenggelam dalam keadaan depresi, saya jadi tidak melakukan apa-apa. Namun satu hal yang jelas: setelah minum obat, gejala PMDD saya sangat minim dan hampir seperti hari-hari normal lainnya. 

Ada beberapa peristiwa yang pernah saya alami saat PMDD terjadi. Kalau lagi masuk fase PMDD dan depresi memuncak, saya jadi takut menyetir mobil. Entah mengapa rasanya deg-degan terus dan akhirnya jadi banyak bikin kesalahan. Pernah suatu kali, saya banting setir ke kiri karena ada bunyi klakson. Gak tahunya, bukan saya yang diklakson. Tapi cuma dengar klakson saja sudah cukup bikin saya panik dan otomatis banting setir. Untung jalanan lagi sepi. 

Soal proses menerima kondisi PMDD ini, saya terpukul sekali waktu dokter bilang PMDD biasanya disebabkan oleh underlying depression. Waktu tahu soal PMDD, saya menyalahkan hormon atas keadaan depresi saya. Lega rasanya ada yang bisa disalahkan. Tapi setelah mendengar perkataan bu dokter, saya sempat terpuruk selama beberapa hari. Pikiran ‘ternyata memang saya yang depresi’ dan ‘memang saya yang gak beres’ terus berulang-ulang muncul. 

Yang kemudian sangat membantu adalah ketika beberapa teman bercerita kalau mereka juga didiagnosa depresi dan sama-sama minum antidepressant seperti saya. Segala pertanyaan “Why me?” dan pikiran yang menyalahkan diri sendiri langsung hilang. Siapa saja bisa depresi, entah apa pun alasannya. 

Saya baru mulai mencari informasi ketika muncul rasa heran: kenapa depresi saya munculnya menjelang menstruasi? Lewat pencarian google barulah saya mengenal istilah PMDD. Lalu karena malas sekali rasanya kembali minum obat antidepresi, saya berusaha mencari pengobatan alternatif. Kebetulan dokter umum saya di Amerika mempunyai pendekatan holistik dalam pengobatan dan beliau memberikan banyak masukan tentang mencoba akupunktur dan obat-obatan herbal yang bisa saya coba seperti misalnya St. John’s Wort dan chinese medicine yang katanya ampuh untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan hormon (yang sering kali dikaitkan dengan PMDD). 

Saya sempat datang ke klinik TCM (traditional chinese medicine) dan obat yang diresepkan cukup membantu. Pikiran jadi lebih tenang, kulit muka jadi bersih. Tapi terus kliniknya sempat tutup lama sekali ketika kasus pandemi memuncak. Pengobatan saya pun jadi berhenti di tengah jalan.

Untuk proses dan prosedur mendapatkan treatment depresi dan PMDD ini, di Finlandia sendiri penanganan untuk segala macam masalah kesehatan dimulai dari puskesmas. Jadi saya nggak bingung-bingung harus mencari bantuan ke mana. Walaupun saya lumayan kaget karena ternyata antidepressant saya diresepkan oleh dokter umum. Tidak perlu menemui psikiater. Dokter pun menjelaskan bahwa kasus-kasus tertentu saja yang dirujuk ke psikiater. Namun saya juga mendapatkan sesi terapi pendamping, kok. Ada perawat khusus yang menemui saya sebulan sekali untuk talk-therapy. Ini sifatnya optional dan pada akhirnya saya hentikan setelah dua kali pertemuan karena nggak enak kalau terlalu sering izin dari kantor. Waktu itu belum jamannya WFH (=Work From Home), sih. 

Untuk obat yang diresepkan, obat antidepresi standar seperti citalophram dan e-citalophram harganya murah sekali. Lebih murah dari Panadol. Waktu saya pindah obat ke Voxra, dokternya minta maaf karena obatnya mahal. Eh ternyata masih sangat terjangkau, kok. Terima kasih universal healthcare

Ketika tinggal di Amerika Serikat, untungnya kami punya asuransi yang lumayan bagus. Segala pengobatan ke dokter gratis, tapi biaya obat tidak ditanggung penuh walaupun mendapatkan potongan harga. Karena saya diresepkan dua jenis obat (antidepressant dan pil KB), bayarnya sungguh lumayan. Apalagi pil KB-nya, bahkan setelah diskon harganya hampir 60 dollar/pack. Di Finlandia, pil yang sama harganya 14 euro/pack. 

Asuransi kami juga menanggung psikoterapi, jadi saya sempat konsultasi rutin dengan psikolog seminggu sekali selama beberapa bulan. Ini hal yang sangat mewah karena kunjungan ke psikolog itu mahal sekali dan di Finlandia cuma kasus-kasus berat saja yang dirujuk ke psikolog maupun psikiater dengan biaya ditanggung negara. Kalau terapinya atas inisiatif sendiri, bayarnya sungguh bikin bangkrut. 

Banyak sekali pelajaran yang saya petik dari memiliki kondisi PMDD ini. Pertama, saya tidak lagi meremehkan PMS. Sebelum hamil saya tidak pernah mengalami PMS sampai-sampai saya kira PMS itu dongeng saja yang dijadikan alasan buat manja. Eh, taunya… sekarang saya malah dikasih PMDD. Penderita PMDD ataupun PMS berhak mendapat empati. 

Pelajaran lain berkaitan dengan depresi. Depresi tidak selalu terlihat dan pada umumnya orang nggak mau kelihatan depresi. Jangan kaget kalau dengar kabar seseorang menderita depresi. Gak usah bilang “Gak nyangka ya, kayanya hidupnya seneng-seneng terus“. Kalau ada teman yang tiba-tiba menghilang, yang jadi jarang ngumpul, coba cek keadaanya. Depresi bikin seseorang merasa helpless, insignificant, and even unloved. Just to know that someone cares helps A LOT! 

Gak perlu mikirin terlalu ribet, bagaimana membantu seseorang keluar dari depresi. Pada umumnya cuma profesional yang bisa membantu. Just. Be. There. Dan bantu dia mengerjakan hal-hal yang sulit dia lakukan sendiri seperti beli makanan, bersih-bersih rumah. Itu sudah sangat cukup dan berarti.

Satu lagi pelajaran yang sangat berarti: ternyata benar loh yang orang-orang bilang, kalau olahraga dan udara segar sangat ampuh untuk mengatasi depresi. Keadaan PMDD saya jadi lebih teratasi kalau saya lagi rutin berolahraga dan banyak-banyak keluar rumah. Terkukung di rumah dan kurang gerak sungguh pencetus depresi.

Penulis: Rika, tinggal di Helsinki. Bisa dihubungi di akun instagram @seerika.

(PELITA) Pahami Tumbuh Kembang Anak Usia Bayi hingga 5 Tahun

Episode PELITA – Parentingtalk with RUANITA – kedelapan di bulan Maret 2023 kali ini membahas tentang tahapan-tahapan tumbuh kembang anak (atau developmental milestones) pada anak usia bayi hingga 5 tahun. Tahapan tumbuh kembang anak sangat menarik untuk diperbincangkan diantara para orang tua supaya adanya pemahaman tentang titik-titik yang menjadi acuan dalam tumbuh kembang anak.

Pada diskusi kali ini, Stephany menjelaskan bahwa titik tumbuh kembang anak mempunyai tahapan-tahapan tertentu sesuai dengan usia biologis sang anak dan ini ditandai oleh beberapa domain yang patut diobservasi oleh para orang tua.

Nah, apa sih yang dimaksud dengan tahapan tumbuh kembang anak?

Follow us: @ruanita.indonesia

Sedari anak usia bayi hingga usia lima tahun, anak akan mengalami fase-fase perkembangan di dalam fungsi indera mereka dimana perubahan tersebut merupakan perkembangan secara kualitatif yang berjalan secara linear dengan usia biologis anak.

Contohnya adalah kemampuan anak usia 1 tahun tentulah berbeda dengan kemampuan anak usia 3 tahun. Ini dikarenakan fungsi-fungsi motorik mereka seperti motorik kasar dan motorik halus ditambah dengan fungsi-fungsi lain seperti fungsi sosial dan tingkah laku akan mengalami perkembangan; juga fungsi indera pendengaran, penglihatan, dan fungsi kognitif. Peran observasi dari orang tua dalam tumbuh kembang anak dirasa sangat penting agar orang tua bisa mendeteksi secara dini jika buah hati mereka mengalami keterlambatan.

Di dalam episode ini, Stephany membahas secara detail tumbuh kembang anak yang dilalui sesuai tahapan usia biologis anak – dari usia bayi hingga usia 5 tahun – dan faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Selain itu, Stephany juga membagikan tips apa yang seharusnya dilakukan orang tua jika buah hati mereka mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan.

Untuk mengetahui secara lengkapnya, sahabat Ruanita bisa menonton di kanal YouTube Ruanita dan jangan lupa untuk klik berlangganan atau subscribe dan juga klik simbol lonceng supaya para sahabat Ruanita tidak ketinggalan diskusi-diskusi menarik lainnya dari Ruanita.

Lalu jika dirasakan tayangan PELITA kali ini menarik dan akan bermanfaat bagi para orang tua pada umumnya, khususnya mereka yang baru merasakan menjadi orang tua, para sahabat Ruanita juga bisa membagikan tautan video YouTube di bawah ini.

Penulis: Putri T. berdomisili di Jerman (akun IG: pupsaloompa)

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Menjadi Ibu dan Entrepreneur di Amerika Serikat, Mungkinkah?

Dalam mewujudkan dukungan terhadap kesetaraan gender, RUANITA memiliki program Karir & Kewirausahaan untuk perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara. Agar semakin mendorong lebih banyak lagi perempuan Indonesia terampil dalam berwirausaha, RUANITA membagikan praktik baik yang sudah dilakukan oleh Dewi Maya.

Dewi Maya adalah perempuan Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat dan telah berhasil mendirikan usaha tas dengan nama bisnis: Dewi Maya. Koleksi tas yang diciptakannya dapat dilihat dalam akun Instagram: dewimaya.shop di mana koleksi tas buatan tangannya banyak dilirik oleh warga Amerika Serikat.

Dewi bercerita bagaimana perjuangannya di awal tinggal di Amerika Serikat itu tidak mudah. Dia memulai kedatangannya dengan memperkuat keterampilan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Dewi pun membagi waktunya dengan bekerja agar impiannya memiliki usaha dapat terwujud. Berbekal tekad yang kuat, Dewi pun belajar bagaimana membangun jaringan dan usaha sehingga kelak dia tahu bagaimana dia harus mengelola usahanya.

Ketika Pandemi Covid-19 melanda dunia, Dewi tak kehilangan akal. Dia menekuni hobi menjahit yang dulu sudah dikenalnya dari sang ibu. Dia pun mencoba berbagai bahan Good Will yang tersedia di market negeri Paman Sam sebagai material yang berkualitas baik. Meskipun Dewi hamil, niatnya memulai usaha tidak surut. Tas yang dikerjakannya benar-benar berkesan bagi para pembeli yang menjadi pengunjung Bazaar sekitar tempat tinggalnya.

Ya, Dewi memulai usahanya dari kelompok kecil dan area sekitar tempat tinggalnya. Usaha Dewi tak sia-sia, produk tas yang dihasilkannya pun banyak dilirik warga di Amerika Serikat. Setelah Dewi mendaftarkan izin usahanya di Amerika Serikat, Dewi pun berpeluang mendapatkan Grants berupa 2 unit mesin jahit yang mendukung usahanya tersebut.

Dewi menceritakan bagaimana pengalaman kesehariannnya antara berbagi tugas menjadi ibu dengan perempuan berwirausaha di rumahnya. Dia pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan suaminya dalam urusan domestik. Keberhasilan Dewi berwirausaha di Amerika Serikat didengar pihak VOA yang mengundangnya berbagai keberhasilan lewat kanal media mereka.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Bagaimana pengalaman Dewi sebagai ibu rumah tangga dan Entrepreneur di Amerika Serikat? Simak dalam kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Sayur Nangka Kering yang Diidam-idamkan

Lima tahun yang lalu setelah menikah saya pindah ke negara asal suami yaitu Swedia di tahun 2017. Tetapi, saat itu saya masih bolak-balik Indonesia dan Swedia karena anak pertama saya dari perkawinan sebelumnya masih tinggal di Banyuwangi. 

Baru di akhir tahun 2019 saya memutuskan untuk menetap di Swedia. Selain itu, di akhir tahun tersebut saya sudah bisa membawa anak pertama saya untuk ikut pindah ke Swedia. Anak pertama saya laki-laki dan sekarang sudah remaja berusia 17 tahun. Anak laki-laki saya saat ini melanjutkan sekolahnya di Swedia.

Setelah menetap di Swedia, saya sempat tiga kali keguguran. Akhirnya baru pada kehamilan ke empat di Swedia ini proses kehamilan saya berjalan dengan sehat dan lancar. Saya melahirkan bayi perempuan di akhir Desember 2021.

Selama hamil di Swedia ini, saya ngidam sayur nangka yang dimasak dengan santan seperti sayur lodeh. Sayur nangka ini kalau didiamkan berhari-hari akan kering. Nah, sayur nangka yang menjadi kering seperti inilah yang sangat ingin saya makan pada saat hamil. 

Selain sayur nangka kering, saya juga ngidam rujak buatan ibu saya. Tetapi, bukan rujak buah seperti yang dikenal umumnya. Melainkan, rujak dengan lontong. Kemudian ditambah dengan sayuran, kacang, dan petis. Rujak yang seperti dikenal di daerah asal saya di Banyuwangi dan di Jawa Timur pada umumnya. Orang di sana menyebutnya lontong kecap. Saya sendiri menyebutnya dengan rujak. Di Bali makanan ini lebih dikenal dengan sebutan tipat sayur.

Saya pernah mencoba membuat sayur nangka kering ini ketika hamil. Karena sulit untuk mencari nangka segar, akhirnya saya mencoba dengan nangka dalam kaleng yang saya dapatkan dari pasar swalayan. Tetapi rasanya jauh berbeda dengan rasa asli yang saya inginkan. Nangka dalam kaleng itu terasa asam. Sebenarnya nangka segar ini ada dijual di toko Asia. Nangka yang berasal dari Thailand. Tetapi mahal dan ketika saya ingin membelinya, nangka tersebut tidak tersedia. Setelah melahirkan saya melihat nangka segar itu di toko Asia, tetapi saya sudah tidak ingin membelinya lagi. Walaupun demikian sampai saat ini, setelah saya melahirkan, saya masih mengindamkan sayur nangka kering ini.

Sedangkan lontong kecap saya belum sempat untuk membuatnya selama hamil. Petis yang menjadi bahan penting dalam racikan bumbu untuk membuat lontong kecap tidak mudah didapatkan di Swedia. Sepertinya, saya belum pernah menemukan petis di sini. Akhirnya, rasa lontong kecap ini hanya bisa saya rasakan dalam mimpi saja.

Follow us: @ruanita.indonesia

Mungkin sekarang keinginan untuk makan sayur nangka kering tersebut lebih kepada keinginan diri. Sejak pandemi, saya belum pulang mudik ke Indonesia. Sehingga saya terobsesi dengan sayur nangka kering. Berita baiknya, saya akan mudik ke Indonesia akhir tahun ini. Jadi tentunya saya bisa memuaskan keinginan saya untuk makan sayur nangka kering.

 Untungnya di Swedia ini saya tetap bisa makan sambal karena saya menyukai makanan dengan cita rasa pedas. Bagi saya sambal wajib ada dalam menu sehari-hari. Cabai pun mudah di dapatkan di sini. Jadi selama hamil saya masih bisa menikmati makan dengan sambal. Ngidam sayur nangka dan lontong kecap yang tidak kesampaian menjadi cukup terobati.

Selama hamil jika ingin makanan Indonesia, saya tentu akan membuatnya. Terlebih saya sangat menyukai makanan yang pedas dan gurih. Seperti membuat ayam goreng krispi yang kemudian dinikmati bersama-sama sambal tomat. Selain itu saya juga membuat bakso balungan yang popular di daerah saya di Banyuwangi, walaupun rasa bakso balungan yang saya buat tidak bisa seotentik yang ada di Banyuwangi. Mungkin karena saya belum bisa meracik bumbu kuah baksonya agar lebih mendekati rasa aslinya. Walaupun tidak mendekati rasa aslinya, paling tidak bakso balungan buatan saya bisa sebagai pengobat rasa rindu.

Untuk mengatasi ngidam sayur nangka kering dan lontong kecap yang tidak kesampaian, saya banyak menonton video makanan dan memasak dengan bahan-bahan yang mudah didapat. Kehamilan saya kala itu secara umum juga mudah dan tidak ada keinginan yang aneh-aneh. Berbeda dengan kehamilan saya yang pertama.

Seperti umumnya perempuan di masa kehamilan pengaruh hormon bisa membuat kita lebih sensitif, walaupun saya tidak sampai membuat saya selalu menangis ketika mengalami ngidam ini. Lebih terbawa mimpi akan ngidam makanan yang tidak tersampaikan. Saya sering terbangun tengah malam karena teringat makanan.

Walaupun ngidam saya tidak kesampaian, tetapi anak saya tidak mengeluarkan air liur atau yang lebih dikenal dengan istilah ileran atau ngeces seperti yang banyak dibilang orang-orang. Anak saya mengeluarkan air liur ketika pilek dan giginya mau tumbuh. Padahal sebelumnya saya sempat siap-siap membeli apron yang biasa dipakai di leher bayi ketika makan untuk menampung air liurnya mengingat ngidam sayur nangka kering yang tidak kesampaian. Jadi sepertinya pandangan umum kalau ngidam tidak kesampaian maka anaknya akan sering mengeluarkan air liur adalah mitos belaka.

Saya beruntung karena suami saya adalah suami siaga selama masa kehamilan ini. Dia selalu siap untuk memenuhi keinginan saya. Jadi suami sering mengantarkan dan menemani saya ke pasar swalayan misalnya untuk membeli apa yang saya inginkan. Selain itu juga sabar dalam menghadapi mood saya yang naik turun selama hamil.

Pengalaman ngidam di masa hamil di negeri asing ini memberi saya hikmah untuk lebih bersabar dalam menghadapi keterbatasan seperti tidak mendapatkan makanan yang diinginkan dan tidak ada orang lain yang membantu di rumah selain suami. Tidak seperti di Indonesia di mana kita bisa meminta bantuan orang-orang terdekat kita dengan mudah. Juga lebih mudah bersyukur dan menghargai apa yang kita punya saat ini yang mungkin di masa yang lalu kita taken for granted

Pesan saya untuk perempuan-perempuan Indonesia yang mengalami kehamilan di luar negeri untuk tetap semangat. Jangan lupa mengkomunikasikan apa yang kita perlukan ke suami walaupun kita juga perlu dan harus mandiri. Juga mengkomunikasikan ketika kita capai dengan segala urusan rumah tangga agar kita bisa melalui masa kehamilan dengan aman dan nyaman.

Penulis: Dina Diana, Mahasiswa S3 di Jerman yang mewawancarai seorang Mita Seviana, yang tinggal di Lund – Swedia. Mita sehari-hari adalah ibu rumah tangga dan pengelola dari kanal YouTube: Family Indonesia Sweden.

(IG LIVE) Konsep Bahagia di Denmark & Finlandia

Kebahagiaan pada umumnya biasa diidentifikasikan oleh gerakan wajah tersenyum atau tertawa. Namun apakah tertawa dan tersenyum menjadi satu-satunya tolak ukur dalam kebahagiaan?

Pada IG Live di bulan Maret 2023, Ruanita membahas tentang kebahagiaan atau apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi bahagia yang dipandu oleh Fransisca Sax seorang volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.

Pada kesempatan kali ini ada dua sahabat Ruanita, Selvie Tandirerung yang berkerja sebagai Mine Engineer di Finlandia dan juga Dewi Nielsen yang bekerja sebagai suster di Denmark, akan bercerita dan berbagi sudut pandang mereka tentang apa itu kebahagiaan di Finlandia & Denmark.

Lalu mengapa di Finlandia dan Denmark?

Follow us ruanita.indonesia



Menurut Statista, Finlandia dan Denmark merupakan dua negara peringkat teratas dalam index kebahagiaan. Selvie dan Dewi yang sudah lama menetap di kedua negara tersebut bercerita tentang cara hidup dan juga kebiasaan yang menyebabkan dua negara tersebut berada di peringkat atas negara paling bahagia di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga akan berbagi tentang perbedaan kultur & cara pandang antara Indonesia dan Denmark & Finlandia dan juga perbedaan fundamental dalam konsep kebahagiaan.

Padahal jika ditilik, Finlandia dan Denmark yang secara geografis berada di Eropa Utara, terkenal akan minimnya sinar matahari ketika musim dingin ditambah lagi suhu cuaca yang hanya berkisar sekitar 20 derajat Celcius pada musim panas. Kekayaan alam mereka juga tidak seberagam atau tidak semelimpah ruah jika dibandingkan dengan Indonesia

Kemudian, apa sih yang membuat Finlandia & Denmark berada di peringkat atas?

Apakah karena masyarakat di dua negara tersebut suka tertawa? Atau karena mereka gemar membayar pajak? Atau mungkin karena mereka mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi antar sesama dan juga kepada badan pemerintahan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan klik dan putar ulang siaran IG Live Ruanita yang semoga akan menjawab rasa penasaran para sahabat Ruanita dan juga bisa menjadi pembelajaran di hidup kita.

Penulis: Putri T. tinggal di Jerman (akun IG: pupsaloompa)

(CERITA SAHABAT) Procrastination Bukan Malas

Halo Sahabat RUANITA semua, perkenalkan nama saya Tyka. Saya sekarang menetap di Barcelona, Spanyol. Saya berasal dari Bali, kemudian menetap di negeri matador ini lebih dari sepuluh tahun. 

Sehari-hari saya adalah ibu rumah tangga, tetapi saya tidak mau tinggal diam. Saya juga mengembangkan bisnis di bidang pariwisata. Saya bertugas sebagai Business Development dalam usaha tersebut. Usaha tersebut memberikan saya banyak kesempatan, termasuk bertemu dengan berbagai orang dari berbagai karakter dan kebiasaan kerja. 

Berikut saya bagikan sepenggal cerita, tentang pengalaman suka duka bertemu dengan berbagai orang seperti orang yang suka menunda pekerjaan/tugas. Menurut saya, menunda tugas/pekerjaan adalah kebiasaan buruk. Hal itu tentu saja membuat saya kecewa, kesal kadang marah dengan kebiasaan tersebut. 

Baik sengaja maupun tidak disengaja, terkadang kita tidak menyadari kebiasaan menunda tugas/pekerjaan tersebut. Dan itu bisa terjadi pada siapapun, dalam berbagai bidang pekerjaan dan posisi jabatan loh. 

Menurut saya, kita tidak bisa mengatakan kalau orang yang sering kali menunda pekerjaan/tugas itu adalah orang pemalas. Itu beda sekali. Anak-anak milenial sekarang menyebutnya adalah Procrastination. Saya tahunya hanya suka/sering menunda pekerjaan/tugas saja.

Orang yang malas adalah orang yang tidak melakukan apapun tugas/pekerjaannya dan dia merasa oke saja dengan hal tersebut. Namun, orang yang suka menunda pekerjaan seperti Procrastination yang disebut anak milenial itu adalah orang yang memiliki keinginan untuk melakukan tugas/pekerjaannya tetapi tidak bisa melakukannya. Alasannya bisa beragam.

Follow us: @ruanita.indonesia

Kita tidak bisa menghakimi seseorang, mengapa dia menunda tugas/pekerjaan, bisa saja dia sibuk. Namun orang yang sering/suka menunda pekerjaan menurut para ahli, mungkin saja dia tidak merasa percaya diri dengan tugas/pekerjaan yang diberikannya. Ada loh orang yang suka meragukan kemampuannya sendiri. Alasan lainnya, kita tidak pernah tahu kalau tugas/pekerjaan yang diberikan padanya itu membuat orang tersebut merasa bersalah.  

Sahabat, kita harus memahami latar belakang mengapa seseorang itu sering kali menunda tugas/pekerjaan yang diberikan kepadanya. Kalau saya berpendapat, hal itu biasanya kesalahan mengelola waktu. Ada loh orang yang tidak bisa memilih tugas mana yang harus diselesaikan dulu dan mana yang harus diberi nomor dua, tiga, empat dan seterusnya.

Artinya, orang yang suka menunda tugas/pekerjaan bisa jadi dia tidak tahu bagaimana memberi prioritas pada pekerjaannya sehingga pekerjaan diberikan tidak tepat waktu. Bisa jadi orang menjadi stres tinggi atau sakit saat melihat tumpukan pekerjaan, kemudian muncul pada perasaan negatif yang membahayakan yaitu malas. 

Tentu ini membuat image negatif terhadap orang tersebut seperti dicap kurang bertanggung jawab. Cap ini tentu membuat kita juga kurang mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Kalau sudah kurang kepercayaan dari orang lain atau atasan di tempat kerja, tentu peluang kita untuk berkembang sebagai pribadi menjadi kecil. Malahan kita menjadi kehilangan kesempatan atau peluang yang membuat karir kita maju. Itu cuma gara-gara kita sering kali menunda pekerjaan/tugas loh. 

Buat sahabat RUANITA semua, saya bagikan tips bagaimana agar kita terhindar dari kebiasaan buruk menunda tugas/pekerjaan berdasarkan pengalaman saya. Sebelum tidur biasanya saya selalu siapkan kertas dan pulpen untuk me-review  hal-hal yang sudah saya lakukan pada hari tersebut.

Tak sampai situ saja, saya juga menulis hal-hal yang akan saya lakukan di hari berikutnya secara detil. Boleh dibilang, ini seperti jurnal harian yang membantu saya memilih atau memilah tugas yang jadi prioritas saya. Mana sih tugas yang harus diselesaikan duluan besok hari. Saya akan beri nomor urut dalam jurnal saya tersebut. 

Saya tempelkan di samping cermin yang ada di kamar mandi. Mengapa? karena ini memudahkan saya untuk bisa melihatnya setiap kali saya bangun tidur. Dengan memiliki jurnal atau agenda harian, sesibuk apapun itu akan menjadi support kita. Kita tentu akan  bersemangat menyelesaikan tugas tersebut dengan baikSebagai pemula, saya tahu hari pertama itu mungkin sulit. Namun saya terus melakukannya terus menerus sehingga menjadi kebiasaan dan terbiasa. Demikian sharing pendapat dan pengalaman saya. Terima kasih.

Penulis: Tyka Karunia, tinggal di Barcelona, Spanyol. Pengelola @fiindolan.id dan @mypasportmyparadise dan @wiracana_handfan.

(RUMPITA) Perempuan, Konsumtifitas, dan Lingkungan

RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA yang menjadi program Podcast di Episode 11 ini membahas tema yang berkaitan dengan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret tiap tahunnya. Untuk membahas lebih detil, Tim RUMPITA yang terdiri atas Nadia, Fadni, dan Alvina mengundang seorang Sahabat RUANITA yang tinggal di Berlin, Jerman yakni Vina Aulia.

Perempuan dihadapkan pada berbagai pilihan dalam hidupnya untuk memenuhi tuntutan sosial seperti gaya hidup, tekanan peer-groups, mode fashion, dan lainnya. Vina Aulia bercerita tentang bagaimana perempuan di Indonesia mendapatkan tawaran mencoba produk baru dari lingkungan pertemanan, yang kadang belum tentu mudah untuk menerima perubahan gaya hidup tersebut. Misalnya, kelompok arisan yang memberikan iming-iming produk elektronik terbaru sehingga membuat perempuan “terpaksa” mengikutinya

Tim RUMPITA dan Vina Aulia menyetujui kalau mereka tinggal di Jerman masih berpikir tanggung jawab sosial dan moral ketika mereka harus mengikuti tren gaya hidup. Contoh yang dimaksud Vina Aulia seperti Fast Fashion yang bergerak cepat untuk memenuhi gaya hidup. Sementara Vina berpikir tentang bagaimana upah yang diberikan kepada pekerja dengan pakaian yang murah tersebut. Belum lagi masalah lingkungan yang ditimbulkan dari akibat perilaku konsumtif sebagai akibat tidak langsung dari Fast Fashion.

Follow us ruanita.indonesia

Nadia mengamini kalau harga murah memang memikat orang berperilaku konsumtif, tetapi tanggung jawab sosial dan moral harus menjadi pertimbangan demi keberlanjutan dunia yang lebih layak. Seperti yang disampaikan Nadia, Fadni juga menyetujui tentang pertimbangan lingkungan, sosial, dan moral dalam memenuhi tuntutan gaya hidup apalagi Fadni memang memiliki usaha yang bergerak di bidang fesyen.

Saran Vina Aulia untuk mengurangi perilaku konsumtif, kita perlu mengedukasi diri sendiri agar dapat memahami pentingnya tanggung jawab sosial dan moral dalam mengikuti gaya hidup. Kita perlu berpikir ulang tentang prioritas barang ketika ingin dibeli sehingga tidak sekedar memenuhi tuntutan gaya hidup saja. Kedua, kita cari tahu lebih banyak tentang produk ini termasuk apakah perusahaan yang memproduksinya benar-benar memperhatikan tanggung jawab sosial, moral, dan lingkungan.

Lebih lanjut tentang RUMPITA Episode 11 ini, silakan mendengarkan diskusi seru mereka berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Aku Bahagia Saat Kamu Bahagia

Saat mendapatkan tugas menulis dengan tema „caraku berbahagia“, saya merasa akan „garing“ jika hanya menceritakan tentang saya. Oleh karena itu, saya membuat kuesioner mini dan meminta 10 sahabat Ruanita untuk ikut berbagi cerita.

Saya membagi kuesioner ke dalam delapan pertanyaan. Pertanyaan pertama saya klise sekali: pekerjaan. Saya ingin tahu pekerjaan apa yang bisa membuat orang bahagia, karena saya yakin pasti ada responden yang menyebutkan bekerja sebagai salah satu aktivitas yang membahagiakan.

Ternyata benar. 50% Responden mengaku bahagia saat bekerja. Pekerjaan mereka beragam. Ada pekerja kantoran, peneliti, psikolog, dan sebagainya. Kesimpulannya, apa pun pekerjaannya kalau melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat maka rasanya akan selalu senang saat bekerja. 

Kegiatan paling utama, menurut responden, yang memberikan kebahagiaan adalah melakukan hobi dengan 100%. Nonton serial dan jalan-jalan atau traveling berada di posisi kedua dengan 90%. Saya termasuk ke dalamnya juga. Terlebih lagi, tinggal di Jerman memungkin saya untuk jalan-jalan ke kota-kota di Jerman atau negara-negara Eropa lainnya tanpa mengeluarkan banyak uang dan waktu. Saya merasa senang sekali melihat tempat baru, belajar kebudayaan, bahasa lain, dan makan makanan khas mereka.

Posisi ketiga dengan 80% adalah makan makanan enak dan menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman. Makan makanan lezat adalah salah satu hal kecil yang membuat saya bahagia, terutama jika makanan tersebut saya buat sendiri.

Seorang kenalan pernah mengajak saya ke sebuah kafe yang menyajikan carrot cake yang enak sekali. Saya jadi sangat penasaran. Setelah mencari resep di internet, saya membuat carrot cake super enak (bahkan lebih enak dari pada di cafe tersebut!).

Saya merasa saya bahagia sekali setiap membuat carrot cake, menikmatinya, dan juga berbagi ke orang-orang terdekat saya. Hal yang membuat saya bahagia cukup sederhana, yakni: melakukan hobi masak, bikin kue, makan makanan enak, bersama orang terdekat, dan berbagi.

Memberikan sumbangan atau membantu orang berada di posisi kedua sebagai cara untuk berbahagia. Begitu juga memiliki materi (bergaji besar atau memiliki properti) dan bermain dengan hewan peliharaan. Tidak hanya itu, banyak juga yang berpendapat mereka bahagia jika pasangan bahagia.

Pilihan terakhir ini saya masukan ke dalam jawaban di kuesioner disebabkan hal itu disebut dalam website-website yang saya buka saat sedang mencari tips berbahagia. Benar loh, 70% respon mengakui mereka bahagia jika pasangan berbahagia. Jadi kalau ada orang bilang, „aku bahagia jika kamu bahagia“ bukan hanya kata-kata manis rayuan semata, ya. Memang kebahagiaan pasangan adalah sumber kebahagiaan kita juga.

Follow akun IG: @ruanita.indonesia

Selain itu, menikmati pemandangan juga bisa memberikan kebahagiaan. Pernah tidak sih, tanpa sadar kita tersenyum dan merasa senang saat melihat matahari terbit atau tenggelam, atau hanya melihat gunung dan pantai yang indah sekali? 

Saat membuat kuesioner dan menuliskan Cerita Sahabat ini saya masih berpikir tentang lawan kata atau mungkin lawan perasaan dari bahagia seperti: marah, sedih, takut, dan sedikit dari perasaan-perasaan yang mengindikasikan ketidakbahagiaan.

Ini juga alasan saya, saat lebih memilih menuliskan frasa “tidak bahagia” dibandingkan menuliskan pilihan perasaan negatif. Dahulu saat saya masih kuliah di Jatinangor, saya berjalan kaki malam hari dari depan Unpad sampai Cileunyi saat saya sedang merasa sedih dan cemas. Untuk yang tahu Jatinangor, pasti hafal jalan rayanya yang 24 jam dilalui bukan hanya mobil, tetapi juga truk dan bus antar kota, dan tidak punya trotoar yang layak.

Kaki saya rasanya siap untuk berlari dan pikiran saya acak-acakan. Selama berjalan kaki saya merasakan tenaga saya dan pikiran-pikiran yang kacau di kepala saya berkurang sedikit demi sedikit. Setelah itu, saya akan merasa rileks dan letih.

Sampai sekarang, hal ini masih saya lakukan. Jika merasa tidak bahagia, saya akan berjalan sampai saya capai, lalu pulang dengan kendaraan umum. Sejak belajar tentang kesadaran penuh (mindfulness), saya akan mempraktikkannya setelah membiarkan pikiran saya mengembara selama fisik saya bergerak. 

Dalam kuesioner saya memasukan beberapa pilihan cara berbahagia saat sedang tidak merasakannya. Hanya 60% responden yang melakukan hobi saat tidak bahagia. Padahal semua responden mengaku hobi adalah kegiatan yang membuat bahagia.

Seorang teman saya bilang, hobi bukanlah hal yang ia lakukan saat sedang tidak bahagia dengan harapan akan menjadi bahagia. Baginya, hobi dilakukan untuk dinikmati dan harus dilakukan memang saat sedang merasa senang. Dia tidak akan bisa menikmati hobinya jika perasaannya sedang tidak bahagia. Menurut kalian bagaimana, Sahabat Ruanita?

Jika 80% responden mengatakan makan makanan enak membuat bahagia, tetapi hanya 60% responden mencari makanan enak saat sedang tidak bahagia. Saya termasuk orang yang mencari comfort food saat saat sedang tidak bahagia, tetapi kehilangan nafsu makan jika tingkat kesedihan atau kecemasan saya sangat tinggi.

Jadi kalau saya sedang ada masalah dan tidak nafsu makan, tapi tiba-tiba merasa lapar, itu berarti stres saya sudah mulai berkurang. Oh iya, saat tahun lalu saya sedang depresi dan dalam pengobatan, saya menggunakan makanan untuk mengisi kekosongan dan pelampiasan.

Sayangnya comfort food saya adalah makanan berminyak, bergula, bergaram alias tidak sehat. Hasilnya jarum timbangan loncat jauh ke arah kanan. Kebahagiaan yang saya rasakan dari nikmatnya makanan juga tidak bertahan lama. Selain itu, saya bangkrut juga karena jajan hampir setiap hari. Namun apakah hal ini membuat saya berhenti untuk menikmati comfort food saya sedang tidak bahagia? Tidak. Saya masih tetap mencari comfort food saya saat sedang sedih atau marah. Menurut saya, kebahagiaan lebih penting, tetapi sekarang saya tahu resikonya. Oleh karena itu, saya harus lebih banyak bergerak.

Tidur adalah cara yang dipilih oleh 80% responden untuk „lari “ dari ketidakbahagiaannya. Saya punya dua orang teman dekat yang bisa tidur sampai lebih dari 12 jam saat merasa sedih. Mereka bilang, saat bangun mereka akan merasa lebih santai, walau masalah yang mereka hadapi belum selesai.

Salah satu dari mereka sempat berkonsultasi ke dokter tentang hal tersebut. Jawaban dokternya cukup singkat, „kebanyakan tidur tidak masalah dari pada tidak bisa tidur. Banyak orang yang tidak bisa tidur saat sedang sedih, jadi Anda tidak perlu khawatir“.

Jawaban ini tentu saja membuat lega sahabat saya itu. Dia sekarang bisa kebanyakan tidur tanpa merasa bersalah lagi. Saya sebaliknya, jika sedang ada masalah, saya akan lebih banyak pikiran (overthinking) yang membuat saya susah tidur. Walaupun tidur, otak saya masih bekerja dan memberikan mimpi tentang masalah tersebut.

Tidur bukan pilihan saya untuk keluar dari kesedihan. Beruntung sekali orang-orang yang bisa tidur pulas dan lama untuk kabur sejenak dari ketidakbahagiaan.

Selain melakukan hobi, makan makanan enak, dan tidur, hal lain yang menjadi alternatif untuk dilakukan saat sedang tidak bahagia adalah olahraga, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, curhat ke orang lain, melakukan meditasi, berdoa, dandan atau pakai baju warna cerah agar suasana hati juga ikut cerah, pergi belanja atau window shopping di mall, atau menonton video streaming.

Hal terakhir ini juga yang saya lakukan jika sedang tidak bahagia atau sedang banyak hal yang dipikirkan. Saya melakukan ini untuk mendistraksi diri saya untuk tidak lebih banyak pikiran. Kalau video atau film dimatikan, pikiran saya jadi ke mana-mana lagi. Saya jadi teringat lagi dengan masalah dan saya jadi tidak bahagia lagi. Biasanya sambil nonton saya akan melakukan hobi merajut saya yang bikin bahagia, terutama jika saya selesai mengerjakan proyek rajut.

Hal-hal yang disebutkan di atas sebenarnya adalah trik yang saya lakukan secara pribadi. Saya pernah mencoba semuanya saat saya sedang tidak bahagia dan semuanya berhasil membuat saya kembali bahagia walau sebentar. Mungkin yang paling efektif untuk saya adalah melakukan hobi menulis saya.

Sering kali isi blog pribadi saya bernuansa sedih, karena menjadi pelampiasan kesedihan saya. Misalnya, ketika anggota keluarga saya meninggal dunia, saya banyak menulis tentang mereka di sana. Saat patah hati juga, saya akan menulis tentang hal tersebut di sana. Perasaan saya akan menjadi lebih baik dan beban saya seperti berkurang setelah saya selesai menulis, apalagi jika selama menulis ditemani lagu mellow. Selain menulis, untuk melawan kesedihan, saya juga akan menelepon sahabat saya untuk curhat. Selesai bercerita dan mendengarkan masukan dari dia, saya menjadi lebih tenang dan bersemangat kembali.

Di dalam kuesioner, saya juga memasukan pertanyaan, „hal yang paling membahagiakan di tahun 2022”. Idenya sederhana saja, saya yakin kita akan bahagia hanya dengan mengingat peristiwa membahagiakan yang pernah kita alami. Setiap hari saya juga berusaha untuk menuliskan tiga hal membahagiakan saya pada hari itu di buku harian saya (gratitude journal). Kelak bisa saya baca ulang jika sedang sedih, hanya ingin merasakan kebahagiaan itu lagi, atau sebagai pengingat seberapa buruknya hari yang kita lalui pasti ada yang membuat senang juga. Saat saya sedang di psikiatri, psikolog-psikolog kami juga menyarankan melakukan hal tersebut. Sudah terbukti nih, cara tersebut memang berfungsi.  

Kembali ke kuesioner, saat membaca jawaban dari pertanyaan „hal yang paling membahagiakan di tahun 2022“, saya ikut senyum-senyum senang juga. Ada responden yang menjawab dengan membawa keluarga liburan ke Jerman, bertunangan dengan kekasih setelah lima tahun bersama, merasa dicintai, bertemu keluarga di Indonesia, belajar hal baru yang sudah diidam-idamkan sejak dulu, mengetahui kehamilan, masih bisa bersama keluarga, dan menyadari penyertaan Tuhan yang begitu besar dalam hidup.

Saya merasa ikut senang saat baca ini semua, bukan? Di tahun 2022 banyak sekali yang terjadi dengan saya. Namun, hal yang paling membahagiakan adalah saat saya sembuh dari OCD (Obsessive Compulsive Disorder) bulan September lalu setelah mengikuti terapi selama lima hari. Kesembuhan ini lebih membahagiakan dari pada saat saya menikah awal tahun 2022! 

Kesehatan memang sebuah urusan yang sangat penting dan hal yang patut disyukuri. 90% Dari responden kuesioner mempunyai pendapat yang sama ketika menjawab pertanyaan tiga hal yang disyukuri dalam hidup. Semua responden menjawab keluarga dan teman adalah hal terpenting.

Setengah dari jumlah keseluruhan responden menjawab pekerjaan dan materi termasuk ke dalam hal yang mereka syukuri. Sedangkan penampilan hanya direspon oleh satu orang responden. Apa pun itu, saya yakin, semua hal yang kita syukuri juga berlaku sebagai sumber kebahagiaan kita.

Bagaimana dengan Sahabat Ruanita, apa sumber kebahagiaan kamu?

Penulis Mariska Ajeng Harini, penulis di http://www.mariskaajeng.com

(WARGA MENULIS) Kepemimpinan Perempuan kala Bencana, Mungkinkah?

Apa yang Anda bayangkan jika mendengarkan kepemimpinan perempuan dalam bencana atau krisis seperti krisis pandemi yang baru saja kita lewati?

Ada yang menarik tentang kepemimpinan perempuan di negeri tua dalam peradaban manusia berabad-abad lalu saat saya berlibur ke Mesir. Di sana saya mengunjungi berbagai tempat-tempat bersejarah dan mengetahui bagaimana negeri tertua di dunia tersebut mengalami masa kejayaan.

Pemandu wisata menjelaskan bagaimana tiap Firaun, Sang Penguasa Mesir terlibat dalam berbagai kepemimpinan memimpin negeri itu. Firaun sebagai penguasa adalah para pria. Itu dalam benak saya saat itu. Pertanyaan saya kepada pemandu wisata, apakah tidak ada Firaun seorang perempuan? Dia pun menjawab, tentu ada Firaun yang juga seorang perempuan.

Tercatat ada 6-8 Firaun perempuan dari sekian banyak Firaun yang pernah berkuasa di Mesir. Di zaman kuno, Firaun yang notabene perempuan dipilih sangat jarang sekali dalam budaya patriarki yang masih kental. Kepemimpinan Firaun perempuan lebih ditekankan pada saat Mesir terjadi krisis. Misalnya, ketika sang Firaun laki-laki wafat dan tidak ada penggantinya lagi maka terpilihlah istrinya.

Bagaimana sih kepemimpinan perempuan saat bencana atau krisis?

Perempuan mampu memberdayakan komunitasnya secara partisipatif dan komunikatif ketimbang pemimpin lelaki yang lebih terkesan hierarki dan komando. Begitu dari literatur yang saya baca seputar kepemimpinan perempuan pada masa itu. Saya membayangkan bagaimana Cleopatra dengan cerdik memimpin negeri Mesir dan namanya tidak lekang oleh waktu.

Kepemimpinan perempuan di masa kini tentu Anda sudah mengenal berbagai tokoh dunia perempuan lainnya. Kepemimpinan kala bencana menurut saya, tidak harus selalu menjadi Leader tetapi perempuan diberi kesempatan dalam urusan publik seperti krisis Pandemi Covid-19. Saat krisis pandemi kemarin contohnya, ada kehadiran perempuan dalam penemuan vaksin Astrazeneca. Dia adalah Sarah Gilbert, seorang penemu perempuan dan lainnya adalah perempuan asal Indonesia yakni Carina Citra Dewi Joe.

Beralih ke pengalaman lainnya saat Pandemi Covid-19 lalu. Seorang rekan yang bekerja di LSM di Indonesia beberapa waktu lalu bercerita kepada saya tentang pendistribusian logistik dari pemerintah yang disampaikan kepada keluarga-keluarga binaannya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sebut saja Mbah, perempuan berusia lima puluh tahunan ini terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya. Dia bekerja di sawah karena suaminya meninggal. Mbah tidak punya Handphone dan televisi karena pekerjaannya hanya sebagai buruh tani. Saat staf LSM mengantarkan bantuan sembako kepada Mbah, Mbah terkejut bercampur bahagia.

Mbah pun terharu dan menitipkan pesan terima kasih kepada Covid yang telah memberikan bantuan kepadanya. Rupanya Mbah tidak pernah melihat perkembangan situasi tentang Pandemi Covid-19 lalu. Mbah berpikir kalau Covid adalah nama seorang dermawan.

Anda bisa membayangkan bagaimana krisis atau bencana melanda perempuan seperti Carina Joe atau seperti Mbah yang kurang akses informasi. Belum lagi pasca bencana, perempuan dihadapkan pada situasi kehilangan suami atau anggota keluarganya yang menjadi tulang punggung keluarganya.

Perempuan masih berurusan dengan kesiapan mental dan masalah ekonomi yang harus dipecahkan solusinya apalagi bila dia tidak bekerja dan tidak punya lagi tempat tinggal akibat bencana. Rentetan persoalan perempuan saat bencana bukan lagi soal perempuan yang rentan secara fisik melainkan perempuan yang bisa jadi tidak diberi kesempatan dalam situasi krisis atau bencana. Lainnya, perempuan yang tidak tahu harus bertindak karena berbagai keterbatasannya.

Peran perempuan sebagai Caregiver keluarga apalagi saat bencana sangat terasa sekali saat krisis kemanusiaan Pandemi Covid-19 yang baru-baru ini kita alami. Perempuan diminta untuk mengurusi anak-anak dan keluarganya di rumah. Belum lagi, beban ganda para perempuan bekerja yang dituntut berbagi tugas dan tanggung jawab antara urusan pekerjaan dan rumah tangga dalam 24 jam.

Seorang rekan perempuan asal Indonesia yang tinggal di Jerman mengeluhkan beban ganda yang harus dipikulnya manakala Pandemi Covid-19 melanda dunia. Dia memilih bekerja porsi Teilzeit atau pekerjaan paruh waktu di rumah. Sementara dia juga harus menjadi guru bagi anak-anaknya yang juga semua dilakukannya di rumah. Hingga akhirnya dia datang kepada saya mengeluhkan semua yang dialaminya tersebut. Masalah psikologis adalah masalah yang tidak pernah terpikirkan ketika bencana datang.

Itu baru masalah psikologis selama bencana yang dihadapi perempuan sebagai Caregiver, mengurusi, dan merawat anggota keluarga lainnya bahkan keluarga besarnya. Selama bencana, perempuan berada di garda terdepan untuk menyelamatkan keluarganya. Anggapan ini berkembang kuat di masyarakat.

Padahal tugas menyelamatkan keluarga saat bencana tidak hanya perempuan saja, (tetapi) seharusnya juga laki-laki. Pandangan perempuan sebagai kelompok rentan secara fisik saat terjadi bencana atau krisis tentu bisa dipatahkan dengan melibatkan perempuan dalam berbagai kesempatan seperti ibu-ibu di tenda bantuan untuk berkoordinasi dengan petugas lapangan tentang ketersediaan logistik, mencatat kebutuhan pengungsi hingga tenaga kesehatan otodidak hanya karena perempuan dianggap sebagai Caregiver keluarga. 

Saya pernah terlibat dalam penanganan trauma psikologis pada saat bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006 silam. Kami tidur di posko bantuan yang lokasinya aman bersama pengungsi lainnya. Kami punya tim sukarelawan yang berasal dari warga sendiri untuk membantu mendata kebutuhan logistik warga seperti misalnya, apa saja yang diperlukan tiap-tiap rumah tangga saat itu.

Hal menarik, laporan pendataan yang ditulis perempuan lebih terstruktur ketimbang laki-laki dalam mengumpulkan data. Kami juga punya program penyuluhan tentang kesiapsiagaan kalau bencana datang lagi. Agar informasi ini tersampaikan dengan baik, kami meminta relawan untuk menjadi penyuluh yang datang ke keluarga-keluarga yang terdampak.

Hal menarik kedua adalah penyuluh perempuan itu lebih komunikatif dan interaktif dalam menyampaikan informasi ketimbang laki-laki. Itu hanya pengamatan saya saja kalau penyuluh perempuan itu lebih disukai daripada penyuluh laki-laki.

Saya tertarik untuk menuliskan kepemimpinan perempuan saat bencana ketika saya pernah terjun langsung mendampingi korban bencana seperti bencana gempa bumi tahun 2006 dan banjir besar di Jakarta tahun 2007. Pada saat banjir besar di Jakarta tersebut, saya masih bekerja di Jakarta dan bertugas mendampingi area yang terdampak sebagai sukarelawan.

Budaya patriarki masih kental ketika warga yang menjadi korban lebih memilih laki-laki sebagai tenaga relawan. Alasannya perempuan dianggap lemah secara fisik. Anggapan lainnya adalah perempuan sudah seyogyanya merawat dan mengurusi anggota keluarganya yang terdampak bencana di rumah. Para perempuan hanya dilibatkan untuk dapur umum kadang-kadang atau tenaga otodidak kesehatan di tenda pengungsian.

Ketika saya membicarakan soal pembagian peran perempuan dan laki-laki saat di kedua bencana tersebut, hal ini masih berbenturan dengan kebijakan yang mengatur proporsi perempuan dan laki-laki dalam penanggulangan bencana. Mereka tidak ingin melibatkan banyak perempuan karena anggapan di masyarakat.

Perempuan dianggap rentan secara fisik dan dipandang sebelah mata dalam program pasca atau Recovery bencana. Anggapan yang salah dari keyakinan banyak warga yang meremehkan peran serta perempuan. Dalam penanggulangan bencana, anggapan yang menyudutkan seperti “Perempuan bisa apa?” seperti tidak memberikan kesempatan perempuan yang ingin mencoba dan berdaya.

Kembali lagi soal pendekatan kepemimpinan yang dilakukan perempuan seperti partisipatif dan komunikatif, perempuan bisa mengambil bagian terlibat dalam program penanggulangan bencana atau pasca krisis seperti krisis Pandemi Covid-19 yang baru-baru ini terjadi. Dengan gaya kepemimpinan perempuan tersebut, perempuan bisa terlibat dalam manajemen risiko bencana.

Mengapa? Perempuan dianggap memiliki ikatan sosial yang kuat dalam masyarakatnya ketimbang laki-laki. Para ibu ingat betul siapa saja tetangga-tetangga mereka yang perlu ditolong, ketimbang para bapak. Ini hasil pengamatan saya saat membantu dalam dua bencana yang disebutkan di atas.

Gaya perempuan yang komunikatif ternyata membuat pesan tanggap darurat bencana lebih diterima ketimbang gaya komunikasi laki-laki yang terkesan komando. Kepemimpinan tidak harus selalu menjadi Leader, tetapi perempuan diberi kesempatan dalam urusan publik. Itu saja, menurut saya.

Di Hari Perempuan Sedunia 2023 ini saya berpesan agar kepemimpinan perempuan bisa dimulai dengan banyak melibatkan perempuan dalam ruang publik, tidak menunggu sampai bencana datang. Dalam situasi tanggap darurat seperti krisis atau bencana, perempuan perlu dilibatkan.

Kita bisa memulai dari sekarang, sebelum bencana atau krisis datang, dengan mengajak peran serta perempuan untuk penyusunan kebijakan payung hukum tanggap bencana, manajemen risiko bencana hingga program Life Skills pemberdayaan komunitas pasca bencana.

Kepemimpinan menurut saya tidak serta merta dalam urusan posisi mana yang lebih tinggi dan lebih rendah. Namun bagaimana duduk bersama-sama dan menganggap bahwa perempuan perlu diberi kesempatan, dalam hal apapun, termasuk situasi krisis, bencana atau tanggap darurat. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023!

Penulis: Anna Knöbl, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(WARGA MENULIS) Keibuan Adalah Kepemimpinan

Setiap orang punya waktu terbaik yang mereka nantikan dalam keseharian. Ada yang menantikan jam istirahat untuk bertemu teman dan membeli makan siang bersama. Ada menantikan jam pulang kerja, ketika pasangan datang menjemput.

Sementara saya selalu menantikan waktu si sulung pulang sekolah. Saya membayangkan pertanyaan apa lagi yang akan si kecil lontarkan untuk saya. Kami membahasnya dalam tawa sambil sesekali saling berdebat. Ini tidak berubah selama 12 tahun belakangan.

Pada suatu siang ketika sedang menulis artikel ini dan mengalami kebuntuan, suara bel rumah memecah konsentrasi saya. Rupanya si sulung pulang sekolah. Beberapa saat kemudian sambil menemani si sulung melahap camilan, iseng saya bertanya.

Do you think being a mother aligned with… leadership?”

Well,” jawabnya, “Being a mother is basically being a leader because you are the boss of your kid and your husband, which is my papa, around most of the time.”

Mau tertawa tetapi kok terasa nyata, ya.

Selama ini kita dijejalkan dengan romantisme motherhood image: kelemah-lembutan, merawat, feminin, dan patuh. Keibuan dan perempuan selalu dilekatkan dengan sifat-sifat pasif yang posisinya di bawah sifat-sifat maskulin yang diletakkan dalam posisi aktif dan dominan.

Tak jarang kepasifan ini dipertahankan untuk memberikan ruang agar sisi maskulin lebih banyak diaktualisasikan. Sifat-sifat keibuan hanya menjadi pelengkap, peredam, atau pemanis saja. Dari situ lahir anggapan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan keibuan, hanya pantas disematkan dengan kata ‘Cuma’. Cuma jadi ibu. Cuma mengurus keluarga. But turns out, motherhood is a work. An active work. A hard work.

Ketika memulai proses mencari pekerjaan di Norwegia, saya belajar satu kata baru: Veiledning. Veiledning yang berarti ‘panduan’ atau ‘arahan’, berasal dari kata å veilede – memandu, atau mengarahkan ke jalan atau tujuan tertentu. Ini mengingatkan saya akan tugas utama seorang ibu: sebagai pengarah dan Manager keluarga.

Salah satu aspek dalam kehidupan sebagai seorang ibu yang tidak pernah saya sangka adalah aktif memandu dan mengarahkan. Saya kira setelah anak-anak lahir, hidup hanya akan melulu dipenuhi popok kotor, cucian, dan membersihkan (dan bahkan menghabiskan) sisa-sisa makanan bayi. Ternyata itu hanya terjadi di dua-tiga tahun pertama saja.

Ketika si kecil mulai bisa berkomunikasi aktif, saya disadarkan pada kenyataan bahwa tugas utama sebagai seorang ibu adalah mengarahkan dan memandu anak-anak untuk membiasakan hidup yang tertib dan mengasah pola pikir serta perilaku mereka.

Apalagi ketika saya harus membesarkan anak di perantauan, sebuah kondisi yang bisa dibilang minim support system dalam hal kesamaan prioritas dan nilai-nilai yang dianut keluarga kami. Dan untuk bisa siap melakukan ini, saya harus mampu mengenali dan mengarahkan diri saya terlebih dahulu.

Lantas, apa hubungannya dengan kepemimpinan?

Setiap orang adalah pemimpin bagi diri mereka masing-masing. Tampak klise, tapi ada benarnya. Kepemimpinan seseorang terhadap dirinya pribadi terbentuk dari berbagai keputusan yang diambilnya pada setiap aspek kehidupan.

Keputusan-keputusan yang dipelajari sedari kecil hingga dewasa, sampai seumur hidup. Dari mana lagi ini semua dapat dipelajari, kalau bukan dari orangtua. Tanpa bermaksud mengglorifikasi peran ibu, profil ayah juga memainkan peran penting di sini. Tapi mari fokus dulu dengan pengalaman para perempuan yang memutuskan untuk terjun menjalani peran sebagai ibu.

Saat ini kepemimpinan seringkali dikaitkan dengan tampilan publik. Padahal tampilan hanyalah salah satu efek dari hasil seseorang memimpin diri mereka, yang bertemu dengan orang-orang sejiwa dan lalu berkomunitas, kemudian bersama-sama mampu membawa pengaruh baik ke lingkungan sekitar.

Kepemimpinan pun masih dilihat sebagai sesuatu yang individualistik. Itu hanya menyoroti beberapa individu yang mampu tampil di publik, tanpa berusaha melihat seberapa besar dukungan yang individu tersebut dapatkan, atau latar belakang kehidupan yang turut membentuk individu tersebut. Sampai pada akhirnya dia bisa bersuara dan memiliki daya pengaruh terhadap sekitarnya.

Di dunia kepemimpinan yang masih mengusung nilai-nilai tradisional maskulin, gaya kepemimpinan perempuan masih sering disorot seberapa ‘kuat’ sisi maskulin perempuan muncul ketika memimpin: ketegasan, vokal menyuarakan ide dan pendapat, langkah taktis yang diambil, dan sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dari hal-hal tersebut. Tetapi seringkali orang lupa bahwa pemimpin itu dibentuk dan dirawat, tidak hanya dilahirkan.

Dalam budaya Indonesia masih kental norma bahwa ketika perempuan memutuskan untuk menjalani peran sebagai seorang ibu, dia harus mengalah dan mengabadikan diri di belakang layar untuk kebaikan keluarga. Padahal semua tugas yang seorang ibu jalani bukanlah pekerjaan pasif. Mendidik anak, keluarga serta mengatur rumah tangga membutuhkan banyak ilmu, bukan hanya sebatas butuh kesabaran dan tenaga untuk mendulang pahala saja.

Motherhood yang selama ini dilihat sebagai sesuatu yang pasif, sebenarnya adalah bentuk kepemimpinan perempuan dalam menentukan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Kemampuan seorang perempuan dalam mengenali diri mereka dan membuat keputusan untuk kebaikan diri mereka akan terus dipakai tatkala mereka memutuskan untuk menjalani peran baru.

Apapun peran yang dijalaninya. Ketika dia memilih karir pekerjaan, memilih bidang ilmu, memilih pasangan, atau berkomunikasi dengan pasangan dalam partnership yang setara dalam membangun keluarga, semua itu adalah sebuah seni tersendiri dalam memimpin.

Menjadi pemimpin bagi diri sendiri tidak lantas total berhenti ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjalani peran baru sebagai ibu. Keibuan adalah sebuah bentuk kepemimpinan aktif. Bukan hanya dengan aktif menyuarakan pendapat, tetapi juga dengan membangun empati, merawat hubungan, serta dengan welas-asih.

Ketika perempuan bersama-sama membangun komunitas, mereka tidak hanya aktif merawat keluarga dan saling mendukung tetapi juga dalam konteks merawat lingkar pertemanan dan jejaring sosial yang mereka miliki.

Melihat anak-anak tumbuh di tanah perantauan ini menyadarkan saya bahwa motherhood is indeed a leadership. Saya menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa sampai ketika saya harus pergi meninggalkan tanah air dan memulai hidup di perantauan.

Hidup yang sama sekali berbeda dengan kondisi di tanah air. Hidup di perantauan membuat saya harus banyak mengambil keputusan drastis untuk diri saya sendiri terlebih dahulu. Sebelum saya berada di posisi di mana harus membuat banyak keputusan untuk keluarga saya.

Segala tantangan yang saya lewati selama di perantauan, itu adalah hasil dari keputusan yang saya ambil untuk diri saya dalam ‘memimpin’ dan mengarahkan diri sendiri sebelum mengarahkan dan memandu anak-anak bersama pasangan. Saya sebagai ibu adalah support system utama anak-anak saya, terutama dalam mengarahkan identitas anak-anak saya saat tumbuh besar di perantauan ini.

Ya, banyak langkah yang saya salah ambil, tetapi dari situ pelajaran datang. Kesalahan akan menjadi alasan untuk menghukum diri sendiri, kalau kita tidak melihatnya dengan kacamata welas asih. Sifat-sifat keibuan yang dimiliki perempuan tidak hanya bermanfaat kala mereka membangun hubungan dengan sekitarnya saja tetapi juga untuk menyayangi, mendengarkan, mengasihi, serta mengarahkan hidup mereka.

Bayangkan ketika keperempuan tetap disematkan dengan sifat-sifat pasif. Tumbuh dengan tidak diberi ruang untuk belajar, berpendapat, dan mengambil keputusan. Saya tidak bisa membayangkannya, setidaknya dalam kehidupan anak-anak saya. Yang saya bayangkan, anak-anak saya akan tumbuh di dunia baru. Perempuan harus dapat menjadi The Master of their own fate di mana perempuan dapat membuat pilihan mereka sendiri dengan sadar dan sehat.

Jika saatnya mereka memilih untuk membuat pilihan baru bersama seseorang, mereka dapat menjadi pasangan setara dalam membuat pilihan-pilihan tersebut. Itu bukan hanya sebagai pelengkap atau pemanis. Karena dengan segala peran yang disematkan untuk perempuan, mereka tetaplah manusia utuh sebagai diri mereka sendiri.

Penulis: Aini Hanafiah, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Norwegia.