(CERITA SAHABAT) Alzheimer Merenggut Nyawa Ayah Mertuaku

Dahulu sewaktu aku masih di Indonesia, aku mengenal Alzheimer hanya di perkuliahan Psikologi. Nama penyakit itu terdengar asing buatku dan tidak nyata dalam keseharianku di Indonesia. Namun, Alzheimer begitu sering aku dengar kala aku tinggal dan menetap di Jerman.

Aku bahkan pernah membahas Alzheimer dengan kenalan asal Rumania yang kerja di Jerman sebagai perawat di rumah panti jompo. Aku mengenal kenalanku ini saat kami berdua belajar Bahasa Jerman.

Menurut kenalanku ini, kasus Alzheimer begitu umum terjadi pada generasi lanjut usia di Jerman. Penyebabnya bisa beragam. Kata dia, ini seperti gaya hidup yang mengancam dan tidak disadari. Sepertinya memang Alzheimer tidak asing di Jerman karena aku sering mendengarnya. Rekan studiku pun mengambil tema Thesis tentang Alzheimer. Aku bahkan sempat terpikir mengambil tema dukungan sosial pada Alzheimer dalam Thesis S2. Namun, urung kulakukan.

Pemahamanku tentang Alzheimer bertambah saat kenalanku lainnya asal Spanyol bercerita panjang lebar tentang Alzheimer yang menyerang ayahnya. Dia bercerita bagaimana penyakit yang diderita ayahnya itu menyita waktu kesehariannya.

Ayahnya seperti anak kecil yang memerlukan perhatian, bahkan ayahnya begitu lupa apapun. Alzheimer itu menyerang fungsi otak, katanya lagi. Kenalanku ini merawat ayahnya sehari-hari hingga ayahnya wafat saat Pandemi Covid-19 kemarin. 

Alzheimer rupanya juga menyerang ayah mertuaku. Aku sebenarnya sudah mengetahuinya sejak lima tahun lalu dari suamiku. Ayah mertuaku tak pernah mengakui bahwa dia mengalami Alzheimer. Padahal jelas banyak gejala yang menunjukkan penurunan fungsi otak.

Dahulu ayah mertuaku adalah orang yang sibuk. Dia punya ruang kerja di dekat kebun rumah dan di Keller (=bagian rumah di bawah tanah). Saat Alzheimer menyerangnya dia mulai lupa di mana meletakkan ini dan itu.

Follow akun: ruanita.indonesia

Alzheimer membuatnya tak bisa tenang, dia harus bergerak atau melakukan sesuatu di ruang kerjanya. Beruntungnya rumah mertuaku luas sehingga dia bisa bergerak luas. 

Sejak Alzheimer menyerang ayah mertuaku, dia mulai dilarang menyetir mobil tetapi ayah mertuaku sering keras kepala. Dia hampir celaka karena tetap menyetir mobil. Dia juga sering lupa di mana harus menjemput atau mengantar ibu mertua.

Beruntungnya aku mengenal ayah mertuaku sebelum Alzheimer membuatnya parah dan lupa segalanya. Jadi dia tahu bahwa aku adalah anak menantunya. Itu sebelum Alzheimer membuatnya semakin parah untuk tidak ingat apapun.

Setahun sebelum ayah mertuaku meninggal, Alzheimer-nya sudah sampai tingkat parah. Dia mulai lupa aku dan suamiku. Aku dan suamiku tinggal berbeda kota dan seminggu sekali kami berkunjung ke mertua.

Suatu kali suamiku datang memperbaiki lampu di rumah mertua kala ibu mertuaku sedang berbelanja. Ayah mertuaku bertanya siapa suamiku. Itu membuat aku dan suamiku bersedih.

Itulah Alzheimer yang membuat orang lupa, bahkan tidak ingat orang yang dikasihinya. Tak hanya itu, Alzheimer membuat indera pengecapan ayah mertuaku berbeda.

Semua makanan yang dimasak ibu mertuaku tak berasa lezat dan enak. Ayah mertuaku sudah mulai tidak bisa menikmati makanan lagi seperti normal. Tubuhnya semakin kurus dan mengecil seperti anak-anak.

Ayah mertuaku tak bisa duduk tenang dan selalu berusaha memegang sesuatu di tangannya. Belakangan aku baru tahu bahwa ayah mertuaku adalah generasi terakhir yang kembali ke Jerman setelah mengungsi ke negara Yugoslavia. Kini, negara tersebut sudah tidak ada lagi.

Selama berjalan kaki dari Yugoslavia ke Jerman, ayah mertuaku masih berusia 8 tahun. Dia berjalan dan memegang tangan ibunya agar tetap aman sepanjang perjalanan. 

Cerita itu diceritakan oleh seorang kerabat keluarga ayah mertua setelah ayah mertua wafat. Konon perjalanan itu memakan waktu tiga kali musim Winter setelah kejadian Perang Dunia. Menggenggam tangan dan terus bergerak adalah pengalaman ayah mertua saat harus kembali ke Jerman. 

Alzheimer membuat penderitanya seperti mengulang memori yang sudah lampau. Misalnya, ayah mertua pernah bersembunyi di balik lemari atau di pintu hanya karena dia ingat masa kejadian Perang Dunia di mana saat itu dia masih anak-anak dan harus bersembunyi untuk selamat.

Dia lupa kondisi kejadian sekarang yang terjadi. Itu membuat kami panik setengah mati mencarinya ke seluruh kota. Rupanya dia bersembunyi di suatu tempat di rumah.

Ayah mertuaku telah wafat karena Alzheimer. Penyakit itu sungguh nyata. Beberapa kenalanku di Jerman bercerita kasus serupa yang menimpa kerabat, keluarga, atau kenalan mereka.

Semoga dengan adanya Hari Alzheimer Sedunia tiap 21 September semakin mengingatkan orang untuk mengenali lebih dini penyakit ini sehingga dapat mengantisipasi lebih awal.

Penulis: Anna K, dapat dikontak akun IG anna_knobl, tinggal di Jerman.

(DISKUSI ONLINE) Menikah atau Berpisah: Itu Tidak Mudah

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia, RUANITA mengadakan diskusi dan bedah buku Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua. Buku Cinta Tanpa Batas adalah sebuah antologi pengalaman hidup 25 perempuan Indonesia sebagai pasangan kawin campur yang tinggal di berbagai negara.

Acara diskusi dan bedah buku telah dilangsungkan via Zoom pada tanggal 10 September 2022 dengan mengangkat tema khusus ‘Menikah atau Berpisah, Itu Tidak Mudah’. Dengan moderator Novi @novikisav sebagai salah satu penulis buku antologi Cinta Tanpa Batas (domisili di Norwegia), RUANITA turut mengundang penulis lainnya yakni Arum I. Riddell-Carre (Indonesia), Leny A. Faqih (Turki), Alda Trisda (Belgia), dan Veronica Siregar (Australia). 

Salah satu tujuan ditulisnya antologi Cinta Tanpa Batas adalah untuk menyampaikan sudut pandang lain dalam realita kehidupan rumah tangga perkawinan campur dalam bentuk media literasi. Tak seindah rasa cinta yang muncul di awal perkenalan, perkawinan warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) kerap kali dimulai dengan kerumitan urusan dokumen hingga perbedaan budaya dari masing-masing pihak.

Perbedaan ini sering menjadi akar konflik yang dapat berujung pada perpisahan, atau justru memperkaya kehidupan perkawinan campuran. Banyak kisah perkawinan campur yang jarang terdengar di ranah publik dan jadi dianggap tabu, seperti pandangan keluarga besar, pengalaman menjadi orangtua dan membesarkan anak dalam dua budaya yang berbeda, hingga kisah perpisahan dan keberanian untuk kembali bangkit memulai hidup baru di tempat asing. Semuanya ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis. 

follow akun: ruanita.indonesia

Salah satu kisah yang dibagikan dalam buku Cinta Tanpa Batas adalah kisah dari Arum Riddell-Carre. Bicara dari pengalamannya, Arum menekankan bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga. Salah satu buku favorit Arum adalah The Zahir yang ditulis oleh Paulo Coelho.

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa ‘You have to love yourself first’. Ini yang menjadi pengingat Arum dalam menjalani pernikahan keduanya. Lanjutnya lagi, selain mengenal pasangan, mengenal keluarga calon pasangan juga sama pentingnya. Terlepas dari perbedaan budaya, menurutnya kita harus melihat langsung apakah life virtues pasangan sejalan atau tidak dengan kita.

Tidak cukup hanya dengan sowan saja, namun lihatlah bagaimana interaksi pasangan dengan orangtua mereka dan how they respect each other. Mengenali pasangan serta melihat bagaimana interaksi pasangan dengan keluarga mereka justru lebih menentukan kecocokan selanjutnya saat menjalani pernikahan dan berkeluarga. 

Leny A. Faqih yang menikah dengan warga negara Turki membagikan kisahnya berwirausaha sebagai WNI di Turki. Sebelum menikah dan pindah ke Turki, Leny bekerja sebagai kontraktor dengan latar belakang ilmu teknik sipil. Namun begitu pindah ke Turki, semua berubah karena harus beradaptasi mempelajari sistem baru dan sendirian di rumah.

Saat itu ia kaget karena tidak boleh bepergian tanpa ditemani suami. Sementara di Indonesia, dia biasa bepergian dengan menyetir sendiri. Leny juga menjelaskan bahwa stereotipe perempuan harus manut masih lekat dalam masyarakat patriarki di Turki. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan Leny yang yakin bahwa perempuan mampu berdaya dan berkarya. Dengan meyakini stereotipe tersebut tidak sejalan dengan nilai yang dianutnya, Leny dapat memberikan kontribusi dan berusaha mendobrak kultur tersebut sebagai perempuan migran.

Setelah dua tahun, Leny memutuskan mulai bergabung dengan komunitas Indonesia lalu berwirausaha dengan membuka usaha ekspor-impor. Kini ia mengelola Toko Organic Indonesia yang berlokasi di Istanbul. Ini juga tidak lepas dari dukungan sesama warga Indonesia maupun warga Turki yang mendukung usahanya. Leny mulai berwirausaha dengan bermitra bersama warga Turki, yang mana banyak membantu dalam urusan bahasa hukum dan bisnis resmi yang berbeda dengan bahasa Turki sehari-hari, selain perbedaan cara bisnis. Rasisme terselubung dalam urusan bisnis dan beacukai pun sudah ia lewati.

Akhirnya Leny memberanikan diri untuk mengambil alih perusahaan dan berjalan melawan arus. Meskipun itu semua dimulai dengan culture shock yang besar, namun usahanya masih berjalan terus sampai sekarang.

Alda Trisda yang berdomisili di Belgia menggambarkan perkawinan campur ini sebagai ‘a lonely business’, atau kisah yang kalau tidak menjalani langsung sendiri, maka tidak akan benar-benar paham. Bahkan seringnya pernikahan campur tak seutuhnya bisa dipahami oleh keluarga dari masing-masing pihak.

Begitu pula dengan pemerintah yang kurang paham akan apa yang dibutuhkan oleh pelaku kawin campur dan berakibat kurang bisa memprediksi kebutuhan pasangan kawin campur. Inilah yang membuat buku Cinta Tanpa Batas ini unik, karena berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya dialami oleh pasangan kawin campur, sebagai sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak mengalami dan hanya dipahami oleh sesama pelaku kawin campur.

Sebagai pegiat literasi, Alda menuturkan bahwa sejak jaman penjajahan sudah ada literasi tentang kawin campur dengan posisi perempuan Indonesia yang dijadikan gundik oleh kaum penjajah lalu memiliki anak.

Namun memang, untuk konteks kondisi masa kini, informasi literasi mengenai pasangan kawin campur masih belum banyak. Tidak banyak yang menulis kisah kawin campur dari sudut pandang perempuan Indonesia selalu pelaku kawin campur di kondisi masa kini. 

Menurut Veronica Siregar, tak bisa dipungkiri bahwa mengenal calon pasangan itu butuh banyak waktu. Apalagi untuk pasangan kawin campur. Satu hal yang ditekankan Veronica adalah perbedaan keyakinan di mana agama bukanlah prioritas.

Kenyataannya bagi banyak warga negara asing, bersedia menikah secara agama bukan berarti otomatis bersedia menjadikan praktik agamanya sebagai prioritas dan mengikatkan diri secara iman. Ini adalah konteks yang harus dipahami terlebih dahulu bagi pasangan yang berasal dari dua budaya yang berbeda.

Satu hal lagi yang digarisbawahi oleh Veronica adalah pernikahan harus dilihat sebagai proses mengikatkan diri secara hukum dengan seseorang, sehingga selalu ada implikasi hukumnya. Implikasi hukum inilah yang tidak pernah disadari oleh pelaku kawin campur, karena biasanya urusan hukum ini sudah terdengar ribet dan kalah duluan dengan urusan cinta.

Padahal justru implikasi hukum inilah yang paling penting untuk dipahami, karena implikasi hukum besar pengaruhnya dalam hal status izin tinggal, akses kesejahteraan dan layanan kesehatan di negara domisili, akses bekerja, serta status legalitas anak.

Jika membicarakan implikasi hukum, menurut Veronica penting juga untuk membuat perjanjian pranikah dengan tujuan untuk melihat konsekuensi yang akan dihadapi sebagai WNI jika menikah dengan WNA. Semua urusan hukum ini penting untuk dipahami terlebih dahulu oleh kedua pihak pasangan.

Selain itu, penting juga untuk mencari tahu informasi tentang akses bekerja, pengaturan keuangan, serta kemerdekaan finansial masing-masing pihak. Membangun support system juga sama pentingnya, karena jika terjadi masalah hukum, masalah kesehatan, atau jika terjadi KDRT harus menghubungi siapa atau pihak mana di negara domisili.

Lebih lengkapnya, diskusi bedah buku Cinta Tanpa Batas dapat disaksikan di video berikut:

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT) Perasaan Diabaikan dari Teman-teman di Indonesia Mendorongku Temui Psikolog

Halo, perkenalkan saya X.  Saat ini tinggal di sebuah kota di bagian barat negara Jerman. Saya pindah ke Jerman 3 tahun lalu setelah menikah dengan pria berkebangsaan Jerman.

Sebelum pindah ke Jerman, saya bekerja di Jakarta. Kepindahan saya ke Jerman memang merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya, meskipun ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di Jerman.

Namun perbedaan tersebut sangat terasa sekali ketika saya ke Jerman hanya untuk berlibur dengan ketika saya tinggal dan menetap di Jerman. 

Kepindahan saya ke Jerman terasa sangat menyenangkan pada awalnya, karena saya sampai ketika musim panas dan merasakan berbagai hal baru yang menyenangkan. Namun perlahan-lahan perasaan tersebut berubah menjadi kebingungan, kesedihan hingga perasaan kesepian.

Saat itu hal yang sering saya lakukan ketika merasa kesepian adalah bercerita kepada teman-teman saya di Indonesia, walaupun hanya sesaat tetapi saya merasa lega ketika bercerita dengan teman saya. 

Hal tersebut membuat saya selalu berusaha lebih untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman saya di Indonesia dan tanpa saya sadari membuat saya secara emosional sangat bergantung terhadap mereka, sehingga saya lupa bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani di sini.

Semakin lama saya semakin tenggelam dalam hal-hal yang membuat saya menjadi tidak bahagia dan merasa kesepian. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah menyalahkan diri sendiri dan keadaan, terutama ketika saya merasa diabaikan oleh orang-orang terdekat saya. 

Perasaan terabaikan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari intensitas komunikasi saya yang semakin berkurang dengan teman-teman saya.

Hal yang sebenarnya bisa saya pahami dengan kesibukan mereka dan perbedaan waktu. Namun saat itu rasanya saya tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.

Follow akun: ruanita.indonesia

Semakin lama saya membiarkan perasaan tidak nyaman tersebut berlarut-larut hingga tanpa saya sadari mulai mengganggu kondisi fisik saya. Saya menjadi sering sekali merasakan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan seringkali mempertanyakan kewarasan saya.

Hal tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman yang juga tinggal di salah satu negara di Eropa. Saya menceritakan semua hal yang saya alami dan berakhir dengan pertanyaan apakah perlu saya untuk mencari bantuan seorang profesional?

Teman saya pun menyarankan agar saya mencari bantuan seorang profesional karena dia juga merupakan lulusan psikologi. 

Setelah percakapan tersebut, saya kemudian menghubungi seorang Psikolog dan mendaftarkan diri untuk sesi terapi dengan beliau. Setelah sesi terapi saya menjadi merasa lebih baik dalam menjalani hari-hari saya.

Saya juga menjadi lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola emosi dan merawat kesehatan mental. Tentu saja semua proses tersebut tidak mudah dan cepat, perlu kesadaran secara penuh dan kemauan untuk saya dapat berubah menjadi lebih baik, dan juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar kita, terutama pasangan terlebih untuk orang yang berada dalam keadaan seperti saya yang jauh dari keluarga dan teman.

Saat ini tentu saja perasaan tidak enak tersebut masih sering muncul. Namun saya kini tahu bagaimana caranya agar saya bisa tidak berlarut-larut dalam merasakan perasaan negatif yang saya rasakan.

Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri dan menyadari pentingnya untuk mengenali berbagai tanda-tanda perilaku psikologis yang tidak seharusnya saya rasakan. 

Penulis: X, tinggal di Jerman.

(PELITA) Kenali Gangguan Perkembangan Anak yang Menyangkut Sensori Sejak Dini

Tak banyak orang tua yang berhasil mengenali gangguan perkembangan yang dialami anaknya, terutama bagaimana anak dapat merespon dengan tepat sesuai panca inderanya. Respon anak dengan gangguan pemrosesan sensori bisa berlebihan atau bisa berkurang. Hal ini dialami langsung oleh Stephanie, yang adalah seorang ibu dan saat ini sedang menyelesaikan studi Ph.D di Belanda.

Stephanie bertutur dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami untuk para ibu yang berada di mancanegara meski dia memiliki keilmuan sebagai Psikolog. Gangguan pemrosesan sensori kadang bisa dikenali sebagai anak dengan Autisme, tetapi itu tidak sama.

Gangguan pemrosesan sensorik adalah suatu kondisi di mana otak mengalami kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui indera. Anak-anak dengan gangguan pemrosesan sensorik mengalami kesulitan memproses informasi dari indera (sentuhan, gerakan, penciuman, rasa, penglihatan, dan pendengaran) dan merespons informasi tersebut dengan tepat.

Anak-anak ini biasanya memiliki satu atau lebih indera yang bereaksi berlebihan atau kurang terhadap rangsangan. Gangguan pemrosesan sensorik dapat menyebabkan masalah dengan perkembangan dan perilaku anak.

Lebih lengkap tentang penjelasan Stephanie tersebut, bisa dilihat dalam tayangan video berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(SIARAN BERITA) Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara?

JERMAN – Tak banyak orang tua yang siap menerima kondisi anak dengan Autisme, apalagi tinggal jauh dari Indonesia. Padahal sikap mental orang tua ini menentukan dan berdampak pada bagaimana orang tua mendukung dan menangani kekhususan dan kompleksitasnya.

Hasil penelitian menunjukkan peran aktif orang tua sangat menunjang keberhasilan terapi dari penanganan anak dengan autisme. Bagaimana pun orang tua selalu ingin yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

Kehidupan di luar Indonesia nyatanya memberikan pengaruh bagi orang tua yang mengalami anak dengan autisme. Orang tua dihadapkan pada prosedur kebijakan penanganan anak autis yang berbeda-beda sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku.

Ketika anak dengan autisme sedang ditangani secara profesional, terkadang kita lupa memperhatikan kebutuhan psikologis bagi orang tua yang menjadi social support system untuk anak. Tidak jarang orang tua masih menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Ada juga orang tua yang menyalahkan vaksinasi, obat, salah pengasuhan atau terlambat diagnosa.

Ruanita – Rumah Aman Kita sebagai “Rumah” berbagi ilmu dan pengalaman untuk warga Indonesia di mancanegara bermaksud menggelar webinar bertema penanganan anak dengan autisme di mancanegara.

Webinar ini diawali dengan sharing pengalaman dari Alda Trisda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan saat ini tinggal di Belgia. Narasumber kedua adalah Dr. Deibby Mamahit, seorang ahli dan praktisi dalam menganani anak dengan autisme sesuai keilmuannya. Beliau saat ini tinggal di Singapura.

Tujuan diselenggarakan webinar adalah untuk membagikan pengalaman sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan memberikan dukungan sosial kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tinggal di mancanegara.

Follow us ruanita.indonesia

Kedua, webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi prosedur penanganan anak dengan autisme sesuai ilmu kedokteran dan pengalaman menangani anak dengan autisme di mancanegara.

Terakhir, webinar ini bertujuan untuk menjadi social support system bagi orang tua di mancanegara yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme.

Webinar ini dibuka resmi oleh Ketua DWP KBRI Berlin yakni Sartika Oegroseno. Tentunya Jerman sebagai negara maju telah memiliki kebijakan tersendiri dalam memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme meski sebenarnya tidak ada angka yang pasti tentang jumlah anak dengan Autisme di Jerman. Untuk menguatkan diskusi, acara webinar dipandu oleh Fransisca Sax, M.Psi. yang juga seorang Psikolog yang bertugas di Daycare di Munich, Jerman.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Rekaman ulang webinar bisa disaksikan di saluran YouTube berikut:

(IG LIVE) Penanganan Anak dengan Autisme di Jerman

JERMAN – IG Live Episode Juli 2022 yang diselenggarakan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita adalah bertema penanganan anak dengan Autisme di Jerman. Acara IG Live (16/7) dipandu oleh Christophora Nisyma, yang biasa disapa Nisyma (akun IG: ruanita.indonesia). Dia kemudian mengundang narasumber yang berbagi keilmuan dan pengalaman seputar menangani anak dengan Autisme di Jerman. Narasumber yang dimaksud adalah Fransisca Sax, M.Psi. yang bertugas saat ini di Daycare di Munich, Jerman.

IG Live di bulan Juli ini sebagai pengantar webinar yang digelar Ruanita dengan judul: Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara? pada Minggu, 17 Juli 2022. Fransisca menetap di Jerman sejak 2016, kemudian dia memutuskan untuk bekerja di Daycare untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus di Munich pada 2020.

Layanan yang dilakukan Fransisca sehari-hari juga termasuk anak-anak yang masuk gangguan dalam spektrum Autisme melalui bermain, makan siang, ngobrol, atau melakukan terapi. Fransisca biasa membuat diagnosa perkembangan tiap anak/remaja yang didampinginya.

Tugas lainnya yang berkaitan dengan fungsi orang tua yang dilakukan Fransisca adalah membantu orang tua untuk menemukan terapi yang sesuai untuk kebutuhan anak. Di Jerman terdapat peraturan yang mengatur bahwa anak-anak dengan Autisme bisa terinklusi di masyarakat. Ini menjadi perbedaan Jerman dengan negara lainnya. Autisme dan anak-anak berkebutuhan khusus adalah keragaman yang memperkaya, bukan membebani.

Oleh karena itu, pemerintah Jerman berharap bahwa masyarakat juga bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak dengan Autisme. Itu berarti bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus saja yang dituntut bisa beradaptasi di masyarakat. Masyarakat juga harus bisa membantu mereka – anak/remaja berkebutuhan khusus – terinklusi di masyarakat.

Jerman sudah meratifikasi sejak 2009 Konvensi PBB tentang hak individu anak-anak berkebutuhan khusus. Ratifikasi ini sudah berlaku di 16 negara bagian di Jerman, yang disesuaikan dengan kebijakan tiap-tiap negara bagian. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Jerman patut mengetahui paragraf 35A BGB yang menjadi landasan kuat agar anak berkebutuhan khusus tetap dapat terlayani seperti terapi, bantuan finansial dan bantuan pendampingan lainnya.

Sekolah itu gratis di Jerman sedangkan terapi untuk anak berkebutuhan khusus ditanggung oleh asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan layanan tak berbayar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, orang tua perlu menghubungi instansi terkait di Jerman.

Di paragraf 35A BGB tersebut tertera bahwa anak/remaja yang berkebutuhan khusus itu mendapatkan layanan inklusi jika perkembangannya lebih lambat 6 bulan dari usia perkembangan atau individu seusianya. Misalnya anak umur 6 tahun tetapi belum dapat melakukan toilet training atau belum bisa berbicara seperti anak-anak seusianya.

Kondisi anak-anak yang mengalami keterlambatan tentu akan mempengaruhi proses perkembangan anak selanjutnya seperti dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Penting untuk mengetahui dan mendeteksi perkembangan anak sejak dini agar bisa dilakukan penanganan secepatnya.

Diagnostik keterlambatan anak ini menjadi indikator bahwa anak memerlukan penanganan dini. Bantuan terkait anak-anak berkebutuhan khusus yang disediakan pemerintah Jerman kepada masyarakat berupa bantuan rawat jalan, tempat tinggal khusus sifatnya sementara, bantuan perawat/terapis untuk membantu anak berkebutuhan khusus sampai rumah tinggal permanen untuk anak-anak berkebutuhan khusus bila mereka tidak lagi memiliki orang tua/sanak keluarga lainnya.

Tujuan pemerintah Jerman lewat program inklusi adalah memberi kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dan bisa hidup di masyarakat pada umumnya. Spektrum anak dengan Autisme itu begitu luas sehingga perlu terapi yang mana bantuan pun bergantung pada diagnostik dari anak/remaja tersebut. Pemerintah mengambil alih pembiayaan sehingga perlu juga ada laporan mengenai perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus yang dibiayainya melalui diagnostik berkala. Ini pula yang menjadi bagian dari pekerjaan Fransisca sehari-hari.

Menurut Fransisca, penanganan anak dengan Autisme itu harus dilakukan secara holistik mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hukum dan lainnya. Di Jerman terapi yang diberikan kepada anak dengan Autisme pertama kali diberikan oleh dokter anak setelah melihat kecenderungan atau kemungkinan gangguan spektrum Autisme. Orang tua kemudian membawa anak untuk bagian penanganan anak usia dini. Orang tua akan didampingi dalam merawat dan mengasuh anak-anak dengan Autisme. Fransisca menegaskan layanan ini hanya untuk anak-anak berusia PAUD atau anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.

Anak dengan gangguan spektrum Autisme biasanya mengalami masalah bahasa, meski begitu bukan berarti dia tidak bisa bicara. Diagnosa bisa merujuk pada bagaimana kondisi anak sebenarnya sehingga perlu stimulasi lebih lanjut. Anak bisa dirujuk ke terapi wicara atau dalam Logopädie Therapie dalam Bahasa Jerman.

Lainnya anak dengan gangguan spektrum Autisme punya kecenderungan masalah dengan sensori panca indera seperti fokus pada penglihatan atau pendengaran tertentu saja. Anak-anak yang punya kecenderungan demikian, menurut Fransisca, biasanya dirujuk ke Ergotherapie dalam Bahasa Jerman. Di Indonesia, Ergotherapie disebut sebagai terapi okupasi.

Lebih lanjut tentang penanganan anak dengan Autisme di Jerman yang disampaikan oleh Fransisca dapat disaksikan dalam tayangan IG Live berikut:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Nih Kalau Mau Kerja di Norwegia

Cerita Sahabat Spesial kali ini adalah sharing pengalaman dari Novi yang sudah hampir dua puluh tahun tinggal di Norwegia. Semula Novi berangkat ke Norwegia untuk studi Master di Tromso pada 2004 hingga akhirnya Novi membangun keluarga dan memiliki karir mapan di institusi milik pemerintah Norwegia yang menyediakan Benefit untuk pencari kerja.

Novi berpendapat bahwa para pencari kerja yang berasal dari pendatang itu bisa mendapatkan 52 Benefit yang disediakan pemerintah Norwegia agar setiap orang bisa tetap aktif bekerja. Dari lima juta penduduk negara Norwegia, sekitar sembilan ratus ribu orang adalah pendatang yang datang mencari peruntungan hidup di Norwegia, termasuk orang-orang Indonesia. Tercatat berdasarkan statistik ada 1.971 orang Indonesia yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan di Norwegia, tutur Novi.

Kategori orang yang berpotensi sebagai angkatan kerja di Norwegia menurut Novi dimulai dari usia 15 tahun hingga 74 tahun mengingat angka harapan hidup yang tinggi di Norwegia. Hal menarik apabila kita menjadi pengangguran di Norwegia, pemerintah menyediakan tunjangan pengangguran yang bisa diklaim setelah seseorang tidak punya pengangguran. Tunjangan bisa diterima setelah 21 hari.

Kondisi ini berbeda ketika terjadi Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia mengingat ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Di Norwegia terdapat lima ratus ribu orang “dirumahkan”. Pemerintah Norwegia membuat kebijakan untuk memangkas waktu lamanya seseorang mendapatkan tunjangan pengangguran menjadi hanya 3-5 hari saja.

NAV ini membuat pemetaan bagaimana seseorang di Norwegia bisa mendapatkan pekerjaan dan mendorong seseorang mendapatkan haknya seperti misalnya akses tunjangan sosial. Tunjangan sosial di Norwegia bergantung pada misalnya seseorang yang masih single terhitung mendapatkan tunjangan 700€ per bulan. Ini berbeda sekali dengan seseorang yang sudah memiliki anak.

Hal menarik lainnya yang diceritakan Novi adalah bagaimana pekerja di Norwegia bisa menuntut hak mereka kepada pemberi kerja seperti misalnya demonstrasi yang biasa dilakukan para pekerja. Biasanya pekerja akan bernegosiasi dengan kantor pemberi kerja melalui serikat buruh. Serikat buruh pun bernegosiasi mengenai aspirasi pekerja seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Terjadi kenaikan upah sebesar 3,8% yang dimenangkan oleh para pekerja. Proses kenaikan gaji di kantor pemerintah seperti yang dialami oleh Novi terjadi secara sentral dan lokal. Sebagai pekerja, kita pun dipertimbangkan tentunya dari kinerja yang diberikan kepada pemberi kerja. Fokus utama kenaikan gaji di Norwegia adalah bagaimana si pekerja dapat berkontribusi lebih baik lagi bagi produktivitas pemberi kerja.

Terakhir Novi juga bercerita tentang proses pensiun di Norwegia yang berlaku saat seseorang sudah memasuki usia 67 tahun. Menurut Novi, siapa pun bisa mendapatkan uang pensiun asalkan sudah bekerja lebih dari tiga tahun di Norwegia. Klaim pensiun baru akan diberikan setelah seseorang sudah memasuki usia 67 tahun.

(CERITA SAHABAT) Mulai Dari Atasi Galau Sampai Kelola Emosi yang Jadi Manfaat Aku Berolahraga Yoga

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku Ecie yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman sejak 2008. Sehari-hari aku masih aktif menjadi mahasiswa dan berbagai kegiatan sosial lainnya di Jerman. Aku ikut kelas Yoga itu pada tahun 2015 gara-gara aku tertarik ajakan seorang teman untuk ikut kelas Yoga, apalagi saat itu aku sedang merasa galau. Aku berpikir punya keahlian baru di perantauan itu bisa membantuku mengalihkan rasa galau. 

Sejak itu, aku mulai berolahraga Yoga. Sebagai pemula aku diajari teknik relaksasi yang bernama Hatha. Ini semacam menggabungkan gerakan yang lembut dan lebih lambat. Sebenarnya ini gerakan stretching yang dulu sering kita lakukan sewaktu kita belajar olahraga di sekolah. Teknik lainnya aku belum bisa menguasai lebih banyak lagi sih. Waktu itu guru kelas Yoga mengajari aku untuk menghindari gerakan-gerakan yang salah dan berbahaya, meski gerakan Yoga tampak mudah. 

Dalam Yoga itu kita harus belajar dulu teknik basic. Kelihatannya gerakan Yoga itu mudah, padahal itu perlu teknik dasar yang harus dikuasai pemula dulu. Jangan terkesan tahu dan segera mencoba sendirian tanpa belajar teknik dasar! Bisa jadi kita salah melakukan olahraga Yoga sehingga malahan membuat kita sakit pinggang atau sakit anggota tubuh lainnya. Karena kejadian seperti ini, orang-orang cenderung jadi malas dan kapok untuk kembali berolahraga Yoga.

Gerakan Yoga yang aku ketahui itu harus lambat dan tidak boleh buru-buru. Jangan tergiur untuk melihat orang yang berhasil membuat pose bentuk tubuh Yoga yang biasa dipamerkan di media sosial! Menurutku, Yoga itu lebih pada gerakan untuk mengatur diri sendiri dan nafas. Saat kita harus memaksakan pose tubuh sendiri, sebenarnya kita harus mengatur nafas. Ini sangat membantu orang untuk tetap rileks terutama buat mereka yang punya gangguan panik atau kecemasan. Kita harus konsentrasi dan tetap menikmati gerakan Yoga.

Aku tidak banyak mengikuti klub/kelas Yoga karena aku pikir Yoga bisa dilakukan dengan mengikuti instruksi yang bisa dilihat di YouTube misalnya. Intinya kita bisa berolahraga Yoga di rumah dan gratis pula. Meski aku sudah tidak ikutan kelas Yoga lagi, aku tetap rutin menjalani Yoga 2-3 kali dalam sehari karena ini membantu aku untuk tidur nyenyak.

Menurutku Yoga itu sangat membantu untuk kesehatan mental. Mengapa? Saat kita melakukan Yoga, kita melatih pernafasan secara teratur dan kita berkonsentrasi atas gerakan yang kita buat. Jadi gak ada waktu tuh untuk overthinking. Bagaimanapun happiness itu ‘kan berasal dari dalam diri sendiri dengan cara menggerakan tubuh seperti Yoga ini. Kita lebih fokus pada tubuh dan diri sendiri, dari pada hal-hal lain yang berasal dari luar diri. 

Yoga itu simple gerakannya. Aku bisa loh sikat gigi dengan tangan kiri sambil melakukan Yoga. Atau aku bekerja di depan laptop sambil jongkok kemudian ditahan begitu sekian menit. Intinya kita harus membuat tubuh itu bergerak sehingga kita merasa happy. Bagaimanapun duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer kan tidak sehat juga. Dengan Yoga, kita bisa melakukan gerakan-gerakan yang mudah untuk membuat tubuh tetap bergerak juga.

Sejauh pengamatanku, Yoga adalah olahraga yang umum di Jerman atau area tempat tinggalku sekarang. Aku mudah menemukan klub atau tempat kursus Yoga atau Pilates karena biasanya olahraga tersebut menjadi bagian dari program asuransi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di Jerman. Ada yang bayar kelas Yoga kemudian nanti reimburse dari asuransinya atau kita bayar 50% dari iuran kelas Yoga tersebut.  

Hal menarik di Jerman kalau kita mau berolahraga dengan harga terjangkau, ada tempat Gym murah meriah “Sport Spaß” yang membuat kita bisa memilih olahraga yang kita sukai, seperti Yoga yang biasa diadakan 2-3 kali dalam seminggu. Olahraga murah meriah ini biasa menjadi aktivitas warga Jerman semisal melakukan olahraga di kebun saat musim panas seperti sekarang ini. Saat aku melihat seperti itu di ruang publik, aku kadang berinisiatif ingin gabung sambil memberitahukan kepada mereka bahwa aku merupakan pemula untuk Yoga. Aku merasa senang bisa berolahraga Yoga bersama orang lain juga.

Musim panas seperti sekarang ini banyak orang-orang di Jerman yang suka melakukan olahraga Yoga di outdoor dan ruang terbuka. Misalnya saja ada loh yang melakukan gerakan Yoga di dalam air atau di atas papan selancar misalnya.

Sebenarnya kenapa Yoga? Aku tuh sudah mencoba olahraga lainnya seperti Surfing dan Panjat. 

Aku cenderung suka olahraga Yoga karena Yoga itu bisa dilakukan di mana saja. Selain itu, aku bisa melakukan Yoga dengan teman-teman, bahkan aku pernah melakukannya di kebun. Atau aku juga bisa melakukan Yoga sendirian. Kalau orang suka berolahraga Yoga, mereka tidak harus punya peralatan dan memang Yoga mudah untuk diikuti. Orang bisa melihat berbagai gerakan Yoga hanya di YouTube misalnya. 

Kalau suka Yoga kadang ada klub atau kelas Yoga dengan harga terjangkau. Seperti di Universitas tempatku studi, Universität Hamburg menawarkan juga kelas Yoga dengan iuran 20€ – 30€ per semester. Lainnya, kalau kita tinggal di Jerman, kita bisa membayar biaya 50% dari iuran kelas Yoga karena 50% biaya lainnya itu ditanggung oleh asuransi. Aku membayar kursus Yoga sekitar 130€ untuk 8 kali pertemuan.

Yoga itu gak butuh peralatan sehingga membuat banyak orang tertarik mencobanya. Untuk teknik Yoga lanjutan, memang kita memerlukan peralatan khusus seperti blok berbahan kayu atau gabus buat penyangga. Kata guru kelas Yoga yang mengajariku alat bantu ini kalau kita belum lentur. Kita bisa mencari alternatif alat bantu lainnya seperti kamus atau buku-buku tebal. Ketimbang kita membeli peralatan Yoga, kita juga bisa pakai alternatif yang ada di rumah seperti bantal, tali, atau selendang yang panjang.  

Oh ya, kalau mau berolahraga Yoga, kita hanya pakai baju yang nyaman saja. Kita juga wajib menyediakan matras atau semacam alas untuk melakukan Yoga. Itu bisa dibeli di banyak tempat di Jerman dengan kisaran harga 10€ – 15€. Kalau kita berolahraga Yoga di tempat seperti kursus atau kelas Yoga biasanya kita bisa mendapat pinjaman matras tersebut.

Memang sih tak mudah untuk menekuni suatu kebiasaan sehat seperti Yoga ini. Kadang aku merasa malas untuk melakukannya atau menundanya hanya karena aku ingin pergi keluar rumah bersama teman-teman lainnya. Tantangannya itu lebih dari diri sendiri sih, bagaimana kita konsisten menekuninya apalagi kita sudah mendaftar dan membayar program Yoga tersebut. Harga program Yoga di ruangan panas itu berbayar 20€ per pertemuan. Sayang sekali jika kita hanya sekedar ikutan tetapi tidak menekuninya. 

Saran aku buat teman-teman yang ingin ikut olahraga Yoga pertama kali adalah ikut saja dulu kursus yang tidak terlalu mahal seperti yang aku tuliskan di atas. Kedua, kita bisa termotivasi untuk konsisten olahraga Yoga kalau ada teman. Nah, ajak saja teman atau kenalan yang bersedia ikut Yoga juga. Lalu ikuti suara hati, apakah Yoga ini adalah olahraga yang cocok atau tidak? Kelas Yoga pemula itu biasanya sekitar 8 kali pertemuan. Selamat mencoba ya teman-teman yang tertarik untuk olahraga Yoga.

Penulis: Ecie, tinggal di Hamburg

(IG LIVE) Penting Bangun Dukungan Sosial Untuk Orang dengan Skizofrenia

NORWEGIA – Dalam rangka Hari Skizofrenia Seduia yang jatuh tiap 24 Mei, Sabtu (28/5) Ruanita kembali menggelar diskusi virtual IG Live dengan mengusung tema ‘Membangun Dukungan Sosial Bagi Orang dengan Skizofrenia’. Lewat akun @ruanita.indonesia, Atika sebagai pemandu diskusi dari tim Ruanita mengundang Yohanes Herdiyanto selaku akademisi & aktivis kesehatan mental untuk berbagi perspektif baru dalam membangun solidaritas bagi mereka yang hidup dengan skizofrenia. 

Adapun skizofrenia adalah kondisi mental yang bermanifestasi pada masalah kognitif, perilaku dan emosi, serta ditandai dengan munculnya gejala yang bervariasi berupa delusi, halusinasi, dan bicara tidak teratur yang mengakibatkan gangguan kemampuan untuk berfungsi. Di awal diskusi, Yohanes Herdiyanto atau yang kerap disapa Kak Hendi menjelaskan bahwa kondisi skizofrenia ini muncul dalam range yang luas dan beragam, seperti ada orang yang mengalami gejala ringan saja karena mungkin sudah rutin minum obat, namun ada juga mereka yang mengalami gejala parah karena mungkin tidak pernah atau tidak rutin diobati. Yang harus diperhatikan adalah baik itu orang dengan skizofrenia maupun keluarganya harus ditolong, jangan sampai dikenakan stigma seperti kondisi skizofrenia disebabkan karena keturunan atau karena karma buruk dari masa lalu. Mengalami skizofrenia saja sudah berat, jangan lagi ditambah dengan stigma negatif.

Atika menuturkan beberapa persepsi keliru yang muncul di masyarakat awam tentang orang dengan skizofrenia (ODS), salah satunya adalah berkepribadian ganda. Persepsi keliru ini turut andil dalam melahirkan reaksi yang keliru dari kebanyakan orang dalam menghadapi ODS maupun keluarga yang mengurusnya. Menurut Kak Hendi, salah satu fenomena yang kerap ditemukan di Indonesia adalah gelandangan psikotik; biasanya mereka adalah ODS yang kabur dari keluarganya atau tidak lagi punya keluarga yang mengurusi, sehingga mereka hidup di jalanan dengan mengais-ngais makanan.

Secara garis besar jika kita hendak membantu, menurut Kak Hendi yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah mengamati apakah ODS tersebut membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti membawa benda tajam atau berperilaku agresif. Kalau mereka tidak membahayakan, bisa kita coba tolong dengan memberikan makanan dan minuman, atau membantu menghubungkan mereka ke lembaga-lembaga yang dapat membantu memberikan perawatan kepada mereka.

Fenomena lain yang lahir dari persepsi keliru adalah pemasungan ODS, baik itu dengan dirantai atau dikurung di kamar yang intinya untuk membatasi ruang gerak. Biasanya pasung ini banyak dilakukan oleh keluarga sendiri karena adanya kekhawatiran bahwa ODS tersebut bisa kabur dari rumah lalu berperilaku agresif seperti memecahkan jendela atau menyerang orang lain.

Bisa juga karena saat semua anggota keluarga harus bekerja maka tidak ada yang bisa mengawasi ODS tersebut sehingga kemudian dipasung. Pemasungan yang terlihat ekstrem ini menurut Kak Hendi biasanya bukanlah dilandasi atas kebencian, melainkan lebih karena kepedulian dan kekhawatiran keluarga akan kondisi ODS yang mereka urus. Yang disayangkan adalah kurangnya edukasi bahwa orang yang dipasung tersebut seharusnya diobati, karena jika tidak diobati, kondisinya akan selalu kumat terus dan tidak bisa lepas dari pasungan. 

Terkait dengan informasi seputar pengobatan, Kak Hendi menjelaskan bahwa keluarga ODS dapat mencari informasi pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Jikalau masih terbentur stigma dalam upaya mencari bantuan medis, di beberapa kota besar di Indonesia sudah ada komunitas yang didirikan oleh keluarga ODS dan professional kesehatan jiwa yang saling mendukung dengan memberikan informasi perawatan dan pengobatan untuk ODS. Salah satu komunitasnya adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang sudah ada di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Untuk mengakses obat psikotik dan pelayanan kesehatan jiwa sudah bisa dilakukan di puskesmas level kecamatan, dan nantinya bisa juga dirujuk ke beberapa rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Di tingkat desa pun ada kader kesehatan jiwa yang dibantu oleh perangkat desa maupun Babinsa (bintara Pembina desa) untuk membantu evakuasi ODS yang dipasung atau ODS yang mengamuk karena psikotik ke rumah sakit jiwa. Mengenai biaya pengobatan, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah punya sistem untuk perawatan kesehatan jiwa. Bagi ODS yang memiliki BPJS penerima subsidi pemerintah maupun membayar sendiri sudah bisa gratis mendapatkan obat.

Kak Hendi menekankan bahwa ODS harus rutin mengonsumsi obat untuk kondisi psikotiknya, jangan sampai terputus kecuali kalau ada rekomendasi dari dokter untuk mengganti jenis obat.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekat ODS, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengawasi, mengingatkan dan menyemangati ODS agar rutin berobat. Kak Hendi menjelaskan tiga pilar pengobatan skizofrenia yang perlu dipahami:

  1. Treatment farmakologi. Ini adalah tahap utama dalam mengobati kondisi skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi ketidaknormalan dalam sistem saraf yang menyebabkan berlebihnya aktivitas hormon dopamine di otak dan menyebabkan gejala-gejala psikotik. Obat-obatan anti-psikotik membantu menekan aktivitas hormon dopamine dan mengontrol gejala psikotik.
  2. Upaya psikoterapi dari psikiater dan psikolog.
  3. Dukungan psikososial untuk melatih ODS kembali ke masyarakat seperti untuk bekerja, punya usaha sendiri, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat dan kegiatan vokasional lainnya. Kak Hendi juga menekankan bahwa keluarga ODS tetap menjadi tonggak penting dalam membantu pemulihan ODS dan mengawasinya agar rutin mengonsumsi obat. 

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) Jalan Hidup Terbatas tetapi Kenangan Tak Terbatas

Umur adalah rahasia Ilahi. Siapa sangka perpisahanku dengan keluargaku saat beberapa tahun lalu menjadi waktu perpisahan selamanya dengan ayahku. Boleh dibilang aku benar-benar tak pernah menyangka bahwa ayahku begitu cepat pergi meninggalkan kami semua. Ayahku tak pernah berpesan apapun jika dia suatu saat tiada. Dia adalah orang yang optimis terhadap masa depan.

Beberapa hari sebelum dia dirawat di rumah sakit terakhir kalinya, aku mengobrol lama dengan ayahku. Kami membicarakan semua impian masa depan. Ia tak membicarakan sakitnya. Dia menceritakan tentang mimpi-mimpinya untukku dan kedua adikku.

Sebagai anak perempuan, aku begitu dekat dengan ayahku. Aku banyak meminta pendapat ayahku tentang berbagai hal. Dia punya banyak wawasan, meski dia tidak moderen. Dia tak tahu bagaimana mengoperasikan kecanggihan benda berteknologi, tetapi anehnya pemikirannya kerap dijadikan acuan banyak tokoh. Dia seorang pemikir dan kritikus.

Aku benar-benar kehilangan ayahku. Sejak kecil, dia memerhatikan aku agar aku tumbuh sukses dan menjadi perempuan cerdas. Dia mengajariku banyak hal, seperti pekerjaan kantor meski usiaku saat itu masih Teenager. Ayahku membuka perusahaan dagang (PD) di mana kerap aku belajar mengelola usaha atau membantu ayahku memecahkan masalah buat karyawan-karyawan ayahku. Ayahku mengajariku bermental kuat dan berani terhadap tantangan hidup. Aku benar-benar belajar banyak dari ayahku.

Saat ayahku koma di rumah sakit, aku masih tak berfirasat buruk tentangnya. Aku malahan berpikir memindahkan kamar ayahku dari lantai atas ke lantai bawah dan menyediakan perawat untuknya. Meski aku tak tinggal di Indonesia bersamanya, komunikasiku dengan ayahku begitu intens setiap saat. 

Aku tak pernah lupa selalu mengakhiri percakapan telepon atau pesan WhatsApp dengan ucapan kalimat sayang padanya. Umurku sudah dewasa, tetapi aku masih terbiasa dipeluk dan mencium pipi ayahku. Ini sama seperti aku melakukannya pada ibuku.

Tiga hari sebelum ayahku wafat, dia datang dalam mimpiku yang akan aku simpan dan kenang sebagai saat terakhirku dengannya. Jalan hidup manusia memang terbatas, Tuhan telah memanggil ayahku. Namun kenanganku pada ayahku tak terbatas. Aku masih merindukannya.

Saat aku merindukannya, kuambil waktuku dengan berdoa. Kini jarak komunikasiku dengan ayahku bukan lagi sejauh Jerman – Indonesia, melainkan sejauh doa. 

Penulis: Anonim.