(RUMPITA) Suasana Natal dan Liburan Telah Tiba

Pada episode Podcast – RUMPITA – bulan Desember 2022 membahas tentang liburan yang mulai terasa di Jerman karena sudah memasuki akhir tahun. Suasana akhir tahun di negeri empat musim memang terasa romantis, apalagi cuaca di Jerman kali ini memang sedang dihujani salju dan suhu yang dingin sekali.

Celoteh Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa di Jerman diawali dari pengalaman mereka membayangkan liburan di negeri empat musim seperti film dan buku yang mereka baca saat masih di Indonesia. Fadni menceritakan bagaimana orang-orang Jerman merayakan Advent sebagai tradisi jelang Natal.

Meskipun Nadia dan Fadni tidak merayakan Natal tetapi mereka berdua mampu menceritakan dengan baik pengalaman mereka tentang keseharian orang Jerman mempersiapkan hari raya tersebut. Bahkan Nadia bisa membedakan bahwa tiap region di Jerman punya kebiasaan berbeda saat memikmati momen makan malam 24 Desember tersebut.

Nadia yang tinggal di Jerman belahan utara berpendapat masyarakat di sekitarnya biasa menyiapkan ikan. Fadni berpendapat di Berlin biasanya menyiapkan bebek untuk keluarganya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Selain merayakan Advent, dekorasi Natal seperti pohon Natal mulai dijajakan di supermarket. Nadia dan Fadni yang memulai tinggal di Jerman saat di Studienkollege, merasakan bagaimana suasana gembira dirayakan orang-orang di Jerman di sekitarnya. Natal di Jerman.

Cerita Nadia dan Fadni yang menceritakan bagaimana mereka beradaptasi dengan tradisi orang-orang Jerman seperti Adventkalender, Nikolaustag, Sinterklas, Pohon Natal dan Tukar Kado. Fadni pun menjelaskan bagaimana budaya anak-anak di Jerman menantikan Sinterklas jelang Natal.

Bagaimana cerita mereka berdua mengamati tradisi orang-orang Jerman? Simak yuk dalam Podcast berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kiat Mahasiswi Indonesia di Turki Hadapi Inflasi

Cerita Sahabat Spesial episode Desember 2022 ini mengangkat tema kehidupan mahasiswa asal Indonesia di luar negeri. Sebagaimana kita ketahui kalau saat ini dunia sedang dilanda inflasi, termasuk negara Turki yang mengalami lonjakan harga yang sangat fantastis.

Inflasi tidak hanya membuat harga-harga meroket tetapi juga membuat tantangan tersendiri untuk mahasiswa asal Indonesia yang sedang berada di perantauan.

Cerita dampak inflasi di Turki disampaikan langsung oleh Hanun Rifda Arabella yang sedang menempuh studi di Istanbul, Turki. Dia menceritakan bahwa inflasi membuat dia harus memutar otak untuk mencari cara berhemat dan bertahan hidup untuk menyelesaikan studinya.

Tak ada pilihan lain seperti Hanun – demikian dia disapa – untuk mendapatkan pekerjaan tambahan seperti praktik banyak negara yang memberlakukan pekerjaan sampingan untuk para mahasiswa.

Di Turki, jelas Hanun, tidak ada pilihan demikian. Hanun kemudian memilih menekuni kuliahnya daripada harus bekerja dengan upah di bawah rata-rata. Bagaimana pun dia ingin agar dapat menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia.

Kesulitan hidup mewarnai kehidupan mahasiswa di negeri perantauan manakala inflasi telah membuat harga meroket, biaya sewa kamar yang tak murah dan perubahan peraturan yang tidak bisa ditebak.

Tak hanya soal carut marut bertahan hidup di Turki saja, Hanun menceritakan bagaimana tantangan budaya untuk bertahan di Turki. Dia tahu bahwa itu tidak mudah apalagi Turki juga sekarang sedang dibanjiri pengungsi.

Bahaya inflasi lainnya adalah tingginya angka kejahatan dan kriminalitas di kota besar seperti Istanbul dirasakan betul oleh Hanun.

Namun dibalik itu semua, Hanun pun membagikan tips dan saran untuk para mahasiswa yang sedang menekuni kuliah di negeri orang.

Mulai dari gaya hidup hingga cara berhemat lain yang mungkin bisa ditiru oleh mahasiswa dalam menghadapi inflasi yang melanda dunia seperti memasak bersama, membawa bekal ke kampus, dan lainnya.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak cerita Hanun berikut dalam kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Tolong subscribe kanal YouTube kami.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(SIARAN BERITA) Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

NORWEGIA – Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai anugerah dari Tuhan, HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, pemerintah dan setiap orang di dunia ini tanpa kecuali.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal HAM dan Hak Warga Negara (HWN). HAM berlaku secara universal yang melekat dalam diri manusia sejak ia lahir. HAM sendiri telah dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 yang memuat 30 pasal yang diterima secara umum untuk kesejahteraan bersama.

Sementara HWN adalah hak yang diperoleh seseorang sebagai warga negara yang hidup di suatu negara, biasanya diatur secara langsung atau tidak langsung oleh negara yang bersangkutan.

Tak semua memahami perbedaan HAM dan HWN. HAM melekat dalam diri manusia yang tidak terbatas sedangkan HWN dibatasi oleh aturan negara yang menaunginya. Sementara HAM berlaku sama untuk setiap manusia di bumi, HWN dapat berbeda antar satu negara dengan negara lainnya.

Namun dibalik perbedaan tersebut terdapat pula persamaan antara HAM dengan HWN seperti hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk mendapatkan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan HAM dan HWN, istilah ‘Keindonesiaan’ mencuat ketika orang-orang ramai memperbincangkan sampul warna paspor yang dimiliki. Memahami keindonesiaan seolah-olah dipandang hanya mereka yang benar-benar cinta Indonesia dari kepemilikan warna paspor.

Realitas Indonesia dan keindonesiaan memang perlu pembacaan dan analisis yang multiperspektif, yang tidak mudah dipahami secara sederhana dan linier.

Follow us ruanita.indonesia

Oleh karena itu, pandangan integratif memahami keindonesiaan dirasakan penting untuk warga Indonesia di mancanegara melalui forum Diskusi Online yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada hari Sabtu 10 Desember 2022.

Diskusi Online ini diadakan atas inisiatif warga Indonesia yang tergabung dalam RUANITA (Rumah Aman Kita) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo, Norwegia. Untuk mengawali dialog, Prof. DR. Todung Mulya Lubis selaku Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia akan memantik diskusi apakah kewarganegaraan tersebut merupakan pilihan hak asasi manusia.

Selanjutnya dalam diskusi online, perspektif lintas batas akan disampaikan oleh Novi, seorang ex WNI yang tinggal di Norwegia tentang pengalaman nasionalisme yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Narasumber selanjutnya adalah Ita Fadia Nadia yang berbicara perjuangan perempuan penyintas tragedi 1965 dan Yantri Dewi yang akan mempertegas pilihan kewarganegaraan bagi perempuan pelaku kawin campur. Diskusi Online juga ditutup oleh pemaparan Amiruddin, Komisioner Komnas HAM RI yang berbicara tentang kewarganegaraan dan hak asasi manusia.

Diskusi online ‘Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif HAM’ akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 pukul 10.00 CET/16.00 WIB melalui aplikasi Zoom dan dibuka untuk umum. Selain itu, diskusi online ini menjadi penutup rangkaian peringatan kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.

RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di mancanegara yang bertujuan untuk mempromosikan psikoedukasi, kesetaraan gender dan berbagi praktik baik tinggal di luar negeri. Ruanita adalah wadah berbagi ilmu, pengalaman dan cerita serta praktik baik untuk tinggal di luar negeri serta mengangkat tema sosial, budaya dan psikologi yang mungkin tidak populer dalam narasi publik. Dalam pelayanannya, Ruanita menggunakan Bahasa Indonesia serta menjunjung tinggi nilai personalitas, solidaritas, dan subsidiaritas.

Informasi: Retno Aini Wijayanti (info@ruanita.com)

Rekaman acara bisa disaksikan sebagai berikut:

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Turki

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Turki

2. Kutipan favorit

Perempuan harus punya prinsip dalam situasi apa pun.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Secara fisik, aku tidak mengalaminya tetapi mantan suamiku memakiku dengan kata-kata kasar seperti: Stupid, Bodoh. Setiap aku bertengkar dengan dia, dia selalu mengusirku dan tinggalkan rumah. Dia berkata: “I don’t wanna see you anymore.” 

Pria Turki ini ingin aku sebagai perempuan tunduk, apalagi kalau kita bertengkar. Dia sering mengomel padaku dan itu membuatku marah. Karena sering diusir keluar rumah, aku pun tak kembali ke rumah pada saat jam 11 malam. Secara kebetulan, aku tak bawa kunci rumah. 

Apa yang membuatku sakit hati, dia berucap bahwa dia tidak ingin melihat aku di rumah. Sejak itu, dia mengirimkan surat dan barang-barangku yang ada di rumah dia ke tempat penampungan sementaraku. Hal yang membuatku sakit hati, dia melempar barang-barangku keluar dari taksi dan meludahi aku.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya sadar bahwa rumah tangga itu mengalami problem pasang surut, tetapi saya tidak terima dengan kata-kata kasar. Saya sudah bersikap toleransi dengan sikap dia.

Saya putuskan untuk keluar dari situasi kekerasan karena dia tidak bisa memenuhi kebutuhan agama yang kuminta darinya, dia tidak mampu menafkahi saya, dan tidak memberikan saya kebebasan.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya tidak memiliki trauma sih hanya saya bersikap hati-hati untuk membangun relasi baru. Saya menganggap semua laki-laki sama saja, tetapi saya tidak ingin terlibat dalam hubungan serius.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

*Pastikan dulu keluarga pasangan hidup seperti apa latar belakangnya yang membesarkan.

*Siap dengan perbedaan kultur yang berbeda misal: perempuan berkarir harus siap menghadapi konsekuensinya setelah menikah.

*Belajar mencintai diri sendiri.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Belanda

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Belanda

2. Kutipan favorit

Justice is about making sure that being polite is not the same with being quiet. In fact, often times, the most righteous thing you can do is shake the table (Alexandria Ocasio-Cortez).

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Sebenarnya sudah ada tanda-tanda dari dia yang bersikap temperamental yang ditunjukkan dari dia sejak berpacaran. Saya sudah merespon dengan menegur dia: “Kamu kok kasar dan orang tua saya tidak pernah bersikap di situ.” Saya sudah beri peringatan ke dia kalau kamu bersikap kasar lagi, saya akan meninggalkan kami. 

Ada sisi manipulatifnya yang membuat saya luluh dan akhirnya memutuskan untuk menikah dengan dia karena dia tampak berubah. Menurut saya, tidak ada abusive yang tiba-tiba. Bermula dari verbal abuse  kemudian kekerasan fisik yang ditunjukkan pada saat kami menikah. 

Pertama, dia mau memukul saya. Bersyukurlah, pukulan dia tidak sampai mengenai saya. Kedua, dia berusaha lagi memukul saya dan itu membuat saya trauma dan tidak ingin bersama lagi. Saya sendiri tidak pernah bersikap kasar atau berkata yang merendahkan dia sementara dia menghendaki perempuan yang penurut. 

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saat anak kami berumur 1 tahun, dia mulai menunjukkan gelagat untuk bercerai tetapi kami masih ingin bertahan. Setelah satu tahun saya pulang dari Indonesia ke Belanda, suami menunjukkan perubahan ke saya termasuk sikap dia berselingkuh dari saya selama saya di Indonesia. 

Di situ saya memutuskan untuk bercerai dari dia, apalagi dia mengancam akan memukul saya ketika saya membahas perempuan lain. Dia tidak segan-segan memukul di hadapan anak saya dan dia kerap berkata kasar ke saya. Selain itu, dia juga tidak pernah mengunjungi anak saya ketika saya sudah mulai pindah ke kota lain di Belanda padahal dia masih tinggal di Belanda. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya berusaha untuk keluar dari lingkaran kekerasan tersebut dengan cara melakukan aktivitas spiritualitas dan sibuk mengurus anak. Meskipun saya saat ini masih trauma ketika misalnya ada pria yang mendekati saya sambil berkata kasar atau berusaha menjalin hubungan dengan pria yang baru. 

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

*You should not afraid to be happy. Semua orang berhak bahagia.

*Hidup selalu penuh kesempatan. Jika pernikahan itu gagal, apapun alasannya, selalu ada kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan.

*Belajar mencintai diri sendiri.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Denmark

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Denmark

2. Kutipan favorit

 “Don’t let yourself living in violence even for 1 minute. Run, save your live!”

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Pengalaman menjadi korban kekerasan. Aku pilih kata “pengalaman buruk”.

Kekerasan fisik dan psikis yg dilakukan oleh suami terhadap istri terjadi secara sistematis dan perlahan. Mantanku, setelah kami menikah 3 bulan, mulai  menggerogoti rasa percaya diriku. Contohnya dia bilang: “Mukamu pucat, coba make up-mu diperbaiki”. Lainnya dia pernah cubit perutku dan bilang “Ini apa, kok kamu gendut.” Terakhir juga dia pernah bilang: “Kamu tak secantik kita baru ketemu.”

Lama-lama mantanku mulai mendorong aku kalau dia marah. Setelah dia marah, dia akan menyalahkan aku karena membuat dia marah. Untuk menghentikannya, aku minta maaf dan berjanji tidak bikin dia marah lagi. Unbelievable?

Lama-lama dia membuat aku percaya bahwa akulah yang bodoh selalu membuat dia marah. Dia marah karena aku tak mengerti kultur Denmark,  gaya hidup orang Denmark, dll. Intinya akulah yang salah, padahal dia yang memukul aku.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Aku bertahan tujuh tahun hidup dengan mantanku karena aku mau menunggu dapat permanent resident di Denmark kemudian aku bisa pergi tinggalkan dia. Selama 7 tahun itu, aku persiapkan diri mulai dari sekolah bahasa, kuliah lagi, kerja dan apply permanent residence. Di saat aku tunggu permanent residence dia semakin parah kadar memukulnya sampai aku cedera.

Setelah itu, aku putuskan pergi dan tidak mau menunggu permanent residence di tangan. Sebelum menikah aku punya rumah di Jakarta. Rumah itu kujual dan uangnya aku masukkan ke account yang dia bilang, joint account. Ternyata account itu atas nama dia sendiri. Aku hanya punya kartu debit. Jadi aku stay dengan dia karena aku tak punya apapun lagi di Indonesia.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Dokterku dan psikolog sangat membantu. Juga bantuan teman-temanku.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Jangan pernah percaya laki-laki yang memukul akan berubah.

Jangan terlalu percaya diri kalau kamu bisa merubah keadaan atau perlakuan suami.

Ingat, sekali laki-laki membuat kamu menangis, dia akan bikin kamu menangis seumur hidup kalau kamu masih tinggal dengan dia.

Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang salah sehingga kamu dipukul!

Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang bodoh dan tidak bisa mengikuti cara hidup suami!

Jangan pernah mau hidup dengan pemabuk!

Jangan menyalahkan diri sendiri atau cari pembenaran terhadap perlakuan suami. Stres atau pengalaman masa lalu bukan alasan untuk memukul perempuan.

Jangan malu minta bantuan. Namun ingat, mintalah bantuan hanya kepada orang atau instansi yang bisa menolongmu. Semakin sedikit orang tahu masalahmu, semakin baik. Tidak perlu merumpikan suami ke teman-teman yang cuma bisa dengar.

Persiapkan dirimu untuk pergi dari suamimu. Cari kerja mandiri. Cari rumah, pindah sewaktu dia tidak di rumah. Minta alamat dan nomor hape dirahasiakan. Bilang ke tempat kerja bahwa namamu tak perlu ditampilkan di website tempat kerja.

Jangan ikut media sosial apalagi pakai nama sendiri!

Bangun network-mu dengan orang lokal. Teman sebangsa belum tentu ada manfaatnya untuk hidup di Eropa.

Ingat, kamu tidak wajib mempertahankan perkawinan kalau kamu tak bahagia. Cerai bukan dosa dan bukan hal yang memalukan.

Percaya bahwa banyak laki-laki baik. Sial saja ketemu yang jahat. Jadi cari pasangan baru!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Jerman

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Jerman

2. Kutipan favorit

Hang in there, strong woman. Hard times don’t last forever. Life moves on. And so will you.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Berawal dari suami yang meminta cerai, saya mendapatkan tekanan mental dari suami dan orang tuanya. Memang saya tidak mengalami kekerasan fisik tetapi kekerasan psikis yang hampir membuat saya untuk mengakhiri hidup saya. Kata-kata yang diucapkan suami dan ibu mertua saat itu, membuat saya, sampai dengan hari ini pun masih berusaha kembali untuk membangkitkan kepercayaan diri saya. 

Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang saya kira sangat menyayangi dan melindungi saya, ternyata adalah orang-orang yang paling menyakiti saya. 

Pada hari itu, semua berbalik 180 derajat. Yang dulu mereka bilang saya adalah wanita cantik, pandai, rajin, tahu cara merawat suami dan rumah, berbalik menjadi wanita “jahat”, wanita pemalas wanita penyakitan, wanita bodoh.

Bahkan mereka bilang, tidak akan ada orang di Jerman yang mau mempekerjakan saya.

Masih banyak kata-kata menyakitkan dan penghinaan yang diucapkan suami dan orang tuanya pada saya. 

Kata-kata yang sampai hari ini saya masih sangat jelas di ingatan saya.

Sepanjang umur saya, tidak pernah ada yang mengatakan hal-hal buruk itu kepada saya, tidak juga orangtua kandung saya.

Saya wanita mandiri yang bekerja keras demi mimpi-mimpi saya. Saya bukan wanita yang suka bergantung pada orang lain. Walaupun saya sakit-sakitan, saya tetap menunjukan kepada orang-orang di sekitar saya bahwa saya adalah wanita kuat.

Kepercayaan diri saya runtuh saat itu, merasa diri ini tidak berguna, ketakutan dan tidak berdaya. Saya hampir mengakhiri hidup saya, karena saya merasa apa yang mereka katakan itu benar, dan saat itu saya sendirian.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Di saat-saat kelam itu, saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa setiap saat, menaikan puji syukur saya kepada Tuhan atas semua yang terjadi, walaupun itu menyakitkan.

Menyerahkan semuanya kepada Dia dan percaya bahwa rancangan Tuhan akan hidup saya tidak pernah buruk. Saya belajar memaafkan suami dan orangtuanya, dan berdoa untuk mereka, walaupun secara manusia, itu sangat menyakitkan.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya keluar dari rumah suami saya, pindah ke kota lain, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan teman-teman baru, dan memulai kembali semua kegiatan atau hobi yang saya tinggalkan ketika dulu saya menikah dengan suami. Saya mulai membuat rencana hidup, mimpi-mimpi dan goal yang harus saya capai. Saya ingin bertahan hidup di Jerman, saya ingin memulai hidup yang baru. Saya mulai membangkitkan diri saya yang dulu “si wanita mandiri, percaya diri dan keras kepala”. 

Support dari orangtua di Indonesia dan teman-teman baik yang tinggal di berbagai negara, juga support dari atasan dan rekan-rekan kerja di tempat saya bekerja sekarang, mulai menumbuhkan kepercayaan diri saya yang sempat hilang. Tuhan mengirimkan saya banyak orang-orang baik di sekitar saya, seperti yang saya minta kepada Tuhan setiap hari. Bahkan atasan saya berkata “You should be proud of yourself!” Dia mengatakan ini karena dia tahu cerita saya dan kondisi saya pada saat saya bertemu dengan dia. 

Prinsip saya sekarang “Saya perempuan yang kuat. Saya tidak duduk-duduk mengasihani diri sendiri atau membiarkan orang menganiaya saya. Saya tidak menanggapi orang yang mendikte saya atau mencoba menjatuhkan saya. Jika saya jatuh, saya akan bangkit lebih kuat. Saya yang mengendalikan hidup saya.”

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Untuk wanita-wanita kuat di luar sana yang sedang mengalami kekerasan, jangan takut, bertahan dan tetaplah kuat!

Jangan takut untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, atau organisasi yang memberikan bantuan kepada perempuan yang mengalami kekerasan.

Kalian harus berani mengambil langkah untuk bertahan. Akan ada banyak orang yang membantu kita, asalkan kita mau, berani, dan tidak malu untuk menceritakan masalah kita.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Indonesia

2. Kutipan favorit

Setiap perempuan berhak hidup dengan aman, damai, dan bebas dari kekerasan.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Berawal dari perselingkuhan suami yang sudah terjadi dari delapan tahun lalu, yang kemudian membuat kami selalu ribut hampir setiap hari. Puncaknya di suatu malam, kami benar-benar ribut besar. Suami menampar pipi saya, saya langsung telepon orang tua saya. Keesokan harinya saya melaporkan ke mertua juga tetapi sedikit pun mereka tidak membela saya.

Selang beberapa tahun suami saya melakukan KDRT lagi dengan melempar tas ke tubuh saya. Dia marah besar karena saya melaporkan perselingkuhannya ke Badan Kepegawaian. Setelah itu, dia pergi dari rumah meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Awalnya saya memutuskan untuk tetap bersabar dan bertahan karena posisi saya yang tidak bekerja. Saya masih sangat bergantung masalah financial. Saya juga masih memikirkan nasib anak-anak yang masih kecil, masih butuh figur seorang ayah.

Lama-kelamaan kezaliman suami semakin menjadi-jadi. Dia melakukan mulai dari selingkuh sampai delapan tahun, KDRT, kasih nafkah yang sangat amat tidak wajar. Padahal dia berpenghasilan sebagai PNS di Jakarta yang lumayan besar.

Ketika anak-anak sudah besar usia 14 tahun dan 11 tahun, mereka sudah tidak peduli dengan papanya lagi. Mereka yang men-support saya supaya segera berpisah dengan papanya.

Karena itu di tahun itu, saya memberanikan diri untuk mengurus perceraian supaya hidup saya bisa lebih tenang, damai, bebas dari kezaliman suami, memiliki status yang jelas, tidak digantung terus menerus, dan bahagia lahir batin.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Semua kesedihan dan penderitaan yang saya alami karena perselingkuhan dan KDRT yang dilakukan suami telah membuat saya hampir putus asa dan tidak semangat hidup.

Lama kelamaan saya sadar kalau saya berhak bahagia, laki-laki demikian tidak pantas untuk diratapi dan ditangisi.

Saya berusaha untuk ikhlas, melakukan self-healing, meningkatkan self love, lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah SWT, dan mengalihkan kesedihan ke hobby atau aktivitas-aktivitas yang saya suka, seperti baking, senam, yoga, menonton film, bernyanyi, hangout dengan anak-anak atau teman-teman.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya untuk para perempuan-perempuan di luar sana yang pernah atau sedang mengalami kekerasan, BANGKITLAH! Speak Up dan mintalah pertolongan kepada orang-orang terdekat.

Yakinlah kalau semua perempuan itu memiliki Value. Kita berhak bahagia. Kita berhak memiliki masa depan yang lebih baik.

Semangat bestieee!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Pakistan

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Pakistan

2. Kutipan favorit

—

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Trauma. Kaget. Tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini. Saya seperti tidak percaya.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya telah tinggal bersama suami 15 tahun. Suami saya tidak pernah memukul atau bersikap kasar seperti membentak misalnya. Pada dasarnya suami adalah orang yang baik, penyabar, dan penyayang. Saya merasa ketegangan yang terjadi pada dia karena perlakuan keluarganya sendiri.

Menurut saya, keluarganya suka pilih-pilih. Saya pikir karena kita tidak sesukses keluarganya yang lain sehingga kita dikucilkan. 

Itu sebab, suami terpuruk ke dunia narkotika. Puncaknya dia melakukan KDRT. Saya coba bertahan selama 8 tahun karena saya masih berharap dia bisa berubah. Saya masih mencintainya. Saya juga merasa dia masih sangat mencintai saya dan anak-anak saya. Saya pikir semua karena pengaruh narkotika sehingga dia tidak lagi menguasai dirinya sendiri. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya belum bisa mengatasi trauma ini. Jika dia di samping saya, saya masih merasa gemetaran sehingga saya putuskan untuk meninggalkan dia dengan harapan dia akan sadar dari segala kesalahannya.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya untuk teman-teman yang senasib, saya pikir garis hidup tidaklah sama. Perubahan itu perlu. Bertahan boleh. Menurut saya pribadi, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. 

Selama dia tidak menyentuh perempuan lain, Insya Allah, saya pun masih memikirkan dia. Saya berharap suatu saat nanti, dia akan tersadar dan mendapatkan hidayah. Karena hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah haruslah dijemput. Jangan putus asa! Kita harus menyemangati pasangan, karena hanya kita yang tahu karakter dia bagaimana.

(IG LIVE) Kekerasan terhadap Perempuan dalam Kasus HIV & AIDS

Episode IG Live di bulan Desember 2022 ini masih menjadi rangkaian kampanye 16 Hari memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh pada 25 November. Sejalan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember, RUANITA mengundang narasumber yang memahami dan meneliti HIV & AIDS selama ini terutama dalam kasus HIV & AIDS yang terjadi pada perempuan. Apakah ada kekerasan pada perempuan dalam kasus HIV & AIDS?

Narasumber yang dimaksud adalah Anindita Gabriella Sudewo (akun IG: gabiaja) yang adalah peneliti dan pernah bekerja di HIV & AIDS Research Center Unika Atma Jaya Jakarta. Gabi – begitu dia disapa – telah menyelesaikan tema Disertasi berkaitan HIV & AIDS di UNSW Australia. Gabi Sudewo Ph.D. baru saja menyelesaikan Disertasi studi S3 di UNSW Australia yang masih berkaitan dengan HIV & AIDS.

Norma sosial membuat perempuan lebih rentan dalam kasus HIV & AIDS, di mana terjadi relasi kuasa dalam kasus heteronormatif bahwa perempuan disalahkan dan perempuan tidak punya kuasa untuk mendapatkan layanan kesehatan. Misalnya ada kasus perempuan tidak punya kuasa untuk pergi mendapatkan pengobatan dan layanan rutin karena suami tidak mendukung.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Pengaruh struktur sosial mengenai pandangan: menjadi istri yang baik, pasangan seks yang baik, dan lainnya sehingga menyulitkan perempuan sebagai partner seks untuk melindungi diri misalnya pemakaian kondom saat berhubungan seks. Perempuan dalam penelitian Gabi juga ditemukan bahwa mereka masih sulit untuk mengambil keputusan untuk kesehatan dan perlindungan dirinya.

Kekerasan dalam kasus HIV & AIDS bukan hanya berupa kekerasan fisik atau kekerasan verbal melainkan pada pembatasan terhadap layanan kesehatan HIV & AIDS dan tidak adanya dukungan sosial dari pasangan seks pada perempuan.

Perempuan sebenarnya memiliki kekuatan yakni network sosial yang cukup kuat dibandingkan laki-laki. Melalui social support system yang dibangun seperti RUANITA, ini bisa mengurangi risiko bermunculan kasus HIV & AIDS. Selain itu, kita perlu meningkatkan kampanye untuk sadar tes HIV & AIDS agar lebih dini mengetahui statusnya.

Sejak muncul HIV & AIDS pertama kali di dunia memang tampak seperti isu yang menyeramkan yang berkaitan dengan perilaku seks atau penggunaan zat, bukan masalah kesehatan yang menjadi prioritas. Penting juga memiliki kesadaran untuk memeriksakan dirinya melalui tes HIV & AIDS sehingga lebih dini mengetahui statusnya.

Hari AIDS Sedunia ini juga mendorong pemahaman masyarakat bahwa HIV & AIDS adalah isu kesehatan kronis, bukan isu moral sehingga perlu kesadaran bersama. Hari AIDS Sedunia ini juga perlu memerangi stigma sosial di masyarakat yang menghambat kampanye di masyarakat. Padahal dukungan sosial itu penting untuk mereka yang hidup dengan HIV & AIDS seperti dukungan pengobatan, motivasi, dan lainnya.

Sebagai manusia, kita punya hak asasi manusia yang sama untuk melindungi diri dan mendapatkan akses kesehatan yang sama. Begitu pun dalam kasus HIV & AIDS, kita perlu mendorong peningkatan informasi yang benar dan tepat tentang HIV & AIDS.

Pesan Gabi adalah memulai dukungan dari diri sendiri seperti tidak membuat stigma sosial kepada mereka yang hidup dengan HIV & AIDS. Sebagai makhluk sosial, kita perlu memberikan dukungan yang memberdayakan kepada mereka yang menjadi kelompok rentan dan memberikan advokasi kepada perempuan yang masih menjadi kelompok rentan.

Lebih lanjut tentang diskusi virtual IG Live dapat menyimak rekamannya di saluran YouTube kami berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Indonesia

2. Kutipan favorit

—

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Di akhir umur belasanku, aku terjebak dalam hubungan tidak sehat selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Dia berumur 10 tahun lebih tua. Awalnya aku berpikir pikiran dan sikap dia akan lebih dewasa. Ternyata aku salah. Keintiman yang terjadi sejak awal berpacaran berubah menjadi pemaksaan.

Aku dipaksa untuk berhubungan intim dengannya, bahkan ketika aku menangis dan berkata “aku tidak mau”. Setiap kali bertemu, kejadian itu berulang sampai diakhir tahun pertama hubungan kami, aku hamil. Aku kemudian memutuskan untuk aborsi. Bahkan hubunganku dengan teman-temanku pun dibatasi olehnya.

Alasannya, dia tidak mau aku curhat tentang apapun yang terjadi dalam hubungan kami kepada orang lain. Tak jarang, aku berniat untuk memutuskan hubungan. Namun dia selalu mengancam untuk membunuh dirinya sendiri atau untuk mengatakan semua yang terjadi kepada orang tuaku. 

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Aku lelah dengan hidupku yang seakan hanya menuruti nafsu orang lain saja. Perkuliahanku waktu itu sangat mendukung pemikiranku untuk berkembang yang menuntunku untuk berpikir bahwa hubungan pacaran ini sudah tidak sehat, tidak benar, dan tidak wajar.

Bahwa aku memiliki hak atas hidupku sendiri menjadi hal yang aku kejar waktu itu dan seolah membuka mata dan jalan sehingga aku mendapat pertolongan dari teman-teman yang ternyata peduli terhadapku. Ini menjadi pemantik semangatku untuk menolong diriku sendiri keluar dari hubungan itu. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Hal pertama yang aku lakukan adalah berani bercerita dan terbuka mengenai kekerasan seksual yang aku alami kepada orang yang aku percaya. Selain itu, aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Setelah hubunganku berakhir, aku memutuskan untuk pindah ke Jerman untuk melanjutkan studi.

Jarak jauh dari Indonesia memberiku kesempatan untuk menata kembali hidup, perasaan, dan mentalku. Di Jerman, aku juga mencari pertolongan profesional dengan melakukan terapi psikologis. Selain itu, aku juga lebih memilih untuk bergaul dan mengelilingi diriku dengan orang-orang yang benar-benar peduli denganku. 

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Kalian tidak sendiri! Kalian adalah orang yang kuat! Carilah bantuan profesional secepat mungkin: polisi, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional

(AISIYU) Cerita Penyintas dari India

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: India

2. Kutipan favorit

Kutipan ini saya tujukan untuk para suami, terutama yang berkewarganegaraan asing. Hargailah perempuan Indonesia yang menjadi pasanganmu. Dia sudah rela meninggalkan keluarganya demi membangun hidup bersamamu di negara yang asing. Hargai, sayangi, dan hormatilah pasanganmu.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Saat itu sepertinya rasa takut yang nyata selalu mengikuti saya, bahkan ketika tidak adanya ancaman terhadap nyawa saya. Belum pernah sepertinya saya mengalami rasa takut yang sedemikiannya mengontrol diri saya. Psikis saya benar-benar terganggu. Bahkan saya berbicara pun tidak mampu.

Perlakuan dan perkataan yang terucap dari mertua, suami, dan ipar sangat menyakitkan dan menekan emosi saya.  Suami abai terhadap tanggung jawabnya dan menelantarkan saya yang semakin merasa terasing di negeri asing. Pun tidak ada teman berbagi duka.

Dalam keadaan tertekan dan ketakutan seorang kenalan keluarga suami memperkosa saya. Ancaman dari si pemerkosa membuat hidup terasa semakin hancur dan psikis saya semakin terganggu. Saya linglung. Saya semakin ketakutan. Semakin tidak berani untuk bicara kepada siapapun, termasuk keluarga. Rasa malu yang teramat sangat telah membuat saya lumpuh secara mental.

Kekerasan psikis yang saya alami ini memberikan trauma dan efek mendalam pada saya bahkan setelah saya keluar dari duka ini.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya bertemu dengan suami yang kedua di saat saya ada di titik terendah. Saya diusir oleh mantan suami dan mengalami perkosaan. Suami kedua sayalah yang menyadarkan saya untuk keluar dari pernikahan yang sudah sama sekali tidak sehat ini. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekalian memulihkan jiwa saya. 

Setelah setahun di Indonesia, saya kembali ke India untuk menemui dua buah hati saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Yang terpikirkan oleh saya adalah saya harus keluar dari duka panjang ini. Salah satunya saya lakukan demi anak-anak. Adalah hak mereka untuk mempunyai ibu yang sehat secara mental. Sehat secara mental tentunya akan membuat saya lebih baik dalam mengekspresikan rasa sayang dan cinta kepada dua buah hati saya walaupun kami tidak bersama.

Kata cerai yang sebelumnya tabu, akhirnya menjadi jalan keluar dari hubungan yang tidak sehat ini.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.

Walaupun mungkin mental saya belum sepenuhnya pulih, paling tidak sekarang saya bisa menikmati hidup dengan rasa yang aman. Rasa aman ini memudahkan saya untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Jangan pernah malu untuk berbicara masalah yang sedang kita hadapi kepada orang yang kita percaya dan aman untuk berbagi. Perlu untuk menyimpan nomor-nomor penting seperti kepolisian dan Kedutaan Besar Indonesia maupun Konsulat Jendral Indonesia.

Laporkan segera kekerasan yang kita alami kepada polisi setempat maupun perwakilan Indonesia di wilayah kita. Selain itu, kita juga bisa meminta bantuan LSM ataupun komunitas-komunitas Indonesia yang ada di negara tempat kita tinggal.

Jangan sungkan untuk meminta bantuan!

(IG LIVE) Kekerasan terhadap Perempuan dalam Perspektif HAM

“Bagaimana menerima kasus dan tidak menghakimi korban di masa mendatang melalui kebijakan terintegrasi?” kata Chris Poerba sebaga narasumber IG Live Episode November 2022 yang mengambil tema: kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM).

Program IG Live adalah salah satu program RUANITA yang diselenggarakan tiap bulan dengan tema-tema menarik dan mengundang tamu yang bercerita menurut pengetahuan, pengalaman dan pengamatan.

Pada Episode November 2022 IG Live dipandu oleh Fransisca Sax, volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.

Program IG Live ini menjadi bagian dari kampanye 16 hari peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.

Untuk mendalami tema ini, kami mengundang Chris Poerba, peneliti dan penulis buku bertema gender dan HAM. Chris Poerba juga pernah bekerja sebagai Badan Pekerja Purnabakti Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (2012-2021) dan sekarang bekerja sebagai konsultan peneliti di Komnas HAM Indonesia.

Follow kami: akun ruanita.indonesia

Fransisca menjelaskan latar belakang tema IG Live episode November 2022 adalah bagian dari rangkaian kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA yang disebut program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamu) yang kini memasuki tahun kedua. Tahun lalu RUANITA menggelar kampanye SURAT TERBUKA yang menyuarakan keprihatian akan maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan.

Mengingat kendala teknis yang dialami Fransisca di Jerman dan Chris Poerba di Indonesia, mohon agar penonton dapat memahami bagaimana kami telah berupaya maksimal dalam menyelenggarakan program IG Live tiap bulannya.

Kekerasan terhadap perempuan adalah termasuk bagian dari kekerasan terhadap hak asasi manusia. Ada kekerasan yang terjadi pada perempuan dan itu belum tentu dialami oleh para pria sehingga itu membuat penderitaan tersendiri bagi perempuan yang menjadi kelompok rentan. Hal ini pun sudah tercantum dalam Konvensi Internasional menjadi bagian dari Kekerasan Berbasis Gender.

Sebagai pekerja kemanusiaan, Chris Poerba tentu punya motivasi tersendiri karena telah bergelut lebih dari 10 tahun dalam isu yang sama. Chris menilai selama ini masih banyak orang rancu antara pendapat gender dan kodrat, padahal relasi perempuan dan laki-laki adalah sama. Chris mengaku ini tak mudah untuk meyakini paradigma berpikir seperti ini dalam masyarakat terutama yang masih mendominasi oleh paham patriaki.

Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan masih mengalami kekerasan dan dalam 10 tahun belum ada penurunan angka yang signifikan. Mengapa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sulit diproses secara hukum?

Kekerasan terhadap perempuan ini masih terlihat seperti gunung es di mana ada banyak hal yang memengaruhi seperti korban tidak percaya satu sama lain, stigma sosial masyarakat, diskriminasi dan selama ini penanganannya memang masih hanya ada permukaan. Penanganannya menurut Chris perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Lebih jelas tentang program IG Live, bisa disaksikan rekamannya dalam saluran YouTube kami berikut:

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Italia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Italia

2. Kutipan favorit

When you learn how much you’re worth, you’ll stop giving people discounts.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Ketika berpacaran dengan warga asing, saya sempat beradu argumen dan dia menjambak rambut saya dan menyeret saya ke depan cermin di kamar mandi sambil bilang: “Vedi la puttana?!” —”Lihat pelacur itu (di cermin)?!” 

Saat itu juga, saya memutuskan untuk meninggalkan dia. Namun, dia terus menerus men-stalking saya, ke kampus, ke tempat kerja, sampai saya harus pindah apartemen. 

Teman saya (sekarang menjadi suami saya) akhirnya menghubungi polisi setempat dan pihak polisi memberinya teguran. Sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya beruntung tumbuh dalam keluarga yang harmonis, sehingga saya langsung sadar bahwa saya harus keluar secepatnya dari situasi tersebut. Saya juga memiliki teman yang membantu & menyadarkan saya untuk mencari pertolongan (pihak kepolisian Italia). 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Awalnya tidak mudah. Setiap saya melihat lelaki berperawakan tinggi, berambut cepak maka jantung saya langsung berdebar cepat. Saya takut kalau-kalau itu mantan saya yang masih menguntit/men-stalking saya. Namun, pelan-pelan seiring berjalannya waktu, perasaan takut saya pun hilang dan kepercayaan diri saya kembali lagi. Saya perlu waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif agar tidak terus menerus hidup dalam ketakutan.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Trust your gut, know your worth. And don’t be afraid to look for a help.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Qatar

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi : Qatar

2. Kutipan favorit

Stop kekerasan pada perempuan karena cinta tak seharusnya menyakiti!

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Rasanya menjadi korban kekerasan? Bagi saya tentu sangat menyakitkan dan penuh trauma. Lima tahun bertahan dalam keadaan yang sulit, bahkan sudah tujuh tahun lepas dari keadaan yang menyakitkan itu tetapi saya masih merasakan sakitnya di hati. Saya masih mengingat kenangan itu bagaimana terjadi. 

Sakit di raga bisa diobati tanpa menyebabkan bekas tetapi tidak dengan rasa sakit di hati karena kenangan masa lalu yang menyakitkan. Hari ini, dan seterusnya, bahkan sampai akhir hayat pun saya masih merasa sakit. Trauma itu masih ada meskipun saya menemukan pengganti yang lebih baik.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Masa-masa lima tahun saya bertahan dalam keadaan sulit itu. Saya berpikir, entah ini cinta atau bodoh. Saya pun sudah tidak tahu lagi.

Saya hanya berharap waktu itu lelaki yang saya cintai mau berusaha untuk berubah dan tidak mengulanginya. Dengan umur yang masih muda saat itu, saya benar-benar sangat tenggelam dalam cinta sampai rasa sakit pun bisa saya tekan sendiri. Saya tidak bercerita ke orang lain bahkan kepada orang tua saya sekalipun. 

Di saat bekas-bekas kekerasan itu masih ada, saya berusaha untuk tersenyum dan hanya mengatakan “ini terjatuh”.

Namun, saya katakan kepada diri saya. Setelah lima tahun dan semakin bertambahnya umur, saya menjalani hari-hari yang sulit. Saya berkata: “Saya harus keluar dari keadaan seperti ini. Ini tidak bisa berlanjut. Ini bukan cinta!”  

Cinta itu bukan menyakiti, melainkan cinta harus saling mengasihi. Cinta itu tidak begini, TIDAK.

Seseorang yang mencintai kita itu, seharusnya membuat kita bahagia. Bukan justru sebaliknya.

Setelah saya katakan itu terus berulang kali dalam setahun penuh, saya berpikir dan terus berpikir maka saya putuskan untuk bercerita kepada orang tua. Saya ceritakan tentang apa yang sudah terjadi. Merekalah orang yang bisa membantu saya untuk keluar dari keadaan sulit ini. 

Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi saya dan menampung saya bahkan mendukung saya dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tanpa orang tua yang membantu saya saat itu, mungkin saya sudah tidak kuat lagi di dunia ini.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Cara mengatasinya saat itu, orang tua saya menyarankan untuk menyibukkan diri dengan bekerja lagi. Setelah kekerasan itu, saya depresi empat bulan. Saya hanya tidur, makan, dan mandi. Saya tidak memiliki semangat hidup.

Namun, orang tua saya selalu menyarankan agar menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya memohon ampun atas kesalahan dan bercerita di atas sajadah. Orang tua saya kemudian mencarikan pekerjaan untuk saya agar saya jauh dari mantan saya.

Orang tua saya diteror. Mantan saya menjelek-jelekkan saya di hadapan orangtua saya.

Orang tua saya selalu bilang “Kami akan selalu percaya denganmu nak. Carilah kehidupan baru yang lebih baik! Kami orang tuamu akan selalu mendukungmu di sini. Sibukkan dirimu dengan hal positif, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mulai dengan kehidupan barumu seperti dulu kala (saat tanpa dia).

Itu memang benar. Setelah saya menyibukkan diri saya dengan pekerjaan, saya lebih bersemangat dan bertemu dengan orang-orang baru yang positif. Ini membuat diri saya menjadi orang yang positif kembali, penuh senyum, penuh tawa dan tidak lagi terasa sakit di dada.

Saya berterima kasih kepada orang tua saya dan saudara saya. Mereka telah membuat saya bisa “kembali hidup”. Bahkan saya kini sudah memiliki putri yang cantik dengan suami saya yang sekarang.

Saya tidak menyangka bahwa saya bisa menikah kembali. Saya membutuhkan beberapa tahun untuk menerima suami saya saat itu. Saya butuh waktu lama untuk “percaya kepada laki-laki kembali”. 

Setelah saya keluar dari masa sulit, saya bahkan tidak berkeinginan menikah kembali. Saya bersyukur karena orang tua saya juga tidak pernah memaksakan saya untuk menikah kembali. Sampai saat ini, saya masih mengingat apa yang terjadi “saat itu”, entah kapan bisa terhapus oleh waktu.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Berani untuk keluar dari laki-laki yang hanya bisa menyakiti baik itu secara fisik, verbal, seksual, maupun psikis non verbal. Lelaki yang baik tidak akan pernah bisa melihat perempuan yang dicintainya menangis karena dirinya. Ceritakan hal hal tersebut kepada seseorang yang kalian percaya sehingga mereka bisa mencarikan jalan keluarnya. 

Jika berada di luar negeri, kalian bisa mendatangi KBRI/KJRI di lokasi negara kalian untuk mencari perlindungan. Untuk saya sendiri, saya dibelikan tiket oleh orang tua saya. Secara diam-diam, saya keluar dari rumah sehingga dia tidak bisa menahan saya. Jadi, dia tidak tahu kalau saya akan pergi darinya. 

Saya tidak melaporkan dia. Saya berpikir saat itu adalah saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat. Saya segera keluar dari keadaan yang menyakitkan sebelum terlalu jauh menjalaninya. Kalian perempuan tangguh, kalian pasti bisa hidup mandiri, hidup baru, dan menemukan lelaki baru yang jauh lebih baik. 

Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Jangan takut melangkah! Jangan takut hidup tanpa dirinya!

“Kita berhak bahagia”

Jangan pernah takut untuk melawan! Ingat, bahwa kalian tidak sendiri!