Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Turki
2. Kutipan favorit
Perempuan harus punya prinsip dalam situasi apa pun.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Secara fisik, aku tidak mengalaminya tetapi mantan suamiku memakiku dengan kata-kata kasar seperti: Stupid, Bodoh. Setiap aku bertengkar dengan dia, dia selalu mengusirku dan tinggalkan rumah. Dia berkata: “I don’t wanna see you anymore.”
Pria Turki ini ingin aku sebagai perempuan tunduk, apalagi kalau kita bertengkar. Dia sering mengomel padaku dan itu membuatku marah. Karena sering diusir keluar rumah, aku pun tak kembali ke rumah pada saat jam 11 malam. Secara kebetulan, aku tak bawa kunci rumah.
Apa yang membuatku sakit hati, dia berucap bahwa dia tidak ingin melihat aku di rumah. Sejak itu, dia mengirimkan surat dan barang-barangku yang ada di rumah dia ke tempat penampungan sementaraku. Hal yang membuatku sakit hati, dia melempar barang-barangku keluar dari taksi dan meludahi aku.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya sadar bahwa rumah tangga itu mengalami problem pasang surut, tetapi saya tidak terima dengan kata-kata kasar. Saya sudah bersikap toleransi dengan sikap dia.
Saya putuskan untuk keluar dari situasi kekerasan karena dia tidak bisa memenuhi kebutuhan agama yang kuminta darinya, dia tidak mampu menafkahi saya, dan tidak memberikan saya kebebasan.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Saya tidak memiliki trauma sih hanya saya bersikap hati-hati untuk membangun relasi baru. Saya menganggap semua laki-laki sama saja, tetapi saya tidak ingin terlibat dalam hubungan serius.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
*Pastikan dulu keluarga pasangan hidup seperti apa latar belakangnya yang membesarkan.
*Siap dengan perbedaan kultur yang berbeda misal: perempuan berkarir harus siap menghadapi konsekuensinya setelah menikah.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Belanda
2. Kutipan favorit
Justice is about making sure that being polite is not the same with being quiet. In fact, often times, the most righteous thing you can do is shake the table (Alexandria Ocasio-Cortez).
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Sebenarnya sudah ada tanda-tanda dari dia yang bersikap temperamental yang ditunjukkan dari dia sejak berpacaran. Saya sudah merespon dengan menegur dia: “Kamu kok kasar dan orang tua saya tidak pernah bersikap di situ.” Saya sudah beri peringatan ke dia kalau kamu bersikap kasar lagi, saya akan meninggalkan kami.
Ada sisi manipulatifnya yang membuat saya luluh dan akhirnya memutuskan untuk menikah dengan dia karena dia tampak berubah. Menurut saya, tidak ada abusive yang tiba-tiba. Bermula dari verbal abuse kemudian kekerasan fisik yang ditunjukkan pada saat kami menikah.
Pertama, dia mau memukul saya. Bersyukurlah, pukulan dia tidak sampai mengenai saya. Kedua, dia berusaha lagi memukul saya dan itu membuat saya trauma dan tidak ingin bersama lagi. Saya sendiri tidak pernah bersikap kasar atau berkata yang merendahkan dia sementara dia menghendaki perempuan yang penurut.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saat anak kami berumur 1 tahun, dia mulai menunjukkan gelagat untuk bercerai tetapi kami masih ingin bertahan. Setelah satu tahun saya pulang dari Indonesia ke Belanda, suami menunjukkan perubahan ke saya termasuk sikap dia berselingkuh dari saya selama saya di Indonesia.
Di situ saya memutuskan untuk bercerai dari dia, apalagi dia mengancam akan memukul saya ketika saya membahas perempuan lain. Dia tidak segan-segan memukul di hadapan anak saya dan dia kerap berkata kasar ke saya. Selain itu, dia juga tidak pernah mengunjungi anak saya ketika saya sudah mulai pindah ke kota lain di Belanda padahal dia masih tinggal di Belanda.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Saya berusaha untuk keluar dari lingkaran kekerasan tersebut dengan cara melakukan aktivitas spiritualitas dan sibuk mengurus anak. Meskipun saya saat ini masih trauma ketika misalnya ada pria yang mendekati saya sambil berkata kasar atau berusaha menjalin hubungan dengan pria yang baru.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
*You should not afraid to be happy. Semua orang berhak bahagia.
*Hidup selalu penuh kesempatan. Jika pernikahan itu gagal, apapun alasannya, selalu ada kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Denmark
2. Kutipan favorit
“Don’t let yourself living in violence even for 1 minute. Run, save your live!”
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Pengalaman menjadi korban kekerasan. Aku pilih kata “pengalaman buruk”.
Kekerasan fisik dan psikis yg dilakukan oleh suami terhadap istri terjadi secara sistematis dan perlahan. Mantanku, setelah kami menikah 3 bulan, mulai menggerogoti rasa percaya diriku. Contohnya dia bilang: “Mukamu pucat, coba make up-mu diperbaiki”. Lainnya dia pernah cubit perutku dan bilang “Ini apa, kok kamu gendut.” Terakhir juga dia pernah bilang: “Kamu tak secantik kita baru ketemu.”
Lama-lama mantanku mulai mendorong aku kalau dia marah. Setelah dia marah, dia akan menyalahkan aku karena membuat dia marah. Untuk menghentikannya, aku minta maaf dan berjanji tidak bikin dia marah lagi. Unbelievable?
Lama-lama dia membuat aku percaya bahwa akulah yang bodoh selalu membuat dia marah. Dia marah karena aku tak mengerti kultur Denmark, gaya hidup orang Denmark, dll. Intinya akulah yang salah, padahal dia yang memukul aku.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Aku bertahan tujuh tahun hidup dengan mantanku karena aku mau menunggu dapat permanent resident di Denmark kemudian aku bisa pergi tinggalkan dia. Selama 7 tahun itu, aku persiapkan diri mulai dari sekolah bahasa, kuliah lagi, kerja dan apply permanent residence. Di saat aku tunggu permanent residence dia semakin parah kadar memukulnya sampai aku cedera.
Setelah itu, aku putuskan pergi dan tidak mau menunggu permanent residence di tangan. Sebelum menikah aku punya rumah di Jakarta. Rumah itu kujual dan uangnya aku masukkan ke account yang dia bilang, joint account. Ternyata account itu atas nama dia sendiri. Aku hanya punya kartu debit. Jadi aku stay dengan dia karena aku tak punya apapun lagi di Indonesia.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Dokterku dan psikolog sangat membantu. Juga bantuan teman-temanku.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Jangan pernah percaya laki-laki yang memukul akan berubah.
Jangan terlalu percaya diri kalau kamu bisa merubah keadaan atau perlakuan suami.
Ingat, sekali laki-laki membuat kamu menangis, dia akan bikin kamu menangis seumur hidup kalau kamu masih tinggal dengan dia.
Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang salah sehingga kamu dipukul!
Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang bodoh dan tidak bisa mengikuti cara hidup suami!
Jangan pernah mau hidup dengan pemabuk!
Jangan menyalahkan diri sendiri atau cari pembenaran terhadap perlakuan suami. Stres atau pengalaman masa lalu bukan alasan untuk memukul perempuan.
Jangan malu minta bantuan. Namun ingat, mintalah bantuan hanya kepada orang atau instansi yang bisa menolongmu. Semakin sedikit orang tahu masalahmu, semakin baik. Tidak perlu merumpikan suami ke teman-teman yang cuma bisa dengar.
Persiapkan dirimu untuk pergi dari suamimu. Cari kerja mandiri. Cari rumah, pindah sewaktu dia tidak di rumah. Minta alamat dan nomor hape dirahasiakan. Bilang ke tempat kerja bahwa namamu tak perlu ditampilkan di website tempat kerja.
Jangan ikut media sosial apalagi pakai nama sendiri!
Bangun network-mu dengan orang lokal. Teman sebangsa belum tentu ada manfaatnya untuk hidup di Eropa.
Ingat, kamu tidak wajib mempertahankan perkawinan kalau kamu tak bahagia. Cerai bukan dosa dan bukan hal yang memalukan.
Percaya bahwa banyak laki-laki baik. Sial saja ketemu yang jahat. Jadi cari pasangan baru!
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Jerman
2. Kutipan favorit
Hang in there, strong woman. Hard times don’t last forever. Life moves on. And so will you.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Berawal dari suami yang meminta cerai, saya mendapatkan tekanan mental dari suami dan orang tuanya. Memang saya tidak mengalami kekerasan fisik tetapi kekerasan psikis yang hampir membuat saya untuk mengakhiri hidup saya. Kata-kata yang diucapkan suami dan ibu mertua saat itu, membuat saya, sampai dengan hari ini pun masih berusaha kembali untuk membangkitkan kepercayaan diri saya.
Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang saya kira sangat menyayangi dan melindungi saya, ternyata adalah orang-orang yang paling menyakiti saya.
Pada hari itu, semua berbalik 180 derajat. Yang dulu mereka bilang saya adalah wanita cantik, pandai, rajin, tahu cara merawat suami dan rumah, berbalik menjadi wanita “jahat”, wanita pemalas wanita penyakitan, wanita bodoh.
Bahkan mereka bilang, tidak akan ada orang di Jerman yang mau mempekerjakan saya.
Masih banyak kata-kata menyakitkan dan penghinaan yang diucapkan suami dan orang tuanya pada saya.
Kata-kata yang sampai hari ini saya masih sangat jelas di ingatan saya.
Sepanjang umur saya, tidak pernah ada yang mengatakan hal-hal buruk itu kepada saya, tidak juga orangtua kandung saya.
Saya wanita mandiri yang bekerja keras demi mimpi-mimpi saya. Saya bukan wanita yang suka bergantung pada orang lain. Walaupun saya sakit-sakitan, saya tetap menunjukan kepada orang-orang di sekitar saya bahwa saya adalah wanita kuat.
Kepercayaan diri saya runtuh saat itu, merasa diri ini tidak berguna, ketakutan dan tidak berdaya. Saya hampir mengakhiri hidup saya, karena saya merasa apa yang mereka katakan itu benar, dan saat itu saya sendirian.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Di saat-saat kelam itu, saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa setiap saat, menaikan puji syukur saya kepada Tuhan atas semua yang terjadi, walaupun itu menyakitkan.
Menyerahkan semuanya kepada Dia dan percaya bahwa rancangan Tuhan akan hidup saya tidak pernah buruk. Saya belajar memaafkan suami dan orangtuanya, dan berdoa untuk mereka, walaupun secara manusia, itu sangat menyakitkan.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Saya keluar dari rumah suami saya, pindah ke kota lain, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan teman-teman baru, dan memulai kembali semua kegiatan atau hobi yang saya tinggalkan ketika dulu saya menikah dengan suami. Saya mulai membuat rencana hidup, mimpi-mimpi dan goal yang harus saya capai. Saya ingin bertahan hidup di Jerman, saya ingin memulai hidup yang baru. Saya mulai membangkitkan diri saya yang dulu “si wanita mandiri, percaya diri dan keras kepala”.
Support dari orangtua di Indonesia dan teman-teman baik yang tinggal di berbagai negara, juga support dari atasan dan rekan-rekan kerja di tempat saya bekerja sekarang, mulai menumbuhkan kepercayaan diri saya yang sempat hilang. Tuhan mengirimkan saya banyak orang-orang baik di sekitar saya, seperti yang saya minta kepada Tuhan setiap hari. Bahkan atasan saya berkata “You should be proud of yourself!” Dia mengatakan ini karena dia tahu cerita saya dan kondisi saya pada saat saya bertemu dengan dia.
Prinsip saya sekarang “Saya perempuan yang kuat. Saya tidak duduk-duduk mengasihani diri sendiri atau membiarkan orang menganiaya saya. Saya tidak menanggapi orang yang mendikte saya atau mencoba menjatuhkan saya. Jika saya jatuh, saya akan bangkit lebih kuat. Saya yang mengendalikan hidup saya.”
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Untuk wanita-wanita kuat di luar sana yang sedang mengalami kekerasan, jangan takut, bertahan dan tetaplah kuat!
Jangan takut untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, atau organisasi yang memberikan bantuan kepada perempuan yang mengalami kekerasan.
Kalian harus berani mengambil langkah untuk bertahan. Akan ada banyak orang yang membantu kita, asalkan kita mau, berani, dan tidak malu untuk menceritakan masalah kita.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Indonesia
2. Kutipan favorit
Setiap perempuan berhak hidup dengan aman, damai, dan bebas dari kekerasan.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Berawal dari perselingkuhan suami yang sudah terjadi dari delapan tahun lalu, yang kemudian membuat kami selalu ribut hampir setiap hari. Puncaknya di suatu malam, kami benar-benar ribut besar. Suami menampar pipi saya, saya langsung telepon orang tua saya. Keesokan harinya saya melaporkan ke mertua juga tetapi sedikit pun mereka tidak membela saya.
Selang beberapa tahun suami saya melakukan KDRT lagi dengan melempar tas ke tubuh saya. Dia marah besar karena saya melaporkan perselingkuhannya ke Badan Kepegawaian. Setelah itu, dia pergi dari rumah meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Awalnya saya memutuskan untuk tetap bersabar dan bertahan karena posisi saya yang tidak bekerja. Saya masih sangat bergantung masalah financial. Saya juga masih memikirkan nasib anak-anak yang masih kecil, masih butuh figur seorang ayah.
Lama-kelamaan kezaliman suami semakin menjadi-jadi. Dia melakukan mulai dari selingkuh sampai delapan tahun, KDRT, kasih nafkah yang sangat amat tidak wajar. Padahal dia berpenghasilan sebagai PNS di Jakarta yang lumayan besar.
Ketika anak-anak sudah besar usia 14 tahun dan 11 tahun, mereka sudah tidak peduli dengan papanya lagi. Mereka yang men-support saya supaya segera berpisah dengan papanya.
Karena itu di tahun itu, saya memberanikan diri untuk mengurus perceraian supaya hidup saya bisa lebih tenang, damai, bebas dari kezaliman suami, memiliki status yang jelas, tidak digantung terus menerus, dan bahagia lahir batin.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Semua kesedihan dan penderitaan yang saya alami karena perselingkuhan dan KDRT yang dilakukan suami telah membuat saya hampir putus asa dan tidak semangat hidup.
Lama kelamaan saya sadar kalau saya berhak bahagia, laki-laki demikian tidak pantas untuk diratapi dan ditangisi.
Saya berusaha untuk ikhlas, melakukan self-healing, meningkatkan self love, lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah SWT, dan mengalihkan kesedihan ke hobby atau aktivitas-aktivitas yang saya suka, seperti baking, senam, yoga, menonton film, bernyanyi, hangout dengan anak-anak atau teman-teman.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Pesan saya untuk para perempuan-perempuan di luar sana yang pernah atau sedang mengalami kekerasan, BANGKITLAH! Speak Up dan mintalah pertolongan kepada orang-orang terdekat.
Yakinlah kalau semua perempuan itu memiliki Value. Kita berhak bahagia. Kita berhak memiliki masa depan yang lebih baik.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Pakistan
2. Kutipan favorit
—
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Trauma. Kaget. Tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini. Saya seperti tidak percaya.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya telah tinggal bersama suami 15 tahun. Suami saya tidak pernah memukul atau bersikap kasar seperti membentak misalnya. Pada dasarnya suami adalah orang yang baik, penyabar, dan penyayang. Saya merasa ketegangan yang terjadi pada dia karena perlakuan keluarganya sendiri.
Menurut saya, keluarganya suka pilih-pilih. Saya pikir karena kita tidak sesukses keluarganya yang lain sehingga kita dikucilkan.
Itu sebab, suami terpuruk ke dunia narkotika. Puncaknya dia melakukan KDRT. Saya coba bertahan selama 8 tahun karena saya masih berharap dia bisa berubah. Saya masih mencintainya. Saya juga merasa dia masih sangat mencintai saya dan anak-anak saya. Saya pikir semua karena pengaruh narkotika sehingga dia tidak lagi menguasai dirinya sendiri.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Saya belum bisa mengatasi trauma ini. Jika dia di samping saya, saya masih merasa gemetaran sehingga saya putuskan untuk meninggalkan dia dengan harapan dia akan sadar dari segala kesalahannya.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Pesan saya untuk teman-teman yang senasib, saya pikir garis hidup tidaklah sama. Perubahan itu perlu. Bertahan boleh. Menurut saya pribadi, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.
Selama dia tidak menyentuh perempuan lain, Insya Allah, saya pun masih memikirkan dia. Saya berharap suatu saat nanti, dia akan tersadar dan mendapatkan hidayah. Karena hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah haruslah dijemput. Jangan putus asa! Kita harus menyemangati pasangan, karena hanya kita yang tahu karakter dia bagaimana.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Indonesia
2. Kutipan favorit
—
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Di akhir umur belasanku, aku terjebak dalam hubungan tidak sehat selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Dia berumur 10 tahun lebih tua. Awalnya aku berpikir pikiran dan sikap dia akan lebih dewasa. Ternyata aku salah. Keintiman yang terjadi sejak awal berpacaran berubah menjadi pemaksaan.
Aku dipaksa untuk berhubungan intim dengannya, bahkan ketika aku menangis dan berkata “aku tidak mau”. Setiap kali bertemu, kejadian itu berulang sampai diakhir tahun pertama hubungan kami, aku hamil. Aku kemudian memutuskan untuk aborsi. Bahkan hubunganku dengan teman-temanku pun dibatasi olehnya.
Alasannya, dia tidak mau aku curhat tentang apapun yang terjadi dalam hubungan kami kepada orang lain. Tak jarang, aku berniat untuk memutuskan hubungan. Namun dia selalu mengancam untuk membunuh dirinya sendiri atau untuk mengatakan semua yang terjadi kepada orang tuaku.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Aku lelah dengan hidupku yang seakan hanya menuruti nafsu orang lain saja. Perkuliahanku waktu itu sangat mendukung pemikiranku untuk berkembang yang menuntunku untuk berpikir bahwa hubungan pacaran ini sudah tidak sehat, tidak benar, dan tidak wajar.
Bahwa aku memiliki hak atas hidupku sendiri menjadi hal yang aku kejar waktu itu dan seolah membuka mata dan jalan sehingga aku mendapat pertolongan dari teman-teman yang ternyata peduli terhadapku. Ini menjadi pemantik semangatku untuk menolong diriku sendiri keluar dari hubungan itu.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Hal pertama yang aku lakukan adalah berani bercerita dan terbuka mengenai kekerasan seksual yang aku alami kepada orang yang aku percaya. Selain itu, aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Setelah hubunganku berakhir, aku memutuskan untuk pindah ke Jerman untuk melanjutkan studi.
Jarak jauh dari Indonesia memberiku kesempatan untuk menata kembali hidup, perasaan, dan mentalku. Di Jerman, aku juga mencari pertolongan profesional dengan melakukan terapi psikologis. Selain itu, aku juga lebih memilih untuk bergaul dan mengelilingi diriku dengan orang-orang yang benar-benar peduli denganku.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Kalian tidak sendiri! Kalian adalah orang yang kuat! Carilah bantuan profesional secepat mungkin: polisi, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: India
2. Kutipan favorit
Kutipan ini saya tujukan untuk para suami, terutama yang berkewarganegaraan asing. Hargailah perempuan Indonesia yang menjadi pasanganmu. Dia sudah rela meninggalkan keluarganya demi membangun hidup bersamamu di negara yang asing. Hargai, sayangi, dan hormatilah pasanganmu.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Saat itu sepertinya rasa takut yang nyata selalu mengikuti saya, bahkan ketika tidak adanya ancaman terhadap nyawa saya. Belum pernah sepertinya saya mengalami rasa takut yang sedemikiannya mengontrol diri saya. Psikis saya benar-benar terganggu. Bahkan saya berbicara pun tidak mampu.
Perlakuan dan perkataan yang terucap dari mertua, suami, dan ipar sangat menyakitkan dan menekan emosi saya. Suami abai terhadap tanggung jawabnya dan menelantarkan saya yang semakin merasa terasing di negeri asing. Pun tidak ada teman berbagi duka.
Dalam keadaan tertekan dan ketakutan seorang kenalan keluarga suami memperkosa saya. Ancaman dari si pemerkosa membuat hidup terasa semakin hancur dan psikis saya semakin terganggu. Saya linglung. Saya semakin ketakutan. Semakin tidak berani untuk bicara kepada siapapun, termasuk keluarga. Rasa malu yang teramat sangat telah membuat saya lumpuh secara mental.
Kekerasan psikis yang saya alami ini memberikan trauma dan efek mendalam pada saya bahkan setelah saya keluar dari duka ini.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya bertemu dengan suami yang kedua di saat saya ada di titik terendah. Saya diusir oleh mantan suami dan mengalami perkosaan. Suami kedua sayalah yang menyadarkan saya untuk keluar dari pernikahan yang sudah sama sekali tidak sehat ini. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekalian memulihkan jiwa saya.
Setelah setahun di Indonesia, saya kembali ke India untuk menemui dua buah hati saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Yang terpikirkan oleh saya adalah saya harus keluar dari duka panjang ini. Salah satunya saya lakukan demi anak-anak. Adalah hak mereka untuk mempunyai ibu yang sehat secara mental. Sehat secara mental tentunya akan membuat saya lebih baik dalam mengekspresikan rasa sayang dan cinta kepada dua buah hati saya walaupun kami tidak bersama.
Kata cerai yang sebelumnya tabu, akhirnya menjadi jalan keluar dari hubungan yang tidak sehat ini.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.
Walaupun mungkin mental saya belum sepenuhnya pulih, paling tidak sekarang saya bisa menikmati hidup dengan rasa yang aman. Rasa aman ini memudahkan saya untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Jangan pernah malu untuk berbicara masalah yang sedang kita hadapi kepada orang yang kita percaya dan aman untuk berbagi. Perlu untuk menyimpan nomor-nomor penting seperti kepolisian dan Kedutaan Besar Indonesia maupun Konsulat Jendral Indonesia.
Laporkan segera kekerasan yang kita alami kepada polisi setempat maupun perwakilan Indonesia di wilayah kita. Selain itu, kita juga bisa meminta bantuan LSM ataupun komunitas-komunitas Indonesia yang ada di negara tempat kita tinggal.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Italia
2. Kutipan favorit
When you learn how much you’re worth, you’ll stop giving people discounts.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Ketika berpacaran dengan warga asing, saya sempat beradu argumen dan dia menjambak rambut saya dan menyeret saya ke depan cermin di kamar mandi sambil bilang: “Vedi la puttana?!” —”Lihat pelacur itu (di cermin)?!”
Saat itu juga, saya memutuskan untuk meninggalkan dia. Namun, dia terus menerus men-stalking saya, ke kampus, ke tempat kerja, sampai saya harus pindah apartemen.
Teman saya (sekarang menjadi suami saya) akhirnya menghubungi polisi setempat dan pihak polisi memberinya teguran. Sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya beruntung tumbuh dalam keluarga yang harmonis, sehingga saya langsung sadar bahwa saya harus keluar secepatnya dari situasi tersebut. Saya juga memiliki teman yang membantu & menyadarkan saya untuk mencari pertolongan (pihak kepolisian Italia).
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Awalnya tidak mudah. Setiap saya melihat lelaki berperawakan tinggi, berambut cepak maka jantung saya langsung berdebar cepat. Saya takut kalau-kalau itu mantan saya yang masih menguntit/men-stalking saya. Namun, pelan-pelan seiring berjalannya waktu, perasaan takut saya pun hilang dan kepercayaan diri saya kembali lagi. Saya perlu waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif agar tidak terus menerus hidup dalam ketakutan.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Trust your gut, know your worth. And don’t be afraid to look for a help.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi :Qatar
2. Kutipan favorit
Stop kekerasan pada perempuan karena cinta tak seharusnya menyakiti!
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Rasanya menjadi korban kekerasan? Bagi saya tentu sangat menyakitkan dan penuh trauma. Lima tahun bertahan dalam keadaan yang sulit, bahkan sudah tujuh tahun lepas dari keadaan yang menyakitkan itu tetapi saya masih merasakan sakitnya di hati. Saya masih mengingat kenangan itu bagaimana terjadi.
Sakit di raga bisa diobati tanpa menyebabkan bekas tetapi tidak dengan rasa sakit di hati karena kenangan masa lalu yang menyakitkan. Hari ini, dan seterusnya, bahkan sampai akhir hayat pun saya masih merasa sakit. Trauma itu masih ada meskipun saya menemukan pengganti yang lebih baik.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Masa-masa lima tahun saya bertahan dalam keadaan sulit itu. Saya berpikir, entah ini cinta atau bodoh. Saya pun sudah tidak tahu lagi.
Saya hanya berharap waktu itu lelaki yang saya cintai mau berusaha untuk berubah dan tidak mengulanginya. Dengan umur yang masih muda saat itu, saya benar-benar sangat tenggelam dalam cinta sampai rasa sakit pun bisa saya tekan sendiri. Saya tidak bercerita ke orang lain bahkan kepada orang tua saya sekalipun.
Di saat bekas-bekas kekerasan itu masih ada, saya berusaha untuk tersenyum dan hanya mengatakan “ini terjatuh”.
Namun, saya katakan kepada diri saya. Setelah lima tahun dan semakin bertambahnya umur, saya menjalani hari-hari yang sulit. Saya berkata: “Saya harus keluar dari keadaan seperti ini. Ini tidak bisa berlanjut. Ini bukan cinta!”
Cinta itu bukan menyakiti, melainkan cinta harus saling mengasihi. Cinta itu tidak begini, TIDAK.
Seseorang yang mencintai kita itu, seharusnya membuat kita bahagia. Bukan justru sebaliknya.
Setelah saya katakan itu terus berulang kali dalam setahun penuh, saya berpikir dan terus berpikir maka saya putuskan untuk bercerita kepada orang tua. Saya ceritakan tentang apa yang sudah terjadi. Merekalah orang yang bisa membantu saya untuk keluar dari keadaan sulit ini.
Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi saya dan menampung saya bahkan mendukung saya dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tanpa orang tua yang membantu saya saat itu, mungkin saya sudah tidak kuat lagi di dunia ini.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Cara mengatasinya saat itu, orang tua saya menyarankan untuk menyibukkan diri dengan bekerja lagi. Setelah kekerasan itu, saya depresi empat bulan. Saya hanya tidur, makan, dan mandi. Saya tidak memiliki semangat hidup.
Namun, orang tua saya selalu menyarankan agar menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya memohon ampun atas kesalahan dan bercerita di atas sajadah. Orang tua saya kemudian mencarikan pekerjaan untuk saya agar saya jauh dari mantan saya.
Orang tua saya diteror. Mantan saya menjelek-jelekkan saya di hadapan orangtua saya.
Orang tua saya selalu bilang “Kami akan selalu percaya denganmu nak. Carilah kehidupan baru yang lebih baik! Kami orang tuamu akan selalu mendukungmu di sini. Sibukkan dirimu dengan hal positif, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mulai dengan kehidupan barumu seperti dulu kala (saat tanpa dia).
Itu memang benar. Setelah saya menyibukkan diri saya dengan pekerjaan, saya lebih bersemangat dan bertemu dengan orang-orang baru yang positif. Ini membuat diri saya menjadi orang yang positif kembali, penuh senyum, penuh tawa dan tidak lagi terasa sakit di dada.
Saya berterima kasih kepada orang tua saya dan saudara saya. Mereka telah membuat saya bisa “kembali hidup”. Bahkan saya kini sudah memiliki putri yang cantik dengan suami saya yang sekarang.
Saya tidak menyangka bahwa saya bisa menikah kembali. Saya membutuhkan beberapa tahun untuk menerima suami saya saat itu. Saya butuh waktu lama untuk “percaya kepada laki-laki kembali”.
Setelah saya keluar dari masa sulit, saya bahkan tidak berkeinginan menikah kembali. Saya bersyukur karena orang tua saya juga tidak pernah memaksakan saya untuk menikah kembali. Sampai saat ini, saya masih mengingat apa yang terjadi “saat itu”, entah kapan bisa terhapus oleh waktu.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Berani untuk keluar dari laki-laki yang hanya bisa menyakiti baik itu secara fisik, verbal, seksual, maupun psikis non verbal. Lelaki yang baik tidak akan pernah bisa melihat perempuan yang dicintainya menangis karena dirinya. Ceritakan hal hal tersebut kepada seseorang yang kalian percaya sehingga mereka bisa mencarikan jalan keluarnya.
Jika berada di luar negeri, kalian bisa mendatangi KBRI/KJRI di lokasi negara kalian untuk mencari perlindungan. Untuk saya sendiri, saya dibelikan tiket oleh orang tua saya. Secara diam-diam, saya keluar dari rumah sehingga dia tidak bisa menahan saya. Jadi, dia tidak tahu kalau saya akan pergi darinya.
Saya tidak melaporkan dia. Saya berpikir saat itu adalah saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat. Saya segera keluar dari keadaan yang menyakitkan sebelum terlalu jauh menjalaninya. Kalian perempuan tangguh, kalian pasti bisa hidup mandiri, hidup baru, dan menemukan lelaki baru yang jauh lebih baik.
Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Jangan takut melangkah! Jangan takut hidup tanpa dirinya!
“Kita berhak bahagia”
Jangan pernah takut untuk melawan! Ingat, bahwa kalian tidak sendiri!
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi :Indonesia
2. Kutipan favorit
If we are to fight discrimination and injustice against women we must start from the home for if a woman cannot be safe in her own house then she cannot be expected to feel safe anywhere. (Aysha Taryam)
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Saya mengalami kekerasan fisik dari mantan suami selama enam belas tahun pernikahan. Dia memukul, menendang, dan menjambak serta membentur-benturkan kepala saya ke tembok hanya karena hal sepele. Misalnya, saya meminta untuk tidak keluar malam. Setiap malam, dia pulang pagi, Dugem di diskotik, mabuk, dan main perempuan.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya memutuskan berhenti menjadi korban penyiksaan lahir batin karena saya ingin menyelamatkan jiwa anak-anak saya, yang berpotensi toxic karena hidup di dalam rumah tangga yang tidak sehat.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Saya tidak memberi ruang untuk kesedihan karena saya harus bekerja dan menghidupi, dan menyekolahkan 3 anak. Mereka adalah dua anak yang sudah remaja saat itu dan satu balita. Intinya adalah saya mengalihkan pikiran ke hal-hal yang produktif. Senantiasa saya mendoktrin diri sendiri bahwa saya tidak lemah.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Pesan saya, jika suami mulai melakukan kekerasan maka kita lawan. Ini tidak berarti dilakukan secara fisik saja tetapi kita tunjukkan bahwa kita tidak bisa menerima perlakuan tersebut.
Jangan malu meminta pertolongan!
Jangan bertahan untuk alasan-alasan emosional! Kalau kita mengharapkan pelaku berubah adalah hal yang hampir mustahil.
Jangan menganggap bahwa Anda tidak mampu hidup tanpa dia! Keselamatan tubuh dan jiwa Anda adalah yang utama.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi : Swedia
2. Kutipan favorit
Saat Anda menemukan keberanian untuk meninggalkan apa yang tidak dapat Anda ubah, itu akan menjadi saat yang paling membahagiakan dalam hidup Anda.
”You are worthy of love not abuses!”
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Traumatis. Selama hampir 5 tahun dalam toxic relationship, saya disiksa secara mental, itu membuat saya menjadi orang yang berbeda. Saya selalu merasa bersalah, takut, tertekan, sangat tidak bahagia, tidak dihargai, tidak dicintai, dan tersiksa. Itu semua memakanku perlahan-lahan.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Setelah banyak berpikir, saya membuat keputusan untuk keluar dari situasi. Bahwa saya ingin bahagia, saya ingin bebas tanpa tekanan, saya ingin dicintai, saya layak mendapatkan cinta, dan dihargai. Saya tak ingin dilukai dan dikhianati lagi. Saya ingin tenang dan aman tanpa khawatir. Saya tidak ingin diam lagi dan menerima kekerasan ini lebih lama. Saya tidak ingin babak belur secara mental, apalagi fisik. Jangan mengikuti aliran “cinta adalah pengorbanan”!
Itu akan membuat hidup dalam stigma sosial seperti istri harus patuh, cerai bukan jalan keluar, cerai adalah tabu untuk wanita, janda adalah aib dan seterusnya.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Mencoba hidup dengan rasa sakit dan trauma. Saya merangkul, menerima, dan berdamai dengan rasa sakit dan trauma. Sekarang ini menjadi bagian dari diriku. Saya fokus kepada hal hal yang positif. Saya melakukan sesuatu yang berguna atau impikan, seperti bekerja, mendekatkan diri dengan keluarga dan teman teman, melakukan hobby (memasak, berkebun, mempunyai hewan peliharaan, atau traveling). Intinya kita mencintai diri, self-care, dan perbaikan diri untuk membangun kepercayaan diri lagi.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Kita perlu mengakhiri siklus pelecehan. Kebanyakan pelaku tidak akan mengubah perilaku kekerasan mereka. Seorang korban harus sadar dan mengakhiri hubungan untuk menghentikan siklus. Seorang korban dapat mengembangkan rencana keselamatan dengan orang yang dicintai, terapis, atau advokat yang terpercaya untuk memulai proses keluar dengan mulai berbicara dan mencari pertolongan.
Beranikan diri, speak up, jangan diam! Mulailah bertanya dan mencari bantuan atau berkonsultasi. Jangkau, tanyakan, dapatkan saran, dan solusi dari ahli atau seseorang yang Anda percayai, keluarga, atau sahabat.
Tetap positif! Saya percaya bahwa Anda dapat membuat keputusan yang tepat. Berdoa agar kita lebih dekat dengan Tuhan.
Episode Parentingtalk with RUANITA (=PELITA) pada bulan November 2022 ini mengambil tema tentang perkembangan bahasa anak, terutama anak-anak yang lahir dan besar pada keluarga multiculture. Seperti biasa, Stephany yang menjadi Host dari program PELITA menjelaskan dengan baik dari keilmuan psikologi yang dipelajarinya dan pengalamannya sebagai ibu dari seorang anak laki-laki berusia 7 tahun.
Stephany awalnya bingung ketika anaknya lahir dengan bahasa yang beragam di mana Stephany saat itu tinggal di Belanda untuk menempuh pendidikan lanjutan S3 di salah satu universitas di sana. Stephany berbicara dengan anaknya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sementara ayah dari anaknya berbicara dengan Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, terkadang Bahasa Arab.
Berdasarkan pengalamannya tersebut, anak Stephany mengalami speech delay sehingga dia pun segera mencari tahu dan menanyakan keterlambatan bicara anaknya pada ahlinya. Terkadang kita begitu mempercayai pendapat budaya yang mengatakan bahwa speech delay pada anak-anak seusianya itu adalah hal yang umum padahal kita perlu mencari tahu penyebabnya.
Stephany menceritakan bahwa anaknya mengalami kebingungan untuk memformulasikan kalimat karena dia mendengar empat bahasa sekaligus. Tak jarang anaknya pun mengucapkan kata yang bercampur dan tidak konsisten pada 1 bahasa, misalnya: ini Auto, auto adalah mobil dalam Bahasa Belanda.
Stephany juga menceritakan metode one language one person di mana orang tua perlu konsisten untuk mengajarkan pada 1 bahasa yang benar-benar dikuasai saja pada anak. Orang tua juga perlu keseriusan dan komitmen untuk mengajarkan pada anak yang dibesarkan secara bilingual, termasuk bagaimana orang tua juga harus bisa menjadi role model bagi anak-anaknya.
Jika memang tidak ingin anak berbicara bahasa yang campur maka sebaiknya orang tua juga tidak berbicara hal yang sama. Orang tua juga perlu mengapresiasi setiap langkah kecil dari perkembangan anak seperti tidak memaksa anak apabila dia sudah merasa kelelahan dengan bahasa bilingual yang dipelajarinya.
Penjelasan Stephany dengan bahasa sederhana dari keilmuan dan pengalamannya membuat program PELITA kerap dinantikan oleh sahabat RUANITA yang mencari tahu lebih banyak tentang tema pengasuhan di mancanegara. Kalau ada saran/pertanyaan, silakan kirim ke info@ruanita.com.
PELITA Episode 7 dapat disimak sebagai berikut:
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.
(NORWEGIA 23/10) Ketika anak-anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan baru lalu memutuskan untuk meninggalkan rumah tempat mereka tumbuh, ada semacam rasa ‘kedukaan’ yang umumnya dialami oleh orangtua. Bagaimana perasan dan pengalaman para orangtua ketika melepas anak-anak yang sudah dewasa? Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi perasaan sedih dan kesepian tersebut?
Dalam episode IG Live Oktober 2022 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema ’Empty Nest Syndrome: Kehidupan Setelah Anak Pergi’. Dipandu oleh Anna @anna_knobl, Ruanita turut mengundang Ibu Yeni @yenikirimang, seorang ibu yang tinggal di Jerman dan Ibu Elvita @fitrianielvita, seorang ibu yang tinggal di Indonesia.
Ibu Elvita memiliki tiga anak, salah satunya kini sedang melanjutkan studi di Munchen setelah kuliah di IAIN Surakarta. Sementara Ibu Yenni adalah seorang Ibu yang tinggal di Jerman dan memiliki dua laki-laki (23 & 24 tahun). Kedua anak lelakinya kini sudah menetap di kota Hamburg, sementara Ibu Yenni tinggal di sebuah kota yang berjarak sekitar 4 jam menyetir dari Hamburg. Ibu Yenni menuturkan ia dan anak-anaknya sering berkomunikasi lewat facetime, namun untuk dating mengunjungi hanya sekitar 1-2 kali setahun.
Ibu Yenni menuturkan bahwa saat pertama kali anaknya pindah kota untuk merantau, awalnya ia merasa kehilangan. Dari memasak saja sudah mengingatkannya akan perasaan sepi saat anak-anak meninggalkan rumah karena yang biasanya sehari-hari memasak banyak hidangan, tiba-tiba saja tidak banyak yang harus dimasak. Lalu saat malam menjenguk kamar anak-anak, kini telah kosong.
Padahal sebelumnya setiap malam ia selalu menjenguk anak-anak untuk mengucapkan selamat tidur. Namun menurut Ibu Yenni, kondisi kehilangan dan kesepian ini adalah bagian dari proses yang berulang karena mungkin dulu inilah yang dirasakan orangtua saat harus melepas kita untuk pindah merantau.
Menurut Ibu Elvita saat anak-anaknya masih kuliah di lain kota di Indonesia, mereka masih bisa berkunjung rumahnya lalu kembali pulang ke kos-kosan. Namun ketika anak-anak pergi merantau jauh rasanya pasti waswas, rindu dan kangen.
Saat perasan tersebut melanda, ia berusaha mencari jalan keluar dengan beraktivitas dan menyibukkan diri dengan bekerja sebagai konsultan. Ia juga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama suami. Ibu Elvita juga mengungkapkan bahwa awalnya sangat sulit sekali menemukan rumah dalam keadaan sepi tanpa anak-anak, yang bahkan masih terasa hingga kini, namun ini adalah kondisi yang memang harus dilalui.
Bagaimana pendapat Ibu Elvita dan Ibu Yenni tentang social support group untuk orangtua yang mengalami empty nest syndrome? Apakah ada cara khusus dalam mengatasi kesepian ketika anak-anak sudah tidak lagi tinggal di rumah?
Ibu Yenni mengungkapkan kalau anak-anaknya tahu saat ia sedang kangen. Dengan ia berkomentar ‘mama kangen’ saja, anak-anak pasti tahu. Ibu Yenni sendiri mempunyai grup teman arisan di Hamburg. Jadi kalau saat arisan di Hamburg, ia selalu punya misi untuk bertemu dengan anak-anaknya. Meski hanya sebentar dan harus menyamakan jadwalnya dengan jadwal anak-anaknya seperti membuat temu janji, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu.
Ibu Yenni menjelaskan bahwa ia mengerti bahwa anak-anak sudah punya kesibukan sendiri, jadi ialah yang harus menyempatkan duluan untuk menemui mereka. Ketika bertemu, anak-anaknya akan menjemput dan memasak, lalu makan bersama. Kalau mereka main bola, jika sempat ia akan ikut menonton. Jadi sampai anak dewasa, ada kebahagiaaan tersendiri saat masih bisa menonton dan bisa terlibat aktivitas mereka meski dari jauh.
Ibu Elvita mengakui bahwa dengan fasilitas teknologi, meski anaknya tinggal jauh tapi masih bisa berkomunikasi terus. Jadi ini harus selalu disyukuri. Sebelum kondisi pandemi, Ibu Elvita bisa mengunjungi anak-anaknya setidaknya setahun sekali, namun beberapa tahun terakhir belum bisa saling mengunjungi. Menurutnya yang terpenting adalah kita sebagai orangtua harus selalu ada untuk anak-anak, mau jauh maupun dekat dengan bantuan komunikasi digital.
Untuk komunitas social support group, menurut Ibu Yenni ia tidak punya komunitas khusus, tetapi ia memiliki teman-teman yang bisa curhat bareng seperti ‘Kenapa sih anak kita kalau mau ketemu harus izin partnernya?’.
Dan setelah curhat jadi menyadari bahwa sekarang harus legowo karena dulu ternyata kita seperti itu juga. Pada akhirnya harus disadari kalau semua hal adalah titipan, termasuk anak-anak. Lalu ia juga jadi menyibukkan diri dengan banyak membaca, karena ia suka sekali membaca.
Bagi Ibu Elvita, ia berusaha untuk tidak larut dalam perasaan tersebut. Ia kini banyak bekerja dengan masyarakat sehingga kini ia bisa lebih all out dan optimum dalam bekerja. Kini ia bekerja sebagai motivator dan konsultan. Lalu yang terpenting adalah bagaimana anak itu bahagia. Semua rasa rindu dan sedih jadi sirna saat mengetahui bahwa anak kita bahagia. Kebetulan Ibu Elvita juga punya punya komunitas Primordial sesama teman-teman usia sepuh yang sama-sama mengalami kondisi serupa.
Ibu Elvita bersama teman-teman komunitasnya suka jalan-jalan dan mengisi waktu bersama dan ini sangat membantu. Hal yang sama juga diiyakan oleh Ibu Yenni di mana ia selalu menyempatkan punya alibi untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Punya kesibukan yang menyenangkan sangatlah membantu dalam mengatasi kondisi empty nest ini.
Baik Ibu Yenni maupun Ibu Elvita mengiyakan bahwa kondisi empty nest ini paling berdampak pada para Ibu. Menurut Ibu Yenni, para bapak bisa jadi turut mengalami namun tidak memperlihatkan perasaan mereka. Mungkin ini karena para ibulah yang biasanya terlibat paling dekat dalam mengurusi anak-anak.
Jadi ketika anak-anak dewasa dan pergi meninggalkan rumah, rasanya mengejutkan sekali, seperti kehilangan dan bisa tiba-tiba menangis. Momen-momen kecil seperti ketika mendapati jumlah cucian tidak sebanyak biasanya, rumah yang biasanya berantakan namun sekarang rapi lebih lama tapi lebih sepi, serta tidak ada sesi sarapan bersama lagi bisa saja terasa menyedihkan.
Ada beberapa hal yang dapat disiapkan para orangtua yang anak-anaknya sebentar lagi akan meninggalkan rumah. Menurut Ibu Elvita, yang paling penting adalah restu dan support dari kita untuk anak-anak. Sebagai orangtua, kita lepas mereka dengan restu, support dan doa buat anak-anak. Pengorbanan yang sangat luar biasa setelah membesarkan anak adalah saat kita melepas anak ketika mereka dewasa. Lalu siapkan juga mental kita dan yakinkan diri bahwa anak-anak siap dan mereka bisa bertanggung jawab dengan pilihan mereka, seperti dulu waktu kita dilepas oleh orangtua kita.
Ibu Yenni pun berpesan untuk anak-anak bahwa yang pertama, tetaplah menjaga kontak dengan orangtua. Bagi orangtua, itu terasa sangat berharga sekali. Ia teringat bahwa dulu ia hanya bisa menulis surat ke orangtuanya sampi berlembar-lembar.
Sekarang saat sudah ada telepon dan videocall, lebih mudah saling menjaga kontak saat kangen dengan anak-anak. Sekadar menelepon sudah bahagia rasanya. Untuk anak-anak yang kuliah, fokuslah belajar dulu sampai menjadi berhasil.
Menurutnya juga, anak tidaklah pernah berhutang budi kepada orangtua. Adalah kewajiban orangtua untuk menghidupi dan membesarkan anak, namun ketika mereka dewasa, tidaklah ada kewajiban untuk ‘balas budi’ menghidupi orangtua di kemudian hari. Namun bagaimana kita sebagai anak menjaga kontak dengan orangtua adalah yang terpenting karena itulah yang diharapkan oleh orangtua.
Lebih lengkapnya, diskusi mengenai empty nest syndrome ini dapat disaksikan pada tautan berikut:
Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)