Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Kategori: CERITA SAHABAT
Cerita pengalaman, pengamatan, pengetahuan dan praktik baik orang Indonesia tentang tema-tema spesial di luar Indonesia. Cerita Sahabat dikelola oleh Mariska Ajeng (di Jerman), Aini Hanafiah (di Norwegia), Tutut Handayani (di Swedia), Rieska Wulandari (di Italia), Griska Gunara (di Inggris) dan tampilan visual di Instagram dikelola oleh Rena Loliver, (di Swiss).
Untuk partisipasi, bisa mengirimkannya via form bit.ly/Sahabat-Ruanita atau kontak Tim Cerita Sahabat via email ke info@ruanita.com.
Aku sangat suka membaca. Saking sukanya, aku harus membaca saat sedang makan. Dulu saat masih di Indonesia, aku membaca buku fisik. Namun, saat aku pindah ke Jerman, aku berpaling pada e-book.
Selain e-book praktis, aku juga bisa membaca buku-buku yang dulu aku punya di Indonesia yang tidak tersedia secara fisik di Jerman.
Kebiasaan ini aku bawa sampai Jerman. Saat aku masuk universitas, aku banyak menghabiskan waktuku sendirian, terutama saat makan. Aktivitas membaca sambil makan ini adalah salah satu caraku untuk tidak merasa kesepian saat makan sendirian, karena sahabatku tidak memiliki jadwal kuliah yang sama sepertiku.
Saat aku sendirian, mungkin kebiasaan itu tidak terlalu mengganggu. Namun itu menjadi masalah saat kebiasaan itu terbawa bahkan jika aku sedang bersama sahabatku.
Sahabatku merasa terganggu dengan kebiasaanku itu karena saat bersamanya, aku malah asyik dengan Handphone atau ipad.
Tidak tahan lagi, akhirnya sahabatku memberikan ultimatum.
“Nad, gue ketemu sama lo karena gue mau ngobrol dan ngabisin waktu sama lo,” dia bilang.
“Tapi gue merasa nggak dihargai karena lo malah sibuk baca novel. Janji ya, kalau lagi keluar sama gue lo gak boleh buka hp atau ipad, lo harus ngobrol sama gue. Kalau nggak, gue nggak mau lagi main sama lo!” lanjutnya lagi.
Jujur, aku merasa tidak enak hati. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan sahabatku itu. Namun dengan ultimatum itu, aku jadi sadar dengan kebiasaan burukku. Padahal dari dulu keluargaku suka menasehati kebiasaanku itu tetapi aku tidak menghiraukannya.
Sejak saat itu, saat aku keluar bersama orang lain. Sebisa mungkin aku tidak akan membuka hape atau ipad. Aku hanya membuka hp atau ipad saat aku menghabiskan waktu sendirian atau dengan suamiku. Bagaimana pun suamiku memiliki kebiasaan yang sama denganku, yaitu baca e-book sambil makan.
Efek baiknya, aku tidak terlalu lagi terobsesi dengan hape atau ipad seperti dulu. Akupun menjadi lebih aware dengan karakter orang yang pergi bersamaku dan bisa lebih mencocokkan diri dengan mereka.
Tahun 2021 mungkin adalah tahun terberat bagi saya, diawali ketika saya terkena virus Corona lalu episode depresi yang disusul dengan diagnosa gangguan kecemasan sosial dan OCD yang saya dapat di awal pengobatan di klinik psikiatri. Walau menjadi tahun terberat, namun saya juga belajar banyak hal dari semua itu, terutama tentang cinta diri sendiri. Mungkin jika saya tidak tidak terkena depresi, saya tidak pernah tahu kalau selama ini saya tidak mencintai diri saya sendiri.
Saya dulu termasuk ke dalam orang yang sering membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa orang lain bisa mendapatkan kerja di tempat yang saya inginkan, tapi saya tidak. Mengapa orang lain sudah punya keluarga dan bahagia, sedangkan saya masih sendiri. Mengapa mereka sukses, tapi saya tidak. Pikiran-pikiran ini membuat saya tidak bahagia dan belakangan saya baru tahu, kalau ini adalah salah satu gejala tidak mencintai diri sendiri. Saya harus berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena semua orang punya waktu dan berada di tempat yang berbeda. Tidak hanya itu, kita juga tidak pernah tahu apa yang orang lain pernah lalui untuk bisa sukses seperti yang kita lihat.
Sekarang saya mencoba untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain, terlebih lagi soal pekerjaan atau kesuksesan, apa lagi sekarang saya tahu ternyata saya mempunyai gangguan kecemasan sosial yang membuat saya menghindari beragam kesempatan yang mungkin bisa membuat saya menjadi orang sukses. Sekarang tugas saya sebagai bagian dari cara mencintai diri sendiri adalah dengan rajin terapi untuk mengurangi kecemasan yang sudah “menemani” saya hampir seluruh hidup saya. Tidak hanya kecemasan, terapi juga akan membantu saya mengatasi masalah lain dalam diri saya dan membantu meningkatkan kepercayaan diri saya yang kurang. Semua itu adalah usaha saya untuk lebih kenal dan cinta diri sendiri. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang 😊
Saat berada dalam episode depresi saya sangat ingin diperhatikan oleh orang-orang terdekat saya. Waktu itu saya pikir, jika mereka benar perhatian dengan saya, seharusnya saya juga bisa menjadi prioritas mereka. Saya rasa itu adalah pertama kalinya saya mempunyai pikiran seperti itu, biasanya saya akan memprioritaskan orang lain, seberapa sibuk dan capainya saya. Jika orang-orang terdekat saya butuh bantuan, pasti saya akan langsung sanggupi. Saya tidak tahu kalau itu juga salah satu dari ciri tidak cinta diri sendiri, jadi secara natural pikiran dan perasaan saya yang ingin diprioritaskan oleh orang lain pun muncul.
Saya dulu tidak bisa bilang tidak, kesulitan mengutarakan pendapat dan kebutuhan saya. Saya sempat tegang dengan sahabat saya, karena dia menelepon untuk menanyakan kabar saya tapi ujung-ujungnya malah bercerita tentang masalahnya sendiri. Setelah beberapa hari, saya akhirnya bisa berbicara dengan dia. Untungnya dia mengerti, bahkan dia, yang saat itu punya anak berumur satu tahun, mau main ke rumah saya yang jaraknya sekitar satu jam dari rumah dia. Saya merasa diperhatikan dan diprioritaskan olehnya, saya senang. Sekarang saya berusaha mendengarkan diri saya sendiri. Saya tidak lagi main ke rumah teman karena permintaan mereka, tapi karena keinginan saya.
Jika saya merasa menjadi penengah di antara dua orang adalah kewajiban, maka saya akan mundur, karena itu sekarang saya mengerti itu bukan urusan saya walau mereka minta. Saya juga penting, saya juga harus diprioritaskan, paling tidak oleh saya sendiri. Saya juga tidak egois dengan ingin diprioritaskan.
Oh iya, mengungkapkan pendapat sendiri ke orang lain juga bentuk self-love. Saya sebagai orang dengan gangguan kecemasan sosial (dulu) sangat jarang atau hampir tidak pernah bilang apa yang saya pikirkan. Sering kali ketika ngobrol dengan orang lain dan berada di tema yang yang ingin saya bicarakan tapi saya diam saja, karena mengira lawan bicara saya sedang butuh untuk bercerita.
Saya mengalah. Tidak memprioritaskan diri sendiri. Biasanya yang terjadi dengan saya adalah malam hari saya akan mengulang kejadian tersebut namun dengan adegan saya berbicara apa yang ingin saya katakan. Jika saya tidak beruntung, adegan ini akan terulang berkali-kali, bisa jadi sampai mengganggu jam tidur saya.
Bagi saya mencintai diri sendiri juga berarti menerima bentuk tubuh saya. Sedari kecil saya selalu mendengar orang lain bilang saya gendut dan membuat saya tidak suka dengan diri sendiri juga rendah diri. Tidak hanya itu, saya merasa saya jelek. Padahal jika saya menjadi sahabat saya, saya akan bilang ke saya kalau saya tidak gendut. Buktinya, bagaimanapun bentuk tubuh saya, akan ada saja orang yang bilang saya gendut.
Memberikan dukungan fisik ke diri sendiri adalah bentuk dari penerimaan dan kecintaan terhadap diri sendiri. Saya punya seorang sahabat yang selalu meminta saya untuk menguruskan badan hampir setiap kali kami bertemu, sampai-sampai setiap akan bertemu dengannya saya akan membuat adegan dengan dialog antara saya dan dia yang akan menyinggung tentang bentuk tubuh saya dan ‚menyarankan‘ saya untuk kurus.
Sejujurnya, hal tersebut tidak memotivasi saya dan saya memang tidak pernah termotivasi untuk mempunyai tubuh kurus. Bagi saya yang terpenting adalah kesehatan, sebesar atau sekecil apapun tubuh seseorang. Ingat, bentuk tubuh kita tidak memengaruhi nilai diri kita. Jika orang lain bermasalah dengan bentuk tubuh kita, dia bukan orang yang baik untuk kita.
Selama 24 jam setiap hari tubuh kita berfungsi sesuai dengan yang kita inginkan dan dia harus kita jaga. Sayangnya mencintai tubuh masih kurang saya lakukan. Saya masih kurang gerak dan (sejak depresi) hampir tidak pernah olah raga dan asupan makan saya juga tidak sehat. Saya masih makan makanan instan yang banyak sodium dan lemak jika mood saya sedang jelek atau malas masak, padahal itu semua bukan hal yang dibutuhkan oleh tubuh saya.
Tubuh saya maunya makannya penuh gizi dan vitamin, juga ingin berolah raga agar lemak kelak tidak menyumbat pembuluh darah atau mengganggu aktifitas organ lain. Tidak hanya itu, kebersihan badan juga harus diperhatikan. Ada orang yang malas sikat gigi, padahal selain tidak higienis, kesehatan gigi dan mulut juga penting.
Gusi yang tidak sehat bisa memengaruhi kesehatan jantung. Oh iya, tapi saya rajin kontrol ke dokter sebagai bentuk mencintai dan berterima kasih kepada tubuh saya. Tahun ini saya melakukan serangkaian kontrol dengan dokter saya karena ada nilai darah saya yang tinggi. Saya juga rajin membersihkan gigi secara profesional untuk pencegahan sakit gigi dan lainnya.
Sekarang ini saya sedang belajar untuk baik atau jangan terlalu keras ke diri sendiri. Sebelumnya jika saya mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, saya akan beat myself up dengan cara mengkritik, misalnya dengan memberi julukan ‘jelek’, ‘bodoh’, ‘gendut’, dan sebagainya. Saya juga melihat hasil bukan proses, karena itu saya akan merayakan kesuksesan dan mengkritik diri sendiri untuk kegagalan, padahal proses juga penting: saya sudah berusaha keras dan itu sebenarnya yang lebih penting untuk dirayakan.
Tips dari terapis saya jika saya mulai mengkritik diri sendiri, saya bisa bayangkan saya (si pengkritik) berada di pundak kiri lalu saya hempaskan dengan tangan kanan saya agar dia hilang. Tidak hanya itu, kita juga bisa membayangkan menjadi sahabat kita, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dengan mengatakan yang baik-baik ke diri sendiri. Jika kita mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, tidak mungkin sahabat kita akan mengkritik kita, sebaliknya mereka akan sangat baik kepada kita dengan memberikan motivasi atau sekedar bilang, kita sudah berusaha dengan maksimal.
Menjadi sahabat bagi diri kita sendiri adalah salah satu bentuk cinta diri sendiri. Tidak hanya itu, mengizinkan diri kita melakukan kesalahan juga cinta diri sendiri. Kita boleh melakukan kesalahan, bahkan itu hal normal yang terjadi oleh setiap orang. Jangan hanya orang lain yang dimaafkan, tapi diri sendiri juga harus dimaafkan.
Mencari kesempurnaan juga musuh dari self-love. Saya pribadi, keras ke diri sendiri karena saya ingin melakukan hal dengan sempurna, padahal balik lagi ke atas: yang penting prosesnya bukan hasil. Karena saya merasa harus sempurna, saya sering kali tidak melihat prestasi yang sudah saya raih. Ah tidak, bagi saya itu bukan prestasi namun hal biasa yang semua orang bisa raih, begitu pikir saya. Biasa saja, karena tidak sesuai dengan saya harapkan, misalkan saya pernah mendapatkan beasiswa dari kampus, tapi hanya dua bulan.
Kata lawan “tapi” di belakang koma itu selalu saya sebut karena menurut saya hal itu bukan hal istimewa. Seharusnya beasiswa satu tahun, bukan hanya dua bulan. Oleh terapis saya pernah diminta untuk menuliskan prestasi-prestasi saya, sekecil apa pun itu, misalnya bisa bikin kue tertentu walau di percobaan kesembilan. Ternyata saya punya sederet prestasi baik besar maupun kecil yang sayangnya tidak pernah benar-benar saya membuat saya puas. Saya masih berjuang untuk puas dengan apa pun yang saya raih, seberapa lama dan sebentarnya waktu yang butuhkan dan seberapa besar atau kecilnya hal tersebut.
Sedari kecil saya sayangnya bukan orang yang rapi. Sampai sekarang saya masih susah sekali menjaga kerapian tempat tinggal, walau kebersihan bisa hampir dipastikan terjaga. Saya rajin menyedot dan mengelap debu, tapi malas sekali untuk meletakan barang di tempatnya. Saya pikir tinggal di tempat rapi dan bersih adalah bentuk penghargaan terdapat diri sendiri.
Di mana kita pantas untuk tinggal, apakah di tempat kotor dan berantakan? Tentu tidak, bukan? Kita pantas untuk tinggal di tempat yang bersih dan rapi, yang membuat kita nyaman untuk hidup. Jangan takut juga untuk membuang barang-barang yang tidak kamu butuhkan, dari pada hanya membuat tempat tinggalmu penuh barang. Jika kamu mirip seperti saya yang berantakan, yuk, kita berusaha berubah! Kita hidup di lingkungan yang layak untuk kita.
Menurut saya, mencari pertolongan ke orang lain juga bentuk dari cinta diri sendiri. Saya adalah orang yang malu untuk minta tolong orang lain. Saya merasa diri saya lemah jika harus minta tolong orang lain, selain itu juga tidak mau merepotkan orang lain. Suami seorang sahabat saya pernah berkomentar, jika saya benar menganggap mereka penting dalam hidup saya, saya pasti tidak akan malu-malu untuk minta tolong ke mereka.
Sebenarnya bukan itu alasan saya, saya hanya khawatir merepotkan mereka. Padahal mengakui bahwa kita butuh bantuan dan berbicara dengan orang lain tentang masalah kita bisa membantu mengurangi beban kita, bahkan mungkin membantu mengatasi masalah tersebut. Dulu saya lebih suka menangis di kendaraan umum, dari pada pergi ke teman, cerita tentang kesedihan saya, dan menangis di depan mereka. Tidak apa-apa, kok, kita tidak mampu mengerjakan sesuatu. Tidak apa, kok, meminta orang membantu kita. Kita tidak dilahirkan untuk selalu memberikan bantuan, tapi juga sebaliknya, menerima bantuan orang lain.
Selain semua hal yang sudah saya sebutkan di atas, penting juga untuk membuat waktu untuk diri sendiri alias me-time. Jika kamu sering di media sosial, tapi pernah membaca frasa yang bilang kita harus menyediakan waktu untuk diri sendiri atau beristirahat paling tidak satu hari dalam seminggu, sebelum badan kita sendiri yang memutuskannya. Saya rasa ini benar juga. Sering kali saya malah jatuh sakit saat jadwal sedang penuh setiap harinya. Tidak hanya itu, bagi saya episode depresi yang terjadi pada saya juga ulah dari tubuh dan pikiran saya butuh istirahat tapi tidak pernah saya indahkan.
Saat sedang beristirahat, kamu bisa merawat diri kamu, misalnya melakukan beauty night dengan mandi atau berendam air hangat, luluran, perawatan rambut, dandan, dan mengolesi kuteks cantik di jari-jari tangan. Berleha-leha di sofa sambil nonton film atau baca buku, jalan-jalan di taman, merawat tanaman, berolah raga, bermain dengan hewan peliharaan, menghabiskan waktu dengan keluarga, menikmati matahari, tertawa, minum teh atau kopi di cafe kesukaan, mengamati orang atau langit, ganti seprai kasur atau tidur juga merupakan hal yang bisa dilakukan untuk lebih peduli dan cinta diri sendiri.
Saya Disti dan berasal dari Surabaya dan tinggal di India. Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa sebagian kisah hidup saya akan saya arungi dengan penuh liku kedukaan.
Kisah hidup yang berawal dari dating apps. Seorang laki-laki India menjerat hati saya. Tanpa bertemu fisik, saya pun jatuh cinta. Cerita-cerita dalam film Bollywood penuh cinta romansa menari-nari dalam angan. Terlebih ketika dia secara serius mengungkapkan keinginan untuk datang ke Surabaya. Akhirnya kami bertemu muka. Dan pernikahan pun berlangsung di awal Desember 2010.
Kata orang cinta itu buta. Dan saya terbutakan oleh cinta. Menikah tanpa tahu seluk beluk orang yang saya cintai itu. Tanpa tahu kehidupan yang dia jalani dalam lingkungan budaya yang tentunya sangat berbeda. Hanya bermodalkan percaya, akhirnya cinta membawa saya ke India selang beberapa hari setelah hari pernikahan.
Saya memulai kehidupan baru di India tanpa adanya kesempatan adaptasi untuk mengerti budaya dan lingkungan sekitar. Bahkan tanpa adanya jeda untuk memproses apa yang terjadi dengan diri ini. Realita itu ternyata jauh dari impian pernikahan yang bahagia. Ketidaksiapan dan ketidakpahaman dalam menghadapi culture shock memberikan duka yang panjang.
Tradisi di India memaksa saya untuk tinggal bersama dengan mertua dan dua keluarga ipar dalam satu atap. Komunikasi dengan mertua sebelum ketibaan saya di India cukup baik, berubah menjadi dingin. Begitu juga dengan dua ipar beserta istri-istri mereka. Saat itu saya tersadar bahwa mereka tidak bisa menerima saya, tidak hanya karena saya orang asing tetapi juga karena adanya perbedaan hal yang prinsip saat itu. Suami masih bersikap baik walaupun Ibu mertua memperlihatkan sikap yang tidak mengenakan. Ia menerima saya di rumah itu hanya karena anaknya.
Tekanan demi tekanan dari keluarga suami semakin saya rasakan semenjak suami pergi bekerja ke Dubai sekitar satu bulan setelah kami tiba di India. Perbedaan perlakuan Ibu mertua terhadap saya dibandingkan dengan ipar-ipar saya semakin terasa. Saya tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Saya diharuskan memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di dalam rumah.
Cara hidup yang berbeda dengan yang saya jalani di Indonesia membuat mental saya jatuh. Saya takut, sedih dan bingung dalam menghadapi budaya yang asing ini. Tidak ada teman untuk berbagi. Bahkan, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena rasa takut akan reaksi dari keluarga suami. Bercerita kepada suami mengenai apa yang terjadi pada saya pun terasa sia-sia karena suami pasti mendapatkan cerita yang berbeda dari keluarganya yang akan membuat saya semakin terpojok. Akhirnya saya hanya bisa terdiam dan memendam perasaan.
Kesedihan bertambah tatkala saya melahirkan anak pertama melalui operasi caesar tanpa didampingi suami. Karena tidak tahan lagi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dua minggu setelah melahirkan. Ketika saya sampaikan rencana ini, suami marah dan mengancam akan membunuh saya dan keluarga saya jika terjadi sesuatu dengan anak kami. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa kata-kata itu akan terucapkan olehnya.
Kepulangan ke Indonesia dengan anak pertama tentunya membuat orang tua saya bahagia. Saya tidak menceritakan masalah yang sedang saya hadapi. Karena saya tidak mendapatkan nafkah dari suami, saya bekerja di sebuah sekolah untuk kehidupan saya dan anak. Apalagi saya membutuhkan biaya pengobatan karena luka jahitan operasi caesar yang basah terasa perih sekali. Saya bahkan tidak meminta nafkah kepada suami. Juga karena tidak ada komunikasi yang berarti dengan suami.
Suami datang ke Indonesia untuk menemui saya dan anak kami setelah anak kami berusia setahun. Dia hanya berkunjung, bukan untuk menjemput saya dan anak kami. Saya tersadar suami datang hanya untuk melihat anak laki-laki kami karena anak laki-laki adalah mahar dalam budaya India, sesuatu yang mempunyai nilai tinggi. Namun demikian, saya mengungkapkan keinginan untuk ikut bekerja ke Dubai agar kami bisa menjadi keluarga yang utuh. Tetapi dia malah menyuruh saya untuk kembali ke India.
Saya melahirkan anak kedua di Indonesia tanpa didampingi lagi oleh suami yang telah kembali ke India. Walaupun kami terpisah, dia tetap mendikte kehidupan saya sesuai dengan keinginannya dan mengabaikan semua keinginan saya. Pada saat itu saya sudah lelah, tetapi kata cerai sangat tabu. Saya pun tahu selama saya di Indonesia keluarga suami meminta untuk menceraikan saya.
Saat itu orang tua sudah mengetahui permasalahan dalam pernikahan saya. Mereka meminta saya untuk memaafkan suami. Akhirnya, saya kembali ke India ditemani oleh ayah yang sekalian pergi berlibur.
Kembali hidup bersama keluarga suami membuat saya depresi. Kehidupan saya dipantau oleh mertua dan dua ipar. Saya kembali lagi diharuskan memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, membuat saya depresi. Saya bertahan dengan mengikuti apa kata mertua. Berusaha membuat senang mertua, saya memberikan cincin dari eyang dan perhiasan lain yang saya punya kepada mertua. Semua itu saya lakukan karena saya ingin disayang oleh keluarga besar suami. Suatu keinginan yang tidak berlebihan. Bahkan saya membiayai kebutuhan rumah dari uang kiriman suami karena kedua ipar saya tidak mau berkontribusi. Masalah uang juga membuat selalu ada pertengkaran di rumah. Saya selalu berusaha baik, tetapi selalu juga tidak dihargai.
Untuk mencari tambahan pemasukan, saya bekerja di sebuah toko es krim dekat rumah. Pekerjaan di toko es krim selesai ketika hari sudah gelap. Keluarga suami menuduh saya selingkuh dan memberitahu suami. Sekali lagi, saya hanya bisa terdiam. Karena tidak tahan dengan segala tuduhan yang tidak berdasar, saya sampaikan kepada suami saya ingin pulang ke Indonesia. Tidak diduga suami mengatakan pulang saja dan jangan pernah kembali.
Dalam keadaan tidak punya uang sama sekali dan depresi berat, saya diperkosa oleh seorang kenalan keluarga suami. Ancaman dari orang itu membuat saya semakin tertekan dan tidak bisa bercerita ke siapa pun. Hidup saya hancur. Saya menjadi linglung.
Sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang melihat saya begitu ketakutan dan tertekan. Dia orang pertama yang membuat saya merasa aman untuk bercerita dan menyarankan untuk melapor ke kedutaan Indonesia. Saya menolak karena rasa takut dan malu. Tidak bisa bercerita tentang apa yang telah saya alami. Saya katakan kepada dia bahwa saya ingin pulang ke Indonesia. Orang ini, yang pada akhirnya menjadi suami kedua saya, membelikan saya tiket ke Indonesia.
Dukungan keluarga di Indonesia membuat saya merasa lebih tenang. Mereka menyarankan agar saya menyelesaikan masalah secara baik-baik dengan suami. Tetapi usaha itu tidak pernah berujung solusi. Bahkan suami mau menceraikan saya.
Selama setahun di Indonesia, saya menyibukkan diri dengan bekerja dan berusaha untuk memulihkan diri dari trauma dengan menemui psikiater. Uang hasil kerja setahun saya pergunakan untuk kembali ke India untuk menemui anak-anak saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Kekuatan itu bertambah ketika mendengar anak-anak mengatakan mereka begitu menyayangi saya.
Saya tersadar bercerai adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari duka ini. Saya sudah berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Namun tetap tidak berharga di mata suami. Terlebih ternyata suami juga mempunyai affair dengan perempuan lain. Selain itu dia memanfaatkan ketidaktahuan saya dengan memaksa saya menandatangani dokumen pembelian rumah. Yang lebih menyakitkan adalah dalam keadaan tertekan saya menandatangani surat yang ternyata membawa akibat saya kehilangan hak asuh anak-anak saya. Banyak lagi dokumen yang saya tandatangani dalam keadaan tertekan yang ternyata membawa kerugian bagi saya yang baru saya ketahui setelah bercerai.
Menikah dengan suami kedua mengubah perspektif saya tentang hidup. Saya belajar untuk berkomunikasi lebih baik dengan orang. Belajar untuk tidak sungkan menyampaikan keinginan dan apa yang dirasa. Belajar untuk berpikiran lebih terbuka. Belajar menerima perbedaan. Belajar mencari solusi permasalahan tanpa pertengkaran.
Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.
Fokus hidup saya dan suami sekarang adalah melayani Tuhan dan masyarakat. Saya juga fokus dalam karir dan apapun yang saya kerjakan, termasuk kuliah lagi di bidang Teologi.
Begitu juga dengan anak-anak, saya ingin menyampaikan bahwa saya sebagai seorang ibu sangat menyayangi kedua anak saya walaupun mereka tidak tinggal bersama saya. Saya ingin kedua anak saya tahu bahwa saya sangat berharap mereka akan berkumpul bersama saya lagi. Saya akan selalu menunggu mereka karena kasih saya sebagai ibu tidak akan pernah padam. Saya akan selalu menunggu mereka sampai kapan pun. Saya akan menerima mereka dalam suka dan duka, apapun keadaan mereka.
Untuk para sahabat yang ingin menikah dengan warga negara asing, saya ingin menyampaikan pentingnya mengenal budaya dan karakter pribadi pasangan. Begitu juga dengan keluarganya. Karena kita perlu melindungi diri kita sendiri agar kita pun bisa merawat cinta dalam pernikahan.
Penulis: Dina Diana, Mahasiswa S3 di Jerman yang mewawancarai seorang Sahabat RUANITA Disti, nama samaran yang tinggal di India.
Saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar saat itu. Ayah saya meminta saya untuk membeli sebuah buku tulis di warung, yang letaknya tak jauh dari rumah. Saya pun menyanggupinya. Saya diminta ayah untuk menuliskan hal-hal apa saja yang membuat saya bersyukur. Buku tulis biasa dibuat kotak-kotak dengan penggaris biasa, kemudian diberi tanggal, hari dan tahun.
Makin lama saya menyukai pekerjaan menuliskan buku harian. Saya pernah mendapatkan buku harian mulai dari buku yang wangi, penuh hiasan sampai dengan buku harian yang terkunci. Saya pernah membuat kata-kata sandi untuk menuliskan buku harian agar orang-orang di rumah, apalagi ayah membaca buku harian. Saya juga punya brankas rahasia di mana tidak ada orang yang tahu letak buku harian saya itu.
Kebiasaan menulis buku harian membuat saya mengenali apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya pernah menuliskan bagaimana saya punya teman sebangku di kelas yang selalu mendapatkan rangking 1 sejak kelas 1 SD. Saya bercerita tentang betapa pintarnya dia. Pada akhirnya, saya belajar strategi belajar darinya sehingga saya pun kemudian mendapatkan rangking tiga besar di kelas.
Lewat buku harian, saya pernah mencatat daftar resep masakan. Ceritanya ibu saya berpergian selama lebih dari satu bulan untuk mengunjungi keluarga ayah yang letaknya berbeda pulau. Pada akhirnya saya yang masih terhitung kelas 5 SD belajar memasak, dengan daftar resep yang diceritakan ibu saya. Saya menuliskan bagaimana menanak nasi, menumis sayuran atau memasak sup ayam misalnya. Pengalaman memasak itu saya tuangkan juga loh di buku harian saya.
Saya ingat bahwa saya pernah menuliskan pengalaman naksir dengan teman kelas sehingga peristiwa itu pun saya tuliskan di buku harian. Saya begitu malu mengingat semua itu ketika saya membaca ulang semua catatan buku harian saya ketika saya sudah beranjak remaja 17 tahun. Pengalaman saya jatuh cinta, membuat masakan, mendapatkan rangking kelas, mendapatkan pujian, bertengkar dengan adik kandung atau berlibur membuat buku harian saya begitu penuh warna.
Setelah saya remaja dan duduk di bangku SMA, saya memutuskan untuk membakar semua buku harian yang saya miliki. Tempat persembunyian untuk meletakkan buku harian telah diketahui oleh adik dan sepupu saya. Saya begitu malu ketika mereka membacakannya. Dengan malu bercampur sedih, saya membakar buku harian saya.
Saya melihat ayah saya memiliki buku agenda kantor. Saya suka melihat kebiasaan ayah saya yang suka mendokumentasikan apa yang sudah dilakukannya dan apa yang direncanakannya untuk masa mendatang. Ayah saya pun kemudian membelikan saya buku agenda kantor, tanpa perlu saya membuat garis kotak-kotak seperti dulu.
Hal yang saya ingat dari menulis buku harian tersebut adalah saya mencatat tentang rasa syukur yang saya miliki. Saya memulainya dengan kalimat, saya bersyukur karena… Dari kalimat itu, saya bisa menuliskan panjang lebar tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup saya. Meski saya berjerawat pada saat itu, saya mendapatkan nilai ulangan sejarah yang sempurna. Apa pun yang saya tuliskan dalam buku harian, itu seperti menuliskan banyak berkat yang terkadang saya lupa.
Kebiasaan menulis buku harian itu juga membantu saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Buku harian itu ditulis dengan tangan saya, tidak ada laptop atau handphone pada masa itu. Saya bisa mengolah rasa marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, takut, dan berbagai perasaan yang berkecamuk lewat buku harian tersebut. Itu seperti mengenal diri saya dengan baik, bagaimana saya sebenarnya.
Buku harian seperti membentuk pribadi saya untuk mengontrol rasa yang bergejolak saat itu, seperti bahagia atau marah. Sekarang orang bisa saja posting di sosial media betapa bahagianya hidup mereka, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana reaksi orang setelah membaca postingan tersebut karena kita tidak bisa mengontrol respon seseorang. Lewat buku harian, saya bisa menumpahkan apa yang dirasa dan dipikirkan tanpa takut dihakimi atau diketahui orang lain.
Jejak buku harian telah membawa saya pada impian Anne Frank, seorang remaja asal Belanda yang fenomenal lewat buku hariannya. Saat ke Belanda kemarin, saya menyambangi tempat Anne Frank tersebut. Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulang tahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu.
Saya kutip dari Anne Frank tentang pentingnya menulis jurnal sebagai berikut:
“Unless you write yourself, you can’t know how wonderful it is. I always used to moan about the fact that I couldn’t draw, but now I’m overjoyed that at least I can write. And if I don’t have the talent to write books, newspapers, articles etc. I can write for myself. I want to achieve more than that.”
Mumpung masih di awal tahun, bagaimana kebiasaan Sahabat RUANITA semua menuilskan buku harian?
Penulis: seorang yang suka menuliskan jurnal untuk mendokumentasikan berkat dalam hidupnya, tinggal di benua biru.
Halo! Nama saya Puti Ceniza Sapphira, biasa dipanggil Chica. Sejak November 2021 saya kembali merantau di Amerika Serikat, tepatnya di Upper Peninsula Michigan, kota Houghton. Kesibukan sehari-sehari saya sebagai homemaker, directing my community library in Bandung @pustakalanalibrary, menjadi Mamin di @mamarantau, dan menjadi volunteer di beberapa organisasi di sini.
Berbicara tentang resolusi awal tahun, menurut saya adalah intensi, harapan, dan capaian yang kita terapkan pada diri kita untuk menyambut tahun baru dengan semangat baru. Tentunya harapan menjadi manusia yang lebih baik lagi – baik sebagai makhluk individu, sosial, dan spiritual. Tentunya semua itu, biasanya dilakukan dengan berkesadaran untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Saya sendiri menulis Goals awal tahun yang jadi kebiasaan sedari usia remaja. Dengan kita memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita jadi memiliki skala prioritas. Menurut saya, Goals itu seperti panduan mau mengalokasikan energi, waktu, effort kita ke mana di tahun tersebut dan juga menjaga intensi kita untuk meraih sesuatu yang memberi dampak baik pada keberlangsungan hidup kita di tahun itu.
Ada pengalaman menarik ketika saya menuliskan Goals awal tahun. Contohnya waktu tahun 2019 lalu. Saya jadi membuka kembali jurnal di akhir 2019 nih dan membaca “New Year’s Resolution” di mana saya menuliskannya begini: read every day; learn a new language; pick up a new hobby; take up a new course; level up your skills; wake up early; weekly exercise.
Dan bisa ketebak ya, gagal semua 😀 Kenapa? Karena jelas dari poin-poin yang saya tulis di atas saya tidak memiliki SMART Goals. Apa itu SMART?
S itu berarti Specific: Goals kita itu harus jelas, detil dan langsung pada tujuan yang ingin dicapai. M itu berarti Measurable yang mana kita harus menjelaskan bagaimana cara kita mencapainya. A itu berarti Achievable yang mana kita harus menuliskan Goals yang realistis untuk mencapainya. R itu berarti Relevant yang mana kita menuliskan Goals yang langsung pada prioritas tujuan hidup kita. Terakhir itu T yang berarti Time-Bound yang mana kita punya timeline untuk mewujudkannya.
Selain SMART, kita juga bisa menerapkan tips-tips membangun SISTEM dalam membentuk kebiasaan baru seperti yang ada dari buku Atomic Habits oleh James Clear. Atomic habits adalah perubahan ke arah yang lebih baik dalam skala kecil. 1% peningkatan setiap harinya. 1% improvement setiap hari bisa membawa perubahan yang sangat besar jika dilakukan secara rutin dalam 365 hari. Tujuan (Goals) lebih condong ke hasil. Kalau sistem adalah tentang proses yang kita alami buat menggapai hasil.
Dalam membentuk kebiasaan, sistem lebih penting. Mengapa? Semua orang bisa aja punya tujuan, tapi hanya orang sukses yang bisa meraihnya soalnya mereka punya sistem. Alasan kedua, tujuan membatasi kebahagiaan karena kita merasa hanya akan bahagia kalau kita meraih tujuan itu.
Jadi, bikin Goals percuma dong? Gak juga; karena keberadaan Goals akan bagus untuk menentukan arah (setting a direction) tetapi untuk memiliki progres, membangun sistem lebih penting.
Dari sumber bacaan yang saya baca, ada tiga level dalam mengubah kebiasaan. Level 1: Mengubah hasil. Seringkali tujuan levelnya ada di sini. Misal, makan lebih sehat. Level 2: Mengubah proses. Kebiasaan levelnya ada di sini. Misal, makan buah 5 macam per hari. Level 3: Mengubah identitas. Level yang terbaik karena berarti kita mengubah mindset, asumsi, kepercayaan kita daripada “saya ingin sehat” maka “Saya orang yang fit dan sehat”
Selain yang disebutkan di atas, saya pikir ada empat cara untuk membuat kebiasaan antara lain: make it obvious, make it attractive, make it satisfying, dan terakhir make it easy.
Membuat kebiasaan menulis Goals awal tahun memang tidak mudah. Ini dari sumber bacaan yang saya baca yakni kita harus punya antara lain: (1). Habit Formation. Jangan kelamaan bikin rencana dan overthinking, kebiasaannya segera dilakukan aja; (2). The Law of Least Effort. Bikin lingkungan yang mendukung pembentukan kebiasaanmu. Misal,kita ingin belajar gitar, taruh gitarnya di tempat yang gampang dilihat dan buat playlist dari YouTube untuk belajar beberapa lagu yang kamu sukai di level pemula; (3). Two-minute Rule. Waktu mulai, bikin kebiasaannya gampang. Misal, kalau pengen mulai membiasakan diri baca buku, baca sehari sehalaman aja. Kalau udah biasa, nambah lagi dikit-dikit; (4). A commitment device. Investasi ke hal-hal yang bikin kebiasaanmu lebih gampang di kemudian hari. Misal, ingin menabung, riset dan daftar ke bank yang menawarkan fitur menabung otomatis.
Cara yang jauh lebih baik untuk mendekati resolusi adalah dengan memilih satu kebiasaan baru untuk difokuskan, dan kemudian menambahkan yang lain nanti (setelah kebiasaan pertama tertanam dalam rutinitas harian Anda) – daripada 7 resolusi sekaligus yang membuat kewalahan.
Selain fokus pada resolusi yang sedikit daripada resolusi yang banyak, kita juga harus memulainya dari hal yang kecil dulu. Misalnya, jika tujuan akhir kita adalah mulai workout lebih sering maka tidak realistis untuk kondisi dari yang tidak pernah berolahraga menjadi berolahraga selama satu jam setiap hari.
Mulailah dengan menetapkan tujuan yang lebih kecil dan lebih realistis, seperti ‘Saya akan melakukan yoga stretching 5 menit setiap hari saat bangun tidur’. Ketika melakukan stretching 5 menit di pagi hari terasa lebih alami, kemudian bertahap tingkatkan menjadi 10 menit, 20 menit, dst. Mungkin perlu beberapa minggu/bulan untuk mencapai tujuan teman-teman, tetapi itu lebih baik daripada gagal di bulan Januari dan menyerah di bulan berikutnya!
Tantangannya adalah kita butuh waktu untuk bisa ngobrol dan cek ke dalam diri apa sih yang masih kurang dari diri dan apa yang ingin dikembangkan. Beberapa pertanyaan untuk ditanyakan pada diri sendiri seperti berikut ini:
Akankah tujuan ini memengaruhi kebahagiaan jangka panjang saya?
Apakah tujuan ini menguntungkan pernikahan, karier, atau keluarga saya?
Apakah tujuan ini secara praktis berguna untuk kehidupan saya sehari-hari?
Apakah tujuan in akan relevan dengan kebutuhan saya?
Apakah saya melakukan ini karena saya pikir orang lain mengharapkannya ini dari saya?
Utamanya adalah kesadaran dan kemauan diri untuk menjaga semangat mewujudkan Goals tersebut. Oleh karena itu penting kita membangun sistem termasuk juga partner in crime yang bisa sama-sama mengingatkan untuk semangat. Semisal, saya ingin bisa rutin nge-Gym atau fitness. Kalau sendiri, kadang ada rasa mager atau bosan, dengan ada teman jadi bisa saling bergantian kalau ada yang satu melemah semangatnya 😀
Juga keep your success in your journal, rasanya memuaskan sekali dengan membuat habit tracker dan melihat progress kita dari waktu ke waktu.
Oh ya, penting juga untuk kita selalu keep update sama topik yang ingin kita perbaiki. Misal kalau ingin mulai bisa keuangan yang sehat, coba follow, simak podcast, baca artikel/subscribe blog yang berhubungan sama topik Financial. Perluas literasi terkait resolusi yang ingin dicapai.
Terakhir ini adalah saran dan pesan saya untuk teman-teman yang ingin memulainya. Take time to think, reflect, and write what is your ideal life and how you perceive your better self next year. Make it SMART and build a SYSTEM that makes you eager to pursue it!
Penulis: Puti Ceniza merupakan mamarantau di Houghton, MI, AS. Di tengah menyempatkan diri untuk menjadi relawan aktif beberapa komunitas di kotanya ia juga menjalani peran sebagai Director di perpustakaan komunitas yang ia dirikan sejak 2015 di Bandung, @pustakalanalibrary.
Salam kenal, nama saya Retno. Saat ini saya tinggal di Norwegia, dan aktivitas sehari-hari sebagai editor dan ibu rumah tangga.
Kedua anak perempuan kami berusia 12 tahun dan 3 tahun dan keduanya lahir di perantauan. Saat ini si bungsu baru mulai toilet training.
Sebenarnya ada cerita menarik saat dulu si sulung mulai toilet training. Awalnya saya berencana untuk memulai toilet training si sulung ketika ia berusia 2 tahun. Saat itu ia hanya menggunakan popok kain berbentuk celana sehingga sudah terbiasa mengenali rasa ‘basah’ dan minta ganti popok. Saya pikir ‘oh kayaknya bisa dicoba toilet training, nih’.
Kami pun mengajak si kecil membeli dua potty seat: yang berbentuk bangku dan yang bisa diletakkan di atas toilet. Kenyataannya si kecil hanya tertarik untuk bermain-main dengan potty seat. Ia malah menangis takut saat diajak untuk menggunakan potty di toilet. Lalu saat itu kami juga sibuk sekali menyiapkan kepindahan dari Malaysia ke Indonesia, yang kemudian dilanjutkan lagi ke Tromsø (kota di utara Norwegia yang posisinya berada di dalam lingkar kutub utara).
Dari beberapa buku panduan toilet training yang pernah saya baca, disebutkan bahwa waktu-waktu transisi besar seperti kepindahan sekolah, pindah rumah, saat anak sakit atau saat anak baru disapih bukanlah waktu yang tepat untuk memulai proses toilet training. Jadilah toilet training-nya ditunda. Dengan alasan kepraktisan juga, si sulung masih menggunakan popok sekali pakai (pospak) selama perjalanan sampai tiba di Tromsø.
Kami tiba di Tromsø di bulan Februari saat puncaknya musim dingin dan nyaris setiap hari badai salju. Saat itu si sulung berusia 2.5 tahun. Waktu itu selain membawa banyak lauk untuk ransum makanan selama seminggu, saya juga membawa bekal satu bungkus pospak untuk berjaga-jaga. Namun setelah empat hari tiba di Tromsø, badai salju tidak kunjung reda sementara… bekal pospak yang kami bawa sudah habis!
Saat itu popok celana kain dan kedua potty seats yang kami beli juga ikut dibawa ke Tromsø. Seperti biasa, potty seats-nya dibuat mainan saja oleh si sulung. Dan saat itu si sulung mau duduk di potty seat di kamar mandi sambil menunggu saya ‘mengerjakan urusan’ di toilet. Ya, saat itu sampai ke kamar mandipun saya diikuti oleh si sulung. Kombinasi badai salju tak kunjung reda, kehabisan popok dan melihat si sulung akhirnya mau duduk di potty seat, akhirnya saya mulai saja proses toilet training. Dan berhasil!
Setiap pagi setelah bangun tidur, saya ajak si kecil untuk pipis sekaligus poopy sambil menunggu saya. Jadi duduk berdua di toilet saja sampai ‘urusannya’ selesai. Begitu pula dengan siang, sore, dan malam sebelum tidur. Hanya butuh waktu seminggu dan sekali ‘kecelakaan’ mengompol, si sulung pun bebas tidak lagi memakai pospak. Lalu saat badai salju reda dan kami bisa ke supermarket, kami ajak si sulung mampir ke toko baju untuk memilih sendiri celana dalam dengan gambar tokoh kartun favoritnya.
Ketika lima bulan kemudian si sulung masuk barnehage (daycare) dan sudah genap berusia tiga tahun, ia sudah tidak lagi memakai popok. Sebelum ia masuk barnehage, kami ajari cara untuk memberi tahu kalau mau ke toilet dan cara untuk membersihkan diri menggunakan tissue. Selama di rumah, si sulung selalu kami bersihkan dengan air, namun di daycare biasanya hanya tersedia tissue/toilet paper saja.
Saya komunikasikan juga kepada para gurunya bahwa kalau di rumah, si sulung selalu dibersihkan dengan air setelah buang air besar, sehingga mungkin jika di sekolah hanya dibersihkan dengan tissue ia akan merasa agak kering dan pedih. Guru-guru barnehage pun bisa mengerti dan menyediakan wet wipes atau tissue basah.
Fast forward ke sembilan tahun kemudian, ketika sudah ada si bungsu. Kami memutuskan untuk memasukkan si bungsu ke barnehage ketika ia berumur dua tahun. Namun saat itu banyak hal yang memengaruhi kemampuan adaptasi si bungsu di situasi barnehage yang asing buatnya, terutama setelah dua tahun pandemi.
Saya agak ragu si bungsu bisa mulai toilet training sebelum masuk barnehage, apalagi kondisinya juga bersamaan dengan kami boyongan pindah rumah. Ketika berdiskusi dengan guru barnehage-nya, bu guru juga mengutarakan hal yang sama: sebaiknya toilet training nanti saja setelah si bungsu bisa beradaptasi dengan suasana baru di barnehage.
Rentang usia yang cukup jauh antara si sulung dan bungsu ini membuat saya mengingat-ingat ulang cara toilet training si sulung dahulu. Untungnya Ruanita bersama psikolog Stephany Iriana membuat video yang sangat informatif mengenai proses toilet training pada tautan berikut: https://youtu.be/AWKl3o18Ehk .
Stephany menjelaskan beberapa tanda yang orangtua perlu kenali seputar kesiapan anak untuk mulai toilet training. Beberapa tandanya adalah seperti berikut:
anak sudah bisa berjalan dan bisa duduk dalam jangka waktu pendek,
anak sudah bisa mengucapkan kata-kata pendek dan mengerti perintah sederhana,
anak tertarik mengobservasi kegiatan orang lain,
popok anak bisa kering selama durasi dua jam,
anak bisa menunjukkan gesture yang mengisyaratkan,
anak tidak nyaman saat memakai diapers atau menolak dipakaikan,
anak bisa menunjukkan gesture yang mengisyaratkan kalau dia mau ke toilet,
anak mampu menarik atau menaikkan celananya,
anak dapat memahami instruksi atau kalimat perintah sederhana.
Satu tips yang Stephany bagi adalah biarkan anak memilih tipe potty seats yang ia mau gunakan, dan sediakan beberapa jenis potty yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda. Lalu untuk menyemangati anak, bisa coba memberikan rewards dalam bentuk stickers lucu setiap kali anak mencoba menggunakan toilet. Yang terpenting adalah orangtua jangan memaksakan anak untuk segera menggunakan potty. Sebagai awalnya, biarkan anak bermain dan bereksplorasi dengan potty seatsnya selama potty-nya bersih.
Sampai saat ini si bungsu masih dalam proses membiasakan dirinya mengenali benda potty seats ini. Saat ini dia sudah mau duduk di potty di kamar mandi, tetapi tidak mau kalau celananya dilepas untuk mulai pipis.
Namun dia sudah bisa memberi tahu kami setiap pagi saat dia mau poopy. Dan dia masih takut untuk duduk di potty yang dipasang di atas toilet dewasa karena kakinya menggantung (selain juga karena bagian dalam toiletnya seperti bolong besar), jadi nampaknya dia lebih memilih potty seats berbentuk bangku kecil.
Minggu lalu waktu kami berdiskusi dengan guru barnehage, gurunya menjelaskan bahwa kini si bungsu sudah bisa popoknya kering selama dua jam lebih, dan jarang sekali poopy saat di sekolah. Namun dia masih pipis sekali di popoknya, biasanya setelah makan siang. Si bungsu juga menunjukkan ketertarikan saat melihat anak lain menggunakan potty di sekolah.
Guru menjelaskan bahwa kalau mau, si bungsu sudah bisa memulai toilet training dan kami di rumah bisa bekerjasama dengan guru di barnehage. Nampaknya learning curve si bungsu dalam proses toilet training ini tidak secepat si sulung, tetapi tidak mengapa… kenyataannya memang beda anak bisa beda cara dan beda kesiapan dalam memulai toilet training.
Menurut saya, proses toilet training ini banyak faktor trial-error. Buat orangtua, harap diingat kalau accident happens. Ada kalanya anak bilang mau pipis atau poopy, sudah duduk di potty, eh ternyata malah tidak pipis atau poopy. Ini tidak masalah, nanti bisa dicoba lagi. Begitu pula ketika anak tiba-tiba kecolongan mengompol atau poopy di celana, ini juga tidak mengapa.
Ini terjadi saat dulu si sulung toilet training; ia tampak malu saat kebablasan mengompol karena keasyikan bermain. Saya ajak saja ia untuk segera cebok sambil diberitahu pelan-pelan kalau next time mau pipis, langsung beritahu Mama ya.
Untuk mama/papa, harap diingat kalau bekas pipis itu selalu bisa dibersihkan, dicuci dan dibereskan kok. Anggap saja bagian dari proses belajar. Kalau anak sampai mengompol, jangan dimarahi. Kalau anak dimarahi atau dipermalukan, ini bisa jadi boomerang karena anak jadi takut memberitahu kalau dia mau pipis atau poopy.
Apakah perlu mengajari toilet training sedini mungkin? Tergantung kebutuhan dan kesiapan anak, selain kesiapan orangtua juga. Mengajar toilet training butuh konsistensi dan kesabaran dari orangtua. Selain itu dari diskusi bersama guru, ia menyebutkan bahwa sebaiknya anak sudah toilet training sebelum usia empat tahun karena ini adalah salah satu indikasi kesiapan anak untuk belajar beradaptasi sebelum nanti masuk sekolah dasar.
Belajar toilet training juga bukan hanya masalah semata lepas popok dan bisa menggunakan toilet, tetapi juga anak belajar untuk mengomunikasikan ketidaknyamanan, anak belajar membersihkan dirinya sendiri (bagian dari kemandirian), dan anak belajar untuk awas dengan body autonomy dan kondisi tubuhnya.
Beberapa masalah seperti sembelit bisa diantisipasi dengan orang tua mengingatkan anak untuk rajin minum air putih dan rutin makan sayur, buah-buahan dan yogurt (atau makanan probiotik lainnya seperti tempe). Namun kalau sampai anak jarang buang air kecil disertai demam, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk diperiksa apakah ada kemungkinan terkena infeksi saluran kemih (ISK).
Omong-omong tentang kepribadian, kurasa milikku telah berubah secara drastis. Dulunya, aku adalah seorang anak yang ekstrovert. Bahkan bisa dibilang aku tidak bisa hidup tanpa orang lain, saat tidur pun tidak bisa sendiri.
Saat SMP, aku kenal semua anak di sekolahku, dan banyak juga yang mengenalku. Tidak jarang aku disapa anak sekolahku di jalanan. Temanku sangat banyak dan aku juga aktif di beberapa grup chat sekolah, sehingga membuatku sangat eksis di sekolahan.
Saking ekstrovertnya, aku merasa aku terlalu bergantung dengan kehadiran orang lain, sehingga aku cenderung manja dan tidak bisa sendiri karena aku merasa sangat takut ketika sendirian. Sifat ini berlangsung sampai aku SMA kelas satu.
Namun, ketika aku naik ke kelas dua, kepribadianku berubah drastis secara tiba-tiba.
Sepertinya penting untuk mengetahui latar belakangku yang mungkin bisa menjelaskan kepribadian super-ekstrovertku yang dulu.
Ibuku sangat ekstrovert dan memiliki banyak teman yang seumuran denganku. Kebalikan dengan Ibu, Ayah sangat introvert dan hanya berhubungan dekat dengan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan beliau.
Kedua orangtuaku sangat religius, sehingga sejak aku TK hingga SMP aku selalu dimasukkan ke sekolah swasta religius. Di kota kelahiranku pada saat itu, sekolah religius sangat jarang, maka lingkungan pergaulanku kebanyakan itu-itu saja. Karena ibuku sangat aktif di lingkungan sosial, maka pergaulanku pun luas meskipun masih dalam lingkupan pergaulan religius.
Saat aku SD, kebanyakan teman TK-ku juga memasuki sekolah yang sama. Di sekolahku, kelas kami tidak di-rotasi, jadi teman sekelasku adalah teman yang sama selama enam tahun. Begitupun saat SMP. Dan, karena sekolah swasta yang saat itu tidak terlalu besar, jumlah murid per kelas hanya kurang dari tiga puluh anak.
Hanya ada empat kelas dalam satu angkatan. Bisa dibilang, pergaulan kami luas dalam artian kami mengenal semua anak di sekolah, tapi tentu tidak bisa dibandingkan dengan jumlah siswa di sekolah negeri. Tidak heran, tumbuh di lingkungan seperti ini membuatku agak takut dengan stranger dan pertemanan yang “sementara.”
Namun saat itu ketakutanku akan stranger tidak separah sekarang.
SMA adalah saat pertama aku keluar dari lingkupan pergaulan yang itu-itu saja. Kelas sepuluh, aku beruntung karena mendapat teman sekelas yang asyik dan akrab.
Akupun memutuskan untuk bergabung dengan OSIS. Memasuki kelas sebelas, aku harus absen di seminggu pertama tahun ajaran baru karena harus mengurusi MOS. Tiba-tiba, aku terkena panic attack saat menyadari aku kehilangan waktu seminggu pertama (yang biasanya krusial untuk mendapat teman baru di kelas) karena urusan MOS.
Mulai dari itu, kepribadianku perlahan berubah dari sangat ekstrovert dan sosial menjadi introvert dan penyendiri. Sifat itu terbawa sampai aku pindah ke Jerman dan menjadi sangat parah setelah aku menjalani S1 di Jerman.
Dari seorang gadis yang punya puluhan teman, aku menjadi seseorang yang hanya punya satu-dua teman pada saat itu. Kesehatan mentalku memburuk karena stress dan trauma, sehingga masa-masa S1 adalah salah satu masa paling buruk dalam hidupku.
Untungnya, aku masih memiliki kemampuan sosial di online, jadi dalam waktu itu kebanyakan aku hanya bertumpu dengan hubungan sosial secara virtual. Setelah menikah, untungnya social anxiety ku berkurang dan aku bisa berteman lagi, meskipun tidak seperti dulu.
Dan aku masih beruntung saat ini karena teman-temanku yang tersisa, meskipun sedikit jumlahnya, adalah teman-teman ride or die. Meskipun kami sudah terpisah-pisah kota, negara dan benua, tapi pertemanan kami masih sangat erat, sehingga aku tidak lagi merasa kesepian dan sendirian.
Cerita ini ditulis oleh Nadia tinggal di Jerman, atas pengalaman seorang teman
Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Mungkin sahabat Ruanita sudah mengenal saya dari cerita “OCD bukan sekedar bolak-balik cuci tangan dan cek pintu“ yang saya tulis beberapa waktu lalu. Di tulisan tersebut saya menyebutkan, sebelum mendapatkan diagnosa OCD (Obsessive Compulsive Disorder) saya juga didiagnosis gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder) atau bisa juga disebut dengan fobia sosial. Cukup mengejutkan untuk saya karena saya punya banyak teman, namun di sisi lain, saya juga merasa lega. Ah, jadi selama ini saya menghindari kontak sosial karena alasan fobia sosial. Tapi apa itu fobia sosial? Apakah pemalu berarti fobia sosial?
Sesuai dengan namanya, orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial akan merasa cemas/khawatir/takut berlebihan untuk bertemu dengan orang lain, terutama orang asing. Sebenarnya ini hal yang biasa, ya, semua orang pernah mengalaminya saat bertemu orang yang tidak dikenal atau berada di lingkungan baru. Bedanya, ketakutan yang dimiliki orang dengan fobia sosial ini bisa mengganggu kegiatan sehari-hari, misalkan tidak bisa naik kendaraan umum atau pergi berbelanja ke supermarket, yang bagi banyak orang merupakan pekerjaan yang sangat mudah.
Orang dengan fobia sosial juga mungkin menghindari acara atau tempat tertentu. Saya hampir tidak pernah datang ke pesta ulang tahun orang lain, kalau tidak ada teman-teman dekat saya. Saya sempat tinggal di asrama mahasiswa di Hamburg selama lima tahun. Sering kali saya tidak jadi masak kalau ada teman asrama di dapur. Saya juga tidak pernah duduk di ruang tamu untuk mengobrol dengan teman-teman satu lantai, apa lagi ikut acara asrama dengan puluhan orang lainnya. Pada enam bulan pertama tinggal di sana saya pernah satu kali ikut acara movie night dan sarapan di minggu pagi, itu pun saya merasa salah tingkah dan cepat-cepat kembali ke kamar. Setelah itu saya tidak pernah lagi ikut acara apa pun. Bisa dibilang fobia sosial mempengaruhi kehidupan sosial saya di asrama.
Selain mempengaruhi kehidupan sehari-hari, fobia sosial bisa juga mengganggu karier, misalkan terus menunda mengirimkan lamaran pekerjaan karena takut membuat kesalahan saat menulis atau wawancara kerja. Orang lain mungkin akan bilang, tidak apa membuat kesalahan karena bagian dari belajar, tapi bagi orang tersebut tidak begitu dan lebih rumit. Atau di kantor yang sekarang tidak berkembang karena tidak berani mengambil kesempatan untuk naik jenjang.
Fobia sosial juga bisa mengganggu sekolah atau kuliah, contohnya menghindari mata kuliah tertentu atau presentasi. Ini pengalaman saya. Dulu waktu kuliah di Indonesia saya menghindar bertanya saat kuliah berlangsung. Saya lebih suka datang langsung ke dosennya saat kuliah selesai. Selama kuliah di Jerman lebih parah lagi, saya menghindari presentasi proyek. Untungnya saya sudah hafal siapa profesor yang mewajibkan presentasi dan siapa yang tidak. Sayangnya memang ada presentasi yang tidak bisa dihindari, salah satunya adalah Kolloquium (presentasi proposal tesis). Walau gugup, saya rasa presentasi saya waktu itu berjalan mulus, sampai salah satu rekan kuliah mengkritik bahasa Jerman saya. Kejam sekali engga, sih? Rasanya saat itu muka saya panas dan berubah merah.
Apa yang saya alami di atas adalah permasalahan klasik yang dialami oleh orang-orang dengan fobia sosial, walau sebenarnya cemas sebelum presentasi, wawancara kerja atau pun hal kecil seperti menelepon orang atau pergi ke pesta yang isinya orang asing adalah suatu hal yang wajar. Tidak wajar adalah jika kekhawatiran tersebut berlebihan sampai mengganggu kehidupan pribadi kita dan sudah berlangsung selama lebih dari enam bulan.
Saya beruntung sekali bisa ikut beragam kegiatan di psikiatri yang membantu saya mengatasi fobia sosial saya dan membantu mengurangi kecemasan saya secara umum. Saya ikut kelas penanggulangan kecemasan, di mana kami dijelaskan definisi kecemasan, lingkaran setan kecemasan, dan teknik relaksasi yang bisa dilakukan untuk menguranginya. Di luar kelas kami juga harus berlatih untuk mengatasi ketakutan kami. Kelas tersebut tidak dikhususkan untuk fobia sosial tapi untuk semua gangguan kecemasan, seperti gangguan kecemasan umum dan hipokondriasis (khawatir berlebih mempunyai penyakit serius).
Dari kelas tersebut saya juga tahu kalau ketakutan itu beragam macamnya. Ada pasien yang takut naik sepeda, ke supermarket, berpisah dengan pacar, naik lift, menyetir mobil, dan sebagainya. Kami dijelaskan bahwa kecemasan biasanya akan berakhir dengan sendirinya setelah 20 menit. Nah, kalau kita sering berlatih menghadapi situasi yang kita takuti, lama-lama kita akan terbiasa. Otak kita akan punya pengalaman baru yang tidak menyeramkan seperti pengalaman sebelumnya. Mungkin alasan saya takut bertanya di kelas adalah karena guru SD saya dulu pernah menyebut salah satu siswa ‘bodoh‘ hanya karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan beliau. Pengalaman buruk ini bisa digantikan dengan pengalaman baru, jika saya mencoba untuk bertanya di tengah-tengah jam pelajaran dan tidak terjadi apa-apa. Pengalaman baru ini yang akan membuat otak kita kembali percaya diri dan akhirnya tidak perlu cemas lagi saat dihadapi dengan situasi yang sama.
Kecemasan bisa datang dengan beragam reaksi tubuh, loh. Kita akan merasakan jantung berdebar, muka panas, keringat deras, tangan atau tubuh bergemetar, pusing, dan sebagainya saat merasa takut. Reaksi tubuh ini sangat normal karena memang tubuh kita sedang mempersiapkan diri untuk kabur atau bertarung (flight or fight). Karena itu ketakutan adalah hal yang normal dan tugas sebenarnya adalah memperingati orang akan bahaya. Sayangnya otak kita sering salah kasih peringatan hanya karena pengalaman buruk yang pernah kita alami sebelumnya. Dulu waktu masih kuliah saya sering merasa mual sebelum salah satu mata kuliah dimulai, baru sekarang ini saya mengerti kalau itu reaksi normal tubuh saya jika saya merasa takut. Karena sudah mengerti, saya sekarang tidak kaget kalau saya merasa mual sebelum keluar rumah. Saya tidak sakit, hanya merasa gugup.
Orang-orang dengan gangguan kecemasan sayangnya lebih sering memilih untuk melarikan diri. Memang dengan begitu tingkat kecemasan akan turut drastis, sayangnya ini hanya akan bersifat sementara. Saat kembali dihadapi dengan situasi yang sama, tingkat kecemasan akan kembali naik dan langsung turun lagi setelah melarikan diri. Begitu seterusnya seperti lingkaran setan. Untuk keluar dari lingkaran setan ini, kami diajarkan untuk tetap berada di situasi yang membuat kami takut dan “bertarung“. Melarikan diri atau menghindari situasi tersebut adalah hal tabu.
Bersama dengan terapis saya berdiskusi tentang pertarungan yang harus saya hadapi sebagai latihan. Setiap hari saya harus bertanya tentang waktu ke orang yang tidak saya kenal. Latihan ini sangat menantang menurut saya. Saat ini semua orang punya telepon genggam dan saya biasanya mengenakan jam tangan. Mereka bisa bilang saya aneh! Saya perlu waktu beberapa minggu untuk memulai latihan ini. Setiap selesai latihan saya harus menuliskan pengamatan pribadi tentang reaksi tubuh, pikiran-pikiran, perasaan, juga reaksi lawan bicara saya.
Awal-awal latihan saya boleh memilih orang yang menurut saya “mudah“, lalu naik tingkat ke yang lebih sulit. Saya memulai dari perempuan, lalu laki-laki, dan setelah itu ke petugas keamanan yang berbadan besar. Mereka semua ramah. Memang ada satu-dua orang yang memakai earphone sehingga awalnya tidak mendengar saya, tapi kemudian melepaskannya dan membantu saya. Ini ada di catatan saya sebagai bentuk pengalaman baru. Saya sering merasa diabaikan (bahkan oleh orang terdekat), tapi ternyata kenyataannya adalah mereka tidak sengaja mengabaikan saya karena memang tidak mendengar dan melihat saya. Oh iya, sama seperti saat latihan untuk mengatasi OCD, setelah latihan saya juga boleh menikmati reward saya.
Tidak hanya latihan bertanya tentang waktu, latihan saya juga meliputi memuji orang asing, bertanya tentang arah, saat di supermarket keluar dari antrean sebentar untuk mengambil barang yang “tertinggal“, membayar dengar uang receh, atau sekedar menyapa orang yang saya kenal jika tidak sengaja bertemu di tempat umum. Hal yang ini susah sekali loh untuk saya lakukan, biasanya saya kabur.
Ngomong-ngomong tentang strategi menghindar, ada dua strategi lain yang juga menjadi tema tabu bagi orang dengan gangguan kecemasan, yaitu Sicherheitsverhalten (safety behaviour) dan Rückversicherung (reinsurance). Safety behaviour adalah barang-barang yang kita bawa untuk mendistraksi kita dari ketakutan, misalkan jimat, headphone untuk mendengarkan musik, telepon genggam, atau mengonsumsi obat penenang dan alkohol (contohnya Raj dalam The Big Bang Theory yang tidak bisa berbicara dengan perempuan tanpa alkohol).
Safety behaviour saya adalah kertas catatan yang saya pegangang selama presentasi. Walau mungkin akhirnya saya tidak menyontek ke catatan tersebut, tapi saya bisa tenang jika membawanya. Nah ini tabu banget, karena saya sebenarnya harus bisa mengatasi ketakutan itu sendiri tanpa membawa barang apa pun. Atau saat pergi ke sebuah pesta saya akan mengajak teman saya agar ada yang selalu saya tempeli selama pesta berlangsung.
Sedangkan reinsurance adalah bertanya berulang kali ke orang lain (contohnya guru, atasan, orang tua, dokter) untuk mendengar bahwa situasi tersebut tidak berbahaya. Saya akan berkali-kali datang ke profesor atau bertanya ke teman-teman saya tentang tema yang akan saya presentasikan. Saya harus mendengar konfirmasi dari mereka, bahwa yang saya kerjakan sudah benar. Kalau tidak begitu saya akan merasa khawatir sekali apa yang saya kerjakan salah dan saya akan mempermalukan diri sendiri saat presentasi. Kalau ada teman atau keluarga kita sedang merasa stres atau cemas dan berkali-kali bertanya hal yang sama, sebenarnya mereka tanpa sadar sedang melakukan reinsurance. Niat kita membantu menenangkan mereka dengan terus-menerus memberikan jawaban yang mereka inginkan, tapi sebenarnya kita hanya membuat mereka lebih cemas lagi.
Saya juga sebenarnya sering curi-curi melakukan safety behaviour dan reinsurance ke orang terdekat. Saya sering minta antar suami saya untuk pergi ke tempat baru, misalkan ke laundry room di gedung kami. Karena tahu ketakutan saya, dia akhirnya pergi dengan saya, padahal sebenarnya dengan begitu saya tidak belajar untuk pergi ke tempat baru sendirian dan mengatasi ketakutan saya.
Kelas penanggulangan kecemasan di psikitari selalu dibuka dan ditutup dengan empat pertanyaan: apa yang tubuh rasakan, apa yang sedang kami pikirkan, bagaimana perasaan kami, dan tingkat stres kami. Hal ini dilakukan agar kami terbiasa mengenali diri sendiri, karena mengetahui reaksi tubuh, pikiran, dan perasaan-perasaan sangat penting untuk bisa keluar dari lingkaran setan kecemasan. Dengan mendeteksi tiga hal tersebut kita juga bisa mendeteksi dini stres kita, lalu berusaha untuk meredakannya, misalnya dengan teknik relaksasi, berdoa, olah raga atau tidur. Jika kita lakukan ini, maka stres kita akan menurun sebelum menjadi berlebihan. Berikut ini contoh-contoh pikiran-pikiran yang muncul saat kita merasa ketakutan, kira-kira kalian pernah mengalaminya juga, kah?
“Rasa saya akan mati“
“Malu sekali. Saya mau menghilang ditelan bumi“
“Jangan bikin kesalahan“
Tahukah kalian, bahwa orang dengan fobia sosial takut sekali membuat kesalahan dengan alasan malu dengan orang lain? Mereka juga sering kali merasa dilihati orang lain, merasa cara jalan atau berdirinya salah, berbicara dengan aksen yang lucu, ada yang menempel di mukanya, memiliki bau mulut atau tubuh, dan lainnya. Saya ingat waktu SD saya ikut tante saya ke rumah temannya. Dia menghidangkan sirup merah dingin yang sangat menggiurkan tapi tidak saya sentuh sama sekali. Mulanya saya malu untuk minum, lama-lama saya malu karena awalnya menolak untuk minum, “Malu dong kalau saya minum sekarang. Nanti mereka akan menggoda saya dengan bilang, ‚sekarang mau minum kok tadi enggak?‘ Ah tidak, lebih baik tidak minum sama sekali.“ Itu pikiran saya saat itu. Kejadian memalukan ini tidak pernah saya ceritakan ke siapa pun sampai saya didiagnosis fobia sosial.
Kejadian tersebut bisa menjadi gejala fobia sosial saya, bukan hanya sifat pemalu. Mereka memang mirip tapi berbeda. Pemalu adalah sifat dan sangat normal untuk timbul saat bertemu dengan orang baru, namun akan hilang jika sering bertemu dengan orang tersebut. Sedangkan orang dengan sosial fobia akan menghindari kontak sosial dan merasa takut untuk melakukan kesalahan yang bisa memalukan dirinya. Karena takut untuk membuat kesalahan ini, orang-orang dengan fobia sosial biasanya sudah sibuk membuat skenario sebelum datang ke suatu tempat. Fobia sosial juga timbul sejak dini, bisa jadi dari sebelum masuk masa puber. Selain itu seperti yang sudah saya tulis di awal, fobia sosial juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya.
Karena orang dengan fobia sosial biasanya kurang memiliki kompetensi sosial, saya dimasukkan ke dalam kelompok latihan kompetensi sosial. Kami diminta untuk membuat ulang situasi-situasi yang menurut kami sulit. Saya kesulitan untuk presentasi, karena itu latihan saya adalah presentasi. Trainer akan memvideokan saya yang sedang presentasi, lalu setelahnya peserta lain akan memberikan umpan balik tentang bahasa tubuh, isi presentasi, dan mimik juga gestur. Video tersebut akan kami tonton bersama di pertemuan berikutnya agar kami bisa lihat sendiri bagaimana performa kami.
Kali pertama saya presentasi, saya merasa stres saya di tingkat 7 dari 10, tapi trainer dan peserta lain berpendapat lain: saya terlihat gugup tapi masih normal. Ternyata benar, di video kegugupan saya tidak terlihat berlebihan. Selain presentasi, saya juga sempat berlatih dengan di situasi pesta ulang tahun dan mengajak mengobrol orang baru.Latihan awal dengan lawan yang ramah, latihan berikutnya dengan tingkat yang lebih sulit, yaitu orang yang lebih banyak ngomong daripada saya.
Trainer kami memberikan banyak tips praktis yang bisa kami aplikasikan. Saya belajar banyak di sana dan punya pengalaman baru tentang situasi-situasi tersebut. Oh iya, latihan-latihan ini benar berfungsi untuk saya di kehidupan nyata, lho. Beberapa bulan setelah keluar psikitari, ada orang asing (sepertinya sedang mabuk) memukul kepala saya saat saya sedang di pusat kota dengan teman. Beberapa tahun lalu kejadian yang sama terjadi dan saya hanya diam saja, tapi kali ini saya berteriak sangat kencang ke orang tersebut! Rasanya bangga sekali ke diri sendiri, bahkan pandangan orang-orang di sekitar saya tidak bikin saya gugup, namun lebih berani – kalau terjadi apa-apa dengan saya, mereka pasti akan membantu saya.
Sebenarnya saya masih mau bercerita tentang teknik relaksasi yang saya pelajari di psikiatri, tapi cerita saya sudah panjang sekali. Saya akan menuliskannya di blog pribadi saya, silakan mampir untuk membaca cerita-cerita saya lainnya, ya.
Kalau kalian melihat kesamaan dari cerita saya dan pengalaman kalian, tolong jangan diagnosis diri sendiri, ya. Pastikan untuk konsultasi ke psikolog atau dokter. Jangan takut juga jika kalian mendapatkan diagnosis ini. Sama seperti OCD, ada banyak terapi efektif untuk mengatasi gangguan kecemasan sosial dan kalian tidak sendirian.
Ketika hendak memulai menulis artikel ini, saya mencoba mengingat-ingat kapan minat untuk membaca buku dalam diri ini pertama kali muncul. Ingatan yang kemudian membawa saya kembali ke masa kanak-kanak. Saya tidak ingat kapan pastinya saya mulai mempunyai ketertarikan terhadap buku.
Majalah Bobo adalah buku pertama dan majalah langganan pertama saya, seperti umumnya generasi yang lahir di awal tahun 1970an. Saya belum bisa membaca pada saat itu. Gambar-gambar yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari sebuah keluarga kelinci yang jenaka, petualangan Nirmala dan Oki, dan cerita ketidakberuntungan Paman Kikuk adalah karakter-karakter yang masih saya ingat selalu hadir di setiap edisi majalah Bobo.
Cerita-cerita yang dikemas secara komikal ini tentunya secara visual menarik bagi saya. Tetapi, karakter yang paling berkesan untuk saya sebagai anak-anak adalah karakter si Tongki Bebek yang ada di suplemen anak-anak dalam majalah Femina. Ketika saya mulai bisa membaca, saya selalu tidak sabar menunggu kiriman majalah Femina dari tante sebelah rumah. Ibu saya dan tante sebelah rumah saling bertukar majalah. Ibu saya berlangganan majalah Kartini, sedangkan tante sebelah rumah berlangganan majalah Femina.
Ketika saya memasuki sekolah dasar, saya tidak mau buku-buku tulis saya disampul kertas coklat. Saya meminta ibu saya untuk menyampul buku-buku tulis dengan halaman majalah Bobo yang dicabut mulai dari halaman tengahnya. Ternyata ukuran dua sisi halaman majalah pas sekali dengan ukuran buku tulis. Sampul buku tulis menjadi hiburan bagi saya ketika bosan di kelas. Sampul buku tulis juga yang membuat saya bisa belajar membaca dengan cara yang menyenangkan.
Seingat saya sejak sekolah menengah pertama sampul buku tulis saya beralih ke majalah Donal Bebek. Kebiasaan menyampul buku tulis dengan majalah Donal Bebek ini berlanjut sampai saya tamat sekolah menengah atas. Sepertinya minat membaca saya ini berawal dari sampul buku tulis.
Pada masa di sekolah dasar bahan-bahan bacaan saya mulai bervariasi dan didominasi oleh ensiklopedia sains dan buku-buku biografi para tokoh terkemuka dunia dan penemu di bidang sains. Saya juga ingat mempunyai satu set komik petualangan Tintin yang jumlahnya 24 buku, kalau tidak salah. Juga beberapa buku petualangan yang sangat populer pada masa itu seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan Pipit si Kaus Kaki Panjang.
Kami memang punya banyak buku di rumah. Walaupun demikian saya belum bisa menikmati dan memahami secara utuh buku-buku yang saya baca, terutama buku-buku sains dan ternyata saya tidak menyukai sains. Rasa senang selalu hadir jika saya bisa ikut terlibat dengan teman-teman dalam keseruan bercerita tentang petualangan Lima Sekawan, misalnya.
Kemampuan literasi saya mulai berkembang ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di masa inilah saya mengetahui bahwa saya menyukai sejarah dan cerita-cerita di masa lalu.
Membaca sejarah mengenai kerja paksa membangun jalan raya pos antara Anyer dan Panarukan di masa kolonial Belanda membuat rasa ingin tahu saya meningkat ketika kami sekeluarga berlibur ke Jawa Tengah dengan mobil menyusuri pantai utara Jawa. Saya banyak bertanya kepada Ayah yang mungkin juga bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak saya temukan jawabannya dalam buku-buku. Begitu juga ketika mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan. Akhirnya, saya bisa melihat dan mengerti apa yang diilustrasikan dan deskripsikan dalam buku.
Saya ingat saat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atas kami ditugaskan untuk membaca novel klasik Indonesia terbitan Balai Pustaka dan membuat ringkasan. Mungkin ini pertama kali saya berpikir kritis yang sesungguhnya. Membaca novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan membuat saya mempertanyakan budaya Minangkabau. Kedudukan perempuan yang dianggap lebih rendah dan nasib tragis yang selalu menghampiri perempuan dalam novel-novel tersebut berlawanan dengan apa yang selama ini saya ketahui.
Keluarga saya berasal dari Minangkabau dan selalu menekankan kedudukan perempuan yang dihormati sebagai Bundo Kanduang. Perempuan adalah penguasa Rumah Gadang. Minangkabau pusat edukasi dan politik tak terkecuali untuk perempuan di masa lalu, selain Jawa, yang melahirkan tokoh-tokoh utama pendiri bangsa ini. Rasa penasaran saya ini terjawab melalui buku juga yang menjelaskan bahwa elemen laki-laki juga hadir begitu kuat di dalam masyarakat matrilineal.
Setelah dewasa, genre buku-buku yang saya baca cukup beragam. Ada masa di mana saya suka sekali membaca novel-novel Harlequin, alias roman picisan. Ada masa juga di mana saya tertarik dengan novel-novel yang berlatar belakang sejarah, seperti Tetralogi Buru, The Nasty Girl, dan Memoirs of a Geisha. Beberapa waktu yang lalu saya membaca The Art of Seduction yang ditulis oleh Robert Greene. Buku ini menyinggung aspek-aspek psikologis mengenai relasi kuasa dari 9 tipe bujukan atau seduction.
Saya juga suka membaca buku-buku mengenai kesehatan mental yang dilihat dari perspektif fisiologi atau sistem biologi manusia seperti buku the Body Keeps the Score yang ditulis oleh Bessel van der Kolk dan When the Body says No oleh Gabor Mate. Benar-benar memberikan sudut pandang yang berbeda dengan buku-buku psikologi populer yang biasa saya baca. Karena spektrum buku yang saya baca cukup luas, saya tidak mempunyai buku maupun penulis favorit. Selalu ada hal-hal menarik yang saya temukan di setiap buku yang saya baca.
Ada pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Buku adalah sumber informasi. Melalui buku kita bisa mengetahui kejadian-kejadian di masa lampau, budaya-budaya yang ada di berbagai belahan dunia, kesehatan mental, sampai prediksi mengenai masa yang akan datang. Manfaat yang saya dapatkan dari membaca buku mungkin sama seperti yang sering dikemukakan orang-orang seperti melatih berpikir kritis, menambah pengetahuan di bidang tertentu, dan memperkaya kosa kata. Tetapi manfaat yang paling saya rasakan untuk diri saya sendiri adalah mempunyai sudut pandang yang baru dalam melihat suatu kejadian, seperti misalnya melihat trauma sebagai masalah fisiologi.
Manfaat membaca juga saya rasakan ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketika saya diminta untuk mengajar, banyak sekali contoh-contoh yang saya berikan berasal dari buku-buku yang pernah saya baca. Sehingga saya bisa memperkaya wawasan para mahasiswa. Atau ketika sekedar bercakap-cakap dengan teman saya bisa melempar topik pembicaraan dari hal-hal menarik yang pernah saya baca.
Untuk orang-orang yang punya hobi membaca, membaca mungkin bisa menjadi hal yang terapeutik. Membaca novel-novel Harlequin yang saya sebutkan di atas adalah salah satu cara saya mengatasi stress yang saya alami di masa yang lalu ketika masih berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan dan pekerjaan. Setidaknya, novel atau bahan bacaan dengan cerita yang ringan dan alur yang sederhana membantu sistem tubuh untuk mengendurkan kontraksi dalam badan ketika dilanda stress.
Membaca buku sebelum tidur, terutama ketika saya sulit tertidur, cukup membuat saya mengantuk. Saya teringat sebuah kutipan dari Virginia Woolf yang mengatakan, “Books are the mirrors of the soul” atau buku adalah cerminan jiwa. Dari kutipan ini bisa jadi adanya keterkaitan antara kebiasaan membaca dan kesehatan mental. Mental di sini bisa diartikan sebagai sebagai kemampuan berpikir atau yang terkait dengan kognisi. Dengan membuat kegiatan membaca sebagai suatu kebiasaan kita mengasah kognisi, mengasah kemampuan berpikir secara berkelanjutan sehingga kemungkinan terkena penyakit demensia atau menurunnya daya ingat dan daya pikir di masa tua bisa dihindari.
Sayangnya, disebutkan bahwa membaca bukanlah kebiasaan yang umum di Indonesia. Kemampuan literasi dan minat baca orang Indonesia termasuk rendah di dunia. Mungkin ini ada kaitannya dengan tradisi oral masyarakat Indonesia. Apalagi di era teknologi digital sekarang ini orang lebih memilih sumber informasi dalam bentuk visual dengan penjelasan singkat di platform media sosial. Ini merupakan suatu tantangan besar untuk menanamkan kebiasaan membaca.
Tentunya tidak ada yang salah dengan sumber informasi seperti ini. Tetapi untuk melatih berpikir kritis dan memahami permasalahan yang semakin kompleks diperlukan kemampuan literasi yang mumpuni terutama untuk generasi muda. Kemampuan literasi yang mumpuni sejauh pengamatan saya hanya bisa didapat melalui kegiatan membaca buku. Kalau membaca buku dirasa berat, mungkin kebiasaan membaca bisa dimulai dengan membaca blog yang menulis hal-hal yang kita sukai.
Rendahnya minat baca juga bisa dilihat dari kebiasaan dalam keluarga. Saya banyak menemui orang tua yang tidak suka membaca sehingga tidak bisa memberi contoh kepada anak-anaknya. Kognisi anak-anak belum berkembang sempurna sehingga mereka memaknai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan mencontoh. Walaupun di rumah banyak koleksi buku-buku bukan berarti pemilik rumah suka membaca.
Buku bukan hanya sebagai dekorasi. Jadi, memang diperlukan adanya kesadaran orang tua bahwa kebiasaan membaca berawal dari mereka. Orang tua mungkin bisa mengamati apa yang disukai oleh anak-anaknya dan membeli buku dengan tema yang disukai anak-anak tersebut. Mengajak anak ke toko buku dan membiarkan mereka memilih buku yang mereka sukai dan melakukan kegiatan membaca bersama-sama dengan anak-anak bisa juga dicoba sebagai awal menanamkan kebiasaan membaca.
Penulis: Dindia tinggal di Jabodetabek dan sedang studi di Jerman.
“Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas. Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian. Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak.”
Aku adalah seorang ibu dengan dua anak perempuan. Kami sekeluarga semula tinggal bersama di ibu kota. Sejak berhenti kerja, aku dan kedua putriku pindah ke kota lain, sedangkan suamiku menetap di ibu kota untuk mencari nafkah.
Selama 10 tahun bisa dibilang aku membesarkan dan mengurus kedua putriku sendirian. Seiring berjalannya waktu, hingga si sulung selesai SMA, tibalah waktunya untuk harus melepasnya, memenuhi keinginannya lanjut studi ke luar negeri.
Ketika putriku akan berangkat ke luar negeri, justru aku tidak bisa merasakan dengan jelas apa yang kurasakan. Semua mengalir menjadi satu: senang dan bangga karena keinginannya bisa terwujud, cemas karena tidak bisa menemani perjalanan jauhnya, sedih karena harus berpisah, bingung bagaimana caranya jika ingin bertemu dan sebagainya.
Campur aduk yang pasti. Yang menarik adalah, kuingat hari keberangkatannya yang mendadak waktu itu dikarenakan visa yang keluar mepet, masih ada beberapa barang yang anakku harus persiapkan atau beli.
Sebenarnya dia ingin membagi tugas supaya lebih cepat beres. Namun aku justru memaksanya untuk pergi bersama untuk semua yang harus ia urus.
Awalnya setelah tidak bersama atau serumah lagi, aku tidak merasakan suatu perasaan sedih atau kesepian atau terasa berat. Mungkin karena anak-anak sejak kecil sudah sering dan terbiasa ku tinggal; mandiri.
Hidup kujalani seperti biasa, toh masih ada satu lagi putriku. Selain itu, komunikasi dengan si sulung pun tetap bisa berlangsung dengan adanya internet.
Rasanya anak hanya sedang berada di luar kota. Tidak ada rasa kesepian yang cukup berarti. Didukung lagi dengan banyaknya aktivitas yang kulakukan.
Urusan sekolah si bungsu juga menyita waktu dan perhatian. Kegiatan pelayanan untuk gereja selalu menjadi penyemangat hidup.
Namun semakin lama hidupku kok justru terasa semakin “kosong”, kesepian dan tidak berarti. Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas.
Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian.
Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak. Namun realita yang kuhadapi hanyalah perasaan kosong dan sendiri.
Pikiran tentang bagaimana dan apa yang terjadi dengan putri sulungku hari demi hari nun jauh di negeri orang, sungguh merangkai banyak prasangka.
Untuk menghalau atau lebih tepatnya menghindari rasa galau dan segala suasana pikiran dan hati yang berkecamuk yang terkadang muncul, aku lebih banyak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan pelayanan gereja, di samping tentu saja berdoa tengah malam.
Tapi aku justru lebih banyak menghindari perjumpaan atau “kumpul-kumpul” ataupun sekadar zoom meeting dengan sanak keluarga besar, yang pasti dan selalu akan menanyakan kabar si sulung. Memang jadi terkesan melarikan diri, bukan mengatasi, dan pengecut. Namun aku hanya mampu begitu.
Sejujurnya, kalau aku boleh menyarankan, khususnya bagi para ibu, untuk berpikir dan mempertimbangkan matang-matang dari banyak faktor sebelum ambil keputusan akan “melepas” anak jauh ke seberang sana.
Halo Sahabat Ruanita, terima kasih telah menjadi ruang aman untuk bercerita dan memberiku kesempatan bergabung dalam program Konseling Kelompok bertema: Toxic Relationship yang lalu. Perasaanku lega, setidaknya aku bisa menyuarakan ketakutanku walau dengan suara dan tubuh bergetar.
Ternyata menyampaikan ketakutan pribadi kepada orang lain yang tidak dikenal itu membantu. Rasanya sedikit leluasa dan lega, karena mereka tidak berpikiran subyektif. Mereka menjadi orang yang netral. Mereka tidak mengenal identitas asliku begitu juga sebaliknya. Sekali lagi, terima kasih.
Ok, aku mulai dengan ini.
Namaku Wani, bukan identitas asliku. Wani dalam Bahasa Jawa artinya berani. Ya, aku memilih nama itu. Aku berani. Lebih baik seperti ini, aku nyaman seperti ini. Bercerita tanpa kalian tahu siapa sebenarnya aku.
Aku adalah seorang wanita paruh baya asal Pulau Jawa, Indonesia. Sejak 2 tahun lalu aku menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan Jerman dan kini tinggal di Jerman. Sekarang aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang berkegiatan rumah tangga biasa tanpa seorang anak. Lantai 2 rumah mertuaku di sebuah desa yang terletak 30 menit dari kota tinggalku adalah tempatku tinggal bersama suami. Ya, kami tinggal satu rumah dengan mertuaku.
Mereka di lantai 1 dan kami di lantai 2, berbeda dapur dan kamar mandi. Seperti layaknya denah rumah susun yang terdiri dari beberapa keluarga. Kegiatan sehari-hariku adalah bangun pagi menyiapkan bekal makan siang suamiku, membersihkan rumah dan memasak. Ada kalanya aku belajar Bahasa Jerman, mencari dan mengirim lamaran pekerjaan, untuk apapun pekerjaannya.
Karena suami tidak mempunyai peluang kerja di Indonesia atau bahkan mendapatkan pekerjaan remote dan kebetulan perusahaan tempatku bekerja akhirnya gulung tikar saat pandemi Covid-19, kami putuskan untuk tinggal bersama setelah menikah di Jerman.
Kami berdua mempunyai impian menghasilkan uang bersama untuk membangun usaha dan sebuah rumah kecil di Indonesia. Kami sama-sama orang yang senang bekerja. Dulu di Indonesia aku bekerja di sebuah perusahaan retail yang terkenal.
Mudah bagiku untuk mencari pekerjaan dari relasi. Aku adalah orang yang ramah, ceria, percaya diri dan pandai pitching klien untuk suatu proyek.
Dari dulu aku terbiasa bekerja dengan dokumen-dokumen sehingga persiapan menuju Jermanku dulu menjadi biasa saja. Semakin menuju ke Jerman semakin tampak ego kami berdua. Aku menyadari tekanan yang aku dapat kebanyakan datang dari kepanikan suamiku.
Dia adalah orang yang selalu merencanakan apapun, berpikiran praktis dan sering ber-ekspektasi berlebih terhadap rencana itu. Rencana cadangannya hanya ada sampai PLAN B. Dia harus benar-benar mengusahakan PLAN A dan PLAN B dulu semaksimal mungkin. Butuh waktu agak lama untuk membuat PLAN C. Sedangkan aku? Aku selalu saja bisa mencari jalan lain menuju Roma. Hidupku terbiasa kompleks sehingga aku mampu membuat PLAN A-Z.
Tidak jarang kami bertengkar karena kami mempunyai cara berbeda dalam menyelesaikan sesuatu. Mental, tenaga, perasaan dan uang kami benar-benar diuji. Apa memang mungkin karena persiapan sebelum menikah itu memang seperti ini? Entahlah, pada saat itu kami hanya punya cinta dan kesediaan untuk hidup bersama.
Pertama kali tiba di Jerman. Aku senang dan bangga dengan diriku sendiri, apa yang aku persiapkan untuk pernikahan dan perjalanan itu akhirnya terlaksana tanpa missed sedikit pun. Ini perjalanan antar benua pertama kaliku ditambah masa awal pandemi Covid-19 yang segala sesuatunya menjadi lebih rumit. Cuaca di Jerman cocok untukku yang tidak begitu menyukai hawa panas.
Masakan Jerman sesuai dengan kemampuan memasakku yang sangat basic dan jelas tidak serumit masakan Indonesia. Hanya saja aku tetap merindukan masakan Indonesia yang kaya akan rasa. Aku tetap berusaha untuk memasak masakan Indonesia semampuku. Beruntung masih ada toko Asia di kota, bumbu instant menjadi andalan.
Sebelum tinggal di Jerman, terbayang olehku kemudahan-kemudahan yang akan datang sama seperti kemudahan yang aku dapatkan di Indonesia. Namun ternyata bayanganku salah. Ya, itu berbeda dengan di Indonesia. Aku menjadi seorang wanita yang tidak berdaya. Bahasa Jerman sebatas level A1 yang aku pelajari di Indonesia ternyata tidak cukup berguna.
Kemampuan Bahasa Inggrisku yang baik pun tak berguna karena orang di sini mengharuskan orang asing yang tinggal di Jerman untuk mampu berbahasa Jerman. Terlihat jelas di dalam syarat perpanjangan Visa Nasional yang aku miliki, pemerintah Jerman mewajibkan pasangan beda warga negara untuk mempunyai sertifikat Bahasa Jerman level B1.
Tahun pertama banyak hal yang aku tidak mengerti. Entah karena aku memang terlalu bodoh atau karena keluarga besar suamiku tidak paham sampai mana materi A1 yang aku pelajari. Mereka tidak sabar, mereka kurang mau memahamiku dan selalu mengetukkan jarinya jika menungguku terlalu lama menjelaskan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Aku tetap berusaha tetapi panik selalu datang setiap saat.
Sampai detik ini dalam hidupku di Jerman, Bahasa Jerman adalah yang tersulit. Karena Bahasa adalah awal mula dari segalanya. Memahami budaya dan orangnya akan terasa gampang jika aku bisa berbahasa Jerman. Bahasa Jerman yang aku pelajari kini sampai dengan level B1.
Tapi tetap saja takut dan panik membuyarkan semuanya. Apalagi melihat ekspresi mereka yang tidak sabar menantiku menyelesaikan kalimatku. Bahasa itu akar dari komunikasi. Komunikasi adalah keahlianku semasa di Indonesia. Aku ingin bisa berbahasa Jerman dengan baik agar mereka mengerti dan memahamiku, agar aku bisa bekerja, agar aku kembali seperti aku yang dulu, aku yang dengan percaya diri menjadi diriku sendiri. Aku yang tidak perlu risau dan takut dalam melangkah.
Sejak 2 tahun lalu sampai detik ini, aku kesepian. Secara fisik tidak ada teman yang bisa diajak sekedar minum kopi bersama. Aku tinggal di desa. Tetangga enggan berteman dengan aku yang tidak pandai berbahasa Jerman ini. Dan suamiku sering tidak memperbolehkanku keluar desa ini karena dia terlalu cemas jika aku pergi sendiri. Jadi temanku hanya aku.
Oh, ada seekor anjing kecil milik ayah mertuaku. Iya, aku berbicara dengan anjing itu berbahasa Indonesia dan Jawa tentunya. Dia tidak dapat membalas omonganku tapi sepertinya dia mengerti. Dia tahu di saat aku sedang bersedih. Entah mengapa itu melegakan.
Secara mental, aku punya 7 orang sahabat yang selalu support mentalku. Empat sahabatku tinggal di Jerman tapi berbeda kota denganku, satu sahabat tinggal di Amerika dan dua sahabat di Indonesia. Mereka memberiku kekuatan untuk tetap tegar menjalani hari. Ada saja keceriaan yang mereka bagikan. Aku beruntung. Setidaknya aku masih punya teman.
Jika kalian bertanya, mengapa aku tidak menyebut orang tuaku atau keluargaku di Indonesia sebagai penawar kesepianku. Jawabannya adalah sejak kecil aku bukan anak yang dekat dengan orang tua dan keluarga. Terlalu banyak polemik di keluargaku, saudara-saudaraku bahkan di keluarga besar ayah dan ibuku.
Pengalaman menarik dari kesepian yang aku alami di Jerman adalah setahun pertama yang aku jalani percuma, tidak berarti, tidak bermanfaat dan depresif. Keadaan mental depresi berat karena perubahan sosial.
Ditambah lagi pandemi Covid-19, pembatasan gerak termasuk bertemu teman, kursus Bahasa Jerman tidak tatap muka (via online Zoom-meeting), dan keluarga besar suamiku yang sangat takut terhadap virus corona serta ditambah Winter Depression. Banyak sekali yang dibatasi. Aku tidak bisa bersosialisasi. Aku tidak bisa beradaptasi.
Di tahun kedua ini semua menjadi lebih baik. Ada tiket 9€, aku bisa berpergian ke mana saja. Sendiri saja. Ya, karena teman-temanku berada di kota yang berbeda, paling dekat berjarak 4 jam menggunakan kereta. Tidak apa, setidaknya aku bisa melelahkan kakiku dan menyegarkan pikiranku dengan berjalan-jalan di kota.
Tidak jarang juga aku pergi ke kota hanya untuk beli Indomie goreng di toko Asia. Lalu lanjutkan langkah ke ReWe untuk membeli secangkir kopi dingin, dan selanjutnya aku duduk di sebuah bangku dingin pada gleis arahku pulang ke desa. Menunggu datangnya kereta keloter kedua. Iini melegakan juga.
Menurutku, mengatasi kesepian adalah dengan tidak menganggap kesepian itu penting, cukup biasa saja. Aku bersyukur masih bisa merasakan kasih dari sahabat dan teman walaupun yang aku dapatkan adalah kasih virtual. Tapi setidaknya aku merasa tidak sendiri. Karena aku percaya, semua orang mempunyai masalahnya masing-masing.
Hanya saja bagaimana cara mereka memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan masalah itu. Bagiku, aku akan tetap gigih belajar Bahasa Jerman. Sehari minimal aku belajar 2 jam seperti membaca, mendengar percakapan dan menulis kata-kata penting. Namun entah mengapa, susah aku ingat dan terapkan. Sempat aku berpikir, apakah alam bawah sadarku menolak?
Sepertinya memang aku belum beradaptasi dengan baik. Aku masih dalam proses beradaptasi. Aku kini hanya bisa bertahan dan menjalani apa yang aku hadapi. Mencoba mengembalikan percaya diriku, mencari solusi yang bisa dilakukan, bukan hanya berandai-andai saja. Berbicara itu mudah, melakukannya yang susah.
Sekarang yang bisa aku atasi adalah belajar berbahasa Jerman dengan baik dan apply pekerjaan dengan kemampuan berbahasa Jermanku yang minim. Aku butuh uang untuk bisa berdiri sendiri dengan kakiku, seperti aku yang dulu yang menyenangkan. Aku yakin aku bisa. Ini semua hanya masalah waktu. Harus ada keyakinan dan harapan serta senyuman. Berubah bukan sesuatu yang buruk. Aku mau menjadi aku yang baru.
Kesepian akan selalu hadir. Dinikmati saja. Seperti perasaan bahagia yang tidak selalu hadir. Berterima kasihlah dengan dirimu sendiri, karena dia sudah mau dan mampu bertahan sejauh ini. Semua ada waktunya. Semua yang dihadapi selalu ada maksudnya.
Untuk siapapun kamu yang telah membaca ceritaku, terima kasih. Kamu tidak sendiri dalam memperjuangkan apa yang ingin kamu raih. Tersenyum dan bersyukurlah sejenak.
Dahulu sewaktu aku masih di Indonesia, aku mengenal Alzheimer hanya di perkuliahan Psikologi. Nama penyakit itu terdengar asing buatku dan tidak nyata dalam keseharianku di Indonesia. Namun, Alzheimer begitu sering aku dengar kala aku tinggal dan menetap di Jerman.
Aku bahkan pernah membahas Alzheimer dengan kenalan asal Rumania yang kerja di Jerman sebagai perawat di rumah panti jompo. Aku mengenal kenalanku ini saat kami berdua belajar Bahasa Jerman.
Menurut kenalanku ini, kasus Alzheimer begitu umum terjadi pada generasi lanjut usia di Jerman. Penyebabnya bisa beragam. Kata dia, ini seperti gaya hidup yang mengancam dan tidak disadari. Sepertinya memang Alzheimer tidak asing di Jerman karena aku sering mendengarnya. Rekan studiku pun mengambil tema Thesis tentang Alzheimer. Aku bahkan sempat terpikir mengambil tema dukungan sosial pada Alzheimer dalam Thesis S2. Namun, urung kulakukan.
Pemahamanku tentang Alzheimer bertambah saat kenalanku lainnya asal Spanyol bercerita panjang lebar tentang Alzheimer yang menyerang ayahnya. Dia bercerita bagaimana penyakit yang diderita ayahnya itu menyita waktu kesehariannya.
Ayahnya seperti anak kecil yang memerlukan perhatian, bahkan ayahnya begitu lupa apapun. Alzheimer itu menyerang fungsi otak, katanya lagi. Kenalanku ini merawat ayahnya sehari-hari hingga ayahnya wafat saat Pandemi Covid-19 kemarin.
Alzheimer rupanya juga menyerang ayah mertuaku. Aku sebenarnya sudah mengetahuinya sejak lima tahun lalu dari suamiku. Ayah mertuaku tak pernah mengakui bahwa dia mengalami Alzheimer. Padahal jelas banyak gejala yang menunjukkan penurunan fungsi otak.
Dahulu ayah mertuaku adalah orang yang sibuk. Dia punya ruang kerja di dekat kebun rumah dan di Keller (=bagian rumah di bawah tanah). Saat Alzheimer menyerangnya dia mulai lupa di mana meletakkan ini dan itu.
Alzheimer membuatnya tak bisa tenang, dia harus bergerak atau melakukan sesuatu di ruang kerjanya. Beruntungnya rumah mertuaku luas sehingga dia bisa bergerak luas.
Sejak Alzheimer menyerang ayah mertuaku, dia mulai dilarang menyetir mobil tetapi ayah mertuaku sering keras kepala. Dia hampir celaka karena tetap menyetir mobil. Dia juga sering lupa di mana harus menjemput atau mengantar ibu mertua.
Beruntungnya aku mengenal ayah mertuaku sebelum Alzheimer membuatnya parah dan lupa segalanya. Jadi dia tahu bahwa aku adalah anak menantunya. Itu sebelum Alzheimer membuatnya semakin parah untuk tidak ingat apapun.
Setahun sebelum ayah mertuaku meninggal, Alzheimer-nya sudah sampai tingkat parah. Dia mulai lupa aku dan suamiku. Aku dan suamiku tinggal berbeda kota dan seminggu sekali kami berkunjung ke mertua.
Suatu kali suamiku datang memperbaiki lampu di rumah mertua kala ibu mertuaku sedang berbelanja. Ayah mertuaku bertanya siapa suamiku. Itu membuat aku dan suamiku bersedih.
Itulah Alzheimer yang membuat orang lupa, bahkan tidak ingat orang yang dikasihinya. Tak hanya itu, Alzheimer membuat indera pengecapan ayah mertuaku berbeda.
Semua makanan yang dimasak ibu mertuaku tak berasa lezat dan enak. Ayah mertuaku sudah mulai tidak bisa menikmati makanan lagi seperti normal. Tubuhnya semakin kurus dan mengecil seperti anak-anak.
Ayah mertuaku tak bisa duduk tenang dan selalu berusaha memegang sesuatu di tangannya. Belakangan aku baru tahu bahwa ayah mertuaku adalah generasi terakhir yang kembali ke Jerman setelah mengungsi ke negara Yugoslavia. Kini, negara tersebut sudah tidak ada lagi.
Selama berjalan kaki dari Yugoslavia ke Jerman, ayah mertuaku masih berusia 8 tahun. Dia berjalan dan memegang tangan ibunya agar tetap aman sepanjang perjalanan.
Cerita itu diceritakan oleh seorang kerabat keluarga ayah mertua setelah ayah mertua wafat. Konon perjalanan itu memakan waktu tiga kali musim Winter setelah kejadian Perang Dunia. Menggenggam tangan dan terus bergerak adalah pengalaman ayah mertua saat harus kembali ke Jerman.
Alzheimer membuat penderitanya seperti mengulang memori yang sudah lampau. Misalnya, ayah mertua pernah bersembunyi di balik lemari atau di pintu hanya karena dia ingat masa kejadian Perang Dunia di mana saat itu dia masih anak-anak dan harus bersembunyi untuk selamat.
Dia lupa kondisi kejadian sekarang yang terjadi. Itu membuat kami panik setengah mati mencarinya ke seluruh kota. Rupanya dia bersembunyi di suatu tempat di rumah.
Ayah mertuaku telah wafat karena Alzheimer. Penyakit itu sungguh nyata. Beberapa kenalanku di Jerman bercerita kasus serupa yang menimpa kerabat, keluarga, atau kenalan mereka.
Semoga dengan adanya Hari Alzheimer Sedunia tiap 21 September semakin mengingatkan orang untuk mengenali lebih dini penyakit ini sehingga dapat mengantisipasi lebih awal.
Penulis: Anna K, dapat dikontak akun IG anna_knobl, tinggal di Jerman.
Halo, perkenalkan saya X. Saat ini tinggal di sebuah kota di bagian barat negara Jerman. Saya pindah ke Jerman 3 tahun lalu setelah menikah dengan pria berkebangsaan Jerman.
Sebelum pindah ke Jerman, saya bekerja di Jakarta. Kepindahan saya ke Jerman memang merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya, meskipun ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di Jerman.
Namun perbedaan tersebut sangat terasa sekali ketika saya ke Jerman hanya untuk berlibur dengan ketika saya tinggal dan menetap di Jerman.
Kepindahan saya ke Jerman terasa sangat menyenangkan pada awalnya, karena saya sampai ketika musim panas dan merasakan berbagai hal baru yang menyenangkan. Namun perlahan-lahan perasaan tersebut berubah menjadi kebingungan, kesedihan hingga perasaan kesepian.
Saat itu hal yang sering saya lakukan ketika merasa kesepian adalah bercerita kepada teman-teman saya di Indonesia, walaupun hanya sesaat tetapi saya merasa lega ketika bercerita dengan teman saya.
Hal tersebut membuat saya selalu berusaha lebih untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman saya di Indonesia dan tanpa saya sadari membuat saya secara emosional sangat bergantung terhadap mereka, sehingga saya lupa bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani di sini.
Semakin lama saya semakin tenggelam dalam hal-hal yang membuat saya menjadi tidak bahagia dan merasa kesepian. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah menyalahkan diri sendiri dan keadaan, terutama ketika saya merasa diabaikan oleh orang-orang terdekat saya.
Perasaan terabaikan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari intensitas komunikasi saya yang semakin berkurang dengan teman-teman saya.
Hal yang sebenarnya bisa saya pahami dengan kesibukan mereka dan perbedaan waktu. Namun saat itu rasanya saya tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.
Semakin lama saya membiarkan perasaan tidak nyaman tersebut berlarut-larut hingga tanpa saya sadari mulai mengganggu kondisi fisik saya. Saya menjadi sering sekali merasakan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan seringkali mempertanyakan kewarasan saya.
Hal tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman yang juga tinggal di salah satu negara di Eropa. Saya menceritakan semua hal yang saya alami dan berakhir dengan pertanyaan apakah perlu saya untuk mencari bantuan seorang profesional?
Teman saya pun menyarankan agar saya mencari bantuan seorang profesional karena dia juga merupakan lulusan psikologi.
Setelah percakapan tersebut, saya kemudian menghubungi seorang Psikolog dan mendaftarkan diri untuk sesi terapi dengan beliau. Setelah sesi terapi saya menjadi merasa lebih baik dalam menjalani hari-hari saya.
Saya juga menjadi lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola emosi dan merawat kesehatan mental. Tentu saja semua proses tersebut tidak mudah dan cepat, perlu kesadaran secara penuh dan kemauan untuk saya dapat berubah menjadi lebih baik, dan juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar kita, terutama pasangan terlebih untuk orang yang berada dalam keadaan seperti saya yang jauh dari keluarga dan teman.
Saat ini tentu saja perasaan tidak enak tersebut masih sering muncul. Namun saya kini tahu bagaimana caranya agar saya bisa tidak berlarut-larut dalam merasakan perasaan negatif yang saya rasakan.
Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri dan menyadari pentingnya untuk mengenali berbagai tanda-tanda perilaku psikologis yang tidak seharusnya saya rasakan.
Ini adalah pengalamanku yang sampai saat ini kadang masih menjadi traumaku dan tentunya menjadi pelajaran berharga bagiku. Selama empat tahun, sejak aku masih SMA hingga aku tiba di Jerman 2017 yang lalu, aku memiliki mantan pacar yang enam tahun lebih tua dariku, yang melakukan gashlighting terhadapku dan sayangnya baru kusadari setelah aku berhasil putus darinya. Kami berkenalan di acara karang taruna desa kami saat aku masih duduk di bangku SMP.
Awalnya dia menunjukkan sikap yang baik dan perhatian. Namun lama kelamaan dia mulai berubah dan menunjukkan sikap yang tidak masuk akal. Dia mulai menjauhkanku dari teman-teman dan keluargaku. Ia mulai melarangku untuk bermain dengan teman-temanku.
Ia berusaha meyakinkanku bahwa teman-teman yang sudah kukenal lama ini bukanlah orang yang baik. “Kalau kamu cuma main sama dia, mau jadi apa kamu!”, katanya saat itu. Meskipun pulang malam adalah hal yang sudah biasa bagiku dan tentunya dengan sepengetahuan kedua orang tuaku, ia mulai sering berargumen, “Kamu tuh sudah dibilang bukan anak baik-baik, pulang malem. Tidak usah deh ikut acara apa-apa. Demi nama baik kamu.”
Selain dia menjauhkanku dari keluargaku, ia bahkan memanggil orang tuaku langsung dengan nama, mengatai-ngatai kedua orang tuaku dan berusaha mendoktrinku bahwa orang tuaku bukanlah orang yang baik.
Sebenarnya pun keluarga dan beberapa tetanggaku sudah memperingatkan dan melarangku untuk berhubungan dengannya. Sayangnya bagiku saat ini, hanya “jangan dekat dengannya” tidaklah cukup meyakinkanku.
Tidak seorang pun yang menjelaskan padaku dengan mengapa aku tak boleh dekat dengannya. Mereka hanya mengatakan: intinya jangan berhubungan sama dia. Titik. Peringatan itu kuabaikan saja dan aku tidak mau memercayainya. Aku pernah menanyakan hal ini padanya dan jawabannya, “Dia saja yang tidak mau kita bersama.” Bodohnya aku, aku memercayai jawabannya itu.
Ini yang menjadi poin penting bagaimana aku sulit lepas dari mantan pacarku ini dan entah bagaimana tetap saja mempercayainya. Mungkin sebagai gambaran awal, aku adalah tipikal orang yang “ngemong”, super care dan royal. Ketika orang melihat ini sebagai poin plus, ini adalah titik lemahku di hadapannya, yang sering ia manfaatkan. Caranya memanipulasiku sangatlah manis, menjanjikan sesuatu yang hampir setiap perempuan ingin dengar dari setiap laki-laki, seperti ingin membangunkan rumah untukku, membicarakan berapa banyak anak yang ingin dia miliki bersamaku, atau bagaimana ia ingin berakhir bersamaku.
Ketika ia tahu aku sudah dalam kuasanya, ia memanfaatkan “kelemahanku” dengan bersikap manja padaku, menunjukkan karakter lemah yang bisa menyentuh hatiku, dan mulai meminta ini itu. Lama kelamaan tidak lagi sungkan untuk meminta apapun dariku. “Aku mau ini dong”, “Aku mau itu dong” atau “Belikan ini dong”. Sayangnya makin ke sini ia jadi memaksa untuk dituruti keinginannya saat itu juga. Jika tidak dituruti ia akan berkata, “Apaan sih. Kayak begitu saja tidak bisa. Sudah, kalau tidak mau, putus aja.”
Bertahun-tahun ia terus mengulang-ulang, bahwa cuma dia yang mau menerimaku. Dia mendoktrinku untuk memercayai bahwa aku anak yang nakal dan ia sudah memperbaiki imejku. Dia mempermasalahkan keperawananku dan mengatakan bahwa semua mantannya masih perawan dan cuma aku yang tidak. Padahal dia juga melakukan hubungan sex denganku. Dia terus mengatakan, seharusnya aku bersyukur bahwa dia mau denganku, hanya dia yang mengerti aku dan sebagainya.
Bahkan pernah suatu kali, saat aku ketahuan chat dengan teman perempuanku yang dilarangnya, ia lalu menginjak hapeku dan menendang dadaku. Itu justru membuatku merasa bersalah mengapa aku melakukannya dan menyakiti dia. Ia bersikap seakan-akan dia orang tuaku, layaknya orang tua menasihati anaknya.
Ketika dia marah, aku jadi berpikir, dia mau aku jadi lebih baik. Karena ia membuatku sibuk memikirkan “kesalahanku” dan menyalahkan diriku sendiri, aku sampai tak sadar kalau dia sering “membeli perempuan”. Namun ketika dia mau sesuatu, seketika dia bisa berubah sikap begitu saja menjadi sangat sweet dan manja, yang membuatku tidak bisa menolak kemauannya.
Sebenarnya aku sadar bahwa dia bersikap buruk dan aku harus mengakhiri hubungan ini dengannya. Namun setiap kali mau putus, di kepalaku selalu muncul: siapa lagi yang bisa mengerti dia selain aku, siapa lagi yang mau sama dia selain aku. Yang ada di kepalaku justru bagaimana orang tuaku bisa menerima dia, karena meskipun begitu aku juga tidak mau kehilangan orang tuaku.
Ironisnya, bahkan saat aku sudah di Jerman ia mulai membuat janji-janji manis seperti akan mengunjungiku di Jerman. Selang dua minggu setelah kedatanganku di Jerman, ia minta dibelikan motor CB.
Ini semua membuatku jadi parno kalau dekat dengan laki-laki yang apa-apa minta dibayarin, sampai sekarang aku masih bermimpi tentangnya seperti dikejar-kejar, aku jadi merasa rendah diri dan merasa kecil dihadapan orang tuaku dan tentunya masih merasa bersalah terhadap orang tuaku dan belum bisa memaafkan diriku sendiri.
Sekolah ke Jerman lah yang menyelamatkan hidupku darinya. Setelah aku pindah ke Jerman, aku menjadi sibuk, banyak hal yang harus aku urus, aku memulai sesuatu yang besar, dan ini antara hidup dan mati tanpa orang tua. Bertemu berbagai macam orang, aku mulai merasakan perbedaan karakter dan treatment terhadapku dibandingkan dengan mantanku.
Selain itu, sejak aku ke Jerman aku bertemu banyak orang-orang baru dengan berbagai macam latar belakang, asal daerah yang berbeda dan cerita masa lalu yang hampir sama, yang membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian. Bahwa siapapun bisa membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang salah dan itu tidak menjamin bahwa di masa depan juga akan mengambil keputusan yang salah lagi. Dan mereka juga bisa berhasil dalam hidup.
Untuk mengakhiri ceritaku, aku menyadari bahwa sulit untuk korban menyadari dan keluar dari hubungan seperti ini. Hanya orang itu sendiri yang bisa melepaskan dirinya dari hubungan itu dan mengambil keputusan. Namun sangat penting juga, kalau kalian punya teman atau anggota keluarga yang mengalami hal serupa, dalam kasus seperti ini kalian harus tegas dan jangan hanya melarang tanpa penjelasan apapun.
Saya yakin sebagian besar orang sudah tahu apa itu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif. Mungkin ada juga yang pernah melabeli dirinya atau orang lain dengan OCD karena sering cuci tangan, bersih-bersih, atau menyusun barang secara simetris, tapi tahu tidak kalau OCD lebih dari itu?
Sesuai dengan namanya, gangguan ini menyebabkan penderita melakukan sesuatu dengan obsesif dan terus menerus (kompulsif). Perilaku dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan kecemasan yang penderita alami.
Perilaku mencuci tangan berkali-kali, misalnya, bertujuan untuk menghilangkan pikiran buruk, bahwa tangan penderita menyentuh benda berkuman yang bisa menyebabkannya jatuh sakit. Ketenangan hati ini sayangnya hanya bersifat sementara. Jika nanti penderita menyentuh sesuatu lagi, ia akan kembali mempunyai pikiran-pikiran negatif dan cuci tangan kembali harus dilakukan. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan.
Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Proses tersebut baru saya mengerti 10 bulan terakhir ini, sejak saya didiagnosis OCD oleh psikolog. Memang selama ini saya sudah berpikiran saya mempunyai gejala OCD karena „hobi“ banget pakai pembersih tangan sejak mulai remaja. Sempat berkurang karena saya tidak mau berakhir menjadi penderita OCD, tapi sejak pandemi malah semakin bertambah.
Mengamati diri sendiri, saya pakai cairan pembersih tangan pada akhirnya bukan karena takut bakteri, tapi karena jijik. Sejak pandemi mata saya „terbuka“, orang bisa saja pegang hidung atau mulut lalu pegang gagang pintu atau tiang bus. Membayangkannya saja jijik.
Bukan hanya soal cuci tangan, bagi saya juga penting kalau tempat tidur dan sofa saya bebas dari pakaian yang dipakai di luar rumah. Bahkan terakhir sebelum saya terapi, karpet saya juga sudah termasuk. Jika ada teman datang dan duduk di sofa dan di karpet, saya akan langsung mengganti alas sofa dengan yang bersih agar saya bisa duduk di atasnya dengan baju rumah. Jika saya sedang malas menyuci, saya akan menyemprot sofa dan karpet dengan desinfektan.
Selain ritual pasca menerima tamu, saya masih punya banyak contoh tindakan OCD lainnya, seperti ritual pulang ke rumah, ritual toilet, dan ritual pegang ponsel. Walau begitu, tindakan saya tidak seburuk dengan pikiran obsesif kompulsif saya. Oh ya, dalam bahasa Jerman ada dua istilah penting yang berhubungan dengan Zwangsstörung (OCD), yaitu 1) Zwangsgedanken dan 2) Zwangshandlung. Istilah pertama berarti pikiran OC dan yang kedua adalah perilaku/tindakan OC (sengaja saya hilangkan huruf D di akhir singkatan). Menurut saya kedua istilah ini memudahkan sekali untuk mengerti OCD, bahwa OCD bukan hanya soal perilaku tapi juga pikiran.
Walau perilaku OC saya tidak terlalu parah dan tetap membuat saya frustrasi juga memakan banyak waktu saya, tapi pikiran OC lebih membuat saya frustrasi. Pikiran-pikiran agresif termasuk ke dalamnya, misalnya bayangan yang terlintas di pikiran saya saat saya sedang menunggu di kereta di stasiun: OCD mendorong orang ke rel kereta.
Menurut co-terapis saya, saya harus membuat jarak dengan OCD saya, karena itu saya tidak bilang „saya mendorong orang ke rel kereta api“ tapi OCD saya yang melakukannya. OCD saya yang mau mendorong orang ke rel kereta api, saya tidak. Sejak itu saya berhenti mengatasnamakan saya di semua pikiran agresif yang pernah terlintas di benak saya.
Pikiran-pikiran OC juga mengganggu kehidupan sehari-hari saya. Kadang saya harus menghindar bertemu teman atau pergi ke suatu tempat karena saya takut pikiran agresif muncul. Ketakutan terbesar saya adalah membuat pikiran agresif itu menjadi kenyataan. Di RS saya harus mengikuti seminar atau terapi grup tentang OCD seminggu sekali. Di sana trainer kami bilang penderita OCD, terutama mereka yang sudah mendapatkan diagnosis dari ahli, tidak akan melakukan pikiran agresifnya. Mereka justru akan berusaha untuk menghindar, baik secara fisik, dengan tidak datang ke tempat tersebut, atau secara pikiran dengan berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut (keduanya sebenarnya tidak disarankan).
Silakan follow kami di Instagram: ruanita.indonesia ya.
Pikiran-pikiran agresif ini pernah membuat saya sangat sedih, karena membuat saya merasa menjadi orang jahat, tidak bermoral juga tidak beragama. Saya bukan orang baik karena saya punya berpikiran mencelakakan orang lain dan orang-orang yang saya sayangi. Lucunya, pikiran dan ketakutan menjadi orang jahat ini juga bisa menjadi bagian dari pikiran obsesif kompulsif. Sejak rajin ikut terapi dan tentang OCD, saya semakin yakin, bahwa yang jahat itu OCD bukan saya. Pikiran-pikiran OC bukan kenyataan. Dan yang paling penting: pikiran-pikiran agresif itu bukan bagian dari kepribadian saya.
Oh iya, saya juga baru tahu loh kalau perfectionist juga termasuk ke dalam OCD. Saya dulu tidak sadar kalau saya perfectionist, sampai teman-teman saya kasih bukti: datang selalu tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih awal; nilai kuliah harus bagus; berkunjung ke rumah orang harus bawa buah tangan; kerjaan harus perfect; dan rumah harus bersih dan wangi kalau ada tamu datang.
Saya kira itu semua hal biasa, tapi saat di terapi grup kami disodori contoh-contoh yang ternyata itu SAYA BANGET. Saya juga tak sadar kalau perfectionist itu bukan hal baik dan mengapa orang-orang memandangnya negatif. Maksud saya, bukankah semua yang harus kita lakukan harus benar-benar sempurna hasilnya?
Ternyata kekurangan dari perfectionist adalah bisa membuat frustrasi. Untuk datang tepat waktu saya harus benar-benar kalkulasi waktu. Jika saya janjian jam 12 dan waktu tempuh 30 menit, saya akan memberikan waktu tambahan 5-10 menit. Jaga-jaga di jalan ada kejadian tak terduga. Untuk itu saya harus tahu jam berapa bangun tidur dan siap-siap. Tambahan waktu itu juga penting, karena anxiety membuat saya harus ke toilet berkali-kali sebelum saya keluar rumah.
Teman saya bilang, bagus dong saya datang cepat jadi tidak stres di jalan. Hmm, sebenarnya sebaliknya. Saya frustrasi. Jika bus/kereta datang telat, saya akan kesal sendiri, seharusnya saya berangkat lebih pagi lagi. Kelemahan lainnya, saya juga memaksakan teman-teman saya untuk tepat waktu dan saya akan marah jika mereka datang telat, terutama jika tanpa kabar. Hasilnya: beberapa di antara mereka malas untuk janjian dengan saya lagi.
Jika kalian sadar saya menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang hampir sempurna, itu juga bagian dari perilaku perfectionist saya 😛 Rasanya gatal sekali jika saya salah menulis. Latihan-latihan yang saya lakukan untuk mengurangi ke-perfectionist-an saya adalah datang telat; menulis Whatsapp dan email tanpa memperhatikan PUEBI; tidak membereskan apartemen, jika tamu datang; dan tidak membawa buah tangan, kalau bertamu ke teman. Oh, satu lagi kelemahan saya gara-gara si perfectionist ini, saya malu sekali untuk berbicara Bahasa Jerman, padahal saya tinggal di Jerman. Bagi saya lebih baik diam dari pada salah menggunakan bahasa asing. Kalau saya tidak perfectionist, saya pasti akan lebih berani berbicara menggunakan bahasa asing.
Latihan-latihan yang saya sebut di atas saya lakukan mandiri dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, selain itu saya juga melakukan bersama co-terapis saya. Latihan atau terapi itu bernama Exposure and Response Prevention (ERP) dan sangat serius dan harus direncanakan dengan baik. Sebelumnya saya harus membuat hierarki perilaku dan pikiran OC saya dari 10-100%. Perilaku dan pikiran OC di atas 50% akan dilatih bersama. Sebelum, selama, dan sesudah latihan akan ada grafik tentang ketegangan saya. Setelah latihan saya harus memberikan diri sendiri hadiah yang juga harus saya rencanakan sebelumnya. Minggu lalu saya latihan memegang dan mengusap tembok yang punya motif bulatan-bulatan kecil menonjol. Saya tidak boleh menyuci tangan, menggunakan desinfektan, atau menyeka tangan saya ke pakaian selama satu jam. Setelah itu saya pergi beli bubble tea sebagai hadiah untuk diri sendiri.
Sebelum membuat hierarki OCD itu saya diminta untuk mengisi protokol tentang self-observation. Setiap OCD saya muncul saya harus menuliskan detailnya: apa yang saya pikirkan, apa perasaan saya, bagaimana perasaan saya saat OC hilang, seberapa sering itu terjadi, dan kegiatan apa yang bisa saya lakukan jika perilaku dan pikiran OC itu tidak ada. Dari situ saya bisa tahu yang terbanyak adalah mencuci tangan dan kedua terbanyak adalah pikiran agresif. Latihan-latihan ini mungkin akan harus saya lakukan bulan depan, setelah latihan-latihan di level lebih bawah sudah selesai.
Jika tadi saya menyebutkan tentang co-terapis, terapi grup atau seminar, itu karena di tahun 2021 saya dirawat inap di psikiatri khusus gangguan kecemasan dan OCD. Awalnya karena saya didiagnosa gangguan kecemasan (fobia sosial) dan depresi. Di Hamburg susah sekali untuk menemukan psikoterapis, pasien harus menunggu minimal setengah tahun. Psikiater saya menyarankan untuk masuk rumah sakit, karena lebih cepat dapat tempat. Akhirnya setelah banyak konsultasi dengan psikiater, psikolog dan kolega-kolega yang juga pernah masuk psikiatri, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Bukan keputusan yang mudah, tapi menjadi keputusan terbaik yang pernah saya buat.
Hari kedua di psikiatri saya mengukuti workshop tentang gangguan kecemasan. Salah satu peserta cerita tentang Zwangsgedanken (OC pikiran) yang ia miliki. Karena saya tidak paham, dia menjelaskan ke saya apa itu. Saya kaget sekali waktu itu, karena saya bisa melihat diri saya di cerita dia. Besoknya saya menemui psikolog saya sambil menangis, karena saya takut sekali kalau saya juga punya OCD.
Saya menganggap diri saya gagal, tidak beragama, jika saya sampai punya tiga gangguan metal dalam satu waktu. Singkat cerita, benar saya memiliki OCD. Awalnya sangat berat bagi saya untuk menerimanya, tapi setelah benar-benar memahami gangguan-gangguan mental yang saya miliki, saya akhirnya bisa menerima. Bahkan saya bersyukur bisa mendapatkan diagnosa tersebut.
Saya tinggal di rumah sakit selama tiga bulan. Berbeda dengan rumah sakit jiwa yang kita dengar tentang kesuramannya, suasana di sana santai dan terbuka sekali. Setiap sore pasien diperbolehkan pulang atau keluar sampai maksimal jam 10 malam. Satu malam di akhir pekan pun kami boleh tidur di rumah. Tidak terasa seperti sedang di rumah sakit jiwa.
Oh ya, karena memiliki asuransi kesehatan, hampir seluruh biaya rumah sakit saya diambil alih oleh asuransi. Dalam satu tahun pasien hanya mengeluarkan biaya rawat inap sebesar 10 Euro/ hari. Karena saya di rumah sakit selama tiga bulan, maka saya hanya membayar 280 Euro untuk 28 hari dan sisanya oleh asuransi. Tagihannya baru saya dapatkan sekitar empat bulan setelahnya. Kaget juga, karena saya kira bebas biaya 😛
Saya berharap stigma negatif tentang gangguan metal hilang dari masyarakat kita, agar orang-orang bisa lebih terbuka tentang kesehatan mentalnya dan tidak sungkan mencari pertolongan. Selain itu, harapan saya akses ke kesehatan mental di Indonesia menjadi lebih mudah dan terjangkau. Kualitas rumah sakit jiwa juga semoga semakin baik lagi.
Untuk teman-teman yang masih awam tentang OCD, yuk cari tahu lagi tentang OCD dari ahlinya atau dari pengalaman orang-orang dengan OCD. Bahkan sekarang ini informasi tentang OCD bisa diakses di media sosial, seperti Instagram. Jika kamu merasa memiliki gejala-gejala, pastikan hanya dokter atau psikolog yang diagnosa kamu. Dan jangan lupa, kamu tidak sendiri dan OCD bisa dikalahkan.