(WARGA MENULIS) Keselarasan Sang Perempuan pada Hempasan Masa

Dewasa saat ini sedang terjadi proses transkulturasi di mana terjadi pertemuan antar kebudayaan, yaitu kebudayaan timur dan kebudayaan barat. Sejak lama pula kebudayaan dunia termasuk ilmu pengetahuan, fesyen, dan bahkan gaya hidup (Life style) banyak didominasi oleh kebudayaan barat. Di era globalisasi ini bukan saja dunia timur dilanda konsep dunia barat melainkan dunia barat pun mulai mengenal dan menerapkan budaya timur yang sudah sangat tua. Seperti budaya Bali, budaya Jawa, budaya Cina dan masih banyak lagi dunia barat memelajari dan mengajarkan budaya budaya timur di negaranya. Bahkan mereka menerapkan nilai-nilai budaya tersebut di dalam kehidupan mereka  sehari-hari.

Penularan-penularan budaya ini begitu cepat terjadi dan dominan dipicu dari peran sang perempuan di dalamnya. Fakta saat ini banyak muncul perempuan asli Spanyol yang mahir berbahasa daerah yang ada di Indonesia misalnya bisa berbahasa Jawa, bisa berbahasa Bali, atau bisa berbahasa Sunda. Selain mereka bisa berbahasa Indonesia, mereka juga bisa menguasai kesenian tari Bali, dan bisa menguasai cara membatik. Bahkan saat ini mampu membuka kursus tari Bali dan memiliki tempat kursus cara membatik di ranah Spanyol ini. Dia juga tahu cara memasak masakan khas Indonesia dan menjadikan menu makan malamnya.

Dikutip dari keberhasilan Angela Lopez Lara yang beralamatkan di Madrid Spanyol, dia berhasil memelajari budaya Bali. Saat ini dia mengajar dan membuka kursus tari Bali di Madrid Spanyol. Selain penularan budaya dari Indonesia, ada juga yang menguasai budaya Cina dan budaya dari negara-negara timur lainya.

Kesuksesan perempuan-perempuan hebat ini membuktikan bahwasanya peran perempuan itu sudah sangat jelas ada dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Perkawinan campur antara barat dan timur pun menjadi prasarana penularan dan pertukaran budaya yang terjadi begitu cepat. Dengan fakta-fakta ini, seperti memberikan ruang pendapat bahwa sang perempuan telah memiliki ruang yang selaras dengan laki-laki. Perubahan-perubahan besar yang terjadi saat ini tidaklah luput dari peran sang perempuan hebat di dalamnya.

Follow us: ruanita.indonesia

Sebelum saya menulis, jauh saya mengajak Anda semua untuk melihat, mengerti, dan memahami dua sisi sang perempuan atas tingkat keberdayaannya. Dua sisi ini akan menciptakan sebuah hasil yang berlawanan antara satu dan lainnya. Dua tingkatan keberdayaan itu antara lain sisi pertama,  perempuan itu ibarat air.

Dia akan terus mengalir dengan tenang dan mata airnya menjadikan sumber kehidupan bagi makluk hidup serta tumbuhan yang ada di muka bumi ini. Tetapi air yang tenang itu bisa juga membawa kita terjebak dan tenggelam di dalamnya. Dalam artian perempuan adalah sumber kemakmuran yang bisa membawa kemakmuran baik di lingkungan kecil maupun di sebuah lembaga besar.

Perempuan akan memberikan sumber-sumber kekuatan yang dahsyat apabila ditempatkan pada tempat yang benar serta nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan. Perempuan akan mampu berkolaborasi dengan baik dan menciptakan sebuah hasil yang menakjubkan. Namun bila perempuan ditempatkan di tempat yang kurang betul, bisa menjadikan bumerang bagi banyak insan. Sifat perempuan ditindas, dilecehkan, tidak dihargai ini adalah sumber air yang bahkan bisa menenggelamkan dunia.

Sisi kedua adalah perempuan bisa juga menjadi sebuah bola api yang bisa membakar, menjadikan arang, dan hanya meninggalkan sisa-sisa abu di muka bumi ini. Dalam artian sudah saya singgung di atas, penghargaan nilai-nilai norma perempuan harus dijunjung tinggi, dihargai, dan dilestarikan.

Itulah kehebatan dan kekuatan daya yang ada pada sang perempuan. Di era globalisasi saat ini belum semua orang bisa mengerti dan memahami dua sisi perempuan ini. Bahkan mereka belum melibatkan perempuan untuk berkolaborasi baik di tingkat lingkungan atau organisasi kecil maupun di sebuah komunitas yang besar seperti ruang politik, keuangan, wirausaha bahkan ketatanegaraan.

Sudah banyak kita melihat peran-peran yang sangat luar biasa tercipta dari perempuan-perempuan hebat. Peran sang perempuan pada era cerita Siti Nurbaya sudah seakan-akan mulai lenyap, lama-lama hilang terkubur begitu saja dengan berjalannya masa. Yaitu dari masa dulu ke masa kini dan hanya meninggalkan sepenggal cerita.

Sedikit kita menoleh ke belakang lagi atau ke masa yang sudah lampau sebenarnya. Sudah begitu banyak kekuatan daya perempuan yang mampu menciptakan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan di dunia ini. Akan tetapi itu masih kurang untuk mengetuk hati sang perempuan lainya untuk membangun keberanian diri, meniru bahkan melakukan jejak perempuan-perempuan hebat tersebut.

Namun dengan berjalannya masa, dari masa lampau ke masa baru, menghantarkan sang perempuan memiliki perubahan-perubahan besar. Tentunya dari pengaruh perubahan besar tersebut, ini mampu menciptakan sebuah perubahan yang besar pula di lingkungan perempuan tersebut. Sang perempuan tidak akan tertinggal begitu saja .

Kemajuan dan perubahan besar sebuah negara akan didominasi oleh peran sang perempuan dan juga peran dari anak-anak bangsa. Sejatinya di sini peran utama berasal dari peran sang perempuan tersebut. Anak-anak bangsa yang begitu hebat dan cerdas luar biasa terlahir ke muka bumi ini dari sang perempuan.

Perempuan tidak cukup hanya melahirkan saja, tetapi juga membesarkan, mendidik, menumpu, dan membentuk sebuah karakter dari anak-anak bangsa tersebut. Begitu adalah mayoritas peran hebat sang perempuan.

Menyadari akan kekuatan daya sang perempuan di tanah Spanyol ini, tidak heran apabila Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez  mengatakan dengan semangat antusias „Selamat datang dunia baru!’’ dengan memilih dan memercayakan kabinet barunya yang didominasi oleh sang perempuan. Adalah 11 menteri perempuan dan 6 menteri laki-laki.

Ini telah menjadi sejarah pertama kalinya dalam demokrasi moderen di negara Spanyol. Gebrakan gerakan gelombang demo feminis dengan jumlah kisaran di atas ribuan wanita turun ke jalan. Pada tanggal 8 Maret 2018 tuntutan tersebut antara lain: keselarasan kedudukan perempuan dengan laki-laki, kesamaan derajat, kesamaan gaji disuarakan oleh mereka. Sinyal ini ditangkap oleh Pedro Sanchez sehingga dia memutuskan bahwa peran perempuan di sekelilingnya akan membawa perubahan besar dan kemajuan di negara tersebut.

Selain di negara  Spanyol, tidak kalah juga di negara kita yaitu Indonesia yang terus bermunculan sosok perempuan-perempuan hebat. Mereka mengisi dan turut serta ambil andil dalam peranya untuk membangun dan membawa negara Indonesia. Misalnya perubahan besar susunan kabinet menteri yang memercayakan kekuatan perempuan di dalamnya.

Ada partai politik, bisnis, dan masih banyak fakta perubahan besar lainnya yang tidak lepas dari peran sang perempuan yang luar biasa dalam keikutsertaannya berkolaborasi di dalam ruang publik. Ini telah menjadikan suatu  inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di tengah masa perubahan besar dalam hempasan masa.

Perubahan-perubahan besar ini tidak hanya terjadi di daerah perkotaan yang mungkin sarana dan prasarana lebih memadai tetapi juga di daerah yang mungkin internet belum begitu sempurna difungsikan. Dampak dari perjalanan waktu, dari masa ke masa, tersebut akan membentuk sang perempuan untuk memiliki perubahan.

Sebuah kesimpulan dalam beberapa poin mungkin bisa membantu Anda semua menjadi bahan pengingat antara lain:

  1. Setiap perempuan itu dilahirkan ke muka bumi ini dengan memiliki keunikan tersendiri, kecantikan, kelembutan, kecerdasan, dan keberanian serta kekuatan yang luar biasa dan juga memiliki peran untuk mampu melahirkan anak-anak muda yang hebat. Kekuatan, kesabaran, dan kecerdasan sang perempuan tidak ada batasannya. Namun sang perempuan mampu mengontrol diri untuk tidak menjadi kelewat batas dalam setiap perannya.
  2. Perempuan adalah sumber energi kekuatan yang tepat untuk membangun dan mefungsikan keberdayaannya untuk mencapai suatu titik keberhasilan. Ini merupakan titik kesuksesan yang besar apabila ditempatkan pada tempat yang benar apabila diberi kepercayaan, toleransi dan dihargai.
  3. Kesamaan kuasa ataupun tingkat kepemimpinan sosok perempuan bukan suatu pukulan. Ini bukan hal yang sangat menyedihkan bagi kaum laki-laki. Justru ini merupakan kolaborasi dengan laki-laki pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan seorang laki-laki.
  4. Sesungguhnya kesuksesan seorang laki-laki itu pasti ada peran perempuan hebat di belakangnya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat dan bisa sedikit menambah informasi bagi Anda semua. Mari kita memahami, mengerti, dan menghargai sesama dengan cinta kasih sejati.

Penulis: Tyka Karuniawan, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Spanyol.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tak Perlu Bisa Bahasa Thailand, Kalau Mau Kerja di Thailand

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Sedunia 2023 RUANITA mengundang Astari, seorang perempuan Indonesia yang kini berkarir di Thailand. Di negeri Gajah Putih ini Astari mulai merintis karir Go International setelah dia cukup menguasai market di seputar Asia Tenggara.

Berbekal keberanian untuk mencoba peruntungan di luar negeri, Astari berhasil mendapatkan posisi bergengsi di Bangkok, Thailand.

Selama lima tahun Astari mengalami berbagai pengalaman menarik bekerja bersama orang-orang Thailand. Dalam hal kuliner atau makanan, Astari mengaku tidak memiliki masalah karena benar-benar identik dengan Indonesia. Namun dalam soal kultur dan cara pandang, ada banyak hal yang membuat Astari takjub dan terkesan juga.

Di awal cerita, Astari menceritakan proses perekrutan karyawan sejak di Indonesia. Menurut Astari, hal yang benar saat ingin bekerja di negeri Gajah Putih adalah memiliki visa yang diperuntukkan untuk bekerja, bukan menggunakan Visa Turis kemudian menggantinya setelah tiba di Thailand.

Astari sangat menekan ini karena beberapa kali muncul kasus penipuan kerja di area Asia Tenggara yang menawarkan kemudahan pengurusan visa dan iming-iming kerja bergaji fantastis.

Follow kami: ruanita.indonesia

Hal penting yang harus diperhatikan saat tinggal dan bekerja di Thailand sebagai pendatang adalah menghormati apa yang mereka yakini. Ada hukum namanya Lese-majeste Law di mana seluruh warganya menghormati Raja Thailand.

Kalau kita tidak menghormatinya atau kedapatan menghina Sang Raja maka mendapatkan hukuman setimpal. Lucunya uang koin di Thailand itu bergambar Sang Raja, warga di sana sampai tidak berani menginjak uang koin tersebut.

Pengalaman menarik bekerja di Thailand lainnya adalah soal keyakinan warga yang mempercayai hal-hal supranatural. Antara percaya atau tidak percaya, Astari pernah mendapatkan kesialan pada hari itu hanya karena Astari tidak mematuhi apa yang tertera pada hari keberuntungan dan hari ketidakberuntungan.

Cerita tentang Fortune Teller yang memberikan petunjuk bahkan soal pekerjaan membuat Astari memiliki pengalaman berkarir yang berwarna selama di negeri Gajah Putih tersebut.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Bagaimana cerita keseruan dan pengalaman menarik selama bekerja di Thailand yang disampaikan Astari? Silakan simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Untuk mendukung program kami, tolong subscribe kanal kami!

(WARGA MENULIS) Khadijah, Pengusaha Kaya dari Mekkah

Hari ini kita banyak mengenal tokoh-tokoh pergerakan perempuan Indonesia dan dunia. Tidak sedikit dari mereka menjadi pimpinan lembaga, kementerian, kepala pemerintahan hingga kepala negara. Sebut saja Megawati Soekarnoputri, seorang tokoh pergerakan politik di Indonesia yang kemudian menduduki kursi presiden.

Selain itu masih banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin dunia dari kalangan perempuan, seperti Indira Gandhi dari India, Margaret Thatcher dari Inggris, Benazir Bhutto dari Pakistan, Halimah Yacob dari Singapura, Angela Merkel dari Jerman, Aung San Suu Kyi dari Myanmar dan lain-lain.

Jika kita mengenal nama-nama tokoh dunia tersebut di atas, maka apakah kita juga mengenal sosok perempuan bernama Khadijah binti Khuwailid? Bagi yang belum mengenalnya, pasti akan timbul pertanyaan dalam benaknya, “Siapakah dia, dari mana ia berasal dan apa yang telah dilakukannya?“

Dari beberapa sumber yang dihimpun, disebutkan bahwa Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan yang dilahirkan dari keluarga terpandang dan terhormat pada tahun 555 Masehi. Namun ada juga sumber lain yang menyebutkan bahwa Khadijah lahir pada tahun 556, 565 atau 570 Masehi.

Khadijah berasal dari suku Quraish Mekkah dan mempunyai kepribadian yang terpuji. Karena memiliki budi pekerti luhur dan akhlak mulia oleh masyarakat setempat, ia dijuluki sebagai seorang perempuan yang suci (At-Thahirah).

Khadijah banyak menimba ilmu tentang bisnis dari ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Khadijah melanjutkan tradisi keluarga sebagai pedagang. Atas kegigihan, ketekunan dan keluhuran budinya, ia berhasil menjadi pengusaha perempuan sukses yang disegani. Beberapa sumber menyebutkan bahwa bisnisnya merambah hingga ke pusat-pusat perdagangan di negeri Syam, Persia dan Yaman.

Follow us: ruanita.indonesia

Kehebatan Khadijah dalam memimpin perdagangan kala itu tidak diragukan lagi. Ia memimpin bisnisnya dengan mempekerjakan banyak pegawai. Salah satu pegawainya adalah Muhammad bin Abdullah, yang kemudian kita kenal dengan Nabi Muhammad SAW. Meskipun sukses dan kaya raya, Khadijah tidak memperlakukan pegawainya dengan semena-mena. Bahkan khadijah dikenal sebagai orang yang dermawan.

Dalam buku berjudul Khadijah, Daughter of Khuwaylid, Wife of Prophet Muhammad karya Yasin Al-Jibouri, disebutkan bahwa Khadijah selalu menginstruksikan pegawainya untuk membuka pintu toko agar orang-orang fakir miskin yang lapar bisa masuk dan mendapatkan makanan.

Diceritakan pula dalam buku tersebut bahwa jauh sebelum menikah dengan Muhammad bin Abdullah, Khadijah binti Khuwailid pernah dua kali menikah dan ditinggalkan suaminya karena gugur dalam peperangan. Selain memimpin bisnisnya, Khadijah yang juga sebagai Single Parent mempunyai tanggung jawab untuk mengurus anak-anaknya. Namun beberapa sumber lain menyebutkan bahwa Khadijah tidak pernah menikah sebelum diperistri oleh Nabi Muhammad SAW.

Ketika Khadijah berumur 40 tahun, ia memutuskan untuk menikah dengan Muhammad yang usianya lebih muda 15 tahun darinya dan berstatus sebagai pegawainya. Meski demikian, Khadijah yang kaya raya dan dermawan ini membangun bahtera rumah tangga dengan kesetaraan dan saling menghormati satu sama lain. Dengan hartanya, Khadijah juga diketahui banyak membantu suaminya tatkala Muhammad menerima wahyu kenabiannya dan mendapat perintah untuk menyebarkan agama Islam.

Sebagai istri, Khadijah selalu mendampingi suaminya dengan penuh kasih sayang, cinta dan kelembutan. Khadijah juga memberikan motivasi, dan menguatkan hati Nabi Muhammad tatkala suaminya itu diperangi oleh musuh-musuhnya.

Khadijah binti Khuwailid yang oleh kebanyakan orang di Indonesia dikenal dengan nama Siti Khadijah. Selain menjadi pengusaha perempuan yang kaya raya, ia juga merupakan perempuan pertama yang memeluk agama Islam dan menjadi salah satu penasihat Nabi serta menjadi perempuan pertama yang ikut menyebarkan risalah Islam.  Selain itu, Khadijah juga merupakan istri pertama Nabi Muhammad dan tidak dimadu.  

Kini Khadijah dijadikan sebagai simbol pengusaha perempuan sukses dan namanya banyak dipakai oleh para orang tua muslim dalam memberikan nama anak-anak perempuan mereka. Nama Khadijah juga dipakai oleh banyak lembaga kemanusiaan sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam.

Dari tulisan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Khadijah, meskipun sukses dan kaya raya menjadi pengusaha terkenal, dia tidak pernah menyombongkan dirinya. Justru ia menjadi orang yang mempunyai rasa empati terhadap sesama. Selain itu dapat kita simpulkan juga bahwa Khadijah merupakan seorang istri solehah dan sosok ibu yang mulia.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Penulis: Andi Tinellung Nur Ilahi, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Wanita Alfa Lahir karena Intuisi, Pilihan atau Lingkungan?

Wanita Alfa atau lebih dikenal khalayak dengan Alfa Female, pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang memiliki sifat yang kuat, independent, dan berpengaruh. Istilah ini berasal dari istilah “Alfa Male”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang pria yang memimpin dalam segala hal, baik dalam hal profesional maupun pribadi. Dalam hal ini “Wanita Alfa” atau Alfa Female digunakan untuk menggambarkan wanita yang memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan Alfa Male.

Kepribadian wanita Alfa sangat kuat. Mereka memiliki keyakinan diri yang tinggi, kemampuan memimpin dengan hebatnya dan tidak takut berbicara demi memperjuangkan pendapat. Mereka menggunakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi digunakan dengan baik, persuasif dan bisa memotivasi banyak orang adalah salah satu caranya.

Kepopuleran dan pengaruh wanita Alfa di dunia sangat besar dan bisa dibilang meningkat setiap tahunnya. Berikut adalah beberapa tokoh wanita Alfa yang populer dan berpengaruh di dunia:

1. Kamala Harris – Wakil Presiden Amerika Serikat.

2. Angela Merkel – Mantan Kanselir Jerman.

3. Jacinda Ardern – Perdana Menteri Selandia Baru.

4. Hillary Clinton – Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

5. Oprah Winfrey – Pembicara, Produser Televisi dan Filantropis.

6. Sheryl Sandberg – COO Facebook dan Penulis Buku “Lean In”.

7. Michelle Obama – Pengacara, Penulis dan Mantan Ibu Negara Amerika Serikat.

8. Indira Gandhi – Mantan Perdana Menteri India.

9. Amanda Gorman – Penyair, Aktivis dan Penulis.

10. Sri Mulyani – Wanita sekaligus orang Indonesia Pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia dan Menteri Keuangan Indonesia.

Tokoh-tokoh wanita Alfa di atas sudah dicatatkan dalam sejarah sebagai pemikir terkemuka dalam bidang mereka masing-masing. Secara umum, saya melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai pemimpin inspiratif dan role model bagi banyak orang, terutama bagi kaum wanita.

Follow us: ruanita.indonesia

Mereka membuktikan bahwa gender tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dan memimpin dalam bidang tertentu. Mereka menunjukan bahwa bukan gender, melainkan kualitas seperti dedikasi, keterampilan dan kemampuan memimpin adalah faktor yang menjadikan seorang pemimpin hebat dan sukses.

Pencapaian istimewa dari para wanita Alfa di atas adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan peran publik dan perannya sebagai wanita dengan sangat baik. Mereka mampu menjalani hidup mereka dengan sangat efektif, menjadi pemimpin di bidang mereka, dan juga memenuhi tanggung jawab sebagai seorang wanita.

Memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas mereka, memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik, dan memastikan bahwa semuanya dapat berjalan lancar. Mereka adalah wanita Alfa yang memiliki kemampuan memotivasi orang lain, baik di tempat kerja maupun di rumah. Terlihat dengan jelas memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang-orang di sekitarnya.

Kemudian menjadi pertanyaan di benak saya, bagaimana seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa? Wanita-wanita Alfa ini sukses tidak hanya menggebrak stigma kepemimpinan yang biasa dipegang kaum pria, tapi juga memengaruhi publik serta orang yang ada disekitarnya. Menyeimbangkan peran, memberikan kontribusi yang signifikan di berbagai bidang baik di lingkungan kerja maupun di rumah adalah sesuatu luar biasa. Dengan memiliki visi yang jelas dan tidak terpengaruh oleh keterbatasan gender. Wanita Alfa memimpin dengan keterampilan dan keahlian yang luar biasa, membuat keputusan sulit dan membawa perubahan yang diperlukan.

Apakah seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa karena bentukan dari sebuah intuisi wanita itu sendiri? Ataukah menjadi seorang wanita Alfa adalah sebuah pilihan yang memang dipilih sendiri oleh wanita itu? Atau munculnya wanita Alfa ini karena lingkungan yang membuatnya? Melalui narasi-narasi di bawah ini saya coba untuk menguraikan.

Narasi yang pertama, ada seorang wanita bernama Fatimah. Sebagai anak bungsu dari keluarga mampu dan istri dari seorang pengusaha sukses, dia memiliki kemampuan dalam memahami situasi dan membuat keputusan yang tepat dan cepat.

Kemampuan ini berasal dari intuisinya yang kuat dan dalam, yang seolah memberikan nasihat dan petunjuk kepadanya dalam setiap tahap hidupnya. Fatimah selalu memercayai dan mengikuti intuisinya, bahkan saat orang lain tidak setuju dengan pilihan hidupnya.

Ia memutuskan untuk mengikuti mimpinya dan mengejar karir di bidang yang benar-benar passion-nya menjadi Teknisi Mesin meskipun ini berarti meninggalkan kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan pekerjaan lamanya. Intuisi Fatimah membawanya ke lingkungan dan situasi baru yang memacu pertumbuhan dan pengembangan diri.

Ia beradaptasi dan membuat keputusan yang tepat, membawanya mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam bidang yang dipilihnya. Fatimah memimpin timnya dengan visi yang jelas dan tegas, memotivasi orang untuk bekerja sama dan membantu mereka mencapai potensi yang maksimal. Ia memimpin dengan kepemimpinan yang inspiratif dan membantu orang lain untuk berkembang dan sukses bersama.

Fatimah menjadi contoh bagi wanita lain bahwa intuisi adalah kekuatan yang sangat kuat dan dapat membantu seseorang mencapai kesuksesan dan memimpin hidup mereka. Ia membuktikan bahwa dengan memercayai intuisi dan mengikuti intuisi, seseorang dapat mencapai kesuksesan dan memiliki pengaruh besar dalam lingkupnya.

Narasi yang kedua, sosok wanita bernama Dian, anak sulung dan seorang ibu tunggal dengan 5 anak, kondisi keluarganya mengharuskan Dian untuk mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dian memutuskan memilih untuk menjadi sosok kepala keluarga yang kuat dan tangguh supaya bisa membawa keluarganya sukses dan mapan.

Dian bekerja dengan giat sambil menjalankan rumah tangga serta membesarkan anak-anaknya sendiri. Dian mulai membangun usaha catering rumahan yang dikerjakan sendiri pada awalnya, hingga akhirnya usaha catering-nya sukses dan memiliki karyawan total lebih dari 800 orang.

Dian berhasil memotivasi dan meyakinkan karyawan-karyawannya untuk sukses bersama dengan membuka cabang di beberapa kota lain. Di sini kita bisa melihat, Dian adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam memilih pilihan hidupnya dengan kuat dan tegas. Tekanan lingkungan dan permasalahan demi permasalahan tidak gentar ia hadapi dengan sebaiknya.

Saat ini pada usianya menjelang 70 tahun, Dian sudah bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, menikmati masa-masa pensiun, ia berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kelima anak Dian sukses menyelesaikan pendidikan hingga tingkat pascasarjana dan berkarir dengan gemilang.

Dian adalah contoh dari seorang wanita yang memilih untuk menjadi wanita Alfa tangguh. Ia membuktikan dengan membuat pilihan hidup yang berani, seseorang bisa menjadi wanita Alfa yang sukses memberikan dampak positif untuk dirinya, keluarganya dan juga timnya.

Narasi yang ketiga. Diceritakan bahwa Mira, wanita yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat mendukung dan membentuk dirinya menjadi wanita Alfa. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang memperkuat pemikiran dan keyakinan bahwa setiap setiap wanita memiliki potensi untuk memimpin dan berpengaruh dalam lingkup mereka.

Mira adalah anak dari seorang wanita sukses pemilik perusahaan besar yang menaungi beberapa perusahaan dan berpengaruh dalam lingkup bisnis. Ia menjadi panutan Mira dan membantu Mira memahami bahwa wanita adalah kaum berdaya yang memiliki kemampuan memimpin dan bisa memengaruhi publik. Mira memperoleh pendidikan yang kuat dan sangat menunjang serta lingkup kerja yang menyediakan kesempatan baginya untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuannya sebagai wanita Alfa.

Ia bekerja dengan tim dan pimpinan yang menghormati serta mendukung potensi dan bakat yang dimilikinya. Mira kini menjadi sosok wanita Alfa, pengusaha sukses dan aktivis yang populer menyuarakan aspirasi-aspirasi lingkungan dengan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Melalui ide-ide yang ia suarakan, terjadi banyak perubahan kebijakan pemerintah ke arah yang lebih baik.

Sosok Mira adalah bukti bahwa lingkungan adalah tempat terbaik yang memengaruhi pembentukan pola pikir dan karakter seseorang. Ia menjadi contoh bahwa dengan memiliki lingkungan yang menghormati dan mendukung setiap potensi wanita untuk berkembang, seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa yang sukses dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya.

Ada beberapa wanita yang secara alami berintuisi, memiliki kepribadian dan sikap yang kuat dalam memimpin, sementara yang lainnya mungkin harus memilih untuk mengembangkan serta memperkuat kemampuan mereka dalam memimpin melalui pelatihan atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya menawarkan “untuk menambah dan mengasah ilmu kepemimpinan”.

Saya pun percaya bahwa pengalaman hidup dan lingkungan juga memainkan peran dalam membentuk seorang wanita menjadi wanita Alfa. Terkadang, orang-orang dapat memutuskan untuk menjadi pemimpin setelah mengalami situasi atau tantangan yang membutuhkan mereka untuk memimpin dan membuktikan kemampuan mereka.

Perlu diingat bahwa setiap wanita memiliki potensi untuk sukses, tidak peduli apakah mereka memiliki sifat wanita Alfa atau tidak. Keberhasilan dalam bidang apapun tergantung pada kerja keras, dedikasi dan kemampuan belajar yang tangguh serta beradaptasi.

Jadi walaupun secara alami memiliki kepribadian dan sikap wanita Alfa, tidak ada jaminan bahwa wanita ini akan sukses. Apalagi menggebrak dan berpengaruh terhadap publik, tidak ada batasan bagi siapa saja mencapai kesuksesan.

Panggilan untuk setiap wanita: Kejarlah impian dan manfaatkan potensi Anda sepenuhnya! Ini adalah ajakan untuk memiliki keberanian dan tekad untuk memimpin dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Menjadi wanita Alfa di ruang publik, bukan hanya tentang sukses di bidang tertentu saja, ini tentang memiliki dedikasi dan gairah untuk mencapai kesuksesan bersama. Mari berperan ganda dan buktikan bahwa wanita bisa berdaya, membuat perbedaan positif bagi diri sendiri dan dalam hidup banyak orang.

Sampai akhirnya pada suatu hari Anda bisa berkata layaknya kalimat mutiara anonim: “Jangan meremehkan saya! Saya tahu lebih banyak daripada yang saya katakan, melakukan lebih banyak dari yang saya bicarakan dan memperhatikan lebih banyak dari yang Anda sadari.”

Penulis: Nadiya Dewantari, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman

(WARGA MENULIS) Perempuan Mandiri Punya Nama Sendiri

“Apalah arti sebuah nama”, satu kalimat yang tak asing bagi kita semua. Jika kita renungi, kalimat tersebut mempunyai arti yang dalam. Sebuah sikap bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada sebuah nama.  Buat saya sendiri, tema nama selalu menarik perhatian. Sebuah nama mempunyai latar belakang tradisi tua yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, terutama  bagi kehidupan seorang perempuan.

Di banyak negara, perempuan menukar nama keluarganya dengan nama keluarga suami yang dinikahinya. Di Indonesia fenomena yang ada adalah perempuan Indonesia kehilangan nama depannya setelah mereka berkeluarga, berganti dengan Mama Si Tole atau  Istri Si Anu. Tetapi fenomena ini mungkin tidak banyak terjadi terhadap perempuan pemimpin. Apakah seorang perempuan harus menjadi pemimpin untuk tidak kehilangan nama depannya?

Para perempuan Indonesia lahir dan mendapatkan nama yang diberikan orangtua mereka.  Biasanya nama mempunyai arti penting  dan merupakan wujud kebahagiaan, harapan bahkan sebuah doa dari orang tua mereka. Di luar nama yang menunjukkan tradisi, identitas  adat dan agama, nama depan menjadi bagian aktif dalam kehidupan para perempuan sejak lahir. 

Nama tersebut seharusnya menjadi nama yang melekat di sepanjang hidup mereka. Tetapi tak jarang nama itu hanya dikenal hanya sampai mereka mendirikan keluarga. Terlepas dari hanya sebatas pemberian nama dari orang tua, ada juga aturan pemberian nama terkait adat dan hukum yang mengikat. 

Mari kita simak beberapa contoh perjalanan para perempuan pemimpin di beberapa negara dan nama depan mereka. Saya mengambil contoh Indonesia, Jerman dan Spanyol sebagai tiga negara yang saya kenal baik. Indonesia sebagai kampung halaman, tanah kelahiran. Jerman dan Spanyol sebagai kampung halaman pilihan, tanah domisili.

Megawati Soekarnoputri, nama perempuan terkenal yang pernah menjadi pimpinan negara Republik Indonesia pada tahun 2001 hingga 2004. Nama depannya sangat kental kita kenal: Megawati atau nama singkatnya, Mega.

Publik menyapa politisi perempuan ini dengan sebutan Bu Mega. Sebagai pemimpin, putri dari salah satu Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia ini, sudah lebih dulu menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia. Di Jerman, perempuan pemimpin yang disapa publik dengan nama Frau (Ibu) Angela Merkel. Ia menjadi kanselir negeri Jerman 16 tahun lamanya, sejak 2005 hingga 2021.

Ia menjadi seorang perempuan yang dicatat sejarah sebagai kanselir perempuan pertama di negara Republik Federal Jerman.  Frau Merkel juga menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia.

Follow us: ruanita.indonesia

Berbeda dengan Bu Mega, Frau Merkel  lahir dengan nama lain, yaitu Angela Dorothea Kasner.  Kita bisa melihat bahwa tradisi nama seorang perempuan Indonesia sangatlah kental dengan nama depan pemberian orang tuanya. Kita ambil nama lain, misalnya Profesor Conny Semiawan, seorang ilmuwan, mantan rektor Universitas Negri Jakarta, sebutan yang lebih dikenal untuk Almarhumah adalah Ibu Conny, bukan Ibu Semiawan

Lain halnya dengan di Jerman. Ada hukum pemberian nama, yaitu ada nama depan dan nama keluarga yang mengikat. Ada tata cara penggunaan bahasa dalam menyapa nama. Tambah lagi, ada juga aturan perubahan nama keluarga saat seseorang menikah. Saat ini hukum itu berbeda dibanding saat Frau Merkel menikah dengan suami pertamanya.

Saat itu mungkin belum banyak pilihan, umumnya orang memutuskan menanggalkan nama belakangnya untuk ditukar dengan nama suaminya. Di pernikahan keduanya Frau Merkel menggunakan nama keluarga sebelumnya, tidak mengubah namanya. Kini secara hukum, saat seseorang menikah, di Jerman ada banyak pilihan yang bisa diambil.

Orang bisa menambah, mengurangi, atau pun tetap tetap mempertahankan nama yang disandang sebelumnya.  Selain contoh di atas, ada hal yang harus diingat.  Misalnya presiden Uni Eropa, seorang perempuan bernama Ursula von der Leyen, sebutannya Frau von der Leyen.  Sebutan dengan cara Indonesia dengan kata sapa diikuti nama depan, Frau Ursula, tidak akan terjadi.

Sementara di Indonesia, penambahan atau pengurangan nama yang dicatat secara hukum karena pernikahan, tidaklah menjadi bagian aturan yang digunakan.

Contoh kecil di atas memperlihatkan perbedaan tentang penggunaan nama di masing-masing negara. Di Jerman dan di Indonesia, aturan resmi penggunaan nama itu sangat lekat dengan tradisi dan aturan hukum yang berlaku. Di bagian dunia lain ada banyak tradisi dan aturan yang berbeda. Saya ambil contoh, misalnya  budaya pemberian nama di negara Spanyol.

Jangan berpikir,  bahwa sebagai salah satu negara di wilayah Eropa, aturan di Spanyol sama atau pun mirip dengan Jerman.  Penjelasan di bawah ini diharap bisa membuka pemahaman umum. Tradisi pemberian nama sama sekali tak  bergantung pada letak geografi. Memang pada dasarnya dari pilihan nama-nama di Jerman dan di Spanyol ditemui perbedaan  dan kesamaan.

Di Spanyol, pilihan nama asli Spanyol sebagai nama yang dicatat di kantor pencatatan sipil menjadi aturan yang mengikat. Nama asli Spanyol bisa menunjukkan asal geografi, ada nama khas dari wilayah Katalan, Galicia, Andalusia, dan lainnya. Orang asli Spanyol memberikan nama pada anaknya dengan memilih nama depan dari nama-nama yang sudah ada di buku nama-nama depan orang Spanyol.

Saya ingat, seorang perempuan Spanyol ingin menamai anaknya Thelma, tetapi dalam buku besar nama, hanya ada nama Telma. Maka ia harus mengajukan permohonan. Aturan ini membuat nama-nama asli Spanyol tetap ada, tidak tergeser oleh nama asing.  Selain di Spanyol, kita bisa mengenali nama-nama orang Spanyol yang digunakan juga di negara-negara Amerika Selatan.

Tiap orang Spanyol, saat lahir mereka mendapatkan satu atau beberapa nama depan yang diikuti dengan dua nama keluarga yang berjejer.  Nama keluarga terdiri dari satu nama keluarga dari bapak dan satu nama keluarga dari ibu. Kita ambil saja, ratu negeri Spanyol saat ini yang bernama Letizia Ortiz Rocasolano, nama yang disandang saat ia lahir, Letizia sebagai nama depannya, nama Ortiz adalah nama keluarga yang dia peroleh dari bapak, dan nama Rocasolano dari nama keluarga ibu.

Perempuan yang sebelum menikah berprofesi sebagai seorang jurnalis itu, kini dipanggil dengan sebutan Doña Letizia. Tradisi penggunaan nama depan, yang dijadikan sebagai nama publik, tidak dikenal dalam tradisi dan aturan masyarakat Jerman, sementara dalam tradisi Spanyol, kata sebutan –Doña, Señora itu mirip dengan penggunaan sebutan bagi perempuan di Indonesia yaitu  Nona, Ibu, Nyonya.  

Follow us: ruanita.indonesia

Jadi kalau menilik tema tradisi atau pun hukum pemberian nama, kita tidak bisa menggunakan pemetaan atas dasar geografi. Di Eropa juga banyak tradisi yang mengikat dan yang membebaskan perempuan menjadi dirinya dan memilih nama dirinya sesuai yang dia inginkan.

Para perempuan Indonesia biasanya punya nama depan yang dipakai sebagai nama diri, nama yang disebut oleh publik,  apalagi jika dia berada di posisi yang menempatkannya sebagai pemimpin. Akan tetapi, secara umum dan secara luas, dalam kehidupan perempuan yang sudah menikah di Indonesia.

Kebanyakan  mereka kehilangan nama depan  karena nama panggilan yang digunakan dalam keseharian berorientasi pada suami atau anak mereka.  Jangan heran jika kita berkunjung ke rumah seorang teman perempuan, seringkali kita harus tahu siapa nama panggilan yang digunakan oleh orang sekitarnya.

Seorang perempuan yang bernama Tridewi Anandaputri, setelah menikah dengan suaminya yang bernama Raja Suhari, sangat wajar jika pelan-pelan tak ada orang di lingkungan tinggalnya yang kenal nama Tridewi, Anandaputri atau nama lengkapnya, karena sejak awal berumah tangga sudah digunakan nama sebutan Bu Raja atau Bu Suhari.

Nama perempuan itu bisa juga hilang saat dipakai  sebutan Mama Dewa, jika misalnya anak sulung mereka bernama Dewa.

Para perempuan pemimpin menurut saya menjadi contoh baik mempunyai nama diri, memakai nama depan mereka. Nama depan seorang perempuan di Indonesia bisa hilang karena kebiasaan masyarakat. Sayang sekali bahwa tema ini kurang mendapat perhatian, bukan saja perhatian secara umum, tapi juga perhatian dari para penyandangnya sendiri.

Bisa jadi karena keberterimaan yang tinggi dari penyandang nama tersebut. Mereka yang sudah merasa puas mendapat posisi sebutan Istri Si Anu ataupun Mama Si Tole. Jika situasinya memang demikian maka tak ada hal yang perlu diubah. Akan tetapi, untuk para perempuan yang belum terlanjur kehilangan nama depannya, saya berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat sebagai bahan pertimbangan Anda.

Keputusan perubahan ada di tangan Anda, siapa pun Anda, dengan nama apa pun Anda ingin tampil di ruang publik dan lingkungan Anda.  Satu hal saya yakini, bahwa tak harus jadi pemimpin untuk tetap mempertahankan nama depan Anda. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023!

Penulis: Dyah Narang-Huth, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Kebiasaan Phubbing Ajariku Beradaptasi dengan Situasi

Aku sangat suka membaca. Saking sukanya, aku harus membaca saat sedang makan. Dulu saat masih di Indonesia, aku membaca buku fisik. Namun, saat aku pindah ke Jerman, aku berpaling pada e-book. 

Selain e-book praktis, aku juga bisa membaca buku-buku yang dulu aku punya di Indonesia yang tidak tersedia secara fisik di Jerman. 

Kebiasaan ini aku bawa sampai Jerman. Saat aku masuk universitas, aku banyak menghabiskan waktuku sendirian, terutama saat makan. Aktivitas membaca sambil makan ini adalah salah satu caraku untuk tidak merasa kesepian saat makan sendirian, karena sahabatku tidak memiliki jadwal kuliah yang sama sepertiku.

Follow us: ruanita.indonesia

Saat aku sendirian, mungkin kebiasaan itu tidak terlalu mengganggu. Namun itu menjadi masalah saat kebiasaan itu terbawa bahkan jika aku sedang bersama sahabatku. 

Sahabatku merasa terganggu dengan kebiasaanku itu karena saat bersamanya, aku malah asyik dengan Handphone atau ipad. 

Tidak tahan lagi, akhirnya sahabatku memberikan ultimatum. 

“Nad, gue ketemu sama lo karena gue mau ngobrol dan ngabisin waktu sama lo,” dia bilang.

“Tapi gue merasa nggak dihargai karena lo malah sibuk baca novel. Janji ya, kalau lagi keluar sama gue lo gak boleh buka hp atau ipad, lo harus ngobrol sama gue. Kalau nggak, gue nggak mau lagi main sama lo!” lanjutnya lagi. 

Jujur, aku merasa tidak enak hati. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan sahabatku itu. Namun dengan ultimatum itu, aku jadi sadar dengan kebiasaan burukku. Padahal dari dulu keluargaku suka menasehati kebiasaanku itu tetapi aku tidak menghiraukannya.

Sejak saat itu, saat aku keluar bersama orang lain. Sebisa mungkin aku tidak akan membuka hape atau ipad. Aku hanya membuka hp atau ipad saat aku menghabiskan waktu sendirian atau dengan suamiku. Bagaimana pun suamiku memiliki kebiasaan yang sama denganku, yaitu baca e-book sambil makan. 

Efek baiknya, aku tidak terlalu lagi terobsesi dengan hape atau ipad seperti dulu. Akupun menjadi lebih aware dengan karakter orang yang pergi bersamaku dan bisa lebih mencocokkan diri dengan mereka. 

Penulis: Nadia, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Semua Bahasa Indah dan Penting

Di bulan Februari 2023, kami mengundang Yacinta Kurniasih yang tinggal di Australia untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya yang telah bergelut dalam bidang Akademisi terutama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Australia. Setelah lebih dari 20 tahun tinggal di Australia, Yacinta menyadari bahwa Indonesia memiliki keragamaan bahasa yang tidak ternilai dan tentu saja tidak dimiliki oleh banyak negara lainnya di dunia.

Yacinta berpendapat semua bahasa itu indah dan penting. Itu sebab Yacinta menyarankan untuk kita mengenali bahasa-bahasa lainnya, tidak hanya pada satu bahasa saja atau Monolingualistik. Bagaimana pun bahasa itu adalah hak asasi manusia yang paling hakiki. Kita yang berasal dari Indonesia patut berbangga karena keragamana bahasa yang kita miliki dan kebijakan yang jelas tentang berbahasa di semua institusi termasuk institusi pendidikan.

Tidak semua pemerintahan di dunia punya kebijakan yang jelas tentang penggunaan bahasa, bahkan Yacinta menilai ada kecenderungan hanya menggunakan satu bahasa saja agar anak tidak ketinggalan dalam pergaulan internasional. Padahal semestinya orang tua, terutama pelaku kawin campur, perlu memperkenalkan banyak bahasa kepada anak agar anak mengenali identitas asalnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Yacinta menyarankan bagi pelaku kawin campur untuk mengajari anak berbahasa dengan lucu, asyik dan menyenangkan bukan keterpaksaan sehingga bisa menjadi bekal bagi anak untuk berkomunikasi setelahnya. Sekitar 5% dari pemelajar Bahasa Indonesia yang belajar di University of Monash, tempat Yacinta bekerja, adalah siswa-siswi dari keluarga birasial, yang salah satu orang tuanya dari Indonesia.

Selain itu, Yacinta berkeinginan suatu saat nanti dapat meneliti lebih dalam mengapa masih banyak orang tua malu atau segan untuk mengajari anak berbahasa Indonesia atau tidak menurunkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Ada pun orang tua juga masih berhadapan pada mental Monolinguistik.

Apa itu mental Monolinguistik? Apa pesan Yacinta untuk Pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Bahasa Indonesia di luar negeri?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak cerita Yacinta di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Jatuh Cinta (Lagi) dengan Bahasa Ibu

Episode kesepuluh di Februari 2023 ini adalah membicarakan bahasa ibu yang akan dirayakan pada Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari nanti. Bagaimana pun Bahasa Ibu adalah bahasa pertama kita mengenal dunia dan pengetahuan pertama kali. Host program Podcast: Nadia, Fadni dan Alvina yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Jerman ini berbagi celoteh seputar pengalaman berbahasa.

Sebagai orang Indonesia yang jauh dari perantauan, Fadni, Nadia dan Alvina membicarakan bagaimana pengalaman mereka dalam belajar bahasa asing. Kehidupan sehari-hari tentunya mereka mendengar dan berbicara dalam bahasa asing. Mereka bercerita bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa asing tersebut.

Follow kami: ruanita.indonesia

Bahasa menjadi alat berkomunikasi antar sesama satu sama lainnya. Sayangnya saat berada di negeri jauh dari tanah air, banyak orang yang merasa malu dan tidak lagi menggunakan Bahasa Ibu. Alasannya bermacam-macam seperti terkesan kuno, tidak moderen hingga menggangap Bahasa Ibu tidak layak lagi digunakan di negeri asing.

Momen bulan Februari yang dipandang sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Nadia, Fadni dan Alvina mengajak Sahabat RUANITA untuk mencintai kembali Bahasa Ibu sebagai cerminan asal usul identitas kita.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700-an bahasa daerah yang bermacam-macam yang sebenarnya membuat kita bangga. Menjadi duta bangsa di luar negeri tidak harus berlebihan dengan prestasi, cukup berperilaku baik dan bangga berbahasa ibu yang menunjukkan jati diri kita.

Semua bahasa di dunia itu penting. Sebelum kita mengenal berbagai bahasa asing lainnya, Bahasa Ibu adalah cara kita mengenal dunia pertama kali. Ayo, jangan malu berbahasa ibu di mana pun kalian berada!

Simak celoteh RUMPITA selengkapnya berikut ini:

(IG LIVE) Bagaimana Penggunaan Aplikasi Kencan yang Aman?

Salah satu keunikan dari komunikasi modern masa kini adalah menjamurnya berbagai situs dan aplikasi kencan online. Dating apps dan dating sites terbukti memudahkan seseorang terhubung dengan orang-orang lain dari berbagai belahan dunia dan menemukan pasangan hidup. 

Bagaimana pengalaman dan tantangan yang dialami para pengguna aplikasi kencan online? Diskusi IG Live RUANITA di episode Februari 2023 ini membahas tema ‘Temukan Cinta di Aplikasi Kencan Online’ yang dipandu oleh Fransisca Sax (@psychatte_), seorang psikolog yang tinggal di Jerman. RUANITA juga turut mengundang tamu spesial yakni Georgina Mieke (@georginamieke) yang tinggal di Indonesia dan Nella Silaen (@emaknyabenjamin) yang tinggal di Jerman. Mereka berbagi pengalaman saat membangun kehidupan baru dengan pasangan yang ditemui di aplikasi kencan online, dan bagaimana menghadapi kondisi belum berhasil meski sudah mencoba bertahun-tahun lamanya. 

Georgina Mieke menuturkan pengalamannya sebelum menggunakan dating sites, salah satunya dari pekerjaannya yang saat itu mengharuskan mengikuti posting tugas dan social gathering di banyak embassy. Salah satu dating sites yang pernah diikuti Georgina adalah International Cupid. Sementara Nella menceritakan di tahun 2009 ia bergabung di situs asianeuro.com, yang sekarang menjadi asiandating.com. 

Ada satu hal yang menarik dari penuturan Nella bahwa di asiandating.com, sesama basic member yang baru kenalan itu hanya bisa klik like saja. Untuk bisa lanjut berkomunikasi maka member harus melakukan upgrade profile. Nella saat itu berpikir harusnya pihak pria juga upgrade profile untuk menunjukkan keseriusan, tidak hanya pihak wanita saja. Kalau salah satu pihak sudah updating profile, mereka pun bisa lanjut berkomunikasi lewat email, kirim pesan dan mengobrol live. Ketika itu, suami Nella berpikiran sama dan akhirnya upgrading profile untuk tiga bulan, setelahnya komunikasi pun berlanjut. Namun menurut Nella, tak ada salahnya juga kalau pihak wanita upgrading profile terlebih dahulu kalau misalnya merasa sudah cocok dengan basic profile pihak pria.

Menurut Georgina, beberapa masalah yang dulu umumnya dihadapi orang-orang saat berinteraksi di dating sites adalah terlanjur GR dan ternyata profil pihak prianya tidak verified. Menurut Georgina, selalu verify dulu profil orang yang mengajak berkenalan, jangan langsung mengiyakan.

Follow akun kami ya: ruanita.indonesia

Sementara Nella menjelaskan, dulu dating sites yang diikutinya mengharuskan member mengirimkan fotokopi paspor atau KTP untuk menghindari scammers & orang-orang yang punya niatan jahat. Member juga diharuskan mengisi banyak pertanyaan seputar biodata, kesukaan dan minat diri, mulai dari soal hobi hingga kebiasaan saat travelling. Disebutkan juga bahwa pertanyaan tentang merokok, minum atau tidak, serta sudah punya anak atau belum dan preferensi status harus diisi juga. Nanti dari jawaban-jawaban ini akan dicocokkan dengan profil yang dicari dan sebaiknya memilih profil yang kecocokannya mendekati 100%. 

Untuk menghindari pihak pria yang tidak serius di dating sites, Georgina menuturkan bahwa ia selalu minta untuk bertemu online terlebih dahulu dengan pihak pria. Sementara Nella bercerita kalau dulu bersama suami hanya lewat telepon, sama sekali tidak pernah videocall; untungnya gayung bersambut dan dua-duanya memang serius. 

Selain itu, Georgina menuturkan juga kalau seringkali mendapati foto profil di dating sites tidak sesuai dengan profil asli orang tersebut di usianya sekarang. Nella juga menjelaskan bahwa foto juga berperan penting dalam profil dan preferensi target, seperti sebaiknya pasang foto sendiri, bukan foto bersama orang-orang. Georgina juga menambahkan bahwa member di dating sites seharusnya menulis usia dengan jujur, bukan dalam rentang usia, agar tidak terkesan asal mencari pasangan saja. Ia pun sering mendapati bahwa foto profil member wanita justru lebih serius daripada member pria yang seringkali fotonya asal-asalan. Menurut Georgina, member pria yang foto profilnya tidak asal-asalan biasanya aslinya tidak asal-asalan pula.

Soal faktor keberhasilan mencari jodoh di dating sites, menurut Nella itu semua bergantung pada chemistry saat ngobrol bertemu langsung. Menurutnya tidak cukup hanya merasa nyaman saat ngobrol via online. Selain itu prinsip Nella dalam menilai keseriusan pihak pria adalah pria yang duluan mengunjungi ke negara pihak wanita. Menurut Nella ini ada hubungannya dengan tips untuk menjaga keselamatan diri sebagai pihak wanita, seperti ketika pihak wanita juga memutuskan untuk mengunjungi pihak pria, jangan langsung bertemu di rumahnya. Sebaiknya bertemu di tempat ramai yang netral.

Minat Georgina di bidang spiritual menjadi screening tools dalam memilih profil. Selain itu Georgina juga menyatakan kalau dia memiliki preferensi profil member yang memang highly educated dan well-travelled, karena ia menyukai orang yang bisa diajak ngobrol dengan wawasan yang luas. Dari pengalamannya juga Georgina melakukan screening dari profil finansial.

Mengenai pihak pria yang langsung meminta foto pribadi saat mengobrol online dan mengancam putus, baik Georgina dan Nella menyatakan bahwa ini adalah tanda-tanda yang harus diwaspadai dan harus segera ditinggalkan. Menurut mereka, member yang baik-baik biasanya tidak akan meminta foto aneh-aneh. Tak hanya mereka yang langsung meminta foto pribadi saja yang harus diwaspadai, namun juga yang sudah lama mengobrol online lalu tiba-tiba minta foto pribadi pun sebaiknya langsung profilnya diblok saja. Menurut Nella, wanita juga harus berhati-hati dengan member pria yang baru berkenalan sudah bilang ingin segera mengajak menikah. Biasanya ini dilakukan untuk mengelabui pihak wanita dan nantinya akan lebih berbahaya bila dilanjutkan, apalagi kalau sampai si wanita memutuskan untuk mengunjungi negara pria tersebut.

Beberapa tips yang Georgina & Nella bagikan untuk mereka yang berencana untuk mencari pasangan lewat aplikasi kencan online:

  1. Jangan melanjutkan hubungan hanya dengan berdasarkan kecocokan saat ngobrol online. Selalu minta untuk kopi darat atau bertemu langsung. 
  2. Jangan baper seperti merasa berbunga-bunga ketika intens disanjung, atau berlarut-larut kecewa manakala komunikasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki.
  3. Ketika sudah merasa cocok pun, jika menemukan perbedaan yang tidak dapat ditolerir sebaiknya jangan berharap atau tertantang untuk mengubah kepribadian pasangan. Ini akan berbalik jadi melelahkan diri kita sendiri.
  4. Pihak wanita boleh proaktif dan jangan sungkan untuk menyapa atau memghubungi terlebih dahulu, tetapi juga jangan sampai menurunkan standard.
  5. Waspadai pihak pria yang banyak beralasan dan tidak mau diajak bertemu online lewat videocall, yang di awal-awal perkenalan langsung intens menyanjung-nyanjung, atau malah langsung mengajak bertemu.
  6. Jika pihak pria selalu tidak mau diajak online, salah satu triknya adalah periksa foto profilnya  menggunakan google reverse image. Ini bisa untuk melacak kecocokan nama dan foto profil tersebut ke akun sosial media dan domain tertentu, apakah betul akun dan domainnya milik profil orang tersebut.
  7. Selalu kabari anggota keluarga atau teman dan sahabat jika memiliki rencana untuk bertemu atau bepergian mengunjungi pihak pria. Demi keselamatan diri, urungkan niat untuk tiba-tiba mengunjungi pihak pria dengan tujuan memberikan kejutan.

Simak lebih lanjut diskusi tersebut lewat kanal YouTube kami berikut ini:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah).

(CERITA SAHABAT) Saya Tidak Egois dengan Mencintai Diri Sendiri

Tahun 2021 mungkin adalah tahun terberat bagi saya, diawali ketika saya terkena virus Corona lalu episode depresi yang disusul dengan diagnosa gangguan kecemasan sosial dan OCD yang saya dapat di awal pengobatan di klinik psikiatri. Walau menjadi tahun terberat, namun saya juga belajar banyak hal dari semua itu, terutama tentang cinta diri sendiri. Mungkin jika saya tidak tidak terkena depresi, saya tidak pernah tahu kalau selama ini saya tidak mencintai diri saya sendiri.

Saya dulu termasuk ke dalam orang yang sering membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa orang lain bisa mendapatkan kerja di tempat yang saya inginkan, tapi saya tidak. Mengapa orang lain sudah punya keluarga dan bahagia, sedangkan saya masih sendiri. Mengapa mereka sukses, tapi saya tidak. Pikiran-pikiran ini membuat saya tidak bahagia dan belakangan saya baru tahu, kalau ini adalah salah satu gejala tidak mencintai diri sendiri. Saya harus berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena semua orang punya waktu dan berada di tempat yang berbeda. Tidak hanya itu, kita juga tidak pernah tahu apa yang orang lain pernah lalui untuk bisa sukses seperti yang kita lihat. 

Sekarang saya mencoba untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain, terlebih lagi soal pekerjaan atau kesuksesan, apa lagi sekarang saya tahu ternyata saya mempunyai gangguan kecemasan sosial yang membuat saya menghindari beragam kesempatan yang mungkin bisa membuat saya menjadi orang sukses. Sekarang tugas saya sebagai bagian dari cara mencintai diri sendiri adalah dengan rajin terapi untuk mengurangi kecemasan yang sudah “menemani” saya hampir seluruh hidup saya. Tidak hanya kecemasan, terapi juga akan membantu saya mengatasi masalah lain dalam diri saya dan membantu meningkatkan kepercayaan diri saya yang kurang. Semua itu adalah usaha saya untuk lebih kenal dan cinta diri sendiri. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang 😊

Saat berada dalam episode depresi saya sangat ingin diperhatikan oleh orang-orang terdekat saya. Waktu itu saya pikir, jika mereka benar perhatian dengan saya, seharusnya saya juga bisa menjadi prioritas mereka. Saya rasa itu adalah pertama kalinya saya mempunyai pikiran seperti itu, biasanya saya akan memprioritaskan orang lain, seberapa sibuk dan capainya saya. Jika orang-orang terdekat saya butuh bantuan, pasti saya akan langsung sanggupi. Saya tidak tahu kalau itu juga salah satu dari ciri tidak cinta diri sendiri, jadi secara natural pikiran dan perasaan saya yang ingin diprioritaskan oleh orang lain pun muncul.

Saya dulu tidak bisa bilang tidak, kesulitan mengutarakan pendapat dan kebutuhan saya. Saya sempat tegang dengan sahabat saya, karena dia menelepon untuk menanyakan kabar saya tapi ujung-ujungnya malah bercerita tentang masalahnya sendiri. Setelah beberapa hari, saya akhirnya bisa berbicara dengan dia. Untungnya dia mengerti, bahkan dia, yang saat itu punya anak berumur satu tahun, mau main ke rumah saya yang jaraknya sekitar satu jam dari rumah dia. Saya merasa diperhatikan dan diprioritaskan olehnya, saya senang. Sekarang saya berusaha mendengarkan diri saya sendiri. Saya tidak lagi main ke rumah teman karena permintaan mereka, tapi karena keinginan saya.

Jika saya merasa menjadi penengah di antara dua orang adalah kewajiban, maka saya akan mundur, karena itu sekarang saya mengerti itu bukan urusan saya walau mereka minta. Saya juga penting, saya juga harus diprioritaskan, paling tidak oleh saya sendiri. Saya juga tidak egois dengan ingin diprioritaskan.

Follow us: ruanita.indonesia

Oh iya, mengungkapkan pendapat sendiri ke orang lain juga bentuk self-love. Saya sebagai orang dengan gangguan kecemasan sosial (dulu) sangat jarang atau hampir tidak pernah bilang apa yang saya pikirkan. Sering kali ketika ngobrol dengan orang lain dan berada di tema yang yang ingin saya bicarakan tapi saya diam saja, karena mengira lawan bicara saya sedang butuh untuk bercerita.

Saya mengalah. Tidak memprioritaskan diri sendiri. Biasanya yang terjadi dengan saya adalah malam hari saya akan mengulang kejadian tersebut namun dengan adegan saya berbicara apa yang ingin saya katakan. Jika saya tidak beruntung, adegan ini akan terulang berkali-kali, bisa jadi sampai mengganggu jam tidur saya.

Bagi saya mencintai diri sendiri juga berarti menerima bentuk tubuh saya. Sedari kecil saya selalu mendengar orang lain bilang saya gendut dan membuat saya tidak suka dengan diri sendiri juga rendah diri. Tidak hanya itu, saya merasa saya jelek. Padahal jika saya menjadi sahabat saya, saya akan bilang ke saya kalau saya tidak gendut. Buktinya, bagaimanapun bentuk tubuh saya, akan ada saja orang yang bilang saya gendut.

Memberikan dukungan fisik ke diri sendiri adalah bentuk dari penerimaan dan kecintaan terhadap diri sendiri. Saya punya seorang sahabat yang selalu meminta saya untuk menguruskan badan hampir setiap kali kami bertemu, sampai-sampai setiap akan bertemu dengannya saya akan membuat adegan dengan dialog antara saya dan dia yang akan menyinggung tentang bentuk tubuh saya dan ‚menyarankan‘ saya untuk kurus.

Sejujurnya, hal tersebut tidak memotivasi saya dan saya memang tidak pernah termotivasi untuk mempunyai tubuh kurus. Bagi saya yang terpenting adalah kesehatan, sebesar atau sekecil apapun tubuh seseorang. Ingat, bentuk tubuh kita tidak memengaruhi nilai diri kita. Jika orang lain bermasalah dengan bentuk tubuh kita, dia bukan orang yang baik untuk kita. 

Selama 24 jam setiap hari tubuh kita berfungsi sesuai dengan yang kita inginkan dan dia harus kita jaga. Sayangnya mencintai tubuh masih kurang saya lakukan. Saya masih kurang gerak dan (sejak depresi) hampir tidak pernah olah raga dan asupan makan saya juga tidak sehat. Saya masih makan makanan instan yang banyak sodium dan lemak jika mood saya sedang jelek atau malas masak, padahal itu semua bukan hal yang dibutuhkan oleh tubuh saya.

Tubuh saya maunya makannya penuh gizi dan vitamin, juga ingin berolah raga agar lemak kelak tidak menyumbat pembuluh darah atau mengganggu aktifitas organ lain. Tidak hanya itu, kebersihan badan juga harus diperhatikan. Ada orang yang malas sikat gigi, padahal selain tidak higienis, kesehatan gigi dan mulut juga penting.

Gusi yang tidak sehat bisa memengaruhi kesehatan jantung. Oh iya, tapi saya rajin kontrol ke dokter sebagai bentuk mencintai dan berterima kasih kepada tubuh saya. Tahun ini saya melakukan serangkaian kontrol dengan dokter saya karena ada nilai darah saya yang tinggi. Saya juga rajin membersihkan gigi secara profesional untuk pencegahan sakit gigi dan lainnya. 

Sekarang ini saya sedang belajar untuk baik atau jangan terlalu keras ke diri sendiri. Sebelumnya jika saya mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, saya akan beat myself up dengan cara mengkritik, misalnya dengan memberi julukan ‘jelek’, ‘bodoh’, ‘gendut’, dan sebagainya. Saya juga melihat hasil bukan proses, karena itu saya akan merayakan kesuksesan dan mengkritik diri sendiri untuk kegagalan, padahal proses juga penting: saya sudah berusaha keras dan itu sebenarnya yang lebih penting untuk dirayakan.

Tips dari terapis saya jika saya mulai mengkritik diri sendiri, saya bisa bayangkan saya (si pengkritik) berada di pundak kiri lalu saya hempaskan dengan tangan kanan saya agar dia hilang. Tidak hanya itu, kita juga bisa membayangkan menjadi sahabat kita, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dengan mengatakan yang baik-baik ke diri sendiri. Jika kita mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, tidak mungkin sahabat kita akan mengkritik kita, sebaliknya mereka akan sangat baik kepada kita dengan memberikan motivasi atau sekedar bilang, kita sudah berusaha dengan maksimal.

Menjadi sahabat bagi diri kita sendiri adalah salah satu bentuk cinta diri sendiri. Tidak hanya itu, mengizinkan diri kita melakukan kesalahan juga cinta diri sendiri. Kita boleh melakukan kesalahan, bahkan itu hal normal yang terjadi oleh setiap orang. Jangan hanya orang lain yang dimaafkan, tapi diri sendiri juga harus dimaafkan. 

Mencari kesempurnaan juga musuh dari self-love. Saya pribadi, keras ke diri sendiri karena saya ingin melakukan hal dengan sempurna, padahal balik lagi ke atas: yang penting prosesnya bukan hasil. Karena saya merasa harus sempurna, saya sering kali tidak melihat prestasi yang sudah saya raih. Ah tidak, bagi saya itu bukan prestasi namun hal biasa yang semua orang bisa raih, begitu pikir saya. Biasa saja, karena tidak sesuai dengan saya harapkan, misalkan saya pernah mendapatkan beasiswa dari kampus, tapi hanya dua bulan.

Kata lawan “tapi” di belakang koma itu selalu saya sebut karena menurut saya hal itu bukan hal istimewa. Seharusnya beasiswa satu tahun, bukan hanya dua bulan. Oleh terapis saya pernah diminta untuk menuliskan prestasi-prestasi saya, sekecil apa pun itu, misalnya bisa bikin kue tertentu walau di percobaan kesembilan. Ternyata saya punya sederet prestasi baik besar maupun kecil yang sayangnya tidak pernah benar-benar saya membuat saya puas. Saya masih berjuang untuk puas dengan apa pun yang saya raih, seberapa lama dan sebentarnya waktu yang butuhkan dan seberapa besar atau kecilnya hal tersebut.

Sedari kecil saya sayangnya bukan orang yang rapi. Sampai sekarang saya masih susah sekali menjaga kerapian tempat tinggal, walau kebersihan bisa hampir dipastikan terjaga. Saya rajin menyedot dan mengelap debu, tapi malas sekali untuk meletakan barang di tempatnya. Saya pikir tinggal di tempat rapi dan bersih adalah bentuk penghargaan terdapat diri sendiri.

Di mana kita pantas untuk tinggal, apakah di tempat kotor dan berantakan? Tentu tidak, bukan? Kita pantas untuk tinggal di tempat yang bersih dan rapi, yang membuat kita nyaman untuk hidup. Jangan takut juga untuk membuang barang-barang yang tidak kamu butuhkan, dari pada hanya membuat tempat tinggalmu penuh barang. Jika kamu mirip seperti saya yang berantakan, yuk, kita berusaha berubah! Kita hidup di lingkungan yang layak untuk kita.

Menurut saya, mencari pertolongan ke orang lain juga bentuk dari cinta diri sendiri. Saya adalah orang yang malu untuk minta tolong orang lain. Saya merasa diri saya lemah jika harus minta tolong orang lain, selain itu juga tidak mau merepotkan orang lain. Suami seorang sahabat saya pernah berkomentar, jika saya benar menganggap mereka penting dalam hidup saya, saya pasti tidak akan malu-malu untuk minta tolong ke mereka.

Sebenarnya bukan itu alasan saya, saya hanya khawatir merepotkan mereka. Padahal mengakui bahwa kita butuh bantuan dan berbicara dengan orang lain tentang masalah kita bisa membantu mengurangi beban kita, bahkan mungkin membantu mengatasi masalah tersebut. Dulu saya lebih suka menangis di kendaraan umum, dari pada pergi ke teman, cerita tentang kesedihan saya, dan menangis di depan mereka. Tidak apa-apa, kok, kita tidak mampu mengerjakan sesuatu. Tidak apa, kok, meminta orang membantu kita. Kita tidak dilahirkan untuk selalu memberikan bantuan, tapi juga sebaliknya, menerima bantuan orang lain.

Selain semua hal yang sudah saya sebutkan di atas, penting juga untuk membuat waktu untuk diri sendiri alias me-time. Jika kamu sering di media sosial, tapi pernah membaca frasa yang bilang kita harus menyediakan waktu untuk diri sendiri atau beristirahat paling tidak satu hari dalam seminggu, sebelum badan kita sendiri yang memutuskannya. Saya rasa ini benar juga. Sering kali saya malah jatuh sakit saat jadwal sedang penuh setiap harinya. Tidak hanya itu, bagi saya episode depresi yang terjadi pada saya juga ulah dari tubuh dan pikiran saya butuh istirahat tapi tidak pernah saya indahkan.

Saat sedang beristirahat, kamu bisa merawat diri kamu, misalnya melakukan beauty night dengan mandi atau berendam air hangat, luluran, perawatan rambut, dandan, dan mengolesi kuteks cantik di jari-jari tangan. Berleha-leha di sofa sambil nonton film atau baca buku, jalan-jalan di taman, merawat tanaman, berolah raga, bermain dengan hewan peliharaan, menghabiskan waktu dengan keluarga, menikmati matahari, tertawa, minum teh atau kopi di cafe kesukaan, mengamati orang atau langit, ganti seprai kasur atau tidur juga merupakan hal yang bisa dilakukan untuk lebih peduli dan cinta diri sendiri.

Penulis: Mariska Ajeng Harini. Tulisannya juga bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Bermula dari Dating Apps, Di Tengah Keterpurukan, dan Berakhir dengan Keberkatan

Saya Disti dan berasal dari Surabaya dan tinggal di India. Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa sebagian kisah hidup saya akan saya arungi dengan penuh liku kedukaan.

Kisah hidup yang berawal dari dating apps. Seorang laki-laki India menjerat hati saya. Tanpa bertemu fisik, saya pun jatuh cinta. Cerita-cerita dalam film Bollywood penuh cinta romansa menari-nari dalam angan. Terlebih ketika dia secara serius mengungkapkan keinginan untuk datang ke Surabaya.  Akhirnya kami bertemu muka. Dan pernikahan pun berlangsung di awal Desember 2010. 

Kata orang cinta itu buta. Dan saya terbutakan oleh cinta. Menikah tanpa tahu seluk beluk orang yang saya cintai itu. Tanpa tahu kehidupan yang dia jalani dalam lingkungan budaya yang tentunya sangat berbeda. Hanya bermodalkan percaya, akhirnya cinta membawa saya ke India selang beberapa hari setelah hari pernikahan.

Saya memulai kehidupan baru di India tanpa adanya kesempatan adaptasi untuk mengerti budaya dan lingkungan sekitar. Bahkan tanpa adanya jeda untuk memproses apa yang terjadi dengan diri ini. Realita itu ternyata jauh dari impian pernikahan yang bahagia. Ketidaksiapan dan ketidakpahaman dalam menghadapi culture shock memberikan duka yang panjang.

Tradisi di India memaksa saya untuk tinggal bersama dengan mertua dan dua keluarga ipar dalam satu atap. Komunikasi dengan mertua sebelum ketibaan saya di India cukup baik, berubah menjadi dingin. Begitu juga dengan dua ipar beserta istri-istri mereka. Saat itu saya tersadar bahwa mereka tidak bisa menerima saya, tidak hanya karena saya orang asing tetapi juga karena adanya perbedaan hal yang prinsip saat itu. Suami masih bersikap baik walaupun Ibu mertua memperlihatkan sikap yang tidak mengenakan. Ia menerima saya di rumah itu hanya karena anaknya. 

Tekanan demi tekanan dari keluarga suami semakin saya rasakan semenjak suami pergi bekerja ke Dubai sekitar satu bulan setelah kami tiba di India. Perbedaan perlakuan Ibu mertua terhadap saya dibandingkan dengan ipar-ipar saya semakin terasa. Saya tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Saya diharuskan memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di dalam rumah.

Cara hidup yang berbeda dengan yang saya jalani di Indonesia membuat mental saya jatuh. Saya takut, sedih dan bingung dalam menghadapi budaya yang asing ini. Tidak ada teman untuk berbagi. Bahkan, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena rasa takut akan reaksi dari keluarga suami. Bercerita kepada suami mengenai apa yang terjadi pada saya pun terasa sia-sia karena suami pasti mendapatkan cerita yang berbeda dari keluarganya yang akan membuat saya semakin terpojok. Akhirnya saya hanya bisa terdiam dan memendam perasaan.

Kesedihan bertambah tatkala saya melahirkan anak pertama melalui operasi caesar tanpa didampingi suami. Karena tidak tahan lagi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dua minggu setelah melahirkan. Ketika saya sampaikan rencana ini, suami marah dan mengancam akan membunuh saya dan keluarga saya jika terjadi sesuatu dengan anak kami. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa kata-kata itu akan terucapkan olehnya.

Kepulangan ke Indonesia dengan anak pertama tentunya membuat orang tua saya bahagia. Saya tidak menceritakan masalah yang sedang saya hadapi. Karena saya tidak mendapatkan nafkah dari suami, saya bekerja di sebuah sekolah untuk kehidupan saya dan anak. Apalagi saya membutuhkan biaya pengobatan karena luka jahitan operasi caesar yang basah terasa perih sekali. Saya bahkan tidak meminta nafkah kepada suami. Juga karena tidak ada komunikasi yang berarti dengan suami.  

Suami datang ke Indonesia untuk menemui saya dan anak kami setelah anak kami berusia setahun. Dia hanya berkunjung, bukan untuk menjemput saya dan anak kami. Saya tersadar suami datang hanya untuk melihat anak laki-laki kami karena anak laki-laki adalah mahar dalam budaya India, sesuatu yang mempunyai nilai tinggi. Namun demikian, saya mengungkapkan keinginan untuk ikut bekerja ke Dubai agar kami bisa menjadi keluarga yang utuh. Tetapi dia malah menyuruh saya untuk kembali ke India.

Saya melahirkan anak kedua di Indonesia tanpa didampingi lagi oleh suami yang telah kembali ke India. Walaupun kami terpisah, dia tetap mendikte kehidupan saya sesuai dengan keinginannya dan mengabaikan semua keinginan saya. Pada saat itu saya sudah lelah, tetapi kata cerai sangat tabu. Saya pun tahu selama saya di Indonesia keluarga suami meminta untuk menceraikan saya. 

Saat itu orang tua sudah mengetahui permasalahan dalam pernikahan saya. Mereka meminta saya untuk memaafkan suami. Akhirnya, saya kembali ke India ditemani oleh ayah yang sekalian pergi berlibur.

Kembali hidup bersama keluarga suami membuat saya depresi. Kehidupan saya dipantau oleh mertua dan dua ipar. Saya kembali lagi diharuskan memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, membuat saya depresi. Saya bertahan dengan mengikuti apa kata mertua. Berusaha membuat senang mertua, saya memberikan cincin dari eyang dan perhiasan lain yang saya punya kepada mertua. Semua itu saya lakukan karena saya ingin disayang oleh keluarga besar suami. Suatu keinginan yang tidak berlebihan. Bahkan saya membiayai kebutuhan rumah dari uang kiriman suami karena kedua ipar saya tidak mau berkontribusi. Masalah uang juga membuat  selalu ada pertengkaran di rumah. Saya selalu berusaha baik, tetapi selalu juga tidak dihargai.

Untuk mencari tambahan pemasukan, saya bekerja di sebuah toko es krim dekat rumah. Pekerjaan di toko es krim selesai ketika hari sudah gelap. Keluarga suami menuduh saya selingkuh dan memberitahu suami. Sekali lagi, saya hanya bisa terdiam. Karena tidak tahan dengan segala tuduhan yang tidak berdasar, saya sampaikan kepada suami saya ingin pulang ke Indonesia. Tidak diduga suami mengatakan pulang saja dan jangan pernah kembali.

Dalam keadaan tidak punya uang sama sekali dan depresi berat, saya diperkosa oleh seorang kenalan keluarga suami. Ancaman dari orang itu membuat saya semakin tertekan dan tidak bisa bercerita ke siapa pun. Hidup saya hancur. Saya menjadi linglung.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang melihat saya begitu ketakutan dan tertekan. Dia orang pertama yang membuat saya merasa aman untuk bercerita dan menyarankan untuk melapor ke kedutaan Indonesia. Saya menolak karena rasa takut dan malu. Tidak bisa bercerita tentang apa yang telah saya alami. Saya katakan kepada dia bahwa saya ingin pulang ke Indonesia. Orang ini, yang pada akhirnya menjadi suami kedua saya, membelikan saya tiket ke Indonesia. 

Dukungan keluarga di Indonesia membuat saya merasa lebih tenang. Mereka menyarankan agar saya menyelesaikan masalah secara baik-baik dengan suami. Tetapi usaha itu tidak pernah berujung solusi. Bahkan suami mau menceraikan saya.

Selama setahun di Indonesia, saya menyibukkan diri dengan bekerja dan berusaha untuk memulihkan diri dari trauma dengan menemui psikiater. Uang hasil kerja setahun saya pergunakan untuk kembali ke India untuk menemui anak-anak saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Kekuatan itu bertambah ketika mendengar anak-anak mengatakan mereka begitu menyayangi saya. 

 Saya tersadar bercerai adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari duka ini. Saya sudah berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Namun tetap tidak berharga di mata suami. Terlebih ternyata suami juga mempunyai affair dengan perempuan lain. Selain itu dia memanfaatkan ketidaktahuan saya dengan memaksa saya menandatangani dokumen pembelian rumah. Yang lebih menyakitkan adalah dalam keadaan tertekan saya menandatangani surat yang ternyata membawa akibat saya kehilangan hak asuh anak-anak saya. Banyak lagi dokumen yang saya tandatangani dalam keadaan tertekan yang ternyata membawa kerugian bagi saya yang baru saya ketahui setelah bercerai.

Menikah dengan suami kedua mengubah perspektif saya tentang hidup. Saya belajar untuk berkomunikasi lebih baik dengan orang. Belajar untuk tidak sungkan menyampaikan keinginan dan apa yang dirasa. Belajar untuk berpikiran lebih terbuka. Belajar menerima perbedaan. Belajar mencari solusi permasalahan tanpa pertengkaran.

Follow us: ruanita.indonesia

Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.

Fokus hidup saya dan suami sekarang adalah melayani Tuhan dan masyarakat. Saya juga fokus dalam karir dan apapun yang saya kerjakan, termasuk kuliah lagi di bidang Teologi. 

Begitu juga dengan anak-anak, saya ingin menyampaikan bahwa saya sebagai seorang ibu sangat menyayangi kedua anak saya walaupun mereka tidak tinggal bersama saya. Saya ingin kedua anak saya tahu bahwa saya sangat berharap mereka akan berkumpul bersama saya lagi. Saya akan selalu menunggu mereka karena kasih saya sebagai ibu tidak akan pernah padam. Saya akan selalu menunggu mereka sampai kapan pun. Saya akan menerima mereka dalam suka dan duka, apapun keadaan mereka.

Untuk para sahabat yang ingin menikah dengan warga negara asing, saya ingin menyampaikan pentingnya mengenal budaya dan karakter pribadi pasangan. Begitu juga dengan keluarganya. Karena kita perlu melindungi diri kita sendiri agar kita pun bisa merawat cinta dalam pernikahan. 

Penulis: Dina Diana, Mahasiswa S3 di Jerman yang mewawancarai seorang Sahabat RUANITA Disti, nama samaran yang tinggal di India.

(SIARAN BERITA) Workshop Warga Menulis 2023: Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik

JERMAN – Pada tahun 2019 tercatat lebih dari tiga juta WNI tinggal di luar negeri. Sayangnya sampai saat ini jumlah WNI di luar negeri yang aktif menuliskan pengalamannya tinggal di luar negeri melalui blog pribadi atau buku masih sangat minim, padahal pengalaman dan pengamatan mereka bisa memberikan inspirasi bagi orang lain, terutama pembaca di Indonesia. 

Data UNESCO menyebutkan, bahwa minat baca warga Indonesia masih sangat rendah, bahkan menduduki peringkat dua terbawah tingkat dunia, yakni hanya 0,001% atau berarti dari 1000 orang, hanya satu orang yang membaca.

Padahal jumlah buku yang terbit di Indonesia dalam setahun cukup tinggi, yakni 30.000 buku. Jumlah ini bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jerman yang menerbitkan 72.000 judul buku pada tahun 2021. 

Salah satu platform yang aktif menerbitkan tulisan-tulisan tentang pengalaman tinggal di luar negeri adalah Rumah Aman Kita (RUANITA). Pengalaman-pengalaman tersebut ditulis oleh dan ditujukan untuk perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara dengan mengedepankan tema psikoedukasi, sosial, dan budaya, yang mungkin masih tabu dibahas secara pribadi.

Tidak menutup kemungkinan banyak WNI, terutama perempuan, di mancanegara yang membutuhkan informasi terkait tema-tema tersebut, namun tidak mempunyai tempat untuk bertanya.

Alasan tersebut di atas membuat RUANITA selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia, yang juga aktif mempromosikan isu keseteraan gender, bekerja sama dengan Afiliansi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman menggelar Workshop Jurnalisme Warga.

Workshop yang diselenggarakan dua hari melalui kanal Zoom pada hari sabtu dan minggu, 4-5 Februari 2023, pukul 16.00-18.00 WIB (10.00-12.00 CET) ini juga merupakan rangkaian acara peringatan hari Perempuan sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya dan menjadi bagian program RUANITA yang mendokumentasikan pengalaman dan pengamatan warga Indonesia di mancanegara yang digelar tiap tahun.

Follow us: @ruanita.indonesia

Program tahun ini berjudul: kepemimpinan perempuan di ruang publik. Acara ini diikuti oleh maksimal 30 peserta dari mancanegara, yang terlebih dahulu telah mendaftarkan diri melalui tautan bit.ly/workshop-ruanita dan membayarkan biaya pendaftaran sebesar lima Euro. Peserta workshop akan mendapatkan sertifikat elektronik. 

Acara ini akan dibuka oleh Prof. Dr. Ardi Marwan selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin Jerman dan dimoderatori langsung oleh Ketua APPBIPA Jerman Andi Nurhaina, sedangkan narasumber acara ini adalah Abdul Manan, ketua majelis etik nasional Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).

Acara hari pertama akan dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama diisi dengan pemaparan tentang mitos, dan fakta penulisan, sedangkan sesi kedua bertema teknik penulisan.

Tidak hanya teori, peserta juga akan diajak mempraktikan ilmu yang mereka dapatkan dengan memproduksi tulisan dengan tema kepemimpinan perempuan di ruang publik. Pada hari kedua tulisan tersebut akan dievaluasi bersama.

Tujuan diselenggarakan acara workshop penulisan ini adalah untuk mendorong warga Indonesia di mancanegara untuk giat menulis pengalaman dan pengamatannya, khususnya sebagai bentuk pendokumentasian pengalaman dan pengamatannya tentang kepemimpinan perempuan di ruang publik, dan pada umumnya tema-tema lain yang berkaitan dengan perempuan, yang masih dirasa minim.

Tidak hanya itu, workshop ini juga bertujuan untuk menampilkan artikel/tulisan warga Indonesia yang mungkin bisa menjadi memacu peningkatan angka partisipasi perempuan di ruang publik di Indonesia. Tulisan yang terpilih tidak hanya akan dipajang di halaman elektronik Ruanita dan APPBIPA Jerman namun juga akan dibukukan. 

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, dan kesetaraan gender, serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia. 

Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Mulai Menulis Jurnal, Menulis Berkat Dalam Hidup

Saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar saat itu. Ayah saya meminta saya untuk membeli sebuah buku tulis di warung, yang letaknya tak jauh dari rumah. Saya pun menyanggupinya. Saya diminta ayah untuk menuliskan hal-hal apa saja yang membuat saya bersyukur. Buku tulis biasa dibuat kotak-kotak dengan penggaris biasa, kemudian diberi tanggal, hari dan tahun. 

Makin lama saya menyukai pekerjaan menuliskan buku harian. Saya pernah mendapatkan buku harian mulai dari buku yang wangi, penuh hiasan sampai dengan buku harian yang terkunci. Saya pernah membuat kata-kata sandi untuk menuliskan buku harian agar orang-orang di rumah, apalagi ayah membaca buku harian. Saya juga punya brankas rahasia di mana tidak ada orang yang tahu letak buku harian saya itu. 

Kebiasaan menulis buku harian membuat saya mengenali apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya pernah menuliskan bagaimana saya punya teman sebangku di kelas yang selalu mendapatkan rangking 1 sejak kelas 1 SD. Saya bercerita tentang betapa pintarnya dia. Pada akhirnya, saya belajar strategi belajar darinya sehingga saya pun kemudian mendapatkan rangking tiga besar di kelas.

Follow us: ruanita.indonesia

Lewat buku harian, saya pernah mencatat daftar resep masakan. Ceritanya ibu saya berpergian selama lebih dari satu bulan untuk mengunjungi keluarga ayah yang letaknya berbeda pulau. Pada akhirnya saya yang masih terhitung kelas 5 SD belajar memasak, dengan daftar resep yang diceritakan ibu saya. Saya menuliskan bagaimana menanak nasi, menumis sayuran atau memasak sup ayam misalnya. Pengalaman memasak itu saya tuangkan juga loh di buku harian saya.

Saya ingat bahwa saya pernah menuliskan pengalaman naksir dengan teman kelas sehingga peristiwa itu pun saya tuliskan di buku harian. Saya begitu malu mengingat semua itu ketika saya membaca ulang semua catatan buku harian saya ketika saya sudah beranjak remaja 17 tahun. Pengalaman saya jatuh cinta, membuat masakan, mendapatkan rangking kelas, mendapatkan pujian, bertengkar dengan adik kandung atau berlibur membuat buku harian saya begitu penuh warna.

Setelah saya remaja dan duduk di bangku SMA, saya memutuskan untuk membakar semua buku harian yang saya miliki. Tempat persembunyian untuk meletakkan buku harian telah diketahui oleh adik dan sepupu saya. Saya begitu malu ketika mereka membacakannya. Dengan malu bercampur sedih, saya membakar buku harian saya.

Saya melihat ayah saya memiliki buku agenda kantor. Saya suka melihat kebiasaan ayah saya yang suka mendokumentasikan apa yang sudah dilakukannya dan apa yang direncanakannya untuk masa mendatang. Ayah saya pun kemudian membelikan saya buku agenda kantor, tanpa perlu saya membuat garis kotak-kotak seperti dulu. 

Hal yang saya ingat dari menulis buku harian tersebut adalah saya mencatat tentang rasa syukur yang saya miliki. Saya memulainya dengan kalimat, saya bersyukur karena… Dari kalimat itu, saya bisa menuliskan panjang lebar tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup saya. Meski saya berjerawat pada saat itu, saya mendapatkan nilai ulangan sejarah yang sempurna. Apa pun yang saya tuliskan dalam buku harian, itu seperti menuliskan banyak berkat yang terkadang saya lupa. 

Kebiasaan menulis buku harian itu juga membantu saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Buku harian itu ditulis dengan tangan saya, tidak ada laptop atau handphone pada masa itu. Saya bisa mengolah rasa marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, takut, dan berbagai perasaan yang berkecamuk lewat buku harian tersebut. Itu seperti mengenal diri saya dengan baik, bagaimana saya sebenarnya. 

Buku harian seperti membentuk pribadi saya untuk mengontrol rasa yang bergejolak saat itu, seperti bahagia atau marah. Sekarang orang bisa saja posting di sosial media betapa bahagianya hidup mereka, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana reaksi orang setelah membaca postingan tersebut karena kita tidak bisa mengontrol respon seseorang. Lewat buku harian, saya bisa menumpahkan apa yang dirasa dan dipikirkan tanpa takut dihakimi atau diketahui orang lain. 

Jejak buku harian telah membawa saya pada impian Anne Frank, seorang remaja asal Belanda yang fenomenal lewat buku hariannya. Saat ke Belanda kemarin, saya menyambangi tempat Anne Frank tersebut. Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulang tahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu.

Saya kutip dari Anne Frank tentang pentingnya menulis jurnal sebagai berikut:

“Unless you write yourself, you can’t know how wonderful it is. I always used to moan about the fact that I couldn’t draw, but now I’m overjoyed that at least I can write. And if I don’t have the talent to write books, newspapers, articles etc. I can write for myself. I want to achieve more than that.”

Mumpung masih di awal tahun, bagaimana kebiasaan Sahabat RUANITA semua menuilskan buku harian?

Penulis: seorang yang suka menuliskan jurnal untuk mendokumentasikan berkat dalam hidupnya, tinggal di benua biru.

(IG LIVE) Apakah Kamu Mengalami Culture Shock?

Di bulan Januari 2023 ini RUANITA Indonesia mengangkat tema culture shock yang lazim dialami oleh pendatang saat beradaptasi dengan budaya baru. Seperti apa culture shock jika dilihat dari sudut pandang antropologi?

Dalam episode IG Live Sabtu lalu (28/1), Dina Diana lewat akun @ruanita.indonesia mengundang Novi Siti, salah satu volunteer RUANITA yang tinggal di Bergen-Norwegia. Sebagai pekerja sipil yang menetap di Norwegia selama 20 tahun belakangan dan memiliki latar belakang keilmuan di bidang antropologi, Novi berbagi pengalaman dan cara-cara yang ditempuh kala menghadapi culture shock.

Menurut Novi, untuk bisa menjelaskan culture shock atau gegar budaya ini harus dipahami dulu tahapannya, seperti pertama mungkin merasa kaget, kemudian mencoba untuk menghadapi situasi yang berbeda. Kadang ketika selanjutnya seseorang tidak bisa beradaptasi, itu akan menyebabkan stress.

Novi bercerita ketika pertama kali tiba di Tromsø untuk kuliah S2, dia mengalami banyak ‘kekagetan’ yang bersumber dari perbedaan hal-hal yang dialami dan dipelajarinya saat di Indonesia.

Perbedaan iklim, norma sosial serta kebiasaan berinteraksi di masyarakat Tromsø ternyata menimbulkan banyak kekagetan. Namun dia mencoba memahami dan menerima bahwa itulah Tromsø.

Lanjutnya lagi, perubahan peran dan tahapan hidup yang dijalaninya kala itu (awalnya sebagai mahasiswa dan kemudian menjadi seorang ibu) turut menyumbang beberapa ‘kekagetan’ tersebut.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Menurutnya, ada hal-hal yang berbeda dari pola pikir dan perilaku kita yang kemudian akan menimbulkan kekagetan tersebut, sehingga sangat penting untuk belajar memahami bagaimana perilaku dan perspektif orang lain melihat sesuatu; jangan sampai dijadikan benturan. Kekagetan inilah yang Novi coba untuk diterima dulu saja agar kemudian bisa ia pahami.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang open-minded membuat Novi merasa lebih mudah dalam dealing with culture shock, dalam hal menerapkan pola pikir ‘terima dulu saja seperti itu’. Budaya di Norwegia pun memberikan ruang untuk dapat mengekspresikan diri asalkan tidak melanggar hukum sehingga penting untuk memahami terlebih dahulu aturan-aturan yang berlaku.

Yang sama pentingnya untuk dipelajari pertama kali adalah memahami bahasa setempat. Ini karena bahasa bukanlah hanya urutan kata-kata dan kalimat saja, tetapi juga alat untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan sesuatu dengan asosiasi dan metafora lainnya.

Sebagai contoh, Novi menjelaskan bahwa orang Norwegia bukanlah orang yang ‘direct’ dalam menyatakan ketidaksetujuan. Sehingga ketika ingin menyatakan misalnya sebuah ide tidak cukup bagus atau biasa-biasa saja, mereka akan mengungkapkan dengan bertanya berputar-putar “I just wondering, why…” dan seterusnya.

Salah satu strategi adaptasi yang Novi pakai adalah mempelajari humor warga setempat dan bagaimana cara mereka bercanda. Novi melihat bahwa cara orang Norwegia bercanda adalah menggunakan metafora dan tidak direct bertanya tentang hal-hal sensitif seperti umur atau body shaming.

Lewat humor inilah Novi mempelajari kode-kode sosial yang berlaku di masyarakat, dan hal apa saja yang diminati oleh warga setempat serta menyelaraskannya dengan keinginannya juga. Menurutnya, ini adalah sebuah ‘seni’ untuk meyakinkan orang lokal bahwa kita tertarik mempelajari budaya mereka dan mau menyelaraskan diri.

Menurut Novi, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bereaksi dan beradaptasi dengan budaya baru, seperti karakter pribadi, konteks situasi dan budaya asal, serta kebijakan integrasi dan willingness dari pemerintah di negara yang didatangi oleh imigran.

Seperti di Norwegia, pemerintah selalu membuat analisis risiko dalam menerapkan kebijakan imigrasi dan integrasi untuk pendatang. Salah satu hasilnya adalah pemerintah Norwegia menyediakan kursus samfunnskunskap atau social studies yang bisa diikuti oleh semua pendatang.

Selain itu negara juga menyediakan fasilitas konsultasi, konseling serta terapi untuk para pendatang yang sudah berada dalam tahapan kesulitan beradaptasi, tergantung pada sebesar apa masalah yang dihadapi.

Salah satu cara terbaik dalam meminimalisir culture shock adalah terima saja terlebih dahulu, baru kemudian kita bawa berefleksi. Novi menjelaskan bahwa dalam menghadapi budaya baru, jangan sampai kita menginterpretasikan sesuatu berdasarkan apa yang ada di nilai-nilai diri kita. Yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu di mana kita berada dan berdiri di saat ini.

Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan atau merasa budaya kitalah yang lebih benar daripada budaya lain. Dan sebagai pendatang, memang ada semacam keharusan bagi kita untuk mengikuti peraturan di negara tersebut. Oleh karena itu, faktor kemampuan berbahasa lokal ini sangat penting agar kita dapat berkomunikasi dengan orang lokal untuk mempelajari bagaimana mereka berperilaku dan memahami nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam pemikiran mereka.

Selengkapnya bisa disimak dalam rekaman IG LIVE berikut ini:

Subscribe akun YouTube kami ya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT) Dari Hidup Tanpa Listrik Sampai Suara Perempuan Tak Terdengar

Halo Sahabat RUANITA, saya senang sekali bergabung di sini. Meski saya berada jauh di benua Afrika tetapi saya merasa mendapatkan banyak teman-teman dengan membaca program cerita sahabat atau mendengarkan program kalian. 

Perkenalkan nama saya Ni, sebut saja begitu. Boleh dibilang Ni adalah nickname saya. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman tinggal di negeri suami yang jauh dari perkiraan saya sebelumnya.

Saya berasal dari kota Jakarta, ibu kota Indonesia yang merupakan kota Metropolitan atau Megapolitan tepatnya sehingga banyak hal yang membuat saya shock ketika saya harus pindah mengikuti permintaan suami ke negaranya, Nigeria. 

Sejak Agustus 2010, saya telah tinggal dan menetap di Lagos, Nigeria. Tepatnya saya sudah 12 tahun menetap di ibu kota Nigeria tersebut. Kota yang saya tempati memiliki penduduk lebih dari 14 juta orang sehingga disebut sebagai kota terbesar kedua di Afrika loh.

Semula saya bertemu suami saat saya masih bekerja di Jakarta. Setelah 4 tahun menikah, suami meminta saya untuk tinggal di Nigeria, negeri asal suami. Alasannya, dia ingin anak-anak kami mengenal budaya dan tradisi asal suami. Saya pun menyanggupi permintaan suami meski tak pernah terbayang dalam impian saya untuk tinggal jauh dari tanah air.

Aktivitas saya sehari-hari di Lagos tidak lebih dari ibu rumah tangga dan mengasuh empat orang anak. Saya juga mengisi waktu luang menjadi Beauty Artist di sini. Pekerjaan yang cukup menjanjikan buat saya. 

Hal yang membuat saya kaget pertama kali tinggal adalah hidup tanpa listrik. Bagaimana pun saya terbiasa hidup di ibu kota Indonesia yang semuanya serba ada, termasuk listrik. I mean, kok bisa ya hidup tanpa listrik. Maklum saya lahir dan besar di Jakarta sehingga itu membuat saya kaget luar biasa. Pada akhirnya, saya menyampaikan keluhan saya ini kepada suami. Menurut saya, fasilitas listrik di kota besar jaman sekarang bukan hal yang mewah dan sulit.

Jadi semua rumah di sini punya generator sebagai pengganti listrik, seperti PLN di Indonesia. Saya berkompromi dengan suami. Alhasil suami pun menopang kehidupan kami dengan membeli bensin untuk bahan bakar generator sehingga kami bisa menikmati listrik tiap saat.

Follow kami di ruanita.indonesia ya!

Hidup menetap di negeri suami bukan perkara yang mudah. Saya hampir menyerah dan memutuskan untuk bercerai dari suami. Waktu itu tahun 2012, saya benar-benar berada dalam titik kritis karena perlakuan ipar atau saudara dari pihak suami. Mereka benar-benar menganggap suara saya tidak penting. Mereka kurang menghargai saya. Saya lelah dan capek sekali saat itu.

Bersyukurlah suami saya pengertian dan mampu memberi saya sudut pandang yang berbeda sehingga saya bisa memahami bahwa tiap negara punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda. Puji Tuhan, masalah kami bisa terselesaikan dengan baik. 

Di budaya suku suami, perempuan harus hormat terhadap laki-laki. Hal ini kadang menurut saya tidak masuk akal di mana saya lahir dan dibesarkan di kota Jakarta yang sudah moderen. Kadang suara perempuan seperti saya tidak dianggap, tidak didengar karena laki-laki punya hak lebih tinggi. Jadi suara laki-laki lebih berhak daripada suami. Mereka beralasan karena laki-laki adalah pencari nafkah sehingga mereka lebih berhak daripada perempuan.

Semula saya agak sulit menerima budaya dan cara pandang ini. Beruntungnya suami selalu mendukung dan mengajari saya untuk menerima dan memaklumi keadaan negaranya. Saya tahu bahwa ini butuh proses waktu untuk memahami saja. Begitulah orang-orang Nigeria memaklumi keadaan negara mereka. 

Pada akhirnya saya melihat bahwa saya perlu kedewasaan berpikir, bahwa tiap negara punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda. Seperti pepatah di Indonesia bilang: Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap daerah punya adat dan kebiasaan sendiri, yang berbeda-beda dengan adat dan kebiasaan daerah lainnya. 

Saran dari saya untuk menghadapi culture shock adalah sabar, tenang dan mencari tahu alasannya. Kita bisa membuat kompromi seperti yang saya lakukan dengan suami sehingga saya memahami sudut pandangnya. Sebaiknya kita tidak asal men-judge adat dan kebiasaan orang lain. 

Satu lagi pesan saya, jangan mudah menyerah! Hadapi itu sebagai pembelajaran dan pendewasaan kita sebagai pribadi yang bertumbuh. 

Penulis: Ni Filan tinggal di Lagos, Nigeria