(MATERI INFORMASI) Diskusi Online Hari Perempuan Internasional 2023

Acara Diskusi Online dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2023 disampaikan oleh Ibu Gopala Sasie Rekha, Pengajar di University of Winchester Inggris dan Ibu Yacinta Kurniasih, Pengajar di University of Monash Australia yang telah menyampaikan materi sesuai pengalaman dan keilmuannya.

Sebagai informasi, RUANITA memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.

Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Informasi lebih lanjut, silakan kontak Admin di info@ruanita.com.

Rekaman ulang acara tersebut dapat disaksikan sebagai berikut:

Tolong subscribe Kanal YouTube kami untuk mendapatkan video-video terbaru dan mendukung kami.

(WARGA MENULIS) Sekarang Giliran Saya Bersuara

Jacinda Ardern, Ursula von der Leyen, dan Angela Merkel merupakan sederetan nama pemimpin wanita dalam bidang politik yang dikenal dunia. Banyak wanita yang menjadikan mereka inspirasi tetapi mungkin ada juga yang merasa, inspirasi mereka berakhir hanya pada tahap fantasi.

“Ah, mereka ‘kan memiliki karir yang bagus, latar belakang pendidikan yang mendukung, public speaking  yang baik. Lalu saya?“ mungkin begitu pikir kita.

Tidak semua wanita dapat mengidentifikasikan dirinya dengan role model tersebut. Jika kita memiliki pikiran seperti ini, saatnya mengubah cara pandang kita. Tidak hanya melihat ke atas atau ke samping, melihat kesuksesan wanita di sekitar kita tetapi lebih penting melihat ke dalam diri sendiri dan fokus pada pengembangan diri.

Apakah dalam perjalanan pengembangan diri saya, saya telah mencapai aktualisasi diri? Apakah saya puas dengan pencapaian saya dan saya nyaman dengan diri saya sendiri? Skill apa yang perlu saya asah untuk mencapai target pribadi saya? Mungkin pertanyaan ini dapat membantu kita dalam merefleksikan kebutuhan psikologis kita.

Abraham Maslow menggambarkan kebutuhan manusia dalam struktur piramida, di mana aktualisasi diri berada di puncak piramida. Kebutuhan ini akan muncul setelah kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial dan penghargaan terpenuhi.

Aktualisasi diri dapat diartikan bahwa kita telah menyadari potensi diri kita sendiri dan menggunakan kemampuan ini secara optimal dalam kehidupan kita sehari-hari dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setelah menyadari potensi ini, mungkin ini saatnya kita para wanita memberanikan diri untuk memimpin.

Kepemimpinan kaum wanita di Indonesia tidak bisa dibilang minim. Namun hal ini masih dianggap istimewa, belum dianggap lumrah, dan bisa diterima sepenuhnya setara dengan kepemimpinan kaum pria. Kesempatan wanita untuk memimpin pun dalam masyarakat masih sedikit.

Tanpa kebijakan kuota untuk pemimpin wanita, wanita harus berjuang sendiri mencapai puncak karirnya. Sudah di puncak pun, wanita harus berhadapan dengan stereotype gender yang berkembang dalam budaya patriarki yang mengakar.

Stereotype feminitas pada wanita tertanam dalam masyarakat sejak dini. Contohnya anak laki-laki akan diberikan mainan mobil dan anak perempuan akan diberikan mainan boneka. Anak laki-laki diharapkan sebagai pemimpin rumah tangga sehingga nantinya membutuhkan mobil sebagai sarana transportasi untuk mencari nafkah.

Sebaliknya anak perempuan diharapkan sebagai seorang ibu yang akan membesarkan dan mengasuh anak-anaknya. Stereotype dalam pola asuh inilah yang menciptakan Stereotype gender, termasuk dalam konsep kepemimpinan.

Komunikasi memegang peranan penting dalam konsep kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menggerakan anggotanya untuk mencapai tujuan kelompoknya. Oleh karena itu pemimpin harus didengarkan suara dan arahannya.

Penelitian-Penelitian di bidang Sosiolinguistik telah membuktikan bahwa gaya bahasa yang digunakan wanita berbeda dengan bahasa yang digunakan pria. Gaya bahasa wanita memungkinkan mereka untuk menuturkan pemikirannya melalui bahasa yang menunjukan identitas dirinya. Wanita ingin penyampaiannya diterima dalam struktur kebahasaan masyarakat yang lebih didominasi oleh pria.

Gaya bahasa wanita memiliki karakteristik yang dapat dikenali. Robin Lakoff, seorang profesor di bidang linguistik mengidentifikasi karakteristik bahasa yang digunakan oleh wanita. Salah satu karakteristik yang menandai gaya bahasa wanita adalah penggunaan aspek kesopanan dalam tata bahasanya.

Contohnya ketika pria lebih menggunakan kalimat perintah langsung seperti: „Tutup pintunya!“ maka wanita mengungkapkan perintah dalam bentuk pertanyaan. Contohnya seperti „Apakah Anda tidak keberatan untuk menutup pintunya?“

Dalam gaya bahasa wanita ini keputusan untuk menutup pintu diserahkan kepada penerima tugas. Itu menimbulkan kesan bahwa wanita tidak yakin dengan keinginannya. Hal ini bisa menjadi dilema bagi pemimpin wanita dalam mencapai tujuannya.

Padahal dengan gaya bahasa tersebut, wanita merasa dapat berbicara dengan kepercayaan diri, kenyamanan, kemandirian, dan perasaannya. Jika wanita keluar dari pola ini dan berbicara secara langsung seperti pria maka wanita akan dianggap tidak feminin, tidak disukai, dan dianggap kasar.

Konstruksi ini membatasi wanita, mengatur posisi wanita dalam masyarakat, dan menghambat kualitas kepemimpinan wanita. Di sisi lain, penelitian yang lebih baru di sisi lain menilai gaya bahasa wanita yang halus sebagai kekuatan wanita.

Gaya bahasa ini dapat juga digunakan wanita secara sadar untuk mempengaruhi lawan bicaranya dan merupakan strategi wanita dalam mencapai tujuannya. Pemahaman akan gaya bahasa wanita dapat membantu pemimpin wanita merefleksikan secara kritis cara berkomunikasinya karena bahasa mengubah cara berpikir dan dapat memengaruhi tindakan.

Sayangnya kesempatan wanita untuk memimpin masih kurang. Untuk menciptakan kesempatan yang kurang didukung sistem diperlukan inisiatif. Ini artinya wanita harus aktif untuk menciptakan peluang dalam memimpin.

Mungkin dalam karir kesempatan, wanita sebagai pemimpin belum tercapai. Namun ketika ada kesempatan-kesempatan kecil, cobalah berinisiatif mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Misalnya, inisiatif mengorganisir acara.

Jika kesempatan ini pun belum datang, ciptakanlah peluang saat anda mempresentasikan ide atau gagasan Anda. Bicaralah dengan kepercayaan diri dan cara komunikasi yang secara sadar ditujukan untuk wanita atau pria sehingga kita sebagai wanita dapat berjuang menciptakan peluang untuk memimpin yang mungkin belum datang. Perjalanan kita masih panjang. 

Penulis: Brigita Febrina Jipi Saputra, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(SIARAN BERITA) Diskusi Online Hari Perempuan Internasional 2023

DENMARK – Setiap tahunnya seluruh dunia, terutama perempuan, merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret.  Pada tanggal tersebut dirayakannya prestasi-prestasi perempuan seperti di bidang sosial, ekonomi, kebudayaan, kesehatan, dan politik yang sayangnya masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat dunia.

Padahal kita, baik perempuan maupun pun laki-laki, mempunyai kemampuan yang sama. Kesetaraan gender di beragam bidang ini yang menjadi prinsip dan misi dari peringatan Hari Perempuan Internasional setiap tahunnya. 

Menurut internationalwomensday.com, tema dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2023 adalah embrace equity, yang berarti setiap orang diberi kesempatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan hanya kesempatan yang sama dengan orang lain. Tujuan utama dari kampanye ini adalah untuk membuat seluruh dunia menyadari, bahwa kesetaraan kesempatan yang sama tidak cukup.

Untuk mendapatkan hasil dan kesuksesan yang sama maka semua orang mungkin mempunyai kebutuhan berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Tentu saja topik ini tidak cukup hanya untuk dibicarakan dan dituliskan, namun juga dipikirkan dan menjadi bahan diskusi, agar semua orang menjadi bagian dari penyelesaian masalah.

Seperti tahun lalu, Rumah Aman Kita (RUANITA) selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang aktif mempromosikan isu kesetaraan gender maka RUANITA menggelar diskusi virtual. Tahun lalu RUANITA mengambil tema: Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan di Luar Negeri bersama para aktivis perempuan.

Tahun 2023 ini diskusi bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang menghadirkan akademisi. Acara ini masih merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan Hari Perempuan Sedunia yang diselenggarakan oleh Ruanita sejak Februari lalu.

Follow us: ruanita.indonesia

Bulan Februari lalu Ruanita bekerja sama dengan KBRI Berlin dan APPBIPA Jerman menyelenggarakan pelatihan penulisan selama dua hari yang juga diselenggarakan secara virtual.

Untuk mengapresiasi peserta pelatihan, naskah peserta yang bertemakan sama dengan tema diskusi virtual ini, yaitu „Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik“ dipublikasikan di website Ruanita dan APPBIPA, serta akan dibukukan. 

Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini bisa dihadiri tanpa pendaftaran dengan mengakses tautan Zoom bit.ly/ruanita-diskusi-virtual pada hari Sabtu, 11 Maret 2023, pukul 16.00-18.00 WIB (10.00-12.00 CET).

Diskusi virtual ini didukung sepenuhnya oleh KBRI Kopenhagen, Denmark dan akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania atau yang mewakili dari KBRI Kopenhagen, Ibu Rizka Azizah.  

Acara akan dipandu oleh Mariska Ajeng (relawan Ruanita dan mahasiswa S3 di Universitas Hamburg). Pemateri pertama adalah Gopala Sasie Rekha, staf akademisi di Universitas Winchester, Inggris. Beliau aktif meneliti di bidang perdagangan manusia.

Pemateri kedua adalah Yacinta Kurniasih, staf akademisi di Universitas Monash, Australia. Yacinta aktif memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Indonesia di mancanegara.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah mendorong semua pihak agar melibatkan partisipasi perempuan tidak hanya di sektor domestik saja tetapi juga sektor publik melalui kepemimpinan perempuan di berbagai bidang.

Kami berharap diskusi ini dapat merekomendasikan kebijakan luar negeri yang mendorong peran semua pihak untuk menekan kasus perdagangan perempuan di mancanegara sehingga tercipta banyak peluang pekerjaan untuk perempuan dan meningkatkan peran perempuan Indonesia dalam keluarga birasial agar menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat di mancanegara.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan, pengamatan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan praktik baik kehidupan di luar negeri. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan psikoedukasi, keseteraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia. 

Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com) 

Rekaman acara ini bisa disaksikan sebagai berikut:

Tolong subscribe kanal YouTube kami

(WARGA MENULIS) Westy: Inspirasi dari Perempuan Trengginas di Tengah Pemain Industri Metalurgi Dunia

Bertubuh mungil dan lincah, Westy Aden Bialke sekilas tampak  seperti salah satu fashionista yang kerap kita temui di pusat kota Frankfurt, salah satu kota pusat financial di Eropa Barat.  Penampilannya yang modis dan memesona menyimpan energi yang luar biasa. Siapa nyana, nama anak perempuan satu-satunya dari  empat bersaudara ini merupakan salah satu nama yang seringkali muncul dalam tender proyek-proyek pabrik metalurgi dunia. 

Ketertarikan Westy, begitu dia biasa dipanggil, pada bidang teknik berawal dari keluarga. Dia mendengarkan percakapan sang Ayah yang merupakan seorang insinyur sipil dan juga diskusi-diskusi dengan sang kakak yang telah lebih dulu memilih untuk berkuliah di bidang yang sama. Hal ini membuat Westy merasa bahwa bidang ini adalah bidang yang keren dan sangat menarik. Selain itu didukung oleh kesukaan dan prestasi Westy di bidang matematika dan fisika semasa duduk di bangku sekolah.

Prestasi Westy dan kecocokannya di bidang yang sudah dipilihnya terbukti dengan pekerjaan pertama yang didapatkannya. Lulus dari Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada tahun 1992, Westy langsung direkrut oleh ARCO (Atlantic Richfield Indonesia Inc.). Ini adalah sebuah perusahaan dengan kantor pusat di Amerika Serikat.

Dia bekerja di sebuah proyek di Pulau Pagerungan. Karena performanya yang mengesankan atasan, sang atasan pun meneruskan dokumen-dokumen Westy kepada seorang Head Hunter. Melalui inilah Westy kemudian direkrut untuk bekerja di Lurgi yakni sebuah perusahaan metalurgi yang berpusat di Jerman pada tahun 1995.

Follow us: ruanita.indonesia

Ini menjadi prestasi tersendiri bagi Westy karena dia adalah insinyur pertama yang direkrut di Indonesia. Tentu berbeda dengan insinyur-insinyur sebelumnya yang direkrut dari luar Indonesia untuk bekerja di lokasi  proyek di Indonesia.

Perusahaan ini membangun berbagai pabrik pengolahan bahan alam untuk klien-klien di berbagai negara, sebuah perusahaan di bidang pembangunan dan konsultan teknik, yang seringkali identik dengan dunia laki-laki. Pada saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998-1999, Westy pun diminta untuk bergabung dengan cabang perusahaan Lurgi di Malaysia.

Pada tahun 2001 dia pun ditawari untuk pindah ke kantor pusat di Frankfurt, Jerman. Kesempatan ini pun tidak disia-siakannya. Hingga saat ini Westy pun masih tinggal dan bekerja di kota Frankfurt. 

Melalui berbagai proyek di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Chili, Trinidad dan banyak negara lain, Westy meniti karir selama 30 tahun terakhir hingga pada perusahaan dan posisinya saat ini.  Sebagai Direktur Bidang Pemasaran dan Proposal di perusahaan Metso: Outotec yang berkantor pusat di Finlandia, wilayah pemasaran yang menjadi tanggung jawab Westy meliputi seluruh dunia.

Dia juga bertanggung jawab atas manajemen proposal di pusat-pusat kompetensi perusahaan di Jerman, India dan Amerika Serikat. Sebagai satu-satunya perempuan di Departemen Pemasaran dan Proposal, Westy memimpin tim yang bekerja dari berbagai lokasi di seluruh dunia.

Salah satu puncak karirnya sampai saat ini adalah jabatan sebagai Vice President Proposal Management pada tahun 2016-2018, sebelum perusahaan mengalami perubahan struktur manajemen. 

Ketika ditanya tentang tantangan apa yang dihadapinya sebagai perempuan yang berkarir di dunia yang sering dilihat sebagai dunia khas laki-laki, Westy memiliki beberapa jawaban yang menarik. Dia  mengakui bahwa dalam bidang tertentu perempuan sering disepelekan.

Namun yang menarik adalah pengalamannya bahwa tantangan ini justru lebih besar ketika dia masih merintis karir di Indonesia.  Selain tantangan untuk membuktikan diri bahwa dirinya adalah insinyur yang berkualitas.

Dia juga  berhadapan dengan stereotype yang dimiliki baik oleh orang Indonesia sendiri maupun oleh tenaga kerja asing yang menganggap bahwa kualitas SDM dari luar negeri lebih baik daripada SDM lokal. Hal ini  membuat Westy semakin bersemangat untuk membuktikan bahwa perempuan Indonesia pun tidak  kalah kualitasnya dengan insinyur-insinyur lain. 

Di samping itu, ada tantangan-tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan gender. Ada juga berkaitan dengan asal, seperti pada saat dia mengambil alih sebuah proyek di Malaysia pada tahun  1999.

“Mereka sempat khawatir, apakah orang Malaysia akan bisa menerima pemimpin dari  Indonesia, perempuan pula,” katanya.

“Tapi ternyata tidak ada masalah dan proyeknya sangat sukses,” tambahnya sambil tertawa. 

Secara umum Westy menjelaskan bahwa cukup sulit bagi perempuan untuk diakui setara, apalagi di bidang yang secara tradisional dikerjakan oleh laki-laki. Perempuan setidak-tidaknya harus 50% lebih  baik atau bahkan dua kali lebih baik daripada pekerja laki-laki.

Untuk merebut kesempatan dalam  bidang yang secara tradisional adalah male domain pun cukup menantang. Seringkali yang dilihat pertama kali sebagai pekerja berpotensi adalah laki-laki, kemudian perempuan sebagai pilihan  berikutnya. Oleh karena itu, penting bagi pekerja perempuan untuk memiliki profil istimewa agar tetap menonjol di antara kandidat-kandidat lainnya. 

Sambil menceritakan perjalanan karirnya yang luar biasa, Westy mengatakan bahwa pada awalnya dia,  seperti banyak perempuan lain. Dia harus bekerja keras untuk membuktikan diri. Dalam perjalanan  karirnya, Westy merasa pada awal tidak banyak konflik karena dia berkonsentrasi kepada  performa.

Dia hanya satu dari banyak staf bawahan yang fokusnya bekerja keras. Hal ini bergeser ketika karirnya sudah mulai menanjak dan posisinya sudah masuk ke jajaran manajemen. Tidak bisa dipungkiri bahwa politik perusahaan mulai memengaruhi proses dan cara kerja orang-orang yang bekerja pada tingkat manajemen.

Di antara jajaran manajemen yang mayoritas laki-laki kadang terbentuk kelompok-kelompok yang saling berkomunikasi tanpa melibatkan Westy. Itu sebab dia harus lebih proaktif untuk mengejar informasi. 

“Perempuan adalah pemimpin yang lebih baik,“ kata Westy sambil tersenyum simpul, “aku meyakini itu.”

Salah satu hal yang telah dialami dan dipraktikkan oleh Westy sendiri adalah bahwa perempuan  memiliki insting dan kepekaan untuk menangkap apa yang diperlukan oleh anggota tim untuk menjadi  ‘A winning team‘.

Dia mengatakan bahwa melalui kepekaan khas perempuan ini, dia mampu  menangkap apa yang dibutuhkan oleh anggota timnya untuk bisa mengembangkan potensi mereka secara maksimal meskipun pada saat bersamaan dia juga menuntut performa yang luar biasa dari  seluruh anggota timnya. Sebagai timbal balik dari perhatian dan dukungan dari sang Atasan, anggota timnya sangat loyal dan bersedia memberikan usaha terbaik bagi kesuksesan tim. 

Ketika saya minta untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinannya, Westy menjawab dengan spontan,  “Aku menempatkan diri sebagai Role model. Tugasku mendemonstrasikan dan memberi contoh.” 

Westy mengatakan bahwa dia tidak segan untuk melakukan semua pekerjaan, apapun itu. Kalau ada anggota tim yang datang dan mengatakan bahwa dia perlu bantuan, bantuan apa pun akan dikerjakan. Dia adalah bagian dari tim dan bukan bos. Komunikasi yang jelas dan tegas menjadikan semua anggota  tim mengerti apa yang diharapkan dari mereka dan tetap siap meminta bantuan jika diperlukan. 

Yang menarik bagi saya adalah ketika Westy bercerita bahwa tantangan tidak hanya muncul di bidang  kerja, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sebagai perempuan Asia yang menikah dengan laki-laki Jerman dan tinggal di Eropa, Westy bercerita bahwa dia terkadang dipandang sepele oleh orang-orang  yang belum mengenalnya.

Meskipun Westy sendiri sering tidak ambil pusing, tetapi dia bercerita bahwa sang suamilah yang pada awalnya seringkali memperkenalkan dirinya. Suaminya langsung  bercerita dengan bangga, “Istriku ini insinyur!“

Hal ini untuk membongkar stereotype perempuan asing yang dianggap menumpang hidup dengan pasangannya yang berkulit putih. “Sesudah 18 tahun menikah sih sudah tidak perlu lagi ya. ‘Kan kenalan kami semua sudah tahu hehehe,” kata Westy. 

Di samping suami yang bangga akan identitas dan pencapaiannya, Westy juga sangat bersyukur karena  pasangan hidupnya ini sangat mengerti tuntutan pekerjaannya. Datang dari latar belakang pekerjaan yang sama, sang suami mengerti beban dan bidang kerjanya.

“Kalau sama-sama pulang kerja, dia tahu betul hari ini seberat apa.”

Westy pun tidak khawatir meninggalkan rumah dalam rangka perjalanan dinasnya ke seluruh dunia karena mereka saling bekerja sama di dalam dan di luar rumah tangga. 

“Suamiku lebih sering memasak loh, daripada aku.” 

Harus diakui, mencapai karir yang luar biasa dan memimpin tim internasional dengan klien yang  bekerja dalam zona waktu yang berbeda-beda membuat Westy sulit menjaga Work-life balance. 

“Meskipun idealnya pulang kerja lepas dari telepon genggam, tetapi pada kenyataannya sulit ya. ‘Kan klien dan anggota timku jam kerjanya beda-beda,” dia mengakui.

“Tapi akhir pekan tetap milik suami ya, dikombinasikan dengan ketemu sesama orang Indonesia di Gereja,” tambahnya. 

Ada banyak hal yang disyukuri oleh Westy: karir yang moncer dan pasangan yang baik, serta kesempatan  untuk membahagiakan dan mengunjungi kedua orang tua di Indonesia dua kali setiap tahunnya. 

Sebelum berpisah saya bertanya kepada Westy tentang tips atau hal-hal apa yang ingin dia bagi untuk  sesama perempuan Indonesia. Perempuan berpaspor Indonesia ini pun membagikan pengalamannya. 

“Jangan ragu-ragu untuk mengeksplorasi diri!”

Bakat apapun, dalam bidang apapun, harus digunakan  sebaik-baiknya. Tidak penting apakah bakat dan minat itu ada bidang akademis, sosial, budaya, dan  lain-lain, eksplorasilah karena ini adalah bagian penting kehidupan. 

“Jangan bergantung pada laki-laki!”

Westy berpesan bahwa seorang perempuan harus punya jati diri  dan harus mampu berdiri di kaki sendiri. Dia menekankan pentingnya pendidikan karena pendidikan  adalah salah satu pilar penting jati diri dan kemandirian. Apabila di kemudian hari, perempuan memilih  untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh maka itu pun tidak masalah. Namun dia sudah punya jati diri dan  modal pribadi untuk duduk setara dengan partner hidupnya. 

“Yang terakhir, jangan takut untuk mengambil tantangan!”

Banyak perempuan cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Namun kadang kehati-hatian ini menjadi batu sandungan jika bersaing dengan laki-laki yang cenderung lebih cepat menjawab “Bisa!“ ketika menghadapi tantangan.  Westy mengatakan bahwa perempuan perlu lebih berani untuk mengambil risiko dan percaya pada diri sendiri, “Saya bisa!“. 

Tak terasa sudah lebih dari satu setengah jam saya menimba inspirasi dari pemimpin perempuan di  depan saya. Saatnya kami mengejar kereta untuk kembali ke rumah masing-masing. Sambil  merapatkan jaket, saya berterima kasih dan mengamatinya menghilang di antara para penumpang  kereta bawah tanah di pusat kota Frankfurt. 

Penulis: Etty Prihantini Theresia, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Keselarasan Sang Perempuan pada Hempasan Masa

Dewasa saat ini sedang terjadi proses transkulturasi di mana terjadi pertemuan antar kebudayaan, yaitu kebudayaan timur dan kebudayaan barat. Sejak lama pula kebudayaan dunia termasuk ilmu pengetahuan, fesyen, dan bahkan gaya hidup (Life style) banyak didominasi oleh kebudayaan barat. Di era globalisasi ini bukan saja dunia timur dilanda konsep dunia barat melainkan dunia barat pun mulai mengenal dan menerapkan budaya timur yang sudah sangat tua. Seperti budaya Bali, budaya Jawa, budaya Cina dan masih banyak lagi dunia barat memelajari dan mengajarkan budaya budaya timur di negaranya. Bahkan mereka menerapkan nilai-nilai budaya tersebut di dalam kehidupan mereka  sehari-hari.

Penularan-penularan budaya ini begitu cepat terjadi dan dominan dipicu dari peran sang perempuan di dalamnya. Fakta saat ini banyak muncul perempuan asli Spanyol yang mahir berbahasa daerah yang ada di Indonesia misalnya bisa berbahasa Jawa, bisa berbahasa Bali, atau bisa berbahasa Sunda. Selain mereka bisa berbahasa Indonesia, mereka juga bisa menguasai kesenian tari Bali, dan bisa menguasai cara membatik. Bahkan saat ini mampu membuka kursus tari Bali dan memiliki tempat kursus cara membatik di ranah Spanyol ini. Dia juga tahu cara memasak masakan khas Indonesia dan menjadikan menu makan malamnya.

Dikutip dari keberhasilan Angela Lopez Lara yang beralamatkan di Madrid Spanyol, dia berhasil memelajari budaya Bali. Saat ini dia mengajar dan membuka kursus tari Bali di Madrid Spanyol. Selain penularan budaya dari Indonesia, ada juga yang menguasai budaya Cina dan budaya dari negara-negara timur lainya.

Kesuksesan perempuan-perempuan hebat ini membuktikan bahwasanya peran perempuan itu sudah sangat jelas ada dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Perkawinan campur antara barat dan timur pun menjadi prasarana penularan dan pertukaran budaya yang terjadi begitu cepat. Dengan fakta-fakta ini, seperti memberikan ruang pendapat bahwa sang perempuan telah memiliki ruang yang selaras dengan laki-laki. Perubahan-perubahan besar yang terjadi saat ini tidaklah luput dari peran sang perempuan hebat di dalamnya.

Follow us: ruanita.indonesia

Sebelum saya menulis, jauh saya mengajak Anda semua untuk melihat, mengerti, dan memahami dua sisi sang perempuan atas tingkat keberdayaannya. Dua sisi ini akan menciptakan sebuah hasil yang berlawanan antara satu dan lainnya. Dua tingkatan keberdayaan itu antara lain sisi pertama,  perempuan itu ibarat air.

Dia akan terus mengalir dengan tenang dan mata airnya menjadikan sumber kehidupan bagi makluk hidup serta tumbuhan yang ada di muka bumi ini. Tetapi air yang tenang itu bisa juga membawa kita terjebak dan tenggelam di dalamnya. Dalam artian perempuan adalah sumber kemakmuran yang bisa membawa kemakmuran baik di lingkungan kecil maupun di sebuah lembaga besar.

Perempuan akan memberikan sumber-sumber kekuatan yang dahsyat apabila ditempatkan pada tempat yang benar serta nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan. Perempuan akan mampu berkolaborasi dengan baik dan menciptakan sebuah hasil yang menakjubkan. Namun bila perempuan ditempatkan di tempat yang kurang betul, bisa menjadikan bumerang bagi banyak insan. Sifat perempuan ditindas, dilecehkan, tidak dihargai ini adalah sumber air yang bahkan bisa menenggelamkan dunia.

Sisi kedua adalah perempuan bisa juga menjadi sebuah bola api yang bisa membakar, menjadikan arang, dan hanya meninggalkan sisa-sisa abu di muka bumi ini. Dalam artian sudah saya singgung di atas, penghargaan nilai-nilai norma perempuan harus dijunjung tinggi, dihargai, dan dilestarikan.

Itulah kehebatan dan kekuatan daya yang ada pada sang perempuan. Di era globalisasi saat ini belum semua orang bisa mengerti dan memahami dua sisi perempuan ini. Bahkan mereka belum melibatkan perempuan untuk berkolaborasi baik di tingkat lingkungan atau organisasi kecil maupun di sebuah komunitas yang besar seperti ruang politik, keuangan, wirausaha bahkan ketatanegaraan.

Sudah banyak kita melihat peran-peran yang sangat luar biasa tercipta dari perempuan-perempuan hebat. Peran sang perempuan pada era cerita Siti Nurbaya sudah seakan-akan mulai lenyap, lama-lama hilang terkubur begitu saja dengan berjalannya masa. Yaitu dari masa dulu ke masa kini dan hanya meninggalkan sepenggal cerita.

Sedikit kita menoleh ke belakang lagi atau ke masa yang sudah lampau sebenarnya. Sudah begitu banyak kekuatan daya perempuan yang mampu menciptakan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan di dunia ini. Akan tetapi itu masih kurang untuk mengetuk hati sang perempuan lainya untuk membangun keberanian diri, meniru bahkan melakukan jejak perempuan-perempuan hebat tersebut.

Namun dengan berjalannya masa, dari masa lampau ke masa baru, menghantarkan sang perempuan memiliki perubahan-perubahan besar. Tentunya dari pengaruh perubahan besar tersebut, ini mampu menciptakan sebuah perubahan yang besar pula di lingkungan perempuan tersebut. Sang perempuan tidak akan tertinggal begitu saja .

Kemajuan dan perubahan besar sebuah negara akan didominasi oleh peran sang perempuan dan juga peran dari anak-anak bangsa. Sejatinya di sini peran utama berasal dari peran sang perempuan tersebut. Anak-anak bangsa yang begitu hebat dan cerdas luar biasa terlahir ke muka bumi ini dari sang perempuan.

Perempuan tidak cukup hanya melahirkan saja, tetapi juga membesarkan, mendidik, menumpu, dan membentuk sebuah karakter dari anak-anak bangsa tersebut. Begitu adalah mayoritas peran hebat sang perempuan.

Menyadari akan kekuatan daya sang perempuan di tanah Spanyol ini, tidak heran apabila Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez  mengatakan dengan semangat antusias „Selamat datang dunia baru!’’ dengan memilih dan memercayakan kabinet barunya yang didominasi oleh sang perempuan. Adalah 11 menteri perempuan dan 6 menteri laki-laki.

Ini telah menjadi sejarah pertama kalinya dalam demokrasi moderen di negara Spanyol. Gebrakan gerakan gelombang demo feminis dengan jumlah kisaran di atas ribuan wanita turun ke jalan. Pada tanggal 8 Maret 2018 tuntutan tersebut antara lain: keselarasan kedudukan perempuan dengan laki-laki, kesamaan derajat, kesamaan gaji disuarakan oleh mereka. Sinyal ini ditangkap oleh Pedro Sanchez sehingga dia memutuskan bahwa peran perempuan di sekelilingnya akan membawa perubahan besar dan kemajuan di negara tersebut.

Selain di negara  Spanyol, tidak kalah juga di negara kita yaitu Indonesia yang terus bermunculan sosok perempuan-perempuan hebat. Mereka mengisi dan turut serta ambil andil dalam peranya untuk membangun dan membawa negara Indonesia. Misalnya perubahan besar susunan kabinet menteri yang memercayakan kekuatan perempuan di dalamnya.

Ada partai politik, bisnis, dan masih banyak fakta perubahan besar lainnya yang tidak lepas dari peran sang perempuan yang luar biasa dalam keikutsertaannya berkolaborasi di dalam ruang publik. Ini telah menjadikan suatu  inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di tengah masa perubahan besar dalam hempasan masa.

Perubahan-perubahan besar ini tidak hanya terjadi di daerah perkotaan yang mungkin sarana dan prasarana lebih memadai tetapi juga di daerah yang mungkin internet belum begitu sempurna difungsikan. Dampak dari perjalanan waktu, dari masa ke masa, tersebut akan membentuk sang perempuan untuk memiliki perubahan.

Sebuah kesimpulan dalam beberapa poin mungkin bisa membantu Anda semua menjadi bahan pengingat antara lain:

  1. Setiap perempuan itu dilahirkan ke muka bumi ini dengan memiliki keunikan tersendiri, kecantikan, kelembutan, kecerdasan, dan keberanian serta kekuatan yang luar biasa dan juga memiliki peran untuk mampu melahirkan anak-anak muda yang hebat. Kekuatan, kesabaran, dan kecerdasan sang perempuan tidak ada batasannya. Namun sang perempuan mampu mengontrol diri untuk tidak menjadi kelewat batas dalam setiap perannya.
  2. Perempuan adalah sumber energi kekuatan yang tepat untuk membangun dan mefungsikan keberdayaannya untuk mencapai suatu titik keberhasilan. Ini merupakan titik kesuksesan yang besar apabila ditempatkan pada tempat yang benar apabila diberi kepercayaan, toleransi dan dihargai.
  3. Kesamaan kuasa ataupun tingkat kepemimpinan sosok perempuan bukan suatu pukulan. Ini bukan hal yang sangat menyedihkan bagi kaum laki-laki. Justru ini merupakan kolaborasi dengan laki-laki pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan seorang laki-laki.
  4. Sesungguhnya kesuksesan seorang laki-laki itu pasti ada peran perempuan hebat di belakangnya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat dan bisa sedikit menambah informasi bagi Anda semua. Mari kita memahami, mengerti, dan menghargai sesama dengan cinta kasih sejati.

Penulis: Tyka Karuniawan, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Spanyol.

(WARGA MENULIS) Wanita Alfa Lahir karena Intuisi, Pilihan atau Lingkungan?

Wanita Alfa atau lebih dikenal khalayak dengan Alfa Female, pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang memiliki sifat yang kuat, independent, dan berpengaruh. Istilah ini berasal dari istilah “Alfa Male”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang pria yang memimpin dalam segala hal, baik dalam hal profesional maupun pribadi. Dalam hal ini “Wanita Alfa” atau Alfa Female digunakan untuk menggambarkan wanita yang memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan Alfa Male.

Kepribadian wanita Alfa sangat kuat. Mereka memiliki keyakinan diri yang tinggi, kemampuan memimpin dengan hebatnya dan tidak takut berbicara demi memperjuangkan pendapat. Mereka menggunakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi digunakan dengan baik, persuasif dan bisa memotivasi banyak orang adalah salah satu caranya.

Kepopuleran dan pengaruh wanita Alfa di dunia sangat besar dan bisa dibilang meningkat setiap tahunnya. Berikut adalah beberapa tokoh wanita Alfa yang populer dan berpengaruh di dunia:

1. Kamala Harris – Wakil Presiden Amerika Serikat.

2. Angela Merkel – Mantan Kanselir Jerman.

3. Jacinda Ardern – Perdana Menteri Selandia Baru.

4. Hillary Clinton – Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

5. Oprah Winfrey – Pembicara, Produser Televisi dan Filantropis.

6. Sheryl Sandberg – COO Facebook dan Penulis Buku “Lean In”.

7. Michelle Obama – Pengacara, Penulis dan Mantan Ibu Negara Amerika Serikat.

8. Indira Gandhi – Mantan Perdana Menteri India.

9. Amanda Gorman – Penyair, Aktivis dan Penulis.

10. Sri Mulyani – Wanita sekaligus orang Indonesia Pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia dan Menteri Keuangan Indonesia.

Tokoh-tokoh wanita Alfa di atas sudah dicatatkan dalam sejarah sebagai pemikir terkemuka dalam bidang mereka masing-masing. Secara umum, saya melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai pemimpin inspiratif dan role model bagi banyak orang, terutama bagi kaum wanita.

Follow us: ruanita.indonesia

Mereka membuktikan bahwa gender tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dan memimpin dalam bidang tertentu. Mereka menunjukan bahwa bukan gender, melainkan kualitas seperti dedikasi, keterampilan dan kemampuan memimpin adalah faktor yang menjadikan seorang pemimpin hebat dan sukses.

Pencapaian istimewa dari para wanita Alfa di atas adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan peran publik dan perannya sebagai wanita dengan sangat baik. Mereka mampu menjalani hidup mereka dengan sangat efektif, menjadi pemimpin di bidang mereka, dan juga memenuhi tanggung jawab sebagai seorang wanita.

Memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas mereka, memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik, dan memastikan bahwa semuanya dapat berjalan lancar. Mereka adalah wanita Alfa yang memiliki kemampuan memotivasi orang lain, baik di tempat kerja maupun di rumah. Terlihat dengan jelas memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang-orang di sekitarnya.

Kemudian menjadi pertanyaan di benak saya, bagaimana seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa? Wanita-wanita Alfa ini sukses tidak hanya menggebrak stigma kepemimpinan yang biasa dipegang kaum pria, tapi juga memengaruhi publik serta orang yang ada disekitarnya. Menyeimbangkan peran, memberikan kontribusi yang signifikan di berbagai bidang baik di lingkungan kerja maupun di rumah adalah sesuatu luar biasa. Dengan memiliki visi yang jelas dan tidak terpengaruh oleh keterbatasan gender. Wanita Alfa memimpin dengan keterampilan dan keahlian yang luar biasa, membuat keputusan sulit dan membawa perubahan yang diperlukan.

Apakah seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa karena bentukan dari sebuah intuisi wanita itu sendiri? Ataukah menjadi seorang wanita Alfa adalah sebuah pilihan yang memang dipilih sendiri oleh wanita itu? Atau munculnya wanita Alfa ini karena lingkungan yang membuatnya? Melalui narasi-narasi di bawah ini saya coba untuk menguraikan.

Narasi yang pertama, ada seorang wanita bernama Fatimah. Sebagai anak bungsu dari keluarga mampu dan istri dari seorang pengusaha sukses, dia memiliki kemampuan dalam memahami situasi dan membuat keputusan yang tepat dan cepat.

Kemampuan ini berasal dari intuisinya yang kuat dan dalam, yang seolah memberikan nasihat dan petunjuk kepadanya dalam setiap tahap hidupnya. Fatimah selalu memercayai dan mengikuti intuisinya, bahkan saat orang lain tidak setuju dengan pilihan hidupnya.

Ia memutuskan untuk mengikuti mimpinya dan mengejar karir di bidang yang benar-benar passion-nya menjadi Teknisi Mesin meskipun ini berarti meninggalkan kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan pekerjaan lamanya. Intuisi Fatimah membawanya ke lingkungan dan situasi baru yang memacu pertumbuhan dan pengembangan diri.

Ia beradaptasi dan membuat keputusan yang tepat, membawanya mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam bidang yang dipilihnya. Fatimah memimpin timnya dengan visi yang jelas dan tegas, memotivasi orang untuk bekerja sama dan membantu mereka mencapai potensi yang maksimal. Ia memimpin dengan kepemimpinan yang inspiratif dan membantu orang lain untuk berkembang dan sukses bersama.

Fatimah menjadi contoh bagi wanita lain bahwa intuisi adalah kekuatan yang sangat kuat dan dapat membantu seseorang mencapai kesuksesan dan memimpin hidup mereka. Ia membuktikan bahwa dengan memercayai intuisi dan mengikuti intuisi, seseorang dapat mencapai kesuksesan dan memiliki pengaruh besar dalam lingkupnya.

Narasi yang kedua, sosok wanita bernama Dian, anak sulung dan seorang ibu tunggal dengan 5 anak, kondisi keluarganya mengharuskan Dian untuk mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dian memutuskan memilih untuk menjadi sosok kepala keluarga yang kuat dan tangguh supaya bisa membawa keluarganya sukses dan mapan.

Dian bekerja dengan giat sambil menjalankan rumah tangga serta membesarkan anak-anaknya sendiri. Dian mulai membangun usaha catering rumahan yang dikerjakan sendiri pada awalnya, hingga akhirnya usaha catering-nya sukses dan memiliki karyawan total lebih dari 800 orang.

Dian berhasil memotivasi dan meyakinkan karyawan-karyawannya untuk sukses bersama dengan membuka cabang di beberapa kota lain. Di sini kita bisa melihat, Dian adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam memilih pilihan hidupnya dengan kuat dan tegas. Tekanan lingkungan dan permasalahan demi permasalahan tidak gentar ia hadapi dengan sebaiknya.

Saat ini pada usianya menjelang 70 tahun, Dian sudah bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, menikmati masa-masa pensiun, ia berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kelima anak Dian sukses menyelesaikan pendidikan hingga tingkat pascasarjana dan berkarir dengan gemilang.

Dian adalah contoh dari seorang wanita yang memilih untuk menjadi wanita Alfa tangguh. Ia membuktikan dengan membuat pilihan hidup yang berani, seseorang bisa menjadi wanita Alfa yang sukses memberikan dampak positif untuk dirinya, keluarganya dan juga timnya.

Narasi yang ketiga. Diceritakan bahwa Mira, wanita yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat mendukung dan membentuk dirinya menjadi wanita Alfa. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang memperkuat pemikiran dan keyakinan bahwa setiap setiap wanita memiliki potensi untuk memimpin dan berpengaruh dalam lingkup mereka.

Mira adalah anak dari seorang wanita sukses pemilik perusahaan besar yang menaungi beberapa perusahaan dan berpengaruh dalam lingkup bisnis. Ia menjadi panutan Mira dan membantu Mira memahami bahwa wanita adalah kaum berdaya yang memiliki kemampuan memimpin dan bisa memengaruhi publik. Mira memperoleh pendidikan yang kuat dan sangat menunjang serta lingkup kerja yang menyediakan kesempatan baginya untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuannya sebagai wanita Alfa.

Ia bekerja dengan tim dan pimpinan yang menghormati serta mendukung potensi dan bakat yang dimilikinya. Mira kini menjadi sosok wanita Alfa, pengusaha sukses dan aktivis yang populer menyuarakan aspirasi-aspirasi lingkungan dengan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Melalui ide-ide yang ia suarakan, terjadi banyak perubahan kebijakan pemerintah ke arah yang lebih baik.

Sosok Mira adalah bukti bahwa lingkungan adalah tempat terbaik yang memengaruhi pembentukan pola pikir dan karakter seseorang. Ia menjadi contoh bahwa dengan memiliki lingkungan yang menghormati dan mendukung setiap potensi wanita untuk berkembang, seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa yang sukses dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya.

Ada beberapa wanita yang secara alami berintuisi, memiliki kepribadian dan sikap yang kuat dalam memimpin, sementara yang lainnya mungkin harus memilih untuk mengembangkan serta memperkuat kemampuan mereka dalam memimpin melalui pelatihan atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya menawarkan “untuk menambah dan mengasah ilmu kepemimpinan”.

Saya pun percaya bahwa pengalaman hidup dan lingkungan juga memainkan peran dalam membentuk seorang wanita menjadi wanita Alfa. Terkadang, orang-orang dapat memutuskan untuk menjadi pemimpin setelah mengalami situasi atau tantangan yang membutuhkan mereka untuk memimpin dan membuktikan kemampuan mereka.

Perlu diingat bahwa setiap wanita memiliki potensi untuk sukses, tidak peduli apakah mereka memiliki sifat wanita Alfa atau tidak. Keberhasilan dalam bidang apapun tergantung pada kerja keras, dedikasi dan kemampuan belajar yang tangguh serta beradaptasi.

Jadi walaupun secara alami memiliki kepribadian dan sikap wanita Alfa, tidak ada jaminan bahwa wanita ini akan sukses. Apalagi menggebrak dan berpengaruh terhadap publik, tidak ada batasan bagi siapa saja mencapai kesuksesan.

Panggilan untuk setiap wanita: Kejarlah impian dan manfaatkan potensi Anda sepenuhnya! Ini adalah ajakan untuk memiliki keberanian dan tekad untuk memimpin dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Menjadi wanita Alfa di ruang publik, bukan hanya tentang sukses di bidang tertentu saja, ini tentang memiliki dedikasi dan gairah untuk mencapai kesuksesan bersama. Mari berperan ganda dan buktikan bahwa wanita bisa berdaya, membuat perbedaan positif bagi diri sendiri dan dalam hidup banyak orang.

Sampai akhirnya pada suatu hari Anda bisa berkata layaknya kalimat mutiara anonim: “Jangan meremehkan saya! Saya tahu lebih banyak daripada yang saya katakan, melakukan lebih banyak dari yang saya bicarakan dan memperhatikan lebih banyak dari yang Anda sadari.”

Penulis: Nadiya Dewantari, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Perempuan Mandiri Punya Nama Sendiri

“Apalah arti sebuah nama”, satu kalimat yang tak asing bagi kita semua. Jika kita renungi, kalimat tersebut mempunyai arti yang dalam. Sebuah sikap bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada sebuah nama.  Buat saya sendiri, tema nama selalu menarik perhatian. Sebuah nama mempunyai latar belakang tradisi tua yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, terutama  bagi kehidupan seorang perempuan.

Di banyak negara, perempuan menukar nama keluarganya dengan nama keluarga suami yang dinikahinya. Di Indonesia fenomena yang ada adalah perempuan Indonesia kehilangan nama depannya setelah mereka berkeluarga, berganti dengan Mama Si Tole atau  Istri Si Anu. Tetapi fenomena ini mungkin tidak banyak terjadi terhadap perempuan pemimpin. Apakah seorang perempuan harus menjadi pemimpin untuk tidak kehilangan nama depannya?

Para perempuan Indonesia lahir dan mendapatkan nama yang diberikan orangtua mereka.  Biasanya nama mempunyai arti penting  dan merupakan wujud kebahagiaan, harapan bahkan sebuah doa dari orang tua mereka. Di luar nama yang menunjukkan tradisi, identitas  adat dan agama, nama depan menjadi bagian aktif dalam kehidupan para perempuan sejak lahir. 

Nama tersebut seharusnya menjadi nama yang melekat di sepanjang hidup mereka. Tetapi tak jarang nama itu hanya dikenal hanya sampai mereka mendirikan keluarga. Terlepas dari hanya sebatas pemberian nama dari orang tua, ada juga aturan pemberian nama terkait adat dan hukum yang mengikat. 

Mari kita simak beberapa contoh perjalanan para perempuan pemimpin di beberapa negara dan nama depan mereka. Saya mengambil contoh Indonesia, Jerman dan Spanyol sebagai tiga negara yang saya kenal baik. Indonesia sebagai kampung halaman, tanah kelahiran. Jerman dan Spanyol sebagai kampung halaman pilihan, tanah domisili.

Megawati Soekarnoputri, nama perempuan terkenal yang pernah menjadi pimpinan negara Republik Indonesia pada tahun 2001 hingga 2004. Nama depannya sangat kental kita kenal: Megawati atau nama singkatnya, Mega.

Publik menyapa politisi perempuan ini dengan sebutan Bu Mega. Sebagai pemimpin, putri dari salah satu Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia ini, sudah lebih dulu menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia. Di Jerman, perempuan pemimpin yang disapa publik dengan nama Frau (Ibu) Angela Merkel. Ia menjadi kanselir negeri Jerman 16 tahun lamanya, sejak 2005 hingga 2021.

Ia menjadi seorang perempuan yang dicatat sejarah sebagai kanselir perempuan pertama di negara Republik Federal Jerman.  Frau Merkel juga menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia.

Follow us: ruanita.indonesia

Berbeda dengan Bu Mega, Frau Merkel  lahir dengan nama lain, yaitu Angela Dorothea Kasner.  Kita bisa melihat bahwa tradisi nama seorang perempuan Indonesia sangatlah kental dengan nama depan pemberian orang tuanya. Kita ambil nama lain, misalnya Profesor Conny Semiawan, seorang ilmuwan, mantan rektor Universitas Negri Jakarta, sebutan yang lebih dikenal untuk Almarhumah adalah Ibu Conny, bukan Ibu Semiawan. 

Lain halnya dengan di Jerman. Ada hukum pemberian nama, yaitu ada nama depan dan nama keluarga yang mengikat. Ada tata cara penggunaan bahasa dalam menyapa nama. Tambah lagi, ada juga aturan perubahan nama keluarga saat seseorang menikah. Saat ini hukum itu berbeda dibanding saat Frau Merkel menikah dengan suami pertamanya.

Saat itu mungkin belum banyak pilihan, umumnya orang memutuskan menanggalkan nama belakangnya untuk ditukar dengan nama suaminya. Di pernikahan keduanya Frau Merkel menggunakan nama keluarga sebelumnya, tidak mengubah namanya. Kini secara hukum, saat seseorang menikah, di Jerman ada banyak pilihan yang bisa diambil.

Orang bisa menambah, mengurangi, atau pun tetap tetap mempertahankan nama yang disandang sebelumnya.  Selain contoh di atas, ada hal yang harus diingat.  Misalnya presiden Uni Eropa, seorang perempuan bernama Ursula von der Leyen, sebutannya Frau von der Leyen.  Sebutan dengan cara Indonesia dengan kata sapa diikuti nama depan, Frau Ursula, tidak akan terjadi.

Sementara di Indonesia, penambahan atau pengurangan nama yang dicatat secara hukum karena pernikahan, tidaklah menjadi bagian aturan yang digunakan.

Contoh kecil di atas memperlihatkan perbedaan tentang penggunaan nama di masing-masing negara. Di Jerman dan di Indonesia, aturan resmi penggunaan nama itu sangat lekat dengan tradisi dan aturan hukum yang berlaku. Di bagian dunia lain ada banyak tradisi dan aturan yang berbeda. Saya ambil contoh, misalnya  budaya pemberian nama di negara Spanyol.

Jangan berpikir,  bahwa sebagai salah satu negara di wilayah Eropa, aturan di Spanyol sama atau pun mirip dengan Jerman.  Penjelasan di bawah ini diharap bisa membuka pemahaman umum. Tradisi pemberian nama sama sekali tak  bergantung pada letak geografi. Memang pada dasarnya dari pilihan nama-nama di Jerman dan di Spanyol ditemui perbedaan  dan kesamaan.

Di Spanyol, pilihan nama asli Spanyol sebagai nama yang dicatat di kantor pencatatan sipil menjadi aturan yang mengikat. Nama asli Spanyol bisa menunjukkan asal geografi, ada nama khas dari wilayah Katalan, Galicia, Andalusia, dan lainnya. Orang asli Spanyol memberikan nama pada anaknya dengan memilih nama depan dari nama-nama yang sudah ada di buku nama-nama depan orang Spanyol.

Saya ingat, seorang perempuan Spanyol ingin menamai anaknya Thelma, tetapi dalam buku besar nama, hanya ada nama Telma. Maka ia harus mengajukan permohonan. Aturan ini membuat nama-nama asli Spanyol tetap ada, tidak tergeser oleh nama asing.  Selain di Spanyol, kita bisa mengenali nama-nama orang Spanyol yang digunakan juga di negara-negara Amerika Selatan.

Tiap orang Spanyol, saat lahir mereka mendapatkan satu atau beberapa nama depan yang diikuti dengan dua nama keluarga yang berjejer.  Nama keluarga terdiri dari satu nama keluarga dari bapak dan satu nama keluarga dari ibu. Kita ambil saja, ratu negeri Spanyol saat ini yang bernama Letizia Ortiz Rocasolano, nama yang disandang saat ia lahir, Letizia sebagai nama depannya, nama Ortiz adalah nama keluarga yang dia peroleh dari bapak, dan nama Rocasolano dari nama keluarga ibu.

Perempuan yang sebelum menikah berprofesi sebagai seorang jurnalis itu, kini dipanggil dengan sebutan Doña Letizia. Tradisi penggunaan nama depan, yang dijadikan sebagai nama publik, tidak dikenal dalam tradisi dan aturan masyarakat Jerman, sementara dalam tradisi Spanyol, kata sebutan –Doña, Señora itu mirip dengan penggunaan sebutan bagi perempuan di Indonesia yaitu  Nona, Ibu, Nyonya.  

Follow us: ruanita.indonesia

Jadi kalau menilik tema tradisi atau pun hukum pemberian nama, kita tidak bisa menggunakan pemetaan atas dasar geografi. Di Eropa juga banyak tradisi yang mengikat dan yang membebaskan perempuan menjadi dirinya dan memilih nama dirinya sesuai yang dia inginkan.

Para perempuan Indonesia biasanya punya nama depan yang dipakai sebagai nama diri, nama yang disebut oleh publik,  apalagi jika dia berada di posisi yang menempatkannya sebagai pemimpin. Akan tetapi, secara umum dan secara luas, dalam kehidupan perempuan yang sudah menikah di Indonesia.

Kebanyakan  mereka kehilangan nama depan  karena nama panggilan yang digunakan dalam keseharian berorientasi pada suami atau anak mereka.  Jangan heran jika kita berkunjung ke rumah seorang teman perempuan, seringkali kita harus tahu siapa nama panggilan yang digunakan oleh orang sekitarnya.

Seorang perempuan yang bernama Tridewi Anandaputri, setelah menikah dengan suaminya yang bernama Raja Suhari, sangat wajar jika pelan-pelan tak ada orang di lingkungan tinggalnya yang kenal nama Tridewi, Anandaputri atau nama lengkapnya, karena sejak awal berumah tangga sudah digunakan nama sebutan Bu Raja atau Bu Suhari.

Nama perempuan itu bisa juga hilang saat dipakai  sebutan Mama Dewa, jika misalnya anak sulung mereka bernama Dewa.

Para perempuan pemimpin menurut saya menjadi contoh baik mempunyai nama diri, memakai nama depan mereka. Nama depan seorang perempuan di Indonesia bisa hilang karena kebiasaan masyarakat. Sayang sekali bahwa tema ini kurang mendapat perhatian, bukan saja perhatian secara umum, tapi juga perhatian dari para penyandangnya sendiri.

Bisa jadi karena keberterimaan yang tinggi dari penyandang nama tersebut. Mereka yang sudah merasa puas mendapat posisi sebutan Istri Si Anu ataupun Mama Si Tole. Jika situasinya memang demikian maka tak ada hal yang perlu diubah. Akan tetapi, untuk para perempuan yang belum terlanjur kehilangan nama depannya, saya berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat sebagai bahan pertimbangan Anda.

Keputusan perubahan ada di tangan Anda, siapa pun Anda, dengan nama apa pun Anda ingin tampil di ruang publik dan lingkungan Anda.  Satu hal saya yakini, bahwa tak harus jadi pemimpin untuk tetap mempertahankan nama depan Anda. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023!

Penulis: Dyah Narang-Huth, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Semua Bahasa Indah dan Penting

Di bulan Februari 2023, kami mengundang Yacinta Kurniasih yang tinggal di Australia untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya yang telah bergelut dalam bidang Akademisi terutama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Australia. Setelah lebih dari 20 tahun tinggal di Australia, Yacinta menyadari bahwa Indonesia memiliki keragamaan bahasa yang tidak ternilai dan tentu saja tidak dimiliki oleh banyak negara lainnya di dunia.

Yacinta berpendapat semua bahasa itu indah dan penting. Itu sebab Yacinta menyarankan untuk kita mengenali bahasa-bahasa lainnya, tidak hanya pada satu bahasa saja atau Monolingualistik. Bagaimana pun bahasa itu adalah hak asasi manusia yang paling hakiki. Kita yang berasal dari Indonesia patut berbangga karena keragamana bahasa yang kita miliki dan kebijakan yang jelas tentang berbahasa di semua institusi termasuk institusi pendidikan.

Tidak semua pemerintahan di dunia punya kebijakan yang jelas tentang penggunaan bahasa, bahkan Yacinta menilai ada kecenderungan hanya menggunakan satu bahasa saja agar anak tidak ketinggalan dalam pergaulan internasional. Padahal semestinya orang tua, terutama pelaku kawin campur, perlu memperkenalkan banyak bahasa kepada anak agar anak mengenali identitas asalnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Yacinta menyarankan bagi pelaku kawin campur untuk mengajari anak berbahasa dengan lucu, asyik dan menyenangkan bukan keterpaksaan sehingga bisa menjadi bekal bagi anak untuk berkomunikasi setelahnya. Sekitar 5% dari pemelajar Bahasa Indonesia yang belajar di University of Monash, tempat Yacinta bekerja, adalah siswa-siswi dari keluarga birasial, yang salah satu orang tuanya dari Indonesia.

Selain itu, Yacinta berkeinginan suatu saat nanti dapat meneliti lebih dalam mengapa masih banyak orang tua malu atau segan untuk mengajari anak berbahasa Indonesia atau tidak menurunkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Ada pun orang tua juga masih berhadapan pada mental Monolinguistik.

Apa itu mental Monolinguistik? Apa pesan Yacinta untuk Pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Bahasa Indonesia di luar negeri?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak cerita Yacinta di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Bagaimana Penggunaan Aplikasi Kencan yang Aman?

Salah satu keunikan dari komunikasi modern masa kini adalah menjamurnya berbagai situs dan aplikasi kencan online. Dating apps dan dating sites terbukti memudahkan seseorang terhubung dengan orang-orang lain dari berbagai belahan dunia dan menemukan pasangan hidup. 

Bagaimana pengalaman dan tantangan yang dialami para pengguna aplikasi kencan online? Diskusi IG Live RUANITA di episode Februari 2023 ini membahas tema ‘Temukan Cinta di Aplikasi Kencan Online’ yang dipandu oleh Fransisca Sax (@psychatte_), seorang psikolog yang tinggal di Jerman. RUANITA juga turut mengundang tamu spesial yakni Georgina Mieke (@georginamieke) yang tinggal di Indonesia dan Nella Silaen (@emaknyabenjamin) yang tinggal di Jerman. Mereka berbagi pengalaman saat membangun kehidupan baru dengan pasangan yang ditemui di aplikasi kencan online, dan bagaimana menghadapi kondisi belum berhasil meski sudah mencoba bertahun-tahun lamanya. 

Georgina Mieke menuturkan pengalamannya sebelum menggunakan dating sites, salah satunya dari pekerjaannya yang saat itu mengharuskan mengikuti posting tugas dan social gathering di banyak embassy. Salah satu dating sites yang pernah diikuti Georgina adalah International Cupid. Sementara Nella menceritakan di tahun 2009 ia bergabung di situs asianeuro.com, yang sekarang menjadi asiandating.com. 

Ada satu hal yang menarik dari penuturan Nella bahwa di asiandating.com, sesama basic member yang baru kenalan itu hanya bisa klik like saja. Untuk bisa lanjut berkomunikasi maka member harus melakukan upgrade profile. Nella saat itu berpikir harusnya pihak pria juga upgrade profile untuk menunjukkan keseriusan, tidak hanya pihak wanita saja. Kalau salah satu pihak sudah updating profile, mereka pun bisa lanjut berkomunikasi lewat email, kirim pesan dan mengobrol live. Ketika itu, suami Nella berpikiran sama dan akhirnya upgrading profile untuk tiga bulan, setelahnya komunikasi pun berlanjut. Namun menurut Nella, tak ada salahnya juga kalau pihak wanita upgrading profile terlebih dahulu kalau misalnya merasa sudah cocok dengan basic profile pihak pria.

Menurut Georgina, beberapa masalah yang dulu umumnya dihadapi orang-orang saat berinteraksi di dating sites adalah terlanjur GR dan ternyata profil pihak prianya tidak verified. Menurut Georgina, selalu verify dulu profil orang yang mengajak berkenalan, jangan langsung mengiyakan.

Follow akun kami ya: ruanita.indonesia

Sementara Nella menjelaskan, dulu dating sites yang diikutinya mengharuskan member mengirimkan fotokopi paspor atau KTP untuk menghindari scammers & orang-orang yang punya niatan jahat. Member juga diharuskan mengisi banyak pertanyaan seputar biodata, kesukaan dan minat diri, mulai dari soal hobi hingga kebiasaan saat travelling. Disebutkan juga bahwa pertanyaan tentang merokok, minum atau tidak, serta sudah punya anak atau belum dan preferensi status harus diisi juga. Nanti dari jawaban-jawaban ini akan dicocokkan dengan profil yang dicari dan sebaiknya memilih profil yang kecocokannya mendekati 100%. 

Untuk menghindari pihak pria yang tidak serius di dating sites, Georgina menuturkan bahwa ia selalu minta untuk bertemu online terlebih dahulu dengan pihak pria. Sementara Nella bercerita kalau dulu bersama suami hanya lewat telepon, sama sekali tidak pernah videocall; untungnya gayung bersambut dan dua-duanya memang serius. 

Selain itu, Georgina menuturkan juga kalau seringkali mendapati foto profil di dating sites tidak sesuai dengan profil asli orang tersebut di usianya sekarang. Nella juga menjelaskan bahwa foto juga berperan penting dalam profil dan preferensi target, seperti sebaiknya pasang foto sendiri, bukan foto bersama orang-orang. Georgina juga menambahkan bahwa member di dating sites seharusnya menulis usia dengan jujur, bukan dalam rentang usia, agar tidak terkesan asal mencari pasangan saja. Ia pun sering mendapati bahwa foto profil member wanita justru lebih serius daripada member pria yang seringkali fotonya asal-asalan. Menurut Georgina, member pria yang foto profilnya tidak asal-asalan biasanya aslinya tidak asal-asalan pula.

Soal faktor keberhasilan mencari jodoh di dating sites, menurut Nella itu semua bergantung pada chemistry saat ngobrol bertemu langsung. Menurutnya tidak cukup hanya merasa nyaman saat ngobrol via online. Selain itu prinsip Nella dalam menilai keseriusan pihak pria adalah pria yang duluan mengunjungi ke negara pihak wanita. Menurut Nella ini ada hubungannya dengan tips untuk menjaga keselamatan diri sebagai pihak wanita, seperti ketika pihak wanita juga memutuskan untuk mengunjungi pihak pria, jangan langsung bertemu di rumahnya. Sebaiknya bertemu di tempat ramai yang netral.

Minat Georgina di bidang spiritual menjadi screening tools dalam memilih profil. Selain itu Georgina juga menyatakan kalau dia memiliki preferensi profil member yang memang highly educated dan well-travelled, karena ia menyukai orang yang bisa diajak ngobrol dengan wawasan yang luas. Dari pengalamannya juga Georgina melakukan screening dari profil finansial.

Mengenai pihak pria yang langsung meminta foto pribadi saat mengobrol online dan mengancam putus, baik Georgina dan Nella menyatakan bahwa ini adalah tanda-tanda yang harus diwaspadai dan harus segera ditinggalkan. Menurut mereka, member yang baik-baik biasanya tidak akan meminta foto aneh-aneh. Tak hanya mereka yang langsung meminta foto pribadi saja yang harus diwaspadai, namun juga yang sudah lama mengobrol online lalu tiba-tiba minta foto pribadi pun sebaiknya langsung profilnya diblok saja. Menurut Nella, wanita juga harus berhati-hati dengan member pria yang baru berkenalan sudah bilang ingin segera mengajak menikah. Biasanya ini dilakukan untuk mengelabui pihak wanita dan nantinya akan lebih berbahaya bila dilanjutkan, apalagi kalau sampai si wanita memutuskan untuk mengunjungi negara pria tersebut.

Beberapa tips yang Georgina & Nella bagikan untuk mereka yang berencana untuk mencari pasangan lewat aplikasi kencan online:

  1. Jangan melanjutkan hubungan hanya dengan berdasarkan kecocokan saat ngobrol online. Selalu minta untuk kopi darat atau bertemu langsung. 
  2. Jangan baper seperti merasa berbunga-bunga ketika intens disanjung, atau berlarut-larut kecewa manakala komunikasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki.
  3. Ketika sudah merasa cocok pun, jika menemukan perbedaan yang tidak dapat ditolerir sebaiknya jangan berharap atau tertantang untuk mengubah kepribadian pasangan. Ini akan berbalik jadi melelahkan diri kita sendiri.
  4. Pihak wanita boleh proaktif dan jangan sungkan untuk menyapa atau memghubungi terlebih dahulu, tetapi juga jangan sampai menurunkan standard.
  5. Waspadai pihak pria yang banyak beralasan dan tidak mau diajak bertemu online lewat videocall, yang di awal-awal perkenalan langsung intens menyanjung-nyanjung, atau malah langsung mengajak bertemu.
  6. Jika pihak pria selalu tidak mau diajak online, salah satu triknya adalah periksa foto profilnya  menggunakan google reverse image. Ini bisa untuk melacak kecocokan nama dan foto profil tersebut ke akun sosial media dan domain tertentu, apakah betul akun dan domainnya milik profil orang tersebut.
  7. Selalu kabari anggota keluarga atau teman dan sahabat jika memiliki rencana untuk bertemu atau bepergian mengunjungi pihak pria. Demi keselamatan diri, urungkan niat untuk tiba-tiba mengunjungi pihak pria dengan tujuan memberikan kejutan.

Simak lebih lanjut diskusi tersebut lewat kanal YouTube kami berikut ini:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah).

(CERITA SAHABAT) Bermula dari Dating Apps, Di Tengah Keterpurukan, dan Berakhir dengan Keberkatan

Saya Disti dan berasal dari Surabaya dan tinggal di India. Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa sebagian kisah hidup saya akan saya arungi dengan penuh liku kedukaan.

Kisah hidup yang berawal dari dating apps. Seorang laki-laki India menjerat hati saya. Tanpa bertemu fisik, saya pun jatuh cinta. Cerita-cerita dalam film Bollywood penuh cinta romansa menari-nari dalam angan. Terlebih ketika dia secara serius mengungkapkan keinginan untuk datang ke Surabaya.  Akhirnya kami bertemu muka. Dan pernikahan pun berlangsung di awal Desember 2010. 

Kata orang cinta itu buta. Dan saya terbutakan oleh cinta. Menikah tanpa tahu seluk beluk orang yang saya cintai itu. Tanpa tahu kehidupan yang dia jalani dalam lingkungan budaya yang tentunya sangat berbeda. Hanya bermodalkan percaya, akhirnya cinta membawa saya ke India selang beberapa hari setelah hari pernikahan.

Saya memulai kehidupan baru di India tanpa adanya kesempatan adaptasi untuk mengerti budaya dan lingkungan sekitar. Bahkan tanpa adanya jeda untuk memproses apa yang terjadi dengan diri ini. Realita itu ternyata jauh dari impian pernikahan yang bahagia. Ketidaksiapan dan ketidakpahaman dalam menghadapi culture shock memberikan duka yang panjang.

Tradisi di India memaksa saya untuk tinggal bersama dengan mertua dan dua keluarga ipar dalam satu atap. Komunikasi dengan mertua sebelum ketibaan saya di India cukup baik, berubah menjadi dingin. Begitu juga dengan dua ipar beserta istri-istri mereka. Saat itu saya tersadar bahwa mereka tidak bisa menerima saya, tidak hanya karena saya orang asing tetapi juga karena adanya perbedaan hal yang prinsip saat itu. Suami masih bersikap baik walaupun Ibu mertua memperlihatkan sikap yang tidak mengenakan. Ia menerima saya di rumah itu hanya karena anaknya. 

Tekanan demi tekanan dari keluarga suami semakin saya rasakan semenjak suami pergi bekerja ke Dubai sekitar satu bulan setelah kami tiba di India. Perbedaan perlakuan Ibu mertua terhadap saya dibandingkan dengan ipar-ipar saya semakin terasa. Saya tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Saya diharuskan memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di dalam rumah.

Cara hidup yang berbeda dengan yang saya jalani di Indonesia membuat mental saya jatuh. Saya takut, sedih dan bingung dalam menghadapi budaya yang asing ini. Tidak ada teman untuk berbagi. Bahkan, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena rasa takut akan reaksi dari keluarga suami. Bercerita kepada suami mengenai apa yang terjadi pada saya pun terasa sia-sia karena suami pasti mendapatkan cerita yang berbeda dari keluarganya yang akan membuat saya semakin terpojok. Akhirnya saya hanya bisa terdiam dan memendam perasaan.

Kesedihan bertambah tatkala saya melahirkan anak pertama melalui operasi caesar tanpa didampingi suami. Karena tidak tahan lagi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dua minggu setelah melahirkan. Ketika saya sampaikan rencana ini, suami marah dan mengancam akan membunuh saya dan keluarga saya jika terjadi sesuatu dengan anak kami. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa kata-kata itu akan terucapkan olehnya.

Kepulangan ke Indonesia dengan anak pertama tentunya membuat orang tua saya bahagia. Saya tidak menceritakan masalah yang sedang saya hadapi. Karena saya tidak mendapatkan nafkah dari suami, saya bekerja di sebuah sekolah untuk kehidupan saya dan anak. Apalagi saya membutuhkan biaya pengobatan karena luka jahitan operasi caesar yang basah terasa perih sekali. Saya bahkan tidak meminta nafkah kepada suami. Juga karena tidak ada komunikasi yang berarti dengan suami.  

Suami datang ke Indonesia untuk menemui saya dan anak kami setelah anak kami berusia setahun. Dia hanya berkunjung, bukan untuk menjemput saya dan anak kami. Saya tersadar suami datang hanya untuk melihat anak laki-laki kami karena anak laki-laki adalah mahar dalam budaya India, sesuatu yang mempunyai nilai tinggi. Namun demikian, saya mengungkapkan keinginan untuk ikut bekerja ke Dubai agar kami bisa menjadi keluarga yang utuh. Tetapi dia malah menyuruh saya untuk kembali ke India.

Saya melahirkan anak kedua di Indonesia tanpa didampingi lagi oleh suami yang telah kembali ke India. Walaupun kami terpisah, dia tetap mendikte kehidupan saya sesuai dengan keinginannya dan mengabaikan semua keinginan saya. Pada saat itu saya sudah lelah, tetapi kata cerai sangat tabu. Saya pun tahu selama saya di Indonesia keluarga suami meminta untuk menceraikan saya. 

Saat itu orang tua sudah mengetahui permasalahan dalam pernikahan saya. Mereka meminta saya untuk memaafkan suami. Akhirnya, saya kembali ke India ditemani oleh ayah yang sekalian pergi berlibur.

Kembali hidup bersama keluarga suami membuat saya depresi. Kehidupan saya dipantau oleh mertua dan dua ipar. Saya kembali lagi diharuskan memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, membuat saya depresi. Saya bertahan dengan mengikuti apa kata mertua. Berusaha membuat senang mertua, saya memberikan cincin dari eyang dan perhiasan lain yang saya punya kepada mertua. Semua itu saya lakukan karena saya ingin disayang oleh keluarga besar suami. Suatu keinginan yang tidak berlebihan. Bahkan saya membiayai kebutuhan rumah dari uang kiriman suami karena kedua ipar saya tidak mau berkontribusi. Masalah uang juga membuat  selalu ada pertengkaran di rumah. Saya selalu berusaha baik, tetapi selalu juga tidak dihargai.

Untuk mencari tambahan pemasukan, saya bekerja di sebuah toko es krim dekat rumah. Pekerjaan di toko es krim selesai ketika hari sudah gelap. Keluarga suami menuduh saya selingkuh dan memberitahu suami. Sekali lagi, saya hanya bisa terdiam. Karena tidak tahan dengan segala tuduhan yang tidak berdasar, saya sampaikan kepada suami saya ingin pulang ke Indonesia. Tidak diduga suami mengatakan pulang saja dan jangan pernah kembali.

Dalam keadaan tidak punya uang sama sekali dan depresi berat, saya diperkosa oleh seorang kenalan keluarga suami. Ancaman dari orang itu membuat saya semakin tertekan dan tidak bisa bercerita ke siapa pun. Hidup saya hancur. Saya menjadi linglung.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang melihat saya begitu ketakutan dan tertekan. Dia orang pertama yang membuat saya merasa aman untuk bercerita dan menyarankan untuk melapor ke kedutaan Indonesia. Saya menolak karena rasa takut dan malu. Tidak bisa bercerita tentang apa yang telah saya alami. Saya katakan kepada dia bahwa saya ingin pulang ke Indonesia. Orang ini, yang pada akhirnya menjadi suami kedua saya, membelikan saya tiket ke Indonesia. 

Dukungan keluarga di Indonesia membuat saya merasa lebih tenang. Mereka menyarankan agar saya menyelesaikan masalah secara baik-baik dengan suami. Tetapi usaha itu tidak pernah berujung solusi. Bahkan suami mau menceraikan saya.

Selama setahun di Indonesia, saya menyibukkan diri dengan bekerja dan berusaha untuk memulihkan diri dari trauma dengan menemui psikiater. Uang hasil kerja setahun saya pergunakan untuk kembali ke India untuk menemui anak-anak saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Kekuatan itu bertambah ketika mendengar anak-anak mengatakan mereka begitu menyayangi saya. 

 Saya tersadar bercerai adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari duka ini. Saya sudah berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Namun tetap tidak berharga di mata suami. Terlebih ternyata suami juga mempunyai affair dengan perempuan lain. Selain itu dia memanfaatkan ketidaktahuan saya dengan memaksa saya menandatangani dokumen pembelian rumah. Yang lebih menyakitkan adalah dalam keadaan tertekan saya menandatangani surat yang ternyata membawa akibat saya kehilangan hak asuh anak-anak saya. Banyak lagi dokumen yang saya tandatangani dalam keadaan tertekan yang ternyata membawa kerugian bagi saya yang baru saya ketahui setelah bercerai.

Menikah dengan suami kedua mengubah perspektif saya tentang hidup. Saya belajar untuk berkomunikasi lebih baik dengan orang. Belajar untuk tidak sungkan menyampaikan keinginan dan apa yang dirasa. Belajar untuk berpikiran lebih terbuka. Belajar menerima perbedaan. Belajar mencari solusi permasalahan tanpa pertengkaran.

Follow us: ruanita.indonesia

Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.

Fokus hidup saya dan suami sekarang adalah melayani Tuhan dan masyarakat. Saya juga fokus dalam karir dan apapun yang saya kerjakan, termasuk kuliah lagi di bidang Teologi. 

Begitu juga dengan anak-anak, saya ingin menyampaikan bahwa saya sebagai seorang ibu sangat menyayangi kedua anak saya walaupun mereka tidak tinggal bersama saya. Saya ingin kedua anak saya tahu bahwa saya sangat berharap mereka akan berkumpul bersama saya lagi. Saya akan selalu menunggu mereka karena kasih saya sebagai ibu tidak akan pernah padam. Saya akan selalu menunggu mereka sampai kapan pun. Saya akan menerima mereka dalam suka dan duka, apapun keadaan mereka.

Untuk para sahabat yang ingin menikah dengan warga negara asing, saya ingin menyampaikan pentingnya mengenal budaya dan karakter pribadi pasangan. Begitu juga dengan keluarganya. Karena kita perlu melindungi diri kita sendiri agar kita pun bisa merawat cinta dalam pernikahan. 

Penulis: Dina Diana, Mahasiswa S3 di Jerman yang mewawancarai seorang Sahabat RUANITA Disti, nama samaran yang tinggal di India.

(IG LIVE) Apakah Kamu Mengalami Culture Shock?

Di bulan Januari 2023 ini RUANITA Indonesia mengangkat tema culture shock yang lazim dialami oleh pendatang saat beradaptasi dengan budaya baru. Seperti apa culture shock jika dilihat dari sudut pandang antropologi?

Dalam episode IG Live Sabtu lalu (28/1), Dina Diana lewat akun @ruanita.indonesia mengundang Novi Siti, salah satu volunteer RUANITA yang tinggal di Bergen-Norwegia. Sebagai pekerja sipil yang menetap di Norwegia selama 20 tahun belakangan dan memiliki latar belakang keilmuan di bidang antropologi, Novi berbagi pengalaman dan cara-cara yang ditempuh kala menghadapi culture shock.

Menurut Novi, untuk bisa menjelaskan culture shock atau gegar budaya ini harus dipahami dulu tahapannya, seperti pertama mungkin merasa kaget, kemudian mencoba untuk menghadapi situasi yang berbeda. Kadang ketika selanjutnya seseorang tidak bisa beradaptasi, itu akan menyebabkan stress.

Novi bercerita ketika pertama kali tiba di Tromsø untuk kuliah S2, dia mengalami banyak ‘kekagetan’ yang bersumber dari perbedaan hal-hal yang dialami dan dipelajarinya saat di Indonesia.

Perbedaan iklim, norma sosial serta kebiasaan berinteraksi di masyarakat Tromsø ternyata menimbulkan banyak kekagetan. Namun dia mencoba memahami dan menerima bahwa itulah Tromsø.

Lanjutnya lagi, perubahan peran dan tahapan hidup yang dijalaninya kala itu (awalnya sebagai mahasiswa dan kemudian menjadi seorang ibu) turut menyumbang beberapa ‘kekagetan’ tersebut.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Menurutnya, ada hal-hal yang berbeda dari pola pikir dan perilaku kita yang kemudian akan menimbulkan kekagetan tersebut, sehingga sangat penting untuk belajar memahami bagaimana perilaku dan perspektif orang lain melihat sesuatu; jangan sampai dijadikan benturan. Kekagetan inilah yang Novi coba untuk diterima dulu saja agar kemudian bisa ia pahami.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang open-minded membuat Novi merasa lebih mudah dalam dealing with culture shock, dalam hal menerapkan pola pikir ‘terima dulu saja seperti itu’. Budaya di Norwegia pun memberikan ruang untuk dapat mengekspresikan diri asalkan tidak melanggar hukum sehingga penting untuk memahami terlebih dahulu aturan-aturan yang berlaku.

Yang sama pentingnya untuk dipelajari pertama kali adalah memahami bahasa setempat. Ini karena bahasa bukanlah hanya urutan kata-kata dan kalimat saja, tetapi juga alat untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan sesuatu dengan asosiasi dan metafora lainnya.

Sebagai contoh, Novi menjelaskan bahwa orang Norwegia bukanlah orang yang ‘direct’ dalam menyatakan ketidaksetujuan. Sehingga ketika ingin menyatakan misalnya sebuah ide tidak cukup bagus atau biasa-biasa saja, mereka akan mengungkapkan dengan bertanya berputar-putar “I just wondering, why…” dan seterusnya.

Salah satu strategi adaptasi yang Novi pakai adalah mempelajari humor warga setempat dan bagaimana cara mereka bercanda. Novi melihat bahwa cara orang Norwegia bercanda adalah menggunakan metafora dan tidak direct bertanya tentang hal-hal sensitif seperti umur atau body shaming.

Lewat humor inilah Novi mempelajari kode-kode sosial yang berlaku di masyarakat, dan hal apa saja yang diminati oleh warga setempat serta menyelaraskannya dengan keinginannya juga. Menurutnya, ini adalah sebuah ‘seni’ untuk meyakinkan orang lokal bahwa kita tertarik mempelajari budaya mereka dan mau menyelaraskan diri.

Menurut Novi, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bereaksi dan beradaptasi dengan budaya baru, seperti karakter pribadi, konteks situasi dan budaya asal, serta kebijakan integrasi dan willingness dari pemerintah di negara yang didatangi oleh imigran.

Seperti di Norwegia, pemerintah selalu membuat analisis risiko dalam menerapkan kebijakan imigrasi dan integrasi untuk pendatang. Salah satu hasilnya adalah pemerintah Norwegia menyediakan kursus samfunnskunskap atau social studies yang bisa diikuti oleh semua pendatang.

Selain itu negara juga menyediakan fasilitas konsultasi, konseling serta terapi untuk para pendatang yang sudah berada dalam tahapan kesulitan beradaptasi, tergantung pada sebesar apa masalah yang dihadapi.

Salah satu cara terbaik dalam meminimalisir culture shock adalah terima saja terlebih dahulu, baru kemudian kita bawa berefleksi. Novi menjelaskan bahwa dalam menghadapi budaya baru, jangan sampai kita menginterpretasikan sesuatu berdasarkan apa yang ada di nilai-nilai diri kita. Yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu di mana kita berada dan berdiri di saat ini.

Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan atau merasa budaya kitalah yang lebih benar daripada budaya lain. Dan sebagai pendatang, memang ada semacam keharusan bagi kita untuk mengikuti peraturan di negara tersebut. Oleh karena itu, faktor kemampuan berbahasa lokal ini sangat penting agar kita dapat berkomunikasi dengan orang lokal untuk mempelajari bagaimana mereka berperilaku dan memahami nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam pemikiran mereka.

Selengkapnya bisa disimak dalam rekaman IG LIVE berikut ini:

Subscribe akun YouTube kami ya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tahun Baru Di Korea Selatan itu Family Holiday Sampai 7 Hari

Program Cerita Sahabat Spesial Episode Januari 2023 mengangkat tema: Tahun Baru di Korea Selatan yang langsung dibawakan oleh Citra Dewi, yang sekarang menetap di Jeju Island, Korea Selatan.

Ada banyak hal yang dibagikan Citra lewat video berdurasi 5 menit tentang pengalaman merayakan tahun baru bersama keluarganya selama tinggal di negeri Gingseng tersebut.

Tahun Baru di Korea Selatan itu ada dua perayaan, yakni: Tahun Baru Masehi yang umum dirayakan setiap 1 Januari dan Tahun Baru seperti Chinese Lunar New Year yang dirayakan di tanggal berbeda-beda berdasarkan penanggalan bulan.

Tahun Baru yang demikian disebut Seollal yang pada tahun 2023 jatuh pada 22 Januari. Seollal dianggap sebagai hari besar di Korea Selatan, bahkan dirayakan tiap keluarga di Korea Selatan.

Menurut Citra, saat tahun baru tersebut akan menjadi momen pertemuan antar keluarga sehingga ini yang disebut sebagai Family Holiday terbesar pertama di Korea Selatan sebelum Chuseok, semacam perayaan Thanksgiving di Korea Selatan.

Seperti Imlek, pada saat Seollal itu orang yang lebih tua membagikan amplop kepada yang lebih muda. Itu sebab ada tradisi penghormatan kepada yang lebih tua dulu dan ritual sungkeman.

Salah satu yang menarik menurut Citra adalah bagaimana laki-laki di Korea Selatan memiliki tanggungjawab dalam menyiapkan Jesa, sajian yang diberikan kepada leluhur keluarga.

Bagaimana pun tradisi tahun baru menjadi momen untuk kunjungan antar keluarga satu sama lain, yang sehari-hari tidak dilakukan.

Selain itu, terjadi peningkatan harga saat jelang Seollal sehingga kita perlu mempersiapkan perjalanan jauh-jauh hari kalau mau ikut menyaksikan orang Korea Selatan menyiapkan keriaan keluarga tersebut.

Keramaian tersebut terjadi mengingat pemerintah menetapkan hari libur sebagai hari panjang, hampir 7 hari untuk orang-orang Korea Selatan merayakan kebersamaannya bersama keluarga.

Kalau suka budaya Korea, perlu juga belajar dari Citra tentang bagaimana memberi ucapan selamat tahun baru dalam Bahasa Korea.

Ucapan yang biasa diberikan adalah “saehae bok mani badeuseyo” yang biasa diberikan terlebih dulu kepada orang yang lebih tua. Mereka juga punya tradisi sungkeman juga loh.

Wah, seru sekali! Makanan apa saja yang biasa disajikan saat Seollal tersebut? Tradisi apa saja yang terjadi di sana?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Cerita Citra Dewi dapat disaksikan lewat kanal YouTube berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe Kanal YouTube kami.

(PELITA) Adakah Pengaruh Budaya dan Psikologi terhadap Ngidam Saat Hamil, Apalagi di Luar Negeri?

Episode PELITA – Parentingtalk with RUANITA – yang ketujuh di bulan Januari 2023 membahas perihal Ngidam saat hamil atau dalam Bahasa Inggris disebut sebagai “food craving during pregnancy” yang selama ini masih menjadi pertanyaan para ahli, mengapa ada sebagian perempuan mengalami ngidam dan sebagian lagi tidak?

Stephany menjelaskan bagaimana ngidam yang dialami seorang perempuan tidak terlepas dari pengaruh psikologi dan budaya dari perempuan yang hamil tersebut, di mana dia tinggal atau dari mana perempuan tersebut berasal. Stephany mengatakan kalau ngidam makanan tertentu bisa jadi dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi yang diperlukan seorang ibu saat hamil.

Misalnya ada seorang ibu yang hamil dan ngidam makan daging, padahal selama ini dia adalah seorang vegetarian. Ahli menyebut bahwa hormon pada saat hamil berkembang sehingga tubuh perempuan meminta nutrisi yang diinginkannya, seperti kebutuhan akan zat besi dari daging yang selama ini tidak diperolehnya. Itu hanya contoh saja, dari sekian banyak ngidam yang dialami oleh banyak perempuan terutama dari Asia.

Sejujurnya Stephany sudah berusaha mencari lebih banyak literatur terkait ngidam dalam teks berbahasa Inggris atau fenomena yang terjadi dalam budaya barat, ternyata tidak banyak ditemukan. Ngidam dalam perpektif budaya Asia, terutama Indonesia biasanya berkaitan dengan budaya atau cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang sedang hamil.

Sebagai contoh, Stephany menceritakan pengalaman pribadinya ketika dia hamil dan sedang berada di Indonesia. Dia kerap mendapatkan pertanyaan-pertanyaan identik misalnya, “Sedang ngidam apa bu?” atau Ibu dari Stephany juga tak segan memenuhi makanan yang diinginkan Stephany sesulit apa pun.

Contohnya Stephany ngidam Baklava, snack manis dari Yunani. Beruntung Stephany bisa mendapatkan Baklava di Indonesia sehingga dia bisa menikmati Baklava tersebut. Meskipun begitu, kita harus tahu apakah ngidam itu begitu intense dan dalam porsi besar? Kembali ke soal Baklava yang begitu manis, agar ibu yang ngidam perlu memperhatikan asupan nutris agar tidak banyak gula yang dikonsumsinya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Artinya ngidam perlu memperhatikan kondisi kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya sehingga tidak perlu berlebihan. Stephany juga ngidam Yogurt Turkish yang memang begitu sulit ditemukan saat di Jakarta. Menurut Stephany, Baklava dan Yogurt Turkish yang diidam-idamkannya adalah bentuk memori terindah dia bersama suami saat menikmatinya di Belanda. Artinya ngidam juga bisa dikaitkan dengan kenangan akan makanan tersebut.

Selain itu, ibu yang ngidam juga perlu memperhatikan konteks kondisi ibu terutama ibu yang memiliki masalah kesehatan seperti obesitas, eating disorders atau food restrictions karena bagaimana pun saat ngidam juga ibu memiliki keinginan untuk menikmati makanan yang selama ini di luar kebiasaannya.

Stephany menyarankan agar ibu bisa berkonsultasi dengan ahli/profesional bila ibu memiliki kondisi kesehatan yang sudah menjadi penyertanya. Dalam beberapa kasus tertentu, ngidam juga memiliki idaman makanan yang ekstrim seperti bubuk deterjen misalnya. Ini sudah tidak wajar.

Hal tidak wajar misalnya ngidam makanan yang dimasak oleh suami atau ngidam pakai baju merah. Dalam konteks budaya di Amerika atau Eropa tidak ditemukan banyak perempuan yang mengalami ngidam. Bahkan secara psikologis bisa jadi ngidam merupakan ekspresi dari kenyamanan yang dibutuhkan perempuan saat hamil.

Lebih lanjut tentang penjelasan dari keilmuan Stephany dan pengalamannya sebagai ibu bisa dicek di kanal YouTube kami berikut:

Subscribe kanal YouTube kami.

(SIARAN BERITA) Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

NORWEGIA – Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai anugerah dari Tuhan, HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, pemerintah dan setiap orang di dunia ini tanpa kecuali.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal HAM dan Hak Warga Negara (HWN). HAM berlaku secara universal yang melekat dalam diri manusia sejak ia lahir. HAM sendiri telah dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 yang memuat 30 pasal yang diterima secara umum untuk kesejahteraan bersama.

Sementara HWN adalah hak yang diperoleh seseorang sebagai warga negara yang hidup di suatu negara, biasanya diatur secara langsung atau tidak langsung oleh negara yang bersangkutan.

Tak semua memahami perbedaan HAM dan HWN. HAM melekat dalam diri manusia yang tidak terbatas sedangkan HWN dibatasi oleh aturan negara yang menaunginya. Sementara HAM berlaku sama untuk setiap manusia di bumi, HWN dapat berbeda antar satu negara dengan negara lainnya.

Namun dibalik perbedaan tersebut terdapat pula persamaan antara HAM dengan HWN seperti hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk mendapatkan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan HAM dan HWN, istilah ‘Keindonesiaan’ mencuat ketika orang-orang ramai memperbincangkan sampul warna paspor yang dimiliki. Memahami keindonesiaan seolah-olah dipandang hanya mereka yang benar-benar cinta Indonesia dari kepemilikan warna paspor.

Realitas Indonesia dan keindonesiaan memang perlu pembacaan dan analisis yang multiperspektif, yang tidak mudah dipahami secara sederhana dan linier.

Follow us ruanita.indonesia

Oleh karena itu, pandangan integratif memahami keindonesiaan dirasakan penting untuk warga Indonesia di mancanegara melalui forum Diskusi Online yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada hari Sabtu 10 Desember 2022.

Diskusi Online ini diadakan atas inisiatif warga Indonesia yang tergabung dalam RUANITA (Rumah Aman Kita) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo, Norwegia. Untuk mengawali dialog, Prof. DR. Todung Mulya Lubis selaku Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia akan memantik diskusi apakah kewarganegaraan tersebut merupakan pilihan hak asasi manusia.

Selanjutnya dalam diskusi online, perspektif lintas batas akan disampaikan oleh Novi, seorang ex WNI yang tinggal di Norwegia tentang pengalaman nasionalisme yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Narasumber selanjutnya adalah Ita Fadia Nadia yang berbicara perjuangan perempuan penyintas tragedi 1965 dan Yantri Dewi yang akan mempertegas pilihan kewarganegaraan bagi perempuan pelaku kawin campur. Diskusi Online juga ditutup oleh pemaparan Amiruddin, Komisioner Komnas HAM RI yang berbicara tentang kewarganegaraan dan hak asasi manusia.

Diskusi online ‘Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif HAM’ akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 pukul 10.00 CET/16.00 WIB melalui aplikasi Zoom dan dibuka untuk umum. Selain itu, diskusi online ini menjadi penutup rangkaian peringatan kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.

RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di mancanegara yang bertujuan untuk mempromosikan psikoedukasi, kesetaraan gender dan berbagi praktik baik tinggal di luar negeri. Ruanita adalah wadah berbagi ilmu, pengalaman dan cerita serta praktik baik untuk tinggal di luar negeri serta mengangkat tema sosial, budaya dan psikologi yang mungkin tidak populer dalam narasi publik. Dalam pelayanannya, Ruanita menggunakan Bahasa Indonesia serta menjunjung tinggi nilai personalitas, solidaritas, dan subsidiaritas.

Informasi: Retno Aini Wijayanti (info@ruanita.com)

Rekaman acara bisa disaksikan sebagai berikut: