
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Fransiska. Namun sebagai teman bercerita di ruang hangat Ruanita Indonesia, kalian boleh memanggilku Siska saja. Sejak tahun 2009 aku tinggal di Makau bersama suami dan dua anak laki-lakiku. Di sini, aku bekerja sebagai pegawai perpustakaan di sebuah sekolah internasional, sebuah pekerjaan yang membuatku selalu dekat dengan buku, pengetahuan baru, dan tentu saja, banyak pengalaman manusia yang tertuang dalam kata-kata.
Di perpustakaan itu, aku menjadi saksi betapa dunia terus berubah. Tapi ada satu fase dalam hidupku yang tidak pernah benar-benar kubayangkan hingga akhirnya terjadi: menopause. Meski banyak buku yang kubaca, pengalaman nyata tetap punya kedalaman dan kompleksitas tersendiri, dan itu adalah alasan mengapa aku memilih untuk berbagi.
Aku ingin menopause tak lagi menjadi kata yang dibisikkan pelan, apalagi menjadi lelucon. Perempuan pantas mendapat ruang bicara yang jujur, aman, dan terbuka. Karena menopause bukan sekadar berhentinya siklus bulanan, melainkan fase panjang yang mengubah tubuh, emosi, bahkan cara kita memaknai diri sebagai perempuan.
Sahabat Ruanita, pertengahan usia 40-an menjadi titik awal ketika tubuhku memberi tanda: menstruasi yang tidak teratur, rasa panas yang aneh, dan beberapa perubahan lain yang sulit kujelaskan saat itu.
Aku tumbuh sebagai perempuan Indonesia yang terbiasa menganggap menopause hanya sebagai batas usia reproduksi. Kita tahu bahwa perempuan yang “sudah tua” tidak akan haid lagi. Itu saja. Tidak ada percakapan mengenai efek emosional, fisik, atau mental.
Ketika tanda-tanda itu muncul, aku bercerita pada kedua kakakku. Mereka menjelaskan bahwa apa yang kualami adalah perimenopause. Dari mereka juga aku tahu bahwa perubahan ini tidak sekadar masalah medis, tetapi perjalanan yang panjang. Aku mulai membaca banyak informasi, bertanya, mencari jawaban. Hal yang paling penting, aku diajari untuk tidak panik.
Mengetahui apa yang terjadi dalam tubuhku memberiku rasa lega. Rasanya seperti menemukan nama untuk sesuatu yang lama kujalani dalam kebingungan.
Tinggal di luar negeri memberiku perspektif berbeda.
Di Indonesia dulu, menopause tidak pernah dibahas dalam keluarga. Tidak menjadi topik obrolan saat memasak. Tidak menjadi percakapan di ruang tamu. Jika pun dibahas, seringkali konteksnya lelucon:
“Pantesan jutek… lagi menopause.”
Sementara di Makau, terutama berkat interaksi lintas budaya di lingkungan sekolah, aku melihat bahwa menopause mulai dianggap sebagai fase alami yang layak dibicarakan. Namun aku juga menyadari bahwa perbedaan ini sebenarnya tidak hanya soal negara, tetapi juga generasi.
Orang tua kita, baik di Indonesia maupun negara lain, memegang prinsip: “Jalani saja. Tidak perlu dibicarakan.”
Menurutku, semakin ke sini, perempuan mulai lebih terbuka. Kita mengakui bahwa perubahan tubuh bukan kelemahan, bukan aib, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Dan itu adalah kemajuan yang layak dirayakan.
Meski kini aku tinggal di Makau, aku tetap membawa nilai budaya Indonesia dalam diriku, seperti: sopan santun, empati, kebiasaan berbagi pengalaman antar saudara perempuan, hingga tradisi menjaga kesehatan dengan jamu atau suplemen.
Kalau bicara tradisi khusus menopause, keluargaku tidak punya pantangan makanan atau ritual tertentu. Namun kami menyimpan tradisi yang menurutku paling berharga: berbagi cerita.
Dengan kakak dan sepupu, kami sering bertukar rekomendasi vitamin, jamu, hingga pengalaman menghadapi hot flushes dan perubahan hormon. Rasanya seperti duduk di beranda rumah, ditemani teh hangat, saling menguatkan sebagai sesama perempuan.
Aku bersyukur karena dikelilingi lingkaran pertemanan yang suportif. Kami saling bercerita tanpa takut dihakimi. Bahkan teman-temanku yang bukan orang Indonesia membuatku menyadari bahwa dukungan sosial bisa bersifat universal.
Namun bukan berarti semua berjalan mulus.
Suami, meski pengertian, tetaplah pria dengan perspektif berbeda. Menjelaskan mengapa aku tiba-tiba menangis, sulit tidur, atau tiba-tiba marah sangatlah tidak mudah. Ada masa ketika aku tertidur pulas di siang hari tetapi terjaga sepanjang malam, dan ia kebingungan melihat pola itu.
Tetapi pelan-pelan, komunikasi dan keterbukaan membantuku. Dengan gaya humor atau dengan serius, aku menjelaskan:
“Ini bukan drama. Ini hormon.”
Sedangkan dengan anak laki-lakiku, aku mengambil pendekatan lain. Aku ingin mereka belajar empati. Mereka melihat sendiri bagaimana perubahan itu mempengaruhi diriku, dan semoga kelak mereka bisa memahami pasangan mereka saat menghadapi hal yang sama.
Aku harus jujur: bagian paling berat dalam menopause bagiku bukan hanya fisik. Emosi adalah tantangan terbesar.
Perasaanku menjadi berlipat-lipat: sensitif, mudah tersinggung, gampang menangis, dan pikiranku terus berputar tanpa henti. Overthinking menjadi teman yang tak kuundang.
Semua itu terjadi bersamaan pada masa pandemi, ketika dunia dalam krisis, dan aku sendiri kehilangan banyak hal, seperti: anakku harus sekolah di luar negeri dan kami tidak bisa bertemu selama 2,5 tahun. Selain itu, aku juga mengalami kesedihan karena beberapa anggota keluarga meninggal, termasuk salah satu kakak perempuanku
Duka itu menumpuk di atas perubahan hormonal. Tubuhku menjadi sering sakit. Hatiku terasa sangat lelah.
Di masa paling gelap itu, kakak laki-lakiku memberi hadiah: latihan pernapasan Buteyko. Ia mengatakan bahwa manfaatnya tidak instan, tapi akan terasa dalam jangka panjang. Dan ia benar. Latihan itu membantu menstabilkan emosiku.
Selain itu, journaling, crafting, dan seni kertas juga menjadi penyelamat. Menata kertas-kertas kecil itu seperti menata ulang hatiku.
Menopause justru membuatku semakin menghargai identitas diriku sebagai perempuan.
Tubuh perempuan bukan hanya mampu melahirkan, tetapi juga terus berubah sepanjang hidup mulai dari pubertas, menstruasi, kehamilan, hingga menopause. Semua itu terjadi tanpa tombol jeda.
Aku menjadi lebih yakin bahwa perempuan adalah makhluk luar biasa: mampu menjalankan banyak peran di tengah perubahan fisik dan mental yang tak terlihat mata.
Aku merasa lebih dewasa, lebih bijak, lebih utuh. Menopause bukan akhir, melainkan fase baru. Dan tidak, itu bukan berarti perempuan berhenti produktif. Justru setelah melewati badai perubahan, ada kedamaian dan kebijaksanaan yang berbeda.
Secara emosional, mungkin lebih mudah.
Tinggal jauh dari tekanan sosial budaya Indonesia membuatku tidak terlalu memikirkan komentar orang lain. Rasanya melegakan tidak perlu ditebak-tebak: apakah aku gemuk karena menopause? Mengapa aku lebih cepat lelah?
Namun, aku juga menyadari bahwa tidak semua orang punya privilege itu. Banyak perempuan di Indonesia harus menghadapi stigma sosial, komentar pedas, atau minim dukungan.
Karena itu, aku ingin kisahku menjadi pintu kecil yang membuka ruang diskusi: bahwa menopause bukan bahan olok-olok.
Menurutku, ada tiga hal yang membuatku kuat yakni: Kesadaran bahwa menopause adalah alami. Lainnya, aku memiliki lingkaran pertemanan yang suportif. Terakhir, buatku keluarga yang memahami, meski tidak sempurna. Ketika aku melihat bahwa aku tidak sendirian, semuanya menjadi lebih ringan.
Sahabat Ruanita, kita perempuan kadang diminta kuat tanpa didengar. Kita diminta paham tanpa diberi ruang untuk bertanya. Tapi menopause bukan ujian yang harus dijalani dalam diam.
Karena itu, pesanku sederhana: Jangan ragu untuk berbicara.
Cari informasi. Bercerita pada teman. Berbagi pengalaman. Bahkan persiapkan diri sebelum menopause datang.
Kita tidak pernah tahu seberapa besar dampak dari kejujuran kita. Mungkin ada perempuan lain yang menemukan keberanian dari cerita kita. Dan itulah arti persahabatan: menjadi pelita dalam gelap.
Menopause mengajarkanku bahwa perubahan adalah bagian dari hidup. Dan seperti buku-buku yang kuletakkan di rak perpustakaan setiap hari, setiap fase adalah bab baru. Sesuatu berakhir, tetapi selalu ada halaman berikutnya. Dan di fase ini, aku belajar mencintai diriku lebih dalam.
Bukan sebagai perempuan yang kehilangan masa suburnya, tetapi sebagai perempuan yang memasuki babak baru: lebih matang, lebih berdaya, lebih sadar, dan lebih siap untuk berbagi.
Terima kasih, Ruanita Indonesia, telah menjadi ruang aman bagi perempuan untuk bercerita. Semoga kisahku bisa menemani, menguatkan, atau sekadar membuatmu merasa: aku tidak sendirian.
Penulis: Siska, relawan Ruanita tinggal di Makau dan dapat dikontak via akun instagram siscaorrisbeding.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.