(AISIYU) Cerita Penyintas dari Denmark

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Denmark

2. Kutipan favorit

 “Don’t let yourself living in violence even for 1 minute. Run, save your live!”

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Pengalaman menjadi korban kekerasan. Aku pilih kata “pengalaman buruk”.

Kekerasan fisik dan psikis yg dilakukan oleh suami terhadap istri terjadi secara sistematis dan perlahan. Mantanku, setelah kami menikah 3 bulan, mulai  menggerogoti rasa percaya diriku. Contohnya dia bilang: “Mukamu pucat, coba make up-mu diperbaiki”. Lainnya dia pernah cubit perutku dan bilang “Ini apa, kok kamu gendut.” Terakhir juga dia pernah bilang: “Kamu tak secantik kita baru ketemu.”

Lama-lama mantanku mulai mendorong aku kalau dia marah. Setelah dia marah, dia akan menyalahkan aku karena membuat dia marah. Untuk menghentikannya, aku minta maaf dan berjanji tidak bikin dia marah lagi. Unbelievable?

Lama-lama dia membuat aku percaya bahwa akulah yang bodoh selalu membuat dia marah. Dia marah karena aku tak mengerti kultur Denmark,  gaya hidup orang Denmark, dll. Intinya akulah yang salah, padahal dia yang memukul aku.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Aku bertahan tujuh tahun hidup dengan mantanku karena aku mau menunggu dapat permanent resident di Denmark kemudian aku bisa pergi tinggalkan dia. Selama 7 tahun itu, aku persiapkan diri mulai dari sekolah bahasa, kuliah lagi, kerja dan apply permanent residence. Di saat aku tunggu permanent residence dia semakin parah kadar memukulnya sampai aku cedera.

Setelah itu, aku putuskan pergi dan tidak mau menunggu permanent residence di tangan. Sebelum menikah aku punya rumah di Jakarta. Rumah itu kujual dan uangnya aku masukkan ke account yang dia bilang, joint account. Ternyata account itu atas nama dia sendiri. Aku hanya punya kartu debit. Jadi aku stay dengan dia karena aku tak punya apapun lagi di Indonesia.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Dokterku dan psikolog sangat membantu. Juga bantuan teman-temanku.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Jangan pernah percaya laki-laki yang memukul akan berubah.

Jangan terlalu percaya diri kalau kamu bisa merubah keadaan atau perlakuan suami.

Ingat, sekali laki-laki membuat kamu menangis, dia akan bikin kamu menangis seumur hidup kalau kamu masih tinggal dengan dia.

Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang salah sehingga kamu dipukul!

Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang bodoh dan tidak bisa mengikuti cara hidup suami!

Jangan pernah mau hidup dengan pemabuk!

Jangan menyalahkan diri sendiri atau cari pembenaran terhadap perlakuan suami. Stres atau pengalaman masa lalu bukan alasan untuk memukul perempuan.

Jangan malu minta bantuan. Namun ingat, mintalah bantuan hanya kepada orang atau instansi yang bisa menolongmu. Semakin sedikit orang tahu masalahmu, semakin baik. Tidak perlu merumpikan suami ke teman-teman yang cuma bisa dengar.

Persiapkan dirimu untuk pergi dari suamimu. Cari kerja mandiri. Cari rumah, pindah sewaktu dia tidak di rumah. Minta alamat dan nomor hape dirahasiakan. Bilang ke tempat kerja bahwa namamu tak perlu ditampilkan di website tempat kerja.

Jangan ikut media sosial apalagi pakai nama sendiri!

Bangun network-mu dengan orang lokal. Teman sebangsa belum tentu ada manfaatnya untuk hidup di Eropa.

Ingat, kamu tidak wajib mempertahankan perkawinan kalau kamu tak bahagia. Cerai bukan dosa dan bukan hal yang memalukan.

Percaya bahwa banyak laki-laki baik. Sial saja ketemu yang jahat. Jadi cari pasangan baru!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Jerman

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Jerman

2. Kutipan favorit

Hang in there, strong woman. Hard times don’t last forever. Life moves on. And so will you.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Berawal dari suami yang meminta cerai, saya mendapatkan tekanan mental dari suami dan orang tuanya. Memang saya tidak mengalami kekerasan fisik tetapi kekerasan psikis yang hampir membuat saya untuk mengakhiri hidup saya. Kata-kata yang diucapkan suami dan ibu mertua saat itu, membuat saya, sampai dengan hari ini pun masih berusaha kembali untuk membangkitkan kepercayaan diri saya. 

Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang saya kira sangat menyayangi dan melindungi saya, ternyata adalah orang-orang yang paling menyakiti saya. 

Pada hari itu, semua berbalik 180 derajat. Yang dulu mereka bilang saya adalah wanita cantik, pandai, rajin, tahu cara merawat suami dan rumah, berbalik menjadi wanita “jahat”, wanita pemalas wanita penyakitan, wanita bodoh.

Bahkan mereka bilang, tidak akan ada orang di Jerman yang mau mempekerjakan saya.

Masih banyak kata-kata menyakitkan dan penghinaan yang diucapkan suami dan orang tuanya pada saya. 

Kata-kata yang sampai hari ini saya masih sangat jelas di ingatan saya.

Sepanjang umur saya, tidak pernah ada yang mengatakan hal-hal buruk itu kepada saya, tidak juga orangtua kandung saya.

Saya wanita mandiri yang bekerja keras demi mimpi-mimpi saya. Saya bukan wanita yang suka bergantung pada orang lain. Walaupun saya sakit-sakitan, saya tetap menunjukan kepada orang-orang di sekitar saya bahwa saya adalah wanita kuat.

Kepercayaan diri saya runtuh saat itu, merasa diri ini tidak berguna, ketakutan dan tidak berdaya. Saya hampir mengakhiri hidup saya, karena saya merasa apa yang mereka katakan itu benar, dan saat itu saya sendirian.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Di saat-saat kelam itu, saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa setiap saat, menaikan puji syukur saya kepada Tuhan atas semua yang terjadi, walaupun itu menyakitkan.

Menyerahkan semuanya kepada Dia dan percaya bahwa rancangan Tuhan akan hidup saya tidak pernah buruk. Saya belajar memaafkan suami dan orangtuanya, dan berdoa untuk mereka, walaupun secara manusia, itu sangat menyakitkan.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya keluar dari rumah suami saya, pindah ke kota lain, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan teman-teman baru, dan memulai kembali semua kegiatan atau hobi yang saya tinggalkan ketika dulu saya menikah dengan suami. Saya mulai membuat rencana hidup, mimpi-mimpi dan goal yang harus saya capai. Saya ingin bertahan hidup di Jerman, saya ingin memulai hidup yang baru. Saya mulai membangkitkan diri saya yang dulu “si wanita mandiri, percaya diri dan keras kepala”. 

Support dari orangtua di Indonesia dan teman-teman baik yang tinggal di berbagai negara, juga support dari atasan dan rekan-rekan kerja di tempat saya bekerja sekarang, mulai menumbuhkan kepercayaan diri saya yang sempat hilang. Tuhan mengirimkan saya banyak orang-orang baik di sekitar saya, seperti yang saya minta kepada Tuhan setiap hari. Bahkan atasan saya berkata “You should be proud of yourself!” Dia mengatakan ini karena dia tahu cerita saya dan kondisi saya pada saat saya bertemu dengan dia. 

Prinsip saya sekarang “Saya perempuan yang kuat. Saya tidak duduk-duduk mengasihani diri sendiri atau membiarkan orang menganiaya saya. Saya tidak menanggapi orang yang mendikte saya atau mencoba menjatuhkan saya. Jika saya jatuh, saya akan bangkit lebih kuat. Saya yang mengendalikan hidup saya.”

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Untuk wanita-wanita kuat di luar sana yang sedang mengalami kekerasan, jangan takut, bertahan dan tetaplah kuat!

Jangan takut untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, atau organisasi yang memberikan bantuan kepada perempuan yang mengalami kekerasan.

Kalian harus berani mengambil langkah untuk bertahan. Akan ada banyak orang yang membantu kita, asalkan kita mau, berani, dan tidak malu untuk menceritakan masalah kita.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Indonesia

2. Kutipan favorit

Setiap perempuan berhak hidup dengan aman, damai, dan bebas dari kekerasan.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Berawal dari perselingkuhan suami yang sudah terjadi dari delapan tahun lalu, yang kemudian membuat kami selalu ribut hampir setiap hari. Puncaknya di suatu malam, kami benar-benar ribut besar. Suami menampar pipi saya, saya langsung telepon orang tua saya. Keesokan harinya saya melaporkan ke mertua juga tetapi sedikit pun mereka tidak membela saya.

Selang beberapa tahun suami saya melakukan KDRT lagi dengan melempar tas ke tubuh saya. Dia marah besar karena saya melaporkan perselingkuhannya ke Badan Kepegawaian. Setelah itu, dia pergi dari rumah meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Awalnya saya memutuskan untuk tetap bersabar dan bertahan karena posisi saya yang tidak bekerja. Saya masih sangat bergantung masalah financial. Saya juga masih memikirkan nasib anak-anak yang masih kecil, masih butuh figur seorang ayah.

Lama-kelamaan kezaliman suami semakin menjadi-jadi. Dia melakukan mulai dari selingkuh sampai delapan tahun, KDRT, kasih nafkah yang sangat amat tidak wajar. Padahal dia berpenghasilan sebagai PNS di Jakarta yang lumayan besar.

Ketika anak-anak sudah besar usia 14 tahun dan 11 tahun, mereka sudah tidak peduli dengan papanya lagi. Mereka yang men-support saya supaya segera berpisah dengan papanya.

Karena itu di tahun itu, saya memberanikan diri untuk mengurus perceraian supaya hidup saya bisa lebih tenang, damai, bebas dari kezaliman suami, memiliki status yang jelas, tidak digantung terus menerus, dan bahagia lahir batin.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Semua kesedihan dan penderitaan yang saya alami karena perselingkuhan dan KDRT yang dilakukan suami telah membuat saya hampir putus asa dan tidak semangat hidup.

Lama kelamaan saya sadar kalau saya berhak bahagia, laki-laki demikian tidak pantas untuk diratapi dan ditangisi.

Saya berusaha untuk ikhlas, melakukan self-healing, meningkatkan self love, lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah SWT, dan mengalihkan kesedihan ke hobby atau aktivitas-aktivitas yang saya suka, seperti baking, senam, yoga, menonton film, bernyanyi, hangout dengan anak-anak atau teman-teman.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya untuk para perempuan-perempuan di luar sana yang pernah atau sedang mengalami kekerasan, BANGKITLAH! Speak Up dan mintalah pertolongan kepada orang-orang terdekat.

Yakinlah kalau semua perempuan itu memiliki Value. Kita berhak bahagia. Kita berhak memiliki masa depan yang lebih baik.

Semangat bestieee!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Pakistan

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Pakistan

2. Kutipan favorit

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Trauma. Kaget. Tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini. Saya seperti tidak percaya.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya telah tinggal bersama suami 15 tahun. Suami saya tidak pernah memukul atau bersikap kasar seperti membentak misalnya. Pada dasarnya suami adalah orang yang baik, penyabar, dan penyayang. Saya merasa ketegangan yang terjadi pada dia karena perlakuan keluarganya sendiri.

Menurut saya, keluarganya suka pilih-pilih. Saya pikir karena kita tidak sesukses keluarganya yang lain sehingga kita dikucilkan. 

Itu sebab, suami terpuruk ke dunia narkotika. Puncaknya dia melakukan KDRT. Saya coba bertahan selama 8 tahun karena saya masih berharap dia bisa berubah. Saya masih mencintainya. Saya juga merasa dia masih sangat mencintai saya dan anak-anak saya. Saya pikir semua karena pengaruh narkotika sehingga dia tidak lagi menguasai dirinya sendiri. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya belum bisa mengatasi trauma ini. Jika dia di samping saya, saya masih merasa gemetaran sehingga saya putuskan untuk meninggalkan dia dengan harapan dia akan sadar dari segala kesalahannya.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya untuk teman-teman yang senasib, saya pikir garis hidup tidaklah sama. Perubahan itu perlu. Bertahan boleh. Menurut saya pribadi, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. 

Selama dia tidak menyentuh perempuan lain, Insya Allah, saya pun masih memikirkan dia. Saya berharap suatu saat nanti, dia akan tersadar dan mendapatkan hidayah. Karena hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah haruslah dijemput. Jangan putus asa! Kita harus menyemangati pasangan, karena hanya kita yang tahu karakter dia bagaimana.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Indonesia

2. Kutipan favorit

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Di akhir umur belasanku, aku terjebak dalam hubungan tidak sehat selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Dia berumur 10 tahun lebih tua. Awalnya aku berpikir pikiran dan sikap dia akan lebih dewasa. Ternyata aku salah. Keintiman yang terjadi sejak awal berpacaran berubah menjadi pemaksaan.

Aku dipaksa untuk berhubungan intim dengannya, bahkan ketika aku menangis dan berkata “aku tidak mau”. Setiap kali bertemu, kejadian itu berulang sampai diakhir tahun pertama hubungan kami, aku hamil. Aku kemudian memutuskan untuk aborsi. Bahkan hubunganku dengan teman-temanku pun dibatasi olehnya.

Alasannya, dia tidak mau aku curhat tentang apapun yang terjadi dalam hubungan kami kepada orang lain. Tak jarang, aku berniat untuk memutuskan hubungan. Namun dia selalu mengancam untuk membunuh dirinya sendiri atau untuk mengatakan semua yang terjadi kepada orang tuaku. 

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Aku lelah dengan hidupku yang seakan hanya menuruti nafsu orang lain saja. Perkuliahanku waktu itu sangat mendukung pemikiranku untuk berkembang yang menuntunku untuk berpikir bahwa hubungan pacaran ini sudah tidak sehat, tidak benar, dan tidak wajar.

Bahwa aku memiliki hak atas hidupku sendiri menjadi hal yang aku kejar waktu itu dan seolah membuka mata dan jalan sehingga aku mendapat pertolongan dari teman-teman yang ternyata peduli terhadapku. Ini menjadi pemantik semangatku untuk menolong diriku sendiri keluar dari hubungan itu. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Hal pertama yang aku lakukan adalah berani bercerita dan terbuka mengenai kekerasan seksual yang aku alami kepada orang yang aku percaya. Selain itu, aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Setelah hubunganku berakhir, aku memutuskan untuk pindah ke Jerman untuk melanjutkan studi.

Jarak jauh dari Indonesia memberiku kesempatan untuk menata kembali hidup, perasaan, dan mentalku. Di Jerman, aku juga mencari pertolongan profesional dengan melakukan terapi psikologis. Selain itu, aku juga lebih memilih untuk bergaul dan mengelilingi diriku dengan orang-orang yang benar-benar peduli denganku. 

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Kalian tidak sendiri! Kalian adalah orang yang kuat! Carilah bantuan profesional secepat mungkin: polisi, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional

(AISIYU) Cerita Penyintas dari India

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: India

2. Kutipan favorit

Kutipan ini saya tujukan untuk para suami, terutama yang berkewarganegaraan asing. Hargailah perempuan Indonesia yang menjadi pasanganmu. Dia sudah rela meninggalkan keluarganya demi membangun hidup bersamamu di negara yang asing. Hargai, sayangi, dan hormatilah pasanganmu.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Saat itu sepertinya rasa takut yang nyata selalu mengikuti saya, bahkan ketika tidak adanya ancaman terhadap nyawa saya. Belum pernah sepertinya saya mengalami rasa takut yang sedemikiannya mengontrol diri saya. Psikis saya benar-benar terganggu. Bahkan saya berbicara pun tidak mampu.

Perlakuan dan perkataan yang terucap dari mertua, suami, dan ipar sangat menyakitkan dan menekan emosi saya.  Suami abai terhadap tanggung jawabnya dan menelantarkan saya yang semakin merasa terasing di negeri asing. Pun tidak ada teman berbagi duka.

Dalam keadaan tertekan dan ketakutan seorang kenalan keluarga suami memperkosa saya. Ancaman dari si pemerkosa membuat hidup terasa semakin hancur dan psikis saya semakin terganggu. Saya linglung. Saya semakin ketakutan. Semakin tidak berani untuk bicara kepada siapapun, termasuk keluarga. Rasa malu yang teramat sangat telah membuat saya lumpuh secara mental.

Kekerasan psikis yang saya alami ini memberikan trauma dan efek mendalam pada saya bahkan setelah saya keluar dari duka ini.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya bertemu dengan suami yang kedua di saat saya ada di titik terendah. Saya diusir oleh mantan suami dan mengalami perkosaan. Suami kedua sayalah yang menyadarkan saya untuk keluar dari pernikahan yang sudah sama sekali tidak sehat ini. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekalian memulihkan jiwa saya. 

Setelah setahun di Indonesia, saya kembali ke India untuk menemui dua buah hati saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Yang terpikirkan oleh saya adalah saya harus keluar dari duka panjang ini. Salah satunya saya lakukan demi anak-anak. Adalah hak mereka untuk mempunyai ibu yang sehat secara mental. Sehat secara mental tentunya akan membuat saya lebih baik dalam mengekspresikan rasa sayang dan cinta kepada dua buah hati saya walaupun kami tidak bersama.

Kata cerai yang sebelumnya tabu, akhirnya menjadi jalan keluar dari hubungan yang tidak sehat ini.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.

Walaupun mungkin mental saya belum sepenuhnya pulih, paling tidak sekarang saya bisa menikmati hidup dengan rasa yang aman. Rasa aman ini memudahkan saya untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Jangan pernah malu untuk berbicara masalah yang sedang kita hadapi kepada orang yang kita percaya dan aman untuk berbagi. Perlu untuk menyimpan nomor-nomor penting seperti kepolisian dan Kedutaan Besar Indonesia maupun Konsulat Jendral Indonesia.

Laporkan segera kekerasan yang kita alami kepada polisi setempat maupun perwakilan Indonesia di wilayah kita. Selain itu, kita juga bisa meminta bantuan LSM ataupun komunitas-komunitas Indonesia yang ada di negara tempat kita tinggal.

Jangan sungkan untuk meminta bantuan!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Italia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Italia

2. Kutipan favorit

When you learn how much you’re worth, you’ll stop giving people discounts.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Ketika berpacaran dengan warga asing, saya sempat beradu argumen dan dia menjambak rambut saya dan menyeret saya ke depan cermin di kamar mandi sambil bilang: “Vedi la puttana?!” —”Lihat pelacur itu (di cermin)?!” 

Saat itu juga, saya memutuskan untuk meninggalkan dia. Namun, dia terus menerus men-stalking saya, ke kampus, ke tempat kerja, sampai saya harus pindah apartemen. 

Teman saya (sekarang menjadi suami saya) akhirnya menghubungi polisi setempat dan pihak polisi memberinya teguran. Sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya beruntung tumbuh dalam keluarga yang harmonis, sehingga saya langsung sadar bahwa saya harus keluar secepatnya dari situasi tersebut. Saya juga memiliki teman yang membantu & menyadarkan saya untuk mencari pertolongan (pihak kepolisian Italia). 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Awalnya tidak mudah. Setiap saya melihat lelaki berperawakan tinggi, berambut cepak maka jantung saya langsung berdebar cepat. Saya takut kalau-kalau itu mantan saya yang masih menguntit/men-stalking saya. Namun, pelan-pelan seiring berjalannya waktu, perasaan takut saya pun hilang dan kepercayaan diri saya kembali lagi. Saya perlu waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif agar tidak terus menerus hidup dalam ketakutan.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Trust your gut, know your worth. And don’t be afraid to look for a help.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Qatar

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi : Qatar

2. Kutipan favorit

Stop kekerasan pada perempuan karena cinta tak seharusnya menyakiti!

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Rasanya menjadi korban kekerasan? Bagi saya tentu sangat menyakitkan dan penuh trauma. Lima tahun bertahan dalam keadaan yang sulit, bahkan sudah tujuh tahun lepas dari keadaan yang menyakitkan itu tetapi saya masih merasakan sakitnya di hati. Saya masih mengingat kenangan itu bagaimana terjadi. 

Sakit di raga bisa diobati tanpa menyebabkan bekas tetapi tidak dengan rasa sakit di hati karena kenangan masa lalu yang menyakitkan. Hari ini, dan seterusnya, bahkan sampai akhir hayat pun saya masih merasa sakit. Trauma itu masih ada meskipun saya menemukan pengganti yang lebih baik.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Masa-masa lima tahun saya bertahan dalam keadaan sulit itu. Saya berpikir, entah ini cinta atau bodoh. Saya pun sudah tidak tahu lagi.

Saya hanya berharap waktu itu lelaki yang saya cintai mau berusaha untuk berubah dan tidak mengulanginya. Dengan umur yang masih muda saat itu, saya benar-benar sangat tenggelam dalam cinta sampai rasa sakit pun bisa saya tekan sendiri. Saya tidak bercerita ke orang lain bahkan kepada orang tua saya sekalipun. 

Di saat bekas-bekas kekerasan itu masih ada, saya berusaha untuk tersenyum dan hanya mengatakan “ini terjatuh”.

Namun, saya katakan kepada diri saya. Setelah lima tahun dan semakin bertambahnya umur, saya menjalani hari-hari yang sulit. Saya berkata: “Saya harus keluar dari keadaan seperti ini. Ini tidak bisa berlanjut. Ini bukan cinta!”  

Cinta itu bukan menyakiti, melainkan cinta harus saling mengasihi. Cinta itu tidak begini, TIDAK.

Seseorang yang mencintai kita itu, seharusnya membuat kita bahagia. Bukan justru sebaliknya.

Setelah saya katakan itu terus berulang kali dalam setahun penuh, saya berpikir dan terus berpikir maka saya putuskan untuk bercerita kepada orang tua. Saya ceritakan tentang apa yang sudah terjadi. Merekalah orang yang bisa membantu saya untuk keluar dari keadaan sulit ini. 

Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi saya dan menampung saya bahkan mendukung saya dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tanpa orang tua yang membantu saya saat itu, mungkin saya sudah tidak kuat lagi di dunia ini.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Cara mengatasinya saat itu, orang tua saya menyarankan untuk menyibukkan diri dengan bekerja lagi. Setelah kekerasan itu, saya depresi empat bulan. Saya hanya tidur, makan, dan mandi. Saya tidak memiliki semangat hidup.

Namun, orang tua saya selalu menyarankan agar menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya memohon ampun atas kesalahan dan bercerita di atas sajadah. Orang tua saya kemudian mencarikan pekerjaan untuk saya agar saya jauh dari mantan saya.

Orang tua saya diteror. Mantan saya menjelek-jelekkan saya di hadapan orangtua saya.

Orang tua saya selalu bilang “Kami akan selalu percaya denganmu nak. Carilah kehidupan baru yang lebih baik! Kami orang tuamu akan selalu mendukungmu di sini. Sibukkan dirimu dengan hal positif, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mulai dengan kehidupan barumu seperti dulu kala (saat tanpa dia).

Itu memang benar. Setelah saya menyibukkan diri saya dengan pekerjaan, saya lebih bersemangat dan bertemu dengan orang-orang baru yang positif. Ini membuat diri saya menjadi orang yang positif kembali, penuh senyum, penuh tawa dan tidak lagi terasa sakit di dada.

Saya berterima kasih kepada orang tua saya dan saudara saya. Mereka telah membuat saya bisa “kembali hidup”. Bahkan saya kini sudah memiliki putri yang cantik dengan suami saya yang sekarang.

Saya tidak menyangka bahwa saya bisa menikah kembali. Saya membutuhkan beberapa tahun untuk menerima suami saya saat itu. Saya butuh waktu lama untuk “percaya kepada laki-laki kembali”. 

Setelah saya keluar dari masa sulit, saya bahkan tidak berkeinginan menikah kembali. Saya bersyukur karena orang tua saya juga tidak pernah memaksakan saya untuk menikah kembali. Sampai saat ini, saya masih mengingat apa yang terjadi “saat itu”, entah kapan bisa terhapus oleh waktu.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Berani untuk keluar dari laki-laki yang hanya bisa menyakiti baik itu secara fisik, verbal, seksual, maupun psikis non verbal. Lelaki yang baik tidak akan pernah bisa melihat perempuan yang dicintainya menangis karena dirinya. Ceritakan hal hal tersebut kepada seseorang yang kalian percaya sehingga mereka bisa mencarikan jalan keluarnya. 

Jika berada di luar negeri, kalian bisa mendatangi KBRI/KJRI di lokasi negara kalian untuk mencari perlindungan. Untuk saya sendiri, saya dibelikan tiket oleh orang tua saya. Secara diam-diam, saya keluar dari rumah sehingga dia tidak bisa menahan saya. Jadi, dia tidak tahu kalau saya akan pergi darinya. 

Saya tidak melaporkan dia. Saya berpikir saat itu adalah saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat. Saya segera keluar dari keadaan yang menyakitkan sebelum terlalu jauh menjalaninya. Kalian perempuan tangguh, kalian pasti bisa hidup mandiri, hidup baru, dan menemukan lelaki baru yang jauh lebih baik. 

Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Jangan takut melangkah! Jangan takut hidup tanpa dirinya!

“Kita berhak bahagia”

Jangan pernah takut untuk melawan! Ingat, bahwa kalian tidak sendiri!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi : Indonesia

2. Kutipan favorit

If we are to fight discrimination and injustice against women we must start from the home for if a woman cannot be safe in her own house then she cannot be expected to feel safe anywhere. (Aysha Taryam)

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Saya mengalami kekerasan fisik dari mantan suami selama enam belas tahun pernikahan. Dia memukul, menendang, dan menjambak serta membentur-benturkan kepala saya ke tembok hanya karena hal sepele. Misalnya, saya meminta untuk tidak keluar malam. Setiap malam, dia pulang pagi, Dugem di diskotik, mabuk, dan main perempuan.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya memutuskan berhenti menjadi korban penyiksaan lahir batin karena saya ingin menyelamatkan jiwa anak-anak saya, yang berpotensi toxic karena hidup di dalam rumah tangga yang tidak sehat.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya tidak memberi ruang untuk kesedihan karena saya harus bekerja dan menghidupi, dan menyekolahkan 3 anak. Mereka adalah dua anak yang sudah remaja saat itu dan satu balita. Intinya adalah saya mengalihkan pikiran ke hal-hal yang produktif. Senantiasa saya mendoktrin diri sendiri bahwa saya tidak lemah.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya, jika suami mulai melakukan kekerasan maka kita lawan. Ini tidak berarti dilakukan secara fisik saja tetapi kita tunjukkan bahwa kita tidak bisa menerima perlakuan tersebut.

Jangan malu meminta pertolongan!

Jangan bertahan untuk alasan-alasan emosional! Kalau kita mengharapkan pelaku berubah adalah hal yang hampir mustahil.

Jangan menganggap bahwa Anda tidak mampu hidup tanpa dia! Keselamatan tubuh dan jiwa Anda adalah yang utama.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Swedia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi : Swedia

2. Kutipan favorit

Saat Anda menemukan keberanian untuk meninggalkan apa yang tidak dapat Anda ubah, itu akan menjadi saat yang paling membahagiakan dalam hidup Anda.

You are worthy of love not abuses!”

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Traumatis. Selama hampir 5 tahun dalam toxic relationship, saya disiksa secara mental, itu membuat saya menjadi orang yang berbeda. Saya selalu merasa bersalah, takut, tertekan, sangat tidak bahagia, tidak dihargai, tidak dicintai, dan tersiksa. Itu semua memakanku perlahan-lahan.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Setelah banyak berpikir, saya membuat keputusan untuk keluar dari situasi. Bahwa saya ingin bahagia, saya ingin bebas tanpa tekanan, saya ingin dicintai, saya layak mendapatkan cinta, dan dihargai. Saya tak ingin dilukai dan dikhianati lagi. Saya ingin tenang dan aman tanpa khawatir. Saya tidak ingin diam lagi dan menerima kekerasan ini lebih lama. Saya tidak ingin babak belur secara mental, apalagi fisik. Jangan mengikuti aliran “cinta adalah pengorbanan”!

Itu akan membuat hidup dalam stigma sosial seperti istri harus patuh, cerai bukan jalan keluar, cerai adalah tabu untuk wanita, janda adalah aib dan seterusnya.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Mencoba hidup dengan rasa sakit dan trauma. Saya merangkul, menerima, dan berdamai dengan rasa sakit dan trauma. Sekarang ini menjadi bagian dari diriku. Saya fokus kepada hal hal yang positif. Saya melakukan sesuatu yang berguna atau impikan, seperti bekerja, mendekatkan diri dengan keluarga dan teman teman, melakukan hobby (memasak, berkebun, mempunyai hewan peliharaan, atau traveling). Intinya kita mencintai diri, self-care, dan perbaikan diri untuk membangun kepercayaan diri lagi.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Kita perlu mengakhiri siklus pelecehan. Kebanyakan pelaku tidak akan mengubah perilaku kekerasan mereka. Seorang korban harus sadar dan mengakhiri hubungan untuk menghentikan siklus. Seorang korban dapat mengembangkan rencana keselamatan dengan orang yang dicintai, terapis, atau advokat yang terpercaya untuk memulai proses keluar dengan mulai berbicara dan mencari pertolongan.

Beranikan diri, speak up, jangan diam! Mulailah bertanya dan mencari bantuan atau berkonsultasi. Jangkau, tanyakan, dapatkan saran, dan solusi dari ahli atau seseorang yang Anda percayai, keluarga, atau sahabat.

Tetap positif! Saya percaya bahwa Anda dapat membuat keputusan yang tepat. Berdoa agar kita lebih dekat dengan Tuhan.

(AISIYU) Stop KDRT di Luar Negeri

Kepada Yth. 

Para Pria Warga Negara Asing (WNA)

di luar Indonesia

Salam hormat,

Saya mengatasnamakan para perempuan Indonesia yang menikahi pria WNA merasa prihatin atas maraknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di luar negeri. Sadarkah kalian bahwa orang yang dipukul, ditampar atau ditendang adalah orang yang ditiduri dan tempat kalian menyalurkan hasrat seks?

Sadarkah kalian bahwa kami telah meninggalkan tanah air, keluarga yang dicintai, pekerjaan dan kehidupan kami yang cemerlang hanya untuk bersatu dengan kalian di tanah asing ini?

Sadarkah kalian bahwa kami telah memilih hidup baru bersama kalian dengan belajar budaya dan bahasa yang baru di tanah rantau tetapi kalian malah mencaci, memaki, mengeluarkan umpatan kasar?

Follow us ruanita.indonesia

Sadarkah kalian bahwa kami juga ingin mandiri secara finansial tetapi kami terbelenggu dengan kemampuan bahasa, prejudice, kemampuan akademis sebelah mata hingga pendapat miring?

Kami ingin mengambil bagian dalam rumah tangga, tetapi kami masih mengurus rumah dari pagi hingga malam. Pekerjaan yang tak ada hentinya sementara kalian menikmati minuman alkohol di luar lalu mabuk, kami menjadi sasaran kekerasan di rumah.

Dahulu kalian meminang kami dengan cinta, apa daya kami luluh dengan impian bak puteri di negeri dongeng. Dahulu kami berharap tanah rantau memberikan sukacita hidup yang baru. Dahulu kami berpikir bahwa kami bisa hidup bahagia seperti apa yang dirasakan di negeri sendiri.

Sekarang kami mesti berhadapan dengan perangai kalian yang kasar dan tak tampak saat berpacaran dulu. Sekarang kami perlu waktu beradaptasi dengan budaya dan bahasa, bukan karena kami bodoh. Sekarang kami juga alami gagap budaya, stres dan depresi tetapi kalian malah merendahkan kami. 

Kami berjuang menjadi isteri terbaik dan penuh cinta, tetapi kalian berselingkuh dengan perempuan lain. Kami berjuang kerja apa saja karena kalian tidak berikan sepeser pun uang, bahkan untuk beli make up atau pergi ke ginekolog.

Kami lari ke “Rumah Aman” kami khawatir bahasa yang belum lancar. Kami lapor polisi, lalu kalian datang mengemis dan berjanji tidak mengulangi lagi. Saat kami kembali, kalian usir kami dan disuruh angkat kaki dari rumah. 

Tak tahukah bahwa berat rasanya hidup yang kami alami? Kami menikah tetapi kami tidak bahagia. Pada siapa kami mengadu, mereka hanya berkata “Salah sendiri, ngapain kawin sama bule.”

Hormat kami,

Perempuan Korban KDRT di luar negeri

(AISIYU) Stop Kekerasan pada Perempuan

Kawan-kawan yang baik, 

Kalimat yang mungkin sering didengar setiap kali ada kejadian kekerasan terhadap perempuan yang mencuat keluar dari batas-batas ruang, apakah ruang pribadi atau pun ruang umum.

Tetapi banyak juga peristiwa kekerasan yang bisa keluar dari batas pintu yang sering masih juga tak terlihat, karena banyak dari kita, orang-orang yang ada di sekeliling kekerasan itu terjadi seperti menjadi buta tak lagi melihatnya sebagai kekerasan, menjadi tuli karena tak lagi bisa mendengar suara permintaan tolong dari para korban. Kekerasan yang menjadi kenormalan keseharian.

Follow us ruanita.indonesia

Mengasah panca indera agar tak buta dan tuli terhadap kejadian-kejadian kekerasan yang seharusnya bisa dihentikan karena penguatan dari masyarakat di sekeliling kejadian kekerasan, adalah hal yang kita perlukan.

Apakah ada caranya? Tentu saja! Karenanya himbauan ini tak kutulis pada petinggi negara ini, tak kutulis pada ilmuwan dengan teori-teorinya. Surat terbuka ini, surat sederhana yang kutulis untukmu, Kawan!

Benar, kutulis barisan kata ini untukmu Kawan. Mari kita buka bersama mata, kita pertajam pendengaran, kita ketuk relung hati dan menerjemahkannya dalam pikiran yang teratur.

Mari kita melangkah bersama untuk menghentikan segala bentuk kekerasan pada perempuan dengan melihat dan mendengar dengan mata, hati, dan pikiran kita.

Mari serukan, viralkan bersama: Stop Kekerasan pada Perempuan!

Hamburg, 11.11.2021

Dyah Narang-Huth

Penulis: Dyah Narang-Huth adalah pengiat APPBIPA Jerman dan pendiri IKAT Sprachenwerkstatt.

(AISIYU) Surat kepada UN Woman

Dear UN WOMAN,

Perkenalkan nama saya Mentari. Usia saya mendekati setengah abad saat saya memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang warga negara asing. Saya membuat pilihan meninggalkan Indonesia dan tinggal di negaranya yang indah dan impian banyak orang. Saya tinggalkan semua yang saya punya, keluarga dan juga karir yang cukup bagus demi dia.

Namun hanya dalam hitungan bulan, mimpi indah yang saya impikan itu menjadi sebuah kenyataan buruk. Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri secara mental menerima dia apa adanya, tentunya dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Follow us ruanita.indonesia

Akan tetapi perbedaan kultur diantara kami sangat tidak bisa saya terima. Cara dia memperlakukan wanita sangat buruk. Ya, saya tidak memang tidak mengalami kekerasan secara fisik, namun saya mengalami kekerasan verbal dan mental. Bahkan setiap saat dia selalu mengusir saya dari rumahnya.

Kami para perempuan tidak diperbolehkan banyak melakukan aktivitas di luar dan tidak diberi nafkah materi. Kami hanya  bisa bekerja di rumah dan bersiap apapun saat suami membutuhkan. Ini memang kultur dan mungkin sulit untuk diubah. Tapi apakah perempuan tidak punya hak untuk bersosialisasi dan berkarya mengaktualisasikan jati dirinya?

Demikian dari saya, semoga  melalui surat terbuka ini, besar harapan saya ada sebuah wacana baru untuk kesamaan derajat para perempuan di belahan dunia manapun. Terima kasih.

Salam hormat,

Mentari

(AISIYU) Perkara Kekerasan Seksual terhadap Kaum Perempuan

(Surat ini ditujukan kepada Buya Sjafii Ma’arif, intelektual Muslim senior Muhamaddiyah )

Sejak masa remaja, saya sudah menyadari dan menyaksikan bagaimana kaum perempuan rentan terhadap tindak kekerasan atau pelecehan seksual di masyarakat kita, selain saya pernah mengalami sendiri perlakuan seperti itu. Yang tentunya sangat mengecewakan dan menimbulkan kemarahan, saya juga mendengar keluhan-keluhan baik dari teman perempuan maupun informasi dari mereka yang teraniaya.

Nah, belakangan saya menyimak informasi menyedihkan sehubungan dengan persoalan ini. Berikut saya kutip bagian tulisan penting yang ditulis oleh Sulistyowati Irianto, Co-founder Mata Kuliah Gender dan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia: 

Universitas di Indonesia tidak henti-hentinya dirundung malang. Belum selesai urusan semakin merosotnya kebebasan akademik dan demokrasi di kampus dengan segala dampaknya, sekarang mencuat isu kekerasan seksual yang korban umumnya adalah para mahasiswi. Lembaga paling terhormat, penjaga gerbang kebenaran di hati masyarakat, ternyata menyimpan kejahatan yang paling memalukan: kekerasan seksual, yang begitu disembunyikan, tertutup rapat bisa puluhan tahun. Mengapa?

Pelakunya umumnya dosen pengajar, pembimbing skripsi atau disertasi, pembimbing akademik, termasuk profesor. Mereka memiliki kuasa amat besar terhadap mahasiswa, bisa menentukan kelulusan dan berapa nilainya. Mahasiswa ini bisa S1, S2 bahkan S3. Lalu apakah para pelaku ada yang dihukum atas perbuatannya? Amat jarang, bahkan yang sampai ke meja hijau hampir tidak ada. Mengapa? Karena tidak ada instrumen hukum yang mengaturnya. Secara politik, pengakuan terhadap terjadinya kekerasan seksual di kampus bisa memalukan institusi.

Follow us ruanita.indonesia

Menyembunyikan dan membiarkan adalah jalan aman yang umumnya ditempuh. Para orang tua menguliahkan anaknya agar menjadi pintar, tetapi ada saja yang malah jadi korban. Ternyata kampus bukan tempat aman bagi mahasiswa. Survei Jakarta Post 2019 menunjukkan 96 persen korban mahasiswi. Predator seksual ada di setiap sudut kampus, bersembunyi dalam selubung etika moralitas yang palsu dan hipokrit.

Kalau di lembaga pendidikan tinggi saja bisa terjadi persoalan seperti ini – bisa dibayangkan apa yang mungkin terjadi di tataran “bawah”nya. Padahal konon masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam dikenal sebagai masyarakat religius dan taat beragama tetapi mengapa kekerasan masih terjadi? Dalam hal ini khususnya terhadap kaum perempuan dan juga bersifat seksual?

Menurut data dari catatan tahunan Komnas Perempuan – pada tahun 2020 setelah wabah korona melanda dan masyarakat lebih banyak tinggal di rumah, ternyata kekerasan seksual terhadap perempuan di ranah privat menempati angka tertinggi. Selain itu, 58% dari total angka kekerasan terhadap perempuan di wilayah publik dan komunitas terjadi dalam bentuk kekerasan seksual.

Pada tanggal 31 Agustus 2021 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menandatangani Peraturan Menteri Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Permendikbud Ristek no 30/2021 yang diluncurkan dengan maksud untuk melindungi korban pelecehan dan kekerasan seksual malah menimbulkan kontroversi. Dan bahkan Menterinya dituding melegalkan zina atau kebebasan seks.

Terima kasih atas perhatiannya.

Salam hormat,

Arahmaiani

Penulis: Arahmaiani selaku Seniman dan Esais, yang bisa dicek profilnya di wikipedia pada link yang ditautkan.

(AISIYU) Surat kepada Dewan Pendidikan Sekolah

Kepada Yth:

Dewan Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan di Indonesia

di tempat

Dengan hormat,

Saya meyakini bahwa pendidikan adalah hak asasi manusia, terlepas dari latar belakang dan jenis kelaminnya. Pendidikan juga menjadi sebuah fundamental pembangunan bangsa, terutama bagi perempuan. Bagi saya, perempuan adalah poros keluarga sehingga mendapatkan hak-haknya untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin adalah penting.

Mengapa demikian? Karena tugas mendidik anak sejak dini dilakukan oleh perempuan sejak anak itu dilahirkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Medical Research Council Social and Public Health Sciences Unit dengan menganalisis 12.686 orang berusia 14-22 tahun, didapatkan temuan bahwa kecerdasan anak berasal dari sang ibu.

Penelitian ini menyebutkan bahwa ada gen tertentu yang beroperasi secara berbeda tergantung dari mana gen itu berasal, apakah dari ibu atau ayah. Kecerdasan seseorang terletak pada kromosom X. Perempuan membawa dua kromosom X dan laki-laki membawa satu kromosom X, maka dari itu kecerdasan seorang anak sebagian besar berasal dari ibunya.

Generasi-generasi penerus bangsa yang baik dan berwawasan luas lahir akan dari rahim perempuan yang berwawasan luas pula. Lalu mengapa ketika seorang siswi didapati hamil ketika dia masih duduk di bangku sekolah, lantas dianggap tidak layak untuk menyelesaikan pendidikan seperti umumnya?

Follow us ruanita.indonesia

Ketika saya duduk di bangku sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Yogyakarta, terjadi sebuah kejadian yang menggegerkan seantero sekolah. Seorang siswi, teman baik saya, menjalin hubungan dengan teman satu kelasnya sampai siswi tersebut hamil. Siswa dan siswi itu kemudian dipanggil ke ruang bimbingan konseling yang dihadiri oleh orang tua murid dan dewan sekolah.

Kemudian atas pertimbangan dewan sekolah, siswi tersebut dikeluarkan karena dianggap telah mencoreng nama baik sekolah dengan memberikan contoh yang tidak baik bagi siswi-siswi lain di sekolah. Ketimpangan kemudian terlihat nyata ketika siswa yang menghamili siswi tersebut tidak mendapatkan sanksi yang sama. Siswa laki-laki yang menghamili temannya itu tetap diijinkan untuk menyelesaikan pendidikan.

Lalu bagaimana mungkin dua orang yang melakukan kesalahan yang sama tidak mendapatkan sanksi yang seimbang hanya karena jenis kelamin mereka? Sedangkan berdasarkan pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD), dinyatakan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kata “setiap” di sini menjadikan undang-undang ini juga berlaku bagi para siswi yang hamil tanpa terkecuali.

Sekolah hendaknya meninjau kembali keputusan-keputusan yang timpang dan merugikan siswi yang hamil walaupun mereka masih duduk di bangku sekolah, sehingga keputusan-keputusan yang ada tidak lantas menihilkan fungsi pendidikan di sekolah.

Fungsi pendidikan di sekolah seharusnya mendidik dan melaksanakan pendidikan moral, bukan menghukum. Terlebih lagi memberikan hukuman yang timpang. Siswi yang hamil seharusnya tidak di keluarkan tetapi diberikan bimbingan khusus, karena bagaimanapun juga pendidikan adalah hak asasi mereka.

Banyaknya kasus yang serupa menjadikan pendidikan tentang kesehatan dan reproduksi menjadi penting untuk diberikan. Penyuluhan dan pemberian informasi terkait konsekuensi kehamilan di sekolah juga perlu diberikan baik itu kepada siswa dan siswi maupun orang tua murid.

Saya berharap ketimpangan ini dapat segera diatasi sehingga nantinya tidak ada lagi ketidakadilan yang merugikan perempuan.

Hormat saya,

Perempuan yang mendukung kesetaraan pendidikan