(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Nih Kalau Mau Kerja di Norwegia

Cerita Sahabat Spesial kali ini adalah sharing pengalaman dari Novi yang sudah hampir dua puluh tahun tinggal di Norwegia. Semula Novi berangkat ke Norwegia untuk studi Master di Tromso pada 2004 hingga akhirnya Novi membangun keluarga dan memiliki karir mapan di institusi milik pemerintah Norwegia yang menyediakan Benefit untuk pencari kerja.

Novi berpendapat bahwa para pencari kerja yang berasal dari pendatang itu bisa mendapatkan 52 Benefit yang disediakan pemerintah Norwegia agar setiap orang bisa tetap aktif bekerja. Dari lima juta penduduk negara Norwegia, sekitar sembilan ratus ribu orang adalah pendatang yang datang mencari peruntungan hidup di Norwegia, termasuk orang-orang Indonesia. Tercatat berdasarkan statistik ada 1.971 orang Indonesia yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan di Norwegia, tutur Novi.

Kategori orang yang berpotensi sebagai angkatan kerja di Norwegia menurut Novi dimulai dari usia 15 tahun hingga 74 tahun mengingat angka harapan hidup yang tinggi di Norwegia. Hal menarik apabila kita menjadi pengangguran di Norwegia, pemerintah menyediakan tunjangan pengangguran yang bisa diklaim setelah seseorang tidak punya pengangguran. Tunjangan bisa diterima setelah 21 hari.

Kondisi ini berbeda ketika terjadi Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia mengingat ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Di Norwegia terdapat lima ratus ribu orang “dirumahkan”. Pemerintah Norwegia membuat kebijakan untuk memangkas waktu lamanya seseorang mendapatkan tunjangan pengangguran menjadi hanya 3-5 hari saja.

NAV ini membuat pemetaan bagaimana seseorang di Norwegia bisa mendapatkan pekerjaan dan mendorong seseorang mendapatkan haknya seperti misalnya akses tunjangan sosial. Tunjangan sosial di Norwegia bergantung pada misalnya seseorang yang masih single terhitung mendapatkan tunjangan 700€ per bulan. Ini berbeda sekali dengan seseorang yang sudah memiliki anak.

Hal menarik lainnya yang diceritakan Novi adalah bagaimana pekerja di Norwegia bisa menuntut hak mereka kepada pemberi kerja seperti misalnya demonstrasi yang biasa dilakukan para pekerja. Biasanya pekerja akan bernegosiasi dengan kantor pemberi kerja melalui serikat buruh. Serikat buruh pun bernegosiasi mengenai aspirasi pekerja seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Terjadi kenaikan upah sebesar 3,8% yang dimenangkan oleh para pekerja. Proses kenaikan gaji di kantor pemerintah seperti yang dialami oleh Novi terjadi secara sentral dan lokal. Sebagai pekerja, kita pun dipertimbangkan tentunya dari kinerja yang diberikan kepada pemberi kerja. Fokus utama kenaikan gaji di Norwegia adalah bagaimana si pekerja dapat berkontribusi lebih baik lagi bagi produktivitas pemberi kerja.

Terakhir Novi juga bercerita tentang proses pensiun di Norwegia yang berlaku saat seseorang sudah memasuki usia 67 tahun. Menurut Novi, siapa pun bisa mendapatkan uang pensiun asalkan sudah bekerja lebih dari tiga tahun di Norwegia. Klaim pensiun baru akan diberikan setelah seseorang sudah memasuki usia 67 tahun.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Rasanya Kuliah di Luar Negeri

Nadia dan Fadni adalah mahasiswa Pascasarjana yang kini belajar di Jerman. Berawal dari impian mereka ingin kuliah di Jerman, mereka mulai studi sarjana di Jerman kemudian melanjutkan lagi studi sambil mencari peluang pekerjaan.

Nadia sendiri bercerita bahwa biaya kuliah berawal dari pemberian orang tua, hingga akhirnya dia sendiri harus mencari cara agar bisa mandiri dan mencoba berbagai peruntungan di Jerman.

Sebagai informasi, kuliah di Jerman tidak selalu bergantung pada daftar kehadiran mahasiswa. Namun ini menjadi kendala Nadia ketika dia mendapatkan pekerjaan sampingan yang tidak bisa serta merta menjadi fleksibel untuk mengatur jadwal kuliah.

Di tempat studi Nadia, daftar hadir mahasiswa itu wajib diperhatikan sehingga mahasiswa yang ingin kuliah sambil kerja perlu memperhatikan hal ini.

Nadia mengalami betapa beratnya harus kuliah sambil bekerja di Jerman. Istilah “Kuliah atau Kuli, Ah” menjadi julukan disematkan ketika mahasiswa berusaha mandiri untuk mencukupi biaya hidup di luar negeri.

Nadia menjelaskan bahwa mahasiwa di Jerman bisa bekerja dengan standar upah 450€ per bulan yang tidak kena potongan pajak. Mahasiswa juga perlu memperhatikan jumlah jam kerja yang disyaratkan, sehingga mahasiswa tidak boleh melebihi aturan tersebut.

Sementara Fadni bersyukur bahwa biaya kuliah ditanggung oleh orang tua tetapi Fadni tetap berusaha mencari mini jobs untuk melihat peluang liburan ke negeri tetangga.

Fadni menggambarkan pengalaman kerja yang kerap tak menetap, sekitar 1 bulan, 3 bulan bahkan pernah 1 tahun. Pengalaman menarik ketika Fadni harus bekerja sebagai Houskeeper di hotel dimana selama ini Fadni hanya sebagai tamu di hotel.

Sebagai pekerja hotel, Fadni akhirnya memutuskan berhenti bekerja. Dia harus banyak bekerja di hari Sabtu dan Minggu terutama pengalaman Fadni yang tidak nyaman dan tak enak untuk membersihkan kamar mandi dan kamar tidur tamu hotel.

Pengalaman kerja yang membuat stres untuk Fadni adalah mengantarkan makanan ke pelanggan, terutama saat jam makan tiba. Pekerjaan itu membuat sangat hectic, apalagi di area kota besar seperti Berlin.

Pekerjaan demi pekerjaan ditekuni Fadni dan Nadia dengan harapan melatih kemandirian mereka selama berada di luar negeri.

Bagaimana pun pekerjaan tersebut melatih mental mereka untuk tidak bergantung pada orang tua dan menghadapi suka duka berhadapan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Belum lagi muncul berbagai streotype Nadia dan Fadni yang berasal dari Asia, yang dianggap sebagai pekerja penurut.

Bagaimana kisah pengalaman mereka yang sedang kuliah sambil bekerja di Jerman?

(IG LIVE) Kenali Sebab dan Tips Gangguan Tidur di Musim Panas

JERMAN – Dalam meningkatkan Psikoedukasi, RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar program IG Live bulanan yang dipandu oleh Ferdyani Atikaputri lewat akun IG: ruanita.indonesia. Atika, begitu biasa disapa adalah seorang volunteer Tim Dapur Konten dan juga sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Jerman. Pada program IG Live Juni 2022 bertema: Gangguan Tidur di Musim Panas, Atika mengundang narasumber yang merupakan Founder dari Indopsycare.

Dia adalah Dr. phil. Edo Sebastian Jaya, M.Psi yang juga merupakan Psikolog Klinis lewat akun IG: indopsycare. Edo menjelaskan berbagai macam gangguan tidur yang selama ini tidak banyak diketahui oleh orang awam. Atika mengamini bahwa gangguan tidur lebih banyak dikenal hanya insomnia saja.

Gangguan tidur ada beberapa jenis berdasarkan ICD – International Classification of Disease, seperti insomnia; sleep apnea; sleep related movement disorders seperti kaki gerak-gerak, sering terbangun, tidur sambil jalan, tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk; gangguan tidur yang disebabkan oleh kebanyakan tidur; gangguan tidur yang disebabkan oleh sejenis lalat yang hidup di Afrika yang bisa menginfeksi tubuh kita sehingga membuat kita banyak tidur; dan gangguan tidur lainnya yang banyak sekali.

Fokus pada gangguan tidur di musim panas, Atika menceritakan pengalaman gangguan tidur yang juga dialaminya sejak dia pindah ke Jerman untuk studi. Di Indonesia siklus gelap dan terang sudah teratur sehingga Atika tidak mengalami gangguan tidur. Berbeda dengan pengalaman Atika di Jerman, lama matahari bersinar pada musim panas menyebabkan adanya gangguan tidur. Di musim panas, tubuh pun masih aktif bergerak karena lamanya matahari.

Edo menjawab bahwa gangguan tidur yang dialami di musim panas disebabkan oleh siklus lamanya matahari dimana tubuh merekam melalui mata sehingga membuat kita sulit tidur di jam yang sebelumnya kita terbiasa tidur. Di musim panas hormon melatonin yang dihasilkan tubuh berkurang sehingga membuat kita tetap terjaga hingga waktu gelap tiba. Tubuh kita lebih bergantung pada lamanya sinar matahari.

Bagi orang Indonesia yang belum beradaptasi dengan negeri empat musim, kita perlu mencermati seperti apa gangguan tidur di musim panas yang sudah sangat mengganggu hingga menyebabkan masalah kesehatan. Gangguan tidur ini sifatnya subjektif dan kembali lagi bagaimana sistem metabolisme masing-masing individu. Meski tidur terdengar sepele, kita terkadang memercayai mitos seperti kita akan bisa menabung jam tidur saat wiken tiba.

Mitos seputar tidur tidak tepat bahwa kita bisa menabung “jam tidur” saat wiken tiba karena kembali lagi bagaimana metabolisme tubuh masing-masing individu. Jika hari Senin dan Selasa, kita sudah tidak tidur malam hari kemudian baru membalas “waktu tidur” di hari wiken maka itu tidak tepat karena terlalu lama. Kembali lagi soal mitos tersebut, ada yang bisa membalas “waktu tidur” bergantung pada usia muda yang masih produktif dan memang secara kebetulan individu tersebut tidak punya masalah kesehatan.

Kebiasaan lama tidur juga bergantung pada usia. Menurut Edo, tidak banyak penelitian yang membahas jumlah jam tidur dengan usia. Edo menjelaskan bahwa lama waktu tidur itu bergantung pada kebutuhan tidur, usia, dan konteks. Ketika bayi, kita butuh waktu tidur lebih panjang sebaliknya ketika dewasa itu kembali pada kebutuhan individu tersebut. Ada lansia yang butuh tidur 7 jam, 8 jam atau 9 jam atau bergantung pada aktivitas kita sehari-hari.

Seiring perkembangan zaman dan kualitas gaya hidup sehat meningkat, bisa saja ada lansia yang banyak beraktivitas olah raga dan aktif sehingga tentu saja membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa muda yang tidak lebih aktif.

Edo menyarankan untuk tidak merasa kecil hati jika di usia 40 tahun punya waktu tidur 9 jam. Bagaimana pun kebutuhan tidur bergantung pada konteks, aktivitas dan ritme biologis individu tersebut. Oleh karena itu, 7-9 jam waktu tidur bukan hal yang mutlak dipercayai.

Mengenai insomnia sebagai gangguan tidur yang populer dikenal banyak orang, Edo menjelaskan berdasarkan kriteria diagnostik dalam ICD 11 – International Classification of Disease – yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) terdapat 3 jenis. Antara lain: (1). susah tidur, yakni kita berusaha untuk tidur padahal kita sudah berada di tempat tidur lebih dari 30 menit; (2). kita merasa sering terbangun saat kita sedang tertidur yang terjadi rutin dan sehingga membentuk pola; (3). Early Awakening, kita pasang alarm untuk bangun jam 9 pagi tetapi kita sudah terbangun di jam 6 pagi.

Edo menceritakan salah satu studi tentang gangguan tidur seperti eksperimen pada tikus. Kelompok pertama dimana kandang tikus tetap terpasang lampu menyala terang. Kelompok kedua justru sebaliknya ketika waktu tikus tidur. Setelah dua minggu, kedua kelompok diperiksa hasilnya.

Kelompok pertama terjadi peningkatan lemak pada tubuh tikus dan risiko kesehatan jantung yang meningkat. Tikus pada kelompok pertama semakin obesitas meskipun kedua kelompok mendapatkan asupan makanan yang sama dengan kelompok kedua. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak baik siklus tidur yang berantakan pada manusia karena itu memberikan risiko buruk pada jantung.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki night shift juga beresiko untuk masalah jantung, hipertensi, dan penyakit lainnya. Hal menarik adalah saran dari penelitian yang menunjukkan bahwa tidur siang juga baik untuk kesehatan jantung kala kita seharusnya beraktivitas di siang hari. Secara pribadi, Edo menyarankan waktu tidur sebaiknya bergantung pada lamanya cahaya matahari.

Program IG Live hadir tiap satu bulan sekali yang ditayangkan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita. Anda bisa follow akun Instagram ruanita.indonesia atau mengirimkan pertanyaan lainnya ke email: info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Mulai Dari Atasi Galau Sampai Kelola Emosi yang Jadi Manfaat Aku Berolahraga Yoga

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku Ecie yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman sejak 2008. Sehari-hari aku masih aktif menjadi mahasiswa dan berbagai kegiatan sosial lainnya di Jerman. Aku ikut kelas Yoga itu pada tahun 2015 gara-gara aku tertarik ajakan seorang teman untuk ikut kelas Yoga, apalagi saat itu aku sedang merasa galau. Aku berpikir punya keahlian baru di perantauan itu bisa membantuku mengalihkan rasa galau. 

Sejak itu, aku mulai berolahraga Yoga. Sebagai pemula aku diajari teknik relaksasi yang bernama Hatha. Ini semacam menggabungkan gerakan yang lembut dan lebih lambat. Sebenarnya ini gerakan stretching yang dulu sering kita lakukan sewaktu kita belajar olahraga di sekolah. Teknik lainnya aku belum bisa menguasai lebih banyak lagi sih. Waktu itu guru kelas Yoga mengajari aku untuk menghindari gerakan-gerakan yang salah dan berbahaya, meski gerakan Yoga tampak mudah. 

Dalam Yoga itu kita harus belajar dulu teknik basic. Kelihatannya gerakan Yoga itu mudah, padahal itu perlu teknik dasar yang harus dikuasai pemula dulu. Jangan terkesan tahu dan segera mencoba sendirian tanpa belajar teknik dasar! Bisa jadi kita salah melakukan olahraga Yoga sehingga malahan membuat kita sakit pinggang atau sakit anggota tubuh lainnya. Karena kejadian seperti ini, orang-orang cenderung jadi malas dan kapok untuk kembali berolahraga Yoga.

Gerakan Yoga yang aku ketahui itu harus lambat dan tidak boleh buru-buru. Jangan tergiur untuk melihat orang yang berhasil membuat pose bentuk tubuh Yoga yang biasa dipamerkan di media sosial! Menurutku, Yoga itu lebih pada gerakan untuk mengatur diri sendiri dan nafas. Saat kita harus memaksakan pose tubuh sendiri, sebenarnya kita harus mengatur nafas. Ini sangat membantu orang untuk tetap rileks terutama buat mereka yang punya gangguan panik atau kecemasan. Kita harus konsentrasi dan tetap menikmati gerakan Yoga.

Aku tidak banyak mengikuti klub/kelas Yoga karena aku pikir Yoga bisa dilakukan dengan mengikuti instruksi yang bisa dilihat di YouTube misalnya. Intinya kita bisa berolahraga Yoga di rumah dan gratis pula. Meski aku sudah tidak ikutan kelas Yoga lagi, aku tetap rutin menjalani Yoga 2-3 kali dalam sehari karena ini membantu aku untuk tidur nyenyak.

Menurutku Yoga itu sangat membantu untuk kesehatan mental. Mengapa? Saat kita melakukan Yoga, kita melatih pernafasan secara teratur dan kita berkonsentrasi atas gerakan yang kita buat. Jadi gak ada waktu tuh untuk overthinking. Bagaimanapun happiness itu ‘kan berasal dari dalam diri sendiri dengan cara menggerakan tubuh seperti Yoga ini. Kita lebih fokus pada tubuh dan diri sendiri, dari pada hal-hal lain yang berasal dari luar diri. 

Yoga itu simple gerakannya. Aku bisa loh sikat gigi dengan tangan kiri sambil melakukan Yoga. Atau aku bekerja di depan laptop sambil jongkok kemudian ditahan begitu sekian menit. Intinya kita harus membuat tubuh itu bergerak sehingga kita merasa happy. Bagaimanapun duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer kan tidak sehat juga. Dengan Yoga, kita bisa melakukan gerakan-gerakan yang mudah untuk membuat tubuh tetap bergerak juga.

Sejauh pengamatanku, Yoga adalah olahraga yang umum di Jerman atau area tempat tinggalku sekarang. Aku mudah menemukan klub atau tempat kursus Yoga atau Pilates karena biasanya olahraga tersebut menjadi bagian dari program asuransi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di Jerman. Ada yang bayar kelas Yoga kemudian nanti reimburse dari asuransinya atau kita bayar 50% dari iuran kelas Yoga tersebut.  

Hal menarik di Jerman kalau kita mau berolahraga dengan harga terjangkau, ada tempat Gym murah meriah “Sport Spaß” yang membuat kita bisa memilih olahraga yang kita sukai, seperti Yoga yang biasa diadakan 2-3 kali dalam seminggu. Olahraga murah meriah ini biasa menjadi aktivitas warga Jerman semisal melakukan olahraga di kebun saat musim panas seperti sekarang ini. Saat aku melihat seperti itu di ruang publik, aku kadang berinisiatif ingin gabung sambil memberitahukan kepada mereka bahwa aku merupakan pemula untuk Yoga. Aku merasa senang bisa berolahraga Yoga bersama orang lain juga.

Musim panas seperti sekarang ini banyak orang-orang di Jerman yang suka melakukan olahraga Yoga di outdoor dan ruang terbuka. Misalnya saja ada loh yang melakukan gerakan Yoga di dalam air atau di atas papan selancar misalnya.

Sebenarnya kenapa Yoga? Aku tuh sudah mencoba olahraga lainnya seperti Surfing dan Panjat. 

Aku cenderung suka olahraga Yoga karena Yoga itu bisa dilakukan di mana saja. Selain itu, aku bisa melakukan Yoga dengan teman-teman, bahkan aku pernah melakukannya di kebun. Atau aku juga bisa melakukan Yoga sendirian. Kalau orang suka berolahraga Yoga, mereka tidak harus punya peralatan dan memang Yoga mudah untuk diikuti. Orang bisa melihat berbagai gerakan Yoga hanya di YouTube misalnya. 

Kalau suka Yoga kadang ada klub atau kelas Yoga dengan harga terjangkau. Seperti di Universitas tempatku studi, Universität Hamburg menawarkan juga kelas Yoga dengan iuran 20€ – 30€ per semester. Lainnya, kalau kita tinggal di Jerman, kita bisa membayar biaya 50% dari iuran kelas Yoga karena 50% biaya lainnya itu ditanggung oleh asuransi. Aku membayar kursus Yoga sekitar 130€ untuk 8 kali pertemuan.

Yoga itu gak butuh peralatan sehingga membuat banyak orang tertarik mencobanya. Untuk teknik Yoga lanjutan, memang kita memerlukan peralatan khusus seperti blok berbahan kayu atau gabus buat penyangga. Kata guru kelas Yoga yang mengajariku alat bantu ini kalau kita belum lentur. Kita bisa mencari alternatif alat bantu lainnya seperti kamus atau buku-buku tebal. Ketimbang kita membeli peralatan Yoga, kita juga bisa pakai alternatif yang ada di rumah seperti bantal, tali, atau selendang yang panjang.  

Oh ya, kalau mau berolahraga Yoga, kita hanya pakai baju yang nyaman saja. Kita juga wajib menyediakan matras atau semacam alas untuk melakukan Yoga. Itu bisa dibeli di banyak tempat di Jerman dengan kisaran harga 10€ – 15€. Kalau kita berolahraga Yoga di tempat seperti kursus atau kelas Yoga biasanya kita bisa mendapat pinjaman matras tersebut.

Memang sih tak mudah untuk menekuni suatu kebiasaan sehat seperti Yoga ini. Kadang aku merasa malas untuk melakukannya atau menundanya hanya karena aku ingin pergi keluar rumah bersama teman-teman lainnya. Tantangannya itu lebih dari diri sendiri sih, bagaimana kita konsisten menekuninya apalagi kita sudah mendaftar dan membayar program Yoga tersebut. Harga program Yoga di ruangan panas itu berbayar 20€ per pertemuan. Sayang sekali jika kita hanya sekedar ikutan tetapi tidak menekuninya. 

Saran aku buat teman-teman yang ingin ikut olahraga Yoga pertama kali adalah ikut saja dulu kursus yang tidak terlalu mahal seperti yang aku tuliskan di atas. Kedua, kita bisa termotivasi untuk konsisten olahraga Yoga kalau ada teman. Nah, ajak saja teman atau kenalan yang bersedia ikut Yoga juga. Lalu ikuti suara hati, apakah Yoga ini adalah olahraga yang cocok atau tidak? Kelas Yoga pemula itu biasanya sekitar 8 kali pertemuan. Selamat mencoba ya teman-teman yang tertarik untuk olahraga Yoga.

Penulis: Ecie, tinggal di Hamburg

(SIARAN BERITA) Peluncuran Buku Bertema Perkawinan Campuran

JERMAN – Ruanita – Rumah Aman Kita bekerja sama dengan Padmedia Publisher di Indonesia telah menyelenggarakan proyek bersama untuk mengumpulkan cerita pengalaman para pelaku kawin campur, yakni pernikahan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Acara pengumpulan naskah sudah dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Semua naskah yang terkumpul ditulis oleh para perempuan asal Indonesia yang tinggal di berbagai lokasi dan negara.

Kisah perkawinan campuran yang tertuang dalam buku bukan hanya bercerita tentang dokumen dan kelengkapan administrasi, melainkan ada kisah-kisah lainnya yang mungkin jarang terdengar di ranah publik.

Cerita integrasi budaya di antara kedua insan manusia dalam biduk rumah tangga tentu menjadi kisah haru biru yang tidak selalu melulu mendatangkan kisah romantis saja, tetapi juga tragis.

Ada kisah tabu tentang pandangan keluarga, pengasuhan anak, pengalaman menjadi orang tua hingga perpisahan ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.

Follow us: @ruanita.indonesia

Ini bukan soal fantasi atau dokumentasi, ini adalah kisah yang menginformasi dan menginspirasi. Begitu penjelasan Anna Knöbl selaku Koordinator Tim Buku yang berbicara tentang proyek penerbitan buku ini.

Di tengah meningkatnya mobilisasi dan migrasi, bukan tidak mungkin angka pernikahan kawin campur bertambah. Angka ini belum tentu diiringi oleh bekal yang cukup untuk mengetahui seluk beluk budaya, komunikasi hingga hukum yang kerap menjadi pemicu dalam berumah tangga. Ada saja kasus di mana perempuan bingung menempatkan dirinya saat minimnya informasi dan bahasa yang dimilikinya di mancanegara.

Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.

Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.

Oleh karena itu, RUANITA telah menggagas dua kali Diskusi Virtual jelang peluncuran buku yang membahas tema seputar perkawinan campuran. Pada akhirnya buku berjudul Cinta Tanpa Batas ini telah terbit pada akhir April 2022 dan sudah mulai didistribusikan.

Sejalan dengan hal tersebut, RUANITA menggelar peluncuran buku secara daring yang diadakan pada hari Minggu, 19 Juni 2022 jam 10.00 waktu Eropa Tengah atau jam 15.00 WIB.

Dalam kesempatan tersebut, RUANITA mengundang Wakil Ketua DWP KBRI Berlin – Tenny Edison – yang memberikan pengantar tentang problematika yang dihadapi perempuan Indonesia di luar negeri, terutama di Jerman. Sebagai informasi, buku Cinta Tanpa Batas ini telah ditulis oleh 7 perempuan asal Indonesia yang saat ini bermukim di Jerman.

Selanjutnya, RUANITA juga menghadirkan Ketua Komnas Perempuan Indonesia – Andy Yentriyani – yang memberikan tanggapan atas terbitnya buku bertema perkawinan campuran. Acara satu jam ini diharapkan dapat menjadi media konstruktif untuk membangun solidaritas perempuan Indonesia di mana saja, tidak hanya soal isu perkawinan campuran.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi: info@ruanita.com

Untuk mengikuti kliping berita kami, sila buka tautan yang diberikan.

(CERITA SAHABAT) Ini Penyebab Gangguan Tidurku

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku X yang sekarang sedang bergulat mencari pekerjaan kedua di negeri, tempat aku menempuh studi Pascasarjana. Boleh dibilang aku cukup beruntung mendapatkan pekerjaan pertama setelah aku menyelesaikan studiku di benua biru ini. Apa daya aku tidak betah di kota yang menjadi lokasi kantor pekerjaan pertama, sehingga aku putuskan kembali ke kota asal aku menempuh studiku.

Berbicara soal gangguan tidur, ini bukan hal baru untuk diceritakan. Banyak teman-teman dekatku paham bagaimana aku kesulitan tidur kala aku sendirian, justru aku bisa tidur ketika ada teman yang menemani aku. Aneh memang!

Aku berpikir gangguan tidurku akan muncul kala aku stres dan banyak pikiran. Misalnya dulu aku mengkhawatirkan diriku yang belum lulus studi sementara teman-temanku sudah melanjutkan jenjang pendidikan lanjutan atau menempuh studi Pascasarjana lainnya. 

Kecemasan soal lulus studi tersebut membuatku overthinking. Aku pernah mencoba untuk mengatasi kecemasan dan persoalan gangguan tidur ini ke Psikolog saat aku sedang berlibur ke Indonesia tetapi itu seperti berhenti sesaat. Entah mengapa aku nggak bisa mengendalikan pikiran-pikiran yang berkeliaran dalam kepalaku.

Overthinking-ku semakin parah ketika aku kehilangan ayahku yang telah tiada. Beliau meninggal karena penyakit Kanker Prostat. Selama aku di Indonesia, aku berkesempatan merawat ayahku. Aku berjaga di tengah malam kala ayahku merintih kesakitan. Tak jarang aku membawa ayahku ke rumah sakit di tengah malam.

Pola tidur yang berantakan saat merawat ayahku plus kekhawatiran akan hidupku seperti kelulusan membuatku terus berpikir saat aku hendak tidur. Aku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan tidur. Di negeri yang aku tempati tersedia teh dari tanaman untuk mengatasi gangguan tidur. Sepertinya itu tidak bekerja.

Aku punya adik dan kenalan yang bekerja di dunia medis. Aku sudah bertanya bagaimana cara praktis mengatasi gangguan tidur. Semua tips yang mereka sarankan telah aku coba. Contohnya, aku harus membuat badanku lelah sehingga aku lebih mudah tidur. Namun hasilnya itu hanya sesaat saja.

Aku berusaha menggali apa penyebab overthinking yang kualami. Aku terlalu berlebihan tentang penyakit kanker yang diderita ayahku. Aku begitu khawatir kalau aku ‘kan mendapatkan penyakit kanker Prostat seperti ayahku, padahal itu tak mungkin karena aku adalah perempuan.

Kekhawatiran berlebihan dalam gaya hidup dan makanan juga sangat berpengaruh setelah ayahku tiada. Aku benar-benar picky terhadap makanan yang kusantap. Aku bisa memikirkan bagaimana pembuatan makanan tersebut sehingga aku tidak mengambil makanan tersebut.

Hal yang berlebihan juga tampak ketika aku memilih semua peralatan masak hanya terbuat dari metal, untuk menghindari alat masak dari plastik. Kecemasan berlebihan ini sekarang sudah mulai berkurang karena banyak orang telah meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja dan tak perlu overthinking.

Aku sendiri telah mencoba membuat jadwal konseling dengan Psikolog di negeri tempatku studi, ternyata aku harus menunggu hingga berbulan-bulan. Lalu aku mendatangi praktik dokter umum untuk bisa merekomendasikanku ke ahlinya saat aku membahas gangguan tidur. Dokter bilang aku baik-baik saja.

Ya begitulah gangguan tidurku itu bisa datang dan pergi. Saat waktu konselingku datang, tiba-tiba semua terasa baik-baik saja. Aku mencoba segala cara untuk bisa tidur nyenyak sesuai anjuran medis tetapi aku kadang tidak bisa mengendalikan pikiranku saat tidur.

Aku mencoba konsisten dengan waktu tidurku, tetapi aku tak bisa menolak ketika ada waktu berkumpul dengan teman-teman yang membuatku begadang dan baru tidur pagi hari. Sampai sekarang aku masih berusaha mengatasi gangguan tidurku.

Penulis: X, sedang mencari pekerjaan di perantauan

(CERITA SAHABAT) Ketika Dulu Tubuhku Jadi Bahan Candaan

Ini membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka. Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercanda.

Jika kalian bertanya pada teman-temanku di Indonesia (SD, SMP, SMA, teman gereja) apa yang paling mereka ingat tentangku selain karakterku? Aku yakin diantaranya akan bilang tentang jidatku yang lebar. Lainnya bilang aku nonong atau jenong. Aku masih ingat dengan jelas bahwa seumur hidupku hingga aku pindah ke Jerman, hal itu atau istilah itu tidak pernah lepas dariku. 

Percayalah, aku tak pernah sakit hati karena panggilan atau ejekan atau candaan itu, karena nyatanya memang jidatku lebar. Meskipun seiring berjalannya waktu panggilan-panggilan itu berkembang menjadi: lapangan terbang, lapangan sepak bola, mirip megamind, dan sebagainya.

Ketika mereka bercanda akan selalu ada imbuhan tentang “jidatku” itu di akhir kalimat mereka. Seumur hidupku pula tak pernah aku mendengar, baik teman, sahabat atau keluarga yang memberikan pujian terhadap fisik atau penampilanku. Sekedar kamu cantik saja tak pernah mereka katakan sehingga aku terbiasa dengan itu semua. Aku menganggap itu adalah hal biasa.

Hingga akhirnya di tahun 2020, dikarenakan kondisi kesehatan mentalku yang menjadi sangat tidak terkendali, aku harus mengonsumsi obat anti depresi yang memiliki efek samping terhadap perubahan hormon dan nafsu makanku. Akibatnya hanya dalam 1.5 bulan saja, berat badanku naik 13 kilogram.

Sebuah perubahan yang sangat ekstrim bagiku. Selama 4 bulan pertama aku sangat kesulitan untuk menerima perubahan bentuk tubuhku. Aku selalu merasa sangat gemuk. Aku terlihat aneh dan bantet.

Sepanjang waktu atau setiap kali aku melihat timbangan, aku selalu mengomel dan kesal dengan diriku sendiri. Hal ini adalah hal baru bagiku. Seumur hidup aku tak pernah bisa relate dengan apa yang perempuan-perempuan lain keluhkan seperti perut berlipat atau lipatan lemak yang muncul di sana-sini yang bisa membuat tidak percaya diri. Saat itu, akhirnya aku mengalaminya. 

Menariknya adalah sejak tubuhku berubah aku mendapatkan begitu banyak compliment. Bahwa aku sangat cantik, tubuhku menarik, ini, dan itu sampai membuatku risih. Aku tidak biasa mendengar seperti itu. Tidak pernah aku mendapatkan pujian seperti itu di mana teman-temanku di sini terus menerus memuji setiap bertemu.

Bahkan mereka di sini iri dengan badanku sekarang. Aneh sekali rasanya. Hal itu sama sekali tidak membuatku besar kepala justru risih sekali. Selalu kujawab, “Apaan sih!”, “Halu lo!” atau “Ah, you just wanna make me happy.”

Salah satu temanku dan pacarku pun mengaku sedih mendengarkan jawabanku. Bagi mereka, aku benar-benar cantik dan menarik. Sedih rasanya bagi mereka ketika mereka mendengar reaksiku. Namun, apa boleh buat. Ini pun hal yang aneh bagiku. Aku tidak terbiasa dengan pujian itu.

Namun, karena pujian-pujian yang kudengar pertama kalinya dalam hidupku ini ternyata membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, baik teman-teman Indonesiaku, pacarku, teman-teman, kenalanku orang asing, orang Jerman maupun pria-pria asing yang aku pernah dekat pun, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka.

Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercandaan. Kok bisa? Mungkin kebanyakan orang di Indonesia punya poni yang bisa menutupi dahi mereka, sedangkan aku tidak. Mungkin punya jidat yang lebar bukan hal yang umum di Indonesia.

Namun percayalah, di Jerman semuanya berjidat lebar adalah hal biasa. Untuk perempuan mengikat rambutnya ke belakang model ponytail dan tidak akan ada yang bilang, “Kamu tuh sudah tahu jidatnya lebar, mbok ya jangan dikucir begitu!” Yang mana kalimat ini sering kudengar dulu.

Lama-kelamaan aku bisa menerima tubuhku yang sekarang. Aku bisa menerima dan menghargai pujian yang kuterima. Aku memang jauh lebih cantik sekarang, terlihat jauh lebih sehat, dan bahagia dibandingkan saat aku di Indonesia dulu. Ah, mungkin makanya aku tak pernah mendapatkan pujian apapun tentang fisikku seumur hidupku, karena dulu aku memang terlihat tidak menarik sama sekali. Hahaha. 

Lucunya, aku sekarang malah jijik kalau melihat foto-foto lamaku di Indonesia dan sekarang jadi khawatir kalau kelihatan sedikit lebih kurus. Hahaha. Begitulah manusia, tidak pernah puas. Namun yang mungkin harus digaris bawahi lagi adalah mengapa di sini aku tak pernah mendengar candaan atau panggilan tentang jidatku yang lebar atau bentuk fisikku yang lain dibandingkan di Indonesia? Jawabannya? Silakan direnungkan sendiri:) 

Penulis: Nisyma, tinggal di Jerman

(IG LIVE) Penting Bangun Dukungan Sosial Untuk Orang dengan Skizofrenia

NORWEGIA – Dalam rangka Hari Skizofrenia Seduia yang jatuh tiap 24 Mei, Sabtu (28/5) Ruanita kembali menggelar diskusi virtual IG Live dengan mengusung tema ‘Membangun Dukungan Sosial Bagi Orang dengan Skizofrenia’. Lewat akun @ruanita.indonesia, Atika sebagai pemandu diskusi dari tim Ruanita mengundang Yohanes Herdiyanto selaku akademisi & aktivis kesehatan mental untuk berbagi perspektif baru dalam membangun solidaritas bagi mereka yang hidup dengan skizofrenia. 

Adapun skizofrenia adalah kondisi mental yang bermanifestasi pada masalah kognitif, perilaku dan emosi, serta ditandai dengan munculnya gejala yang bervariasi berupa delusi, halusinasi, dan bicara tidak teratur yang mengakibatkan gangguan kemampuan untuk berfungsi. Di awal diskusi, Yohanes Herdiyanto atau yang kerap disapa Kak Hendi menjelaskan bahwa kondisi skizofrenia ini muncul dalam range yang luas dan beragam, seperti ada orang yang mengalami gejala ringan saja karena mungkin sudah rutin minum obat, namun ada juga mereka yang mengalami gejala parah karena mungkin tidak pernah atau tidak rutin diobati. Yang harus diperhatikan adalah baik itu orang dengan skizofrenia maupun keluarganya harus ditolong, jangan sampai dikenakan stigma seperti kondisi skizofrenia disebabkan karena keturunan atau karena karma buruk dari masa lalu. Mengalami skizofrenia saja sudah berat, jangan lagi ditambah dengan stigma negatif.

Atika menuturkan beberapa persepsi keliru yang muncul di masyarakat awam tentang orang dengan skizofrenia (ODS), salah satunya adalah berkepribadian ganda. Persepsi keliru ini turut andil dalam melahirkan reaksi yang keliru dari kebanyakan orang dalam menghadapi ODS maupun keluarga yang mengurusnya. Menurut Kak Hendi, salah satu fenomena yang kerap ditemukan di Indonesia adalah gelandangan psikotik; biasanya mereka adalah ODS yang kabur dari keluarganya atau tidak lagi punya keluarga yang mengurusi, sehingga mereka hidup di jalanan dengan mengais-ngais makanan.

Secara garis besar jika kita hendak membantu, menurut Kak Hendi yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah mengamati apakah ODS tersebut membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti membawa benda tajam atau berperilaku agresif. Kalau mereka tidak membahayakan, bisa kita coba tolong dengan memberikan makanan dan minuman, atau membantu menghubungkan mereka ke lembaga-lembaga yang dapat membantu memberikan perawatan kepada mereka.

Fenomena lain yang lahir dari persepsi keliru adalah pemasungan ODS, baik itu dengan dirantai atau dikurung di kamar yang intinya untuk membatasi ruang gerak. Biasanya pasung ini banyak dilakukan oleh keluarga sendiri karena adanya kekhawatiran bahwa ODS tersebut bisa kabur dari rumah lalu berperilaku agresif seperti memecahkan jendela atau menyerang orang lain.

Bisa juga karena saat semua anggota keluarga harus bekerja maka tidak ada yang bisa mengawasi ODS tersebut sehingga kemudian dipasung. Pemasungan yang terlihat ekstrem ini menurut Kak Hendi biasanya bukanlah dilandasi atas kebencian, melainkan lebih karena kepedulian dan kekhawatiran keluarga akan kondisi ODS yang mereka urus. Yang disayangkan adalah kurangnya edukasi bahwa orang yang dipasung tersebut seharusnya diobati, karena jika tidak diobati, kondisinya akan selalu kumat terus dan tidak bisa lepas dari pasungan. 

Terkait dengan informasi seputar pengobatan, Kak Hendi menjelaskan bahwa keluarga ODS dapat mencari informasi pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Jikalau masih terbentur stigma dalam upaya mencari bantuan medis, di beberapa kota besar di Indonesia sudah ada komunitas yang didirikan oleh keluarga ODS dan professional kesehatan jiwa yang saling mendukung dengan memberikan informasi perawatan dan pengobatan untuk ODS. Salah satu komunitasnya adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang sudah ada di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Untuk mengakses obat psikotik dan pelayanan kesehatan jiwa sudah bisa dilakukan di puskesmas level kecamatan, dan nantinya bisa juga dirujuk ke beberapa rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Di tingkat desa pun ada kader kesehatan jiwa yang dibantu oleh perangkat desa maupun Babinsa (bintara Pembina desa) untuk membantu evakuasi ODS yang dipasung atau ODS yang mengamuk karena psikotik ke rumah sakit jiwa. Mengenai biaya pengobatan, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah punya sistem untuk perawatan kesehatan jiwa. Bagi ODS yang memiliki BPJS penerima subsidi pemerintah maupun membayar sendiri sudah bisa gratis mendapatkan obat.

Kak Hendi menekankan bahwa ODS harus rutin mengonsumsi obat untuk kondisi psikotiknya, jangan sampai terputus kecuali kalau ada rekomendasi dari dokter untuk mengganti jenis obat.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekat ODS, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengawasi, mengingatkan dan menyemangati ODS agar rutin berobat. Kak Hendi menjelaskan tiga pilar pengobatan skizofrenia yang perlu dipahami:

  1. Treatment farmakologi. Ini adalah tahap utama dalam mengobati kondisi skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi ketidaknormalan dalam sistem saraf yang menyebabkan berlebihnya aktivitas hormon dopamine di otak dan menyebabkan gejala-gejala psikotik. Obat-obatan anti-psikotik membantu menekan aktivitas hormon dopamine dan mengontrol gejala psikotik.
  2. Upaya psikoterapi dari psikiater dan psikolog.
  3. Dukungan psikososial untuk melatih ODS kembali ke masyarakat seperti untuk bekerja, punya usaha sendiri, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat dan kegiatan vokasional lainnya. Kak Hendi juga menekankan bahwa keluarga ODS tetap menjadi tonggak penting dalam membantu pemulihan ODS dan mengawasinya agar rutin mengonsumsi obat. 

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalamanku Urus Ibu dengan Skizofrenia di Jerman

Sahabat RUANITA, namaku David (=bukan nama sebenarnya). Aku tinggal di Jerman. Aku tidak bisa bercerita banyak tentang pengalamanku dengan ibuku yang mengalami Skizofrenia karena aku sempat hilang kontak dengan beliau lebih dari dua puluh tahun. Aku senang bisa berbagi cerita ini agar bisa dipahami bahwa orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kita perlu menghargai mereka sebagai pribadi yang membutuhkan penanganan yang benar dan ahli, bukan memasungnya.

Menurutku, apa yang dialami oleh ibuku adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai anak, aku hanya melihat ibuku mengalami sesuatu yang janggal. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya melihat bagaimana usaha ayahku untuk menyembuhkan ibuku. Ya, kita dapat mengobati gejala-gejala yang dialami ibuku, tetapi sebenarnya itu tidak menyembuhkan penyakitnya. Sampai sekarang, para ahli masih meneliti bagaimana pengobatan yang tepat untuk menyembuhkannya. 

Aku benar-benar tidak mengenali dengan tepat, bagaimana awalnya ibuku mengalami Skizofrenia. Jika dikatakan orang dengan Skizofrenia tidak menjaga kebersihan diri, itu benar. Kita perlu energi yang besar untuk mengusahakan kebersihan orang dengan Skizofrenia. Selain itu, aku melihat ibuku tidak ada kontak mata. Itu mungkin tidak sering, tetapi aku bisa merasakan tidak ada kontak mata. Menurut pengalamanku, saat depresi, dia mungkin benar-benar tidak ada ekspresi wajah.

Pendapatku kita tidak bisa menyamaratakan gejala-gejala orang dengan Skizofrenia. Kita tidak dapat menggeneralisasikan bahwa orang dengan Skizofrenia itu semua sama seluruh dunia. Itu sama seperti sakit flu dan batuk. Ada yang mengalami hanya batuk saja atau flu saja, hanya karena dia mengalami demam. Bagiku, setiap orang itu berbeda dan penyakitnya berbeda pula. Demikian pula dengan orang dengan Skizofrenia. 

Aku hanya bisa meyakini apa yang dialami ibuku sebagai pemikiran tidak rasional. Apa yang tampak tidak rasional bagi semua orang, tetapi tidak bagi orang dengan Skizofrenia. Kadang ibuku terjebak dalam hal sepele yang tidak penting. Mungkin itu yang membuat orang di sekitarnya sebagai social support merasa kelelahan menangani orang dengan Skizofrenia.  

Mungkin sudah ada berbagai penyakit yang kita temukan, tetapi masih banyak penyakit yang belum kita temukan. Bagaimana pun pikiran manusia begitu kompleks seperti Skizofrenia yang sampai sekarang belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, kita perlu berabad-abad untuk memahami semuanya sepenuhnya.

Salah satu faktor yang mendukung kesembuhan Skizofrenia adalah dukungan sosial seperti keluarga. Keluarga sangat toleran terhadap ibuku. Kami telah berupaya untuk membantu kesembuhannya. Ibuku pernah memutuskan kontak dengan kami sebagai keluarganya. Dia harus mengonsumsi obat agar penyakitnya tidak kambuh lagi. 

Namun aku sadar bahwa penyakit ibuku kambuh lagi. Aku tidak tahu mengapa. Aku menduga kalau ibuku telah mengurangi dosis obat yang diberikannya.  Ibuku ingin sekali menurunkan berat badannya sehingga dia menurunkan dosis obat tersebut. Tentu saja, fungsi pil yang diminumnya itu menjadi kontraproduktif. Hanya karena dia ingin menurunkan berat badannya, maka gejala yang dialami ibuku kambuh lagi. Kami belum mendengar kabar terbarunya lagi selama hampir satu tahun. Kami juga tidak tahu apakah dia baik-baik saja sekarang atau tidak.

Ada hal yang saya tidak suka dari kebijakan pemerintah Jerman di sini tentang aturan minum obat oleh pasien. Kami sebagai keluarganya ingin agar ibuku segera sembuh dan pulih dengan minum obat secara rutin. Namun, peraturan di sini cukup jelas bahwa dia minum obat kalau dia mau dan sepanjang orang dengan Skizofrenia tidak menyakiti dirinya sendiri atau menyerang orang lain. Bahkan seorang dokter pun tidak dapat melakukan apa pun. Kami sebagai keluarga pun tidak berdaya, jika ibu bersikap seperti itu. Kami hanya bisa duduk dan menunggu hingga ibu sadar. Kami sebagai keluarga tidak bisa berbuat apa pun. Kami juga tidak bisa mengikatnya yang mungkin kami dengar dari kasus-kasus lainnya. 

Mengenai stigma orang dengan Skizofrenia, kami sadar bahwa itu masih terjadi di masyarakat. Bagiku, orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kami bisa memaklumi jika ibuku mengatakan hal yang menyakitkan, karena kami tahu bahwa dia tidak bermaksud begitu. Menurutku, kita harus peduli dan menaruh perhatian terhadap orang dengan Skizofrenia. Kita bisa melibatkan mereka, jika dia mau dan menginginkannya. Kita bisa membawa dia, mungkin dia akan sadar. 

Sebagai penutup, aku hanya ingin menyampaikan pentingnya kampanye skala besar untuk memerangi stigma sosial yang masih melekat pada orang dengan Skizofrenia. Bagaimana pun orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga dan mereka tidak bermaksud buruk/jahat. Kita perlu memberikan dukungan sosial demi kesembuhan mereka. 

Penulis: David, tinggal di Jerman

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Kalau Mau Datang ke Swedia

Sahabat RUANITA, adakah yang ingin datang untuk bekerja, berkuliah atau membangun hidup baru di Swedia?

Swedia adalah negeri yang kecil yang aman dan juga nyaman loh. Begitu pendapat Nada Danielsson, yang pernah menjabat sebagai Chairwoman Swedish Indonesian Society atau perhimpunan warga Indonesia yang bermukim di Swedia.

Nada berbagi pendapatnya tentang tinggal dan menetap di Swedia yang sudah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun lebih.

Bagaimana pun tak banyak orang Indonesia memahami bagaimana budaya dan kebiasaan orang Swedia sebenarnya. Misalnya lelucon tentang bentuk tubuh sebagai percakapan sehari-hari ternyata adalah hal tabu loh untuk diucapkan.

Nada berpesan juga kalau mau datang ke Swedia kepada para perempuan, bahwa sebaiknya tidak hanya sekedar jadi ibu rumah tangga saja loh. Alasannya?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Begini Rasanya Pacaran Beda Kultur

Sahabat RUANITA, episode ketiga kali ini dibawakan oleh Nadia dan Fadni dengan tema: Pacaran Beda Kultur. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi Master di Jerman, Nadia dan Fadni membeberkan berbagai pengalaman dan pendapatnya selama tinggal di Jerman. Tentu pacaran beda kultur bukan hal yang mudah dihadapi, apalagi budaya masih dipandang sebagai hal yang essential.

Menempuh pendidikan atau sedang menjalani pekerjaan di negara perantauan kerap dihadapkan pada pilihan asmara yang sulit, terutama jika itu menyangkut nilai-nilai, prinsip hidup, keyakinan agama hingga tradisi yang berbenturan dengan pacar yang baru saja dikenal. Nah, bagaimana pengalaman menghadapi pacaran beda kultur di masa-masa studi di mancanegara?

Penasaran dengan cerita mereka? Sila simak Podcast episode ke-3 di saluran RUMPITA: Rumpi bersama RUANITA.

(CERITA SAHABAT) Perlakuan Buruk Keluarga Suami Tak Buatku Gentar di Negeri Orang

Keluarga ideal menurutku adalah ketika aku bisa menikah dengan pria yang berhasil memberi kebahagiaanku dan kedua anakku selanjutnya tanpa campur tangan pihak manapun. Setelah aku bercerai dengan suami pertamaku asal Indonesia, aku berkenalan dengan banyak pria warga negara asing lewat media sosial. 

Pencarianku berujung pada pria asal Turki yang bersedia menjadi Imam buatku. Dia mengatakan serius menjalani hubungan denganku setelah kami bertukar kontak nomor WhatsApp. Dua bulan kemudian aku mendapatkan hadiah seperti baju-baju dan sepatu setelah dia meminta alamatku di Indonesia.

Delapan bulan kemudian kami menikah siri di Indonesia setelah dia datang ke Indonesia dan berani meminangku di hadapan keluargaku. Aku pun bersedia menjadi istrinya. Setiap bulan dia mengirimkan nafkah untukku di Indonesia. Setahun kemudian, dia memintaku datang dan tinggal bersamanya di Turki.

Aku pun menyanggupi permintaannya untuk tinggal bersamanya, hanya saja kami tinggal bersama ibunya. Suamiku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Awalnya aku merasa tak betah karena sering cekcok dengan ibu mertua, tetapi suami tidak bisa berbuat apapun, apalagi suami masih kesulitan membiayai hidup kami kalau kami pindah rumah.

Ibu mertua sering melarangku melakukan ini dan itu. Aku tak boleh memasak makanan khas negeriku sendiri, alasannya membuat bau atau aku harus berhemat dengan makanan yang sebenarnya aku tak suka. Aku dilarang bekerja karena perempuan bekerja itu membuat aib bagi keyakinan keluarga mereka. Aku tak boleh keluar rumah, hanya di rumah saja.

Masalah dengan ibu mertua adalah hal biasa di Indonesia, tetapi bagaimana menantu akan tahan kalau aku sering dijelek-jelekkan di depan keluarga suami. Salahku memang karena aku tak mengerti Bahasa Turki. Kadang mereka berbisik seperti membicarakanku. Jujur aku pernah tidak tahan lagi dan kabur dari rumah.

Sejak aku berani menyatakan pendapatku kepada suamiku, aku putuskan untuk bekerja. Kebetulan aku mendapatkan penghasilan sendiri dengan menjaga toko. Dari pekerjaan ini, aku bertemu banyak orang Indonesia.

Aku merasa tidak bahagia dengan perlakuan keluarga suamiku. Pernah terjadi pertengkaran hebat antara aku dengan suamiku, ibu mertua malah menyuruh suamiku bercerai dariku. Ibu mertua yang aneh, kerap ikut campur dalam rumah tangga kami. Ibu mertua ingin tahu segala hal, termasuk berapa jumlah uang yang diberikan suami kepadaku. 

Tak hanya ibu mertuaku saja, saudara-saudara dari pihak suami juga mendukung perceraianku dengan suami. Aku tak khawatir bercerai karena aku telah berhasil mendesak suamiku mencatatkan pernikahanku di Turki juga. 

Pekerjaanku di toko membuatku berkenalan dengan banyak orang seperti bagaimana aku harus paham tradisi dan hukum perkawinan di Turki. Aku juga terus belajar Bahasa Turki agar aku mengerti apa yang mereka bicarakan tentangku.

Penulis: Mawar, tinggal di Turki.

(DATA) Peserta Kartini Virtual 2022 dari 14 Negara di Eropa

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual.

Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

1. Belanda

Nama Iis Bierbooms

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Pivo Dirvos

Youtube: Pivo Dirvos Holland

Nama usaha Raden Ayis

Lama berwirausaha Lebih dari 10 tahun

2. Jerman

Nama: Aryani Willems

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Instagram: umamidori

Nama usaha: Women Circle dan Energy Healer

Lama berwirausaha 14  Tahun (sejak 2004)


Nama: Dyah Sri Ayoe Rachmayani Narang-Huth

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Dyah Narang-Huth, IKAT-Indonesisches Kultur Agentur Team

Instagram: Dyah Narang-Huth, IKAT Sprachenwerkstatt

YouTube: IKAT Sprachenwerkstatt

Website: www.ikatagentur.com dan www.ikatsprachenwerkstatt.com 

    Nama usaha 

    IKAT – Indonesisches Kultur Agentur Team

    IKAT Sprachenwerkstatt

Lama berwirausaha 19 Tahun (sejak 2003)


Nama: Yanti

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Yanti Contiffy

Instagram: Contiffy

website: balishanti.de

    Nama usaha 

    Bali Shanti Massage Praxis

Lama berwirausaha 9 Tahun 

3. Denmark

Nama Dewi Damanik Nielsen

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Dewi Damanik Nielsen

Instagram: dewinielsenphotography

Website: https://marriedindenmark.com dan https://dewinielsen.com/blog 

Nama usaha Married in Denmark dan Dewi Nielsen Photography

Lama berwirausaha 5 tahun


Nama: Seruni Petersen (Momou) 

Nama akun media sosial:

Facebook: Seruni Petersen 

Instagram: Lombok.indonesiskmad)

Nama usaha : Mofomofa Lombok.Indonesiskmad ( Rumah Indonesia )

Lama berwirausaha : 2014

4. Prancis

Nama Eka MONCARRE 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

FB : @House of Indonesia Paris / La Maison De L’Indonesie

IG : lamaisondelindonesieparis

Youtube : La Maison De L’Indonesie

Linkedin : https://www.linkedin.com/in/ekamoncarre/

Nama usaha La Maison De L’Indonesie

Lama berwirausaha 27 tahun 


Nama Lien Wulandari 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook Tasna Ambu

Instagram Tasna Ambu

YouTube: Tasna Ambu

Nama usaha Tasna Ambu 

Lama berwirausaha 2 tahun 


Nama Ruth Susiani Ginzburg (Indiathi) 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Ruth Indiathi 

Instagram: indiathiruth

YouTube: Ruth Indiathi

Website:  www.levillagebalinais.com 

Nama usaha: Le Village Balinais

Lama berwirausaha 20 tahun 

5. Swiss

Nama Fitri Handayani Wehrli 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Instagram:fitri_rolfwehrli

Nama usaha: Toko Nusantara mamaflo ch

Lama berwirausaha 2 tahun

6. Italia

Nama Amelia Rachim 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Instagram: ameliarachim

    Website: www.ameliarachim.com

    YouTube: www.youtube.com/ameliarachim

Nama usaha:  Amelia Rachim Jewelry Design 

Lama berwirausaha:  13 tahun

7. Spanyol

Nama

Ajeng Pratitie, Mariena Maagdalia & Data Titianda

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook dan Instagram:  tempehjava 

    LinkedIn: BeanBased 

Nama usaha BeanBased 

Lama berwirausaha 1 tahun

8. Hungaria

Nama: Hayati Surjono

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Surjono Hayati (Facebook)

    Szulcsan Hayati (Instagram)

    Duna Szécsi Apartman Budapest

Nama usaha Duna Szécsi Apartman Budapest

Lama berwirausaha 6 tahun 

9. Yunani

Nama: Sofi

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook Fanpage: Warung Jawa Mini Market   

    – Indonesian Market

    Nama usaha: Warung Jawa

Lama berwirausaha 12 tahun 

10. Swedia

Nama: Erna

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Fanpage Facebook: Erna’s Bistro

    Instagram: ernasbistro

Nama usaha Erna’s Bistro

Lama berwirausaha 12 tahun 

11. Norwegia

Nama: Jossy Josephine 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook: Josephine Nordeide

    Fanpage Facebook: warungpojok.norway

    Youtube: Indonesian in Norway 

    Website:https://www.warungpojok.no

    Instagram:  jossiejosephine

Nama usaha Josephine Servering AS 

Lama berwirausaha 1 tahun 

12. Belgia

Nama: Hasti Ruli

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook Fanpage: Indo Eropa

Nama usaha Indo Eropa

Lama berwirausaha 13 tahun 

13. Polandia

Nama Yeti Yolanda

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook: Toko Beta

    Website www.tokobeta.pl

Nama usaha Toko Beta

Lama berwirausaha 1 tahun 

14. Inggris

Nama:  Enggi Holt

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook page: Enggi’s Kitchen

    Instagram: enggiskitchen

    Website: http://www.enggiskitchen.com

Nama usaha Enggi’s Kitchen

Lama berwirausaha: 7  tahun


Nama:  Shally Amanda Gustafson 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Shally Tria Amanda-Gustafson#

Instagram: shally3amanda

Youtube: Shally Gustafson

Nama usaha: Pekerja seni dan film

Domisili negara:  Inggris


Tim Dapur Konten mengapresiasi partisipasi teman-teman perempuan tersebut yang telah bersedia berbagi informasi dan pendapatnya dalam rangka perayaan Kartini Virtual 2022.

(KARTINI VIRTUAL 2022) Polandia: Yeti Yolanda

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama: Yeti Yolanda

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook: Toko Beta

    Website: www.tokobeta.pl

Nama usaha: Toko Beta

Domisili negara: Polandia

Lama berwirausaha: 1 tahun 

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!

Yang di ingat Hari Kartini di Indonesia adalah bagaimana perempuan Indonesia sudah banyak memegang peranan penting di berbagai sektor industri, kedudukannya setara dengan kaum pria. Perempuan tidak hanya di dapur, tetapi mereka juga bisa bersekolah lebih tinggi dan bekerja.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini? 

Kartini masa kini adalah Kartini yang memiliki pola pikir yang maju,disertai perkembangan zaman dan mampu memberikan inspirasi untuk perempuan-perempuan Indonesia yang lain.

Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Ayo, mari kita sama-sama belajar untuk menciptakan lapangan kerja!

(KARTINI VIRTUAL 2022) Inggris: Enggi Holt

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama:  Enggi Holt

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook page: Enggi’s Kitchen

    Instagram: enggiskitchen

    Website: http://www.enggiskitchen.com

Nama usaha Enggi’s Kitchen

Domisili negara:  Inggris

Lama berwirausaha: 7  tahun 

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!

Saya mengingat sewaktu kecil, perayaan kartini lebih kepada perayaannya dalam arti, waktu itu sering memakai kebaya ke sekolah.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?

Sosok kartini pada masa kini perlu, menurut saya adalah perempuan yang bisa lebih mengekspresikan diri.


Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Jangan pantang menyerah, karena tantangannya sangat besar!