
Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan, nama saya Dian. Saya adalah perempuan Indonesia yang sudah cukup lama menetap di Turki. Kalau dihitung-hitung, perjalanan hidup saya di negeri dua benua ini sudah dimulai sejak tahun 2005. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa hidup saya akan membawa saya sejauh ini.
Saya tinggal di negara yang bahasanya dulu sama sekali tidak saya kenal, menikah dengan pria lokal, dan bahkan suatu hari menjadi “penerjemah dadakan” untuk kepolisian. Semua berawal dari sebuah kisah yang sebenarnya cukup sederhana. Saya jatuh cinta dan mengikuti takdir hidup di negeri Ottoman ini.
Sebelum menikah dan pindah ke Turki, saya menjalani hubungan jarak jauh dengan lelaki Turki yang kini menjadi suami saya. Saat itu kami masih LDR, dan jujur saja, saya sama sekali tidak tertarik mempelajari bahasa Turki.
Lucunya, pada masa itu justru sedang bersemangat belajar bahasa Jepang. Saya mengikuti kursus karena punya mimpi besar. Suatu hari saya ingin melanjutkan kuliah ke Jepang. Saya membayangkan berjalan di jalanan Tokyo, melihat bunga sakura, dan merasakan langsung budaya Jepang yang sering saya lihat di televisi.
Namun, rencana manusia seringkali berbeda dengan rencana Tuhan. Alih-alih pergi ke Jepang, takdir membawa saya menikah dengan pria Turki. Pada awal April 2005, saya resmi pindah dan menjadi penduduk kota Alanya, sebuah kota indah di selatan Turki yang menghadap Laut Mediterania.
Di situlah petualangan hidup saya yang sebenarnya dimulai. Setelah tinggal di Turki, saya baru benar-benar menyadari bahwa belajar bahasa Turki adalah sebuah keharusan, terutama untuk berkomunikasi dengan keluarga suami.
Mertua saya tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Jadi satu-satunya cara agar kami bisa berbincang adalah dengan bahasa Turki. Dan saya harus belajar sendiri!
Saya tidak mengikuti kursus formal. Cara belajar saya bisa dibilang cukup sederhana, bahkan terkesan mungkin sedikit nekat. Saya belajar bahasa Turki secara otodidak, benar-benar dengan metode learning by doing. Salah satu guru terbaik saya justru adalah ibu mertua saya sendiri. Beliau sangat sabar ketika berbicara dengan saya. Kalau saya terlihat bingung, beliau akan mengulangi kalimatnya dengan lebih pelan. Kadang kami juga saling bertukar kosakata saat sedang memasak di dapur. Misalnya, beliau menyebut nama bahan makanan dalam bahasa Turki, lalu saya menyebutkannya dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, saya juga belajar dari berbagai hal kecil di sekitar:
- Mengisi teka-teki silang di koran
- Menonton berita dan sinetron di televisi
- Mendengarkan percakapan orang lokal
- Berinteraksi langsung dengan tetangga dan teman
Awalnya tentu saja tidak mudah. Saya sering salah mengucapkan kata, salah memahami maksud orang, bahkan terkadang membuat orang tertawa karena pengucapan saya yang lucu. Namun saya tidak menyerah.
Alhamdulillah, kurang dari satu tahun saya sudah mulai bisa berbicara bahasa Turki dengan cukup lancar. Memang belum sempurna, tetapi setidaknya sudah bisa berkomunikasi dengan baik.
Tanpa saya sadari, kemampuan bahasa ini nantinya akan membawa saya pada pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dulu, sebelum pindah ke Turki, saya pernah memiliki sebuah keinginan menjadi penerjemah.
Entah kenapa saya selalu merasa pekerjaan itu menarik. Bisa menjembatani komunikasi antara dua bahasa dan dua budaya terasa seperti sesuatu yang menyenangkan. Namun tentu saja saya tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menekuni profesi tersebut. Sampai suatu hari, mimpi itu tiba-tiba datang, dalam bentuk yang sangat tak terduga. Dan yang lebih lucu lagi, tanpa bayaran!
Suatu hari di tahun 2011, saya menerima telepon yang cukup mengejutkan. Saat itu saya belum bekerja penuh waktu di toko keluarga. Biasanya saya hanya datang membantu suami setiap hari Jumat. Hari itu juga kebetulan hari Jumat ketika telepon tersebut masuk. Di ujung telepon, seseorang dari kantor polisi di Alanya meminta bantuan saya untuk menjadi penerjemah.
Ternyata mereka sedang menangani kasus beberapa pekerja migran Indonesia yang tertangkap dalam razia di sebuah hotel. Para pekerja tersebut tidak bisa berbahasa Turki, sementara pihak polisi tidak memahami bahasa Indonesia. Bagaimana mereka tahu nomor telepon saya? Sebagai imigran legal tentunya data saya sudah tercatat di imigrasi. Database warga di Turki sudah nge-link antar departemen. Jadi ketika polisi mencari warga Indonesia yang ada di Alanya tinggal cari saja di database. maka muncul nama saya. Saat itu belum banyak WNI yang menetap di Alanya.
Tidak lama kemudian seorang polisi datang menjemput saya menggunakan mobil sipil. Mobilnya cukup tua, kalau boleh jujur, kondisinya agak butut. Namun, saat itu saya tidak terlalu memikirkan hal itu karena sudah cukup gugup memikirkan tugas yang akan saya lakukan. Sesampainya di kantor polisi, saya dipertemukan dengan empat perempuan asal Bali yang bekerja sebagai terapis spa. Tugas saya adalah menerjemahkan proses tanya jawab antara polisi dan mereka.
Satu per satu mereka dipanggil untuk diinterogasi. Saya duduk di antara polisi dan para pekerja tersebut, menerjemahkan setiap pertanyaan dan jawaban. Polisi bertanya dalam bahasa Turki, saya menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Kemudian jawaban mereka saya sampaikan kembali dalam bahasa Turki.
Setelah sesi tanya jawab selesai, dibuatlah berita acara pemeriksaan yang harus ditandatangani oleh masing-masing orang. Saya memastikan mereka memahami isi dokumen tersebut sebelum menandatanganinya. Ketika semua proses selesai, saya kembali diantar pulang oleh dua orang polisi, lagi-lagi menggunakan mobil sipil yang sama tuanya dengan sebelumnya.
Hari itu saya pulang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lelah, tapi juga ada rasa bangga karena bisa membantu sesama warga Indonesia di negeri orang.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, pada hari Jumat lagi, telepon serupa kembali datang. Kali ini yang menghubungi bukan kantor polisi biasa, melainkan polisi militer. Mereka kembali meminta bantuan saya sebagai penerjemah. Bedanya, kali ini saya diminta datang sendiri ke markas mereka. Alasannya cukup unik. Kalau saya dijemput menggunakan kendaraan polisi militer, katanya citranya kurang bagus. Orang-orang bisa salah paham dan mengira saya seorang penjahat yang sedang ditangkap.
Akhirnya saya diantar oleh bapak mertua ke markas polisi militer yang berada di daerah Konaklı. Sesampainya di sana, saya kembali bertemu dengan beberapa pekerja spa asal Bali yang sedang menjalani pemeriksaan. Prosesnya hampir sama seperti sebelumnya: menerjemahkan pertanyaan, menerjemahkan jawaban, lalu membantu memastikan isi dokumen dipahami sebelum ditandatangani. Meski sudah pernah melakukannya, tetap saja pengalaman itu terasa menegangkan. Namun sekali lagi, saya bersyukur bisa membantu.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin mengenal komunitas warga Indonesia di sekitar Alanya. Pada tahun 2019, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Turki membentuk sebuah Satuan Tugas Perlindungan WNI (Satgas PWNI).
Saya diberi amanah untuk membantu sebagai Satgas wilayah Alanya dan Gazipaşa. Wilayah Alanya memiliki cukup banyak WNI yang terdiri dari pelaku kawin campur seperti saya, santri, dan pekerja migran (terutama yang bekerja di sektor spa dan pariwisata). Saya merasa tidak bisa menangani semuanya, oleh karena itu saya mengajak seorang teman yang berprofesi sebagai terapis spa untuk ikut membantu mengurus komunitas pekerja migran di daerah ini. Kami saling bekerja sama untuk memastikan jika ada warga Indonesia yang membutuhkan bantuan, mereka tidak merasa sendirian.
Pengalaman terakhir saya sebagai penerjemah untuk kepolisian terjadi pada awal Januari tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya di akhir Desember, ditemukan jasad seorang wanita di Pantai Cleopatra, Alanya. Belakangan diketahui bahwa wanita tersebut adalah warga negara Indonesia. Kasus ini tentu saja membuat banyak pihak terkejut.
Dalam proses investigasi, pihak kepolisian memerlukan bantuan untuk menerjemahkan beberapa pesan WhatsApp yang ditemukan di ponsel korban. Karena teman saya sedang sibuk bekerja, tugas menerjemahkan pesan tersebut akhirnya dilimpahkan kepada saya. Seorang polisi kemudian menghubungi saya dan meminta saya datang ke kantor polisi.
Namun saat itu, saya sedang menjaga toko dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi saya mengusulkan agar proses penerjemahan dilakukan di toko saja. Polisi tersebut setuju.
Tak lama kemudian ia datang membawa beberapa lembar kertas A4 berisi cetakan percakapan WhatsApp yang perlu diterjemahkan.
“Silakan ditulis terjemahannya di sini. Kalau sudah selesai, kirim pesan ke saya,” katanya.
Saya membaca pesan-pesan tersebut dengan hati-hati lalu menuliskan terjemahannya langsung di kertas yang sama. Jumlahnya tidak banyak, mungkin hanya empat atau lima lembar. Semuanya sudah diperbesar ke ukuran A4. Jadi, saya bisa menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat. Setelah selesai, saya langsung mengirim pesan kepada polisi tersebut. Tidak lama kemudian ia datang kembali untuk mengambil hasil terjemahan.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menjadi penerjemah ini benar-benar tidak direncanakan.
Saya tidak pernah melamar pekerjaan sebagai penerjemah. Saya juga tidak memiliki sertifikat resmi.
Semua terjadi secara alami, hanya karena saya kebetulan bisa dua bahasa dan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Namun pengalaman-pengalaman tersebut memberikan saya banyak pelajaran. Tentang empati, membantu sesama, dan tentang bagaimana kemampuan kecil yang kita miliki ternyata bisa sangat berarti bagi orang lain.
Setelah bertahun-tahun menggunakan bahasa Turki dalam kehidupan sehari-hari, saya juga mulai membantu orang lain yang ingin belajar bahasa ini. Beberapa teman meminta saya mengajari mereka secara privat. Selain itu, saya juga pernah menerjemahkan percakapan bisnis antara pengusaha Indonesia dan Turki secara online melalui platform chatting.
Beberapa tahun lalu saya bahkan menerbitkan sebuah ebook sederhana berjudul “Mari Belajar Bahasa Turki.” Ebook tersebut saya buat sebagai panduan dasar bagi siapa saja yang ingin mulai mempelajari bahasa Turki. Isinya ringan dan praktis, terutama untuk percakapan sehari-hari.
Hidup di luar negeri sering kali penuh kejutan. Dari seorang perempuan yang awalnya tidak tertarik belajar bahasa Turki, saya justru akhirnya menggunakannya dalam berbagai situasi, bahkan membantu proses hukum di kantor polisi. Bagi saya, semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang sangat berharga.
Sahabat Ruanita, saya belajar bahwa kemampuan bahasa bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga bisa menjadi jembatan yang menghubungkan banyak orang. Siapa sangka, dari belajar bahasa secara otodidak di dapur bersama ibu mertua, perjalanan itu membawa saya sampai ke ruang interogasi polisi. Semuanya bermula dari satu hal, yakni keberanian untuk mencoba.
Penulis: Dian Akbas, asal Bandung yang berdomisili di Alanya-Turki sejak tahun 2005. Dian aktif menulis blog sejak tahun 2006. Penyuka warna hitam ini mulai debutnya menulis antologi pada tahun 2009. Rentang tahun 2008-2011, Dian aktif menulis artikel di Tribun Jabar. Artikel yang Dian tulis juga beberapa tayang di Tribun Jambi dan liputanislam.com. Dia mulai melahirkan buku solo pada tahun 2013. Selain menulis buku dan blog pribadi (turkiyeandmylife.blogspot.com), Dian mengajar Bahasa Turki secara online dan menjadi kontributor di Surat Dunia (suratdunia.com). Ingin berkenalan dengan Dian, kunjungi Fb: Dian Akbas dan Ig: Dian Akbas Author.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.