Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Penulis: Admin RUANITA - Rumah Aman Kita
"Rumah" orang Indonesia di luar Indonesia di mana kita bisa berdiskusi & berbagi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik dalam konteks Transnational Cultural Psychological.
Aku mulai hidupku di Jerman sejak tahun 2015. Aku putuskan untuk melanjutkan studi lagi di salah satu negara bagian (=Bundesland) setahun kemudian. Studi itu mengantarkanku pada pekerjaanku di negeri panzer ini. Ya, aku bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak yang biasa disebut begitu kalau kita tinggal di Indonesia.
Setiap semester perkuliahan, aku mendapatkan praktik kerja untuk mengajar di taman kanak-kanak. Oh ya, pemberlakukan usia anak-anak masuk Kinderkrippe, semacam tempat penitipan anak, dengan Kindergarten, sebutan taman kanak-kanak berbeda-beda sesuai kebijakan negara bagian di Jerman.
Di negara bagianku, anak-anak yang masuk Kinderkrippe adalah mereka yang berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Sedangkan anak-anak yang masuk Kindergarten adalah mereka yang berusia 3 hingga 6 tahun. Aku memilih mengajari anak-anak di taman kanak-kanak. Alasannya, aku tak terlalu sabar mengurus anak-anak yang masih terhitung bayi dan dini sekali.
Selepas kuliah tiga tahun, aku kembali bekerja di taman kanak-kanak yang sudah mempekerjakanku sebelum aku lulus kuliah. Aku suka berinteraksi dengan anak-anak. Mereka mengajariku untuk sabar dan kreatif. Apalagi taman kanak-kanak di tempatku bekerja mengusung “teiloffenen Konzept” yang benar-benar mengubah cara berpikirku bagaimana menjadi guru TK yang membuat anak happy dan mandiri.
Di sini kami memiliki ruang-ruang khusus sehingga anak bebas bergerak seperti kehendaknya. Kami punya ruang kreatif dan ruang olah raga, di mana anak-anak bisa berlari-lari, panjat-panjat atau bermain bola. Ruang tersedia boneka, pakaian seperti pakaian polisi atau pakaian dokter yang kami sebut ini adalah ruang teater. Anak-anak tentu senang sekali bisa bermain peran.
Anak-anak yang suka bermain musik pun bisa masuk ke ruang musik di mana kami menyediakan instrumen musik khusus anak-anak. Tak lupa ada juga ruang konstruksi di mana anak-anak bisa bermain lego atau membuat bangun ruang sesuai keinginan mereka. Tak hanya itu, ada juga ruang bermain, ruang makan, ruang tidur dan ruang kelas yakni ruang yang menjadi mayoritas anak-anak beraktivitas.
Aku bekerja tujuh hari di taman kanak-kanak tersebut. Tiap hari aku punya tiga aktivitas pilihan untuk anak-anak. Anak-anak tidak aku paksakan untuk mengikuti aktivitas yang aku sarankan ke mereka. Mereka bisa berpindah ke grup kelas lainnya jika mereka suka. Misalnya aku mengajar di grup A, maka anak-anak bisa saja ingin berpindah ke grup B atau C.
Sebagai gambaran misalnya, suatu hari aku mengatakan bahwa aku punya aktivitas bernyanyi. Kemudian ada anak yang tak ingin bernyanyi dan diam saja, ya sudah. Atau anak tersebut memilih untuk masuk ke ruang-ruang yang tadi dijelaskan di atas. Itu pun tidak masalah. Jadi kami mengajari konsep kebebasan untuk anak. Anak bebas menentukan kehendaknya.
Selanjutnya adalah aku mengajari anak-anak tentang kemandirian. Mulai dari masuk ruangan, anak diajarkan bagaimana membuka sepatu sendiri, jaket sendiri dan lainnya. Anak diajarkan untuk memilih menu makanan yang kami sediakan. Misalnya menu hari itu adalah kentang, daging dan salad. Aku meminta anak mengambil makanan yang mereka suka, bukan aku menyediakan ketiga menu tersebut di atas piring mereka.
Setelah sarapan atau makan siang, aku biasanya membuat lagi pilihan untuk anak-anak. Anak memilih apa yang mereka sukai. Guru seperti aku hanya sebagai fasilitator, yang menyediakan sarana untuk mereka belajar dan bermain. Itu sebab aku sudah punya program harian. Sedangkan aktivitas makan, menikmati snack atau tidur adalah program yang sudah terjadwal.
Anak-anak berada di tempat kerjaku sampai orang tua menjemput mereka. Taman kanak-kanak di tempatku bekerja sudah mulai beroperasi sejak jam 5.30 pagi, tetapi aku tak suka bangun pagi. Aku memilih kerja mulai dari jam 8 pagi. Aku bertugas delapan jam setiap hari.
Oh ya soal waktu tidur, tidak semua anak bisa jadi suka melakukan tidur siang. Jika ada anak yang tidak ingin tidur, aku biasanya memberikan aktivitas menggambar atau aktivitas lainnya yang tidak mengganggu anak-anak yang sedang tidur siang.
Pengalaman menarik bersama anak-anak membuatku belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diriku sendiri. Aku menemukan diriku sendiri saat aku aku berinteraksi bersama anak-anak. Aku menjadi lebih happy bekerja bersama dengan anak-anak.
Tantangan bekerja di taman kanak-kanak adalah saat aku harus kontra dengan pendapat orang tua. Kadang aku berkonflik dengan orang tua yang lebih mementingkan ego mereka misalnya anak harus patuh pada orang dewasa. Padahal kami mengajarkan anak-anak untuk menjadi diri mereka sendiri dan menentukan kehendak mereka. Saat anak-anak bisa bebas menjadi diri mereka sendiri, anak-anak menjadi lebih happy dan kreatif juga. Anak-anak ternyata menemukan ketenangan tersendiri.
Penulis: Anonim, umur 32 tahun dan tinggal di Jerman
RUMPITA adalah salah satu program RUANITA yang membahas kehidupan sehari-hari di mancanegara dari sudut pandang Fadni dan Nadia.
Fadni dan Nadia saat ini sedang menempuh studi master di Jerman. Mereka akan memandu program Podcast RUMPITA yang akan diluncurkan tiap bulan sekali.
Episode pertama RUMPITA kali ini membahas pengalaman pertama kali tinggal di mancanegara. Sebelum pergi dan studi di Jerman, Nadia menceritakan pengalamannya yang tidak pernah pergi sendirian, tanpa orang tua.
Bermula dari minat Nadia untuk studi di Jerman, ia pun memutuskan untuk terbang ke Jerman meraih cita-citanya melalui agen yang menawarkan studi ke Jerman. Kini Nadia sudah tinggal hampir sepuluh tahun di Jerman.
Bertolak belakang dengan cerita Nadia, Fadni tak pernah berangan-angan studi dan tinggal di Jerman. Semula Fadni ingin melanjutkan studi di Universitas Negeri di Indonesia, kenyataannya dia tidak lulus untuk masuk ujian penerimaan. Fadni akhirnya menemukan tempat kursus Bahasa Jerman yang membawanya kesempatan studi di Jerman.
Bagaimana pengalaman mereka selanjutnya tiba di Jerman tanpa orang tua, terutama Fadni dan Nadia yang belum pernah tinggal jauh dari keluarga?
Simak saluran Podcast kami di link yang ditautkan. Untuk tema/saran Podcast, bisa kirimkan ke email info@ruanita.com.
Saya pertama kali datang ke Jerman di tahun 2011 untuk program studi master di Osnabrück (kota di utara Jerman). Meskipun kuliah master di program internasional, tetapi saya harus 6 bulan kursus Bahasa Jerman di Köln (Cologne). Saat kuliah itulah saya bertemu dengan (calon) suami saya yang saat itu juga tengah menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Setelah kami lulus kuliah dan menikah, kami pindah dan memulai hidup baru di Pforzheim (kota di bagian selatan Jerman) karena suami mendapatkan pekerjaan di kota ini.
Suami saya berasal dari Lübeck, sebuah kota pelabuhan di utara Jerman yang jaraknya 800 km dari kota yang saat itu kami tinggali setelah kami menikah. Saat itu kami memutuskan tinggal di kota yang cukup jauh dari keluarga suami karena penghasilan suami cukup bagus di kota yang baru. Pforzheim masuk dalam negara bagian Baden-Württemberg yang terkenal sebagai ‘Goldstadt’ atau ‘kota emas’ karena terkenal akan industri pembuatan perhiasannya.
Anak-anak kami lahir di kota emas ini. Kini mereka berusia 6 dan 4 tahun. Melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di Pforzheim cukup berat perjuangannya, karena jauh dari keluarga saya dan keluarga suami. Buat keluarga suami pun cukup berat karena anak-anak kami kebetulan adalah cucu-cucu dan keponakan-keponakan pertama dari pihak keluarga suami. Ketika Oma (ibu dari suami saya) dan paman-paman dari anak-anak kami ingin menjenguk mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk bisa kembali tinggal di kota kelahiran suami dengan resiko suami harus mencari pekerjaan baru yang penghasilannya tak sebesar di kota sebelumnya.
Namun demi keluarga dan bisa tinggal dekat dengan sanak saudara, akhirnya kami pun pindah ke Lübeck dan menetap hingga sekarang. Seringkali kita mendengar bahwa interaksi dalam budaya barat itu individualistis. Kenyataannya, untuk sesama anggota keluarga tetaplah ada keintiman dan kedekatan yang berbeda. Kedekatan keluarga tetap memiliki peranan yang penting dalam kehidupan anak, seperti Oma ke cucu-cucunya.
Selama tinggal di Jerman saya selalu berinteraksi dengan kelompok-kelompok lintas budaya. Setelah berumah tangga saya aktif di ‘familienzentrum’, lembaga-lembaga yang membantu pemberdayaan perempuan, para ibu, dan keluarga. Familienzentrum ini juga banyak diisi oleh para imigran pendatang. Selama aktif di familienzentrum bahkan sejak semasa kuliah di program internasional, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang yang berasal dari berbagai negara. Ditambah beberapa tahun terakhir Jerman banyak menerima pendatang imigran, baik itu yang mencari suaka, pasangan perantau, maupun yang menikah dengan orang Jerman. Jadi paparan terhadap budaya yang beragam ini mulai menjadi hal yang biasa dan memperkaya keseharian masyarakat.
Pengenalan terhadap ragam budaya ini juga saya lakukan dengan anak-anak kami sendiri sedini mungkin. Sedari awal mereka bisa berbicara dan berkomunikasi, saya mengajarkan bahwa mereka adalah anak.anak yang memiliki budaya campuran orang Indonesia dan orang Jerman. Orangtua mereka berasal dari dua negara yang memiliki budaya yang tak sama. Pengenalan terhadap asal usul mereka saya lakukan lewat pengenalan geografi. Lewat buku, peta, dan tayangan dokumenter saya kenalkan anak-anak tentang alam dan budaya Indonesia.
Sejauh ini dalam pergaulan anak-anak di sekolah, saya tidak menemukan perbedaan perlakuan antara anak-anak yang lahir dari pasangan Jerman maupun pasangan kawin campur. Anak-anak kami bahkan menyadari bahwa mereka memiliki tampilan fisik yang cukup unik. Mereka tahu mereka memiliki warna kulit yang terang seperti ayahnya namun dengan warna rambut dan mata yang berwarna gelap seperti ibunya. Dengan keunikan ini, sejauh ini belum pernah saya mendengar mereka merasa heran atau tak nyaman dengan perbedaan warna kulit atau rambut yang mereka miliki.
Di sekolahnya pun ada teman-teman dari anak saya yang rambutnya keriting atau berkulit lebih gelap, dan mereka belum pernah bertanya ‘Mama, mengapa temanku rambutnya keriting?’. Jadi mereka belum pernah membedakan teman-temannya, meskipun secara fisik memang memiliki penampilan yang berbeda.
Salah satu tantangan mendidik anak-anak multi kulti (istilah Jerman untuk ragam budaya) adalah dalam mengenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Saat baru lahir dan sebelum anak pertama masuk TK, saya berusaha untuk berbicara Bahasa Indonesia dalam keseharian agar ia kenal bahasa Indonesia. Namun begitu anak saya masuk TK dan otomatis di TK sehari-hari berbahasa Jerman maka paparan berbahasa Jerman jadi lebih banyak dan lama-kelamaan malah saya yang jadi mengikuti mereka berbahasa Jerman. Jadi tantangannya lebih di saya sebagai ibu yang kesulitan untuk konsisten mengajarkan Bahasa Indonesia ke anak-anak.
Kesulitan ini membuat saya lalu melahirkan subjektifitas bahwa kita tidak bisa melakukan standarisasi dalam pola pendidikan keluarga. Melakukan tolak ukur dan membanding-bandingkan kondisi satu keluarga dengan yang lainnya. karena tidak ada satu bentuk pola pendidikan tertentu terbaik yang bisa diterapkan untuk semua keluarga.
Ada keluarga campuran yang anak-anaknya bisa lancar berbahasa ibu, tetapi ini berbeda dengan keluarga lainnya. Agak sulit juga untuk mempertahankan harus bisa berbahasa ibu, karena karakter anak-anak pun berbeda. Ketika orangtuanya membiasakan berbahasa ibu, ada anak-anak yang mudah mengikuti, tetapi ada pula yang merasa enggan apalagi saat di sekolah melihat teman-temannya lebih banyak berbahasa Jerman.
Apalagi kami tinggal di kota kecil yang tidak banyak orang Indonesia tinggal di sini. Jadi dalam mengenalkan bahasa Indonesia, akhirnya senyamannya saja karena mau bagaimana lagi. Menurut saya, yang penting anak-anak tahu bahwa pada dasarnya mereka punya latar belakang budaya campuran, dibesarkan dalam dua latar belakang budaya yang berbeda dengan saya -ibunya- orang Indonesia.
Namun saya selalu angkat topi buat keluarga campuran yang anak-anaknya tetap bisa lancar berbahasa dari kedua pihak orangtua. Kalapun ternyata si anak lebih lancar satu bahasa saja, ya tidak apa-apa karena masing-masing keluarga punya kondisi yang berbeda dan karakter anak-anak pun berbeda.
Belum lagi nanti saat si anak mempelajari bahasa lainnya di Eropa. Kalau nanti si anak memutuskan untuk mempelajari berbagai bahasa lainnya, itu akan menjadi keputusan mereka. Untuk anak-anak saya, yang terpenting adalah mereka tahu dulu bahwa mereka punya darah Indonesia yang mengalir dalam diri mereka.
Sedari awal, anak-anak saya juga sudah aware dengan penampilannya. Seperti saat dia bilang bahwa rambut saya gelap karena mama rambutnya gelap juga. Saya juga mengajarkannya ke anak-anak saat mengamati keseharian di sekeliling kami, seperti kucing yang memiliki warna bulu yang berbeda-beda. Menurut saya, keluarga campuran itu punya kosa kata yang lebih luas dan contoh yang lebih riil dalam keseharian mereka untuk mengajarkan perbedaan.
Latar belakang budaya yang berbeda dari orang tua tentu berdampak pula pada pola pengasuhan. Termasuk saya sebagai orang Indonesia dan suami orang Jerman yang memiliki banyak kebiasaan yang berbeda. Jerman misalnya terkenal dengan budaya tepat waktu, disiplin, dan kebiasaan mengantri yang tinggi. Dalam hal ini saya justru belajar banyak dari suami dan membiarkannya untuk mendidik anak-anak soal kedisiplinan ini. Meski dibandingkan dengan budaya kita, pola asuh suami terlihat agak ‘keras’. Namun menurut saya, dalam mendidik anak itu, kedua orang tua harus kompak; tidak bisa di bapaknya yang galak sementara ibunya membela si anak kalau anaknya berbuat salah. Jadi saya harus satu komando dengan suami saya, agar jangan sampai kalau ada apa-apa anaknya malah condongnya ke ibu.
Contoh paling sederhana saat waktu makan, anak-anak harus disiplin duduk makan bersama di meja makan dan makan sendiri sampai habis. Saya ikut pola asuh disiplin seperti itu dan menjalankannya bersama suami. Ada saat-saat di mana rasanya tak tega juga melihat pola didikan disiplin ini, tetapi saya tidak membela si anak atau memperlihatkan ketidaksetujuan saya di depan anak. Ini dimaksudkan agar si anak tidak kebingungan melihat bapaknya bilang ini tetapi ibunya bilang yang lain. Jadi memang orang tua harus terlihat kompak.
Masih soal makan. Di sini anak-anak diajarkan untuk disiplin makan pakai pisau dan garpu. Tak hanya saat makan di restoran, di rumah pun makannya dengan pisau dan garpu. Namun saya juga bilang ke anak-anak, kalau di Indonesia itu makannya pakai tangan dan itu adalah hal yang biasa dijumpai di manapun di Indonesia. Karena saya sendiri juga suka makan pakai tangan, anak-anak pun jadi tahu kalau ada kultur lain bahwa makan di meja itu bisa tanpa pisau dan garpu. Jadi ketika mereka merasa ingin melakukan sesuatu yang di luar adat kebiasaan orang Jerman saat makan, mereka bilang, „aku kan orang Indonesia jadi boleh makan pakai tangan saja“.
Selain pengenalan keragaman budaya lewat makanan, saya juga mengenalkan anak-anak baju-baju Indonesia seperti batik. Saya sering memakai daster batik di rumah dan anak-anak suka melihat motifnya. Meski daster hanya baju rumahan tetapi menurut anak-anak itu baju yang bagus. Mereka bilang kalau baju Mama bagus banget. Menurut mereka daster batik itu seperti dress cantik saja.
Pengenalan sedari awal pada anak bahwa ada dua budaya yang berbeda dalam diri anak-anak ini akan membentuk rasa percaya diri mereka. Mereka sudah tahu dari awal bahwa mereka berasal dari dua latar belakang budaya yang berbeda. Ketika anak-anak ini sudah memiliki pengetahuan bahwa mereka memang punya latar belakang orangtua yang berbeda yang memperkaya kehidupan mereka, ketika ada ejekan atau bully, mereka bisa menantang balik ejekan tersebut. Seperti misalnya bila ada yang mengejek warna rambut mereka, mereka sudah tahu bahwa ‘oh rambutku berwarna gelap karena ibuku juga warna rambutnya gelap’. Dan ibu sangat cantik dengan warna rambutnya yang gelap.
Perbedaan tampilan fisik toh tidak mengurangi dan mengecilkan nilai kebaikan seseorang. Meski budaya Indonesia dan Eropa itu berbeda, tetapi tetap ada nilai-nilai universal atau norma bersama yang kita terima, misalnya menghormati orangtua, berlaku jujur, dan tak menyakiti sesama. Di budaya manapun, kita akan menemukan nilai-nilai dasar tersebut, meskipun cara mengekspresikannya yang akan tampak berbeda-beda. Ajarkan kepada anak bahwa nilai-nilai universal ini ada dalam budaya manapun tanpa memandang perbedaan warna kulit.
Saya ingin menekankan bahwa dalam budaya manapun, tidak ada standar tertentu yang menunjukkan bahwa budaya yang satu lebih bagus daripada yang lainnya. Yang penting nyaman dijalani oleh keluarga dan bisa diterapkan dengan baik ke anak-anak. Kalau kita tidak nyaman menerapkannya dan anak-anak juga belum bisa menjalankannya, upayakan untuk menerimanya sebagai perbedaan dan tidak perlu dipaksakan.
Yang terpenting juga, dalam menjalankan pola pengasuhan dari dua budaya yang berbeda, orang tua harus kompak sebagai satu team work. Ayah dan ibu harus satu komando. Jangan bikin anak bingung!
*sebagaimana dituturkan oleh Syafa Haack, ibu dengan dua anak tinggal di Jerman, kepada Aini Hanafiah.
JERMAN – Salah satu bukti menguatnya integrasi budaya dan mobilitas akibat kemudahan teknologi komunikasi adalah semakin mudahnya pertemuan dan percampuran budaya yang berbeda. Ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah kawin campur, yakni perkawinan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).
Pasangan yang memutuskan menikah di mana pun selalu berharap akan langgeng dalam bahtera rumah tangga mereka. Namun sayangnya, tidak ada yang bisa menebak bahwa angka perceraian pun begitu tinggi bagi pasangan perkawinan campuran.
Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.
Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.
RUANITA (Rumah Aman Kita) selaku selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada psikoedukasi dan praktik baik kehidupan di luar Indonesia bersama PADMEDIA PUBLISHER membuat kompilasi kisah perkawinan campuran dari para pelaku kawin campur yang berdomisili baik di Indonesia maupun di negara lainnya.
Kumpulan cerita tersebut ditulis dalam sebuah buku berjudul Cinta Tanpa Batas, berisikan kisah nyata 23 perempuan Indonesia yang sebagian besar tinggal dan menetap di luar negeri.
Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Perempuan Sedunia 2022, RUANITA menggelar diskusi virtual yang masih menjadi rangkaian menuju peluncuran buku Cinta Tanpa Batas.
Diskusi virtual tersebut bertema ‘Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan Perempuan di Luar Negeri’. Acara ini akan dilangsungkan lewat kanal Zoom pada Minggu, 13 Maret 2022 pukul 19.00-21.00 WIB (13.00-15.00 CET).
Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia, tanpa pendaftaran. Diskusi virtual akan dipandu oleh moderator Anna Knöbl dari RUANITA dan dibuka dengan sambutan dari Sandrayati Moniaga selaku Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM RI.
Beberapa narasumber yang akan mengisi diskusi virtual adalah Novi Siti (relawan RUANITA dan salah satu penulis buku Cinta Tanpa Batas), Pande K. Trimayuni (Ketua FOKAL Universitas Indonesia dan Co-Founder Institut Ungu), serta Lisabona Rahman (Founder Sekolah Pemikiran Perempuan).
Dalam diskusi virtual ini akan dibahas data dan kebijakan Pemerintah RI dalam menangani kasus-kasus perempuan Indonesia di luar negeri, terutama isu dalam perkawinan campuran seperti KDRT, kasus hak asuh anak, serta kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Peserta dapat menyimak seperti apa kebijakan Pemerintah RI dalam melindungi perempuan Indonesia yang berada di luar negeri dalam mendapatkan hak-haknya.
Diskusi virtual ini juga diadakan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman dan pendapat dalam meningkatkan pemikiran perempuan yang berperspektif feminis, terutama untuk perempuan Indonesia di luar negeri. Selain itu peserta dapat berbagi pengalaman dan pendapat dalam meningkatkan promosi kesetaraan gender dan hak perempuan mancanegara.
Diharapkan bahwa diskusi virtual ini dapat menjadi media advokasi untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu dalam perkawinan campuran dan pemberdayaan perempuan agar nantinya menjadi pembekalan diri dan sesama perempuan lainnya.
Adapun tindak lanjut dari acara diskusi virtual ini adalah kampanye penulisan surat terbuka AISIYU 2022 (Aspirasikan Suara dan Inspirasi Nyatamu) yang mengangkat tema ‘Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan Perempuan di Luar Negeri‘.
Kampanye surat terbuka AISIYU ini akan diselenggarakan selama sepekan (21-27 November 2022) untuk memperingati Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh tiap tahun pada 25 November nantinya.
RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.
Stephanie menceritakan pengalamannya sebagai ibu bagaimana mengenali kondisi anak yang terlambat bicara. Tutur Stephanie, sebaiknya orang tua sudah mengidentifikasikan perkembangan anaknya sedini mungkin agar penanganannya dapat cepat teratasi.
Berdasarkan perkembangan bahasa anak, terdapat beberapa fase seberapa banyak jumlah kata yang sudah dapat disebutkan anak. Misalnya anak umur dua tahun sebaiknya sudah memiliki 150-300 kata dan dapat menyusun 2-3 kalimat.
Selain itu, keterlambatan bicara pada anak sering dikaitkan dengan gejala autis pada anak. Stephanie menjelaskan dengan baik dalam video berikut menurut keilmuannya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang terlambat bicara.
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.
Sahabat Ruanita, aku mau cerita pengalaman yang kuhadapi pada anakku yang mengalami keterlambatan bicara. Aku adalah ibu dari seorang putra dan tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi lanjutan. Aku merasa bahagia dengan kelahiran putraku, seolah menggenapi kepuasan hidupku. Saat R, sebut saja begitu untuk inisial putraku, berusia dua tahun ternyata dia belum juga bisa bicara. Misalnya, dia memanggilku „mama“ saja tidak setiap hari bahkan satu minggu pun belum tentu.
R tidak banyak ngomong dalam kesehariannya. Selain itu, aku perhatikan anakku ini, bahwa dia begitu sensitif terhadap suara misalnya. Pernah suatu kali, kami datang ke acara ulang tahun dan saat banyak orang tepuk tangan, R menangis. Selain suara yang sensitif untuk R, ternyata R juga memilih untuk makan makanan yang lembut saja. Semua tumbuh kembang R, aku perhatikan dengan baik apalagi aku punya latar belakang keilmuan psikologi.
Aku kemudian putuskan membawa R ke ahlinya di negeri tempat aku melanjutkan studi. Tenaga profesional yang memeriksa R mengatakan bahwa R mungkin mengalami gangguan autis. Aku tidak sepakat tentang hasil yang diberikan ini sementara suamiku tetap berpikir bahwa R bisa jadi autis. Aku menolak keras pendapat bahwa R mengalami autis. Bagaimana pun aku paham sekali gangguan autis itu, apalagi aku sempat praktik menangani anak-anak dengan autis.
Di negeri tempat aku studi di benua biru ini, anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis akan mendapatkan penanganan dan perawatan khusus secara gratis asalkan orang tua menandatangani kesepakatan bahwa anak tersebut memang memerlukan penanganan profesional. Ya, aku setuju bahwa R memang perlu treatment khusus, tetapi bukan treatment untuk anak autis.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk memeriksakan R saat aku berlibur di Indonesia. Aku bawa R ke klinik profesional yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus dan perlu penanganan psikologis. Letak klinik tersebut ada di Jakarta dan aku kenal siapa pemilik klinik tersebut. Setelah diperiksa, R mengalami sensory processing disorder dan speech delay. Jika selama ini R begitu peka terhadap suara atau indera pengecapannya, itu berarti bahwa R mengalami gangguan yang disebut dengan sensory processing disorder.
Selain itu, klinik yang menjadi rujukanku untuk memeriksakan R juga mengatakan bahwa R hanya mengalami speech delay, bukan autis. Ya, aku menerimanya bahwa R memang kesulitan memformulasikan kalimat dan kata-kata di saat anak-anak seusianya mungkin sudah punya banyak kosakata. Akhirnya, R mendapatkan penanganan khusus selama kami tinggal di Jakarta. R mendapatkan terapi yang bisa dilakukan paralel untuk mengatasi sensory processing disorder dan speech delay.
Treatment untuk R dilakukan sebanyak dua kali seminggu. Sepertinya klinik ini memiliki teknik khusus seperti teknik bermain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan anak. Mereka memiliki terapi bermain yang membantu anak seperti bermain foam (=bentuk) dari lilin sehingga R bisa merasakan dengan tangannya dan membuat sesuatu. Atau R suka lompat-lompat maka klinik akan menyediakan permainan sambil anak diberikan penanganan khusus.
Aku berpikir bahwa semua butuh proses yang memang dibutuhkan kesabaran dan pendampingan dariku sebagai ibunya. Saat kembali ke negeri yang jadi rumah keduaku, aku melanjutkan lagi dua terapi tersebut untuk R. Bedanya, aku membayar semua treatment untuk R selama di Jakarta sedangkan di negeri rumah keduaku tersebut, semua difasilitasi oleh negara dan tergantung juga seberapa besar plafon asuransi yang kita pilih.
Beruntungnya R mengalami kemajuan yang pesat, sehingga pekerja klinik asing tersebut memutuskan bahwa R tidak perlu lagi terapi untuk atasi sensory processing disorder, hanya R masih perlu untuk terapi atasi speech delay. Aku memang bolak-balik antara Indonesia dengan salah satu negeri di benua biru, yang jadi rumah keduaku. Aku pun tetap melanjutkan terapi yang dibutuhkan R demi tumbuh kembang putraku, R.
Kami sempat berlibur ke Bali sekaligus aku harus bekerja di sana. R ikut serta bersamaku. Sekembalinya dari liburan, aku membawa R untuk kembali melanjutkan terapi speech delay-nya di Jakarta. Staf klinik yang selama ini mendampingi R pun merasa takjub atas kemajuan pesat dari kosakata R, apalagi sekembalinya dari liburan di Bali.
Puji Tuhan, R memang kini bisa kembali bersekolah seperti umumnya anak-anak seusianya. Aku bersyukur bahwa R bisa bercerita padaku tiap hari seperti yang kuinginkan selama ini. R tidak lagi kesulitan dalam berkomunikasi. Aku hanya berpendapat bahwa seorang ibu pasti mengenali anaknya, termasuk bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Aku pikir sedini mungkin kita perlu melakukan penanganan agar anak-anak bisa tumbuh sehat seperti harapan semua ibu di dunia ini.
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia 2022, Ruanita – Rumah Aman Kita mengundang Anda hadir dalam diskusi virtual yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Minggu/13 Maret 2022
Jam: 13.00 CET atau 19.00 WIB
Lokasi: Zoom dengan detil link yang ditautkan, Meeting ID: 816 98145648 dan Password: Ruanita
Acara ini gratis dan tanpa pendaftaran yang dimaksudkan untuk mendorong perempuan di luar negeri mengaspirasikan suara mereka dan berani mengadvokasi diri juga sesama perempuan lainnya.
Oleh karena itu, kami juga memperpanjang penjualan buku: Cinta Tanpa Batas Rp 100.000/buku di luar ongkos kirim hingga Minggu, 13 Maret 2022. Pembelian bisa langsung menghubungi ibu Gita dengan link pemesanan ditautkan.
Perkenalkan saya Euginia Putri Stederi. Saya mau berbagi pengalaman saya pra dan pasca melahirkan. Cerita saya mungkin dapat mewakili suara beberapa ibu atau orang tua baru yang menetap di luar negeri.
Saya hamil di awal masa Pandemi tahun 2020. Melahirkan di masa pandemi bukan hal yang mudah karena semuanya serba terbatas dan tidak cepat. Namun saya tetap merasa beruntung karena di Jerman banyak sekali sarana yang didukung oleh asuransi seperti biaya bidan, biaya dokter kandungan, biaya rumah sakit dan dokter anak.
Selain sarana yang ditawarkan oleh asuransi, saya juga mengikuti beberapa kegiatan yang biayanya harus saya tanggung sendiri seperti yoga untuk ibu hamil dan akupuntur. Selama masa kehamilan saya juga sudah mendapatkan jadwal tetap dokter kandungan saya. Untuk melakukan check up, kapan saja saya harus ke dokter kandungan. Kurang lebih selama 9 bulan saya mempunyai 20 janji kontrol.
Selama masa kehamilan kami disarankan secepat mungkin untuk mencari bidan dan dokter anak karena jumlah bidan dan dokter anak yang terbatas dan antrian yang panjang. Peran bidan di sini tidak kalah pentingnya, mereka mengontrol ibu hamil untuk pra dan pasca kehamilan dan juga bayi yang baru lahir.
Selain itu kami disarankan untuk mengikuti kursus persiapan kelahiran di mana ada banyak sekali informasi di dalamnya seperti dokumen apa saya yang harus dipersiapkan, ciri-ciri ibu yang sudah mau melahirkan, latihan-latihan untuk memperlancar kelahiran dsb. Ada baiknya bagi orang tua baru untuk mengambil kursus post natal (pasca kelahiran) untuk mengetahui apa saja yang bisa terjadi terhadap anak atau pun orang tua baru setelah proses kelahiran.
Di Jerman pun tidak mengenal mitos yang aneh-aneh. Ibu hamil malah dianjurkan untuk beraktivitas sewajarnya dan senormal mungkin. Namun tentunya sesuai kemampuan masing-masing individu. Yang saya sangat ingat, dokter kandungan memberi tahu saya untuk tidak makan daging atau telur setengah matang. Semua sayur dan buah harus dicuci bersih. Saya diperbolehkan olahraga seperti bersepeda sesuai kapasitas saya.
Namun sayangnya karena pandemi semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Suami hanya diperbolehkan hadir beberapa jam sebelum proses kelahiran. Suami boleh berkunjung maximum 1-4 jam sehari. Orang tua tidak dapat hadir, termasuk orang tua dari pihak suami saya.
Saya masih ingat dengan jelas di rumah sakit seperti rumah hantu. Hanya saya dan bayi saya sehingga saya tidak tahu harus melakukan apa. Bolak-balik saya mengebel perawat meminta bantuan dan akhirnya saya sempat dimarahi oleh salah satu perawat. Merasa tidak nyaman, stress dan bingung akhirnya saya memutuskan hanya menetap 1 malam saja. Mungkin para dokter dan perawat pun kewalahan karena di hari itu entah kenapa banyak sekali bayi yang baru dilahirkan.
Setelah itu persiapan yang cukup memakan waktu adalah saat menyelesaikan semua dokumen yang dibutuhkan. Proses itu sangat tidak mudah. Semua serba terbatas. Namun saya bersyukur punya keluarga baru di sini yaitu teman-teman kami yang membantu kami seperti memasak untuk kami dsb. Tanpa mereka mungkin kami akan babak belur, sebagai sepasang orang tua baru yang minim akan pengetahuan tentang rutinitas baru kami.
Secara hukum kami diperbolehkan mengambil cuti maksimum 3 tahun setelah kelahiran anak kami, tetapi kami putuskan untuk mengambil cuti selama 14 bulan. Saya mengambil cuti 12 bulan dan suami saya hanya 2 bulan. Selama masa cuti ini kami masih mendapatkan bantuan keuangan dari negara sebanyak 60% dari gaji kami. Apabila kami mengambil cuti lebih dari 14 bulan kami tidak mendapatkan bantuan dari negara. Selain itu anak kami pun mendapat bantuan keuangan dari negara dari usia 18 tahun hingga 25 tahun.
Lagi-lagi saya tidak merasakan mitos yang aneh-aneh untuk bayi atau ibu yang baru melahirkan. Contohnya, di Indonesia ibu atau anak baru dilarang keluar rumah selama 40 hari. Di Jerman, sepanjang ibu yang baru saja melahirkan sudah mampu maka kami diijinkan untuk keluar rumah. Saya terbilang cukup beruntung baik orang tua saya maupun mertua saya, tidak pernah ada yang memaksakan kehendak mereka. Mereka tetap memberikan saran tetapi pada akhirnya saya dan suami saya yang memutuskan.
Ini sepenggal pengalaman saya tentang pra dan pasca kelahiran anak saya. Saya mau ucapkan banyak terima kasih untuk suami saya yang kuat dan tidak lepas tanggung jawab, teman-teman kami yang selalu ada untuk kami dan pahlawan saya yaitu bidan saya. Tanpa bidan saya, kami mungkin tidak akan cepat belajar dan bangkit. Saya sangat menyarankan juga mengikuti kelas persiapan pasca kelahiran kepada Anda yang ingin melahirkan di luar negeri.
Banyak orang mungkin bertanya bagaimana rasanya bekerja di luar negeri, apalagi berprofesi sebagai dosen di universitas, tempat Albert Einstein belajar. Ini adalah pengalamanku yang menantang sekaligus berharga supaya dapat tetap berkarya di mana pun berada.
Awalnya aku menetap di Swiss untuk menemani suami yang sedang melanjutkan studi PhD (S3) di Universität Zürich. Kami sempat menjalani Long Distance Marriage satu tahun sebelumnya, sehingga kemudian kuputuskan menyusul suami pada 2019. Tentu rasanya tak mudah meninggalkan pekerjaan dan rutinitas mengajar di Yogyakarta yang sudah kurintis sejak empat tahun terakhir, apalagi jika harus beranjak dari zona nyaman dan pindah ke negeri yang terkenal dengan kelezatan cokelatnya itu, suatu tempat yang benar-benar baru bagiku.
Menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan, saat aku melakukan perjalanan di Chiang Mai, Thailand, pada 2011 silam. Di negeri gajah putih ini aku melanjutkan studi S2 dengan jurusan yang sama dengan studi S1-ku, Sastra Inggris. Rupanya tawaran menjadi pengajar BIPA di Thailand telah memberiku pengalaman berkarir sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Pemelajar Asing. Berbekal pengalaman dan pelatihan yang sering kuikuti, tak terasa aku menggeluti dunia ke-BIPA-an ini hingga sekarang.
Meski Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, ternyata mengajarkan Bahasa Indonesia bagi warga negara asing itu memiliki tantangan tersendiri. Selain setiap pemelajar memiliki karakteristiknya masing-masing, mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing juga menuntutku untuk memiliki keterampilan khusus dalam pemahaman lintas budaya. Hal ini penting untuk diketahui demi kelancaran proses pembelajaran di kelas. Misalnya, aku harus bisa menyesuaikan dengan budaya setempat seperti Swiss yang memiliki tiga bahasa sebagai pengantar sehari-hari yakni Bahasa Jerman, Bahasa Italia dan Bahasa Prancis.
Seorang pemelajar pernah mengkritikku karena aku tidak bisa mengajar dengan pengantar bahasa Prancis, melainkan hanya bisa berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jerman saat menjelaskan materi tata bahasa. Aku sempat berkecil hati atas kritik tersebut, namun aku dapat segera menemukan solusi dengan menggunakan direct teaching method dengan bantuan media visual untuk memudahkan pemelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia tanpa adanya bahasa perantara.
Tekanan psikologis lainnya tentu saja pernah kualami di negeri asing ini. Di awal mengajar, aku merasa sedikit kurang percaya diri, meskipun dengan pengalaman dan jam terbangku yang sudah lebih dari 10 tahun. Hal ini karena adanya kultur kerja yang berbeda dengan kampus tempatku dulu bekerja, ditambah juga dengan adanya karakteristik pemelajar Eropa yang cenderung lebih kritis dalam segala hal. Namun kemudian aku sadar bahwa aku bisa berada di sini karena aku mampu dan memang berkompeten dalam bidang yang aku tekuni saat ini. Pengalaman ini pula yang membuatku semakin semangat mengasah keterampilan mengajarkku melalui berbagai kegiatan webinar dan keterlibatanku dalam Afiliasi Pengajar BIPA se-Eropa, sebuah upaya agar aku tidak merasa sendiri dan mendapat support yang baik dari sesama pengajar BIPA di benua ini.
Sejak 2019 aku telah menikmati proses menantang sekaligus menarik sebagai Pengajar BIPA di Universität Zürich dan di KBRI Bern yang dibuka pada tahun berikutnya. Sebagai pengajar BIPA, aku harus berhadapan dengan pemelajar dengan latar belakang dan motivasi belajar yang beragam. Di Universität Zürich, BIPA adalah mata kuliah pilihan yang berbobot 6 ECTS (=Satuan Kredit Semester/SKS di Eropa), sedangkan kursus BIPA di KBRI Bern dibuka untuk masyarakat Swiss secara umum.
Dengan berbagai keterbatasanku saat tiba di Zurich dulu, aku sebenarnya tidak punya banyak pilihan, akan tetapi aku mencoba menciptakan peluang untuk diriku sendiri sehingga aku tetap bisa berkarya walaupun jauh dari rumah dan dari segala kenyamanannya. Bagaimana pun juga kita perlu berdamai dengan diri sendiri, yaitu dengan menerima dan menjalani setiap prosesnya. Suami dan anakku telah banyak mendukungku untuk bertumbuh dan menjadi pendengar sekaligus social support terbaik mana kala aku menghadapi kecemasan akan adaptasi lingkungan, pekerjaan, maupun permasalahan psikologis lainnya.
Sebagai pengajar BIPA, aku juga belajar banyak untuk membuka wawasan dan jejaring yang lebih luas lagi, dapat melihat Indonesia dari kacamata ‘luar’ yang semakin menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Menjadi pengajar BIPA juga memberiku peluang di negeri asing untuk menjadi diriku sendiri. Kunci menjadi pengajar BIPA adalah pentingnya toleransi budaya agar dapat memahami konteks Bahasa Indonesia yang dipelajari pemelajar asing.
Bahasa ibu adalah identitas diri siapapun dan dari manapun kita berasal. Bahasa ibu adalah bahasa utama untuk mengenal dunia. Jangan sungkan untuk berbahasa Indonesia di mana pun kita berada. Jika warga negara asing saja mau belajar, mengapa kita mesti malu berbahasa Indonesia?
Menjelang bulan Februari, toko-toko dekat rumahku telah diselimuti dengan cokelat, hiasan hati, pita-pita cantik, bunga dan lain sebagainya.
Sebagai penyuka cokelat, aku sangat menyenangi diskon-diskon spesial yang ditawarkan. Namun, setiap kali aku melihat plakat bertuliskan hari Valentine, aku hanya bisa mendengus. Hari kasih sayang? Menggelikan.
Bagiku, hari Valentine adalah hasil marketing yang sangat sukses. Entah perusahaan cokelat mana yang menggagaskan konsep hari kasih sayang di hari kematian seseorang yang dieksekusi secara tidak berperikemanusiaan?
Lucunya, gagasan ini diterima di seluruh dunia. Well, tentu ada beberapa orang yang menolak mentah-mentah konsep ini. Aku, misalnya. Beberapa kelompok religius juga menentang gagasan hari kasih sayang ini.
Argumen mereka, hari kasih sayang bisa dirayakan kapanpun. Aku sedikit setuju dengan pernyataan ini. Tapi, namanya manusia sangat suka dengan momentum. Apapun, lah! Aku hanya ingin cokelat mahal yang di-diskon. Sebenarnya, Valentine tidak jelek-jelek amat.
Cokelat diskon itu buktinya! Namun terkadang orang bisa sangat terobsesi dengan hari ini. Temanku sampai mengancam pacarnya kalau dia tidak membawanya ke restoran romantis dan memberinya kado Valentine, dia akan ngambek sejadi-jadinya.
Berlebihan, menurutku.
Tapi pernah suatu hari aku memberikan kado Valentine kepada mama. Beliau tidak pernah merayakan Valentine, namun kebetulan beliau sedang mengunjungiku di negara ini bertepatan dengan Valentine.
Senyum beliau saat menerima kado dariku sangatlah indah. Mungkin, di luar hal-hal aneh seperti obsesi Valentine dan asal-usulnya, Valentine tidak jelek-jelek amat.
Penulis: Nadia Millati, berdasarkan cerita seorang teman dari negara Asia Timur.
Tahun ini genap tujuh tahun saya tinggal di sebuah negara di utara benua Eropa. Kali pertama menginjakkan kaki di Eropa, saya datang sebagai mahasiswa untuk studi master di bidang ilmu sosial. Mengantongi beasiswa dari sebuah lembaga di Indonesia, saya memulai masa studi master ditemani oleh suami tercinta. Ya, suami ikut menemani saya setelah resign dari tempatnya bekerja dan mendapatkan pekerjaan baru yang memungkinkannya untuk remote working. Ada mimpi yang sama-sama kami bawa ke Eropa: untuk memperkaya pengalaman hidup -selagi masih muda- dan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
Namun setelah di Eropa, mata kami terbuka lebih lebar bahwa mimpi tersebut tidak sekonyong-konyong hadir seperti cerita-cerita sukses yang kami baca di media sosial. Soal memperkaya pengalaman hidup, sudah pasti ya… lewat kerja keras yang harus kami lewati untuk bisa mencapai penghidupan yang lebih baik.
Kesempatan kuliah ternyata menjadi salah satu pintu peluang membangun koneksi untuk mendapatkan pekerjaan. Dari teman kuliahlah saya mendapatkan pekerjaan part-time. Pekerjaan part time pertama saya adalah menjadi pelayan dan barista di sebuah kafe di pusat kota. Karena letak gedung kuliah hanya beda dua blok dari kafe, maka saya iyakan saja tawaran teman saya tersebut. Jadi pagi saya kuliah, siang atau sore jaga kafe. Namun saya hanya bekerja selama 1 semester saja karena di semester selanjutnya jadwal pekerjaan tersebut banyak bentrok dengan jadwal kuliah. Dengan berat hati saya relakan pekerjaan tersebut. Lagipula dengan kesibukan kuliah dan tugas kelompok, rasanya kalau ditambah bekerja jadi malah kewalahan.
Meski tak sampai setahun bekerja di kafe, namun di situlah saya melihat kenyataan bekerja di negara ini. Tantangan utama adalah kendala bahasa. Karena negara di Nordic area tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa utama untuk komunikasi sehari-hari, maka saya harus bisa berbahasa lokal. Minimal dalam skala percakapan dulu saja, seperti untuk menjawab sapaan pengunjung, menanyakan pesanan, atau ngobrol tentang cuaca. Ini yang membuat saya mengambil mata kuliah Bahasa lokal di semester selanjutnya. Untungnya di kampus ada mata kuliah bahasa lokal tingkat A1-A2 untuk mahasiswa internasional. Kelas ini juga adalah salah satu keuntungan saya sebagai mahasiswa karena saya bahkan bisa mengambil kelas Bahasa sampai tingkat B1, gratis. Sementara pendatang jobseeker harus merogoh kocek dalam-dalam sampai ribuan kroner untuk mengambil kursus privat bahasa lokal.
Inilah kendala yang harus suami saya hadapi. Karena kami masuk ke Eropa lewat pintu yang berbeda -saya sebagai mahasiswa, suami sebagai remote worker yang juga jobseeker- maka tantangannya juga berbeda. Ibaratnya main ular tangga, status saya sebagai mahasiswa membuat starting point saya sudah menclok di anak tangga keenam atau kesepuluh, sementara suami saya betul-betul harus mulai dari nol. Kala berhadapan dengan kendala bahasa, suami saya sebagai job seeker harus membayar sendiri kelas kursus bahasa lokal. Pusing juga kalau lagi-lagi kami harus membobol tabungan dana darurat hanya untuk ikut kelas Bahasa. Apalagi setelah ada seorang teman yang bilang kalau bisa berbahasa lokal saja tidak cukup, kamu harus punya koneksi yang tepat untuk masuk di lingkungan pekerjaan yang disasar.
Kegamangan suami saya dijawab saat ia ke perpustakaan kota dan melihat iklan kegiatan kelas språkkafe. Språkkafe adalah program kafe gratisan yang diadakan sore hari di perpustakaan kota untuk membantu para pendatang berlatih ngobrol Bahasa lokal. Akhirnya suami saya memberanikan diri datang ke språkkafe di waktu luangnya, sekalian biar tidak suntuk bekerja dari rumah saja. Di saat yang sama, suami saya hanya mengambil pekerjaan proyek berbasis Bahasa Inggris saja. Waktu saya harus berhenti kerja di kafe, owner kafe pun bertanya apakah saya punya teman yang bisa mengisi posisi saya. Akhirnya saya tawarkan suami untuk mengambil pekerjaan tersebut. Sebenarnya suami saya orangnya introvert, tetapi demi kesempatan untuk mengasah kemampuan Bahasa, diapun mengambil pekerjaan di kafe tersebut. Karena pekerjaan proyeknya membutuhkan ia untuk stand by dari pagi hingga siang, maka suami menerima shift sore sampai beres-beres tutup kafe. Kelelahan, sudah pasti.
Dua tahun menjalani studi master, akhirnya saya lulus. Optimis memasuki pasar jobseeking lokal, saya pun memasang target mimpi untuk bisa kerja di bidang yang sesuai dengan studi master saya. Lagi-lagi impian saya harus terbentur dengan kenyataan kalau… kemampuan berbahasa saya belum cukup untuk masuk ke level kompetensi praktisi di kalangan orang lokal. Di saat yang sama, saya melamar untuk beberapa program doktoral S3 karena di negara ini PhD candidate dihitung sebagai pegawai kampus (pekerja riset), bukan sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Namun lamarannya ditolak dengan berbagai alasan. Saat menghubungi supervisor yang dulu, beliau saat itu juga menyatakan belum ada dana turun untuk membuka riset baru. Antara marah karena kecewa dan tidak mau pulang karena urung menyerah, saya pun bekerja serabutan, mengambil beberapa pekerjaan part time dari mulai membersihkan rumah orang, bekerja kembali di kafe, jaga toko, serta menerima pekerjaan babysitting atau yang di sini disebut sebagai dag mamma. Pernah juga saya bekerja sebagai tour guide lepasan untuk turis mancanegara, menerima terjemahan dokumen serta menjadi penerjemah lisan. Apapun, asalkan saya bekerja dan ikut berkontribusi untuk keluarga.
Bagaimana dengan suami saya? Hidup itu seperti roda ya, kadang di atas, kadang di bawah. Suami saya yang meniti dari bawah sembari sabar membangun portfolio, membuat jejaring dan berlatih bahasa, akhirnya diterima bekerja di sebuah start-up company. Saya bangga melihat keberhasilan suami saat itu, namun dalam hati kecil saya tidak bisa 100% menerima kenyataan bahwa gelar master yang saya peroleh tidak banyak membukakan pintu setelah lulus, dan saya masih begini-begini saja. Perasaan itu membuat saya jadi seperti membenci diri sendiri. Kala itu suami saya berkata, tidak apa-apa, mungkin inilah saatnya income kami datang dari pintu yang dia buka, setelah sebelumnya datang dari pintu yang saya buka. Mungkin porsinya sedang berbeda saja, kata suami. Ah gampang kamu bilang begitu karena sekarang kamu yang sudah bekerja, kata saya getir.
Suatu hari, saya bertemu dengan salah satu senior kuliah. Mengetahui bahwa saya sedang bekerja paruh waktu sebagai babysitter, ia pun menyarankan, mengapa tidak mendaftar kerja sebagai asisten guru TK saja? Kamu sudah cukup lancar berbahasa lokal dan sudah lulus tes bahasa, kata teman saya, selain itu TK dan daycare selalu butuh guru pengganti dan asisten guru. Ia pun memberikan link ke sebuah agensi penyalur jasa asisten guru yang cukup terpercaya. Katanya lagi, kalau butuh surat referensi dengan senang hati dia akan membuatkan. Saya sebetulnya tidak terlalu yakin bisa betah mengurus anak-anak TK, tetapi dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sekadar kerja serabutan, akhirnya saya coba mendaftarkan diri ke agensi tersebut.
Tidak butuh lama menunggu untuk mendapatkan panggilan dari agensi. Saya pun ditempatkan di sebuah TK yang jaraknya sekitar 30 menit naik bus dari daerah rumah kami. Oh ya, saat itu kami sudah pindah ke pinggir kota demi mendapatkan rumah sewa yang lebih murah dan bisa menabung lebih banyak. Bagaimana pekerjaan di TK? Melelahkan, tetapi anehnya menyenangkan juga. Saya jadi banyak berlatih Bahasa lokal dengan para kolega dan anak-anak TK. Setelah dua tahun menjadi guru pengganti, kepala sekolah di TK terakhir tempat saya bekerja menawarkan pekerjaan tetap sebagai asisten guru TK, dengan porsi pekerjaan 50%. Selain itu dengan menjadi pegawai tetap, saya akan diberikan kursus-kursus pedagogi untuk memperkaya pengetahuan seputar pendidikan anak usia dini. Memang jauh sekali dari bidang yang menjadi latar belakang pendidikan saya, tetapi ini adalah kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Selain itu, saya sudah terlalu lelah bekerja serabutan. Saya juga tidak kuat hati menghadapi stigma bahwa pendatang dari rumpun negara saya hanya cocok untuk bekerja serabutan. Kalau mau menetap for good perantauan ini, saya harus punya permanent residence, dan untuk itu saya harus memiliki pekerjaan tetap.
Sampai saat ini, saya masih bekerja sebagai asisten guru TK. Dengan kemampuan Bahasa lokal yang sudah lebih mantap, saya pun mengambil kelas pedagogi dan sertifikasi sebagai guru TK. Ada orang-orang yang mengomentari kalau sayang sekali latar belakang akademik yang saya miliki jadi tidak terpakai sebagai praktisi, tetapi bagi saya, itu sudahlah cukup menjadi bekal pembuka pintu untuk masuk ke negara ini.
Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.
JERMAN – Sabtu (5/2) Ruanita – Rumah Aman Kita lewat akun IG ruanita.indonesia menggelar diskusi virtual bertajuk: Perempuan dan Kewirausahaan selama kurang lebih 30 menit. Tema tersebut sengaja diangkat karena Ruanita dan KEMI Turki akan menggelar webinar kewirausahaan yang dilaksanakan sehari setelah IG Live. Demikian Atika, Moderator IG Live menjelaskannya di hadapan dua tamunya yakni Bimo Wikantiyoso (akun IG: darth_consicous) dan Josephine (akun IG: jossiejosephine).
Bimo, seorang Psikolog yang tinggal di Indonesia menjelaskan hasil penelitiannya tentang kewirausahaan yang berkaitan dengan karakter kepribadian yang dimiliki para pengelola usaha di bilangan Jakarta. Temuannya menunjukkan bahwa ada pengaruh karakter kerpibadian dengan keberhasilan berwirausaha.
Bimo menegaskan di tengah situasi dunia yang tidak pasti karena pandemi, dia menyimpulkan motivasi berwirausaha demi orang lain seperti orang yang dicintai, orang yang dianggap penting dalam hidupnya atau tidak memikirkan dirinya sendiri ternyata memiliki ketahanan berwirausaha di tengah ketidakpastian. Bimo mengambil penelitian saat awal pandemi tahun 2020 kepada sejumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sebagian besar adalah perempuan.
Senada dengan Bimo, Josephine yang kini menetap di Norwegia dan memulai usaha saat pandemi pun mengamini pernyataan Bimo. Josephine berpendapat motivasi, kemauan belajar, riset market dan segera beradaptasi adalah mentalitas yang diperlukan dalam kewirausahaan, apalagi menetap di negeri orang. Ini menjadi tantangan tersendiri mengingat orang tersebut harus keluar dari zona kenyamanan menuju situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian. Pemahaman ini diperlukan bagi seorang yang ingin membangun usaha.
Setelah enam tahun tinggal di Norwegia, Josephine memutuskan untuk memulai usaha yang membuatnya itu tak mudah. Norwegia menetapkan high standar quality dalam setiap layanannya meski makanan Asia begitu digemari dan banyak peminatnya. Pasarnya cukup kompetitif karena tidak ada persaingan. Hanya Josephine yang kini menekuni usaha penjualan produk Indonesia yang melayani Bergen, kota tempat tinggalnya dan seluruh Norwegia. Josephine pun segera belajar market dan menjalani penjualan online agar dapat memburu pelanggannya. Ada plus dan minus tergantung bagaimana memasarkannya di Norwegia.
Bimo menilai apa yang dilakukan Josephine sudah sesuai dengan mentalitas kewirausahaan, apalagi Josephine membangun circle network dengan mengandalkan kekuatan dirinya yang segera cepat beradaptasi dengan budaya dan market di Norwegia. Bimo sebagai psikolog menyadari bahwa bakat dan lahir di lokasi yang tepat memang bisa menjanjikan untuk menjadi pengusaha.
Ada empat saran yang diperlukan untuk membangun mentalitas kewirausahaan di negeri perantauan, antara lain:
Jangan kuatir!
Menghadapi ketidakpastian itu tidak mudah. Menurut Bimo, kalau mau hal-hal yang pasti, jangan berwirausaha! Terbiasa dalam kondisi ketidakpastian dan menikmati dalam ketidakpastian, itu diperlukan dalam berwirausaha. Jadi kalau misalnya, tidak ada jiwa menghadapi ketidakpastian sebaiknya tidak berwirausaha.
2. Jangan minder!
Orang Indonesia sangat peka membaca perubahan mood/situasi atau kebutuhan orang lain daripada bangsa lain. Justru ini menjadi keunggulan orang Indonesia untuk melihat peluang pasar. Ini merupakan hasil penelitian dari seorang kolega saya tentang kepribadian orang Indonesia. Menurut kolega saya, orang Indonesia memiliki kepekaan tinggi.
3. Keterampilan beradaptasi juga tinggi
Orang Indonesia sendiri sudah dihadapi dengan tiga bahasa dalam kehidupan sehari-hari yakni bahasa daerah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tak hanya bahasa, orang Indonesia yang beragam budaya dan kultur juga memiliki keunggulan tersendiri sehingga orang Indonesia mudah beradaptasi. Kemampuan beradaptasi menjadi faktor keunggulan untuk berwirausaha di negeri asing.
4. Pengetahuan, market dan taat hukum
Josephine menambahkan bahwa diperlukan juga kepribadian yang kuat untuk mampu mengatasi rasa tidak percaya diri karena kita adalah orang asing. Kita harus punya pengetahuan dasar dan bagaimana memasarkan produk karena kita hidup di negeri yang punya standar tinggi. Tak hanya itu, kita harus taat hukum untuk menghindari denda yang membuat kita lebih bangkrut lagi.
Silakan follow akun ruanita.indonesia untuk mendapatkan jadwal regular IG Live lainnya yang lebih menarik untuk Anda.
Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal hadir membuka resmi acara webinar.
Acara webinar bertema kewirausahaan berjudul: Melihat Peluang Usaha Perempuan di Eropa dilaksanakan pada Minggu, 6 Februari 2022.
Poin poin yang dibicarakan pada webinar kali ini :
Narasumber: Bapak Sabbat Christian Sirait
Peluang bisnis İndonesia ke Uni Eropa cukup bagus, yang mana Uni eropa merupakan tujuan ekspor dan asal impor non migas ke-3 bagi İndonesia
Banyak produk dari İndonesia baik itu skala kecil dan menengah yang sudah beredar di pasaran Belanda antara lain makanan minuman, rempah-rempah, Pakaian, furniture, arang termasuk pakaian yang diproduksi oleh UKM
Untuk masuk ke pasar Eropa sebaiknya mempunyai mitra usaha membantu kelancaran marketing di Eropa
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengekspor produk ke Eropa sesuai dengan peraturan Uni Eropa mengenai Produk and safety food
Dari Pertanyaan yang diajukan disimpulkan yang utama bahwa suatu perusahaan harus memberikan NİB, Company profile ke Atase Perdagangan untuk lebih melihat keseriusan perusahaan untuk melakukan ekspor
Narasumber: İbu Leny Milla
Untuk mendirikan perusahaan di Turki sebaiknya mempunyai İzin tinggal, guna memperlancar proses pendirian perusahaan tersebut
Menyiapkan nama perusahaan, anggaran dasar perusahaan, mendaftarkan ke kantor pajak dan asuransi, mendaftarkan perusahaan ke Kantor Perdagangan Turki untuk mendapatkan sertifikat yang menjelaskan izin usaha yang dapat perusahaan operasikan
Dari pertanyaan yang diajukan peserta produk yang akan masuk ke Turki harus memiliki HACCP dan COS. Pihak Atase Perdagangan İndonesia di Turki merencanakan tempat untuk mendisplay barang yang akan didatangkan ke Turki yang mana sebelumnya barang tersebut dıakurasi. Produk yang telah siap yang akan didisplay dan dikirim.
Narasumber : Ferlin V. Yoswara
Beliau menyatakan dalam menjalankan usaha jangan pernah takut untuk belajar dan melangkah.
Harus Openminded.
Dalam memasarkan suatu produk dapat menggunakan ambassador dan influencer.
Narasumber: İbu Dessy Rutten
Memulai sesuatu usaha sebelumnya harus kepercayaan diri sebelum mempunyaı personal branding
Bertanya kepada diri sendiri haruskan melakukan pemasaran secara intrapreneruship atau entrepreneurship
Bila belum siap jadilah İntrapreneurship, karena intrapreneurship merupakan sebuah proses
Dalam Entrepreneurship kita harus mempunyai tujuan atau misi usaha, bidang marketıng, daya beli dan harga serta sumber keuangan.
Jangan memaksakan menjadi entrepreneurship tapi jadilah intrapreneurship dulu tanpa mengorbankan aset pribadi atau aset keluarga.
Bila Anda menghendaki materi presentasi narasumber, mohon isi formulir berikut yang ditautkan.
Siaran ulang webinar bisa disaksikan sebagai berikut:
NORWEGIA – Menurut laporan Women Entrepreneurship in Indonesia yang dikerjakan Bank Dunia dan Kementerian Bappenas tahun 2016 menyebutkan sebanyak 36% dari total perempuan Indonesia pada usia kerja lebih memilih untuk menjadi pengusaha. Mayoritas pengusaha perempuan tersebut bergerak di sektor informal, atau pada sektor semi formal.
Membuka usaha di perantauan menjadi pilihan bagi sebagian perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Namun sebagai pendatang, pilihan menjadi wirausahawati bagi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hal yang mudah.
Aturan pajak yang rumit, proses pendaftaran usaha, iklim ekonomi negara yang ditinggali, hambatan bahasa dan komunikasi serta perbedaan budaya menjadi beberapa tantangan yang harus diperhatikan perempuan Indonesia saat akan membuka usaha di perantauan.
Rumah Aman Kita (RUANITA) bekerjasama dengan Komunitas Exportir Muda Indonesia (KEMI) Perwakilan Turki menggelar webinar bertema kewirausahan dengan judul: Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa.
Diskusi online kewirausahaan ini akan diadakan pada Minggu, 6 Februari 2022 pukul 13.00 – 15.00 CET (15.00-17.00 TRT (Turkey Time) atau 19.00-21.00 WIB). Adapun webinar ini diselenggarakan dengan dukungan sepenuhnya oleh KBRI Ankara dan KBRI Den Haag.
Acara diskusi online ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di Eropa dan Turki. Pendaftaran dapat dilakukan pada link bit.ly/RUANITA-KEMI. Dipandu oleh Siti Aisah Putri Utami (mahasiswa Bisnis dan Budaya Universitas Passau Jerman), webinar akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Turki, Bapak Lalu Muhamad Iqbal.
Pemateri dalam diskusi online antara lain: Atase Perdagangan RI untuk Belanda Sabbat Christian Sirait, Ketua KEMI Turki Leny Mila, Dessy Rutten selaku ekonom dan akademisi di Eropa, serta Ferlin Yoswara selaku wirausahawati Indonesia di Belanda.
Kegiatan wirausaha di luar Indonesia dapat menjadi peluang menguntungkan bagi warga negara Indonesia selaku pengusaha dan ini menjadi bagian upaya soft diplomacy.
Lewat diskusi online tersebut dapat diinformasikan peluang dan potensi produk-produk Indonesia di Eropa. Beberapa negara di Eropa seperti Turki dan Belanda menjadi pintu masuk untuk mengenalkan potensi produk-produk Indonesia.
Untuk itu, penting bagi para pelaku usaha agar mendapatkan informasi tentang aturan perdagangan ekspor dan impor sesuai kebijakan yang berlaku di negara-negara tersebut. Melalui diskusi online kewirausahaan ini diharapkan dapat membekali perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia mengenai informasi regulasi perdagangan, meningkatkan pengetahuan seputar mentalitas kewirausahaan dan komunikasi lintas budaya untuk strategi marketing, berbagi pengalaman dalam berwirausaha serta berbagi praktik baik tentang pengelolaan usaha di Eropa.
Beberapa bahasan yang akan diangkat dalam webinar adalah mengenai peluang dan potensi produk Indonesia di Belanda, prosedur pendirian usaha di Turki, mentalitas kewirausahaan bagi perempuan Indonesia dan komunikasi lintas budaya dalam strategi marketing di Eropa, serta pengalaman mengelola usaha dan pemasaran produk di Eropa.
Adapun tindak lanjut dari diskusi online kewirausahaan ini adalah rencana kegiatan workshop kewirausahaan dan pembentukan forum pengusaha perempuan asal Indonesia di Eropa.
RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.
Informasi:
Retno Aini Wijayanti, WNI tinggal di Norwegia (email: info@ruanita.com)
Tak ada yang bisa menebak jalannya kehidupan, termasuk apa yang saya jalani saat ini. Saya tak pernah bermimpi bisa tinggal di negeri empat musim, apalagi saya kini berwirausaha di rumah kedua saya.
Semula saya hanya ingin melanjutkan karir saya sebagai perawat sewaktu saya menikahi pria berkewarganegaraan asing. Perawat memang profesi saya dulu saat saya masih di Indonesia. Kami menikah dan memutuskan untuk tinggal di Greenland.
Selama di Greenland, saya bekerja di salah satu rumah sakit. Dari pekerjaan ini, saya membeli kamera DSLR yang jauh lebih baik dari kamera sebelumnya yang saya miliki. Memiliki kamera canggih ini seperti memicu saya untuk terampil dalam dunia fotografi.
Jujur dunia fotografi adalah impian saya sebelum menikahi suami. Dahulu saya suka sekali memotret acara perhelatan nikah yang dipercayakan pada saya. Mungkin fotografi adalah hobi saya sehingga saya sering mendokumentasikan berbagai momen foto atau memotret sesuai pesanan.
Setelah saya memiliki kamera DSLR yang lebih canggih, tiba-tiba saya ingin berwirausaha memiliki Studio Foto sendiri. Akhirnya pelan-pelan saya bisa mencicil kebutuhan untuk mewujudkan passion saya itu, sambil saya masih terus bekerja sebagai perawat.
Saya memilih bidang usaha fotografi karena saya mencintai dunia photography. Dimulai dari hobi yang akhirnya itu menjadi passion terbesar saya. Saya tidak pernah mengikuti sekolah khusus memotret, kebanyakan otodidak. Saya hanya pernah mengikuti kursus online dua kali. Saya memberanikan diri untuk terjun menekuni usaha ini sejak 4 tahun lalu.
Kami pun pindah ke Denmark. Meski profesi saya perawat, saya pikir beralih profesi menjadi pilihan karena saya suka mencoba banyak hal selain bergelut dengan dunia keperawatan.
Seiring waktu, banyak permintaan wedding photo session ke saya. Ini menjadi alasan mengapa saya berwirausaha. Dari situ saya berpikir untuk membuat badan usaha yang legal. Fokus usaha bisnis yang saya tekuni tidak hanya di bidang photography saja.
Saat acara memotret “wedding”, saya mendapat kesempatan membantu beberapa teman yang ingin menikah di Denmark. Denmark menjadi negara pilihan pasangan beda kebangsaan untuk menikah. Pada akhirnya usaha saya berkembang pada jasa agensi pernikahan internasional.
Faktor keberhasilan mendirikan usaha ini saya pikir adalah rajin berusaha dan tahu strategi memarketkannya. Saya banyak memakai sosial media untuk mengembangkan usaha saya. Tentu itu semua belum tentu berjalan mulus. Karena saya berpindah kota sehingga saya butuh waktu untuk menjangkau market pasar di sekitar saya.
Selama empat tahun menjalani usaha di negeri suami, saya tahu bahwa itu semua tak mudah. Saya pernah menghadapi klien yang marah-marah atau tidak puas dengan kinerja saya. Namun saya tak berkecil hati karena saya menganggap itu semua sebagai kritikan yang membangun. Saya belajar bahwa membangun usaha adalah sebuah proses ketekunan.
Saran saya bila kita ingin berwirausaha di negara baru maka pelajari terlebih dulu market yang ada. Sepintar apapun kita dengan talent yang kita miliki, kalau kita tidak tau trik memasarkannya, maka usaha tersebut akan susah sekali berkembang.
Hal terakhir adalah mental. Kita hidup di negara asing yang tentunya tidak mudah dan tidak menyerah. Walau usaha yang kita jalani susah, teruslah belajar dan menggali potensi yang ada.