
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Melania Yossy. Orang tua saya dari Yogyakarta tapi besar di Jakarta dan saya kembali ke Yogyakarta untuk kuliah dan bekerja. Sementara suami saya berasal dari Catalunya, Spanyol. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari saya akan membesarkan seorang anak jauh dari tanah kelahiran saya, yakni sebuah kota kecil di Catalunya, tempat angin laut terasa berbeda, bahasa terdengar asing di telinga, dan budaya berjalan dengan ritme yang jauh dari yang saya kenal sejak kecil. Namun, di sinilah saya berdiri sekarang. Saya menjadi seorang ibu yang terus belajar menyatukan dua dunia untuk anak perempuan saya yang kini berusia empat tahun.
Ternyata agak sulit juga kalau saya mengatakan bahwa perjalanan ini selalu mudah. Namun, saya selalu percaya, bahwa menjadi ibu adalah sebuah perjalanan yang menciptakan versi diri yang baru setiap hari, menjadi lebih kuat, lebih lembut, lebih penuh cinta.
Saya lahir di sebuah keluarga Jawa yang hangat, penuh tradisi, penuh nilai sopan santun dan rasa hormat. Saat saya pindah ke Spanyol dan membangun keluarga di sini, saya sadar bahwa saya membawa begitu banyak hal dari masa kecil saya, bahkan hal-hal yang dulu tidak saya sadari nilainya.
Suami saya, adalah pria asal Catalunya. Dia, menurut saya, adalah sosok yang berbeda dalam banyak sisi. Ia tumbuh dalam budaya yang lebih ekspresif, lebih terbuka, dan lebih egaliter. Ketika anak kami lahir, saya tahu betul bahwa perjalanan kami membesarkan anak bukan hanya tentang “menjadi orang tua terbaik”, tetapi juga tentang menjembatani dua cara pandang yang sangat berbeda: Indonesia dan Spanyol.
Tidak ada yang benar atau salah. Menurut saya, semuanya adalah pilihan dari cinta.
Salah satu kejutan budaya terbesar bagi saya adalah cara orang Spanyol, termasuk dalam hal ini soal pengasuhan. Misalnya, saya melihat bagaimana anak-anak memberi salam. Saya yang terbiasa melihat anak-anak di Indonesia menunduk sopan, mencium tangan orang tua, dan memakai panggilan hormat seperti “Tante”, “Om”, “Bu Guru”, atau “Pak Guru”, sempat merasa “lost” di awal.
Di Spanyol, terutama Catalunya, anak-anak tumbuh dengan kedekatan fisik yang spontan. Mereka saling mencium pipi kiri dan kanan. Mereka memanggil guru dengan nama depan: bukan “Bu Maria”, tapi cukup “Maria”. Begitu saja. Kadang tanpa embel-embel lain. Sederhana dan langsung.
Saya sempat bingung. Haruskah saya membiarkan anak saya mengikuti ini? Haruskah saya mempertahankan cara Indonesia? Atau keduanya? Akhirnya saya memilih jalan tengah. Di rumah, sopan santun ala indonesia tetap saya ajarkan, tetapi di luar rumah, saya membiarkan mereka berinteraksi sebagaimana budaya setempat. Menurut saya, anak saya berhak menjadi bagian dari dua dunia, tanpa kehilangan salah satunya.
Selain itu, saya masih mempertahankan kebiasaan kecil seperti membuka sepatu sebelum masuk rumah. Di kebanyakan keluarga Spanyol, ini adalah hal yang aneh, di mana mereka selalu memakai alas kaki di dalam rumah. Namun, anak saya mengikuti ini dengan senang hati. Bahkan ia sering melarang ayahnya masuk tanpa melepas sepatu. Saya tersenyum melihat itu. Hal kecil memang, tapi seperti bagian dari Indonesia yang masih hidup di rumah kami. Dan anak saya lebih menyukai makan nasi dibandingkan pasta ataupun roti. Saya sering memasak makanan indonesia, seperti soto ayam, mie ayam, bakso dengan ceker, dan tentu saja kerupuk, día sangat menyukai semuanya. Jadi makanan indonesia tidak asing di mulutnya.
Salah satu hal yang membuat saya bersyukur adalah bahwa suami saya dan saya sebenarnya tidak terlalu berbeda pandangan soal disiplin. Kami sepakat soal ritme hidup keluarga kami. Pada hari sekolah, itu berarti makan malam jam 19.30 dan tidur maksimal jam 20.30. Televisi hanya boleh menyalakan sampai jam 18.00, setelah itu waktunya aktivitas lain.
Anak kami sekolah dari jam 09.00 hingga 16.30. Setelah itu, kadang ada les renang sampai pukul 18.00. Hari-hari lain, ketika cuaca cerah, kami memilih bermain di taman atau pergi ke perpustakaan.
Jam belajar, jam tidur, jam makan, tampak semua teratur. Namun saat weekend, kami membiarkan diri sedikit lebih bebas. Tidur lebih malam tak apa, bangun lebih siang tak masalah. Namun jam makan tetap kami jaga. Menurut saya, kestabilan ritme makan membantu anak merasa aman dan teratur. Meja makan selalu menjadi momen bersama keluarga, seperti yang saya pelajari dari orang spanyol, yang selalu berkumpul di meja makan bersama dengan keluarga dan bercerita tentang hari yang telah dilalui. Hal-hal seperti ini terasa sangat berbeda antara Indonesia dan Spanyol. Di Spanyol, kebersamaan di meja makan sangat dihargai. Tidak sekadar makan bersama, tetapi bercerita, tertawa, menyampaikan pendapat. Anak-anak dilibatkan secara setara.
Itu pelajaran besar bagi saya bahwa makan bersama bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang menjalin kebersamaan di keluarga.
Hal paling berharga yang saya pelajari dari budaya Spanyol adalah cara mereka memberi ruang bagi anak-anak untuk bersuara. Tidak ada pemaksaan kehendak hanya karena “orang tua lebih tahu.” Di sini, anak-anak didorong untuk mengungkapkan perasaan mereka, entah itu marah, sedih, frustrasi, bahkan keberatan.
Saya jadi belajar mengakui bahwa cara ini membuat anak kami tumbuh sangat percaya diri.
Saya tidak ingin bahwa anak saya takut pada saya. Saya ingin ia berani menyampaikan isi hatinya. Saya ingin ia tumbuh sebagai anak yang tidak kehilangan keberanian hanya karena ia diajarkan untuk selalu diam dan patuh.
Sahabat Ruanita, saya belajar menjadi ibu yang mendengarkan, bukan hanya memberi instruksi. Itu tidak mudah, apalagi saya dibesarkan dalam budaya yang lebih hierarkis. Namun, saya tahu, perjalanan menjadi ibu adalah perjalanan untuk berubah dan berkembang.
Mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak kami adalah perjalanan yang naik turun. Ketika ia bayi, saya sempat memperkenalkan beberapa kata Indonesia setiap hari. Lama-lama itu tersaingi oleh kebutuhan saya belajar Catalan dan Spanyol demi kehidupan sehari-hari di sini.
Saat itu, saya sempat merasa bersalah. Ketika kami berkunjung ke Indonesia pada Oktober–November kemarin, anak saya tiba-tiba mulai menyerap bahasa Indonesia dengan cepat. Sejak kembali ke Spanyol, saya memutuskan untuk kembali memperkenalkan bahasa Indonesia kepadanya secara perlahan. Satu kalimat di sini, satu frasa di sana. Saya tidak ingin ia lupa bahwa separuh dari dirinya berasal dari Indonesia.
Hal yang membuat saya bersyukur, suami saya sangat mendukung. Ia pernah tinggal hampir tiga tahun di Indonesia. Jadi, suami tahu, bagaimana nilai bahasa Indonesia bagi identitas anak kami.
Bahasa adalah rumah bagi jiwa. Saya ingin anak saya memiliki lebih dari satu rumah.
Ada begitu banyak momen lucu ketika anak saya mencoba menggabungkan beberapa bahasa dalam satu kalimat. Bayangkan ia berbicara sambil mencampur Bahasa Catalan, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus dalam satu nafas! Saya sering tertawa mendengarnya.
Atau ketika ia mengajari papanya bahasa Indonesia, ada kalanya ia mengucapkan sebuah kata, lalu ayahnya kebingungan, bertanya artinya. Anak saya lalu menjelaskan artinya, dengan sabar dan bangga. Ia seolah ingin memastikan papanya ikut fasih, juga suatu hari nanti.
Momen-momen seperti inilah yang membuat saya merasa perjalanan bilingual ini tidak hanya tantangan, tetapi hadiah.
Anak-anak di Spanyol tumbuh dalam lingkungan yang penuh dukungan untuk mengekspresikan diri. Saya sering melihat anak-anak berkata jujur pada orang tua mereka, mengatakan “I love you” kapan saja, menunjukkan kasih sayang tanpa rasa canggung.
Itu memengaruhi anak saya. Ia tumbuh menjadi anak yang vokal, terbuka, dan penuh percaya diri. Karena ia juga mendapat sentuhan budaya Indonesia dari saya, ia tetap memiliki kehangatan, kelembutan, dan rasa empati yang kuat. Perpaduan yang menurut saya ideal.
Meskipun anak saya tumbuh besar di Spanyol, tanah yang akan membentuk banyak bagian dari identitas dirinya, saya selalu berupaya menjaga agar serpihan Indonesia dalam dirinya tidak pernah memudar. Setiap hari saya mengajarinya bahasa Indonesia, bukan sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai jembatan menuju akar yang ingin saya tanamkan pelan-pelan dalam ingatannya.
Kami menikmati hidangan Indonesia yang memenuhi rumah dengan aroma rempah yang hangat, seakan membawa saya pulang sejenak ke halaman masa kecil. Saya memperlihatkan tarian tradisional, musik, serta lagu-lagu yang dulu menemaniku tumbuh, memperkenalkannya pada pakaian adat penuh warna, dan menceritakan makna di balik setiap motif dan geraknya.
Kami juga memastikan ia tetap dekat dengan keluarga di Indonesia melalui panggilan video rutin yang menjadi ruang virtual penuh tawa dan rindu, tempat ia belajar memahami cinta dari jauh. Sesekali, kami berkumpul bersama komunitas Indonesia di Spanyol agar ia dapat merasakan sendiri suasana hangat yang begitu khas, seperti: suara, makanan, tawa, dan keramahan yang sulit ditemukan di tempat lain. Dalam momen-momen sederhana itu, saya melihat seolah dua dunia sedang bertaut di dalam dirinya.
Hal yang paling menyentuh hati saya adalah ketika ia mulai memahami bahwa orang Indonesia dan orang Spanyol berinteraksi dengan cara yang berbeda. Anak saya memerhatikan, menyerap, dan belajar meresapi semuanya. Ia tumbuh menjadi anak yang peka, lembut, penuh perhatian, dengan kesadaran bahwa dirinya tidak harus memilih di antara dua budaya itu. Ia adalah milik keduanya, dan keduanya mencintainya dengan caranya masing-masing.
Saya sudah tahu jawabannya sejak lama. Jika saya harus memilih satu nilai Indonesia dan satu nilai Spanyol, maka saya ingin memberikan kepada anak saya. Dari Indonesia, saya ingin mewariskan hormat dan budi pekerti. Bahwa menjadi manusia yang lembut, sopan, dan menghargai orang lain adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Dari Spanyol, saya ingin anak mewariskan keberanian dan kepercayaan diri. Bahwa ia boleh berbicara, bersuara, mengungkapkan perasaan tanpa takut dihakimi.
Saya ingin ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat tetapi lembut, berani tetapi penuh empati.
Seseorang yang mampu berdiri tegak tanpa perlu menjatuhkan siapa pun. Saya ingin ia menjadi dirinya sendiri, di mana ada Indonesia dan Spanyol mengalir bersamaan dalam darahnya.
Penulis: Melania Yossy, yang dapat dikontak via akun instagram ycdmelania dan tinggal di Spanyol.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.