(CERITA SAHABAT) Pentingnya Konsistensi Untuk Perkembangan Bahasa Anak Kawin Campur, Beda Bahasa Ibu

Sahabat Ruanita, aku menikah dengan pria berkebangsaan Swiss kemudian menetap di negeri suami sudah lebih dari lima tahun. Aku memiliki dua putera yang membuatku happy selama tinggal di perantauan. Setidaknya aku kini tidak sendirian dan kesepian lagi karena ada dua buah hatiku.

Soal merawat anak sebenarnya tak begitu sulit mengingat aku punya dasar pengalaman bekerja sebagai perawat di rumah sakit saat aku masih di Indonesia. Aku juga beruntung memiliki suami yang pengertian dan ikut serta berbagi tugas pengasuhan anak-anak. 

Ketika aku melahirkan, dokter menyampaikan kalau anakku ke depan akan menjadi anak yang hyperaktif. Awalnya anakku itu mengalami tantrum, apabila keinginannya tidak terpenuhi. Aku pikir itu wajar terjadi pada anak-anak.

Kejadian yang paling aku ingat adalah anakku baru dua hari masuk sekolah, gurunya itu mengatakan kalau anakku tidak bisa mengikuti pembelajaran. Katanya, anakku kalau melihat mainan tersedia di sekolah, dia lebih sibuk bermain daripada mengikuti apa yang disampaikan gurunya. Menurutku itu hal yang biasa bahwa anak lebih suka bermain daripada mengikuti instruksi gurunya. 

Guru anakku pun berinisiatif untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan anakku dan anakku yang juga belum bisa berbicara, dengan bertanya ke suami dan dokter anak. Kejadian itu dilaporkan ke Gemeinde (=sebutan untuk pemerintah lokal setempat) yang kemudian mendiagnosa apa yang terjadi dengan anakku. Mereka berpendapat bahwa anakku mengalami kelambatan bicara dan anakku pun tidak memahami Bahasa Jerman dengan baik. Menurutku, anakku butuh yang terbaik untuk tumbuh kembangnya. Aku pun menuruti apa yang menjadi rekomendasi mereka.

Aku disarankan membawa anakku ke Logopädie, bagian terapi yang memfokuskan pada kesulitan bicara anak, kesalahan pengucapan, kesalahan pemahaman bicara yang biasanya tersedia di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss. Aku tetap optimis itu semua untuk kebaikan anakku tanpa menghiraukan pendapat orang-orang bahwa anakku butuh Psikolog Anak dan Logopädie. Aku berpikir positif bahwa semua treatment itu untuk kebaikan anakku juga. 

Aku bersyukur sejak dini aku tahu masalah perkembangan anakku kemudian dibantu oleh Psikolog Anak dan Logopädie di sini. Psikolog Anak tiap satu minggu sekali datang ke rumahku seperti mengajak anakku bermain, mengamati perilaku anakku, mengajari bahasa ke anakku. Kunjungan Psikolog Anak berlangsung selama satu jam seminggu sekali. Untuk Logopädie itu gratis dimana aku bersama anakku berkunjung seminggu sekali ke terapi wicara tersebut. Semua penanganan anak itu aku dapatkan gratis sebagai layanan pemerintah kepada masyarakat. 

Untuk layanan Logopädie privat 1 jam dikenakan 110 CHF. Kalau kita mau layanan privat, tentu saja harus bayar. Saya mendapatkan layanan umum saja sehingga aku dan anakku bisa ditangani cepat. Pemerintah di sini menyadari pentingnya layanan Logopädie untuk membantu anak-anak yang terlahir dari pelaku kawin campur. Bagaimana pun anak tentu kesulitan mencerna atau memahami bahasa kedua orang tua mereka. 

Akhirnya aku mengatasi kesulitan berbicara pada anak dengan cara aku dan suamiku konsisten berbicara pada anakku. Aku konsisten berbicara dengan Bahasa Indonesia pada anakku. Sedangkan suamiku berbicara konsisten Bahasa Swiss-Deutsch pada anakku. Anakku mungkin mendapatkan bahasa baru semisal dari tontonan YouTube, pembelajaran di sekolah atau pergaulan dengan teman sebayanya. Aku konsisten tidak berbicara Bahasa Inggris sedikit pun pada anakku. Cara ini akan membuat anakku tidak bingung memahami bahasa.

Dokter/ahli sih berpendapat tidak ada masalah bagaimana orang tua harus berbicara pada anaknya. Namun aku menerapkan pola berbicara seperti itu, aku berbicara dalam Bahasa Indonesia sedangkan suamiku berbicara dalam Bahasa Swiss-Deutsch. Pendapatku, anak bisa berbicara bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin di sekolah. Namun aku mengajarinya Bahasa Indonesia agar anakku bisa berkomunikasi dengan nenek-kakeknya atau orang tuaku dan juga keluargaku.

Bagaimana pun anak-anak perlu diajari bahasa ibu sebagai komunikasi anak dengan ibunya di rumah. Bahasa ibu itu lebih penting di rumah. Kalau anak di luar rumah, biarkan anak-anak belajar dengan sendirinya. 

Saya sendiri menunggu jasa layanan ini hingga dua bulan agar anak bisa langsung ditangani. Anakku sempat berhenti dari playgroup karena menunggu layanan Logopädie tersebut.

Kadang ada saja pendapat miring kalau anak pergi ke Psikolog, maka masalah anak jadi bermacam-macam. Kita perlu memahami bahwa Psikolog itu membantu masalah kita, terutama untuk tumbuh kembang anak. Kita bisa cerita sama mereka juga karena mereka akan membantu dan memberikan solusinya.

Alhamdulilah, anakku sekarang sudah luar biasa tumbuh kembangnya. Mereka bilang juga kalau anakku itu Intelligent. Sekarang anakku bisa berbicara lancar daripada sebelumnya. Kelambatan bicara atau masalah bicara anak pada perkawinan campuran yang berbeda bahasa ibu bukan hal yang baru. Anakku pun mengalami perkembangan bahasa yang baik dan lebih baik.

Aku bersyukur tahu sejak dini tentang masalah tumbuh kembang anak sehingga aku dan suamiku bisa mengoreksi bersama.

Penulis:

Fitri H. Wehrli kini bermukim di Swiss. Buah pikir Fitri lainnya yang sudah terbit: CINTA TANPA BATAS (2022).

(SIARAN BERITA) Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara?

JERMAN – Tak banyak orang tua yang siap menerima kondisi anak dengan Autisme, apalagi tinggal jauh dari Indonesia. Padahal sikap mental orang tua ini menentukan dan berdampak pada bagaimana orang tua mendukung dan menangani kekhususan dan kompleksitasnya.

Hasil penelitian menunjukkan peran aktif orang tua sangat menunjang keberhasilan terapi dari penanganan anak dengan autisme. Bagaimana pun orang tua selalu ingin yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

Kehidupan di luar Indonesia nyatanya memberikan pengaruh bagi orang tua yang mengalami anak dengan autisme. Orang tua dihadapkan pada prosedur kebijakan penanganan anak autis yang berbeda-beda sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku.

Ketika anak dengan autisme sedang ditangani secara profesional, terkadang kita lupa memperhatikan kebutuhan psikologis bagi orang tua yang menjadi social support system untuk anak. Tidak jarang orang tua masih menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Ada juga orang tua yang menyalahkan vaksinasi, obat, salah pengasuhan atau terlambat diagnosa.

Ruanita – Rumah Aman Kita sebagai “Rumah” berbagi ilmu dan pengalaman untuk warga Indonesia di mancanegara bermaksud menggelar webinar bertema penanganan anak dengan autisme di mancanegara.

Webinar ini diawali dengan sharing pengalaman dari Alda Trisda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan saat ini tinggal di Belgia. Narasumber kedua adalah Dr. Deibby Mamahit, seorang ahli dan praktisi dalam menganani anak dengan autisme sesuai keilmuannya. Beliau saat ini tinggal di Singapura.

Tujuan diselenggarakan webinar adalah untuk membagikan pengalaman sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan memberikan dukungan sosial kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tinggal di mancanegara.

Follow us ruanita.indonesia

Kedua, webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi prosedur penanganan anak dengan autisme sesuai ilmu kedokteran dan pengalaman menangani anak dengan autisme di mancanegara.

Terakhir, webinar ini bertujuan untuk menjadi social support system bagi orang tua di mancanegara yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme.

Webinar ini dibuka resmi oleh Ketua DWP KBRI Berlin yakni Sartika Oegroseno. Tentunya Jerman sebagai negara maju telah memiliki kebijakan tersendiri dalam memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme meski sebenarnya tidak ada angka yang pasti tentang jumlah anak dengan Autisme di Jerman. Untuk menguatkan diskusi, acara webinar dipandu oleh Fransisca Sax, M.Psi. yang juga seorang Psikolog yang bertugas di Daycare di Munich, Jerman.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Rekaman ulang webinar bisa disaksikan di saluran YouTube berikut:

(IG LIVE) Penanganan Anak dengan Autisme di Jerman

JERMAN – IG Live Episode Juli 2022 yang diselenggarakan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita adalah bertema penanganan anak dengan Autisme di Jerman. Acara IG Live (16/7) dipandu oleh Christophora Nisyma, yang biasa disapa Nisyma (akun IG: ruanita.indonesia). Dia kemudian mengundang narasumber yang berbagi keilmuan dan pengalaman seputar menangani anak dengan Autisme di Jerman. Narasumber yang dimaksud adalah Fransisca Sax, M.Psi. yang bertugas saat ini di Daycare di Munich, Jerman.

IG Live di bulan Juli ini sebagai pengantar webinar yang digelar Ruanita dengan judul: Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara? pada Minggu, 17 Juli 2022. Fransisca menetap di Jerman sejak 2016, kemudian dia memutuskan untuk bekerja di Daycare untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus di Munich pada 2020.

Layanan yang dilakukan Fransisca sehari-hari juga termasuk anak-anak yang masuk gangguan dalam spektrum Autisme melalui bermain, makan siang, ngobrol, atau melakukan terapi. Fransisca biasa membuat diagnosa perkembangan tiap anak/remaja yang didampinginya.

Tugas lainnya yang berkaitan dengan fungsi orang tua yang dilakukan Fransisca adalah membantu orang tua untuk menemukan terapi yang sesuai untuk kebutuhan anak. Di Jerman terdapat peraturan yang mengatur bahwa anak-anak dengan Autisme bisa terinklusi di masyarakat. Ini menjadi perbedaan Jerman dengan negara lainnya. Autisme dan anak-anak berkebutuhan khusus adalah keragaman yang memperkaya, bukan membebani.

Oleh karena itu, pemerintah Jerman berharap bahwa masyarakat juga bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak dengan Autisme. Itu berarti bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus saja yang dituntut bisa beradaptasi di masyarakat. Masyarakat juga harus bisa membantu mereka – anak/remaja berkebutuhan khusus – terinklusi di masyarakat.

Jerman sudah meratifikasi sejak 2009 Konvensi PBB tentang hak individu anak-anak berkebutuhan khusus. Ratifikasi ini sudah berlaku di 16 negara bagian di Jerman, yang disesuaikan dengan kebijakan tiap-tiap negara bagian. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Jerman patut mengetahui paragraf 35A BGB yang menjadi landasan kuat agar anak berkebutuhan khusus tetap dapat terlayani seperti terapi, bantuan finansial dan bantuan pendampingan lainnya.

Sekolah itu gratis di Jerman sedangkan terapi untuk anak berkebutuhan khusus ditanggung oleh asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan layanan tak berbayar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, orang tua perlu menghubungi instansi terkait di Jerman.

Di paragraf 35A BGB tersebut tertera bahwa anak/remaja yang berkebutuhan khusus itu mendapatkan layanan inklusi jika perkembangannya lebih lambat 6 bulan dari usia perkembangan atau individu seusianya. Misalnya anak umur 6 tahun tetapi belum dapat melakukan toilet training atau belum bisa berbicara seperti anak-anak seusianya.

Kondisi anak-anak yang mengalami keterlambatan tentu akan mempengaruhi proses perkembangan anak selanjutnya seperti dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Penting untuk mengetahui dan mendeteksi perkembangan anak sejak dini agar bisa dilakukan penanganan secepatnya.

Diagnostik keterlambatan anak ini menjadi indikator bahwa anak memerlukan penanganan dini. Bantuan terkait anak-anak berkebutuhan khusus yang disediakan pemerintah Jerman kepada masyarakat berupa bantuan rawat jalan, tempat tinggal khusus sifatnya sementara, bantuan perawat/terapis untuk membantu anak berkebutuhan khusus sampai rumah tinggal permanen untuk anak-anak berkebutuhan khusus bila mereka tidak lagi memiliki orang tua/sanak keluarga lainnya.

Tujuan pemerintah Jerman lewat program inklusi adalah memberi kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dan bisa hidup di masyarakat pada umumnya. Spektrum anak dengan Autisme itu begitu luas sehingga perlu terapi yang mana bantuan pun bergantung pada diagnostik dari anak/remaja tersebut. Pemerintah mengambil alih pembiayaan sehingga perlu juga ada laporan mengenai perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus yang dibiayainya melalui diagnostik berkala. Ini pula yang menjadi bagian dari pekerjaan Fransisca sehari-hari.

Menurut Fransisca, penanganan anak dengan Autisme itu harus dilakukan secara holistik mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hukum dan lainnya. Di Jerman terapi yang diberikan kepada anak dengan Autisme pertama kali diberikan oleh dokter anak setelah melihat kecenderungan atau kemungkinan gangguan spektrum Autisme. Orang tua kemudian membawa anak untuk bagian penanganan anak usia dini. Orang tua akan didampingi dalam merawat dan mengasuh anak-anak dengan Autisme. Fransisca menegaskan layanan ini hanya untuk anak-anak berusia PAUD atau anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.

Anak dengan gangguan spektrum Autisme biasanya mengalami masalah bahasa, meski begitu bukan berarti dia tidak bisa bicara. Diagnosa bisa merujuk pada bagaimana kondisi anak sebenarnya sehingga perlu stimulasi lebih lanjut. Anak bisa dirujuk ke terapi wicara atau dalam Logopädie Therapie dalam Bahasa Jerman.

Lainnya anak dengan gangguan spektrum Autisme punya kecenderungan masalah dengan sensori panca indera seperti fokus pada penglihatan atau pendengaran tertentu saja. Anak-anak yang punya kecenderungan demikian, menurut Fransisca, biasanya dirujuk ke Ergotherapie dalam Bahasa Jerman. Di Indonesia, Ergotherapie disebut sebagai terapi okupasi.

Lebih lanjut tentang penanganan anak dengan Autisme di Jerman yang disampaikan oleh Fransisca dapat disaksikan dalam tayangan IG Live berikut:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Keluarga itu Dicek Kesiapannya Untuk Memiliki Anak di Swiss

Cerita Sahabat Spesial bertema pengalaman melahirkan kali ini disampaikan oleh Fitri H. Wehrli yang sudah menetap di Swiss lebih dari 5 tahun. Ibu dari dua orang anak ini menuturkan pengalamannya melahirkan di Swiss yang begitu perhatian untuk kesejahteraan ibu dan anak. Di rumah sakit bersalin di Swiss telah tersedia semua pakaian yang dibutuhkan oleh ibu dan anak. Fitri merasa senang dan happy saat jelang persalinan kedua buah hatinya.

Semua fasilitasi layanan cek kehamilan, suntik, obat-obatan dan semua yang dibutuhkan ibu selama kehamilan hingga melahirkan ditanggung oleh asuransi yang sudah wajib dimiliki seseorang jika tinggal dan menetap di Swiss. Artinya, Fitri tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Menurut Fitri, tidak ada mitos-mitos tentang ibu hamil atau ibu melahirkan yang selama ini didengarnya sewaktu dia berada di Indonesia. Suami Fitri hanya menyarankan agar Fitri tetap happy menjadi ibu.

Sebagai seorang yang memiliki latar belakang perawat yang bekerja di rumah sakit, Fitri merasakan perbedaan pengalaman melahirkan antara Indonesia dengan Swiss. Di Indonesia, seorang ibu yang hamil hingga melahirkan ditangani oleh dokter yang sama sedangkan di Swiss berbeda. Selama kehamilan ibu memang ditangani oleh dokter, tetapi setelah ibu melahirkan maka ibu akan ditangani oleh Hebamme atau Bidan dalam Bahasa Indonesia.

Fitri pun menceritakan pengalaman melahirkan anak pertama kali di Swiss. Fitri sempat mendapatkan tindakan akupuntur setelah pembukaan satu agar dapat mempercepat proses lahiran yang dialaminya. Saat seorang ibu hendak melahirkan, dokter bertanya kepada ibu tentang metode melahirkan yang dikehendaki. Fitri memilih untuk melahirkan secara normal yang dibantu oleh seorang bidan yang sudah dirujuk oleh dokter.

Setelah Fitri melahirkan dengan kondisi yang baik-baik saja, Fitri kemudian dibawa ke suatu ruangan bersama anak yang baru saja dilahirkan. Menurut Fitri, ibu akan selalu bersama anak yang baru saja dilahirkan kalau kondisi keduanya baik-baik saja dan tanpa masalah. Biasanya dokter dan bidan akan berjaga dan stand by 24 jam di rumah sakit bersalin saat seorang ibu melahirkan untuk mengecek kondisi ibu dan anak.

Bidan yang membantu persalinan akan datang ke rumah dari ibu yang baru saja melahirkan, begitu cerita Fitri. Bidan akan mengontrol kondisi ibu dan bayi seperti melihat kesehatan, berat badan dan masalah yang ditemukan setelah persalinan. Bahkan ibu mendapatkan pengetahuan dasar dari Bidan tentang mengurus bayi yang baru saja lahir seperti memasang popok atau cara menyusui. Padahal pengetahuan dasar seperti ini biasanya sudah diperoleh ibu saat ibu masih di rumah sakit.

Hal menarik di Swiss adalah kunjungan dari pemerintah setempat terutama bagian perlindungan anak ke ibu yang baru saja melahirkan. Kunjungan mereka berfokus pada bagaimana kesiapan ibu dan keluarga dari bayi yang baru saja lahir. Apakah keluarga ini layak untuk mengasuh dan merawat bayi yang baru saja lahir? Demikian cerita Fitri saat pihak Gemeinde (=pemerintah setempat) mengecek kelahiran bayinya pertama kali. Mereka melihat apakah keluarga Fitri itu harmonis dan siap secara lahir batin untuk mengasuh bayi yang baru saja lahir tersebut.

Tak hanya soal kesiapan materi yang ditanyakan oleh pihak Gemeinde kepada ibu dan keluarga yang baru saja mendapatkan anggota keluarga baru, mereka juga mengecek apakah ibu yang baru saja melahirkan itu happy dengan kehadiran bayi tersebut. Mereka memantau kondisi mental ibu seperti mengalami stress, depresi, tidak bahagia, dan sebagainya. Mereka tidak hanya bertanya kepada ibu yang baru saja melahirkan tetapi juga kepada suami tentang kondisi istrinya. Kunjungan mereka dilengkapi juga dengan pemberian buku dan materi edukasi bertema Parenting yang bermanfaat bagi Fitri dan suami.

Berikutnya Fitri bercerita soal tunjangan anak yang diberikan Pemerintah Swiss untuk tiap anak yang lahir di Swiss. Pertimbangan tunjangan anak juga bergantung pada ayah atau ibu yang bekerja. Tunjangan anak diberikan kepada masing-masing anak. Bagi Fitri, tunjangan anak ini sangat membantunya dalam membiayai kebutuhan sehari-hari anak.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Nih Kalau Mau Kerja di Norwegia

Cerita Sahabat Spesial kali ini adalah sharing pengalaman dari Novi yang sudah hampir dua puluh tahun tinggal di Norwegia. Semula Novi berangkat ke Norwegia untuk studi Master di Tromso pada 2004 hingga akhirnya Novi membangun keluarga dan memiliki karir mapan di institusi milik pemerintah Norwegia yang menyediakan Benefit untuk pencari kerja.

Novi berpendapat bahwa para pencari kerja yang berasal dari pendatang itu bisa mendapatkan 52 Benefit yang disediakan pemerintah Norwegia agar setiap orang bisa tetap aktif bekerja. Dari lima juta penduduk negara Norwegia, sekitar sembilan ratus ribu orang adalah pendatang yang datang mencari peruntungan hidup di Norwegia, termasuk orang-orang Indonesia. Tercatat berdasarkan statistik ada 1.971 orang Indonesia yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan di Norwegia, tutur Novi.

Kategori orang yang berpotensi sebagai angkatan kerja di Norwegia menurut Novi dimulai dari usia 15 tahun hingga 74 tahun mengingat angka harapan hidup yang tinggi di Norwegia. Hal menarik apabila kita menjadi pengangguran di Norwegia, pemerintah menyediakan tunjangan pengangguran yang bisa diklaim setelah seseorang tidak punya pengangguran. Tunjangan bisa diterima setelah 21 hari.

Kondisi ini berbeda ketika terjadi Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia mengingat ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Di Norwegia terdapat lima ratus ribu orang “dirumahkan”. Pemerintah Norwegia membuat kebijakan untuk memangkas waktu lamanya seseorang mendapatkan tunjangan pengangguran menjadi hanya 3-5 hari saja.

NAV ini membuat pemetaan bagaimana seseorang di Norwegia bisa mendapatkan pekerjaan dan mendorong seseorang mendapatkan haknya seperti misalnya akses tunjangan sosial. Tunjangan sosial di Norwegia bergantung pada misalnya seseorang yang masih single terhitung mendapatkan tunjangan 700€ per bulan. Ini berbeda sekali dengan seseorang yang sudah memiliki anak.

Hal menarik lainnya yang diceritakan Novi adalah bagaimana pekerja di Norwegia bisa menuntut hak mereka kepada pemberi kerja seperti misalnya demonstrasi yang biasa dilakukan para pekerja. Biasanya pekerja akan bernegosiasi dengan kantor pemberi kerja melalui serikat buruh. Serikat buruh pun bernegosiasi mengenai aspirasi pekerja seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Terjadi kenaikan upah sebesar 3,8% yang dimenangkan oleh para pekerja. Proses kenaikan gaji di kantor pemerintah seperti yang dialami oleh Novi terjadi secara sentral dan lokal. Sebagai pekerja, kita pun dipertimbangkan tentunya dari kinerja yang diberikan kepada pemberi kerja. Fokus utama kenaikan gaji di Norwegia adalah bagaimana si pekerja dapat berkontribusi lebih baik lagi bagi produktivitas pemberi kerja.

Terakhir Novi juga bercerita tentang proses pensiun di Norwegia yang berlaku saat seseorang sudah memasuki usia 67 tahun. Menurut Novi, siapa pun bisa mendapatkan uang pensiun asalkan sudah bekerja lebih dari tiga tahun di Norwegia. Klaim pensiun baru akan diberikan setelah seseorang sudah memasuki usia 67 tahun.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Rasanya Kuliah di Luar Negeri

Nadia dan Fadni adalah mahasiswa Pascasarjana yang kini belajar di Jerman. Berawal dari impian mereka ingin kuliah di Jerman, mereka mulai studi sarjana di Jerman kemudian melanjutkan lagi studi sambil mencari peluang pekerjaan.

Nadia sendiri bercerita bahwa biaya kuliah berawal dari pemberian orang tua, hingga akhirnya dia sendiri harus mencari cara agar bisa mandiri dan mencoba berbagai peruntungan di Jerman.

Sebagai informasi, kuliah di Jerman tidak selalu bergantung pada daftar kehadiran mahasiswa. Namun ini menjadi kendala Nadia ketika dia mendapatkan pekerjaan sampingan yang tidak bisa serta merta menjadi fleksibel untuk mengatur jadwal kuliah.

Di tempat studi Nadia, daftar hadir mahasiswa itu wajib diperhatikan sehingga mahasiswa yang ingin kuliah sambil kerja perlu memperhatikan hal ini.

Nadia mengalami betapa beratnya harus kuliah sambil bekerja di Jerman. Istilah “Kuliah atau Kuli, Ah” menjadi julukan disematkan ketika mahasiswa berusaha mandiri untuk mencukupi biaya hidup di luar negeri.

Nadia menjelaskan bahwa mahasiwa di Jerman bisa bekerja dengan standar upah 450€ per bulan yang tidak kena potongan pajak. Mahasiswa juga perlu memperhatikan jumlah jam kerja yang disyaratkan, sehingga mahasiswa tidak boleh melebihi aturan tersebut.

Sementara Fadni bersyukur bahwa biaya kuliah ditanggung oleh orang tua tetapi Fadni tetap berusaha mencari mini jobs untuk melihat peluang liburan ke negeri tetangga.

Fadni menggambarkan pengalaman kerja yang kerap tak menetap, sekitar 1 bulan, 3 bulan bahkan pernah 1 tahun. Pengalaman menarik ketika Fadni harus bekerja sebagai Houskeeper di hotel dimana selama ini Fadni hanya sebagai tamu di hotel.

Sebagai pekerja hotel, Fadni akhirnya memutuskan berhenti bekerja. Dia harus banyak bekerja di hari Sabtu dan Minggu terutama pengalaman Fadni yang tidak nyaman dan tak enak untuk membersihkan kamar mandi dan kamar tidur tamu hotel.

Pengalaman kerja yang membuat stres untuk Fadni adalah mengantarkan makanan ke pelanggan, terutama saat jam makan tiba. Pekerjaan itu membuat sangat hectic, apalagi di area kota besar seperti Berlin.

Pekerjaan demi pekerjaan ditekuni Fadni dan Nadia dengan harapan melatih kemandirian mereka selama berada di luar negeri.

Bagaimana pun pekerjaan tersebut melatih mental mereka untuk tidak bergantung pada orang tua dan menghadapi suka duka berhadapan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Belum lagi muncul berbagai streotype Nadia dan Fadni yang berasal dari Asia, yang dianggap sebagai pekerja penurut.

Bagaimana kisah pengalaman mereka yang sedang kuliah sambil bekerja di Jerman?

(IG LIVE) Kenali Sebab dan Tips Gangguan Tidur di Musim Panas

JERMAN – Dalam meningkatkan Psikoedukasi, RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar program IG Live bulanan yang dipandu oleh Ferdyani Atikaputri lewat akun IG: ruanita.indonesia. Atika, begitu biasa disapa adalah seorang volunteer Tim Dapur Konten dan juga sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Jerman. Pada program IG Live Juni 2022 bertema: Gangguan Tidur di Musim Panas, Atika mengundang narasumber yang merupakan Founder dari Indopsycare.

Dia adalah Dr. phil. Edo Sebastian Jaya, M.Psi yang juga merupakan Psikolog Klinis lewat akun IG: indopsycare. Edo menjelaskan berbagai macam gangguan tidur yang selama ini tidak banyak diketahui oleh orang awam. Atika mengamini bahwa gangguan tidur lebih banyak dikenal hanya insomnia saja.

Gangguan tidur ada beberapa jenis berdasarkan ICD – International Classification of Disease, seperti insomnia; sleep apnea; sleep related movement disorders seperti kaki gerak-gerak, sering terbangun, tidur sambil jalan, tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk; gangguan tidur yang disebabkan oleh kebanyakan tidur; gangguan tidur yang disebabkan oleh sejenis lalat yang hidup di Afrika yang bisa menginfeksi tubuh kita sehingga membuat kita banyak tidur; dan gangguan tidur lainnya yang banyak sekali.

Fokus pada gangguan tidur di musim panas, Atika menceritakan pengalaman gangguan tidur yang juga dialaminya sejak dia pindah ke Jerman untuk studi. Di Indonesia siklus gelap dan terang sudah teratur sehingga Atika tidak mengalami gangguan tidur. Berbeda dengan pengalaman Atika di Jerman, lama matahari bersinar pada musim panas menyebabkan adanya gangguan tidur. Di musim panas, tubuh pun masih aktif bergerak karena lamanya matahari.

Edo menjawab bahwa gangguan tidur yang dialami di musim panas disebabkan oleh siklus lamanya matahari dimana tubuh merekam melalui mata sehingga membuat kita sulit tidur di jam yang sebelumnya kita terbiasa tidur. Di musim panas hormon melatonin yang dihasilkan tubuh berkurang sehingga membuat kita tetap terjaga hingga waktu gelap tiba. Tubuh kita lebih bergantung pada lamanya sinar matahari.

Bagi orang Indonesia yang belum beradaptasi dengan negeri empat musim, kita perlu mencermati seperti apa gangguan tidur di musim panas yang sudah sangat mengganggu hingga menyebabkan masalah kesehatan. Gangguan tidur ini sifatnya subjektif dan kembali lagi bagaimana sistem metabolisme masing-masing individu. Meski tidur terdengar sepele, kita terkadang memercayai mitos seperti kita akan bisa menabung jam tidur saat wiken tiba.

Mitos seputar tidur tidak tepat bahwa kita bisa menabung “jam tidur” saat wiken tiba karena kembali lagi bagaimana metabolisme tubuh masing-masing individu. Jika hari Senin dan Selasa, kita sudah tidak tidur malam hari kemudian baru membalas “waktu tidur” di hari wiken maka itu tidak tepat karena terlalu lama. Kembali lagi soal mitos tersebut, ada yang bisa membalas “waktu tidur” bergantung pada usia muda yang masih produktif dan memang secara kebetulan individu tersebut tidak punya masalah kesehatan.

Kebiasaan lama tidur juga bergantung pada usia. Menurut Edo, tidak banyak penelitian yang membahas jumlah jam tidur dengan usia. Edo menjelaskan bahwa lama waktu tidur itu bergantung pada kebutuhan tidur, usia, dan konteks. Ketika bayi, kita butuh waktu tidur lebih panjang sebaliknya ketika dewasa itu kembali pada kebutuhan individu tersebut. Ada lansia yang butuh tidur 7 jam, 8 jam atau 9 jam atau bergantung pada aktivitas kita sehari-hari.

Seiring perkembangan zaman dan kualitas gaya hidup sehat meningkat, bisa saja ada lansia yang banyak beraktivitas olah raga dan aktif sehingga tentu saja membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa muda yang tidak lebih aktif.

Edo menyarankan untuk tidak merasa kecil hati jika di usia 40 tahun punya waktu tidur 9 jam. Bagaimana pun kebutuhan tidur bergantung pada konteks, aktivitas dan ritme biologis individu tersebut. Oleh karena itu, 7-9 jam waktu tidur bukan hal yang mutlak dipercayai.

Mengenai insomnia sebagai gangguan tidur yang populer dikenal banyak orang, Edo menjelaskan berdasarkan kriteria diagnostik dalam ICD 11 – International Classification of Disease – yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) terdapat 3 jenis. Antara lain: (1). susah tidur, yakni kita berusaha untuk tidur padahal kita sudah berada di tempat tidur lebih dari 30 menit; (2). kita merasa sering terbangun saat kita sedang tertidur yang terjadi rutin dan sehingga membentuk pola; (3). Early Awakening, kita pasang alarm untuk bangun jam 9 pagi tetapi kita sudah terbangun di jam 6 pagi.

Edo menceritakan salah satu studi tentang gangguan tidur seperti eksperimen pada tikus. Kelompok pertama dimana kandang tikus tetap terpasang lampu menyala terang. Kelompok kedua justru sebaliknya ketika waktu tikus tidur. Setelah dua minggu, kedua kelompok diperiksa hasilnya.

Kelompok pertama terjadi peningkatan lemak pada tubuh tikus dan risiko kesehatan jantung yang meningkat. Tikus pada kelompok pertama semakin obesitas meskipun kedua kelompok mendapatkan asupan makanan yang sama dengan kelompok kedua. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak baik siklus tidur yang berantakan pada manusia karena itu memberikan risiko buruk pada jantung.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki night shift juga beresiko untuk masalah jantung, hipertensi, dan penyakit lainnya. Hal menarik adalah saran dari penelitian yang menunjukkan bahwa tidur siang juga baik untuk kesehatan jantung kala kita seharusnya beraktivitas di siang hari. Secara pribadi, Edo menyarankan waktu tidur sebaiknya bergantung pada lamanya cahaya matahari.

Program IG Live hadir tiap satu bulan sekali yang ditayangkan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita. Anda bisa follow akun Instagram ruanita.indonesia atau mengirimkan pertanyaan lainnya ke email: info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Mulai Dari Atasi Galau Sampai Kelola Emosi yang Jadi Manfaat Aku Berolahraga Yoga

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku Ecie yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman sejak 2008. Sehari-hari aku masih aktif menjadi mahasiswa dan berbagai kegiatan sosial lainnya di Jerman. Aku ikut kelas Yoga itu pada tahun 2015 gara-gara aku tertarik ajakan seorang teman untuk ikut kelas Yoga, apalagi saat itu aku sedang merasa galau. Aku berpikir punya keahlian baru di perantauan itu bisa membantuku mengalihkan rasa galau. 

Sejak itu, aku mulai berolahraga Yoga. Sebagai pemula aku diajari teknik relaksasi yang bernama Hatha. Ini semacam menggabungkan gerakan yang lembut dan lebih lambat. Sebenarnya ini gerakan stretching yang dulu sering kita lakukan sewaktu kita belajar olahraga di sekolah. Teknik lainnya aku belum bisa menguasai lebih banyak lagi sih. Waktu itu guru kelas Yoga mengajari aku untuk menghindari gerakan-gerakan yang salah dan berbahaya, meski gerakan Yoga tampak mudah. 

Dalam Yoga itu kita harus belajar dulu teknik basic. Kelihatannya gerakan Yoga itu mudah, padahal itu perlu teknik dasar yang harus dikuasai pemula dulu. Jangan terkesan tahu dan segera mencoba sendirian tanpa belajar teknik dasar! Bisa jadi kita salah melakukan olahraga Yoga sehingga malahan membuat kita sakit pinggang atau sakit anggota tubuh lainnya. Karena kejadian seperti ini, orang-orang cenderung jadi malas dan kapok untuk kembali berolahraga Yoga.

Gerakan Yoga yang aku ketahui itu harus lambat dan tidak boleh buru-buru. Jangan tergiur untuk melihat orang yang berhasil membuat pose bentuk tubuh Yoga yang biasa dipamerkan di media sosial! Menurutku, Yoga itu lebih pada gerakan untuk mengatur diri sendiri dan nafas. Saat kita harus memaksakan pose tubuh sendiri, sebenarnya kita harus mengatur nafas. Ini sangat membantu orang untuk tetap rileks terutama buat mereka yang punya gangguan panik atau kecemasan. Kita harus konsentrasi dan tetap menikmati gerakan Yoga.

Aku tidak banyak mengikuti klub/kelas Yoga karena aku pikir Yoga bisa dilakukan dengan mengikuti instruksi yang bisa dilihat di YouTube misalnya. Intinya kita bisa berolahraga Yoga di rumah dan gratis pula. Meski aku sudah tidak ikutan kelas Yoga lagi, aku tetap rutin menjalani Yoga 2-3 kali dalam sehari karena ini membantu aku untuk tidur nyenyak.

Menurutku Yoga itu sangat membantu untuk kesehatan mental. Mengapa? Saat kita melakukan Yoga, kita melatih pernafasan secara teratur dan kita berkonsentrasi atas gerakan yang kita buat. Jadi gak ada waktu tuh untuk overthinking. Bagaimanapun happiness itu ‘kan berasal dari dalam diri sendiri dengan cara menggerakan tubuh seperti Yoga ini. Kita lebih fokus pada tubuh dan diri sendiri, dari pada hal-hal lain yang berasal dari luar diri. 

Yoga itu simple gerakannya. Aku bisa loh sikat gigi dengan tangan kiri sambil melakukan Yoga. Atau aku bekerja di depan laptop sambil jongkok kemudian ditahan begitu sekian menit. Intinya kita harus membuat tubuh itu bergerak sehingga kita merasa happy. Bagaimanapun duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer kan tidak sehat juga. Dengan Yoga, kita bisa melakukan gerakan-gerakan yang mudah untuk membuat tubuh tetap bergerak juga.

Sejauh pengamatanku, Yoga adalah olahraga yang umum di Jerman atau area tempat tinggalku sekarang. Aku mudah menemukan klub atau tempat kursus Yoga atau Pilates karena biasanya olahraga tersebut menjadi bagian dari program asuransi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di Jerman. Ada yang bayar kelas Yoga kemudian nanti reimburse dari asuransinya atau kita bayar 50% dari iuran kelas Yoga tersebut.  

Hal menarik di Jerman kalau kita mau berolahraga dengan harga terjangkau, ada tempat Gym murah meriah “Sport Spaß” yang membuat kita bisa memilih olahraga yang kita sukai, seperti Yoga yang biasa diadakan 2-3 kali dalam seminggu. Olahraga murah meriah ini biasa menjadi aktivitas warga Jerman semisal melakukan olahraga di kebun saat musim panas seperti sekarang ini. Saat aku melihat seperti itu di ruang publik, aku kadang berinisiatif ingin gabung sambil memberitahukan kepada mereka bahwa aku merupakan pemula untuk Yoga. Aku merasa senang bisa berolahraga Yoga bersama orang lain juga.

Musim panas seperti sekarang ini banyak orang-orang di Jerman yang suka melakukan olahraga Yoga di outdoor dan ruang terbuka. Misalnya saja ada loh yang melakukan gerakan Yoga di dalam air atau di atas papan selancar misalnya.

Sebenarnya kenapa Yoga? Aku tuh sudah mencoba olahraga lainnya seperti Surfing dan Panjat. 

Aku cenderung suka olahraga Yoga karena Yoga itu bisa dilakukan di mana saja. Selain itu, aku bisa melakukan Yoga dengan teman-teman, bahkan aku pernah melakukannya di kebun. Atau aku juga bisa melakukan Yoga sendirian. Kalau orang suka berolahraga Yoga, mereka tidak harus punya peralatan dan memang Yoga mudah untuk diikuti. Orang bisa melihat berbagai gerakan Yoga hanya di YouTube misalnya. 

Kalau suka Yoga kadang ada klub atau kelas Yoga dengan harga terjangkau. Seperti di Universitas tempatku studi, Universität Hamburg menawarkan juga kelas Yoga dengan iuran 20€ – 30€ per semester. Lainnya, kalau kita tinggal di Jerman, kita bisa membayar biaya 50% dari iuran kelas Yoga karena 50% biaya lainnya itu ditanggung oleh asuransi. Aku membayar kursus Yoga sekitar 130€ untuk 8 kali pertemuan.

Yoga itu gak butuh peralatan sehingga membuat banyak orang tertarik mencobanya. Untuk teknik Yoga lanjutan, memang kita memerlukan peralatan khusus seperti blok berbahan kayu atau gabus buat penyangga. Kata guru kelas Yoga yang mengajariku alat bantu ini kalau kita belum lentur. Kita bisa mencari alternatif alat bantu lainnya seperti kamus atau buku-buku tebal. Ketimbang kita membeli peralatan Yoga, kita juga bisa pakai alternatif yang ada di rumah seperti bantal, tali, atau selendang yang panjang.  

Oh ya, kalau mau berolahraga Yoga, kita hanya pakai baju yang nyaman saja. Kita juga wajib menyediakan matras atau semacam alas untuk melakukan Yoga. Itu bisa dibeli di banyak tempat di Jerman dengan kisaran harga 10€ – 15€. Kalau kita berolahraga Yoga di tempat seperti kursus atau kelas Yoga biasanya kita bisa mendapat pinjaman matras tersebut.

Memang sih tak mudah untuk menekuni suatu kebiasaan sehat seperti Yoga ini. Kadang aku merasa malas untuk melakukannya atau menundanya hanya karena aku ingin pergi keluar rumah bersama teman-teman lainnya. Tantangannya itu lebih dari diri sendiri sih, bagaimana kita konsisten menekuninya apalagi kita sudah mendaftar dan membayar program Yoga tersebut. Harga program Yoga di ruangan panas itu berbayar 20€ per pertemuan. Sayang sekali jika kita hanya sekedar ikutan tetapi tidak menekuninya. 

Saran aku buat teman-teman yang ingin ikut olahraga Yoga pertama kali adalah ikut saja dulu kursus yang tidak terlalu mahal seperti yang aku tuliskan di atas. Kedua, kita bisa termotivasi untuk konsisten olahraga Yoga kalau ada teman. Nah, ajak saja teman atau kenalan yang bersedia ikut Yoga juga. Lalu ikuti suara hati, apakah Yoga ini adalah olahraga yang cocok atau tidak? Kelas Yoga pemula itu biasanya sekitar 8 kali pertemuan. Selamat mencoba ya teman-teman yang tertarik untuk olahraga Yoga.

Penulis: Ecie, tinggal di Hamburg

(SIARAN BERITA) Peluncuran Buku Bertema Perkawinan Campuran

JERMAN – Ruanita – Rumah Aman Kita bekerja sama dengan Padmedia Publisher di Indonesia telah menyelenggarakan proyek bersama untuk mengumpulkan cerita pengalaman para pelaku kawin campur, yakni pernikahan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Acara pengumpulan naskah sudah dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Semua naskah yang terkumpul ditulis oleh para perempuan asal Indonesia yang tinggal di berbagai lokasi dan negara.

Kisah perkawinan campuran yang tertuang dalam buku bukan hanya bercerita tentang dokumen dan kelengkapan administrasi, melainkan ada kisah-kisah lainnya yang mungkin jarang terdengar di ranah publik.

Cerita integrasi budaya di antara kedua insan manusia dalam biduk rumah tangga tentu menjadi kisah haru biru yang tidak selalu melulu mendatangkan kisah romantis saja, tetapi juga tragis.

Ada kisah tabu tentang pandangan keluarga, pengasuhan anak, pengalaman menjadi orang tua hingga perpisahan ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.

Follow us: @ruanita.indonesia

Ini bukan soal fantasi atau dokumentasi, ini adalah kisah yang menginformasi dan menginspirasi. Begitu penjelasan Anna Knöbl selaku Koordinator Tim Buku yang berbicara tentang proyek penerbitan buku ini.

Di tengah meningkatnya mobilisasi dan migrasi, bukan tidak mungkin angka pernikahan kawin campur bertambah. Angka ini belum tentu diiringi oleh bekal yang cukup untuk mengetahui seluk beluk budaya, komunikasi hingga hukum yang kerap menjadi pemicu dalam berumah tangga. Ada saja kasus di mana perempuan bingung menempatkan dirinya saat minimnya informasi dan bahasa yang dimilikinya di mancanegara.

Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.

Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.

Oleh karena itu, RUANITA telah menggagas dua kali Diskusi Virtual jelang peluncuran buku yang membahas tema seputar perkawinan campuran. Pada akhirnya buku berjudul Cinta Tanpa Batas ini telah terbit pada akhir April 2022 dan sudah mulai didistribusikan.

Sejalan dengan hal tersebut, RUANITA menggelar peluncuran buku secara daring yang diadakan pada hari Minggu, 19 Juni 2022 jam 10.00 waktu Eropa Tengah atau jam 15.00 WIB.

Dalam kesempatan tersebut, RUANITA mengundang Wakil Ketua DWP KBRI Berlin – Tenny Edison – yang memberikan pengantar tentang problematika yang dihadapi perempuan Indonesia di luar negeri, terutama di Jerman. Sebagai informasi, buku Cinta Tanpa Batas ini telah ditulis oleh 7 perempuan asal Indonesia yang saat ini bermukim di Jerman.

Selanjutnya, RUANITA juga menghadirkan Ketua Komnas Perempuan Indonesia – Andy Yentriyani – yang memberikan tanggapan atas terbitnya buku bertema perkawinan campuran. Acara satu jam ini diharapkan dapat menjadi media konstruktif untuk membangun solidaritas perempuan Indonesia di mana saja, tidak hanya soal isu perkawinan campuran.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi: info@ruanita.com

Untuk mengikuti kliping berita kami, sila buka tautan yang diberikan.

(CERITA SAHABAT) Ini Penyebab Gangguan Tidurku

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku X yang sekarang sedang bergulat mencari pekerjaan kedua di negeri, tempat aku menempuh studi Pascasarjana. Boleh dibilang aku cukup beruntung mendapatkan pekerjaan pertama setelah aku menyelesaikan studiku di benua biru ini. Apa daya aku tidak betah di kota yang menjadi lokasi kantor pekerjaan pertama, sehingga aku putuskan kembali ke kota asal aku menempuh studiku.

Berbicara soal gangguan tidur, ini bukan hal baru untuk diceritakan. Banyak teman-teman dekatku paham bagaimana aku kesulitan tidur kala aku sendirian, justru aku bisa tidur ketika ada teman yang menemani aku. Aneh memang!

Aku berpikir gangguan tidurku akan muncul kala aku stres dan banyak pikiran. Misalnya dulu aku mengkhawatirkan diriku yang belum lulus studi sementara teman-temanku sudah melanjutkan jenjang pendidikan lanjutan atau menempuh studi Pascasarjana lainnya. 

Kecemasan soal lulus studi tersebut membuatku overthinking. Aku pernah mencoba untuk mengatasi kecemasan dan persoalan gangguan tidur ini ke Psikolog saat aku sedang berlibur ke Indonesia tetapi itu seperti berhenti sesaat. Entah mengapa aku nggak bisa mengendalikan pikiran-pikiran yang berkeliaran dalam kepalaku.

Overthinking-ku semakin parah ketika aku kehilangan ayahku yang telah tiada. Beliau meninggal karena penyakit Kanker Prostat. Selama aku di Indonesia, aku berkesempatan merawat ayahku. Aku berjaga di tengah malam kala ayahku merintih kesakitan. Tak jarang aku membawa ayahku ke rumah sakit di tengah malam.

Pola tidur yang berantakan saat merawat ayahku plus kekhawatiran akan hidupku seperti kelulusan membuatku terus berpikir saat aku hendak tidur. Aku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan tidur. Di negeri yang aku tempati tersedia teh dari tanaman untuk mengatasi gangguan tidur. Sepertinya itu tidak bekerja.

Aku punya adik dan kenalan yang bekerja di dunia medis. Aku sudah bertanya bagaimana cara praktis mengatasi gangguan tidur. Semua tips yang mereka sarankan telah aku coba. Contohnya, aku harus membuat badanku lelah sehingga aku lebih mudah tidur. Namun hasilnya itu hanya sesaat saja.

Aku berusaha menggali apa penyebab overthinking yang kualami. Aku terlalu berlebihan tentang penyakit kanker yang diderita ayahku. Aku begitu khawatir kalau aku ‘kan mendapatkan penyakit kanker Prostat seperti ayahku, padahal itu tak mungkin karena aku adalah perempuan.

Kekhawatiran berlebihan dalam gaya hidup dan makanan juga sangat berpengaruh setelah ayahku tiada. Aku benar-benar picky terhadap makanan yang kusantap. Aku bisa memikirkan bagaimana pembuatan makanan tersebut sehingga aku tidak mengambil makanan tersebut.

Hal yang berlebihan juga tampak ketika aku memilih semua peralatan masak hanya terbuat dari metal, untuk menghindari alat masak dari plastik. Kecemasan berlebihan ini sekarang sudah mulai berkurang karena banyak orang telah meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja dan tak perlu overthinking.

Aku sendiri telah mencoba membuat jadwal konseling dengan Psikolog di negeri tempatku studi, ternyata aku harus menunggu hingga berbulan-bulan. Lalu aku mendatangi praktik dokter umum untuk bisa merekomendasikanku ke ahlinya saat aku membahas gangguan tidur. Dokter bilang aku baik-baik saja.

Ya begitulah gangguan tidurku itu bisa datang dan pergi. Saat waktu konselingku datang, tiba-tiba semua terasa baik-baik saja. Aku mencoba segala cara untuk bisa tidur nyenyak sesuai anjuran medis tetapi aku kadang tidak bisa mengendalikan pikiranku saat tidur.

Aku mencoba konsisten dengan waktu tidurku, tetapi aku tak bisa menolak ketika ada waktu berkumpul dengan teman-teman yang membuatku begadang dan baru tidur pagi hari. Sampai sekarang aku masih berusaha mengatasi gangguan tidurku.

Penulis: X, sedang mencari pekerjaan di perantauan

(CERITA SAHABAT) Ketika Dulu Tubuhku Jadi Bahan Candaan

Ini membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka. Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercanda.

Jika kalian bertanya pada teman-temanku di Indonesia (SD, SMP, SMA, teman gereja) apa yang paling mereka ingat tentangku selain karakterku? Aku yakin diantaranya akan bilang tentang jidatku yang lebar. Lainnya bilang aku nonong atau jenong. Aku masih ingat dengan jelas bahwa seumur hidupku hingga aku pindah ke Jerman, hal itu atau istilah itu tidak pernah lepas dariku. 

Percayalah, aku tak pernah sakit hati karena panggilan atau ejekan atau candaan itu, karena nyatanya memang jidatku lebar. Meskipun seiring berjalannya waktu panggilan-panggilan itu berkembang menjadi: lapangan terbang, lapangan sepak bola, mirip megamind, dan sebagainya.

Ketika mereka bercanda akan selalu ada imbuhan tentang “jidatku” itu di akhir kalimat mereka. Seumur hidupku pula tak pernah aku mendengar, baik teman, sahabat atau keluarga yang memberikan pujian terhadap fisik atau penampilanku. Sekedar kamu cantik saja tak pernah mereka katakan sehingga aku terbiasa dengan itu semua. Aku menganggap itu adalah hal biasa.

Hingga akhirnya di tahun 2020, dikarenakan kondisi kesehatan mentalku yang menjadi sangat tidak terkendali, aku harus mengonsumsi obat anti depresi yang memiliki efek samping terhadap perubahan hormon dan nafsu makanku. Akibatnya hanya dalam 1.5 bulan saja, berat badanku naik 13 kilogram.

Sebuah perubahan yang sangat ekstrim bagiku. Selama 4 bulan pertama aku sangat kesulitan untuk menerima perubahan bentuk tubuhku. Aku selalu merasa sangat gemuk. Aku terlihat aneh dan bantet.

Sepanjang waktu atau setiap kali aku melihat timbangan, aku selalu mengomel dan kesal dengan diriku sendiri. Hal ini adalah hal baru bagiku. Seumur hidup aku tak pernah bisa relate dengan apa yang perempuan-perempuan lain keluhkan seperti perut berlipat atau lipatan lemak yang muncul di sana-sini yang bisa membuat tidak percaya diri. Saat itu, akhirnya aku mengalaminya. 

Menariknya adalah sejak tubuhku berubah aku mendapatkan begitu banyak compliment. Bahwa aku sangat cantik, tubuhku menarik, ini, dan itu sampai membuatku risih. Aku tidak biasa mendengar seperti itu. Tidak pernah aku mendapatkan pujian seperti itu di mana teman-temanku di sini terus menerus memuji setiap bertemu.

Bahkan mereka di sini iri dengan badanku sekarang. Aneh sekali rasanya. Hal itu sama sekali tidak membuatku besar kepala justru risih sekali. Selalu kujawab, “Apaan sih!”, “Halu lo!” atau “Ah, you just wanna make me happy.”

Salah satu temanku dan pacarku pun mengaku sedih mendengarkan jawabanku. Bagi mereka, aku benar-benar cantik dan menarik. Sedih rasanya bagi mereka ketika mereka mendengar reaksiku. Namun, apa boleh buat. Ini pun hal yang aneh bagiku. Aku tidak terbiasa dengan pujian itu.

Namun, karena pujian-pujian yang kudengar pertama kalinya dalam hidupku ini ternyata membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, baik teman-teman Indonesiaku, pacarku, teman-teman, kenalanku orang asing, orang Jerman maupun pria-pria asing yang aku pernah dekat pun, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka.

Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercandaan. Kok bisa? Mungkin kebanyakan orang di Indonesia punya poni yang bisa menutupi dahi mereka, sedangkan aku tidak. Mungkin punya jidat yang lebar bukan hal yang umum di Indonesia.

Namun percayalah, di Jerman semuanya berjidat lebar adalah hal biasa. Untuk perempuan mengikat rambutnya ke belakang model ponytail dan tidak akan ada yang bilang, “Kamu tuh sudah tahu jidatnya lebar, mbok ya jangan dikucir begitu!” Yang mana kalimat ini sering kudengar dulu.

Lama-kelamaan aku bisa menerima tubuhku yang sekarang. Aku bisa menerima dan menghargai pujian yang kuterima. Aku memang jauh lebih cantik sekarang, terlihat jauh lebih sehat, dan bahagia dibandingkan saat aku di Indonesia dulu. Ah, mungkin makanya aku tak pernah mendapatkan pujian apapun tentang fisikku seumur hidupku, karena dulu aku memang terlihat tidak menarik sama sekali. Hahaha. 

Lucunya, aku sekarang malah jijik kalau melihat foto-foto lamaku di Indonesia dan sekarang jadi khawatir kalau kelihatan sedikit lebih kurus. Hahaha. Begitulah manusia, tidak pernah puas. Namun yang mungkin harus digaris bawahi lagi adalah mengapa di sini aku tak pernah mendengar candaan atau panggilan tentang jidatku yang lebar atau bentuk fisikku yang lain dibandingkan di Indonesia? Jawabannya? Silakan direnungkan sendiri:) 

Penulis: Nisyma, tinggal di Jerman

(IG LIVE) Penting Bangun Dukungan Sosial Untuk Orang dengan Skizofrenia

NORWEGIA – Dalam rangka Hari Skizofrenia Seduia yang jatuh tiap 24 Mei, Sabtu (28/5) Ruanita kembali menggelar diskusi virtual IG Live dengan mengusung tema ‘Membangun Dukungan Sosial Bagi Orang dengan Skizofrenia’. Lewat akun @ruanita.indonesia, Atika sebagai pemandu diskusi dari tim Ruanita mengundang Yohanes Herdiyanto selaku akademisi & aktivis kesehatan mental untuk berbagi perspektif baru dalam membangun solidaritas bagi mereka yang hidup dengan skizofrenia. 

Adapun skizofrenia adalah kondisi mental yang bermanifestasi pada masalah kognitif, perilaku dan emosi, serta ditandai dengan munculnya gejala yang bervariasi berupa delusi, halusinasi, dan bicara tidak teratur yang mengakibatkan gangguan kemampuan untuk berfungsi. Di awal diskusi, Yohanes Herdiyanto atau yang kerap disapa Kak Hendi menjelaskan bahwa kondisi skizofrenia ini muncul dalam range yang luas dan beragam, seperti ada orang yang mengalami gejala ringan saja karena mungkin sudah rutin minum obat, namun ada juga mereka yang mengalami gejala parah karena mungkin tidak pernah atau tidak rutin diobati. Yang harus diperhatikan adalah baik itu orang dengan skizofrenia maupun keluarganya harus ditolong, jangan sampai dikenakan stigma seperti kondisi skizofrenia disebabkan karena keturunan atau karena karma buruk dari masa lalu. Mengalami skizofrenia saja sudah berat, jangan lagi ditambah dengan stigma negatif.

Atika menuturkan beberapa persepsi keliru yang muncul di masyarakat awam tentang orang dengan skizofrenia (ODS), salah satunya adalah berkepribadian ganda. Persepsi keliru ini turut andil dalam melahirkan reaksi yang keliru dari kebanyakan orang dalam menghadapi ODS maupun keluarga yang mengurusnya. Menurut Kak Hendi, salah satu fenomena yang kerap ditemukan di Indonesia adalah gelandangan psikotik; biasanya mereka adalah ODS yang kabur dari keluarganya atau tidak lagi punya keluarga yang mengurusi, sehingga mereka hidup di jalanan dengan mengais-ngais makanan.

Secara garis besar jika kita hendak membantu, menurut Kak Hendi yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah mengamati apakah ODS tersebut membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti membawa benda tajam atau berperilaku agresif. Kalau mereka tidak membahayakan, bisa kita coba tolong dengan memberikan makanan dan minuman, atau membantu menghubungkan mereka ke lembaga-lembaga yang dapat membantu memberikan perawatan kepada mereka.

Fenomena lain yang lahir dari persepsi keliru adalah pemasungan ODS, baik itu dengan dirantai atau dikurung di kamar yang intinya untuk membatasi ruang gerak. Biasanya pasung ini banyak dilakukan oleh keluarga sendiri karena adanya kekhawatiran bahwa ODS tersebut bisa kabur dari rumah lalu berperilaku agresif seperti memecahkan jendela atau menyerang orang lain.

Bisa juga karena saat semua anggota keluarga harus bekerja maka tidak ada yang bisa mengawasi ODS tersebut sehingga kemudian dipasung. Pemasungan yang terlihat ekstrem ini menurut Kak Hendi biasanya bukanlah dilandasi atas kebencian, melainkan lebih karena kepedulian dan kekhawatiran keluarga akan kondisi ODS yang mereka urus. Yang disayangkan adalah kurangnya edukasi bahwa orang yang dipasung tersebut seharusnya diobati, karena jika tidak diobati, kondisinya akan selalu kumat terus dan tidak bisa lepas dari pasungan. 

Terkait dengan informasi seputar pengobatan, Kak Hendi menjelaskan bahwa keluarga ODS dapat mencari informasi pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Jikalau masih terbentur stigma dalam upaya mencari bantuan medis, di beberapa kota besar di Indonesia sudah ada komunitas yang didirikan oleh keluarga ODS dan professional kesehatan jiwa yang saling mendukung dengan memberikan informasi perawatan dan pengobatan untuk ODS. Salah satu komunitasnya adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang sudah ada di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Untuk mengakses obat psikotik dan pelayanan kesehatan jiwa sudah bisa dilakukan di puskesmas level kecamatan, dan nantinya bisa juga dirujuk ke beberapa rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Di tingkat desa pun ada kader kesehatan jiwa yang dibantu oleh perangkat desa maupun Babinsa (bintara Pembina desa) untuk membantu evakuasi ODS yang dipasung atau ODS yang mengamuk karena psikotik ke rumah sakit jiwa. Mengenai biaya pengobatan, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah punya sistem untuk perawatan kesehatan jiwa. Bagi ODS yang memiliki BPJS penerima subsidi pemerintah maupun membayar sendiri sudah bisa gratis mendapatkan obat.

Kak Hendi menekankan bahwa ODS harus rutin mengonsumsi obat untuk kondisi psikotiknya, jangan sampai terputus kecuali kalau ada rekomendasi dari dokter untuk mengganti jenis obat.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekat ODS, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengawasi, mengingatkan dan menyemangati ODS agar rutin berobat. Kak Hendi menjelaskan tiga pilar pengobatan skizofrenia yang perlu dipahami:

  1. Treatment farmakologi. Ini adalah tahap utama dalam mengobati kondisi skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi ketidaknormalan dalam sistem saraf yang menyebabkan berlebihnya aktivitas hormon dopamine di otak dan menyebabkan gejala-gejala psikotik. Obat-obatan anti-psikotik membantu menekan aktivitas hormon dopamine dan mengontrol gejala psikotik.
  2. Upaya psikoterapi dari psikiater dan psikolog.
  3. Dukungan psikososial untuk melatih ODS kembali ke masyarakat seperti untuk bekerja, punya usaha sendiri, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat dan kegiatan vokasional lainnya. Kak Hendi juga menekankan bahwa keluarga ODS tetap menjadi tonggak penting dalam membantu pemulihan ODS dan mengawasinya agar rutin mengonsumsi obat. 

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalamanku Urus Ibu dengan Skizofrenia di Jerman

Sahabat RUANITA, namaku David (=bukan nama sebenarnya). Aku tinggal di Jerman. Aku tidak bisa bercerita banyak tentang pengalamanku dengan ibuku yang mengalami Skizofrenia karena aku sempat hilang kontak dengan beliau lebih dari dua puluh tahun. Aku senang bisa berbagi cerita ini agar bisa dipahami bahwa orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kita perlu menghargai mereka sebagai pribadi yang membutuhkan penanganan yang benar dan ahli, bukan memasungnya.

Menurutku, apa yang dialami oleh ibuku adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai anak, aku hanya melihat ibuku mengalami sesuatu yang janggal. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya melihat bagaimana usaha ayahku untuk menyembuhkan ibuku. Ya, kita dapat mengobati gejala-gejala yang dialami ibuku, tetapi sebenarnya itu tidak menyembuhkan penyakitnya. Sampai sekarang, para ahli masih meneliti bagaimana pengobatan yang tepat untuk menyembuhkannya. 

Aku benar-benar tidak mengenali dengan tepat, bagaimana awalnya ibuku mengalami Skizofrenia. Jika dikatakan orang dengan Skizofrenia tidak menjaga kebersihan diri, itu benar. Kita perlu energi yang besar untuk mengusahakan kebersihan orang dengan Skizofrenia. Selain itu, aku melihat ibuku tidak ada kontak mata. Itu mungkin tidak sering, tetapi aku bisa merasakan tidak ada kontak mata. Menurut pengalamanku, saat depresi, dia mungkin benar-benar tidak ada ekspresi wajah.

Pendapatku kita tidak bisa menyamaratakan gejala-gejala orang dengan Skizofrenia. Kita tidak dapat menggeneralisasikan bahwa orang dengan Skizofrenia itu semua sama seluruh dunia. Itu sama seperti sakit flu dan batuk. Ada yang mengalami hanya batuk saja atau flu saja, hanya karena dia mengalami demam. Bagiku, setiap orang itu berbeda dan penyakitnya berbeda pula. Demikian pula dengan orang dengan Skizofrenia. 

Aku hanya bisa meyakini apa yang dialami ibuku sebagai pemikiran tidak rasional. Apa yang tampak tidak rasional bagi semua orang, tetapi tidak bagi orang dengan Skizofrenia. Kadang ibuku terjebak dalam hal sepele yang tidak penting. Mungkin itu yang membuat orang di sekitarnya sebagai social support merasa kelelahan menangani orang dengan Skizofrenia.  

Mungkin sudah ada berbagai penyakit yang kita temukan, tetapi masih banyak penyakit yang belum kita temukan. Bagaimana pun pikiran manusia begitu kompleks seperti Skizofrenia yang sampai sekarang belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, kita perlu berabad-abad untuk memahami semuanya sepenuhnya.

Salah satu faktor yang mendukung kesembuhan Skizofrenia adalah dukungan sosial seperti keluarga. Keluarga sangat toleran terhadap ibuku. Kami telah berupaya untuk membantu kesembuhannya. Ibuku pernah memutuskan kontak dengan kami sebagai keluarganya. Dia harus mengonsumsi obat agar penyakitnya tidak kambuh lagi. 

Namun aku sadar bahwa penyakit ibuku kambuh lagi. Aku tidak tahu mengapa. Aku menduga kalau ibuku telah mengurangi dosis obat yang diberikannya.  Ibuku ingin sekali menurunkan berat badannya sehingga dia menurunkan dosis obat tersebut. Tentu saja, fungsi pil yang diminumnya itu menjadi kontraproduktif. Hanya karena dia ingin menurunkan berat badannya, maka gejala yang dialami ibuku kambuh lagi. Kami belum mendengar kabar terbarunya lagi selama hampir satu tahun. Kami juga tidak tahu apakah dia baik-baik saja sekarang atau tidak.

Ada hal yang saya tidak suka dari kebijakan pemerintah Jerman di sini tentang aturan minum obat oleh pasien. Kami sebagai keluarganya ingin agar ibuku segera sembuh dan pulih dengan minum obat secara rutin. Namun, peraturan di sini cukup jelas bahwa dia minum obat kalau dia mau dan sepanjang orang dengan Skizofrenia tidak menyakiti dirinya sendiri atau menyerang orang lain. Bahkan seorang dokter pun tidak dapat melakukan apa pun. Kami sebagai keluarga pun tidak berdaya, jika ibu bersikap seperti itu. Kami hanya bisa duduk dan menunggu hingga ibu sadar. Kami sebagai keluarga tidak bisa berbuat apa pun. Kami juga tidak bisa mengikatnya yang mungkin kami dengar dari kasus-kasus lainnya. 

Mengenai stigma orang dengan Skizofrenia, kami sadar bahwa itu masih terjadi di masyarakat. Bagiku, orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kami bisa memaklumi jika ibuku mengatakan hal yang menyakitkan, karena kami tahu bahwa dia tidak bermaksud begitu. Menurutku, kita harus peduli dan menaruh perhatian terhadap orang dengan Skizofrenia. Kita bisa melibatkan mereka, jika dia mau dan menginginkannya. Kita bisa membawa dia, mungkin dia akan sadar. 

Sebagai penutup, aku hanya ingin menyampaikan pentingnya kampanye skala besar untuk memerangi stigma sosial yang masih melekat pada orang dengan Skizofrenia. Bagaimana pun orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga dan mereka tidak bermaksud buruk/jahat. Kita perlu memberikan dukungan sosial demi kesembuhan mereka. 

Penulis: David, tinggal di Jerman

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Kalau Mau Datang ke Swedia

Sahabat RUANITA, adakah yang ingin datang untuk bekerja, berkuliah atau membangun hidup baru di Swedia?

Swedia adalah negeri yang kecil yang aman dan juga nyaman loh. Begitu pendapat Nada Danielsson, yang pernah menjabat sebagai Chairwoman Swedish Indonesian Society atau perhimpunan warga Indonesia yang bermukim di Swedia.

Nada berbagi pendapatnya tentang tinggal dan menetap di Swedia yang sudah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun lebih.

Bagaimana pun tak banyak orang Indonesia memahami bagaimana budaya dan kebiasaan orang Swedia sebenarnya. Misalnya lelucon tentang bentuk tubuh sebagai percakapan sehari-hari ternyata adalah hal tabu loh untuk diucapkan.

Nada berpesan juga kalau mau datang ke Swedia kepada para perempuan, bahwa sebaiknya tidak hanya sekedar jadi ibu rumah tangga saja loh. Alasannya?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Begini Rasanya Pacaran Beda Kultur

Sahabat RUANITA, episode ketiga kali ini dibawakan oleh Nadia dan Fadni dengan tema: Pacaran Beda Kultur. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi Master di Jerman, Nadia dan Fadni membeberkan berbagai pengalaman dan pendapatnya selama tinggal di Jerman. Tentu pacaran beda kultur bukan hal yang mudah dihadapi, apalagi budaya masih dipandang sebagai hal yang essential.

Menempuh pendidikan atau sedang menjalani pekerjaan di negara perantauan kerap dihadapkan pada pilihan asmara yang sulit, terutama jika itu menyangkut nilai-nilai, prinsip hidup, keyakinan agama hingga tradisi yang berbenturan dengan pacar yang baru saja dikenal. Nah, bagaimana pengalaman menghadapi pacaran beda kultur di masa-masa studi di mancanegara?

Penasaran dengan cerita mereka? Sila simak Podcast episode ke-3 di saluran RUMPITA: Rumpi bersama RUANITA.