(CERITA SAHABAT) Kebiasaan Phubbing Ajariku Beradaptasi dengan Situasi

Aku sangat suka membaca. Saking sukanya, aku harus membaca saat sedang makan. Dulu saat masih di Indonesia, aku membaca buku fisik. Namun, saat aku pindah ke Jerman, aku berpaling pada e-book. 

Selain e-book praktis, aku juga bisa membaca buku-buku yang dulu aku punya di Indonesia yang tidak tersedia secara fisik di Jerman. 

Kebiasaan ini aku bawa sampai Jerman. Saat aku masuk universitas, aku banyak menghabiskan waktuku sendirian, terutama saat makan. Aktivitas membaca sambil makan ini adalah salah satu caraku untuk tidak merasa kesepian saat makan sendirian, karena sahabatku tidak memiliki jadwal kuliah yang sama sepertiku.

Follow us: ruanita.indonesia

Saat aku sendirian, mungkin kebiasaan itu tidak terlalu mengganggu. Namun itu menjadi masalah saat kebiasaan itu terbawa bahkan jika aku sedang bersama sahabatku. 

Sahabatku merasa terganggu dengan kebiasaanku itu karena saat bersamanya, aku malah asyik dengan Handphone atau ipad. 

Tidak tahan lagi, akhirnya sahabatku memberikan ultimatum. 

“Nad, gue ketemu sama lo karena gue mau ngobrol dan ngabisin waktu sama lo,” dia bilang.

“Tapi gue merasa nggak dihargai karena lo malah sibuk baca novel. Janji ya, kalau lagi keluar sama gue lo gak boleh buka hp atau ipad, lo harus ngobrol sama gue. Kalau nggak, gue nggak mau lagi main sama lo!” lanjutnya lagi. 

Jujur, aku merasa tidak enak hati. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan sahabatku itu. Namun dengan ultimatum itu, aku jadi sadar dengan kebiasaan burukku. Padahal dari dulu keluargaku suka menasehati kebiasaanku itu tetapi aku tidak menghiraukannya.

Sejak saat itu, saat aku keluar bersama orang lain. Sebisa mungkin aku tidak akan membuka hape atau ipad. Aku hanya membuka hp atau ipad saat aku menghabiskan waktu sendirian atau dengan suamiku. Bagaimana pun suamiku memiliki kebiasaan yang sama denganku, yaitu baca e-book sambil makan. 

Efek baiknya, aku tidak terlalu lagi terobsesi dengan hape atau ipad seperti dulu. Akupun menjadi lebih aware dengan karakter orang yang pergi bersamaku dan bisa lebih mencocokkan diri dengan mereka. 

Penulis: Nadia, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Semua Bahasa Indah dan Penting

Di bulan Februari 2023, kami mengundang Yacinta Kurniasih yang tinggal di Australia untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya yang telah bergelut dalam bidang Akademisi terutama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Australia. Setelah lebih dari 20 tahun tinggal di Australia, Yacinta menyadari bahwa Indonesia memiliki keragamaan bahasa yang tidak ternilai dan tentu saja tidak dimiliki oleh banyak negara lainnya di dunia.

Yacinta berpendapat semua bahasa itu indah dan penting. Itu sebab Yacinta menyarankan untuk kita mengenali bahasa-bahasa lainnya, tidak hanya pada satu bahasa saja atau Monolingualistik. Bagaimana pun bahasa itu adalah hak asasi manusia yang paling hakiki. Kita yang berasal dari Indonesia patut berbangga karena keragamana bahasa yang kita miliki dan kebijakan yang jelas tentang berbahasa di semua institusi termasuk institusi pendidikan.

Tidak semua pemerintahan di dunia punya kebijakan yang jelas tentang penggunaan bahasa, bahkan Yacinta menilai ada kecenderungan hanya menggunakan satu bahasa saja agar anak tidak ketinggalan dalam pergaulan internasional. Padahal semestinya orang tua, terutama pelaku kawin campur, perlu memperkenalkan banyak bahasa kepada anak agar anak mengenali identitas asalnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Yacinta menyarankan bagi pelaku kawin campur untuk mengajari anak berbahasa dengan lucu, asyik dan menyenangkan bukan keterpaksaan sehingga bisa menjadi bekal bagi anak untuk berkomunikasi setelahnya. Sekitar 5% dari pemelajar Bahasa Indonesia yang belajar di University of Monash, tempat Yacinta bekerja, adalah siswa-siswi dari keluarga birasial, yang salah satu orang tuanya dari Indonesia.

Selain itu, Yacinta berkeinginan suatu saat nanti dapat meneliti lebih dalam mengapa masih banyak orang tua malu atau segan untuk mengajari anak berbahasa Indonesia atau tidak menurunkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Ada pun orang tua juga masih berhadapan pada mental Monolinguistik.

Apa itu mental Monolinguistik? Apa pesan Yacinta untuk Pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Bahasa Indonesia di luar negeri?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak cerita Yacinta di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Bagaimana Penggunaan Aplikasi Kencan yang Aman?

Salah satu keunikan dari komunikasi modern masa kini adalah menjamurnya berbagai situs dan aplikasi kencan online. Dating apps dan dating sites terbukti memudahkan seseorang terhubung dengan orang-orang lain dari berbagai belahan dunia dan menemukan pasangan hidup. 

Bagaimana pengalaman dan tantangan yang dialami para pengguna aplikasi kencan online? Diskusi IG Live RUANITA di episode Februari 2023 ini membahas tema ‘Temukan Cinta di Aplikasi Kencan Online’ yang dipandu oleh Fransisca Sax (@psychatte_), seorang psikolog yang tinggal di Jerman. RUANITA juga turut mengundang tamu spesial yakni Georgina Mieke (@georginamieke) yang tinggal di Indonesia dan Nella Silaen (@emaknyabenjamin) yang tinggal di Jerman. Mereka berbagi pengalaman saat membangun kehidupan baru dengan pasangan yang ditemui di aplikasi kencan online, dan bagaimana menghadapi kondisi belum berhasil meski sudah mencoba bertahun-tahun lamanya. 

Georgina Mieke menuturkan pengalamannya sebelum menggunakan dating sites, salah satunya dari pekerjaannya yang saat itu mengharuskan mengikuti posting tugas dan social gathering di banyak embassy. Salah satu dating sites yang pernah diikuti Georgina adalah International Cupid. Sementara Nella menceritakan di tahun 2009 ia bergabung di situs asianeuro.com, yang sekarang menjadi asiandating.com. 

Ada satu hal yang menarik dari penuturan Nella bahwa di asiandating.com, sesama basic member yang baru kenalan itu hanya bisa klik like saja. Untuk bisa lanjut berkomunikasi maka member harus melakukan upgrade profile. Nella saat itu berpikir harusnya pihak pria juga upgrade profile untuk menunjukkan keseriusan, tidak hanya pihak wanita saja. Kalau salah satu pihak sudah updating profile, mereka pun bisa lanjut berkomunikasi lewat email, kirim pesan dan mengobrol live. Ketika itu, suami Nella berpikiran sama dan akhirnya upgrading profile untuk tiga bulan, setelahnya komunikasi pun berlanjut. Namun menurut Nella, tak ada salahnya juga kalau pihak wanita upgrading profile terlebih dahulu kalau misalnya merasa sudah cocok dengan basic profile pihak pria.

Menurut Georgina, beberapa masalah yang dulu umumnya dihadapi orang-orang saat berinteraksi di dating sites adalah terlanjur GR dan ternyata profil pihak prianya tidak verified. Menurut Georgina, selalu verify dulu profil orang yang mengajak berkenalan, jangan langsung mengiyakan.

Follow akun kami ya: ruanita.indonesia

Sementara Nella menjelaskan, dulu dating sites yang diikutinya mengharuskan member mengirimkan fotokopi paspor atau KTP untuk menghindari scammers & orang-orang yang punya niatan jahat. Member juga diharuskan mengisi banyak pertanyaan seputar biodata, kesukaan dan minat diri, mulai dari soal hobi hingga kebiasaan saat travelling. Disebutkan juga bahwa pertanyaan tentang merokok, minum atau tidak, serta sudah punya anak atau belum dan preferensi status harus diisi juga. Nanti dari jawaban-jawaban ini akan dicocokkan dengan profil yang dicari dan sebaiknya memilih profil yang kecocokannya mendekati 100%. 

Untuk menghindari pihak pria yang tidak serius di dating sites, Georgina menuturkan bahwa ia selalu minta untuk bertemu online terlebih dahulu dengan pihak pria. Sementara Nella bercerita kalau dulu bersama suami hanya lewat telepon, sama sekali tidak pernah videocall; untungnya gayung bersambut dan dua-duanya memang serius. 

Selain itu, Georgina menuturkan juga kalau seringkali mendapati foto profil di dating sites tidak sesuai dengan profil asli orang tersebut di usianya sekarang. Nella juga menjelaskan bahwa foto juga berperan penting dalam profil dan preferensi target, seperti sebaiknya pasang foto sendiri, bukan foto bersama orang-orang. Georgina juga menambahkan bahwa member di dating sites seharusnya menulis usia dengan jujur, bukan dalam rentang usia, agar tidak terkesan asal mencari pasangan saja. Ia pun sering mendapati bahwa foto profil member wanita justru lebih serius daripada member pria yang seringkali fotonya asal-asalan. Menurut Georgina, member pria yang foto profilnya tidak asal-asalan biasanya aslinya tidak asal-asalan pula.

Soal faktor keberhasilan mencari jodoh di dating sites, menurut Nella itu semua bergantung pada chemistry saat ngobrol bertemu langsung. Menurutnya tidak cukup hanya merasa nyaman saat ngobrol via online. Selain itu prinsip Nella dalam menilai keseriusan pihak pria adalah pria yang duluan mengunjungi ke negara pihak wanita. Menurut Nella ini ada hubungannya dengan tips untuk menjaga keselamatan diri sebagai pihak wanita, seperti ketika pihak wanita juga memutuskan untuk mengunjungi pihak pria, jangan langsung bertemu di rumahnya. Sebaiknya bertemu di tempat ramai yang netral.

Minat Georgina di bidang spiritual menjadi screening tools dalam memilih profil. Selain itu Georgina juga menyatakan kalau dia memiliki preferensi profil member yang memang highly educated dan well-travelled, karena ia menyukai orang yang bisa diajak ngobrol dengan wawasan yang luas. Dari pengalamannya juga Georgina melakukan screening dari profil finansial.

Mengenai pihak pria yang langsung meminta foto pribadi saat mengobrol online dan mengancam putus, baik Georgina dan Nella menyatakan bahwa ini adalah tanda-tanda yang harus diwaspadai dan harus segera ditinggalkan. Menurut mereka, member yang baik-baik biasanya tidak akan meminta foto aneh-aneh. Tak hanya mereka yang langsung meminta foto pribadi saja yang harus diwaspadai, namun juga yang sudah lama mengobrol online lalu tiba-tiba minta foto pribadi pun sebaiknya langsung profilnya diblok saja. Menurut Nella, wanita juga harus berhati-hati dengan member pria yang baru berkenalan sudah bilang ingin segera mengajak menikah. Biasanya ini dilakukan untuk mengelabui pihak wanita dan nantinya akan lebih berbahaya bila dilanjutkan, apalagi kalau sampai si wanita memutuskan untuk mengunjungi negara pria tersebut.

Beberapa tips yang Georgina & Nella bagikan untuk mereka yang berencana untuk mencari pasangan lewat aplikasi kencan online:

  1. Jangan melanjutkan hubungan hanya dengan berdasarkan kecocokan saat ngobrol online. Selalu minta untuk kopi darat atau bertemu langsung. 
  2. Jangan baper seperti merasa berbunga-bunga ketika intens disanjung, atau berlarut-larut kecewa manakala komunikasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki.
  3. Ketika sudah merasa cocok pun, jika menemukan perbedaan yang tidak dapat ditolerir sebaiknya jangan berharap atau tertantang untuk mengubah kepribadian pasangan. Ini akan berbalik jadi melelahkan diri kita sendiri.
  4. Pihak wanita boleh proaktif dan jangan sungkan untuk menyapa atau memghubungi terlebih dahulu, tetapi juga jangan sampai menurunkan standard.
  5. Waspadai pihak pria yang banyak beralasan dan tidak mau diajak bertemu online lewat videocall, yang di awal-awal perkenalan langsung intens menyanjung-nyanjung, atau malah langsung mengajak bertemu.
  6. Jika pihak pria selalu tidak mau diajak online, salah satu triknya adalah periksa foto profilnya  menggunakan google reverse image. Ini bisa untuk melacak kecocokan nama dan foto profil tersebut ke akun sosial media dan domain tertentu, apakah betul akun dan domainnya milik profil orang tersebut.
  7. Selalu kabari anggota keluarga atau teman dan sahabat jika memiliki rencana untuk bertemu atau bepergian mengunjungi pihak pria. Demi keselamatan diri, urungkan niat untuk tiba-tiba mengunjungi pihak pria dengan tujuan memberikan kejutan.

Simak lebih lanjut diskusi tersebut lewat kanal YouTube kami berikut ini:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah).

(CERITA SAHABAT) Saya Tidak Egois dengan Mencintai Diri Sendiri

Tahun 2021 mungkin adalah tahun terberat bagi saya, diawali ketika saya terkena virus Corona lalu episode depresi yang disusul dengan diagnosa gangguan kecemasan sosial dan OCD yang saya dapat di awal pengobatan di klinik psikiatri. Walau menjadi tahun terberat, namun saya juga belajar banyak hal dari semua itu, terutama tentang cinta diri sendiri. Mungkin jika saya tidak tidak terkena depresi, saya tidak pernah tahu kalau selama ini saya tidak mencintai diri saya sendiri.

Saya dulu termasuk ke dalam orang yang sering membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa orang lain bisa mendapatkan kerja di tempat yang saya inginkan, tapi saya tidak. Mengapa orang lain sudah punya keluarga dan bahagia, sedangkan saya masih sendiri. Mengapa mereka sukses, tapi saya tidak. Pikiran-pikiran ini membuat saya tidak bahagia dan belakangan saya baru tahu, kalau ini adalah salah satu gejala tidak mencintai diri sendiri. Saya harus berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena semua orang punya waktu dan berada di tempat yang berbeda. Tidak hanya itu, kita juga tidak pernah tahu apa yang orang lain pernah lalui untuk bisa sukses seperti yang kita lihat. 

Sekarang saya mencoba untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain, terlebih lagi soal pekerjaan atau kesuksesan, apa lagi sekarang saya tahu ternyata saya mempunyai gangguan kecemasan sosial yang membuat saya menghindari beragam kesempatan yang mungkin bisa membuat saya menjadi orang sukses. Sekarang tugas saya sebagai bagian dari cara mencintai diri sendiri adalah dengan rajin terapi untuk mengurangi kecemasan yang sudah “menemani” saya hampir seluruh hidup saya. Tidak hanya kecemasan, terapi juga akan membantu saya mengatasi masalah lain dalam diri saya dan membantu meningkatkan kepercayaan diri saya yang kurang. Semua itu adalah usaha saya untuk lebih kenal dan cinta diri sendiri. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang 😊

Saat berada dalam episode depresi saya sangat ingin diperhatikan oleh orang-orang terdekat saya. Waktu itu saya pikir, jika mereka benar perhatian dengan saya, seharusnya saya juga bisa menjadi prioritas mereka. Saya rasa itu adalah pertama kalinya saya mempunyai pikiran seperti itu, biasanya saya akan memprioritaskan orang lain, seberapa sibuk dan capainya saya. Jika orang-orang terdekat saya butuh bantuan, pasti saya akan langsung sanggupi. Saya tidak tahu kalau itu juga salah satu dari ciri tidak cinta diri sendiri, jadi secara natural pikiran dan perasaan saya yang ingin diprioritaskan oleh orang lain pun muncul.

Saya dulu tidak bisa bilang tidak, kesulitan mengutarakan pendapat dan kebutuhan saya. Saya sempat tegang dengan sahabat saya, karena dia menelepon untuk menanyakan kabar saya tapi ujung-ujungnya malah bercerita tentang masalahnya sendiri. Setelah beberapa hari, saya akhirnya bisa berbicara dengan dia. Untungnya dia mengerti, bahkan dia, yang saat itu punya anak berumur satu tahun, mau main ke rumah saya yang jaraknya sekitar satu jam dari rumah dia. Saya merasa diperhatikan dan diprioritaskan olehnya, saya senang. Sekarang saya berusaha mendengarkan diri saya sendiri. Saya tidak lagi main ke rumah teman karena permintaan mereka, tapi karena keinginan saya.

Jika saya merasa menjadi penengah di antara dua orang adalah kewajiban, maka saya akan mundur, karena itu sekarang saya mengerti itu bukan urusan saya walau mereka minta. Saya juga penting, saya juga harus diprioritaskan, paling tidak oleh saya sendiri. Saya juga tidak egois dengan ingin diprioritaskan.

Follow us: ruanita.indonesia

Oh iya, mengungkapkan pendapat sendiri ke orang lain juga bentuk self-love. Saya sebagai orang dengan gangguan kecemasan sosial (dulu) sangat jarang atau hampir tidak pernah bilang apa yang saya pikirkan. Sering kali ketika ngobrol dengan orang lain dan berada di tema yang yang ingin saya bicarakan tapi saya diam saja, karena mengira lawan bicara saya sedang butuh untuk bercerita.

Saya mengalah. Tidak memprioritaskan diri sendiri. Biasanya yang terjadi dengan saya adalah malam hari saya akan mengulang kejadian tersebut namun dengan adegan saya berbicara apa yang ingin saya katakan. Jika saya tidak beruntung, adegan ini akan terulang berkali-kali, bisa jadi sampai mengganggu jam tidur saya.

Bagi saya mencintai diri sendiri juga berarti menerima bentuk tubuh saya. Sedari kecil saya selalu mendengar orang lain bilang saya gendut dan membuat saya tidak suka dengan diri sendiri juga rendah diri. Tidak hanya itu, saya merasa saya jelek. Padahal jika saya menjadi sahabat saya, saya akan bilang ke saya kalau saya tidak gendut. Buktinya, bagaimanapun bentuk tubuh saya, akan ada saja orang yang bilang saya gendut.

Memberikan dukungan fisik ke diri sendiri adalah bentuk dari penerimaan dan kecintaan terhadap diri sendiri. Saya punya seorang sahabat yang selalu meminta saya untuk menguruskan badan hampir setiap kali kami bertemu, sampai-sampai setiap akan bertemu dengannya saya akan membuat adegan dengan dialog antara saya dan dia yang akan menyinggung tentang bentuk tubuh saya dan ‚menyarankan‘ saya untuk kurus.

Sejujurnya, hal tersebut tidak memotivasi saya dan saya memang tidak pernah termotivasi untuk mempunyai tubuh kurus. Bagi saya yang terpenting adalah kesehatan, sebesar atau sekecil apapun tubuh seseorang. Ingat, bentuk tubuh kita tidak memengaruhi nilai diri kita. Jika orang lain bermasalah dengan bentuk tubuh kita, dia bukan orang yang baik untuk kita. 

Selama 24 jam setiap hari tubuh kita berfungsi sesuai dengan yang kita inginkan dan dia harus kita jaga. Sayangnya mencintai tubuh masih kurang saya lakukan. Saya masih kurang gerak dan (sejak depresi) hampir tidak pernah olah raga dan asupan makan saya juga tidak sehat. Saya masih makan makanan instan yang banyak sodium dan lemak jika mood saya sedang jelek atau malas masak, padahal itu semua bukan hal yang dibutuhkan oleh tubuh saya.

Tubuh saya maunya makannya penuh gizi dan vitamin, juga ingin berolah raga agar lemak kelak tidak menyumbat pembuluh darah atau mengganggu aktifitas organ lain. Tidak hanya itu, kebersihan badan juga harus diperhatikan. Ada orang yang malas sikat gigi, padahal selain tidak higienis, kesehatan gigi dan mulut juga penting.

Gusi yang tidak sehat bisa memengaruhi kesehatan jantung. Oh iya, tapi saya rajin kontrol ke dokter sebagai bentuk mencintai dan berterima kasih kepada tubuh saya. Tahun ini saya melakukan serangkaian kontrol dengan dokter saya karena ada nilai darah saya yang tinggi. Saya juga rajin membersihkan gigi secara profesional untuk pencegahan sakit gigi dan lainnya. 

Sekarang ini saya sedang belajar untuk baik atau jangan terlalu keras ke diri sendiri. Sebelumnya jika saya mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, saya akan beat myself up dengan cara mengkritik, misalnya dengan memberi julukan ‘jelek’, ‘bodoh’, ‘gendut’, dan sebagainya. Saya juga melihat hasil bukan proses, karena itu saya akan merayakan kesuksesan dan mengkritik diri sendiri untuk kegagalan, padahal proses juga penting: saya sudah berusaha keras dan itu sebenarnya yang lebih penting untuk dirayakan.

Tips dari terapis saya jika saya mulai mengkritik diri sendiri, saya bisa bayangkan saya (si pengkritik) berada di pundak kiri lalu saya hempaskan dengan tangan kanan saya agar dia hilang. Tidak hanya itu, kita juga bisa membayangkan menjadi sahabat kita, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dengan mengatakan yang baik-baik ke diri sendiri. Jika kita mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, tidak mungkin sahabat kita akan mengkritik kita, sebaliknya mereka akan sangat baik kepada kita dengan memberikan motivasi atau sekedar bilang, kita sudah berusaha dengan maksimal.

Menjadi sahabat bagi diri kita sendiri adalah salah satu bentuk cinta diri sendiri. Tidak hanya itu, mengizinkan diri kita melakukan kesalahan juga cinta diri sendiri. Kita boleh melakukan kesalahan, bahkan itu hal normal yang terjadi oleh setiap orang. Jangan hanya orang lain yang dimaafkan, tapi diri sendiri juga harus dimaafkan. 

Mencari kesempurnaan juga musuh dari self-love. Saya pribadi, keras ke diri sendiri karena saya ingin melakukan hal dengan sempurna, padahal balik lagi ke atas: yang penting prosesnya bukan hasil. Karena saya merasa harus sempurna, saya sering kali tidak melihat prestasi yang sudah saya raih. Ah tidak, bagi saya itu bukan prestasi namun hal biasa yang semua orang bisa raih, begitu pikir saya. Biasa saja, karena tidak sesuai dengan saya harapkan, misalkan saya pernah mendapatkan beasiswa dari kampus, tapi hanya dua bulan.

Kata lawan “tapi” di belakang koma itu selalu saya sebut karena menurut saya hal itu bukan hal istimewa. Seharusnya beasiswa satu tahun, bukan hanya dua bulan. Oleh terapis saya pernah diminta untuk menuliskan prestasi-prestasi saya, sekecil apa pun itu, misalnya bisa bikin kue tertentu walau di percobaan kesembilan. Ternyata saya punya sederet prestasi baik besar maupun kecil yang sayangnya tidak pernah benar-benar saya membuat saya puas. Saya masih berjuang untuk puas dengan apa pun yang saya raih, seberapa lama dan sebentarnya waktu yang butuhkan dan seberapa besar atau kecilnya hal tersebut.

Sedari kecil saya sayangnya bukan orang yang rapi. Sampai sekarang saya masih susah sekali menjaga kerapian tempat tinggal, walau kebersihan bisa hampir dipastikan terjaga. Saya rajin menyedot dan mengelap debu, tapi malas sekali untuk meletakan barang di tempatnya. Saya pikir tinggal di tempat rapi dan bersih adalah bentuk penghargaan terdapat diri sendiri.

Di mana kita pantas untuk tinggal, apakah di tempat kotor dan berantakan? Tentu tidak, bukan? Kita pantas untuk tinggal di tempat yang bersih dan rapi, yang membuat kita nyaman untuk hidup. Jangan takut juga untuk membuang barang-barang yang tidak kamu butuhkan, dari pada hanya membuat tempat tinggalmu penuh barang. Jika kamu mirip seperti saya yang berantakan, yuk, kita berusaha berubah! Kita hidup di lingkungan yang layak untuk kita.

Menurut saya, mencari pertolongan ke orang lain juga bentuk dari cinta diri sendiri. Saya adalah orang yang malu untuk minta tolong orang lain. Saya merasa diri saya lemah jika harus minta tolong orang lain, selain itu juga tidak mau merepotkan orang lain. Suami seorang sahabat saya pernah berkomentar, jika saya benar menganggap mereka penting dalam hidup saya, saya pasti tidak akan malu-malu untuk minta tolong ke mereka.

Sebenarnya bukan itu alasan saya, saya hanya khawatir merepotkan mereka. Padahal mengakui bahwa kita butuh bantuan dan berbicara dengan orang lain tentang masalah kita bisa membantu mengurangi beban kita, bahkan mungkin membantu mengatasi masalah tersebut. Dulu saya lebih suka menangis di kendaraan umum, dari pada pergi ke teman, cerita tentang kesedihan saya, dan menangis di depan mereka. Tidak apa-apa, kok, kita tidak mampu mengerjakan sesuatu. Tidak apa, kok, meminta orang membantu kita. Kita tidak dilahirkan untuk selalu memberikan bantuan, tapi juga sebaliknya, menerima bantuan orang lain.

Selain semua hal yang sudah saya sebutkan di atas, penting juga untuk membuat waktu untuk diri sendiri alias me-time. Jika kamu sering di media sosial, tapi pernah membaca frasa yang bilang kita harus menyediakan waktu untuk diri sendiri atau beristirahat paling tidak satu hari dalam seminggu, sebelum badan kita sendiri yang memutuskannya. Saya rasa ini benar juga. Sering kali saya malah jatuh sakit saat jadwal sedang penuh setiap harinya. Tidak hanya itu, bagi saya episode depresi yang terjadi pada saya juga ulah dari tubuh dan pikiran saya butuh istirahat tapi tidak pernah saya indahkan.

Saat sedang beristirahat, kamu bisa merawat diri kamu, misalnya melakukan beauty night dengan mandi atau berendam air hangat, luluran, perawatan rambut, dandan, dan mengolesi kuteks cantik di jari-jari tangan. Berleha-leha di sofa sambil nonton film atau baca buku, jalan-jalan di taman, merawat tanaman, berolah raga, bermain dengan hewan peliharaan, menghabiskan waktu dengan keluarga, menikmati matahari, tertawa, minum teh atau kopi di cafe kesukaan, mengamati orang atau langit, ganti seprai kasur atau tidur juga merupakan hal yang bisa dilakukan untuk lebih peduli dan cinta diri sendiri.

Penulis: Mariska Ajeng Harini. Tulisannya juga bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Bermula dari Dating Apps, Di Tengah Keterpurukan, dan Berakhir dengan Keberkatan

Saya Disti dan berasal dari Surabaya dan tinggal di India. Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa sebagian kisah hidup saya akan saya arungi dengan penuh liku kedukaan.

Kisah hidup yang berawal dari dating apps. Seorang laki-laki India menjerat hati saya. Tanpa bertemu fisik, saya pun jatuh cinta. Cerita-cerita dalam film Bollywood penuh cinta romansa menari-nari dalam angan. Terlebih ketika dia secara serius mengungkapkan keinginan untuk datang ke Surabaya.  Akhirnya kami bertemu muka. Dan pernikahan pun berlangsung di awal Desember 2010. 

Kata orang cinta itu buta. Dan saya terbutakan oleh cinta. Menikah tanpa tahu seluk beluk orang yang saya cintai itu. Tanpa tahu kehidupan yang dia jalani dalam lingkungan budaya yang tentunya sangat berbeda. Hanya bermodalkan percaya, akhirnya cinta membawa saya ke India selang beberapa hari setelah hari pernikahan.

Saya memulai kehidupan baru di India tanpa adanya kesempatan adaptasi untuk mengerti budaya dan lingkungan sekitar. Bahkan tanpa adanya jeda untuk memproses apa yang terjadi dengan diri ini. Realita itu ternyata jauh dari impian pernikahan yang bahagia. Ketidaksiapan dan ketidakpahaman dalam menghadapi culture shock memberikan duka yang panjang.

Tradisi di India memaksa saya untuk tinggal bersama dengan mertua dan dua keluarga ipar dalam satu atap. Komunikasi dengan mertua sebelum ketibaan saya di India cukup baik, berubah menjadi dingin. Begitu juga dengan dua ipar beserta istri-istri mereka. Saat itu saya tersadar bahwa mereka tidak bisa menerima saya, tidak hanya karena saya orang asing tetapi juga karena adanya perbedaan hal yang prinsip saat itu. Suami masih bersikap baik walaupun Ibu mertua memperlihatkan sikap yang tidak mengenakan. Ia menerima saya di rumah itu hanya karena anaknya. 

Tekanan demi tekanan dari keluarga suami semakin saya rasakan semenjak suami pergi bekerja ke Dubai sekitar satu bulan setelah kami tiba di India. Perbedaan perlakuan Ibu mertua terhadap saya dibandingkan dengan ipar-ipar saya semakin terasa. Saya tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Saya diharuskan memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di dalam rumah.

Cara hidup yang berbeda dengan yang saya jalani di Indonesia membuat mental saya jatuh. Saya takut, sedih dan bingung dalam menghadapi budaya yang asing ini. Tidak ada teman untuk berbagi. Bahkan, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena rasa takut akan reaksi dari keluarga suami. Bercerita kepada suami mengenai apa yang terjadi pada saya pun terasa sia-sia karena suami pasti mendapatkan cerita yang berbeda dari keluarganya yang akan membuat saya semakin terpojok. Akhirnya saya hanya bisa terdiam dan memendam perasaan.

Kesedihan bertambah tatkala saya melahirkan anak pertama melalui operasi caesar tanpa didampingi suami. Karena tidak tahan lagi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dua minggu setelah melahirkan. Ketika saya sampaikan rencana ini, suami marah dan mengancam akan membunuh saya dan keluarga saya jika terjadi sesuatu dengan anak kami. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa kata-kata itu akan terucapkan olehnya.

Kepulangan ke Indonesia dengan anak pertama tentunya membuat orang tua saya bahagia. Saya tidak menceritakan masalah yang sedang saya hadapi. Karena saya tidak mendapatkan nafkah dari suami, saya bekerja di sebuah sekolah untuk kehidupan saya dan anak. Apalagi saya membutuhkan biaya pengobatan karena luka jahitan operasi caesar yang basah terasa perih sekali. Saya bahkan tidak meminta nafkah kepada suami. Juga karena tidak ada komunikasi yang berarti dengan suami.  

Suami datang ke Indonesia untuk menemui saya dan anak kami setelah anak kami berusia setahun. Dia hanya berkunjung, bukan untuk menjemput saya dan anak kami. Saya tersadar suami datang hanya untuk melihat anak laki-laki kami karena anak laki-laki adalah mahar dalam budaya India, sesuatu yang mempunyai nilai tinggi. Namun demikian, saya mengungkapkan keinginan untuk ikut bekerja ke Dubai agar kami bisa menjadi keluarga yang utuh. Tetapi dia malah menyuruh saya untuk kembali ke India.

Saya melahirkan anak kedua di Indonesia tanpa didampingi lagi oleh suami yang telah kembali ke India. Walaupun kami terpisah, dia tetap mendikte kehidupan saya sesuai dengan keinginannya dan mengabaikan semua keinginan saya. Pada saat itu saya sudah lelah, tetapi kata cerai sangat tabu. Saya pun tahu selama saya di Indonesia keluarga suami meminta untuk menceraikan saya. 

Saat itu orang tua sudah mengetahui permasalahan dalam pernikahan saya. Mereka meminta saya untuk memaafkan suami. Akhirnya, saya kembali ke India ditemani oleh ayah yang sekalian pergi berlibur.

Kembali hidup bersama keluarga suami membuat saya depresi. Kehidupan saya dipantau oleh mertua dan dua ipar. Saya kembali lagi diharuskan memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, membuat saya depresi. Saya bertahan dengan mengikuti apa kata mertua. Berusaha membuat senang mertua, saya memberikan cincin dari eyang dan perhiasan lain yang saya punya kepada mertua. Semua itu saya lakukan karena saya ingin disayang oleh keluarga besar suami. Suatu keinginan yang tidak berlebihan. Bahkan saya membiayai kebutuhan rumah dari uang kiriman suami karena kedua ipar saya tidak mau berkontribusi. Masalah uang juga membuat  selalu ada pertengkaran di rumah. Saya selalu berusaha baik, tetapi selalu juga tidak dihargai.

Untuk mencari tambahan pemasukan, saya bekerja di sebuah toko es krim dekat rumah. Pekerjaan di toko es krim selesai ketika hari sudah gelap. Keluarga suami menuduh saya selingkuh dan memberitahu suami. Sekali lagi, saya hanya bisa terdiam. Karena tidak tahan dengan segala tuduhan yang tidak berdasar, saya sampaikan kepada suami saya ingin pulang ke Indonesia. Tidak diduga suami mengatakan pulang saja dan jangan pernah kembali.

Dalam keadaan tidak punya uang sama sekali dan depresi berat, saya diperkosa oleh seorang kenalan keluarga suami. Ancaman dari orang itu membuat saya semakin tertekan dan tidak bisa bercerita ke siapa pun. Hidup saya hancur. Saya menjadi linglung.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang melihat saya begitu ketakutan dan tertekan. Dia orang pertama yang membuat saya merasa aman untuk bercerita dan menyarankan untuk melapor ke kedutaan Indonesia. Saya menolak karena rasa takut dan malu. Tidak bisa bercerita tentang apa yang telah saya alami. Saya katakan kepada dia bahwa saya ingin pulang ke Indonesia. Orang ini, yang pada akhirnya menjadi suami kedua saya, membelikan saya tiket ke Indonesia. 

Dukungan keluarga di Indonesia membuat saya merasa lebih tenang. Mereka menyarankan agar saya menyelesaikan masalah secara baik-baik dengan suami. Tetapi usaha itu tidak pernah berujung solusi. Bahkan suami mau menceraikan saya.

Selama setahun di Indonesia, saya menyibukkan diri dengan bekerja dan berusaha untuk memulihkan diri dari trauma dengan menemui psikiater. Uang hasil kerja setahun saya pergunakan untuk kembali ke India untuk menemui anak-anak saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Kekuatan itu bertambah ketika mendengar anak-anak mengatakan mereka begitu menyayangi saya. 

 Saya tersadar bercerai adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari duka ini. Saya sudah berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Namun tetap tidak berharga di mata suami. Terlebih ternyata suami juga mempunyai affair dengan perempuan lain. Selain itu dia memanfaatkan ketidaktahuan saya dengan memaksa saya menandatangani dokumen pembelian rumah. Yang lebih menyakitkan adalah dalam keadaan tertekan saya menandatangani surat yang ternyata membawa akibat saya kehilangan hak asuh anak-anak saya. Banyak lagi dokumen yang saya tandatangani dalam keadaan tertekan yang ternyata membawa kerugian bagi saya yang baru saya ketahui setelah bercerai.

Menikah dengan suami kedua mengubah perspektif saya tentang hidup. Saya belajar untuk berkomunikasi lebih baik dengan orang. Belajar untuk tidak sungkan menyampaikan keinginan dan apa yang dirasa. Belajar untuk berpikiran lebih terbuka. Belajar menerima perbedaan. Belajar mencari solusi permasalahan tanpa pertengkaran.

Follow us: ruanita.indonesia

Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.

Fokus hidup saya dan suami sekarang adalah melayani Tuhan dan masyarakat. Saya juga fokus dalam karir dan apapun yang saya kerjakan, termasuk kuliah lagi di bidang Teologi. 

Begitu juga dengan anak-anak, saya ingin menyampaikan bahwa saya sebagai seorang ibu sangat menyayangi kedua anak saya walaupun mereka tidak tinggal bersama saya. Saya ingin kedua anak saya tahu bahwa saya sangat berharap mereka akan berkumpul bersama saya lagi. Saya akan selalu menunggu mereka karena kasih saya sebagai ibu tidak akan pernah padam. Saya akan selalu menunggu mereka sampai kapan pun. Saya akan menerima mereka dalam suka dan duka, apapun keadaan mereka.

Untuk para sahabat yang ingin menikah dengan warga negara asing, saya ingin menyampaikan pentingnya mengenal budaya dan karakter pribadi pasangan. Begitu juga dengan keluarganya. Karena kita perlu melindungi diri kita sendiri agar kita pun bisa merawat cinta dalam pernikahan. 

Penulis: Dina Diana, Mahasiswa S3 di Jerman yang mewawancarai seorang Sahabat RUANITA Disti, nama samaran yang tinggal di India.

(CERITA SAHABAT) Mulai Menulis Jurnal, Menulis Berkat Dalam Hidup

Saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar saat itu. Ayah saya meminta saya untuk membeli sebuah buku tulis di warung, yang letaknya tak jauh dari rumah. Saya pun menyanggupinya. Saya diminta ayah untuk menuliskan hal-hal apa saja yang membuat saya bersyukur. Buku tulis biasa dibuat kotak-kotak dengan penggaris biasa, kemudian diberi tanggal, hari dan tahun. 

Makin lama saya menyukai pekerjaan menuliskan buku harian. Saya pernah mendapatkan buku harian mulai dari buku yang wangi, penuh hiasan sampai dengan buku harian yang terkunci. Saya pernah membuat kata-kata sandi untuk menuliskan buku harian agar orang-orang di rumah, apalagi ayah membaca buku harian. Saya juga punya brankas rahasia di mana tidak ada orang yang tahu letak buku harian saya itu. 

Kebiasaan menulis buku harian membuat saya mengenali apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya pernah menuliskan bagaimana saya punya teman sebangku di kelas yang selalu mendapatkan rangking 1 sejak kelas 1 SD. Saya bercerita tentang betapa pintarnya dia. Pada akhirnya, saya belajar strategi belajar darinya sehingga saya pun kemudian mendapatkan rangking tiga besar di kelas.

Follow us: ruanita.indonesia

Lewat buku harian, saya pernah mencatat daftar resep masakan. Ceritanya ibu saya berpergian selama lebih dari satu bulan untuk mengunjungi keluarga ayah yang letaknya berbeda pulau. Pada akhirnya saya yang masih terhitung kelas 5 SD belajar memasak, dengan daftar resep yang diceritakan ibu saya. Saya menuliskan bagaimana menanak nasi, menumis sayuran atau memasak sup ayam misalnya. Pengalaman memasak itu saya tuangkan juga loh di buku harian saya.

Saya ingat bahwa saya pernah menuliskan pengalaman naksir dengan teman kelas sehingga peristiwa itu pun saya tuliskan di buku harian. Saya begitu malu mengingat semua itu ketika saya membaca ulang semua catatan buku harian saya ketika saya sudah beranjak remaja 17 tahun. Pengalaman saya jatuh cinta, membuat masakan, mendapatkan rangking kelas, mendapatkan pujian, bertengkar dengan adik kandung atau berlibur membuat buku harian saya begitu penuh warna.

Setelah saya remaja dan duduk di bangku SMA, saya memutuskan untuk membakar semua buku harian yang saya miliki. Tempat persembunyian untuk meletakkan buku harian telah diketahui oleh adik dan sepupu saya. Saya begitu malu ketika mereka membacakannya. Dengan malu bercampur sedih, saya membakar buku harian saya.

Saya melihat ayah saya memiliki buku agenda kantor. Saya suka melihat kebiasaan ayah saya yang suka mendokumentasikan apa yang sudah dilakukannya dan apa yang direncanakannya untuk masa mendatang. Ayah saya pun kemudian membelikan saya buku agenda kantor, tanpa perlu saya membuat garis kotak-kotak seperti dulu. 

Hal yang saya ingat dari menulis buku harian tersebut adalah saya mencatat tentang rasa syukur yang saya miliki. Saya memulainya dengan kalimat, saya bersyukur karena… Dari kalimat itu, saya bisa menuliskan panjang lebar tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup saya. Meski saya berjerawat pada saat itu, saya mendapatkan nilai ulangan sejarah yang sempurna. Apa pun yang saya tuliskan dalam buku harian, itu seperti menuliskan banyak berkat yang terkadang saya lupa. 

Kebiasaan menulis buku harian itu juga membantu saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Buku harian itu ditulis dengan tangan saya, tidak ada laptop atau handphone pada masa itu. Saya bisa mengolah rasa marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, takut, dan berbagai perasaan yang berkecamuk lewat buku harian tersebut. Itu seperti mengenal diri saya dengan baik, bagaimana saya sebenarnya. 

Buku harian seperti membentuk pribadi saya untuk mengontrol rasa yang bergejolak saat itu, seperti bahagia atau marah. Sekarang orang bisa saja posting di sosial media betapa bahagianya hidup mereka, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana reaksi orang setelah membaca postingan tersebut karena kita tidak bisa mengontrol respon seseorang. Lewat buku harian, saya bisa menumpahkan apa yang dirasa dan dipikirkan tanpa takut dihakimi atau diketahui orang lain. 

Jejak buku harian telah membawa saya pada impian Anne Frank, seorang remaja asal Belanda yang fenomenal lewat buku hariannya. Saat ke Belanda kemarin, saya menyambangi tempat Anne Frank tersebut. Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulang tahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu.

Saya kutip dari Anne Frank tentang pentingnya menulis jurnal sebagai berikut:

“Unless you write yourself, you can’t know how wonderful it is. I always used to moan about the fact that I couldn’t draw, but now I’m overjoyed that at least I can write. And if I don’t have the talent to write books, newspapers, articles etc. I can write for myself. I want to achieve more than that.”

Mumpung masih di awal tahun, bagaimana kebiasaan Sahabat RUANITA semua menuilskan buku harian?

Penulis: seorang yang suka menuliskan jurnal untuk mendokumentasikan berkat dalam hidupnya, tinggal di benua biru.

(IG LIVE) Apakah Kamu Mengalami Culture Shock?

Di bulan Januari 2023 ini RUANITA Indonesia mengangkat tema culture shock yang lazim dialami oleh pendatang saat beradaptasi dengan budaya baru. Seperti apa culture shock jika dilihat dari sudut pandang antropologi?

Dalam episode IG Live Sabtu lalu (28/1), Dina Diana lewat akun @ruanita.indonesia mengundang Novi Siti, salah satu volunteer RUANITA yang tinggal di Bergen-Norwegia. Sebagai pekerja sipil yang menetap di Norwegia selama 20 tahun belakangan dan memiliki latar belakang keilmuan di bidang antropologi, Novi berbagi pengalaman dan cara-cara yang ditempuh kala menghadapi culture shock.

Menurut Novi, untuk bisa menjelaskan culture shock atau gegar budaya ini harus dipahami dulu tahapannya, seperti pertama mungkin merasa kaget, kemudian mencoba untuk menghadapi situasi yang berbeda. Kadang ketika selanjutnya seseorang tidak bisa beradaptasi, itu akan menyebabkan stress.

Novi bercerita ketika pertama kali tiba di Tromsø untuk kuliah S2, dia mengalami banyak ‘kekagetan’ yang bersumber dari perbedaan hal-hal yang dialami dan dipelajarinya saat di Indonesia.

Perbedaan iklim, norma sosial serta kebiasaan berinteraksi di masyarakat Tromsø ternyata menimbulkan banyak kekagetan. Namun dia mencoba memahami dan menerima bahwa itulah Tromsø.

Lanjutnya lagi, perubahan peran dan tahapan hidup yang dijalaninya kala itu (awalnya sebagai mahasiswa dan kemudian menjadi seorang ibu) turut menyumbang beberapa ‘kekagetan’ tersebut.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Menurutnya, ada hal-hal yang berbeda dari pola pikir dan perilaku kita yang kemudian akan menimbulkan kekagetan tersebut, sehingga sangat penting untuk belajar memahami bagaimana perilaku dan perspektif orang lain melihat sesuatu; jangan sampai dijadikan benturan. Kekagetan inilah yang Novi coba untuk diterima dulu saja agar kemudian bisa ia pahami.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang open-minded membuat Novi merasa lebih mudah dalam dealing with culture shock, dalam hal menerapkan pola pikir ‘terima dulu saja seperti itu’. Budaya di Norwegia pun memberikan ruang untuk dapat mengekspresikan diri asalkan tidak melanggar hukum sehingga penting untuk memahami terlebih dahulu aturan-aturan yang berlaku.

Yang sama pentingnya untuk dipelajari pertama kali adalah memahami bahasa setempat. Ini karena bahasa bukanlah hanya urutan kata-kata dan kalimat saja, tetapi juga alat untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan sesuatu dengan asosiasi dan metafora lainnya.

Sebagai contoh, Novi menjelaskan bahwa orang Norwegia bukanlah orang yang ‘direct’ dalam menyatakan ketidaksetujuan. Sehingga ketika ingin menyatakan misalnya sebuah ide tidak cukup bagus atau biasa-biasa saja, mereka akan mengungkapkan dengan bertanya berputar-putar “I just wondering, why…” dan seterusnya.

Salah satu strategi adaptasi yang Novi pakai adalah mempelajari humor warga setempat dan bagaimana cara mereka bercanda. Novi melihat bahwa cara orang Norwegia bercanda adalah menggunakan metafora dan tidak direct bertanya tentang hal-hal sensitif seperti umur atau body shaming.

Lewat humor inilah Novi mempelajari kode-kode sosial yang berlaku di masyarakat, dan hal apa saja yang diminati oleh warga setempat serta menyelaraskannya dengan keinginannya juga. Menurutnya, ini adalah sebuah ‘seni’ untuk meyakinkan orang lokal bahwa kita tertarik mempelajari budaya mereka dan mau menyelaraskan diri.

Menurut Novi, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bereaksi dan beradaptasi dengan budaya baru, seperti karakter pribadi, konteks situasi dan budaya asal, serta kebijakan integrasi dan willingness dari pemerintah di negara yang didatangi oleh imigran.

Seperti di Norwegia, pemerintah selalu membuat analisis risiko dalam menerapkan kebijakan imigrasi dan integrasi untuk pendatang. Salah satu hasilnya adalah pemerintah Norwegia menyediakan kursus samfunnskunskap atau social studies yang bisa diikuti oleh semua pendatang.

Selain itu negara juga menyediakan fasilitas konsultasi, konseling serta terapi untuk para pendatang yang sudah berada dalam tahapan kesulitan beradaptasi, tergantung pada sebesar apa masalah yang dihadapi.

Salah satu cara terbaik dalam meminimalisir culture shock adalah terima saja terlebih dahulu, baru kemudian kita bawa berefleksi. Novi menjelaskan bahwa dalam menghadapi budaya baru, jangan sampai kita menginterpretasikan sesuatu berdasarkan apa yang ada di nilai-nilai diri kita. Yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu di mana kita berada dan berdiri di saat ini.

Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan atau merasa budaya kitalah yang lebih benar daripada budaya lain. Dan sebagai pendatang, memang ada semacam keharusan bagi kita untuk mengikuti peraturan di negara tersebut. Oleh karena itu, faktor kemampuan berbahasa lokal ini sangat penting agar kita dapat berkomunikasi dengan orang lokal untuk mempelajari bagaimana mereka berperilaku dan memahami nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam pemikiran mereka.

Selengkapnya bisa disimak dalam rekaman IG LIVE berikut ini:

Subscribe akun YouTube kami ya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tahun Baru Di Korea Selatan itu Family Holiday Sampai 7 Hari

Program Cerita Sahabat Spesial Episode Januari 2023 mengangkat tema: Tahun Baru di Korea Selatan yang langsung dibawakan oleh Citra Dewi, yang sekarang menetap di Jeju Island, Korea Selatan.

Ada banyak hal yang dibagikan Citra lewat video berdurasi 5 menit tentang pengalaman merayakan tahun baru bersama keluarganya selama tinggal di negeri Gingseng tersebut.

Tahun Baru di Korea Selatan itu ada dua perayaan, yakni: Tahun Baru Masehi yang umum dirayakan setiap 1 Januari dan Tahun Baru seperti Chinese Lunar New Year yang dirayakan di tanggal berbeda-beda berdasarkan penanggalan bulan.

Tahun Baru yang demikian disebut Seollal yang pada tahun 2023 jatuh pada 22 Januari. Seollal dianggap sebagai hari besar di Korea Selatan, bahkan dirayakan tiap keluarga di Korea Selatan.

Menurut Citra, saat tahun baru tersebut akan menjadi momen pertemuan antar keluarga sehingga ini yang disebut sebagai Family Holiday terbesar pertama di Korea Selatan sebelum Chuseok, semacam perayaan Thanksgiving di Korea Selatan.

Seperti Imlek, pada saat Seollal itu orang yang lebih tua membagikan amplop kepada yang lebih muda. Itu sebab ada tradisi penghormatan kepada yang lebih tua dulu dan ritual sungkeman.

Salah satu yang menarik menurut Citra adalah bagaimana laki-laki di Korea Selatan memiliki tanggungjawab dalam menyiapkan Jesa, sajian yang diberikan kepada leluhur keluarga.

Bagaimana pun tradisi tahun baru menjadi momen untuk kunjungan antar keluarga satu sama lain, yang sehari-hari tidak dilakukan.

Selain itu, terjadi peningkatan harga saat jelang Seollal sehingga kita perlu mempersiapkan perjalanan jauh-jauh hari kalau mau ikut menyaksikan orang Korea Selatan menyiapkan keriaan keluarga tersebut.

Keramaian tersebut terjadi mengingat pemerintah menetapkan hari libur sebagai hari panjang, hampir 7 hari untuk orang-orang Korea Selatan merayakan kebersamaannya bersama keluarga.

Kalau suka budaya Korea, perlu juga belajar dari Citra tentang bagaimana memberi ucapan selamat tahun baru dalam Bahasa Korea.

Ucapan yang biasa diberikan adalah “saehae bok mani badeuseyo” yang biasa diberikan terlebih dulu kepada orang yang lebih tua. Mereka juga punya tradisi sungkeman juga loh.

Wah, seru sekali! Makanan apa saja yang biasa disajikan saat Seollal tersebut? Tradisi apa saja yang terjadi di sana?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Cerita Citra Dewi dapat disaksikan lewat kanal YouTube berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe Kanal YouTube kami.

(PELITA) Adakah Pengaruh Budaya dan Psikologi terhadap Ngidam Saat Hamil, Apalagi di Luar Negeri?

Episode PELITA – Parentingtalk with RUANITA – yang ketujuh di bulan Januari 2023 membahas perihal Ngidam saat hamil atau dalam Bahasa Inggris disebut sebagai “food craving during pregnancy” yang selama ini masih menjadi pertanyaan para ahli, mengapa ada sebagian perempuan mengalami ngidam dan sebagian lagi tidak?

Stephany menjelaskan bagaimana ngidam yang dialami seorang perempuan tidak terlepas dari pengaruh psikologi dan budaya dari perempuan yang hamil tersebut, di mana dia tinggal atau dari mana perempuan tersebut berasal. Stephany mengatakan kalau ngidam makanan tertentu bisa jadi dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi yang diperlukan seorang ibu saat hamil.

Misalnya ada seorang ibu yang hamil dan ngidam makan daging, padahal selama ini dia adalah seorang vegetarian. Ahli menyebut bahwa hormon pada saat hamil berkembang sehingga tubuh perempuan meminta nutrisi yang diinginkannya, seperti kebutuhan akan zat besi dari daging yang selama ini tidak diperolehnya. Itu hanya contoh saja, dari sekian banyak ngidam yang dialami oleh banyak perempuan terutama dari Asia.

Sejujurnya Stephany sudah berusaha mencari lebih banyak literatur terkait ngidam dalam teks berbahasa Inggris atau fenomena yang terjadi dalam budaya barat, ternyata tidak banyak ditemukan. Ngidam dalam perpektif budaya Asia, terutama Indonesia biasanya berkaitan dengan budaya atau cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang sedang hamil.

Sebagai contoh, Stephany menceritakan pengalaman pribadinya ketika dia hamil dan sedang berada di Indonesia. Dia kerap mendapatkan pertanyaan-pertanyaan identik misalnya, “Sedang ngidam apa bu?” atau Ibu dari Stephany juga tak segan memenuhi makanan yang diinginkan Stephany sesulit apa pun.

Contohnya Stephany ngidam Baklava, snack manis dari Yunani. Beruntung Stephany bisa mendapatkan Baklava di Indonesia sehingga dia bisa menikmati Baklava tersebut. Meskipun begitu, kita harus tahu apakah ngidam itu begitu intense dan dalam porsi besar? Kembali ke soal Baklava yang begitu manis, agar ibu yang ngidam perlu memperhatikan asupan nutris agar tidak banyak gula yang dikonsumsinya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Artinya ngidam perlu memperhatikan kondisi kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya sehingga tidak perlu berlebihan. Stephany juga ngidam Yogurt Turkish yang memang begitu sulit ditemukan saat di Jakarta. Menurut Stephany, Baklava dan Yogurt Turkish yang diidam-idamkannya adalah bentuk memori terindah dia bersama suami saat menikmatinya di Belanda. Artinya ngidam juga bisa dikaitkan dengan kenangan akan makanan tersebut.

Selain itu, ibu yang ngidam juga perlu memperhatikan konteks kondisi ibu terutama ibu yang memiliki masalah kesehatan seperti obesitas, eating disorders atau food restrictions karena bagaimana pun saat ngidam juga ibu memiliki keinginan untuk menikmati makanan yang selama ini di luar kebiasaannya.

Stephany menyarankan agar ibu bisa berkonsultasi dengan ahli/profesional bila ibu memiliki kondisi kesehatan yang sudah menjadi penyertanya. Dalam beberapa kasus tertentu, ngidam juga memiliki idaman makanan yang ekstrim seperti bubuk deterjen misalnya. Ini sudah tidak wajar.

Hal tidak wajar misalnya ngidam makanan yang dimasak oleh suami atau ngidam pakai baju merah. Dalam konteks budaya di Amerika atau Eropa tidak ditemukan banyak perempuan yang mengalami ngidam. Bahkan secara psikologis bisa jadi ngidam merupakan ekspresi dari kenyamanan yang dibutuhkan perempuan saat hamil.

Lebih lanjut tentang penjelasan dari keilmuan Stephany dan pengalamannya sebagai ibu bisa dicek di kanal YouTube kami berikut:

Subscribe kanal YouTube kami.

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman dan Saran Menuliskan Goals Awal Tahun, Kalau Kamu?

Halo! Nama saya Puti Ceniza Sapphira, biasa dipanggil Chica. Sejak November 2021 saya kembali merantau di Amerika Serikat, tepatnya di Upper Peninsula Michigan, kota Houghton. Kesibukan sehari-sehari saya sebagai homemaker, directing my community library in Bandung @pustakalanalibrary, menjadi Mamin di @mamarantau, dan menjadi volunteer di beberapa organisasi di sini.

Berbicara tentang resolusi awal tahun, menurut saya adalah intensi, harapan, dan capaian yang kita terapkan pada diri kita untuk menyambut tahun baru dengan semangat baru. Tentunya harapan menjadi manusia yang lebih baik lagi – baik sebagai makhluk individu, sosial, dan spiritual.  Tentunya semua  itu, biasanya dilakukan dengan berkesadaran untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Saya sendiri menulis Goals awal tahun yang jadi kebiasaan sedari usia remaja. Dengan kita memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita jadi memiliki skala prioritas. Menurut saya, Goals itu seperti panduan mau mengalokasikan energi, waktu, effort kita ke mana di tahun tersebut dan juga menjaga intensi kita untuk meraih sesuatu yang memberi dampak baik pada keberlangsungan hidup kita di tahun itu.

Ada pengalaman menarik ketika saya menuliskan Goals awal tahun. Contohnya waktu tahun 2019 lalu. Saya jadi membuka kembali jurnal di akhir 2019 nih dan membaca “New Year’s Resolution” di mana saya menuliskannya begini: read every day; learn a new language; pick up a new hobby; take up a new course; level up your skills; wake up early; weekly exercise.

Follow us: ruanita.indonesia ya!

Dan bisa ketebak ya, gagal semua 😀 Kenapa? Karena jelas dari poin-poin yang saya tulis di atas saya tidak memiliki SMART Goals. Apa itu SMART?

S itu berarti Specific: Goals kita itu harus jelas, detil dan langsung pada tujuan yang ingin dicapai. M itu berarti Measurable yang mana kita harus menjelaskan bagaimana cara kita mencapainya. A itu berarti Achievable yang mana kita harus menuliskan Goals yang realistis untuk mencapainya. R itu berarti Relevant yang mana kita menuliskan Goals yang langsung pada prioritas tujuan hidup kita. Terakhir itu T yang berarti Time-Bound yang mana kita punya timeline untuk mewujudkannya.

Selain SMART, kita juga  bisa menerapkan tips-tips membangun SISTEM dalam membentuk kebiasaan baru seperti yang ada dari buku Atomic Habits oleh James Clear. Atomic habits adalah perubahan ke arah yang lebih baik dalam skala kecil. 1% peningkatan setiap harinya. 1% improvement setiap hari bisa membawa perubahan yang sangat besar jika dilakukan secara rutin dalam 365 hari. Tujuan (Goals) lebih condong ke hasil. Kalau sistem adalah tentang proses yang kita alami buat menggapai hasil.

Dalam membentuk kebiasaan, sistem lebih penting. Mengapa? Semua orang bisa aja punya tujuan, tapi hanya orang sukses yang bisa meraihnya soalnya mereka punya sistem. Alasan kedua, tujuan membatasi kebahagiaan karena kita merasa hanya akan bahagia kalau kita meraih tujuan itu.

Jadi, bikin Goals percuma dong? Gak juga; karena keberadaan Goals akan bagus untuk menentukan arah (setting a direction) tetapi untuk memiliki progres, membangun sistem lebih penting.

Dari sumber bacaan yang saya baca, ada tiga level dalam mengubah kebiasaan. Level 1: Mengubah hasil. Seringkali tujuan levelnya ada di sini. Misal, makan lebih sehat. Level 2: Mengubah proses. Kebiasaan levelnya ada di sini. Misal, makan buah 5 macam per hari. Level 3: Mengubah identitas. Level yang terbaik karena berarti kita mengubah mindset, asumsi, kepercayaan kita daripada “saya ingin sehat” maka “Saya orang yang fit dan sehat”

Selain yang disebutkan di atas, saya pikir ada empat cara untuk membuat kebiasaan antara lain: make it obvious, make it attractive, make it satisfying, dan terakhir make it easy.

Membuat kebiasaan menulis Goals awal tahun memang tidak mudah. Ini dari sumber bacaan yang saya baca yakni kita harus punya antara lain: (1). Habit Formation. Jangan kelamaan bikin rencana dan overthinking, kebiasaannya segera dilakukan aja; (2). The Law of Least Effort. Bikin lingkungan yang mendukung pembentukan kebiasaanmu. Misal,kita ingin belajar gitar, taruh gitarnya di tempat yang gampang dilihat dan buat playlist dari YouTube untuk belajar beberapa lagu yang kamu sukai di level pemula; (3). Two-minute Rule. Waktu mulai, bikin kebiasaannya gampang. Misal, kalau pengen mulai membiasakan diri baca buku, baca sehari sehalaman aja. Kalau udah biasa, nambah lagi dikit-dikit; (4). A commitment device. Investasi ke hal-hal yang bikin kebiasaanmu lebih gampang di kemudian hari. Misal, ingin menabung, riset dan daftar ke bank yang menawarkan fitur menabung otomatis.

Cara yang jauh lebih baik untuk mendekati resolusi adalah dengan memilih satu kebiasaan baru untuk difokuskan, dan kemudian menambahkan yang lain nanti (setelah kebiasaan pertama tertanam dalam rutinitas harian Anda) – daripada 7 resolusi sekaligus yang membuat kewalahan.

Selain fokus pada resolusi yang sedikit daripada resolusi yang banyak, kita juga harus memulainya dari hal yang kecil dulu. Misalnya, jika tujuan akhir kita adalah mulai workout lebih sering maka tidak realistis untuk kondisi dari yang tidak pernah berolahraga menjadi berolahraga selama satu jam setiap hari.

Mulailah dengan menetapkan tujuan yang lebih kecil dan lebih realistis, seperti ‘Saya akan melakukan yoga stretching 5 menit setiap hari saat bangun tidur’. Ketika melakukan stretching 5 menit di pagi hari terasa lebih alami, kemudian bertahap tingkatkan menjadi 10 menit, 20 menit, dst. Mungkin perlu beberapa minggu/bulan untuk mencapai tujuan teman-teman, tetapi itu lebih baik daripada gagal di bulan Januari dan menyerah di bulan berikutnya!

Tantangannya adalah kita butuh waktu untuk bisa ngobrol dan cek ke dalam diri apa sih yang masih kurang dari diri dan apa yang ingin dikembangkan. Beberapa pertanyaan untuk ditanyakan pada diri sendiri seperti berikut ini:

  • Akankah tujuan ini memengaruhi kebahagiaan jangka panjang saya?
  • Apakah tujuan ini menguntungkan pernikahan, karier, atau keluarga saya?
  • Apakah tujuan ini secara praktis berguna untuk kehidupan saya sehari-hari?
  • Apakah tujuan in akan relevan dengan kebutuhan saya?
  • Apakah saya melakukan ini karena saya pikir orang lain mengharapkannya ini dari saya?

Utamanya adalah kesadaran dan kemauan diri untuk menjaga semangat mewujudkan Goals tersebut. Oleh karena itu penting kita membangun sistem termasuk juga partner in crime yang bisa sama-sama mengingatkan untuk semangat. Semisal, saya ingin bisa rutin nge-Gym atau fitness. Kalau sendiri, kadang ada rasa mager atau bosan, dengan ada teman jadi bisa saling bergantian kalau ada yang satu melemah semangatnya 😀

Juga keep your success in your journal, rasanya memuaskan sekali dengan membuat habit tracker dan melihat progress kita dari waktu ke waktu.

Oh ya, penting juga untuk kita selalu keep update sama topik yang ingin kita perbaiki. Misal kalau ingin mulai bisa keuangan yang sehat, coba follow, simak podcast, baca artikel/subscribe blog yang berhubungan sama topik Financial. Perluas literasi terkait resolusi yang ingin dicapai.

Terakhir ini adalah saran dan pesan saya untuk teman-teman yang ingin memulainya. Take time to think, reflect, and write what is your ideal life and how you perceive your better self next year. Make it SMART and build a SYSTEM that makes you eager to pursue it!

Penulis: Puti Ceniza merupakan mamarantau di Houghton, MI, AS. Di tengah menyempatkan diri untuk menjadi relawan aktif beberapa komunitas di kotanya ia juga menjalani peran sebagai Director di perpustakaan komunitas yang ia dirikan sejak 2015 di Bandung, @pustakalanalibrary.

(CERITA SAHABAT) Begini Caraku Latih Toilet Training pada Anak

Salam kenal, nama saya Retno. Saat ini saya tinggal di Norwegia, dan aktivitas sehari-hari sebagai editor dan ibu rumah tangga. 

Kedua anak perempuan kami berusia 12 tahun dan 3 tahun dan keduanya lahir di perantauan. Saat ini si bungsu baru mulai toilet training. 

Sebenarnya ada cerita menarik saat dulu si sulung mulai toilet training. Awalnya saya berencana untuk memulai toilet training si sulung ketika ia berusia 2 tahun. Saat itu ia hanya menggunakan popok kain berbentuk celana sehingga sudah terbiasa mengenali rasa ‘basah’ dan minta ganti popok. Saya pikir ‘oh kayaknya bisa dicoba toilet training, nih’. 

Kami pun mengajak si kecil membeli dua potty seat: yang berbentuk bangku dan yang bisa diletakkan di atas toilet. Kenyataannya si kecil hanya tertarik untuk bermain-main dengan potty seat. Ia malah menangis takut saat diajak untuk menggunakan potty di toilet. Lalu saat itu kami juga sibuk sekali menyiapkan kepindahan dari Malaysia ke Indonesia, yang kemudian dilanjutkan lagi ke Tromsø (kota di utara Norwegia yang posisinya berada di dalam lingkar kutub utara). 

Dari beberapa buku panduan toilet training yang pernah saya baca, disebutkan bahwa waktu-waktu transisi besar seperti kepindahan sekolah, pindah rumah, saat anak sakit atau saat anak baru disapih bukanlah waktu yang tepat untuk memulai proses toilet training. Jadilah toilet training-nya ditunda. Dengan alasan kepraktisan juga, si sulung masih menggunakan popok sekali pakai (pospak) selama perjalanan sampai tiba di Tromsø. 

Kami tiba di Tromsø di bulan Februari saat puncaknya musim dingin dan nyaris setiap hari badai salju. Saat itu si sulung berusia 2.5 tahun. Waktu itu selain membawa banyak lauk untuk ransum makanan selama seminggu, saya juga membawa bekal satu bungkus pospak untuk berjaga-jaga. Namun setelah empat hari tiba di Tromsø, badai salju tidak kunjung reda sementara… bekal pospak yang kami bawa sudah habis! 

Saat itu popok celana kain dan kedua potty seats yang kami beli juga ikut dibawa ke Tromsø. Seperti biasa, potty seats-nya dibuat mainan saja oleh si sulung. Dan saat itu si sulung mau duduk di potty seat di kamar mandi sambil menunggu saya ‘mengerjakan urusan’ di toilet. Ya, saat itu sampai ke kamar mandipun saya diikuti oleh si sulung. Kombinasi badai salju tak kunjung reda, kehabisan popok dan melihat si sulung akhirnya mau duduk di potty seat, akhirnya saya mulai saja proses toilet training. Dan berhasil! 

Setiap pagi setelah bangun tidur, saya ajak si kecil untuk pipis sekaligus poopy sambil menunggu saya. Jadi duduk berdua di toilet saja sampai ‘urusannya’ selesai. Begitu pula dengan siang, sore, dan malam sebelum tidur. Hanya butuh waktu seminggu dan sekali ‘kecelakaan’ mengompol, si sulung pun bebas tidak lagi memakai pospak. Lalu saat badai salju reda dan kami bisa ke supermarket, kami ajak si sulung mampir ke toko baju untuk memilih sendiri celana dalam dengan gambar tokoh kartun favoritnya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Ketika lima bulan kemudian si sulung masuk barnehage (daycare) dan sudah genap berusia tiga tahun, ia sudah tidak lagi memakai popok. Sebelum ia masuk barnehage, kami ajari cara untuk memberi tahu kalau mau ke toilet dan cara untuk membersihkan diri menggunakan tissue. Selama di rumah, si sulung selalu kami bersihkan dengan air, namun di daycare biasanya hanya tersedia tissue/toilet paper saja. 

Saya komunikasikan juga kepada para gurunya bahwa kalau di rumah, si sulung selalu dibersihkan dengan air setelah buang air besar, sehingga mungkin jika di sekolah hanya dibersihkan dengan tissue ia akan merasa agak kering dan pedih. Guru-guru barnehage pun bisa mengerti dan menyediakan wet wipes atau tissue basah.

Fast forward ke sembilan tahun kemudian, ketika sudah ada si bungsu. Kami memutuskan untuk memasukkan si bungsu ke barnehage ketika ia berumur dua tahun. Namun saat itu banyak hal yang memengaruhi kemampuan adaptasi si bungsu di situasi barnehage yang asing buatnya, terutama setelah dua tahun pandemi. 

Saya agak ragu si bungsu bisa mulai toilet training sebelum masuk barnehage, apalagi kondisinya juga bersamaan dengan kami boyongan pindah rumah. Ketika berdiskusi dengan guru barnehage-nya, bu guru juga mengutarakan hal yang sama: sebaiknya toilet training nanti saja setelah si bungsu bisa beradaptasi dengan suasana baru di barnehage. 

Rentang usia yang cukup jauh antara si sulung dan bungsu ini membuat saya mengingat-ingat ulang cara toilet training si sulung dahulu. Untungnya Ruanita bersama psikolog Stephany Iriana membuat video yang sangat informatif mengenai proses toilet training pada tautan berikut: https://youtu.be/AWKl3o18Ehk

Stephany menjelaskan beberapa tanda yang orangtua perlu kenali seputar kesiapan anak untuk mulai toilet training. Beberapa tandanya adalah seperti berikut: 

  • anak sudah bisa berjalan dan bisa duduk dalam jangka waktu pendek, 
  • anak sudah bisa mengucapkan kata-kata pendek dan mengerti perintah sederhana, 
  • anak tertarik mengobservasi kegiatan orang lain,
  • popok anak bisa kering selama durasi dua jam,
  • anak bisa menunjukkan gesture yang mengisyaratkan,
  • anak tidak nyaman saat memakai diapers atau menolak dipakaikan,
  • anak bisa menunjukkan gesture yang mengisyaratkan kalau dia mau ke toilet,
  • anak mampu menarik atau menaikkan celananya,
  • anak dapat memahami instruksi atau kalimat perintah sederhana.

Satu tips yang Stephany bagi adalah biarkan anak memilih tipe potty seats yang ia mau gunakan, dan sediakan beberapa jenis potty yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda. Lalu untuk menyemangati anak, bisa coba memberikan rewards dalam bentuk stickers lucu setiap kali anak mencoba menggunakan toilet. Yang terpenting adalah orangtua jangan memaksakan anak untuk segera menggunakan potty. Sebagai awalnya, biarkan anak bermain dan bereksplorasi dengan potty seatsnya selama potty-nya bersih. 

Sampai saat ini si bungsu masih dalam proses membiasakan dirinya mengenali benda potty seats ini. Saat ini dia sudah mau duduk di potty di kamar mandi, tetapi tidak mau kalau celananya dilepas untuk mulai pipis. 

Namun dia sudah bisa memberi tahu kami setiap pagi saat dia mau poopy. Dan dia masih takut untuk duduk di potty yang dipasang di atas toilet dewasa karena kakinya menggantung (selain juga karena bagian dalam toiletnya seperti bolong besar), jadi nampaknya dia lebih memilih potty seats berbentuk bangku kecil. 

Minggu lalu waktu kami berdiskusi dengan guru barnehage, gurunya menjelaskan bahwa kini si bungsu sudah bisa popoknya kering selama dua jam lebih, dan jarang sekali poopy saat di sekolah. Namun dia masih pipis sekali di popoknya, biasanya setelah makan siang. Si bungsu juga menunjukkan ketertarikan saat melihat anak lain menggunakan potty di sekolah. 

Guru menjelaskan bahwa kalau mau, si bungsu sudah bisa memulai toilet training dan kami di rumah bisa bekerjasama dengan guru di barnehage. Nampaknya learning curve si bungsu dalam proses toilet training ini tidak secepat si sulung, tetapi tidak mengapa… kenyataannya memang beda anak bisa beda cara dan beda kesiapan dalam memulai toilet training.

Menurut saya, proses toilet training ini banyak faktor trial-error. Buat orangtua, harap diingat kalau accident happens. Ada kalanya anak bilang mau pipis atau poopy, sudah duduk di potty, eh ternyata malah tidak pipis atau poopy. Ini tidak masalah, nanti bisa dicoba lagi. Begitu pula ketika anak tiba-tiba kecolongan mengompol atau poopy di celana, ini juga tidak mengapa. 

Ini terjadi saat dulu si sulung toilet training; ia tampak malu saat kebablasan mengompol karena keasyikan bermain. Saya ajak saja ia untuk segera cebok sambil diberitahu pelan-pelan kalau next time mau pipis, langsung beritahu Mama ya. 

Untuk mama/papa, harap diingat kalau bekas pipis itu selalu bisa dibersihkan, dicuci dan dibereskan kok. Anggap saja bagian dari proses belajar. Kalau anak sampai mengompol, jangan dimarahi. Kalau anak dimarahi atau dipermalukan, ini bisa jadi boomerang karena anak jadi takut memberitahu kalau dia mau pipis atau poopy.

Apakah perlu mengajari toilet training sedini mungkin? Tergantung kebutuhan dan kesiapan anak, selain kesiapan orangtua juga. Mengajar toilet training butuh konsistensi dan kesabaran dari orangtua. Selain itu dari diskusi bersama guru, ia menyebutkan bahwa sebaiknya anak sudah toilet training sebelum usia empat tahun karena ini adalah salah satu indikasi kesiapan anak untuk belajar beradaptasi sebelum nanti masuk sekolah dasar. 

Belajar toilet training juga bukan hanya masalah semata lepas popok dan bisa menggunakan toilet, tetapi juga anak belajar untuk mengomunikasikan ketidaknyamanan, anak belajar membersihkan dirinya sendiri (bagian dari kemandirian), dan anak belajar untuk awas dengan body autonomy dan kondisi tubuhnya.

Beberapa masalah seperti sembelit bisa diantisipasi dengan orang tua mengingatkan anak untuk rajin minum air putih dan rutin makan sayur, buah-buahan dan yogurt (atau makanan probiotik lainnya seperti tempe). Namun kalau sampai anak jarang buang air kecil disertai demam, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk diperiksa apakah ada kemungkinan terkena infeksi saluran kemih (ISK).

Penulis: Aini Hanafiah (Akun IG: aini_hanafiah)

(RUMPITA) Suasana Natal dan Liburan Telah Tiba

Pada episode Podcast – RUMPITA – bulan Desember 2022 membahas tentang liburan yang mulai terasa di Jerman karena sudah memasuki akhir tahun. Suasana akhir tahun di negeri empat musim memang terasa romantis, apalagi cuaca di Jerman kali ini memang sedang dihujani salju dan suhu yang dingin sekali.

Celoteh Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa di Jerman diawali dari pengalaman mereka membayangkan liburan di negeri empat musim seperti film dan buku yang mereka baca saat masih di Indonesia. Fadni menceritakan bagaimana orang-orang Jerman merayakan Advent sebagai tradisi jelang Natal.

Meskipun Nadia dan Fadni tidak merayakan Natal tetapi mereka berdua mampu menceritakan dengan baik pengalaman mereka tentang keseharian orang Jerman mempersiapkan hari raya tersebut. Bahkan Nadia bisa membedakan bahwa tiap region di Jerman punya kebiasaan berbeda saat memikmati momen makan malam 24 Desember tersebut.

Nadia yang tinggal di Jerman belahan utara berpendapat masyarakat di sekitarnya biasa menyiapkan ikan. Fadni berpendapat di Berlin biasanya menyiapkan bebek untuk keluarganya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Selain merayakan Advent, dekorasi Natal seperti pohon Natal mulai dijajakan di supermarket. Nadia dan Fadni yang memulai tinggal di Jerman saat di Studienkollege, merasakan bagaimana suasana gembira dirayakan orang-orang di Jerman di sekitarnya. Natal di Jerman.

Cerita Nadia dan Fadni yang menceritakan bagaimana mereka beradaptasi dengan tradisi orang-orang Jerman seperti Adventkalender, Nikolaustag, Sinterklas, Pohon Natal dan Tukar Kado. Fadni pun menjelaskan bagaimana budaya anak-anak di Jerman menantikan Sinterklas jelang Natal.

Bagaimana cerita mereka berdua mengamati tradisi orang-orang Jerman? Simak yuk dalam Podcast berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kiat Mahasiswi Indonesia di Turki Hadapi Inflasi

Cerita Sahabat Spesial episode Desember 2022 ini mengangkat tema kehidupan mahasiswa asal Indonesia di luar negeri. Sebagaimana kita ketahui kalau saat ini dunia sedang dilanda inflasi, termasuk negara Turki yang mengalami lonjakan harga yang sangat fantastis.

Inflasi tidak hanya membuat harga-harga meroket tetapi juga membuat tantangan tersendiri untuk mahasiswa asal Indonesia yang sedang berada di perantauan.

Cerita dampak inflasi di Turki disampaikan langsung oleh Hanun Rifda Arabella yang sedang menempuh studi di Istanbul, Turki. Dia menceritakan bahwa inflasi membuat dia harus memutar otak untuk mencari cara berhemat dan bertahan hidup untuk menyelesaikan studinya.

Tak ada pilihan lain seperti Hanun – demikian dia disapa – untuk mendapatkan pekerjaan tambahan seperti praktik banyak negara yang memberlakukan pekerjaan sampingan untuk para mahasiswa.

Di Turki, jelas Hanun, tidak ada pilihan demikian. Hanun kemudian memilih menekuni kuliahnya daripada harus bekerja dengan upah di bawah rata-rata. Bagaimana pun dia ingin agar dapat menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia.

Kesulitan hidup mewarnai kehidupan mahasiswa di negeri perantauan manakala inflasi telah membuat harga meroket, biaya sewa kamar yang tak murah dan perubahan peraturan yang tidak bisa ditebak.

Tak hanya soal carut marut bertahan hidup di Turki saja, Hanun menceritakan bagaimana tantangan budaya untuk bertahan di Turki. Dia tahu bahwa itu tidak mudah apalagi Turki juga sekarang sedang dibanjiri pengungsi.

Bahaya inflasi lainnya adalah tingginya angka kejahatan dan kriminalitas di kota besar seperti Istanbul dirasakan betul oleh Hanun.

Namun dibalik itu semua, Hanun pun membagikan tips dan saran untuk para mahasiswa yang sedang menekuni kuliah di negeri orang.

Mulai dari gaya hidup hingga cara berhemat lain yang mungkin bisa ditiru oleh mahasiswa dalam menghadapi inflasi yang melanda dunia seperti memasak bersama, membawa bekal ke kampus, dan lainnya.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak cerita Hanun berikut dalam kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Tolong subscribe kanal YouTube kami.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(SIARAN BERITA) Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

NORWEGIA – Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai anugerah dari Tuhan, HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, pemerintah dan setiap orang di dunia ini tanpa kecuali.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal HAM dan Hak Warga Negara (HWN). HAM berlaku secara universal yang melekat dalam diri manusia sejak ia lahir. HAM sendiri telah dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 yang memuat 30 pasal yang diterima secara umum untuk kesejahteraan bersama.

Sementara HWN adalah hak yang diperoleh seseorang sebagai warga negara yang hidup di suatu negara, biasanya diatur secara langsung atau tidak langsung oleh negara yang bersangkutan.

Tak semua memahami perbedaan HAM dan HWN. HAM melekat dalam diri manusia yang tidak terbatas sedangkan HWN dibatasi oleh aturan negara yang menaunginya. Sementara HAM berlaku sama untuk setiap manusia di bumi, HWN dapat berbeda antar satu negara dengan negara lainnya.

Namun dibalik perbedaan tersebut terdapat pula persamaan antara HAM dengan HWN seperti hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk mendapatkan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan HAM dan HWN, istilah ‘Keindonesiaan’ mencuat ketika orang-orang ramai memperbincangkan sampul warna paspor yang dimiliki. Memahami keindonesiaan seolah-olah dipandang hanya mereka yang benar-benar cinta Indonesia dari kepemilikan warna paspor.

Realitas Indonesia dan keindonesiaan memang perlu pembacaan dan analisis yang multiperspektif, yang tidak mudah dipahami secara sederhana dan linier.

Follow us ruanita.indonesia

Oleh karena itu, pandangan integratif memahami keindonesiaan dirasakan penting untuk warga Indonesia di mancanegara melalui forum Diskusi Online yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada hari Sabtu 10 Desember 2022.

Diskusi Online ini diadakan atas inisiatif warga Indonesia yang tergabung dalam RUANITA (Rumah Aman Kita) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo, Norwegia. Untuk mengawali dialog, Prof. DR. Todung Mulya Lubis selaku Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia akan memantik diskusi apakah kewarganegaraan tersebut merupakan pilihan hak asasi manusia.

Selanjutnya dalam diskusi online, perspektif lintas batas akan disampaikan oleh Novi, seorang ex WNI yang tinggal di Norwegia tentang pengalaman nasionalisme yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Narasumber selanjutnya adalah Ita Fadia Nadia yang berbicara perjuangan perempuan penyintas tragedi 1965 dan Yantri Dewi yang akan mempertegas pilihan kewarganegaraan bagi perempuan pelaku kawin campur. Diskusi Online juga ditutup oleh pemaparan Amiruddin, Komisioner Komnas HAM RI yang berbicara tentang kewarganegaraan dan hak asasi manusia.

Diskusi online ‘Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif HAM’ akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 pukul 10.00 CET/16.00 WIB melalui aplikasi Zoom dan dibuka untuk umum. Selain itu, diskusi online ini menjadi penutup rangkaian peringatan kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.

RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di mancanegara yang bertujuan untuk mempromosikan psikoedukasi, kesetaraan gender dan berbagi praktik baik tinggal di luar negeri. Ruanita adalah wadah berbagi ilmu, pengalaman dan cerita serta praktik baik untuk tinggal di luar negeri serta mengangkat tema sosial, budaya dan psikologi yang mungkin tidak populer dalam narasi publik. Dalam pelayanannya, Ruanita menggunakan Bahasa Indonesia serta menjunjung tinggi nilai personalitas, solidaritas, dan subsidiaritas.

Informasi: Retno Aini Wijayanti (info@ruanita.com)

Rekaman acara bisa disaksikan sebagai berikut:

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Turki

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Turki

2. Kutipan favorit

Perempuan harus punya prinsip dalam situasi apa pun.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Secara fisik, aku tidak mengalaminya tetapi mantan suamiku memakiku dengan kata-kata kasar seperti: Stupid, Bodoh. Setiap aku bertengkar dengan dia, dia selalu mengusirku dan tinggalkan rumah. Dia berkata: “I don’t wanna see you anymore.” 

Pria Turki ini ingin aku sebagai perempuan tunduk, apalagi kalau kita bertengkar. Dia sering mengomel padaku dan itu membuatku marah. Karena sering diusir keluar rumah, aku pun tak kembali ke rumah pada saat jam 11 malam. Secara kebetulan, aku tak bawa kunci rumah. 

Apa yang membuatku sakit hati, dia berucap bahwa dia tidak ingin melihat aku di rumah. Sejak itu, dia mengirimkan surat dan barang-barangku yang ada di rumah dia ke tempat penampungan sementaraku. Hal yang membuatku sakit hati, dia melempar barang-barangku keluar dari taksi dan meludahi aku.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya sadar bahwa rumah tangga itu mengalami problem pasang surut, tetapi saya tidak terima dengan kata-kata kasar. Saya sudah bersikap toleransi dengan sikap dia.

Saya putuskan untuk keluar dari situasi kekerasan karena dia tidak bisa memenuhi kebutuhan agama yang kuminta darinya, dia tidak mampu menafkahi saya, dan tidak memberikan saya kebebasan.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya tidak memiliki trauma sih hanya saya bersikap hati-hati untuk membangun relasi baru. Saya menganggap semua laki-laki sama saja, tetapi saya tidak ingin terlibat dalam hubungan serius.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

*Pastikan dulu keluarga pasangan hidup seperti apa latar belakangnya yang membesarkan.

*Siap dengan perbedaan kultur yang berbeda misal: perempuan berkarir harus siap menghadapi konsekuensinya setelah menikah.

*Belajar mencintai diri sendiri.