(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tetap Aktif Meskipun Sudah Pensiun di Amerika Serikat

Apa yang bisa dilakukan orang-orang yang telah pensiun dan tinggal di Amerika Serikat? Selintas pertanyaan tersebut muncul ketika orang-orang Indonesia memutuskan tinggal di mancanegara.

Jawaban ini bisa diperoleh dari cerita Shinta Stanley yang telah menetap di negeri Paman Sam sejak usianya 21 tahun. Setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat, Shinta memulai hidup barunya dengan bekerja hingga mencapai usia pensiun.

Banyak hal dipelajari Shinta selama tinggal di Amerika Serikat, termasuk bagaimana dia memulai pekerjaannya sejak tahun 1984 hingga pensiun. Shinta juga bekerja sebagai Akuntan di Universitas selama 31 tahun.

Selama bekerja, Shinta juga meningkatkan kapasitas dirinya dengan kuliah yang dibayari perusahaan, tempatnya bekerja. Setelah pensiun, Shinta memutuskan untuk mendalami Bahasa Jerman dengan mengikuti program pertukaran budaya di salah satu universitas di Jerman.

Saat pensiun, Shinta menetap di suatu komunitas yang berisikan kelompok orang-orang berusia lanjut yang dikelola pemerintah Amerika Serikat.

Di sana dia banyak melakukan aktivitas sosial seperti menari, bekerja di kebun, traveling, bermain dan lain-lain dengan orang-orang seusianya. Dia berprinsip bahwa usia tua harus diisi dengan aktivitas yang produktif agar tetap sehat.

Shinta menuturkan bahwa dia pernah didiagnosa mengalami sakit hingga berujung koma saat dia sedang berada di Jerman.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Beruntung dia bisa pulih kembali setelah dokter mengetahui bahwa aktivitas dan olahraga telah menyelamatkan Shinta dari kondisi kesehatannya yang memburuk.

Meskipun usianya sudah pensiun, Shinta membagi waktunya untuk bekerja sukarela setiap minggu. Aktivitasnya yang sibuk membuatnya tidak merasa kesepian di usia senjanya apalagi suaminya sudah meninggal.

Shinta menyarankan untuk semua perempuan Indonesia yang menikah dengan pria kewarganegaraan asing untuk tetap meningkatkan kapasitas diri dengan bersekolah atau bekerja agar hidup mandiri secara finansial.

Selain itu, ikuti apa yang menjadi “passion” hidup sehingga bisa bertumbuh secara pribadi. Melakukan aktivitas sosial seperti pekerjaan sosial atau pekerjaan paruh waktu dapat membantu diri kita untuk tetap sehat meski kita sudah berusia lanjut.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Lebih lengkap tentang video Shinta yang berdurasi 5 menit, silakan simak detilnya di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam acara ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(DISKUSI ONLINE) Menikah atau Berpisah: Itu Tidak Mudah

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia, RUANITA mengadakan diskusi dan bedah buku Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua. Buku Cinta Tanpa Batas adalah sebuah antologi pengalaman hidup 25 perempuan Indonesia sebagai pasangan kawin campur yang tinggal di berbagai negara.

Acara diskusi dan bedah buku telah dilangsungkan via Zoom pada tanggal 10 September 2022 dengan mengangkat tema khusus ‘Menikah atau Berpisah, Itu Tidak Mudah’. Dengan moderator Novi @novikisav sebagai salah satu penulis buku antologi Cinta Tanpa Batas (domisili di Norwegia), RUANITA turut mengundang penulis lainnya yakni Arum I. Riddell-Carre (Indonesia), Leny A. Faqih (Turki), Alda Trisda (Belgia), dan Veronica Siregar (Australia). 

Salah satu tujuan ditulisnya antologi Cinta Tanpa Batas adalah untuk menyampaikan sudut pandang lain dalam realita kehidupan rumah tangga perkawinan campur dalam bentuk media literasi. Tak seindah rasa cinta yang muncul di awal perkenalan, perkawinan warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) kerap kali dimulai dengan kerumitan urusan dokumen hingga perbedaan budaya dari masing-masing pihak.

Perbedaan ini sering menjadi akar konflik yang dapat berujung pada perpisahan, atau justru memperkaya kehidupan perkawinan campuran. Banyak kisah perkawinan campur yang jarang terdengar di ranah publik dan jadi dianggap tabu, seperti pandangan keluarga besar, pengalaman menjadi orangtua dan membesarkan anak dalam dua budaya yang berbeda, hingga kisah perpisahan dan keberanian untuk kembali bangkit memulai hidup baru di tempat asing. Semuanya ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis. 

follow akun: ruanita.indonesia

Salah satu kisah yang dibagikan dalam buku Cinta Tanpa Batas adalah kisah dari Arum Riddell-Carre. Bicara dari pengalamannya, Arum menekankan bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga. Salah satu buku favorit Arum adalah The Zahir yang ditulis oleh Paulo Coelho.

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa ‘You have to love yourself first’. Ini yang menjadi pengingat Arum dalam menjalani pernikahan keduanya. Lanjutnya lagi, selain mengenal pasangan, mengenal keluarga calon pasangan juga sama pentingnya. Terlepas dari perbedaan budaya, menurutnya kita harus melihat langsung apakah life virtues pasangan sejalan atau tidak dengan kita.

Tidak cukup hanya dengan sowan saja, namun lihatlah bagaimana interaksi pasangan dengan orangtua mereka dan how they respect each other. Mengenali pasangan serta melihat bagaimana interaksi pasangan dengan keluarga mereka justru lebih menentukan kecocokan selanjutnya saat menjalani pernikahan dan berkeluarga. 

Leny A. Faqih yang menikah dengan warga negara Turki membagikan kisahnya berwirausaha sebagai WNI di Turki. Sebelum menikah dan pindah ke Turki, Leny bekerja sebagai kontraktor dengan latar belakang ilmu teknik sipil. Namun begitu pindah ke Turki, semua berubah karena harus beradaptasi mempelajari sistem baru dan sendirian di rumah.

Saat itu ia kaget karena tidak boleh bepergian tanpa ditemani suami. Sementara di Indonesia, dia biasa bepergian dengan menyetir sendiri. Leny juga menjelaskan bahwa stereotipe perempuan harus manut masih lekat dalam masyarakat patriarki di Turki. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan Leny yang yakin bahwa perempuan mampu berdaya dan berkarya. Dengan meyakini stereotipe tersebut tidak sejalan dengan nilai yang dianutnya, Leny dapat memberikan kontribusi dan berusaha mendobrak kultur tersebut sebagai perempuan migran.

Setelah dua tahun, Leny memutuskan mulai bergabung dengan komunitas Indonesia lalu berwirausaha dengan membuka usaha ekspor-impor. Kini ia mengelola Toko Organic Indonesia yang berlokasi di Istanbul. Ini juga tidak lepas dari dukungan sesama warga Indonesia maupun warga Turki yang mendukung usahanya. Leny mulai berwirausaha dengan bermitra bersama warga Turki, yang mana banyak membantu dalam urusan bahasa hukum dan bisnis resmi yang berbeda dengan bahasa Turki sehari-hari, selain perbedaan cara bisnis. Rasisme terselubung dalam urusan bisnis dan beacukai pun sudah ia lewati.

Akhirnya Leny memberanikan diri untuk mengambil alih perusahaan dan berjalan melawan arus. Meskipun itu semua dimulai dengan culture shock yang besar, namun usahanya masih berjalan terus sampai sekarang.

Alda Trisda yang berdomisili di Belgia menggambarkan perkawinan campur ini sebagai ‘a lonely business’, atau kisah yang kalau tidak menjalani langsung sendiri, maka tidak akan benar-benar paham. Bahkan seringnya pernikahan campur tak seutuhnya bisa dipahami oleh keluarga dari masing-masing pihak.

Begitu pula dengan pemerintah yang kurang paham akan apa yang dibutuhkan oleh pelaku kawin campur dan berakibat kurang bisa memprediksi kebutuhan pasangan kawin campur. Inilah yang membuat buku Cinta Tanpa Batas ini unik, karena berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya dialami oleh pasangan kawin campur, sebagai sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak mengalami dan hanya dipahami oleh sesama pelaku kawin campur.

Sebagai pegiat literasi, Alda menuturkan bahwa sejak jaman penjajahan sudah ada literasi tentang kawin campur dengan posisi perempuan Indonesia yang dijadikan gundik oleh kaum penjajah lalu memiliki anak.

Namun memang, untuk konteks kondisi masa kini, informasi literasi mengenai pasangan kawin campur masih belum banyak. Tidak banyak yang menulis kisah kawin campur dari sudut pandang perempuan Indonesia selalu pelaku kawin campur di kondisi masa kini. 

Menurut Veronica Siregar, tak bisa dipungkiri bahwa mengenal calon pasangan itu butuh banyak waktu. Apalagi untuk pasangan kawin campur. Satu hal yang ditekankan Veronica adalah perbedaan keyakinan di mana agama bukanlah prioritas.

Kenyataannya bagi banyak warga negara asing, bersedia menikah secara agama bukan berarti otomatis bersedia menjadikan praktik agamanya sebagai prioritas dan mengikatkan diri secara iman. Ini adalah konteks yang harus dipahami terlebih dahulu bagi pasangan yang berasal dari dua budaya yang berbeda.

Satu hal lagi yang digarisbawahi oleh Veronica adalah pernikahan harus dilihat sebagai proses mengikatkan diri secara hukum dengan seseorang, sehingga selalu ada implikasi hukumnya. Implikasi hukum inilah yang tidak pernah disadari oleh pelaku kawin campur, karena biasanya urusan hukum ini sudah terdengar ribet dan kalah duluan dengan urusan cinta.

Padahal justru implikasi hukum inilah yang paling penting untuk dipahami, karena implikasi hukum besar pengaruhnya dalam hal status izin tinggal, akses kesejahteraan dan layanan kesehatan di negara domisili, akses bekerja, serta status legalitas anak.

Jika membicarakan implikasi hukum, menurut Veronica penting juga untuk membuat perjanjian pranikah dengan tujuan untuk melihat konsekuensi yang akan dihadapi sebagai WNI jika menikah dengan WNA. Semua urusan hukum ini penting untuk dipahami terlebih dahulu oleh kedua pihak pasangan.

Selain itu, penting juga untuk mencari tahu informasi tentang akses bekerja, pengaturan keuangan, serta kemerdekaan finansial masing-masing pihak. Membangun support system juga sama pentingnya, karena jika terjadi masalah hukum, masalah kesehatan, atau jika terjadi KDRT harus menghubungi siapa atau pihak mana di negara domisili.

Lebih lengkapnya, diskusi bedah buku Cinta Tanpa Batas dapat disaksikan di video berikut:

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT) Pentingnya Konsistensi Untuk Perkembangan Bahasa Anak Kawin Campur, Beda Bahasa Ibu

Sahabat Ruanita, aku menikah dengan pria berkebangsaan Swiss kemudian menetap di negeri suami sudah lebih dari lima tahun. Aku memiliki dua putera yang membuatku happy selama tinggal di perantauan. Setidaknya aku kini tidak sendirian dan kesepian lagi karena ada dua buah hatiku.

Soal merawat anak sebenarnya tak begitu sulit mengingat aku punya dasar pengalaman bekerja sebagai perawat di rumah sakit saat aku masih di Indonesia. Aku juga beruntung memiliki suami yang pengertian dan ikut serta berbagi tugas pengasuhan anak-anak. 

Ketika aku melahirkan, dokter menyampaikan kalau anakku ke depan akan menjadi anak yang hyperaktif. Awalnya anakku itu mengalami tantrum, apabila keinginannya tidak terpenuhi. Aku pikir itu wajar terjadi pada anak-anak.

Kejadian yang paling aku ingat adalah anakku baru dua hari masuk sekolah, gurunya itu mengatakan kalau anakku tidak bisa mengikuti pembelajaran. Katanya, anakku kalau melihat mainan tersedia di sekolah, dia lebih sibuk bermain daripada mengikuti apa yang disampaikan gurunya. Menurutku itu hal yang biasa bahwa anak lebih suka bermain daripada mengikuti instruksi gurunya. 

Guru anakku pun berinisiatif untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan anakku dan anakku yang juga belum bisa berbicara, dengan bertanya ke suami dan dokter anak. Kejadian itu dilaporkan ke Gemeinde (=sebutan untuk pemerintah lokal setempat) yang kemudian mendiagnosa apa yang terjadi dengan anakku. Mereka berpendapat bahwa anakku mengalami kelambatan bicara dan anakku pun tidak memahami Bahasa Jerman dengan baik. Menurutku, anakku butuh yang terbaik untuk tumbuh kembangnya. Aku pun menuruti apa yang menjadi rekomendasi mereka.

Aku disarankan membawa anakku ke Logopädie, bagian terapi yang memfokuskan pada kesulitan bicara anak, kesalahan pengucapan, kesalahan pemahaman bicara yang biasanya tersedia di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss. Aku tetap optimis itu semua untuk kebaikan anakku tanpa menghiraukan pendapat orang-orang bahwa anakku butuh Psikolog Anak dan Logopädie. Aku berpikir positif bahwa semua treatment itu untuk kebaikan anakku juga. 

Aku bersyukur sejak dini aku tahu masalah perkembangan anakku kemudian dibantu oleh Psikolog Anak dan Logopädie di sini. Psikolog Anak tiap satu minggu sekali datang ke rumahku seperti mengajak anakku bermain, mengamati perilaku anakku, mengajari bahasa ke anakku. Kunjungan Psikolog Anak berlangsung selama satu jam seminggu sekali. Untuk Logopädie itu gratis dimana aku bersama anakku berkunjung seminggu sekali ke terapi wicara tersebut. Semua penanganan anak itu aku dapatkan gratis sebagai layanan pemerintah kepada masyarakat. 

Untuk layanan Logopädie privat 1 jam dikenakan 110 CHF. Kalau kita mau layanan privat, tentu saja harus bayar. Saya mendapatkan layanan umum saja sehingga aku dan anakku bisa ditangani cepat. Pemerintah di sini menyadari pentingnya layanan Logopädie untuk membantu anak-anak yang terlahir dari pelaku kawin campur. Bagaimana pun anak tentu kesulitan mencerna atau memahami bahasa kedua orang tua mereka. 

Akhirnya aku mengatasi kesulitan berbicara pada anak dengan cara aku dan suamiku konsisten berbicara pada anakku. Aku konsisten berbicara dengan Bahasa Indonesia pada anakku. Sedangkan suamiku berbicara konsisten Bahasa Swiss-Deutsch pada anakku. Anakku mungkin mendapatkan bahasa baru semisal dari tontonan YouTube, pembelajaran di sekolah atau pergaulan dengan teman sebayanya. Aku konsisten tidak berbicara Bahasa Inggris sedikit pun pada anakku. Cara ini akan membuat anakku tidak bingung memahami bahasa.

Dokter/ahli sih berpendapat tidak ada masalah bagaimana orang tua harus berbicara pada anaknya. Namun aku menerapkan pola berbicara seperti itu, aku berbicara dalam Bahasa Indonesia sedangkan suamiku berbicara dalam Bahasa Swiss-Deutsch. Pendapatku, anak bisa berbicara bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin di sekolah. Namun aku mengajarinya Bahasa Indonesia agar anakku bisa berkomunikasi dengan nenek-kakeknya atau orang tuaku dan juga keluargaku.

Bagaimana pun anak-anak perlu diajari bahasa ibu sebagai komunikasi anak dengan ibunya di rumah. Bahasa ibu itu lebih penting di rumah. Kalau anak di luar rumah, biarkan anak-anak belajar dengan sendirinya. 

Saya sendiri menunggu jasa layanan ini hingga dua bulan agar anak bisa langsung ditangani. Anakku sempat berhenti dari playgroup karena menunggu layanan Logopädie tersebut.

Kadang ada saja pendapat miring kalau anak pergi ke Psikolog, maka masalah anak jadi bermacam-macam. Kita perlu memahami bahwa Psikolog itu membantu masalah kita, terutama untuk tumbuh kembang anak. Kita bisa cerita sama mereka juga karena mereka akan membantu dan memberikan solusinya.

Alhamdulilah, anakku sekarang sudah luar biasa tumbuh kembangnya. Mereka bilang juga kalau anakku itu Intelligent. Sekarang anakku bisa berbicara lancar daripada sebelumnya. Kelambatan bicara atau masalah bicara anak pada perkawinan campuran yang berbeda bahasa ibu bukan hal yang baru. Anakku pun mengalami perkembangan bahasa yang baik dan lebih baik.

Aku bersyukur tahu sejak dini tentang masalah tumbuh kembang anak sehingga aku dan suamiku bisa mengoreksi bersama.

Penulis:

Fitri H. Wehrli kini bermukim di Swiss. Buah pikir Fitri lainnya yang sudah terbit: CINTA TANPA BATAS (2022).

(SIARAN BERITA) Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara?

JERMAN – Tak banyak orang tua yang siap menerima kondisi anak dengan Autisme, apalagi tinggal jauh dari Indonesia. Padahal sikap mental orang tua ini menentukan dan berdampak pada bagaimana orang tua mendukung dan menangani kekhususan dan kompleksitasnya.

Hasil penelitian menunjukkan peran aktif orang tua sangat menunjang keberhasilan terapi dari penanganan anak dengan autisme. Bagaimana pun orang tua selalu ingin yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

Kehidupan di luar Indonesia nyatanya memberikan pengaruh bagi orang tua yang mengalami anak dengan autisme. Orang tua dihadapkan pada prosedur kebijakan penanganan anak autis yang berbeda-beda sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku.

Ketika anak dengan autisme sedang ditangani secara profesional, terkadang kita lupa memperhatikan kebutuhan psikologis bagi orang tua yang menjadi social support system untuk anak. Tidak jarang orang tua masih menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Ada juga orang tua yang menyalahkan vaksinasi, obat, salah pengasuhan atau terlambat diagnosa.

Ruanita – Rumah Aman Kita sebagai “Rumah” berbagi ilmu dan pengalaman untuk warga Indonesia di mancanegara bermaksud menggelar webinar bertema penanganan anak dengan autisme di mancanegara.

Webinar ini diawali dengan sharing pengalaman dari Alda Trisda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan saat ini tinggal di Belgia. Narasumber kedua adalah Dr. Deibby Mamahit, seorang ahli dan praktisi dalam menganani anak dengan autisme sesuai keilmuannya. Beliau saat ini tinggal di Singapura.

Tujuan diselenggarakan webinar adalah untuk membagikan pengalaman sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan memberikan dukungan sosial kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tinggal di mancanegara.

Follow us ruanita.indonesia

Kedua, webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi prosedur penanganan anak dengan autisme sesuai ilmu kedokteran dan pengalaman menangani anak dengan autisme di mancanegara.

Terakhir, webinar ini bertujuan untuk menjadi social support system bagi orang tua di mancanegara yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme.

Webinar ini dibuka resmi oleh Ketua DWP KBRI Berlin yakni Sartika Oegroseno. Tentunya Jerman sebagai negara maju telah memiliki kebijakan tersendiri dalam memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme meski sebenarnya tidak ada angka yang pasti tentang jumlah anak dengan Autisme di Jerman. Untuk menguatkan diskusi, acara webinar dipandu oleh Fransisca Sax, M.Psi. yang juga seorang Psikolog yang bertugas di Daycare di Munich, Jerman.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Rekaman ulang webinar bisa disaksikan di saluran YouTube berikut:

(SIARAN BERITA) Peluncuran Buku Bertema Perkawinan Campuran

JERMAN – Ruanita – Rumah Aman Kita bekerja sama dengan Padmedia Publisher di Indonesia telah menyelenggarakan proyek bersama untuk mengumpulkan cerita pengalaman para pelaku kawin campur, yakni pernikahan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Acara pengumpulan naskah sudah dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Semua naskah yang terkumpul ditulis oleh para perempuan asal Indonesia yang tinggal di berbagai lokasi dan negara.

Kisah perkawinan campuran yang tertuang dalam buku bukan hanya bercerita tentang dokumen dan kelengkapan administrasi, melainkan ada kisah-kisah lainnya yang mungkin jarang terdengar di ranah publik.

Cerita integrasi budaya di antara kedua insan manusia dalam biduk rumah tangga tentu menjadi kisah haru biru yang tidak selalu melulu mendatangkan kisah romantis saja, tetapi juga tragis.

Ada kisah tabu tentang pandangan keluarga, pengasuhan anak, pengalaman menjadi orang tua hingga perpisahan ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.

Follow us: @ruanita.indonesia

Ini bukan soal fantasi atau dokumentasi, ini adalah kisah yang menginformasi dan menginspirasi. Begitu penjelasan Anna Knöbl selaku Koordinator Tim Buku yang berbicara tentang proyek penerbitan buku ini.

Di tengah meningkatnya mobilisasi dan migrasi, bukan tidak mungkin angka pernikahan kawin campur bertambah. Angka ini belum tentu diiringi oleh bekal yang cukup untuk mengetahui seluk beluk budaya, komunikasi hingga hukum yang kerap menjadi pemicu dalam berumah tangga. Ada saja kasus di mana perempuan bingung menempatkan dirinya saat minimnya informasi dan bahasa yang dimilikinya di mancanegara.

Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.

Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.

Oleh karena itu, RUANITA telah menggagas dua kali Diskusi Virtual jelang peluncuran buku yang membahas tema seputar perkawinan campuran. Pada akhirnya buku berjudul Cinta Tanpa Batas ini telah terbit pada akhir April 2022 dan sudah mulai didistribusikan.

Sejalan dengan hal tersebut, RUANITA menggelar peluncuran buku secara daring yang diadakan pada hari Minggu, 19 Juni 2022 jam 10.00 waktu Eropa Tengah atau jam 15.00 WIB.

Dalam kesempatan tersebut, RUANITA mengundang Wakil Ketua DWP KBRI Berlin – Tenny Edison – yang memberikan pengantar tentang problematika yang dihadapi perempuan Indonesia di luar negeri, terutama di Jerman. Sebagai informasi, buku Cinta Tanpa Batas ini telah ditulis oleh 7 perempuan asal Indonesia yang saat ini bermukim di Jerman.

Selanjutnya, RUANITA juga menghadirkan Ketua Komnas Perempuan Indonesia – Andy Yentriyani – yang memberikan tanggapan atas terbitnya buku bertema perkawinan campuran. Acara satu jam ini diharapkan dapat menjadi media konstruktif untuk membangun solidaritas perempuan Indonesia di mana saja, tidak hanya soal isu perkawinan campuran.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi: info@ruanita.com

Untuk mengikuti kliping berita kami, sila buka tautan yang diberikan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Kalau Mau Datang ke Swedia

Sahabat RUANITA, adakah yang ingin datang untuk bekerja, berkuliah atau membangun hidup baru di Swedia?

Swedia adalah negeri yang kecil yang aman dan juga nyaman loh. Begitu pendapat Nada Danielsson, yang pernah menjabat sebagai Chairwoman Swedish Indonesian Society atau perhimpunan warga Indonesia yang bermukim di Swedia.

Nada berbagi pendapatnya tentang tinggal dan menetap di Swedia yang sudah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun lebih.

Bagaimana pun tak banyak orang Indonesia memahami bagaimana budaya dan kebiasaan orang Swedia sebenarnya. Misalnya lelucon tentang bentuk tubuh sebagai percakapan sehari-hari ternyata adalah hal tabu loh untuk diucapkan.

Nada berpesan juga kalau mau datang ke Swedia kepada para perempuan, bahwa sebaiknya tidak hanya sekedar jadi ibu rumah tangga saja loh. Alasannya?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Begini Rasanya Pacaran Beda Kultur

Sahabat RUANITA, episode ketiga kali ini dibawakan oleh Nadia dan Fadni dengan tema: Pacaran Beda Kultur. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi Master di Jerman, Nadia dan Fadni membeberkan berbagai pengalaman dan pendapatnya selama tinggal di Jerman. Tentu pacaran beda kultur bukan hal yang mudah dihadapi, apalagi budaya masih dipandang sebagai hal yang essential.

Menempuh pendidikan atau sedang menjalani pekerjaan di negara perantauan kerap dihadapkan pada pilihan asmara yang sulit, terutama jika itu menyangkut nilai-nilai, prinsip hidup, keyakinan agama hingga tradisi yang berbenturan dengan pacar yang baru saja dikenal. Nah, bagaimana pengalaman menghadapi pacaran beda kultur di masa-masa studi di mancanegara?

Penasaran dengan cerita mereka? Sila simak Podcast episode ke-3 di saluran RUMPITA: Rumpi bersama RUANITA.

(DATA) Peserta Kartini Virtual 2022 dari 14 Negara di Eropa

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual.

Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

1. Belanda

Nama Iis Bierbooms

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Pivo Dirvos

Youtube: Pivo Dirvos Holland

Nama usaha Raden Ayis

Lama berwirausaha Lebih dari 10 tahun

2. Jerman

Nama: Aryani Willems

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Instagram: umamidori

Nama usaha: Women Circle dan Energy Healer

Lama berwirausaha 14  Tahun (sejak 2004)


Nama: Dyah Sri Ayoe Rachmayani Narang-Huth

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Dyah Narang-Huth, IKAT-Indonesisches Kultur Agentur Team

Instagram: Dyah Narang-Huth, IKAT Sprachenwerkstatt

YouTube: IKAT Sprachenwerkstatt

Website: www.ikatagentur.com dan www.ikatsprachenwerkstatt.com 

    Nama usaha 

    IKAT – Indonesisches Kultur Agentur Team

    IKAT Sprachenwerkstatt

Lama berwirausaha 19 Tahun (sejak 2003)


Nama: Yanti

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Yanti Contiffy

Instagram: Contiffy

website: balishanti.de

    Nama usaha 

    Bali Shanti Massage Praxis

Lama berwirausaha 9 Tahun 

3. Denmark

Nama Dewi Damanik Nielsen

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Dewi Damanik Nielsen

Instagram: dewinielsenphotography

Website: https://marriedindenmark.com dan https://dewinielsen.com/blog 

Nama usaha Married in Denmark dan Dewi Nielsen Photography

Lama berwirausaha 5 tahun


Nama: Seruni Petersen (Momou) 

Nama akun media sosial:

Facebook: Seruni Petersen 

Instagram: Lombok.indonesiskmad)

Nama usaha : Mofomofa Lombok.Indonesiskmad ( Rumah Indonesia )

Lama berwirausaha : 2014

4. Prancis

Nama Eka MONCARRE 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

FB : @House of Indonesia Paris / La Maison De L’Indonesie

IG : lamaisondelindonesieparis

Youtube : La Maison De L’Indonesie

Linkedin : https://www.linkedin.com/in/ekamoncarre/

Nama usaha La Maison De L’Indonesie

Lama berwirausaha 27 tahun 


Nama Lien Wulandari 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook Tasna Ambu

Instagram Tasna Ambu

YouTube: Tasna Ambu

Nama usaha Tasna Ambu 

Lama berwirausaha 2 tahun 


Nama Ruth Susiani Ginzburg (Indiathi) 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Ruth Indiathi 

Instagram: indiathiruth

YouTube: Ruth Indiathi

Website:  www.levillagebalinais.com 

Nama usaha: Le Village Balinais

Lama berwirausaha 20 tahun 

5. Swiss

Nama Fitri Handayani Wehrli 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Instagram:fitri_rolfwehrli

Nama usaha: Toko Nusantara mamaflo ch

Lama berwirausaha 2 tahun

6. Italia

Nama Amelia Rachim 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Instagram: ameliarachim

    Website: www.ameliarachim.com

    YouTube: www.youtube.com/ameliarachim

Nama usaha:  Amelia Rachim Jewelry Design 

Lama berwirausaha:  13 tahun

7. Spanyol

Nama

Ajeng Pratitie, Mariena Maagdalia & Data Titianda

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook dan Instagram:  tempehjava 

    LinkedIn: BeanBased 

Nama usaha BeanBased 

Lama berwirausaha 1 tahun

8. Hungaria

Nama: Hayati Surjono

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Surjono Hayati (Facebook)

    Szulcsan Hayati (Instagram)

    Duna Szécsi Apartman Budapest

Nama usaha Duna Szécsi Apartman Budapest

Lama berwirausaha 6 tahun 

9. Yunani

Nama: Sofi

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook Fanpage: Warung Jawa Mini Market   

    – Indonesian Market

    Nama usaha: Warung Jawa

Lama berwirausaha 12 tahun 

10. Swedia

Nama: Erna

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Fanpage Facebook: Erna’s Bistro

    Instagram: ernasbistro

Nama usaha Erna’s Bistro

Lama berwirausaha 12 tahun 

11. Norwegia

Nama: Jossy Josephine 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook: Josephine Nordeide

    Fanpage Facebook: warungpojok.norway

    Youtube: Indonesian in Norway 

    Website:https://www.warungpojok.no

    Instagram:  jossiejosephine

Nama usaha Josephine Servering AS 

Lama berwirausaha 1 tahun 

12. Belgia

Nama: Hasti Ruli

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook Fanpage: Indo Eropa

Nama usaha Indo Eropa

Lama berwirausaha 13 tahun 

13. Polandia

Nama Yeti Yolanda

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook: Toko Beta

    Website www.tokobeta.pl

Nama usaha Toko Beta

Lama berwirausaha 1 tahun 

14. Inggris

Nama:  Enggi Holt

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook page: Enggi’s Kitchen

    Instagram: enggiskitchen

    Website: http://www.enggiskitchen.com

Nama usaha Enggi’s Kitchen

Lama berwirausaha: 7  tahun


Nama:  Shally Amanda Gustafson 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Shally Tria Amanda-Gustafson#

Instagram: shally3amanda

Youtube: Shally Gustafson

Nama usaha: Pekerja seni dan film

Domisili negara:  Inggris


Tim Dapur Konten mengapresiasi partisipasi teman-teman perempuan tersebut yang telah bersedia berbagi informasi dan pendapatnya dalam rangka perayaan Kartini Virtual 2022.

(CERITA SAHABAT) Bekerja Bersama Anak-anak, Menjadikanku Sabar dan Happy

Aku mulai hidupku di Jerman sejak tahun 2015. Aku putuskan untuk melanjutkan studi lagi di salah satu negara bagian (=Bundesland) setahun kemudian. Studi itu mengantarkanku pada pekerjaanku di negeri panzer ini. Ya, aku bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak yang biasa disebut begitu kalau kita tinggal di Indonesia. 

Setiap semester perkuliahan, aku mendapatkan praktik kerja untuk mengajar di taman kanak-kanak. Oh ya, pemberlakukan usia anak-anak masuk Kinderkrippe, semacam tempat penitipan anak, dengan Kindergarten, sebutan taman kanak-kanak berbeda-beda sesuai kebijakan negara bagian di Jerman. 

Di negara bagianku, anak-anak yang masuk Kinderkrippe adalah mereka yang berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Sedangkan anak-anak yang masuk Kindergarten adalah mereka yang berusia 3 hingga 6 tahun. Aku memilih mengajari anak-anak di taman kanak-kanak. Alasannya, aku tak terlalu sabar mengurus anak-anak yang masih terhitung bayi dan dini sekali. 

Selepas kuliah tiga tahun, aku kembali bekerja di taman kanak-kanak yang sudah mempekerjakanku sebelum aku lulus kuliah. Aku suka berinteraksi dengan anak-anak. Mereka mengajariku untuk sabar dan kreatif. Apalagi taman kanak-kanak di tempatku bekerja mengusung “teiloffenen Konzept” yang benar-benar mengubah cara berpikirku bagaimana menjadi guru TK yang membuat anak happy dan mandiri. 

Di sini kami memiliki ruang-ruang khusus sehingga anak bebas bergerak seperti kehendaknya. Kami punya ruang kreatif dan ruang olah raga, di mana anak-anak bisa berlari-lari, panjat-panjat atau bermain bola. Ruang tersedia boneka, pakaian seperti pakaian polisi atau pakaian dokter yang kami sebut ini adalah ruang teater. Anak-anak tentu senang sekali bisa bermain peran.

Anak-anak yang suka bermain musik pun bisa masuk ke ruang musik di mana kami menyediakan instrumen musik khusus anak-anak. Tak lupa ada juga ruang konstruksi di mana anak-anak bisa bermain lego atau membuat bangun ruang sesuai keinginan mereka. Tak hanya itu, ada juga ruang bermain, ruang makan, ruang tidur dan ruang kelas yakni ruang yang menjadi mayoritas anak-anak beraktivitas. 

Aku bekerja tujuh hari di taman kanak-kanak tersebut. Tiap hari aku punya tiga aktivitas pilihan untuk anak-anak. Anak-anak tidak aku paksakan untuk mengikuti aktivitas yang aku sarankan ke mereka. Mereka bisa berpindah ke grup kelas lainnya jika mereka suka. Misalnya aku mengajar di grup A, maka anak-anak bisa saja ingin berpindah ke grup B atau C. 

Sebagai gambaran misalnya, suatu hari aku mengatakan bahwa aku punya aktivitas bernyanyi. Kemudian ada anak yang tak ingin bernyanyi dan diam saja, ya sudah. Atau anak tersebut memilih untuk masuk ke ruang-ruang yang tadi dijelaskan di atas. Itu pun tidak masalah. Jadi kami mengajari konsep kebebasan untuk anak. Anak bebas menentukan kehendaknya.

Selanjutnya adalah aku mengajari anak-anak tentang kemandirian. Mulai dari masuk ruangan, anak diajarkan bagaimana membuka sepatu sendiri, jaket sendiri dan lainnya. Anak diajarkan untuk memilih menu makanan yang kami sediakan. Misalnya menu hari itu adalah kentang, daging dan salad. Aku meminta anak mengambil makanan yang mereka suka, bukan aku menyediakan ketiga menu tersebut di atas piring mereka. 

Setelah sarapan atau makan siang, aku biasanya membuat lagi pilihan untuk anak-anak. Anak memilih apa yang mereka sukai. Guru seperti aku hanya sebagai fasilitator, yang menyediakan sarana untuk mereka belajar dan bermain. Itu sebab aku sudah punya program harian. Sedangkan aktivitas makan, menikmati snack atau tidur adalah program yang sudah terjadwal.

Anak-anak berada di tempat kerjaku sampai orang tua menjemput mereka. Taman kanak-kanak di tempatku bekerja sudah mulai beroperasi sejak jam 5.30 pagi, tetapi aku tak suka bangun pagi. Aku memilih kerja mulai dari jam 8 pagi. Aku bertugas delapan jam setiap hari.

Oh ya soal waktu tidur, tidak semua anak bisa jadi suka melakukan tidur siang. Jika ada anak yang tidak ingin tidur, aku biasanya memberikan aktivitas menggambar atau aktivitas lainnya yang tidak mengganggu anak-anak yang sedang tidur siang. 

Pengalaman menarik bersama anak-anak membuatku belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diriku sendiri. Aku menemukan diriku sendiri saat aku aku berinteraksi bersama anak-anak. Aku menjadi lebih happy bekerja bersama dengan anak-anak. 

Tantangan bekerja di taman kanak-kanak adalah saat aku harus kontra dengan pendapat orang tua. Kadang aku berkonflik dengan orang tua yang lebih mementingkan ego mereka misalnya anak harus patuh pada orang dewasa. Padahal kami mengajarkan anak-anak untuk menjadi diri mereka sendiri dan menentukan kehendak mereka. Saat anak-anak bisa bebas menjadi diri mereka sendiri, anak-anak menjadi lebih happy dan kreatif juga. Anak-anak ternyata menemukan ketenangan tersendiri. 

Penulis: Anonim, umur 32 tahun dan tinggal di Jerman

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Tanamkan Nilai-nilai Universal Beridentitas Biracial: “Tak ada standarisasi pola asuh antar keluarga!”

Saya pertama kali datang ke Jerman di tahun 2011 untuk program studi master di Osnabrück (kota di utara Jerman). Meskipun kuliah master di program internasional, tetapi saya harus 6 bulan kursus Bahasa Jerman di Köln (Cologne). Saat kuliah itulah saya bertemu dengan (calon) suami saya yang saat itu juga tengah menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Setelah kami lulus kuliah dan menikah, kami pindah dan memulai hidup baru di Pforzheim (kota di bagian selatan Jerman) karena suami mendapatkan pekerjaan di kota ini.

Suami saya berasal dari Lübeck, sebuah kota pelabuhan di utara Jerman yang jaraknya 800 km dari kota yang saat itu kami tinggali setelah kami menikah. Saat itu kami memutuskan tinggal di kota yang cukup jauh dari keluarga suami karena penghasilan suami cukup bagus di kota yang baru. Pforzheim masuk dalam negara bagian Baden-Württemberg yang terkenal sebagai ‘Goldstadt’ atau ‘kota emas’ karena terkenal akan industri pembuatan perhiasannya.

Anak-anak kami lahir di kota emas ini. Kini mereka berusia 6 dan 4 tahun. Melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di Pforzheim cukup berat perjuangannya, karena jauh dari keluarga saya dan keluarga suami. Buat keluarga suami pun cukup berat karena anak-anak kami kebetulan adalah cucu-cucu dan keponakan-keponakan pertama dari pihak keluarga suami. Ketika Oma (ibu dari suami saya) dan paman-paman dari anak-anak kami ingin menjenguk mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk bisa kembali tinggal di kota kelahiran suami dengan resiko suami harus mencari pekerjaan baru yang penghasilannya tak sebesar di kota sebelumnya. 

Namun demi keluarga dan bisa tinggal dekat dengan sanak saudara, akhirnya kami pun pindah ke Lübeck dan menetap hingga sekarang. Seringkali kita mendengar bahwa interaksi dalam budaya barat itu individualistis. Kenyataannya, untuk sesama anggota keluarga tetaplah ada keintiman dan kedekatan yang berbeda. Kedekatan keluarga tetap memiliki peranan yang penting dalam kehidupan anak, seperti Oma ke cucu-cucunya. 

Selama tinggal di Jerman saya selalu berinteraksi dengan kelompok-kelompok lintas budaya. Setelah berumah tangga saya aktif di ‘familienzentrum’, lembaga-lembaga yang membantu pemberdayaan perempuan, para ibu, dan keluarga. Familienzentrum ini juga banyak diisi oleh para imigran pendatang. Selama aktif di familienzentrum bahkan sejak semasa kuliah di program internasional, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang yang berasal dari berbagai negara. Ditambah beberapa tahun terakhir Jerman banyak menerima pendatang imigran, baik itu yang mencari suaka, pasangan perantau, maupun yang menikah dengan orang Jerman. Jadi paparan terhadap budaya yang beragam ini mulai menjadi hal yang biasa dan memperkaya keseharian masyarakat. 

Pengenalan terhadap ragam budaya ini juga saya lakukan dengan anak-anak kami sendiri sedini mungkin. Sedari awal mereka bisa berbicara dan berkomunikasi, saya mengajarkan bahwa mereka adalah anak.anak yang memiliki budaya campuran orang Indonesia dan orang Jerman. Orangtua mereka berasal dari dua negara yang memiliki budaya yang tak sama. Pengenalan terhadap asal usul mereka saya lakukan lewat pengenalan geografi. Lewat buku, peta, dan tayangan dokumenter saya kenalkan anak-anak tentang alam dan budaya Indonesia. 

Sejauh ini dalam pergaulan anak-anak di sekolah, saya tidak menemukan perbedaan perlakuan antara anak-anak yang lahir dari pasangan Jerman maupun pasangan kawin campur. Anak-anak kami bahkan menyadari bahwa mereka memiliki tampilan fisik yang cukup unik. Mereka tahu mereka memiliki warna kulit yang terang seperti ayahnya namun dengan warna rambut dan mata yang berwarna gelap seperti ibunya. Dengan keunikan ini, sejauh ini belum pernah saya mendengar mereka merasa heran atau tak nyaman dengan perbedaan warna kulit atau rambut yang mereka miliki. 

Di sekolahnya pun ada teman-teman dari anak saya yang rambutnya keriting atau berkulit lebih gelap, dan mereka belum pernah bertanya ‘Mama, mengapa temanku rambutnya keriting?’. Jadi mereka belum pernah membedakan teman-temannya, meskipun secara fisik memang memiliki penampilan yang berbeda.

Salah satu tantangan mendidik anak-anak multi kulti (istilah Jerman untuk ragam budaya) adalah dalam mengenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Saat baru lahir dan sebelum anak pertama masuk TK, saya berusaha untuk berbicara Bahasa Indonesia dalam keseharian agar ia kenal bahasa Indonesia. Namun begitu anak saya masuk TK dan otomatis di TK sehari-hari berbahasa Jerman maka paparan berbahasa Jerman jadi lebih banyak dan lama-kelamaan malah saya yang jadi mengikuti mereka berbahasa Jerman. Jadi tantangannya lebih di saya sebagai ibu yang kesulitan untuk konsisten mengajarkan Bahasa Indonesia ke anak-anak. 

Kesulitan ini membuat saya lalu melahirkan subjektifitas bahwa kita tidak bisa melakukan standarisasi dalam pola pendidikan keluarga. Melakukan tolak ukur dan membanding-bandingkan kondisi satu keluarga dengan yang lainnya. karena tidak ada satu bentuk pola pendidikan tertentu terbaik yang bisa diterapkan untuk semua keluarga. 

Ada keluarga campuran yang anak-anaknya bisa lancar berbahasa ibu, tetapi ini berbeda dengan keluarga lainnya. Agak sulit juga untuk mempertahankan harus bisa berbahasa ibu, karena karakter anak-anak pun berbeda. Ketika orangtuanya membiasakan berbahasa ibu, ada anak-anak yang mudah mengikuti, tetapi ada pula yang merasa enggan apalagi saat di sekolah melihat teman-temannya lebih banyak berbahasa Jerman. 

Apalagi kami tinggal di kota kecil yang tidak banyak orang Indonesia tinggal di sini. Jadi dalam mengenalkan bahasa Indonesia, akhirnya senyamannya saja karena mau bagaimana lagi. Menurut saya, yang penting anak-anak tahu bahwa pada dasarnya mereka punya latar belakang budaya campuran, dibesarkan dalam dua latar belakang budaya yang berbeda dengan saya -ibunya- orang Indonesia.

Namun saya selalu angkat topi buat keluarga campuran yang anak-anaknya tetap bisa lancar berbahasa dari kedua pihak orangtua. Kalapun ternyata si anak lebih lancar satu bahasa saja, ya tidak apa-apa karena masing-masing keluarga punya kondisi yang berbeda dan karakter anak-anak pun berbeda.  

Belum lagi nanti saat si anak mempelajari bahasa lainnya di Eropa. Kalau nanti si anak memutuskan untuk mempelajari berbagai bahasa lainnya, itu akan menjadi keputusan mereka. Untuk anak-anak saya, yang terpenting adalah mereka tahu dulu bahwa mereka punya darah Indonesia yang mengalir dalam diri mereka.

Sedari awal, anak-anak saya juga sudah aware dengan penampilannya. Seperti saat dia bilang bahwa rambut saya gelap karena mama rambutnya gelap juga. Saya juga mengajarkannya ke anak-anak saat mengamati keseharian di sekeliling kami, seperti kucing yang memiliki warna bulu yang berbeda-beda. Menurut saya, keluarga campuran itu punya kosa kata yang lebih luas dan contoh yang lebih riil dalam keseharian mereka untuk mengajarkan perbedaan. 

Latar belakang budaya yang berbeda dari orang tua tentu berdampak pula pada pola pengasuhan. Termasuk saya sebagai orang Indonesia dan suami orang Jerman yang memiliki banyak kebiasaan yang berbeda. Jerman misalnya terkenal dengan budaya tepat waktu, disiplin, dan kebiasaan mengantri yang tinggi. Dalam hal ini saya justru belajar banyak dari suami dan membiarkannya untuk mendidik anak-anak soal kedisiplinan ini. Meski dibandingkan dengan budaya kita, pola asuh suami terlihat agak ‘keras’. Namun menurut saya, dalam mendidik anak itu, kedua orang tua harus kompak; tidak bisa di bapaknya yang galak sementara ibunya membela si anak kalau anaknya berbuat salah. Jadi saya harus satu komando dengan suami saya, agar jangan sampai kalau ada apa-apa anaknya malah condongnya ke ibu. 

Contoh paling sederhana saat waktu makan, anak-anak harus disiplin duduk makan bersama di meja makan dan makan sendiri sampai habis. Saya ikut pola asuh disiplin seperti itu dan menjalankannya bersama suami. Ada saat-saat di mana rasanya tak tega juga melihat pola didikan disiplin ini, tetapi saya tidak membela si anak atau memperlihatkan ketidaksetujuan saya di depan anak. Ini dimaksudkan agar si anak tidak kebingungan melihat bapaknya bilang ini tetapi ibunya bilang yang lain. Jadi memang orang tua harus terlihat kompak. 

Masih soal makan. Di sini anak-anak diajarkan untuk disiplin makan pakai pisau dan garpu. Tak hanya saat makan di restoran, di rumah pun makannya dengan pisau dan garpu. Namun saya juga bilang ke anak-anak, kalau di Indonesia itu makannya pakai tangan dan itu adalah hal yang biasa dijumpai di manapun di Indonesia. Karena saya sendiri juga suka makan pakai tangan, anak-anak pun jadi tahu kalau ada kultur lain bahwa makan di meja itu bisa tanpa pisau dan garpu. Jadi ketika mereka merasa ingin melakukan sesuatu yang di luar adat kebiasaan orang Jerman saat makan, mereka bilang, „aku kan orang Indonesia jadi boleh makan pakai tangan saja“.

Selain pengenalan keragaman budaya lewat makanan, saya juga mengenalkan anak-anak baju-baju Indonesia seperti batik. Saya sering memakai daster batik di rumah dan anak-anak suka melihat motifnya. Meski daster hanya baju rumahan tetapi menurut anak-anak itu baju yang bagus. Mereka bilang kalau baju Mama bagus banget. Menurut mereka daster batik itu seperti dress cantik saja.

Pengenalan sedari awal pada anak bahwa ada dua budaya yang berbeda dalam diri anak-anak ini akan membentuk rasa percaya diri mereka. Mereka sudah tahu dari awal bahwa mereka berasal dari dua latar belakang budaya yang berbeda. Ketika anak-anak ini sudah memiliki pengetahuan bahwa mereka memang punya latar belakang orangtua yang berbeda yang memperkaya kehidupan mereka, ketika ada ejekan atau bully, mereka bisa menantang balik ejekan tersebut. Seperti misalnya bila ada yang mengejek warna rambut mereka, mereka sudah tahu bahwa ‘oh rambutku berwarna gelap karena ibuku juga warna rambutnya gelap’. Dan ibu sangat cantik dengan warna rambutnya yang gelap. 

Perbedaan tampilan fisik toh tidak mengurangi dan mengecilkan nilai kebaikan seseorang. Meski budaya Indonesia dan Eropa itu berbeda, tetapi tetap ada nilai-nilai universal atau norma bersama yang kita terima, misalnya menghormati orangtua, berlaku jujur, dan tak menyakiti sesama. Di budaya manapun, kita akan menemukan nilai-nilai dasar tersebut, meskipun cara mengekspresikannya yang akan tampak berbeda-beda. Ajarkan kepada anak bahwa nilai-nilai universal ini ada dalam budaya manapun tanpa memandang perbedaan warna kulit.

Saya ingin menekankan bahwa dalam budaya manapun, tidak ada standar tertentu yang menunjukkan bahwa budaya yang satu lebih bagus daripada yang lainnya. Yang penting nyaman dijalani oleh keluarga dan bisa diterapkan dengan baik ke anak-anak. Kalau kita tidak nyaman menerapkannya dan anak-anak juga belum bisa menjalankannya, upayakan untuk menerimanya sebagai perbedaan dan tidak perlu dipaksakan.

Yang terpenting juga, dalam menjalankan pola pengasuhan dari dua budaya yang berbeda, orang tua harus kompak sebagai satu team work. Ayah dan ibu harus satu komando. Jangan bikin anak bingung!

*sebagaimana dituturkan oleh Syafa Haack, ibu dengan dua anak tinggal di Jerman, kepada Aini Hanafiah.

(SIARAN BERITA) Diskusi Virtual: Hari Perempuan Sedunia 2022

JERMAN – Salah satu bukti menguatnya integrasi budaya dan mobilitas akibat kemudahan teknologi komunikasi adalah semakin mudahnya pertemuan dan percampuran budaya yang berbeda. Ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah kawin campur, yakni perkawinan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Pasangan yang memutuskan menikah di mana pun selalu berharap akan langgeng dalam bahtera rumah tangga mereka. Namun sayangnya, tidak ada yang bisa menebak bahwa angka perceraian pun begitu tinggi bagi pasangan perkawinan campuran.

Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.

Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.

Follow us: ruanita.indonesia

RUANITA (Rumah Aman Kita) selaku selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada psikoedukasi dan praktik baik kehidupan di luar Indonesia bersama PADMEDIA PUBLISHER membuat kompilasi kisah perkawinan campuran dari para pelaku kawin campur yang berdomisili baik di Indonesia maupun di negara lainnya.

Kumpulan cerita tersebut ditulis dalam sebuah buku berjudul Cinta Tanpa Batas, berisikan kisah nyata 23 perempuan Indonesia yang sebagian besar tinggal dan menetap di luar negeri. 

Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Perempuan Sedunia 2022, RUANITA menggelar diskusi virtual yang masih menjadi rangkaian menuju peluncuran buku Cinta Tanpa Batas.

Diskusi virtual tersebut bertema ‘Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan Perempuan di Luar Negeri’. Acara ini akan dilangsungkan lewat kanal Zoom pada Minggu, 13 Maret 2022 pukul 19.00-21.00 WIB (13.00-15.00 CET). 

Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia, tanpa pendaftaran. Diskusi virtual akan dipandu oleh moderator Anna Knöbl dari RUANITA dan dibuka dengan sambutan dari Sandrayati Moniaga selaku Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM RI.

Beberapa narasumber yang akan mengisi diskusi virtual adalah Novi Siti (relawan RUANITA dan salah satu penulis buku Cinta Tanpa Batas), Pande K. Trimayuni (Ketua FOKAL Universitas Indonesia dan Co-Founder Institut Ungu), serta Lisabona Rahman (Founder Sekolah Pemikiran Perempuan). 

Dalam diskusi virtual ini akan dibahas data dan kebijakan Pemerintah RI dalam menangani kasus-kasus perempuan Indonesia di luar negeri, terutama isu dalam perkawinan campuran seperti KDRT, kasus hak asuh anak, serta kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Peserta dapat menyimak seperti apa kebijakan Pemerintah RI dalam melindungi perempuan Indonesia yang berada di luar negeri dalam mendapatkan hak-haknya.

Diskusi virtual ini juga diadakan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman dan pendapat dalam meningkatkan pemikiran perempuan yang berperspektif feminis, terutama untuk perempuan Indonesia di luar negeri. Selain itu peserta dapat berbagi pengalaman dan pendapat dalam meningkatkan promosi kesetaraan gender dan hak perempuan mancanegara.

Diharapkan bahwa diskusi virtual ini dapat menjadi media advokasi untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu dalam perkawinan campuran dan pemberdayaan perempuan agar nantinya menjadi pembekalan diri dan sesama perempuan lainnya. 

Adapun tindak lanjut dari acara diskusi virtual ini adalah kampanye penulisan surat terbuka AISIYU 2022 (Aspirasikan Suara dan Inspirasi Nyatamu) yang mengangkat tema ‘Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan Perempuan di Luar Negeri‘.

Kampanye surat terbuka AISIYU ini akan diselenggarakan selama sepekan (21-27 November 2022) untuk memperingati Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh tiap tahun pada 25 November nantinya.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia

(PELITA) Kok Anak Saya Umur Segini Belum Bicara

Stephanie menceritakan pengalamannya sebagai ibu bagaimana mengenali kondisi anak yang terlambat bicara. Tutur Stephanie, sebaiknya orang tua sudah mengidentifikasikan perkembangan anaknya sedini mungkin agar penanganannya dapat cepat teratasi.

Berdasarkan perkembangan bahasa anak, terdapat beberapa fase seberapa banyak jumlah kata yang sudah dapat disebutkan anak. Misalnya anak umur dua tahun sebaiknya sudah memiliki 150-300 kata dan dapat menyusun 2-3 kalimat.

Selain itu, keterlambatan bicara pada anak sering dikaitkan dengan gejala autis pada anak. Stephanie menjelaskan dengan baik dalam video berikut menurut keilmuannya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang terlambat bicara.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(CERITA SAHABAT) Segera Tangani Sedini Mungkin, Kalau Anak Alami Terlambat Bicara

Sahabat Ruanita, aku mau cerita pengalaman yang kuhadapi pada anakku yang mengalami keterlambatan bicara. Aku adalah ibu dari seorang putra dan tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi lanjutan. Aku merasa bahagia dengan kelahiran putraku, seolah menggenapi kepuasan hidupku. Saat R, sebut saja begitu untuk inisial putraku, berusia dua tahun ternyata dia belum juga bisa bicara. Misalnya, dia memanggilku „mama“ saja tidak setiap hari bahkan satu minggu pun belum tentu. 

R tidak banyak ngomong dalam kesehariannya. Selain itu, aku perhatikan anakku ini, bahwa dia begitu sensitif terhadap suara misalnya. Pernah suatu kali, kami datang ke acara ulang tahun dan saat banyak orang tepuk tangan, R menangis. Selain suara yang sensitif untuk R, ternyata R juga memilih untuk makan makanan yang lembut saja. Semua tumbuh kembang R, aku perhatikan dengan baik apalagi aku punya latar belakang keilmuan psikologi.

Aku kemudian putuskan membawa R ke ahlinya di negeri tempat aku melanjutkan studi. Tenaga profesional yang memeriksa R mengatakan bahwa R mungkin mengalami gangguan autis. Aku tidak sepakat tentang hasil yang diberikan ini sementara suamiku tetap berpikir bahwa R bisa jadi autis. Aku menolak keras pendapat bahwa R mengalami autis. Bagaimana pun aku paham sekali gangguan autis itu, apalagi aku sempat praktik menangani anak-anak dengan autis. 

Di negeri tempat aku studi di benua biru ini, anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis akan mendapatkan penanganan dan perawatan khusus secara gratis asalkan orang tua menandatangani kesepakatan bahwa anak tersebut memang memerlukan penanganan profesional. Ya, aku setuju bahwa R memang perlu treatment khusus, tetapi bukan treatment untuk anak autis. 

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk memeriksakan R saat aku berlibur di Indonesia. Aku bawa R ke klinik profesional yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus dan perlu penanganan psikologis. Letak klinik tersebut ada di Jakarta dan aku kenal siapa pemilik klinik tersebut. Setelah diperiksa, R mengalami sensory processing disorder dan speech delay. Jika selama ini R begitu peka terhadap suara atau indera pengecapannya, itu berarti bahwa R mengalami gangguan yang disebut dengan sensory processing disorder. 

Selain itu, klinik yang menjadi rujukanku untuk memeriksakan R juga mengatakan bahwa R hanya mengalami speech delay, bukan autis. Ya, aku menerimanya bahwa R memang kesulitan memformulasikan kalimat dan kata-kata di saat anak-anak seusianya mungkin sudah punya banyak kosakata. Akhirnya, R mendapatkan penanganan khusus selama kami tinggal di Jakarta. R mendapatkan terapi yang bisa dilakukan paralel untuk mengatasi sensory processing disorder dan speech delay. 

Treatment untuk R dilakukan sebanyak dua kali seminggu. Sepertinya klinik ini memiliki teknik khusus seperti teknik bermain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan anak. Mereka memiliki terapi bermain yang membantu anak seperti bermain foam (=bentuk) dari lilin sehingga R bisa merasakan dengan tangannya dan membuat sesuatu. Atau R suka lompat-lompat maka klinik akan menyediakan permainan sambil anak diberikan penanganan khusus.

Aku berpikir bahwa semua butuh proses yang memang dibutuhkan kesabaran dan pendampingan dariku sebagai ibunya. Saat kembali ke negeri yang jadi rumah keduaku, aku melanjutkan lagi dua terapi tersebut untuk R. Bedanya, aku membayar semua treatment untuk R selama di Jakarta sedangkan di negeri rumah keduaku tersebut, semua difasilitasi oleh negara dan tergantung juga seberapa besar plafon asuransi yang kita pilih. 

Beruntungnya R mengalami kemajuan yang pesat, sehingga pekerja klinik asing tersebut memutuskan bahwa R tidak perlu lagi terapi untuk atasi sensory processing disorder, hanya R masih perlu untuk terapi atasi speech delay. Aku memang bolak-balik antara Indonesia dengan salah satu negeri di benua biru, yang jadi rumah keduaku. Aku pun tetap melanjutkan terapi yang dibutuhkan R demi tumbuh kembang putraku, R.

Kami sempat berlibur ke Bali sekaligus aku harus bekerja di sana. R ikut serta bersamaku. Sekembalinya dari liburan, aku membawa R untuk kembali melanjutkan terapi speech delay-nya di Jakarta. Staf klinik yang selama ini mendampingi R pun merasa takjub atas kemajuan pesat dari kosakata R, apalagi sekembalinya dari liburan di Bali. 

Puji Tuhan, R memang kini bisa kembali bersekolah seperti umumnya anak-anak seusianya. Aku bersyukur bahwa R bisa bercerita padaku tiap hari seperti yang kuinginkan selama ini. R tidak lagi kesulitan dalam berkomunikasi. Aku hanya berpendapat bahwa seorang ibu pasti mengenali anaknya, termasuk bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Aku pikir sedini mungkin kita perlu melakukan penanganan agar anak-anak bisa tumbuh sehat seperti harapan semua ibu di dunia ini. 

Penulis: Stephanie, seorang ibu.