(AISIYU) Perkara Kekerasan Seksual terhadap Kaum Perempuan

(Surat ini ditujukan kepada Buya Sjafii Ma’arif, intelektual Muslim senior Muhamaddiyah )

Sejak masa remaja, saya sudah menyadari dan menyaksikan bagaimana kaum perempuan rentan terhadap tindak kekerasan atau pelecehan seksual di masyarakat kita, selain saya pernah mengalami sendiri perlakuan seperti itu. Yang tentunya sangat mengecewakan dan menimbulkan kemarahan, saya juga mendengar keluhan-keluhan baik dari teman perempuan maupun informasi dari mereka yang teraniaya.

Nah, belakangan saya menyimak informasi menyedihkan sehubungan dengan persoalan ini. Berikut saya kutip bagian tulisan penting yang ditulis oleh Sulistyowati Irianto, Co-founder Mata Kuliah Gender dan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia: 

Universitas di Indonesia tidak henti-hentinya dirundung malang. Belum selesai urusan semakin merosotnya kebebasan akademik dan demokrasi di kampus dengan segala dampaknya, sekarang mencuat isu kekerasan seksual yang korban umumnya adalah para mahasiswi. Lembaga paling terhormat, penjaga gerbang kebenaran di hati masyarakat, ternyata menyimpan kejahatan yang paling memalukan: kekerasan seksual, yang begitu disembunyikan, tertutup rapat bisa puluhan tahun. Mengapa?

Pelakunya umumnya dosen pengajar, pembimbing skripsi atau disertasi, pembimbing akademik, termasuk profesor. Mereka memiliki kuasa amat besar terhadap mahasiswa, bisa menentukan kelulusan dan berapa nilainya. Mahasiswa ini bisa S1, S2 bahkan S3. Lalu apakah para pelaku ada yang dihukum atas perbuatannya? Amat jarang, bahkan yang sampai ke meja hijau hampir tidak ada. Mengapa? Karena tidak ada instrumen hukum yang mengaturnya. Secara politik, pengakuan terhadap terjadinya kekerasan seksual di kampus bisa memalukan institusi.

Follow us ruanita.indonesia

Menyembunyikan dan membiarkan adalah jalan aman yang umumnya ditempuh. Para orang tua menguliahkan anaknya agar menjadi pintar, tetapi ada saja yang malah jadi korban. Ternyata kampus bukan tempat aman bagi mahasiswa. Survei Jakarta Post 2019 menunjukkan 96 persen korban mahasiswi. Predator seksual ada di setiap sudut kampus, bersembunyi dalam selubung etika moralitas yang palsu dan hipokrit.

Kalau di lembaga pendidikan tinggi saja bisa terjadi persoalan seperti ini – bisa dibayangkan apa yang mungkin terjadi di tataran “bawah”nya. Padahal konon masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam dikenal sebagai masyarakat religius dan taat beragama tetapi mengapa kekerasan masih terjadi? Dalam hal ini khususnya terhadap kaum perempuan dan juga bersifat seksual?

Menurut data dari catatan tahunan Komnas Perempuan – pada tahun 2020 setelah wabah korona melanda dan masyarakat lebih banyak tinggal di rumah, ternyata kekerasan seksual terhadap perempuan di ranah privat menempati angka tertinggi. Selain itu, 58% dari total angka kekerasan terhadap perempuan di wilayah publik dan komunitas terjadi dalam bentuk kekerasan seksual.

Pada tanggal 31 Agustus 2021 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menandatangani Peraturan Menteri Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Permendikbud Ristek no 30/2021 yang diluncurkan dengan maksud untuk melindungi korban pelecehan dan kekerasan seksual malah menimbulkan kontroversi. Dan bahkan Menterinya dituding melegalkan zina atau kebebasan seks.

Terima kasih atas perhatiannya.

Salam hormat,

Arahmaiani

Penulis: Arahmaiani selaku Seniman dan Esais, yang bisa dicek profilnya di wikipedia pada link yang ditautkan.

(AISIYU) Surat kepada Dewan Pendidikan Sekolah

Kepada Yth:

Dewan Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan di Indonesia

di tempat

Dengan hormat,

Saya meyakini bahwa pendidikan adalah hak asasi manusia, terlepas dari latar belakang dan jenis kelaminnya. Pendidikan juga menjadi sebuah fundamental pembangunan bangsa, terutama bagi perempuan. Bagi saya, perempuan adalah poros keluarga sehingga mendapatkan hak-haknya untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin adalah penting.

Mengapa demikian? Karena tugas mendidik anak sejak dini dilakukan oleh perempuan sejak anak itu dilahirkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Medical Research Council Social and Public Health Sciences Unit dengan menganalisis 12.686 orang berusia 14-22 tahun, didapatkan temuan bahwa kecerdasan anak berasal dari sang ibu.

Penelitian ini menyebutkan bahwa ada gen tertentu yang beroperasi secara berbeda tergantung dari mana gen itu berasal, apakah dari ibu atau ayah. Kecerdasan seseorang terletak pada kromosom X. Perempuan membawa dua kromosom X dan laki-laki membawa satu kromosom X, maka dari itu kecerdasan seorang anak sebagian besar berasal dari ibunya.

Generasi-generasi penerus bangsa yang baik dan berwawasan luas lahir akan dari rahim perempuan yang berwawasan luas pula. Lalu mengapa ketika seorang siswi didapati hamil ketika dia masih duduk di bangku sekolah, lantas dianggap tidak layak untuk menyelesaikan pendidikan seperti umumnya?

Follow us ruanita.indonesia

Ketika saya duduk di bangku sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Yogyakarta, terjadi sebuah kejadian yang menggegerkan seantero sekolah. Seorang siswi, teman baik saya, menjalin hubungan dengan teman satu kelasnya sampai siswi tersebut hamil. Siswa dan siswi itu kemudian dipanggil ke ruang bimbingan konseling yang dihadiri oleh orang tua murid dan dewan sekolah.

Kemudian atas pertimbangan dewan sekolah, siswi tersebut dikeluarkan karena dianggap telah mencoreng nama baik sekolah dengan memberikan contoh yang tidak baik bagi siswi-siswi lain di sekolah. Ketimpangan kemudian terlihat nyata ketika siswa yang menghamili siswi tersebut tidak mendapatkan sanksi yang sama. Siswa laki-laki yang menghamili temannya itu tetap diijinkan untuk menyelesaikan pendidikan.

Lalu bagaimana mungkin dua orang yang melakukan kesalahan yang sama tidak mendapatkan sanksi yang seimbang hanya karena jenis kelamin mereka? Sedangkan berdasarkan pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD), dinyatakan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kata “setiap” di sini menjadikan undang-undang ini juga berlaku bagi para siswi yang hamil tanpa terkecuali.

Sekolah hendaknya meninjau kembali keputusan-keputusan yang timpang dan merugikan siswi yang hamil walaupun mereka masih duduk di bangku sekolah, sehingga keputusan-keputusan yang ada tidak lantas menihilkan fungsi pendidikan di sekolah.

Fungsi pendidikan di sekolah seharusnya mendidik dan melaksanakan pendidikan moral, bukan menghukum. Terlebih lagi memberikan hukuman yang timpang. Siswi yang hamil seharusnya tidak di keluarkan tetapi diberikan bimbingan khusus, karena bagaimanapun juga pendidikan adalah hak asasi mereka.

Banyaknya kasus yang serupa menjadikan pendidikan tentang kesehatan dan reproduksi menjadi penting untuk diberikan. Penyuluhan dan pemberian informasi terkait konsekuensi kehamilan di sekolah juga perlu diberikan baik itu kepada siswa dan siswi maupun orang tua murid.

Saya berharap ketimpangan ini dapat segera diatasi sehingga nantinya tidak ada lagi ketidakadilan yang merugikan perempuan.

Hormat saya,

Perempuan yang mendukung kesetaraan pendidikan

(AISIYU) Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula

Surat terbuka ini saya tujukan untuk komunitas-komunitas perempuan yang mempunyai misi menciptakan ruang aman bagi para perempuan untuk berbagi cerita dan saling memberikan dukungan. 

Dengan hormat,

Saya teringat dengan konsep Sisterhood yang mempunyai tujuan mulia tetapi kemudian malah menjadi bumerang bagi para perempuan. Di sini saya akan meminjam apa yang dimaksud dengan Sisterhood dari situs Magdelene, yaitu memperjuangkan agenda pemberdayaan perempuan disertai semangat untuk saling mengingatkan diri sendiri dan sesama, menghargai dan memberi dukungan tanpa pandang bulu. Akan tetapi banyak juga perempuan-perempuan yang mengeluhkan bahwa banyak yang mengaku mendukung sisterhood tapi masih suka menghakimi pada sesama perempuan (Magdelene).

Saya mengikuti sebuah komunitas perempuan yang tujuannya memberdayakan perempuan. Komunitas ini dipelopori oleh seorang perempuan yang sangat berdaya yang pernah berada dalam posisi sebagai korban kekerasan di masa yang lalu. Dengan komunitas perempuan yang dipeloporinya, dia sekarang berada dalam posisi sebagai “penyelamat” bagi perempuan-perempuan lainnya.

Dalam suatu pertemuan daring komunitas tersebut yang saya hadiri, seorang anggota komunitas yang merupakan perempuan yang berdaya dalam kehidupan sehari-harinya berbagi cerita mengenai posisi dia yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. 

Alih-alih mendengarkan cerita perempuan tersebut, si pelopor komunitas malah menyudutkan perempuan itu dalam taraf yang menurut saya tidak bisa ditolerir lagi. Dengan mengatakan baper, tidak bisa mengambil pelajaran sampai menyinggung pekerjaan perempuan tersebut.

Padahal perempuan yang berbagi cerita itu memberikan pelajaran penting untuk perempuan yaitu dengan berani melaporkan apa yang dia alami kepada otoritas terkait secara sadar dengan segala konsekuensinya. 

Saya tahu banyak perempuan, walaupun dia berdaya dalam kehidupan sehari-hari, tapi tidak berdaya ketika menjadi korban kekerasan apapun bentuknya dan tidak berani untuk bicara yang kemudian tanpa disadari menimbulkan depresi karena merasa hak-haknya terabaikan, tidak didengarkan dan tidak mendapatkan keadilan.

Follow us ruanita.indonesia

Dan di sinilah si pelopor komunitas ini dari posisi sebagai “penyelamat” menjadi pelaku perundungan/bully. Sebenarnya perilaku seperti ini biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Korban bully kemudian menjadi pembully. Lebih menyedihkan lagi, perempuan-perempuan anggota komunitas ini pun ikut menghakimi. Bahkan percakapan berlanjut sampai keesokan harinya di Whatappsgroup.

Semua orang berproses dan ada kalanya belum bisa menarik hikmah secara cepat, belum bisa menarik pelajaran dari apa yang terjadi pada dirinya. Di satu sisi terlihat berdaya. Tapi di sisi lain bahkan untuk bangkit walaupun perlahan terasa sulit.

Saya pun pernah mengalaminya. Sekarang ketika melihat kebelakang sepertinya masalah saya tidak berat-berat sekali. Tapi emosi yang dirasakan ketika kejadian itu berlangsung sangat nyata. Sehingga banyak orang yang susah untuk melupakan apa yang terjadi.

Mungkin kita perlu untuk berhati-hati dengan perilaku sebagai “penyelamat” yang ingin memecahkan permasalahan yang tanpa disadari ada motif tersembunyi seperti untuk mendapat pengakuan, kepuasan ketika menjadi tempat orang bergantung dan lain-lain. 

Seperti kutipan yang sering dijumpai, kita memang perlu mempunyai empati dan tidak cepat menghakimi karena kita tidak tahu apa yang dialami oleh orang lain. Ini berlaku baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Mari kita bersama-sama belajar dan berproses!

Salam,

Dina Diana

Penulis: Dina Diana yang berprofesi sebagai Independent Scholar.

(AISIYU) Surat kepada Para Suami yang Tidak Menghormati Istri

Kepada:

Para suami yang tidak menghormati isterinya

di tempat

Salam,

Saya adalah seorang perempuan yang menerima cerita dan menyaksikan beberapa orang sahabat dan saudara saya yang perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Beragam bentuk kekerasan yang mereka alami mulai dari verbal sehingga fisik. 

Di antara mereka ada yang memberanikan diri untuk keluar dari situasi yang menyakitkan itu dengan bercerai. Meskipun sesudah bercerai timbul masalah baru, tetapi kekerasan itu telah berakhir. Sementara sahabat saya yang lainnya memilih bertahan karena pertimbangan anak dan status sosial. Wahai lelaki yang dilahirkan oleh seorang ibu, istrimu adalah ibu dari anak-anakmu. 

Sadarilah anak-anakmu tanpa sengaja akan meniru apa yang engkau lakukan terhadap istrimu. Jika dirimu tidak memutus mata rantai kejahatan kekerasan ini, maka tindakan kekerasan ini akan terus berlangsung.

Follow us ruanita.indonesia

Dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan ini tidak hanya luka sakit fisik tetapi juga luka hati teramat dalam serta rasa trauma. Jika dirimu orang beragama ingatlah bahwa jika kita menjadi penyebab penderitaan orang tidak hanya dosa yang engkau dapatkan balasan dari semesta (Tuhan) yang akan engkau terima, yakinlah itu. 

Jika perempuan itu memperkarakanmu ke jalur hukum maka hukuman di dunia menantimu. Ini bukan penyelesaian masalah yang diharapkan karena tidak baik untuk status sosial, masa depan dan masa depan anak-anakmu. 

Wahai lelaki, jadilah lelaki yang penyayang penuh kasih dan menghormati perempuan sebagaimana ibumu mengajarkan tentang kasih sayang. 

Untuk lelaki, suamiku yang telah menjadi teman hidupku selama 22 tahun ini, terima kasih telah menjadi mitra dalam kehidupan kita bersama. 

Tertanda,

Yumasdaleni

Penulis: Yumasdaleni adalah Akademisi/Peneliti Perempuan Parlemen.

(CERITA SAHABAT) Berawal dari Pribadi yang Insecure hingga Kondisi Financial Insecurty di Negeri Orang

Ini tahun kelima aku tinggal di negeri empat musim. Aku datang ke negara ini untuk tujuan studi master yang sudah aku selesaikan sejak tahun lalu. Studiku di Eropa sepenuhnya atas biaya sendiri. Ibuku membiayai sepenuhnya kuliah dan hidupku di sini.

Setelah studi selesai, keluargaku berharap aku bisa pulang kembali ke Indonesia. Mereka berharap aku bisa bekerja dan tinggal di Indonesia lagi. 

Sebenarnya aku berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan dan tinggal di negara asal studiku. Itu menjadi alasanku pada orang tuaku untuk tidak pulang langsung ke Indonesia setelah studi selesai.

Apa daya Pandemi melanda seluruh dunia. Pandemi juga membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan juga krisis keuangan. Pandemi telah membuatku memiliki masalah mental.

Aku sudah tidak meminta bantuan keuangan orang tuaku lagi sejak aku bisa mendapatkan penghasilan sendiri di negeri yang aku tempati. Pekerjaan itu memang memberi aku uang untuk bertahan hidup di Jerman, tetapi pekerjaan itu berat sekali. Pekerjaan itu tidak hanya sulit secara fisik, tetapi juga secara mental juga.

Pada akhirnya aku harus keluar masuk Klinik untuk mengatasi keluhanku. Aku didiagnosa mengalami masalah depresi. Akibatnya aku memutuskan berhenti dari pekerjaan yang sudah dua tahun aku jalani.

Aku harus menjalani perawatan mental di klinik secara rutin sampai sekarang. Selain itu, pekerjaan itu tak tepat untukku lagi yang kini tidak lagi menyandang mahasiswa.

Follow us: ruanita.indonesia

Bagaimana caranya aku bertahan di tengah Pandemi? Bagaimana caranya aku bertahan hidup di negeri empat musim ini karena aku sudah kehilangan pekerjaan? Bagaimana caranya aku bertahan hidup di negeri asing yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, sementara studiku berbahasa Inggris? Kemampuan bahasa lokalku tidak sebaik bahasa Inggris yang mudah buatku.

Mungkin banyak orang akan senang karena lulus studi, aku malahan bingung dan merasa insecure. Aku bingung dan kehilangan arah. Aku mulai khawatir bagaimana aku bertahan di negeri ini.

Ini berawal dari diagnosa masalah mental yang aku alami, kemudian aku perlu mendapatkan perawatan rutin hingga aku khawatir dengan keuanganku. Aku tak punya pekerjaan dan tabungan.

Sehari-hari, aku mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah lokal di sini tetapi itu berarti tidak selamanya. Mereka sudah mulai memberikan peringatan agar aku segera mendapatkan pekerjaan. Itu sangat tidak mudah karena aku tidak tinggal di kota besar yang punya banyak peluang kerja untuk para Migran berbahasa Inggris sepertiku.

Aku mulai khawatir dengan hidupku di negeri asing ini karena batas visaku sebagai pencari kerja akan berakhir dalam hitungan bulan. Aku frustrasi dengan kondisi keuanganku karena semua terasa mahal dan berat buatku. Orang tuaku seolah-olah tidak peduli karena aku pun tidak patuh pada mereka untuk pulang ke Indonesia.

Aku tidak percaya diri dengan potensi hidupku karena banyak kali lamaran pekerjaan yang aku kirimkan kerap mendapatkan penolakan. Aku kehilangan arah setelah studiku selesai. Mungkin benar pepatah yang menyatakan: Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. 

Aku seperti tak berani menatap masa depanku sendiri karena aku tidak punya rencana keuangan yang aku siapkan sebelumnya. Aku tak punya pekerjaan. Aku mengkhawatirkan isi dompetku karena biaya hidup di negeri orang tidak murah.

Sementara kembali ke Indonesia, aku belum siap untuk menata kehidupanku lagi. Aku terlalu jatuh cinta dengan negeri ini, meski aku tak tahu bagaimana aku bertahan hidup.

Penulis: Anonim yang sudah lulus studi dan tinggal di negeri empat musim.

(SIARAN BERITA) Gelar Acara Berjudul AISIYU, Surat Terbuka Promosikan Anti Kekerasan terhadap Perempuan

JERMAN – Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang dikenakan pada individu semata-mata karena dia adalah perempuan yang berakibat atau dapat menyebabkan penderitaan secara fisik, psikologis, ataupun seksual termasuk juga ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di muka umum maupun dalam kehidupan pribadi (Deklarasi Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Pasal 1, 1993).

Dalam upaya membangun kesadaran akan pentingnya menghapus praktik kekerasan terhadap perempuan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadikan tanggal 25 November sebagai Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

Untuk memperingati hari tersebut, RUANITA mengadakan kampanye media sosial AISIYU (Aspirasikan Suara dan Inspirasi nyatamu): Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan Dimulai dari Saya. 

Melalui media diskusi virtual dan surat terbuka, kampanye AISIYU diadakan untuk meningkatkan kesadaran dan peran masyarakat dalam menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan pentingnya penghormatan terhadap hak-hak hidup perempuan. 

Diskusi virtual kampanye AISIYU akan disiarkan lewat Instagram Live akun @ruanita.indonesia pada tanggal 27 November 2021 pukul 10.00 CET (16.00 WIB). RUANITA akan mengundang Andy Yentriani selaku Komisioner Komnas Perempuan (@komnasperempuan), Novi (@novikisav) selaku warga diaspora Indonesia di Norwegia dan Stephanie Iriana Pasaribu (@irianacamus) Ph.D. candidate dari University of Groningen Belanda dan penggagas AISIYU. 

Diskusi virtual tersebut akan membahas fenomena kasus kekerasan terhadap perempuan di Norwegia dan Belanda dan kebijakan yang dibuat untuk menanggulanginya.

Follow us: ruanita.indonesia

Selain itu akan dibahas juga peran pemerintah Republik Indonesia dalam menanggapi kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

Adapun tindak lanjut dari diskusi virtual kampanye AISIYU adalah ajakan menulis surat terbuka untuk menyuarakan aspirasi terkait kekerasan terhadap perempuan dan upaya-upaya penghapusan praktik kekerasan tersebut. Surat terbuka dapat ditulis oleh siapapun, laki-laki maupun perempuan warga negara Indonesia, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Surat terbuka ini ditujukan kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan, institusi, ataupun individu pemangku kepentingan yang relevan dengan isu perlindungan atas hak-hak hidup perempuan. Persyaratan penulisan surat terbuka dapat dibaca di sini https://ruanita.com/2021/10/12/aisiyu-aspirasikan-suara-dan-inspirasi-nyatamu/. Surat terbuka dapat dilampirkan ke https://bit.ly/AISIYU .

Setelah melalui proses seleksi, surat yang terpilih akan ditayangkan di media sosial RUANITA (Facebook, Instagram dan situs www.ruanita.com ) pada 22-28 November 2021.

Dalam kesempatan terpisah, RUANITA bekerja sama dengan PPI Kiel telah mengadakan diskusi online bertema ‘Kekerasan dan Pelecehan Seksual’ pada tanggal 10 Oktober 2021. RUANITA juga turut bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS), Adakita Forum dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online bertema ‘Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Luar Negeri’ pada tanggal 23 Oktober 2021. 

Pemahaman yang minim tentang KDRT dan kasus-kasus hukum lainnya yang bermunculan di luar Indonesia turut menjadi keprihatinan Perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di luar negeri.

Diharapkan diskusi online tersebut dapat membekali WNI untuk memahami hak-hak hukumnya selama tinggal di luar Indonesia dan membantu mencegah serta menangani kasus-kasus KDRT sesuai regulasi yang terstandar dan kebijakan yang terintegrasi. 

RUANITA juga memiliki program mandiri berupa konseling online yang menampung keluhan konflik maupun tindak kekerasan yang dipicu ketimpangan relasi antara perempuan dengan pria.

Sebagai tindak lanjut dari diskusi online dan konseling online, RUANITA menggelar kampanye AISIYU berupa ajakan menulis surat terbuka kepada masyarakat agar ikut berpartisipasi menyuarakan pendapat dan pengalamannya sehingga mereduksi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

RUANITA (Rumah Aman Kita) adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Subscribe kanal YouTube kami.

Daftar Acara

Tahun 2021

  • Diskusi Online Kekerasan dan Pelecehan Seksual bekerja sama dengan KJRI Hamburg, PPI Kiel, dan Yayasan Pulih diikuti oleh 87 orang
  • Diskusi Online tentang KDRT bekerja sama dengan KBRI Stockholm dan Swedish Indonesian Society yang diikuti oleh 25 orang
  • ASIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) 2021 berbentuk surat terbuka, yang diikuti oleh 8 orang

Tahun 2022

  • Diskusi Online Kewirausahaan untuk perempuan bekerja sama dengan KBRI Ankara, KBRI Den Haag, KEMI Turki diikuti oleh 78 orang
  • Diskusi Online tema Perkawinan Campuran, diikuti oleh 48 orang
  • Diskusi Online di Hari Perempuan Sedunia 2022, diikuti oleh 25 orang
  • Kartini Virtual 2022, diikuti oleh 20 orang
  • Diskusi Online dalam rangka Peluncuran buku tema perkawinan campuran, yang diikuti oleh 40 orang
  • Diskusi Online tema Parenting: Bagaimana Menangani Anak Autisme di Mancanegara? bekerja sama dengan KBRI Berlin yang diikuti oleh 25 orang
  • Diskusi Online dan Bedah Buku, yang diikuti oleh 18 orang
  • Diskusi Online bertema Hari Alzheimer Sedunia, bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, Yayasan ALZI Nederland, Komunitas ALZI di Jerman, yang diikuti oleh 45 orang
  • Diskusi Online dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia bekerja sama dengan KBRI Stockholm, Swedish Indonesian Society, yang diikuti oleh 28 orang
  • Diskusi Online dalam rangka Hari HAM Sedunia bekerja sama dengan KBRI Oslo yang diikuti oleh 25 orang
  • AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) 2022 diikuti oleh 12 orang

Tahun 2023

  • Workshop Online Warga Menulis bekerja sama dengan KBRI Berlin dan APPBIPA Jerman yang diikuti oleh 24 orang
  • Diskusi Online Hari Perempuan Internasional bekerja sama dengan KBRI Kopenhagen dan diikuti oleh 30 orang
  • Diskusi Offline Hari Perempuan Internasional di Perpusnas Jakarta yang diikuti oleh 10 orang
  • Workshop Online Kewirausahaan Perempuan bekerja sama dengan Java Foundation Amsterdam yang diikuti oleh 18 orang
  • Diskusi Offline peluncuran buku di Rumah Budaya Indonesia di Berlin, bekerja sama dengan APPBIPA Jerman dan KBRI Berlin yang diikuti oleh 20 orang
  • Workshop Online Seni Kolase untuk AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) bekerja sama dengan Komnas Perempuan Indonesia berupa seni kolase yang diikuti oleh 15 orang
  • AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) 2023 diikuti oleh 11 orang

Tahun 2024

  • Diskusi Online Hari Perempuan Internasional bekerja sama dengan KBRI Kopenhagen, KBRI Berlin, dan KJRI Frankfurt diikuti oleh 47 orang
  • Workshop Online Karier dan Kewirausahaan bekerja sama dengan KBRI Berlin diikuti oleh 10 orang
  • Workshop Online Fotografi untuk program AISIYU yang merupakan kerja sama dengan KJRI Hamburg dan Komnas Perempuan Indonesia diikuti oleh 20 orang
  • Mentoring Online Karier Perempuan di Eropa Barat yang diikuti oleh 4 orang
  • Workshop Online Video Editing yang bekerja sama dengan PERINMA yang diikuti oleh 26 orang
  • Diskusi Offline Film “Dua Kali” yang merupakan kerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg yang diikuti oleh 30 orang
  • Diskusi Offline kesehatan mental di lingkungan kerja bekerja sama dengan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman yang diikuti oleh 30 orang
  • Program AISIYU (AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) berupa foto bertema ruang aman perempuan yang diikuti oleh 13 orang
  • Pameran offline “Safe Spaces for Women in Passau” dan Diskusi di KulturSalon Universität Passau, Jerman yang diikuti oleh sekitar 30 orang.

Tahun 2025

  • Diskusi Hybrid Awal Tahun yang merupakan kerja sama dengan KJRI Frankfurt, Komunitas ALZI JERMAN, dan ALZI NED yang diikuti oleh sekitar 30 orang.
  • Workshop Online Warga Menulis Puisi merupakan kerja sama dengan KJRI Melbourne dan Komnas Perempuan Indonesia yang diikuti oleh sekitar 58 pendaftar peserta.
  • Workshop Jamu: Interkultur Komunikasi, Peran Gender, dan Tradisi Penyembuhan Indonesia dengan kerja sama KJRI Frankfurt dan Komunitas Jamu Gendong in Germany, yang diikuti oleh 15 mahasiswa internasional di Universitas Passau, Jerman.
  • Workshop Produksi & Editing Konten Digital Tahap Pemula, kerja sama dengan KJRI Dubai, DWP KBRI Dubai, dan komunitas Gelas Kosong Dubai, diikuti oleh 28 orang.
  • Diskusi Online bertema Femisida dalam berbagai perspektif, merupakan kerja sama dengan PPI Dunia dan Komnas Perempuan Indonesia. Acara ini diikuti oleh sekitar 45 orang.
  • Diskusi Online dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu International dan merupakan kerja sama dengan APPBIPA Jerman. Acara ini diikuti oleh 22 orang.
  • Diskusi Online dalam rangka peringatan Hari Kartini bersama PW Muslimat NU DIY dan Komunitas Gelas Kosong, Dubai, yang diikuti oleh 40 orang.
  • Diskusi Online bertema perkawinan campuran Indonesia – India yang merupakan kerja sama dengan KJRI Mumbai, India dan diikuti oleh 47 orang.
  • Diskusi Online: Mengenal Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia, kerja sama dengan KemenPPPA RI yang diikuti sekitar 20 orang.
  • Workshop Online: Digital Content Marketing 101 Smart Content untuk Kewirausahaan Perempuan diikuti oleh 12 orang.
  • Diskusi Online: Cerdas dan Bijak Berteknologi yang merupakan kerja sama dengan KBRI Dhaka, Bangladesh yang diikuti oleh 30 orang.
  • Virtual Support Group: New Mom Abroad bersama Psikolog di Prancis dan Komunitas Youarenotalone.Mom diikuti oleh 25 orang.
  • Workshop Online AISIYU 2025: Affirmations Card yang diikuti oleh 17 orang.
  • Diskusi Online Resiliensi Bermigrasi di Finlandia, kolaborasi dengan KBRI Helsinki diikuti oleh 27 orang.
  • Diskusi Online Kolaborasi dengan KBRI New Delhi: Lintas Budaya Indonesia – India dalam fokus parenting & kawin campur yang diikuti oleh 29 orang.
  • Soft Launch Event Kesmenesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt diikuti oleh 26 orang.
  • Nonton Bersama & Diskusi film bertema kesehatan mental “Dua Kali” di Rumah Budaya Indonesia KBRI Berlin, secara Hybrid, yang diikuti oleh 33 orang.
  • Diskusi Online: Berbagi Pengalaman dan Keperawatan dan Praktik Baik Layanan Kesehatan Mental di Jerman yang berkolaborasi IPKJI dan Kesmenesia, dan diikuti oleh 122 orang.
  • Showcase dan Diskusi Interaktif: Berbagi Dukungan Psikologi dan Gender Responsif Lintas Budaya, Kolaborasi dengan KBRI Wina, Austria yang diikuti oleh 28 orang.
  • Kelas Online: Canva Basic Membuat e-Flyer bersama Perinma yang diikuti oleh 26 orang.
  • Diskusi Online Parenting: Cegah Adiksi Games Online pada Anak Berusia SD yang diikuti oleh 21 orang.
  • Program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) Kampanye Digital dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan diikuti oleh 9 orang.
  • PhD Connection dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan bekerja sama dengan KBRI Sof KemenPPPA, dan Komnas Perempuan Indonesia, serta PPI Dunia, diikuti oleh 67 orang.
  • Virtual Support Group untuk berbagi dukungan psikologis dan sosial bagi perawat Indonesia di Jerman diikuti oleh 11 orang.

Tahun 2026

  • Diskusi daring di awal tahun yang diselenggarakan bersama KBRI London dan PCI Fatayat NU diikuti oleh 53 orang.
  • Diskusi daring awal tahun – Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21 diselenggarakan bersama KJRI Frankfurt dan Kesmenesia diikut oleh 29 orang.
  • Workshop Online Warga Menulis Fiksi yang diikuti oleh 21 orang.
  • Knowledge Sharing – Januari: Dongeng & Bermain Imajinasi diikuti oleh 6 orang.
  • Seri Online Psikoedukasi: Winter Depression bersama Kesmenesia & PPI Dunia diikuti oleh 24 orang.
  • Knowledge Sharing – Februari: Neurodiversitas – Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak diikuti oleh 17 orang.
  • Workshop Online Teknik Komunikasi bagi perempuan pelaku kawin campur diikuti oleh 12 orang.
  • Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional berupa kutipan cerita Fiksi yang diikuti oleh 26 perempuan di 15 negara.
  • Konseling Kelompok Daring Khusus PMI perempuan difasilitasi oleh Idei Swasti, M.Psi, Psikolog diikuti oleh 6 orang.
  • Knowledge Sharing – Maret: ReAttach Method yang diikuti oleh 7 orang.
  • Diskusi Online memperingati Hari Kesehatan Sedunia, berkolaborasi dengan ALZI NED yang diikuti oleh 15 orang.
  • Workshop Online bekerja sama dengan PPI Amerop pada 18-19 April 2026 dalam fokus: Gender & Social Justice in Community Island diikuti oleh 31 orang.
  • Diskusi Online peringatan Hari Kartini dalam kerja sama dengan KBRI Dhaka pada Selasa, 21 April 2026 yang diikuti oleh 67 orang.
  • Seri Online Psikoedukasi: Intercultural Communication & competence bersama Kesmenesia & PPI Dunia diikuti oleh 17 orang.
  • Knowledge Sharing – April: Sesi Mengelola Kecerdasan Emosional oleh Bayu Prihandito yang diikuti oleh 7 orang.
  • Workshop Online Menulis bagi Perempuan PMI dalam peringatan Hari Buruh Sedunia bekerja sama dengan KBRI Singapura dan Komnas Perempuan diikuti oleh 36 orang.
  • Diskusi Online Peringatan Hari Perawat Internasional untuk berbagi pengalaman perawat di tingkat global pada Sabtu, 16 Mei 2026 yang diikuti oleh 83 orang
  • Workshop Online bekerja sama dengan PPI AMEROP pada Sabtu, 23 Mei 2026 dalam fokus: Youth Diplomacy and Digital Literacy, yang diikuti oleh 29 orang.
  • Biennial – Program 2 tahun sekali – Kartini dalam Kewirausahaan dalam rangka Hari UMKM Internasional yang diikuti oleh 12 orang.
  • Knowledge Sharing Meeting bulan Juni: Relational Risk Awareness – Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi yang diadakan pada Sabtu, 20 Juni diikuti oleh 12 orang.
  • Diskusi dan Nonton Film “Dua Kali” dalam acara Bulan Indonesia di Jerman pada Jumat, 5 Juni diikuti oleh 15 orang.
  • Seminar Daring (Sedaring) Peringatan Hari UMKM Internasional berbagai pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik kewirausahaan pada Sabtu, 27 Juni diikuti oleh 71 orang.
  • Workshop Online Keperawatan Antarbudaya pada Minggu, 28 Juni & 5 Juli yang diikuti oleh 20 orang.
  • Knowledge Sharing Meeting – Juli: Safe Exits – Mengakhiri Relasi dengan Sadar pada Sabtu, 11 Juli diikuti oleh 15 orang.
  • Diskusi daring bersama KBRI Islamabad Pakistan bertema dwi kewarganegaraan dalam keluarga internasional, dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional, pada Minggu, 26 Juli yang diikuti oleh 40 orang.
  • Knowledge Sharing Meeting – Agustus: Dekolonisasi Psikologi di Indonesia – Tantangan, Peluang dan Implikasi Praktik pada Sabtu, 22 Agustus 2026 diikuti oleh 8 orang.
  • Sedaring Literasi Finansial dalam memperingati Hari Lahir Ruanita Indonesia ke-5 pada Sabtu, 29 Agustus yang diikuti oleh 20 orang.
  • Diskusi dan Nonton Bersama Film “Dua Kali” diselenggarakan dalam kerja sama dengan KBRI Madrid Spanyol pada Sabtu, 5 September 2026 diikuti oleh 28 orang.
  • Soft Launching daring Buku ke-4 Narasi Hidup PMI Perempuan di Singapura bersama KBRI Singapura pada Minggu, 13 September diikuti oleh 29 orang.
  • Workshop daring pembuatan Audiobook buat Kampanye Digital AISIYU 2026 – Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan proyek peringatan Hari Braille Sedunia 202M7, diikuti oleh 58 orang.
  • Peringatan Hari Alzheimer Sedunia bersama ALZI NEDERLAND dan Komunitas PMI di Taiwan melalui edukasi Caregiver lansia diikuti oleh 55 orang.
  • Knowledge Sharing Meeting – September pada Sabtu, 26 September diikuti oleh 22 orang.
  • Forum Online memperingati World Teacher Day yang diikuti oleh…
  • Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia bersama Fakultas Psikologi UIN Ar-Rainary Banda Aceh dan HIMPSI Aceh diikuti oleh…
  • Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia bekerja sama dengan KJRI Hamburg melalui Workshop di aula KJRI diikuti oleh…
  • Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia bersama komunitas Masinjer dan KBRI Berlin, Jerman melalui diskusi online diikuti oleh…
  • Diskusi daring Peringatan Hari Pangan Sedunia diikuti oleh…
  • Diskusi daring bersama KBRI Pretoria, Afrika Selatan dan IPTC Johannesburg: Melihat peluang usaha di Afrika Selatan, yang diikuti oleh…
  • Kampanye Digital AISIYU 2026 diikuti oleh…
  • Knowledge Sharing Meeting bulan November diikuti oleh….

Tahun 2027

  • Peluncuran produk Audiobook dalam peringatan Hari Braille Sedunia diikuti oleh…
  • Peluncuran resmi buku produk ke-4 Ruanita Indonesia dalam rangka peringatan Hari Internasional Pekerja Domestik diikuti oleh…
  • Workshop Fotografi…

(IG LIVE) Begini Cara Single Agar Berbahagia

JERMAN – Sabtu (6/11) RUANITA menggelar IG Live bertema pengalaman menjadi lajang di Indonesia dan di luar Indonesia. Lewat akun @ruanita.indonesia, Anna sebagai pemandu diskusi virtual mengundang dua tamu yakni @nijhass dan @galih_rizka untuk berbicara mengenai pendapat dan pengalaman mereka sehari-hari.

IG Live ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman kita bahwa kebahagiaan seseorang tidak ditentukan dari status lajang atau tidak. Anna menekankan tak penting menjadi lajang atau berpasangan, melainkan bagaimana kita memberdayakan diri untuk menjalani kehidupan terbaik menurut versi diri sendiri.

Pendapat tentang: Apakah benar hidup melajang di luar negeri dikarenakan kita terlalu mandiri atau terlalu pintar? Akun @galih_rizka bertutur bahwa usia yang tak lagi muda dan masih lajang terkadang bisa menjadi cibiran sosial seperti “perawan tua”, “tidak laku”, putus asa, takut berkomitment, membosankan atau kesepian. Namun kedua tamu IG Live tersebut berhasil menepisnya dengan pendapat mereka masing-masing.

Follow us: @ruanita.indonesia

Menurut akun @nijhass, ada pandangan budaya yang menyebabkan mitos hidup lajang berbeda antara Indonesia dengan Jerman. Di Indonesia siapa saja bisa bertanya dengan mudah apakah seseorang itu masih lajang atau tidak, sedangkan di Jerman tidak. Di Jerman, orang-orang tidak merasa perlu mengetahui dan bertanya tentang pilihan hidup lajang ataut tidak.

“Kaca mata budaya” menyebabkan area privat seperti status hidup bisa menjadi konsumsi publik di Indonesia. Sedangkan di Jerman, status hidup seperti lajang atau tidak adalah area privat yang segan untuk diketahui secara umum.

Cara-cara berikut bisa dipraktikkan untuk para lajang agar berbahagia:

  1. Jika ada orang yang bertanya tentang status hidup, lajang atau tidak, maka jawablah pertanyaan mereka dengan tidak serius! Ambil sisi humor dari pertanyaan tersebut. Berpikirlah bahwa apa yang mereka tanyakan adalah bentuk perhatian orang-orang di sekitar Anda!
  2. Selalu bersyukur atas pencapaian hidup. Lihatlah apa yang dimiliki, bukan apa yang tidak dimiliki!
  3. Tidak membandingkan hidup dengan orang lain, termasuk melihat orang lain yang telah berpasangan atau sudah berkeluarga. Mereka punya kehidupan sendiri, Anda juga.
  4. Rancang tujuan hidup Anda dan berkomitmenlah terhadap apa yang direncanakan. Hal ini akan membuat Anda fokus untuk meraih hidup terbaik menurut Anda.

Bahagia itu tidak ditentukan oleh status hubungan, melainkan bahagia itu saat kita bisa menjadi diri sendiri. Silakan follow akun instagram kami @ruanita.indonesia dan kirimkan kami pesan untuk tema-tema IG Live menarik lainnya.

(CERITA SAHABAT) Jurang Krisis Eksistensial Saat Karir Terhenti

“Apakah kamu bahagia tinggal di luar negeri?” pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang teman dalam obrolan kami saat itu. Pertanyaan ini cukup membekas di dalam pikiran saya waktu itu.

Ya, tentu saja saya bahagia.

Namun tidak banyak orang tahu, kebahagiaan ini bukan serta merta tanpa pengorbanan. Setelah menikah di kota kelahiran saya, saya harus meninggalkan Indonesia untuk bisa bergabung dengan suami saya di negara kelahirannya di Eropa.

Meninggalkan keluarga, teman-teman dan kehidupan yang saya miliki di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun terberat yang pernah saya alami. Saya mengalami perubahan yang sangat drastis di dalam kehidupan saya. 

Ketika saya tinggal di Indonesia, saya adalah seorang perempuan yang sangat aktif. Saya memiliki pekerjaan dengan posisi yang sangat baik di sebuah perusahaan internasional. Saya juga memiliki banyak teman dan hampir selalu memiliki aktivitas di luar rumah.

Semua itu berubah semenjak kepindahan saya ke Eropa. Berpindah ke negara baru, saya harus rela melepaskan kehidupan dan segala pencapaian yang saya miliki. Berat rasanya, tetapi semua itu adalah pilihan yang harus saya ambil dan jalani demi bisa bersatu dengan suami saya. 

Masa transisi dari memiliki pekerjaan tetap menjadi tidak memiliki pekerjaan cukup membuat saya frustasi. Pasalnya, sejak muda saya memang sudah terbiasa bekerja.

Follow us: @ruanita.indonesia

Menjadi pengangguran membuat saya merasa kehilangan arah dan jati diri. Seiring berjalannya waktu, career gap yang saya miliki pun semakin melebar dan membuat saya semakin tertekan dan pesimis.

Minimnya pemahaman bahasa yang saya miliki menjadi kendala yang paling signifikan. Ya, memang sebelumnya saya sudah mengambil kursus bahasa tapi nyatanya mempelajari bahasa yang benar-benar baru itu bukan perkara yang mudah.

Saya merasa bahwa pemahaman bahasa yang saya miliki belum cukup untuk saya bisa masuk ke dalam dunia profesional dan mendapatkan pekerjaan yang “normal”. Hal ini seringkali membuat saya gelisah.

Saya merasa tidak berdaya karena harus bergantung kepada suami. Ya, memang dia suami saya, tetapi saya pun ingin “menyumbangkan” sesuatu untuk keluarga kami.

Saya sendiri tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah saya habiskan di bangku sekolah hanya untuk menjadi pengangguran di negeri orang.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang datang dari kanan dan kiri. Sering kali teman-teman saya menanyakan tentang lowongan pekerjaan di Eropa yang kemudian biasanya akan saya timpali dengan candaan.

Sejujurnya saya cukup lelah dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini, toh sebenarnya jika memang mereka benar-benar berniat mencari pekerjaan di luar negeri mereka bisa mencari informasi dengan mudah di internet.

Memang saya tinggal di luar negeri, tetapi saya bukan agen penyalur pekerjaan atau TKI, bahkan mencari pekerjaan untuk diri saya sendiri pun saya kesulitan.

Beruntungnya, saya memiliki seorang suami yang baik dan selalu meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak apa-apa jika saya membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan yang tepat, bahkan tidak apa-apa jika saya tidak bekerja.

Bagi suami saya, kebahagiaan dan kesehatan saya lah yang paling penting. Karena dukungan dari suami saya inilah, pelan-pelan saya bangkit dan mencoba menemukan apa yang bisa saya lakukan.

Saat ini, saya bekerja menjadi penerjemah lepas dengan beberapa klien tetap. Walaupun saya tidak memiliki pekerjaan secemerlang dulu, paling tidak saya selalu berusaha untuk memberdayakan diri.

Bagi saya, terkadang yang paling berharga dalam sebuah proses itu bukanlah hasilnya, tetapi usaha yang kita lakukan untuk menuju kesana.

Penulis: RK, seorang WNI tinggal di Swiss.

(SIARAN BERITA) Pentingnya WNI di Swedia Sadari Hak-hak Hukumnya Untuk Lindungi Diri

SWEDIA – KBRI Stockholm bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS), Adakita Forum dan RUANITA menggelar webinar bertema: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada Sabtu (23/10) yang digelar secara virtual. Acara ini dibuka resmi oleh Dubes RI untuk Kerajaan Swedia merangkap Republik Latvia, Kamapradipta Isnomo.

Dubes Kama antusias terhadap gerakan inisiatif Warga Negara Indonesia (WNI) untuk merespon kasus-kasus KDRT dan masalah hukum lainnya yang terjadi di Swedia dan sekitarnya. Dia berharap bahwa webinar ini membekali WNI untuk memahami hak-hak hukumnya selama tinggal di luar Indonesia, terutama Swedia.

Pemahaman yang minim tentang KDRT dan kasus-kasus hukum lainnya yang bermunculan di luar Indonesia menjadi keprihatinan Perwakilan Pemerintah RI seperti KBRI Stockholm untuk mencegah dan menangani kasus-kasus tersebut sesuai regulasi dan kebijakan yang terintegrasi.

Demikian alasan ini dijelaskan oleh Nada Ahmad selaku moderator acara yang menyebutkan latar belakang penyelenggaraan webinar bertema KDRT ini. Acara berlangsung selama dua jam yang terbagi menjadi dua sesi, antara lain: sesi pertama yang berfokus pada pemaparan instrumen hukum dan kebijakan dan sesi kedua berfokus pada pengalaman praktis bersentuhan dengan KDRT di luar Indonesia.

Di sesi pertama, Valentina Ginting, Asisten Deputy bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Anak, Kementerian RI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjelaskan tentang regulasi yang ditetapkan Pemerintah Indonesia untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Lebih lanjut, beliau melaporkan terdapat 5.878 kasus kekerasan terhadap perempuan di antaranya 5.944 adalah jumlah korban. Hal ini dihimpun berdasarkan Sistim Informasi Perempuan dan Anak (SIMFONIPPA) pada periode 1 Januari 2021 hingga 14 Oktober 2021. Dari kasus ini 74,5% adalah kasus KDRT.

Kerentanan perempuan mengalami kasus kekerasan juga dijelaskan lebih lanjut oleh Achsanul Habib, Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan, Dirjen Kerja Sama Multilateral Kementerian RI Luar Negeri. Bagaimana pun ketidakseteraan relasi dan mispersepsi memahami konstruksi gender membuat kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual terjadi pada siapa saja, tidak hanya pada perempuan.

Kemkumham mencatat kasus-kasus hukum yang dilakukan WNI juga terjadi di luar Indonesia seperti kasus pekerja migran di Timur Tengah atau kasus Reynhard Sinaga, mahasiswa yang studi di Inggris.

Negara akan melindungi warganya di mana pun berada, tetapi apakah warga sadar untuk melaporkan keberadaannya? Hal ini disampaikan oleh Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI di Luar Negeri, Kementerian RI Luar Negeri.

Dia berpendapat WNI di luar Indonesia wajib untuk melaporkan dirinya dalam portal LAPOR DIRI yang akan membantu WNI sewaktu-waktu dalam menangani kasus hukumnya. Di mana pun WNI berada, Kemenlu menghimbau untuk memperbaharui status keberadaannya dengan aplikasi SAFE TRAVEL.

Acara webinar ini juga diperkuat dengan pengalaman praktis, seorang Penyintas KDRT, Rizki Suryani yang pernah mengalami KDRT saat menikahi warga negara asing pada pernikahan pertamanya. Rizki sendiri kini bermukim di Swedia dan aktif untuk membantu sesama korban KDRT lainnya.

Nada Ahmad, selaku panitia penyelenggara menjelaskan webinar ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan informasi KDRT yang benar dan tepat agar WNI tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalannya.

Acara ini juga memperkenalkan organisasi kemasyarakatan seperti Adakita Forum yang menjadi bagian dari RUANITA untuk memberikan dampingan psikologis terhadap persoalan yang dihadapi WNI di Swedia. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi dan berbagi praktik baik tinggal di laur Indonesia.

Komunitas ini didirikan dalam upaya solidaritas sesama WNI yang tinggal di Eropa. Solidaritas ini penting agar kita mampu melewati krisis hidup yang dialami, termasuk kasus KDRT yang akhir-akhir ini mencuat selama terjadinya pandemi Covid-19.

(CERITA SAHABAT) Lelah Batin? Saatnya Beristirahat

Sebagai seseorang yang selalu bisa multitasking dan punya tujuan, rencana serta impian yang jelas, tidak pernah terpikirkan olehku untuk mengalami burnout.

Aku studi di luar Indonesia. Tahun ini aku memang mengambil cukup banyak kelas. Belum lagi aku masih harus bekerja – dengan permasalahannya sendiri, mengurus kehidupanku dari A-Z di negeri orang dan kesehatan mentalku yang memang sedang kembali tidak stabil.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sama sekali tidak bisa multitasking. 

Sejak bulan Juni hingga Juli 2021 aku tidak bisa menyelesaikan kewajiban-kewajiban kuliahku. Rasanya seperti otak dan badanku tak bisa berfungsi dengan baik.

Aku merasa ingin kabur begitu saja. Sudah beberapa kali aku meninggalkan kelas (lewat ZOOM Meeting) begitu saja.

Aku tak bisa menyelesaikan tugas kampusku dan bahkan kadang aku tidak bisa dan tidak tahu bagaimana aku harus memulainya.

Saat itu aku tak bisa lagi mendefinisikan dan memahami perasaan dan situasiku. Untuk beberapa hari terpikir di benakku, aku berharap aku bisa benar-benar menghentikan otakku sejenak dan memulai kembali, supaya aku bisa berpikir jernih kembali.

Follow us: @ruanita.indonesia

Saat itu aku tak tahu, apa yang harus aku lakukan.

Saat aku mencoba berbicara dengan pacarku tentang ini, dia tidak bisa memahami maksudku, karena aku berbicara kesana-kemari. Itu bukanlah aku yang biasanya.

Biasanya aku bisa menjelaskan dan menceritakan perasaan dan kondisiku.

Satu hal yang pasti, dua bulan itu rasanya aku lelah sekali secara psikis. Aku hanya ingin tidur saja. Jantungku berdebar kencang terus menerus. 

Setelah berbicara dengan psikoterapisku, keluarga angkatku di sini, dan pacarku, ada satu hal yang aku pelajari dan membantuku untuk bangkit lagi: aku butuh istirahat total.

Setelah rehat sejenak, aku memutuskan untuk membatalkan satu kelas. Itu artinya aku harus mengulangnya di semester ini.

Dari proses istirahat dan akhirnya kembali on track itu pun aku belajar sesuatu: I should let myself vulnerable. Let it loose when you can’t do it anymore.

Pengalaman itu membuatku bisa kembali kuat untuk melangkah selanjutnya.

Kita tidak bisa selalu bekerja di bawah tekanan.

Aku mencoba memahami lagi bahwa aku manusia, bukan robot.

We need to give up a bit, to continue our journey. Give up for a while doesn’t mean you lose everything.

Terdengar aneh mungkin?

Menyerah dan beristirahat sejenak itu perlu. Beberapa hari kemudian aku bisa kembali berfungsi dengan baik, penuh semangat baru dan menyelesaikan ujian dan tugas-tugas kuliahku yang lain. 

Penulis: Nisyma, kuliah di Jerman.

(IG LIVE) Bagaimana Kita Membekali Diri dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Luar Negeri?

JERMAN – Swedish Indonesian Society (SIS) adalah organisasi kemasyarakatan orang Indonesia yang berbasis di Swedia menggandeng KBRI Stockholm dan RUANITA untuk menggelar diskusi online bertema Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada Sabtu, 23 Oktober 2021 jam 11.00 CEST.

Acara ini bermaksud untuk memberikan penguatan informasi perlindungan hukum dan pengalaman praktis menangani KDRT di Swedia. Tentu saja acara ini didasarkan pada data dan laporan KDRT yang meningkat, terutama saat pandemi Covid-19.

Mengapa webinar ini digelar? Pertama, pemahaman yang minim tentang KDRT sehingga perlu menjadi perhatian WNI di luar Indonesia. Kedua, kasus KDRT yang dilaporkan KBRI Stockholm dan SIS mengalami jumlah yang signifikan sejak tahun 2020. Ketiga, mayoritas korban tidak tahu bagaimana melaporkan kasus KDRT di polisi setempat.

Nada Ahmad, selaku panitia penyelenggara menjelaskan diskusi online ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan informasi KDRT yang benar dan tepat. Misalnya orang hanya paham KDRT adalah pelaku melakukan kekerasan fisik saja, padahal KDRT tidak hanya itu.

Selain itu, WNI di luar Indonesia terutama mereka yang tinggal di Swedia tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada Perwakilan Pemerintah RI seperti KBRI/KJRI, organisasi seperti Adakita forum, RUANITA, atau LSM lokal di tiap negara domisili.

Nada berharap orang Indonesia di luar Indonesia paham instrumen hukum untuk menangani kasus KDRT. Di Swedia, pelaku KDRT diperketat hukumannya seiring dengan ratifikasi negara-negara di Uni Eropa akan kasus KDRT yang mencuat selama pandemi Covid-19.

Peserta diskusi online diharapkan tidak hanya WNI yang berdomisili di Swedia saja, tetapi siapa saja yang tertarik mengetahui hak-hak hukumnya selama tinggal di luar Indonesia.

Follow us: @ruanita.indonesia

IG Live ini juga dihadiri oleh Psikolog dari Yayasan Pulih, Indonesia. Psikolog Ika Putri Dewi menjelaskan akar permasalahan KDRT adalah relasi yang tidak setara dalam anggota keluarga.

Ketidaksetaraan itu bisa disebabkan oleh nilai atau sistim patriaki yang salah, misinterpretasi ajaran agama, pola komunikasi yang tak setara, relasi kuasa dalam posisi korban-pelaku dan masalah personal/karakter.

Untuk bisa keluar dari permasalahan KDRT, Ika menambahkan korban perlu memahami dulu bahwa dia mengalami masalah KDRT sehingga dia merasa perlu pertolongan dan punya strategi aman. Sebagai saksi korban, kita bisa menjadi ‘ruang aman’ dan tidak mengancam bagi korban.

Kita perlu melakukan perhatian berkala agar kita bisa memastikan korban dalam situasi aman, termasuk kita bisa memvalidasi emosi-emosinya. Ika menekankan pentingnya korban untuk berdaya dan membuat keputusan atas dirinya.

Bagaimana pun KDRT adalah masalah global dan terjadi di mana saja. Kita perlu membekali diri agar kita bisa menolong korban dan kecakapan hidup tinggal di luar Indonesia. Peserta yang tertarik bisa mendaftarkan webinar bertema KDRT di luar Indonesia di link yang ditautkan atau cek fyler ini.

(DISKUSI ONLINE) SIS dan RUANITA Tingkatkan Pencegahan KDRT di Luar Negeri

Pada tahun 2018, Pemerintah Swedia memperkenalkan undang-undang baru tentang persetujuan seksual yang menyatakan dengan jelas bahwa jika tidak ada persetujuan atau kerelaan dalam hubungan seksual, maka itu disebut ilegal. Persyaratan persetujuan seksual adalah dasar untuk undang-undang baru.

Menurut statistik awal, Brå (Dewan Nasional Swedia untuk Pencegahan Kejahatan) melaporkan serangan terhadap wanita di atas usia 18 tahun di Swedia meningkat empat persen pada paruh pertama tahun 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Serangan terhadap pria usia dewasa menurun satu persen selama periode yang sama.

Kejahatan penyerangan terhadap perempuan dewasa dilaporkan pada paruh pertama tahun 2020 dan 79% kejahatan itu dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Begitu pun kejahatan penyerangan terhadap laki-laki pada periode yang sama dan dilakukan oleh orang yang dikenal ada 44 persen.

Lonjakan kasus KDRT selama pandemi Covid – 19 ditunjukkan dari laporan layanan Unizon, Sweden’s national federation yang mewakili lebih dari 130 “Rumah Aman” di Swedia.

Follow us: @ruanita.indonesia

Situasi pandemi Covid-19 juga menambah panjang laporan kasus KDRT yang dialami WNI di Swedia. Hal ini dilaporkan oleh KBRI Stockholm, Swedia sehingga menjadi perlu menjadi perhatian bersama.

Komunitas Indonesia didukung oleh KBRI Swedia mendirikan ADAKITA FORUM. Forum ini merupakan bagian dari RUANITA – Rumah Aman Kita, sebuah komunitas yang berbasis di Jerman dan berfokus mempromosikan isu-isu kesehatan mental melalui konseling, pelatihan, webinar dan materi KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) untuk mendampingi masalah psikologis seputar kehidupan orang Indonesia di luar Indonesia.

ADAKITA FORUM adalah semacam sistim dukungan untuk korban dan orang yang membutuhkan yang memiliki masalah dalam pendampingan jangka pendek dan juga sebagai bagian dari solidaritas Indonesia di Swedia. Menyikapi situasi tersebut, KBRI Stockholm, Swedish Indonesian Society (SIS), ADAKITA FORUM dan RUANITA – Rumah Aman Kita berencana menggelar webinar Pencegahan dan Penanggulangan KDRT di Swedia pada:

Hari/Tanggal: Sabtu/23 Oktober 2021

Jam: 11.00 CEST atau 16.00 WIB

Lokasi: Zoom

Pendaftaran melalui akses https://tinyurl.com/WebinarKDRT atau link di sini. Informasi lebih lanjut, silakan info@ruanita.com.

AISIYU: AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang dikenakan pada seseorang semata-mata karena dia perempuan atau dapat menyebabkan penderitaan secara fisik, psikologis, ataupun seksual termasuk juga ancaman perbuatan tertentu, pemaksaaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di muka umum maupun dalam kehidupan pribadi (Deklarasi Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Pasal 1, 1993).

Terkait hal ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memutuskan untuk menjadikan tanggal 25 November sebagai Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Untuk memperingati hari tersebut yang bertujuan meningkatan kesadaran atas telah mendunianya kekerasan terhadap perempuan dan pentingnya penghormatan terhadap hak-hak mereka maka RUANITA- Rumah Aman Kita mengajak para sahabat RUANITA, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menyuarakan inspirasi kalian terkait kekerasan terhadap perempuan melalui surat terbuka.

Contoh surat:

Surat terbukamu dapat ditujukan terhadap pembuat kebijakan, institusi, ataupun individu pemangku kepentingan yang relevan dengan isu perlindungan atas hak-hak perempuan.

Berikut ketentuannya:
1. Surat ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan santun.
2. Surat ditulis dalam format Ms. Word dan panjang surat sekitar 150 – 200 kata.
3. Surat diawali dengan tujuan penerima surat (misal: Presiden RI, Menteri, Institusi Pemerintah, Kepolisian RI, Pengadilan, Komnas Perempuan, PBB, KUA, dll)
4. Surat ditutup dengan nama penulis surat. Penulis surat boleh ditulis dengan nama pena/nama akun media sosial/nama samaran. Panitia berhak mengetahui identitas nama sebenarnya.
5. Surat dilampirkan di Google Form https://bit.ly/AISIYU.
6. Peserta dapat mengirimkan surat selambat-lambatnya tanggal 13 November 2021 jam 24.00 WIB atau 18.00 CET.

Penulis surat harus ikuti (follow) akun media sosial FB Ruanita Ruanita, Fanpage RUANITA – Rumah Aman Kita dan akun Instagram ruanita.indonesia.

Surat yang terpilih dalam proses seleksi akan ditayangkan di media sosial RUANITA pada 22 November – 4 Desember 2021 22 – 28 November 2021 yakni Facebook, Instagram dan Website.

Ditunggu partisipasimu ya!