(AISIYU) Cerita Penyintas dari Denmark

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Denmark

2. Kutipan favorit

 “Don’t let yourself living in violence even for 1 minute. Run, save your live!”

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Pengalaman menjadi korban kekerasan. Aku pilih kata “pengalaman buruk”.

Kekerasan fisik dan psikis yg dilakukan oleh suami terhadap istri terjadi secara sistematis dan perlahan. Mantanku, setelah kami menikah 3 bulan, mulai  menggerogoti rasa percaya diriku. Contohnya dia bilang: “Mukamu pucat, coba make up-mu diperbaiki”. Lainnya dia pernah cubit perutku dan bilang “Ini apa, kok kamu gendut.” Terakhir juga dia pernah bilang: “Kamu tak secantik kita baru ketemu.”

Lama-lama mantanku mulai mendorong aku kalau dia marah. Setelah dia marah, dia akan menyalahkan aku karena membuat dia marah. Untuk menghentikannya, aku minta maaf dan berjanji tidak bikin dia marah lagi. Unbelievable?

Lama-lama dia membuat aku percaya bahwa akulah yang bodoh selalu membuat dia marah. Dia marah karena aku tak mengerti kultur Denmark,  gaya hidup orang Denmark, dll. Intinya akulah yang salah, padahal dia yang memukul aku.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Aku bertahan tujuh tahun hidup dengan mantanku karena aku mau menunggu dapat permanent resident di Denmark kemudian aku bisa pergi tinggalkan dia. Selama 7 tahun itu, aku persiapkan diri mulai dari sekolah bahasa, kuliah lagi, kerja dan apply permanent residence. Di saat aku tunggu permanent residence dia semakin parah kadar memukulnya sampai aku cedera.

Setelah itu, aku putuskan pergi dan tidak mau menunggu permanent residence di tangan. Sebelum menikah aku punya rumah di Jakarta. Rumah itu kujual dan uangnya aku masukkan ke account yang dia bilang, joint account. Ternyata account itu atas nama dia sendiri. Aku hanya punya kartu debit. Jadi aku stay dengan dia karena aku tak punya apapun lagi di Indonesia.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Dokterku dan psikolog sangat membantu. Juga bantuan teman-temanku.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Jangan pernah percaya laki-laki yang memukul akan berubah.

Jangan terlalu percaya diri kalau kamu bisa merubah keadaan atau perlakuan suami.

Ingat, sekali laki-laki membuat kamu menangis, dia akan bikin kamu menangis seumur hidup kalau kamu masih tinggal dengan dia.

Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang salah sehingga kamu dipukul!

Jangan pernah percaya bahwa kamulah yang bodoh dan tidak bisa mengikuti cara hidup suami!

Jangan pernah mau hidup dengan pemabuk!

Jangan menyalahkan diri sendiri atau cari pembenaran terhadap perlakuan suami. Stres atau pengalaman masa lalu bukan alasan untuk memukul perempuan.

Jangan malu minta bantuan. Namun ingat, mintalah bantuan hanya kepada orang atau instansi yang bisa menolongmu. Semakin sedikit orang tahu masalahmu, semakin baik. Tidak perlu merumpikan suami ke teman-teman yang cuma bisa dengar.

Persiapkan dirimu untuk pergi dari suamimu. Cari kerja mandiri. Cari rumah, pindah sewaktu dia tidak di rumah. Minta alamat dan nomor hape dirahasiakan. Bilang ke tempat kerja bahwa namamu tak perlu ditampilkan di website tempat kerja.

Jangan ikut media sosial apalagi pakai nama sendiri!

Bangun network-mu dengan orang lokal. Teman sebangsa belum tentu ada manfaatnya untuk hidup di Eropa.

Ingat, kamu tidak wajib mempertahankan perkawinan kalau kamu tak bahagia. Cerai bukan dosa dan bukan hal yang memalukan.

Percaya bahwa banyak laki-laki baik. Sial saja ketemu yang jahat. Jadi cari pasangan baru!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Jerman

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Jerman

2. Kutipan favorit

Hang in there, strong woman. Hard times don’t last forever. Life moves on. And so will you.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Berawal dari suami yang meminta cerai, saya mendapatkan tekanan mental dari suami dan orang tuanya. Memang saya tidak mengalami kekerasan fisik tetapi kekerasan psikis yang hampir membuat saya untuk mengakhiri hidup saya. Kata-kata yang diucapkan suami dan ibu mertua saat itu, membuat saya, sampai dengan hari ini pun masih berusaha kembali untuk membangkitkan kepercayaan diri saya. 

Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang saya kira sangat menyayangi dan melindungi saya, ternyata adalah orang-orang yang paling menyakiti saya. 

Pada hari itu, semua berbalik 180 derajat. Yang dulu mereka bilang saya adalah wanita cantik, pandai, rajin, tahu cara merawat suami dan rumah, berbalik menjadi wanita “jahat”, wanita pemalas wanita penyakitan, wanita bodoh.

Bahkan mereka bilang, tidak akan ada orang di Jerman yang mau mempekerjakan saya.

Masih banyak kata-kata menyakitkan dan penghinaan yang diucapkan suami dan orang tuanya pada saya. 

Kata-kata yang sampai hari ini saya masih sangat jelas di ingatan saya.

Sepanjang umur saya, tidak pernah ada yang mengatakan hal-hal buruk itu kepada saya, tidak juga orangtua kandung saya.

Saya wanita mandiri yang bekerja keras demi mimpi-mimpi saya. Saya bukan wanita yang suka bergantung pada orang lain. Walaupun saya sakit-sakitan, saya tetap menunjukan kepada orang-orang di sekitar saya bahwa saya adalah wanita kuat.

Kepercayaan diri saya runtuh saat itu, merasa diri ini tidak berguna, ketakutan dan tidak berdaya. Saya hampir mengakhiri hidup saya, karena saya merasa apa yang mereka katakan itu benar, dan saat itu saya sendirian.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Di saat-saat kelam itu, saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa setiap saat, menaikan puji syukur saya kepada Tuhan atas semua yang terjadi, walaupun itu menyakitkan.

Menyerahkan semuanya kepada Dia dan percaya bahwa rancangan Tuhan akan hidup saya tidak pernah buruk. Saya belajar memaafkan suami dan orangtuanya, dan berdoa untuk mereka, walaupun secara manusia, itu sangat menyakitkan.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya keluar dari rumah suami saya, pindah ke kota lain, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan teman-teman baru, dan memulai kembali semua kegiatan atau hobi yang saya tinggalkan ketika dulu saya menikah dengan suami. Saya mulai membuat rencana hidup, mimpi-mimpi dan goal yang harus saya capai. Saya ingin bertahan hidup di Jerman, saya ingin memulai hidup yang baru. Saya mulai membangkitkan diri saya yang dulu “si wanita mandiri, percaya diri dan keras kepala”. 

Support dari orangtua di Indonesia dan teman-teman baik yang tinggal di berbagai negara, juga support dari atasan dan rekan-rekan kerja di tempat saya bekerja sekarang, mulai menumbuhkan kepercayaan diri saya yang sempat hilang. Tuhan mengirimkan saya banyak orang-orang baik di sekitar saya, seperti yang saya minta kepada Tuhan setiap hari. Bahkan atasan saya berkata “You should be proud of yourself!” Dia mengatakan ini karena dia tahu cerita saya dan kondisi saya pada saat saya bertemu dengan dia. 

Prinsip saya sekarang “Saya perempuan yang kuat. Saya tidak duduk-duduk mengasihani diri sendiri atau membiarkan orang menganiaya saya. Saya tidak menanggapi orang yang mendikte saya atau mencoba menjatuhkan saya. Jika saya jatuh, saya akan bangkit lebih kuat. Saya yang mengendalikan hidup saya.”

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Untuk wanita-wanita kuat di luar sana yang sedang mengalami kekerasan, jangan takut, bertahan dan tetaplah kuat!

Jangan takut untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, atau organisasi yang memberikan bantuan kepada perempuan yang mengalami kekerasan.

Kalian harus berani mengambil langkah untuk bertahan. Akan ada banyak orang yang membantu kita, asalkan kita mau, berani, dan tidak malu untuk menceritakan masalah kita.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Indonesia

2. Kutipan favorit

Setiap perempuan berhak hidup dengan aman, damai, dan bebas dari kekerasan.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Berawal dari perselingkuhan suami yang sudah terjadi dari delapan tahun lalu, yang kemudian membuat kami selalu ribut hampir setiap hari. Puncaknya di suatu malam, kami benar-benar ribut besar. Suami menampar pipi saya, saya langsung telepon orang tua saya. Keesokan harinya saya melaporkan ke mertua juga tetapi sedikit pun mereka tidak membela saya.

Selang beberapa tahun suami saya melakukan KDRT lagi dengan melempar tas ke tubuh saya. Dia marah besar karena saya melaporkan perselingkuhannya ke Badan Kepegawaian. Setelah itu, dia pergi dari rumah meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Awalnya saya memutuskan untuk tetap bersabar dan bertahan karena posisi saya yang tidak bekerja. Saya masih sangat bergantung masalah financial. Saya juga masih memikirkan nasib anak-anak yang masih kecil, masih butuh figur seorang ayah.

Lama-kelamaan kezaliman suami semakin menjadi-jadi. Dia melakukan mulai dari selingkuh sampai delapan tahun, KDRT, kasih nafkah yang sangat amat tidak wajar. Padahal dia berpenghasilan sebagai PNS di Jakarta yang lumayan besar.

Ketika anak-anak sudah besar usia 14 tahun dan 11 tahun, mereka sudah tidak peduli dengan papanya lagi. Mereka yang men-support saya supaya segera berpisah dengan papanya.

Karena itu di tahun itu, saya memberanikan diri untuk mengurus perceraian supaya hidup saya bisa lebih tenang, damai, bebas dari kezaliman suami, memiliki status yang jelas, tidak digantung terus menerus, dan bahagia lahir batin.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Semua kesedihan dan penderitaan yang saya alami karena perselingkuhan dan KDRT yang dilakukan suami telah membuat saya hampir putus asa dan tidak semangat hidup.

Lama kelamaan saya sadar kalau saya berhak bahagia, laki-laki demikian tidak pantas untuk diratapi dan ditangisi.

Saya berusaha untuk ikhlas, melakukan self-healing, meningkatkan self love, lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah SWT, dan mengalihkan kesedihan ke hobby atau aktivitas-aktivitas yang saya suka, seperti baking, senam, yoga, menonton film, bernyanyi, hangout dengan anak-anak atau teman-teman.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya untuk para perempuan-perempuan di luar sana yang pernah atau sedang mengalami kekerasan, BANGKITLAH! Speak Up dan mintalah pertolongan kepada orang-orang terdekat.

Yakinlah kalau semua perempuan itu memiliki Value. Kita berhak bahagia. Kita berhak memiliki masa depan yang lebih baik.

Semangat bestieee!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Pakistan

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Pakistan

2. Kutipan favorit

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Trauma. Kaget. Tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini. Saya seperti tidak percaya.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya telah tinggal bersama suami 15 tahun. Suami saya tidak pernah memukul atau bersikap kasar seperti membentak misalnya. Pada dasarnya suami adalah orang yang baik, penyabar, dan penyayang. Saya merasa ketegangan yang terjadi pada dia karena perlakuan keluarganya sendiri.

Menurut saya, keluarganya suka pilih-pilih. Saya pikir karena kita tidak sesukses keluarganya yang lain sehingga kita dikucilkan. 

Itu sebab, suami terpuruk ke dunia narkotika. Puncaknya dia melakukan KDRT. Saya coba bertahan selama 8 tahun karena saya masih berharap dia bisa berubah. Saya masih mencintainya. Saya juga merasa dia masih sangat mencintai saya dan anak-anak saya. Saya pikir semua karena pengaruh narkotika sehingga dia tidak lagi menguasai dirinya sendiri. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Saya belum bisa mengatasi trauma ini. Jika dia di samping saya, saya masih merasa gemetaran sehingga saya putuskan untuk meninggalkan dia dengan harapan dia akan sadar dari segala kesalahannya.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Pesan saya untuk teman-teman yang senasib, saya pikir garis hidup tidaklah sama. Perubahan itu perlu. Bertahan boleh. Menurut saya pribadi, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. 

Selama dia tidak menyentuh perempuan lain, Insya Allah, saya pun masih memikirkan dia. Saya berharap suatu saat nanti, dia akan tersadar dan mendapatkan hidayah. Karena hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah haruslah dijemput. Jangan putus asa! Kita harus menyemangati pasangan, karena hanya kita yang tahu karakter dia bagaimana.

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Indonesia

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: Indonesia

2. Kutipan favorit

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Di akhir umur belasanku, aku terjebak dalam hubungan tidak sehat selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Dia berumur 10 tahun lebih tua. Awalnya aku berpikir pikiran dan sikap dia akan lebih dewasa. Ternyata aku salah. Keintiman yang terjadi sejak awal berpacaran berubah menjadi pemaksaan.

Aku dipaksa untuk berhubungan intim dengannya, bahkan ketika aku menangis dan berkata “aku tidak mau”. Setiap kali bertemu, kejadian itu berulang sampai diakhir tahun pertama hubungan kami, aku hamil. Aku kemudian memutuskan untuk aborsi. Bahkan hubunganku dengan teman-temanku pun dibatasi olehnya.

Alasannya, dia tidak mau aku curhat tentang apapun yang terjadi dalam hubungan kami kepada orang lain. Tak jarang, aku berniat untuk memutuskan hubungan. Namun dia selalu mengancam untuk membunuh dirinya sendiri atau untuk mengatakan semua yang terjadi kepada orang tuaku. 

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Aku lelah dengan hidupku yang seakan hanya menuruti nafsu orang lain saja. Perkuliahanku waktu itu sangat mendukung pemikiranku untuk berkembang yang menuntunku untuk berpikir bahwa hubungan pacaran ini sudah tidak sehat, tidak benar, dan tidak wajar.

Bahwa aku memiliki hak atas hidupku sendiri menjadi hal yang aku kejar waktu itu dan seolah membuka mata dan jalan sehingga aku mendapat pertolongan dari teman-teman yang ternyata peduli terhadapku. Ini menjadi pemantik semangatku untuk menolong diriku sendiri keluar dari hubungan itu. 

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Hal pertama yang aku lakukan adalah berani bercerita dan terbuka mengenai kekerasan seksual yang aku alami kepada orang yang aku percaya. Selain itu, aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Setelah hubunganku berakhir, aku memutuskan untuk pindah ke Jerman untuk melanjutkan studi.

Jarak jauh dari Indonesia memberiku kesempatan untuk menata kembali hidup, perasaan, dan mentalku. Di Jerman, aku juga mencari pertolongan profesional dengan melakukan terapi psikologis. Selain itu, aku juga lebih memilih untuk bergaul dan mengelilingi diriku dengan orang-orang yang benar-benar peduli denganku. 

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Kalian tidak sendiri! Kalian adalah orang yang kuat! Carilah bantuan profesional secepat mungkin: polisi, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional

(AISIYU) Cerita Penyintas dari India

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi: India

2. Kutipan favorit

Kutipan ini saya tujukan untuk para suami, terutama yang berkewarganegaraan asing. Hargailah perempuan Indonesia yang menjadi pasanganmu. Dia sudah rela meninggalkan keluarganya demi membangun hidup bersamamu di negara yang asing. Hargai, sayangi, dan hormatilah pasanganmu.

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Saat itu sepertinya rasa takut yang nyata selalu mengikuti saya, bahkan ketika tidak adanya ancaman terhadap nyawa saya. Belum pernah sepertinya saya mengalami rasa takut yang sedemikiannya mengontrol diri saya. Psikis saya benar-benar terganggu. Bahkan saya berbicara pun tidak mampu.

Perlakuan dan perkataan yang terucap dari mertua, suami, dan ipar sangat menyakitkan dan menekan emosi saya.  Suami abai terhadap tanggung jawabnya dan menelantarkan saya yang semakin merasa terasing di negeri asing. Pun tidak ada teman berbagi duka.

Dalam keadaan tertekan dan ketakutan seorang kenalan keluarga suami memperkosa saya. Ancaman dari si pemerkosa membuat hidup terasa semakin hancur dan psikis saya semakin terganggu. Saya linglung. Saya semakin ketakutan. Semakin tidak berani untuk bicara kepada siapapun, termasuk keluarga. Rasa malu yang teramat sangat telah membuat saya lumpuh secara mental.

Kekerasan psikis yang saya alami ini memberikan trauma dan efek mendalam pada saya bahkan setelah saya keluar dari duka ini.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Saya bertemu dengan suami yang kedua di saat saya ada di titik terendah. Saya diusir oleh mantan suami dan mengalami perkosaan. Suami kedua sayalah yang menyadarkan saya untuk keluar dari pernikahan yang sudah sama sekali tidak sehat ini. Saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekalian memulihkan jiwa saya. 

Setelah setahun di Indonesia, saya kembali ke India untuk menemui dua buah hati saya yang selama ini adalah sumber kekuatan saya. Yang terpikirkan oleh saya adalah saya harus keluar dari duka panjang ini. Salah satunya saya lakukan demi anak-anak. Adalah hak mereka untuk mempunyai ibu yang sehat secara mental. Sehat secara mental tentunya akan membuat saya lebih baik dalam mengekspresikan rasa sayang dan cinta kepada dua buah hati saya walaupun kami tidak bersama.

Kata cerai yang sebelumnya tabu, akhirnya menjadi jalan keluar dari hubungan yang tidak sehat ini.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Hidup sekarang terasa lebih penuh berkat. Lewat kegiatan pelayanan di gereja saya banyak melakukan aktivitas sosial yang menghubungkan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan sosial inilah saya banyak belajar. Berinteraksi dengan mereka yang tinggal di daerah kumuh, mendengarkan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi membuat saya lebih memahami karakter dan budaya India. Secara tidak langsung hal-hal ini membantu memulihkan mental saya dari trauma yang saya alami.

Walaupun mungkin mental saya belum sepenuhnya pulih, paling tidak sekarang saya bisa menikmati hidup dengan rasa yang aman. Rasa aman ini memudahkan saya untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Jangan pernah malu untuk berbicara masalah yang sedang kita hadapi kepada orang yang kita percaya dan aman untuk berbagi. Perlu untuk menyimpan nomor-nomor penting seperti kepolisian dan Kedutaan Besar Indonesia maupun Konsulat Jendral Indonesia.

Laporkan segera kekerasan yang kita alami kepada polisi setempat maupun perwakilan Indonesia di wilayah kita. Selain itu, kita juga bisa meminta bantuan LSM ataupun komunitas-komunitas Indonesia yang ada di negara tempat kita tinggal.

Jangan sungkan untuk meminta bantuan!

(AISIYU) Cerita Penyintas dari Qatar

Peringatan: Artikel berisi konten berikut mungkin dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman.

1. Lokasi : Qatar

2. Kutipan favorit

Stop kekerasan pada perempuan karena cinta tak seharusnya menyakiti!

3.  Pengalaman menjadi korban kekerasan

Rasanya menjadi korban kekerasan? Bagi saya tentu sangat menyakitkan dan penuh trauma. Lima tahun bertahan dalam keadaan yang sulit, bahkan sudah tujuh tahun lepas dari keadaan yang menyakitkan itu tetapi saya masih merasakan sakitnya di hati. Saya masih mengingat kenangan itu bagaimana terjadi. 

Sakit di raga bisa diobati tanpa menyebabkan bekas tetapi tidak dengan rasa sakit di hati karena kenangan masa lalu yang menyakitkan. Hari ini, dan seterusnya, bahkan sampai akhir hayat pun saya masih merasa sakit. Trauma itu masih ada meskipun saya menemukan pengganti yang lebih baik.

4.  Memutuskan bertahan/keluar dari situasi

Masa-masa lima tahun saya bertahan dalam keadaan sulit itu. Saya berpikir, entah ini cinta atau bodoh. Saya pun sudah tidak tahu lagi.

Saya hanya berharap waktu itu lelaki yang saya cintai mau berusaha untuk berubah dan tidak mengulanginya. Dengan umur yang masih muda saat itu, saya benar-benar sangat tenggelam dalam cinta sampai rasa sakit pun bisa saya tekan sendiri. Saya tidak bercerita ke orang lain bahkan kepada orang tua saya sekalipun. 

Di saat bekas-bekas kekerasan itu masih ada, saya berusaha untuk tersenyum dan hanya mengatakan “ini terjatuh”.

Namun, saya katakan kepada diri saya. Setelah lima tahun dan semakin bertambahnya umur, saya menjalani hari-hari yang sulit. Saya berkata: “Saya harus keluar dari keadaan seperti ini. Ini tidak bisa berlanjut. Ini bukan cinta!”  

Cinta itu bukan menyakiti, melainkan cinta harus saling mengasihi. Cinta itu tidak begini, TIDAK.

Seseorang yang mencintai kita itu, seharusnya membuat kita bahagia. Bukan justru sebaliknya.

Setelah saya katakan itu terus berulang kali dalam setahun penuh, saya berpikir dan terus berpikir maka saya putuskan untuk bercerita kepada orang tua. Saya ceritakan tentang apa yang sudah terjadi. Merekalah orang yang bisa membantu saya untuk keluar dari keadaan sulit ini. 

Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi saya dan menampung saya bahkan mendukung saya dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tanpa orang tua yang membantu saya saat itu, mungkin saya sudah tidak kuat lagi di dunia ini.

5. Cara mengatasi trauma akibat kekerasan

Cara mengatasinya saat itu, orang tua saya menyarankan untuk menyibukkan diri dengan bekerja lagi. Setelah kekerasan itu, saya depresi empat bulan. Saya hanya tidur, makan, dan mandi. Saya tidak memiliki semangat hidup.

Namun, orang tua saya selalu menyarankan agar menyerahkan diri kepada Tuhan. Saya memohon ampun atas kesalahan dan bercerita di atas sajadah. Orang tua saya kemudian mencarikan pekerjaan untuk saya agar saya jauh dari mantan saya.

Orang tua saya diteror. Mantan saya menjelek-jelekkan saya di hadapan orangtua saya.

Orang tua saya selalu bilang “Kami akan selalu percaya denganmu nak. Carilah kehidupan baru yang lebih baik! Kami orang tuamu akan selalu mendukungmu di sini. Sibukkan dirimu dengan hal positif, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mulai dengan kehidupan barumu seperti dulu kala (saat tanpa dia).

Itu memang benar. Setelah saya menyibukkan diri saya dengan pekerjaan, saya lebih bersemangat dan bertemu dengan orang-orang baru yang positif. Ini membuat diri saya menjadi orang yang positif kembali, penuh senyum, penuh tawa dan tidak lagi terasa sakit di dada.

Saya berterima kasih kepada orang tua saya dan saudara saya. Mereka telah membuat saya bisa “kembali hidup”. Bahkan saya kini sudah memiliki putri yang cantik dengan suami saya yang sekarang.

Saya tidak menyangka bahwa saya bisa menikah kembali. Saya membutuhkan beberapa tahun untuk menerima suami saya saat itu. Saya butuh waktu lama untuk “percaya kepada laki-laki kembali”. 

Setelah saya keluar dari masa sulit, saya bahkan tidak berkeinginan menikah kembali. Saya bersyukur karena orang tua saya juga tidak pernah memaksakan saya untuk menikah kembali. Sampai saat ini, saya masih mengingat apa yang terjadi “saat itu”, entah kapan bisa terhapus oleh waktu.

6. Pesan untuk perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan tinggal di luar negeri

Berani untuk keluar dari laki-laki yang hanya bisa menyakiti baik itu secara fisik, verbal, seksual, maupun psikis non verbal. Lelaki yang baik tidak akan pernah bisa melihat perempuan yang dicintainya menangis karena dirinya. Ceritakan hal hal tersebut kepada seseorang yang kalian percaya sehingga mereka bisa mencarikan jalan keluarnya. 

Jika berada di luar negeri, kalian bisa mendatangi KBRI/KJRI di lokasi negara kalian untuk mencari perlindungan. Untuk saya sendiri, saya dibelikan tiket oleh orang tua saya. Secara diam-diam, saya keluar dari rumah sehingga dia tidak bisa menahan saya. Jadi, dia tidak tahu kalau saya akan pergi darinya. 

Saya tidak melaporkan dia. Saya berpikir saat itu adalah saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat. Saya segera keluar dari keadaan yang menyakitkan sebelum terlalu jauh menjalaninya. Kalian perempuan tangguh, kalian pasti bisa hidup mandiri, hidup baru, dan menemukan lelaki baru yang jauh lebih baik. 

Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Jangan takut melangkah! Jangan takut hidup tanpa dirinya!

“Kita berhak bahagia”

Jangan pernah takut untuk melawan! Ingat, bahwa kalian tidak sendiri!

(IG LIVE) Empty Nest Syndrome: Kehidupan Setelah Anak Pergi

(NORWEGIA 23/10) Ketika anak-anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan baru lalu memutuskan untuk meninggalkan rumah tempat mereka tumbuh, ada semacam rasa ‘kedukaan’ yang umumnya dialami oleh orangtua. Bagaimana perasan dan pengalaman para orangtua ketika melepas anak-anak yang sudah dewasa? Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi perasaan sedih dan kesepian tersebut?

Dalam episode IG Live Oktober 2022 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema ’Empty Nest Syndrome: Kehidupan Setelah Anak Pergi’. Dipandu oleh Anna @anna_knobl, Ruanita turut mengundang Ibu Yeni @yenikirimang, seorang ibu yang tinggal di Jerman dan Ibu Elvita @fitrianielvita, seorang ibu yang tinggal di Indonesia.

Ibu Elvita memiliki tiga anak, salah satunya kini sedang melanjutkan studi di Munchen setelah kuliah di IAIN Surakarta. Sementara Ibu Yenni adalah seorang Ibu yang tinggal di Jerman dan memiliki dua laki-laki (23 & 24 tahun). Kedua anak lelakinya kini sudah menetap di kota Hamburg, sementara Ibu Yenni tinggal di sebuah kota yang berjarak sekitar 4 jam menyetir dari Hamburg. Ibu Yenni menuturkan ia dan anak-anaknya sering berkomunikasi lewat facetime, namun untuk dating mengunjungi hanya sekitar 1-2 kali setahun.

Ibu Yenni menuturkan bahwa saat pertama kali anaknya pindah kota untuk merantau, awalnya ia merasa kehilangan. Dari memasak saja sudah mengingatkannya akan perasaan sepi saat anak-anak meninggalkan rumah karena yang biasanya sehari-hari memasak banyak hidangan, tiba-tiba saja tidak banyak yang harus dimasak. Lalu saat malam menjenguk kamar anak-anak, kini telah kosong.

Padahal sebelumnya setiap malam ia selalu menjenguk anak-anak untuk mengucapkan selamat tidur. Namun menurut Ibu Yenni, kondisi kehilangan dan kesepian ini adalah bagian dari proses yang berulang karena mungkin dulu inilah yang dirasakan orangtua saat harus melepas kita untuk pindah merantau.

Menurut Ibu Elvita saat anak-anaknya masih kuliah di lain kota di Indonesia, mereka masih bisa berkunjung rumahnya lalu kembali pulang ke kos-kosan. Namun ketika anak-anak pergi merantau jauh rasanya pasti waswas, rindu dan kangen.

Saat perasan tersebut melanda, ia berusaha mencari jalan keluar dengan beraktivitas dan menyibukkan diri dengan bekerja sebagai konsultan. Ia juga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama suami. Ibu Elvita juga mengungkapkan bahwa awalnya sangat sulit sekali menemukan rumah dalam keadaan sepi tanpa anak-anak, yang bahkan masih terasa hingga kini, namun ini adalah kondisi yang memang harus dilalui.

Bagaimana pendapat Ibu Elvita dan Ibu Yenni tentang social support group untuk orangtua yang mengalami empty nest syndrome? Apakah ada cara khusus dalam mengatasi kesepian ketika anak-anak sudah tidak lagi tinggal di rumah?

Ibu Yenni mengungkapkan kalau anak-anaknya tahu saat ia sedang kangen. Dengan ia berkomentar ‘mama kangen’ saja, anak-anak pasti tahu. Ibu Yenni sendiri mempunyai grup teman arisan di Hamburg. Jadi kalau saat arisan di Hamburg, ia selalu punya misi untuk bertemu dengan anak-anaknya. Meski hanya sebentar dan harus menyamakan jadwalnya dengan jadwal anak-anaknya seperti membuat temu janji, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu.

Ibu Yenni menjelaskan bahwa ia mengerti bahwa anak-anak sudah punya kesibukan sendiri, jadi ialah yang harus menyempatkan duluan untuk menemui mereka. Ketika bertemu, anak-anaknya akan menjemput dan memasak, lalu makan bersama. Kalau mereka main bola, jika sempat ia akan ikut menonton. Jadi sampai anak dewasa, ada kebahagiaaan tersendiri saat masih bisa menonton dan bisa terlibat aktivitas mereka meski dari jauh.

Ibu Elvita mengakui bahwa dengan fasilitas teknologi, meski anaknya tinggal jauh tapi masih bisa berkomunikasi terus. Jadi ini harus selalu disyukuri. Sebelum kondisi pandemi, Ibu Elvita bisa mengunjungi anak-anaknya setidaknya setahun sekali, namun beberapa tahun terakhir belum bisa saling mengunjungi. Menurutnya yang terpenting adalah kita sebagai orangtua harus selalu ada untuk anak-anak, mau jauh maupun dekat dengan bantuan komunikasi digital.

Untuk komunitas social support group, menurut Ibu Yenni ia tidak punya komunitas khusus, tetapi ia memiliki teman-teman yang bisa curhat bareng seperti ‘Kenapa sih anak kita kalau mau ketemu harus izin partnernya?’.

Dan setelah curhat jadi menyadari bahwa sekarang harus legowo karena dulu ternyata kita seperti itu juga. Pada akhirnya harus disadari kalau semua hal adalah titipan, termasuk anak-anak. Lalu ia juga jadi menyibukkan diri dengan banyak membaca, karena ia suka sekali membaca. 

Bagi Ibu Elvita, ia berusaha untuk tidak larut dalam perasaan tersebut. Ia kini banyak bekerja dengan masyarakat sehingga kini ia bisa lebih all out dan optimum dalam bekerja. Kini ia bekerja sebagai motivator dan konsultan. Lalu yang terpenting adalah bagaimana anak itu bahagia. Semua rasa rindu dan sedih jadi sirna saat mengetahui bahwa anak kita bahagia. Kebetulan Ibu Elvita juga punya punya komunitas Primordial sesama teman-teman usia sepuh yang sama-sama mengalami kondisi serupa.

Ibu Elvita bersama teman-teman komunitasnya suka jalan-jalan dan mengisi waktu bersama dan ini sangat membantu. Hal yang sama juga diiyakan oleh Ibu Yenni di mana ia selalu menyempatkan punya alibi untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Punya kesibukan yang menyenangkan sangatlah membantu dalam mengatasi kondisi empty nest ini.

Baik Ibu Yenni maupun Ibu Elvita mengiyakan bahwa kondisi empty nest ini paling berdampak pada para Ibu. Menurut Ibu Yenni, para bapak bisa jadi turut mengalami namun tidak memperlihatkan perasaan mereka. Mungkin ini karena para ibulah yang biasanya terlibat paling dekat dalam mengurusi anak-anak.

Jadi ketika anak-anak dewasa dan pergi meninggalkan rumah, rasanya mengejutkan sekali, seperti kehilangan dan bisa tiba-tiba menangis. Momen-momen kecil seperti ketika mendapati jumlah cucian tidak sebanyak biasanya, rumah yang biasanya berantakan namun sekarang rapi lebih lama tapi lebih sepi, serta tidak ada sesi sarapan bersama lagi bisa saja terasa menyedihkan. 

Ada beberapa hal yang dapat disiapkan para orangtua yang anak-anaknya sebentar lagi akan meninggalkan rumah. Menurut Ibu Elvita, yang paling penting adalah restu dan support dari kita untuk anak-anak. Sebagai orangtua, kita lepas mereka dengan restu, support dan doa buat anak-anak. Pengorbanan yang sangat luar biasa setelah membesarkan anak adalah saat kita melepas anak ketika mereka dewasa. Lalu siapkan juga mental kita dan yakinkan diri bahwa anak-anak siap dan mereka bisa bertanggung jawab dengan pilihan mereka, seperti dulu waktu kita dilepas oleh orangtua kita.

Ibu Yenni pun berpesan untuk anak-anak bahwa yang pertama, tetaplah menjaga kontak dengan orangtua. Bagi orangtua, itu terasa sangat berharga sekali. Ia teringat bahwa dulu ia hanya bisa menulis surat ke orangtuanya sampi berlembar-lembar.

Sekarang saat sudah ada telepon dan videocall, lebih mudah saling menjaga kontak saat kangen dengan anak-anak. Sekadar menelepon sudah bahagia rasanya. Untuk anak-anak yang kuliah, fokuslah belajar dulu sampai menjadi berhasil.

Menurutnya juga, anak tidaklah pernah berhutang budi kepada orangtua. Adalah kewajiban orangtua untuk menghidupi dan membesarkan anak, namun ketika mereka dewasa, tidaklah ada kewajiban untuk ‘balas budi’ menghidupi orangtua di kemudian hari. Namun bagaimana kita sebagai anak menjaga  kontak dengan orangtua adalah yang terpenting karena itulah yang diharapkan oleh orangtua.

Lebih lengkapnya, diskusi mengenai empty nest syndrome ini dapat disaksikan pada tautan berikut:

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT) Cerita Hati Seorang Ibu: Putriku Telah Jauh di Seberang Sana

“Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas. Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian. Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak.”

Aku adalah seorang ibu dengan dua anak perempuan. Kami sekeluarga semula tinggal bersama di ibu kota. Sejak berhenti kerja, aku dan kedua putriku pindah ke kota lain, sedangkan suamiku menetap di ibu kota untuk mencari nafkah.

Selama 10 tahun bisa dibilang aku membesarkan dan mengurus kedua putriku sendirian. Seiring berjalannya waktu, hingga si sulung selesai SMA, tibalah waktunya untuk harus melepasnya, memenuhi keinginannya lanjut studi ke luar negeri.

Ketika putriku akan berangkat ke luar negeri, justru aku tidak bisa merasakan dengan jelas apa yang kurasakan. Semua mengalir menjadi satu: senang dan bangga karena keinginannya bisa terwujud, cemas karena tidak bisa menemani perjalanan jauhnya, sedih karena harus berpisah, bingung bagaimana caranya jika ingin bertemu dan sebagainya.

Campur aduk yang pasti. Yang menarik adalah, kuingat hari keberangkatannya yang mendadak waktu itu dikarenakan visa yang keluar mepet, masih ada beberapa barang yang anakku harus persiapkan atau beli.

Sebenarnya dia ingin membagi tugas supaya lebih cepat beres. Namun aku justru memaksanya untuk pergi bersama untuk semua yang harus ia urus. 

Awalnya setelah tidak bersama atau serumah lagi, aku tidak merasakan suatu perasaan sedih atau kesepian atau terasa berat. Mungkin karena anak-anak sejak kecil sudah sering dan terbiasa ku tinggal; mandiri.

Hidup kujalani seperti biasa, toh masih ada satu lagi putriku. Selain itu, komunikasi dengan si sulung pun tetap bisa berlangsung dengan adanya internet.

Rasanya anak hanya sedang berada di luar kota. Tidak ada rasa kesepian yang cukup berarti. Didukung lagi dengan banyaknya aktivitas yang kulakukan.

Urusan sekolah si bungsu juga menyita waktu dan perhatian. Kegiatan pelayanan untuk gereja selalu menjadi penyemangat hidup. 

Namun semakin lama hidupku kok justru terasa semakin “kosong”, kesepian dan tidak berarti. Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas.

Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian.

Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak. Namun realita yang kuhadapi hanyalah perasaan kosong dan sendiri.

Pikiran tentang bagaimana dan apa yang terjadi dengan putri sulungku hari demi hari nun jauh di negeri orang, sungguh merangkai banyak prasangka. 

Untuk menghalau atau lebih tepatnya menghindari rasa galau dan segala suasana pikiran dan hati yang berkecamuk yang terkadang muncul, aku lebih banyak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan pelayanan gereja, di samping tentu saja berdoa tengah malam.

Tapi aku justru lebih banyak menghindari perjumpaan atau “kumpul-kumpul” ataupun sekadar zoom meeting dengan sanak keluarga besar, yang pasti dan selalu akan menanyakan kabar si sulung. Memang jadi terkesan melarikan diri, bukan mengatasi, dan pengecut. Namun aku hanya mampu begitu. 

Sejujurnya, kalau aku boleh menyarankan, khususnya bagi para ibu, untuk berpikir dan mempertimbangkan matang-matang dari banyak faktor sebelum ambil keputusan akan “melepas” anak jauh ke seberang sana. 

Penulis: Seorang ibu di pulau Jawa

(SIARAN BERITA) Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara?

JERMAN – Tak banyak orang tua yang siap menerima kondisi anak dengan Autisme, apalagi tinggal jauh dari Indonesia. Padahal sikap mental orang tua ini menentukan dan berdampak pada bagaimana orang tua mendukung dan menangani kekhususan dan kompleksitasnya.

Hasil penelitian menunjukkan peran aktif orang tua sangat menunjang keberhasilan terapi dari penanganan anak dengan autisme. Bagaimana pun orang tua selalu ingin yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

Kehidupan di luar Indonesia nyatanya memberikan pengaruh bagi orang tua yang mengalami anak dengan autisme. Orang tua dihadapkan pada prosedur kebijakan penanganan anak autis yang berbeda-beda sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku.

Ketika anak dengan autisme sedang ditangani secara profesional, terkadang kita lupa memperhatikan kebutuhan psikologis bagi orang tua yang menjadi social support system untuk anak. Tidak jarang orang tua masih menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Ada juga orang tua yang menyalahkan vaksinasi, obat, salah pengasuhan atau terlambat diagnosa.

Ruanita – Rumah Aman Kita sebagai “Rumah” berbagi ilmu dan pengalaman untuk warga Indonesia di mancanegara bermaksud menggelar webinar bertema penanganan anak dengan autisme di mancanegara.

Webinar ini diawali dengan sharing pengalaman dari Alda Trisda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan saat ini tinggal di Belgia. Narasumber kedua adalah Dr. Deibby Mamahit, seorang ahli dan praktisi dalam menganani anak dengan autisme sesuai keilmuannya. Beliau saat ini tinggal di Singapura.

Tujuan diselenggarakan webinar adalah untuk membagikan pengalaman sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan memberikan dukungan sosial kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tinggal di mancanegara.

Follow us ruanita.indonesia

Kedua, webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi prosedur penanganan anak dengan autisme sesuai ilmu kedokteran dan pengalaman menangani anak dengan autisme di mancanegara.

Terakhir, webinar ini bertujuan untuk menjadi social support system bagi orang tua di mancanegara yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme.

Webinar ini dibuka resmi oleh Ketua DWP KBRI Berlin yakni Sartika Oegroseno. Tentunya Jerman sebagai negara maju telah memiliki kebijakan tersendiri dalam memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme meski sebenarnya tidak ada angka yang pasti tentang jumlah anak dengan Autisme di Jerman. Untuk menguatkan diskusi, acara webinar dipandu oleh Fransisca Sax, M.Psi. yang juga seorang Psikolog yang bertugas di Daycare di Munich, Jerman.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Rekaman ulang webinar bisa disaksikan di saluran YouTube berikut:

(RUMPITA) Begini Rasanya Pacaran Beda Kultur

Sahabat RUANITA, episode ketiga kali ini dibawakan oleh Nadia dan Fadni dengan tema: Pacaran Beda Kultur. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi Master di Jerman, Nadia dan Fadni membeberkan berbagai pengalaman dan pendapatnya selama tinggal di Jerman. Tentu pacaran beda kultur bukan hal yang mudah dihadapi, apalagi budaya masih dipandang sebagai hal yang essential.

Menempuh pendidikan atau sedang menjalani pekerjaan di negara perantauan kerap dihadapkan pada pilihan asmara yang sulit, terutama jika itu menyangkut nilai-nilai, prinsip hidup, keyakinan agama hingga tradisi yang berbenturan dengan pacar yang baru saja dikenal. Nah, bagaimana pengalaman menghadapi pacaran beda kultur di masa-masa studi di mancanegara?

Penasaran dengan cerita mereka? Sila simak Podcast episode ke-3 di saluran RUMPITA: Rumpi bersama RUANITA.

(CERITA SAHABAT) Bekerja Bersama Anak-anak, Menjadikanku Sabar dan Happy

Aku mulai hidupku di Jerman sejak tahun 2015. Aku putuskan untuk melanjutkan studi lagi di salah satu negara bagian (=Bundesland) setahun kemudian. Studi itu mengantarkanku pada pekerjaanku di negeri panzer ini. Ya, aku bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak yang biasa disebut begitu kalau kita tinggal di Indonesia. 

Setiap semester perkuliahan, aku mendapatkan praktik kerja untuk mengajar di taman kanak-kanak. Oh ya, pemberlakukan usia anak-anak masuk Kinderkrippe, semacam tempat penitipan anak, dengan Kindergarten, sebutan taman kanak-kanak berbeda-beda sesuai kebijakan negara bagian di Jerman. 

Di negara bagianku, anak-anak yang masuk Kinderkrippe adalah mereka yang berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Sedangkan anak-anak yang masuk Kindergarten adalah mereka yang berusia 3 hingga 6 tahun. Aku memilih mengajari anak-anak di taman kanak-kanak. Alasannya, aku tak terlalu sabar mengurus anak-anak yang masih terhitung bayi dan dini sekali. 

Selepas kuliah tiga tahun, aku kembali bekerja di taman kanak-kanak yang sudah mempekerjakanku sebelum aku lulus kuliah. Aku suka berinteraksi dengan anak-anak. Mereka mengajariku untuk sabar dan kreatif. Apalagi taman kanak-kanak di tempatku bekerja mengusung “teiloffenen Konzept” yang benar-benar mengubah cara berpikirku bagaimana menjadi guru TK yang membuat anak happy dan mandiri. 

Di sini kami memiliki ruang-ruang khusus sehingga anak bebas bergerak seperti kehendaknya. Kami punya ruang kreatif dan ruang olah raga, di mana anak-anak bisa berlari-lari, panjat-panjat atau bermain bola. Ruang tersedia boneka, pakaian seperti pakaian polisi atau pakaian dokter yang kami sebut ini adalah ruang teater. Anak-anak tentu senang sekali bisa bermain peran.

Anak-anak yang suka bermain musik pun bisa masuk ke ruang musik di mana kami menyediakan instrumen musik khusus anak-anak. Tak lupa ada juga ruang konstruksi di mana anak-anak bisa bermain lego atau membuat bangun ruang sesuai keinginan mereka. Tak hanya itu, ada juga ruang bermain, ruang makan, ruang tidur dan ruang kelas yakni ruang yang menjadi mayoritas anak-anak beraktivitas. 

Aku bekerja tujuh hari di taman kanak-kanak tersebut. Tiap hari aku punya tiga aktivitas pilihan untuk anak-anak. Anak-anak tidak aku paksakan untuk mengikuti aktivitas yang aku sarankan ke mereka. Mereka bisa berpindah ke grup kelas lainnya jika mereka suka. Misalnya aku mengajar di grup A, maka anak-anak bisa saja ingin berpindah ke grup B atau C. 

Sebagai gambaran misalnya, suatu hari aku mengatakan bahwa aku punya aktivitas bernyanyi. Kemudian ada anak yang tak ingin bernyanyi dan diam saja, ya sudah. Atau anak tersebut memilih untuk masuk ke ruang-ruang yang tadi dijelaskan di atas. Itu pun tidak masalah. Jadi kami mengajari konsep kebebasan untuk anak. Anak bebas menentukan kehendaknya.

Selanjutnya adalah aku mengajari anak-anak tentang kemandirian. Mulai dari masuk ruangan, anak diajarkan bagaimana membuka sepatu sendiri, jaket sendiri dan lainnya. Anak diajarkan untuk memilih menu makanan yang kami sediakan. Misalnya menu hari itu adalah kentang, daging dan salad. Aku meminta anak mengambil makanan yang mereka suka, bukan aku menyediakan ketiga menu tersebut di atas piring mereka. 

Setelah sarapan atau makan siang, aku biasanya membuat lagi pilihan untuk anak-anak. Anak memilih apa yang mereka sukai. Guru seperti aku hanya sebagai fasilitator, yang menyediakan sarana untuk mereka belajar dan bermain. Itu sebab aku sudah punya program harian. Sedangkan aktivitas makan, menikmati snack atau tidur adalah program yang sudah terjadwal.

Anak-anak berada di tempat kerjaku sampai orang tua menjemput mereka. Taman kanak-kanak di tempatku bekerja sudah mulai beroperasi sejak jam 5.30 pagi, tetapi aku tak suka bangun pagi. Aku memilih kerja mulai dari jam 8 pagi. Aku bertugas delapan jam setiap hari.

Oh ya soal waktu tidur, tidak semua anak bisa jadi suka melakukan tidur siang. Jika ada anak yang tidak ingin tidur, aku biasanya memberikan aktivitas menggambar atau aktivitas lainnya yang tidak mengganggu anak-anak yang sedang tidur siang. 

Pengalaman menarik bersama anak-anak membuatku belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diriku sendiri. Aku menemukan diriku sendiri saat aku aku berinteraksi bersama anak-anak. Aku menjadi lebih happy bekerja bersama dengan anak-anak. 

Tantangan bekerja di taman kanak-kanak adalah saat aku harus kontra dengan pendapat orang tua. Kadang aku berkonflik dengan orang tua yang lebih mementingkan ego mereka misalnya anak harus patuh pada orang dewasa. Padahal kami mengajarkan anak-anak untuk menjadi diri mereka sendiri dan menentukan kehendak mereka. Saat anak-anak bisa bebas menjadi diri mereka sendiri, anak-anak menjadi lebih happy dan kreatif juga. Anak-anak ternyata menemukan ketenangan tersendiri. 

Penulis: Anonim, umur 32 tahun dan tinggal di Jerman

(PELITA) Kok Anak Saya Umur Segini Belum Bicara

Stephanie menceritakan pengalamannya sebagai ibu bagaimana mengenali kondisi anak yang terlambat bicara. Tutur Stephanie, sebaiknya orang tua sudah mengidentifikasikan perkembangan anaknya sedini mungkin agar penanganannya dapat cepat teratasi.

Berdasarkan perkembangan bahasa anak, terdapat beberapa fase seberapa banyak jumlah kata yang sudah dapat disebutkan anak. Misalnya anak umur dua tahun sebaiknya sudah memiliki 150-300 kata dan dapat menyusun 2-3 kalimat.

Selain itu, keterlambatan bicara pada anak sering dikaitkan dengan gejala autis pada anak. Stephanie menjelaskan dengan baik dalam video berikut menurut keilmuannya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang terlambat bicara.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(CERITA SAHABAT) Segera Tangani Sedini Mungkin, Kalau Anak Alami Terlambat Bicara

Sahabat Ruanita, aku mau cerita pengalaman yang kuhadapi pada anakku yang mengalami keterlambatan bicara. Aku adalah ibu dari seorang putra dan tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi lanjutan. Aku merasa bahagia dengan kelahiran putraku, seolah menggenapi kepuasan hidupku. Saat R, sebut saja begitu untuk inisial putraku, berusia dua tahun ternyata dia belum juga bisa bicara. Misalnya, dia memanggilku „mama“ saja tidak setiap hari bahkan satu minggu pun belum tentu. 

R tidak banyak ngomong dalam kesehariannya. Selain itu, aku perhatikan anakku ini, bahwa dia begitu sensitif terhadap suara misalnya. Pernah suatu kali, kami datang ke acara ulang tahun dan saat banyak orang tepuk tangan, R menangis. Selain suara yang sensitif untuk R, ternyata R juga memilih untuk makan makanan yang lembut saja. Semua tumbuh kembang R, aku perhatikan dengan baik apalagi aku punya latar belakang keilmuan psikologi.

Aku kemudian putuskan membawa R ke ahlinya di negeri tempat aku melanjutkan studi. Tenaga profesional yang memeriksa R mengatakan bahwa R mungkin mengalami gangguan autis. Aku tidak sepakat tentang hasil yang diberikan ini sementara suamiku tetap berpikir bahwa R bisa jadi autis. Aku menolak keras pendapat bahwa R mengalami autis. Bagaimana pun aku paham sekali gangguan autis itu, apalagi aku sempat praktik menangani anak-anak dengan autis. 

Di negeri tempat aku studi di benua biru ini, anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis akan mendapatkan penanganan dan perawatan khusus secara gratis asalkan orang tua menandatangani kesepakatan bahwa anak tersebut memang memerlukan penanganan profesional. Ya, aku setuju bahwa R memang perlu treatment khusus, tetapi bukan treatment untuk anak autis. 

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk memeriksakan R saat aku berlibur di Indonesia. Aku bawa R ke klinik profesional yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus dan perlu penanganan psikologis. Letak klinik tersebut ada di Jakarta dan aku kenal siapa pemilik klinik tersebut. Setelah diperiksa, R mengalami sensory processing disorder dan speech delay. Jika selama ini R begitu peka terhadap suara atau indera pengecapannya, itu berarti bahwa R mengalami gangguan yang disebut dengan sensory processing disorder

Selain itu, klinik yang menjadi rujukanku untuk memeriksakan R juga mengatakan bahwa R hanya mengalami speech delay, bukan autis. Ya, aku menerimanya bahwa R memang kesulitan memformulasikan kalimat dan kata-kata di saat anak-anak seusianya mungkin sudah punya banyak kosakata. Akhirnya, R mendapatkan penanganan khusus selama kami tinggal di Jakarta. R mendapatkan terapi yang bisa dilakukan paralel untuk mengatasi sensory processing disorder dan speech delay

Treatment untuk R dilakukan sebanyak dua kali seminggu. Sepertinya klinik ini memiliki teknik khusus seperti teknik bermain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan anak. Mereka memiliki terapi bermain yang membantu anak seperti bermain foam (=bentuk) dari lilin sehingga R bisa merasakan dengan tangannya dan membuat sesuatu. Atau R suka lompat-lompat maka klinik akan menyediakan permainan sambil anak diberikan penanganan khusus.

Aku berpikir bahwa semua butuh proses yang memang dibutuhkan kesabaran dan pendampingan dariku sebagai ibunya. Saat kembali ke negeri yang jadi rumah keduaku, aku melanjutkan lagi dua terapi tersebut untuk R. Bedanya, aku membayar semua treatment untuk R selama di Jakarta sedangkan di negeri rumah keduaku tersebut, semua difasilitasi oleh negara dan tergantung juga seberapa besar plafon asuransi yang kita pilih. 

Beruntungnya R mengalami kemajuan yang pesat, sehingga pekerja klinik asing tersebut memutuskan bahwa R tidak perlu lagi terapi untuk atasi sensory processing disorder, hanya R masih perlu untuk terapi atasi speech delay. Aku memang bolak-balik antara Indonesia dengan salah satu negeri di benua biru, yang jadi rumah keduaku. Aku pun tetap melanjutkan terapi yang dibutuhkan R demi tumbuh kembang putraku, R.

Kami sempat berlibur ke Bali sekaligus aku harus bekerja di sana. R ikut serta bersamaku. Sekembalinya dari liburan, aku membawa R untuk kembali melanjutkan terapi speech delay-nya di Jakarta. Staf klinik yang selama ini mendampingi R pun merasa takjub atas kemajuan pesat dari kosakata R, apalagi sekembalinya dari liburan di Bali. 

Puji Tuhan, R memang kini bisa kembali bersekolah seperti umumnya anak-anak seusianya. Aku bersyukur bahwa R bisa bercerita padaku tiap hari seperti yang kuinginkan selama ini. R tidak lagi kesulitan dalam berkomunikasi. Aku hanya berpendapat bahwa seorang ibu pasti mengenali anaknya, termasuk bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Aku pikir sedini mungkin kita perlu melakukan penanganan agar anak-anak bisa tumbuh sehat seperti harapan semua ibu di dunia ini. 

Penulis: Stephanie, seorang ibu. 

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Melahirkan di Jerman dengan Situasi Pandemi Covid-19

Perkenalkan saya Euginia Putri Stederi. Saya mau berbagi pengalaman saya pra dan pasca melahirkan. Cerita saya mungkin dapat mewakili suara beberapa ibu atau orang tua baru yang menetap di luar negeri.

Saya hamil di awal masa Pandemi tahun 2020. Melahirkan di masa pandemi bukan hal yang mudah karena semuanya serba terbatas dan tidak cepat. Namun saya tetap merasa beruntung karena di Jerman banyak sekali sarana yang didukung oleh asuransi seperti biaya bidan, biaya dokter kandungan, biaya rumah sakit dan dokter anak. 

Selain sarana yang ditawarkan oleh asuransi, saya juga mengikuti beberapa kegiatan yang biayanya harus saya tanggung sendiri seperti yoga untuk ibu hamil dan akupuntur. Selama masa kehamilan saya juga sudah mendapatkan jadwal tetap dokter kandungan saya. Untuk melakukan check up, kapan saja saya harus ke dokter kandungan. Kurang lebih selama 9 bulan saya mempunyai 20 janji kontrol.

Selama masa kehamilan kami disarankan secepat mungkin untuk mencari bidan dan dokter anak karena jumlah bidan dan dokter anak yang terbatas dan antrian yang panjang. Peran bidan di sini tidak kalah pentingnya, mereka mengontrol ibu hamil untuk pra dan pasca kehamilan dan juga bayi yang baru lahir. 

Selain itu kami disarankan untuk mengikuti kursus persiapan kelahiran di mana ada banyak sekali informasi di dalamnya seperti dokumen apa saya yang harus dipersiapkan, ciri-ciri ibu yang sudah mau melahirkan, latihan-latihan untuk memperlancar kelahiran dsb. Ada baiknya bagi orang tua baru untuk mengambil kursus post natal (pasca kelahiran) untuk mengetahui apa saja yang bisa terjadi terhadap anak atau pun orang tua baru setelah proses kelahiran.

Di Jerman pun tidak mengenal mitos yang aneh-aneh. Ibu hamil malah dianjurkan untuk beraktivitas sewajarnya dan senormal mungkin. Namun tentunya sesuai kemampuan masing-masing individu. Yang saya sangat ingat, dokter kandungan memberi tahu saya untuk tidak makan daging atau telur setengah matang. Semua sayur dan buah harus dicuci bersih. Saya diperbolehkan olahraga seperti bersepeda sesuai kapasitas saya.

Namun sayangnya karena pandemi semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Suami hanya diperbolehkan hadir beberapa jam sebelum proses kelahiran. Suami boleh berkunjung maximum 1-4 jam sehari. Orang tua tidak dapat hadir, termasuk orang tua dari pihak suami saya. 

Saya masih ingat dengan jelas di rumah sakit seperti rumah hantu. Hanya saya dan bayi saya sehingga saya tidak tahu harus melakukan apa. Bolak-balik saya mengebel perawat meminta bantuan dan akhirnya saya sempat dimarahi oleh salah satu perawat. Merasa tidak nyaman, stress dan bingung akhirnya saya memutuskan hanya menetap 1 malam saja. Mungkin para  dokter dan perawat pun kewalahan karena di hari itu entah kenapa banyak sekali bayi yang baru dilahirkan. 

Setelah itu persiapan yang cukup memakan waktu adalah saat menyelesaikan semua dokumen yang dibutuhkan. Proses itu sangat tidak mudah. Semua serba terbatas. Namun saya bersyukur punya keluarga baru di sini yaitu teman-teman kami yang membantu kami seperti memasak untuk kami dsb. Tanpa mereka mungkin kami akan babak belur, sebagai sepasang orang tua baru yang minim akan pengetahuan tentang rutinitas baru kami.

Secara hukum kami diperbolehkan mengambil cuti maksimum 3 tahun setelah kelahiran anak kami, tetapi kami putuskan untuk mengambil cuti selama 14 bulan. Saya mengambil cuti 12 bulan dan suami saya hanya 2 bulan. Selama masa cuti ini kami masih mendapatkan bantuan keuangan dari negara sebanyak 60% dari gaji kami. Apabila kami mengambil cuti lebih dari 14 bulan kami tidak mendapatkan bantuan dari negara. Selain itu anak kami pun mendapat bantuan keuangan dari negara dari usia 18 tahun hingga 25 tahun.

Lagi-lagi saya tidak merasakan mitos yang aneh-aneh untuk bayi atau ibu yang baru melahirkan. Contohnya, di Indonesia ibu atau anak baru dilarang keluar rumah selama 40 hari. Di Jerman, sepanjang ibu yang baru saja melahirkan sudah mampu  maka kami diijinkan untuk keluar rumah. Saya terbilang cukup beruntung baik orang tua saya maupun mertua saya, tidak pernah ada yang memaksakan kehendak mereka. Mereka tetap memberikan saran tetapi pada akhirnya saya dan suami saya yang memutuskan.

Ini sepenggal pengalaman saya tentang pra dan pasca kelahiran anak saya. Saya mau ucapkan banyak terima kasih untuk suami saya yang kuat dan tidak lepas tanggung jawab, teman-teman kami yang selalu ada untuk kami dan pahlawan saya yaitu bidan saya. Tanpa bidan saya, kami mungkin tidak akan cepat belajar dan bangkit. Saya sangat menyarankan juga mengikuti kelas persiapan pasca kelahiran kepada Anda yang ingin melahirkan di luar negeri.

Penulis: Euginia Putri Stederi – Jerman