(PRODUK) Buku: Cinta Tanpa Batas

Pernikahan campuran yakni WNI dan WNA bukan perkara mudah. Dimulai dari lika-liku perkenalan dua budaya yang berbeda, mengurus dokumen yang ribet hingga komunikasi yang terkadang menjadi bumbu pahit manis kehidupan perkawinan campuran.

Buku ini seolah bunga rampai kehidupan perkawinan campuran yang tak tampak. Buku berjudul: Cinta Tanpa Batas ditulis langsung oleh 23 perempuan asal Indonesia yang tersebar di pelosok dunia. Buku ini ditulis dari A hingga Z dengan bahasa yang komunikatif nan inspiratif. Ceritanya pun kekinian yang aktraktif.

Harga buku selama masa Pre-Order Rp 100.000/buku di luar ongkos kirim sampai dengan 28 Februari 2022. Setelah itu, harga buku sebesar Rp 125.000/buku. Pesanan buku bisa kontak ke email: info@ruanita.com atau pesan ke tim dapur konten Ruanita.

(CERITA SAHABAT) SAD Buat Aku Sedih di Winter

Indonesia sebagai negeri tropis tentu tak mengenal istilah SAD, yang merupakan kepanjangan dari Seasonal Affective Disorders. Istilah ini benar-benar tidak kupahami sebelumnya. Di Indonesia semua terasa baik karena kami tak punya musim Winter. Informasi SAD juga tidak kuperoleh sebelum aku menjejakkan kaki di negeri tujuan studiku.

Ya, aku sudah tinggal hampir sepuluh tahun di Jerman. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupanku di negeri empat musim ini. Aku putuskan tidak hanya menyelesaikan studi S1 saja di Jerman. Aku berniat melanjutkan pendidikan S2 di negeri sosis ini. Di sini aku bisa berbagi antara waktu kuliah dengan waktu kerja. Bagaimana pun aku harus bekerja apa saja demi memenuhi tuntutan hidup di negeri asing ini.

Aku lupa tahunnya, tetapi seingatku sekitar tahun 2015-2016 aku mulai merasa aneh saat musim Winter tiba. Mungkin banyak orang menyukai salju dan suasana khas musim dingin, tetapi tidak denganku. Musim Winter terasa panjang bagiku. Langit sudah kelabu dan gelap sejak jam 4 sore. Di situ aku mulai merasa lelah dengan hidupku. Aku tidak bisa menyebut ini dengan depresi karena aku benar-benar tidak punya masalah mental sebelumnya.

Aku mulai merasakan tanda-tanda itu bahkan hingga Winter tahun 2017. Di masa-masa perkuliahan, aku lebih memilih diam di rumah dari pada aku bergabung, mengikuti ajakan teman-teman untuk bermain ke luar rumah. Aku tak ingin bersosialisasi dengan siapa pun saat Winter tiba. Bahkan aku pun tak bersemangat untuk mengikuti perkuliahan. Aku absen dari jadwal kuliah alias tidak masuk kelas kuliah.

Aku pikir ini adalah jejak awal aku merasakan SAD itu atau yang biasa disebut oleh orang Jerman Winter Depression. Aku menilai diriku termasuk orang yang aktif, kuliah sambil bekerja di Jerman. Semua aku jalani dengan baik-baik saja, tetapi itu tidak terjadi selama Winter. Aku mulai mengalami mood swing, seperti ada saat aku menangis tanpa sebab. Suasana hatiku di musim dingin pun jadi ikut-ikutan kacau. Aku merasa kesepian padahal aku tidak benar-benar sendirian. Aku punya banyak teman.

Aku berpikir ini bisa disebabkan karena tekanan studiku, kuliahku yang belum selesai atau banyak pekerjaan yang kuambil untuk memenuhi biaya hidup di Jerman. Aku membiayai hidupku sendiri selama di Jerman. Beban di pundakku ini terasa semakin berat bila Winter tiba. Aku tak bergairah melakukan apa pun, bahkan aku tak berselera makan. Di musim dingin, aku hanya ingin diam di kamar. Doing nothing.

Aku mulai mengenali gejala SAD ketika prestasi kuliahku lebih baik pada semester musim panas dibandingkan semester musim dingin. Aku merasa kinerjaku lebih baik di musim panas ketimbang musim dingin. Entah mengapa aku tak mencari bantuan siapa pun saat aku merasa SAD. Aku berprinsip: ‘kalau kamu lelah ya istirahat, jangan maksain diri!’ sehingga aku menjalaninya dengan santai. Aku tidak berambisi dan aku mulai menerima diriku sendiri bahwa kalau Winter, aku pasti merasa kesepian dan down.

Follow us ruanita.indonesia

Aku mulai mencari tahu apa yang terjadi padaku. Ternyata aku mungkin mengalami SAD. Jatuhnya jadi self-analysis sih. Pada akhirnya, aku berdamai dengan keadaan dengan menjalani hidup normal saja saat Winter. Entah mengapa, lama-lama aku jadi terbiasa hidup ‘normal’ selama Winter. Meski aku masih merasa ‘sensitif’ saat Winter, tetapi kondisiku kini tak separah seperti Winter yang lalu. Aku makin sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik.

Buatku hidup sehat dengan makanan bernutrisi dan olah raga sangat membantu kita lepas dari SAD selama Winter. Segera selesaikan dan cari bantuan jika kondisi SAD semakin parah. Itu saranku. Bagaimana pun kesehatan itu adalah sehat jasmani dan rohani. Kenali dirimu sendiri itu penting untuk membantu masalah mental yang kita hadapi.

That’s all.. hehehe. Aku harap ceritaku ini bisa membantu kalian yang mengalami hal yang sama saat Winter.

Penulis: Mahasiswa di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Beruntung Aku Belum Terlambat Kenali ADHD Saat Dewasa

Sahabat Ruanita, ADHD (=Attention Deficit Hyperactivity Disorder) bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. Aku baru tahu bahwa aku mengalami gangguan ADHD saat umurku sudah dewasa. Aku baru tahu saat aku sedang menempuh kuliah Bachelor di Jerman. Aku tinggal di Jerman selama hampir delapan tahun. Aku masih berusaha untuk menyelesaikan studi Bachelor dan mengambil pekerjaan sampingan untuk bisa bertahan hidup di Jerman.

Aku memutuskan untuk pergi ke Psikolog yang disediakan kampus, tempatku berkuliah di Jerman setelah aku bertemu dengan tiga orang teman berbeda bangsa yang juga mengalami ADHD. Semula aku menceritakan pengalaman konyol yang aku alami sehari-hari seperti aku sering sekali kehilangan barang. Aku sering kali kehilangan atau kelupaan barang penting. Aku juga melakukan kesalahan yang sama secara tidak sengaja meski aku sudah mengingatkan diri untuk tidak melakukannya hahaha. 

Aku bahkan pernah berpikir, jangan pernah menyimpan sesuatu di kantong jaket! Entah mengapa, sesuatu itu pasti hilang atau tertinggal di mana. Aku sering sekali lupa meletakkan barang. Hal yang lebih parah, aku sulit sekali berkonsentrasi terhadap pelajaran yang sedang diajarkan dosen. Tiba-tiba aku bisa mengalami daydreaming haha. 

Konsentrasiku mudah sekali terganggu. Misalnya, ada teman yang bercerita padaku kemudian di tengah pembicaraan kami berbicara muncul topik atau perhatian yang mengalihkan perhatianku maka perhatianku pun terganggu. Konsentrasiku mudah sekali ter-distract. 

Di pagi hari saat aku bangun, aku bisa merasakan tubuhku mau bangun tetapi sebenarnya aku masih berada di tempat tidur haha. Hal yang membuatku kesal adalah aku suka sekali menunda pekerjaan. Aku sering berucap: Nanti. Setelah itu, aku lupa mengerjakannya. 

Di balik itu semua, aku menilai bahwa aku orang yang bertanggung jawab dalam proyek-proyek yang aku gemari. Aku suka sekali mengedit video. Aku bisa menjadi hyper fokus karena aku bisa mengerjakan itu sampai benar-benar tuntas. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa ADHD itu buruk ya! 

Bermula dari obrolan dengan teman ini, aku putuskan untuk memeriksakan diri ke Psikolog. Temanku sendiri mengaku bahwa dia sudah didiagnosa mengalami ADHD sejak masih kecil. Saat mood temanku ini lagi turun atau disebutnya lagi inactive maka dia bisa minum minuman alkohol. Sementara aku, kalau aku mengalami inactive maka aku memilih tidur sepanjang hari haha. Menurut diagnosa, aku mengalami kombinasi, artinya aku bisa menjadi hyperactive dan inactive.

Follow us ruanita.indonesia

Aku masih ingat aku pergi menjumpai Psikolog di kampus saat pandemi masih berlangsung. Aku membuat appointment dengan Psikolog tersebut. Aku disarankan untuk menyelesaikan pengujian klinis. Lagi-lagi pandemi membuatku melakukannya melalui online. Aku ingat, aku harus menyelesaikan tes tertulis online. Tak lama kemudian, aku mendapatkan hasilnya yang dikirimkan via email. Lalu aku bertemu dengan Psikolog kampus untuk membicarakan hasil dan penanganan selanjutnya.

Aku berhasil menjalani pertemuan dengan Psikolog di Universitas sebanyak tiga kali. Hasil tes menunjukkan bahwa ADHD yang kualami masih tergolong easy. Kalau sudah tergolong mild, maka penanganannya akan lebih intens lagi. Psikolog menyarankan aku untuk latihan “Brain Treatment” selama 5-10 menit setiap hari. Untuk membantu konsentrasi tugas-tugas harianku, aku disarankan untuk membuat to do list. 

Aku juga diminta untuk berlatih kepal tangan untuk menenangkan diri kalau aku mulai panik dan tak terarah. Namanya Autogenes Training yang membuatku lebih rileks. Psikolog juga memintaku membuat goals yang reachable sehingga membuatku lebih terstruktur dalam hidup. Boleh dibilang aku memiliki organizational skill yang rendah. 

Sementara temanku yang mengalami ADHD yang tingkatnya lebih parah dariku, dia disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan untuk mengontrol gangguan. Menurutku, orang dengan ADHD kadang muncul perilaku impulsive seperti misalnya minum alkohol, merokok atau berbelanja. Sementara impulsive yang kualami sepertinya hanya tidur hahaha. 

Aku menjalani pertemuan selama 45 menit hingga 1 jam dengan Psikolog Uni. Setelah tiga kali pertemuan, kebetulan aku memiliki tugas kampus yang tak terhitung banyaknya karena saat itu masih dalam situasi pandemi. Selain itu, Psikolog Uni juga sedang berlibur.

Aku belum pernah mengecek atau membuat appointment dengan Psikolog atau Psikoterapi lainnya di luar kampus. Aku masih sibuk dan belum ada waktu meskipun aku bisa mendapatkan semua fasilitas layanan psikologis secara gratis, baik di kota tempat aku tinggal, universitas atau pun Studentenwerk.

Hanya memang appointment untuk pertemuan dengan tenaga profesional di Jerman memerlukan waktu berbulan-bulan lamanya.

Aku berencana akan segera membuat appointment dengan Psikolog atau Psikoterapi setelah aku ada waktu. Aku sendiri masih menyelesaikan skripsi dan mengambil pekerjaan sampingan. Jika aku lulus nanti, aku masih ingin mencari pekerjaan atau bekerja magang di perusahaan di Jerman. Kalau aku tidak beruntung mendapatkan peluang di Jerman, aku akan pulang ke Indonesia. 

Sejauh ini, aku belum bercerita pada orang tuaku tentang kondisi yang kualami. Aku hanya bercerita dengan teman-teman dekatku di sini yang tahu dan memahami kondisiku. Aku juga tak berani menceritakan kondisiku di tempat kerjaku, aku khawatir mereka tidak menerimaku bekerja. 

Aku sudah mencari tahu bahwa orang-orang dengan ADHD pun banyak juga yang sukses di dunia. Aku tidak khawatir tentang masa depanku. Banyak juga orang-orang yang mengalami ADHD bisa berhasil menekuni bidang pekerjaan yang mereka geluti seperti marketing, bahkan ada orang dengan ADHD yang kukenal bisa menjadi Direktur perusahaan. 

Penulis: Anonim, perempuan di Jerman.

(IG LIVE) Perlukah Resolusi Tahun Baru?

NORWEGIA – Sabtu (8/1) RUANITA lewat akun @ruanita.indonesia kembali menggelar diskusi virtual IG Live. Dipandu oleh Ferdyani Atikaputri, kali ini RUANITA mengundang Dewi @dewinielsenphotography (warga Indonesia di Denmark) dan psikolog Anita Kristiana @anitapastelblue dari @iris_harapan untuk membahas tema ‘Resolusi Tahun Baru: Apakah Perlu?’

Setiap awal tahun, istilah ‘resolusi tahun baru’ pasti bertebaran di mana-mana. Di awal diskusi, Dewi bercerita bahwa dulu ia sering membuat resolusi tahun baru namun seiring dengan berjalannya waktu, kini tidak pernah lagi karena sepertinya banyak dari resolusi tersebut yang tidak tercapai.

Beberapa tahun belakangan, Dewi memutuskan untuk membuat ‘goals’ yang isinya lebih berupa harapan-harapan dari segi self improvement seperti ingin melatih intonasi lembut dalam berbahasa asing, mengasah skill fotografi dengan belajar di kelas online, atau lebih banyak membaca buku bahasa asing namun tidak menargetkan jumlah buku tertentu yang harus dihabiskan.

Sementara dalam hal pekerjaan, Dewi juga menuturkan bahwa sekarang ia memutuskan untuk ‘let it flow’, tidak ada target besar tertentu yang dibuat menjadi resolusi karena ada banyak tantangan yang harus dihadapi dan kerap kali berujung pada kekecewaan.

Namun kekhawatiran akan berjalannya waktu juga membuat Dewi merasa ada tuntutan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik untuk diri sendiri dan memberikan manfaat untuk keluarga dan komunitas.  

Menurut Anita Kristiana, sebenarnya yang membuat seeorang merasakan kekhawatiran adalah ekspektasi terhadap diri dan hidupnya, serta bagaimana ia menempatkan pikirannya di momen saat ini, di masa depan (terlalu khawatir aka napa yang belum terjadi) atau di masa lalu (memikirkan apa yang terjadi di masa lalu).

Lanjutnya lagi, there is no magic in January karena membuat resolusi itu sebenarnya adalah sesuatu yang baik, tetapi sebaiknya kita sendiri yang memilih kapan timing yang paling pas dan itu hanya kita yang tahu.  Anita memberikan contoh saat seseorang baru pindah tempat tinggal namun kemudian sudah membuat resolusi banyak selama enam bulan ke depan, apalagi kalau terpaku harus mulai 1 Januari, akhirnya resolusi ini terasa berat saat dijalankan karena tidak realistis.

Ke depannya ketika resolusi tersebut berulang kali gagal, ini akan memengaruhi self-efficacy (perasaan mampu) dalam diri manusia yang berhubungan dengan kepercayaan diri dalam kemampuan mencapai tujuan tersebut.

Akhirnya kita merasa percuma untuk membuat resolusi lagi, padahal mungkin yang perlu dibenahi adalah timing atau caranya saja agar masih dalam kendali kita sehingga resolusi tersebut lebih mudah dijalani. 

Lantas apakah lebih baik jika resolusi ini disebut sebagai goals atau ‘rencana’ saja, karena ketika semua orang menggunakan kata resolusi, maka membuat resolusi ini akan terasa mengintimidasi?

Menurut Anita, boleh saja malah dianjurkan karena timing-nya ini sebenarnya punya kita, bukan punya orang lain atau standar yang ditentukan oleh orang banyak. Tambahnya lagi, untuk mencapai resolusi tersebut harusnya diterjemahkan menjadi perencanaan.

Anita kemudian menjelaskan bahwa banyak orang melihat kondisi tahun baru ini sebagai sebuah simbol untuk awal yang baru. Jadi tahun baru ini adalah momen yang dipercaya banyak orang untuk kembali ‘lahir’ menjadi diri yang baru sehingga banyak orang merayakannya dengan membuat resolusi tahun baru.

Akhirnya wajar jika hype membuat resolusi ini lebih tinggi ketika tahun baru. Sementara menurut Anita, boleh saja jika ada yang menganggap momen ‘awal yang baru’ tersebut pada hari ulang tahun, anniversary, dan sebagainya. 

Dewi pun mengiyakan bahwa hari ulang tahunnya adalah momen untuk berefleksi tentang kondisi dirinya dan keluarga. Refleksi ini yang membuat Dewi memilah hal-hal apa saja yang di luar kendalinya dan membantunya untuk kembali memfokuskan diri ke hal-hal yang dapat ia lakukan atau kendalikan.

Dewi pun mengakui bahwa rasa takut dan kekhawatiran itu tetap ada, tetapi refleksi ini mengingatkan dirinya untuk menjadi manusia yang lebih baik dengan melakukan yang terbaik. Dewi menekankan bahwa tetap lakukan yang terbaik yang kita bisa dan jangan menyerah. Dewi bercerita tentang perjuangannya untuk belajar bahasa Denmark dan sempat di titik terendah ingin menyerah, namun ia tetap belajar sambil menekuni hobinya di bidang fotografi. Sekarang Dewi sudah lulus les bahasa dan juga punya usaha fotografi.

Seringkali ketika seseorang sudah membuat resolusi dengan rapi dan terencana baik, namun ujung-ujungnya tidak terlaksana. Anita membagikan beberapa tips yang bisa dilakukan untuk agar konsisten untuk menjalankan target tersebut: 

  1. Personal purpose, atau punya tujuan atau ‘why’ yang sangat personal. Tujuan ini harus spesifik personal untuk diri sendiri; bukan untuk pasangan, atau orang lain, bukan juga hal-hal lain yang menurut orang lain kebanyakan itu penting. Tanyakan ke diri sendiri, pentingnya tujuan ini apa untuk diri kita sendiri, apakah cocok dengan kebutuhan dan timing pribadi kita di saat ini. 
  2. Terkait dengan purpose atau tujuan tersebut, pastikan tujuan kita dalam melakukan resolusi tersebut karena sesuatu yang positif ingin dicapai atau didapatkan (approach-oriented goals), bukan karena untuk menghindari hal lain (avoidance-oriented goals). Anita menjelaskan bahwa motivasi manusia lebih banyak didorong oleh imbalan (reward) dibandingkan hukuman (punishment). Manakala kita melakukan satu hal karena menghindari hal lainnya, ini akan terasa seperti menghukum diri sendiri. Bandingkan jika resolusi tersebut dijalankan dengan tujuan personal yang positif sehingga kita bisa merasakan enjoyment-nya; setiap kali melakukannya terasa seperti ‘menang’ atas diri sendiri dan ini akan menjadi perasaan positif yang menjadi bahan bakar untuk konsisten menjalankan resolusi.
  3. Punya clarity (kejelasan) saat membuat resolusi. Buat resolusi yang spesifik dan jelas.
  4. Realistis dalam membuat resolusi. Anita menjelaskan, mulailah dengan satu action yang kecil dulu, namun dilakukan berkali-kali selama satu bulan, lalu dua bulan, setelah terbiasa baru tambah intensitasnya. Yang harus dipehatikan adalah selalu ingat tujuannya harus personal dan positif, agar bisa dijalankan dengan enjoyable. 
  5. Pastikan goals atau resolusi yang kita buat tersebut berada dalam kendali kita. Jika goals atau resolusi tersebut dibuat bergantung pada orang lain atau situasi eksternal, lama-kelamaan situasi tersebut dapat mengikis harapan dalam mencapai goals tersebut. 
  6. Faktor lingkungan. Temukan teman atau komunitas yang dapat diajak bersama-sama menikmati menjalankan resolusi tersebut. Atur juga kondisi sekitar agar mendukung kita dalam menjalankan resolusi.

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!


(Ditulis oleh Retno Aini untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) The Cat Who Came in from the Cold and Brought Us Warmth

Ilustrasi.

Namanya Kucing. Nama yang sangat original, bukan? 

Kucing ini datang di dalam kehidupan saya enam tahun yang lalu, setelah ia dibuang oleh pemiliknya di musim dingin, di sebuah kota kecil di pegunungan di Prancis.

Saya ingat betul, waktu itu di akhir Desember, di luar suhu udaranya minus 25 derajat. Musim dingin paling ekstrim yang pernah saya alami. Seekor bayi kucing berumur tiga bulan mengikuti suami saya kembali ke rumah.

Kucing itu terlihat lapar dan kedinginan, ada luka potong di salah satu bagian telinganya. Hari itu juga, kami putuskan untuk memberi makan dan membiarkan kucing itu tinggal di dalam rumah dan tidur bersama kami, mengingat suhu di luar yang mematikan untuk badannya kurus itu. 

Esoknya kami membuat pamflet yang kami rekatkan di papan pengumuman sekitar, siapa tahu kucing ini hanya tersesat dan si pemilik sedang mencarinya. Kami menunggu sampai satu minggu tetapi tidak ada seorangpun yang menghubungi kami. Akhirnya kami putuskan untuk memelihara kucing ini. 

Kami mencoba bertanya kepada dokter hewan sekitar untuk memeriksa apakah kucing ini memiliki chip identitas supaya kami bisa mengembalikan kepada pemiliknya. Ternyata kucing ini tidak memiliki identitas.

Beberapa bulan setelah itu kami pindah domisili ke negara tetangga dan kami kembali membawa si kucing kembali dokter hewan untuk mendapatkan vaksin dan paspor hewan yang dia butuhkan untuk bisa ikut pindah dengan kami.

Untungnya, di tempat tinggal kami sekarang tidak ada aturan tertentu untuk memiliki binatang peliharaan. 

Waktu pertama kali tinggal di Eropa, saya tinggal di pegunungan yang dingin. Suami bekerja setiap hari; dari pagi buta sampai malam baru pulang. Jadilah sehari-hari saya sendirian. Ditambah lagi cuaca yang selalu dingin dan saat itu masih dalam masa transisi menyesuaikan diri dengan kehidupan di Eropa membuat saya berada di ambang depresi.

Sampai akhirnya si kucing datang dan menjadi teman yang menghibur hari-hari saya yang sepi.

Tidak ada alasan tertentu mengapa saya memelihara kucing ini, bahkan tadinya benci dengan hewan kucing karena dulu waktu kecil saya pernah memelihara ayam dan ayamnya dimakan sama kucing. Jadi kesal, bukan?

Namun memang, suami sejak dulu sangat suka binatang terutama kucing. Ketika melihat kucing kecil tersebut mengikuti suami pulang ke rumah, saya sendiri tidak tega kalau harus meninggalkannya di luar di tengah suhu sedingin itu.

Dulu saya pernah memelihara ikan, tetapi ya gitu, ikan ‘kan tidak ada ekspresinya. Berbeda dengan kucing yang playful dan ekspresif.

Si kucing ini punya kebiasaan yang agak unik, hahaha!

Setiap hari dia harus tidur di kaki saya atau di kaki suami, dan kalau kasurnya nggak rapi dia nggak suka. Tiap pagi jam 6, dia akan membangunkan kami dengan “berjalan-jalan” di atas bantal kami, mengendus-endus, dan mengeong sampai kami bangun. Semacam punya alarm hidup, haha! 

Perawatannya kucing ini seperti perawatan pada umumnya: setiap tiga bulan sekali diberi anti parasite/anti kutu. Dia juga diberi vaksin sesuai dengan buku catatan dari dokter hewan. Si kucing juga selalu kami biarkan bermain bebas di luar, dari pagi sampai sore.

Jika kami liburan dengan waktu yang singkat (maksimal 3 hari), maka kami akan memastikan dia memiliki makanan, minuman dan tempat buang air yang cukup sampai kami pulang.

Oh ya, biasanya kami juga awasi dengan CCTV yang ada di rumah untuk memastikan dia baik-baik saja. Jika kami harus pergi dalam waktu yang lama atau lebih dari 3 hari, maka si kucing dititipkan ke tempat penitipan kucing agar dia tidak terlantar.

Tentu saja, ada beberapa hal yang membuat kami geleng-geleng kepala saat memelihara kucing ini. Pernah waktu itu saya harus ganti wallpaper di seantero rumah karena semuanya dicakari sama kucing sampai hancur.

Furnitur rumah juga mau tidak mau ada banyak cakaran kucing. Kadang kala dia membawa pulang binatang buruannya buat hadiah, haha! Yang dibawa pulang ya macam-macam, bisa burung, tikus, atau kadal. Kadang buruan yang dibawa itu masih hidup, jadi ya kebayang lah geli. Kalau buruan yang dibawa sudah mati, itu jadi tugas suami saya untuk membersihkan, haha.

Namun di atas semua itu, bersama kucing ini saya jadi punya teman di kala saya kesepian dan jadi sering bangun pagi juga.

This cat helps me on being a more responsible person, too.

Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.

(DISKUSI ONLINE) Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa

Memilih membuka usaha di negeri perantauan bisa menjadi pilihan bagi sebagian perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Sebagai perempuan migran, pilihan menjadi wirausahawati bukan hal yang mudah. Setidaknya ada 5 hal yang perlu diperhatikan saat merambah bisnis di luar Indonesia seperti (1). Aturan pajak yang rumit; (2). Pendaftaran usaha; (3). Iklim ekonomi domisili negara yang ditempati; (4). Hambatan bahasa dan komunikasi; (5). Perbedaan budaya.

Oleh karena, RUANITA – Rumah Aman Kita, komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada promosi kesehatan mental, psikoedukasi dan praktik baik kehidupan di luar Indonesia bekerja sama dengan Komunitas Exportir Muda Indonesia (KEMI) di Turki untuk menggelar webinar bertema kewirausahan. 

Webinar ini diharapkan dapat membekali perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia mengenai regulasi perdagangan, jiwa kewirausahaan dan pengalaman menjadi pengusaha perempuan di luar negeri sehingga perempuan Indonesia di luar negeri mampu berdikari. Webinar ini diselenggarakan berkat kerja sama dengan KBRI Ankara, KBRI Den Haag, KEMI Turki dan IKAT Jerman.

Ada pun webinar akan dibuka secara resmi oleh Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal dan diawali dengan pemaparan dari Atase Perdagangan RI KBRI Den Haag, Sabbat Christian Sirait yang memaparkan tentang peluang produk Indonesia di pasar Eropa, terutama Belanda.

Setelah itu, peserta akan menyimak prosedur perijinan membuat usaha di Turki yang disampaikan oleh Ketua KEMI Turki, Leny Milla FW kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang strategi kewirausahan dan komunikasi lintas budaya yang disampaikan oleh Dessy Rutten yang telah lama berkecimpung sebagai Ekonom dan Pebisnis di Eropa.

Terakhir, peserta akan mendapatkan pengalaman praktik berwirausaha yang sudah dirintis oleh Ferlin Yoswara yang tinggal di Belanda. Acara webinar ini dipandu oleh Siti Aisah Pujiastuti, Mahasiswa jurusan Bisnis dan Budaya di Universitas Passau, Jerman sekaligus tim Humas RUANITA.

Acara akan ditutup dengan kuiz berhadiah yang disediakan para sponsor. Untuk pendaftaran bisa langsung scan barcode yang tersedia di flyer atau klik https://bit.ly/RUANITA-KEMI. Informasi lebih lanjut bisa langsung menghubungi panitia penyelenggara yakni KEMI Turki dan RUANITA.

(CERITA SAHABAT) Resolusi Awal Tahun: Rencanaku Belum Tentu RencanaNya

Aku tidak memiliki resolusi tahunan seperti orang-orang kebanyakan yang membuatnya sebelum tahun berakhir dengan me-publish-nya di media sosial, menulisnya di sebuah notes book, dan menempelnya di atas meja kerja. Aku membuat resolusi hidup jangka panjang di benakku sendiri. Aku hanya menjelaskan hal itu kepada diriku sendiri. 

Hal itu merupakan rancangan rencana-rencana tahapan kehidupanku yang “harus” aku capai. Seperti apa aku ingin melihat diriku di 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan. Aku telah membuat nya sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu. Saat umurku 20 tahun. Sekarang umurku sudah 26 tahun. Resolusi jangka panjangku tidak memiliki waktu mulai atau batas waktu “kadaluarsa”.

Hal tersebut tentu saja berjalan tidak seperti yang aku rancang. Contohnya, aku mengusahakan di saat umurku 25 tahun, aku sudah menyelesaikan studi Bachelor dan Master-ku di Jerman. Kemudian di umur 26 tahun aku bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan, umur 27 tahun aku menikah dengan pujaan hatiku, 28 tahun – 30 tahun aku menjadi seorang ibu dan isteri yang baik sekaligus melanjutkan S3 dan mengajar di sebuah universitas di Jerman. 

Namun kenyataannya 6 tahun setelah resolusi jangka panjang tersebut dibuat, aku baru saja menyelesaikan Bachelorku dan aku baru melanjutkan studi master. Aku belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaanku sekarang paruh waktu sebagai kasir di sebuah toko supermarket. Selain itu, aku mencari tambahan uang bekerja di  sebuah pabrik obat untuk bagian pengemasan. 

Hidupku tidak sespektakuler dan menjanjikan seperti rancangan resolusi yang telah kubuat. Aku juga punya resolusi lain juga seperti meningkatkan ketaatanku kepada Tuhan, selalu tepat waktu beribadah, selalu menambah hafalan surah-surah, lebih mengasihi, lebih beramal di saat apapun dan keadaan sulit. 

Aku harus menjaga kesehatan jasmaniku karena beberapa anggota keluargaku meninggalkan kami dalam keadaan sakit. Aku tidak menginginkan orang yang menyayangiku akan kehilanganku karena suatu penyakit. Itu sebab aku memulainya sedini mungkin dan sadar bahwa kesehatan dimulai dari cara kita berpikir, yaitu bersikap positif. 

Buatku keluarga adalah sekelompok orang yang menyatu karena ikatan darah, kemiripan sifat maupun fisik, atau mempunyai pandangan hidup atau perspektif dalam kehidupan yang sama. Sebagai keluarga, kita wajib bertugas untuk saling menyayangi, mendukung, melindungi, dan memotivasi, di dalam perjalanan untuk tumbuh berkembang bersama. Kita tidak memiliki batas kesabaran dan maaf untuk satu sama lain. 

Sebagai keluarga, kita bersedia ada untuk satu sama lain dalam 24 jam 7 hari. Kita ada mulai dari titik kehidupan tertinggi hingga terendah. Sebagai keluarga, kita bersama sampai tugas duniawi masing-masing berakhir dan berkumpul lagi di suatu tempat yang kekal.

Aku tidak mau terlalu bahagia, atau terlihat bahagia, karena bisa jadi datang ujian, entah ujian kecil atau pun ujian besar. Ada orang yang melihat orang lain bahagia, dia akan ikut bahagia dan mendoakan orang tersebut. Namun banyak juga orang yang melihat orang lain bahagia lalu berusaha untuk menghancurkannya. Aku tetap menikmati rasa bahagia itu dengan rasa bersyukur dan bersiap-siap untuk tahap ujian selanjutnya. 

Diremehkan tentang “kepintaran” sudah aku alami sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga besar dari tante-tanteku. Aku juga diremehkan oleh sepupu dan teman-teman sebaya yang masih sama-sama berjuang di Jerman ini. 

Ketika seseorang meremehkan atau memandang seseorang sebelah mata, menurutku, orang tersebut sebenarnya belum cukup mencintai dirinya sendiri. Bisa jadi dia belum cukup puas dengan apa yang dia capai selama ini. Atau dia sedang menghadapi krisis kepercayaan diri sehingga dia mengemis pengakuan dan pujian dari orang lain. 

Ketika aku sedang mengalami krisis kepercayaan diri atau aku merasa apapun yang aku jalani tidak sesuai dengan planning jangka panjangku maka aku selalu ingat, bahwa Tuhan adalah planner terbaik dan tersukses. Dia adalah segalanya. Menurutku, aku sudah lalui dan jalani saat ini dan ke depannya sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa.

Aku tidak perlu bersedih atau berkecil hati. Aku hanya harus terus berusaha, berusaha dan berusaha termasuk menekan egoku dan kemalasanku. Sampai saatnya aku berserah diri, dan bersyukur. Tidak ada lagi hal yang dapat aku lakukan di luar itu. 

Apapun resolusi yang kamu buat, entah tahunan maupun jangka panjang sepertiku, hal tersebut harus dapat memotivasi, meningkatkan rasa percaya diri dan memacu sifat konsisten yang kamu miliki. 

Tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih baik dan buruk. Bagiku, semua resolusi yang kamu sematkan, hanya kamu sendiri yang akan jalani dan lalui. Bukan orang lain yang melakukan hal tersebut untuk kamu. Oleh karena itu, jangan juga kita menyamakan atau membandingkan dirimu dengan orang lain. Jadilah dirimu sendiri! Karena kamu berarti dan kamu harus menghargai segala hal yang ada di dirimu.

Penulis: Mahasiswa Master yang tidak pamer resolusi awal tahun dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Tahun Perjuangan yang Menguatkanku

Sahabat RUANITA, aku mau bercerita betapa tahun 2021 yang aku lewati ini merupakan tahun yang tak mudah buatku. Masalah hidupku datang bertubi-tubi di tahun ini. Aku tak menyangka, kehidupanku di negeri asing mengajarkanku banyak hal, termasuk untuk tidak mudah mempercayai teman sesama WNI yang kuanggap sebagai sahabatku sendiri. Dari situ aku belajar untuk pasrah dan hanya mengandalkan Tuhan saja saat aku berkeluh kesah.

Ceritaku berawal dari akhir tahun 2020, ketika aku memutuskan untuk membuka usaha di negeri asal mantan suamiku. Saat dulu aku berniat membuka usaha, dia masih suamiku dan mendukung niatku berwirausaha di negara kelahirannya. Sebagai orang yang terbiasa bekerja dan banyak aktivitas sejak aku masih di Indonesia, aku berniat untuk membuka usaha di ibu kota suatu negara di Eropa. Perjalanan panjang mencari lokasi usaha, mengurus perijinan hingga merintis usaha di negeri asing itu bukan hal yang mudah bagiku. 

Setelah aku berhasil membuka usaha yang kuinginkan, aku mengalami masalah rumah tangga. Aku tak mengerti budaya asing ini yang seperti mengikatku untuk tidak bisa bergerak menjadi diriku sendiri. Konflik rumah tangga dengan mantan suamiku memuncak sehingga aku memutuskan untuk berpisah.

Aku pergi keluar dari rumah dan menjadi diriku sendiri. Rupanya, keputusanku keluar dari rumah membuatku kehilangan kesempatan untuk bersatu dengan suamiku lagi. Aku putuskan untuk tinggal sendiri, di apartemen yang letaknya tak jauh dari lokasi usahaku. Setelah 2,5 tahun aku berumah tangga, aku harus berpisah dengan pria yang telah membawaku ke negeri asing ini. Mantan suamiku pun kini telah hidup dengan perempuan lain. 

Semula aku mempercayai sepenuhnya teman, asal Indonesia yang kuanggap sebagai saudara sendiri. Dia mengetahui seluk beluk tentang masalah rumah tanggaku hingga niatku untuk berwirausaha. Pada akhirnya, cerita-ceritaku padanya menjadi bumerang buatku sendiri.

Teman ini bak musuh dalam selimut yang membuat terganggu. Saat aku terpuruk tak berdaya karena masalah rumah tanggaku, dia justru merendahkanku. Dengan lantang dia berujar: “Otak itu jangan taruh di dengkul! Ngaca dong, kamu itu siapa! Kamu itu gak kaya!”

Aku berusaha bangkit dan mengumpulkan kekuatan untuk  bisa melewati krisis yang kualami. Pada akhirnya, aku berpisah dengan suamiku. Aku berpikir memang tak mungkin keduanya bisa berjalan beriringan, antara niatku berwirausaha dengan keharmonisan rumah tangga. Aku gagal dalam berumah tangga, bukan berarti aku gagal sepenuhnya dalam hidup.

Aku fokuskan hidupku pada usaha yang kurintis di negeri asing, meski itu tak mudah. Apalagi aku merintis usaha di saat pandemi sedang melanda dunia ini. Aku hampir patah arang karena lockdown yang berkepanjangan. Aku tak putus asa, aku tetap menjalani usahaku dengan ketekunan. 

Usahaku mulai membuahkan hasil. Beberapa orang-orang ingin bermitra dengan usaha yang aku jalani. Keberhasilan usaha yang aku rintis dilirik media dan mendapat sambutan yang luar biasa dari pejabat publik  karena kebetulan aku ditunjuk sebagai leader sebuah organisasi bisnis. Aku merasa keharuan luar biasa ketika lagu Indonesia Raya berhasil diperdengarkan di lokasi usahaku saat upacara pembukaan.

Follow us ruanita.indonesia

Aku bisa mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun perjuangan pun tahun kesedihan. Ayahku telah berpulang di tahun ini. Ayah adalah figur panutan yang membuatku berdiri tegar seperti sekarang. Aku benar-benar terpukul saat ayahku berpulang. Aku semakin bersedih karena aku pun tak bisa menghadiri saat-saat terakhir ayah.

Pandemi telah membuatku tetap di negeri asing ini. Aku berpikir aku baru saja merintis usaha dan tak mudah buatku mempercayai orang-orang di sekitarku untuk mengelolanya. Bersyukurlah, keluarga besarku di Indonesia menerima keputusanku untuk tidak pulang ke Indonesia. 

Prinsipku, aku boleh sedih, aku boleh gagal, tetapi aku tak boleh menyerah dalam hidup. Tekadku sudah bulat untuk tetap menekuni usaha rintisan ku di negeri asing ini. Tahun ini memberi pelajaran berharga untukku bahwa Tuhan tahu apa yang kubutuhkan. Aku tak mungkin membuat usaha bisnisku dan bahtera rumah tangga berjalan seiringan.

Tuhan melihat perjuanganku sehingga aku dipertemukan dengan teman-teman yang lebih baik dan mendukungku. Misalnya, aku bertemu dengan orang-orang baik yang menolongku untuk meneruskan perijinan usaha yang kutekuni ketika mantan suamiku tidak mau jadi penjamin untuk pengurusan surat-suratku di negaranya. Wajar aku kecewa karena dia tidak pernah menafkahiku selama kami menikah. Aku memilih berpisah dengannya.

Tuhan menguatkanku melewati badai hidup yang aku alami di tahun ini karena Dia tahu bahwa aku bisa melewatinya dengan baik. Krisis hidup yang dialami orang-orang berbeda di tahun ini. Tahun ini adalah tahun perjuangan dan tahun kesedihan yang justru menguatkanku di negeri perantauan ini.

Di tahun berikutnya, aku akan fokus untuk mengembangkan usaha yang kurintis daripada sekedar mencari pasangan hidup di usiaku yang tak lagi muda. Aku berharap bisa merintis kerja sama dengan orang-orang yang bisa memajukan usaha kurintis ini. Tuhan tidak tidur. 

Penulis: Perempuan dan tinggal di Eropa.

(IG LIVE) Atasi Shopaholic, Begini Tips yang Patut Disimak

NORWEGIA – Minggu (5/12) RUANITA kembali menggelar diskusi virtual IG Live lewat akun @ruanita.indonesia. Dengan mengangkat tema ‘Shopaholic: Seberapa ‘Gila’ Kamu Berbelanja?’ Anna selaku pemandu diskusi turut mengundang Kiki @kikik.raa (mahasiswi di Jerman) dan psikolog Anita Kristiana @anitapastelblue untuk bersama membahas perilaku gila belanja dan shopaholic.

Di awal diskusi, Anna dan Kiki bercerita tentang fenomena Black Friday di penghujung November, di mana toko-toko di mall memberikan diskon besar & selalu penuh orang-orang mengantri berbelanja. Kondisi pandemi pun tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk berbelanja saat Black Friday karena kemudahan untuk berbelanja online. 

Adapun di luar negeri, promo Black Friday dimanfaatkan untuk tidak hanya berbelanja kado natal, namun juga berbelanja untuk diri sendiri. Kiki menuturkan bahwa saat Black Friday, banyak sekali branded items berkualitas yang didiskon sehingga ia tertarik untuk membelinya karena kalau kualitasnya bagus seperti investasi. Namun ia turut mengakui, alasan tersebut berujung pada banyaknya baju yang menumpuk. 

Menurut Anita Kristiana, kegiatan berbelanja adalah normal untuk memenuhi kebutuhan pribadi, sama seperti makan dan minum, selama masih sesuai kebutuhan. Perilaku shopaholic terjadi ketika tidak ada titik cukup saat berbelanja (terlalu berlebihan dan merasa kekurangan). Perilaku shopaholic ini dilakukan secara excessive (berulang-ulang secara berlebihan) dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Adapun shopaholic juga ditandai oleh efek rasa nyaman dan excitement yang muncul saat sedang membeli barang-barang dan merasa bersalah setelahnya. 

Anita menegaskan bahwa ini berbeda sekali dengan perilaku berbelanja yang normal, di mana rasa nyaman justru diperoleh setelah membeli barangnya dan tidak disertai rasa bersalah. Lanjutnya lagi, ada kecenderungan shopaholic tidak berbelanja sesuai kemampuan dan sering menggunakan metode pembayaran kredit (yang jika dilakukan secara excessive akan berdampak pada kondisi finansial seperti menumpuk utang).

Ketika shopaholic merasa nyaman saat membeli barang dan setelahnya merasakan emosi negatif seperti menyesal, merasa bersalah maka ini akan menjadi bumerang karena emosi negatif tersebut akan dihilangkan dengan berbelanja lagi supaya merasa nyaman, lalu merasa bersalah lagi, dan berbelanja lagi. Jika ini terus-menerus dilakukan maka terjebaklah dalam lingkaran adiksi shopaholic. Secara psikologi jika perilaku ini sudah sangat mengganggu disebut compulsive buying disorder (CBD) yang dikategorikan sebagai impulsive insanity. Jadi shopaholic terjadi ketika seseorang tidak bisa mengontrol perilaku berbelanja dan keuangan mereka. 

Anita juga menjelaskan bahwa ada perbedaan antara impulsive buying dan compulsive buying. Yang membedakan adalah faktor adiksi (kecanduan) dalam perilaku compulsive buying. Impulsive buying sendiri lebih berupa suka akan suatu barang -meski tidak ada kebutuhan untuk membeli- dan tiba-tiba ingin membelinya karena bagus and sometimes it’s a good buying.

Biasanya beberapa problem yang dihadapi setelah berbelanja online adalah saat barang yang diterima tidak sesuai atau ukurannya tidak pas. Menurut Kiki, kadang ini menimbulkan penyesalan, apalagi kalau kemudian proses return & refund barang tersebut sulit karena lama diproses. Kiki mengakalinya dengan memberikan barang tersebut ke teman-teman atau saudara. Menurut Anita, berdasarkan pengamatan dari studi yang dilakukannya adalah shopaholic lebih menyesali upaya berbelanjanya. Selain itu ada kecenderungan untuk menyembunyikan hasil belanjaan karena merasa malu dan menyesal sudah berbelanja.

Hal-hal apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi shopaholic? Menurut Anita, secara umum perilaku shopaholic bisa muncul ketika seseorang: 1. mencari excitement, approval, love, 2. mengisi kekosongan, 3. mengganti upaya, kondisi yang hilang, atau mengganti perasaan tidak nyaman yang tidak bisa disalurkan dengan cara yang sehat. Anita menjelaskan bahwa mengelola hidup yang sehat adalah ketika kita tidak perlu sesuatu atau orang lain untuk membuat kita merasa cukup. Ketika mulai terasa sebaliknya, saat itulah mulai kita membutuhkan bantuan.

Dampak buruk dari perilaku shopaholic sendiri adalah hilangnya kontrol kita terhadap diri sendiri. Anita menekankan bahwa kehilangan kontrol inilah yang berdampak ke mana-mana seperti kondisi finansial terganggu, terjerat utang, hilangnya waktu untuk menikmati kegiatan yang lebih produktif, bahkan mengganggu fokus, self-esteem dan mengganggu hubungan dengan pasangan dan keluarga. 

Anita menyebutkan empat pendekatan yang bisa diambil untuk mengatasi kondisi shopaholic:

  1. Jauhkan diri dari sumber stress/sumber godaan. Cara praktisnya bisa dengan uninstall dulu semua aplikasi belanja, unsubscribe iklan promosi yang masuk lewat surel, dan unfollow influencers yang kerap mengiklankan barang-barang belanja. Kalau sering mengunjungi mall, tahan dulu untuk tidak pergi ke mall sendirian, atau minta ditemani oleh pasangan, teman dan anggota keluarga yang bisa melarang atau mencegah berbelanja. 
  2. Stop berbelanja dengan kartu kredit dan hanya berbelanja dengan uang sejumlah yang benar-benar dimiliki. 
  3. Kelola pikiran dengan belajar financial literacy.
  4. Replace atau pendekatan terapi pengganti, untuk membantu membangun healthy experiences & habits. Jika dibutuhkan, bantuan konseling, terapi dan support groups dapat sangat membantu.

Anita menekankan, intinya pembelanjaan kita adalah pilihan kita, bagaimana kita mengenali dan mengelolanya agar sampai di titik cukup. Secara normal, kita harus mempertimbangkan kondisi keuangan dan konsekuensi dari pembelanjaan tersebut.

Jika sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Retno Aini untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) Ketika Orang Tua Masih Bertanggung Jawab Meski Sudah Berpisah

Perceraian menjadi istilah yang menakutkan bagi pasangan yang berumah tangga, tidak terkecuali saya. Dalam kehidupan rumah tangga tentunya masalah akan selalu ada. Normatifnya pasti ada pengharapan kalau masalah tersebut bisa diselesaikan. 

Namun ketika masalah yang muncul  menyangkut prinsip, apakah layak rumah tangga dipertahankan? Rasa takut mendominasi perasaan saya ketika ucapan cerai sudah terucap. Apakah saya sanggup mengasuh 3 orang anak sendirian dan menafkahi mereka?

Dalam putusan perceraian tersebut disebutkan secara rinci jadwal anak-anak berkunjung dan menginap ke rumah bapaknya sekitar 12 hari dalam sebulan. Jadwal anak-anak merayakan Natal bergantian termasuk juga jadwal liburan (kami memilih soal liburan musim panas). 

Implikasi dari putusan ini adalah anak-anak mempunyai alamat dan dokter yang sama dengan saya. Saya mempunyai hak untuk memilih sekolah, menjadi kontak penghubung dengan pihak sekolah bahkan saya bisa memutuskan untuk pindah kota. 

Secara finansial, negara memberikan tunjangan lebih kepada orang tua yang memiliki hak asuh anak yaitu tunjangan anak (child benefit). Karena saya punya 3 anak maka jumlah pembayaran untuk tunjangan anak menjadi untuk 4 anak. 

Selain itu saya juga mendapatkan tunjangan sebagai single parent dari negara. Jumlah yang diberikan disesuaikan dengan penghasilan. Jika si single parent tidak memiliki pekerjaan maka negara akan memberikan sekitar 19950 kroner/ bulan sebelum dipotong pajak (perhitungan tahun 2021). Negara juga memberikan tunjangan sekitar 60% biaya daycare. 

Walaupun dalam kondisi seperti itu, kami sadar bahwa kami mempunyai peran sebagai orang tua dari 3 anak yang masih dibawah umur. Orang tua mempunyai peran penting dalam tumbuh kembang anak. Lingkungan pertama yang ditemui seorang anak adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan saudara. 

Dalam interaksinya seorang anak mengadaptasi dari apa yang dilihat dan dipelajari di dalam keluarga. Lalu bagaimana perkembangan anak dalam keluarga yang tidak utuh? Apakah saya harus berperan juga sebagai ayah untuk anak-anak saya? Apakah mantan suami juga harus berperan sebagai ibu untuk anak-anak?

Dalam mengkomunikasikan situasi dan kondisi yang terjadi, kami bersepakat untuk menceritakan kepada mereka bersama-sama. Kami katakan kepada mereka bahwa kami memutuskan untuk tidak tinggal satu rumah lagi. Mereka hanya diam saja, tidak bertanya apa pun. Mungkin karena mereka masih kecil dan belum mengerti situasi dan implikasi dari situasi yang terjadi. 

Kami menjelaskan bahwa penyebab perpisahan ini tidak ada hubungannya dengan mereka dan mereka akan tetap bisa berhubungan dengan kami, kedua orang tuanya. Kami menekankan sisi positif bahwa mereka memiliki dua rumah dan 6 minggu liburan musim panas.  

Pertumbuhan anak baik itu secara emosional dan intelektual membutuhkan kerja sama dengan pihak lain misalnya sekolah sampai kegiatan ekstra kurikuler anak pun melibatkan orang tua dalam kegiatannya. 

Soal perayaan ulang tahun anak, bisa saja saya tidak perlu melibatkan mantan suami. Tapi tradisi ulang tahun disini, pihak keluarga seperti tante atau nenek kakek dari anak-anak biasanya diundang. Saya merasa anak-anak mempunyai hak untuk bertemu dengan kakek-nenek ataupun tante dan paman mereka. Perayaan ulang tahun atau Natal menjadi arena penting untuk melakukan kontak dengan keluarga di luar keluarga inti.

Follow akun IG ruanita.indonesia

Kerja sama yang baik antara saya dan mantan suami dimulai ketika urusan hak kepemilikan rumah bisa diselesaikan, sekitar bulan maret 2012. Kami pun mulai fokus untuk mendiskusikan persoalan yang menimpa anak-anak.

Misalnya ketika anak saya yang bungsu masih di TK/daycare, kami mendapat laporan bahwa dia sangat pemilih dalam hal makanan. Kami berdua pun harus mendiskusikan bagaimana cara untuk mendorong dia mencoba variasi makanan lain. Mantan saya ini, lebih cerdik untuk mendorong bagaimana agar dia tertarik untuk mencoba variasi makanan lain. Anak saya ini diajak untuk memasak walaupun saat itu dia masih berumur 2 tahun. 

Dalam memberikan pengasuhan pada anak, saya dan mantan mempunyai pola yang berbeda. Sikap dan cara kami dalam mengasuh anak berbeda tapi secara prinsip kami menginginkan anak yang tumbuh bahagia. Kami sama-sama mengajarkan agar mereka bisa mengambil keputusan dan mengambil tindakan sendiri. Hal ini bertujuan agar mereka menjadi mandiri dan bertanggung jawab atas pilihannya.  

Saat ini anak-anak saya berumur 16, 14 dan 12. Artinya sudah 10 tahun yang lalu mereka tinggal di dua rumah yang berbeda. Banyak hal menakjubkan yang terjadi. Mulai dari kemandirian mereka untuk bepergian dengan transportasi umum, kemandirian untuk memasak makan siang, kecerdasan sosial dimana mereka mempunyai teman main, mematuhi aturan, aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler sampai menjadi pribadi yang disiplin (duty fulfilling). 

Hal ini saya pikir bisa tercapai karena saya dan mantan suami berusaha berkomunikasi dengan baik, terutama mengkomunikasikan tumbuh kembang anak. Kami pun membuka kesempatan kepada anak-anak untuk mengeksplorasi hal yang mereka minati walaupun kami harus merogoh kocek untuk itu.

Penulis: Novy, tinggal di Kutub.

(SIARAN BERITA) RUANITA Gelar Diskusi Virtual Bersama Ketua Komnas Perempuan Indonesia

NORWEGIA – Sabtu (27/11) RUANITA menggelar IG Live dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Lewat akun @runita.indonesia, RUANITA mengundang Ketua Komnas Perempuan Indonesia Andi Yentriyani (@andi_yentriyani) dan para penggagas program AISIYU Novi (@novikisav) dan Stephanie Iriana (@irianacamus).

Adapun diskusi virtual lewat IG Live ini digelar sebagai bagian dari kampanye AISIYU dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan. Selaku pemandu diskusi, Anna menjelaskan bahwa isu penghapusan kekerasan terhadap perempuan adalah isu global. 

Pada awal diskusi, Novi menyebutkan bahwa penghapusan kekerasan terhadap perempuan adalah isu penting. Program AISIYU ini digagas untuk menjelaskan definisi kekerasan tersebut dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang banyak serta bagaimana agar isu ini dapat dikomunikasikan sehingga tidak lagi menjadi fenomena gunung es.

Follow us ruanita.indonesia

Media penulisan surat terbuka dalam kampanye AISIYU adalah untuk mendekatkan pembaca akan isu kekerasan terhadap perempuan yang sebenarnya banyak terjadi dalam masyarakat namun tertutup oleh stigma dan tabu.

Menurut Novi, isu kekerasan terhadap perempuan adalah universal di manapun perempuan berada, sehingga penting untuk membangun kesadaran masyarakat akan isu tersebut untuk membantu upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. 

Andi Yentriyani menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelanggaran hak azasi manusia sehingga upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan adalah bagian yang esensial dari penegakan hak azasi manusia. Inilah yang menjadi alasan dilakukannya kampanye 16 hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang digagas oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2000. Adapun kampanye 16 hari ini dimulai pada tanggal 25 November dan berujung pada tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Azasi Manusia Sedunia. 

Mengenai meningkatnya angka kasus kekerasan terhadap perempuan selama masa pandemi, menurut Andi Yentriyani perlu dipahami terlebih dahulu bahwa meningkatnya angka kekerasan bukan berarti intensitas kekerasannya sekadar meningkat, namun bisa jadi karena lebih banyak korban yang percaya dan berani untuk melaporkan kasus kekerasan tersebut.

Lanjutnya lagi, justru dengan melaporkan kasusnya, korban bisa mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan. Artinya selain derajat keberanian korban yang bertumbuh, juga tumbuh keyakinan pada sistem yang sedang berkembang.

Aspek lainnya adalah situasi pandemi memang memberikan ruang untuk tumbuhnya intensitas kekerasan dalam ranah privat. Ini adalah hal yang rumit, terutama di Indonesia dimana budaya masih menempatkan relasi pasangan tidak setara, terutama bagi perempuan yang secara normatif dibebani porsi lebih banyak dalam hal tanggung jawab pengasuhan dan urusan domestik, ditambah lagi jika turut terdampak secara ekonomi.

Ini semua berujung pada keletihan fisik dan psikis bagi perempuan dan dapat menimbulkan ketegangan baru dalam keluarga yang dapat bermanifestasi ke berbagai macam tindak kekerasan. 

Andi Yentriyani menuturkan bahwa selama masa pandemi pada tahun 2020 sendiri ada peningkatan kasus kekerasan rumah tangga sebanyak hampir 68% -dari sekitar 1400 kasus menjadi 2389 kasus yang dilaporkan langsung kepada Komnas Perempuan. Selain angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang meningkat, perlu dicermati pula naiknya angka kekerasan seksual hingga 18% baik itu di ranah privat maupun publik.

Yang juga perlu mendapatkan perhatian serius adalah meningkatnya angka kekerasan di ruang online, di mana percepatannya sendiri naik hingga tiga kali lipat dan paling banyak dilakukan oleh orang-orang yang memiliki relasi privat dengan korban (mantan pasangan).

Sebagai orang Indonesia yang berdomisili di Norwegia dan bekerja di lembaga pemerintah untuk kesejahteraan sosial, Novi menyebutkan bahwa berdasarkan data yang dirilis Budfir.no di tahun 2020 sendiri ada sebanyak 1668 korban usia dewasa yang ditampung oleh Krisesenter (crisis centre) di seluruh Norwegia, dan selama tahun 2020 Krisesenter menerima sebanyak 7838 telepon pengaduan tindak kekerasan.

Sistem helpline/aduan untuk membantu korban kekerasan di Norwegia sendiri sudah terpadu dan korban dapat melaporkan tindak kekerasan langsung ke saluran helpline, ke polisi, guru sekolah, maupun ke dokter pribadi/general practitioner (setiap orang yang terdaftar sebagai penduduk Norwegia mendapatkan akses dokter pribadi di helsestasjon (puskesmas) terdekat dari alamat domisili). Informasi mengenai definisi dan jenis tindak kekerasan pun dapat ditemukan secara online di situs resmi Krisesenter.no.

Namun untuk perempuan migran yang menjadi korban kasus kekerasan, masih ditemukan kendala bahasa, rasa sungkan, ketakutan dan ketidaktahuan akan sistem pengaduan ini, termasuk ketidaktahuan bahwa negara akan menyediakan jasa penerjemah jika ditemukan adanya kendala bahasa.

Ini yang seringkali membuat korban urung meminta bantuan dan melaporkan tindak kekerasan tersebut, selain juga membuat pengaduan kasus kekerasan di kalangan warga pendatang menjadi tidak terukur serta sulit mengetahui sejauh mana informasi bantuan tersebut sampai ke korban.

Dalam kesempatan terpisah, Stephanie Iriana selaku kandidat studi doktoral di University of Groeningen menjelaskan bahwa di Belanda, KDRT tidak dimasukkan dalam private issue sehingga negara mengembangkan system intervensi yang lebih baik dibandingkan di Indonesia. Inilah yang menyebabkan korban KDRT tidak kesulitan berani untuk bersuara karena sudah tidak dianggap tabu.

Untuk membantu perempuan WNI yang menjadi korban kekerasan di luar negeri, menurut Andi Yentriyani ini sangat bergantung pada sistem proteksi di negara di mana perempuan tersebut berada. Beberapa negara memang memiliki sistem yang lebih tertata dan memberikan proteksi yang lebih baik.

Namun ini juga bersifat dua arah di mana dibutuhkan ‘kesukarelaan’ dari pihak perempuannya untuk melapor ke KBRI dan meminta bantuan hukum; namun ini biasanya diberikan kepada WNI yang berstatus sebagai tersangka.

Dalam hal ini, Komnas Perempuan akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar negeri, melakukan upaya pemantauan shelter dan mendorong KBRI untuk memberikan bantuan hukum. 

Untuk WNI yang berstatus sebagai korban, bentuk upaya bantuannya lebih bervariasi. Andi Yentriyani menjelaskan bahwa dalam kasus-kasus tertentu, Komnas Perempuan dapat membantu perempuan WNI -baik tersangka maupun korban kekerasan- dengan mekanisme rujukan, yakni bekerja sama dengan lembaga bantuan hukum, konseling, dan lembaga terkait lainnya di negara di mana kasus tersebut terjadi, serta memberikan pendampingan untuk mencari pertolongan. 

Berikut beberapa upaya penting yang dapat dilakukan oleh perempuan WNI di luar negeri untuk memastikan diri mendapatkan bantuan hukum:

  • Segera melakukan proses registrasi atau pelaporan diri ke KBRI setibanya di negara domisili baru. Ini sangat penting untuk membantu KBRI memantau kondisi WNI, terutama saat WNI tersebut meminta pertolongan lewat KBRI. 
  • Terkoneksi dengan peer group komunitas orang Indonesia di mancanegara, untuk mencari informasi dan saling menguatkan dan memberikan keberanian, selain kondisinya juga saling terjangkau satu sama lain.
  • Pelajari sistem layanan masyarakat dari pemerintah, cara interaksi di lingkungan sekitar, serta membangun kesadaran akan pentingnya memiliki pengetahuan tersebut. Ini adalah salah satu cara advokasi diri, yang membantu kita agar lebih berani meminta bantuan atau mencari pertolongan saat membutuhkan bantuan. 
  • Melihat proses tinggal di perantauan sebagai ruang bersama untuk berefleksi tentang relasi-relasi yang dimiliki bersama pasangan, keluarga, serta dengan sesama warga Indonesia. Bukan saja untuk membangun kesadaran menjaga diri selama di perantauan, namun juga untuk membangun solidaritas persaudaraan sesama perempuan WNI yang tinggal di luar negeri.

(ditulis oleh Retno Aini Wijayanti untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) Gila Belanja, Caraku Membalas Dendam

Apa yang akan aku lakukan di waktu lowong saat aku tak ada kelas di universitas dan bekerja paruh waktu? Aku mengunjungi toko online dan memasukkan daftar belanjaan yang ingin aku beli jika aku ada uang. Aku memasukkan barang-barang yang aku anggap “lucu”, menarik, bagus atau barang yang aku suka.

Keranjang belanjaanku sekarang sekitar delapan ratusan. Pandemi tahun lalu saja, dalam lima bulan, setiap bulan aku berbelanja hingga lebih dari empat pakaian. Perilaku berbelanjaku sangat ekstrim dibandingkan dulu sewaktu aku masih di Indonesia. Aku tidak pernah belanja baju sama sekali saat aku masih di Indonesia.

Boleh dibilang kegilaanku berbelanja dan memesan makanan disebabkan oleh “unconscious revenge” (balas dendam yang tidak disadari). Selama sembilan belas tahun aku tinggal di Indonesia, aku tak punya uang di tanganku sendiri. Orang tuaku tidak memberikan uang saku atau uang jajan seperti teman-temanku lainnya. Ibuku jarang sekali membelikanku baju baru.

Berbelanja baju baru yg sesuai dengan usia dan gaya anak muda sebayaku tidak ada dalam kamus keluargaku. Ibuku tidak pernah memperhatikan mode pakaian. Aku mendapatkan pakaian-pakaian bekas dari saudara-saudaraku lainnya. Aku menyebutnya lungsuran dari saudara-saudara dan kerabat ku.

Ketika aku merantau ke negeri orang dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk membiayai semua kebutuhan hidupku dari A-Z, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan dari keringatku sendiri, salah satunya pakaian.

Tak hanya berkunjung ke toko online saja, aku suka juga mengamati gaya berpakaian dari para artis atau public figure. Saat aku memperhatikan penampilan mereka, aku pun segera mencari tahu barang yang mereka pakai. Aku mencari padanan barang yang sama, tetapi berharga terjangkau. Aku merasa puas bahwa aku bisa memakainya seperti mereka, meskipun harganya tak sebanding seperti mereka.

Aku merasa momen istimewa seperti hari raya atau hari ulang tahun saja, aku sudah memikirkan tentang penampilan apa yang akan kupakai. Momen seperti liburan ke negara A, B atau C, aku sudah memikirkan penampilanku sejak jauh-jauh hari dan kemudian membeli apa yang aku inginkan.

Follow us ruanita.indonesia

Kegilaanku berbelanja semakin menjadi-jadi akibat kemudahan pembayaran. Saat saldo di bank menipis, toko online favoritku menawarkan pilihan “bayar nanti” yang menggodaku dalam jeratan penyesalan. Menyesali barang yang dibeli tentu saja sering kualami, apalagi saat aku seharusnya membayar kewajibanku yang lebih penting dan utama. Apa boleh buat, aku sudah terlanjur membelinya.

Sebenarnya aku juga tak bisa menyebut diriku “gila belanja” karena barang-barang yang aku beli bukanlah barang bermerek dan berharga mahal. Namun aku merasa puas bahwa aku bisa memiliki barang-barang yang dulu begitu sulit untuk kubeli.

Tema gila belanja ini, seperti membangunkanku. Saat ini aku masih terus berusaha dan belajar untuk menahan “kegilaan” ini. Karena aku sadar, meskipun gila belanja ini tidak berefek secara langsung secara psikologis padaku, namun efek negatifnya pada dompetku yang menambah list kecemasanku, yang sebetulnya tidak akan ada jika aku bisa membatasi diriku.


Penulis: Anonim, mahasiswa yang tinggal di benua biru.

(AISIYU) Stop KDRT di Luar Negeri

Kepada Yth. 

Para Pria Warga Negara Asing (WNA)

di luar Indonesia

Salam hormat,

Saya mengatasnamakan para perempuan Indonesia yang menikahi pria WNA merasa prihatin atas maraknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di luar negeri. Sadarkah kalian bahwa orang yang dipukul, ditampar atau ditendang adalah orang yang ditiduri dan tempat kalian menyalurkan hasrat seks?

Sadarkah kalian bahwa kami telah meninggalkan tanah air, keluarga yang dicintai, pekerjaan dan kehidupan kami yang cemerlang hanya untuk bersatu dengan kalian di tanah asing ini?

Sadarkah kalian bahwa kami telah memilih hidup baru bersama kalian dengan belajar budaya dan bahasa yang baru di tanah rantau tetapi kalian malah mencaci, memaki, mengeluarkan umpatan kasar?

Follow us ruanita.indonesia

Sadarkah kalian bahwa kami juga ingin mandiri secara finansial tetapi kami terbelenggu dengan kemampuan bahasa, prejudice, kemampuan akademis sebelah mata hingga pendapat miring?

Kami ingin mengambil bagian dalam rumah tangga, tetapi kami masih mengurus rumah dari pagi hingga malam. Pekerjaan yang tak ada hentinya sementara kalian menikmati minuman alkohol di luar lalu mabuk, kami menjadi sasaran kekerasan di rumah.

Dahulu kalian meminang kami dengan cinta, apa daya kami luluh dengan impian bak puteri di negeri dongeng. Dahulu kami berharap tanah rantau memberikan sukacita hidup yang baru. Dahulu kami berpikir bahwa kami bisa hidup bahagia seperti apa yang dirasakan di negeri sendiri.

Sekarang kami mesti berhadapan dengan perangai kalian yang kasar dan tak tampak saat berpacaran dulu. Sekarang kami perlu waktu beradaptasi dengan budaya dan bahasa, bukan karena kami bodoh. Sekarang kami juga alami gagap budaya, stres dan depresi tetapi kalian malah merendahkan kami. 

Kami berjuang menjadi isteri terbaik dan penuh cinta, tetapi kalian berselingkuh dengan perempuan lain. Kami berjuang kerja apa saja karena kalian tidak berikan sepeser pun uang, bahkan untuk beli make up atau pergi ke ginekolog.

Kami lari ke “Rumah Aman” kami khawatir bahasa yang belum lancar. Kami lapor polisi, lalu kalian datang mengemis dan berjanji tidak mengulangi lagi. Saat kami kembali, kalian usir kami dan disuruh angkat kaki dari rumah. 

Tak tahukah bahwa berat rasanya hidup yang kami alami? Kami menikah tetapi kami tidak bahagia. Pada siapa kami mengadu, mereka hanya berkata “Salah sendiri, ngapain kawin sama bule.”

Hormat kami,

Perempuan Korban KDRT di luar negeri

(AISIYU) Stop Kekerasan pada Perempuan

Kawan-kawan yang baik, 

Kalimat yang mungkin sering didengar setiap kali ada kejadian kekerasan terhadap perempuan yang mencuat keluar dari batas-batas ruang, apakah ruang pribadi atau pun ruang umum.

Tetapi banyak juga peristiwa kekerasan yang bisa keluar dari batas pintu yang sering masih juga tak terlihat, karena banyak dari kita, orang-orang yang ada di sekeliling kekerasan itu terjadi seperti menjadi buta tak lagi melihatnya sebagai kekerasan, menjadi tuli karena tak lagi bisa mendengar suara permintaan tolong dari para korban. Kekerasan yang menjadi kenormalan keseharian.

Follow us ruanita.indonesia

Mengasah panca indera agar tak buta dan tuli terhadap kejadian-kejadian kekerasan yang seharusnya bisa dihentikan karena penguatan dari masyarakat di sekeliling kejadian kekerasan, adalah hal yang kita perlukan.

Apakah ada caranya? Tentu saja! Karenanya himbauan ini tak kutulis pada petinggi negara ini, tak kutulis pada ilmuwan dengan teori-teorinya. Surat terbuka ini, surat sederhana yang kutulis untukmu, Kawan!

Benar, kutulis barisan kata ini untukmu Kawan. Mari kita buka bersama mata, kita pertajam pendengaran, kita ketuk relung hati dan menerjemahkannya dalam pikiran yang teratur.

Mari kita melangkah bersama untuk menghentikan segala bentuk kekerasan pada perempuan dengan melihat dan mendengar dengan mata, hati, dan pikiran kita.

Mari serukan, viralkan bersama: Stop Kekerasan pada Perempuan!

Hamburg, 11.11.2021

Dyah Narang-Huth

Penulis: Dyah Narang-Huth adalah pengiat APPBIPA Jerman dan pendiri IKAT Sprachenwerkstatt.

(AISIYU) Surat kepada UN Woman

Dear UN WOMAN,

Perkenalkan nama saya Mentari. Usia saya mendekati setengah abad saat saya memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang warga negara asing. Saya membuat pilihan meninggalkan Indonesia dan tinggal di negaranya yang indah dan impian banyak orang. Saya tinggalkan semua yang saya punya, keluarga dan juga karir yang cukup bagus demi dia.

Namun hanya dalam hitungan bulan, mimpi indah yang saya impikan itu menjadi sebuah kenyataan buruk. Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri secara mental menerima dia apa adanya, tentunya dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Follow us ruanita.indonesia

Akan tetapi perbedaan kultur diantara kami sangat tidak bisa saya terima. Cara dia memperlakukan wanita sangat buruk. Ya, saya tidak memang tidak mengalami kekerasan secara fisik, namun saya mengalami kekerasan verbal dan mental. Bahkan setiap saat dia selalu mengusir saya dari rumahnya.

Kami para perempuan tidak diperbolehkan banyak melakukan aktivitas di luar dan tidak diberi nafkah materi. Kami hanya  bisa bekerja di rumah dan bersiap apapun saat suami membutuhkan. Ini memang kultur dan mungkin sulit untuk diubah. Tapi apakah perempuan tidak punya hak untuk bersosialisasi dan berkarya mengaktualisasikan jati dirinya?

Demikian dari saya, semoga  melalui surat terbuka ini, besar harapan saya ada sebuah wacana baru untuk kesamaan derajat para perempuan di belahan dunia manapun. Terima kasih.

Salam hormat,

Mentari