(CERITA SAHABAT) Pulang…

Rumah memiliki berbagai makna. Bagi beberapa orang, rumah adalah bangunan yang telah mereka tinggali secara bertahun-tahun. Bagi sebagian yang lain, rumah adalah makna, dimana mereka dapat merasa aman. Bagiku, rumah adalah tempat untuk pulang.

Aku sudah lama tinggal di negara ini, sekitar sepuluh tahun. Negara ini sudah terasa seperti rumah kedua untukku. Aku juga telah memiliki keluarga sendiri disini. Namun, kebanyakan teman-teman terdekatku dan keluargaku tinggal di negara asalku, Indonesia. Aku menyukai negara ini, bahkan mungkin aku menyukainya lebih dari negara asalku sendiri. Tapi Indonesia akan terus menjadi tempatku untuk pulang.

Salah satu hal terberat yang aku alami selama aku tinggal di negeri ini adalah jarak. Bagaimana jarak antara aku dan orang-orang yang dulunya adalah paling dekat denganku bertambah jauh dengan adanya perbedaan waktu, benua, budaya, dan lain sebagainya.

Bagaimana aku tidak pernah menghadiri pernikahan sahabat-sahabatku, kelahiran keponakanku, acara-acara keluarga, kumpul-kumpul bersama, terlebih lagi kucingku yang harus aku tinggalkan di Indonesia.

Bagaimana aku melihat orangtuaku bertambah tua dan mengetahui aku tidak bisa seenaknya hadir untuk mengunjungi mereka, terutama di saat pandemi melanda. Semua terkendala perkara delapan belas jam perjalanan via udara, urusan imigrasi, dan karantina delapan hari di bandara. 

Sudah dua tahun aku tidak bisa pulang. Sudah dua tahun pula aku mengalami homesick. Ada yang bilang, rindu itu menyakitkan. Di antara itu, rindu akan kampung halaman bagiku adalah salah satu yang paling menyakitkan. Dan aku ingin pulang.

Ditulis oleh Nadia M. Dari cerita seorang teman yang merindukan kampung halamannya. Ia berharap, tahun depan bisa pulang dan masih diberi kesempatan untuk bertemu orang-orang yang dia cintai, yang bertempat tinggal jauh di sana.

(SIARAN BERITA) Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, WNI di Jerman Gelar Diskusi Online

JERMAN – PPI Kiel bekerja sama dengan RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar acara diskusi online bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) yang diadakan secara daring pada Minggu, 10 Oktober 2021 dan diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Swedia dan tentunya dari Indonesia.

Acara ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg seperti yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hamburg Ardian Wicaksono. Dalam sambutan resminya, Ardian mengatakan bahwa WNI tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi Perwakilan Pemerintah Indonesia di luar Indonesia bilamana mendapatkan masalah seperti kekerasan dan pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan lain sebagainya.

Perwakilan Pemerintah RI di luar Indonesia seperti KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg telah memiliki regulasi yang terstandar untuk melindungi WNI. Selain itu, Ardian mengapresiasi inisiasi dari komunitas orang Indonesia di mancanegara seperti RUANITA – Rumah Aman Kita dan PPI Kiel yang telah menyiapkan acara diskusi online ini dengan baik.

KJRI Hamburg memberi perhatian penuh terhadap penanganan kasus yang dihadapi WNI di luar Indonesia. Aidil Khairunsyah menjelaskan langkah strategis perlindungan WNI yang mencakup tiga tahap yakni (1). Pencegahan melalui diseminasi informasi, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemberdayaan masyarakat; (2). Deteksi Dini melalui pengembangan data base berbasis IT, penyediaan hotline pengaduan dan sinkronisasi data; (3). Perlindungan Cepat dan Tepat melalui penyediaan shelter, pemberian bantuan hukum dan psikologis hingga repatriasi. Aidil berharap WNI di luar Indonesia bisa lebih tanggap dan tidak segan untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka.

Ada pun acara diskusi online ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober. Acara ini mendapatkan simpati dari peserta yang sebagian besar para pelajar/mahasiswa yang studi di Jerman dan di Indonesia.

Mahasiswa yang sedang studi S2 jurusan Psikologi di Universitas di Kiel sekaligus moderator, Firman Martua Tambunan mengatakan bahwa isu ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga informasi dan pengetahuan yang beredar di masyarakat belum tentu benar.

Firman menegaskan mitos-mitos seperti masalah kekerasan dan pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan saja, itu tidak benar. Dia berpendapat kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan berbagai kalangan usia.

Senada yang disampaikan Firman, Livia Istania DF Iskandar selaku Wakil Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI turut menjadi pembicara dalam diskusi online ini. Dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menghargai sisi korban dan saksi yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

Menurut Livia, tidak banyak korban dan saksi yang memahami hak-hak mereka dan pemahaman hukum yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Diskusi online ini diharapkan dapat menginformasikan tidak hanya sisi psikologis saja, tetapi juga sisi hukum yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Berkaitan dengan sisi psikologis, Ika Putri Dewi selaku Psikolog dari Yayasan Pulih Indonesia berpendapat ada tiga aspek penting untuk memahami kekerasan dan pelecehan seksual, antara lain aspek ketimpangan gender, aspek kapasitas/kemampuan dari pelaku kepada korban dan aspek relasi antara pelaku dengan korban.

Masyarakat perlu juga memahami dampak psikologis korban yang berkepanjangan sehingga kita tidak menyalahkan korban dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwajib.

Acara diskusi online berlangsung selama dua jam lebih dan ditutup tanya jawab yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagaimana pun kasus kekerasan dan pelecehan seksual bak gunung es yang tak tampak di permukaan. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada isu kesehatan mental, kesetaraan gender, dan berbagi praktik baik tinggal di luar Indonesia.

Ibarat rumah, RUANITA menjadi wadah yang aman untuk berbagi pengalaman, cerita, ilmu dan pengetahuan yang dianggap tabu dan tersembunyi untuk diketahui dan dipahami.

Siaran ulang diskusi online ini bisa disaksikan dalam video berikut:

(MATERI INFORMASI) Pahami KDRT dan Kelola Dampaknya

Untuk mendapatkan akses materi informasi yang disampaikan ibu Ika Putri Dewi dari Yayasan Pulih Indonesia, silakan isi formulir yang ditautkan. Kami akan segera memberikannya kepada Anda setelah Anda mengisi formulir tersebut. Konfirmasi bisa langsung kontak Admin ke info@ruanita.com.

Mari dukung keberlangsungan RUANITA – Rumah Aman Kita dengan follow akun media sosial kami di IG ruanita.indonesia, Facebook: Ruanita Ruanita dan Fanpage FB Ruanita – Rumah Aman Kita.

(CERITA SAHABAT) Inikah Cinta?

Siapa yang bisa menebak jalan kehidupan, termasuk jodohku dengan pria berkewarganegaraan asing. Sebelumnya aku pernah berpacaran lebih lama dengan pria asal Indonesia, tapi sayangnya dia tak jua meminangku. Pada akhirnya, pria berkebangsaan asing inilah yang datang melamar dan menunjukkan keseriusannya pada orang tuaku.

Keromantisannya melebihi mantan-mantan pacarku sebelumnya sehingga membuatku luluh dan menerima pinangannya. Kami menikah secara agama di Indonesia agar keluargaku di Indonesia tahu betapa aku adalah perempuan yang bahagia saat itu.

Usai menikah agama, kami putuskan untuk melakukan pernikahan secara sipil. Rupanya pernikahan beda negara memakan waktu yang berbelit-belit. Suami memutuskan menikah di negara ketiga, tidak di Indonesia atau pun tidak di negara dia. Dengan begitu, aku bisa segera bersatu dengan suamiku dan tinggal di negaranya.

Setelah kami berhasil menikah di negara ketiga, aku pun bisa tinggal bersama suamiku di negaranya. Aku memutuskan untuk meninggalkan Indonesia selamanya dan menetap bersama suami. Rupanya aku dan suami tinggal bersama ibu mertua. Suami belum bisa berpisah dari ibunya, dengan alasan ibunya yang selama ini menopang hidupnya.

Pertengkaran dengan suami biasa aku hadapi. Aku pikir itu wajar, bumbu pernikahan. Sebenarnya persoalan pertengkaran itu selalu sama, yakni ibu mertua yang selalu ikut campur urusan rumah tangga kami. Belum lagi perlakuan ibu mertua yang kasar terhadapku, terkadang membuatku menangis dan tersiksa. 

Aku sudah sampaikan kepada suamiku tentang ibu mertua. Setelah itu, kami pun bertengkar, bahkan hampir setiap hari. Ibu mertua menganggapku bodoh karena aku hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris saja. Jika aku tidak di rumah karena aku harus bekerja atau pergi kursus bahasa, ibu mertua akan ‘meracuni’ suamiku dengan berbagai informasi yang tidak benar. Kami pun bertengkar lagi.

Follow us: @ruanita.indonesia

Suamiku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak pertamanya juga menikahi perempuan asal Asia. Menurutku, pernikahan campuran bukan menjadi kendala untuk keluarga suamiku. Namun perlakuan kakak ipar dan kakak pertama justru berbeda dengan yang aku pikirkan. Aku kerap merasa direndahkan, di-bully, diremehkan dengan kalimat-kalimat yang memandang sebelah mata.

Pernikahanku baru berjalan di bawah lima tahun, tetapi aku sudah tak tahan lagi. Aku sudah beberapa kali diusir suamiku keluar dari rumah. Suamiku juga sering mengusirku jika dia tidak sependapat denganku dan lebih membela ibunya. Aku pernah mengepak barang-barangku untuk pulang ke Indonesia, tetapi aku berpikir ulang dan mencoba bertahan lagi.

Setiap hari aku menangis dan merasa tidak bahagia. Suami hanya berjanji, kita akan pindah rumah setelah uang tabungan terkumpul beberapa tahun lagi. Aku sebenarnya ingin tinggal di luar dan ngontrak di tempat berbeda, tetapi gajiku tak cukup untuk membayar sewa. Aku pun sudah bertanya ke KJRI tentang proses perceraian, tetapi ada prosedur legalisasi menikah yang missed karena aku menikah di negara ketiga.

Pukulan kecil, cacian, makian, pertengkaran demi pertengkaran aku alami selama aku menikah. Aku merasakan kecemasan yang berlebihan, ketakutan dan rendah diri. Aku berusaha untuk bertahan dan mencari solusi dengan datang ke Konselor Perkawinan. Suami tidak mendukung ide itu karena semua itu perlu uang.

Aku sendiri hanya dua kali mendapatkan uang dari suamiku selama kami menikah. Itu sebab aku bekerja sehingga aku punya uang untuk membeli yang kumau. Perkataan kasar dan kalimat meremehkan sering aku terima. Ternyata perlakuan yang sering aku alami ini adalah bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang baru aku ketahui setelah aku mengikuti webinar bertema KDRT di luar negeri.

Fokusku sekarang adalah belajar bahasa sungguh-sungguh agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di negeri asing ini. Aku juga ingin melanjutkan studi di negeri suamiku ini. Seandainya gajiku cukup untuk bayar sewa tempat tinggal, aku pasti sudah hengkang dari rumah itu.

Penulis: T, perempuan Indonesia dan tinggal di salah satu negara di Eropa.

(IG LIVE) Ini Alasan Kita Perlu Datang ke Diskusi Online Bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual

JERMAN – RUANITA: Rumah Aman Kita bekerja sama dengan PPI Kiel baru-baru ini (24/9) menggelar IG Live bertajuk: Mengapa Kita Perlu Datang ke Webinar Bertema KPS? Acara ini dihadiri oleh Ika Putri Dewi, Psikolog dari Yayasan PULIH – Indonesia.

Webinar Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) sendiri rencananya akan digelar pada Minggu, 10 Oktober yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia. Hal ini sejalan dengan fokus RUANITA – Rumah Aman Kita yang bertujuan meningkatkan promosi kesehatan mental untuk WNI di luar Indonesia dan membahas praktik baik kehidupan di luar Indonesia.

Ada pun Ika Putri Dewi akan menjadi salah satu narasumber dari tiga yang dihadirkan dalam webinar tersebut. Ika menyambut baik ajakan untuk sadar akan informasi yang benar dan tepat tentang Kekerasan dan Pelecehan Seksual.

Ika mengatakan Yayasan Pulih sendiri sudah lama bergerak untuk membangun kesadaran masyarakat akan Kekerasan Berbasis Gender ini melalui berbagai pendekatan psikoedukasi dan pendampingan psikologis.

Menurut Ika, ada 4 alasan sebagai WNI yang tinggal di luar Indonesia untuk datang ke webinar ini:

1. Dengan hadir di seminar ini diharapkan kita bisa memahami Kekerasan Berbasis Gender mulai dari akar masalah, penyebab hingga dampak terjadinya.

2. Dengan hadir di seminar ini, kita belajar bagaimana menangani Kekerasan Berbasis Gender sebagai korban. Tentunya kita bisa menolong orang lain yang menjadi korban.

3. Kita bisa mengetahui regulasi atau aturan proses hukum dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan standar perlindungan WNI di luar Indonesia seperti di Jerman yang dibawakan langsung oleh KJRI Hamburg.

Sebagai WNI kita bisa mengetahui informasi yang benar dan tepat dalam menangani kasus Kekerasan Berbasis Gender dari perspektif psikologi dan hukum. Demikian penjelasan yang diberikan Ika selaku Psikolog yang telah lama menangani berbagai kasus Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia.

Lebih lanjut Ninik Lottes selaku WNI dan Mahasiswa yang sedang studi di Jerman menyadari pentingnya kita memperkuat pemahaman tentang isu ini agar kita bisa mencegah dan menanggulangi kasus serupa bermunculan. Bagaimana pun ini adalah bentuk solidaritas sebagai WNI untuk bisa menolong korban Kekerasan Berbasis Gender bilamana diperlukan.

Acara ditonton dari berbagai follower akun RUANITA @ruanita.21, akun PPI Kiel dan tentunya Yayasan Pulih yang juga berpartisipasi dalam acara ini. Anna selaku Moderator dari RUANITA – Rumah Aman Kita mengingatkan lagi cara mendaftarkan diri yang mudah untuk siapa saja baik yang tinggal di luar Indonesia maupun mereka yang tinggal di Indonesia. Daftar keikutsertaan melalui formulir https://bit.ly/RUANITA_PPIKIEL.

Anna menegaskan kekerasan dan pelecehan seksual bisa terjadi tidak hanya di dunia nyata saja, tetapi juga dunia maya. Kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ranah privat saja, tetapi juga ranah umum. Kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja, tetapi siapa saja dan berbagai kalangan usia.

(CERITA SAHABAT) Karena Rumput Tetangga Belum Pasti Lebih Hijau

Setiap kali orang mengetahui kalau aku bersekolah di luar negeri, mereka selalu berkata, “Wah, enak ya kuliah di luar negeri, jalan-jalan terus! Aku lihat di instagram kamu, seru ya? Pasti gak kaya di Indonesia yang kuliahnya tugas melulu! Irinya…“ 

Aku hanya bisa tersenyum. Ya jelas saja, siapa sih yang mau update kesusahannya di Instagram? Tentunya, seperti orang-orang lain, aku hanya mengunggah foto-fotoku disaat aku senang di Instagram. Aku sudah kebal mendengar kalimat-kalimat seperti itu. 

Tadinya aku merasa konyol dan akan menyanggah perkataan mereka. Namun, aku sudah terlalu sering mendengarnya, jadi aku hanya tersenyum. 

“Andai saja kalian tahu, kalau aku jauh lebih iri pada kalian” sahutku dalam hati. Bagaimana tidak? 

Teman-teman seangkatanku saat SMA dulu sudah lulus kuliah beberapa tahun yang lalu dan sudah meniti karier masing-masing. Sementara aku? 

Sudah beberapa tahun lamanya, aku masih berstatus sebagai mahasiswa S1 di Jerman. Banyak juga yang menyindir, bahkan orangtuaku pun kadang menyindir halus, kenapa aku belum lulus-lulus juga. 

Apa boleh buat, banyak kendala yang membuat aku harus terus menyandang gelar “Mahasiswa Abadi” ini. 

Kadang aku berkilah, “Hei, bahkan orang Jerman juga butuh waktu lama untuk lulus S1, tahu!“ kadang mereka mau mengerti, kadang mereka masih suka nyinyir. Itu tidak terlalu menggangguku, tapi ada saatnya aku menyesali keputusanku untuk kuliah di negara ini.

Seandainya waktu itu aku tidak memutuskan untuk merantau, mungkin aku sudah seperti mereka. Sudah lulus dan dapat kerja. Mungkin juga sudah menikah? Yang penting, aku tidak perlu mengikuti perkuliahan dalam bahasa asing.

Jurusan yang aku pilih sudah cukup sulit, dipersulit lagi dengan kendala bahasa. Aku pun bukan orang kaya yang serba berkecukupan bahkan lebih, jadi di saat waktu senggang, aku harus bekerja part-time di berbagai tempat. 

Jangan salah, aku bersyukur karena memiliki pengalaman ini. Sewaktu aku melihat teman-teman sepantaranku dulu, mau tidak mau aku terus membandingkan mereka dengan situasiku sekarang. 

Ketika perasaan insecure dan rendah diri melanda, aku menenangkan diriku dengan berpikir, “Hei, bukankah kamu juga hanya melihat mereka disaat mereka senang? Seperti aku, mungkin saja mereka punya kesusahan yang mereka sembunyikan dari mata sosial media. Seperti mereka, aku pun hanya melihat satu porsi dari kehidupan mereka!“ 

Setelah berpikir seperti itu, aku merasa lebih tenang kembali.

Sekarang, saat berkumpul dengan sesama pejuang dari Indonesia, kami hanya tertawa saat mendengar perbandingan-perbandingan di antara situasi kami dengan situasi teman-teman kami di Indonesia. Perasaan ingin menyerah tentu saja tetap ada, terlebih saat berhadapan dengan Kantor Imigrasi Jerman. Namun semua ini adalah proses, jadi, nikmati saja seluruh prosesnya. 

Memang, rumput tetangga itu belum pasti lebih hijau dibanding rumput sendiri… 

Penulis: A adalah salah seorang Mahasiswa S1 Abadi di Jerman. Umurnya hampir mencapai kepala 3. Hobinya adalah jalan-jalan, olahraga, dan fotografi. Dia anak yang rajin dan senang bekerja serta mencari relasi. Dia berharap untuk bisa menikahi kekasihnya sesegera mungkin di Indonesia.

(MATERI INFORMASI) Mengenali Gangguan Kecemasan Akibat Tuntutan Berbahasa Asing

Ilustrasi.

Sudahkah Anda membaca CERITA SAHABAT yang di link ini?

Gangguan kecemasan adalah salah satu hal yang acapkali dialami oleh orang Indonesia di luar negeri. Penyebab munculnya gangguan kecemasan pada orang Indonesia di luar Indonesia di antaranya adalah perasaan rendah diri, minder dan malu dikarenakan perbedaan bahasa yang sangat drastis, seperti yang dialami seorang mahasiswi yang sedang studi di Jerman dan diceritakan di atas.

Menurut Mayo Clinic, seringkali orang yang mengalami gangguan kecemasan memilih untuk menghindari hal hal yang mengakibatkan kecemasan tersebut sepenuhnya.

Berdasarkan cerita sahabat ini, dia memilih untuk menghindari berbahasa Jerman selama enam tahun. Tentunya situasi itu tidak ideal, karena dia tinggal di Jerman dan dituntut untuk selalu berbahasa Jerman untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Definisi Kecemasan

Banyak orang mengalami perasaan cemas atau stres selama hidup mereka. Seringkali itu sebagai respons terhadap situasi di mana seseorang merasa di bawah tekanan, dan perasaan ini biasanya berlalu begitu tekanan mereda.

Kecemasan lebih dari sekadar perasaan cemas atau stres. Itu adalah ketika perasaan cemas tidak berlalu, sering terjadi dan mungkin menghentikan Anda melakukan apa yang ingin Anda lakukan. Orang yang mengalami kecemasan dapat merasa sangat sulit untuk mengelola gejala mereka.

Tanda mengenali Kecemasan

Ada berbagai cara untuk menghadapi gangguan kecemasan, seperti mempelajari penyebab kecemasan dan mencurahkan hati kepada teman, keluarga, atau mencari pertolongan secara medis dan profesional.

Seseorang berusaha menghindari situasi yang memprovokasi perasaan cemas seperti gejala kecemasan umum berikut: berkeringat gemetar, merona, sering ke toilet, sesak napas, perut bergejolak, jantung berdebar kencang, pusing, takut dipermalukan, hingga kesulitan berkonsentrasi untuk membuat keputusan.

Latihan Praktis Atasi Gangguan Kecemasan Umum

  1. Bersikap rileks dan berpikir bahwa semua baik-baik saja.
  2. Tarik napas dalam-dalam dan katakan ‘saya bisa melakukan ini’
  3. Berbicara dengan keluarga, teman atau profesional kesehatan jika ini mengganggu/membahayakan.
  4. Keluar dan cari suasana baru.
  5. Fokus pada tugas, bukan apa yang dipikirkan orang lain.
  6. Ingat bahwa kecemasan pernah kamu alami dan semua berjalan baik, mengapa sekarang saya harus cemas juga?

Studi tentang kecemasan

Gangguan kecemasan sering terjadi pada siapa pun. Menurut National Institute of Mental Health, 19% orang Amerika di atas usia 18 tahun memiliki gangguan kecemasan pada tahun lalu, dan 31% orang Amerika akan mengalami gangguan kecemasan selama hidup mereka.

Salah satu gangguan kecemasan yang paling umum adalah gangguan kecemasan umum yang disertai dengan gejala fisik kecemasan seperti berkeringat, perut bergejolak, sering ke toilet dll.

Punya cerita lain tentang kecemasan tinggal di luar Indonesia? Bagikan ke sini ya!

Program Instagram : IG Live Bulanan dan Video Reels Mingguan

Setiap bulan kami menggelar diskusi virtual yang membahas tema-tema menarik seputar tema yang sedang kami angkat saat itu. Diskusi virtual ini menggunakan platforma IG Live lewat akun Instagram: ruanita.indonesia yang berlangsung selama 30-45 menit. Diskusi virtual thematic ini biasanya mendatangkan dua tamu yang berbicara seputar pendapat dan pengalaman mereka terkait tema yang sedang diangkat.

Sejak Januari 2022 IG live dipandu oleh Ferdyani Atikaputri (=nama panggilan Atika) yang sedang menempuh studi S2 di Jerman. Dia akan mengundang tamu untuk berbicara banyak seputar tema-tema khusus dan sudah dipersiapkan sebelumnya. IG Live biasanya berlangsung tiap Sabtu pada jam 10.00 pagi waktu Eropa. Lewat diskusi virtual ini, Atika akan mengajak para follower akun ruanita.indonesia atau siapa saja untuk bertanya atau berkomentar terkait topik tersebut.

Bagi Anda yang penasaran/terlewatkan dengan IG Live yang sudah berlangsung, Anda masih bisa menyimaknya lagi lewat IGTV ruanita.indonesia atau melalui saluran YouTube RUANITA – Rumah Aman kita. Anda juga bisa mengontak tim dapur konten Ruanita bila ada saran/tanggapan seputar IG Live kami.

Selain IG Live, tim Reels juga telah menyiapkan cuplikan video Reels yang ditayangkan tiap Sabtu/Minggu tentang sejumlah tema yang ditawarkan atau video Reels menarik lainnya. Dengan kemasan video yang singkat dan informatif, Tim Reels berharap dapat menjangkau khalayak tentang pesan-pesan yang disampaikan oleh RUANITA.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang program Instagram, sila follow kami di akun ruanita.indonesia yang menawarkan konten harian, mingguan dan bulanan.

(CERITA SAHABAT) Menjadi “Other” Menuju Perjuangan Identitas

“Your German is terrible. I can’t understand anything you said at all,” potong profesor saya, di saat saya sedang melakukan presentasi tentang pengungsi dan imigrasi paksa di kelas Antropologi Migrasi di suatu universitas di Jerman.

Saya dapat melihat teman-teman sekelas saya bertukar pandangan, wajah mereka memancarkan ketidakpercayaan dan horror. Perlahan wajah saya memucat.

Dengan tangan bergetar, saya berusaha melanjutkan presentasi saya tetapi profesor saya berdecak tidak sabar.

“Tidak perlu dilanjutkan, Anda terdengar seperti Google Translate. Apa Anda terlalu malas untuk menulis ulang presentasi ini dalam bahasa Jerman yang baik dan benar? Sudah cukup saya mendengarnya, silakan kembali!“ sahutnya.

Saya buru-buru menyelesaikan presentasi saya dan kembali ke tempat duduk. Teman satu kelompok saya hanya bisa memandangi saya dengan pandangan setengah kesal dan setengah iba.

Saat itu, saya baru saja mulai kuliah. Ersti, begitu mereka memanggil mahasiswa baru semester pertama. Apa saya menggunakan Google Translate? Ya dan tidak.

Memang betul, saat itu kemampuan bahasa Jerman saya masih buruk. Saya menggunakan bantuan Google Translate untuk menerjemahkan beberapa kalimat tetapi saya masih perbaiki dan tulis ulang.

Saya berusaha menjelaskan itu kepada profesor saya. Namun dia tidak bergeming.

“Lebih baik anda bicara bahasa Inggris saja, daripada anda menggunakan Google Translate untuk berbicara Bahasa Jerman!” katanya saat itu.

Setelah perkuliahan itu berakhir, teman-teman sekelas saya menghibur saya.

“Jangan pikirkan dia!“ kata mereka.

“Kami dapat mengerti apa yang kamu bicarakan. Kami tidak tahu kenapa dia bisa berpikir seperti itu tetapi kami berpikir bahasa Jerman kamu cukup bagus.“

Saya hanya dapat berterima kasih kepada mereka. Sejak saat itu, saya memiliki trauma untuk berbicara bahasa Jerman terutama di depan orang banyak. Sampai lima tahun setelah kejadian tersebut, saya masih belum bisa bicara bahasa Jerman.

Selama kuliah S1 saya kebanyakan diam atau berbicara dengan bahasa Jerman patah-patah yang dicampur Bahasa Inggris. 

Kejadian ini menegaskan posisi saya sebagai “The Other” di kelas. Secara harafiah, Other berarti “yang lain.” Secara antropologis, Other memiliki arti “anggota kelompok luar yang didominasi, yang identitasnya dianggap kurang” (Staszak 2008).

Identitas saya di kelas adalah orang asing yang tidak lahir dan besar di Jerman dan tidak bisa berbahasa Jerman dengan baik pula. Terlebih di kelas saya satu-satunya murid yang mengenakan hijab.

Teman-teman dan pengajar sangat mengakomodasi kelemahan saya dalam berbicara bahasa Jerman. Namun segala perlakuan tersebut semakin menegaskan tembok antara saya dan mereka.

Itu adalah awal dari gangguan kecemasan saya. Selama lima tahun saya kuliah S1, saya menghadapi beberapa situasi di mana kesehatan mental saya benar-benar terpuruk.

Saya didiagnosa gangguan panik, gangguan kecemasan, dan depresi. Ditambah saat tahun ketiga, saya terancam harus drop out jika saya tidak lulus salah satu ujian yang dilaksanakan secara lisan dalam bahasa Jerman.

Syukurlah! Pada akhirnya saya berhasil lulus S1 dengan nilai yang baik. 

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menjadikan pengalaman saya sebagai “motivasi.“ Pada kenyataannya tidak mudah menjadikan trauma sebagai motivasi.

Saya memerlukan lebih dari lima tahun untuk akhirnya dapat berbicara bahasa Jerman tanpa harus merasa panik dan takut jika lawan bicara saya akan menyuruh saya diam.

Saya menyadari bahwa pengalaman saya bisa dialami oleh siapa saja yang sedang menjadi “Others.” Oleh karena itu, saya ingin mengucap kepada para “Others” terima kasih telah berjuang sampai saat ini.

Penulis: Nadia M, yang saat ini tinggal di desa di wilayah timur laut Jerman. Dia suka menulis artikel semi-ilmiah yang berhubungan dengan pengalaman dan kegemarannya. Hobinya adalah mengitari desa sambil berharap dia bisa bertemu kucing. Dia akan memulai kuliah S2 Social Anthropology pada winter-term ini. Dia berharap untuk menjadi peneliti orang Indonesia di Jerman.

(MATERI INFORMASI) Pentingnya “Self-Care” Untuk Kesehatan Mental

Hidup dan tinggal di luar Indonesia bukan hal yang mudah. Kita perlu beradaptasi mengikuti budaya dari negara yang kita tempati. Terkadang kita merasa stress mengejar tuntutan hidup sebagai mahasiswa, karyawan atau penduduk yang tinggal di negeri perantauan.

Saat kita berupaya memenuhi ambisi tinggal dan hidup di tanah perantauan, sadarkah kita bahwa kita lupa akan diri sendiri? Kita memikirkan tentang bagaimana bisa bertahan hidup di negeri orang. Kita memikirkan tentang keluarga yang kita tinggalkan di Indonesia. Namun kita tidak memikirkan diri sendiri. Kita lupa bahwa kita perlu meluangkan waktu juga untuk diri sendiri.

Self-care itu perlu dilakukan setidaknya satu kali dalam seminggu. Self-care berarti kita menyediakan waktu untuk diri sendiri, bersikap relax dan menepikan diri dari kesibukan yang menyita waktu kita selama ini. Self-care penting sebagai nutrisi tubuh, pikiran dan jiwa kita agar menyadari bahwa kita begitu berharga sebagai pribadi.

1. Emotional Self-Care

Adalah aktivitas yang membantu kita lebih rileks, tenang dan mengelola suasana hati menjadi lebih baik seperti menulis jurnal, bermain musik, melukis, menari, dll.

Membuat jurnal pribadi misalnya perlu dilakukan agar kita bisa menyadari rasa syukur atas hidup yang terlewati. Bagaimana pun bersyukur itu perlu dilakukan, tetapi kadang kita lupa mendokumentasikan. Menuliskannya akan membantu kita mengingat hal-hal yang kita syukuri dan sudah berlalu.

2. Social Self-Care

Adalah aktivitas yang membuat kita terhubung dengan orang lain dalam kehidupan kita seperti makan bersama keluarga, mengunjungi oma-opa atau rehat dari media sosial.

Media sosial bisa bermanfaat tetapi juga bisa menjadi mudarat. Sesekali detox media sosial akan membuat kita lebih tenang dan menemukan kenyataan yang sesungguhnya.

3. Physical Self-Care

Aktivitas yang membuat tubuh kita bergerak sehat seperti berkebun, berjalan, bersepeda, berkemah, bermain dengan binatang peliharaan, dll.

Bergerak tidak hanya membuat kita lebih sehat, tetapi membuat kita menyadari bahwa hidup itu tidak membosankan. Temukan pengalaman menyenangkan dari aktivitas yang kita lakukan.

4. Mental Self-Care

Aktivitas yang meransang kerja dan fungsi otak seperti membaca buku, pergi ke museum, bermain games, menonton dll.

Membaca buku misalnya bukan hanya meningkatkan pengetahuan saja, tetapi meningkatkan kesadaran diri terhadap apa yang dibacanya dengan realita kehidupan yang dihadapinya.

5. Spiritual Self-Care

Aktivitas yang meningkatkan aspek spiritualitas hidup kita sehingga kita menjadi lebih bersemangat seperti meditasi, yoga, ikut kelompok ibadah, mendengarkan lagu rohani dll.

Kebutuhan spiritualitas diperlukan untuk mengurangi tension dan beban yang kita hadapi. Aktivitas ini bisa dilakukan secara berkelompok atau secara pribadi. Sesuaikan dengan minat atau kebutuhan kita. Dengan demikian kita sadar bahwa segalanya baik-baik saja.

Dari kelima hal di atas, kita perlu juga meluangkan waktu sejenak dari rutinitas di depan komputer atau meja kerja setelah bekerja. Dengarkan suara di sekitar atau hiruplah udara sekitar. Terakhir, perhatikan pula pola tidur agar jiwa raga kita pun tetap sehat.

Butuh teman konseling, kirimkan ke konseling@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Baru Injak 6 Bulan, Begini Caraku Atasi Kesepian di Luar Indonesia

Namaku Stevany. Setelah lulus SMA di Medan, aku bertekad ingin mencari pengalaman di negeri orang. Pilihanku jatuh ke Jerman, yang letaknya ribuan kilometer dari Indonesia.

Program yang aku ikuti untuk tinggal di Jerman adalah Au Pair. Program Au Pair adalah program pertukaran budaya di mana aku tinggal bersama keluarga orang Jerman.

Lebih tepatnya aku tinggal di Bavaria, Jerman bagian Selatan. Program Au Pair ini berlaku selama setahun. Di sini aku belajar bahasa, budaya dan kebiasaan orang Jerman.

Aku belajar lebih mudah bahasa Jerman melalui kehidupanku sehari-hari bersama mereka. Aku juga mendapatkan kesempatan belajar bahasa Jerman lewat kursus daring yang dibiayai keluargaku yang aku tempati.

Aku sudah menginjak bulan keenam tinggal di Jerman. Tak mudah rasanya hidup jauh dari orangtua. Aku pun kadang merasa kesepian, bila aku ingat kehidupanku di Indonesia dulu.

Jika kesepian melanda, aku biasanya menelpon keluargaku yang ada di Indonesia. Aku senang mendengar suara dan kabar orangtua dan kedua adikku.

Cara lainnya untuk atasi kesepian adalah membaca buku. Kegemaranku membaca buku sangat menolongku buat mengusir sepi di negeri roti dan sosis ini.

Cara berikutnya yang aku lakukan adalah menonton film dan video tak berbayar yang mudah kudapatkan di sini. Internet di sini punya koneksi yang baik dan memudahkan aku mencari apa yang aku mau.

Terakhir, aku menyiasati kesepian dengan pergi berjalan-jalan ke taman. Di tiap kota di Jerman tersedia Taman sebagai ruang publik yang gratis.

Berjalan kaki juga menjadi kebiasaan orang Jerman yang aku tiru selama aku tinggal di Jerman. Jika aku sudah berjalan kaki, aku merasa rileks kembali.

Semoga ceritaku menginspirasi kalian semua yang sedang berjuang dan tinggal di luar Indonesia ya. Videonya bisa dilihat di sini.

Penulis: Stevany Hutabarat, seorang perempuan milenial yang sedang tinggal di Bavaria, Jerman.

(DISKUSI OFFLINE) Meninjau Hukum Kawin Campur: Dari Menikah Hingga Berpisah

Kawin campur merupakan perkawinan antara dua orang yang memiliki dua kewarganegaraan, yakni Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Angka kawin campur mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun peningkatan jumlah kawin campur juga diiringi juga oleh peningkatan angka perceraian yang didaftarkan dan tidak didaftarkan secara hukum.

Dalam memulai langkah kawin campur, pasangan seyogyanya mendapatkan bekal pengetahuan yang baik mulai dari sebelum menikah hingga setelah menikah, termasuk konsekuensi hukum yang terjadi bila keduanya memutuskan perceraian.

Tak hanya itu, pasangan kawin campur pun harus paham mengenai hak dan kewajiban hukum yang kadang diabaikan.

Tiap negara yang menjadi wilayah tinggal pasangan kawin campur memiliki kebijakan hukum yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, kami akan menggelar webinar yang bertema “Meninjau Hukum Kawin Campur: Dari Menikah Hingga Berpisah” dari sudut pandang hukum negara Indonesia dan salah satu negara Eropa.

Hal ini dimaksudkan untuk membekali pengetahuan hukum pasangan kawin campur yang dibawakan langsung oleh tenaga ahli yang kompeten.

Simak diskusi offline berikut ini:

Subscribe kanal YouTube untuk mendukung kami.

(DISKUSI ONLINE) Ada Apa dengan KPS?

WHO dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan mewabah di tiap negara dan budaya seperti pandemi.

Jika dunia sekarang meredam laju penyebaran virus yang disebabkan pandemi Covid-19, lalu bagaimana dengan kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan?

Setidaknya 1 dari 3 perempuan secara global pernah mengalami pengalaman buruk sebagai korban kekerasan dan pelecehan seksual.

Secara global 7% perempuan telah diserang secara seksual oleh orang lain selain pasangan hidupnya. Selain itu, 38% pembunuhan terhadap perempuan secara global dilakukan oleh orang terdekatnya.

Seperti halnya perempuan, laki-laki juga mengalami kekerasan dan pelecehan seksual dengan bentuk yang berbeda.

Laki-laki biasanya enggan melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya dikarenakan malu, takut, rasa bersalah hingga stigma.

Follow kami: ruanita.indonesia

Karena kurangnya pelaporan kekerasan seksual dan sedikit bukti sehingga muncul keyakinan kekerasan seksual hanya masalah perempuan saja.

Laki-laki, perempuan dan siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual. Kita harus mencegahnya demi pembangunan manusia yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Fenomena sosial ini menjadi landasan mengapa RUANITA bersama PPI Kiel menyelenggarakan Webinar bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual ini.

Webinar ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg agar persoalan sosial ini bisa teratasi. Tidak hanya masalah sosial saja, aduan dari masyarakat juga memperlihatkan gangguan psikologis dan traumatis yang perlu ditangani secara psikologis.

Kajian keilmuan mengenai kekerasan dan pelecehan seksual dari ilmu perilaku akan dibahas tuntas oleh Psikolog dari Yayasan PULIH di Indonesia, yang ahli dan kompeten menangani kasus serupa.

Selain itu, kita akan mendegarkan topik Kebijakan Perlindungan Hukum terhadap Korban/Saksi yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual yang disampaikan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban – LPSK RI.

Acara ditutup dari pemaparan standar hukum perlindungan WNI di luar negeri yang dibawakan oleh KJRI Hamburg.

Para peserta yang diharapkan hadir adalah warga Indonesia yang bermukim di Eropa dan mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Jerman serta Eropa sekitarnya.

Webinar ini pastinya terbuka untuk umum agar meningkatkan kesadaran diri tentang pentingnya pencegahan Kekerasan dan Pelecehan Seksual.

Pada dasarnya, kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ranah privat, tetapi juga ranah publik. Kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Pun kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja.

Catat waktunya, Minggu 10 Oktober 2021 yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia dan pendaftaran dibuka untuk umum via https://bit.ly/RUANITA_PPIKIEL atau formulir di link yang ditautkan.

(CERITA SAHABAT) Program Cerita Sahabat

Kehidupan di luar Indonesia tidak seperti kisah negeri dongeng yang mendatangkan fantasi keindahan, tetapi juga kenyataan yang pahit yang juga harus dihadapi.

Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang adalah pepatah yang menggambarkan bahwa hidup di negeri orang bukan perkara yang mudah pun susah.

Cerita yang dikemas berdasarkan pengalaman ini diharapkan dapat menambah wawasan bahwa kehidupan di luar Indonesia tidak untuk dibandingkan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Bagaimana pun pengalaman tinggal di luar Indonesia menginspirasi penulis dan mendapatkan lesson learned yang dapat menginspirasi orang lain juga.

Ceritakan pengalaman sahabat tentang kehidupan di luar Indonesia dalam bahasa Indonesia dengan ketentuan berikut:

  1. Penulis tidak harus tinggal di luar Indonesia.
  2. Cerita menyebutkan lokasi negara kejadian, ditulis dalam bentuk Ms. Word dan spasi 1,5.
  3. Cerita merupakan pengalaman sendiri dan boleh pengalaman orang lain (sebutkan sumbernya) asalkan cerita bukan plagiat sebagian atau seluruhnya.
  4. Cerita belum diterbitkan dalam media mana pun.
  5. Cerita dilampirkan dalam formulir https://bit.ly/Sahabat-Ruanita dan tidak ada batas waktu pengiriman.
  6. Sertakan juga biodata penulis singkat, tidak lebih dari 5 kalimat tentang apa yang ingin publik ketahui tentang diri penulis.

Jika cerita sahabat terpilih maka Admin RUANITA akan menghubungi Anda via email. Cerita yang terpilih akan ditayangkan di website RUANITA kemudian bagikan cerita tersebut dalam laman media sosial Anda.

Kesempatan menarik lainnya? Tunggu pengumuman selanjutnya ya!