(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tetap Aktif Meskipun Sudah Pensiun di Amerika Serikat

Apa yang bisa dilakukan orang-orang yang telah pensiun dan tinggal di Amerika Serikat? Selintas pertanyaan tersebut muncul ketika orang-orang Indonesia memutuskan tinggal di mancanegara.

Jawaban ini bisa diperoleh dari cerita Shinta Stanley yang telah menetap di negeri Paman Sam sejak usianya 21 tahun. Setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat, Shinta memulai hidup barunya dengan bekerja hingga mencapai usia pensiun.

Banyak hal dipelajari Shinta selama tinggal di Amerika Serikat, termasuk bagaimana dia memulai pekerjaannya sejak tahun 1984 hingga pensiun. Shinta juga bekerja sebagai Akuntan di Universitas selama 31 tahun.

Selama bekerja, Shinta juga meningkatkan kapasitas dirinya dengan kuliah yang dibayari perusahaan, tempatnya bekerja. Setelah pensiun, Shinta memutuskan untuk mendalami Bahasa Jerman dengan mengikuti program pertukaran budaya di salah satu universitas di Jerman.

Saat pensiun, Shinta menetap di suatu komunitas yang berisikan kelompok orang-orang berusia lanjut yang dikelola pemerintah Amerika Serikat.

Di sana dia banyak melakukan aktivitas sosial seperti menari, bekerja di kebun, traveling, bermain dan lain-lain dengan orang-orang seusianya. Dia berprinsip bahwa usia tua harus diisi dengan aktivitas yang produktif agar tetap sehat.

Shinta menuturkan bahwa dia pernah didiagnosa mengalami sakit hingga berujung koma saat dia sedang berada di Jerman.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Beruntung dia bisa pulih kembali setelah dokter mengetahui bahwa aktivitas dan olahraga telah menyelamatkan Shinta dari kondisi kesehatannya yang memburuk.

Meskipun usianya sudah pensiun, Shinta membagi waktunya untuk bekerja sukarela setiap minggu. Aktivitasnya yang sibuk membuatnya tidak merasa kesepian di usia senjanya apalagi suaminya sudah meninggal.

Shinta menyarankan untuk semua perempuan Indonesia yang menikah dengan pria kewarganegaraan asing untuk tetap meningkatkan kapasitas diri dengan bersekolah atau bekerja agar hidup mandiri secara finansial.

Selain itu, ikuti apa yang menjadi “passion” hidup sehingga bisa bertumbuh secara pribadi. Melakukan aktivitas sosial seperti pekerjaan sosial atau pekerjaan paruh waktu dapat membantu diri kita untuk tetap sehat meski kita sudah berusia lanjut.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Lebih lengkap tentang video Shinta yang berdurasi 5 menit, silakan simak detilnya di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam acara ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(CERITA SAHABAT) Alzheimer Merenggut Nyawa Ayah Mertuaku

Dahulu sewaktu aku masih di Indonesia, aku mengenal Alzheimer hanya di perkuliahan Psikologi. Nama penyakit itu terdengar asing buatku dan tidak nyata dalam keseharianku di Indonesia. Namun, Alzheimer begitu sering aku dengar kala aku tinggal dan menetap di Jerman.

Aku bahkan pernah membahas Alzheimer dengan kenalan asal Rumania yang kerja di Jerman sebagai perawat di rumah panti jompo. Aku mengenal kenalanku ini saat kami berdua belajar Bahasa Jerman.

Menurut kenalanku ini, kasus Alzheimer begitu umum terjadi pada generasi lanjut usia di Jerman. Penyebabnya bisa beragam. Kata dia, ini seperti gaya hidup yang mengancam dan tidak disadari. Sepertinya memang Alzheimer tidak asing di Jerman karena aku sering mendengarnya. Rekan studiku pun mengambil tema Thesis tentang Alzheimer. Aku bahkan sempat terpikir mengambil tema dukungan sosial pada Alzheimer dalam Thesis S2. Namun, urung kulakukan.

Pemahamanku tentang Alzheimer bertambah saat kenalanku lainnya asal Spanyol bercerita panjang lebar tentang Alzheimer yang menyerang ayahnya. Dia bercerita bagaimana penyakit yang diderita ayahnya itu menyita waktu kesehariannya.

Ayahnya seperti anak kecil yang memerlukan perhatian, bahkan ayahnya begitu lupa apapun. Alzheimer itu menyerang fungsi otak, katanya lagi. Kenalanku ini merawat ayahnya sehari-hari hingga ayahnya wafat saat Pandemi Covid-19 kemarin. 

Alzheimer rupanya juga menyerang ayah mertuaku. Aku sebenarnya sudah mengetahuinya sejak lima tahun lalu dari suamiku. Ayah mertuaku tak pernah mengakui bahwa dia mengalami Alzheimer. Padahal jelas banyak gejala yang menunjukkan penurunan fungsi otak.

Dahulu ayah mertuaku adalah orang yang sibuk. Dia punya ruang kerja di dekat kebun rumah dan di Keller (=bagian rumah di bawah tanah). Saat Alzheimer menyerangnya dia mulai lupa di mana meletakkan ini dan itu.

Follow akun: ruanita.indonesia

Alzheimer membuatnya tak bisa tenang, dia harus bergerak atau melakukan sesuatu di ruang kerjanya. Beruntungnya rumah mertuaku luas sehingga dia bisa bergerak luas. 

Sejak Alzheimer menyerang ayah mertuaku, dia mulai dilarang menyetir mobil tetapi ayah mertuaku sering keras kepala. Dia hampir celaka karena tetap menyetir mobil. Dia juga sering lupa di mana harus menjemput atau mengantar ibu mertua.

Beruntungnya aku mengenal ayah mertuaku sebelum Alzheimer membuatnya parah dan lupa segalanya. Jadi dia tahu bahwa aku adalah anak menantunya. Itu sebelum Alzheimer membuatnya semakin parah untuk tidak ingat apapun.

Setahun sebelum ayah mertuaku meninggal, Alzheimer-nya sudah sampai tingkat parah. Dia mulai lupa aku dan suamiku. Aku dan suamiku tinggal berbeda kota dan seminggu sekali kami berkunjung ke mertua.

Suatu kali suamiku datang memperbaiki lampu di rumah mertua kala ibu mertuaku sedang berbelanja. Ayah mertuaku bertanya siapa suamiku. Itu membuat aku dan suamiku bersedih.

Itulah Alzheimer yang membuat orang lupa, bahkan tidak ingat orang yang dikasihinya. Tak hanya itu, Alzheimer membuat indera pengecapan ayah mertuaku berbeda.

Semua makanan yang dimasak ibu mertuaku tak berasa lezat dan enak. Ayah mertuaku sudah mulai tidak bisa menikmati makanan lagi seperti normal. Tubuhnya semakin kurus dan mengecil seperti anak-anak.

Ayah mertuaku tak bisa duduk tenang dan selalu berusaha memegang sesuatu di tangannya. Belakangan aku baru tahu bahwa ayah mertuaku adalah generasi terakhir yang kembali ke Jerman setelah mengungsi ke negara Yugoslavia. Kini, negara tersebut sudah tidak ada lagi.

Selama berjalan kaki dari Yugoslavia ke Jerman, ayah mertuaku masih berusia 8 tahun. Dia berjalan dan memegang tangan ibunya agar tetap aman sepanjang perjalanan. 

Cerita itu diceritakan oleh seorang kerabat keluarga ayah mertua setelah ayah mertua wafat. Konon perjalanan itu memakan waktu tiga kali musim Winter setelah kejadian Perang Dunia. Menggenggam tangan dan terus bergerak adalah pengalaman ayah mertua saat harus kembali ke Jerman. 

Alzheimer membuat penderitanya seperti mengulang memori yang sudah lampau. Misalnya, ayah mertua pernah bersembunyi di balik lemari atau di pintu hanya karena dia ingat masa kejadian Perang Dunia di mana saat itu dia masih anak-anak dan harus bersembunyi untuk selamat.

Dia lupa kondisi kejadian sekarang yang terjadi. Itu membuat kami panik setengah mati mencarinya ke seluruh kota. Rupanya dia bersembunyi di suatu tempat di rumah.

Ayah mertuaku telah wafat karena Alzheimer. Penyakit itu sungguh nyata. Beberapa kenalanku di Jerman bercerita kasus serupa yang menimpa kerabat, keluarga, atau kenalan mereka.

Semoga dengan adanya Hari Alzheimer Sedunia tiap 21 September semakin mengingatkan orang untuk mengenali lebih dini penyakit ini sehingga dapat mengantisipasi lebih awal.

Penulis: Anna K, dapat dikontak akun IG anna_knobl, tinggal di Jerman.

(DISKUSI ONLINE) Menikah atau Berpisah: Itu Tidak Mudah

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia, RUANITA mengadakan diskusi dan bedah buku Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua. Buku Cinta Tanpa Batas adalah sebuah antologi pengalaman hidup 25 perempuan Indonesia sebagai pasangan kawin campur yang tinggal di berbagai negara.

Acara diskusi dan bedah buku telah dilangsungkan via Zoom pada tanggal 10 September 2022 dengan mengangkat tema khusus ‘Menikah atau Berpisah, Itu Tidak Mudah’. Dengan moderator Novi @novikisav sebagai salah satu penulis buku antologi Cinta Tanpa Batas (domisili di Norwegia), RUANITA turut mengundang penulis lainnya yakni Arum I. Riddell-Carre (Indonesia), Leny A. Faqih (Turki), Alda Trisda (Belgia), dan Veronica Siregar (Australia). 

Salah satu tujuan ditulisnya antologi Cinta Tanpa Batas adalah untuk menyampaikan sudut pandang lain dalam realita kehidupan rumah tangga perkawinan campur dalam bentuk media literasi. Tak seindah rasa cinta yang muncul di awal perkenalan, perkawinan warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) kerap kali dimulai dengan kerumitan urusan dokumen hingga perbedaan budaya dari masing-masing pihak.

Perbedaan ini sering menjadi akar konflik yang dapat berujung pada perpisahan, atau justru memperkaya kehidupan perkawinan campuran. Banyak kisah perkawinan campur yang jarang terdengar di ranah publik dan jadi dianggap tabu, seperti pandangan keluarga besar, pengalaman menjadi orangtua dan membesarkan anak dalam dua budaya yang berbeda, hingga kisah perpisahan dan keberanian untuk kembali bangkit memulai hidup baru di tempat asing. Semuanya ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis. 

follow akun: ruanita.indonesia

Salah satu kisah yang dibagikan dalam buku Cinta Tanpa Batas adalah kisah dari Arum Riddell-Carre. Bicara dari pengalamannya, Arum menekankan bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga. Salah satu buku favorit Arum adalah The Zahir yang ditulis oleh Paulo Coelho.

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa ‘You have to love yourself first’. Ini yang menjadi pengingat Arum dalam menjalani pernikahan keduanya. Lanjutnya lagi, selain mengenal pasangan, mengenal keluarga calon pasangan juga sama pentingnya. Terlepas dari perbedaan budaya, menurutnya kita harus melihat langsung apakah life virtues pasangan sejalan atau tidak dengan kita.

Tidak cukup hanya dengan sowan saja, namun lihatlah bagaimana interaksi pasangan dengan orangtua mereka dan how they respect each other. Mengenali pasangan serta melihat bagaimana interaksi pasangan dengan keluarga mereka justru lebih menentukan kecocokan selanjutnya saat menjalani pernikahan dan berkeluarga. 

Leny A. Faqih yang menikah dengan warga negara Turki membagikan kisahnya berwirausaha sebagai WNI di Turki. Sebelum menikah dan pindah ke Turki, Leny bekerja sebagai kontraktor dengan latar belakang ilmu teknik sipil. Namun begitu pindah ke Turki, semua berubah karena harus beradaptasi mempelajari sistem baru dan sendirian di rumah.

Saat itu ia kaget karena tidak boleh bepergian tanpa ditemani suami. Sementara di Indonesia, dia biasa bepergian dengan menyetir sendiri. Leny juga menjelaskan bahwa stereotipe perempuan harus manut masih lekat dalam masyarakat patriarki di Turki. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan Leny yang yakin bahwa perempuan mampu berdaya dan berkarya. Dengan meyakini stereotipe tersebut tidak sejalan dengan nilai yang dianutnya, Leny dapat memberikan kontribusi dan berusaha mendobrak kultur tersebut sebagai perempuan migran.

Setelah dua tahun, Leny memutuskan mulai bergabung dengan komunitas Indonesia lalu berwirausaha dengan membuka usaha ekspor-impor. Kini ia mengelola Toko Organic Indonesia yang berlokasi di Istanbul. Ini juga tidak lepas dari dukungan sesama warga Indonesia maupun warga Turki yang mendukung usahanya. Leny mulai berwirausaha dengan bermitra bersama warga Turki, yang mana banyak membantu dalam urusan bahasa hukum dan bisnis resmi yang berbeda dengan bahasa Turki sehari-hari, selain perbedaan cara bisnis. Rasisme terselubung dalam urusan bisnis dan beacukai pun sudah ia lewati.

Akhirnya Leny memberanikan diri untuk mengambil alih perusahaan dan berjalan melawan arus. Meskipun itu semua dimulai dengan culture shock yang besar, namun usahanya masih berjalan terus sampai sekarang.

Alda Trisda yang berdomisili di Belgia menggambarkan perkawinan campur ini sebagai ‘a lonely business’, atau kisah yang kalau tidak menjalani langsung sendiri, maka tidak akan benar-benar paham. Bahkan seringnya pernikahan campur tak seutuhnya bisa dipahami oleh keluarga dari masing-masing pihak.

Begitu pula dengan pemerintah yang kurang paham akan apa yang dibutuhkan oleh pelaku kawin campur dan berakibat kurang bisa memprediksi kebutuhan pasangan kawin campur. Inilah yang membuat buku Cinta Tanpa Batas ini unik, karena berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya dialami oleh pasangan kawin campur, sebagai sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak mengalami dan hanya dipahami oleh sesama pelaku kawin campur.

Sebagai pegiat literasi, Alda menuturkan bahwa sejak jaman penjajahan sudah ada literasi tentang kawin campur dengan posisi perempuan Indonesia yang dijadikan gundik oleh kaum penjajah lalu memiliki anak.

Namun memang, untuk konteks kondisi masa kini, informasi literasi mengenai pasangan kawin campur masih belum banyak. Tidak banyak yang menulis kisah kawin campur dari sudut pandang perempuan Indonesia selalu pelaku kawin campur di kondisi masa kini. 

Menurut Veronica Siregar, tak bisa dipungkiri bahwa mengenal calon pasangan itu butuh banyak waktu. Apalagi untuk pasangan kawin campur. Satu hal yang ditekankan Veronica adalah perbedaan keyakinan di mana agama bukanlah prioritas.

Kenyataannya bagi banyak warga negara asing, bersedia menikah secara agama bukan berarti otomatis bersedia menjadikan praktik agamanya sebagai prioritas dan mengikatkan diri secara iman. Ini adalah konteks yang harus dipahami terlebih dahulu bagi pasangan yang berasal dari dua budaya yang berbeda.

Satu hal lagi yang digarisbawahi oleh Veronica adalah pernikahan harus dilihat sebagai proses mengikatkan diri secara hukum dengan seseorang, sehingga selalu ada implikasi hukumnya. Implikasi hukum inilah yang tidak pernah disadari oleh pelaku kawin campur, karena biasanya urusan hukum ini sudah terdengar ribet dan kalah duluan dengan urusan cinta.

Padahal justru implikasi hukum inilah yang paling penting untuk dipahami, karena implikasi hukum besar pengaruhnya dalam hal status izin tinggal, akses kesejahteraan dan layanan kesehatan di negara domisili, akses bekerja, serta status legalitas anak.

Jika membicarakan implikasi hukum, menurut Veronica penting juga untuk membuat perjanjian pranikah dengan tujuan untuk melihat konsekuensi yang akan dihadapi sebagai WNI jika menikah dengan WNA. Semua urusan hukum ini penting untuk dipahami terlebih dahulu oleh kedua pihak pasangan.

Selain itu, penting juga untuk mencari tahu informasi tentang akses bekerja, pengaturan keuangan, serta kemerdekaan finansial masing-masing pihak. Membangun support system juga sama pentingnya, karena jika terjadi masalah hukum, masalah kesehatan, atau jika terjadi KDRT harus menghubungi siapa atau pihak mana di negara domisili.

Lebih lengkapnya, diskusi bedah buku Cinta Tanpa Batas dapat disaksikan di video berikut:

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT) Perasaan Diabaikan dari Teman-teman di Indonesia Mendorongku Temui Psikolog

Halo, perkenalkan saya X.  Saat ini tinggal di sebuah kota di bagian barat negara Jerman. Saya pindah ke Jerman 3 tahun lalu setelah menikah dengan pria berkebangsaan Jerman.

Sebelum pindah ke Jerman, saya bekerja di Jakarta. Kepindahan saya ke Jerman memang merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya, meskipun ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di Jerman.

Namun perbedaan tersebut sangat terasa sekali ketika saya ke Jerman hanya untuk berlibur dengan ketika saya tinggal dan menetap di Jerman. 

Kepindahan saya ke Jerman terasa sangat menyenangkan pada awalnya, karena saya sampai ketika musim panas dan merasakan berbagai hal baru yang menyenangkan. Namun perlahan-lahan perasaan tersebut berubah menjadi kebingungan, kesedihan hingga perasaan kesepian.

Saat itu hal yang sering saya lakukan ketika merasa kesepian adalah bercerita kepada teman-teman saya di Indonesia, walaupun hanya sesaat tetapi saya merasa lega ketika bercerita dengan teman saya. 

Hal tersebut membuat saya selalu berusaha lebih untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman saya di Indonesia dan tanpa saya sadari membuat saya secara emosional sangat bergantung terhadap mereka, sehingga saya lupa bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani di sini.

Semakin lama saya semakin tenggelam dalam hal-hal yang membuat saya menjadi tidak bahagia dan merasa kesepian. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah menyalahkan diri sendiri dan keadaan, terutama ketika saya merasa diabaikan oleh orang-orang terdekat saya. 

Perasaan terabaikan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari intensitas komunikasi saya yang semakin berkurang dengan teman-teman saya.

Hal yang sebenarnya bisa saya pahami dengan kesibukan mereka dan perbedaan waktu. Namun saat itu rasanya saya tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.

Follow akun: ruanita.indonesia

Semakin lama saya membiarkan perasaan tidak nyaman tersebut berlarut-larut hingga tanpa saya sadari mulai mengganggu kondisi fisik saya. Saya menjadi sering sekali merasakan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan seringkali mempertanyakan kewarasan saya.

Hal tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman yang juga tinggal di salah satu negara di Eropa. Saya menceritakan semua hal yang saya alami dan berakhir dengan pertanyaan apakah perlu saya untuk mencari bantuan seorang profesional?

Teman saya pun menyarankan agar saya mencari bantuan seorang profesional karena dia juga merupakan lulusan psikologi. 

Setelah percakapan tersebut, saya kemudian menghubungi seorang Psikolog dan mendaftarkan diri untuk sesi terapi dengan beliau. Setelah sesi terapi saya menjadi merasa lebih baik dalam menjalani hari-hari saya.

Saya juga menjadi lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola emosi dan merawat kesehatan mental. Tentu saja semua proses tersebut tidak mudah dan cepat, perlu kesadaran secara penuh dan kemauan untuk saya dapat berubah menjadi lebih baik, dan juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar kita, terutama pasangan terlebih untuk orang yang berada dalam keadaan seperti saya yang jauh dari keluarga dan teman.

Saat ini tentu saja perasaan tidak enak tersebut masih sering muncul. Namun saya kini tahu bagaimana caranya agar saya bisa tidak berlarut-larut dalam merasakan perasaan negatif yang saya rasakan.

Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri dan menyadari pentingnya untuk mengenali berbagai tanda-tanda perilaku psikologis yang tidak seharusnya saya rasakan. 

Penulis: X, tinggal di Jerman.

(PELITA) Anak dengan Autisme Sensitif pada Cahaya dan Sentuhan

Episode Parentingtalk with RUANITA atau disingkat PELITA pada bulan September 2022 ini membahas tentang anak dengan Autisme.

Biasanya tak mudah orang tua mengenali tanda-tanda gangguan perkembangan ini pada usia 1-2 tahun karena semua tampak terlihat wajar. Misalnya, anak di usia satu tahun sudah bisa mengucapkan sekian banyak kata, tetapi anak mengalami keterlambatan bicara.

Tanda berikutnya yang mudah dikenali adalah repetitive movement pada anak dengan Autisme.

Gejala yang paling jelas lainnya adalah eye contact seperti cara melihat anak yang berbeda atau menghindari tatapan mata kita.

Follow akun: ruanita.indonesia

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak lelaki punya risiko empat kali lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan.

Selain itu, belum ada kaitan antara risiko anak dengan Autisme terhadap status ekonomi, tingkat pendidikan orang tua dan lain sebagainya sehingga orang tua tidak perlu merasa bersalah ketika anak mengalami Autisme. Anak dengan Autisme juga mengalami kesulitan ketika harus berinteraksi sosial dengan anak lainnya.

Orang tua perlu mengenali gangguan perkembangan anak di usia lebih dini seperti 1-2 tahun sehingga penanganannya lebih optimal karena memang anak-anak tampak normal di usia 1-2 tahun.

Anak dengan Autisme biasanya sensitif terhadap cahaya, sentuhan, bau, suara, dan lainnya yang tampak mirip dengan anak dengan gangguan pemrosesan sensori yang sudah dibahas pada episode sebelumnya.

Anak dengan Autisme tampak menarik diri dan biasanya asyik dengan “dunianya” sendiri. Permainan anak dengan Autisme juga tidak melibatkan dengan orang lain atau teman lain, tidak cukup responsif dari orang sekitarnya sehingga muncul penilaian kalau anak dengan Autisme itu kurang empati.

Padahal itu tidak demikian. Anak dengan Autisme biasanya tidak mampu untuk meniru dalam permainan atau melakukan permainan yang tampak rigid.

Simak pemaparan Stephanie lebih lanjut berikut ini:

Jika ada saran/pertanyaan, silakan kontak info@ruanita.com atau follow akun media sosial seperti IG: @ruanita.indonesia atau FB Fanpage: Ruanita – Rumah Aman Kita.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(IG LIVE) Kenali Jebakan Hubungan Gaslighting yang Berbahaya

RUANITA menyelenggarakan program IG Live setiap bulan dengan durasi selama 30-45 menit. IG Live Episode Agustus 2022 dibawakan oleh Natasha Hartanto, seorang WNI yang telah menyelesaikan studi di Jerman kemudian menetap di Jerman.

Natasha via akun IG@ruanita.indonesia akan memandu diskusi virtual bertema Gaslighting yang umumnya tidak dipahami oleh mereka yang sedang terjebak di dalamnya.

Fenomena Gaslighting tidak banyak dipahami ketika seseorang mulai merasa rapuh, merasa bersalah, hingga merasa tidak waras lagi akibat perilaku Gaslighting yang sudah memanipulasi hubungan mereka selama ini.

Gaslighting adalah bagian dari bentuk perilaku Psychological Abuse yang kemudian akan dijelaskan dengan baik oleh narasumber IG Live kali ini. RUANITA telah mengundang Anita Kristina, seorang Psikolog Klinis dan juga founder dari IRIS.

Lewat akun IG: @iris_harapan, Anita memperkenalkan IRIS sebagai wadah yang memberikan pendampingan bagi para korban KDRT untuk berdaya dan bangkit menjadi dirinya sendiri.

Follow akun: ruanita.indonesia

Untuk mendalami Gaslighting, Anita menjelaskan istilah ini yang sebenarnya menjadi populer belakangan ini. Istilah ini diambil dari suatu film yang terinspirasi dari lampu gas yang dimainkan suami untuk memanipulasi keyakinan istri.

Film yang tayang pada tahun 1938 ini kemudian berhasil membuat si istri menjadi rapuh dan kerap disangkal oleh suami berulang kali lewat permainan lampu gas.

Anita menjelaskan bahwa cara mengenali jebakan hubungan Gaslighting: (1). Pelaku menyangkal keyakinan korban dan merasa lupa apa yang sebenarnya terjadi; (2). Pelaku meremehkan apa yang dirasakan atau apa yang diyakini korban. Pelaku membuat korban mempertanyakan kebenaran bahkan kewarasan korban. Pelaku melakukannya dengan halus bahkan menggunakan siasat Love Bombing seperti pujian dan kata-kata cinta sehingga korban menjadi ragu dan bingung. Siasat ini membuat korban merasa bersalah dan kebingungan.

Perilaku Gaslighting seperti konsisten “menyerang” pijakan korban seperti konsep diri, kompetensi, keyakinannya yang berulang-ulang sehingga membuat korban pun rapuh, bahkan ada yang berujung pada petaka. Tujuan dari pelaku adalah melemahkan korban sehingga korban bergantung pada pelaku.

Anita menyarankan jika adalah korban, maka kita bisa melakukan empat poin berikut: (1). Agree to Disagree: Kita tetap yakin terhadap apa yang kita percayai meskipun pelaku kerap menyangkal. (2). Kita tidak menggubris apa yang diperbuat pelaku. (3). Mencari validasi dari Significant Others seperti teman, orang tua, yang mengenal kita dengan baik. (4). Mencari bantuan profesional agar bisa keluar dari jebakan hubungan Gaslighting.

Lebih lengkap diskusi virtual kami tersebut bisa disimak dalam saluran YouTube berikut:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa sih Nasionalisme di Mata Ex WNI?

Cerita Sahabat Spesial kali ini menghadirkan Sri Tunruang, seorang pensiunan yang sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 45 tahun.

Berawal dari studi jurusan Ilmu Perusahaan di RWTH Aachen, Sri kemudian membangun hidup bersama keluarga di Jerman hingga pensiun.

Dia kini aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan yang berfokus pada Indonesia, Perempuan dan Integrasi.

Meski Sri telah menjadi warga negara Jerman, tetapi kecintaannya pada Indonesia semakin mendalam sejak tinggal di perantauan.

Pesan Bung Karno yang dikemas dalam pigura cantik di dinding rumahnya menjadi pengingatnya tentang Indonesia.

“Bawalah badanmu berkeliling dunia, tetapi tunjukkanlah jiwamu kepada Tuhan dan Indonesia!” yang menuntunnya untuk tidak pernah melupakan Indonesia.

Menurut Sri, paspor bukan menjadi hal penting untuk mengukur tingkat nasionalisme seseorang. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi dan keadaan seseorang yang menyebabkan dia harus tinggal dan memutuskan untuk mematuhi aturan di mana dia tinggal.

Bagi Sri, kebangsaan dan kewarganegaraan adalah dua hal yang berbeda. Kewarganegaraan itu menjadi hal pokok yang tertuang di paspor.

Sri juga mengingatkan pentingnya untuk tidak melupakan sejarah bangsa Indonesia meski kita berada di perantauan. Sri tetap mengajarkan anak-anaknya untuk berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Bahasa ibu adalah cara kita mengenalkan anak-anak tentang dunia. Bahasa ibu menjadi identitas yang ingin kita tunjukkan kepada dunia.

Tantangan menunjukkan jati diri sebagai orang Indonesia di perantauan diyakini Sri sebagai hal yang tak mudah dalam lingkungan orang-orang yang bukan Indonesia.

Sri berharap agar perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri tetap dapat mengundang orang-orang Indonesia yang tidak lagi menjadi warga negara Indonesia saat ada acara-acara besar seperti perayaan tujuhbelasan, hari raya lebaran dan lain-lain.

Dia menutup pesannya kepada pemerintah Indonesia untuk mempermudah kebutuhan para pelaku kawin campur yang tinggal di perantauan.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Lebih lengkap, simak penjelasan Sri Tunruang di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Begitu Tinggal di Jerman, Aku Sadar Kalau Dia Manipulatif

Ini adalah pengalamanku yang sampai saat ini kadang masih menjadi traumaku dan tentunya menjadi pelajaran berharga bagiku. Selama empat tahun, sejak aku masih SMA hingga aku tiba di Jerman 2017 yang lalu, aku memiliki mantan pacar yang enam tahun lebih tua dariku, yang melakukan gashlighting terhadapku dan sayangnya baru kusadari setelah aku berhasil putus darinya. Kami berkenalan di acara karang taruna desa kami saat aku masih duduk di bangku SMP. 

Awalnya dia menunjukkan sikap yang baik dan perhatian. Namun lama kelamaan dia mulai berubah dan menunjukkan sikap yang tidak masuk akal. Dia mulai menjauhkanku dari teman-teman dan keluargaku. Ia mulai melarangku untuk bermain dengan teman-temanku.

Ia berusaha meyakinkanku bahwa teman-teman yang sudah kukenal lama ini bukanlah orang yang baik. “Kalau kamu cuma main sama dia, mau jadi apa kamu!”, katanya saat itu. Meskipun pulang malam adalah hal yang sudah biasa bagiku dan tentunya dengan sepengetahuan kedua orang tuaku, ia mulai sering berargumen, “Kamu tuh sudah dibilang bukan anak baik-baik, pulang malem. Tidak usah deh ikut acara apa-apa. Demi nama baik kamu.”

Selain dia menjauhkanku dari keluargaku, ia bahkan memanggil orang tuaku langsung dengan nama, mengatai-ngatai kedua orang tuaku dan berusaha mendoktrinku bahwa orang tuaku bukanlah orang yang baik.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Sebenarnya pun keluarga dan beberapa tetanggaku sudah memperingatkan dan melarangku untuk berhubungan dengannya. Sayangnya bagiku saat ini, hanya “jangan dekat dengannya” tidaklah cukup meyakinkanku.

Tidak seorang pun yang menjelaskan padaku dengan mengapa aku tak boleh dekat dengannya. Mereka hanya mengatakan: intinya jangan berhubungan sama dia. Titik. Peringatan itu kuabaikan saja dan aku tidak mau memercayainya. Aku pernah menanyakan hal ini padanya dan jawabannya, “Dia saja yang tidak mau kita bersama.” Bodohnya aku, aku memercayai jawabannya itu.

Ini yang menjadi poin penting bagaimana aku sulit lepas dari mantan pacarku ini dan entah bagaimana tetap saja mempercayainya. Mungkin sebagai gambaran awal, aku adalah tipikal orang yang “ngemong”, super care dan royal. Ketika orang melihat ini sebagai poin plus, ini adalah titik lemahku di hadapannya, yang sering ia manfaatkan. Caranya memanipulasiku sangatlah manis, menjanjikan sesuatu yang hampir setiap perempuan ingin dengar dari setiap laki-laki, seperti ingin membangunkan rumah untukku, membicarakan berapa banyak anak yang ingin dia miliki bersamaku, atau bagaimana ia ingin berakhir bersamaku.

Ketika ia tahu aku sudah dalam kuasanya, ia memanfaatkan “kelemahanku” dengan bersikap manja padaku, menunjukkan karakter lemah yang bisa menyentuh hatiku, dan mulai meminta ini itu. Lama kelamaan tidak lagi sungkan untuk meminta apapun dariku. “Aku mau ini dong”, “Aku mau itu dong” atau “Belikan ini dong”. Sayangnya makin ke sini ia jadi memaksa untuk dituruti keinginannya saat itu juga. Jika tidak dituruti ia akan berkata, “Apaan sih. Kayak begitu saja tidak bisa. Sudah, kalau tidak mau, putus aja.” 

Bertahun-tahun ia terus mengulang-ulang, bahwa cuma dia yang mau menerimaku. Dia mendoktrinku untuk memercayai bahwa aku anak yang nakal dan ia sudah memperbaiki imejku. Dia mempermasalahkan keperawananku dan mengatakan bahwa semua mantannya masih perawan dan cuma aku yang tidak. Padahal dia juga melakukan hubungan sex denganku. Dia terus mengatakan, seharusnya aku bersyukur bahwa dia mau denganku, hanya dia yang mengerti aku dan sebagainya. 

Bahkan pernah suatu kali, saat aku ketahuan chat dengan teman perempuanku yang dilarangnya, ia lalu menginjak hapeku dan menendang dadaku. Itu justru membuatku merasa bersalah mengapa aku melakukannya dan menyakiti dia. Ia bersikap seakan-akan dia orang tuaku, layaknya orang tua menasihati anaknya.

Ketika dia marah, aku jadi berpikir, dia mau aku jadi lebih baik. Karena ia membuatku sibuk memikirkan “kesalahanku” dan menyalahkan diriku sendiri, aku sampai tak sadar kalau dia sering “membeli perempuan”. Namun ketika dia mau sesuatu, seketika dia bisa berubah sikap begitu saja menjadi sangat sweet dan manja, yang membuatku tidak bisa menolak kemauannya. 

Sebenarnya aku sadar bahwa dia bersikap buruk dan aku harus mengakhiri hubungan ini dengannya. Namun setiap kali mau putus, di kepalaku selalu muncul: siapa lagi yang bisa mengerti dia selain aku, siapa lagi yang mau sama dia selain aku. Yang ada di kepalaku justru bagaimana orang tuaku bisa menerima dia, karena meskipun begitu aku juga tidak mau kehilangan orang tuaku.

Ironisnya, bahkan saat aku sudah di Jerman ia mulai membuat janji-janji manis seperti akan mengunjungiku di Jerman. Selang dua minggu setelah kedatanganku di Jerman, ia minta dibelikan motor CB.

Ini semua membuatku jadi parno kalau dekat dengan laki-laki yang apa-apa minta dibayarin, sampai sekarang aku masih bermimpi tentangnya seperti dikejar-kejar, aku jadi merasa rendah diri dan merasa kecil dihadapan orang tuaku dan tentunya masih merasa bersalah terhadap orang tuaku dan belum bisa memaafkan diriku sendiri. 

Sekolah ke Jerman lah yang menyelamatkan hidupku darinya. Setelah aku pindah ke Jerman, aku menjadi sibuk, banyak hal yang harus aku urus, aku memulai sesuatu yang besar, dan ini antara hidup dan mati tanpa orang tua. Bertemu berbagai macam orang, aku mulai merasakan perbedaan karakter dan treatment terhadapku dibandingkan dengan mantanku.

Selain itu, sejak aku ke Jerman aku bertemu banyak orang-orang baru dengan berbagai macam latar belakang, asal daerah yang berbeda dan cerita masa lalu yang hampir sama, yang membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian. Bahwa siapapun bisa membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang salah dan itu tidak menjamin bahwa di masa depan juga akan mengambil keputusan yang salah lagi. Dan mereka juga bisa berhasil dalam hidup.

Untuk mengakhiri ceritaku, aku menyadari bahwa sulit untuk korban menyadari dan keluar dari hubungan seperti ini. Hanya orang itu sendiri yang bisa melepaskan dirinya dari hubungan itu dan mengambil keputusan. Namun sangat penting juga, kalau kalian punya teman atau anggota keluarga yang mengalami hal serupa, dalam kasus seperti ini kalian harus tegas dan jangan hanya melarang tanpa penjelasan apapun.

Penulis: Mahasiswi, tinggal di Jerman.

(RUMPITA) Jauh Di Mata, Susah Di Dompet

Episode ke-6 Podcast Rumpita ini – Nadia dan Fadni – dimulai dari nostalgia jelang persiapan acara Tujuhbelasan yang dulu mereka ikuti saat masih di Indonesia. Kini mereka menetap di Jerman selama satu dekade yang berawal dari studi sarjana mereka. Suka duka sebagai mahasiswa di tanah rantau dibahas oleh Fadni dan Nadia.

Cerita nostalgia, rindu tanah air mereka berawal dari bagaimana mereka menghias sekitar rumah tinggal, perlombaan Tujuhbelasan dan kemeriahan yang tak dijumpai di luar Indonesia. Namun apakah kemeriahan itu juga diperoleh saat mereka di negeri perantauan?

Mereka bertutur perasaan jauh dari kehidupan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Jarak yang terbentang antara Jerman – Indonesia terkadang membuat kesepian, kerinduan dan kesedihan yang dialami oleh Nadia dan Fadni. Nadia perlu juga pertimbangkan bahwa biaya yang tak mudah dan murah untuk pulang-pergi Indonesia untuk melepas perasaan-perasaan tersebut.

Follow akun Instagram: ruanita.indonesia

Indonesia yang letaknya di ribuan kilometer terasa jauh saat kita berada di perantauan, seperti yang dirasakan Nadia dan Fadni, apalagi mereka adalah mahasiswa. Tahun-tahun perjuangan di Jerman begitu sulit dan panjang saat kita begitu kesulitan untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi hanya untuk melepas kerinduan pada keluarga.

Sebagai orang yang dekat dengan keluarga, Nadia dan Fadni merasa iri melihat kebersamaan orang-orang sekitar yang bisa berkumpul bersama keluarga. Membangun impian di negeri orang terkadang membuat kita merindukan tanah air. Bagaimana kelanjutan celoteh Nadia dan Fadni pada episode ke-6?

Simak selengkapnya di saluran berikut:

Follow podcast kami ya!

(CERITA SAHABAT) OCD Itu Bukan Sekedar Cuci Tangan atau Bolak-balik Cek Pintu

Saya yakin sebagian besar orang sudah tahu apa itu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif. Mungkin ada juga yang pernah melabeli dirinya atau orang lain dengan OCD karena sering cuci tangan, bersih-bersih, atau menyusun barang secara simetris, tapi tahu tidak kalau OCD lebih dari itu?

Sesuai dengan namanya, gangguan ini menyebabkan penderita melakukan sesuatu dengan obsesif dan terus menerus (kompulsif). Perilaku dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan kecemasan yang penderita alami.

Perilaku mencuci tangan berkali-kali, misalnya, bertujuan untuk menghilangkan pikiran buruk, bahwa tangan penderita menyentuh benda berkuman yang bisa menyebabkannya jatuh sakit. Ketenangan hati ini sayangnya hanya bersifat sementara. Jika nanti penderita menyentuh sesuatu lagi, ia akan kembali mempunyai pikiran-pikiran negatif dan cuci tangan kembali harus dilakukan. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan.

Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Proses tersebut baru saya mengerti 10 bulan terakhir ini, sejak saya didiagnosis OCD oleh psikolog. Memang selama ini saya sudah berpikiran saya mempunyai gejala OCD karena „hobi“ banget pakai pembersih tangan sejak mulai remaja. Sempat berkurang karena saya tidak mau berakhir menjadi penderita OCD, tapi sejak pandemi malah semakin bertambah.

Mengamati diri sendiri, saya pakai cairan pembersih tangan pada akhirnya bukan karena takut bakteri, tapi karena jijik. Sejak pandemi mata saya „terbuka“, orang bisa saja pegang hidung atau mulut lalu pegang gagang pintu atau tiang bus. Membayangkannya saja jijik.

Bukan hanya soal cuci tangan, bagi saya juga penting kalau tempat tidur dan sofa saya bebas dari pakaian yang dipakai di luar rumah. Bahkan terakhir sebelum saya terapi, karpet saya juga sudah termasuk. Jika ada teman datang dan duduk di sofa dan di karpet, saya akan langsung mengganti alas sofa dengan yang bersih agar saya bisa duduk di atasnya dengan baju rumah. Jika saya sedang malas menyuci, saya akan menyemprot sofa dan karpet dengan desinfektan.

Selain ritual pasca menerima tamu, saya masih punya banyak contoh tindakan OCD lainnya, seperti ritual pulang ke rumah, ritual toilet, dan ritual pegang ponsel. Walau begitu, tindakan saya tidak seburuk dengan pikiran obsesif kompulsif saya. Oh ya, dalam bahasa Jerman ada dua istilah penting yang berhubungan dengan Zwangsstörung (OCD), yaitu 1) Zwangsgedanken dan 2) Zwangshandlung. Istilah pertama berarti pikiran OC dan yang kedua adalah perilaku/tindakan OC (sengaja saya hilangkan huruf D di akhir singkatan). Menurut saya kedua istilah ini memudahkan sekali untuk mengerti OCD, bahwa OCD bukan hanya soal perilaku tapi juga pikiran.

Walau perilaku OC saya tidak terlalu parah dan tetap membuat saya frustrasi juga memakan banyak waktu saya, tapi pikiran OC lebih membuat saya frustrasi. Pikiran-pikiran agresif termasuk ke dalamnya, misalnya bayangan yang terlintas di pikiran saya saat saya sedang menunggu di kereta di stasiun: OCD mendorong orang ke rel kereta.

Menurut co-terapis saya, saya harus membuat jarak dengan OCD saya, karena itu saya tidak bilang „saya mendorong orang ke rel kereta api“ tapi OCD saya yang melakukannya. OCD saya yang mau mendorong orang ke rel kereta api, saya tidak. Sejak itu saya berhenti mengatasnamakan saya di semua pikiran agresif yang pernah terlintas di benak saya. 

Pikiran-pikiran OC juga mengganggu kehidupan sehari-hari saya. Kadang saya harus menghindar bertemu teman atau pergi ke suatu tempat karena saya takut pikiran agresif muncul. Ketakutan terbesar saya adalah membuat pikiran agresif itu menjadi kenyataan. Di RS saya harus mengikuti seminar atau terapi grup tentang OCD seminggu sekali. Di sana trainer kami bilang penderita OCD, terutama mereka yang sudah mendapatkan diagnosis dari ahli, tidak akan melakukan pikiran agresifnya. Mereka justru akan berusaha untuk menghindar, baik secara fisik, dengan tidak datang ke tempat tersebut, atau secara pikiran dengan berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut (keduanya sebenarnya tidak disarankan).

Silakan follow kami di Instagram: ruanita.indonesia ya.

Pikiran-pikiran agresif ini pernah membuat saya sangat sedih, karena membuat saya merasa menjadi orang jahat, tidak bermoral juga tidak beragama. Saya bukan orang baik karena saya punya berpikiran mencelakakan orang lain dan orang-orang yang saya sayangi. Lucunya, pikiran dan ketakutan menjadi orang jahat ini juga bisa menjadi bagian dari pikiran obsesif kompulsif. Sejak rajin ikut terapi dan tentang OCD, saya semakin yakin, bahwa yang jahat itu OCD bukan saya. Pikiran-pikiran OC bukan kenyataan. Dan yang paling penting: pikiran-pikiran agresif itu bukan bagian dari kepribadian saya.

Oh iya, saya juga baru tahu loh kalau perfectionist juga termasuk ke dalam OCD. Saya dulu tidak sadar kalau saya perfectionist, sampai teman-teman saya kasih bukti: datang selalu tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih awal; nilai kuliah harus bagus; berkunjung ke rumah orang harus bawa buah tangan; kerjaan harus perfect; dan rumah harus bersih dan wangi kalau ada tamu datang.

Saya kira itu semua hal biasa, tapi saat di terapi grup kami disodori contoh-contoh yang ternyata itu SAYA BANGET. Saya juga tak sadar kalau perfectionist itu bukan hal baik dan mengapa orang-orang memandangnya negatif. Maksud saya, bukankah semua yang harus kita lakukan harus benar-benar sempurna hasilnya? 

Ternyata kekurangan dari perfectionist adalah bisa membuat frustrasi. Untuk datang tepat waktu saya harus benar-benar kalkulasi waktu. Jika saya janjian jam 12 dan waktu tempuh 30 menit, saya akan memberikan waktu tambahan 5-10 menit. Jaga-jaga di jalan ada kejadian tak terduga. Untuk itu saya harus tahu jam berapa bangun tidur dan siap-siap. Tambahan waktu itu juga penting, karena anxiety membuat saya harus ke toilet berkali-kali sebelum saya keluar rumah.

Teman saya bilang, bagus dong saya datang cepat jadi tidak stres di jalan. Hmm, sebenarnya sebaliknya. Saya frustrasi. Jika bus/kereta datang telat, saya akan kesal sendiri, seharusnya saya berangkat lebih pagi lagi. Kelemahan lainnya, saya juga memaksakan teman-teman saya untuk tepat waktu dan saya akan marah jika mereka datang telat, terutama jika tanpa kabar. Hasilnya: beberapa di antara mereka malas untuk janjian dengan saya lagi.

Jika kalian sadar saya menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang hampir sempurna, itu juga bagian dari perilaku perfectionist saya 😛 Rasanya gatal sekali jika saya salah menulis. Latihan-latihan yang saya lakukan untuk mengurangi ke-perfectionist-an saya adalah datang telat; menulis Whatsapp dan email tanpa memperhatikan PUEBI; tidak membereskan apartemen, jika tamu datang; dan tidak membawa buah tangan, kalau bertamu ke teman. Oh, satu lagi kelemahan saya gara-gara si  perfectionist ini, saya malu sekali untuk berbicara Bahasa Jerman, padahal saya tinggal di Jerman. Bagi saya lebih baik diam dari pada salah menggunakan bahasa asing. Kalau saya tidak perfectionist, saya pasti akan lebih berani berbicara menggunakan bahasa asing.

Latihan-latihan yang saya sebut di atas saya lakukan mandiri dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, selain itu saya juga melakukan bersama co-terapis saya. Latihan atau terapi itu bernama Exposure and Response Prevention (ERP) dan sangat serius dan harus direncanakan dengan baik. Sebelumnya saya harus membuat hierarki perilaku dan pikiran OC saya dari 10-100%. Perilaku dan pikiran OC di atas 50% akan dilatih bersama. Sebelum, selama, dan sesudah latihan akan ada grafik tentang ketegangan saya. Setelah latihan saya harus memberikan diri sendiri hadiah yang juga harus saya rencanakan sebelumnya. Minggu lalu saya latihan memegang dan mengusap tembok yang punya motif bulatan-bulatan kecil menonjol. Saya tidak boleh menyuci tangan, menggunakan desinfektan, atau menyeka tangan saya ke pakaian selama satu jam. Setelah itu saya pergi beli bubble tea sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Sebelum membuat hierarki OCD itu saya diminta untuk mengisi protokol tentang self-observation. Setiap OCD saya muncul saya harus menuliskan detailnya: apa yang saya pikirkan, apa perasaan saya, bagaimana perasaan saya saat OC hilang, seberapa sering itu terjadi, dan kegiatan apa yang bisa saya lakukan jika perilaku dan pikiran OC itu tidak ada. Dari situ saya bisa tahu yang terbanyak adalah mencuci tangan dan kedua terbanyak adalah pikiran agresif. Latihan-latihan ini mungkin akan harus saya lakukan bulan depan, setelah latihan-latihan di level lebih bawah sudah selesai.

Jika tadi saya menyebutkan tentang co-terapis, terapi grup atau seminar, itu karena di tahun 2021 saya dirawat inap di psikiatri khusus gangguan kecemasan dan OCD. Awalnya karena saya didiagnosa gangguan kecemasan (fobia sosial) dan depresi. Di Hamburg susah sekali untuk menemukan psikoterapis, pasien harus menunggu minimal setengah tahun. Psikiater saya menyarankan untuk masuk rumah sakit, karena lebih cepat dapat tempat. Akhirnya setelah banyak konsultasi dengan psikiater, psikolog dan kolega-kolega yang juga pernah masuk psikiatri, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Bukan keputusan yang mudah, tapi menjadi keputusan terbaik yang pernah saya buat.

Hari kedua di psikiatri saya mengukuti workshop tentang gangguan kecemasan. Salah satu peserta cerita tentang Zwangsgedanken (OC pikiran) yang ia miliki. Karena saya tidak paham, dia menjelaskan ke saya apa itu. Saya kaget sekali waktu itu, karena saya bisa melihat diri saya di cerita dia. Besoknya saya menemui psikolog saya sambil menangis, karena saya takut sekali kalau saya juga punya OCD.

Saya menganggap diri saya gagal, tidak beragama, jika saya sampai punya tiga gangguan metal dalam satu waktu. Singkat cerita, benar saya memiliki OCD. Awalnya sangat berat bagi saya untuk menerimanya, tapi setelah benar-benar memahami gangguan-gangguan mental yang saya miliki, saya akhirnya bisa menerima. Bahkan saya bersyukur bisa mendapatkan diagnosa tersebut.

Saya tinggal di rumah sakit selama tiga bulan. Berbeda dengan rumah sakit jiwa yang kita dengar tentang kesuramannya, suasana di sana santai dan terbuka sekali. Setiap sore pasien diperbolehkan pulang atau keluar sampai maksimal jam 10 malam. Satu malam di akhir pekan pun kami boleh tidur di rumah. Tidak terasa seperti sedang di rumah sakit jiwa.

Oh ya, karena memiliki asuransi kesehatan, hampir seluruh biaya rumah sakit saya diambil alih oleh asuransi. Dalam satu tahun pasien hanya mengeluarkan biaya rawat inap sebesar 10 Euro/ hari. Karena saya di rumah sakit selama tiga bulan, maka saya hanya membayar 280 Euro untuk 28 hari dan sisanya oleh asuransi. Tagihannya baru saya dapatkan sekitar empat bulan setelahnya. Kaget juga, karena saya kira bebas biaya 😛

Saya berharap stigma negatif tentang gangguan metal hilang dari masyarakat kita, agar orang-orang bisa lebih terbuka tentang kesehatan mentalnya dan tidak sungkan mencari pertolongan. Selain itu, harapan saya akses ke kesehatan mental di Indonesia menjadi lebih mudah dan terjangkau. Kualitas rumah sakit jiwa juga semoga semakin baik lagi.

Untuk teman-teman yang masih awam tentang OCD, yuk cari tahu lagi tentang OCD dari ahlinya atau dari pengalaman orang-orang dengan OCD. Bahkan sekarang ini informasi tentang OCD bisa diakses di media sosial, seperti Instagram. Jika kamu merasa memiliki gejala-gejala, pastikan hanya dokter atau psikolog yang diagnosa kamu. Dan jangan lupa, kamu tidak sendiri dan OCD bisa dikalahkan.

Penulis: Mariska Ajeng. Menetap di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.wordpress.com

(PELITA) Bagaimana Depresi pada Ibu Melahirkan Terjadi?

Ruanita – Rumah Aman Kita menyelenggarakan program PELITA: Parenting with Ruanita yang membahas tema-tema pengasuhan anak yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di mancanegara. Program PELITA hadir tiap bulan sekali berupa video pendek, tak lebih dari 30 menit, yang bercerita tentang tema pengasuhan anak yang dialami orang-orang Indonesia di mancanegara.

Melalui PELITA, Ruanita mengajak warga Indonesia yang tinggal di mancanegara untuk berbagi cerita dan pengetahuan tentang pengalamannya agar dapat mempromosikan praktik baik – keterampilan hidup – di luar negeri. Ide parenting dikumpulkan dari berbagai masukan dan informasi yang dihadapi orang-orang Indonesia sehari-hari.

Pemandu dari PELITA adalah Stephanie Iriana Pasaribu, seorang ibu dan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S3 di Belanda. Dengan latar belakang keilumuan dan pengalamannya, Stephanie bercerita dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami tentang isu-isu parenting yang tak banyak diketahui.

Seperti tema pada episode ke-3 adalah depresi yang tak banyak diketahui oleh para ibu yang melahirkan. Kondisi depresi pada ibu yang melahirkan bisa berlangsung pendek dan panjang. Dengan intensitas dan frekuensinya, kita perlu memahami apakah itu Postpartum Depression atau Baby Blues – yang kemudian dijelaskan dengan baik oleh Stephanie.

Selain faktor penyebab terjadinya depresi, Stephanie juga menceritakan dukungan sosial penting bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Ketika bayi dilahirkan, kita tidak hanya memikirkan tentang kondisi bayinya saja, tetapi juga kondisi si ibu termasuk kesiapan mentalnya apalagi saat tinggal di mancanegara. Bayi yang sehat dan ibu yang sehat merupakan faktor keberhasilan tumbuh kembang anak yang diperlukan dalam keluarga.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Kenali Gangguan Perkembangan Anak yang Menyangkut Sensori Sejak Dini

Tak banyak orang tua yang berhasil mengenali gangguan perkembangan yang dialami anaknya, terutama bagaimana anak dapat merespon dengan tepat sesuai panca inderanya. Respon anak dengan gangguan pemrosesan sensori bisa berlebihan atau bisa berkurang. Hal ini dialami langsung oleh Stephanie, yang adalah seorang ibu dan saat ini sedang menyelesaikan studi Ph.D di Belanda.

Stephanie bertutur dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami untuk para ibu yang berada di mancanegara meski dia memiliki keilmuan sebagai Psikolog. Gangguan pemrosesan sensori kadang bisa dikenali sebagai anak dengan Autisme, tetapi itu tidak sama.

Gangguan pemrosesan sensorik adalah suatu kondisi di mana otak mengalami kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui indera. Anak-anak dengan gangguan pemrosesan sensorik mengalami kesulitan memproses informasi dari indera (sentuhan, gerakan, penciuman, rasa, penglihatan, dan pendengaran) dan merespons informasi tersebut dengan tepat.

Anak-anak ini biasanya memiliki satu atau lebih indera yang bereaksi berlebihan atau kurang terhadap rangsangan. Gangguan pemrosesan sensorik dapat menyebabkan masalah dengan perkembangan dan perilaku anak.

Lebih lengkap tentang penjelasan Stephanie tersebut, bisa dilihat dalam tayangan video berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(RUMPITA) Semua Demi Visa

Sahabat Ruanita, episode kelima dari Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) adalah seputar pengalaman Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa yang studi di Jerman dalam memperpanjang Visa sebagai ijin tinggal bagi WNI di luar negeri. Bemula dari cerita Nadia mengurus perpanjangan Visa sementara saat pandemi melanda dunia dua tahun lalu.

Baik Nadia maupun Fadni kini sedang menempuh program Pascasarjana di Jerman setelah mereka lulus sarjana di Jerman. Syarat untuk perpanjangan Visa Studi di Jerman menurut Nadia adalah punya tabungan sekitar 10 ribu Euro, keterangan status ijin tinggal seperti mahasiswa, kerja, dll., kontrak rumah di Jerman dan surat keterangan tempat tinggal.

Sebagai mahasiswa di luar negeri, tiap orang punya kisah masing-masing yang menarik dan tak mudah untuk dijalani. Bagaimana pengalaman Nadia dan Fadni mengurus perpanjangan Visa sebagai mahasiswa di Jerman? Ada juga tips Nadia dan Fadni yang bisa membantu untuk perpanjangan Visa. Simak cerita mereka di saluran berikut: