
Memperingati World Trauma Day, Ruanita Indonesia menggelar diskusi Instagram Live yang mengajak masyarakat memahami trauma dari perspektif psikologis, mendengarkan pengalaman perempuan migran, dan menyadari pentingnya rasa aman serta dukungan sosial dalam proses pemulihan.
Merantau ke negeri orang sering kali identik dengan keberanian, kesempatan baru, dan harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Namun, di balik cerita tentang keberhasilan dan penyesuaian diri, ada pengalaman yang tidak selalu mudah dibagikan: kesepian, kehilangan rasa aman, konflik dalam relasi, hingga luka psikologis yang tidak terlihat oleh orang lain.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Ruanita Indonesia mengangkat tema trauma dalam program diskusi Instagram Live untuk memperingati World Trauma Day pada 17 Oktober. Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia mengajak masyarakat, khususnya perempuan dan laki-laki yang menjalani kehidupan lintas negara, untuk memahami trauma secara lebih utuh dan membangun keberanian untuk membicarakan kesehatan mental.
Dipandu oleh Rufi dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Carissa Dimalouw psikoterapis yang berpraktik di Jerman, serta Dianita Pramesti, guru TK dan penyintas yang membagikan pengalaman traumatisnya ketika menjalani kehidupan di India. Diskusi tersebut mempertemukan dua sudut pandang yang saling melengkapi: pemahaman profesional mengenai trauma dan pengalaman personal seorang perempuan yang harus menghadapi berbagai kesulitan ketika hidup jauh dari lingkungan asalnya.
Dalam diskusi tersebut, Carissa menjelaskan bahwa trauma secara psikologis berkaitan dengan respons seseorang terhadap situasi yang dirasakan sangat menakutkan, terutama ketika orang tersebut merasa tidak memiliki kemampuan atau sumber daya yang cukup untuk menghadapinya. Penjelasan ini mengingatkan bahwa trauma tidak dapat dinilai hanya berdasarkan peristiwa yang dialami seseorang. Dua orang yang menghadapi situasi serupa belum tentu memberikan respons psikologis yang sama.
Pengalaman hidup, kondisi kesehatan, dukungan sosial, hubungan dengan orang lain, dan akses terhadap pertolongan dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons peristiwa yang mengancam atau menyakitkan. Karena itu, pengalaman seseorang tidak seharusnya diremehkan hanya karena orang lain menganggap peristiwa tersebut bukan sesuatu yang berat. Carissa juga mengingatkan bahwa tidak semua pengalaman menyakitkan secara otomatis memenuhi kriteria diagnosis gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). Namun, hal tersebut bukan alasan untuk mengabaikan penderitaan yang dialami seseorang.
Pesan ini menjadi penting di tengah masyarakat yang terkadang masih membandingkan penderitaan dengan ungkapan seperti, “Masih banyak orang yang mengalami masalah lebih berat,” atau “Seharusnya kamu sudah bisa melupakannya.”
Bagi masyarakat migran, trauma dan tekanan psikologis tidak selalu berawal dari satu peristiwa besar. Kesulitan dapat muncul dari akumulasi pengalaman sehari-hari, terutama ketika seseorang harus beradaptasi dengan lingkungan budaya yang berbeda tanpa memiliki dukungan yang memadai. Hal ini tergambar dalam kesaksian Dianita tentang pengalamannya menjalani kehidupan di India. Ia menceritakan bahwa perbedaan budaya, ekspektasi terhadap kehidupan keluarga, dan cara berinteraksi menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.
Ketika datang ke lingkungan baru, seseorang mungkin memiliki gambaran tertentu mengenai kehidupan yang akan dijalaninya. Namun, kenyataan dapat berbeda dari harapan. Cara berkomunikasi, pola hubungan keluarga, dan kebiasaan sosial yang sebelumnya terasa akrab bisa berubah menjadi sumber kebingungan atau kekecewaan. Dalam pengalaman Dianita, persoalan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya dari mantan suami. Situasi menjadi semakin berat ketika ia berada jauh dari jaringan dukungan yang dikenalnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman migrasi tidak dapat dipisahkan dari konteks relasi, keamanan, dan kemandirian seseorang. Hidup di negara lain dapat membuat seseorang menghadapi hambatan tambahan ketika membutuhkan pertolongan, terutama jika ia belum menguasai bahasa setempat, tidak memahami hak-haknya, atau bergantung secara finansial kepada orang lain. Padahal, setiap orang memiliki pengalaman dan cara merespons yang berbeda. Mengakui rasa sakit seseorang tidak berarti harus memberikan label diagnosis. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh merupakan langkah awal untuk menunjukkan bahwa pengalaman tersebut layak diperhatikan.
Dalam diskusi tersebut, Dianita juga menggambarkan bahwa mempercayai orang lain bukanlah sesuatu yang mudah, terutama setelah mengalami berbagai pengalaman menyakitkan dan menghadapi perbedaan budaya. Pengalaman itu menunjukkan adanya dilema yang mungkin dialami penyintas: mereka membutuhkan bantuan, tetapi pada saat yang sama dapat merasa sulit untuk mempercayai orang lain. Bagi masyarakat migran, dilema tersebut bisa menjadi semakin kompleks ketika keluarga dan teman dekat berada di negara asal. Jarak geografis, perbedaan bahasa, serta keterbatasan informasi mengenai layanan bantuan dapat membuat proses mencari pertolongan terasa lebih berat.
Dalam percakapan ini, Dianita ingin mendorong pentingnya mencari orang yang paling dapat dipercaya sebagai langkah awal. Meskipun tidak mudah, menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi bagian penting dari proses menghadapi kesulitan.
Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.