Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Penulis: Admin RUANITA - Rumah Aman Kita
"Rumah" orang Indonesia di luar Indonesia di mana kita bisa berdiskusi & berbagi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik dalam konteks Transnational Cultural Psychological.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: India
2. Kutipan favorit
Kutipan ini saya tujukan untuk para suami, terutama yang berkewarganegaraan asing. Hargailah perempuan Indonesia yang menjadi pasanganmu. Dia sudah rela meninggalkan keluarganya demi membangun hidup bersamamu di negara yang asing. Hargai, sayangi, dan hormatilah pasanganmu.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Saat itu sepertinya rasa takut yang nyata selalu mengikuti saya, bahkan ketika tidak adanya ancaman terhadap nyawa saya. Belum pernah sepertinya saya mengalami rasa takut yang sedemikiannya mengontrol diri saya. Psikis saya benar-benar terganggu. Bahkan saya berbicara pun tidak mampu.
Perlakuan dan perkataan yang terucap dari mertua, suami, dan ipar sangat menyakitkan dan menekan emosi saya. Suami abai terhadap tanggung jawabnya dan menelantarkan saya yang semakin merasa terasing di negeri asing. Pun tidak ada teman berbagi duka.
Dalam keadaan tertekan dan ketakutan seorang kenalan keluarga suami memperkosa saya. Ancaman dari si pemerkosa membuat hidup terasa semakin hancur dan psikis saya semakin terganggu. Saya linglung. Saya semakin ketakutan. Semakin tidak berani untuk bicara kepada siapapun, termasuk keluarga. Rasa malu yang teramat sangat telah membuat saya lumpuh secara mental.
Kekerasan psikis yang saya alami ini memberikan trauma dan efek mendalam pada saya bahkan setelah saya keluar dari duka ini.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya bertemu dengan suami yang kedua di saat saya ada di titik terendah. Saya diusir oleh mantan suami dan mengalami perkosaan. Suami kedua sayalah yang menyadarkan saya untuk keluar dari pernikahan yang sudah sama sekali tidak sehat ini. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekalian memulihkan jiwa saya.
Setelah setahun di Indonesia, saya kembali ke India untuk menemui dua buah hati saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Yang terpikirkan oleh saya adalah saya harus keluar dari duka panjang ini. Salah satunya saya lakukan demi anak-anak. Adalah hak mereka untuk mempunyai ibu yang sehat secara mental. Sehat secara mental tentunya akan membuat saya lebih baik dalam mengekspresikan rasa sayang dan cinta kepada dua buah hati saya walaupun kami tidak bersama.
Kata cerai yang sebelumnya tabu, akhirnya menjadi jalan keluar dari hubungan yang tidak sehat ini.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.
Walaupun mungkin mental saya belum sepenuhnya pulih, paling tidak sekarang saya bisa menikmati hidup dengan rasa yang aman. Rasa aman ini memudahkan saya untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Jangan pernah malu untuk berbicara masalah yang sedang kita hadapi kepada orang yang kita percaya dan aman untuk berbagi. Perlu untuk menyimpan nomor-nomor penting seperti kepolisian dan Kedutaan Besar Indonesia maupun Konsulat Jendral Indonesia.
Laporkan segera kekerasan yang kita alami kepada polisi setempat maupun perwakilan Indonesia di wilayah kita. Selain itu, kita juga bisa meminta bantuan LSM ataupun komunitas-komunitas Indonesia yang ada di negara tempat kita tinggal.
“Bagaimana menerima kasus dan tidak menghakimi korban di masa mendatang melalui kebijakan terintegrasi?” kata Chris Poerba sebaga narasumber IG Live Episode November 2022 yang mengambil tema: kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM).
Program IG Live adalah salah satu program RUANITA yang diselenggarakan tiap bulan dengan tema-tema menarik dan mengundang tamu yang bercerita menurut pengetahuan, pengalaman dan pengamatan.
Pada Episode November 2022 IG Live dipandu oleh Fransisca Sax, volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.
Program IG Live ini menjadi bagian dari kampanye 16 hari peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.
Untuk mendalami tema ini, kami mengundang Chris Poerba, peneliti dan penulis buku bertema gender dan HAM. Chris Poerba juga pernah bekerja sebagai Badan Pekerja Purnabakti Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (2012-2021) dan sekarang bekerja sebagai konsultan peneliti di Komnas HAM Indonesia.
Fransisca menjelaskan latar belakang tema IG Live episode November 2022 adalah bagian dari rangkaian kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA yang disebut program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamu) yang kini memasuki tahun kedua. Tahun lalu RUANITA menggelar kampanye SURAT TERBUKA yang menyuarakan keprihatian akan maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan.
Mengingat kendala teknis yang dialami Fransisca di Jerman dan Chris Poerba di Indonesia, mohon agar penonton dapat memahami bagaimana kami telah berupaya maksimal dalam menyelenggarakan program IG Live tiap bulannya.
Kekerasan terhadap perempuan adalah termasuk bagian dari kekerasan terhadap hak asasi manusia. Ada kekerasan yang terjadi pada perempuan dan itu belum tentu dialami oleh para pria sehingga itu membuat penderitaan tersendiri bagi perempuan yang menjadi kelompok rentan. Hal ini pun sudah tercantum dalam Konvensi Internasional menjadi bagian dari Kekerasan Berbasis Gender.
Sebagai pekerja kemanusiaan, Chris Poerba tentu punya motivasi tersendiri karena telah bergelut lebih dari 10 tahun dalam isu yang sama. Chris menilai selama ini masih banyak orang rancu antara pendapat gender dan kodrat, padahal relasi perempuan dan laki-laki adalah sama. Chris mengaku ini tak mudah untuk meyakini paradigma berpikir seperti ini dalam masyarakat terutama yang masih mendominasi oleh paham patriaki.
Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan masih mengalami kekerasan dan dalam 10 tahun belum ada penurunan angka yang signifikan. Mengapa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sulit diproses secara hukum?
Kekerasan terhadap perempuan ini masih terlihat seperti gunung es di mana ada banyak hal yang memengaruhi seperti korban tidak percaya satu sama lain, stigma sosial masyarakat, diskriminasi dan selama ini penanganannya memang masih hanya ada permukaan. Penanganannya menurut Chris perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Lebih jelas tentang program IG Live, bisa disaksikan rekamannya dalam saluran YouTube kami berikut:
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi: Italia
2. Kutipan favorit
When you learn how much you’re worth, you’ll stop giving people discounts.
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Ketika berpacaran dengan warga asing, saya sempat beradu argumen dan dia menjambak rambut saya dan menyeret saya ke depan cermin di kamar mandi sambil bilang: “Vedi la puttana?!” —”Lihat pelacur itu (di cermin)?!”
Saat itu juga, saya memutuskan untuk meninggalkan dia. Namun, dia terus menerus men-stalking saya, ke kampus, ke tempat kerja, sampai saya harus pindah apartemen.
Teman saya (sekarang menjadi suami saya) akhirnya menghubungi polisi setempat dan pihak polisi memberinya teguran. Sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya beruntung tumbuh dalam keluarga yang harmonis, sehingga saya langsung sadar bahwa saya harus keluar secepatnya dari situasi tersebut. Saya juga memiliki teman yang membantu & menyadarkan saya untuk mencari pertolongan (pihak kepolisian Italia).
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Awalnya tidak mudah. Setiap saya melihat lelaki berperawakan tinggi, berambut cepak maka jantung saya langsung berdebar cepat. Saya takut kalau-kalau itu mantan saya yang masih menguntit/men-stalking saya. Namun, pelan-pelan seiring berjalannya waktu, perasaan takut saya pun hilang dan kepercayaan diri saya kembali lagi. Saya perlu waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif agar tidak terus menerus hidup dalam ketakutan.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Trust your gut, know your worth. And don’t be afraid to look for a help.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi :Qatar
2. Kutipan favorit
Stop kekerasan pada perempuan karena cinta tak seharusnya menyakiti!
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Rasanya menjadi korban kekerasan? Bagi saya tentu sangat menyakitkan dan penuh trauma. Lima tahun bertahan dalam keadaan yang sulit, bahkan sudah tujuh tahun lepas dari keadaan yang menyakitkan itu tetapi saya masih merasakan sakitnya di hati. Saya masih mengingat kenangan itu bagaimana terjadi.
Sakit di raga bisa diobati tanpa menyebabkan bekas tetapi tidak dengan rasa sakit di hati karena kenangan masa lalu yang menyakitkan. Hari ini, dan seterusnya, bahkan sampai akhir hayat pun saya masih merasa sakit. Trauma itu masih ada meskipun saya menemukan pengganti yang lebih baik.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Masa-masa lima tahun saya bertahan dalam keadaan sulit itu. Saya berpikir, entah ini cinta atau bodoh. Saya pun sudah tidak tahu lagi.
Saya hanya berharap waktu itu lelaki yang saya cintai mau berusaha untuk berubah dan tidak mengulanginya. Dengan umur yang masih muda saat itu, saya benar-benar sangat tenggelam dalam cinta sampai rasa sakit pun bisa saya tekan sendiri. Saya tidak bercerita ke orang lain bahkan kepada orang tua saya sekalipun.
Di saat bekas-bekas kekerasan itu masih ada, saya berusaha untuk tersenyum dan hanya mengatakan “ini terjatuh”.
Namun, saya katakan kepada diri saya. Setelah lima tahun dan semakin bertambahnya umur, saya menjalani hari-hari yang sulit. Saya berkata: “Saya harus keluar dari keadaan seperti ini. Ini tidak bisa berlanjut. Ini bukan cinta!”
Cinta itu bukan menyakiti, melainkan cinta harus saling mengasihi. Cinta itu tidak begini, TIDAK.
Seseorang yang mencintai kita itu, seharusnya membuat kita bahagia. Bukan justru sebaliknya.
Setelah saya katakan itu terus berulang kali dalam setahun penuh, saya berpikir dan terus berpikir maka saya putuskan untuk bercerita kepada orang tua. Saya ceritakan tentang apa yang sudah terjadi. Merekalah orang yang bisa membantu saya untuk keluar dari keadaan sulit ini.
Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi saya dan menampung saya bahkan mendukung saya dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tanpa orang tua yang membantu saya saat itu, mungkin saya sudah tidak kuat lagi di dunia ini.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Cara mengatasinya saat itu, orang tua saya menyarankan untuk menyibukkan diri dengan bekerja lagi. Setelah kekerasan itu, saya depresi empat bulan. Saya hanya tidur, makan, dan mandi. Saya tidak memiliki semangat hidup.
Namun, orang tua saya selalu menyarankan agar menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya memohon ampun atas kesalahan dan bercerita di atas sajadah. Orang tua saya kemudian mencarikan pekerjaan untuk saya agar saya jauh dari mantan saya.
Orang tua saya diteror. Mantan saya menjelek-jelekkan saya di hadapan orangtua saya.
Orang tua saya selalu bilang “Kami akan selalu percaya denganmu nak. Carilah kehidupan baru yang lebih baik! Kami orang tuamu akan selalu mendukungmu di sini. Sibukkan dirimu dengan hal positif, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mulai dengan kehidupan barumu seperti dulu kala (saat tanpa dia).
Itu memang benar. Setelah saya menyibukkan diri saya dengan pekerjaan, saya lebih bersemangat dan bertemu dengan orang-orang baru yang positif. Ini membuat diri saya menjadi orang yang positif kembali, penuh senyum, penuh tawa dan tidak lagi terasa sakit di dada.
Saya berterima kasih kepada orang tua saya dan saudara saya. Mereka telah membuat saya bisa “kembali hidup”. Bahkan saya kini sudah memiliki putri yang cantik dengan suami saya yang sekarang.
Saya tidak menyangka bahwa saya bisa menikah kembali. Saya membutuhkan beberapa tahun untuk menerima suami saya saat itu. Saya butuh waktu lama untuk “percaya kepada laki-laki kembali”.
Setelah saya keluar dari masa sulit, saya bahkan tidak berkeinginan menikah kembali. Saya bersyukur karena orang tua saya juga tidak pernah memaksakan saya untuk menikah kembali. Sampai saat ini, saya masih mengingat apa yang terjadi “saat itu”, entah kapan bisa terhapus oleh waktu.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Berani untuk keluar dari laki-laki yang hanya bisa menyakiti baik itu secara fisik, verbal, seksual, maupun psikis non verbal. Lelaki yang baik tidak akan pernah bisa melihat perempuan yang dicintainya menangis karena dirinya. Ceritakan hal hal tersebut kepada seseorang yang kalian percaya sehingga mereka bisa mencarikan jalan keluarnya.
Jika berada di luar negeri, kalian bisa mendatangi KBRI/KJRI di lokasi negara kalian untuk mencari perlindungan. Untuk saya sendiri, saya dibelikan tiket oleh orang tua saya. Secara diam-diam, saya keluar dari rumah sehingga dia tidak bisa menahan saya. Jadi, dia tidak tahu kalau saya akan pergi darinya.
Saya tidak melaporkan dia. Saya berpikir saat itu adalah saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat. Saya segera keluar dari keadaan yang menyakitkan sebelum terlalu jauh menjalaninya. Kalian perempuan tangguh, kalian pasti bisa hidup mandiri, hidup baru, dan menemukan lelaki baru yang jauh lebih baik.
Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Jangan takut melangkah! Jangan takut hidup tanpa dirinya!
“Kita berhak bahagia”
Jangan pernah takut untuk melawan! Ingat, bahwa kalian tidak sendiri!
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi :Indonesia
2. Kutipan favorit
If we are to fight discrimination and injustice against women we must start from the home for if a woman cannot be safe in her own house then she cannot be expected to feel safe anywhere. (Aysha Taryam)
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Saya mengalami kekerasan fisik dari mantan suami selama enam belas tahun pernikahan. Dia memukul, menendang, dan menjambak serta membentur-benturkan kepala saya ke tembok hanya karena hal sepele. Misalnya, saya meminta untuk tidak keluar malam. Setiap malam, dia pulang pagi, Dugem di diskotik, mabuk, dan main perempuan.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Saya memutuskan berhenti menjadi korban penyiksaan lahir batin karena saya ingin menyelamatkan jiwa anak-anak saya, yang berpotensi toxic karena hidup di dalam rumah tangga yang tidak sehat.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Saya tidak memberi ruang untuk kesedihan karena saya harus bekerja dan menghidupi, dan menyekolahkan 3 anak. Mereka adalah dua anak yang sudah remaja saat itu dan satu balita. Intinya adalah saya mengalihkan pikiran ke hal-hal yang produktif. Senantiasa saya mendoktrin diri sendiri bahwa saya tidak lemah.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Pesan saya, jika suami mulai melakukan kekerasan maka kita lawan. Ini tidak berarti dilakukan secara fisik saja tetapi kita tunjukkan bahwa kita tidak bisa menerima perlakuan tersebut.
Jangan malu meminta pertolongan!
Jangan bertahan untuk alasan-alasan emosional! Kalau kita mengharapkan pelaku berubah adalah hal yang hampir mustahil.
Jangan menganggap bahwa Anda tidak mampu hidup tanpa dia! Keselamatan tubuh dan jiwa Anda adalah yang utama.
Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.
1. Lokasi : Swedia
2. Kutipan favorit
Saat Anda menemukan keberanian untuk meninggalkan apa yang tidak dapat Anda ubah, itu akan menjadi saat yang paling membahagiakan dalam hidup Anda.
”You are worthy of love not abuses!”
3. Pengalaman menjadi korban kekerasan
Traumatis. Selama hampir 5 tahun dalam toxic relationship, saya disiksa secara mental, itu membuat saya menjadi orang yang berbeda. Saya selalu merasa bersalah, takut, tertekan, sangat tidak bahagia, tidak dihargai, tidak dicintai, dan tersiksa. Itu semua memakanku perlahan-lahan.
4. Memutuskan bertahan/keluar dari situasi
Setelah banyak berpikir, saya membuat keputusan untuk keluar dari situasi. Bahwa saya ingin bahagia, saya ingin bebas tanpa tekanan, saya ingin dicintai, saya layak mendapatkan cinta, dan dihargai. Saya tak ingin dilukai dan dikhianati lagi. Saya ingin tenang dan aman tanpa khawatir. Saya tidak ingin diam lagi dan menerima kekerasan ini lebih lama. Saya tidak ingin babak belur secara mental, apalagi fisik. Jangan mengikuti aliran “cinta adalah pengorbanan”!
Itu akan membuat hidup dalam stigma sosial seperti istri harus patuh, cerai bukan jalan keluar, cerai adalah tabu untuk wanita, janda adalah aib dan seterusnya.
5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan
Mencoba hidup dengan rasa sakit dan trauma. Saya merangkul, menerima, dan berdamai dengan rasa sakit dan trauma. Sekarang ini menjadi bagian dari diriku. Saya fokus kepada hal hal yang positif. Saya melakukan sesuatu yang berguna atau impikan, seperti bekerja, mendekatkan diri dengan keluarga dan teman teman, melakukan hobby (memasak, berkebun, mempunyai hewan peliharaan, atau traveling). Intinya kita mencintai diri, self-care, dan perbaikan diri untuk membangun kepercayaan diri lagi.
6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri
Kita perlu mengakhiri siklus pelecehan. Kebanyakan pelaku tidak akan mengubah perilaku kekerasan mereka. Seorang korban harus sadar dan mengakhiri hubungan untuk menghentikan siklus. Seorang korban dapat mengembangkan rencana keselamatan dengan orang yang dicintai, terapis, atau advokat yang terpercaya untuk memulai proses keluar dengan mulai berbicara dan mencari pertolongan.
Beranikan diri, speak up, jangan diam! Mulailah bertanya dan mencari bantuan atau berkonsultasi. Jangkau, tanyakan, dapatkan saran, dan solusi dari ahli atau seseorang yang Anda percayai, keluarga, atau sahabat.
Tetap positif! Saya percaya bahwa Anda dapat membuat keputusan yang tepat. Berdoa agar kita lebih dekat dengan Tuhan.
Cerita Sahabat Spesial episode November 2022 mengangkat tema berkaitan dengan peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh tiap 25 November.
Berkaitan dengan hal tersebut, Sahabat RUANITA yang tinggal di Italia, Amel begitu dia disapa bersedia untuk membagikan pengalaman buruknya saat masih pertama kali menjejakkan kaki di Italia.
Amel berharap cerita yang dibagikannya ini memberi inspirasi banyak perempuan-perempuan Indonesia untuk melindungi diri terutama mereka yang tinggal di negeri perantauan.
Kejadian yang dialami Amel bermula saat dia berkenalan dengan pria berkewarganegaraan asing di Italia. Dia berkeyakinan memiliki kesamaan seperti latar belakang agama membantu Amel untuk tidak sendirian di negeri asing.
Rupanya relasi yang dijalankan Amel dengan pria asing ini tidak berjalan semestinya. Amel mulai merasakan perbedaan-perbedaan apalagi keduanya berlatarbelakang budaya yang berbeda.
Ketika Amel memutuskan mengakhiri hubungannya dengan dia, mantan kekasihnya ini tidak terima. Dia kemudian mulai menguntit atau Stalking ke mana pun Amel pergi.
Amel merasa tidak nyaman karena pria ini kerap berada di area tempat tinggal dan kampusnya. Bahkan mantan kekasihnya ini menguntit Amel saat Amel sedang melakukan praktik kerja di luar kota, yang membutuhkan kereta dan perjalanan jauh.
Amel hampir kewalahan dan memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia. Beruntunglah dia mendapatkan dukungan dari temannya, yang kini dia adalah suami Amel.
Penyelesaian menguntit tidak hanya diselesaikan secara kekeluargaan saja, tetapi perlu tindakan hukum bila kondisi korban frustrasi dan menyebabkan trauma.
Di Eropa menguntit termasuk perilaku kejahatan dan mendapatkan sanksi hukum.
Menguntit bukanlah bentuk kasih sayang karena menguntit atau Stalking adalah salah satu bentuk ancaman kekerasan yang menyiksa emosional korban. Korban juga berhak mendapatkan pendampingan psikologis.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Lebih jauh tentang cerita Amel, bisa disaksikan di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Subscribe saluran YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih lagi…
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.
Fadni yang tinggal di Berlin, Jerman pernah merasakan getirnya kenaikan harga sewa flat karena setiap tahun selalu ada kenaikan.
Fadni bercerita bahwa per September 2022 harus menghemat energi sehingga harus menjadi perhatian semua penyewa gedung, termasuk musim dingin ini adalah bagaimana kita memakai penghangat ruangan.
Kiat Nadia dan Fadni juga bisa diterapkan untuk mahasiswa yang tinggal di negeri empat musim. Dampak kenaikan harga pangan dan listrik juga mempengaruhi gaya hidup seperti sembako, penggunaan sepeda atau penggunaan barang-barang elektronik di rumah.
Pengaruh harga listrik telah berdampak pada kehidupan sehari-hari para mahasiswa yang ada di benua biru seperti Jerman.
Perilaku berhemat tidak hanya menguntungkan kocek sendiri melainkan juga gaya hidup sebagian besar orang-orang Jerman yang sudah mulai mengikat ikat pinggang.
Bagaimana celoteh Nadia dan Fadni tentang dampak inflasi terhadap kehidupan mereka? Bagaimana kiat-kiat mereka mengatasi tantangan hidup berhemat di tengah musim dingin?
Omong-omong tentang kepribadian, kurasa milikku telah berubah secara drastis. Dulunya, aku adalah seorang anak yang ekstrovert. Bahkan bisa dibilang aku tidak bisa hidup tanpa orang lain, saat tidur pun tidak bisa sendiri.
Saat SMP, aku kenal semua anak di sekolahku, dan banyak juga yang mengenalku. Tidak jarang aku disapa anak sekolahku di jalanan. Temanku sangat banyak dan aku juga aktif di beberapa grup chat sekolah, sehingga membuatku sangat eksis di sekolahan.
Saking ekstrovertnya, aku merasa aku terlalu bergantung dengan kehadiran orang lain, sehingga aku cenderung manja dan tidak bisa sendiri karena aku merasa sangat takut ketika sendirian. Sifat ini berlangsung sampai aku SMA kelas satu.
Namun, ketika aku naik ke kelas dua, kepribadianku berubah drastis secara tiba-tiba.
Sepertinya penting untuk mengetahui latar belakangku yang mungkin bisa menjelaskan kepribadian super-ekstrovertku yang dulu.
Ibuku sangat ekstrovert dan memiliki banyak teman yang seumuran denganku. Kebalikan dengan Ibu, Ayah sangat introvert dan hanya berhubungan dekat dengan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan beliau.
Kedua orangtuaku sangat religius, sehingga sejak aku TK hingga SMP aku selalu dimasukkan ke sekolah swasta religius. Di kota kelahiranku pada saat itu, sekolah religius sangat jarang, maka lingkungan pergaulanku kebanyakan itu-itu saja. Karena ibuku sangat aktif di lingkungan sosial, maka pergaulanku pun luas meskipun masih dalam lingkupan pergaulan religius.
Saat aku SD, kebanyakan teman TK-ku juga memasuki sekolah yang sama. Di sekolahku, kelas kami tidak di-rotasi, jadi teman sekelasku adalah teman yang sama selama enam tahun. Begitupun saat SMP. Dan, karena sekolah swasta yang saat itu tidak terlalu besar, jumlah murid per kelas hanya kurang dari tiga puluh anak.
Hanya ada empat kelas dalam satu angkatan. Bisa dibilang, pergaulan kami luas dalam artian kami mengenal semua anak di sekolah, tapi tentu tidak bisa dibandingkan dengan jumlah siswa di sekolah negeri. Tidak heran, tumbuh di lingkungan seperti ini membuatku agak takut dengan stranger dan pertemanan yang “sementara.”
Namun saat itu ketakutanku akan stranger tidak separah sekarang.
SMA adalah saat pertama aku keluar dari lingkupan pergaulan yang itu-itu saja. Kelas sepuluh, aku beruntung karena mendapat teman sekelas yang asyik dan akrab.
Akupun memutuskan untuk bergabung dengan OSIS. Memasuki kelas sebelas, aku harus absen di seminggu pertama tahun ajaran baru karena harus mengurusi MOS. Tiba-tiba, aku terkena panic attack saat menyadari aku kehilangan waktu seminggu pertama (yang biasanya krusial untuk mendapat teman baru di kelas) karena urusan MOS.
Mulai dari itu, kepribadianku perlahan berubah dari sangat ekstrovert dan sosial menjadi introvert dan penyendiri. Sifat itu terbawa sampai aku pindah ke Jerman dan menjadi sangat parah setelah aku menjalani S1 di Jerman.
Dari seorang gadis yang punya puluhan teman, aku menjadi seseorang yang hanya punya satu-dua teman pada saat itu. Kesehatan mentalku memburuk karena stress dan trauma, sehingga masa-masa S1 adalah salah satu masa paling buruk dalam hidupku.
Untungnya, aku masih memiliki kemampuan sosial di online, jadi dalam waktu itu kebanyakan aku hanya bertumpu dengan hubungan sosial secara virtual. Setelah menikah, untungnya social anxiety ku berkurang dan aku bisa berteman lagi, meskipun tidak seperti dulu.
Dan aku masih beruntung saat ini karena teman-temanku yang tersisa, meskipun sedikit jumlahnya, adalah teman-teman ride or die. Meskipun kami sudah terpisah-pisah kota, negara dan benua, tapi pertemanan kami masih sangat erat, sehingga aku tidak lagi merasa kesepian dan sendirian.
Cerita ini ditulis oleh Nadia tinggal di Jerman, atas pengalaman seorang teman
Episode Parentingtalk with RUANITA (=PELITA) pada bulan November 2022 ini mengambil tema tentang perkembangan bahasa anak, terutama anak-anak yang lahir dan besar pada keluarga multiculture. Seperti biasa, Stephany yang menjadi Host dari program PELITA menjelaskan dengan baik dari keilmuan psikologi yang dipelajarinya dan pengalamannya sebagai ibu dari seorang anak laki-laki berusia 7 tahun.
Stephany awalnya bingung ketika anaknya lahir dengan bahasa yang beragam di mana Stephany saat itu tinggal di Belanda untuk menempuh pendidikan lanjutan S3 di salah satu universitas di sana. Stephany berbicara dengan anaknya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sementara ayah dari anaknya berbicara dengan Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, terkadang Bahasa Arab.
Berdasarkan pengalamannya tersebut, anak Stephany mengalami speech delay sehingga dia pun segera mencari tahu dan menanyakan keterlambatan bicara anaknya pada ahlinya. Terkadang kita begitu mempercayai pendapat budaya yang mengatakan bahwa speech delay pada anak-anak seusianya itu adalah hal yang umum padahal kita perlu mencari tahu penyebabnya.
Stephany menceritakan bahwa anaknya mengalami kebingungan untuk memformulasikan kalimat karena dia mendengar empat bahasa sekaligus. Tak jarang anaknya pun mengucapkan kata yang bercampur dan tidak konsisten pada 1 bahasa, misalnya: ini Auto, auto adalah mobil dalam Bahasa Belanda.
Stephany juga menceritakan metode one language one person di mana orang tua perlu konsisten untuk mengajarkan pada 1 bahasa yang benar-benar dikuasai saja pada anak. Orang tua juga perlu keseriusan dan komitmen untuk mengajarkan pada anak yang dibesarkan secara bilingual, termasuk bagaimana orang tua juga harus bisa menjadi role model bagi anak-anaknya.
Jika memang tidak ingin anak berbicara bahasa yang campur maka sebaiknya orang tua juga tidak berbicara hal yang sama. Orang tua juga perlu mengapresiasi setiap langkah kecil dari perkembangan anak seperti tidak memaksa anak apabila dia sudah merasa kelelahan dengan bahasa bilingual yang dipelajarinya.
Penjelasan Stephany dengan bahasa sederhana dari keilmuan dan pengalamannya membuat program PELITA kerap dinantikan oleh sahabat RUANITA yang mencari tahu lebih banyak tentang tema pengasuhan di mancanegara. Kalau ada saran/pertanyaan, silakan kirim ke info@ruanita.com.
PELITA Episode 7 dapat disimak sebagai berikut:
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.
Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Mungkin sahabat Ruanita sudah mengenal saya dari cerita “OCD bukan sekedar bolak-balik cuci tangan dan cek pintu“ yang saya tulis beberapa waktu lalu. Di tulisan tersebut saya menyebutkan, sebelum mendapatkan diagnosa OCD (Obsessive Compulsive Disorder) saya juga didiagnosis gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder) atau bisa juga disebut dengan fobia sosial. Cukup mengejutkan untuk saya karena saya punya banyak teman, namun di sisi lain, saya juga merasa lega. Ah, jadi selama ini saya menghindari kontak sosial karena alasan fobia sosial. Tapi apa itu fobia sosial? Apakah pemalu berarti fobia sosial?
Sesuai dengan namanya, orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial akan merasa cemas/khawatir/takut berlebihan untuk bertemu dengan orang lain, terutama orang asing. Sebenarnya ini hal yang biasa, ya, semua orang pernah mengalaminya saat bertemu orang yang tidak dikenal atau berada di lingkungan baru. Bedanya, ketakutan yang dimiliki orang dengan fobia sosial ini bisa mengganggu kegiatan sehari-hari, misalkan tidak bisa naik kendaraan umum atau pergi berbelanja ke supermarket, yang bagi banyak orang merupakan pekerjaan yang sangat mudah.
Orang dengan fobia sosial juga mungkin menghindari acara atau tempat tertentu. Saya hampir tidak pernah datang ke pesta ulang tahun orang lain, kalau tidak ada teman-teman dekat saya. Saya sempat tinggal di asrama mahasiswa di Hamburg selama lima tahun. Sering kali saya tidak jadi masak kalau ada teman asrama di dapur. Saya juga tidak pernah duduk di ruang tamu untuk mengobrol dengan teman-teman satu lantai, apa lagi ikut acara asrama dengan puluhan orang lainnya. Pada enam bulan pertama tinggal di sana saya pernah satu kali ikut acara movie night dan sarapan di minggu pagi, itu pun saya merasa salah tingkah dan cepat-cepat kembali ke kamar. Setelah itu saya tidak pernah lagi ikut acara apa pun. Bisa dibilang fobia sosial mempengaruhi kehidupan sosial saya di asrama.
Selain mempengaruhi kehidupan sehari-hari, fobia sosial bisa juga mengganggu karier, misalkan terus menunda mengirimkan lamaran pekerjaan karena takut membuat kesalahan saat menulis atau wawancara kerja. Orang lain mungkin akan bilang, tidak apa membuat kesalahan karena bagian dari belajar, tapi bagi orang tersebut tidak begitu dan lebih rumit. Atau di kantor yang sekarang tidak berkembang karena tidak berani mengambil kesempatan untuk naik jenjang.
Fobia sosial juga bisa mengganggu sekolah atau kuliah, contohnya menghindari mata kuliah tertentu atau presentasi. Ini pengalaman saya. Dulu waktu kuliah di Indonesia saya menghindar bertanya saat kuliah berlangsung. Saya lebih suka datang langsung ke dosennya saat kuliah selesai. Selama kuliah di Jerman lebih parah lagi, saya menghindari presentasi proyek. Untungnya saya sudah hafal siapa profesor yang mewajibkan presentasi dan siapa yang tidak. Sayangnya memang ada presentasi yang tidak bisa dihindari, salah satunya adalah Kolloquium (presentasi proposal tesis). Walau gugup, saya rasa presentasi saya waktu itu berjalan mulus, sampai salah satu rekan kuliah mengkritik bahasa Jerman saya. Kejam sekali engga, sih? Rasanya saat itu muka saya panas dan berubah merah.
Apa yang saya alami di atas adalah permasalahan klasik yang dialami oleh orang-orang dengan fobia sosial, walau sebenarnya cemas sebelum presentasi, wawancara kerja atau pun hal kecil seperti menelepon orang atau pergi ke pesta yang isinya orang asing adalah suatu hal yang wajar. Tidak wajar adalah jika kekhawatiran tersebut berlebihan sampai mengganggu kehidupan pribadi kita dan sudah berlangsung selama lebih dari enam bulan.
Saya beruntung sekali bisa ikut beragam kegiatan di psikiatri yang membantu saya mengatasi fobia sosial saya dan membantu mengurangi kecemasan saya secara umum. Saya ikut kelas penanggulangan kecemasan, di mana kami dijelaskan definisi kecemasan, lingkaran setan kecemasan, dan teknik relaksasi yang bisa dilakukan untuk menguranginya. Di luar kelas kami juga harus berlatih untuk mengatasi ketakutan kami. Kelas tersebut tidak dikhususkan untuk fobia sosial tapi untuk semua gangguan kecemasan, seperti gangguan kecemasan umum dan hipokondriasis (khawatir berlebih mempunyai penyakit serius).
Dari kelas tersebut saya juga tahu kalau ketakutan itu beragam macamnya. Ada pasien yang takut naik sepeda, ke supermarket, berpisah dengan pacar, naik lift, menyetir mobil, dan sebagainya. Kami dijelaskan bahwa kecemasan biasanya akan berakhir dengan sendirinya setelah 20 menit. Nah, kalau kita sering berlatih menghadapi situasi yang kita takuti, lama-lama kita akan terbiasa. Otak kita akan punya pengalaman baru yang tidak menyeramkan seperti pengalaman sebelumnya. Mungkin alasan saya takut bertanya di kelas adalah karena guru SD saya dulu pernah menyebut salah satu siswa ‘bodoh‘ hanya karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan beliau. Pengalaman buruk ini bisa digantikan dengan pengalaman baru, jika saya mencoba untuk bertanya di tengah-tengah jam pelajaran dan tidak terjadi apa-apa. Pengalaman baru ini yang akan membuat otak kita kembali percaya diri dan akhirnya tidak perlu cemas lagi saat dihadapi dengan situasi yang sama.
Kecemasan bisa datang dengan beragam reaksi tubuh, loh. Kita akan merasakan jantung berdebar, muka panas, keringat deras, tangan atau tubuh bergemetar, pusing, dan sebagainya saat merasa takut. Reaksi tubuh ini sangat normal karena memang tubuh kita sedang mempersiapkan diri untuk kabur atau bertarung (flight or fight). Karena itu ketakutan adalah hal yang normal dan tugas sebenarnya adalah memperingati orang akan bahaya. Sayangnya otak kita sering salah kasih peringatan hanya karena pengalaman buruk yang pernah kita alami sebelumnya. Dulu waktu masih kuliah saya sering merasa mual sebelum salah satu mata kuliah dimulai, baru sekarang ini saya mengerti kalau itu reaksi normal tubuh saya jika saya merasa takut. Karena sudah mengerti, saya sekarang tidak kaget kalau saya merasa mual sebelum keluar rumah. Saya tidak sakit, hanya merasa gugup.
Orang-orang dengan gangguan kecemasan sayangnya lebih sering memilih untuk melarikan diri. Memang dengan begitu tingkat kecemasan akan turut drastis, sayangnya ini hanya akan bersifat sementara. Saat kembali dihadapi dengan situasi yang sama, tingkat kecemasan akan kembali naik dan langsung turun lagi setelah melarikan diri. Begitu seterusnya seperti lingkaran setan. Untuk keluar dari lingkaran setan ini, kami diajarkan untuk tetap berada di situasi yang membuat kami takut dan “bertarung“. Melarikan diri atau menghindari situasi tersebut adalah hal tabu.
Bersama dengan terapis saya berdiskusi tentang pertarungan yang harus saya hadapi sebagai latihan. Setiap hari saya harus bertanya tentang waktu ke orang yang tidak saya kenal. Latihan ini sangat menantang menurut saya. Saat ini semua orang punya telepon genggam dan saya biasanya mengenakan jam tangan. Mereka bisa bilang saya aneh! Saya perlu waktu beberapa minggu untuk memulai latihan ini. Setiap selesai latihan saya harus menuliskan pengamatan pribadi tentang reaksi tubuh, pikiran-pikiran, perasaan, juga reaksi lawan bicara saya.
Awal-awal latihan saya boleh memilih orang yang menurut saya “mudah“, lalu naik tingkat ke yang lebih sulit. Saya memulai dari perempuan, lalu laki-laki, dan setelah itu ke petugas keamanan yang berbadan besar. Mereka semua ramah. Memang ada satu-dua orang yang memakai earphone sehingga awalnya tidak mendengar saya, tapi kemudian melepaskannya dan membantu saya. Ini ada di catatan saya sebagai bentuk pengalaman baru. Saya sering merasa diabaikan (bahkan oleh orang terdekat), tapi ternyata kenyataannya adalah mereka tidak sengaja mengabaikan saya karena memang tidak mendengar dan melihat saya. Oh iya, sama seperti saat latihan untuk mengatasi OCD, setelah latihan saya juga boleh menikmati reward saya.
Tidak hanya latihan bertanya tentang waktu, latihan saya juga meliputi memuji orang asing, bertanya tentang arah, saat di supermarket keluar dari antrean sebentar untuk mengambil barang yang “tertinggal“, membayar dengar uang receh, atau sekedar menyapa orang yang saya kenal jika tidak sengaja bertemu di tempat umum. Hal yang ini susah sekali loh untuk saya lakukan, biasanya saya kabur.
Ngomong-ngomong tentang strategi menghindar, ada dua strategi lain yang juga menjadi tema tabu bagi orang dengan gangguan kecemasan, yaitu Sicherheitsverhalten (safety behaviour) dan Rückversicherung (reinsurance). Safety behaviour adalah barang-barang yang kita bawa untuk mendistraksi kita dari ketakutan, misalkan jimat, headphone untuk mendengarkan musik, telepon genggam, atau mengonsumsi obat penenang dan alkohol (contohnya Raj dalam The Big Bang Theory yang tidak bisa berbicara dengan perempuan tanpa alkohol).
Safety behaviour saya adalah kertas catatan yang saya pegangang selama presentasi. Walau mungkin akhirnya saya tidak menyontek ke catatan tersebut, tapi saya bisa tenang jika membawanya. Nah ini tabu banget, karena saya sebenarnya harus bisa mengatasi ketakutan itu sendiri tanpa membawa barang apa pun. Atau saat pergi ke sebuah pesta saya akan mengajak teman saya agar ada yang selalu saya tempeli selama pesta berlangsung.
Sedangkan reinsurance adalah bertanya berulang kali ke orang lain (contohnya guru, atasan, orang tua, dokter) untuk mendengar bahwa situasi tersebut tidak berbahaya. Saya akan berkali-kali datang ke profesor atau bertanya ke teman-teman saya tentang tema yang akan saya presentasikan. Saya harus mendengar konfirmasi dari mereka, bahwa yang saya kerjakan sudah benar. Kalau tidak begitu saya akan merasa khawatir sekali apa yang saya kerjakan salah dan saya akan mempermalukan diri sendiri saat presentasi. Kalau ada teman atau keluarga kita sedang merasa stres atau cemas dan berkali-kali bertanya hal yang sama, sebenarnya mereka tanpa sadar sedang melakukan reinsurance. Niat kita membantu menenangkan mereka dengan terus-menerus memberikan jawaban yang mereka inginkan, tapi sebenarnya kita hanya membuat mereka lebih cemas lagi.
Saya juga sebenarnya sering curi-curi melakukan safety behaviour dan reinsurance ke orang terdekat. Saya sering minta antar suami saya untuk pergi ke tempat baru, misalkan ke laundry room di gedung kami. Karena tahu ketakutan saya, dia akhirnya pergi dengan saya, padahal sebenarnya dengan begitu saya tidak belajar untuk pergi ke tempat baru sendirian dan mengatasi ketakutan saya.
Kelas penanggulangan kecemasan di psikitari selalu dibuka dan ditutup dengan empat pertanyaan: apa yang tubuh rasakan, apa yang sedang kami pikirkan, bagaimana perasaan kami, dan tingkat stres kami. Hal ini dilakukan agar kami terbiasa mengenali diri sendiri, karena mengetahui reaksi tubuh, pikiran, dan perasaan-perasaan sangat penting untuk bisa keluar dari lingkaran setan kecemasan. Dengan mendeteksi tiga hal tersebut kita juga bisa mendeteksi dini stres kita, lalu berusaha untuk meredakannya, misalnya dengan teknik relaksasi, berdoa, olah raga atau tidur. Jika kita lakukan ini, maka stres kita akan menurun sebelum menjadi berlebihan. Berikut ini contoh-contoh pikiran-pikiran yang muncul saat kita merasa ketakutan, kira-kira kalian pernah mengalaminya juga, kah?
“Rasa saya akan mati“
“Malu sekali. Saya mau menghilang ditelan bumi“
“Jangan bikin kesalahan“
Tahukah kalian, bahwa orang dengan fobia sosial takut sekali membuat kesalahan dengan alasan malu dengan orang lain? Mereka juga sering kali merasa dilihati orang lain, merasa cara jalan atau berdirinya salah, berbicara dengan aksen yang lucu, ada yang menempel di mukanya, memiliki bau mulut atau tubuh, dan lainnya. Saya ingat waktu SD saya ikut tante saya ke rumah temannya. Dia menghidangkan sirup merah dingin yang sangat menggiurkan tapi tidak saya sentuh sama sekali. Mulanya saya malu untuk minum, lama-lama saya malu karena awalnya menolak untuk minum, “Malu dong kalau saya minum sekarang. Nanti mereka akan menggoda saya dengan bilang, ‚sekarang mau minum kok tadi enggak?‘ Ah tidak, lebih baik tidak minum sama sekali.“ Itu pikiran saya saat itu. Kejadian memalukan ini tidak pernah saya ceritakan ke siapa pun sampai saya didiagnosis fobia sosial.
Kejadian tersebut bisa menjadi gejala fobia sosial saya, bukan hanya sifat pemalu. Mereka memang mirip tapi berbeda. Pemalu adalah sifat dan sangat normal untuk timbul saat bertemu dengan orang baru, namun akan hilang jika sering bertemu dengan orang tersebut. Sedangkan orang dengan sosial fobia akan menghindari kontak sosial dan merasa takut untuk melakukan kesalahan yang bisa memalukan dirinya. Karena takut untuk membuat kesalahan ini, orang-orang dengan fobia sosial biasanya sudah sibuk membuat skenario sebelum datang ke suatu tempat. Fobia sosial juga timbul sejak dini, bisa jadi dari sebelum masuk masa puber. Selain itu seperti yang sudah saya tulis di awal, fobia sosial juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya.
Karena orang dengan fobia sosial biasanya kurang memiliki kompetensi sosial, saya dimasukkan ke dalam kelompok latihan kompetensi sosial. Kami diminta untuk membuat ulang situasi-situasi yang menurut kami sulit. Saya kesulitan untuk presentasi, karena itu latihan saya adalah presentasi. Trainer akan memvideokan saya yang sedang presentasi, lalu setelahnya peserta lain akan memberikan umpan balik tentang bahasa tubuh, isi presentasi, dan mimik juga gestur. Video tersebut akan kami tonton bersama di pertemuan berikutnya agar kami bisa lihat sendiri bagaimana performa kami.
Kali pertama saya presentasi, saya merasa stres saya di tingkat 7 dari 10, tapi trainer dan peserta lain berpendapat lain: saya terlihat gugup tapi masih normal. Ternyata benar, di video kegugupan saya tidak terlihat berlebihan. Selain presentasi, saya juga sempat berlatih dengan di situasi pesta ulang tahun dan mengajak mengobrol orang baru.Latihan awal dengan lawan yang ramah, latihan berikutnya dengan tingkat yang lebih sulit, yaitu orang yang lebih banyak ngomong daripada saya.
Trainer kami memberikan banyak tips praktis yang bisa kami aplikasikan. Saya belajar banyak di sana dan punya pengalaman baru tentang situasi-situasi tersebut. Oh iya, latihan-latihan ini benar berfungsi untuk saya di kehidupan nyata, lho. Beberapa bulan setelah keluar psikitari, ada orang asing (sepertinya sedang mabuk) memukul kepala saya saat saya sedang di pusat kota dengan teman. Beberapa tahun lalu kejadian yang sama terjadi dan saya hanya diam saja, tapi kali ini saya berteriak sangat kencang ke orang tersebut! Rasanya bangga sekali ke diri sendiri, bahkan pandangan orang-orang di sekitar saya tidak bikin saya gugup, namun lebih berani – kalau terjadi apa-apa dengan saya, mereka pasti akan membantu saya.
Sebenarnya saya masih mau bercerita tentang teknik relaksasi yang saya pelajari di psikiatri, tapi cerita saya sudah panjang sekali. Saya akan menuliskannya di blog pribadi saya, silakan mampir untuk membaca cerita-cerita saya lainnya, ya.
Kalau kalian melihat kesamaan dari cerita saya dan pengalaman kalian, tolong jangan diagnosis diri sendiri, ya. Pastikan untuk konsultasi ke psikolog atau dokter. Jangan takut juga jika kalian mendapatkan diagnosis ini. Sama seperti OCD, ada banyak terapi efektif untuk mengatasi gangguan kecemasan sosial dan kalian tidak sendirian.
Pada episode berikut dari RUMPITA – Rumpi bareng RUANITA – yang dibawakan oleh Nadia dan Fadni mengambil tema tentang bulan Oktober yang menjadi favorit mereka berdua.
Pasalnya keduanya merayakan hari ulang tahun di bulan ini. Mereka pun berdua menceritakan bagaimana awal mulanya mereka saling mengenal hingga mengetahui tanggal ulang tahun masing-masing.
Mungkinkah cerita pertemuan mereka yang tak sengaja di Jerman seperti kisah kalian yang juga tanpa sengaja sebenarnya sudah dekat, hanya saja tidak menyadarinya.
Bulan Oktober tidak hanya persoalan perayaan ulang tahun mereka saja, tetapi mereka juga menceritakan pengalaman mereka di musim gugur.
Musim gugur memiliki suka duka tersendiri bagi Nadia dan Fadni yang sudah lama tinggal di Jerman lebih dari 5 tahun.
Seperti Fadni, dia menceritakan bagaimana dia beradaptasi dengan suasana musim gugur yang kadang membuat musim angin dan cuaca yang tak menentu.
Suasana yang melow ini tentu membuat keduanya mengalami perubahan suasana hati.
Simak juga pengalaman Nadia dan Fadni yang berbagi tips makanan dan minuman yang biasa mereka nikmati di musim gugur.
Bagaimana kiat mereka berdua dalam menjalani hari-hari di musim gugur sebagai mahasiswa pascasarjana di Jerman? Atau bagaimana mereka mengatasi rasa rindu Indonesia saat berada di Jerman di musim gugur ini?
Ketika hendak memulai menulis artikel ini, saya mencoba mengingat-ingat kapan minat untuk membaca buku dalam diri ini pertama kali muncul. Ingatan yang kemudian membawa saya kembali ke masa kanak-kanak. Saya tidak ingat kapan pastinya saya mulai mempunyai ketertarikan terhadap buku.
Majalah Bobo adalah buku pertama dan majalah langganan pertama saya, seperti umumnya generasi yang lahir di awal tahun 1970an. Saya belum bisa membaca pada saat itu. Gambar-gambar yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari sebuah keluarga kelinci yang jenaka, petualangan Nirmala dan Oki, dan cerita ketidakberuntungan Paman Kikuk adalah karakter-karakter yang masih saya ingat selalu hadir di setiap edisi majalah Bobo.
Cerita-cerita yang dikemas secara komikal ini tentunya secara visual menarik bagi saya. Tetapi, karakter yang paling berkesan untuk saya sebagai anak-anak adalah karakter si Tongki Bebek yang ada di suplemen anak-anak dalam majalah Femina. Ketika saya mulai bisa membaca, saya selalu tidak sabar menunggu kiriman majalah Femina dari tante sebelah rumah. Ibu saya dan tante sebelah rumah saling bertukar majalah. Ibu saya berlangganan majalah Kartini, sedangkan tante sebelah rumah berlangganan majalah Femina.
Ketika saya memasuki sekolah dasar, saya tidak mau buku-buku tulis saya disampul kertas coklat. Saya meminta ibu saya untuk menyampul buku-buku tulis dengan halaman majalah Bobo yang dicabut mulai dari halaman tengahnya. Ternyata ukuran dua sisi halaman majalah pas sekali dengan ukuran buku tulis. Sampul buku tulis menjadi hiburan bagi saya ketika bosan di kelas. Sampul buku tulis juga yang membuat saya bisa belajar membaca dengan cara yang menyenangkan.
Seingat saya sejak sekolah menengah pertama sampul buku tulis saya beralih ke majalah Donal Bebek. Kebiasaan menyampul buku tulis dengan majalah Donal Bebek ini berlanjut sampai saya tamat sekolah menengah atas. Sepertinya minat membaca saya ini berawal dari sampul buku tulis.
Pada masa di sekolah dasar bahan-bahan bacaan saya mulai bervariasi dan didominasi oleh ensiklopedia sains dan buku-buku biografi para tokoh terkemuka dunia dan penemu di bidang sains. Saya juga ingat mempunyai satu set komik petualangan Tintin yang jumlahnya 24 buku, kalau tidak salah. Juga beberapa buku petualangan yang sangat populer pada masa itu seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan Pipit si Kaus Kaki Panjang.
Kami memang punya banyak buku di rumah. Walaupun demikian saya belum bisa menikmati dan memahami secara utuh buku-buku yang saya baca, terutama buku-buku sains dan ternyata saya tidak menyukai sains. Rasa senang selalu hadir jika saya bisa ikut terlibat dengan teman-teman dalam keseruan bercerita tentang petualangan Lima Sekawan, misalnya.
Kemampuan literasi saya mulai berkembang ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di masa inilah saya mengetahui bahwa saya menyukai sejarah dan cerita-cerita di masa lalu.
Membaca sejarah mengenai kerja paksa membangun jalan raya pos antara Anyer dan Panarukan di masa kolonial Belanda membuat rasa ingin tahu saya meningkat ketika kami sekeluarga berlibur ke Jawa Tengah dengan mobil menyusuri pantai utara Jawa. Saya banyak bertanya kepada Ayah yang mungkin juga bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak saya temukan jawabannya dalam buku-buku. Begitu juga ketika mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan. Akhirnya, saya bisa melihat dan mengerti apa yang diilustrasikan dan deskripsikan dalam buku.
Saya ingat saat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atas kami ditugaskan untuk membaca novel klasik Indonesia terbitan Balai Pustaka dan membuat ringkasan. Mungkin ini pertama kali saya berpikir kritis yang sesungguhnya. Membaca novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan membuat saya mempertanyakan budaya Minangkabau. Kedudukan perempuan yang dianggap lebih rendah dan nasib tragis yang selalu menghampiri perempuan dalam novel-novel tersebut berlawanan dengan apa yang selama ini saya ketahui.
Keluarga saya berasal dari Minangkabau dan selalu menekankan kedudukan perempuan yang dihormati sebagai Bundo Kanduang. Perempuan adalah penguasa Rumah Gadang. Minangkabau pusat edukasi dan politik tak terkecuali untuk perempuan di masa lalu, selain Jawa, yang melahirkan tokoh-tokoh utama pendiri bangsa ini. Rasa penasaran saya ini terjawab melalui buku juga yang menjelaskan bahwa elemen laki-laki juga hadir begitu kuat di dalam masyarakat matrilineal.
Setelah dewasa, genre buku-buku yang saya baca cukup beragam. Ada masa di mana saya suka sekali membaca novel-novel Harlequin, alias roman picisan. Ada masa juga di mana saya tertarik dengan novel-novel yang berlatar belakang sejarah, seperti Tetralogi Buru, The Nasty Girl, dan Memoirs of a Geisha. Beberapa waktu yang lalu saya membaca The Art of Seduction yang ditulis oleh Robert Greene. Buku ini menyinggung aspek-aspek psikologis mengenai relasi kuasa dari 9 tipe bujukan atau seduction.
Saya juga suka membaca buku-buku mengenai kesehatan mental yang dilihat dari perspektif fisiologi atau sistem biologi manusia seperti buku the Body Keeps the Score yang ditulis oleh Bessel van der Kolk dan When the Body says No oleh Gabor Mate. Benar-benar memberikan sudut pandang yang berbeda dengan buku-buku psikologi populer yang biasa saya baca. Karena spektrum buku yang saya baca cukup luas, saya tidak mempunyai buku maupun penulis favorit. Selalu ada hal-hal menarik yang saya temukan di setiap buku yang saya baca.
Ada pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Buku adalah sumber informasi. Melalui buku kita bisa mengetahui kejadian-kejadian di masa lampau, budaya-budaya yang ada di berbagai belahan dunia, kesehatan mental, sampai prediksi mengenai masa yang akan datang. Manfaat yang saya dapatkan dari membaca buku mungkin sama seperti yang sering dikemukakan orang-orang seperti melatih berpikir kritis, menambah pengetahuan di bidang tertentu, dan memperkaya kosa kata. Tetapi manfaat yang paling saya rasakan untuk diri saya sendiri adalah mempunyai sudut pandang yang baru dalam melihat suatu kejadian, seperti misalnya melihat trauma sebagai masalah fisiologi.
Manfaat membaca juga saya rasakan ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketika saya diminta untuk mengajar, banyak sekali contoh-contoh yang saya berikan berasal dari buku-buku yang pernah saya baca. Sehingga saya bisa memperkaya wawasan para mahasiswa. Atau ketika sekedar bercakap-cakap dengan teman saya bisa melempar topik pembicaraan dari hal-hal menarik yang pernah saya baca.
Untuk orang-orang yang punya hobi membaca, membaca mungkin bisa menjadi hal yang terapeutik. Membaca novel-novel Harlequin yang saya sebutkan di atas adalah salah satu cara saya mengatasi stress yang saya alami di masa yang lalu ketika masih berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan dan pekerjaan. Setidaknya, novel atau bahan bacaan dengan cerita yang ringan dan alur yang sederhana membantu sistem tubuh untuk mengendurkan kontraksi dalam badan ketika dilanda stress.
Membaca buku sebelum tidur, terutama ketika saya sulit tertidur, cukup membuat saya mengantuk. Saya teringat sebuah kutipan dari Virginia Woolf yang mengatakan, “Books are the mirrors of the soul” atau buku adalah cerminan jiwa. Dari kutipan ini bisa jadi adanya keterkaitan antara kebiasaan membaca dan kesehatan mental. Mental di sini bisa diartikan sebagai sebagai kemampuan berpikir atau yang terkait dengan kognisi. Dengan membuat kegiatan membaca sebagai suatu kebiasaan kita mengasah kognisi, mengasah kemampuan berpikir secara berkelanjutan sehingga kemungkinan terkena penyakit demensia atau menurunnya daya ingat dan daya pikir di masa tua bisa dihindari.
Sayangnya, disebutkan bahwa membaca bukanlah kebiasaan yang umum di Indonesia. Kemampuan literasi dan minat baca orang Indonesia termasuk rendah di dunia. Mungkin ini ada kaitannya dengan tradisi oral masyarakat Indonesia. Apalagi di era teknologi digital sekarang ini orang lebih memilih sumber informasi dalam bentuk visual dengan penjelasan singkat di platform media sosial. Ini merupakan suatu tantangan besar untuk menanamkan kebiasaan membaca.
Tentunya tidak ada yang salah dengan sumber informasi seperti ini. Tetapi untuk melatih berpikir kritis dan memahami permasalahan yang semakin kompleks diperlukan kemampuan literasi yang mumpuni terutama untuk generasi muda. Kemampuan literasi yang mumpuni sejauh pengamatan saya hanya bisa didapat melalui kegiatan membaca buku. Kalau membaca buku dirasa berat, mungkin kebiasaan membaca bisa dimulai dengan membaca blog yang menulis hal-hal yang kita sukai.
Rendahnya minat baca juga bisa dilihat dari kebiasaan dalam keluarga. Saya banyak menemui orang tua yang tidak suka membaca sehingga tidak bisa memberi contoh kepada anak-anaknya. Kognisi anak-anak belum berkembang sempurna sehingga mereka memaknai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan mencontoh. Walaupun di rumah banyak koleksi buku-buku bukan berarti pemilik rumah suka membaca.
Buku bukan hanya sebagai dekorasi. Jadi, memang diperlukan adanya kesadaran orang tua bahwa kebiasaan membaca berawal dari mereka. Orang tua mungkin bisa mengamati apa yang disukai oleh anak-anaknya dan membeli buku dengan tema yang disukai anak-anak tersebut. Mengajak anak ke toko buku dan membiarkan mereka memilih buku yang mereka sukai dan melakukan kegiatan membaca bersama-sama dengan anak-anak bisa juga dicoba sebagai awal menanamkan kebiasaan membaca.
Penulis: Dindia tinggal di Jabodetabek dan sedang studi di Jerman.
(NORWEGIA 23/10) Ketika anak-anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan baru lalu memutuskan untuk meninggalkan rumah tempat mereka tumbuh, ada semacam rasa ‘kedukaan’ yang umumnya dialami oleh orangtua. Bagaimana perasan dan pengalaman para orangtua ketika melepas anak-anak yang sudah dewasa? Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi perasaan sedih dan kesepian tersebut?
Dalam episode IG Live Oktober 2022 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema ’Empty Nest Syndrome: Kehidupan Setelah Anak Pergi’. Dipandu oleh Anna @anna_knobl, Ruanita turut mengundang Ibu Yeni @yenikirimang, seorang ibu yang tinggal di Jerman dan Ibu Elvita @fitrianielvita, seorang ibu yang tinggal di Indonesia.
Ibu Elvita memiliki tiga anak, salah satunya kini sedang melanjutkan studi di Munchen setelah kuliah di IAIN Surakarta. Sementara Ibu Yenni adalah seorang Ibu yang tinggal di Jerman dan memiliki dua laki-laki (23 & 24 tahun). Kedua anak lelakinya kini sudah menetap di kota Hamburg, sementara Ibu Yenni tinggal di sebuah kota yang berjarak sekitar 4 jam menyetir dari Hamburg. Ibu Yenni menuturkan ia dan anak-anaknya sering berkomunikasi lewat facetime, namun untuk dating mengunjungi hanya sekitar 1-2 kali setahun.
Ibu Yenni menuturkan bahwa saat pertama kali anaknya pindah kota untuk merantau, awalnya ia merasa kehilangan. Dari memasak saja sudah mengingatkannya akan perasaan sepi saat anak-anak meninggalkan rumah karena yang biasanya sehari-hari memasak banyak hidangan, tiba-tiba saja tidak banyak yang harus dimasak. Lalu saat malam menjenguk kamar anak-anak, kini telah kosong.
Padahal sebelumnya setiap malam ia selalu menjenguk anak-anak untuk mengucapkan selamat tidur. Namun menurut Ibu Yenni, kondisi kehilangan dan kesepian ini adalah bagian dari proses yang berulang karena mungkin dulu inilah yang dirasakan orangtua saat harus melepas kita untuk pindah merantau.
Menurut Ibu Elvita saat anak-anaknya masih kuliah di lain kota di Indonesia, mereka masih bisa berkunjung rumahnya lalu kembali pulang ke kos-kosan. Namun ketika anak-anak pergi merantau jauh rasanya pasti waswas, rindu dan kangen.
Saat perasan tersebut melanda, ia berusaha mencari jalan keluar dengan beraktivitas dan menyibukkan diri dengan bekerja sebagai konsultan. Ia juga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama suami. Ibu Elvita juga mengungkapkan bahwa awalnya sangat sulit sekali menemukan rumah dalam keadaan sepi tanpa anak-anak, yang bahkan masih terasa hingga kini, namun ini adalah kondisi yang memang harus dilalui.
Bagaimana pendapat Ibu Elvita dan Ibu Yenni tentang social support group untuk orangtua yang mengalami empty nest syndrome? Apakah ada cara khusus dalam mengatasi kesepian ketika anak-anak sudah tidak lagi tinggal di rumah?
Ibu Yenni mengungkapkan kalau anak-anaknya tahu saat ia sedang kangen. Dengan ia berkomentar ‘mama kangen’ saja, anak-anak pasti tahu. Ibu Yenni sendiri mempunyai grup teman arisan di Hamburg. Jadi kalau saat arisan di Hamburg, ia selalu punya misi untuk bertemu dengan anak-anaknya. Meski hanya sebentar dan harus menyamakan jadwalnya dengan jadwal anak-anaknya seperti membuat temu janji, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu.
Ibu Yenni menjelaskan bahwa ia mengerti bahwa anak-anak sudah punya kesibukan sendiri, jadi ialah yang harus menyempatkan duluan untuk menemui mereka. Ketika bertemu, anak-anaknya akan menjemput dan memasak, lalu makan bersama. Kalau mereka main bola, jika sempat ia akan ikut menonton. Jadi sampai anak dewasa, ada kebahagiaaan tersendiri saat masih bisa menonton dan bisa terlibat aktivitas mereka meski dari jauh.
Ibu Elvita mengakui bahwa dengan fasilitas teknologi, meski anaknya tinggal jauh tapi masih bisa berkomunikasi terus. Jadi ini harus selalu disyukuri. Sebelum kondisi pandemi, Ibu Elvita bisa mengunjungi anak-anaknya setidaknya setahun sekali, namun beberapa tahun terakhir belum bisa saling mengunjungi. Menurutnya yang terpenting adalah kita sebagai orangtua harus selalu ada untuk anak-anak, mau jauh maupun dekat dengan bantuan komunikasi digital.
Untuk komunitas social support group, menurut Ibu Yenni ia tidak punya komunitas khusus, tetapi ia memiliki teman-teman yang bisa curhat bareng seperti ‘Kenapa sih anak kita kalau mau ketemu harus izin partnernya?’.
Dan setelah curhat jadi menyadari bahwa sekarang harus legowo karena dulu ternyata kita seperti itu juga. Pada akhirnya harus disadari kalau semua hal adalah titipan, termasuk anak-anak. Lalu ia juga jadi menyibukkan diri dengan banyak membaca, karena ia suka sekali membaca.
Bagi Ibu Elvita, ia berusaha untuk tidak larut dalam perasaan tersebut. Ia kini banyak bekerja dengan masyarakat sehingga kini ia bisa lebih all out dan optimum dalam bekerja. Kini ia bekerja sebagai motivator dan konsultan. Lalu yang terpenting adalah bagaimana anak itu bahagia. Semua rasa rindu dan sedih jadi sirna saat mengetahui bahwa anak kita bahagia. Kebetulan Ibu Elvita juga punya punya komunitas Primordial sesama teman-teman usia sepuh yang sama-sama mengalami kondisi serupa.
Ibu Elvita bersama teman-teman komunitasnya suka jalan-jalan dan mengisi waktu bersama dan ini sangat membantu. Hal yang sama juga diiyakan oleh Ibu Yenni di mana ia selalu menyempatkan punya alibi untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Punya kesibukan yang menyenangkan sangatlah membantu dalam mengatasi kondisi empty nest ini.
Baik Ibu Yenni maupun Ibu Elvita mengiyakan bahwa kondisi empty nest ini paling berdampak pada para Ibu. Menurut Ibu Yenni, para bapak bisa jadi turut mengalami namun tidak memperlihatkan perasaan mereka. Mungkin ini karena para ibulah yang biasanya terlibat paling dekat dalam mengurusi anak-anak.
Jadi ketika anak-anak dewasa dan pergi meninggalkan rumah, rasanya mengejutkan sekali, seperti kehilangan dan bisa tiba-tiba menangis. Momen-momen kecil seperti ketika mendapati jumlah cucian tidak sebanyak biasanya, rumah yang biasanya berantakan namun sekarang rapi lebih lama tapi lebih sepi, serta tidak ada sesi sarapan bersama lagi bisa saja terasa menyedihkan.
Ada beberapa hal yang dapat disiapkan para orangtua yang anak-anaknya sebentar lagi akan meninggalkan rumah. Menurut Ibu Elvita, yang paling penting adalah restu dan support dari kita untuk anak-anak. Sebagai orangtua, kita lepas mereka dengan restu, support dan doa buat anak-anak. Pengorbanan yang sangat luar biasa setelah membesarkan anak adalah saat kita melepas anak ketika mereka dewasa. Lalu siapkan juga mental kita dan yakinkan diri bahwa anak-anak siap dan mereka bisa bertanggung jawab dengan pilihan mereka, seperti dulu waktu kita dilepas oleh orangtua kita.
Ibu Yenni pun berpesan untuk anak-anak bahwa yang pertama, tetaplah menjaga kontak dengan orangtua. Bagi orangtua, itu terasa sangat berharga sekali. Ia teringat bahwa dulu ia hanya bisa menulis surat ke orangtuanya sampi berlembar-lembar.
Sekarang saat sudah ada telepon dan videocall, lebih mudah saling menjaga kontak saat kangen dengan anak-anak. Sekadar menelepon sudah bahagia rasanya. Untuk anak-anak yang kuliah, fokuslah belajar dulu sampai menjadi berhasil.
Menurutnya juga, anak tidaklah pernah berhutang budi kepada orangtua. Adalah kewajiban orangtua untuk menghidupi dan membesarkan anak, namun ketika mereka dewasa, tidaklah ada kewajiban untuk ‘balas budi’ menghidupi orangtua di kemudian hari. Namun bagaimana kita sebagai anak menjaga kontak dengan orangtua adalah yang terpenting karena itulah yang diharapkan oleh orangtua.
Lebih lengkapnya, diskusi mengenai empty nest syndrome ini dapat disaksikan pada tautan berikut:
Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)
Dalam rangka memperingati Hari Internasional Melawan Kanker Payudara yang jatuh tiap 19 Oktober, RUANITA mengundang sahabat spesial yang bernama Suci Lestari Sofyan yang sudah menetap di Italia sejak 2016.
Setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Italia, kehidupan Sofi, begitu ia biasa disapa, lebih lama tinggal di Cina daripada di Italia.
Pada 2015 saat Sofie berusia 34 tahun, dia didiagnosa kanker payudara yang sudah memasuki stadium 3B.
Tentunya siapa pun akan berat mendengar berita tersebut, termasuk mental Sofie yang shock saat itu juga.
Dia tidak siap untuk menghadapi diagnosa dan penanganan medis yang harus ditekuninya kemudian.
Saat itu yang terpikir oleh Sofie mencari role model seperti Survivor yang berani berbagi inspirasi dan motivasi yang dibutuhkan menghadapi kondisi sulit tersebut.
Menjalani kemoterapi tentu bukan hal yang mudah dihadapi Sofie. Setelah berhasil melewati operasi, dokter kemudian melakukan proses pengangkatan total yang membuat Sofie down dan semakin bertambah berat untuk menjalani hidup ke depan.
Apa yang paling berat dirasakan oleh Sofie adalah masalah mental untuk menjalani kehidupan selanjutnya.
Sofie berhasil menemukan solusinya dengan menjalani meditasi.
Bagi Sofie, dukungan sosial seperti pasangan hidup dan keluarga telah memberikan motivasi terbesar untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Lebih lengkap cerita Sofie tersebut dapat disimak dalam saluran YouTube berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.