Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Penulis: Admin RUANITA - Rumah Aman Kita
"Rumah" orang Indonesia di luar Indonesia di mana kita bisa berdiskusi & berbagi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik dalam konteks Transnational Cultural Psychological.
Jika Anda mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di luar Indonesia, segera laporkan ke KBRI/KJRI yang menjadi lokasi domisili Anda. Anda juga bisa melaporkan ke kami lewat formulir pelaporan kekerasan yang di bilik kanan Website atau kontak Admin of Ruanita via email: info@ruanita.com.
Diskusi Online Kekerasan dan Pelecehan Seksual bekerja sama dengan KJRI Hamburg, PPI Kiel, dan Yayasan Pulih diikuti oleh 87 orang
Diskusi Online tentang KDRT bekerja sama dengan KBRI Stockholm dan Swedish Indonesian Society yang diikuti oleh 25 orang
ASIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) 2021 berbentuk surat terbuka, yang diikuti oleh 8 orang
Tahun 2022
Diskusi Online Kewirausahaan untuk perempuan bekerja sama dengan KBRI Ankara, KBRI Den Haag, KEMI Turki diikuti oleh 78 orang
Diskusi Online tema Perkawinan Campuran, diikuti oleh 48 orang
Diskusi Online di Hari Perempuan Sedunia 2022, diikuti oleh 25 orang
Kartini Virtual 2022, diikuti oleh 20 orang
Diskusi Online dalam rangka Peluncuran buku tema perkawinan campuran, yang diikuti oleh 40 orang
Diskusi Online tema Parenting: Bagaimana Menangani Anak Autisme di Mancanegara? bekerja sama dengan KBRI Berlin yang diikuti oleh 25 orang
Diskusi Online dan Bedah Buku, yang diikuti oleh 18 orang
Diskusi Online bertema Hari Alzheimer Sedunia, bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, Yayasan ALZI Nederland, Komunitas ALZI di Jerman, yang diikuti oleh 45 orang
Diskusi Online dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia bekerja sama dengan KBRI Stockholm, Swedish Indonesian Society, yang diikuti oleh 28 orang
Diskusi Online dalam rangka Hari HAM Sedunia bekerja sama dengan KBRI Oslo yang diikuti oleh 25 orang
AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) 2022 diikuti oleh 12 orang
Tahun 2023
Workshop Online Warga Menulis bekerja sama dengan KBRI Berlin dan APPBIPA Jerman yang diikuti oleh 24 orang
Diskusi Online Hari Perempuan Internasional bekerja sama dengan KBRI Kopenhagen dan diikuti oleh 30 orang
Diskusi Offline Hari Perempuan Internasional di Perpusnas Jakarta yang diikuti oleh 10 orang
Workshop Online Kewirausahaan Perempuan bekerja sama dengan Java Foundation Amsterdam yang diikuti oleh 18 orang
Diskusi Offline peluncuran buku di Rumah Budaya Indonesia di Berlin, bekerja sama dengan APPBIPA Jerman dan KBRI Berlin yang diikuti oleh 20 orang
Workshop Online Seni Kolase untuk AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) bekerja sama dengan Komnas Perempuan Indonesia berupa seni kolase yang diikuti oleh 15 orang
AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) 2023 diikuti oleh 11 orang
Tahun 2024
Diskusi Online Hari Perempuan Internasional bekerja sama dengan KBRI Kopenhagen, KBRI Berlin, dan KJRI Frankfurt diikuti oleh 47 orang
Workshop Online Karier dan Kewirausahaan bekerja sama dengan KBRI Berlin diikuti oleh 10 orang
Workshop Online Fotografi untuk program AISIYU yang merupakan kerja sama dengan KJRI Hamburg dan Komnas Perempuan Indonesia diikuti oleh 20 orang
Mentoring Online Karier Perempuan di Eropa Barat yang diikuti oleh 4 orang
Workshop Online Video Editing yang bekerja sama dengan PERINMA yang diikuti oleh 26 orang
Diskusi Offline Film “Dua Kali” yang merupakan kerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg yang diikuti oleh 30 orang
Diskusi Offline kesehatan mental di lingkungan kerja bekerja sama dengan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman yang diikuti oleh 30 orang
Program AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) berupa foto bertema ruang aman perempuan yang diikuti oleh 13 orang
Pameran offline “Safe Spaces for Women in Passau” dan Diskusi di KulturSalon Universität Passau, Jerman yang diikuti oleh sekitar 30 orang.
Tahun 2025
Diskusi Hybrid Awal Tahun yang merupakan kerja sama dengan KJRI Frankfurt, Komunitas ALZI JERMAN, dan ALZI NED yang diikuti oleh sekitar 30 orang.
Workshop Online Warga Menulis Puisi merupakan kerja sama dengan KJRI Melbourne dan Komnas Perempuan Indonesia yang diikuti oleh sekitar 58 pendaftar peserta.
Workshop Jamu: Interkultur Komunikasi, Peran Gender, dan Tradisi Penyembuhan Indonesia dengan kerja sama KJRI Frankfurt dan Komunitas Jamu Gendong in Germany, yang diikuti oleh 15 mahasiswa internasional di Universitas Passau, Jerman.
Workshop Produksi & Editing Konten Digital Tahap Pemula, kerja sama dengan KJRI Dubai, DWP KBRI Dubai, dan komunitas Gelas Kosong Dubai, diikuti oleh 28 orang.
Diskusi Online bertema Femisida dalam berbagai perspektif, merupakan kerja sama dengan PPI Dunia dan Komnas Perempuan Indonesia. Acara ini diikuti oleh sekitar 45 orang.
Diskusi Online dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu International dan merupakan kerja sama dengan APPBIPA Jerman. Acara ini diikuti oleh 22 orang.
Diskusi Online dalam rangka peringatan Hari Kartini bersama PW Muslimat NU DIY dan Komunitas Gelas Kosong, Dubai, yang diikuti oleh 40 orang.
Diskusi Online bertema perkawinan campuran Indonesia – India yang merupakan kerja sama dengan KJRI Mumbai, India dan diikuti oleh 47 orang.
Diskusi Online: Mengenal Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia, kerja sama dengan KemenPPPA RI yang diikuti sekitar 20 orang.
Workshop Online: Digital Content Marketing 101 Smart Content untuk Kewirausahaan Perempuan diikuti oleh 12 orang.
Diskusi Online: Cerdas dan Bijak Berteknologi yang merupakan kerja sama dengan KBRI Dhaka, Bangladesh yang diikuti oleh 30 orang.
Virtual Support Group: New Mom Abroad bersama Psikolog di Prancis dan Komunitas Youarenotalone.Mom diikuti oleh 25 orang.
Workshop Online AISIYU 2025: Affirmations Card yang diikuti oleh 17 orang.
Diskusi Online Resiliensi Bermigrasi di Finlandia, kolaborasi dengan KBRI Helsinki diikuti oleh 27 orang.
Diskusi Online Kolaborasi dengan KBRI New Delhi: Lintas Budaya Indonesia – India dalam fokus parenting & kawin campur yang diikuti oleh 29 orang.
Soft Launch Event Kesmenesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt diikuti oleh 26 orang.
Nonton Bersama & Diskusi film bertema kesehatan mental “Dua Kali” di Rumah Budaya Indonesia KBRI Berlin, secara Hybrid, yang diikuti oleh 33 orang.
Diskusi Online: Berbagi Pengalaman dan Keperawatan dan Praktik Baik Layanan Kesehatan Mental di Jerman yang berkolaborasi IPKJI dan Kesmenesia, dan diikuti oleh 122 orang.
Showcase dan Diskusi Interaktif: Berbagi Dukungan Psikologi dan Gender Responsif Lintas Budaya, Kolaborasi dengan KBRI Wina, Austria yang diikuti oleh 28 orang.
Kelas Online: Canva Basic Membuat e-Flyer bersama Perinma yang diikuti oleh 26 orang.
Diskusi Online Parenting: Cegah Adiksi Games Online pada Anak Berusia SD yang diikuti oleh 21 orang.
Program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) Kampanye Digital dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan diikuti oleh 9 orang.
PhD Connection dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan bekerja sama dengan KBRI Albania, Bulgaria, dan Makedonia Utara, KemenPPPA, dan Komnas Perempuan Indonesia, serta PPI Dunia, diikuti oleh 67 orang.
Virtual Support Group untuk berbagi dukungan psikologis dan sosial bagi perawat Indonesia di Jerman diikuti oleh 11 orang.
Tahun 2026
Diskusi daring di awal tahun yang diselenggarakan bersama KBRI London dan PCI Fatayat NU diikuti oleh 53 orang.
Diskusi daring awal tahun – Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21 diselenggarakan bersama KJRI Frankfurt dan Kesmenesia diikut oleh 29 orang.
Workshop Online Warga Menulis Fiksi yang diikuti oleh 21 orang.
Knowledge Sharing – Januari: Dongeng & Bermain Imajinasi diikuti oleh 6 orang.
Seri Online Psikoedukasi: Winter Depression bersama Kesmenesia & PPI Dunia diikuti oleh 24 orang.
Knowledge Sharing – Februari: Neurodiversitas – Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak diikuti oleh 17 orang.
Workshop Online Teknik Komunikasi bagi perempuan pelaku kawin campur diikuti oleh 12 orang.
Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional berupa kutipan cerita Fiksi yang diikuti oleh 26 perempuan di 15 negara.
Konseling Kelompok Daring Khusus PMI perempuan difasilitasi oleh Idei Swasti, M.Psi, Psikolog diikuti oleh 6 orang.
Knowledge Sharing – Maret: ReAttach Method yang diikuti oleh 7 orang.
Diskusi Online memperingati Hari Kesehatan Sedunia, berkolaborasi dengan ALZI NED yang diikuti oleh 15 orang.
Workshop Online bekerja sama dengan PPI Amerop pada 18-19 April 2026 dalam fokus: Gender & Social Justice in Community Island diikuti oleh 31 orang.
Diskusi Online peringatan Hari Kartini dalam kerja sama dengan KBRI Dhaka pada Selasa, 21 April 2026 yang diikuti oleh…
Seri Online Psikoedukasi: Intercultural Communication & competence bersama Kesmenesia & PPI Dunia diikuti oleh..
Knowledge Sharing – April: Sesi Mengelola Kecerdasan Emosional yang diikuti oleh…
Workshop Online Menulis bagi Perempuan PMI dalam peringatan Hari Buruh Sedunia bekerja sama dengan KBRI Singapura dan Komnas Perempuan diikuti oleh 36 orang.
Diskusi Online Peringatan Hari Perawat Sedunia pada Sabtu, 16 Mei 2026 yang diikuti oleh…
Workshop Online bekerja sama dengan PPI AMEROP pada Sabtu, 23 Mei 2026 dalam fokus: Youth Diplomacy and Digital Literacy, yang diikuti oleh…
Kelas Online The Art of Saving and Journaling diikuti oleh….
JERMAN – Sabtu (6/11) RUANITA menggelar IG Live bertema pengalaman menjadi lajang di Indonesia dan di luar Indonesia. Lewat akun @ruanita.indonesia, Anna sebagai pemandu diskusi virtual mengundang dua tamu yakni @nijhass dan @galih_rizka untuk berbicara mengenai pendapat dan pengalaman mereka sehari-hari.
IG Live ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman kita bahwa kebahagiaan seseorang tidak ditentukan dari status lajang atau tidak. Anna menekankan tak penting menjadi lajang atau berpasangan, melainkan bagaimana kita memberdayakan diri untuk menjalani kehidupan terbaik menurut versi diri sendiri.
Pendapat tentang: Apakah benar hidup melajang di luar negeri dikarenakan kita terlalu mandiri atau terlalu pintar? Akun @galih_rizka bertutur bahwa usia yang tak lagi muda dan masih lajang terkadang bisa menjadi cibiran sosial seperti “perawan tua”, “tidak laku”, putus asa, takut berkomitment, membosankan atau kesepian. Namun kedua tamu IG Live tersebut berhasil menepisnya dengan pendapat mereka masing-masing.
Menurut akun @nijhass, ada pandangan budaya yang menyebabkan mitos hidup lajang berbeda antara Indonesia dengan Jerman. Di Indonesia siapa saja bisa bertanya dengan mudah apakah seseorang itu masih lajang atau tidak, sedangkan di Jerman tidak. Di Jerman, orang-orang tidak merasa perlu mengetahui dan bertanya tentang pilihan hidup lajang ataut tidak.
“Kaca mata budaya” menyebabkan area privat seperti status hidup bisa menjadi konsumsi publik di Indonesia. Sedangkan di Jerman, status hidup seperti lajang atau tidak adalah area privat yang segan untuk diketahui secara umum.
Cara-cara berikut bisa dipraktikkan untuk para lajang agar berbahagia:
Jika ada orang yang bertanya tentang status hidup, lajang atau tidak, maka jawablah pertanyaan mereka dengan tidak serius! Ambil sisi humor dari pertanyaan tersebut. Berpikirlah bahwa apa yang mereka tanyakan adalah bentuk perhatian orang-orang di sekitar Anda!
Selalu bersyukur atas pencapaian hidup. Lihatlah apa yang dimiliki, bukan apa yang tidak dimiliki!
Tidak membandingkan hidup dengan orang lain, termasuk melihat orang lain yang telah berpasangan atau sudah berkeluarga. Mereka punya kehidupan sendiri, Anda juga.
Rancang tujuan hidup Anda dan berkomitmenlah terhadap apa yang direncanakan. Hal ini akan membuat Anda fokus untuk meraih hidup terbaik menurut Anda.
Bahagia itu tidak ditentukan oleh status hubungan, melainkan bahagia itu saat kita bisa menjadi diri sendiri. Silakan follow akun instagram kami @ruanita.indonesia dan kirimkan kami pesan untuk tema-tema IG Live menarik lainnya.
“Apakah kamu bahagia tinggal di luar negeri?” pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang teman dalam obrolan kami saat itu. Pertanyaan ini cukup membekas di dalam pikiran saya waktu itu.
Ya, tentu saja saya bahagia.
Namun tidak banyak orang tahu, kebahagiaan ini bukan serta merta tanpa pengorbanan. Setelah menikah di kota kelahiran saya, saya harus meninggalkan Indonesia untuk bisa bergabung dengan suami saya di negara kelahirannya di Eropa.
Meninggalkan keluarga, teman-teman dan kehidupan yang saya miliki di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun terberat yang pernah saya alami. Saya mengalami perubahan yang sangat drastis di dalam kehidupan saya.
Ketika saya tinggal di Indonesia, saya adalah seorang perempuan yang sangat aktif. Saya memiliki pekerjaan dengan posisi yang sangat baik di sebuah perusahaan internasional. Saya juga memiliki banyak teman dan hampir selalu memiliki aktivitas di luar rumah.
Semua itu berubah semenjak kepindahan saya ke Eropa. Berpindah ke negara baru, saya harus rela melepaskan kehidupan dan segala pencapaian yang saya miliki. Berat rasanya, tetapi semua itu adalah pilihan yang harus saya ambil dan jalani demi bisa bersatu dengan suami saya.
Masa transisi dari memiliki pekerjaan tetap menjadi tidak memiliki pekerjaan cukup membuat saya frustasi. Pasalnya, sejak muda saya memang sudah terbiasa bekerja.
Menjadi pengangguran membuat saya merasa kehilangan arah dan jati diri. Seiring berjalannya waktu, career gap yang saya miliki pun semakin melebar dan membuat saya semakin tertekan dan pesimis.
Minimnya pemahaman bahasa yang saya miliki menjadi kendala yang paling signifikan. Ya, memang sebelumnya saya sudah mengambil kursus bahasa tapi nyatanya mempelajari bahasa yang benar-benar baru itu bukan perkara yang mudah.
Saya merasa bahwa pemahaman bahasa yang saya miliki belum cukup untuk saya bisa masuk ke dalam dunia profesional dan mendapatkan pekerjaan yang “normal”. Hal ini seringkali membuat saya gelisah.
Saya merasa tidak berdaya karena harus bergantung kepada suami. Ya, memang dia suami saya, tetapi saya pun ingin “menyumbangkan” sesuatu untuk keluarga kami.
Saya sendiri tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah saya habiskan di bangku sekolah hanya untuk menjadi pengangguran di negeri orang.
Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang datang dari kanan dan kiri. Sering kali teman-teman saya menanyakan tentang lowongan pekerjaan di Eropa yang kemudian biasanya akan saya timpali dengan candaan.
Sejujurnya saya cukup lelah dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini, toh sebenarnya jika memang mereka benar-benar berniat mencari pekerjaan di luar negeri mereka bisa mencari informasi dengan mudah di internet.
Memang saya tinggal di luar negeri, tetapi saya bukan agen penyalur pekerjaan atau TKI, bahkan mencari pekerjaan untuk diri saya sendiri pun saya kesulitan.
Beruntungnya, saya memiliki seorang suami yang baik dan selalu meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak apa-apa jika saya membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan yang tepat, bahkan tidak apa-apa jika saya tidak bekerja.
Bagi suami saya, kebahagiaan dan kesehatan saya lah yang paling penting. Karena dukungan dari suami saya inilah, pelan-pelan saya bangkit dan mencoba menemukan apa yang bisa saya lakukan.
Saat ini, saya bekerja menjadi penerjemah lepas dengan beberapa klien tetap. Walaupun saya tidak memiliki pekerjaan secemerlang dulu, paling tidak saya selalu berusaha untuk memberdayakan diri.
Bagi saya, terkadang yang paling berharga dalam sebuah proses itu bukanlah hasilnya, tetapi usaha yang kita lakukan untuk menuju kesana.
Dubes RI untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo memberikan sambutan resmi di awal acara.
SWEDIA – KBRI Stockholm bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS), Adakita Forum dan RUANITA menggelar webinar bertema: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada Sabtu (23/10) yang digelar secara virtual. Acara ini dibuka resmi oleh Dubes RI untuk Kerajaan Swedia merangkap Republik Latvia, Kamapradipta Isnomo.
Dubes Kama antusias terhadap gerakan inisiatif Warga Negara Indonesia (WNI) untuk merespon kasus-kasus KDRT dan masalah hukum lainnya yang terjadi di Swedia dan sekitarnya. Dia berharap bahwa webinar ini membekali WNI untuk memahami hak-hak hukumnya selama tinggal di luar Indonesia, terutama Swedia.
Pemahaman yang minim tentang KDRT dan kasus-kasus hukum lainnya yang bermunculan di luar Indonesia menjadi keprihatinan Perwakilan Pemerintah RI seperti KBRI Stockholm untuk mencegah dan menangani kasus-kasus tersebut sesuai regulasi dan kebijakan yang terintegrasi.
Demikian alasan ini dijelaskan oleh Nada Ahmad selaku moderator acara yang menyebutkan latar belakang penyelenggaraan webinar bertema KDRT ini. Acara berlangsung selama dua jam yang terbagi menjadi dua sesi, antara lain: sesi pertama yang berfokus pada pemaparan instrumen hukum dan kebijakan dan sesi kedua berfokus pada pengalaman praktis bersentuhan dengan KDRT di luar Indonesia.
Di sesi pertama, Valentina Ginting, Asisten Deputy bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Anak, Kementerian RI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjelaskan tentang regulasi yang ditetapkan Pemerintah Indonesia untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Lebih lanjut, beliau melaporkan terdapat 5.878 kasus kekerasan terhadap perempuan di antaranya 5.944 adalah jumlah korban. Hal ini dihimpun berdasarkan Sistim Informasi Perempuan dan Anak (SIMFONIPPA) pada periode 1 Januari 2021 hingga 14 Oktober 2021. Dari kasus ini 74,5% adalah kasus KDRT.
Kerentanan perempuan mengalami kasus kekerasan juga dijelaskan lebih lanjut oleh Achsanul Habib, Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan, Dirjen Kerja Sama Multilateral Kementerian RI Luar Negeri. Bagaimana pun ketidakseteraan relasi dan mispersepsi memahami konstruksi gender membuat kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual terjadi pada siapa saja, tidak hanya pada perempuan.
Kemkumham mencatat kasus-kasus hukum yang dilakukan WNI juga terjadi di luar Indonesia seperti kasus pekerja migran di Timur Tengah atau kasus Reynhard Sinaga, mahasiswa yang studi di Inggris.
Negara akan melindungi warganya di mana pun berada, tetapi apakah warga sadar untuk melaporkan keberadaannya? Hal ini disampaikan oleh Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI di Luar Negeri, Kementerian RI Luar Negeri.
Dia berpendapat WNI di luar Indonesia wajib untuk melaporkan dirinya dalam portal LAPOR DIRI yang akan membantu WNI sewaktu-waktu dalam menangani kasus hukumnya. Di mana pun WNI berada, Kemenlu menghimbau untuk memperbaharui status keberadaannya dengan aplikasi SAFE TRAVEL.
Acara webinar ini juga diperkuat dengan pengalaman praktis, seorang Penyintas KDRT, Rizki Suryani yang pernah mengalami KDRT saat menikahi warga negara asing pada pernikahan pertamanya. Rizki sendiri kini bermukim di Swedia dan aktif untuk membantu sesama korban KDRT lainnya.
Nada Ahmad, selaku panitia penyelenggara menjelaskan webinar ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan informasi KDRT yang benar dan tepat agar WNI tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalannya.
Acara ini juga memperkenalkan organisasi kemasyarakatan seperti Adakita Forum yang menjadi bagian dari RUANITA untuk memberikan dampingan psikologis terhadap persoalan yang dihadapi WNI di Swedia. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi dan berbagi praktik baik tinggal di laur Indonesia.
Komunitas ini didirikan dalam upaya solidaritas sesama WNI yang tinggal di Eropa. Solidaritas ini penting agar kita mampu melewati krisis hidup yang dialami, termasuk kasus KDRT yang akhir-akhir ini mencuat selama terjadinya pandemi Covid-19.
Sebagai seseorang yang selalu bisa multitasking dan punya tujuan, rencana serta impian yang jelas, tidak pernah terpikirkan olehku untuk mengalami burnout.
Aku studi di luar Indonesia. Tahun ini aku memang mengambil cukup banyak kelas. Belum lagi aku masih harus bekerja – dengan permasalahannya sendiri, mengurus kehidupanku dari A-Z di negeri orang dan kesehatan mentalku yang memang sedang kembali tidak stabil.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sama sekali tidak bisa multitasking.
Sejak bulan Juni hingga Juli 2021 aku tidak bisa menyelesaikan kewajiban-kewajiban kuliahku. Rasanya seperti otak dan badanku tak bisa berfungsi dengan baik.
Aku merasa ingin kabur begitu saja. Sudah beberapa kali aku meninggalkan kelas (lewat ZOOM Meeting) begitu saja.
Aku tak bisa menyelesaikan tugas kampusku dan bahkan kadang aku tidak bisa dan tidak tahu bagaimana aku harus memulainya.
Saat itu aku tak bisa lagi mendefinisikan dan memahami perasaan dan situasiku. Untuk beberapa hari terpikir di benakku, aku berharap aku bisa benar-benar menghentikan otakku sejenak dan memulai kembali, supaya aku bisa berpikir jernih kembali.
Saat itu aku tak tahu, apa yang harus aku lakukan.
Saat aku mencoba berbicara dengan pacarku tentang ini, dia tidak bisa memahami maksudku, karena aku berbicara kesana-kemari. Itu bukanlah aku yang biasanya.
Biasanya aku bisa menjelaskan dan menceritakan perasaan dan kondisiku.
Satu hal yang pasti, dua bulan itu rasanya aku lelah sekali secara psikis. Aku hanya ingin tidur saja. Jantungku berdebar kencang terus menerus.
Setelah berbicara dengan psikoterapisku, keluarga angkatku di sini, dan pacarku, ada satu hal yang aku pelajari dan membantuku untuk bangkit lagi: aku butuh istirahat total.
Setelah rehat sejenak, aku memutuskan untuk membatalkan satu kelas. Itu artinya aku harus mengulangnya di semester ini.
Dari proses istirahat dan akhirnya kembali on track itu pun aku belajar sesuatu: I should let myself vulnerable. Let it loose when you can’t do it anymore.
Pengalaman itu membuatku bisa kembali kuat untuk melangkah selanjutnya.
Kita tidak bisa selalu bekerja di bawah tekanan.
Aku mencoba memahami lagi bahwa aku manusia, bukan robot.
We need to give up a bit, to continue our journey. Give up for a while doesn’t mean you lose everything.
Terdengar aneh mungkin?
Menyerah dan beristirahat sejenak itu perlu. Beberapa hari kemudian aku bisa kembali berfungsi dengan baik, penuh semangat baru dan menyelesaikan ujian dan tugas-tugas kuliahku yang lain.
JERMAN – Swedish Indonesian Society (SIS) adalah organisasi kemasyarakatan orang Indonesia yang berbasis di Swedia menggandeng KBRI Stockholm dan RUANITA untuk menggelar diskusi online bertema Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada Sabtu, 23 Oktober 2021 jam 11.00 CEST.
Acara ini bermaksud untuk memberikan penguatan informasi perlindungan hukum dan pengalaman praktis menangani KDRT di Swedia. Tentu saja acara ini didasarkan pada data dan laporan KDRT yang meningkat, terutama saat pandemi Covid-19.
Mengapa webinar ini digelar? Pertama, pemahaman yang minim tentang KDRT sehingga perlu menjadi perhatian WNI di luar Indonesia. Kedua, kasus KDRT yang dilaporkan KBRI Stockholm dan SIS mengalami jumlah yang signifikan sejak tahun 2020. Ketiga, mayoritas korban tidak tahu bagaimana melaporkan kasus KDRT di polisi setempat.
Nada Ahmad, selaku panitia penyelenggara menjelaskan diskusi online ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan informasi KDRT yang benar dan tepat. Misalnya orang hanya paham KDRT adalah pelaku melakukan kekerasan fisik saja, padahal KDRT tidak hanya itu.
Selain itu, WNI di luar Indonesia terutama mereka yang tinggal di Swedia tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada Perwakilan Pemerintah RI seperti KBRI/KJRI, organisasi seperti Adakita forum, RUANITA, atau LSM lokal di tiap negara domisili.
Nada berharap orang Indonesia di luar Indonesia paham instrumen hukum untuk menangani kasus KDRT. Di Swedia, pelaku KDRT diperketat hukumannya seiring dengan ratifikasi negara-negara di Uni Eropa akan kasus KDRT yang mencuat selama pandemi Covid-19.
Peserta diskusi online diharapkan tidak hanya WNI yang berdomisili di Swedia saja, tetapi siapa saja yang tertarik mengetahui hak-hak hukumnya selama tinggal di luar Indonesia.
IG Live ini juga dihadiri oleh Psikolog dari Yayasan Pulih, Indonesia. Psikolog Ika Putri Dewi menjelaskan akar permasalahan KDRT adalah relasi yang tidak setara dalam anggota keluarga.
Ketidaksetaraan itu bisa disebabkan oleh nilai atau sistim patriaki yang salah, misinterpretasi ajaran agama, pola komunikasi yang tak setara, relasi kuasa dalam posisi korban-pelaku dan masalah personal/karakter.
Untuk bisa keluar dari permasalahan KDRT, Ika menambahkan korban perlu memahami dulu bahwa dia mengalami masalah KDRT sehingga dia merasa perlu pertolongan dan punya strategi aman. Sebagai saksi korban, kita bisa menjadi ‘ruang aman’ dan tidak mengancam bagi korban.
Kita perlu melakukan perhatian berkala agar kita bisa memastikan korban dalam situasi aman, termasuk kita bisa memvalidasi emosi-emosinya. Ika menekankan pentingnya korban untuk berdaya dan membuat keputusan atas dirinya.
Bagaimana pun KDRT adalah masalah global dan terjadi di mana saja. Kita perlu membekali diri agar kita bisa menolong korban dan kecakapan hidup tinggal di luar Indonesia. Peserta yang tertarik bisa mendaftarkan webinar bertema KDRT di luar Indonesia di link yang ditautkan atau cek fyler ini.
Pada tahun 2018, Pemerintah Swedia memperkenalkan undang-undang baru tentang persetujuan seksual yang menyatakan dengan jelas bahwa jika tidak ada persetujuan atau kerelaan dalam hubungan seksual, maka itu disebut ilegal. Persyaratan persetujuan seksual adalah dasar untuk undang-undang baru.
Menurut statistik awal, Brå (Dewan Nasional Swedia untuk Pencegahan Kejahatan) melaporkan serangan terhadap wanita di atas usia 18 tahun di Swedia meningkat empat persen pada paruh pertama tahun 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Serangan terhadap pria usia dewasa menurun satu persen selama periode yang sama.
Kejahatan penyerangan terhadap perempuan dewasa dilaporkan pada paruh pertama tahun 2020 dan 79% kejahatan itu dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Begitu pun kejahatan penyerangan terhadap laki-laki pada periode yang sama dan dilakukan oleh orang yang dikenal ada 44 persen.
Lonjakan kasus KDRT selama pandemi Covid – 19 ditunjukkan dari laporan layanan Unizon, Sweden’s national federation yang mewakili lebih dari 130 “Rumah Aman” di Swedia.
Situasi pandemi Covid-19 juga menambah panjang laporan kasus KDRT yang dialami WNI di Swedia. Hal ini dilaporkan oleh KBRI Stockholm, Swedia sehingga menjadi perlu menjadi perhatian bersama.
Komunitas Indonesia didukung oleh KBRI Swedia mendirikan ADAKITA FORUM. Forum ini merupakan bagian dari RUANITA – Rumah Aman Kita, sebuah komunitas yang berbasis di Jerman dan berfokus mempromosikan isu-isu kesehatan mental melalui konseling, pelatihan, webinar dan materi KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) untuk mendampingi masalah psikologis seputar kehidupan orang Indonesia di luar Indonesia.
ADAKITA FORUM adalah semacam sistim dukungan untuk korban dan orang yang membutuhkan yang memiliki masalah dalam pendampingan jangka pendek dan juga sebagai bagian dari solidaritas Indonesia di Swedia. Menyikapi situasi tersebut, KBRI Stockholm, Swedish Indonesian Society (SIS), ADAKITA FORUM dan RUANITA – Rumah Aman Kita berencana menggelar webinar Pencegahan dan Penanggulangan KDRT di Swedia pada:
Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang dikenakan pada seseorang semata-mata karena dia perempuan atau dapat menyebabkan penderitaan secara fisik, psikologis, ataupun seksual termasuk juga ancaman perbuatan tertentu, pemaksaaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di muka umum maupun dalam kehidupan pribadi (Deklarasi Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Pasal 1, 1993).
Terkait hal ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memutuskan untuk menjadikan tanggal 25 November sebagai Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Untuk memperingati hari tersebut yang bertujuan meningkatan kesadaran atas telah mendunianya kekerasan terhadap perempuan dan pentingnya penghormatan terhadap hak-hak mereka maka RUANITA- Rumah Aman Kita mengajak para sahabat RUANITA, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menyuarakan inspirasi kalian terkait kekerasan terhadap perempuan melalui surat terbuka.
Contoh surat:
Surat terbukamu dapat ditujukan terhadap pembuat kebijakan, institusi, ataupun individu pemangku kepentingan yang relevan dengan isu perlindungan atas hak-hak perempuan.
Berikut ketentuannya: 1. Surat ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan santun. 2. Surat ditulis dalam format Ms. Word dan panjang surat sekitar 150 – 200 kata. 3. Surat diawali dengantujuan penerima surat (misal: Presiden RI, Menteri, Institusi Pemerintah, Kepolisian RI, Pengadilan, Komnas Perempuan, PBB, KUA, dll) 4. Surat ditutup dengan nama penulis surat. Penulis surat boleh ditulis dengan nama pena/nama akun media sosial/nama samaran. Panitia berhak mengetahui identitas nama sebenarnya. 5. Surat dilampirkan di Google Form https://bit.ly/AISIYU. 6. Peserta dapat mengirimkan surat selambat-lambatnya tanggal 13 November 2021 jam 24.00 WIB atau 18.00 CET.
Penulis surat harus ikuti (follow) akun media sosial FB Ruanita Ruanita, Fanpage RUANITA – Rumah Aman Kita dan akun Instagram ruanita.indonesia.
Surat yang terpilih dalam proses seleksi akan ditayangkan di media sosial RUANITA pada 22 November – 4 Desember 2021 22 – 28 November 2021 yakni Facebook, Instagram dan Website.
Rumah memiliki berbagai makna. Bagi beberapa orang, rumah adalah bangunan yang telah mereka tinggali secara bertahun-tahun. Bagi sebagian yang lain, rumah adalah makna, dimana mereka dapat merasa aman. Bagiku, rumah adalah tempat untuk pulang.
Aku sudah lama tinggal di negara ini, sekitar sepuluh tahun. Negara ini sudah terasa seperti rumah kedua untukku. Aku juga telah memiliki keluarga sendiri disini. Namun, kebanyakan teman-teman terdekatku dan keluargaku tinggal di negara asalku, Indonesia. Aku menyukai negara ini, bahkan mungkin aku menyukainya lebih dari negara asalku sendiri. Tapi Indonesia akan terus menjadi tempatku untuk pulang.
Salah satu hal terberat yang aku alami selama aku tinggal di negeri ini adalah jarak. Bagaimana jarak antara aku dan orang-orang yang dulunya adalah paling dekat denganku bertambah jauh dengan adanya perbedaan waktu, benua, budaya, dan lain sebagainya.
Bagaimana aku tidak pernah menghadiri pernikahan sahabat-sahabatku, kelahiran keponakanku, acara-acara keluarga, kumpul-kumpul bersama, terlebih lagi kucingku yang harus aku tinggalkan di Indonesia.
Bagaimana aku melihat orangtuaku bertambah tua dan mengetahui aku tidak bisa seenaknya hadir untuk mengunjungi mereka, terutama di saat pandemi melanda. Semua terkendala perkara delapan belas jam perjalanan via udara, urusan imigrasi, dan karantina delapan hari di bandara.
Sudah dua tahun aku tidak bisa pulang. Sudah dua tahun pula aku mengalami homesick. Ada yang bilang, rindu itu menyakitkan. Di antara itu, rindu akan kampung halaman bagiku adalah salah satu yang paling menyakitkan. Dan aku ingin pulang.
Ditulis oleh Nadia M. Dari cerita seorang teman yang merindukan kampung halamannya. Ia berharap, tahun depan bisa pulang dan masih diberi kesempatan untuk bertemu orang-orang yang dia cintai, yang bertempat tinggal jauh di sana.
JERMAN – PPI Kiel bekerja sama dengan RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar acara diskusi online bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) yang diadakan secara daring pada Minggu, 10 Oktober 2021 dan diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Swedia dan tentunya dari Indonesia.
Acara ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg seperti yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hamburg Ardian Wicaksono. Dalam sambutan resminya, Ardian mengatakan bahwa WNI tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi Perwakilan Pemerintah Indonesia di luar Indonesia bilamana mendapatkan masalah seperti kekerasan dan pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan lain sebagainya.
Perwakilan Pemerintah RI di luar Indonesia seperti KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg telah memiliki regulasi yang terstandar untuk melindungi WNI. Selain itu, Ardian mengapresiasi inisiasi dari komunitas orang Indonesia di mancanegara seperti RUANITA – Rumah Aman Kita dan PPI Kiel yang telah menyiapkan acara diskusi online ini dengan baik.
KJRI Hamburg memberi perhatian penuh terhadap penanganan kasus yang dihadapi WNI di luar Indonesia. Aidil Khairunsyah menjelaskan langkah strategis perlindungan WNI yang mencakup tiga tahap yakni (1). Pencegahan melalui diseminasi informasi, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemberdayaan masyarakat; (2). Deteksi Dini melalui pengembangan data base berbasis IT, penyediaan hotline pengaduan dan sinkronisasi data; (3). Perlindungan Cepat dan Tepat melalui penyediaan shelter, pemberian bantuan hukum dan psikologis hingga repatriasi. Aidil berharap WNI di luar Indonesia bisa lebih tanggap dan tidak segan untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka.
Ada pun acara diskusi online ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober. Acara ini mendapatkan simpati dari peserta yang sebagian besar para pelajar/mahasiswa yang studi di Jerman dan di Indonesia.
Mahasiswa yang sedang studi S2 jurusan Psikologi di Universitas di Kiel sekaligus moderator, Firman Martua Tambunan mengatakan bahwa isu ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga informasi dan pengetahuan yang beredar di masyarakat belum tentu benar.
Firman menegaskan mitos-mitos seperti masalah kekerasan dan pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan saja, itu tidak benar. Dia berpendapat kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan berbagai kalangan usia.
Senada yang disampaikan Firman, Livia Istania DF Iskandar selaku Wakil Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI turut menjadi pembicara dalam diskusi online ini. Dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menghargai sisi korban dan saksi yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual.
Menurut Livia, tidak banyak korban dan saksi yang memahami hak-hak mereka dan pemahaman hukum yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Diskusi online ini diharapkan dapat menginformasikan tidak hanya sisi psikologis saja, tetapi juga sisi hukum yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Berkaitan dengan sisi psikologis, Ika Putri Dewi selaku Psikolog dari Yayasan Pulih Indonesia berpendapat ada tiga aspek penting untuk memahami kekerasan dan pelecehan seksual, antara lain aspek ketimpangan gender, aspek kapasitas/kemampuan dari pelaku kepada korban dan aspek relasi antara pelaku dengan korban.
Masyarakat perlu juga memahami dampak psikologis korban yang berkepanjangan sehingga kita tidak menyalahkan korban dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwajib.
Acara diskusi online berlangsung selama dua jam lebih dan ditutup tanya jawab yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagaimana pun kasus kekerasan dan pelecehan seksual bak gunung es yang tak tampak di permukaan. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada isu kesehatan mental, kesetaraan gender, dan berbagi praktik baik tinggal di luar Indonesia.
Ibarat rumah, RUANITA menjadi wadah yang aman untuk berbagi pengalaman, cerita, ilmu dan pengetahuan yang dianggap tabu dan tersembunyi untuk diketahui dan dipahami.
Siaran ulang diskusi online ini bisa disaksikan dalam video berikut:
Untuk mendapatkan akses materi informasi yang disampaikan ibu Ika Putri Dewi dari Yayasan Pulih Indonesia, silakan isi formulir yang ditautkan. Kami akan segera memberikannya kepada Anda setelah Anda mengisi formulir tersebut. Konfirmasi bisa langsung kontak Admin ke info@ruanita.com.
Mari dukung keberlangsungan RUANITA – Rumah Aman Kita dengan follow akun media sosial kami di IG ruanita.indonesia, Facebook: Ruanita Ruanita dan Fanpage FB Ruanita – Rumah Aman Kita.
Siapa yang bisa menebak jalan kehidupan, termasuk jodohku dengan pria berkewarganegaraan asing. Sebelumnya aku pernah berpacaran lebih lama dengan pria asal Indonesia, tapi sayangnya dia tak jua meminangku. Pada akhirnya, pria berkebangsaan asing inilah yang datang melamar dan menunjukkan keseriusannya pada orang tuaku.
Keromantisannya melebihi mantan-mantan pacarku sebelumnya sehingga membuatku luluh dan menerima pinangannya. Kami menikah secara agama di Indonesia agar keluargaku di Indonesia tahu betapa aku adalah perempuan yang bahagia saat itu.
Usai menikah agama, kami putuskan untuk melakukan pernikahan secara sipil. Rupanya pernikahan beda negara memakan waktu yang berbelit-belit. Suami memutuskan menikah di negara ketiga, tidak di Indonesia atau pun tidak di negara dia. Dengan begitu, aku bisa segera bersatu dengan suamiku dan tinggal di negaranya.
Setelah kami berhasil menikah di negara ketiga, aku pun bisa tinggal bersama suamiku di negaranya. Aku memutuskan untuk meninggalkan Indonesia selamanya dan menetap bersama suami. Rupanya aku dan suami tinggal bersama ibu mertua. Suami belum bisa berpisah dari ibunya, dengan alasan ibunya yang selama ini menopang hidupnya.
Pertengkaran dengan suami biasa aku hadapi. Aku pikir itu wajar, bumbu pernikahan. Sebenarnya persoalan pertengkaran itu selalu sama, yakni ibu mertua yang selalu ikut campur urusan rumah tangga kami. Belum lagi perlakuan ibu mertua yang kasar terhadapku, terkadang membuatku menangis dan tersiksa.
Aku sudah sampaikan kepada suamiku tentang ibu mertua. Setelah itu, kami pun bertengkar, bahkan hampir setiap hari. Ibu mertua menganggapku bodoh karena aku hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris saja. Jika aku tidak di rumah karena aku harus bekerja atau pergi kursus bahasa, ibu mertua akan ‘meracuni’ suamiku dengan berbagai informasi yang tidak benar. Kami pun bertengkar lagi.
Suamiku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak pertamanya juga menikahi perempuan asal Asia. Menurutku, pernikahan campuran bukan menjadi kendala untuk keluarga suamiku. Namun perlakuan kakak ipar dan kakak pertama justru berbeda dengan yang aku pikirkan. Aku kerap merasa direndahkan, di-bully, diremehkan dengan kalimat-kalimat yang memandang sebelah mata.
Pernikahanku baru berjalan di bawah lima tahun, tetapi aku sudah tak tahan lagi. Aku sudah beberapa kali diusir suamiku keluar dari rumah. Suamiku juga sering mengusirku jika dia tidak sependapat denganku dan lebih membela ibunya. Aku pernah mengepak barang-barangku untuk pulang ke Indonesia, tetapi aku berpikir ulang dan mencoba bertahan lagi.
Setiap hari aku menangis dan merasa tidak bahagia. Suami hanya berjanji, kita akan pindah rumah setelah uang tabungan terkumpul beberapa tahun lagi. Aku sebenarnya ingin tinggal di luar dan ngontrak di tempat berbeda, tetapi gajiku tak cukup untuk membayar sewa. Aku pun sudah bertanya ke KJRI tentang proses perceraian, tetapi ada prosedur legalisasi menikah yang missed karena aku menikah di negara ketiga.
Pukulan kecil, cacian, makian, pertengkaran demi pertengkaran aku alami selama aku menikah. Aku merasakan kecemasan yang berlebihan, ketakutan dan rendah diri. Aku berusaha untuk bertahan dan mencari solusi dengan datang ke Konselor Perkawinan. Suami tidak mendukung ide itu karena semua itu perlu uang.
Aku sendiri hanya dua kali mendapatkan uang dari suamiku selama kami menikah. Itu sebab aku bekerja sehingga aku punya uang untuk membeli yang kumau. Perkataan kasar dan kalimat meremehkan sering aku terima. Ternyata perlakuan yang sering aku alami ini adalah bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang baru aku ketahui setelah aku mengikuti webinar bertema KDRT di luar negeri.
Fokusku sekarang adalah belajar bahasa sungguh-sungguh agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di negeri asing ini. Aku juga ingin melanjutkan studi di negeri suamiku ini. Seandainya gajiku cukup untuk bayar sewa tempat tinggal, aku pasti sudah hengkang dari rumah itu.
Penulis: T, perempuan Indonesia dan tinggal di salah satu negara di Eropa.
JERMAN – RUANITA: Rumah Aman Kita bekerja sama dengan PPI Kiel baru-baru ini (24/9) menggelar IG Live bertajuk: Mengapa Kita Perlu Datang ke Webinar Bertema KPS? Acara ini dihadiri oleh Ika Putri Dewi, Psikolog dari Yayasan PULIH – Indonesia.
Webinar Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) sendiri rencananya akan digelar pada Minggu, 10 Oktober yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia. Hal ini sejalan dengan fokus RUANITA – Rumah Aman Kita yang bertujuan meningkatkan promosi kesehatan mental untuk WNI di luar Indonesia dan membahas praktik baik kehidupan di luar Indonesia.
Ada pun Ika Putri Dewi akan menjadi salah satu narasumber dari tiga yang dihadirkan dalam webinar tersebut. Ika menyambut baik ajakan untuk sadar akan informasi yang benar dan tepat tentang Kekerasan dan Pelecehan Seksual.
Ika mengatakan Yayasan Pulih sendiri sudah lama bergerak untuk membangun kesadaran masyarakat akan Kekerasan Berbasis Gender ini melalui berbagai pendekatan psikoedukasi dan pendampingan psikologis.
Menurut Ika, ada 4 alasan sebagai WNI yang tinggal di luar Indonesia untuk datang ke webinar ini:
1. Dengan hadir di seminar ini diharapkan kita bisa memahami Kekerasan Berbasis Gender mulai dari akar masalah, penyebab hingga dampak terjadinya.
2. Dengan hadir di seminar ini, kita belajar bagaimana menangani Kekerasan Berbasis Gender sebagai korban. Tentunya kita bisa menolong orang lain yang menjadi korban.
3. Kita bisa mengetahui regulasi atau aturan proses hukum dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan standar perlindungan WNI di luar Indonesia seperti di Jerman yang dibawakan langsung oleh KJRI Hamburg.
Sebagai WNI kita bisa mengetahui informasi yang benar dan tepat dalam menangani kasus Kekerasan Berbasis Gender dari perspektif psikologi dan hukum. Demikian penjelasan yang diberikan Ika selaku Psikolog yang telah lama menangani berbagai kasus Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia.
Lebih lanjut Ninik Lottes selaku WNI dan Mahasiswa yang sedang studi di Jerman menyadari pentingnya kita memperkuat pemahaman tentang isu ini agar kita bisa mencegah dan menanggulangi kasus serupa bermunculan. Bagaimana pun ini adalah bentuk solidaritas sebagai WNI untuk bisa menolong korban Kekerasan Berbasis Gender bilamana diperlukan.
Acara ditonton dari berbagai follower akun RUANITA @ruanita.21, akun PPI Kiel dan tentunya Yayasan Pulih yang juga berpartisipasi dalam acara ini. Anna selaku Moderator dari RUANITA – Rumah Aman Kita mengingatkan lagi cara mendaftarkan diri yang mudah untuk siapa saja baik yang tinggal di luar Indonesia maupun mereka yang tinggal di Indonesia. Daftar keikutsertaan melalui formulir https://bit.ly/RUANITA_PPIKIEL.
Anna menegaskan kekerasan dan pelecehan seksual bisa terjadi tidak hanya di dunia nyata saja, tetapi juga dunia maya. Kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ranah privat saja, tetapi juga ranah umum. Kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja, tetapi siapa saja dan berbagai kalangan usia.
Setiap kali orang mengetahui kalau aku bersekolah di luar negeri, mereka selalu berkata, “Wah, enak ya kuliah di luar negeri, jalan-jalan terus! Aku lihat di instagram kamu, seru ya? Pasti gak kaya di Indonesia yang kuliahnya tugas melulu! Irinya…“
Aku hanya bisa tersenyum. Ya jelas saja, siapa sih yang mau update kesusahannya di Instagram? Tentunya, seperti orang-orang lain, aku hanya mengunggah foto-fotoku disaat aku senang di Instagram. Aku sudah kebal mendengar kalimat-kalimat seperti itu.
Tadinya aku merasa konyol dan akan menyanggah perkataan mereka. Namun, aku sudah terlalu sering mendengarnya, jadi aku hanya tersenyum.
“Andai saja kalian tahu, kalau aku jauh lebih iri pada kalian” sahutku dalam hati. Bagaimana tidak?
Teman-teman seangkatanku saat SMA dulu sudah lulus kuliah beberapa tahun yang lalu dan sudah meniti karier masing-masing. Sementara aku?
Sudah beberapa tahun lamanya, aku masih berstatus sebagai mahasiswa S1 di Jerman. Banyak juga yang menyindir, bahkan orangtuaku pun kadang menyindir halus, kenapa aku belum lulus-lulus juga.
Apa boleh buat, banyak kendala yang membuat aku harus terus menyandang gelar “Mahasiswa Abadi” ini.
Kadang aku berkilah, “Hei, bahkan orang Jerman juga butuh waktu lama untuk lulus S1, tahu!“ kadang mereka mau mengerti, kadang mereka masih suka nyinyir. Itu tidak terlalu menggangguku, tapi ada saatnya aku menyesali keputusanku untuk kuliah di negara ini.
Seandainya waktu itu aku tidak memutuskan untuk merantau, mungkin aku sudah seperti mereka. Sudah lulus dan dapat kerja. Mungkin juga sudah menikah? Yang penting, aku tidak perlu mengikuti perkuliahan dalam bahasa asing.
Jurusan yang aku pilih sudah cukup sulit, dipersulit lagi dengan kendala bahasa. Aku pun bukan orang kaya yang serba berkecukupan bahkan lebih, jadi di saat waktu senggang, aku harus bekerja part-time di berbagai tempat.
Jangan salah, aku bersyukur karena memiliki pengalaman ini. Sewaktu aku melihat teman-teman sepantaranku dulu, mau tidak mau aku terus membandingkan mereka dengan situasiku sekarang.
Ketika perasaan insecure dan rendah diri melanda, aku menenangkan diriku dengan berpikir, “Hei, bukankah kamu juga hanya melihat mereka disaat mereka senang? Seperti aku, mungkin saja mereka punya kesusahan yang mereka sembunyikan dari mata sosial media. Seperti mereka, aku pun hanya melihat satu porsi dari kehidupan mereka!“
Setelah berpikir seperti itu, aku merasa lebih tenang kembali.
Sekarang, saat berkumpul dengan sesama pejuang dari Indonesia, kami hanya tertawa saat mendengar perbandingan-perbandingan di antara situasi kami dengan situasi teman-teman kami di Indonesia. Perasaan ingin menyerah tentu saja tetap ada, terlebih saat berhadapan dengan Kantor Imigrasi Jerman. Namun semua ini adalah proses, jadi, nikmati saja seluruh prosesnya.
Memang, rumput tetangga itu belum pasti lebih hijau dibanding rumput sendiri…
Penulis: A adalah salah seorang Mahasiswa S1 Abadi di Jerman. Umurnya hampir mencapai kepala 3. Hobinya adalah jalan-jalan, olahraga, dan fotografi. Dia anak yang rajin dan senang bekerja serta mencari relasi. Dia berharap untuk bisa menikahi kekasihnya sesegera mungkin di Indonesia.