Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Kategori: CERITA SAHABAT
Cerita pengalaman, pengamatan, pengetahuan dan praktik baik orang Indonesia tentang tema-tema spesial di luar Indonesia. Cerita Sahabat dikelola oleh Mariska Ajeng (di Jerman), Aini Hanafiah (di Norwegia), Tutut Handayani (di Swedia), Rieska Wulandari (di Italia), Griska Gunara (di Inggris) dan tampilan visual di Instagram dikelola oleh Rena Loliver, (di Swiss).
Untuk partisipasi, bisa mengirimkannya via form bit.ly/Sahabat-Ruanita atau kontak Tim Cerita Sahabat via email ke info@ruanita.com.
Sahabat Ruanita, aku menikah dengan pria berkebangsaan Swiss kemudian menetap di negeri suami sudah lebih dari lima tahun. Aku memiliki dua putera yang membuatku happy selama tinggal di perantauan. Setidaknya aku kini tidak sendirian dan kesepian lagi karena ada dua buah hatiku.
Soal merawat anak sebenarnya tak begitu sulit mengingat aku punya dasar pengalaman bekerja sebagai perawat di rumah sakit saat aku masih di Indonesia. Aku juga beruntung memiliki suami yang pengertian dan ikut serta berbagi tugas pengasuhan anak-anak.
Ketika aku melahirkan, dokter menyampaikan kalau anakku ke depan akan menjadi anak yang hyperaktif. Awalnya anakku itu mengalami tantrum, apabila keinginannya tidak terpenuhi. Aku pikir itu wajar terjadi pada anak-anak.
Kejadian yang paling aku ingat adalah anakku baru dua hari masuk sekolah, gurunya itu mengatakan kalau anakku tidak bisa mengikuti pembelajaran. Katanya, anakku kalau melihat mainan tersedia di sekolah, dia lebih sibuk bermain daripada mengikuti apa yang disampaikan gurunya. Menurutku itu hal yang biasa bahwa anak lebih suka bermain daripada mengikuti instruksi gurunya.
Guru anakku pun berinisiatif untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan anakku dan anakku yang juga belum bisa berbicara, dengan bertanya ke suami dan dokter anak. Kejadian itu dilaporkan ke Gemeinde (=sebutan untuk pemerintah lokal setempat) yang kemudian mendiagnosa apa yang terjadi dengan anakku. Mereka berpendapat bahwa anakku mengalami kelambatan bicara dan anakku pun tidak memahami Bahasa Jerman dengan baik. Menurutku, anakku butuh yang terbaik untuk tumbuh kembangnya. Aku pun menuruti apa yang menjadi rekomendasi mereka.
Aku disarankan membawa anakku ke Logopädie, bagian terapi yang memfokuskan pada kesulitan bicara anak, kesalahan pengucapan, kesalahan pemahaman bicara yang biasanya tersedia di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss. Aku tetap optimis itu semua untuk kebaikan anakku tanpa menghiraukan pendapat orang-orang bahwa anakku butuh Psikolog Anak dan Logopädie. Aku berpikir positif bahwa semua treatment itu untuk kebaikan anakku juga.
Aku bersyukur sejak dini aku tahu masalah perkembangan anakku kemudian dibantu oleh Psikolog Anak dan Logopädie di sini. Psikolog Anak tiap satu minggu sekali datang ke rumahku seperti mengajak anakku bermain, mengamati perilaku anakku, mengajari bahasa ke anakku. Kunjungan Psikolog Anak berlangsung selama satu jam seminggu sekali. Untuk Logopädie itu gratis dimana aku bersama anakku berkunjung seminggu sekali ke terapi wicara tersebut. Semua penanganan anak itu aku dapatkan gratis sebagai layanan pemerintah kepada masyarakat.
Untuk layanan Logopädie privat 1 jam dikenakan 110 CHF. Kalau kita mau layanan privat, tentu saja harus bayar. Saya mendapatkan layanan umum saja sehingga aku dan anakku bisa ditangani cepat. Pemerintah di sini menyadari pentingnya layanan Logopädie untuk membantu anak-anak yang terlahir dari pelaku kawin campur. Bagaimana pun anak tentu kesulitan mencerna atau memahami bahasa kedua orang tua mereka.
Akhirnya aku mengatasi kesulitan berbicara pada anak dengan cara aku dan suamiku konsisten berbicara pada anakku. Aku konsisten berbicara dengan Bahasa Indonesia pada anakku. Sedangkan suamiku berbicara konsisten Bahasa Swiss-Deutsch pada anakku. Anakku mungkin mendapatkan bahasa baru semisal dari tontonan YouTube, pembelajaran di sekolah atau pergaulan dengan teman sebayanya. Aku konsisten tidak berbicara Bahasa Inggris sedikit pun pada anakku. Cara ini akan membuat anakku tidak bingung memahami bahasa.
Dokter/ahli sih berpendapat tidak ada masalah bagaimana orang tua harus berbicara pada anaknya. Namun aku menerapkan pola berbicara seperti itu, aku berbicara dalam Bahasa Indonesia sedangkan suamiku berbicara dalam Bahasa Swiss-Deutsch. Pendapatku, anak bisa berbicara bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin di sekolah. Namun aku mengajarinya Bahasa Indonesia agar anakku bisa berkomunikasi dengan nenek-kakeknya atau orang tuaku dan juga keluargaku.
Bagaimana pun anak-anak perlu diajari bahasa ibu sebagai komunikasi anak dengan ibunya di rumah. Bahasa ibu itu lebih penting di rumah. Kalau anak di luar rumah, biarkan anak-anak belajar dengan sendirinya.
Saya sendiri menunggu jasa layanan ini hingga dua bulan agar anak bisa langsung ditangani. Anakku sempat berhenti dari playgroup karena menunggu layanan Logopädie tersebut.
Kadang ada saja pendapat miring kalau anak pergi ke Psikolog, maka masalah anak jadi bermacam-macam. Kita perlu memahami bahwa Psikolog itu membantu masalah kita, terutama untuk tumbuh kembang anak. Kita bisa cerita sama mereka juga karena mereka akan membantu dan memberikan solusinya.
Alhamdulilah, anakku sekarang sudah luar biasa tumbuh kembangnya. Mereka bilang juga kalau anakku itu Intelligent. Sekarang anakku bisa berbicara lancar daripada sebelumnya. Kelambatan bicara atau masalah bicara anak pada perkawinan campuran yang berbeda bahasa ibu bukan hal yang baru. Anakku pun mengalami perkembangan bahasa yang baik dan lebih baik.
Aku bersyukur tahu sejak dini tentang masalah tumbuh kembang anak sehingga aku dan suamiku bisa mengoreksi bersama.
Penulis:
Fitri H. Wehrli kini bermukim di Swiss. Buah pikir Fitri lainnya yang sudah terbit: CINTA TANPA BATAS (2022).
Sahabat RUANITA, perkenalkan aku Ecie yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman sejak 2008. Sehari-hari aku masih aktif menjadi mahasiswa dan berbagai kegiatan sosial lainnya di Jerman. Aku ikut kelas Yoga itu pada tahun 2015 gara-gara aku tertarik ajakan seorang teman untuk ikut kelas Yoga, apalagi saat itu aku sedang merasa galau. Aku berpikir punya keahlian baru di perantauan itu bisa membantuku mengalihkan rasa galau.
Sejak itu, aku mulai berolahraga Yoga. Sebagai pemula aku diajari teknik relaksasi yang bernama Hatha. Ini semacam menggabungkan gerakan yang lembut dan lebih lambat. Sebenarnya ini gerakan stretching yang dulu sering kita lakukan sewaktu kita belajar olahraga di sekolah. Teknik lainnya aku belum bisa menguasai lebih banyak lagi sih. Waktu itu guru kelas Yoga mengajari aku untuk menghindari gerakan-gerakan yang salah dan berbahaya, meski gerakan Yoga tampak mudah.
Dalam Yoga itu kita harus belajar dulu teknik basic. Kelihatannya gerakan Yoga itu mudah, padahal itu perlu teknik dasar yang harus dikuasai pemula dulu. Jangan terkesan tahu dan segera mencoba sendirian tanpa belajar teknik dasar! Bisa jadi kita salah melakukan olahraga Yoga sehingga malahan membuat kita sakit pinggang atau sakit anggota tubuh lainnya. Karena kejadian seperti ini, orang-orang cenderung jadi malas dan kapok untuk kembali berolahraga Yoga.
Gerakan Yoga yang aku ketahui itu harus lambat dan tidak boleh buru-buru. Jangan tergiur untuk melihat orang yang berhasil membuat pose bentuk tubuh Yoga yang biasa dipamerkan di media sosial! Menurutku, Yoga itu lebih pada gerakan untuk mengatur diri sendiri dan nafas. Saat kita harus memaksakan pose tubuh sendiri, sebenarnya kita harus mengatur nafas. Ini sangat membantu orang untuk tetap rileks terutama buat mereka yang punya gangguan panik atau kecemasan. Kita harus konsentrasi dan tetap menikmati gerakan Yoga.
Aku tidak banyak mengikuti klub/kelas Yoga karena aku pikir Yoga bisa dilakukan dengan mengikuti instruksi yang bisa dilihat di YouTube misalnya. Intinya kita bisa berolahraga Yoga di rumah dan gratis pula. Meski aku sudah tidak ikutan kelas Yoga lagi, aku tetap rutin menjalani Yoga 2-3 kali dalam sehari karena ini membantu aku untuk tidur nyenyak.
Menurutku Yoga itu sangat membantu untuk kesehatan mental. Mengapa? Saat kita melakukan Yoga, kita melatih pernafasan secara teratur dan kita berkonsentrasi atas gerakan yang kita buat. Jadi gak ada waktu tuh untuk overthinking. Bagaimanapun happiness itu ‘kan berasal dari dalam diri sendiri dengan cara menggerakan tubuh seperti Yoga ini. Kita lebih fokus pada tubuh dan diri sendiri, dari pada hal-hal lain yang berasal dari luar diri.
Yoga itu simple gerakannya. Aku bisa loh sikat gigi dengan tangan kiri sambil melakukan Yoga. Atau aku bekerja di depan laptop sambil jongkok kemudian ditahan begitu sekian menit. Intinya kita harus membuat tubuh itu bergerak sehingga kita merasa happy. Bagaimanapun duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer kan tidak sehat juga. Dengan Yoga, kita bisa melakukan gerakan-gerakan yang mudah untuk membuat tubuh tetap bergerak juga.
Sejauh pengamatanku, Yoga adalah olahraga yang umum di Jerman atau area tempat tinggalku sekarang. Aku mudah menemukan klub atau tempat kursus Yoga atau Pilates karena biasanya olahraga tersebut menjadi bagian dari program asuransi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di Jerman. Ada yang bayar kelas Yoga kemudian nanti reimburse dari asuransinya atau kita bayar 50% dari iuran kelas Yoga tersebut.
Hal menarik di Jerman kalau kita mau berolahraga dengan harga terjangkau, ada tempat Gym murah meriah “Sport Spaß” yang membuat kita bisa memilih olahraga yang kita sukai, seperti Yoga yang biasa diadakan 2-3 kali dalam seminggu. Olahraga murah meriah ini biasa menjadi aktivitas warga Jerman semisal melakukan olahraga di kebun saat musim panas seperti sekarang ini. Saat aku melihat seperti itu di ruang publik, aku kadang berinisiatif ingin gabung sambil memberitahukan kepada mereka bahwa aku merupakan pemula untuk Yoga. Aku merasa senang bisa berolahraga Yoga bersama orang lain juga.
Musim panas seperti sekarang ini banyak orang-orang di Jerman yang suka melakukan olahraga Yoga di outdoor dan ruang terbuka. Misalnya saja ada loh yang melakukan gerakan Yoga di dalam air atau di atas papan selancar misalnya.
Sebenarnya kenapa Yoga? Aku tuh sudah mencoba olahraga lainnya seperti Surfing dan Panjat.
Aku cenderung suka olahraga Yoga karena Yoga itu bisa dilakukan di mana saja. Selain itu, aku bisa melakukan Yoga dengan teman-teman, bahkan aku pernah melakukannya di kebun. Atau aku juga bisa melakukan Yoga sendirian. Kalau orang suka berolahraga Yoga, mereka tidak harus punya peralatan dan memang Yoga mudah untuk diikuti. Orang bisa melihat berbagai gerakan Yoga hanya di YouTube misalnya.
Kalau suka Yoga kadang ada klub atau kelas Yoga dengan harga terjangkau. Seperti di Universitas tempatku studi, Universität Hamburg menawarkan juga kelas Yoga dengan iuran 20€ – 30€ per semester. Lainnya, kalau kita tinggal di Jerman, kita bisa membayar biaya 50% dari iuran kelas Yoga karena 50% biaya lainnya itu ditanggung oleh asuransi. Aku membayar kursus Yoga sekitar 130€ untuk 8 kali pertemuan.
Yoga itu gak butuh peralatan sehingga membuat banyak orang tertarik mencobanya. Untuk teknik Yoga lanjutan, memang kita memerlukan peralatan khusus seperti blok berbahan kayu atau gabus buat penyangga. Kata guru kelas Yoga yang mengajariku alat bantu ini kalau kita belum lentur. Kita bisa mencari alternatif alat bantu lainnya seperti kamus atau buku-buku tebal. Ketimbang kita membeli peralatan Yoga, kita juga bisa pakai alternatif yang ada di rumah seperti bantal, tali, atau selendang yang panjang.
Oh ya, kalau mau berolahraga Yoga, kita hanya pakai baju yang nyaman saja. Kita juga wajib menyediakan matras atau semacam alas untuk melakukan Yoga. Itu bisa dibeli di banyak tempat di Jerman dengan kisaran harga 10€ – 15€. Kalau kita berolahraga Yoga di tempat seperti kursus atau kelas Yoga biasanya kita bisa mendapat pinjaman matras tersebut.
Memang sih tak mudah untuk menekuni suatu kebiasaan sehat seperti Yoga ini. Kadang aku merasa malas untuk melakukannya atau menundanya hanya karena aku ingin pergi keluar rumah bersama teman-teman lainnya. Tantangannya itu lebih dari diri sendiri sih, bagaimana kita konsisten menekuninya apalagi kita sudah mendaftar dan membayar program Yoga tersebut. Harga program Yoga di ruangan panas itu berbayar 20€ per pertemuan. Sayang sekali jika kita hanya sekedar ikutan tetapi tidak menekuninya.
Saran aku buat teman-teman yang ingin ikut olahraga Yoga pertama kali adalah ikut saja dulu kursus yang tidak terlalu mahal seperti yang aku tuliskan di atas. Kedua, kita bisa termotivasi untuk konsisten olahraga Yoga kalau ada teman. Nah, ajak saja teman atau kenalan yang bersedia ikut Yoga juga. Lalu ikuti suara hati, apakah Yoga ini adalah olahraga yang cocok atau tidak? Kelas Yoga pemula itu biasanya sekitar 8 kali pertemuan. Selamat mencoba ya teman-teman yang tertarik untuk olahraga Yoga.
Sahabat RUANITA, perkenalkan aku X yang sekarang sedang bergulat mencari pekerjaan kedua di negeri, tempat aku menempuh studi Pascasarjana. Boleh dibilang aku cukup beruntung mendapatkan pekerjaan pertama setelah aku menyelesaikan studiku di benua biru ini. Apa daya aku tidak betah di kota yang menjadi lokasi kantor pekerjaan pertama, sehingga aku putuskan kembali ke kota asal aku menempuh studiku.
Berbicara soal gangguan tidur, ini bukan hal baru untuk diceritakan. Banyak teman-teman dekatku paham bagaimana aku kesulitan tidur kala aku sendirian, justru aku bisa tidur ketika ada teman yang menemani aku. Aneh memang!
Aku berpikir gangguan tidurku akan muncul kala aku stres dan banyak pikiran. Misalnya dulu aku mengkhawatirkan diriku yang belum lulus studi sementara teman-temanku sudah melanjutkan jenjang pendidikan lanjutan atau menempuh studi Pascasarjana lainnya.
Kecemasan soal lulus studi tersebut membuatku overthinking. Aku pernah mencoba untuk mengatasi kecemasan dan persoalan gangguan tidur ini ke Psikolog saat aku sedang berlibur ke Indonesia tetapi itu seperti berhenti sesaat. Entah mengapa aku nggak bisa mengendalikan pikiran-pikiran yang berkeliaran dalam kepalaku.
Overthinking-ku semakin parah ketika aku kehilangan ayahku yang telah tiada. Beliau meninggal karena penyakit Kanker Prostat. Selama aku di Indonesia, aku berkesempatan merawat ayahku. Aku berjaga di tengah malam kala ayahku merintih kesakitan. Tak jarang aku membawa ayahku ke rumah sakit di tengah malam.
Pola tidur yang berantakan saat merawat ayahku plus kekhawatiran akan hidupku seperti kelulusan membuatku terus berpikir saat aku hendak tidur. Aku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan tidur. Di negeri yang aku tempati tersedia teh dari tanaman untuk mengatasi gangguan tidur. Sepertinya itu tidak bekerja.
Aku punya adik dan kenalan yang bekerja di dunia medis. Aku sudah bertanya bagaimana cara praktis mengatasi gangguan tidur. Semua tips yang mereka sarankan telah aku coba. Contohnya, aku harus membuat badanku lelah sehingga aku lebih mudah tidur. Namun hasilnya itu hanya sesaat saja.
Aku berusaha menggali apa penyebab overthinking yang kualami. Aku terlalu berlebihan tentang penyakit kanker yang diderita ayahku. Aku begitu khawatir kalau aku ‘kan mendapatkan penyakit kanker Prostat seperti ayahku, padahal itu tak mungkin karena aku adalah perempuan.
Kekhawatiran berlebihan dalam gaya hidup dan makanan juga sangat berpengaruh setelah ayahku tiada. Aku benar-benar picky terhadap makanan yang kusantap. Aku bisa memikirkan bagaimana pembuatan makanan tersebut sehingga aku tidak mengambil makanan tersebut.
Hal yang berlebihan juga tampak ketika aku memilih semua peralatan masak hanya terbuat dari metal, untuk menghindari alat masak dari plastik. Kecemasan berlebihan ini sekarang sudah mulai berkurang karena banyak orang telah meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja dan tak perlu overthinking.
Aku sendiri telah mencoba membuat jadwal konseling dengan Psikolog di negeri tempatku studi, ternyata aku harus menunggu hingga berbulan-bulan. Lalu aku mendatangi praktik dokter umum untuk bisa merekomendasikanku ke ahlinya saat aku membahas gangguan tidur. Dokter bilang aku baik-baik saja.
Ya begitulah gangguan tidurku itu bisa datang dan pergi. Saat waktu konselingku datang, tiba-tiba semua terasa baik-baik saja. Aku mencoba segala cara untuk bisa tidur nyenyak sesuai anjuran medis tetapi aku kadang tidak bisa mengendalikan pikiranku saat tidur.
Aku mencoba konsisten dengan waktu tidurku, tetapi aku tak bisa menolak ketika ada waktu berkumpul dengan teman-teman yang membuatku begadang dan baru tidur pagi hari. Sampai sekarang aku masih berusaha mengatasi gangguan tidurku.
Penulis: X, sedang mencari pekerjaan di perantauan
Ini membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka. Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercanda.
Jika kalian bertanya pada teman-temanku di Indonesia (SD, SMP, SMA, teman gereja) apa yang paling mereka ingat tentangku selain karakterku? Aku yakin diantaranya akan bilang tentang jidatku yang lebar. Lainnya bilang aku nonong atau jenong. Aku masih ingat dengan jelas bahwa seumur hidupku hingga aku pindah ke Jerman, hal itu atau istilah itu tidak pernah lepas dariku.
Percayalah, aku tak pernah sakit hati karena panggilan atau ejekan atau candaan itu, karena nyatanya memang jidatku lebar. Meskipun seiring berjalannya waktu panggilan-panggilan itu berkembang menjadi: lapangan terbang, lapangan sepak bola, mirip megamind, dan sebagainya.
Ketika mereka bercanda akan selalu ada imbuhan tentang “jidatku” itu di akhir kalimat mereka. Seumur hidupku pula tak pernah aku mendengar, baik teman, sahabat atau keluarga yang memberikan pujian terhadap fisik atau penampilanku. Sekedar kamu cantik saja tak pernah mereka katakan sehingga aku terbiasa dengan itu semua. Aku menganggap itu adalah hal biasa.
Hingga akhirnya di tahun 2020, dikarenakan kondisi kesehatan mentalku yang menjadi sangat tidak terkendali, aku harus mengonsumsi obat anti depresi yang memiliki efek samping terhadap perubahan hormon dan nafsu makanku. Akibatnya hanya dalam 1.5 bulan saja, berat badanku naik 13 kilogram.
Sebuah perubahan yang sangat ekstrim bagiku. Selama 4 bulan pertama aku sangat kesulitan untuk menerima perubahan bentuk tubuhku. Aku selalu merasa sangat gemuk. Aku terlihat aneh dan bantet.
Sepanjang waktu atau setiap kali aku melihat timbangan, aku selalu mengomel dan kesal dengan diriku sendiri. Hal ini adalah hal baru bagiku. Seumur hidup aku tak pernah bisa relate dengan apa yang perempuan-perempuan lain keluhkan seperti perut berlipat atau lipatan lemak yang muncul di sana-sini yang bisa membuat tidak percaya diri. Saat itu, akhirnya aku mengalaminya.
Menariknya adalah sejak tubuhku berubah aku mendapatkan begitu banyak compliment. Bahwa aku sangat cantik, tubuhku menarik, ini, dan itu sampai membuatku risih. Aku tidak biasa mendengar seperti itu. Tidak pernah aku mendapatkan pujian seperti itu di mana teman-temanku di sini terus menerus memuji setiap bertemu.
Bahkan mereka di sini iri dengan badanku sekarang. Aneh sekali rasanya. Hal itu sama sekali tidak membuatku besar kepala justru risih sekali. Selalu kujawab, “Apaan sih!”, “Halu lo!” atau “Ah, you just wanna make me happy.”
Salah satu temanku dan pacarku pun mengaku sedih mendengarkan jawabanku. Bagi mereka, aku benar-benar cantik dan menarik. Sedih rasanya bagi mereka ketika mereka mendengar reaksiku. Namun, apa boleh buat. Ini pun hal yang aneh bagiku. Aku tidak terbiasa dengan pujian itu.
Namun, karena pujian-pujian yang kudengar pertama kalinya dalam hidupku ini ternyata membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, baik teman-teman Indonesiaku, pacarku, teman-teman, kenalanku orang asing, orang Jerman maupun pria-pria asing yang aku pernah dekat pun, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka.
Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercandaan. Kok bisa? Mungkin kebanyakan orang di Indonesia punya poni yang bisa menutupi dahi mereka, sedangkan aku tidak. Mungkin punya jidat yang lebar bukan hal yang umum di Indonesia.
Namun percayalah, di Jerman semuanya berjidat lebar adalah hal biasa. Untuk perempuan mengikat rambutnya ke belakang model ponytail dan tidak akan ada yang bilang, “Kamu tuh sudah tahu jidatnya lebar, mbok ya jangan dikucir begitu!” Yang mana kalimat ini sering kudengar dulu.
Lama-kelamaan aku bisa menerima tubuhku yang sekarang. Aku bisa menerima dan menghargai pujian yang kuterima. Aku memang jauh lebih cantik sekarang, terlihat jauh lebih sehat, dan bahagia dibandingkan saat aku di Indonesia dulu. Ah, mungkin makanya aku tak pernah mendapatkan pujian apapun tentang fisikku seumur hidupku, karena dulu aku memang terlihat tidak menarik sama sekali. Hahaha.
Lucunya, aku sekarang malah jijik kalau melihat foto-foto lamaku di Indonesia dan sekarang jadi khawatir kalau kelihatan sedikit lebih kurus. Hahaha. Begitulah manusia, tidak pernah puas. Namun yang mungkin harus digaris bawahi lagi adalah mengapa di sini aku tak pernah mendengar candaan atau panggilan tentang jidatku yang lebar atau bentuk fisikku yang lain dibandingkan di Indonesia? Jawabannya? Silakan direnungkan sendiri:)
Sahabat RUANITA, namaku David (=bukan nama sebenarnya). Aku tinggal di Jerman. Aku tidak bisa bercerita banyak tentang pengalamanku dengan ibuku yang mengalami Skizofrenia karena aku sempat hilang kontak dengan beliau lebih dari dua puluh tahun. Aku senang bisa berbagi cerita ini agar bisa dipahami bahwa orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kita perlu menghargai mereka sebagai pribadi yang membutuhkan penanganan yang benar dan ahli, bukan memasungnya.
Menurutku, apa yang dialami oleh ibuku adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai anak, aku hanya melihat ibuku mengalami sesuatu yang janggal. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya melihat bagaimana usaha ayahku untuk menyembuhkan ibuku. Ya, kita dapat mengobati gejala-gejala yang dialami ibuku, tetapi sebenarnya itu tidak menyembuhkan penyakitnya. Sampai sekarang, para ahli masih meneliti bagaimana pengobatan yang tepat untuk menyembuhkannya.
Aku benar-benar tidak mengenali dengan tepat, bagaimana awalnya ibuku mengalami Skizofrenia. Jika dikatakan orang dengan Skizofrenia tidak menjaga kebersihan diri, itu benar. Kita perlu energi yang besar untuk mengusahakan kebersihan orang dengan Skizofrenia. Selain itu, aku melihat ibuku tidak ada kontak mata. Itu mungkin tidak sering, tetapi aku bisa merasakan tidak ada kontak mata. Menurut pengalamanku, saat depresi, dia mungkin benar-benar tidak ada ekspresi wajah.
Pendapatku kita tidak bisa menyamaratakan gejala-gejala orang dengan Skizofrenia. Kita tidak dapat menggeneralisasikan bahwa orang dengan Skizofrenia itu semua sama seluruh dunia. Itu sama seperti sakit flu dan batuk. Ada yang mengalami hanya batuk saja atau flu saja, hanya karena dia mengalami demam. Bagiku, setiap orang itu berbeda dan penyakitnya berbeda pula. Demikian pula dengan orang dengan Skizofrenia.
Aku hanya bisa meyakini apa yang dialami ibuku sebagai pemikiran tidak rasional. Apa yang tampak tidak rasional bagi semua orang, tetapi tidak bagi orang dengan Skizofrenia. Kadang ibuku terjebak dalam hal sepele yang tidak penting. Mungkin itu yang membuat orang di sekitarnya sebagai social support merasa kelelahan menangani orang dengan Skizofrenia.
Mungkin sudah ada berbagai penyakit yang kita temukan, tetapi masih banyak penyakit yang belum kita temukan. Bagaimana pun pikiran manusia begitu kompleks seperti Skizofrenia yang sampai sekarang belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, kita perlu berabad-abad untuk memahami semuanya sepenuhnya.
Salah satu faktor yang mendukung kesembuhan Skizofrenia adalah dukungan sosial seperti keluarga. Keluarga sangat toleran terhadap ibuku. Kami telah berupaya untuk membantu kesembuhannya. Ibuku pernah memutuskan kontak dengan kami sebagai keluarganya. Dia harus mengonsumsi obat agar penyakitnya tidak kambuh lagi.
Namun aku sadar bahwa penyakit ibuku kambuh lagi. Aku tidak tahu mengapa. Aku menduga kalau ibuku telah mengurangi dosis obat yang diberikannya. Ibuku ingin sekali menurunkan berat badannya sehingga dia menurunkan dosis obat tersebut. Tentu saja, fungsi pil yang diminumnya itu menjadi kontraproduktif. Hanya karena dia ingin menurunkan berat badannya, maka gejala yang dialami ibuku kambuh lagi. Kami belum mendengar kabar terbarunya lagi selama hampir satu tahun. Kami juga tidak tahu apakah dia baik-baik saja sekarang atau tidak.
Ada hal yang saya tidak suka dari kebijakan pemerintah Jerman di sini tentang aturan minum obat oleh pasien. Kami sebagai keluarganya ingin agar ibuku segera sembuh dan pulih dengan minum obat secara rutin. Namun, peraturan di sini cukup jelas bahwa dia minum obat kalau dia mau dan sepanjang orang dengan Skizofrenia tidak menyakiti dirinya sendiri atau menyerang orang lain. Bahkan seorang dokter pun tidak dapat melakukan apa pun. Kami sebagai keluarga pun tidak berdaya, jika ibu bersikap seperti itu. Kami hanya bisa duduk dan menunggu hingga ibu sadar. Kami sebagai keluarga tidak bisa berbuat apa pun. Kami juga tidak bisa mengikatnya yang mungkin kami dengar dari kasus-kasus lainnya.
Mengenai stigma orang dengan Skizofrenia, kami sadar bahwa itu masih terjadi di masyarakat. Bagiku, orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kami bisa memaklumi jika ibuku mengatakan hal yang menyakitkan, karena kami tahu bahwa dia tidak bermaksud begitu. Menurutku, kita harus peduli dan menaruh perhatian terhadap orang dengan Skizofrenia. Kita bisa melibatkan mereka, jika dia mau dan menginginkannya. Kita bisa membawa dia, mungkin dia akan sadar.
Sebagai penutup, aku hanya ingin menyampaikan pentingnya kampanye skala besar untuk memerangi stigma sosial yang masih melekat pada orang dengan Skizofrenia. Bagaimana pun orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga dan mereka tidak bermaksud buruk/jahat. Kita perlu memberikan dukungan sosial demi kesembuhan mereka.
Keluarga ideal menurutku adalah ketika aku bisa menikah dengan pria yang berhasil memberi kebahagiaanku dan kedua anakku selanjutnya tanpa campur tangan pihak manapun. Setelah aku bercerai dengan suami pertamaku asal Indonesia, aku berkenalan dengan banyak pria warga negara asing lewat media sosial.
Pencarianku berujung pada pria asal Turki yang bersedia menjadi Imam buatku. Dia mengatakan serius menjalani hubungan denganku setelah kami bertukar kontak nomor WhatsApp. Dua bulan kemudian aku mendapatkan hadiah seperti baju-baju dan sepatu setelah dia meminta alamatku di Indonesia.
Delapan bulan kemudian kami menikah siri di Indonesia setelah dia datang ke Indonesia dan berani meminangku di hadapan keluargaku. Aku pun bersedia menjadi istrinya. Setiap bulan dia mengirimkan nafkah untukku di Indonesia. Setahun kemudian, dia memintaku datang dan tinggal bersamanya di Turki.
Aku pun menyanggupi permintaannya untuk tinggal bersamanya, hanya saja kami tinggal bersama ibunya. Suamiku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Awalnya aku merasa tak betah karena sering cekcok dengan ibu mertua, tetapi suami tidak bisa berbuat apapun, apalagi suami masih kesulitan membiayai hidup kami kalau kami pindah rumah.
Ibu mertua sering melarangku melakukan ini dan itu. Aku tak boleh memasak makanan khas negeriku sendiri, alasannya membuat bau atau aku harus berhemat dengan makanan yang sebenarnya aku tak suka. Aku dilarang bekerja karena perempuan bekerja itu membuat aib bagi keyakinan keluarga mereka. Aku tak boleh keluar rumah, hanya di rumah saja.
Masalah dengan ibu mertua adalah hal biasa di Indonesia, tetapi bagaimana menantu akan tahan kalau aku sering dijelek-jelekkan di depan keluarga suami. Salahku memang karena aku tak mengerti Bahasa Turki. Kadang mereka berbisik seperti membicarakanku. Jujur aku pernah tidak tahan lagi dan kabur dari rumah.
Sejak aku berani menyatakan pendapatku kepada suamiku, aku putuskan untuk bekerja. Kebetulan aku mendapatkan penghasilan sendiri dengan menjaga toko. Dari pekerjaan ini, aku bertemu banyak orang Indonesia.
Aku merasa tidak bahagia dengan perlakuan keluarga suamiku. Pernah terjadi pertengkaran hebat antara aku dengan suamiku, ibu mertua malah menyuruh suamiku bercerai dariku. Ibu mertua yang aneh, kerap ikut campur dalam rumah tangga kami. Ibu mertua ingin tahu segala hal, termasuk berapa jumlah uang yang diberikan suami kepadaku.
Tak hanya ibu mertuaku saja, saudara-saudara dari pihak suami juga mendukung perceraianku dengan suami. Aku tak khawatir bercerai karena aku telah berhasil mendesak suamiku mencatatkan pernikahanku di Turki juga.
Pekerjaanku di toko membuatku berkenalan dengan banyak orang seperti bagaimana aku harus paham tradisi dan hukum perkawinan di Turki. Aku juga terus belajar Bahasa Turki agar aku mengerti apa yang mereka bicarakan tentangku.
Umur adalah rahasia Ilahi. Siapa sangka perpisahanku dengan keluargaku saat beberapa tahun lalu menjadi waktu perpisahan selamanya dengan ayahku. Boleh dibilang aku benar-benar tak pernah menyangka bahwa ayahku begitu cepat pergi meninggalkan kami semua. Ayahku tak pernah berpesan apapun jika dia suatu saat tiada. Dia adalah orang yang optimis terhadap masa depan.
Beberapa hari sebelum dia dirawat di rumah sakit terakhir kalinya, aku mengobrol lama dengan ayahku. Kami membicarakan semua impian masa depan. Ia tak membicarakan sakitnya. Dia menceritakan tentang mimpi-mimpinya untukku dan kedua adikku.
Sebagai anak perempuan, aku begitu dekat dengan ayahku. Aku banyak meminta pendapat ayahku tentang berbagai hal. Dia punya banyak wawasan, meski dia tidak moderen. Dia tak tahu bagaimana mengoperasikan kecanggihan benda berteknologi, tetapi anehnya pemikirannya kerap dijadikan acuan banyak tokoh. Dia seorang pemikir dan kritikus.
Aku benar-benar kehilangan ayahku. Sejak kecil, dia memerhatikan aku agar aku tumbuh sukses dan menjadi perempuan cerdas. Dia mengajariku banyak hal, seperti pekerjaan kantor meski usiaku saat itu masih Teenager. Ayahku membuka perusahaan dagang (PD) di mana kerap aku belajar mengelola usaha atau membantu ayahku memecahkan masalah buat karyawan-karyawan ayahku. Ayahku mengajariku bermental kuat dan berani terhadap tantangan hidup. Aku benar-benar belajar banyak dari ayahku.
Saat ayahku koma di rumah sakit, aku masih tak berfirasat buruk tentangnya. Aku malahan berpikir memindahkan kamar ayahku dari lantai atas ke lantai bawah dan menyediakan perawat untuknya. Meski aku tak tinggal di Indonesia bersamanya, komunikasiku dengan ayahku begitu intens setiap saat.
Aku tak pernah lupa selalu mengakhiri percakapan telepon atau pesan WhatsApp dengan ucapan kalimat sayang padanya. Umurku sudah dewasa, tetapi aku masih terbiasa dipeluk dan mencium pipi ayahku. Ini sama seperti aku melakukannya pada ibuku.
Tiga hari sebelum ayahku wafat, dia datang dalam mimpiku yang akan aku simpan dan kenang sebagai saat terakhirku dengannya. Jalan hidup manusia memang terbatas, Tuhan telah memanggil ayahku. Namun kenanganku pada ayahku tak terbatas. Aku masih merindukannya.
Saat aku merindukannya, kuambil waktuku dengan berdoa. Kini jarak komunikasiku dengan ayahku bukan lagi sejauh Jerman – Indonesia, melainkan sejauh doa.
Sahabat Ruanita, aku tinggal di benua biru sejak 2016. Awalnya aku tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi S2. Selesai studi, aku putuskan untuk bertahan di sini dengan berbagai pertimbangan. Beruntungnya aku segera mendapatkan kesempatan kerja. Namun, aku tak merasa beruntung dengan perjalanan cintaku.
Awal perjalanan cintaku dimulai dari “cinta monyet” sejak aku duduk di bangku SMP. Namun semenjak SMA, ketertarikanku terhadap lawan jenis sudah mulai semakin serius. Beberapa kali aku menjalin hubungan serius berpacaran selama SMA. Rupanya hubungan-hubungan tersebut terjalin tidak begitu lama, antara 1 sampai 6 bulan saja.
Menginjak masa kuliah aku mempunyai hubungan pacaran yang terbilang cukup lama, kurang lebih selama 9 tahun. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut karena aku menilai ini adalah hubungan yang tidak sehat. Aku pun kemudian berangkat ke Eropa untuk studi lanjutan. Sejak masa SMA sampai akhir hubungan 9 tahun tersebut, percaya atau tidak, aku tidak pernah menjadi single (atau hidup tanpa pasangan) lebih dari beberapa hari.
Awal hubungan berpacaranku di Eropa dapat dikatakan cukup unik. Aku mengenal A sudah sejak ketika aku masih berada di Indonesia. A berasal dari Pakistan. Pada saat itu dia sedang melanjutkan studinya di salah satu negara di Eropa. Aku “bertemu” A melalui jejaring online Yahoo Messenger dalam suatu forum. Selama perkenalanku dengan A, aku sering menceritakan hal-hal yang terjadi dalam kehidupanku. Tak terkecuali mengenai apa yang terjadi dalam hubunganku dengan pacar-pacarku di Indonesia. Dia pulalah yang menyarankanku untuk melanjutkan studi di Eropa dengan pertimbangan yang rasional tentunya.
Setiba di Eropa, aku hanya bertemu dengannya beberapa kali saja karena dia tinggal di kota yang berbeda dan juga cukup jauh dari kota di mana aku tinggal. Hubunganku dengan A berakhir karena dia memutuskan untuk menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Bahkan sebelum hubungan kami berakhir pun, A sudah sering memberitahu bahwa hubungan kami tidak akan sampai ke jenjang pernikahan.
Lepas dari A, aku berpacaran dengan B yang juga berasal dari Afghanistan. Dia bekerja di salah satu perusahaan besar di kota tempatku tinggal. Pada awalnya aku berpikir, mungkin dengan B, aku akan mendapatkan kenyamanan karena dia mempunyai agama yang sama denganku apalagi dia merupakan pekerja migran. Dengan latar belakang tersebut, aku pikir, dia mempunyai resiliensi dan etos kerja yang bagus. Namun sayang, aku harus mengakhiri hubunganku setelah 3 bulan berpacaran karena terjadi kekerasan baik fisik, verbal maupun mental terhadapku. Keputusanku ini aku ambil atas saran dari seorang teman dekat kala itu.
Beberapa saat kemudian aku mulai dekat dengan C. C berasal dari kota di mana aku tinggal di Eropa. Dia lebih muda 6 tahun dariku. Aku merupakan pacar pertama C. Hubunganku dengan C bertahan selama kurang lebih 1 tahun sampai pada akhirnya aku merasa bahwa perbedaan usia, pengalaman, pandangan hidup dan agama menjadi penghambat hubungan kami di masa mendatang. Sebelum benar-benar mengakhiri hubunganku dengan C, aku sudah terlebih dahulu dekat dengan D yang aku kenal lewat aplikasi jejaring mahasiswa. Dia juga memberiku support mental ketika aku memutuskan hubunganku dengan C.
Hubunganku dengan D menjadi semakin serius dan kami sudah merencanakan berbagai macam kegiatan dan hal yang dapat kami lakukan bersama di masa mendatang. Kami juga bahkan sudah membicarakan mengenai agama dan pernikahan. Namun rencana tinggallah rencana. D memutuskan untuk pindah ke negara lain karena pekerjaan. Bagiku memutuskan untuk pindah negara lain bersama D merupakan hal yang besar dan kompleks, tidak semudah D yang berkewarganegaraan Eropa. Aku putuskan untuk tinggal dan hubungan kami pun semakin renggang. Namun begitu, hubunganku dengan D masih terbilang sangat baik hingga sekarang.
Setelah kepindahan D ke negara lain, hubungan kami yang semakin renggang pun menjadi celah sehingga ada orang lain singgah di hidupku. Ada beberapa orang, namun tidak sampai menjalin hubungan. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan E, di salah satu klinik kesehatan mental di kota tempatku tinggal. Kami sama-sama merupakan pasien rawat jalan di sana. E kebetulan juga mempunyai masalah mental sepertiku. Kami tidak sampai pada tahap berpacaran karena aku pikir, aku butuh waktu untuk mengenal kepribadiannya lebih dekat dan lebih dalam. Aku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan seperti yang sering atau selalu aku lakukan sebelumnya. Kedekatanku dengan E berakhir setelah 6 bulan karena ada beberapa sikap dan hal-hal yang dilakukan E, entah sadar atau tidak, memancing trauma masa laluku.
Aku merasa bahagia ketika aku dapat menjalin hubungan dengan seseorang yang dapat mengerti aku, menerima aku dan masa laluku, dan dapat memberiku rasa aman dan nyaman. Tidak semua orang dapat menerima masa laluku yang tidak biasa untuk kebanyakan orang. Butuh orang yang cukup berpikiran terbuka untuk dapat menerimaku seutuhnya. Terlebih lagi jika seseorang tersebut dapat memberikan rasa aman dan nyaman, apalagi aku ada orang yang asertif. Aku berani menyatakan pendapat atau ketidaksetujuanku pada pasanganku.
Aku merasa hubungan yang terkesan dipaksakan, tersiksa lahir dan batin merupakan hubungan yang menyakitkan bagiku. Selama berpacaran di Eropa, aku juga berpacaran dengan orang dengan kondisi psikisnya tidak stabil. Itu sungguh membuatku sangat sengsara. Terlebih lagi dengan kondisi mentalku sendiri yang juga belum stabil. Menghadapi orang tersebut, aku harus berpikir seribu kali jika aku mau melakukan sesuatu atau mau mengutarakan pendapatku. Aku harus serba berhati-hati agar dia tidak merasa tertekan dan memancing emosinya. Ini sungguh sangat menyiksa ketika aku sendiri pada akhirnya merasa tertekan dan tidak merasa nyaman lagi dalam hubungan tersebut. Di sisi lain, ada beberapa perilaku mantan pacarku yang disebabkan oleh keadaan psikisnya yang secara tidak sadar memantik trauma masa laluku.
Ada ketakutan tersendiri jikalau aku akan menjadi sendiri selama hidupku tanpa ada seseorang untuk saling berbagi perasaan, pengalaman dan keluh kesah sehingga keinginanku untuk mempunyai pasangan sangat besar. Ada pula perasaan kehampaan dalam hati yang bahkan tidak dapat terobati dengan berkomunikasi dengan keluarga ataupun sahabat dekat. Namun, aku juga sadar perasaan-perasaan inilah yang mendorong aku untuk secepatnya mempunyai pasangan baru setelah putus dari hubungan yang lalu tanpa mengenal orang tersebut lebih dalam sehingga hubungan pacaran pun tidak dapat bertahan lama karena berbagai ketidakcocokan karakter dan perbedaan ekspektasi dan kenyataan yang muncul belakangan.
Bisa dibilang, aku tidak mempunyai role model bagaimana sebuah hubungan yang sehat itu dari keluargaku, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Ada sih beberapa tapi sebagian besar malah sebaliknya. Bahkan hubungan orang tuaku sendiri tergolong tidak harmonis. Sewaktu aku masih tinggal dengan mereka, sering kali aku mendapati orang tuaku „perang dingin“. Namun akulah yang menjadi „sasaran“ mereka.
Secara bergantian mereka „mengadu“ padaku keburukan pasangannya tanpa menyelesaikannya dengan memperbaiki komunikasi satu sama lain. Sewaktu mereka bekerja, waktu mereka habis untuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tak jarang, aku merasa, aku hanya mendapatkan „sisa-sisa“ kasih sayang, perhatian dan energi mereka setelah mereka lelah bekerja. Aku merasa aku kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua secara materiil. Sewaktu aku beranjak dewasa, knowing the facts that they were both cheating on each other (although not at the same time) broke my heart into pieces.
Ada beberapa kali proses pacaran di masa lalu yang membuatku dalam menjalin hubungan. Tetapi yang membuatku trauma sampai saat ini dan sampai aku harus mengikuti terapi adalah hubungan pacaranku selama 9 tahun itu. Pacarku waktu itu 10 tahun lebih tua dariku. Kenapa aku berpacaran dengannya? Mungkin karena aku terjebak dengan mindset „cari pacar yang mapan“ di lingkunganku sehingga perbedaan umur yang cukup jauh tersebut tidak terlalu aku ambil pusing. Dan juga keadaanku waktu itu yang merasa sangat membutuhkan kasih sayang yang tidak aku dapatkan dari orangtuaku.
Singkat cerita banyak hal yang terjadi selama 9 tahun tersebut. Bahkan hal-hal yang tidak dibenarkan olah norma-norma sekalipun. Dengan pikiranku yang naif waktu itu aku pikir „aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku“ dengan cara tidak meninggalkan pacarku atau memutuskan hubunganku walaupun aku mendapatkan pelecehan baik secara psikis maupun seksual.
Tak hanya itu, dia tidak mengizinkanku untuk pergi sendiri bertemu/berkumpul dengan teman-temanku. Dia takut aku curhat dengan teman-temanku tentang masalahku dengannya. Handphone pun harus siap sedia. Jika aku tidak angkat teleponnya sekali saja, dia akan membombardir dengan telepon berpuluh-puluh kali dan tak jarang dia akan datang ke rumahku hanya untuk bertanya „kok kamu tidak jawab telponku? Memangnya kamu taruh mana handphonemu?“
Kadang aku menghadapi khayalan dia „gimana kalau tadi tu telpon penting? Gimana kalau aku kecelakaan atau ditangkap polisi dan butuh bantuan“. Akupun harus memberitahunya kalau aku mau bepergian dan ketika aku sudah sampai rumah, tak terkecuali saat aku bepergian dengan keluargaku. Pergerakan dan perkembanganku sebagai seorang remaja menuju dewasa sungguh sangat terbatas waktu itu. Aku merasa masa mudaku terampas olehnya.
Awalnya aku tidak berani bercerita pada siapapun mengenai hal ini, termasuk pada keluargaku. Aku takut bagaimana pandangan orang nantinya. Untuk mengakhiri hubungan pacaran pun sulit aku rasakan waktu itu karena tiap kali aku sampaikan niatku untuk mengakhiri hubungan padanya, dia selalu mengancamku: dia akan memberitahu orang tuaku semua yang terjadi antara aku dan dia. Waktu itu aku sangat ketakutan kalau orang tuaku sampai tahu dan aku merasa sangat sendiri.
Aku sadar 9 tahun itu bukan jangka waktu yang pendek, sedikit banyak sifat dan sikapku pun terpengaruh. Aku menjadi seseorang yang sangat takut untuk mengutarakan perasaan dan pendapatku. Aku takut hal tersebut dapat menyinggung orang lain dan membuatnya marah dan kecewa. Sepertinya karakterku pun terbentuk untuk selalu menjadi anak yang manis dan penurut walaupun dalam hatiku menjerit dan meronta-ronta.
Dari sinilah aku merasa aku haus akan kasih sayang dan merasa sangat kesepian sehingga secuil kasih sayang yang ditawarkan orang lain padaku dapat aku salah artikan kalau mereka benar-benar mengasihiku, until it’s proven wrong; which happened so many times. Dalam lubuk hatiku, aku takut tidak ada orang yang mau mengasihiku sampai aku tua nanti. Aku takut tidak ada seseorang yang selalu ada untukku untuk saling berbagi.
Aku hanya bisa menyarankan, jika sahabat Ruanita punya pengalaman yang sama denganku, maka segera perbaiki hubungan dengan keluarga, sambung komunikasi yang baik dengan keluarga inti sehingga kamu tidak merasa kesepian. Kedua, carilahi teman yang terpercaya dan bisa menjaga rahasia merupakan hal yang penting, setidaknya kamu memiliki tempat untuk meluapkan emosimu. Ketiga, carilah bantuan profesional (terapi, klinik, dll) jika hal itu sudah sangat mengganggu kehidupanmu dan mentalmu. Percayalah selalu ada bantuan di luar sana untukmu kalau kamu mau membuka diri dan berani keluar dari tekanan tersebut. Keempat, sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil keputusan untuk memulai suatu hubungan tanpa merasa yakin dan cocok dengan calon pasangan. Terakhir, menurutku, sibukkan diri kalian dengan hobi dan kegiatan yang bermanfaat.
Waktu sembilan tahun silam saat saya baru merantau, seorang teman pernah menyuarakan ‘keprihatinan’nya tentang pendidikan anak usia dini di Norwegia,
“Saya baca berita kalau di salah satu kommune, mereka mengajarkan sex education di barnehage. Lengkap dijelaskan bagaimana bayi bisa ada di perut ibu, lalu sebutan seperti penis dan vagina. Apa iya itu pantas diajarkan ke anak-anak? Nanti malah anak-anak jadi tahu hal-hal yang seharusnya belum pantas mereka ketahui, kan? Hati-hati lho kalau nanti nyari TK buat anak!”
Kala itu anak sulung saya masih berusia tiga tahun, dan kami sedang dalam waiting list pendaftaran barnehage (semacam daycare di Norwegia) dari kommune (setingkat kabupaten/kotamadya). Mendengar keluhan sang teman, saya jadi penasaran, seseram itukah kondisi aslinya di barnehage? Ketika membaca link berita yang dibagikan sang teman, ternyata sex education tersebut masih sebatas wacana usulan kommune (Pemda) setempat saja. Namun kejadian ini mengingatkan saya akan kondisi yang pernah saya pelajari di lapangan.
Sebelum berkeluarga dan merantau, saya mengajar sains di sekolah menengah pertama di Indonesia. Semasa mengajar, tim psikolog sekolah menerima banyak keluhan dari orang tua siswa yang khawatir akan bentuk materi ‘sex education’ -atau yang saya pilih sebut sebagai pendidikan kesehatan reproduksi- yang akan diajarkan di sekolah. Karena muatan pendidikan kespro ini lebih masuk ke pelajaran sains, jadilah saya digaet oleh tim kurikulum untuk menggodok materi pendidikan kesehatan reproduksi tersebut bersama tim psikolog sekolah juga.
Yang saya pelajari tentang pendidikan kespro untuk anak ternyata luas sekali cakupannya. Tidak seperti yang kebanyakan orang khawatirkan bahwa ‘sex education’ artinya mengajarkan hal-hal tidak senonoh kepada anak. Sebenarnya pendidikan kesehatan reproduksi adalah untuk membangun pengetahuan anak secara bertahap dalam mengenali dirinya sebagai manusia yang berjenis kelamin, fitrah apa saja yang mengikutinya, dan bagaimana cara menjaganya sebagai bagian dari tubuh mereka. Dan ini semua bisa dimulai sejak anak masih usia dini atau balita. Kok bisa? Ya diajarkannya secara bertahap, ageappropriately. Kalau bisa dikenalkan sedari balita, siapa lagi yang lebih tepat untuk mengajarkan kalau bukan orangtua.
Menurut saya pribadi, mau tinggal di Indonesia ataupun di perantauan, orang tua harus membekali diri dengan pengetahuan hal-hal apa saja yang bisa diajarkan ke anak usia dini sehubungan dengan pendidikan kesehatan reproduksi. Mengajarkan kesehatan reproduksi ke anak usia 0-2 tahun bisa dimulai dengan belajar nama-nama bagian tubuh mereka. Momen sehari-hari seperti saat mandi, ganti popok, atau ganti baju dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan nama-nama bagian tubuh kepada anak.
Sedari usia 0-2 tahun ini juga anak sudah bisa diajak untuk untuk merawat dan menjaga kebersihan tubuhnya. Ketika anak harus ganti popok atau cebok, ajak sambil bahasakan aktivitas tersebut dengan santai dan tenang. Itu sudah cukup untuk mengenalkan anak dan membangun kebiasaan bahwa kalau setelah buang hajat ya harus dibersihkan, biar sehat. Sambil diajak, orang tua meminta izin seperti “Adek pipis/pup, jadi harus cebok/ganti popok ya biar bersih. Boleh papa/mama bantu yuk? Ayo kita ganti popok/cebok yuk?” lalu mengajak anak untuk ke kamar mandi buat cebok, atau untuk diganti popoknya. Kalau anak sudah terbiasa, bisa mulai dibekali dengan pesan bahwa hanya mama atau papa atau guru di TK yang boleh membantu cebok atau ganti popok, bukan orang lain.
Selain itu anak di rentang usia ini sudah bisa dikenalkan dengan konsep ‘malu’ kalau tubuhnya tidak berpakaian. Dulu saat si kecil habis mandi, untuk mengajaknya segera pakai baju saya bilang “Kalau badannya kebuka, malu ya? Ih malu. Yuk kita tutup handuk, lalu pakai baju”.
Saya juga belajar bahwa kalau tiba-tiba anak lari telanjang setelah mandi, sebisa mungkin jangan ditertawakan atau kita menganggap itu lucu, apalagi sampai direkam atau difoto. Meski sebenarnya bisa jadi memang tampak lucu menggemaskan, tetapi sebaiknya tumbuhkan rasa malu pada anak saat mereka tidak berpakaian. Cukup datangi si kecil dengan tenang lalu bungkus dengan handuk dan gendong untuk dipakaikan baju.
Satu hal yang saya perhatikan saat melihat guru di barnehage mengganti popok si kecil adalah mereka terbiasa menyebut aktivitas seputar pipis, kentut atau buang hajat sebagai… ya aktivitas fisiologis biasa saja, layaknya yang manusia normal lakukan sehari-hari. Tidak ada eufimisme seperti ‘buang air’ atau ‘ke belakang’ untuk menyebut aktivitas buang hajat tersebut. Jadi kata-kata seperti ‘bæsj’ (kotoran berak), ‘tisse’ (pipis) dan ‘promp’ (kentut) biasa saja digunakan oleh balita-balita tersebut dengan guru mereka saat ganti popok atau minta ditemani ke toilet.
Begitu pula saat anak-anak balita ini sedang pottytraining, guru-guru akan mengingatkan mereka untuk ke toilet dan membantu si anak pipis di toilet dan membersihkan diri. Palingan untuk anak yang sudah besar, mereka akan minta izin dengan bilang ‘gå på do’ (pergi ke toilet). Gurunya pun akan membiarkan si anak masuk ke toilet dan membereskan urusannya sendiri, sementara si guru menunggu di luar toilet. Kalaupun si anak membutuhkan bantuan, anak akan langsung memintanya. Atau kalau gurunya merasa si anak terlalu lama di kamar mandi, mereka akan mengeceknya dengan bertanya apakah si anak butuh bantuan atau tidak.
Oh ya, dari sini juga penting buat orangtua tahu nama-nama seputar organ kelamin dan aktivitas buang hajat dalam bahasa lokal. Pernah ada kejadian anak seorang kenalan yang ketika sedang jalan-jalan berkali-kali meminta ‘Adek tisse, papa… adek mau tisse!” dan sang papa bingung ‘tisse’ itu apa. Untung si anak tidak sampai keburu mengompol di jalan.
Selain itu, tidak ada rasa malu yang bercampur rasa bersalah saat anak-anak merasa harus buang hajat atau ganti popok. Kalaupun ada yang mengompol, yah… accident happens. Karena anak-anak tidak merasa ketakutan, ketika mengompol di popok atau saat mereka merasa butuh ke toilet maka mereka tidak ragu meminta bantuan ke guru.
Ini berbeda sekali dengan pengalaman pribadi saya waktu kecil yang kalau mau pipis saja harus sampai bisik-bisik minta izin karena dianggap saru, atau saat melihat keponakan dimarahi sampai menangis hanya karena mengompol yang kemudian justru memperparah ngompolnya.
Yang saya perhatikan ketika si sulung berusia 3-4 tahun, ia sudah tahu bahwa penampakan fisik anak laki-laki dan perempuan berbeda. Anak-anak di usia ini selain memperhatikan tubuh mereka, mereka juga memperhatikan tubuh anak-anak lain. Dulu anak saya membuat observasi awalnya sebagai teman-temannya yang perempuan suka pakai rok dan rambutnya panjang, sementara teman-teman lelaki rambutnya pendek dan pakai celana.
Di rentang umur ini pula si sulung mulai bertanya, mengapa pipis perempuan dan laki-laki berbeda. Di sini akhirnya kami ajari si kecil bahwa ‘alat pipis’ manusia itu diciptakan oleh Tuhan ada dua jenis, itulah yang menjadikan mereka perempuan atau lelaki. Kami ajarkan juga bahwa penis adalah nama untuk organ kelamin laki-laki, dan vulva untuk organ kelamin perempuan.
Saya pribadi awalnya merasa aneh menyebut penis atau vulva, secara waktu kecil kenalnya sebutan ‘dompet’ atau ‘burung’. Tetapi kemudian yang muncul di benak adalah bagaimana kalau keterusan membahasakan organ kelamin sebagai burung atau dompet, lalu anaknya lihat hewan burung atau aksesoris dompet dan malah jadi bingung sendiri? Lah sampai sekarang saya juga heran kenapa harus disebutnya ‘burung’ atau ‘dompet’ sih, hahaha! Apalagi sama istilah ‘birds and bees’.
Ketika si kecil masuk usia 5 tahun, dari pengalaman saya sih sudah bertanya ‘Baby itu dari mana, Mama? Kok bisa ada di dalam perut mamanya?’ Nah, ini dia.
Ada kalanya kita sebagai orangtua kaget mendengar pertanyaan anak. Ini wajar, secara kebanyakan dari kita tumbuh di masa yang berbeda dengan anak-anak kita sekarang, dengan batasan pengetahuan yang berbeda pula. Dari pengalaman sewaktu mengajar, di situ saya belajar bahwa untuk menjawab pertanyaan anak, selalu mulai dari apa yang sudah diketahui oleh anak.
Untuk mencari tahu, seringkali saya balik bertanya, “What do you think?” atau “What do you know so far about that?”.I mean, seorang anak usia empat tahun mungkin tidak butuh jawaban saintifik lengkap mengenai proses konsepsi dan sexual intercourse saat mereka bertanya “baby itu dari mana, Mama? Kok bisa ada di dalam perut mamanya?” Mungkin setelah kita tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, try buying time by asking, “Hmm, kalau menurut kamu, bagaimana?”. Dengarkan saja dulu jawaban dari anak, dan ini akan bersambung ke poin selanjutnya,
Berikan informasi secukupnya, berikan jawaban sesuai fakta (sebaiknya hindari jawaban yang mengandung mitos), serta -bila diperlukan- perbaiki informasi yang anak salah tangkap. Waktu itu saya hanya jawab, “Well, the baby grows in a special place called a womb. That special place only presents in a mother’s tummy, with a help from the father. The baby will be held closed to the mother’s heart, warm and snuggled. Do you want to feel how warm the baby inside the mother’s tummy? It’s the same like being hug by me. Here, let me hug you!”
Waktu itu sih anaknya langsung mau saya peluk sambil ketawa-ketawa, sambil ditimang-timang serasa kembali menjadi bayi. Dan untuk sementara, saya pun terselamatkan dari pertanyaan yang lebih ajaib lagi, haha!
Senangnya lagi, di perpustakaan lokal dan di toko buku online seperti Bookdepository saya menemukan banyak buku cerita yang membantu saya menjelaskan soal human body dan bahasan kesehatan reproduksi ini kepada si kecil. Dan ada banyak buku yang penjelasannya dibikin sesuai rentang usia anak, mau dari 2 tahun sampai buku tentang pubertas untuk dibaca anak-anak usia 6-8 tahun pun ada.
Momen obrolan di usia prasekolah ini juga saya jadikan sebagai kesempatan untuk ‘menyisipkan’ beberapa nilai religius kepada anak. Ini tentunya kembali ke keyakinan masing-masing orangtua, ya. Saat itu momen ini juga saya pakai untuk mengecek bagaimana perasaan anak tentang topik tersebut, selain juga untuk menyampaikan perasaan dan nilai-nilai yang kita anut kepada anak.
Misalnya, waktu itu anak saya bertanya tentang salah satu anggota keluarga kami yang sudah lama belum memiliki anak. Ini saya jawab dengan, ‘Sometimes people will have a baby when they are ready, but sometimes it’s the other way around. And they will continue to exert their love toward people that they care most. In this case,it’s like my aunt and my uncle who are so devoted to you and loving you like a little princess!”
Perlu dipahami juga bahwa di usia ini, anak akan -dan akan selalu- membuat observasinya sendiri, dari melihat hal-hal yang ada di sekitarnya. Adalah penting untuk membuat anak merasa aman dan nyaman saat menyampaikan hasil observasinya tersebut.
Ketika misalnya orangtua merasa kaget atau tidak nyaman saat mendengar hasil observasi anak, just take a deep breath… and buy your time by asking, “what do you think?” Dan kalau kita tidak bisa menemukan jawabannya saat itu juga, it’s ok to say “I don’t know… yet”. Mungkin bisa juga dilanjutkan dengan, “Maybe later we can go to the library and find the answer from a book about human body. How about that?”
Dari pengalaman yang sudah-sudah sih, ketika anak berumur 5-6 tahun ini saya mulai mendapatkan beberapa pertanyaan yang cukup bikin deg-degan. Dan seiring dengan bertambah luasnya dunia anak, sebelum ia masuk SD kami bekali dengan pengetahuan tentang ‘stranger danger’.
Seperti, mengingatkan anak bahwa tidak ada orang lain yang boleh memegang bagian manapun di tubuhnya, kecuali kalau ia butuh bantuan, atau kalau sedang sakit mau diperiksa dokter yang mana papa atau mama pun akan turut berada di ruang periksa. Kami juga membiasakan untuk bertanya terlebih dahulu ke anak, meski seremeh “Wanna hug?” atau “Hold my hand, please?”.
Ternyata di barnehage pun guru-gurunya mengajarkan hal yang sama, tiap kali hendak berpelukan, selalu bertanya terlebih dahulu “Stor klem?” (big hug). Selain itu si kecil juga kami ajari untuk berkata “Tidak” (dan kalau perlu segera lari menghindar atau melawan) bila ia tidak merasa nyaman untuk kontak fisik apapun.
Normalkan penggunaan kata “Tidak” untuk mulai mengajarkan anak tentang boundaries & consent. Ajari pula anak untuk menyampaikan secara langsung kepada orangtua bila ia mengalami rasa sakit dan tidak nyaman terhadap perlakuan orang lain.
Sebagai orang Asia juga, biasanyanya kita memiliki kebiasaan yang berbeda seputar urusan membersihkan diri seusai buang hajat. Ini saya sampaikan di awal ke guru saat si kecil akan mulai masuk barnehage. Saya bilang bahwa di rumah biasanya si kecil saya bersihkan dengan kucuran air dan tisu wipes, jadi mungkin anak saya awal-awal akan merasa tidak terlalu nyaman hanya menggunakan tisu saja.
Untungnya guru di sekolah bisa menerima informasi ini dan menjelaskan bahwa saat mengganti popok di barnehage, guru akan selalu mengenakan sarung tangan sekali pakai, dan anak-anak akan dibersihkan menggunakan tisu dan air agar semua kotorannya bersih terangkat.
Tidak ada kata ‘terlalu awal’ untuk ngobrol dengan anak seputar bahasan kesehatan reproduksi ini. Bahkan ternyata bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Kenyataannya, anak hanya bisa merasa nyaman membangun dialog dengan orangtua seputar bahasan ini kalau orangtua bisa membangun rasa percaya dan aman dalam diri anak terlebih dahulu. Ini adalah landasan penting untuk hubungan orangtua dan anak.
Tentunya ini tidak dibangun hanya dari sekali percakapan; ini adalah dialog yang berlanjut antara orang tua dan anak, dibangun dari percakapan-percakapan kecil yang berlanjut dan berkembang seiring dengan pertumbuhan anak.
Penting bagi anak-anak untuk merasa aman dan nyaman, agar bisa jujur datang ke orangtua untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya. Percakapan yang terbuka dan jujur yang dibangun sedari anak berusia dini akan sangat membantu kita -sebagai orangtua- untuk dapat membuka dialog-dialog selanjutnya dengan lebih mudah.
Pesan yang penting adalah agar anak tidak perlu merasa malu atau takut bertanya tentang seks kepada orangtua. Dialog yang orangtua bangun bersama anak akan menjadi dasar bagi anak-anak untuk mencari informasi yang tepat, dan nantinya membantu mereka membuat pilihan yang sehat tentang kesehatan reproduksi mereka.
Aku mulai hidupku di Jerman sejak tahun 2015. Aku putuskan untuk melanjutkan studi lagi di salah satu negara bagian (=Bundesland) setahun kemudian. Studi itu mengantarkanku pada pekerjaanku di negeri panzer ini. Ya, aku bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak yang biasa disebut begitu kalau kita tinggal di Indonesia.
Setiap semester perkuliahan, aku mendapatkan praktik kerja untuk mengajar di taman kanak-kanak. Oh ya, pemberlakukan usia anak-anak masuk Kinderkrippe, semacam tempat penitipan anak, dengan Kindergarten, sebutan taman kanak-kanak berbeda-beda sesuai kebijakan negara bagian di Jerman.
Di negara bagianku, anak-anak yang masuk Kinderkrippe adalah mereka yang berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Sedangkan anak-anak yang masuk Kindergarten adalah mereka yang berusia 3 hingga 6 tahun. Aku memilih mengajari anak-anak di taman kanak-kanak. Alasannya, aku tak terlalu sabar mengurus anak-anak yang masih terhitung bayi dan dini sekali.
Selepas kuliah tiga tahun, aku kembali bekerja di taman kanak-kanak yang sudah mempekerjakanku sebelum aku lulus kuliah. Aku suka berinteraksi dengan anak-anak. Mereka mengajariku untuk sabar dan kreatif. Apalagi taman kanak-kanak di tempatku bekerja mengusung “teiloffenen Konzept” yang benar-benar mengubah cara berpikirku bagaimana menjadi guru TK yang membuat anak happy dan mandiri.
Di sini kami memiliki ruang-ruang khusus sehingga anak bebas bergerak seperti kehendaknya. Kami punya ruang kreatif dan ruang olah raga, di mana anak-anak bisa berlari-lari, panjat-panjat atau bermain bola. Ruang tersedia boneka, pakaian seperti pakaian polisi atau pakaian dokter yang kami sebut ini adalah ruang teater. Anak-anak tentu senang sekali bisa bermain peran.
Anak-anak yang suka bermain musik pun bisa masuk ke ruang musik di mana kami menyediakan instrumen musik khusus anak-anak. Tak lupa ada juga ruang konstruksi di mana anak-anak bisa bermain lego atau membuat bangun ruang sesuai keinginan mereka. Tak hanya itu, ada juga ruang bermain, ruang makan, ruang tidur dan ruang kelas yakni ruang yang menjadi mayoritas anak-anak beraktivitas.
Aku bekerja tujuh hari di taman kanak-kanak tersebut. Tiap hari aku punya tiga aktivitas pilihan untuk anak-anak. Anak-anak tidak aku paksakan untuk mengikuti aktivitas yang aku sarankan ke mereka. Mereka bisa berpindah ke grup kelas lainnya jika mereka suka. Misalnya aku mengajar di grup A, maka anak-anak bisa saja ingin berpindah ke grup B atau C.
Sebagai gambaran misalnya, suatu hari aku mengatakan bahwa aku punya aktivitas bernyanyi. Kemudian ada anak yang tak ingin bernyanyi dan diam saja, ya sudah. Atau anak tersebut memilih untuk masuk ke ruang-ruang yang tadi dijelaskan di atas. Itu pun tidak masalah. Jadi kami mengajari konsep kebebasan untuk anak. Anak bebas menentukan kehendaknya.
Selanjutnya adalah aku mengajari anak-anak tentang kemandirian. Mulai dari masuk ruangan, anak diajarkan bagaimana membuka sepatu sendiri, jaket sendiri dan lainnya. Anak diajarkan untuk memilih menu makanan yang kami sediakan. Misalnya menu hari itu adalah kentang, daging dan salad. Aku meminta anak mengambil makanan yang mereka suka, bukan aku menyediakan ketiga menu tersebut di atas piring mereka.
Setelah sarapan atau makan siang, aku biasanya membuat lagi pilihan untuk anak-anak. Anak memilih apa yang mereka sukai. Guru seperti aku hanya sebagai fasilitator, yang menyediakan sarana untuk mereka belajar dan bermain. Itu sebab aku sudah punya program harian. Sedangkan aktivitas makan, menikmati snack atau tidur adalah program yang sudah terjadwal.
Anak-anak berada di tempat kerjaku sampai orang tua menjemput mereka. Taman kanak-kanak di tempatku bekerja sudah mulai beroperasi sejak jam 5.30 pagi, tetapi aku tak suka bangun pagi. Aku memilih kerja mulai dari jam 8 pagi. Aku bertugas delapan jam setiap hari.
Oh ya soal waktu tidur, tidak semua anak bisa jadi suka melakukan tidur siang. Jika ada anak yang tidak ingin tidur, aku biasanya memberikan aktivitas menggambar atau aktivitas lainnya yang tidak mengganggu anak-anak yang sedang tidur siang.
Pengalaman menarik bersama anak-anak membuatku belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diriku sendiri. Aku menemukan diriku sendiri saat aku aku berinteraksi bersama anak-anak. Aku menjadi lebih happy bekerja bersama dengan anak-anak.
Tantangan bekerja di taman kanak-kanak adalah saat aku harus kontra dengan pendapat orang tua. Kadang aku berkonflik dengan orang tua yang lebih mementingkan ego mereka misalnya anak harus patuh pada orang dewasa. Padahal kami mengajarkan anak-anak untuk menjadi diri mereka sendiri dan menentukan kehendak mereka. Saat anak-anak bisa bebas menjadi diri mereka sendiri, anak-anak menjadi lebih happy dan kreatif juga. Anak-anak ternyata menemukan ketenangan tersendiri.
Penulis: Anonim, umur 32 tahun dan tinggal di Jerman
Saya pertama kali datang ke Jerman di tahun 2011 untuk program studi master di Osnabrück (kota di utara Jerman). Meskipun kuliah master di program internasional, tetapi saya harus 6 bulan kursus Bahasa Jerman di Köln (Cologne). Saat kuliah itulah saya bertemu dengan (calon) suami saya yang saat itu juga tengah menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Setelah kami lulus kuliah dan menikah, kami pindah dan memulai hidup baru di Pforzheim (kota di bagian selatan Jerman) karena suami mendapatkan pekerjaan di kota ini.
Suami saya berasal dari Lübeck, sebuah kota pelabuhan di utara Jerman yang jaraknya 800 km dari kota yang saat itu kami tinggali setelah kami menikah. Saat itu kami memutuskan tinggal di kota yang cukup jauh dari keluarga suami karena penghasilan suami cukup bagus di kota yang baru. Pforzheim masuk dalam negara bagian Baden-Württemberg yang terkenal sebagai ‘Goldstadt’ atau ‘kota emas’ karena terkenal akan industri pembuatan perhiasannya.
Anak-anak kami lahir di kota emas ini. Kini mereka berusia 6 dan 4 tahun. Melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di Pforzheim cukup berat perjuangannya, karena jauh dari keluarga saya dan keluarga suami. Buat keluarga suami pun cukup berat karena anak-anak kami kebetulan adalah cucu-cucu dan keponakan-keponakan pertama dari pihak keluarga suami. Ketika Oma (ibu dari suami saya) dan paman-paman dari anak-anak kami ingin menjenguk mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk bisa kembali tinggal di kota kelahiran suami dengan resiko suami harus mencari pekerjaan baru yang penghasilannya tak sebesar di kota sebelumnya.
Namun demi keluarga dan bisa tinggal dekat dengan sanak saudara, akhirnya kami pun pindah ke Lübeck dan menetap hingga sekarang. Seringkali kita mendengar bahwa interaksi dalam budaya barat itu individualistis. Kenyataannya, untuk sesama anggota keluarga tetaplah ada keintiman dan kedekatan yang berbeda. Kedekatan keluarga tetap memiliki peranan yang penting dalam kehidupan anak, seperti Oma ke cucu-cucunya.
Selama tinggal di Jerman saya selalu berinteraksi dengan kelompok-kelompok lintas budaya. Setelah berumah tangga saya aktif di ‘familienzentrum’, lembaga-lembaga yang membantu pemberdayaan perempuan, para ibu, dan keluarga. Familienzentrum ini juga banyak diisi oleh para imigran pendatang. Selama aktif di familienzentrum bahkan sejak semasa kuliah di program internasional, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang yang berasal dari berbagai negara. Ditambah beberapa tahun terakhir Jerman banyak menerima pendatang imigran, baik itu yang mencari suaka, pasangan perantau, maupun yang menikah dengan orang Jerman. Jadi paparan terhadap budaya yang beragam ini mulai menjadi hal yang biasa dan memperkaya keseharian masyarakat.
Pengenalan terhadap ragam budaya ini juga saya lakukan dengan anak-anak kami sendiri sedini mungkin. Sedari awal mereka bisa berbicara dan berkomunikasi, saya mengajarkan bahwa mereka adalah anak.anak yang memiliki budaya campuran orang Indonesia dan orang Jerman. Orangtua mereka berasal dari dua negara yang memiliki budaya yang tak sama. Pengenalan terhadap asal usul mereka saya lakukan lewat pengenalan geografi. Lewat buku, peta, dan tayangan dokumenter saya kenalkan anak-anak tentang alam dan budaya Indonesia.
Sejauh ini dalam pergaulan anak-anak di sekolah, saya tidak menemukan perbedaan perlakuan antara anak-anak yang lahir dari pasangan Jerman maupun pasangan kawin campur. Anak-anak kami bahkan menyadari bahwa mereka memiliki tampilan fisik yang cukup unik. Mereka tahu mereka memiliki warna kulit yang terang seperti ayahnya namun dengan warna rambut dan mata yang berwarna gelap seperti ibunya. Dengan keunikan ini, sejauh ini belum pernah saya mendengar mereka merasa heran atau tak nyaman dengan perbedaan warna kulit atau rambut yang mereka miliki.
Di sekolahnya pun ada teman-teman dari anak saya yang rambutnya keriting atau berkulit lebih gelap, dan mereka belum pernah bertanya ‘Mama, mengapa temanku rambutnya keriting?’. Jadi mereka belum pernah membedakan teman-temannya, meskipun secara fisik memang memiliki penampilan yang berbeda.
Salah satu tantangan mendidik anak-anak multi kulti (istilah Jerman untuk ragam budaya) adalah dalam mengenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Saat baru lahir dan sebelum anak pertama masuk TK, saya berusaha untuk berbicara Bahasa Indonesia dalam keseharian agar ia kenal bahasa Indonesia. Namun begitu anak saya masuk TK dan otomatis di TK sehari-hari berbahasa Jerman maka paparan berbahasa Jerman jadi lebih banyak dan lama-kelamaan malah saya yang jadi mengikuti mereka berbahasa Jerman. Jadi tantangannya lebih di saya sebagai ibu yang kesulitan untuk konsisten mengajarkan Bahasa Indonesia ke anak-anak.
Kesulitan ini membuat saya lalu melahirkan subjektifitas bahwa kita tidak bisa melakukan standarisasi dalam pola pendidikan keluarga. Melakukan tolak ukur dan membanding-bandingkan kondisi satu keluarga dengan yang lainnya. karena tidak ada satu bentuk pola pendidikan tertentu terbaik yang bisa diterapkan untuk semua keluarga.
Ada keluarga campuran yang anak-anaknya bisa lancar berbahasa ibu, tetapi ini berbeda dengan keluarga lainnya. Agak sulit juga untuk mempertahankan harus bisa berbahasa ibu, karena karakter anak-anak pun berbeda. Ketika orangtuanya membiasakan berbahasa ibu, ada anak-anak yang mudah mengikuti, tetapi ada pula yang merasa enggan apalagi saat di sekolah melihat teman-temannya lebih banyak berbahasa Jerman.
Apalagi kami tinggal di kota kecil yang tidak banyak orang Indonesia tinggal di sini. Jadi dalam mengenalkan bahasa Indonesia, akhirnya senyamannya saja karena mau bagaimana lagi. Menurut saya, yang penting anak-anak tahu bahwa pada dasarnya mereka punya latar belakang budaya campuran, dibesarkan dalam dua latar belakang budaya yang berbeda dengan saya -ibunya- orang Indonesia.
Namun saya selalu angkat topi buat keluarga campuran yang anak-anaknya tetap bisa lancar berbahasa dari kedua pihak orangtua. Kalapun ternyata si anak lebih lancar satu bahasa saja, ya tidak apa-apa karena masing-masing keluarga punya kondisi yang berbeda dan karakter anak-anak pun berbeda.
Belum lagi nanti saat si anak mempelajari bahasa lainnya di Eropa. Kalau nanti si anak memutuskan untuk mempelajari berbagai bahasa lainnya, itu akan menjadi keputusan mereka. Untuk anak-anak saya, yang terpenting adalah mereka tahu dulu bahwa mereka punya darah Indonesia yang mengalir dalam diri mereka.
Sedari awal, anak-anak saya juga sudah aware dengan penampilannya. Seperti saat dia bilang bahwa rambut saya gelap karena mama rambutnya gelap juga. Saya juga mengajarkannya ke anak-anak saat mengamati keseharian di sekeliling kami, seperti kucing yang memiliki warna bulu yang berbeda-beda. Menurut saya, keluarga campuran itu punya kosa kata yang lebih luas dan contoh yang lebih riil dalam keseharian mereka untuk mengajarkan perbedaan.
Latar belakang budaya yang berbeda dari orang tua tentu berdampak pula pada pola pengasuhan. Termasuk saya sebagai orang Indonesia dan suami orang Jerman yang memiliki banyak kebiasaan yang berbeda. Jerman misalnya terkenal dengan budaya tepat waktu, disiplin, dan kebiasaan mengantri yang tinggi. Dalam hal ini saya justru belajar banyak dari suami dan membiarkannya untuk mendidik anak-anak soal kedisiplinan ini. Meski dibandingkan dengan budaya kita, pola asuh suami terlihat agak ‘keras’. Namun menurut saya, dalam mendidik anak itu, kedua orang tua harus kompak; tidak bisa di bapaknya yang galak sementara ibunya membela si anak kalau anaknya berbuat salah. Jadi saya harus satu komando dengan suami saya, agar jangan sampai kalau ada apa-apa anaknya malah condongnya ke ibu.
Contoh paling sederhana saat waktu makan, anak-anak harus disiplin duduk makan bersama di meja makan dan makan sendiri sampai habis. Saya ikut pola asuh disiplin seperti itu dan menjalankannya bersama suami. Ada saat-saat di mana rasanya tak tega juga melihat pola didikan disiplin ini, tetapi saya tidak membela si anak atau memperlihatkan ketidaksetujuan saya di depan anak. Ini dimaksudkan agar si anak tidak kebingungan melihat bapaknya bilang ini tetapi ibunya bilang yang lain. Jadi memang orang tua harus terlihat kompak.
Masih soal makan. Di sini anak-anak diajarkan untuk disiplin makan pakai pisau dan garpu. Tak hanya saat makan di restoran, di rumah pun makannya dengan pisau dan garpu. Namun saya juga bilang ke anak-anak, kalau di Indonesia itu makannya pakai tangan dan itu adalah hal yang biasa dijumpai di manapun di Indonesia. Karena saya sendiri juga suka makan pakai tangan, anak-anak pun jadi tahu kalau ada kultur lain bahwa makan di meja itu bisa tanpa pisau dan garpu. Jadi ketika mereka merasa ingin melakukan sesuatu yang di luar adat kebiasaan orang Jerman saat makan, mereka bilang, „aku kan orang Indonesia jadi boleh makan pakai tangan saja“.
Selain pengenalan keragaman budaya lewat makanan, saya juga mengenalkan anak-anak baju-baju Indonesia seperti batik. Saya sering memakai daster batik di rumah dan anak-anak suka melihat motifnya. Meski daster hanya baju rumahan tetapi menurut anak-anak itu baju yang bagus. Mereka bilang kalau baju Mama bagus banget. Menurut mereka daster batik itu seperti dress cantik saja.
Pengenalan sedari awal pada anak bahwa ada dua budaya yang berbeda dalam diri anak-anak ini akan membentuk rasa percaya diri mereka. Mereka sudah tahu dari awal bahwa mereka berasal dari dua latar belakang budaya yang berbeda. Ketika anak-anak ini sudah memiliki pengetahuan bahwa mereka memang punya latar belakang orangtua yang berbeda yang memperkaya kehidupan mereka, ketika ada ejekan atau bully, mereka bisa menantang balik ejekan tersebut. Seperti misalnya bila ada yang mengejek warna rambut mereka, mereka sudah tahu bahwa ‘oh rambutku berwarna gelap karena ibuku juga warna rambutnya gelap’. Dan ibu sangat cantik dengan warna rambutnya yang gelap.
Perbedaan tampilan fisik toh tidak mengurangi dan mengecilkan nilai kebaikan seseorang. Meski budaya Indonesia dan Eropa itu berbeda, tetapi tetap ada nilai-nilai universal atau norma bersama yang kita terima, misalnya menghormati orangtua, berlaku jujur, dan tak menyakiti sesama. Di budaya manapun, kita akan menemukan nilai-nilai dasar tersebut, meskipun cara mengekspresikannya yang akan tampak berbeda-beda. Ajarkan kepada anak bahwa nilai-nilai universal ini ada dalam budaya manapun tanpa memandang perbedaan warna kulit.
Saya ingin menekankan bahwa dalam budaya manapun, tidak ada standar tertentu yang menunjukkan bahwa budaya yang satu lebih bagus daripada yang lainnya. Yang penting nyaman dijalani oleh keluarga dan bisa diterapkan dengan baik ke anak-anak. Kalau kita tidak nyaman menerapkannya dan anak-anak juga belum bisa menjalankannya, upayakan untuk menerimanya sebagai perbedaan dan tidak perlu dipaksakan.
Yang terpenting juga, dalam menjalankan pola pengasuhan dari dua budaya yang berbeda, orang tua harus kompak sebagai satu team work. Ayah dan ibu harus satu komando. Jangan bikin anak bingung!
*sebagaimana dituturkan oleh Syafa Haack, ibu dengan dua anak tinggal di Jerman, kepada Aini Hanafiah.
Sahabat Ruanita, aku mau cerita pengalaman yang kuhadapi pada anakku yang mengalami keterlambatan bicara. Aku adalah ibu dari seorang putra dan tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi lanjutan. Aku merasa bahagia dengan kelahiran putraku, seolah menggenapi kepuasan hidupku. Saat R, sebut saja begitu untuk inisial putraku, berusia dua tahun ternyata dia belum juga bisa bicara. Misalnya, dia memanggilku „mama“ saja tidak setiap hari bahkan satu minggu pun belum tentu.
R tidak banyak ngomong dalam kesehariannya. Selain itu, aku perhatikan anakku ini, bahwa dia begitu sensitif terhadap suara misalnya. Pernah suatu kali, kami datang ke acara ulang tahun dan saat banyak orang tepuk tangan, R menangis. Selain suara yang sensitif untuk R, ternyata R juga memilih untuk makan makanan yang lembut saja. Semua tumbuh kembang R, aku perhatikan dengan baik apalagi aku punya latar belakang keilmuan psikologi.
Aku kemudian putuskan membawa R ke ahlinya di negeri tempat aku melanjutkan studi. Tenaga profesional yang memeriksa R mengatakan bahwa R mungkin mengalami gangguan autis. Aku tidak sepakat tentang hasil yang diberikan ini sementara suamiku tetap berpikir bahwa R bisa jadi autis. Aku menolak keras pendapat bahwa R mengalami autis. Bagaimana pun aku paham sekali gangguan autis itu, apalagi aku sempat praktik menangani anak-anak dengan autis.
Di negeri tempat aku studi di benua biru ini, anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis akan mendapatkan penanganan dan perawatan khusus secara gratis asalkan orang tua menandatangani kesepakatan bahwa anak tersebut memang memerlukan penanganan profesional. Ya, aku setuju bahwa R memang perlu treatment khusus, tetapi bukan treatment untuk anak autis.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk memeriksakan R saat aku berlibur di Indonesia. Aku bawa R ke klinik profesional yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus dan perlu penanganan psikologis. Letak klinik tersebut ada di Jakarta dan aku kenal siapa pemilik klinik tersebut. Setelah diperiksa, R mengalami sensory processing disorder dan speech delay. Jika selama ini R begitu peka terhadap suara atau indera pengecapannya, itu berarti bahwa R mengalami gangguan yang disebut dengan sensory processing disorder.
Selain itu, klinik yang menjadi rujukanku untuk memeriksakan R juga mengatakan bahwa R hanya mengalami speech delay, bukan autis. Ya, aku menerimanya bahwa R memang kesulitan memformulasikan kalimat dan kata-kata di saat anak-anak seusianya mungkin sudah punya banyak kosakata. Akhirnya, R mendapatkan penanganan khusus selama kami tinggal di Jakarta. R mendapatkan terapi yang bisa dilakukan paralel untuk mengatasi sensory processing disorder dan speech delay.
Treatment untuk R dilakukan sebanyak dua kali seminggu. Sepertinya klinik ini memiliki teknik khusus seperti teknik bermain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan anak. Mereka memiliki terapi bermain yang membantu anak seperti bermain foam (=bentuk) dari lilin sehingga R bisa merasakan dengan tangannya dan membuat sesuatu. Atau R suka lompat-lompat maka klinik akan menyediakan permainan sambil anak diberikan penanganan khusus.
Aku berpikir bahwa semua butuh proses yang memang dibutuhkan kesabaran dan pendampingan dariku sebagai ibunya. Saat kembali ke negeri yang jadi rumah keduaku, aku melanjutkan lagi dua terapi tersebut untuk R. Bedanya, aku membayar semua treatment untuk R selama di Jakarta sedangkan di negeri rumah keduaku tersebut, semua difasilitasi oleh negara dan tergantung juga seberapa besar plafon asuransi yang kita pilih.
Beruntungnya R mengalami kemajuan yang pesat, sehingga pekerja klinik asing tersebut memutuskan bahwa R tidak perlu lagi terapi untuk atasi sensory processing disorder, hanya R masih perlu untuk terapi atasi speech delay. Aku memang bolak-balik antara Indonesia dengan salah satu negeri di benua biru, yang jadi rumah keduaku. Aku pun tetap melanjutkan terapi yang dibutuhkan R demi tumbuh kembang putraku, R.
Kami sempat berlibur ke Bali sekaligus aku harus bekerja di sana. R ikut serta bersamaku. Sekembalinya dari liburan, aku membawa R untuk kembali melanjutkan terapi speech delay-nya di Jakarta. Staf klinik yang selama ini mendampingi R pun merasa takjub atas kemajuan pesat dari kosakata R, apalagi sekembalinya dari liburan di Bali.
Puji Tuhan, R memang kini bisa kembali bersekolah seperti umumnya anak-anak seusianya. Aku bersyukur bahwa R bisa bercerita padaku tiap hari seperti yang kuinginkan selama ini. R tidak lagi kesulitan dalam berkomunikasi. Aku hanya berpendapat bahwa seorang ibu pasti mengenali anaknya, termasuk bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Aku pikir sedini mungkin kita perlu melakukan penanganan agar anak-anak bisa tumbuh sehat seperti harapan semua ibu di dunia ini.
Perkenalkan saya Euginia Putri Stederi. Saya mau berbagi pengalaman saya pra dan pasca melahirkan. Cerita saya mungkin dapat mewakili suara beberapa ibu atau orang tua baru yang menetap di luar negeri.
Saya hamil di awal masa Pandemi tahun 2020. Melahirkan di masa pandemi bukan hal yang mudah karena semuanya serba terbatas dan tidak cepat. Namun saya tetap merasa beruntung karena di Jerman banyak sekali sarana yang didukung oleh asuransi seperti biaya bidan, biaya dokter kandungan, biaya rumah sakit dan dokter anak.
Selain sarana yang ditawarkan oleh asuransi, saya juga mengikuti beberapa kegiatan yang biayanya harus saya tanggung sendiri seperti yoga untuk ibu hamil dan akupuntur. Selama masa kehamilan saya juga sudah mendapatkan jadwal tetap dokter kandungan saya. Untuk melakukan check up, kapan saja saya harus ke dokter kandungan. Kurang lebih selama 9 bulan saya mempunyai 20 janji kontrol.
Selama masa kehamilan kami disarankan secepat mungkin untuk mencari bidan dan dokter anak karena jumlah bidan dan dokter anak yang terbatas dan antrian yang panjang. Peran bidan di sini tidak kalah pentingnya, mereka mengontrol ibu hamil untuk pra dan pasca kehamilan dan juga bayi yang baru lahir.
Selain itu kami disarankan untuk mengikuti kursus persiapan kelahiran di mana ada banyak sekali informasi di dalamnya seperti dokumen apa saya yang harus dipersiapkan, ciri-ciri ibu yang sudah mau melahirkan, latihan-latihan untuk memperlancar kelahiran dsb. Ada baiknya bagi orang tua baru untuk mengambil kursus post natal (pasca kelahiran) untuk mengetahui apa saja yang bisa terjadi terhadap anak atau pun orang tua baru setelah proses kelahiran.
Di Jerman pun tidak mengenal mitos yang aneh-aneh. Ibu hamil malah dianjurkan untuk beraktivitas sewajarnya dan senormal mungkin. Namun tentunya sesuai kemampuan masing-masing individu. Yang saya sangat ingat, dokter kandungan memberi tahu saya untuk tidak makan daging atau telur setengah matang. Semua sayur dan buah harus dicuci bersih. Saya diperbolehkan olahraga seperti bersepeda sesuai kapasitas saya.
Namun sayangnya karena pandemi semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Suami hanya diperbolehkan hadir beberapa jam sebelum proses kelahiran. Suami boleh berkunjung maximum 1-4 jam sehari. Orang tua tidak dapat hadir, termasuk orang tua dari pihak suami saya.
Saya masih ingat dengan jelas di rumah sakit seperti rumah hantu. Hanya saya dan bayi saya sehingga saya tidak tahu harus melakukan apa. Bolak-balik saya mengebel perawat meminta bantuan dan akhirnya saya sempat dimarahi oleh salah satu perawat. Merasa tidak nyaman, stress dan bingung akhirnya saya memutuskan hanya menetap 1 malam saja. Mungkin para dokter dan perawat pun kewalahan karena di hari itu entah kenapa banyak sekali bayi yang baru dilahirkan.
Setelah itu persiapan yang cukup memakan waktu adalah saat menyelesaikan semua dokumen yang dibutuhkan. Proses itu sangat tidak mudah. Semua serba terbatas. Namun saya bersyukur punya keluarga baru di sini yaitu teman-teman kami yang membantu kami seperti memasak untuk kami dsb. Tanpa mereka mungkin kami akan babak belur, sebagai sepasang orang tua baru yang minim akan pengetahuan tentang rutinitas baru kami.
Secara hukum kami diperbolehkan mengambil cuti maksimum 3 tahun setelah kelahiran anak kami, tetapi kami putuskan untuk mengambil cuti selama 14 bulan. Saya mengambil cuti 12 bulan dan suami saya hanya 2 bulan. Selama masa cuti ini kami masih mendapatkan bantuan keuangan dari negara sebanyak 60% dari gaji kami. Apabila kami mengambil cuti lebih dari 14 bulan kami tidak mendapatkan bantuan dari negara. Selain itu anak kami pun mendapat bantuan keuangan dari negara dari usia 18 tahun hingga 25 tahun.
Lagi-lagi saya tidak merasakan mitos yang aneh-aneh untuk bayi atau ibu yang baru melahirkan. Contohnya, di Indonesia ibu atau anak baru dilarang keluar rumah selama 40 hari. Di Jerman, sepanjang ibu yang baru saja melahirkan sudah mampu maka kami diijinkan untuk keluar rumah. Saya terbilang cukup beruntung baik orang tua saya maupun mertua saya, tidak pernah ada yang memaksakan kehendak mereka. Mereka tetap memberikan saran tetapi pada akhirnya saya dan suami saya yang memutuskan.
Ini sepenggal pengalaman saya tentang pra dan pasca kelahiran anak saya. Saya mau ucapkan banyak terima kasih untuk suami saya yang kuat dan tidak lepas tanggung jawab, teman-teman kami yang selalu ada untuk kami dan pahlawan saya yaitu bidan saya. Tanpa bidan saya, kami mungkin tidak akan cepat belajar dan bangkit. Saya sangat menyarankan juga mengikuti kelas persiapan pasca kelahiran kepada Anda yang ingin melahirkan di luar negeri.
Banyak orang mungkin bertanya bagaimana rasanya bekerja di luar negeri, apalagi berprofesi sebagai dosen di universitas, tempat Albert Einstein belajar. Ini adalah pengalamanku yang menantang sekaligus berharga supaya dapat tetap berkarya di mana pun berada.
Awalnya aku menetap di Swiss untuk menemani suami yang sedang melanjutkan studi PhD (S3) di Universität Zürich. Kami sempat menjalani Long Distance Marriage satu tahun sebelumnya, sehingga kemudian kuputuskan menyusul suami pada 2019. Tentu rasanya tak mudah meninggalkan pekerjaan dan rutinitas mengajar di Yogyakarta yang sudah kurintis sejak empat tahun terakhir, apalagi jika harus beranjak dari zona nyaman dan pindah ke negeri yang terkenal dengan kelezatan cokelatnya itu, suatu tempat yang benar-benar baru bagiku.
Menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan, saat aku melakukan perjalanan di Chiang Mai, Thailand, pada 2011 silam. Di negeri gajah putih ini aku melanjutkan studi S2 dengan jurusan yang sama dengan studi S1-ku, Sastra Inggris. Rupanya tawaran menjadi pengajar BIPA di Thailand telah memberiku pengalaman berkarir sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Pemelajar Asing. Berbekal pengalaman dan pelatihan yang sering kuikuti, tak terasa aku menggeluti dunia ke-BIPA-an ini hingga sekarang.
Meski Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, ternyata mengajarkan Bahasa Indonesia bagi warga negara asing itu memiliki tantangan tersendiri. Selain setiap pemelajar memiliki karakteristiknya masing-masing, mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing juga menuntutku untuk memiliki keterampilan khusus dalam pemahaman lintas budaya. Hal ini penting untuk diketahui demi kelancaran proses pembelajaran di kelas. Misalnya, aku harus bisa menyesuaikan dengan budaya setempat seperti Swiss yang memiliki tiga bahasa sebagai pengantar sehari-hari yakni Bahasa Jerman, Bahasa Italia dan Bahasa Prancis.
Seorang pemelajar pernah mengkritikku karena aku tidak bisa mengajar dengan pengantar bahasa Prancis, melainkan hanya bisa berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jerman saat menjelaskan materi tata bahasa. Aku sempat berkecil hati atas kritik tersebut, namun aku dapat segera menemukan solusi dengan menggunakan direct teaching method dengan bantuan media visual untuk memudahkan pemelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia tanpa adanya bahasa perantara.
Tekanan psikologis lainnya tentu saja pernah kualami di negeri asing ini. Di awal mengajar, aku merasa sedikit kurang percaya diri, meskipun dengan pengalaman dan jam terbangku yang sudah lebih dari 10 tahun. Hal ini karena adanya kultur kerja yang berbeda dengan kampus tempatku dulu bekerja, ditambah juga dengan adanya karakteristik pemelajar Eropa yang cenderung lebih kritis dalam segala hal. Namun kemudian aku sadar bahwa aku bisa berada di sini karena aku mampu dan memang berkompeten dalam bidang yang aku tekuni saat ini. Pengalaman ini pula yang membuatku semakin semangat mengasah keterampilan mengajarkku melalui berbagai kegiatan webinar dan keterlibatanku dalam Afiliasi Pengajar BIPA se-Eropa, sebuah upaya agar aku tidak merasa sendiri dan mendapat support yang baik dari sesama pengajar BIPA di benua ini.
Sejak 2019 aku telah menikmati proses menantang sekaligus menarik sebagai Pengajar BIPA di Universität Zürich dan di KBRI Bern yang dibuka pada tahun berikutnya. Sebagai pengajar BIPA, aku harus berhadapan dengan pemelajar dengan latar belakang dan motivasi belajar yang beragam. Di Universität Zürich, BIPA adalah mata kuliah pilihan yang berbobot 6 ECTS (=Satuan Kredit Semester/SKS di Eropa), sedangkan kursus BIPA di KBRI Bern dibuka untuk masyarakat Swiss secara umum.
Dengan berbagai keterbatasanku saat tiba di Zurich dulu, aku sebenarnya tidak punya banyak pilihan, akan tetapi aku mencoba menciptakan peluang untuk diriku sendiri sehingga aku tetap bisa berkarya walaupun jauh dari rumah dan dari segala kenyamanannya. Bagaimana pun juga kita perlu berdamai dengan diri sendiri, yaitu dengan menerima dan menjalani setiap prosesnya. Suami dan anakku telah banyak mendukungku untuk bertumbuh dan menjadi pendengar sekaligus social support terbaik mana kala aku menghadapi kecemasan akan adaptasi lingkungan, pekerjaan, maupun permasalahan psikologis lainnya.
Sebagai pengajar BIPA, aku juga belajar banyak untuk membuka wawasan dan jejaring yang lebih luas lagi, dapat melihat Indonesia dari kacamata ‘luar’ yang semakin menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Menjadi pengajar BIPA juga memberiku peluang di negeri asing untuk menjadi diriku sendiri. Kunci menjadi pengajar BIPA adalah pentingnya toleransi budaya agar dapat memahami konteks Bahasa Indonesia yang dipelajari pemelajar asing.
Bahasa ibu adalah identitas diri siapapun dan dari manapun kita berasal. Bahasa ibu adalah bahasa utama untuk mengenal dunia. Jangan sungkan untuk berbahasa Indonesia di mana pun kita berada. Jika warga negara asing saja mau belajar, mengapa kita mesti malu berbahasa Indonesia?
Menjelang bulan Februari, toko-toko dekat rumahku telah diselimuti dengan cokelat, hiasan hati, pita-pita cantik, bunga dan lain sebagainya.
Sebagai penyuka cokelat, aku sangat menyenangi diskon-diskon spesial yang ditawarkan. Namun, setiap kali aku melihat plakat bertuliskan hari Valentine, aku hanya bisa mendengus. Hari kasih sayang? Menggelikan.
Bagiku, hari Valentine adalah hasil marketing yang sangat sukses. Entah perusahaan cokelat mana yang menggagaskan konsep hari kasih sayang di hari kematian seseorang yang dieksekusi secara tidak berperikemanusiaan?
Lucunya, gagasan ini diterima di seluruh dunia. Well, tentu ada beberapa orang yang menolak mentah-mentah konsep ini. Aku, misalnya. Beberapa kelompok religius juga menentang gagasan hari kasih sayang ini.
Argumen mereka, hari kasih sayang bisa dirayakan kapanpun. Aku sedikit setuju dengan pernyataan ini. Tapi, namanya manusia sangat suka dengan momentum. Apapun, lah! Aku hanya ingin cokelat mahal yang di-diskon. Sebenarnya, Valentine tidak jelek-jelek amat.
Cokelat diskon itu buktinya! Namun terkadang orang bisa sangat terobsesi dengan hari ini. Temanku sampai mengancam pacarnya kalau dia tidak membawanya ke restoran romantis dan memberinya kado Valentine, dia akan ngambek sejadi-jadinya.
Berlebihan, menurutku.
Tapi pernah suatu hari aku memberikan kado Valentine kepada mama. Beliau tidak pernah merayakan Valentine, namun kebetulan beliau sedang mengunjungiku di negara ini bertepatan dengan Valentine.
Senyum beliau saat menerima kado dariku sangatlah indah. Mungkin, di luar hal-hal aneh seperti obsesi Valentine dan asal-usulnya, Valentine tidak jelek-jelek amat.
Penulis: Nadia Millati, berdasarkan cerita seorang teman dari negara Asia Timur.